ANALISIS PASCA-KRITIKALITAS PERTAMA
REAKTOR TEMPERATUR TINGGI HTR-10 CHINA
Ferhat Aziz dan As Natio Lasman
*ABSTRAK
ANALISIS PASCA KRITIKALITAS PERTAMA REAKTOR TEMPERATUR TINGGI HTR-10 CHINA. HTR10 adalah reaktor temperatur tinggi dengan daya 10 MWth yang dioperasikan
oleh INET, Tsinghua University, Beijing, China. Reaktor yang menggunakan bahan bakar tipe bola ini mencapai kritikalitas pertamanya pada 1 Desember 2000 yang lalu. Sebelumnya INET telah meminta para peneliti yang tergabung dalam CRP-5 (5th Co-ordinated Research Program) IAEA untuk menghitung kritikalitas pertama sebagai problem benchmark. Perhitungan benchmark yang dilakukan oleh berbagai negara terdapat beberapa perbedaan hasil, baik antar-perhitungan maupun antara perhitungan dan hasil eksperimen, karena ternyata ada prbedaan pada data impuritas dan temperatur yang diberikan oleh INET dengan kenyataan. Analisis pasca-kritikalitas ini dilakukan dengan menggunakan data yang diperbarui sebagaimana diberikan oleh pihak INET pada pertemuan RCM di Oarai Maret 2001 yang lalu. Pada analisis ini, perhitungan sel dilakukan dengan.menggunakan SRAC Code dengan mengadakan perbaikan pada modelling bahan bakar. Perhitungan eigenvalue teras dilakukan dengan CITATION. Hasil perhitungan terakhir menunjukkan kritikalitas HTR10 tercapai pada ketinggian pemuatan 120 cm. Dibandingkan dengan hasil dari negara lain dan kenyataan bahwa kritikalitas pertama dicapai pada ketinggian 126 cm, hasil ini menunjukkan perbaikan berarti.
ABSTRACT
POST-CRITICAL ANALYSIS OF CHINA’S HIGH TEMPERATURE REACTOR HTR-10. HTR-10 is a 10 MWth high temperature reactor operated by INET, Tsinghua University, Beijing
China. The pebble bed reactor reached its first criticality on December 1, 2000. Prior to it, INET requested researchers under IAEA’s CRP-5 (5th Co-ordinated Research Program) to calculate its first criticality as a benchmark problem. The Benchmark problem calculations performed by several institutions showed different results, either between calculations, or between calculation and experimental results, because of discrepancies between data supplied by INET and realities. This post-critical analysis was performed using updated data as provided by INET at Oarai RCM in March 2001. In the analysis, cell calculation was performed using SRAC Code by incorporating improvement in fuel modeling. Core eigenvalue calculation was performed using CITATION. Results of latest calculation showed that initial criticality of HTR10 can be achieved at loading height of 120 cm. Compared to the results from other countries and to the experimental results of 126 cm, our results showed good improvement.
*
PENDAHULUAN
Reaktor temperatur tinggi semakin mendapatkan perhatian dewasa ini. Ciri
keselamatannya yang aman secara melekat (inherent) dan dapat menghasilkan energi
secara ekonomis semakin menarik minat berbagai negara di dunia untuk menelitinya,
khususnya di Asia. Dewasa ini Asia merupakan salah satu kawasan dunia yang
menaruh minat paling tinggi bagi pengembangan HTGR (High Temperature Gas
Reactor), yang ditunjukkan dengan telah dibangunnya HTTR di Jepang dan HTR-10
di China, serta terlibatnya berbagai negara Asia termasuk Indonesia dalam working
group maupun penelitian bersama tentang HTGR.
HTR-10 adalah sebuah modul reaktor uji yang dibangun dan dioperasikan oleh
INET (Institute of Nuclear Energy Technology) Universitas Tsinghua di timur laut
Beijing, Cina. Tujuan umum pembangunannya adalah untuk memverifikasi dan
mendemonstrasikan ciri teknis dan keselamatan HTGR modular, dan memantapkan
basis eksperimental bagi pengembangan aplikasi panas proses nuklir dan daur turbin
gas untuk menghasilkan listrik. Tujuan khusus pembangunan HTR-10 dapat
dituliskan sebagai berikut:
- Meningkatkan kemampuan dan keahlian dalam desain, konstruksi dan
pengoperasian HTGR
- Memantapkan fasilitas iradiasi dan eksperimental untuk elemen bakar nuklir
- Mendemonstrasikan ciri keselamatan melekat pada HTGR modular.
- Mengujicoba teknologi kelistrikan, ko-generasi panas dan gas turbin
- Melaksanakan litbang dalam aplikasi panas proses temperatur tinggi.
Ciri teknis khusus yang terdapat pada desain HTR10 adalah menggunakan
elemen bakar berbentuk bola (spherical) dari jenis buatan Jerman. Setiap bolanya
tersusun dari ribuan partikel berlapis (coated particles). Dalam reaktor ini dapat
diyakinkan bahwa temperatur maksimum elemen bakar sebesar 1600
°
C tidak akan
dapat terlampaui dalam kecelakaan apapun (IAEA-TECDOC-881, 1996). Reaktor dan
pembangkit uap masing-masing dikungkung dalam bejana tekan terpisah. Posisi
keduanya diatur dan diletakkan bersebelahan dan dihubungkan oleh bejana
penghubung yang berisi pipa saluran (duct) gas panas bertekanan. Gambar 1
menunjukkan tampang lintang sirkuit sistem primer pada reaktor temperatur tinggi
HTR-10.
Dengan tercapainya kritikalitas pertama pada tanggal 1 Desember 2000 yang
lalu, para pengamat dan peneliti HTR dunia, khususnya yang tergabung sebagai
peneliti dalam “Coordinated Research Project on the Evaluation of High Temperature
Gas Cooled Reactor Performance” dapat membuktikan ketepatan perhitungan mereka
dalam memprediksi kekritisan pertama dan berbagai ciri fisika teras utama pada saat
awal kekritisan (fresh core) reaktor ini. Dalam makalah ini para penulis melaporkan
hasil perhitungan mutakhir P2SRM dalam mengevaluasi unjuk kerja teras HTR-10,
dan menyajikan analisis pasca-kekritisan pertama HTR-10, yang mengulas hasil-hasil
perhitungan para peneliti dari institusi litbang dunia sebelumnya dan hasil perhitungan
P2SRM sendiri.
DESKRIPSI UMUM HTR-10
HTR-10 adalah reaktor temperatur tinggi berbahan bakar bola. Bila terjadi
kecelakaaan, reaktor ini tidak memerlukan sistem pendinginan teras secara aktif.
Panas sisa (residual) dapat didisipasikan dengan mekanisme pemindahan panas pasif
ke atmosfir sekitarnya. Keseluruhan konstruksi teras reaktor terbuat dari grafit. Tidak
ada satupun komponen metal di sana.
Teras keseimbangan HTR-10 nantinya diprediksi memuat 27.000 elemen bakar
yang mengisi sumur dengan diameter 180 cm dan ketinggian rata-rata 197 cm. Elemen
bakar akan dimasukkan dalam reaktor dengan pola “multi-pass”. Bahan bakar bola
dengan diameter 6 cm dengan partikel berlapis TRISO mengisi teras. Desain bahan
bakar bola ini dapat dilihat pada Gambar 2. Sistem penanganan bahan bakar
pneumatic digunakan secara terus menerus untuk mengisi dan mengeluarkan elemen
bakar. Grafit digunakan sebagai material utama struktur teras yang terdiri atas
reflektor atas, bawah dan sisi. Struktur teras keramik ini dikungkung oleh bejana tekan
dari baja.
Di dalam reflektor samping yang tebalnya 100 cm, kanal helium dingin
dirancang sedemikian rupa agar helium mengalir ke atas setelah memasuki reaktor
dari antara bejana penghubung dan pipa gas panas. Aliran helium berbalik ke bawah
setelah mencapai puncak teras untuk menuju bagian bawah teras, sehingga terbentuk
pola aliran ke bawah. Setelah dipanasi dalam teras (bed), helium melewati suatu ruang
gas panas (hot gas plenum) di dalam reflektor bawah. Dari sini gas mengalir melewati
pipa gas panas menunju komponen penukar panas.
Pembuangan panas peluruhan HTR-10 didesain seluruhnya atas dasar sistem
pasif. Bila terjadi kecelakaan kehilangan tekanan (loss of pressure) di mana tidak
tersedia pendinginan, panas peluruhan akan terdisipasi melalui struktur teras dengan
cara konduksi dan radiasi panas ke luar bejana tekan reaktor (reactor pressured vessel,
RPV.) Panas ini kemudian akan didispasikan melalui sistem pendinginan permukaan
yang terdapat pada dinding bangunan beton. Sistem ini bekerja secara prinsip alamiah
sirkulasi air dan melepaskan panas peluruhan tersebut melalui pendingin udara ke
atmosfir.
HTR-10 menerapkan dua sistem pemadaman reaktor. Pertama adalah sistem
batang kendali yang terdiri atas sepuluh batang. Kedua adalah sistem bola kecil
penyerap yang disebut juga sebagai KLAK. Masing-masing dari kedua sistem dapat
memadamkan reaktor. Karena reaktor memiliki koefisien temperatur negatif yang
sangat kuat dan pembuangan panas peluruhannya tidak membutuhkan sirkulasi
pendingin helium, reaktor juga dapat dipadamkan dengan cara mematikan sirkulator
helium.
Fase pengujian HTR-10 direncanakan dalam dua tahap. Dalam tahap pertama
reaktor akan dioperasikan dengan temperatur keluaran 700
°
C dan temperatur masukan
250
oC. Sirkuit sekundernya terdiri atas siklus turbin uap untuk menghasilkan listrik
dengan kemampuan pemanasan distrik. Pembangkit uapnya dapat menghasilkan uap
pada temperatur 440C dan tekanan 4 MPa cukup untuk menyuplai unit turbin
generator standar. Diagram alir fase pertama ini ditunjukkan pada Gambar 3.
Pada fase pengujian kedua, HTR-10 direncanakan dioperasikan pada temperatur
keluaran 900
oC dan temperatur masukan 300
oC. Pada tahap ini didesain akan
dioperasikan sebuah turbin gas dan turbin uap sebagai combined cycle. Rancangan
diagram alir untuk fase ini ditunjukkan pada Gambar 4. Keberadaan sebuah penukar
panas menengah (intermediate heat exchanger, IHX) dengan daya termal 5 MW dapat
menyediakan gas nitrogen pada temperatur 850
oC untuk siklus turbin gas. Pembangkit
uap dengan daya 5 MW yang tersisa dapat menghasilkan uap pada temperatur 435
oC
untuk siklus uap.
PEMODELAN ELEMEN BAKAR DAN TERAS
Teras HTR-10 yang diamati menggunakan moderator grafit dan pendingin gas
helium dengan temperatur outlet 700
oC dan daya termal output 10 MW. Bahan bakar
yang digunakan adalah bola UO
2dengan perkayaan
235
U 17% dan rasio bahan bakar
terhadap moderator dalam teras: 57/43 (X. Jing and Y. Sun, 1998).
Perhitungan-perhitungan untuk mengevaluasi HTR-10 dilakuan menggunakan
sistem kode difusi SRAC-95. Paket program in telah berhasil dipasang pada PC
dengan basis sistem operasi LINUX Slackware. Sistem kode komputer yang
digunakan ini terdiri atas modul-modul CELL dan CITATION.
Data nuklir yang
digunakan adalah JENDL3.2 dari Jepang.
Perhitungan konstanta kelompok rata-rata untuk campuran bahan bakar
(fuel mixture), bola moderator dan reflektor dilakukan sebagai berikut.
Sel campuran bahan bakar (fuel mixture)
Konstanta nuklir untuk campuran antara bola elemen bakar dengan
bola-bola moderator di dalam teras dihitung dengan memodelkan campuran bahan bakar
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5. Material penyusun model bahan bakar ini
dari dalam ke luar berturut-turut adalah: matriks bahan bakar, tempurung (shell) grafit,
dan campuran pendingin dan moderator.
Jari-jari sel campuran ini dapat ditentukan menggunakan hubungan berikut.
Volume unit sel campuran bahan bakar yang berpusat pada satu bola elemen bakar,
V
c= V
p(1+m)/f (1)
di mana, m adalah rasio moderator terhadap bola bahan bakar dan Vp adalah volume
bola. Untuk HTR-10, nilai m dan f masing-masing adalah 43/57 dan 0,61. Sehingga,
radius sel ekuivalen, R
2, untuk sel campuran bola bahan bakar dapat dihitung
menggunakan hubungan,
V
c = 4π
/3
×
R
23, (2)
Persamaan ini menghasilkan harga R
2sama dengan 4,2663 cm. Nilai R
1pada model
ini tetap sama dengan radius luar tempurung, 3,0 cm, dan nilai R
0adalah 2,5 cm.
Sel Moderator
Untuk sel moderator, konstanta kelompoknya dihitung menggunakan model
yang mirip dengan campuran bahan bakar. Bola moderator terdiri atas grafit yang
radiusnya sama dengan bola elemen bakar. Konstanta untuk bola moderator ini
diperlukan untuk daerah berbentuk kerucut (cone) di bagian bawah teras, di mana
pada teras pertama HTR-10 ini diisi penuh hanya dengan bola-bola moderator saja.
Volume unit sel pada bola moderator sama dengan Vp
/f, di mana, V
p adalahvolume bola, dan f adalah fraksi pengisian (filling fraction.)
Volume ruang kosong yang diasosiasikan dengan sebuah bola dari jenis
manapun adalah = Vp
(1-f) /f.
Dalam perhitungan konstanta kelompok untuk bola moderator (dummy balls),
frasksi volume CFP dalam bola moderator diambil sangat kecil, sehingga nyaris
seluruh volume ditempati oleh grafit. Fraksi pengisian f untuk bola moderator
diasumsikan sama dengan yang di daerah teras, yaitu 0,61. Karena itu volume sel bola
moderator sama dengan Vc
=V
p/f. Dari sini dapat dihitung jari-jari ekuivalennya, R
2,
yaitu 3.5373 cm.
Sel reflektor
Guna mendapatkan konstanta untuk refflektor dan material struktur lainnya,
diperlukan pemodelan sel yang sesuai. Untuk itu dapat digunakan pemodelan sel yang
mirip dengan bola moderator. Dalam hal ini nilai f dipilih sama dengan 1.0. Dan
radius ekuivalen sel reflektor sama dengan bola, yaitu 3,0 cm.
Dalam seluruh perhitungan sel, konsentrasi boron alam, NB, dalam matriks
grafit dapat dihitung langsung dari nilai impuritas dalam grafit.
N
B = impuritas (ppm)×
ρ
×
A/M , (3)
di mana,
ρ, densitas grafit,
A, bilangan Avogadro (0.6022045x10
24/mol).
M, berat molekul grafit (12.011 gr./mol).
Sedangkan untuk daerah matriks bahan bakar, boron alam dari uranium dan
grafit harus diperhitungkan. Konsentarsi boron alam, NB, menjadi,
N
B =f
UM×
N
BU+(1-f
UM)
×
N
BG (4)Di mana,
f
UM adalah fraksi volume yang ditempati oleh semua inti uranium (kernels)dalam daerah bahan bakar,
N
BU dan NBG masing-masing adalah densitas boron dalam uranium dan grafit.ANALISIS HASIL PERHITUNGAN
Dengan menggunakan parameter utama fisika teras reaktor HTR-10
sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 3, konstanta multi-kelompok untuk reaktor ini
dapat dihitung, yaitu menggunakan CELL modul dari SRAC95 dangan pustaka data
nuklir yang dipilih JENDL3.2. Konstanta nuklir kemudian dibangkitkan menggunakan
107 grup energi, masingmasing 61 grup cepat dan 46 grup termal. Data nuklir
multi-grup yang dihasilkan lalu diperas (condensed) menjadi 3 multi-grup, masing-masing 2 (dua)
grup cepat dan satu grup termal.
Perhitungan faktor multiplikasi reaktor (eigenvalue problem) dilakukan
menggunakan modul perhitungan diffusi CITATION yang menganalisis teras reaktor
dalam dua dimensi, yaitu dalam geometri R-Z. Pemodelan teras dapat dilakukan
secara sederhana mengingat bentuk reaktor yang silindris dan pemuatan bahan bakar
yang merupakan campuran homogen antara elemen bakar dan bola-bola moderator
grafit.
Perhitungan eigenvalue untuk teras yang mengandung daerah void (kosong),
yaitu di bagian atas teras memerlukan perlakuan khusus agar dapat mencapai
konvergensi lebih cepat. Problem yang dikenal sebagai neutron streaming effect ke
arah-z ini, dalam analisis ini diatasi dengan cara mengintroduksi grafit dengan densitas
rendah (graphite of low density). Dalam hal ini telah digunakan pendekatan teori
difusi, di mana sebuah kavitas dianggap sebagai daerah difusi dengan tampang lintang
reaksi sama dengan nol. (Gerwin and Scherer, 1987). Konstanta difusi yang cocok
untuk daerah ini dapat diperoleh dengan memasukkan sejumlah grafit densitas rendah,
yang dicampur-adukkan dengan helium atau udara yang mengisi daerah void tersebut.
Dengan menggunakan pendekatan ini, konvergensi dalam perhitungan teras
dapat dicapai jauh lebih cepat. Sebelumnya, konvergensi untuk perhitungan teras baru
bisa dicapai setelah mendekati batas 999 iterasi. Bahkan kadang-kadang masih belum
juga mencapai konvergensi setelah batas iterasi tersebut. Namun dengan
memperkenalkan pendekatan Gerwin dan Scherer ini, konvergensi dapat dicapai
kurang dari 100 iterasi.
Kekritisan Pertama
HTR-10 mencapai kekritisan pertamanya pada 1 Desember 2000 yang lalu,
dengan ketinggian pemuatan 126 cm dengan teras yang berisi udara. Hasil perhitungan
pencarian kritikalitas untuk HTR-10 yang dilakukan dalam analisis ini ditunjukkan
dalam Tabel 4. Di sini dapat dilihat bahwa kekritisan pertama berdasarkan
perhitungan SRAC95 dengan menggunakan pustaka data nuklir JENDL3.2 dapat
dicapai setelah pemuatan bahan bakar campuran antara bola-bola elemen bakar dan
bola-bola moderator mencapai ketinggian 120 cm. Pada saat itu harga faktor
multiplikasi efektif, keff, adalah 0.9973. Dengan interpolasi linear, harga ketinggian
loading saat kekritisan pertama diperoleh pada ketinggian h =120,0262 cm. Hasil
perhitungan ini berbeda kira-kira -4.9% dari realitas.
Tabel 5 menunjukkan karakteristik pemuatan bahan bakar di sekitar kritikalitas
pertama itu, yaitu sekitar ketinggian campuran bahan bakar 120 cm. Jumlah bola
bahan bakar pada ketinggian pemuatan ini adalah 9387 bola dan jumlah bola-bola
moderator adalah 7131. Massa logam berat uranium adalah 46.9 kg, yang menempati
volume 3,06 m
3. Dari karakteristik pemuatan ini dapat diketahui jumlah campuran
bola minimal yang harus disiapkan sebelum eksperimen kekritisan dimulai.
Faktor multiplikasi k
effpada berbagai temperatur
Selain menghitung kekritisan pertama, studi ini juga mempelajari faktor
multiplikasi efektif HTR-10 pada keadaan teras penuh, yaitu volume 5 m
3. Faktor
multiplikasi HTR-10 pada temperatur. at 15
°
C, 250
°
C dan 500
°
C ditunjukkan pada
Tabel 6 untuk lingkungan udara dan helium. Tampak bahwa faktor multiplikasi
menjadi lebih tinggi dalam lingkungan helium, dan nilainya semakin menurun dengan
kenaikan temperatur. Untuk lingkungan helium, k-eff pada 15
°
C adalah 1,1381 dan
pada 500
°
C adalah 1.0844. Sedangkan untuk lingkungan udara k-eff pada 15
°
C
adalah 1,1281 dan pada 500
°
C adalah 1,0752.
Dari sini dapat dilihat bahwa efek Doppler dapat memberikan koefisien
reaktivitas temperatur seketika yang negatif pada reaktor temperatur tinggi ini. Bila
terjadi ekskursi daya, fissi yang berlebihan segera mengakibatkan kenaikan pada
temperatur bahan bakar. Kenaikan temperatur pada isotop fertil seperi pada
238U
mengakibatkan kenaikan yang relatif tinggi pada tampang lintang tangkapan parasitik
efektif untuk isotop ini.
Perbandingan Hasil Perhitungan
Untuk mengetahui tingkat reliabiltas hasil perhitungan, hasil-hasil perhitungan
ini dibandingkan secara langsung dengan hasil yang diperoleh para peneliti lain.
Tabel 7 menunjukan hasil perhitungan keseluruhan pada partisipan problema
Benchmark HTR-10.
Di sini tampak bahwa hasil-hasil perhitungan itu sangat bervariasi. Baik sesama
menggunakan metode difusi maupun bila dibandingkan dengan metode Monte Carlo.
Hasil yang terdekat dengan realitas selain dari China adalah metode Monte Carlo yang
dilakukan Amerika Serikat. Hasil Amerika Serikat ini berbeda hanya +2,9% dari
realitas. Berikutnya dengan metode Monte Carlo ini yang terdekat dengan kenyataan
adalah Rusia, dengan +9,0%, yang diikuti oleh Perancis dengan –9,5%.
Sementara di antara partisipan yang menggunakan metode diffusi, hasil
perhitungan ini merupakan yang terdekat selain China sendiri. Hasil perhitungan
metode difusi dari Rusia merupakan yang terdekat berikutnya, dengan ketinggian
pemuatan 136 cm, atau +7,9% dari realitas. Berikutnya hasil perhitungan dari
Jepang/Indonesia, yaitu merupakan kelanjutan dari perhitungan penulis ketika
mengikuti program STA di Jepang pada tahun 1999 yang lalu, yaitu –10,32%. Hasil
perhitungan yang dilakukan oleh Perancis lebih konservatif lagi, mereka berbeda
sekitar -15,9% dari kenyataan.
Dibandingkan dengan metode Monte Carlo, tampak bahwa secara umum hasil
difusi kurang baik. Tapi untuk melakukan estimasi metode ini jamak dipakai
mengingat kesederhanaan dan kecepatan perhitungan.
Metode Monte Carlo diyakini merupakan cara yang paling tepat untuk
mengestimasi kekritisan. Kelemahannya adalah kerumitan pada persiapan input untuk
program komputer tersebut, yang bila tidak hati-hati justru dapat memberikan
kesalahan yang lebih besar. Selain itu tentu saja metode Monte Carlo biasanya
membutuhkan waktu CPU komputer yang lebih besar.
KESIMPULAN
Kekritisan awal untuk reaktor temperatur tingghi HTR-10 telah dihitung
menggunakan sistem kode komputer SRAC-95. Berdasarkan perhitungan ini,
kekritisan pertama HTR-10 didapat pada ketinggian pengisian bahan bakar 120 cm
dari puncak kerucut di bagian bawah teras. Faktor multiplikasi efektif untuk teras
penuh pada berbagai temperatur telah pula dihitung dan disajikan. Hasilnya
menunjukkan bahwa HTR-10 memiliki koefisien reaktivitas temperatur yang negatif.
Hasil-hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa dibandingkan dengan realitas
kekritisan pertama HTR-10, perhitungan yang dilakukan P2SRM memberikan hasil
yang cukup dekat. Hasil perhitungan negara partisipan lain memberikan hasil yang
cukup beragam.
UCAPAN TERIMA KASIH
Para penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Zaki Su’ud atas saran dan
sumbangan pemikirannya dalam penulisan makalah ini, serta kepada Sdr. Abu Khalid
Rivai dan Sdr. Sidik Permana yang telah membantu memasang basis sistem operasi
LINUX Slackware untuk PC yang memungkinkan paket program SRAC95 ini
digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
1. X. JING and Y. SUN, “Benchmark Problem of HTR-10 Initial Core”, Draft
Version, INET, Beijing (1998)
2. IAEA-TECDOC-881, “Design and development status of small and medium
reactor systems 1995”, IAEA, (1996)
3. K. YAMASHITA et al., “Nuclear Design of the High-Temperature Engineering
Test Reactor (HTTR),” Nucl. Sci. Eng. 122, (1996) 212-228
4. K. TSUCHIHASHI, et al., Revised SRAC Code System, JAERI 1302, (1986)
5. K. OKUMURA, “SRAC95: The comprehensive neutronics calculation code
system”, JAERI (unpublished)
6. GERWIN, H. & SCHERER, W., “Treatment of Upper Cavity in a Pebble-Bed
High Temperature Gas-Cooled Reactor by Diffusion Theory,” Nucl.Sci.Eng., 97,
(1987) 9-19
Tabel 1. Data utama reaktor temperatur tinggi HTR-10.
Daya Termal Reaktor
10 MW
Tekanan helium primer
3 MPa
Temperatur keluaran teras
700 C
Temperatur masukan teras
250 C
Laju alir massa helium primer
4.3 kg/s
Tekanan keluaran pembangkit uap
4.0 MPa
Temperatur keluaran pembangkit uap
440 C
Aliran uap sekunder
3.47 kg/s
Maksimum daya keluaran
MWe
Tabel 2. Data desain untuk konfigurasi combined cycle GT-ST HTR-10.
Teras
Daya termal
Temperatur outlet
Temperatur inlet
Tekanan primer
MW
C
C
MPa
10
900
300
3.0
IHX
Daya termal
Temperatur inlet helium primer
Temperatur outlet helium primer
Tekanan primer
Temp. inlet nitrogen sekunder
Temp. inlet nitrogen sekunder
Tekanan sekunder
Aliran nitrogen
MW
C
C
Mpa
C
C
Mpa
Kg/s
5
900
600
3.0
483
850
3.2
11.17
Generator Uap
Daya termal
Temperatur pada sisi helium
Temperatur pada sisi air
Tekanan pada sisi air
MW
C
C
MPa
5
600/287
435/104
3.43/4.2
Daya
Daya untuk Gas Turbin
Daya untuk turbin uap
Efisiensi total
MWe
MWe
%
2.08
1.36
34.4
Tabel 3. Parameter fisika desain utama HTR-10 (data terbaru) yang digunakan untuk
perhitungan ini.
Fuel
Fuel element
Diameter of ball 6.0 cm
Diameter of fueled zone 5.0 cm Density of graphite in fueled zone and outer shell 1.84 g/cc Heavy metal (uranium) loading per ball 5.0 g
Enrichment of 235U 17%
Natural boron impurities in grafit 0.125 ppm Volumetric filling fraction of balls in core (f) 0.61 Coated particles
Fuel kernel
Radius of fuel kernel 0.025 cm
UO2 density 10.4 g/cm3
Coatings
Coating layer material(starting from kernel) PyC/PyC/SiC/PyC Coating layer thickness (cm) 0.009/0.004/0.0035/0.004 Coating layer density (g/cm3) 1.1/1.9/3.18/1.9
Moderator Balls
Diameter of ball 6.0 cm
Density of graphite 1.84 g/cm3 Natural boron impurities in graphite 0.125 ppm
Tabel 4. Hasil perhitungan kekritisan HTR-10 mutakhir.
Loading heights (cm) kef f (Helium) kef f (Udara)
100.0 0.9336 0.9261
110.0 0.9722 0.9643
120.0 1.0056 0.9973
130.0 1.0349 1.0262
140.0 1.0606 1.0516
Tabel 5. Karakteristik pemuatan bahan bakar di sekitar kritikalitas pertama.
k
eff1.000
Loading heights 120.026 cm
Number of fuel balls 9387
Number of moderator balls 7131
Volume of ball mixture in core 3.06x106 cm3
Tabel 6. Keff teras penuh HTR-10 pada berbagai temperatur.
Effective Multiplication Factor (keff)
Core temperatures
helium
Udara
15
°
C
1.1381
1.1281
250
°
C
1.1149
1.1052
500
°
C
1.0844
1.0752
Tabel 7. Ringkasan hasil perhitungan dari seluruh partisipan Bewnchmark HTR-10.
Kode Benchmark B1 B21 B22 B23 Negara D M D M D M D M China 125.8 126.1 1.1197 1.1104 1.0960 France# 106/Sn 114 1.1606 Germany P2SRM∞∞ Perh. ini 150 120 1.0481 1.1281 1.0441 1.1194 1.0410 1.1052 Japan/Indonesia 113 Netherlands Russia 136 137.3 1.1182 1.1076 1.1079 1.0933 1.0927 1.0794 USA 129.7
D: Diffusion, M: Monte Carlo
Gambar 2. Desain elemen bakar bola pada HTR-10.
Gambar 3. Flow diagram HTR-10 dengan turbin uap (fase 1).
Bola bahan bakar
Dia = 60 mmBelahan bola
Partikel Berlapis
Dia=0,92 mmInti bahan bakar
5mm lapisan grafitPartikel berlapis dalam matriks grafit
Karbon pirolitik Lapisan silikon karbida Karbon pirolitik dalam Bafer karbon berpori
UO2
Gambar 4. Skema aliran turbin gas/ turbin uap combined cycle pada HTR-10(fase2).
Gambar 5. Model sel bahan bakar yang digunakan.
2.5 3.0 R2, radius sel CFP Fueled region Graphite shell Coolant+Moderator region (unit in cm)Gambar 6. Diagram alir perhitungan pencarian kekritisan.
CELL
Perhitungan teras dlm R-Z geometry
CITATION
Keff, reaction rate, distrib.fluks, dll
Data Nuklir: ENDF,JENDL
Dimensi & speks campuran, grafit, struktur, dst.
Pembangkitan tampang lintang makroskopik, multigrup