47 Muhamad Rezi [email protected]
IAIN Bukittinggi
Abstract: The growth of sciences responses the growth of human brain. As mankind, human being gifted by God many bounties and special features more than other His creatures. This growth make many changes and appearances in many aspects such social, culture, and faith. Human always take many efforts to be better than the other of their species. Observations, writing, and practicing are the sign that human tend to be move the brain. But the most important think should be hold is these all of this world is just the great creatures by someone called Allah who has unlimited access to all of His properties. But the creatures limited verily.
Keywords: Science, god, human, broad, limited, theory
A. PENDAHULUAN
Secara umum, ilmu adalah pengetahuan dan segala bentuk yang diketahui oleh manusia. Berasal dari akar kata „alama dalam bahasa Arab yang berarti mengetahui, kata dasarnya adalah ilmu(Nata, 2016). Hingga kini istilah ilmu sudah menjadi bahasa serapan dalam bahasa Indonesia. Pengertian ilmu tidak berhenti sampai sekedar mengetahui, tetapi terus berkembang seiring perkembangan pemikiran manusia. Berilmu berarti mengetahui suatu hal atau kajian tertentu dengan penguasaan teori yang solid, analisa yang tajam, dan praktek yang baik terkait kajian tersebut. Dalam perkembangannya, istilah ilmu kerap dipakai untuk penamaan fokus kajian seperti ilmu agama yang mencakup teologi, etika, dan aturan hidup serta ilmu umum yang mencakup sejarah, fisika, dan lain sebagainya(Adib, 2011).
Ilmu adalah bentuk aplikasi aksiologi pendidikan. Secara epistimologis, ilmu didapat dari pendidikan dengan segala aspeknya seperti belajar, meneliti, dan lain sebagainya. Manusia dianugerahkan
kemampuan berpikir yang menjadikannya lebih tinggi beberapa derajat dibanding makhluk ciptaan Allah lainnya. Kemampuan otak manusia seakan telah menjadi fitrah
karena Allah banyak
mengindikasikannya dalam banyak ayat-Nya tentang berakal (ta‟qilûn), berpikir (tatafakkarûn), cermat (tatadzakkarûn), telaah (iqra‟), pintar dan berdedikasi (ta‟lamûn), dan aktif (ta‟malûn)(Ibrahim, n.d.).
Seiring perkembangan zaman, term ilmu ilmu dan pengetahuan juga ikut berkembang hingga menghasilkan istilah dikhotomi ilmu yang pada prinsipnya membedakan ilmu keagamaan yang berlandaskan teks-teks kitab suci dan ilmu-ilmu sekuler yang lebih berlandaskan penelitian objektif dan empirik tanpa menyinggung naksah kitab suci yang pada awalnya digaungkan oleh dunia barat. Namun ketika umat Islam mulai menapaki dunia lain dan sebagian mereka mencoba merangkak dari
comfortzone teologi keIslaman yang disinyalir sudah dimulai sejak era dinasti Abbasiyah, terjadi banyak usaha integralisasi ilmu-ilmu Islam
48 Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid, Vol. 21, No. 2, Desember 2018r2018
dengan ilmu-ilmu luar yang ketika banyak diawali dengan penterjemahan buku-buku dari Yunani dan India(Soleh, 2013).
Hingga saat ini ilmu dan pengetahuan seakan tidak dapat lagi dibendung untuk terus berkembang. Namun jika diteliti lebih cermat dengan mengedepankan salah satu aspek ontologisnya, manusia akan tersadar dengan kelemahan dan kekerdilannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dalam setiap keimanan dan kepercayaan pada agama wahyu apapun, terdapat suatu zat tertinggi yang menjadi mainstakeholder atas semua siklus dan kejadian pada dunia ini. Baik itu Allah, Tuhan Bapa, Elia, atau istilah lain yang digunakan dalam agama tertentu.
Allah sebagai pencipta alam semesta beserta isi dan esensinya memberikan segala anugerah dan fasilitas untuk manusia baik dari sisi internalnya seperti otak, nafas, dan darah, atau dari sisi eksternalnya seperti udara, suara, dan cahaya. Manusia selalu mengoptimalkan semua fasilitas tersebut hingga menghasilkan banyak karya yang sering disebut sebagai karya bahkan maha karya. Tetapi keimananlah yang membuat manusia sadar akan therealmasterpiece
karena Allah mengakui bahwa ilmu yang disebarkan diatas bumi ini hanya sedikit dari yang dimiliki-Nya.
Artikel ini membahas tentang perbandingan ilmu Allah dengan Ilmu manusia berdasrakan penjelasan yang dipaparkan Allah melalui ayat-ayat Alquran. Metode penulisan yang digunakan dalam menyusun tulisan ini
adalah metode konten
analisis(Vaismoradi, Turunen, & Bondas, 2013) yaitu dengan menganalisa ayat-ayat Alquran terkait
pembahasan ilmu Allah dan ilmu manusia. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tematik dan deskriptif, yaitu mengumpulkan ayat-ayat dengan tema yang serumpun dan
menjelaskannya secara
eksplisit(Qaththan, 2018).
B. KELUASAN ILMU ALLAH
Sebagai pencipta dan pengatur alam semesta, Allah banyak menceritakan tentang kebesaran dan kedigdayaan-Nya khususnya tentang keluasan ilmu-Nya yang tidak akan pernah terjangkau oleh manusia seluruh ilmu-Nya(Mufid, 2010). Dalam banyak ayat-Nya baik yang
qawliyah (Alquran) dan kauniyah
(bukti konkrit) Allah membuktikan bahwa manusia hanya ciptaan kecil yang diberikan ilmu untuk membuat warna dan dinamika dalam kehidupan duniawi.
Artinya:“Katakanlah: Sekiranya
lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun Kami datangkan
tambahan sebanyak itu (pula)".
(Q.S. Al-Kahfi: 109).
Artinya: “dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Luqman: 27)
Dari dua ayat di atas, secara tekstual, Allah menjelaskan tentang keluasan ilmu-Nya. Pada surat Al-Kahfi ayat 109 dan surat Luqman ayat 27, Allah menggunakan konsep matsal
49 2017). Allah menggunakan keluasan lautan dan banyaknya pohon di atas bumi untuk membandingkannya dengan ilmu Allah yang sangat luas.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam sebuah hadis qudsi dikatakan bahwa Allah berbicara kepada Nabi Muhammad saw terkait ayat pertama di atas bahwa jika saja lautan dijadikan tinta maka tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah, bahkan jika ditambahkan lagi sebanyak yang habis tersebut hingga berkala-kali maka tetap tidak akan cukup untuk merumuskan ilmu-ilmu Allah. Maka jika lautan sebagai tinta dan pohon sebagai pena niscaya pena tersebut akan patah karena tidak sanggup untuk menuliskannya.
Allah mengumpamakan bahwa jika lautan dijadikan tinta dan pohon dijadikan pena untuk menuliskan ilmu-ilmu Allah maka tidak akan cukup hingga tinta lautan tersebut mengering. Penggunaan lautan sebagai tinta seakan mewakili kehidupan lautan yang Allah ciptakan lebih luas dari daratan di bumi. Sedangkan penggunaan pohon untuk dijadikan pena mengindikasikan tentang kehidupan daratan yang tidak bisa lepas dari unsur tumbuhan khususnya pohon yang menjadi produsen oksigen (Katsir, 1999). untuk keberlangsungan hidup manusia.
Allah juga menggunakan istilah “menuliskan” kalimat. Banyak ahli tafsir menjelaskan bahwa makna
kalimat dalam dua ayat ini adalah ilmu dan hukum Allah. Dalam bahasa Arab,
kalimat secara etimologi adalah kata dalam bahasa Indonesia. Penggunaan kata menulis dan kalimat dalam dua ayat ini seakan mensinyalir urgensi
Dalam ayat lain Allah juga berbicara tentang urgensi penulisan terhadap hal-hal yang penting seperti hutang-piutang yang bahkan jelas tergambar dari bentuk kalimat perintah. Sedangkan dalam dua ayat ini tidak terdapat bentuk kata perintah terhadap penulisan teori ilmu dan pengetahuan. Hal ini mengindikasikan bahwa ekstraksi ke dalam bentuk teori adalah sebuah kebaikan dan bukan kewajiban yang berhubungan dengan dosa dan pahala.
Pada ayat lain Allah menegaskan: Artinya: “dan pada sisi Allah-lah
kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Q.S. Al-An‟am: 59).
Artinya: “Dialah Allah yang
Menciptakan, yang Mengadakan,
yang membentuk Rupa, yang
mempunyai asmaaul Husna.
bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang
Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (Q.S. Al-Hasyr: 24) Kedua ayat di atas menjelaskan tentang penegasan kekuasaan Allah dan kedigdayaan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya. Surat Al-An‟am ayat 59 dibuka dengan penjelasan tentang kunci-kunci hal ghaib yang tidak diketahui semua makhluk-Nya kecuali Allah. Dalam ayat dijelaskan bahwa
50 Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid, Vol. 21, No. 2, Desember 2018r2018
Allah maha mengetahui segala hal baik yang terdapat di lautan dan daratan secara sangat mendetail sehingga meskipun selembar daun yang gugur atau sebutir biji yang acap luput dari pandangan makhluk tidak akan pernah luput dari jangkauan radar Allah. Berhubung dengan dua ayat sebelumnya, Allah kembali menggunakan penulisan sebagai bentuk awal kekuasaan-Nya.
Pada ayat 24 dari surat Al-Hasyr, Allah mengklaim diri-Nya sebagai pencipta tunggal yang membuat dan membentuk alam ini beserta isi dan esensinya sehingga tidak satupun dari ciptaan-Nya yang menolak untuk tunduk kepada-Nya kecuali sebagian manusia, jin, dan setan seperti yang dijelaskan dalam banyak ayat lain.
Artinya: “Hai jama'ah jin dan
manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S. Al-Rahman: 33)
Dalam ayat ini, Allah menantang dengan lantang bangsa jin dan manusia untuk menembus langit. Pada awal ayat Allah menghimbau dengan jelas menggunakan indikator nida‟ (panggilan/seruan) untuk dua jenis bangsa yang secara lahir berbeda yang disetarakan. Penyetaraan antara jin dan manusia adalah hak ketuhanan Allah atas makhluk-Nya. Sedangkan tantangan yang diberikan Allah adalah bentuk peninggian derajat jin dan manusia dibandingkan dengan spesies lain seperti hewan, tumbuhan, iblis, hingga malaikat. Namun Allah mengunci ayat ini dengan pernyataan lugas bahwa cita-cita dan keinginan manusia tidak akan tercipta tanpa kekuatan Allah yang dinyatakan
dengan kata sulthan. Maka sudah menjadi sebuah kewajaran bagi Allah sebagai pencipta dan pengatur untuk memamerkan, memperlihatkan, bahkan menantang makhluk-Nya untuk mencoba mendobrak sedikit maha karya-Nya.
Manusia dianugerahi Allah akal untuk senantiasa berkembang hingga akhir zaman. Dengan akal yang diberikan, manusia sanggup membuat segala kecanggihan teknologi, kemudahan media, hingga kecepatan kendaraan yang pada masa Nabi sama sekali belum terpikirkan. Namun dibalik kepintaran manusia, posisinya sebagai makhluk menggambarkan kelemahan dan keterbatasan ilmu manusia.
Senada dengan hal itu, Allah banyak memaparkan keluasan ilmu-Nya yang tidak akan pernah bisa digapai seluruhnya apalagi untuk ditandingi. Diantara beberapa ayat yang menerangkan keterbatasan ilmu manusia adalah surat al-Isra‟/17 ayat 36 dan 85 dan surat Taha/20 ayat 114.
Artinya: “dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
(Q.S. Al-Isra‟: 85).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun ketika Nabi saw. dan Ibnu Mas‟ud (yang meriwayatkan hadis tentang turunnya ayat ini) berjalan menyusuri sebuah ladang di kota Madinah untuk dan melewati sekelompok warga Yahudi. Saat Yahudi melihat Nabi melalui mereka, maka mereka saling dorong untuk menanyakan kepada Nabi saw. tentang perkara roh yang telah ada dalam kitab Taurat. Maka sesorang dari mereka menanyakan hal tersebut kepada Nabi
51
madaniyahmeskipun suratnya adalah
makkiyah.
Al-Zamakhsyarimenghubung-kan esensi ayat ini dengan ayat tentang turunnya hikmah karena tujuan ayat ini pada dasarnya adalah untuk Yahudi yang merasa cukup dengan Taurat dan mempertanyakan keluasan pembahasan Alquran. Pada kata amr rabbiy (dalam bahasa Indonesia berarti “urusan Tuhanku”) maknanya adalah penjelasan dengan bentuk wahyu dan perkataan Allah, bukan perkataan manusia (Al-Zamakhsyariy, 1998).
Lebih detil dijelaskan oleh Fakhruddin Al-Razibahwa roh yang dimaksud dalam ayat ini adalah zat yang menjadi kunci dan sebab kehidupan makhluk hidup. Terkait kata pada ujung ayat yang menyebutkan bahwa Allah hanya memberikan sedikit ilmu kepada manusia dan hubungannya dengan roh adalah bahwa setiap makhluk hidup memiliki roh yang membuatnya hidup dan hal tersebut berjalan sesuai dengan jalur otomatis yang sudah Allah tentukan. Namun ketika manusia ingin meneliti tentang ciri-ciri khusus pada roh tertentu maka hal itu adalah mustahil karena manusia tidak akan bisa menyinggung bahkan menyentuh roh meskipun rohnya sendiri. Maka hanya Allah yang berkuasa (Al-Razi, 1981).
Maka dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ayat ini ditujukan untuk orang-orang Yahudi. Namun jika melihat keumuman pada ayat yang menindikasikan tujuan plural dengan kata ganti ketiga jamak (kalian/mereka) maka berlaku kaidah “teks berlaku karena keumuman lafalnya dan bukan karena kekhususan
Allah sengaja memeberikan pelajaran yang sangat sulit dijangkau oleh akal dan indera manusia meskipun secara ontologis keberadaan roh tersebut sangat dekat bahkan berada dalam diri manusia. Melihat perkembangan ilmu dan pengetahuan yang sangat pesat pada masa kini membuat sebagian manusia mulai mempertanyakan kehebatan Tuhan. Mulai dari penelitian dari dasar bumi, metamorfosis dan siklus perkembangan makhluk hidup, kloning, hingga penelitian di luar angkasa yang melibatkan planet-planet dan bintang-bintang sudah bisa diteliti dengan kemajuan otak manusia.
Tetapi dengan segala kehebatan dan kecermatan penelitian, manusia seakan tidak sadar dengan hal-hal yang berada dekat dengan mereka termasuk roh. Kebanyakan manusia yang ingin memaksakan teori pengetahuan dengan roh hanya mampu berkutat dengan definisi roh sebagai hal-hal yang ghaib sebangsa jin dan malaikat yang belakangan banyak dilencengkan hakikatnya oleh bangsa Barat. Roh adalah salah satu bukti kekuasaan Allah yang tidak bisa digapai oleh akal manusia. Dengan roh, Allah dengan mudah mengatur hidup dan mati makhluk hidup-Nya.
Maka wajar jika Allah tegaskan bahwa dari sekian keluasan ilmu-Nya, hanya sedikit yang Dia berikan untuk dikonsumsi dan dicerna oleh manusia. Hal ini adalah satu bentuk bukti kesombongan Allah atas makhluk-Nya tetapi bukan berarti kekikiran Allah terhadap ilmu, karena manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan sanggup menampung seluruh ilmu Allah yang tidak ada habisnya.
52 Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid, Vol. 21, No. 2, Desember 2018r2018
Untuk itu, manusia memiliki tanggung jawab terhadap segala bentuk pemberian Allah dengan tidak merasa sombong dan merasa memiliki kecerdasan berlebih. Seluruh fasilitas yang Allah berikan bersifat gratis, maka Allah menginginkan sikap tanggung jawab dari makhluk-Nya.
Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya.” (Q.S. Al-Isra‟: 36).
Allah melarang sikap angkuh terhadap pengetahuan yang belum tentu diketahui atau biasa kita sebut “sok tahu”. Pada awal ayat terlihat
jelas larangan langsung dengan hurug “la al-nahiyah” (bentuk pelarangan)
untuk mengikuti hal yang tidak diketahui.
Terkait tafsiran ayat di atas, Al-Zamakhsyariy dan Abu Hayyan menjelaskan bahwa kata la taqfu
berarti jangan kamu ikuti, jangan kamu gunakan, dan jangan kamu terburu-terburu dalam memutuskan hal-hal yang belum kamu ketahui.
Lebih lanjut Abu Hayyan menjelaskan bahwa hal tersebut juga termasuk pelarangan untuk bersikap
taqlid atau mengikuti satu pemahaman tanpa berusaha bersikap objektif. Dalam ayat ini Allah melarang manusia untuk tidak berargumen dan berasumsi tanpa pengetahuan yang cukup terkait hal tersebut baik secara teori atau praktek.
Sedangkan tentang kelanjutan ayat yang menyatakan bahwa pendengaran, pengelihatan, dan perasaan kesemuanya akan diminta pertanggung jawabannya, Abu Hayyan
menambahkan bahwa ketiga unsur tersebut adalah unsur inti dari ilmu dan pengetahuan dengan maksud kejelian dalam mencari masalah, kecermatan dalam penelitian, dan kebenaran dengan sikap objektif akan sama-sama dipetanggungjawabkan atas kesimpulan-kesimpulan ilmu dan pengetahuan yang berlaku.
Maka Allah memerintahkan manusia untuk bersikap teliti dalam penelitan dan hati-hati dalam menentukan kesimpulan ilmu dan pengetahuan karena semua hal tersebut adalah milik Allah dan sebagai konsumen produktif manusia tidak boleh gegabah dan sombong. Allah juga memerintahkan hal yang sama kepada Nabi-Nya.
Artinya: “Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa
membaca Al qur'an sebelum
disempurnakan mewahyukannya
kepadamu, dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."(Q.S. Thaha: 114).
Dalam ayat ini Allah berbicara langsung kepada Nabi saw untuk tidak gegabah dan tergesa-gesa dalam menyampaikan wahyu-Nya dan senantiasa meminta keberkahan Allah setiap belajar.
Al-Zamakhsyariy menilai ayat ini memiliki hubungan langsung dengan ayat sebelumnya yang bercerita tentang fungsi turunnya Alquran sebagai petunjuk perintah, larangan, janji, dan peringatan bagi manusia yang diturunkan dengan bahasa Arab. Maka ayat ini memerintahkan Nabi saw untuk tidak berbicara tentang ayat apapun sebelum Jibril as. selesai menyampaikannya.
53 terburu-buru untuk menyampaikan ayat yang disampaikan melalui malaikat Jibril as. Ayat ini memerintahkan agar Nabi saw. Untuk tenang hingga Jibril benar-benar selesai menyampaikan dan mengajarkan ayat tertentu sehingga Nabi saw tidak lupa sekaligus telah memahaminya. Maka ayat ini turun sebagai perintah untuk benar-benar menguasai ilmu dan pengetahuan sebelum menggunakan Alquran dalam berhukum (Athiyyah, 2001).
Untuk itu Allah pertintahkan pada ujung ayat dengan doa; “Ya Allah
tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan”, adalah bentuk
ketundukkan manusia kepada kebesaran Allah khususnya dalam masalah ilmu. Dalam ayat ini, tujuan langsungnya adalah Nabi saw dan Alquran, namun tidak salah jika kita menganalogikannya dengan ilmu, pengetahuan, dan hukum yang juga perlu penguasaan materi sebelum mempertanggungjawabkannya di depan manusia saat di dunia dan di hadapan Allah saat di akhirat kelak. Maka maha besar Allah dengan segala yang dimiliki-Nya.
C. KESIMPULAN
Tidak ada satu hal-pun yang bisa dijadikan perbandingan antara pencipta dan yang diciptakan-Nya. Hal yang tergambar saat melihat sebuah maha karya maka nilai akan tertuju kepada penciptanya. Kesempurnaan alam semesta dan kecerdasan manusia cukup menggambarkan kesempurnaan Allah sebagai pencipta.
Keluasan ilmu Allah tidak akan sanggup dicerna seluruhnya oleh segala keterbatasan manusia maka
membantu menjaga pengetahuan yang telah didapat.Larangan berbicara tentang hal-hal yang tidak diketahui atau tidak dikuasai aspek-aspek ilmu dan pengetahuannya.Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan selalu berusaha bersikap objektif karena Allah menciptakan segalanya dengan penuh hikmah.
Perintah untuk menundukkan diri dan hati di hadapan kebesaran Allah dan selalu memohon berkah dan perlindungannya dalam menuntut ilmu
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abu Hayyan, Al-Bahr Al-Muhith, Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyyah, 1993, Cet. ke I. Al-Razi, Fakhruddin, (1981),Mafatih
Al-Ghaib, Beirut: Dar al-Fikr, Cet. ke I.
Al-Zamakhsyariy, (1998),Al-Kasyaf „an Haqa‟iq Ghawamidh al-Tanzil wa „Uyun al-Aqawiyl fi Wujuh al-Ta‟wil, Riyad: Maktabah al-„Abiykah, Cet. ke I.
Adib, H. M. (2011). Filsafat Ilmu:
Ontologi, Epistemol ogi,
Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Pustaka Pelajar. Ibn Katsir, (1999),Tafsir Qur‟an
al-„Azhim, TTp: Dâr al-Thayyibah, Cet. Ke II.
Ibrahim, M. (n.d.). نآرقلا يف ملعلا تاجرد ةيعوضوم ةسارد :ميركلا= Steps of Knowledge in the Holy Quran Subjective Study. (PhD Thesis). Mufid, F. (2010). Posisi Al-Qur‟an
Dalam Struktur Dan Sumber Ilmu Islam. ADDIN, 33.
Nata, D. H. A. (2016). Ilmu pendidikan islam. Prenada Media.
54 Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid, Vol. 21, No. 2, Desember 2018r2018
Qaththan, S. M. A. (2018). Pengantar Studi Ilmu Al Quran. Pustaka AL-Kautsar.
Soleh, K. (2013). Filsafat Islam dari Klasik hingga kontemporer. Ar-Ruzz Media.
Vaismoradi, M., Turunen, H., & Bondas, T. (2013). Content analysis and thematic analysis: Implications for conducting a qualitative descriptive study.
Nursing & Health Sciences,
15(3), 398–405.
Wekke, I. S. (2017). Tinjauan Mohammad Arkoun tentang Bahasa Arab, Teks dan Semiotika Al-Qur‟an. AL-Fikr,