PENYIAPAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN
PENYIAPAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN
PASCABENCANA
PASCABENCANA
DIREKTORAT PENGEMBANGAN PEMUKIMAN DIREKTORAT PENGEMBANGAN PEMUKIMAN DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
C. ORGANISASI PENYIAPAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN DI DAERAH
D. PROSEDUR PENYIAPAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN DI DAERAH BENCANA 15
D.2 REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI BIDANG INFRASTRUKTUR
PENUTUP
1.
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Perlu membangun kesadaran dan kesiapan seluruh stakeholder pada sektor ke-PU-an, khususnya pengembangan permukiman (penyiapan infrastruktur permukiman) dalam rangka menciptakan penanggulangan bencana secara lebih efektif khususnya pada aspek permukiman.
Bangkim secara umum menjadi tupoksi dari sektor ke-PU-an. Di pusat kementerian PU (Dit. Bangkim, Ditjen CK), di daerah adalah Dinas PU Provinsi dan Dinas PU Kabupaten/Kota. Sebagai bagian dari sistem penanggulangan bencana, penanganan bangkim (penyiapan infratsruktur permukiman) diselenggarakan oleh BNPB/BPBD. Dalam hal ini tentunya diperlukan koordinasi yang efektif antara BPBD dan penyelenggara sektor ke-PU-an.
Unsur kecepatan, ketepatan dan efektivitas dalam berkoordinasi merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam penanganan permukiman, khususnya penyiapan infrastruktur permukiman, sebagai bagian dari penanggulangan bencana. Oleh sebab itu seluruh komponen dari organisasi yang terlibat dalam penyiapan infrastruktur permukiman yang memahami betul tugasnya berikut prosedur pelaksanaannya.
Prosedur Operasi Standar (SOP) merupakan suatu gambaran terstruktur dan tertulis tentang langkah-langkah yang telah disepakati bersama oleh seluruh institusi pelaksana tentang siapa yang melakukan apa, saat kapan, dimana dan bagaimana pelaksanaannya. Prosedur dibutuhkan saat pelaksana suatu kegiatan terdiri dari berbagai institusi yang memiliki kewenangan sendiri-sendiri dan kegiatan tersebut menuntut waktu yang singkat untuk ditanggapi.
SOP ini diperlukan agar inisiatif penyiapan infrastruktur oleh penyelenggara sektor ke-PU-an dalam penanggulangan bencana dapat dilaksanakan secara efektif dan sekaligus dipahami oleh stakeholder lainnya. Dalam SOP diharapkan dapat menjelaskan mengenai lingkup tugas dan kewenangan, prosedur pelaksanaan tugas, lingkup koordinasi, prosedur pengendalian dalam penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana.
2. TUJUAN DAN SASARAN
SOP Penyiapan Infrastruktur Permukiman di Daerah Bencana adalah menyediakan panduan penyelenggaraan penyiapan infrastruktur permukiman yang efektif di setiap tahapan penanggulangan bencana. Sasaran yang ingin dicapai adalah :
• Terciptanya pemahaman bersama dari seluruh pihak yang terkait dengan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana
• Terselenggaranya penyiapan infrastruktur yang efektif di daerah bencana
• Terselenggaranya penanggulangan bencana yang efektif
1. LANDASAN HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5188);
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4828);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 5. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan
Nasional Penanggulangan Bencana;
6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 19/PRT/M/2006 tentang Pedoman Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi di DIY dan Jawa Tengah
7. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Penentuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6 CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
A
Permukiman
8. Permendagri No. 46 Tahun 2007 tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah;
9. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat Badan Nasional Penanggulangan Bencana;
10.Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pedoman Komando Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana; dan
11.Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Pedoman Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
1. RUANG LINGKUP
Seperti sudah diuraikan sebelumnya, SOP ini sudah sangat diperlukan bagi Kementerian Pekerjaan Umum dan stakeholder sektor ke-PU-an di daerah untuk mengefektifkan pelaksanaan tugas dalam penyiapan infrastruktur permukiman di daerah yang terkena bencana. Aspek urgensi dan efektivtas, menjadi syarat dari SOP ini.
Namun demikian sebelumnya perlu dipahami lingkungan atau kontekstual dari SOP penyiapan infrastruktur permukiman ini, yaitu :
1. Di Indonesia terdapat banyak potensi bencana, baik akibat perbuatan manusia atau sepenuhnya merupakan faktor alam, sebagaimana disebutkan dalam UU 24/2007
2. Tahapan penanggulangan bencana cukup panjang dan luas, dari mulai prabencana hingga pascabencana. Tahapan bencana terdiri dari persiapan dan mitigasi. Sedangkan tahapan pasca bencana adalah rehabilitasi dan rekonstruksi
3. Dari pengalaman yang ada, penyiapan infrastruktur permukiman setelah terjadinya bencana sudah diperlukan sejak tahap tanggap darurat, sehingga kemudian SOP ini juga mencakup penyiapan infrastruktur permukiman pada masa tanggap darurat meskipun tahap ni tidak termasuk tahap penanganan pascabencana
4. Dalam rangka penanggulangan bencana sudah cukup banyak pedoman atau acuan formal lainnya , baik yang ditetapkan oleh Kepala BNPB, Menteri Pekerjaan Umum dan instansi lainnya, baik di pusat ataupun daerah
Dalam rangka memperoleh SOP yang fokus, operasional dan memenuhi urgensi pelaksanaan tugas Kementerian Pekerjaan Umum dalam penanganan permukiman di daerah bencana, maka SOP ini dibatasi, didudukkan dan dikonsepkan sebagai berikut :
1. Difokuskan pada jenis bencana gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan banjir bandang yang memenuhi pertimbangan :
• Merupakan bencana yang biasanya berskala besar, termasuk dalam dampak kerusakan dan kerugian
• Merupakan bencana yang menimbulkan situasi kedaruratan tinggi
1. Mencakup dan digunakan pada tahap penanggulangan pada masa tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi, dengan prinsip :
• Seluruh pihak yang terlibat dalam penanganannya harus secara pasti mengetahui dan memahami tugasnya
• Diperlukan kecepatan dan ketepatan bertindak
1. SOP yang akan disusun harus kompatibel dengan SOP yang sudah ada, fokus pada bangunan dan infrastruktur, serta komplemen (menjabarkan, melengkapi dan lainnya) dengan yang lain
1. DEFINISI UMUM
Beberapa definisi yang digunakan dalam SOP ini adalah :
1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis;
2. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana;
3. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana;
A
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6 CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
4. Rekonstruksi adalah upaya perbaikan jangka menengah dan jangka panjang berupa fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan pelayanan publik dan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelum bencana;
5. Bahaya adalah situasi, kondisi atau karakteristik biologis, klimatologis, geografis, geologis, sosial, ekonomi, politik, budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan;
6. Pengungsi adalah orang atau sekelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak buruk bencana;
7. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan
8. Standar Operating Procedure (SOP) adalah gambaran terstruktur dan tertulis tentang langkah –langkah yang telah disepakati bersama oleh seluruh institusi pelaksana tentang siapa yang melakukan apa, saat kapan, dimana dan bagaimana pelaksanaannya. Prosedur dibutuhkan saat pelaksana suatu kegiatan terdiri dari berbagai institusi yang memiliki kewenangan sendirisendiri dan kegiatan tersebut menuntut waktu yang singkat untuk ditanggapi
9. Bencana gempa adalah peristiwa pelepasan energi dalam bentuk gelombang. Komponen merusak gempa bumi dapat berbentuk getaran dan amblesan. Gempa bumi juga memicu terjadinya longsoran dan tsunami.
10.Bencana tsunami adalah gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan implusif dari dasar laut. Gangguan implusif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran. Penyebab terjadinya tsunami adalah gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang sangat besar dibawah (laut/danau), tanah longsor di bawah tubuh air/laut, serta letusan gunung api di bawah laut dan gunung api pula
11.Bencana letusan gunung berapi adalah pancaran magma dari dalam bumi yang berasosiasi dengan arus konveksi panas, proses tektonik dari pergerakan dan pembentukan lempeng/kulit bumi, serta akumulasi tekanan dan temperatur dari fluida magma menimbulkan pelepasan energi
12.Banjir bandang adalah adalah banjir di daerah di permukaan rendah yang terjadi akibat hujan yang turun terus-menerus dan muncul secara tiba-tiba, dimana air yang tergenang lalu berkumpul di daerah-daerah dengan permukaan rendah dan mengalir dengan cepat ke daerah yang lebih rendah
13.Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi
14.Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi
1. SISTEMATIKA BUKU
Buku SOP ini 7 (tujuh) bagian yang secara keseluruhan membentuk alur dan struktur prosedur penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana. Sistematika buku ini adalah :
BAGIAN 1 PENDAHULUAN
Bagian ini memberikan pengantar terkait SOP penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana maupun buku SOP dengan uraian mengenai latar belakang perlu SOP ini, rumusan tujuan dan sasaran, landasan hukum serta batasan yang digunakan BAGIAN 2 CARA PENGGUNAAN SOP
Bagian 2 menguraikan dan menjelaskan tentang cara membaca dan menggunakan buku ini oleh masing-masing pihak yang berkepentingan untuk setiap bagian dari SOP
BAGIAN 3 ORGANISASI PENYIAPAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN DI DAERAH BENCANA
Bagian ketiga akan menjelaskan mengenai organisasi dan komponen-komponennya yang akan menjadi pelaksana penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana
BAGIAN 4 PROSEDUR PENYIAPAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN DI DAERAH BENCANA
Uraian prosedur pelaksanaan seluruh tugas dan kegiatan dalam penyelenggaraan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana disampaikan pada bagian ini
BAGIAN 5 PANDUAN TUGAS
Bagian ini menjelaskan bagaimana setiap institusi dalam organisasi penyediaan infrastruktur permukiman di daerah bencana menjalankan tugas dan kewenangannya
BAGIAN 6 PENGENDALIAN
Bagian ini akan menguraikan aspek-aspek pengendalian yang diperlukan dan akan dijalankan oleh pimpinan organisasi
BAGIAN 7 PENUTUP
2.
CARA PENGGUNAAN SOP
SOP penyiapan infrastruktur permukiman ini terbagi menjadi 3 (tiga) substansi yaitu prosedur pelaksanaan penyiapan infrastruktur permukiman, panduan tugas bagi setiap institusi dari organisasi penyiapan infrastruktur permukiman, serta pengendaliannya. Prosedur yang ada digunakan pada jenis bencana gempa, tsunami, letusan gunung berapi dan atau banjir bandang baik untuk di kawasan perkotaan maupun perdesaan. Berikut ini adalah ihtisar bagaimana cara membaca SOP ini : No . Bagian SOP Pengertian dan Penggunaan Sasaran Pengguna Isi 1. Prosedur Pelaksana an • Prosedur ini mencakup uraian tahapan, mekanisme dan aspek prosedur lainnya pada pelaksanaan seluruh rangkaian Seluruh pihak/ personil/ staf dari institusi yang termasuk dalam organisasi pelaksana penyiapan Prosedur-prosedur pada tahapan-tahapan spesifik PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6 CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
No . Bagian SOP Pengertian dan Penggunaan Sasaran Pengguna Isi tahapan atau kegiatan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana • Prosedur ini digunakan pada tahap tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi, khususnya pada lingkup penyiapan infrastruktur permukiman di daerah yang terkena bencana infrastruktu r permukima n di daerah bencana 2. Panduan Tugas • Secara kelembagaan setiap institusi dalam organisasi penyiapan infrastruktur permukiman di daerah yang terkena bencana disediakan panduan dalam mendudukkan dirinya serta melaksanakan tugas sesuai dengan perannya. • Panduan ini digunakan oleh seluruh institusi dalam organisasi Seluruh institusi yang termasuk dalam organisasi pelaksana penyiapan infrastruktu r permukima n di daerah bencana (1. Panduan Tugas Dinas PU Kabupate n/Kota (2. Panduan Tugas Dinas PU Provinsi (3. Direktora t Pengemb angan Permuki man
A
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G No . Bagian SOP Pengertian dan Penggunaan Sasaran Pengguna Isi infrastruktur permukiman di daerah yang terkena bencana pada tahap tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi 3. Panduan Pengendal ian • Untuk menjaga keteraturan, sinergi, sinkronisasi serta harmoni penyelenggar aan penyiapan infrastruktur permukiman maka diperlukan uraian upaya pengendalian pada setiap titik kritis (milestone) dari seluruh rangkaian tahapan atau kegiatan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana • Panduan pengendalian digunakan pada setiap titik atau bagian dari tahapan menuju tahapan lainnya dalam penyiapan infrastruktur permukiman Pengendali an dilakukan oleh pimpinan atau staf yang ditunjuk pada setiap institusi dalam organisasi pelaksana penyiapan infrastruktu r permukima n di daerah bencana (1. Panduan Pengend alian bagi Pimpinan Dinas PU Kabupate n/ Kota (2. Panduan Pengend alian bagi Pimpinan Dinas PU Provinsi (3. Panduan Pengend alian bagi Pimpinan Direktora t Pengemb angan Permuki man
No . Bagian SOP Pengertian dan Penggunaan Sasaran Pengguna Isi di daerah bencana
1.
ORGANISASI PENYIAPAN INFRASTRUKTUR
PERMUKIMAN DI DAERAH BENCANA
Penyiapan infrastruktur permukiman dilaksanakan oleh penyelenggara sektor ke-PU-an di daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum di pusat. Penyelenggara sektor ke-PU-an ini khususnya yang menangani permukiman, yang secara umum akan disebut sebagai Dinas PU (Pekerjaan Umum), baik Kabupaten/Kota maupun Provinsi.
Penyiapan infrastruktur permukiman tersebut dilaksanakan pada kerangka penanggulangan bencana yang dikoordinasikan oleh BNPB atau BPBD jika di daerah. Penyelenggaraan penyiapan infrastruktur permukiman tersebut juga akan bekerjasama dengan stakeholder lainnya seperti masyarakat, swasta dan lembaga pemberi bantuan.
SOP disusun khusus sebagai panduan bagi Dinas PU Kabupaten/Kota, Dinas PU Provinsi dan Kementerian Pekerjaan Umum dalam menyelenggarakan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana. Ketiga jenjang kelembagaan tersebut termasuk dalam organisasi penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana. Dalam pelaksanaannya di masing-masing institusi tersebut dapat saja membentuk satuan tugas khusus yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan dan situasi yang ada. SOP ini tidak meminta adanya satuan tugas tersebut karena pengguna SOP ini adalah personil yang ditugaskan.
Berikut ini adalah gambaran kelembagaan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana :
• Penyelenggaraan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana sebagai bagian dari penanggulangan bencana dilakukan oleh Dinas PU Kab/Kota, Dinas PU Provinsi dan Kementerian PU yang terorganisasi sebagai penyelenggara penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana
• BPBD Kab/Kota dengan dukungan BPBD Provinsi dan BNPB mengoordinasikan seluruh kegiatan penanggulangan bencana di daerah. BPBD Kab/Kota melalui tim atau unit kerja yang dibentuknya
(beranggotakan unsur-unsur dari berbagai sektor dan pihak) merumuskan kebutuhan penanggulangan bencana dan mengajukan permintaan bantuan dari pihak dan sektoral lainnya
• Intistusi penyelenggara penyiapan infrastruktur permukiman melaksanakan tugasnya dengan bekerjasama dengan pihak lain (masyarakat, swasta dan lembaga pemberi bantuan lainnya) dan di bawah koordinasi dan supervisi dari BPBD Kab/Kota
Kementerian PUDJCK Dit. BangkimMasyarakatLembagaSwasta
Pemberi Bantuan Lain
Berikut ini adalah ihtisar organisasi penyelenggara penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana sebagaimana tergambar di atas
No. Nama
Institusi
Personil yang Terlibat
Uraian Tugas dan Wewenang 1. Dinas PU Kabupaten/Ko ta (atau nama OPD lainnya dengan tupoksi yang terkait dengan penanganan permukiman) • Seluruh pimpinan diharapkan dapat terlibat dan secara bergiliran menjadi pejabat pengendali dan pengambil keputusan • Personil atau staf yang ditunjuk sebagai anggota tiim atau unit kerja yang dibentuk oleh • Menyediakan personil atau staf yang dibutuhkan sebagai unsur dalam tim atau unit kerja yang dibentuk oleh BPBD Kabupaten/ Kota dengan memenuhi kualifikasi yang diminta • Menyediakan sumberdaya yang diminta oleh BPBD Kab/Kota untuk Dinas PU Provinsi Dinas PU Kab/Kot a Lokasi BencanaBPBD Kab/Kot a BPBD Provinsi BNPBOrganisasi Penyelenggara Penyiapan Infrastruktur Permukiman PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G ORGANISASI PENYELENGGARAAN PENYIAPAN iNFRASTRUKTUR PERMUKIMAN
C
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6 CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
B/C
No. Nama Institusi
Personil yang Terlibat
Uraian Tugas dan Wewenang BPBD • Personil atau staf yang menguasai pengelolaan air bersih, sanitasi dan drainase permukiman • Personil atau staf yang menguasai pengembang an perumahan • Personil atau yang menguasai sistem pendataan digunakan dalam rangka penanggulanga n bencana • Menyediakan bantuan teknis dan bantuan lainnya yang diminta oleh BPBD untuk digunakan dalam rangka penanggulanga n bencana • Melaksanakan tugas-tugas yang ditetapkan berdasarkan rencana atau program penanggulanga n yang sudah disusun sebelumnya • Memberikan laporan ke BPBD Kab/Kota sesuai dengan ketentuan yg ada • Melaporkan kondisi eksisting dan hasil assessment-nya ke Dinas Provinsi serta ke Kementerian PU melalui Dinas PU Provinsi • Mengajukan bantuan dukungan sumberdaya dan bantuan
No. Nama Institusi
Personil yang Terlibat
Uraian Tugas dan Wewenang teknis ke Dinas PU Provinsi serta ke Kementerian PU melalui Dinas PU Provinsi • Melaporkan hasil penggunaan dukungan dan bantuan teknis dari Dinas PU Provinsi dan Kementerian PU ke Dinas PU Provinsi serta Kementerian PU melalui Dinas PU Provinsi 2. Dinas PU Provinsi (atau nama OPD lainnya dengan tupoksi yang terkait dengan penanganan permukiman ) • Perlu ditunjuk salah satu pimpinan dinas yang menjadi pejabat pengendali dan pengambil keputusan • Personil yang menguasai pengelolaan infrastruktur permukiman yang akan memberikan asistensi teknis bagi Dinas PU Kabupaten/Ko ta • Personil atau yang menguasai sistem pendataan • Menyediakan personil atau staf yang dibutuhkan sebagai unsur dalam tim atau unit kerja yang dibentuk oleh BPBD Provinsi dgn memenuhi kualifikasi yang diminta • Menyediakan sumberdaya yang diminta oleh BPBD Provinsi untuk digunakan dalam rangka penanggulanga n bencana • Menyediakan bantuan teknis dan bantuan lainnya yang diminta oleh BPBD Provinsi
No. Nama Institusi
Personil yang Terlibat
Uraian Tugas dan Wewenang untuk digunakan dalam rangka penanggulanga n bencana • Melaksanakan tugas-tugas yang ditetapkan berdasarkan rencana atau program penanggulanga n yang sudah disusun sebelumnya • Menyediakan dukungan sumberdaya dan bantuan teknis berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Dinas PU Kabupaten/Kot a • Memberikan pendampingan, supervisi dan asistensi bagi Dinas PU Kabupaten/Kot a dalam melaksanakan tugasnya • Mengajukan permintaan dukungan sumberdaya dan bantuan teknis ke Kementerian PU berdasarkan permintaan dari Dinas PU Kabupaten/Kot
No. Nama Institusi
Personil yang Terlibat
Uraian Tugas dan Wewenang a dan atau BPBD Provinsi • Melaporkan hasil penggunaan bantuan sumberdaya dan bantuan teknis yang diberikan oleh Kementerian PU, baik yang digunakan oleh Dinas PU Provinsi sendiri maupun oleh Dinas PU Kabupaten/Kot a 3. Kementeria n Pekerjaan Umum, khususnya Direktorat Pengemban gan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya (setelah melalui pendelegasi an) • Pejabat yang ditunjuk oleh Direktur Pengembanga n Permukiman sebagai pejabat pengendali dan pengambil keputusan, serta melakukan koordinasi dengan BNPB maupun unit kerja lainnya di lingkungan Kementerian PU • Personil atau staf yang menguasai pengelolaan infrastruktur permukiman yang akan memberikan asistensi teknis bagi Dinas Provinsi • Menyediakan permintaan bantuan sumberdaya dan bantuan teknis yang diajukan oleh Dinas PU Provinsi dan atau Dinas PU Kabupaten/Kot a yang diajukan melalui Dinas PU Provinsi • Memberikan pendampingan teknis dan manajemen yang diperlukan bagi Dinas PU Provinsi • Melakukan supervisi dan pengawasan penggunaan bantuan dari Kementerian PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
C
No. Nama Institusi
Personil yang Terlibat
Uraian Tugas dan Wewenang • Personil atau staf yang menguasai pengelolaan proyek • Personil atau yang menguasai sistem pendataan PU oleh Dinas PU Provinsi maupun Dinas PU Kabupaten/Kot a
Kementerian PU, Dinas PU Provinsi dan Dinas PU Kabupaten akan banyak berinteraksi dengan beberapa pihak lain dalam penyelenggaraan penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana. Berikut ini adalah pihak-pihak lain yang secara erat akan berkaitan dengan ketiga institusi penyelenggara penyiapan infrastruktur permukiman di daerah bencana :
No .
Nama Institusi Bentuk Keterkaitan dalam Penyiapan Infrastruktur Permukiman di Daerah
Bencana 1. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten/Kota
• Pelaksana atau penyelenggara
penyiapan infrastruktur permukiman menerima permintaan bantuan dan tugas dari BPBD Kabupaten/Kota
• Pelaksanaan penyiapan infrastruktur
permukiman berada dalam
koordinasi BPBD Kabupaten/Kota
• BPBD Kabupaten/Kota mensupervisi
dan mengawasan pelaksanaan
penyiapan infrastruktur permukiman • Pelaksana penyiapan infrastruktur
permukiman memberikan laporan kepada BPBD Kabupaten/Kota sesuai dgn ketentuan yg ada
• Penyiapan infrastruktur permukiman
dilaksanakan sesuai dan berdasarkan rencana dan program
penanggulangan bencana yang sudah disusun oleh BPBD
Kabupaten/Kota 2. Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi
• Pelaksana penyiapan infrastruktur permukiman di tingkat provinsi menerima permintaan bantuan dan tugas dari BPBD Provinsi
• Pelaksanaan penyiapan infrastruktur
No .
Nama Institusi Bentuk Keterkaitan dalam Penyiapan Infrastruktur Permukiman di Daerah
Bencana
berada dalam koordinasi BPBD Provinsi
• Pelaksana penyiapan infrastruktur
permukiman di tingkat provinsi memberikan laporan kepada BPBD Provinsi sesuai dengan ketentuan yang ada
• Penyiapan infrastruktur permukiman di tingkat provinsi dilaksanakan sesuai dan berdasarkan rencana dan program penanggulangan bencana yang sudah disusun oleh BPBD Provinsi
3. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
• Pelaksana penyiapan infrastruktur
permukiman di tingkat pusat
menerima permintaan bantuan dan tugas dari BNPB
• Pelaksanaan penyiapan infrastruktur
permukiman di tingkat pusat berada dalam koordinasi BNPB
• Pelaksana penyiapan infrastruktur permukiman di tingkat pusat
memberikan laporan kepada BNPB sesuai dengan ketentuan yg ada
• Penyiapan infrastruktur permukiman
di tingkat pusat dilaksanakan sesuai dan berdasarkan rencana dan
program penanggulangan bencana yang sudah disusun oleh BNPB 4. Masyarakat di
Lokasi Bencana
• Masyarakat setempat berhak
menerima informasi mengenai
pelaksanaan penyiapan infrastruktur permukiman
• Masyarakat setempat perlu
didengarkan aspirasi dan
pendapatnya mengenai infrastruktur permukiman yang akan disiapkan
• Masyarakat setempat sebaiknya
dilibatkan sebagai subjek dalam penyiapan infrastruktur permukiman, baik dalam tahap perencanaan,
pelaksanaan serta pengoperasian dan pemeliharaan
5. Masyarakat dan Lembaga Swasta Pemberi Bantuan
• Membangun komunikasi dengan
pemberi bantuan di lapangan agar upaya penanggulangan bencana
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
No .
Nama Institusi Bentuk Keterkaitan dalam Penyiapan Infrastruktur Permukiman di Daerah
Bencana
dapat berjalan lebih efektif 6. Kementerian/Lem
baga Pemerintah maupun Non Pemerintah
• Perlu melakukan sinkronisasi
program dengan
Kementerian/Lembaga Pemerintah maupun Non Pemerintah
• Perlu menjaga sinergi dan koordinasi
dalam pelaksanaan di lapangan dengan Kementerian/Lembaga
Pemerintah maupun Non Pemerintah
1.
PROSEDUR PENYIAPAN
INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN DI DAERAH
BENCANA
1. TANGGAP DARURAT
Kondisi Tanggap Darurat Bencana:
Yaitu, situasi dimana serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan
penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan,
pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
Kondisi Tanggap Darurat Bencana Gempa:
Gempa dapat terjadi tanpa peringatan dini. Masa tanggap darurat gempa adalah sejak saat gempa terjadi dan kemudian dinyatakan usai oleh BMKG setempat hingga selesai seluruh kegiatan
pencarian korban, pengungsian dan kegiatan lain pada masa tanggap darurat yang ditetapkan oleh
BNPB/BPBD Kondisi Tanggap Darurat
Bencana Tsunami:
Tsunami terjadi dengan diawali oleh gempa
bumi. Daerah yang rawan tsunami adalah daerah yang berada di sepanjang pantai dengan
kejadian pusat gempa di laut. Setelah gempa terjadi, diperlukan waktu beberapa saat sebelum terjadi tsunami. BMKG adalah lembaga yang berwenang mengeluarkan peringatan potensi terjadinya tsunami di daerah.
Masa tanggap darurat pada bencana tsunami adalah sejak terjadinya tsunami, kemudian pencarian korban dan pengungsian hingga dinyatakan selesai oleh BNPB/BPBD.
Kondisi Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Berapi:
Bencana erupsi gunung berapi biasanya sudah diawali dengan tanda-tanda permulaan akan terjadinya letusan dan dapat diprediksi sesuai dengan siklus letusan gunung berapi yang dimaksud.
Kondisi tanggap darurat bencana erupsi gunung berapi adalah sejak terjadinya letusan, dan
gunung berapi tersebut dinyatakan berada pada status awas oleh PVBMG sampai status siaga tersebut diturunkan menjadi waspada.
Masa tanggap darurat akibat erupsi gunung berapi juga harus memperhatikan adanya banjir lahar dingin yang biasanya terjadi setelah erupsi akibat adanya curah hujan tinggi di puncak
gunung. Status tanggap darurat ini ditetapkan oleh PVBMG
Kondisi Tanggap Darurat Bencana Banjir Bandang
Banjir bandang biasanya terjadi dengan cepat, dimana air yang terkumpul/tergenang mengalir dengan cepat menuju ke tempat yang lebih
rendah. Akibatnya daerah yang dilalui oleh lairan tersebut akan menderita kerusakan besar dan biasanya juga mengakibatkan korban jiwa. Masa tanggap darurat akibat banjir bandang adalah sejak terjadinya bencana hingga
kemudian dinyatakan selesai oleh BNPB/BPBD.
Prosedur berlaku pada tanggap darurat sesuai dengan definisi di atas. Penerapan status, rentang waktu dan aspek-aspek batasan lain ditetapkan oleh BPBD setempat dan atau lembaga yang berwenang (BMKG dan PVMKG).
Pada masa tanggap darurat tersebut, menurut Perka BNPB No. 10 tahun 2008 tahapannya adalahdari mulai pembentukan tim reaksi cepat sampai pada
penyediaan bantuan untuk para korban. Seluruh rangkaian kegiatan pada masa tanggap darurat dikoordinasikan oleh BNPB/BPBD, dimana
penyelenggara sektor ke-PU-an akan berperan aktif sesuai tugas yang diberikan. Berikut ini rangkaian kegiatan pada masa tanggap darurat dan prosedur yang dibutuhkan terkait dengan penyiapan infrastruktur permukiman untuk mendukung pelaksanaan masa tanggap darurat tersebut.
1. Pembentukan Tim
Kondisi: Ketika terjadi bencana, BPBD membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) yang terdiri atas berbagai orang dari berbagai instansi setempat, lembaga terkait, institusi militer dan kepolisian.
Maka: 1. Berdasarkan Perka BNPB No.
10/2008 tentang Pedoman Komando Tanggap Darurat bencana, pada saat terjadi bencana, segera dibentuk tim yang tersusun atas
personildari berbagai instasi dan lembaga tersebut yang sudah mengikuti pelatihan mengenai kebencanaan. Tim ini dibentuk oleh BNPN/BPBD 2. Dinas PU kemudian harus
menyediakan sejumlah personel sesuai dengan
kualifikasi yang diminta oleh BPBD untuk masuk dalam tim yang akan dibentuk
sebagaimana disebutkan di atas
3. Tim yang dibentuk untuk setiap jenis bencana (gempa, tsunami, erupsi gunung
berapi dan banjir bandang) pada umumnya sama, karena pada saat pelatihan, setiap personel harus mengerti tentang seluruh jenis bencana dan terutama bencana yang
kerap/merupakan ancaman
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6 CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
bagi daerah nya.
1. Kajian Cepat Terhadap Lokasi, Kerusakan dan Sumber Daya Kondisi: • Setelah terbentuk maka tim reaksi cepat (TRC)
segera melakukan kajian atas lokasi, kondisi perikehidupan masyarakat serta tingkat kerusakan yang terjadi.
• Hasil dari kajian ini merupakan input bagi
proses perencanaan dan koordinasi berikutnya sehingga penanganan pada tahap tanggap darurat dan tahap selanjutnya akan sesuai dengan kebutuhan yang ada.
• Secara keseluruhan kajian tersebut mencakup kajian awal, kajian cepat, kajian gabungan, dan monitoring dan evaluasi, dimana outputnya digunakan pada situasi dan kebutuhan
perencanaan yang berbeda-beda. Ilustrasi dari cakupan kajian tersebut dapat dilihat berikut ini.
• Personil Dinas PU yang berada dalam TRC ikut terlibat dalam kegiatan kajian ini.
• Agar keterlibatan personil Dinas PU dalam pelaksanaan kajian ini dapat lebih efektif dan kemudian memberikan manfaat maksimal bagi kepentingan penyiapan infrastruktur
permukiman yang menjadi tugas Dinas PU atau Kementerian PU maka diperlukan pemahaman yang baik dari personil tersebut atas
Siapa, Apa, Dimana Bahaya & Risiko Kehidupan Masyarakat Kerusakan Permukiman
S
S
Tahap 1Awal: KajianMemberikan gambaran umum mengenai kondisi dan situasi sesegera mungkin setelah kejadian bencana
Tahap 2 : Kajian Cepat
si mengenai kebutuhan mendasar yang harus segara dipenuhi, kemungkinan tindakan, dan sumberdaya yTahap 3 : Kajian Mendalam
ian mendalam untuk memberikan informasi mendetil mengenai kerusakan & kebutuhan penanganannyaTahap 4 : Kajian Monitoring & Evaluasi
Kajian untuk mengetahui perkembangan penanganan bencana, hingga tujuan penanganan tercapai
D
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G Lingkup Kajian
Kajian Awal • Kajian awal dirancang untuk
memberikan gambaran awal seluas mungkin. Informasi yang didapatkan menjadi pendekatan awal dalam menentukan jenis dan jumlah bantuan yang diperlukan selama tanggap darurat sesaat setelah bencana.
• Kajian awal umumnya dilakukan pada masa 24 – 72 jam setelah kejadian bencana, karena itu cakupannya dibatasi pada hal-hal yang mendasar saja.
• Analisis informasi eksisting dapat dilakukan melalui desk-study atau kajian lapangan. • Kebutuhan informasi: 1. Lokasi kejadian bencana, karakteristik masyarakat yang menjadi korban bencana, pilihan-pilihan penanganan terkait permukiman sementara. 2. Dimana konsentrasi kerusakan permukiman yang terjadi (prioritas penanganan). 3. Resiko-resiko bencana susulan/sekunder. 4. Bagaimana sumberdaya yang tersedia (SDM, SDA, peralatan, dana, dsb), dapat berdaya-guna dalam proses tanggap darurat.
menyediakan informasi mengenai kebutuhan mendasar, jenis-jenis penanganan, sumberdaya yang dibutuhkan, dan cakupan kerusakan permukiman. Kajian ini harus dapat menghasilkan informasi dasar,
menentukan sasaran strategis, dan mengidentifikasi program-program yang dibutuhkan. Dari kajian ini juga ditentukan hal-hal apa yang
membutuhkan kajian gabungan yang lebih mendalam untuk
mendapatkan informasi lanjutan. • Kajian cepat umumnya dilakukan pada masa satu minggu setelah kejadian bencana, dengan durasi normal satu minggu atau kurang • Penting untuk memilih lokasi
pengkajian yang tepat karena
seringkali tidak seluruh lokasi dapat dikunjungi mengingat keterbatasan waktu.
• Kebutuhan informasi:
1. Profil masyarakat korban bencana dan proposi masyarakat yang menjadi korban. 2.
Kemungkinan-kemungkinan permukiman
sementara dan upaya rekonstruksi, serta dimana lokasinya. 3. Hal-hal yang menjadi
ancaman dan
permasalahan bagi korban bencana, dan kemungkinan upaya mitigasi/
penyelesaiannya. 4.
Sumberdaya-sumberdaya apa saja (SDM, SDA, peralatan, dana, dsb)yang
upaya penanganan. • Perlu dilakukan kajian partisipatoris
dalam bentuk wawancara
tersetruktur dengan masyarakat korban bencana, untuk:
1. Mengidentifikasi kebutuhan terkait permukiman dan penghidupan.
2. Mengidentifikasi kapasitas dan sumberdaya masyarakat.
3. Mendiskusikan solusi dan prioritas.
• Setelah pengumpulan informasi Personil PU bersama TRC dan lembaga koordinasi melakukan:
1. Review dan analisa informasi yang dikumpulkan. 2. Menentukan kebijakan strategis. 3. Merencanakan program terkait permukiman sementara.
• Output yang dihasilkan : 1. Strategi permukiman
sementara
2. Pendekatan penanganan Kajian Mendalam: • Kajian mendalam dilakukan untuk
menyediakan informasi yang belum sempat didapatkan atau informasi baru yang sifatnya lebih mendalam/ spesifik, setelah
kebutuhan-kebutuhan mendasar korban bencana terpenuhi.
• Kajian mendalam dilakukan secara sektoral di bidang tertentu, tidak lagi dalam TRC tetapi masih dalam arahan lembaga koordinasi, dan menjadi dasar dalam penyusunan program rehabilitasi dan
rekonstruksi.
• Kajian mendalam umumnya dilakukan pada masa satu bulan setelah kejadian bencana, dengan durasi bervariasi mulai dari
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
beberapa hari hingga beberapa minggu atau bulan.
• Kebutuhan informasi:
1. Pendataan lokasi-lokasi permukiman sementara swadaya korban bencana. 2. Strategi alternatif yang
mungkin dilakukan untuk mitigasi ancaman dan
menyelesaikan permasalahan. 3. Kerusakan tiap-tiap
bangunan, nilai kerugian, dan kebutuhan penanganan yang paling sesuai.
Kajian Monitoring dan Evaluasi
• Merupakan kajian sistematis dan berkelanjutan untuk memahami perkembangan dan perubahan
situasi pascabencana seiring waktu, sehingga dapat dilakukan analisis perkembangan program
penanganan bencana hingga tercapainya tujuan program. • Kajian monitoring dan evaluasi
umumnya dilakukan pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi.
Dalam hal ini yang harus diperhatikan oleh Personil Dinas PU dalam TRC terkait
dengan pelaksanaan kajian ini adalah :
• Sebelumnya berkoordinasi dengan personil dari sektor lain dalam TRC untuk menyepakati struktur dan bentuk koordinasi, serta sistem manajemen data yang digunakan • Menggunakan format, indikator, dan
alat kajian yang umum digunakan untuk mempermudah komunikasi dengan pemangku kepentingan, dan untuk keperluan kajian lanjutan
terutama pada tahap monitoring dan evaluasi.
• Mengumpulkan informasi mengenai kapasitas, sumberdaya, kerusakan, dan informasi lokal, kemudian
sampaikan informasi tersebut secara berkala kepada lembaga koordinasi
(BNPB/BPBD).
• Melibatkan pemangku kepentingan lokal yang lebih memahami situasi dan kondisi mengenai wilayah yang dikaji, atau jika memungkinkan dapat melibatkan sukarelawan dari masyarakat. Ini membuat proses pengkajian menjadi lebih efektif.
1. Permintaan Bantuan ke Masing-Masing Sektor Kondisi: Setelah diketahui rumusan kebutuhan, tim
reaksi cepat (TRC) meminta bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar ke masing-masing sektor, termasuk ke Dinas PU terkait dengan penyiapan infrastruktur permukiman Jenis bantuan khusus permukiman pada saat
bencana: Gempa, tsunami, erupsi gunung berapi dan banjir bandang di perkotaan dan perdesaan – peral atan berat untuk mem bersih kan jalur evaku asi dan lokasi pena mpun gan – tenda -tenda pena mpun gan – saran a untuk penye diaan
air bersih , toilet porta ble, temp at samp ah, pemb uatan salura n air kotor. – Perso nil yg dapat mem bantu penga rahan pengu ngsi di lapan gan Maka Dinas PU Kab/Kota harus segera melakukan
verifikasi terhadap permintaan tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Setelah dilakukan identifikasi apa saja
permintaan bantuan yang diterima, Dinas PU Kabupaten/Kota memeriksa
ketersediaan dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut
2. Bila Dinas PU Kabupaten/Kota tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, maka Dinas PU Kabupaten/ Kota
mengajukan permintaan bantuan kepada Dinas PU Provinsi untuk membantu
menyediakan berbagai kebutuhan yang tidak dapat disediakan oleh Dinas PU Kabupaten/Kota
Ketidakmampuan Dinas PU
Kabupaten/Kota tersebut dapat berupa: – akibat bencana
yang terjadi, seluruh kapasitas Dinas PU setempat tersebut lumpuh total;
– tidak ada sumber daya baik manusia maupun peralatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan yang diminta.
1. Bila dinas PU Provinsi tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, maka Dinas PU Provinsi mengajukan
permintaan pemenuhan kebutuhan kepada Kementerian PU Pusat. Ketidakmampuan Dinas PU Provinsi tersebut dapat berupa:
– akibat bencana yang terjadi, seluruh aktivitas di daerah tersebut lumpuh total;
– tidak ada sumber daya baik manusia maupun peralatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan yang diminta.
1. Memberikan informasi kepada tim reaksi cepat mengenai ketersediaan serta
kapan bantuan akan diserahkan serta meminta pendampingan penyerahan bantuan dari tim reaksi cepat
sebagaimana yang diamanatkan dalam PerKa BNPB No. 10/2008
2. Penyerahan bantuan:
– Proses
Kementerian PU Pusat:
Kementerian PU pusat memberikan bantuan melalu Dinas PU Provinsi untuk kemudian diserahkan kepada Dinas PU kabupaten.
– Proses
penyerahan dari Dinas PU
provinsi:
Dinas PU Provinsi pusat memberikan bantuan kepada Dinas PU Kabupaten
– Proses
penyerahan dari Dinas PU
Kabupaten: Dinas PU Kabupaten menyerahkan bantuan kepada TRC. Apabila bantuan berupa peralatan yang
pengoperasiannya membutuhkan peralatan khusus, maka disertakan personil dari Dinas PU untuk
mengoperasikannya.
1. Bantuan-bantuan yang harus disediakan oleh Dinas PU dalam rangka penyiapan infrastruktur permukiman, disamping peralatan dan personil adalah penyiapan jalur evakuasi, hunian serta infrastruktur pendukung permukiman, yang ditetapkan dan diminta oleh TRC
1. Penyiapan Infrastruktur Permukiman Pada Masa Tanggap Darurat
Memperhatikan Perka BNPB No. 10/2008, maka penyiapan infrastruktur permukiman pada masa tanggap darurat yang harus dilaksanakan oleh Dinas PU Kab/Kota. Dinas PU Provinsi dan atau Kementerian PU setidaknya mencakup penyiapan jalur evakuasi yang akan digunakan menuju ke lokasi hunian darurat, penyiapan lokasi penampungan dan huniannya serta penyiapan infrastruktur. Pelaksanaan penyiapan infrastruktur permukiman tersebut mengacu pada prosedur-prosedur berikut.
Kondisi: Jalur evakuasi adalah semua jalur jalan yang telah ditentukan (baik jalan untuk kendaraan maupun jalan setapak) menuju titik kumpul dan menuggu arahan dari Tim Reaksi Cepat (TRC).
Jalur evakuasi biasanya sudah ditentukan oleh BPBD setempat dan disosialisasikan kepada masyarakat dan tercantum dalam rencana tata ruang setempat
Maka: 1. Apabila belum ada jalur
evakuasi yang telah ditentukan, maka tim reaksi cepat dapat segera menentukan jalur evakuasi menjauhi titik bencana ke lokasi yang lebih aman menggunakan jalur yang tersedia dengan persyaratan tertentu sebagaimana yang tertera di bawah ini. 2. Di perkotaan:
• Jalur evakuasi tersebut berupa jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat berpaspasan dan mampu
menahan beban setara jalan kelas III. Kondisi tersebut diharapkan
memudahkan angkutan missal (seperti truk) mengangkut pengungsi.
• Jalur penyelamatan terdiri jalur jalan formal (jalan kota/jalan raya) dan jalan-jalan “tikus” yang berada
diantara bangunan yang biasa digunakan untuk memintas jarak
• jalur evakuasi dapat berupa jalan yang ada,
selama cukup untuk dilalui oleh kendaraan roda empat. Apabila tidak terdapat jalan dengan kriteria tersebut,
D
dapat
diusahakan
melalui jalan lain yang ada (jalan setapak/jalan lainnya) yang memungkinkan dilalui oleh kendaraan roda dua.
2. Terdapat beberapa titik kumpul di sepanjang jalur evakuasi untuk
memudahkan pengangkutan
pengungsi. Titik kumpul tersebut dilengkapi dengan penanda yang jelas, lengkap dengan
peta jalur evakuasi secara lengkap dan rencana penyelematan. Apabila belum ada
penentuan titik kumpul sehingga belum ada penanda dan peta jalur evakuasi, TRC segera menentukan titik
kumpul dengan kriteria sebagai berikut:
• Mudah di capai • Berada pada jalur
evakuasi • Memiliki luas yang cukup untuk menampung sekelompok orang • Memiliki tempat untuk kendaraan berhenti sehingga tidak akan mengganggu jalur yang ada
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP G
• Membuat tanda darurat yang menandakan lokasi tersebut adalah titik kumpul
3. Bila ada jalur jalan yang terputus, tim
melaporkannya untuk segera didatangkan alat berat, serta mencari alternatif jalur lain yang dapat dilewati
Langkah-langkah untuk melaporkan jalur jalan yang terputus adalah:
• Personel yang menemukannya menggunakan alat komunikasi HT menghubungi pimpinan • Melaporkan tentang kebutuhan alat berat, memberitahukan lokasi serta jalur alternatif sementara bila ada • Pimpinan menghubungi dinas PU setempat apabila masih berfungsi atau PU provinsi untuk permintaan bantuan.
4. Untuk bencana gempa bumi
• Ada kemungkinan jalur rusak dan hancur serta terjadinya gempa-gempa susulan
• Pengungsi diarahkan menghindari jalur yang rusak dan sedapat
mungkin selalu berada di area terbuka sampai frekuensi gempa menurun sesuai yang disampaikan oleh PVBMG
• Pengungsi melakukan evakuasi dengan berjalan kaki atau
mengendarai kendaraan roda dua menuju titik kumpul terdekat
• Seluruh prosedur evakuasi berjalan sesuai dengan kerangka waktu yang dikeluarkan oleh TRC
Penanganan Bencana dari BPBD 1. Untuk bencana tsunami • Ada kemungkinan jalur rusak dan
hancur serta terjadinya gempa-gempa susulan
• Pengungsi diarahkan menghindari jalur yang rusak dan sedapat mungkin selalu berada di area terbuka sampai frekuensi gempa menurun sesuai yang disampaikan oleh PV BMG
• Jalur evakuasi adalah semua jalur jalan yang ada (baik jalan untuk kendaraan maupun jalan setapak) menuju dataran yang lebih tinggi, menjauhi pantai, menuju titik kumpul dan menuggu arahan dari Tim Reaksi Cepat (TRC)
• Jalur evakuasi dapat berupa jalur vertical (menuju bangunan-bangunan tinggi terdekat yang sudah ditetapkan sebagai bangunan aman tsunami) & jalur horizontal (menuju daerah yang lebih tinggi. Ketinggian 22 m di atas permukaan air, titik aman tsunami.)
• Jalur evakuasi yang berupa jalan formal hanya dapat digunakan
pada awal saja (ketika gempa baru terjadi dan tsunami belum dimulai), ketika tsunami terjadi jalan formal tersebut dapat menjadi jalur air yang dapat mengancam jiwa, sehingga perlu dihindari. Penggunaan jalur tikur sangat dianjurkan karena sifatnya yang berliku-liku dapat menahan laju air • Pengungsi melakukan evakuasi
dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan roda dua menuju titik tertinggi yang terdekat dengan tempat tinggalnya
• Seluruh prosedur evakuasi berjalan sesuai dengan kerangka waktu yang dikeluarkan oleh TRC Penanganan Bencana dari BPBD sesuai dengan arahan BKMG tentang status tusnami
1. Untuk bencana letusan gunung berapi
• Lokasi aman pada bencana gunung berapi adalah menjauhi ring 1 (lokasi terdekat dengan gunung berapi). Radius setiap ring sudah ditentukan sebelumnya oleh BPBD setempat.
• Jalur evakuasi diusahakan tidak terkena oleh material yang berjatuhan dari letusan tersebut • Pengungsi melakukan evakuasi
dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan roda dua menuju titik kumpul terdekat
• Seluruh prosedur evakuasi berjalan sesuai dengan kerangka waktu yang dikeluarkan oleh TRC Penanganan Bencana dari BPBD berdasarkan arahan dari PV BMG 9. Untuk bencana Banjir Bandang
• Jalur evakuasi merupakan jalur yang menjauhi dataran rendah dan aliran sungai, diupayakan berupa jalur yang bukan berupa jalur lurus,
untuk menghambat aliran air
• Pengungsi melakukan evakuasi dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan roda dua menuju titik kumpul terdekat
• Seluruh prosedur evakuasi berjalan sesuai dengan kerangka waktu yang dikeluarkan oleh TRC Penanganan Bencana dari BPBD
Gambar D.1 Peta Jalur Evakuasi
1. Prosedur Penyiapan Tempat Penampungan Sementara Dan Infrastruktur Pendukung
Kondisi: • kegiatan untuk menampung korban bencana dalam jangka waktu tertentu, dengan menggunakan bangunan yang telah ada atau tempat berlindung
yang dapat dibuat dengan cepat seperti tenda, gubuk darurat, dan sebagainya.
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6 CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP
D
• Prosedur penyiapan tempat penampungan sementara dan infrastruktur perndukungnya sama untuk keempat jenis bencana baik di kawasan perdesaan dan perkotaan.
Tujuan: Menyelamatkan atau mengamankan pengungsi dengan menjauhkannya dari tempat bencana yang dianggap berbahaya, ketempat yang aman agar dapat
memudahkan pemberian bantuan dan
pertolongan secara menyeluruh dan terpadu tanpa menimbulkan kesulitan baru yang sukar diatasi.
Sasaran 1. Sasaran utama operasi
pengungsian ialah memindahkan
penduduk (termasuk yang luka/sakit) dari daerah bencana ke tempat lain yang sudah disiapkan
2. Berusaha memperkecil kemungkinan terjadinya korban atau resiko baik fisik, material maupun spiritual ditempat
terjadinya bencana dan pada saat pelaksanaan pengungsian menuju ke penampungan
sementara
Prioritas Yang pertama-tama harus dilakukan ialah memindahkan orang-orang yang luka berat atau pasien-pasien yang
memerlukan perawatan lebih lanjut ke Rumah Sakit terdekat atau Rumah Sakit Rujukan.
Maka langkah-langkah
penyiapannya adalah :
• Membantu meyakinkan penduduk bahwa demi keselamatan mereka harus diungsikan ketempat yang
lebih aman ;
• Menyiapkan suatu bentuk atau sistem transportasi yang tepat bagi penduduk yang diungsikan ;
• Membantu menyiapkan persediaan dan memberikan makanan,
minuman dan keperluan lain yang cukup untuk penduduk yang akan diungsikan selamam dalam
perjalanan sampai ke tempat penampungan sementara ; • Membantu menyiapkan
obat-obatan dan memberikan perawatan medis selama dalam perjalanan • Membantu pencatatan nama-nama
penduduk yang diungsikan termasuk yang luka, sakit dan meninggal dunia
• Membantu petugas keamanan setempat dalam melindungi harta milik dan barang-barang kebutuhan hidup penduduk yang diungsikan • Sesampai di tempat tujuan para
pengungsi hendaklah diserah terimakan secara baik kepada
pengurus penampungan sementara atau darurat untuk penanganan lebih lanjut
• Menyediakan tenda, prasarana dan sarana serta peralatan sesuai
dengan kebutuhan yang sudah ditetapkan oleh TRC
• Menyediakan seluruh transportasi sendiri untuk mengangkut tenda, prasarana dan sarana serta
peralatan
• Menyediakan personil yang berkompeten untuk mendirikan atau memasang tenda, prasarana dan sarana serta peralatan
• Melibatkan masyarakat korban bencana dalam penyediaan hunian dan prasarana dan sarananya
• Penanggungjawab penyediaan penampungan sementara ini harus
selalu melapor dan berkoordinasi dengan BPBD atau personil yang ditunjuk sebagai komandan di lokasi
Persyaratan penampungan sementara
1. Prosedur Pemilihan tempat meliputi: • Memilih lokasi penampungan yang
berada di daerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi terhadap gangguan keamanan baik internal maupun external;
• Memilih lokasih yang jauh dari daerah rawan bencana;
• Memilih lokasi dengan hak
penggunaan lahan yang memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi dengan
pemerintah setempat;
• Memilih lokasi dengan akses jalan yang mudah;
• Memilih lokasi yang dekat dengan sumber mata air, sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK
• Memilih lokasi yang dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan tempat beribadah atau dapat disediakan secara memadai
1. Penampungan harus dapat meliputi kebutuhan ruangan :
• Posko
• Pos Pelayanan Komunikasi • Pos Dapur Umum
• Pos Watsan • Pos TMS • Pos PSP
• Pos Humas dan Komunikasi • Pos Relief dan Distribusi 1. Jenis penampungan Sementara
Untuk menampung korban bencana
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP
sementara berupa:
• Bangunan yang sudah tersedia yang bisa dimanfaatkan Contoh : gereja, masjid, sekolahan, balai desa, gudang
• Tenda ( penampungan darurat
yang paling praktis ) Contoh : tenda pleton, tenda regu, tenda keluarga, tenda pesta
• Mendirikan bangunan dari bahan seadanya/bahan yang banyak terdapat di lokasi, contoh: kayu, dahan , ranting, pelepah kelapa dan lain-lain Persyaratan dan Prosedur penyiapan Infrastruktur pendukung:
Infrastruktur yang harus ada adalah air bersih, sanitasi, aksesibilitas dengan persyaratan antara lain:
1. Air Bersih.
• Diberikan dalam bentuk air yang kualitasnya memadai untuk
kebersihan pribadi maupun rumah tangga tanpa menyebabkan risiko yang berarti terhadap kesehatan. Bantuan air bersih diberikan dalam bentuk sumber air beserta
peralatannya.
• Bantuan air bersih diberikan sejumlah 7 liter pada tiga hari pertama, selanjutnya 15 liter per orang per hari.
• Jarak terjauh tempat penampungan sementara dengan jamban
keluarga adalah 50 meter. • Jarak terjauh sumber air dari
tempat penampungan sementara dengan titik air terdekat adalah 500 meter
Prosedur penyiapan infrastruktur air bersih • Menentukan
sumber air
terdekat, apakah dari mata air, air tanah, air
permukaan, atau air hujan, atau tidak ada sama sekali
• Menyediakan Bak Penampungan (untuk
menampung air yang berasal dari mobil tanki)
• Menyediakan bak penampung air hujan
• Mobil tanki yang datang secara berkala
1. Bantuan Air Minum
• Diberikan dalam bentuk air yang dapat diminum langsung atau air yang memenuhi persyaratan kesehatan untuk dapat diminum • Bantuan air minum diberikan
sejumlah 2.5 liter per orang per hari
• Rasa air minum dapat diterima dan kualitasnya cukup memadai untuk diminum tanpa menyebabkan resiko kesehatan.
Prosedur penyiapan air minum:
• Air minum diberikan dalam bentuk jadi sampai terbentuk dapur umum • Penyedian air minum adalah
dengan memberikan air kemasan atau mengemas air minum yang didatangkan dari daerah aman kedalam kemasan-kemasan kecil siap minum (dalam kantung
plastik)
1. Bantuan Sanitasi
• Diberikan dalam bentuk pelayanan kebersihan dan kesehatan
saluran air (drainase), pengelolaan limbah cair dan limbah padat,
pengendalian vektor, serta pembuangan tinja
• Sebuah tempat sampah berukuran 100 liter untuk 10 keluarga, atau barang lain dengan jumlah yang setara
• Penyemprotan vektor dilakukan sesuai kebutuhan
• Satu jamban keluarga digunakan maksimal untuk 20 orang
• Jarak jamban keluarga dan penampung kotoran
sekurangkurangnya 30 meter dari sumber air bawah tanah
• Dasar penampung kotoran sedekat-dekatnya 1,5 meter di atas air
tanah. Pembuangan limbah cair dari jamban keluarga tidak
merembes ke sumber air manapun, baik sumur maupun mata air
lainnya, sungai, dan sebagainya • Satu tempat yang dipergunakan
untuk mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga, paling banyak dipakai untuk 100 orang Prosedur penyiapan infrastruktur sanitasi:
• Menentukan lokasi yang dekat dengan tempat penampungan • Menggunakan mobil MCK apabila
tersedia prasarana jalan yang memadai
• Membangun MCK darurat sebagai berikut:
○ Apabila sudah terdapat
kakus jongkok dari semen, cukup membuat lubang penampungan dan penutup yang menggunakan material yang terdapat di lokasi
○ Apabila belum ada kakus
jongkok, dapat dibuat MCK sederhana berupa lubang
dengan saluran menuju kepenampungan serta penutup darurat yang terbuat dari material yang ada di lokasi
○ Mendatangkan kakus
portable
• Untuk sarana cuci, dapat
menggunakan air permukaan yang ada
• Selain itu juga dapat membangun penampungan air yang ditinggikan dengan disambungkan pada pipa berkeran sebagai sarana cuci dan mengambil air
1. Jalan sebagai aksesibilitas menuju dan keluar dari tempat penampungan • Jalan tersebut menghubungkan
tempat penampungan ke fasilitas lainnya disekitarnya
• Jalan tersebut terhubung ke jalan utama (kota/desa)
• Jalan tersebut dalam kondisi baik dapat dilalui kendaraan roda empat Prosedur Pembuatan Jalan
• Meratakan dan membersihkan jalur yang akan dijadikan jalan (setapak maupun jalan akses)
• Melakukan perkerasan, terutama pada bagian-bagian yang mudah terendam/berlumpur pada saat hujan dengan menggunakan batuan kecil/pasir
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP
1. pembangunan Hunian Sementara
Kondisi: • Setelah seluruh pengungsi aman dalam tempat penampungan, sementara kerusakan yang terjadi cukup besar sehingga membutuhkan waktu untuk mengembalikan
kondisinya, tim menyiapkan hunian sementara yang dapat digunakan lebih lama dan lebih layak daripada tempat penampungan
penampungan sementara dan infrastruktur perndukungnya sama untuk ketiga jenis bencana baik di kawasan perdesaan dan perkotaan dengan beberapa pengecualian atau tambahan yang dituliskan di bawah.
Tujuan: Menyediakan tempat tinggal yang aman, sehat, dan layak bagi pengungsi selama menunggu proses pembersihan lahan, penyediaan hunian baru atau perbaikan rumah yang rusak terkena bencana
Maka langkah-langkah
penyiapan hunian darurat adalah :
• Memastikan partisipasi masyarakat, terutama yang menjadi korban
bencana, dalam seluruh proses kegiatan. Jika memungkinkan
melibatkan sektor privat (organisasi non pemerintah, badan donor, dsb). • Setelah partisipasi dipastikan,
selanjutnya adalah menentukan korban bencana yang memerlukan huntara dan mana yang dapat menampung korban bencana. • Menentukan model hunian
sementara seperti apa yang aman dan sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan dengan melibatkan semua pihak, beberapa pilihannya adalah: – Huntara terpusat dibangun diatas lahan komunal/negara – Huntara terpusat dibangun diatas lahan pribadi – Huntara tunggal diatas lahan pribadi – Menempati rumah warga yang tidak rusak • Melakukan survey kemungkinan
lokasi-lokasi pembangunan huntara
PENDAHULUAN Latar Belakang A.1 Tujuan & Sasaran A.2 Landasan Hukum A.3 Ruang Lingkup A.4 Definisi Umum A.5 Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP B ORGANISASI PELAKSANAAN C PROSEDUR PELAKSANAAN D Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi _ PANDUAN TUGAS E PENGENDALIAN F PENUTUP
D
bersama masyarakat. Hal yang harus diperhatikan adalah:
– Status
kepemilikan lahan
– Lokasi aman dari risiko bencana – Aksesibilitas
lokasi
• Memfasilitasi kesepakatan antara pemilik lahan dengan penghuni huntara untuk mencegah konflik di kemudian hari
• Melakukan perencanaan
pembangunan dengan melibatkan masyarakat dan sektor privat, meliputi:
– Tenaga kerja dan pengupahannya – Material yang
digunakan dan pengadaannya – Dukungan teknis
dan non teknis yang diperlukan • Menentukan sistem koordinasi dan
pengawasan pelaksanaan pekerjaan , meliputi: – Jadwal pelaksanaan – Skenario koordinasi
– Pola bagi peran antara pemangku kepentingan
• Melakukan pendampingan dan pengawasan pembangunan huntara, memastikan kualitas bangunan layak dan memenuhi persyaratan hunian sementara ; • Mempersiapkan infrastruktur
pendukung permukiman, dan sistem pengelolaannya.
Persyaratan penampungan sementaara
Pemilihan tempat meliputi:
• Lokasi penampungan seharusnya berada didaerah yang bebas dari seluruh ancaman yang berpotensi terhadap gangguan keamanan baik internal maupun external;
• Jauh dari lokasi daerah rawan bencana;
• Hak penggunaan lahan seharusnya memiliki keabsahan yang jelas; diutamakan hasil dari koordinasi dengan pemerintah setempat; • Memiliki akses jalan yang mudah; • Dekat dengan sumber mata air,
sehubungan dengan kegiatan memasak dan MCK
• Dekat dengan sarana-sarana pelayanan sosial termasuk
pelayanan kesehatan, olahraga, sekolah dan tempat beribadah atau dapat disediakan secara memadai
Persyaratan Infrastruktur pendukung:
1. Sistem Penyediaan Air bersih, meliputi:
• Ekstraksi dari sumber dan perlindungan sumber
• Menyediakan sistem pengolahan air baku
• Tanki penyimpanan, sistem penyaluran, dan titik-titik keran • Kapasitas standar adalah 20 liter
air/orang/hari
• Jarak terjauh hunian dengan titik air terdekat adalah 500 meter
• Dapat mengakomodir kebutuhan penghuni di lokasi tersebut dalam jangka waktu yang cukup panjang,
tanpa perawatan yang berlebihan. (sekitar 6 bulan atau lebih) sampa dengan tahap relokasi (apabila diperlukan)
1.
1. SiSiststem em SaSaninitatasisi •
• Diberikan dalam bentuk pelayananDiberikan dalam bentuk pelayanan kebersihan dan kesehatan
kebersihan dan kesehatan
lingkungan yang berkaitan dengan lingkungan yang berkaitan dengan saluran air
saluran air (drainase), pengelolaan(drainase), pengelolaan limbah cair dan limbah padat,
limbah cair dan limbah padat, pengendalian vektor, serta pengendalian vektor, serta pembuangan tinja
pembuangan tinja •
• Sebuah tempat sampah berukuranSebuah tempat sampah berukuran 100 liter untuk 10
100 liter untuk 10 keluarga, ataukeluarga, atau barang lain dengan jumlah yang barang lain dengan jumlah yang setara
setara •
• Penyemprotan vektor dilakukanPenyemprotan vektor dilakukan sesuai kebutuhan
sesuai kebutuhan •
• Satu jamban keluarga digunakanSatu jamban keluarga digunakan maksimal untuk 20 orang
maksimal untuk 20 orang •
• Jarak jamban keluarga dan Jarak jamban keluarga dan penampung kotoran
penampung kotoran
sekurangkurangnya 30 meter dari sekurangkurangnya 30 meter dari sumber air bawah tanah
sumber air bawah tanah •
• Dasar penampung kotoran sedekat-Dasar penampung kotoran sedekat-dekatnya 1,5 meter di atas air
dekatnya 1,5 meter di atas air tanah. Pembuangan limbah cair tanah. Pembuangan limbah cair dari jamban keluarga tidak
dari jamban keluarga tidak
merembes ke sumber air manapun, merembes ke sumber air manapun, baik s
baik sumur umur maupun maupun mata mata airair lainnya, sungai, dan sebagainya lainnya, sungai, dan sebagainya •
• Satu tempat yang Satu tempat yang dipergunakandipergunakan untuk mencuci pakaian dan untuk mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga, paling peralatan rumah tangga, paling banyak dipakai untuk 100 orang banyak dipakai untuk 100 orang
1.
1. JaJalan slan sebaebagai agai aksksesiesibilbilitaitass menuju dan keluar dari menuju dan keluar dari hunian sementara
hunian sementara •
• Jalan tersebut Jalan tersebut menghubungkanmenghubungkan tempat penampungan ke fasilitas tempat penampungan ke fasilitas lainnya disekitarnya
lainnya disekitarnya •
• Jalan tersebut terhubung ke jalan Jalan tersebut terhubung ke jalan utama (kota/desa)
utama (kota/desa) •
• Jalan tersebut dalam kondisi baik Jalan tersebut dalam kondisi baik dapat dilalui kendaraan roda empat dapat dilalui kendaraan roda empat
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang A.1
Latar Belakang A.1
Tujuan & Sasaran A.2
Tujuan & Sasaran A.2
Landasan Hukum A.3
Landasan Hukum A.3
Ruang Lingkup A.4
Ruang Lingkup A.4
Definisi Umum A.5
Definisi Umum A.5
Sistematika Penyajian A.6
Sistematika Penyajian A.6
CARA PENGGUNAAN SOP
CARA PENGGUNAAN SOP
B B ORGANISASI ORGANISASI PELAKSANAAN PELAKSANAAN C C PROSEDUR PROSEDUR PELAKSANAAN PELAKSANAAN D D Tanggap Darurat D.1 Tanggap Darurat D.1 Rehabilitasi & D.2 Rehabilitasi & D.2 Rekonstruksi Rekonstruksi _ _ PANDUAN TUGAS PANDUAN TUGAS E E PENGENDALIAN PENGENDALIAN F F PENUTUP PENUTUP