• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini terdiri dari empat subbab, setiap subbab memiliki penjelasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Bab ini terdiri dari empat subbab, setiap subbab memiliki penjelasan"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari empat subbab, setiap subbab memiliki penjelasan mengenai pemilihan penelitian. Berisikan latar belakang yang menjelaskan mengapa peneliti memilih kajian penelitian mengenai interaksi masyarakat multi-etnik ini. Selanjutnya, terdapat rumusan masalah yang merupakan masalah-masalah yang timbul dalam penelitian ini. kemudian akan dilanjutkan dengan subbab yang memaparkan tujuan dilakukannya penelitian ini yang dimana tujuan tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu tujuan secara umum dilakukannnya pembahasan ini dan tujuan khusus guna memecahkan masalah yang ada. Subbab terakhir adalah manfaat yang akan didapatkan oleh berbagai pihak dari diadakannya penelitian ini.

1.1 Latar Belakang

Keberagaman etnik yang ada di Indonesia dapat menjadi suatu kesatuan apabila ada interaksi sosial yang positif di antara setiap etnik tersebut dengan syarat kesatuan antar etnis harus dapat terus dijaga karena keberagaman masyarakat itu sangat memungkinkan terjadinya benturan antar etnik. Hal ini disebabkan berbedanya kebudayaan dari masing-masing etnik yang ada, sehingga terjadinya perilaku yang berbeda pula.

Terdapat sebuah paham mengenai etnik yang pertama kali diperkenalkan oleh Sumner pada tahun 1906 (dalam Liliweri, 2005: 15), yaitu etnosentrisme

(2)

2

(ethnocentrism). Etnosentrisme merupakan sikap emosional sekelompok golongan, etnik atau agama yang merasa etniknya lebih superior daripada etnik lain. Etnosentrisme membuat kebudayaan suatu kelompok sebagai patokan untuk mengukur baik buruknya, tinggi rendahnya dan benar ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan kelompok tersebut (Horton, 1984: 79). Menurut Sumner, seorang antropolog beraliran interaksionisme, manusia pada dasarnya individualistis, namun karena mereka harus berhubungan antar manusia, maka terbentuklah sifat hubungan yang antagonistis (pertentangan yang menceraiberaikan). Pertentangan tersebut dicegah dengan membentuk pola tertentu. Pola-pola itu merupakan kebiasaan yang menjadi adat istiadat, kemudian menjadi norma-norma susila dan akhirnya menjadi hukum. Kerjasama antar individu dalam masyarakat pada umumnya bersifat antagonictic cooperation (kerjasama antar pihak yang berprinsip pertentangan). Dengan sikap tersebut, manusia mementingkan kelompok dan setiap kelompok merasa folkways-nya yang paling unggul dan benar, sementara kelompok lain diremehkan (Liliweri, 2005: 15-16).

Konflik pertentangan etnis di beberapa daerah di Indonesia yang beberapa tahun ini terjadi, diantaranya konflik antara etnis Dayak dengan Madura yang terjadi di Sampit pada tahun 2001, konflik etnis Madura dan Toraja yang terjadi pada tahun 2009 di Malang, konflik antara masyarakat Betawi dengan Madura pada tahun yang sama di Jakarta (Jayalina, 2011), serta konflik antara etnis Dayak (Tidung) dengan etnis Letta pada tahun 2010 di Kalimantan Timur (Nurman,

(3)

3

2010). Konflik-konflik ini seharusnya dapat diselesaikan dengan sikap yang lebih bertanggung jawab.

Sekelompok etnik yang bermukim dalam suatu wilayah tidak selamanya saling bersifat berlawanan seperti yang terjadi di Sampit, Malang, Jakarta dan daerah lainnya. Terdapat beberapa daerah di Indonesia yang dapat menerima keberagaman antar etnik dengan melakukan interaksi yang saling menghargai dikarenakan masyarakat memiliki sifat toleransi yang sangat tinggi, sehingga tercipta hubungan yang harmonis.

Beberapa daerah di Indonesia yang menunjukkan interaksi antar etnik yang terjalin dengan baik dari dulu hingga sekarang, diantaranya di Kecamatan Sungai Ambawang, salah satu daerah di Kabupaten Pontianak. Kecamatan ini telah puluhan tahun bahkan ratusan tahun dihuni oleh tiga etnis yang berbeda budaya, yaitu etnis Madura, Dayak dan Melayu. Ketiga etnis yang merupakan masyarakat Ambawang menunjukkan bentuk hubungan sosial multi etnis yang harmonis yaitu bentuk kerjasama, asimilasi, akomodasi di berbagai bidang dan berlangsung secara sehat, terbuka, dan jujur. Hubungan sosial ini tidak ada sifat saling membenci dan melecehkan antar mereka yang berbeda etnik, sehingga tidak pernah terjadi pertikaian antar ketiga etnik yang berbeda ini di kawasan ini (Nazarudin dkk, 2007).

Kota di Indonesia lainnya dan menjadi salah satu kota yang sangat menghargai sikap hidup yang toleran, rukun, terbuka dan dinamis adalah Manado. Kota Manado memiliki lingkungan sosial yang kondusif dan dikenal sebagai salah

(4)

4

satu kota yang relatif aman dari pertentangan antar etnis yang tinggal di daerah ini (Sutanja, 2012).

Bali adalah satu dari puluhan pulau di Indonesia yang memiliki masyarakat yang multi-etnik, dan dikenal akan penerimaan keberagaman etnik tersebut dengan sifat saling menghargai terbukti dari minimalnya pemberitaan mengenai pertikaian atau konflik antar etnik yang terjadi. Sebutkan saja, hubungan yang terdapat di desa adat Blahbatuh, Gianyar, antara etnis Tionghoa dengan etnis Bali, dapat dilihat dalam odalan misalnya di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Blahbatuh, umat yang beragama Buddha yang umumnya warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Desa Adat Blahbatuh ikut membantu membuat banten dan mengikuti proses persembahyangan umat Hindu dan sebaliknya (Dewi dkk, 2011). Selain itu etnis Bali membantu menjaga lancarnya persembahyangan etnis Tionghoa di Vihara Amurva Bhumi dengan menyediakan beberapa pecalang di kawasan vihara dan sebaliknya.

Dari banyaknya kawasan selatan di pulau Dewata ini, peneliti tertarik dengan suatu kawasan di bagian ujung dari pulau ini yang memiliki keberagaman etnik, yaitu kawasan Tanjung Benoa yang didiami oleh lima masyarakat etnik yang terdiri dari etnis Bali, Tionghoa, Bugis, Jawa dan Palue. Kelima etnis di kawasan dengan luas 524 hektar (Ery, 2002) ini dapat menciptakan suatu integrasi antar etnik yang baik, sehingga kenyamanan dan kerukunan dapat dirasakan dalam melakukan interaksi di antara masyarakat multi-etnik tersebut. Integrasi di Tanjung Benoa dapat terwujud karena sifat solidaritas yang tinggi antar etnik dan

(5)

5

komunikasi yang terjalin dengan baik dari masing-masing etnis yang ada di kawasan tersebut.

Sifat solidaritas yang tinggi yang dimiliki oleh masyarakat multi-etnik di Tanjung Benoa yaitu etnis Bali, Tionghoa, Bugis, Jawa dan Palue (Flores), dapat dilihat dari letak lokasi tempat ibadah di kawasan ini. Tempat peribadatan seperti Pura untuk umat Hindu, Klenteng untuk umat Buddha dan Masjid untuk umat Islam, dibangun saling berdekatan dan aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing umat tidak ada yang saling menggangu. Selain itu contoh lain dapat dilihat dari lokasi pemakaman yang saling bersebelahan. Pemakaman untuk masyarakat etnis Bugis dan yang beragama Islam diletakkan bersebelahan dengan Pura Dalem, sedangkan di samping Pura Dalem terdapat setra untuk etnis Bali dan diikuti dengan pemakaman untuk etnis Tionghoa. Contoh-contoh inilah yang dapat dijadikan sebagai indikator bahwa hubungan antar etnik di kawasan tersebut terjalin dengan baik.

Integrasi sosial sudah terbina dengan baik sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu di Tanjung Benoa. Integrasi yang terbina ini tidak menyebabkan penggabungan area tempat tinggal, tetapi terdapat area-area tertentu untuk setiap etnis yang ada. Hal ini terjadi bukan akibat dari sifat anti terhadap etnik lain karena telah diketahui sifat antar etnik yang begitu dekat di kawasan ini, tetapi pada awal kedatangan masing-masing etnik mereka tinggal secara berkelompok, sehingga terbentuk suatu pola permukiman masyarakat multi-etnik pada kawasan ini. Tempat tinggal yang berkelompok ini tidak menghalangi terjadinya hubungan

(6)

6

antar etnik yang ada karena terdapat ruang-ruang yang digunakan sebagai ruang bersama.

Ruang bersama pada umumnya terbentuk apabila terdapat aktivitas dari masyarakat pada suatu tempat yang membutuhkan wadah untuk dapat menampung aktivitas tersebut. Wadah tersebut berdasarkan kesadaran dari masing-masing individu diusahakan untuk dijadikan suatu ruang bersama. Ruang bersama secara otomatis menjadi salah satu pusat interaksi antar masyarakat. Pusat-pusat interaksi ini kemudian menciptakan suatu pola ruang interaksi masyarakat pada suatu wilayah. Hal serupa mungkin juga terjadi pada kawasan Tanjung Benoa yang memiliki masyarakat multi-etnik.

Pusat-pusat interaksi masyarakat yang terbentuk pastilah mempengaruhi elemen-elemen permukiman, karena hubungan interaksi sosial masyarakat memiliki peran yang sangat besar terhadap permukiman atau lingkungannya dan sebaliknya. Kehidupan manusia atau perilakunya akan mempengaruhi permukiman yang berkembang pada kawasan tersebut. Elemen pemukiman masyarakat yang biasanya dijadikan pusat interaksi untuk masyarakat umumnya terjadi di tempat beribadatan, banjar dan jalan atau jalur pencapaian yang ada di kawasan tersebut. Tanjung Benoa juga memiliki elemen permukiman yang dapat dijadikan sebagai pusat-pusat interaksi multi-etnik, seperti bale banjar, pos kamling, sekolah, pantai dan fasilitas umum lainnya.

Tidak semua ruang bersama yang disebutkan di atas akan dijadikan fokus pada penelitian ini. Ruang bersama yang akan dijadikan fokus adalah ruang-ruang yang dimiliki oleh etnik-etnik tertentu. Dengan kata lain, ruang yang merupakan

(7)

7

teritorialitas dari suatu etnik yang ada di Tanjung Benoa. Selain merupakan territorial suatu etnik, ruang yang dipilih merupakan ruang yang dapat digunakan bersama dalam berinteraksi atau memiliki zona-zona yang dapat digunakan bersama (profan) dan ruang sakral. Dengan demikian, ruang yang diteliti dan dikaitkan dengan interaksi multi-etnik adalah ruang peribadatan, pemakaman, bale banjar dan pasar desa.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan tersebut, diangkat penelitian yang berjudul Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali. Penelitian ini diangkat karena dianggap menarik, dimana dicoba untuk dikaji lebih mendalam bagaimana perilaku antar masyarakat multi-etnik khususnya dalam berinteraksi secara sosial dan pengaruhnya terhadap pemanfaatan ruang yang ada pada kawasan di Tanjung Benoa.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini terdapat rumusan masalah yang dijelaskan dengan tiga poin pertanyaan, yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana perilaku dan waktu terjadinya aktivitas interaksi multi-etnik di

Tanjung Benoa, Bali?

2. Bagaimana gambaran aktivitas interaksi multi-etnik pada ruang teritorialitas satu etnik di Tanjung Benoa, Bali?

3. Bagaimana dan apa faktor-faktor yang melatarbelakangi aktivitas interaksi multi-etnik pada ruang teritorialitas satu etnik di Tanjung Benoa, Bali?

(8)

8

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian yang dapat dibagi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, seperti berikut:

1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui dan memahami hubungan sosial antar masyarakat multi-etnik yang ada di Tanjung Benoa. Hubungan sosial ini dapat dilihat dari berbagai hal, peneliti melihat dari segi kegiatan atau perilaku dan wadah (ruang yang merupakan teritorial suatu etnik, yaitu tempat peribadatan, pemakaman, bale banjar dan pasar desa yang ada di Tanjung Benoa) yang digunakan untuk menampung aktivitas interaksi tersebut, sehingga akhirnya dapat diketahui dan dipahami penggunaan ruang teritorialitas etnik pada kawasan Desa Adat Tanjung Benoa ini. Penggunaan teritorialitas etnik dan hubungannya dengan perilaku multi-etnik inilah yang menjadi fokus utama dari penelitian ini.

1.3.2 Tujuan khusus

Adapun tujuan khusus yang diharapkan tercapai pada penulisan tesis ini, yaitu:

1. Memahami dan mengetahui perilaku dan waktu terjadinya aktivitas interaksi multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali.

2. Memahami dan mengetahui gambaran aktivitas interaksi multi-etnik pada ruang teritorialitas satu etnik di Tanjung Benoa, Bali.

3. Memahami dan mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi aktivitas interaksi multi-etnik pada ruang teritorialitas satu etnik di Tanjung Benoa, Bali.

(9)

9

1.4 Manfaat Penelitian

Penulisan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pembaca baik yang bersifat teoritis maupun manfaat yang bersifat praktis. Berikut akan dipaparkan manfaat yang mungkin dapat diberikan dari penelitian Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali ini.

1.4.1 Manfaat teoritis

Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya data mengenai hubungan antara ilmu arsitektur dengan ilmu sosial yang berkaitan dengan interaksi sosial masyarakat multi-etnik. Di samping memperkaya data pembahasan ini dapat dijadikan referensi, khususnya sebagai studi kasus terhadap pengaruh hubungan sosial terhadap ruang-ruang yang merupakan pusat interaksi sosial. Pusat interaksi yang dimaksud adalah wadah untuk menampung kegiatan berupa hubungan masyarakat multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali. Wadah tersebut merupakan ruang bersama yang merupakan teritorialitas suatu etnik yang ada di kawasan ini. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu penelitian yang menambah pengetahuan dalam bidang arsitektur dan bidang ilmu sosial.

1.4.2 Manfaat praktis

Diharapkan penelitian ini dapat berguna untuk masyarakat dalam menambah pemahaman dan pengetahuan mengenai penggunaan ruang bersama oleh masyarakat multi-etnik yang penuh dengan keberagaman kebudayaan. Bagaimana masyarakat yang begitu beragam dapat menciptakan suatu kesatuan yang sangat kuat walaupun berbeda dalam banyak hal dan mampu berinteraksi dengan

(10)

10

menggunakan ruang-ruang bersama yang ada pada kawasan Tanjung Benoa, walaupun ruang bersama tersebut merupakan teritorialita dari suatu etnik yang ada di desa adat ini.

Penelitian ini juga dapat bermanfaat untuk etnik yang ada di Tanjung Benoa untuk mengetahui penggunaan pusat interaksi yang ada dengan maksimal. Selain itu, tidak menutup kemungkinan dengan penelitian ini masyarakat yang ada dapat menambah pusat-pusat interaksi lainnya yang sesuai dengan kegiatan bersama. Dengan terbangunnya ruang-ruang interaksi yang sesuai, maka secara otomatis akan banyak masyarakat yang datang dan memanfaatkannya. Pemanfaatan secara bersama ini akan secara tidak langsung menciptakan hubungan yang lebih harmonis dalam hidup bermasyarakat di Desa Adat Tanjung Benoa ini.

Penelitian ini juga membuka peluang bagi penelitian lain baik dalam bidang arsitektur ataupun bidang sosial yang mungkin dapat memperkaya data. Data yang akan diperlukan untuk penelitian mengenai masyarakat multi-etnik baik pada kawasan yang sama ataupun di kawasan lain.

Diharapkan penelitian bermanfaat bagi pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Badung, agar pengambil kebijakan dapat menjadikan penelitian ini sebagai data awal mengenai pemanfaatan fasilitas umum oleh masyarakat multi-etnik. Dan apabila akan dilakukan pengembangan (reklamasi) kawasan penelitian, konflik antar etnik dapat diminimalisir. Manfaat ini juga tidak menutup kemungkinan dapat diterapkan pada daerah lain agar hubungan harmonis yang tercipta di Tanjung Benoa ini juga dapat terjadi di kawasan lain yang multi-etnik.

(11)

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN

Bab ini terdiri dari empat subbab, yaitu pertama adalah kajian pustaka yang berisi tentang penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan saat ini. Kedua merupakan konsep yang merupakan batasan-batasan terminologi teknis berdasarkan judul penelitian dan rumusan masalah. Ketiga, berupa landasan teori yang merupakan teori-teori yang digunakan untuk memecahkan rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini. Terakhir adalah model penelitian yang menjelaskan mengenai abstraksi dan sintesis antara teori dan permasalahan penelitian yang digambarkan dalam bentuk gambar (bagan).

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka merupakan kajian mengenai penelitian–penelitian yang relevan terhadap penelitian yang akan dilakukan saat ini. Kajian pustaka ini bertujuan untuk menghindari duplikasi dan menjadi bahan pertimbangan dalam meneliti topik yang diteliti nantinya serta dapat menambah wawasan baik dalam segi pemanfaatan metode ataupun landasan teori yang relevan, sehingga hasil penelitian dapat menjadi lebih baik. Terdapat dua macam cara penulisan kajian pustaka, pertama kajian pustaka yang berorientasi pada peneliti dan yang kedua yang berorientasi kepada tema penelitian (tematik). Dalam penelitian ini digunakan cara kedua, yaitu penulisan yang berdasarkan pada tema penelitian.

(12)

12

Penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya akan dipaparkan secara tematik adalah sebagai berikut:

2.1.1 Penelitian Mengenai Hubungan Ruang dan Perilaku

Penelitian ini melihat bagaimana hubungan antara ruang atau seting dengan perilaku manusia, sehingga dapat ditemukan kesamaan penelitian ini yang melihat bagaimana hubungan masyarakat dan pengaruhnya terhadap pola ruang di Tanjung Benoa. Terdapat dua penelitian mengenai hubungan ruang dan perilaku yang dapat dijadikan sebagai kajian pustaka.

Penelitian dengan judul “Telaah Toleransi Penduduk Kampung Kota di Daerah Aliran Sungai Code Berdasarkan Perilaku Dalam Berhubungan Sosial Dengan Tetangga” (Setiawan, 1987) dan penelitian kedua “Perilaku Pemukim Terhadap Lahan Permukiman Sekitar Sungai Di Kawasan Pusat Kota” (Najib, 2005) sama-sama membahas mengenai bagaimana hubungan interaksi manusia pada suatu tempat dapat mempengaruhi lingkungan atau permukimannya.

Kedua penelitian mengenai hubungan ruang dan perilaku sama-sama menggunakan metode kualitatif, tetapi pendekatan yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Setiawan menggunakan pendekatan fenomenologi dan penelitian oleh Najib menggunakan pendekatan naturalistik. Kedua pendekatan, pendekatan fenomenologi dan naturalistik ini mirip karena sama-sama melihat fenomena yang terjadi di lapangan tanpa berbekal kerangka berpikir yang jelas. Selain itu, teknik pengumpulan data yang digunakan oleh kedua peneliti juga tidak berbeda, yaitu dengan cara observasi, survei, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data

(13)

13

dengan tiga cara ini merupakan teknik yang paling sesuai dengan penelitian mengenai hubungan ruang dan perilaku.

Materi bahasan yang sama pada kawasan yang berbeda menemukan hasil penelitian yang sama. Masyarakat selalu memanfaatkan lingkungan mereka dengan semaksimal mungkin dan dibuat suatu tempat yang dijadikan ruang bersama untuk menampung interaksi sosial yang ada di Sungai Code dan di sekitar sungai di kawasan pusat kota. Ruang bersama yang ada tidak selalu digunakan oleh orang yang tinggal dekat dengan ruang bersama tersebut. Penggunaan ruang bersama tidak berdasarkan dekat jauhnya ruang tersebut dengan tempat tinggal karena alasan kecocokan hubungan sosial. Hubungan sosial suatu masyarakat tidak terlihat dari jauh dekatnya tempat tinggal, sehingga terkadang orang menggunakan ruang bersama yang jauh dari rumahnya, tetapi hubungan sosial dengan orang di tempat jauh tersebut sangat dekat.

Persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Setiwan dan Najib dengan penelitian Pola Ruang Interaksi Multi Etnis di Tanjung Benoa, Bali, adalah materi yang dibahas. Materi yang dihasilkan oleh Setiawan dan Najib sama dengan materi yang ingin ditemukan di Tanjung Benoa, yaitu ditemukan suatu ruang atau pembentukan ruang dalam suatu kawasan dipengaruhi oleh aktivitas interaksi sosial masyarakatnya.

2.1.2 Penelitian Mengenai Penggunaan Ruang

Penelitian mengenai penggunaan ruang ini dipergunakan untuk melihat bagaimana menentukan suatu pola ruang dalam suatu kawasan dan metode yang

(14)

14

yang paling efektif digunakan untuk menemukan suatu pola penggunaan ruang pada suatu wilayah.

Untuk penelitian mengenai penggunaan ruang terdapat dua penelitian, kedua penelitian sama-sama mengkaji arus perkembangan menyebabkan kebutuhan ruang semakin bertambah. Pertambahan kebutuhan ruang akan menciptakan pemanfaat ruang dan menimbulkan pola yang berbeda dengan pola semula.

Terdapat dua penelitian yang membahas mengenai pola ruang, penelitian pertama dilakukan oleh Haryanti (2008) yang berjudul “Kajian Pola Pemanfaatan Ruang Terbuka Publik Kawasan Bundaran Simpang Lima Semarang”. Penelitian kedua dilakukan oleh Kasuma dan Iwan (2011) yang berjudul “Karakteristik Ruang Tradisional Pada Desa Adat Penglipuran, Bali”. Penelitian pertama melihat bagaimana pola pemanfaat ruang berdasarkan ruang terbuka publik, ruang terbuka hijau, pola pedestrian dan pola jalur lambat. Penelitian kedua yang berjudul “Karakteristik Ruang Tradisional Pada Desa Adat Penglipuran, Bali” melihat kebutuhan ruang yang semakin bertambah dapat mengancam pola ruang yang seharusnya tetap lestari pada Desa Adat Penglipuran. Penelitian pertama lebih condong untuk meneliti pola ruang dalam bidang perkotaan, sedangkan penelitian kedua meneliti dalam kajian etnik.

Metode yang digunakan oleh kedua penelitian untuk dapat mengetahui pola ruang suatu kawasan adalah menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan rasionalistik. Teknik pengumpulan data yang digunakan sama dengan penelitian yang ada sebelumnya, observasi, survei dan dokumentasi. Teknik pengumpulan

(15)

15

data inilah yang akan digunakan untuk penelitian Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali.

2.1.3 Penelitian Mengenai Teritorialitas

Kajian pustaka ketiga membahas mengenai teritorialitas. Penelitian mengenai teritorialitas yang telah ada sebelumnya perlu untuk dibahas, selain membuktikan terdapat penelitian yang hampir serupa dengan penelitian ini dan tidak meniru dari penelitian lain yang serupa.

Terdapat tiga penelitian mengenai teritorialitas. Pertama dilakukan oleh Nuraini (2010) yang berjudul “Studi Awal Teritorialitas dan Sistem Seting Permukiman di Sekitar Candi Sukuh” dan yang kedua melihat penelitian teritorialitas di Yogyakarta yang dilakukan oleh Burhanuddin (2009) yang berjudul “Karakteristik Teritorialitas Ruang Pada Permukiman Padat Di Kampung Klitren Lor Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta”. Dan penelitian berjudul “Konsep Perilaku Teritorialitas di Kawasan Pasar Sudirman Pontianak” (Kurniadi, dkk, 2012).

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Nuraini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Burhanuddin dan Kuradi. Penelitian yang dilakukan Nuraini menunjukkan bahwa teritorialitas permukiman di sekitar Candi Sukuh dapat dibedakan atas dua bagian, yaitu teritorialitas desa dan teritorialitas rumah. Teritorialitas desa di tandai dengan batas desa, penduduk, pola aktivitas masyarakat serta zonifikasi dan hierarki aktivitas masyarakat. Teritorialitas rumah di bedakan atas, teritorialitas dalam satu area hunian dan teritorialitas dalam rumah. Teritorialitas dalam satu area hunian ditandai dengan adanya tingkat atau

(16)

16

hierarki area kepemilikan. Teritorialitas dalam rumah dinyatakan dengan perletakan elemen bangunan.

Hasil penelitian Barhanuddin dan Kurniadi menyatakan terdapat faktor-faktor penentu yang mempengaruhi pembentukan teritorialitas ruang. Pada penelitian teritorialitas Barhanuddin, hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor penentu yang mempengaruhi pembentukan teritorialitas ruang pada Kampung ini adalah berdasarkan status tanah dan jumlah aktivitas warga pengguna ruang pada tiap-tiap kasus, hal ini dapat dilihat pada saat sore dan malam hari. Faktor penentu dapat mempengaruhi pembentukan teritorialitas ruang adalah keterkaitan dengan keterlibatan personal, involvement, kedekatan individu atau kelompok penguna dalam membentuk seting ruang, sehingga terbentuk teritori masyarakat berdasarkan kategori teritori yaitu primary territory, secondary territory dan public territory.

Penelitian teritorialitas yang dilakukan di Pontianak menghasilkan terjadinya peluasan teritori diakibatkan oleh kebutuhan, ketika ancaman dari pihak lain dirasakan semakin besar, akibatnya mereka berusaha memperkuat dan memperjelas teritorialitasnya itu dengan menggunakan batas-batas fisik hasil ketiga menunjukkan karena merupakan teritori publik maka pengguna hanya berusaha menyesuaikan diri terhadap keadaan di lapangan dengan mamanfaatkan ruang yang ada untuk bersirkulasi.

Penelitian pertama yang diteliti oleh Nuraini dapat dijadikan pedoman untuk menandakan dan mengetahui teritorialitas dari ruang-ruang yang ada di Tanjung Benoa. Berbeda dengan kedua penelitian yang dilakukan oleh Barhanuddin dan Kurniadi di atas dapat dijadikan pertimbangan dan untuk membantu menjawab

(17)

17

rumusan masalah ketiga yang ingin memahami dan mengetahui faktor-faktor atau hal yang melatarbelakangi terjadinya aktivitas interaksi multi-etnik pada ruang publik yang merupakan teritorialitas dari suatu etnik yang ada pada Desa Adat Tanjung Benoa. Secara keseluruhan ketiga penelitian di atas dibedah dengan menggunakan teori utama berupa teori teritorialitas. Teori teritorial juga akan digunakan juga dengan penelitian ini, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan. Selain itu, teknik pengumpulan data berupa mapping atau pemetaan aktivitas juga dapat dijadikan contoh untuk memecahkan masalah kedua pada penelitian dengan judul “Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali”.

Metode yang digunakan oleh seluruh penelitian mengenai teritorialitas menggunakan metode yang sama, yaitu metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukanpun sama, yaitu melalui observasi, wawancara secara mendalam dan dokumentasi.

2.1.4 Penelitian Mengenai Pola Interaksi Sosial Multi-etnik

Banyak penelitian mengenai multi-etnik karena hubungan antar etnis menjadi salah satu fenomena yang cukup menarik untuk dibahas. Penelitian mengenai interaksi sosial multi-etnik inipun dapat diteliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Penelitian mengenai interaksi multi-etnik umumnya lebih condong melihat bagaimana bentuk dari pola interaksi sosial suatu komunitas atau daerah yang terdiri dari beberapa etnis. Penelitian lain juga ada yang melihat dari perspektif yang berbeda, yaitu mengenai bentuk dari interaksi sosial masyarakat dalam suatu

(18)

18

daerah yang dihuni oleh lebih dari satu etnis. Penelitian yang melihat bentuk interaksi sosial menjadi menjadi urutan kedua pilihan penelitian yang paling banyak dikaji di samping mengenai pola interaksi. Selain itu, terdapat penelitian mengenai interaksi multi-etnik yang mengkaji lebih mendalam dengan melihat akibat munculnya globalisasi yang dapat menimbulkan hegemoni budaya pada masyarakat etnis yang minoritas pada suatu daerah.

Penelitian mengenai interaksi sosial multi-etnik yang melihat dari sudut pandang bagaimana pola yang dari interaksi sosial masyarakat multi-etnik dan bentuk interaksi dalam suatu kawasan tertentu yang terdiri dari beberapa etnik, adalah penelitian dengan judul “Pola Interaksi dan Integrasi Masyarakat Multi Etnis: Studi Kasus Di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Pontianak” (Nazarudin dkk, 2007) dan penelitian dengan judul “Pola Interaksi Sosial Masyarakat Etnis Jawa Dengan Etnis Cina: Studi di Desa Gurah Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri” (Astutik, 2007).

Penelitian lain yang dapat menjadi kajian pustaka adalah penelitian “Suku Bajo Dalam Lintas etnik di Kepulauan Karimunjawa Analisis Interaksi Sosial Antar Etnis” (Indiatmoko, 2004). Penelitian ini mengkaji lebih mendalam mengenai munculnya globalisasi yang mengakibatkan hegemoni budaya pada masyarakat etnis yang minoritas pada suatu daerah.

Secara keseluruhan ketiga penelitian mengenai interaksi sosial multi etnis di atas dibedah dengan menggunakan teori utama berupa teori interaksi sosial. Teori interaksi sosial digunakan karena hanya teori ini yang membahas mengenai jenis interaksi sosial, proses sosial yang ada dan bentuk-bentuk interaksi dari proses

(19)

19

sosial tersebut. Berdasarkan hal inilah ketiga penelitian menggunakan teori interaksi sosial karena paling memegang peranan penting untuk melihat hubungan dan bentuk dari interaksi antar etnis pada suatu wilayah.

Metode yang digunakan oleh seluruh penelitian mengenai interaksi sosial multi-etnik ini menggunakan metode yang sama, yaitu metode penelitian kualitatif. Seluruh penelitian di atas bersifat deskriptif, dilihat berdasarkan masalahnya. Teknik pengumpulan data yang dilakukanpun sama, yaitu melalui observasi, wawancara secara mendalam dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada semua penelitian dalam penelitian pola interaksi sosial multi-etnik merupakan teknik yang paling tepat untuk memecahkan hubungan interaksi sosial masyarakat multi-etnik.

Terakhir akan dilihat dari hasil dari seluruh penelitian mengenai interaksi sosial multi-etnik. Penelitian yang dilakukan oleh Nazarudin dkk (2007) dan Astutik (2007) yang ingin melihat bagaimana bentuk interaksi sosial pada suatu wilayah yang dihuni oleh lebih dari satu etnik menghasilkan hal yang sama. Kedua penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa agar tercipta interaksi sosial yang baik dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis, terdapat bentuk interaksi, seperti kerja sama, asimilasi dan akomodasi yang merupakan proses assosiatif.

Penelitian yang dilakukan oleh Idiatmoko (2004) dan Nazarudin dkk (2007) mengenai pola interaksi juga menghasilkan suatu kesimpulan yang sama. Hasil penelitian keduanya menunjukkan bahwa pola interaksi sosial masyarakat antar etnik merupakan interaksi yang saling menghargai, sehingga tercipta hubungan yang harmonis. Integrasi tercipta dengan baik antar etnis ini dikarenakan setiap

(20)

20

anggota masyarakat memiliki sifat toleransi yang sangat tinggi terhadap etnis lain tanpa adanya sifat saling merendahkan antar etnis. Kesimpulan yang didapatkan kedua peneliti ini sama, walaupun pola interaksi yang diteliti sedikit berbeda. Idiatmoko melihat pola interaksi antar etnis mayoritas dan minoritas di Kepulauan Karimunjawa. Penelitian Nazarudin dkk melihat pola interaksi antar masyarakat multi-etnik di Kecamatan Sungai Ambawang tanpa adanyanya etnis mayoritas dan minoritas.

Pemaparan tiga penelitian mengenai interaksi sosial masyarakat multi-etnik di atas memberikan masukan terhadap penelitian ini, Pola Ruang Interaksi Multi Etnis di Tanjung Benoa, Bali. Peneliti dapat menggunakan teori yang sama, teori interaksi sosial untuk memecahkan rumusan masalah pertama mengenai perilaku interaksi sosial yang terjadi antara lima etnis yang ada di Tanjung Benoa. Lima etnis tersebut adalah etnis Bali, Tionghoa, Bugis, Jawa dan Palue (Flores). Apabila ketiga penelitian di atas menggunakan teori interaksi sosial, maka dalam penelitian ini terdapat teori lain yang digunakan seperti teori perilaku sosial dan behavioralsetting.

Teknik pengumpulan data yang digunakan memang harus observasi, wawancara yang mendalam dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data sudah sesuai untuk mendapatkan gambaran keseluruhan hubungan atau interaksi yang terjadi di Tanjung Benoa serta tempat yang digunakan untuk mewadahi interaksi tersebut.

Hasil penelitian antara Idiatmoko, Nazzarudin dkk dan Astutik berbeda dengan penelitian dengan Judul Pola Ruang Interaksi Multi Etnis di Tanjung

(21)

21

Benoa, Bali. Ketiga penelitian yang menjadi kajian pustaka memiliki tujuan untuk memahami dan mengetahui pola interaksi, intergritas dan bentuk interaksi sosial antar multi-etnik di kawasan penelitian masing-masing. Sedangkan penelitian di Tanjung Benoa ingin memahami dan mengetahui tidak hanya bentuk interaksi sosial multi-etnik saja, tetapi juga tempat serta waktu dilakukannya interaksi serta penggunaan ruang akibat interaksi sosial tersebut.

Berdasarkan beberapa kajian pustaka di atas, maka dibuatkan suatu kesimpulan secara ringkas (lihat lampiran 1) mengenai penelitian pada kajian pustaka. Kajian pustaka dibagi menjadi empat tema penelitian, yaitu penelitian mengenai hubungan ruang dan perilaku, mengenai penggunaan ruang, teritorialitas serta penelitian mengenai pola interaksi sosial multi-etnik.

Berdasarkan keempat tema ini peneliti dapat menjadikannya sebagai bahan pertimbangan. Penelitian mengenai teritorialitas dapat menjadi dijadikan pedoman untuk menandakan dan mengetahui teritorialitas dari ruang-ruang yang ada di Tanjung Benoa dan untuk membantu menjawab rumusan masalah ketiga yang ingin memahami dan mengetahui faktor-faktor atau hal yang melatarbelakangi terjadinya aktivitas interaksi multi-etnik pada ruang publik yang merupakan teritorialitas dari suatu etnik yang ada pada Desa Adat Tanjung Benoa.

Penelitian mengenai pola interaksi sosial multi-etnik membantu peneliti dalam menentukan teori yang sesuai untuk membedah rumusan masalah yang ada dalam penelitian mengenai Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung

(22)

22

Benoa, Bali. Teori interaksi sosial membantu untuk menjawab rumusan masalah pertama.

Terdapat persamaan penggunaan metode dalam keseluruhan penelitian dengan penelitian yang dilakukan di Tanjung Benoa, yaitu penggunaan metode kualitatif. Metode kualitatif digunakan karena penelitian mengenai hubungan interaksi sosial dengan ruang membutuhkan perkembangan dari topik kajian selama dilakukan penelitian di lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh seluruh penelitian pada kajian pustaka dengan penelitian lima etnik ini sama, yaitu dengan cara observasi, survei (wawancara secara mendalam) dan dokumentasi.

2.2 Konsep

Dalam penelitian konsep dapat berupa bagian untuk menjelaskan arti dari potongan kalimat yang terdapat dalam judul penelitian atau rumusan masalah. Sama halnya dalam penelitian ini konsep yang digunakan berasal dari penggalan kata pada judul penelitian dan dari rumusan masalah. Konsep digunakan untuk menyamakan persepsi antara peneliti dengan pembaca, sehingga maksud peneliti atau penulis dapat tersampai dengan benar terhadap pembaca.

2.2.1 Konsep Teritorialitas

Teritorialitas berasal dari kata teritori. Teritori berarti wilayah atau daerah dan teritorialitas adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. Teritorialitas merupakan perwujudan “ego” seseorang karena orang tidak ingin diganggu atau dapat dikatakan sebagai perwujudan dari privasi seseorang.

(23)

23

Menurut Julian Edney pada tahun 1974 (dalam Laurens, 2004: 124) teritorialitas sebagai sesuatu yang berkaitan dengan ruang fisik, tanda, kepemilikan, pertahanan, penggunaan yang eksklusif, personalisasi dan identitas. Teritorialitas juga terdapat dominasi, kontrol, konflik, keamanan, gugatan akan sesuatu dan pertahanan. Teritorialitas merupakan suatu tempat yang nyata, yang relatif tetap dan tidak berpindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan. Secara singkat teritorialitas dapat dikatakan sebagai suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas suatu tempat atau suatu lokasi geografis.

Pengertian teritorialitas yang dimaksudkan oleh penulis berhubungan dengan penelitian yang berjudul Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali, adalah suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas suatu tempat di kawasan penelitian ini. Dalam hal ini teritorialitas yang ingin dilihat adalah teritori atau tempat yang dikuasai atau dimiliki oleh suatu etnik di Tanjung Benoa atau teritorialitas etnik.

2.2.2 Konsep Interaksi Multi-etnik

Untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai interaksi multi-etnik ini, setidaknya perlu dikaji terlebih dahulu mengenai interaksi dan multi-etnik tersebut terlebih dahulu agar lebih mudah untuk menyamakan persepsi mengenai interaksi multi-etnik.

Terdapat beberapa pengertian dari interaksi. Menurut Homans, interaksi merupakan suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang

(24)

24

terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau individu dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya (Alimah, 2012).

Pengertian interaksi yang dimaksud oleh peneliti dengan tiga pengertian yang dipaparkan di atas memiliki persamaan, tetapi untuk melengkapi pengertian dari interaksi, peneliti menggabungkan pengertiannya dengan pengertian yang ada. Interaksi pada penelitian ini memiliki pengertian hubungan yang terjadi secara timbal balik baik antar individu, antar kelompok, maupun antar individu dengan kelompok manusia dan masing-masing dari individu atau kelompok yang terlibat di dalam hubungan tersebut memainkan peran secara aktif atau saling mempengaruhi satu sama lain.

Berikutnya akan dibahas sedikit mengenai pengertian multi yang memiliki arti, banyak; lebih dari satu; lebih dari dua dan berlipat ganda. Etnik sendiri memiliki arti yang sangat ambigu dan banyak sekali pengertian mengenai etnik, antara lain:

1. Kata etnik (ethnic) berasal dari bahasa Yunani ethnos, yang merujuk pada pengertian bangsa atau orang. Ethnos sering diartikan sebagai kelompok sosial yang ditentukan oleh ras, adat istiadat, bahasa, nilai dan norma budaya dan lain sebagainya (Liliweri, 2005: 8).

(25)

25

2. Istilah etnik adalah himpunan manusia karena kesamaan ras (lebih kepada perbedaan fisik), agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut yang terikat pada sistem nilai budayanya (Frederich Barth, 1988 dan Zastrow, 1989 dalam Liliweri, 2005: 9).

3. Etnik sebagai kelompok sosial atau kesatuan hidup manusia yang mempunyai sistem interaksi, sistem norma yang mengatur interaksi tersebut (Koentjaraningrat, 1989 dalam Liliweri, 2005: 9-10)

Pengertian etnis di atas memiliki pengertian yang hampir sama dengan pengertian etnis menurut penulis. Guna melengkapi pengertian etnik menurut penulis, maka dilakukan penggabungan pengertian yang ada dan disesuaikan dengan pengertian penulis. Etnik menurut penulis adalah hal yang berhubungan dengan suatu kelompok manusia yang berkaitan dengan ras atau suku, asal usul, adat, agama, bahasa, dan kebudayaan tertentu yang sama. Jadi, multi-etnik adalah beberapa kelompok atau aneka kelompok manusia yang memiliki ras, suku, asal usul, adat, agama, bahasa dan kebudayaan yang berbeda-beda.

Pengertian interaksi multi-etnik dalam judul penelitian Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali adalah hubungan yang terjadi secara timbal balik baik antar individu, antar kelompok utama (etnis Bali, Tionghoa, Bugis, Jawa dan Palue), maupun antar individu dengan kelompok manusia yang memiliki kebudayaan yang berbeda satu dengan lainnya dan masing-masing dari individu atau kelompok yang terlibat di dalam aktivitas tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.

(26)

26

2.2.3 Tanjung Benoa

Tanjung Benoa merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Kelurahan Tanjung Benoa ini terdiri dari dua desa Adat, yaitu Desa Adat Tengkulung yang terdiri dari satu banjar, yaitu Banjar Tengkulung dan Desa Adat Tanjung Benoa yang terdapat lima lingkungan banjar. Kelima lingkungan banjar adalah Lingkungan Banjar Kertha Pascima, Lingkungan Banjar Purwa Santhi, Lingkungan Banjar Anyar, Lingkungan Banjar Tengah dan Lingkungan Banjar Panca Bhinneka.

Sebagian besar sisi kelurahan ini berbatasan langsung dengan laut, kecuali bagian selatan yang berbatasan dengan Kelurahan Benoa. Desa adat ini terdapat lima etnik utama yang tinggal di Tanjung Benoa, yaitu etnik Bali, Tionghoa, Bugis, Jawa dan Palue (Flores).

Jadi, penelitian dengan judul “Teritorialitas dan Interaksi Multi-etnik di Tanjung Benoa, Bali” membahas mengenai bagaimana pola ruang yang dapat terbentuk dari wadah yang tercipta guna menampung aktivitas interaksi antar multi etnis, yaitu antar etnik Bali, Tionghoa, Bugis, Jawa dan Palue (Flores) di salah satu desa adat yang ada di kelurahan ini yaitu Desa Adat Tanjung Benoa.

2.3 Landasan Teori

Dalam suatu penelitian, landasan teori memegang peranan yang cukup penting karena dapat dimanfaatkan untuk menjawab atau memecahkan masalah yang ada dalam penelitian. Untuk mengkaji permasalahan dalam penelitian ini, teori yang digunakan adalah teori behavioral setting (seting perilaku), teori

(27)

27

teritorialitas, teori seting, teori sakral dan profan, teori perilaku sosial dan teori interaksi sosial.

2.3.1 Behavioral Setting (Seting Perilaku)

Istilah behavioral setting atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan seting perilaku, pertama kali diperkenalkan oleh Roger Barker, pelopor kajian ecological psychology, sekitar tahun 1950-an bersama dengan Wright dalam studi mereka tentang perilaku anak-anak di berbagai lokasi yang berbeda. Penelitian studi oleh Barker dan Wright menemukan pola perilaku yang unik dan spesifik terkait secara khusus dengan unsur-unsur fisik atau seting yang ada. Berdasarkan studi ini, Barker dan Wright mengembangkan metode behavioral setting untuk mangkaji kaitan antara perilaku dan sistem seting. Hasil-hasil kajian ini dituangkan oleh Barker dalam suatu buku yang cukup monumental di bidang kajian arsitektur lingkungan dan perilaku, yaitu Ecological Psychology yang terbit pada tahun 1969. Dalam buku ini dijelaskan penekanan dalam kajian seting perilaku adalah bagaimana cara mengidentifikasikan perilaku-perilaku yang secara konstan atau berkala muncul pada suatu tempat atau seting tersebut (Haryadi, 2010: 28).

Behavioral setting didifinisikan oleh Roger Barker pada tahun 1968 dalam dalam bukunya yang berjudul Ecological Psychology sebagai kombinasi yang stabil antara aktivitas, tempat dan kriteria sebagai berikut: (1) Terdapat suatu aktivitas yang berulang, berupa suatu pola perilaku. Dapat terdiri atas satu atau lebih pola ekstra individual; (2) Dengan tata lingkungan tertentu, milieu (lingkungan pergaulan) ini berkaitan dengan pola perilaku; (3) Membentuk suatu

(28)

28

hubungan yang sama antar keduanya; (4) Dilakukan pada periode waktu tertentu (Laurens, 2004: 175).

Behavioral setting dapat diartikan secara sederhana sebagai suatu interaksi antara suatu kegiatan dengan tempat dan waktu yang spesifik. Dengan demikian, behavioral setting mengandung unsur-unsur sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan, aktivitas atau perilaku dari sekelompok orang tersebut dan tempat serta waktu dimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Manusia dan obyek adalah komponen primer. Manusia adalah bagian yang paling paling utama bagi behavioral setting, tanpa keberadaan manusia sebagai pengguna, behavioral setting tidak akan terwujud. Meskipun demikian, hubungan antara manusia dan obyek fisik mewujudkan keberadaan behavioral setting. Contoh dari behavioral setting dapat kita temui di sekeliling kita dalam kehidupan sehari-hari (Haryadi, 2010: 27).

Dalam banyak kajian arsitektur lingkungan dan perilaku istilah behavioral setting dijabarkan dalam dua istilah, yaitu system of setting dan system of activity, keterkaitan antara kedua istilah ini membentuk suatu behavior setting tertentu. System of setting atau sistem ruang diartikan sebagai rangkaian unsur-unsur fisik atau spasial yang mempunyai hubungan tertentu dan terkait hingga dapat dipakai untuk suatu kegiatan tertentu. System of activity atau sistem aktivitas diartikan sebagai suatu rangkaian perilaku yang secara sengaja dilakukan oleh satu atau beberapa orang. Kedua istilah ini menegaskan bahwa di antara beberapa unsur ruang atau di antara beberapa kegiatan tersebut, terdapat suatu struktur atau rangkaian yang menjadikan kesatuan kegiatan atau perilakunya mempunyai

(29)

29

makna, terlepas dari apakah makna ini dapat diartikan oleh orang lain yang tidak terkait dengan kegiatan tersebut.

Behavioral setting mempunyai spektrum yang sangat luas, mulai dari sesuatu yang mikro seperti kamar hingga yang berskala makro dalam hal ini contohnya adalah kota. Setiap spektrum mempunyai batasan area tersendiri yang dikenal dengan teritorial, karena setiap sekelompok manusia dapat membentuk suatu behavior setting yang berbeda tergantung nilai-nilai, kesempatan dan keputusan yang dibentuk oleh kelompok tersebut (Haryadi, 2010: 28-29).

Teknik yang sering digunakan untuk mengamati kegiatan dalam suatu lingkungan adalah behavioral mapping. Teknik ini mempunyai kekuatan utama dalam aspek spasialnya. Dengan teknik ini akan didapatkan sekaligus suatu bentuk informasi mengenai fenomena (terutama perilaku individu dan sekelompok manusia) yang terkait dengan sistem spasialnya (Ittelson, 1970 dalam Haryadi, 2010: 81).

Behavioral mapping digambarkan dalam sketsa atau diagram mengenai suatu area dimana manusia melakukan berbagai kegiatannya. Tujuannya adalah untuk menggambarkan perilaku dalam peta, mengidentifikasikan jenis dan frekuensi perilaku serta menunjukkan kaitan antara perilaku tersebut dengan wujud perancangan yang spesifik (Sommer dalam Haryadi, 2010: 81). Jenis perlaku yang biasa dipetakan adalah pola perjalanan, migrasi, kegiatan rumah tangga serta penggunaan berbagai fasilitas publik.

Terdapat dua cara dalam melakukan pemetaan perilaku, yaitu place-centered mapping dan person-centeredmapping (Haryadi, 2010: 82-83).

(30)

30

1. Pemetaan berdasarkan tempat(place-centeredmapping)

Teknik ini digunakan untuk mengetahui bagaimana manusia atau sekelompok manusia memanfaatkan, menggunakan atau mengakomodasikan perilakunya dalam suatu situasi waktu dan tempat yang tertentu. Dengan kata lain, perhatian dari teknik ini adalah salah satu tempat yang spesifik, baik kecil maupun besar. Dalam teknik ini langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat sketsa dari tempat atau seting, meliputi seluruh unsur fisik yang diperkirakan mempengaruhi perilaku pengguna ruang tersebut. Berikutnya membuat daftar perilaku yang akan diamati serta menentukan simbol atau tanda sketsa atas setiap perilaku. Kemudian, dalam kurun waktu tertentu, peneliti mencatat perilaku yang terjadi dalam tempat tersebut dengan menggambarkan simbol-simbol pada peta dasar yang telah disiapkan.

2. Pemetaan berdasarkan pelaku(person-centeredmapping)

Teknik ini menekankan pada pergerakan manusia pada suatu periode tertentu. Dengan demikian, teknik ini akan berkaitan dengan beberapa tempat atau lokasi. Pada pengamatan ini peneliti hanya mengamati seseorang yang telah ditentukan sebelumnya. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah memilih seseorang yang akan diamati perilakunya lalu mulai mengikuti pergerakan atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang diamati. Pengamatan dapat dilakukan secara berlanjut atau hanya pada waktu-waktu tertentu tergantung dari tujuan dari penelitian.

(31)

31

Berdasarkan pemaparan mengenai behavioral setting dapat diketahui bahwa teori ini akan membantu dalam meneliti bagaimana aktivitas masing-masing kelompok etnik dapat mempengaruhi seting yang menampung aktivitas tersebut.

Behavioral mapping akan sangat membantu dalam meneliti fokus dari penelitian ini yang ingin melihat suatu aktivitas dan wadah dari aktivitas dan bagaimana hubungan antara aktivitas dan wadahnya begitupula sebaliknya, sehingga ini merupakan salah satu teori yang baik untuk digunakan untuk menemukan jawaban dari permasalahan yang ada.

Dengan teknik pemetaan perilaku, dapat dilihat bagaimana masing-masing etnik di Tanjung Benoa, etnik Bali, Bugis, Jawa, Palue (Flores) dan Tionghoa berperilaku di suatu seting yang ada di daerah Tanjung Benoa ini, seperti pada bale banjar, sekolah, pasar dan fasilitas umum yang ada. Setelah meneliti perilaku masyarakat multi etnis, selanjutnya penelitian dilakukan secara terbalik, yaitu untuk melihat bagaimana seting yang ada di Tanjung Benoa tersebut dapat mempengaruhi aktivitas dari masing-masing etnik yang ada. Setelah melakukan penelitian dengan menggunakan teknik behavioral mapping, maka dapat diketahui bagaimana pola ruang yang terjadi di Tanjung Benoa.

2.3.2 Teori Teritorialitas 1. Pengertian Teritorialitas

Teritori berarti wilayah atau daerah dan teritorialitas adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang. Teritorialitas merupakan perwujudan “ego” seseorang karena orang tidak ingin diganggu, atau dapat dikatakan sebagai perwujudan dari privasi seseorang. Teritorialitas manusia dapat dilihat dalam

(32)

32

kehidupan sehari-hari, seperti papan nama, pagar pembatas atau papan kepemilikan suatu lahan.

Julian Edney pada tahun 1974 (dalam Laurens, 2004: 124) mendefinisikan teritorialitas sebagai sesuatu yang berkaitan dengan ruang fisik, tanda, kepemilikan, pertahanan, penggunaan yang eksklusif, personalisasi dan identitas. Teritorialitas juga terdapat dominasi, kontrol, konflik, keamanan, gugatan akan sesuatu dan pertahanan.

Teritorialitas merupakan suatu tempat yang nyata, yang relatif tetap dan tidak berpindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan. Misalnya, kamar tidur seseorang adalah wilayah yang dianggap sudah menjadi hal milik seseorang. Meskipun individu yang bersangkutan tidak sedang berada di dalam ruang tersebut dan apabila terdapat orang yang memasuki kamar tersebut tanpa meminta izin, pemilik ruang akan merasa teritorialitasnya telah diganggu dan akan merasa tidak nyaman atau marah.

Selain ruang dalam lingkup yang besar, ruang yang tidak dimiliki permanen juga dapat menjadi teritorialitas seseorang apabila terdapat tanda. Misalnya, bangku-bangku di kantin. Apabila ada orang yang menempati bangku tersebut, kemudian ingin pergi sebentar untuk keperluan lain, dia akan meninggalkan sesuatu seperti buku atau tas di atas meja. Individu lain yang melihat buku atau tas di tempat tersebut akan tahu bahwa bangku tersebut sudah menjadi teritorinya, sehingga tidak diduduki.

Dari contoh tersebut, teritorialitas dapat diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau

(33)

33

sekelompok orang atas suatu tempat atau suatu lokasi geografis. Pola tingkah laku ini mencakup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan dari luar.

Fisher mengatakan bahwa kepemilikan atau hak dalam teritorialitas ditentukan oleh persepsi orang yang bersangkutan sendiri. Persepsi ini bisa aktual, yaitu memang pada kenyataannya dia benar memiliki, seperti kamar tidur, tetapi bisa juga hanya merupakan kehendak untuk menguasai atau mengontrol suatu tempat, seperti meja makan atau bangku di kantin.

Teritorialitas memiliki lima ciri, yaitu (1) ber-ruang, (2) dikuasai, dimiliki atau dikendalikan oleh seorang individu atau kelompok, (3) memuaskan beberapa kebutuhan (misalnya status), (4) ditandai baik secara konkrit atau simbolik, (5) dipertahankan atau setidaknya orang merasa tidak senang bila dimasuki atau dilanggar dengan cara apapun oleh orang asing.

Menurut Lang (1987 dalam Wulandari, 2011), terdapat empat karakter dari teritorialitas, yaitu kepemilikan atau hak dari suatu tempat, personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu, hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar, dan pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasaan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika. 2. Kriteria Teritorialitas

Terdapat berbagai teritori, ada yang berukuran besar, ada yang berukuran kecil. Terkadang ada yang bersarang dalam teritori lainnya atau saling berbagi satu sama lain. Mengenal klasifikasi teritori merupakan salah satu cara untuk mengerti bagaimana teritorialitas ini terjadi.

(34)

34

Dalam usahanya membangun suatu model yang memberi perhatian secara khusus pada desain lingkungan, maka Husesein El-Sharkawy (dalam Wulandari, 2011) mengidentifikasikan empat tipe teritori, yaitu attached, central, supporting dan peripheral. (1) Attached territory adalah gelembung ruang atau batas maya yang mengelilingi diri seseorang; (2) Centralterritory, seperti rumah seseorang, ruang kelas, ruang kerja, dimana kesemuanya itu kurang memiliki personalisasi: Oscar Newman menyebutnya ruang privat; (3) Supportingterritory adalah ruang-ruang yang bersifat semi-privat dan semi-publik pada semi-privat terbentuknya ruang terjadi pada ruang duduk asrama, ruang duduk atau santai di tepi kolam renang, atau area-area pribadi pada rumah tinggal seperti pada halaman depan rumah yang berfungsi sebagai pengawasan terhadap kehadiran orang lain. Ruang semi publik, antara lain adalah salah satu sudut ruangan dalam toko, kedai minuman. Semi privat cenderung untuk dimiliki, sedangkan semi publik tidak dimiliki oleh pemakai; (4) Peripheral territory adalah ruang publik, yaitu area-area yang dipakai oleh individu-individu atau suatu kelompok, tetapi tidak dapat memiliki dan menuntutnya.

Tingkah laku teritorialitas manusia mempunyai dasar yang berbeda dengan binatang karena teritorialitas manusia berintikan pada privasi. Sedangkan untuk hewan lebih kepada pertahanan diri, dorongan untuk pertahanan hidup dan mempertahankan jenis. Teritorialitas manusia mempunyai fungsi yang lebih tinggi daripada sekedar fungsi mempertahankan hidup. Pada manusia, teritorialitas ini tidak hanya berfungsi sebagai perwujudan privasi saja, tetapi lebih jauh lagi teritorialitas juga memiliki fungsi sosial dan fungsi komunikasi.

(35)

35

Fungsi sosial dari teritorialitas dapat dilihat dalam pertemuan-pertemuan resmi ketika sudah ditentukan tempat duduk setiap orang sesuai dengan kedudukan, jabatan dan pangkat yang bersangkutan. Seorang pegawai biasa tidak akan berani duduk di daerah terdepan meskipun bangku tersebut kosong. Bangku kosong tersebut dianggap merupakan bangku untuk para pejabat. Dengan demikian, teritorialitas juga mencerminkan lapisan sosial dalam masyarakat.

Sebagai media komunikasi, teritori juga dapat dibagi menjadi beberapa golongan. Klasifikasi teritori lain yang terkenal dan lebih sering digunakan adalah klasifikasi yang dibuat Altman pada tahun 1980 (dalam Laurens, 2004: 126) yang didasarkan pada derajat privasi, afiliasi dan kemungkinan pencapaian. Terdapat tiga golongan, yaitu teritori primer, teritori sekunder dan teritori publik.

Teritori primer adalah tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya, hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab atau sudah mendapat izin khusus. Teritori ini dimiliki oleh perorangan atau sekelompok orang yang juga mengendalikan penggunaan teritori tersebut secara relatif tetap, berkenaan dengan kehidupan sehari-hari ketika keterlibatan psikologis penghuninya sangat tinggi. Misalnya, ruang tidur atau ruang kantor. Meskipun ukuran dan jumlah penghuninya tidak sama, kepentingan psikologis dari teritori primer bagi penghuninya selalu tinggi.

Teritori sekunder merupakan tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Kendali pada teritori ini tidaklah sepenting teritori primer dan terkadang berganti pemakai atau berbagi

(36)

36

penggunaan dengan orang asing. Misalnya ruang kelas, kantin kampus dan ruang olahraga.

Terakhir adalah teritori publik. Teritori ini merupakan tempat-tempat yang terbuka untuk umum. Pada prinsipnya, setiap orang diperkenankan untuk berada di tempat tersebut. Misalnya, pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, lobi hotel dan ruang sidang pengadilan yang dinyatakan terbuka untuk umum. Terkadang terjadi teritori publik yang dikuasai oleh kelompok tertentu dan tertutup bagi kelompok lain, seperti bar yang hanya untuk orang dewasa atau tempat-tempat hiburan yang tebuka untuk dewasa umum, kecuali anggota ABRI, misalnya.

Berdasarkan pemakaiannya, teritorial publik atau umum dapat dibagi menjadi tiga (Wulandari, 2011), yaitu (1) Stalls merupakan suatu tempat yang dapat disewa atau dipergunakan dalam jangka waktu tertentu, biasanya berkisar antara jangka waktu lama dan agak lama. Contohnya adalah kamar-kamar dihotel, kamar-kamar di asrama, ruangan kerja, lapangan tenis, sampai ke bilik telepon umum. Kontrol terhadap stalls terjadi pada saat penggunaan saja dan akan berhenti pada saat penggunaan waktu habis;(2) Turns mirip dengan stalls, hanya berbeda dalam jangka waktu penggunaannya saja. Turns dipakai orang dalam waktu yang singkat, misalnya tempat antrian karcis, antrian bensin dan sebagainya; (3) Use space adalah teritori yang berupa ruang yang dimulai dari titik kedudukan seseorang ke titik kedudukan objek yang sedang diamati seseorang. Contohnya adalah seseorang yang sedang mengamati objek lukisan dalam suatu pameran, maka ruang antara objek lukisan dengan orang yang sedang mengamati tersebut adalah “Use Space” atau ruang terpakai yang dimiliki oleh

(37)

37

orang itu, serta tidak dapat diganggu gugat selama orang tersebut masih mengamati lukisan tersebut.

Selain pengklasifikasian tersebut, Altman pada tahun 1975 (dalam Laurens, 2004: 127) juga mengemukakan dua tipe teritori lain, yaitu objek dan ide. Meskipun keduanya bukan berwujud tempat, diyakini juga memenuhi kriteria teritori. Karena seperti halnya dengan tempat, orang juga menandai, menguasai, mempertahankan dan mengontrol barang mereka, seperti buku-buku, pakaian, motor dan objek lain yang dianggap miliknya.

Ruang kerja seseorang bisa menjadi teritori sekunder ketika dia masih mengizinkan orang lain, seperti tamunya masuk. Demikian pula dengan ide, orang mempertahankannya melalui hak paten atau hak cipta; pemilik perangkat lunak memasang kunci dengan kode-kode tertentu pada program mereka agar tidak dikuasai orang lain.

Selain tipologi tersebut, Lyman dan Scott pada tahun 1967 (dalam Laurens, 2004: 128) juga membuat klasifikasi tipe teritorialitas yang sebanding dengan klasifikasi Altman. Namun, terdapat dua tipe yang berbeda, yaitu teritori interaksi (interactionalterritories) dan teritori badan (bodyterritory).

Teritori interaksi ditujukan pada suatu daerah yang secara temporer dikendalikan oleh sekelompok orang yang berinteraksi. Misalnya, sebuat tempat perkemahan yang sedang dipakai oleh sekelompok remaja untuk kegiatan perkemahan, ruang kuliah yang dipakai oleh sejumlah mahasiswa peserta mata kuliah tertentu, lapangan sepakbola yang dipakai untuk pertandingan oleh sekelompok klub sepakbola. Apabila terjadi intervensi ke dalam daerah ini, tentu

(38)

38

dianggap sebagai gangguan. Misalnya, sekelompok anak yang masuk ke dalam lapangan bola ketika sedang dilakukannya pertandingan bola orang dewasa atau seorang anak kecil masuk ke dalam ruang kuliah yang tidak diperuntukkan baginya.

Sementara itu, teritori badan dibatasi oleh badan manusia (kulit manusia) artinya segala sesuatu mengenai kulit manusia tanpa izin dianggap gangguan. Orang akan mempertahankan diri terhadap gangguan tersebut.

3. Pelanggaran dan Pertahanan Teritori

Bentuk pelanggaran teritori yang dapat diindikasikan adalah invasi ruang. Seseorang secara fisik memasuki teritori orang lain, biasanya dengan maksud mengambil kendali atas teritori tersebut dari pemiliknya. Hal ini dapat terjadi pada berbagai tingkatan dari antar individu hingga suatu wilayah kenegaraan.

Bentuk kedua adalah kekerasan. Suatu bentuk pelanggaran yang bersifat temporer atas teritori seseorang. Biasanya hal ini bukan untuk menguasai teritori orang lain, melainkan suatu bentuk gangguan. Terkadang gangguan terjadi tanpa disengaja, misalnya seorang anak laki-laki memasuki toilet wanita karena dia belum bisa membaca. Namun, ada juga gangguan yang terjadi dengan sengaja tanpa harus memasuki teritori secara fisik. Contohnya terlihat pada saat pencurian atau gangguan pada data computer di sebuah perusahaan atau memasuki gelombang radio tertentu tanpa izin.

Bentuk ketiga adalah kontaminasi, yaitu seseorang mengganggu teritori orang lain dengan meninggalkan sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti sampah, coretan atau bahkan merusak barang atau teritori tersebut. Pertahanan yang dapat

(39)

39

dilakukan untuk mencegah pelanggaran teritori adalah (1) Pencegahan, seperti memberi lapisan pelindung, memberi rambu-rambu atau pagar batas sebagai antisipasi sebelum terjadinya pelanggaran; (2) Reaksi, sebagai respon terhadap terjadinya pelanggaran, seperti langsung menindak atau menghadapi si pelanggar; (3) Batas sosial yang digunakan pada tepi teritori internasional. Pertahanan ini terdiri atas suatu kesepakatan yang dibuat oleh tuan rumah dan tamunya. Batas sosial ini dapat dilihat saat seseorang menggunakan paspor untuk memasuki wilayah negara tertentu.

4. Pengaruh pada Teritorialitas

Beberapa faktor yang mempengaruhi keanekaan teritori adalah karakteristik personal seseorang, perbedaan situasional baik berupa tatanan fisik maupun situasi sosial budaya seseorang (Laurens, 2004: 130-133).

a. Faktor personal

Karakteristik seseorang, seperti jenis kelamin, usia dan kepribadian yang diyakini mempunyai pengaruh terhadap sikap teritorialitas. Penelitian yang dilakukan di sebuah asarama mendapatkan bahwa pria menggambarkan teritori mereke lebih besar daripada wanita. Penghuni asrama diminta menggambarkan teritori mereka dalam ruang tidur bersama dan menandai mana yang dianggap teritorinya dan mana yang dianggap teritori milik teman sekamarnya. Pria menggambarkan teritori yang diklaim sebagai miliknya lebih besar daripada yang digambarkan wanita (Mercer dan Benyamin, 1980 dalam Laurens, 2004: 131).

Pada umumnya, pria menganggap dirinya mempunyai status yang lebih tinggi di tempat kerjanya dan mengklaim teritori yang lebih besar dari wanita.

(40)

40

Sementara itu, pria akan beranggapan bahwa rumah adalah teritori bersama, tetapi dapur adalah teritori wanita. Dari hal ini disimpulkan bahwa gender dan kepribadian merupakan dua hal yang saling terkait dalam penentuan teritori. b. Faktor Situasi

Perbedaan situasi berpengaruh pada teritorialitas, ada dua aspek situasi, yaitu tatanan fisik dan sosial budaya yang dianggap mempunyai peran dalam menentukan sikap teritorialitas seseorang. Oscar Newman dalam teorinya (dalam Laurens, 2004: 131) mengenai defensible space mengemukakan bahwa kriminalitas di perumahan dan ketakutan akan kriminalitas merupakan dua gejala yang berkaitan dengan invasi teritori.

Bentuk desain tertentu, seperti penghalang yang nyata ataupun barrier simbolis dapat digunakan untuk memisahkan teritori publik dan pribadi. Dengan demikian memberikan peluang bagi pemilik untuk melakukan pengamatan daerahnya akan meningkatkan rasa aman dan mengurangi kriminalitas dalam teritori tersebut. Desain tata letak bangunan atau desain jalan dapat mempengaruhi perilaku penghuni atau penggunanya.

c. Faktor Budaya

Faktor budaya dapat mempengaruhi sikap teritorialitas. Secara budaya terdapat perbedaan sikap teritori yang dilatarbelakangi oleh budaya individu yang sangat beragam. Apabila seseorang mengunjungi ruang publik yang jauh berada di luar kultur budayanya pasti akan sangat berbeda sikap teritorinya. Pada sebuah contoh penelitian yang dilakukan oleh Smith pada tahun 1980 (dalam Laurens, 2004: 132) mengenai teritori pantai pada orang Jerman dan Prancis, ditemukan hal

(41)

41

yang sama, yaitu kelompok yang lebih besar mengklain area perorang yang lebih kecil dibandingkan kelompok kecil.

Secara budaya terdapat perbedaan sikap teritorial. Orang Prancis mempunyai sikap teritorial terendah. Mereka menganggap pantai itu milik semua orang. Sementara itu, orang Jerman lebih banyak memberi tanda-tanda kepemilikan dengan membuat istana pasir atau hal lainnya untuk membatasi teritori mereka. 5. Teritorialitas dan Perilaku

Teritorialitas berfungsi sebagai proses sentral dalam personalisasi, agresi, dominasi, menenangkan, koordinasi dan control (Laurens, 2004: 135-136).

a. Personalisasi dan Penandaan

Personalisasi dan penandaan, seperti memberi nama, tanda atau menempatkan di lokasi strategis, bisa terjadi tanpa kesadaran akan teritorialitas. Seperti membuat pagar batas, memberi papan nama yang merupakan tanda kepemilikan. Perilaku personalisasi dapat juga dilakukan secara verbal.

Penandaan juga dipakai seseorang untuk mempertahankan haknya di teritori publik, seperti kursi di ruang publik. Personalisasi dan penandaan kadang juga dibuat dengan sengaja dengan maksud tertentu, seperti tulisan “dilarang parkir di depan pintu” dan tulisan lainnya yang menandakan teritorialitas.

b. Agresi

Pertahanan dengan kekerasan yang dilakukan seseorang akan semakin keras bila pelanggaran terjadi di teritori primernya dibandingkan dengan pelanggaran yang terjadi di ruang publik. Pada tingkat yang lebih luas, misalnya teritori daerah

(42)

42

atau Negara, perang sudah sangat sering terjadi karena adanya agresi. Agresi biasanya terjadi karena batas teritori tidak jelas.

c. Dominasi dan Kontrol

Dominasi dan kontrol umumnya banyak terjadi di teritori primer. Kemampuan suatu tatanan ruang untuk menawarkan privasi melalui kontrol teritori menjadi penting. Hal ini berarti tatanan tersebut mampu memenuhi beberapa kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan akan identitas yang berkaitan dengan kebutuhan akan kepemilikan harga diri dan aktualisasi diri.

6. Teritorialitas dalam Desain Arsitektur

Terdapat banyak cara dalam mengolah penggunaan elemen fisik untuk membuat demarakasi teritori. Semakin banyak sebuah desain mampu menyediakan teritori primer bagi penghuninya, desain itu akan semakin baik dalam memenuhi kebutuhan penggunanya.

Sebuah ruang terbuka, sebuah ruangan atau ruang arsitektural dapat diklaim sebagai teritori yang bersifat publik ataupun bersifat pribadi, bergantung pada pencapaian, bentuk pengawasan, pengguna ruangan tersebut, orang yang merawat dan bertanggung jawab atas ruang tersebut. Sebuah ruang tidur dianggap lebih pribadi sifatnya daripada dapur. Ruang tidur memiliki kunci sendiri untuk bisa masuk, merawat dan menata sesuai dengan kehendak pemilik ruang. Berbeda dengan ruang keluarga atau dapur yang pemeliharaannya ditanggung bersama seluruh penghuni rumah.

(43)

43

a. Publik dan Privat

Gradasi teritori dalam desain arsitektur bersifat primer, sekunder dan publik. Dapat kita lihat contohnya dalam sebuah hunian di Bali yang dibatasi oleh dinding keliling dan pintu masuk melalui sebuah candi bentar sebagai penanda teritori. Ruang-ruang fungsi ditata sesuai dengan adat istiadat Bali. Sebuah fungsi berupa sebuah bangunan, seperti ruang tidur dan dapur sebagai bangunan yang berdiri sendiri, sehingga jika seseorang telah melewati candi bentar, dia tidak langsung masuk dalam ruangan yang bersifat privat. Dia tidak merasa berada dalam teritori hunian yang sifatnya pribadi, karena tidak dengan sendirinya mempunyai akses ke ruang-ruang fungsi tersebut. Untuk menuju ruang yang bersifat lebih intim, tidak dapat dicapai dengan mudah. Dengan demikian, rumah Bali ini membentuk gradasi teritori melalui urutan aksesibilitas.

Pada kompleks perumahan real estate di perkotaan juga diberi penanda teritori kompleks. Biasanya berupa pos penjaga dengan portal, sehingga meskipun jalan yang ada di dalam kompleks perumahan tersebut adalah jalan umum atau teritori publik, tidak mudah bagi orang asing untuk memasukinya. Seseorang yang bukan penghuni akan merasa asing atau setidaknya merasa sebagai tamu di kawasan tersebut. Sebaliknya sebagai penghuni, orang merasa telah berada dalam teritorinya, meski sesungguhnya dia merasa di teritori publik.

Ruang publik adalah area yang terbuka. Ruang ini dapat dicapai oleh siapa saja pada waktu kapan saja dan tanggung jawab pemeliharaannya adalah kolektif. Sementara itu, ruang privat adalah area yang aksesibilitasnya ditentukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang dengan tanggung jawab ada pada mereka.

Gambar

Gambar 2.2  Jarak Komunikasi  (Laurens, 2005: 109)
Gambar 2.3  Model Penelitian
Gambar 3.1  Rancangan Penelitian  (Analisis Penulis, 2013)  Kualitatif Etnografi  Rancangan Penelitian Pendekatan Survei Rumusan Masalah 1 Bagaimana perilaku dan waktu terjadinya aktivitas
Gambar 3.2  Peta Pulau Bali

Referensi

Dokumen terkait

- Penambahan dan Pengembangan Modal Lembaga Penyiaran B04: Pembahasan Substansi RUU Penyiaran telah mencapai 70% (sudah membahas 109 pasal dari 160 pasal) pada bulan ini

Dalam hasil penelitian yang telah dilakukan, terlihat bahwa kedua Tim Media bergerak pada koridor masing-masing yang awalnya secara sengaja diatur untuk mengelola

Dahulukan apa yang harus di selesaikan hari ini dan yang bisa dikerjakan nanti.65 Selain Mu’afi, Ade Bagus Permana Putra Jurusan PGMI selaku Ketua DEMA FITK UIN Malang juga

Sikap hidup mendasar terhadap kerja disini identik dengan sistem keimanan atau aqidah Islam berkenaan dengan kerja atas dasar pemahaman bersumber dari wahyu dan akal yang

Setelah Lenin membuat keputusan untuk mengambil jalan ini, walau demikian, ia segera mulai mengerjakan isu ini dengan lebih detail dan mengembangkannya menjadi

Pada proses injeksi molding untuk pembuatan hendel terjadi beberapa kekurangan, pada proses pembuatannya diantaranya terjadinya banyak kerutan dan lipatan pada

Sistem kontrol kipas angin otomatis menggunakan sensor suhu LM35 merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk mendeteksi suhu ruangan serta mentransmisikan data perubahan suhu

Sejalan dengan pendapat di atas, maka asesmen merupakan bagian dari pembelajaran yang tidak terpisahkan, sebagaimana dikemukakan Gronlund (1998) bahwa hubungan antara