ANALISIS NILAI EKONOMI KONSERVASI
DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PELUANG ADOPSI KONSERVASI USAHATANI KENTANG
DATARAN TINGGI DI KECAMATAN PASIRWANGI
KABUPATEN GARUT
DINDA ASYIFA DEVI
DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Analisis Nilai Ekonomi Konservasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peluang Adopsi Konservasi Usahatani Kentang Dataran Tinggi di Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Januari 2013
RINGKASAN
DINDA ASYIFA DEVI. Analisis Nilai Ekonomi Konservasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peluang Adopsi Konservasi Usahatani Kentang Dataran Tinggi di Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut. Dibimbing oleh SUTARA HENDRAKUSUMAATMAJA.
Sektor pertanian memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan karena merupakan penyedia kebutuhan pangan bagi rakyat Indonesia yang terus bertambah, penyedia bahan baku industri, penyumbang devisa, penyerap tenaga kerja atau penciptaan kesempatan kerja dan sebagai jaminan pendapatan bagi sebagian besar penduduk, serta penunjang utama kelestarian lingkungan hidup. Besarnya manfaat sektor pertanian membuat kegiatan pertanian dilakukan di lahan sawah serta lahan kering. Tanaman semusim yang dominan ditanam di lahan kering adalah jagung, kentang, kubis, tomat, wortel, tembakau dan berbagai jenis bunga. Beberapa jenis tanaman seperti kentang, tomat, buncis, wortel, dan lainnya hanya dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik pada ketinggian tempat tertentu, sehinga terdapat sentra-sentra produksi untuk tanaman-tanaman tersebut (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005).
Berdasarkan luas tanam per tahun, Kabupaten Bandung dan Garut merupakan sentra penghasil kentang terbesar di Provinsi Jawa Barat (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2010). Pada tahun 2010 Kabupaten Garut memiliki produktivitas yang lebih tinggi yaitu 21,74 ton/ha dibandingkan dengan Kabupaten Bandung yang hanya memiliki produktivitas sebesar 20,48 ton/ha. Berdasarkan data luas panen, produksi dan produktivitas, di Garut mengalami perkembangan yang negatif, bahkan pada tahun 2009 dan 2010 persentase penurunan produksi lebih besar dibandingkan dengan persentase penurunan luas lahan. Penyebab penurunan produktivitas kentang ini diduga oleh terjadinya erosi. Erosi menyebabkan banyak unsur hara dan bahan organik tanah hilang melalui sedimen yang terangkut aliran permukaan, pencemaran tanah, air, dan lingkungan. Oleh karena itu, untuk melestarikan sumberdaya lahan di daerah-daerah sentra produksi ini perlu dilakukan pengelolaan lahan yang tepat dengan menerapkan tindakan konservasi tanah (Katharina, 2007).
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani kentang dataran tinggi untuk mengadopsi konservasi, dan (2) menghitung nilai ekonomi dari usahatani kentang yang melakukan konservasi. Penelitian dilakukan di Desa Padaawas dan Desa Barusari Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut. Lokasi ini dipilih secara tertuju (purposive) karena merupakan salah satu sentra penghasil kentang terbesar di Kabupaten Garut dengan kemiringan lahan yang beragam. Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah simple random sampling. Jenis data yang digunakan adalah data cross section. Pengambilan data primer dilakukan selama bulan Juni 2011 – Juli 2011. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung kepada petani kentang dataran tinggi, dengan menggunakan kuesioner. Metode analisis yang digunakan yaitu model logit untuk melihat faktor yang mempengaruhi adopsi konservasi dan analisis nilai ekonomi konservasi usahatani kentang. Pengolahan data menggunakan SPSS 16.0.
iv Pada penelitian ini petani yang melakukan konservasi adalah petani yang melakukan sistem penanaman dengan membentuk jalur-jalur tumpukan tanah yang memanjang menurut kontur atau melintang lereng (guludan searah kontur). Sebaliknya apabila jalur tersebut dibuat kearah bawah lereng atau searah lereng maka petani dikatakan tidak melakukan konservasi, karena pada alur-alur diantara tumpukan tanah akan terkumpul air yang akan mengalir dengan cepat ke bawah (Arsyad, 2000) sehingga mempercepat degradasi lahan yang menyebabkan lahan kritis dan usahatani tidak berkelanjutan (Henny, 2012). Berdasarkan hasil wawancara, petani yang melakukan pola konservasi sebanyak 36 petani (72 persen), dan yang tidak melakukan pola konservasi sebanyak 14 petani (28 persen). Dari 14 petani yang tidak melakukan pola konservasi, diperoleh informasi bahwa salah satu alasan mereka melakukan sistem penanaman guludan searah lereng adalah lebih mudah dibuat, jalur-jalur yang dibuat mempermudah pemeliharaan tanaman, dan dapat menghemat tenaga kerja.
Dilihat dari kriteria ekonomi, hasil analisis regresi logit menunjukkan umur, pendapatan, tingkat kecuraman lereng, dan status kepemilikan lahan yang merupakan variabel dummy, mempunyai tanda positif terhadap keputusan petani dalam mengadopsi konservasi. Artinya, jika umur petani, pendapatan, dan tingkat kecuraman lereng meningkat, maka peluang petani untuk mengadopsi konservasi meningkat. Dummy status kepemilikan lahan menunjukkan bahwa petani pemilik memiliki peluang untuk melakukan adopsi konservasi lebih tinggi dibandingkan petani penyewa. Pendidikan, luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman memiliki tanda negatif. Artinya, peningkatan pendidikan, luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman, akan menurunkan peluang petani melakukan adopsi konservasi. Variabel yang sesuai dengan hipotesis yaitu status kepemilikan lahan, pendapatan, tingkat kecuraman lereng, dan jumlah tanggungan keluarga. Selanjutnya berdasarkan kriteria statistik, variabel yang berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata α = 20 persen yaitu status kepemilikan lahan, luas lahan, pendapatan, tingkat kecuraman lereng, dan pengalaman bertani.
Usahatani dengan konservasi memberikan pendapatan atas biaya tunai dan atas biaya total yang lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani tanpa konservasi. Dilihat dari aspek lingkungan pendapatan total dapat menunjukkan nilai ekonomi konservasi. Nilai ini didapat dengan menghitung selisih pendapatan atas biaya total antara petani yang melakukan konservasi dan tidak melakukan konservasi. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai ekonomi konservasi usahatani kentang sebesar Rp 10.163.428,60.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat dirumuskan saran (1) Perlu dilakukan penyuluhan yang membahas mengenai konservasi secara lebih mendalam tidak hanya fokus pada budidaya tanaman. Hal ini perlu dilakukan agar petani lebih paham mengenai manfaat yang dapat diterima dan biaya yang harus ditanggung secara lebih jelas sehingga tingkat adopsi konservasi dapat meningkat, (2) Penyuluhan lebih baik diarahkan pada petani yang menggarap lahan di kecuraman lahan tinggi karena memiliki peluang adopsi konservasi yang lebih tinggi, dan (3) Pemerintah perlu memperkecil laju konversi tanah agar mengurangi perambahan lahan kehutanan sehingga satus penguasalahan menjadi jelas dan adopsi konservasi dapat dilakukan dengan lebih baik.
v
ANALISIS NILAI EKONOMI KONSERVASI
DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PELUANG ADOPSI KONSERVASI USAHATANI KENTANG
DATARAN TINGGI DI KECAMATAN PASIRWANGI
KABUPATEN GARUT
DINDA ASYIFA DEVI H44070006
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan
DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Penelitian : Analisis Nilai Ekonomi Konservasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peluang Adopsi Konservasi Usahatani Kentang Dataran Tinggi di Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut
Nama : Dinda Asyifa Devi
NRP : H44070006
Disetujui,
Ir. Sutara Hendrakusumaatmaja, M. Sc Pembimbing
Diketahui,
Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT Ketua Departemen
UCAPAN TERIMA KASIH
Skripsi ini terselesaikan atas bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Ir. Sutara Hendrakusumaatmaja, M.Sc., selaku Pembimbing yang telah memberikan banyak ilmu, bimbingan, arahan sistematika berfikir, perhatian, motivasi dan dukungan semangat untuk terus menyelesaikan skripsi ini. 2. Ir. Ujang Sehabudin selaku Dosen Penguji Utama dan Novindra, S.P, M. Si
selaku Dosen Penguji Wakil Departemen pada ujian akhir atas masukan dan sarannya untuk penyempurnaan skripsi ini.
3. Pimpinan, seluruh Staf Pengajar, dan Staf Administrasi di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB atas dorongan, motivasi dan perhatian yang diberikan.
4. Sahabat terbaik, Lingga Divika Anggiruling, S.Si, Nuzulia Farhani, SE, dan Rina Gustiyana serta teman seperjuangan Raisa, SE, Norita Vibrianto, SE, dan Rizki Amelia atas kerjasama, dukungan dan doa selama penyusunan skripsi.
5. Teman-teman ESL 44 yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan banyak bantuan dan kenangan terindah.
6. Vera Verisa, Hermud Farhan, Septian Riski Sitompul yang telah banyak membantu penulis dalam pengumpulan data di lapang.
7. Para petugas penyuluh lapang; Bpk Burhanudin, Ibu Tati Kartini, Ibu Eneng; terima kasih atas waktu yang diberikan dan atas bantuannya dalam pencarian informasi di lapangan.
viii 8. Ungkapan terima kasih tak terhingga penulis sampaikan kepada para ketua kelompok tani para petani yang menjadi responden, atas waktu yang disediakan untuk wawancara dan memberikan informasi serta data lapangan yang sangat berharga untuk penulisan skripsi ini
9. Kedua orang tua tercinta Drs. Entang Sutarsa, MPd dan Dr. Ir. Wini Nahraeni, M.Si yang selalu mengalirkan doa dalam setiap detik waktu yang tiada henti untuk keberhasilan anaknya, dorongan semangat, dan perhatian yang tulus selama penulis menyelesaikan studi, serta adikku Luthfiansyah Dwiantara atas dorongan semangat serta perhatiannya.
Bogor, Januari 2013
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi yang berjudul ‘Analisis Nilai Ekonomi Konservasi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peluang Adopsi Konservasi Usahatani Kentang Dataran Tinggi di Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut’ diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Depatemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Hortikultura merupakan salah satu sub sektor pertanian yang sangat baik diusahakan di dataran tinggi. Namun hal ini banyak mendapat sorotan karena diduga dapat menyebabkan erosi, terutama untuk tanaman semusim, khususnya kentang. Data menunjukkan bahwa produktivitas sayuran kentang di Jawa Barat mengalami penurunan. Salah satu penyebab penurunan produktivitas ini yaitu karena terjadi erosi yang tinggi. Hal ini dapat diatasi dengan dilakukannya tindakan konservasi. Adopsi konservasi merupakan sebuah faktor kunci kearah keuntungan jangka panjang, sehingga diperlukan sebuah kajian adopsi konservasi
terhadap usahatani kentang dataran tinggi di Kabupaten Garut.
Skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis berharap semoga karya ini dapat berguna bagi mereka yang memerlukan.
Bogor, Januari 2013
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...………..….……..…..…...…...…... xii
DAFTAR GAMBAR ..………...…...…..………... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ………...………... xiii
I. PENDAHULUAN ………..….….…..………...…...…... 1
1.1 Latar Belakang ……...……..……...…...…...………... 1
1.2 Rumusan Masalah ..…….…….…..…...…..……..……...…. 5
1.3 Tujuan …….……...….…………..….…...……...………... 8
1.4 Manfaat Penelitian ……...……...…...……...…...………. 8
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ………...…... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA ………..………..…..…….... 9
2.1 Lahan Kering …….…..……...………...………... 9
2.1.1 Jenis Lahan Kering ………...………... 9
2.2 Erosi ………...….……..………... 10
2.3 Biaya Erosi Tanah …….…….…..………....……...…. 12
2.4 Konservasi ………...………... 13
2.5 Konsep Usahatani ....………...……….…... 14
2.5.1 Konsep Pendapatan Usahatani ……..……….. 14
2.5.2 Usahatani Kentang Kabupaten Garut ………... 17
2.6 Adopsi Inovasi …....…..……….………...… 18
2.7 Pengambilan Keputusan Adopsi Teknologi Baru ... 19
2.8 Penelitian Terdahulu ……….……….... 24
III. KERANGKA PEMIKIRAN ……...…...…...……….... 30
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ……...………..……… 30
3.1.1 Model regresi Logit ...……...………. 30
3.1.2 Pengambilan Keputusan adopsi ………... 31
3.1.3 Nilai Ekonomi Konservasi …….………...…....… 36
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional …….………..…..…... 37
3.3 Hipotesis Penelitian ..…….………….….………...…... 40
IV. METODE PENELITIAN ……...……….………. 41
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian …………..……...…... 41
4.2 Jenis dan Sumber Data .………...……….. 42
4.3 Kerangka Sampling dan Penentuan Responden ………. 42
4.4 Metode Pengumpulan Data ………...…….…….. 43
4.5 Metode Analisis Data ...………...….……….... 43
4.5.1 Model Regresi Logistik ………..…………..…… 44
4.5.2 Analisis Nilai Ekonomi ………...…. 45
4.5.3 Pengujian Hipotesis ………….………...…... 46
xi
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN ……….…….…………... 52
5.1 Gambaran Lokasi Penelitian .……...…..…..…………... 52
5.2 Karakteristik Sosial Ekonomi …...……….……...…...…… 53
5.2.1 Petani …………...……..………... 53
5.2.2 Tanaman Kentang ………...…………... 54
5.3 Karakteristik Responden ……….…...……… 54
5.3.1 Jenis Kelamin dan Usia ………..……...…… 55
5.3.2 Lama Bertani ………..………...… 56
5.3.3 Pendidikan Formal ……….………... 57
5.3.4 Luas dan Status Kepemilikan Lahan ………..…...…… 58
5.3.5 Penyuluhan ………..………... 61
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….……….………... 63
6.1 Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adopsi Konservasi ……….…. 65
6.1.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Petani dalam Adopsi Konservasi …………...………... 70
6.2 Nilai Ekonomi Konservasi Usahatani Kentang ...….…...…... 75
VII. SIMPULAN DAN SARAN ………..…….…………..…... 82
7.1 Simpulan ………..………...…… 82
7.2 Saran ………..………...….. 82
DAFTAR PUSTAKA ………..…….. 84
LAMPIRAN ... 89
xii
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Perkembangan Produktivitas Kentang di Kabupaten Bandung
dan Garut Tahun 2006-2010 …………..………... 4
2. Perkembangan Luas Areal Panen, Produksi, dan Produktivitas
Kentang di Kabupaten Garut Tahun 2006-2010 …………..……... 4 3. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang di Jawa Barat
Tahun 2006-2011 .…………..…………..………….…………... 17
4. Kemiringan Lahan, Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas
Kentang Beberapa Sentra Produksi di Kabupaten Garut, 2009 ….. 41 5. Karakteristik Desa Terpilih di Kecamatan Pasirwangi, 2011 ……. 43 6. Keterkaitan Tujuan, Sumber Data dan Metode Analisis Data ….... 43 7. Perhitungan Penerimaan, Biaya, dan Pendapatan Usahatani
Kentang ………... 45
8. Perhitungan Nilai Ekonomi Adopsi Konservasi ... 46 9. Karakteristik Petani Berdasarkan Sistem Penanaman dan Usia di
Kecamatan Pasirwangi Tahun 2011 …...………...…...…… 56 10. Karakteristik Petani Berdasarkan Sistem Penanaman dan Lama
Bertani di Kecamatan Pasirwangi Tahun 2011 ….……..……..….. 57 11. Karakteristik Petani Berdasarkan Sistem Penanaman dan
Pendidikan Formal di Kecamatan Pasirwangi Tahun 2011 …... 58 12. Karakteristik Petani Berdasarkan Sistem Penanaman dan Luas
Lahan di Kecamatan Pasirwangi Tahun 2011 …...…...…………... 59 13. Karakteristik Petani Berdasarkan Sistem Penanaman dan Status
Kepemilikan Lahan di Kecamatan Pasirwangi Tahun 2011 …... 60 14. Kemiringan Lahan Petani Sayuran Kentang Dataran Tinggi di
Kecamatan Pasirwangi, 2011 …..………...………. 63
15. Hasil Analisis Regresi Logit untuk Mengadopsi Konservasi pada Usahatani Kentang Dataran Tinggi di Kecamatan Pasirwangi,
2011 ……….………..………..……… 68
16. Rata-rata Luas Garapan Petani Kentang Dataran Tinggi pada Berbagai Tingkan Kecuraman Lereng di Kecamatan Pasirwangi,
2011 ………..………... 72
17. Struktur Biaya, Penerimaan, dan Pendapatan Usahatani Kentang per Hektar Per Musim Tanam di Kecamatan Pasirwangi Tahun
2011 ………..………... 77
18. Perhitungan Nilai Ekonomi Konservasi Usahatani Kentang di
xiii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Alur Kerangka Pemikiran Operasional ………..………... 39 2. Karakteristik Petani Berdasarkan Usia ……….……….…… 55 3. Karakteristik Petani Berdasarkan Lama Bertani …..……….. 56 4. Karakteristik Petani Berdasarkan Pendidikan Formal …………... 58 5. Karakteristik Petani Berdasarkan Luas Lahan …………...… 59 6. Lahan dengan Penanaman Searah Kontur (Konservasi) di
Kecamatan Pasirwangi, 2011 ……..………... 64
7. Lahan dengan Penanaman Searah Lereng (Non-Konservasi) di
Kecamatan Pasirwangi, 2011 ……….... 64
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Luas lahan Menurut Penggunaannya di Indonesia Tahun
2003-2007 ………..…………..……….……... 90
2. Analisis Usahatani Kentang Konservasi dan Non-Konservasi per Hektar per Musim Tanam di Dua Desa Kecamatan
Pasirwangi Kabupaten Garut, Tahun 2011 …………...………. 91
3. Karakteristik Petani Contoh di Dua Desa Kecamatan Pasirwangi
Kabupaten Garut, Tahun 2011 …………...……….. 92
4. Hasil Output Regresi Logit dengan SPSS 16.0 ………...…….…. 96
1
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Sektor pertanian memegang peranan yang cukup penting dalam pembangunan. Sektor pertanian merupakan penyedia kebutuhan pangan, penyedia bahan baku industri, penyumbang devisa, penyerap tenaga kerja, serta penunjang utama kelestarian lingkungan hidup. Upaya peningkatan sektor pertanian merupakan langkah strategis dalam pembangunan nasional mengingat peranannya yang besar dalam mendukung pertumbuhan sektor pertanian khususnya dan perekonomian nasional pada umumnya.
Pada tahun 2011, perekonomian nasional tumbuh sebesar 6,5 persen yang didukung oleh pertumbuhan sektor pertanian sebesar 3,6 persen (Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan RI, 2011). Dilihat dari sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pada tahun 2011 sektor pertanian menyumbang 14,7 persen terhadap PDB nasional (Badan Pusat Statistik (BPS), 2012). Sektor pertanian berkaitan erat dengan wilayah pedesaan. Berdasarkan data BPS (2012) sekitar 46 persen masyarakat Indonesia terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan pertanian seperti pertanian tanaman pangan, non-pangan, peternakan, dan perikanan air tawar sebagai pekerjaan utama.
Selain sebagai penghasil produk pertanian, sektor pertanian juga memberikan produk sampingan (multifungsi) antara lain: perlindungan terhadap lingkungan (penanggulangan erosi, pengendalian banjir, pendaurulangan air, penambatan karbon, penyangga kenaikan suhu udara, pembersih udara), penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan, penyangga gejolak ekonomi (economic buffer), serta pelestarian nilai budaya pedesaan. Berbagai fungsi (multifungsi) dari
2 pertanian memberikan manfaat tidak saja untuk petani sebagai penyedia jasa, tetapi juga masyarakat luas yang berada di sekitarnya (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005).
Lahan pertanian Indonesia terdiri atas lahan sawah dan lahan kering. Lahan Kering mendominasi luas lahan di Indonesia. Pada tahun 2007, hampir 82 persen dari luas lahan keseluruhan merupakan lahan kering dan hampir semua pulau didominasi oleh lahan kering (Lampiran 1). Dengan demikian lahan kering merupakan salah satu sumberdaya lahan yang mempunyai potensi besar untuk mendukung pembangunan pertanian di Indonesia, baik ditinjau dari luas areal maupun peluang produksi komoditas yang diusahakan. Peluang produksi tersebut tidak hanya untuk tanaman pangan tetapi juga untuk tanaman hortikultura, tanaman industri, dan tanaman perkebunan.Pada usahatani berbasis lahan kering, usahatani yang paling berkembang adalah pada usahatani tanaman perkebunan, usahatani komoditas sayuran bernilai ekonomi tinggi dan peternakan khususnya unggas.
Berbagai usahatani yang dilakukan pada lahan kering dataran tinggi adalah tanaman semusim dan tahunan seperti teh, kina, kopi, kayu manis dan lainnya. Tanaman semusim yang dominan ditanam adalah jagung, kentang, ubi jalar, kubis, tomat, buncis, wortel, tembakau dan berbagai jenis bunga. Beberapa jenis tanaman seperti kentang, kubis, tomat, cabe, buncis, wortel, dan lainnya hanya dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik pada ketinggian tempat tertentu, sehinga terdapat sentra-sentra produksi untuk tanaman-tanaman tersebut. Selain itu, kemajuan cenderung spesifik lokal dalam arti perkembangan yang cukup nyata adalah di sentra-sentra produksi sedangkan di wilayah non sentra produksi
3 kurang berkembang (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005).
Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penghasil komoditas sayuran terbesar di Indonesia (Dinas Pertanian Tanaman Pangan, 2010). Jenis sayuran unggulan di Jawa Barat meliputi bawang merah, cabe merah, kentang, kubis, dan tomat. Diantara komoditas hortikultura lainnya, kentang merupakan tanaman yang banyak diusahakan petani. Kentang dipilih karena nilai ekonomis kentang yang tinggi dan harga yang cenderung stabil. Selain itu, kentang merupakan komoditas yang memiliki daya tahan simpan cukup lama, yaitu sampai 5 tahun (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2003)
Berdasarkan luas tanam per tahun, Kabupaten Bandung dan Garut merupakan sentra penghasil kentang terbesar di Provinsi Jawa Barat (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat, 2010). Kontribusi kentang di Kabupaten Bandung dan Garut masing-masing adalah sebanyak 56,52 persen dan 36,53 persen dari total produksi Jawa Barat. Dari kedua sentra produksi kentang tersebut, pada tahun 2010 Kabupaten Garut memiliki produktivitas yang lebih tinggi yaitu 21,74 ton/ha dibandingkan dengan Kabupaten Bandung yang hanya memiliki produktivitas sebesar 20,48 ton/ha. Namun berdasarkan data luas panen, produksi dan produktivitas, Kabupaten Garut mengalami perkembangan yang negatif, bahkan pada tahun 2009 dan 2010, persentase penurunan produksi kentang lebih besar dibandingkan dengan persentase penurunan luas lahan (Tabel 1).
4 Tabel 1. Perkembangan Produktivitas Kentang di Kabupaten Bandung dan Garut
Tahun 2006-2010 No Kabupaten /Kota Produktivitas (Ton/Ha) 2006 2007 (%)* 2008 (%)* 2009 (%)* 2010 (%)* 1 Bandung 19,55 19,60 0,03 20,21 0,03 20,34 0,01 20,48 0.01 2 Garut 22,67 22,95 0,01 23,30 0,02 23,25 -0,00 21,74 -0.07 Keterangan : * perkembangan
Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat (2006-2010)
Luas area panen di Kabupaten Garut cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun kecuali pada tahun 2009 yang mengalami penurunan sebanyak 12,86 persen. Selain itu, produksi kentang dari tahun ke tahun pun mengalami peningkatan kecuali pada tahun 2009 yang mengalami penurunan sebanyak 13,05 persen. Penurunan produksi kentang yang lebih tinggi daripada penurunan luas area tanam berimbas pada menurunnya produktivitas kentang sejak tahun 2009 hingga tahun 2010 (Tabel 2).
Tabel 2. Perkembangan Luas Areal Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang di Kabupaten Garut Tahun 2006-2010
Tahun Luas panen
(Ha) (%)* Produksi (Ton) (%)* Produktivitas (Ton/Ha) (%)* 2006 4.427 100.378 22,67 2007 5.139 16,08 117.942 17,50 22,95 1,22 2008 5.833 13,50 135.910 15,23 23,30 1,52 2009 5.083 -12,86 118.175 -13,05 23,25 -0,22 2010 6.442 26,74 140.029 18,49 21,74 -6,50 Keterangan : * perkembangan
Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat (2006-2010)
Penyebab penurunan produktivitas kentang ini diduga adanya dipengaruhi beberapa faktor seperti cuaca, perubahan iklim, dan tingkat efisiensi faktor produksi yang masih kurang efisien, serta degradasi lingkungan. Selain itu, faktor lain yang diduga sangat berpengaruh adalah karena terjadinya erosi. Erosi menyebabkan banyak unsur hara dan bahan organik tanah hilang melalui sedimen yang terangkut aliran permukaan, pencemaran tanah, air, dan lingkungan.
5 Sehingga untuk mengatasinya petani memberikan pupuk dan pestisida dalam dosis tinggi (Haryati dan Erfandi, 2011). Oleh karena itu, untuk melestarikan sumber daya lahan didaerah-daerah sentra produksi ini perlu dilakukan pengelolaan lahan yang tepat dengan menerapkan tindakan konservasi tanah (Katharina, 2007a).
1.2 Perumusan Masalah
Kabupaten Garut merupakan salah satu tempat yang memanfaatkan lahan pegunungan untuk pertanian. Jenis tanah andisol yang mendominasi bagian utara Kabupaten Garut memberikan peluang terhadap potensi usaha sayur mayur.1 Sifat-sifat tanah tersebut cukup baik, namun karena terletak pada lereng yang curam, disertai curah hujan yang tinggi (>2000 mm th-1) dan pengusahaan yang intensif, maka kepekaan tanahnya terhadap erosi sangat tinggi (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005). Sehingga walaupun menguntungkan, namun usahatani tanaman semusim pada lahan pegunungan, memiliki dampak negatif.
Menurut Abdurrachman dan Sutono dalam Katharina (2007a), di areal pertanian, proses erosi banyak terjadi pada lahan berlereng yang dikelola untuk budidaya tanaman semusim yang tidak dilengkapi dengan tindakan-tindakan konservasi tanah. Hal ini terjadi karena pengelolaan tanah dilakukan pada waktu sebelum tanam, dan setelah panen, sehingga tanah menjadi terbuka terhadap pukulan air hujan (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005). Akibat langsung dari besarnya erosi adalah produktivitas lahan yang cenderung turun (Arsyad, 2000), hal ini ditunjukkan oleh produksi yang
6 cenderung terus menurun dari tahun ke tahun, seperti ditunjukkan pada pertanaman kentang di Kabupaten Garut.
Oleh karena itu perlu dilakukan upaya konservasi yang dapat menahan laju erosi dan memperbaiki produktivitas tanaman kentang. Menurut Dewi dan Hendayana (2002) keberhasilan penerapan konservasi di lahan kering mampu menciptakan kondisi lahan yang kondusif untuk menghasilkan produksi secara lestari dan terpeliharanya produktivitas lahan sehingga pada akhirnya berpengaruh positif pada peningkatan pendapatan petani. Sehingga pada tahun 2006 menteri pertanian mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 47/Permentan/Ot.140/10/2006 tentang Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan (Departemen Pertanian, 2006).
Namun pada praktiknya, di Kabupaten Garut, sebagian besar petani belum menerapkan praktek konservasi tanah. Tidak diterapkannya kaidah-kaidah konservasi oleh petani sangat dipengaruhi oleh kondisi finansial petani (Sabarman, 2006) dan faktor sosio-kultural, meliputi kurangnya sumberdaya yang layak, tenaga kerja, kematangan perencanaan, dan peralatan (Joseph et al, 2012). Selain itu, rendahnya penerapan teknik konservasi tanah pada usahatani sayuran dataran tinggi disebabkan berbagai alasan seperti tingginya biaya pembuatan dan pemeliharaan (Lapar et al, 1999), kekhawatiran akan menurunnya produksi tanaman sayuran akibat terjadinya peningkatan kelembaban tanah dan berkurangnya populasi tanaman (Haryati dan Erfandi, 2011). Petani mengggap bahwa penerapan teknik konservasi hanya memberikan tambahan kerja, tetapi tidak memberikan tambahan pendapatan (Ladamay, 2010).
7 Selain erosi, saat ini pertanian sayuran di lahan pegunungan dihadapkan kepada masalah besarnya pemberian pupuk dan pestisida yang berlebihan sehingga menyebabkan usahatani relatif tidak efisien. Praktek pemupukan di tingkat petani sangat bervariasi, mulai dari input rendah, sampai sangat tinggi. Sering kali suatu jenis unsur diberikan secara berlebihan sedangkan unsur lain diberikan kurang dari yang semestinya sehingga efisiensi penggunaan pupuk menjadi rendah. Pemberian satu atau dua unsur yang berlebihan sering disebabkan oleh pemberian pupuk yang hanya berdasarkan kebiasaan atau berdasarkan rekomendasi dari produsen pupuk (Haryati dan Erfandi, 2011).
Pemberian pupuk dan pestisida yang berlebihan ini akan menyebabkan produktivitas lahan menurun dan menambah biaya yang harus dikeluarkan. Hal lainnya adalah kecilnya kepemilikan lahan usahatani, status kepemilikan, sehingga sayuran yang dihasilkan menjadi tidak optimal dan efisien. Selain lahan, faktor sumber daya manusia khususnya dikaitkan dengan kapabilitas manajerial petani juga menyebabkan inefisiensi produksi. Kapabilitas manajerial petani ini akan menentukan rasionalitas petani dalam mengambil keputusan dalam pengelolaan usahataninya (Nahraeni, 2012).
Dari penjabaran di atas, rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu:
1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi keputusan petani kentang dataran tinggi untuk mengadopsi konservasi?
2. Bagaimana nilai ekonomi konservasi dari usahatani kentang dataran tinggi?
8
1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk : 1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani kentang
dataran tinggi untuk mengadopsi konservasi
2. Menghitung nilai ekonomi konservasi dari usahatani kentang dataran tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian diharapkan dapat memberikan manfaaat akademik yang memperkaya penelitian ekonomi pertanian. Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi para pengambil kebijakan dan pemerhati pertanian dalam pengembangan pertanian di lahan kering, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan petani kentang.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk mengadopsi pola konservasi dengan komoditas kentang sebagai obyek penelitian. Analisis hanya dilakukan untuk satu musim tanam kentang dalam rentang waktu antara Juli 2010 – Juni 2011. Penelitian dilakukan di Kecamatan Pasirwangi sebagai salah satu sentra produksi kentang terbesar di Kabupaten Garut.
9
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lahan kering
Lahan kering dapat didefinisikan sebagai hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang tahun (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005). Berdasarkan penggunaan lahan untuk pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS) mengelompokkan luas lahan kering menjadi lahan tegal atau kebun, ladang atau huma, lahan sementara tidak diusahakan, dan rawa yang tidak ditanami. Kadekoh (2007) mendefinisikan lahan kering sebagai lahan dimana pemenuhan kebutuhan air tanaman tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak pernah tergenang sepanjang tahun. Sementara menurut Minardi (2009), lahan kering umumnya selalu dikaitkan dengan pengertian bentuk-bentuk usahatani bukan sawah yang dilakukan oleh masyarakat di bagian hulu suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai lahan atas (upland) atau lahan yang terdapat di wilayah kering (kekurangan air) yang tergantung pada air hujan sebagai sumber air.
2.1.1 Jenis Lahan Kering
Berdasarkan ketinggian tempat (elevasi) dan topografi, lahan kering dibedakan menjadi dataran rendah (elevasi < 700 m dpl.) dan dataran tinggi (elevasi > 700 m dpl.), dengan luasan masing-masing sebesar 87,3 juta Ha dan 56,7 juta Ha. Lahan kering dataran rendah pada umumnya datar berombak, berombak bergelombang, dan berbukit, sedangkan lahan kering dataran tinggi umumnya bergelombang, berbukit, sampai bergunung (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005). Berdasarkan relief atau bentuk wilayah, lahan kering dibedakan menjadi lahan datar berombak dengan lereng 3-8
10 persen, berombak bergelombang dengan lereng 8-15 persen, berbukit dengan lereng 15-30 persen, dan bergunung dengan lereng 30 persen. Berdasarkan kondisi iklim, lahan kering dibedakan menjadi lahan iklim basah dan iklim kering. Lahan kering dataran rendah berada pada kondisi iklim basah pada ketinggian 700 m dpl dengan curah hujan tinggi (> 1500 mm/th) dengan masa hujan relatif panjang. Sedangkan iklim kering mempunyai curah hujan relatif rendah (< 1500 mm/th) dengan masa curah yang pendek (3,5 bulan) (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005).
2.2. Erosi
Pertanian lahan kering umumnya terdapat di daerah hulu (up land) hingga daerah-daerah pertengahan dengan keadaan lahan yang berlereng (Harijaya 1995
dalam Ladamay 2010). Keadaan lahan seperti ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya erosi dan aliran permukaan yang berlebihan. Erosi adalah peristiwa pindah atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami (air atau angin). Erosi dapat menyebabkan terdegradasinya lahan melalui hilang atau terkikisnya lapisan tanah atas, sehingga dapat berdampak buruk terhadap tanah. Dampak buruk dari erosi ada dua, yaitu dampak di tempat kejadian erosi (on-site) dan dampak di luar tempat kejadian erosi (off-site). Dampak langsung erosi on-site antara lain kehilangan lapisan tanah yang baik bagi berjangkarnya akar tanaman, kehilangan unsur hara dan kerusakan struktur tanah, rusaknya bangunan konservasi atau bangunan lainnya, dan turunnya pendapatan petani. Dampak tidak langsung erosi on-site adalah berkurangnya alternatif penggunaan tanah, timbulnya dorongan membuka lahan baru, serta munculnya biaya lain untuk perbaikan lahan dan bangunan yang rusak.
11 Dampak langsung diluar tempat kejadian erosi (off-site) adalah pelumpuran dan pendangkalan waduk, sungai, saluran dan badan air lainnya, tertimbunnya lahan pertanian, jalan, dan bangunan lainnya, rusaknya mata air dan kualitas air, rusaknya ekosistem perairan serta meningkatnya frekuensi masa kekeringan. Dampak tidak langsung erosi off-site yaitu kerugian akibat memendeknya umur waduk, meningkatnya frekuensi dan besarnya banjir (Arsyad, 2000).
Erosi yang terbanyak terjadi adalah erosi yang disebabkan oleh air. Erosi oleh air terjadi dimana tanahnya terbuka terhadap terpaan butir air hujan (erosi percikan), terhadap aliran air yang meluas sehingga terkikisnya permukaan tanah secara merata (erosi kulit), atau terhadap aliran air yang terkumpul dalam suatu alur (erosi alur dan erosi parit). Menurut Rahim (2003) terdapat tiga faktor utama yang dapat mempengaruhi erosi, yaitu: (1) energi, meliputi hujan, air limpasan, angin, kemiringan, dan panjang lereng, (2) ketahanan, meliputi erodibilitas tanah (ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah),dan (3) proteksi yaitu penutupan tanah baik oleh vegetasi atau lainnya serta ada atau tidaknya tindakan konservasi.
Selain itu, Arsyad (2000) mengemukakan bahwa pada dasarnya faktor-faktor penyebab erosi dibedakan atas; (1) faktor-faktor-faktor-faktor yang dapat diubah oleh manusia seperti tumbuhan yang tumbuh diatas tanah, sebagai sifat-sifat tanah seperti kesuburan, ketahanan agregat, kapasitas infiltrasi dan panjang lereng, serta (2) faktor-faktor yang tidak dapat diubah seperti iklim, tipe tanah dan kecuraman lereng. Pengendalian erosi sangat bergantung pada pengelolaan yang baik melalui upaya penutupan lahan atau penanaman tanaman penutup tanah yang baik disertai dengan penyeleksian tindakan pembajakan atau pengelolaan tanah yang tepat.
12
2.3. Biaya Erosi Tanah
Dampak erosi tanah di lokasi yang terpenting adalah berkurangnya kesuburan tanah akibat hilangnya bahan organik dan unsur hara tanah, berkurangnya kedalaman lapisan tanah atas (topsoil), dan menurunnnya kapasitas tanah untuk menahan air yang selanjutnya juga akan menyebabkan penurunan produktivitas lahan yang terkena erosi. Sedangkan dampak erosi tanah di luar lokasi adalah merupakan nilai sekarang dari manfaat ekonomi yang hilang akibat erosi lahan (Katharina, 2007a).
Menurut Barbier (1996), dari persfektif petani, ada dua komponen utama yang menjadi biaya dari erosi tanah, yaitu biaya langsung dan output yang hilang. Biaya langsung adalah biaya bagi petani untuk upaya (contohnya tenaga kerja), material, peralatan, struktur fisik, dan sebagainya yang dibutuhkan untuk melakukan konservasi tanah. Output yang hilang adalah kehilangan dari output saat ini karena menggunakan lebih sedikit tanah atau lahan saat ini.
Pendekatan yang umum digunakan untuk menghitung biaya erosi tanah di lokasi (on site), menurut Barbier (1996) antara lain adalah pendekatan perubahan produktivitas (productivity change approach) dan pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach). Menurut pendekatan perubahan produktivitas, biaya erosi tanah di lahan usahatani setara dengan nilai produktivitas yang hilang yang dinilai sesuai dengan harga pasar. Dengan kata lain, perubahan produktivitas merupakan perbedaan hasil panen antara lahan yang mempunyai tingkat erosi tinggi dan erosi rendah. Metode pendugaan biaya erosi tanah dengan pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach) adalah mengukur unsur hara tanah yang hilang melalui erosi dan menghitung nilai unsur hara tanah yang hilang yang
13 ditunjukkan dengan penggunaan pupuk. Pendekatan biaya pengganti didasarkan pada asumsi bahwa erosi tanah dan aliran permukaan menyebabkan terjadinya pencucian hara dan efektivitas pupuk bagi tanaman lebih rendah yang pada akhirnya akan menyebabkan penurunan produksi. Pemberian pupuk buatan atau pupuk organik, pergiliran tanaman dengan tanaman leguminosa dan menghindari dari pembakaran vegetasi atau sisa-sisa tanaman terus-menerus adalah cara-cara untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kesuburan tanah (Arsyad, 2000).
2.4. Konservasi
Salah satu cara pengendalian erosi yang tepat untuk digunakan yaitu dengan melakukan konservasi tanah. Konservasi tanah adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad, 2000). Selain untuk mencegah kerusakan tanah oleh erosi, usaha konservasi tanah ditujukan untuk memperbaiki tanah yang rusak, dan memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar dapat dipergunakan secara lestari. Selanjutnya, menurut Arsyad (2000), konservasi tanah tidak berarti penundaan penggunaan tanah atau pelarangan penggunaan tanah, tetapi menyesuaikan macam penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan, agar tanah dapat berfungsi secara lestari.
Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (2005), teknik pengendalian erosi dapat dibagi dua, yaitu mekanis dan biologis atau vegetatif. Namun keduanya sering digabung sehingga lebih efektif. Pengendalian erosi secara mekanis dapat dilakukan dengan menerapkan teras
14 baku dan teras gulud. Secara teknis, teras baku merupaka pengendalian erosi yang efektif. Teras baku memotong panjang lereng dan menghambat laju permukaan aliran permukaan, sehingga pengangkutan partikel-partikel tanah pun terhambat. Teknik konservasi menggunakan teras gulud dianggap lebih mudah dan lebih sederhana dalam pembuatannya dibanding teras baku. Teras gulud merupakan modifikasi dari guludan untuk bertanam ubi jalar pada lahan-lahan datar yang diterapkan pada lahan miring. Secara vegetatif, teknik pengendalian erosi yang dapat digunakan adalah strip rumput, mulsa, tanaman penutup tanah, olah tanah konservasi, dan pertanaman lorong,
2.5. Konsep Usahatani
Menurut Prof. Tb. Banchtiar Rifai (1960) dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1983), usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (organisasi) dari alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Soekartawi et al. (1985) menyatakan bahwa usahatani merupakan cara-cara petani memperoleh dan memadukan sumberdaya (lahan, kerja, modal, waktu, dan pengelolaan) yang terbatas untuk mencapai tujuannya. Pada awalnya manusia mengenal usaha bertani dengan cara-cara yang sederhana dengan tujuan utamanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga sendiri (subsisten). Disini, bertani dipandang sebagai suatu cara hidup (way of life) daripada suatu bisnis (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983).
2.5.1 Konsep Pendapatan Usahatani
Berusahatani akan dinilai pada biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh oleh petani. Selisih antara keduanya merupakan pendapatan yang akan diperoleh untuk usahanya. Pendapatan yang diharapkan tentu saja memiliki
15 nilai positif dan semakin besar nilainya maka semakin baik, meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin saja diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula. Suatu usahatani dikatakan berhasil apabila dapat memenuhi kewajiban membayar bunga modal, alat-alat yang digunakan, upah tenaga luar serta sarana produksi lain termasuk kewajiban terhadap pihak ketiga dan dapat menjaga kelestarian usahanya (Suratiyah, 2011). Beberapa istilah yang biasanya dipergunakan dalam menganalisis pendapatan usahatani menurut Soekartawi et al. (1985), yaitu: 1. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai yang diterima dari penjualan
produk usahatani.
2. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani.
3. Pendapatan tunai usahatani adalah selisih antara penerimaan tunai usahatani dan pengeluaran tunai usahatani
4. Penerimaan kotor usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual.
5. Pengeluaran total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam kegiatan produksi termasuk biaya yang diperhitungkan. 6. Pendapatan total usahatani adalah selisih antara penerimaan kotor usahatani
dengan pengeluaran total usahatani.
Menurut Soekartawi (2002) Biaya usahatani dapat di bedakan atas:
1. Biaya tunai, merupakan pengeluaran yang dikeluarkan oleh petani, meliputi biaya tetap misalnya pajak, dan biaya variabel misalnya pengeluaran untuk bibit, obat-obatan dan biaya untuk pembayaran tenaga kerja luar keluarga.
16 2. Biaya yang diperhitungkan, merupakan pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. Biaya yang diperhitungkan dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti biaya untuk sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri, penggunaan tenaga kerja keluarga yang dinilai berdasarkan upah yang berlaku, penggunaan benih dari hasil produksi sebelumnya dan penyusutan dari sarana produksi.
Analisis terhadap pendapatan usahatani juga dapat digunakan untuk mengukur efisisensi usahatani terhadap penerimaan yang diperoleh untuk setiap rupiah yang dikeluarkan (Revenue Cost Rasio atau R-C Rasio). Analisis R-C rasio digunakan untuk mengetahui keuntungan relatif usahatani berdasarkan keuntungan finansial, yang menunjukan besarnya penerimaan yang diperoleh dengan pengeluaran tertentu dalam satu satuan biaya. Semakin besar nilai R-C rasio maka semakin besar pula penerimaan usahatani yang diperoleh untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan usahatani tersebut menguntungkan untuk dilaksanakan.
Kelayakan usahatani berdasarkan besarnya nilai R-C rasio dapat dikatakan layak apabila nilai R-C rasio lebih besar dari satu, nilai ini berarti setiap tambahan biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan biayanya. Secara sederhana kegiatan usahatani tersebut dapat dikatakan menguntungkan untuk dilaksanakan. Sebaliknya, apabila nilai rasio R-C rasio lebih kecil dari satu, artinya tambahan biaya menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih kecil sehingga kegiatan usahatani dikatakan tidak menguntungkan. Sedangkan jika nilai rasio R-C sama dengan satu, maka kegiatan usahatani tidak mendapatkan keuntungan atau kerugian
17
2.5.2 Usahatani Kentang Kabupaten Garut
Kentang merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan di Jawa Barat yang banyak ditanam di daerah dataran tinggi karena kentang cocok ditanam pada ketinggian 500-3000 mdpl. Selain itu, tanaman kentang cocok ditanam pada jenis tanah Andosol dan Grumosol dengan tekstur sedang dan struktur gembur, dengan pH tanah 5,0 – 6,5. kondisi iklim yang cocok untuk tanaman kentang adalah tempat dengan curah hujan 1000 mm/th dan temperatur 15-25°C (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jawa Barat, 2003) .
Jawa Barat mengalami penurunan luas panen tanaman kentang sejak tahun 2007 hingga tahun 2011. Hal ini diikuti dengan penurunan produksi pada tahun yang sama. Namun, pada tahun 2009 luas panen dan produksi kentang mengalami peningkatan, masing-masing 10,60 persen dan 9,84 persen dari jumlah tahun 2008. Berbeda dengan luas panen dan produksi, produktivitas tanaman kentang di Jawa Barat mengalami peningkatan sejak tahun 2007 hingga tahun 2008, namun terus mengalami penurunan sejak tahun 2009 hingga tahun 2011. Hal ini terjadi karena pada tahun 2007 dan 2008, laju penurunan luas panen lebih besar dari laju penurunan produksi. Sedangkan pada tahun 2009 hingga 2011, laju penurunan luas panen lebih kecil daripada laju penurunan produksi (Tabel 3).
Tabel 3. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang di Jawa Barat Tahun 2006-2011
Tahun Luas Panen (Ha) Perubahan (persen) Produksi (Ton) Perubahan (persen) Produktivitas (Ton/Ha) Perubahan (persen) 2006 17.242 349.157 20,25 2007 16.479 - 4,43 337.369 -3,38 20,47 1,10 2008 13.873 -15,81 294.564 -12,69 21,23 3,71 2009 15.344 10,60 323.543 9,84 21,09 -0,69 2010 13.553 -11,67 275.100 -14,97 20,30 -3,74 2011 11.327 -16,42 220.154 -19,97 19,44 -4,25
18 Jawa Barat memiliki beberapa sentra produksi kentang, yaitu di Bandung dan Garut, dengan kecamatan utama yaitu Lembang, Kertasari dan Cimenyan untuk Kawasan Bandung, dan Pasirwangi, Cikajang, Cisurupan, Samarang, dan Bayongbong untuk Kawasan Garut. Selain itu, pada tahun 2010 Jawa Barat sedang mengembangkan Majalengka, Bandung Barat, Kuningan, Cianjur, dan Sumedang untuk menjadi sentra produksi kentang (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, 2010).
Kabupaten Garut merupakan penghasil kentang terbesar kedua di Jawa Barat setelah Kabupaten Bandung. Namun, dibandingkan dengan Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut memiliki produktivitas yang lebih tinggi sejak tahun 2006 hingga 2010 (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, 2010). Pada tahun 2010, dengan luas panen 6.442 hektar, produksi kentang yang dihasilkan di Kabupaten Garut adalah 140,029 ton. Dengan kata lain pada tahun 2010 produktivitas kentang adalah 21,74 Ton/Hektar. Produksi ini masih dapat dikembangkan, karena Kabupaten Garut masih memiliki 3400 hektar area yang masih berpotensi untuk ditanami kentang (Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut, 2009).
2.6. Adopsi Inovasi
Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Pengambilan keputusan inovasi adalah proses mental sejak seorang mulai mengenal suatu inovasi sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan proses itu memerlukan waktu (Rogers dan Schoemaker, 1986 dalam Nahraeni, 2000). Dalam hal mengambil keputusan, seseorang dapat menerima atau menolak inovasi. Bila ia menerima inovasi (mengadopsi) artinya ia
19 menggunakan ide baru, barang baru, dan praktek baru dan menghentikan ide-ide yang digantikan oleh inovasi itu. Namun, sebelum mengambil keputusan inovasi, biasanya petani memperoleh keyakinan akan keberhasilan metode itu. Terdapat lima tahap proses adopsi yaitu (Rogers dan Schoemaker, 1986 dalam Nahraeni, 2000) :
1. Tahap kesadaran; seseorang mengetahui adanya ide-ide baru tetapi kekurangan informasi mengenai hal itu.
2. Tahap menaruh minat; seseorang mulai menaruh minat terhadap inovasi dan mencari informasi lebih banyak mengenai inovasi tersebut.
3. Tahap penilaian; seseorang mengadakan penilaian terhadap ide baru tersebut dihubungkan dengan situasi dirinya sendiri saat ini dan masa datang mencobanya atau tidak.
4. Tahap percobaan; seseorang menerapkan ide-ide baru itu dalam skala kecil untuk menentukan kegunaan apakah sesuai dengan situasi dirinya.
5. Tahap penerimaan (adopsi); seseorang menggunakan ide baru itu secara tetap dalam skala yang luas.
2.7. Pengambilan Keputusan Adopsi
Penerapan teknik pengendalian erosi pada lahan-lahan pertanian pada umumnya belum memadai baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga sistem pertanian yang lestari dan berwawasan lingkungan belum tercapai. Aspek-aspek sosial dan ekonomi, termasuk peningkatan kesejahteraan petani dan peningkatan kelembagaan penyuluhan, khususnya penyuluh konservasi tanah, perlu mendapat perhatian yang lebih besar (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan
20 Agroklimat, 2005). Namun, peran yang paling penting tetap dipegang oleh para petani sebagai pelaku utama di sektor pertanian.
Reijntjes et al. (1992) menyatakan bahwa cara yang ditempuh suatu rumah tangga petani dalam pengambilan keputusan pengelolaan usaha tani tergantung pada ciri-ciri rumah tangga yang bersangkutan, misalnya jumlah anggota keluarga, usia, kondisi kesehatan, kemampuan, keinginan, kebutuhan, pengalaman bertani, pengetahuan, dan keterampilan serta hubungan antaranggota rumah tangga. Selain itu, pengambilan keputusan dalam rumah tangga petani meliputi faktor-faktor yang kompleks, termasuk ciri biofisik usahatani, ketersediaan dan kualitas input luar dan jasa serta proses sosioekonomi dan budaya di dalam masyarakat. Tujuan suatu rumah tangga berkenaan dengan proses dan hasil usahatani merupakan pusat sekaligus obyek pengambilan keputusan. Rumah tangga petani secara bersama memiliki berbagai macam tujuan yang bisa digolongkan sebagai produktivitas, keamanan, kesinambungan, dan identitas.
Menurut Pattanayak et al. (2003) terdapat lima faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi pertanian dan kehutanan, yaitu:
1. Preferensi petani, secara eksplisit efek dari preferensi petani sulit untuk diukur, maka digunakan pendekatan berdasarkan faktor sosial demografi seperti umur, jenis kelamin, pendidikan dan status sosial. Masih terdapat berbagai pertentangan akan pendekatan mana yang terbaik, sebagai contoh adalah faktor pendidikan digunakan untuk mengukur opportunity cost
terhadap pekerja pada investasi teknologi agroforestri
2. Resources endowment, digunakan untuk mengukur ketersediaan sumberdaya pada adopsi teknologi untuk diimplementasikan pada teknologi baru. Contoh:
21 kepemilikan aset, seperti lahan, tenaga kerja, ternak, dan tabungan. Umumnya
resources endowment memiliki korelasi positif dengan adopsi teknologi 3. Insentif pasar, merupakan faktor yang berhubungan dengan rendahnya biaya
atau tingginya penerimaan dari adopsi teknologi. Insentif pasar fokus pada faktor-faktor ekonomi seperti harga, ketersediaan pasar, transportasi dan pendapatan potensial. Faktor ini diharapkan dapat meningkatkan penerimaan sehingga akan memberikan pengaruh positif terhadap adopsi teknologi
4. Faktor biofisik, faktor ini diharapkan dapat mempengaruhi proses produksi yang berhubungan dengan pertanian dan kehutanan. Contohnya kualitas lahan, kemiringan lahan dan ukuran lahan. Umumnya jika kondisi biofisik rendah (seperti tingginya tingkat erosi) akan berkorelasi positif dengan kesediaan untuk menerima adopsi teknologi.
5. Resiko dan ketidakpastian, faktor ini memperlihatkan ketidaktahuan pasar dan pemerintah terhadap kebijakan yang dibuat. Dalam jangka pendek contoh dari resiko dan ketidakpastian adalah fluktuasi harga komoditi, output dan curah hujan. Pada jangka panjang contohnya adalah hak sewa menyewa yang tidak aman. Adopsi teknologi akan menurunkan resiko dan ketidakpastian pada investasi pertanian dan kehutanan selama periode pertumbuhan.
Lionberger (1968) dalam Indraningsih (2010) mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan seseorang dalam mengadopsi inovasi yakni: 1. Umur: petani yang lebih tua kurang menerima perubahan dibandingkan
petani yang lebih muda.
2. Pendidikan: melalui pendidikan meningkatkan pengetahuan tentang teknologi pertanian yang baru, diasumsikan lembaga pendidikan memfasilitasi
22 pembelajaran, sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang cenderung semakin mudah menerima praktek-praktek baru.
3. Karakteristik psikologis: rasionalitas, fleksibilitas mental, dogmatism, orientasi pada usahatani dan kemudahan inovasi. Ketika rasionalitas didefinisikan sebagai keuntungan maksimum dalam usahatani, ini mungkin dilakukan sebagai peubah antara (intervening variable) antara kontak dengan penyuluh dan adopsi praktek-praktek baru pertanian. Dengan kata lain, sumber informasi pertanian yang dapat dipercaya, dapat mempengaruhi seseorang untuk mengadopsi praktek-praktek baru.
4. Pendapatan usahatani: semakin tinggi pendapatan usahatani, maka petani cenderung lebih cepat mengadopsi inovasi.
5. Luas usahatani: semakin luas biasanya semakin cepat mengadopsi inovasi, karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.
6. Prestise dalam masyarakat: semakin tinggi prestise seseorang cenderung semakin cepat mengadopsi praktek-praktek pertanian yang baru (demi mendapatkan simbol status).
7. Sumber informasi yang digunakan, golongan inovatif cenderung banyak memanfaatkan beragam sumber informasi, seperti instansi pemerintah (dinas-dinas terkait), perguruan tinggi dan lembaga penelitian pertanian. Sebaliknya masyarakat yang kurang inovatif bergantung pada informasi sesama petani. 8. Sifat-sifat dasar praktek: semakin rumit suatu inovesai maka akan semakin
lambat tingkat adopsinya. Berikut contoh yang paling cepat diterima, hingga yang paling rumit:
23 a. Perubahan hanya dibahan dan alat, tanpa perubahan di teknik atau
pelaksanaan (misalkan : varietas baru suatu benih)
b. Perubahan dalam pelaksanaan, dengan atau tanpa perubahan dalam alat atau bahan (misal: perubahan dalam rotasi tanaman)
c. Perubahan dalam teknik-teknik atau pelaksanaan baru (misal: contour cropping)
d. Perubahan total kegiatan usaha (misal dari usaha tanaman ke peternakan) Secara umum kecepatan adopsi juga dipengaruhi oleh penerapan praktek pertanian, seperti:
a. Praktek baru yang memerlukan modal besar cenderung lebih lambat diadopsi dibading modal kecil.
b. Lebih sesuai dengan kegiatan yang telah dipraktekan, maka akan lebih cepat diadopsi.
c. Ciri-ciri atau praktek yang siap dikomunikasikan dengan metode konvensional yang digunakan oleh petani akan lebih cepat diadopsi d. Lebih sulit untuk mengambil keputusan dan konsekuensi berikutnya,
lebih lambat diadopsi
e. Praktek yang rumit dan mahal yang dapat dilakukan dalam waktu singkat akan memungkinkan diadopsi lebih cepat daripada yang tidak mungkin dilakukan.
9. Interaksi faktor-faktor yang berhubungan: beberapa faktor tersebut diatas dapat dikombinasikan untuk menjelaskan tingkat kecepatan adopsi suatu inovasi.
24
2.8. Penelitian Terdahulu
Berbagai penelitian yang berhubungan dengan adopsi teknologi konservasi telah banyak dilakukan di beberapa lokasi seperti Pangalengan, Garut, dan Gunung Kidul. Selain itu, topik mengenai adopsi teknologi konservasi pun telah dilakukan di berbagai Negara seperti Zimbabwe dan Sri Lanka.
Pertanian komunal dihadapkan pada tantangan mengupayakan peningkatan produksi sebaik seperti melestarikan sumberdaya alam. Produktivitas yang rendah, degradasi lahan, sumberdaya pertanian yang tidak memenuhi syarat, dan ketidaklayakan teknik pertanian menandai pertanian komunal di Zimbabwe. Joseph et al. (2012) melakukan penelitian untuk memastikan faktor apa yang mempengaruhi adopsi praktik konservasi pertanian di area pertanian komunal Madziva, Zimbabwe, dan menilai efisiensi ekonomi dan efisiensi teknis dari praktik konservasi tersebut. Fungsi produksi transidental digunakan untuk mengestimasi efisiensi ekonomis dan efisiensi teknis, sedangkan untuk menetukan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan adopsi konservasi digunakan model regresi logit.
Berdasarkan data dari 75 petani terpilih, didapat nilai Marginal Physical Product (MPP) dan Value of Marginal Product (VMP) yang masing-masing mengindikasi efisiensi teknis dan ekonomis. Teknik konservasi pertanian efisien secara teknis karena MPP > 0, dan nilai VMP menunjukkan terjadinya efisiensi ekonomi. Petani dapat menutupi investasi awal mereka dalam satu atau dua tahun, sehingga investasi dalam konservasi pertanian dikatakan berhasil. Namun, hanya 27 persen petani yang mengadopsi konservasi pertanian. Usia, luas lahan, dan
25 lama pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan adopsi teknologi konservasi.
Menurut Lapar dan Pandey (1999) degradasi lahan di dataran tinggi Asia adalah sebuah masalah yang serius yang menjadi kendala dalam keberlanjutan dalam pertanian. Meskipun beberapa teknologi konservasi lahan sudah dibangun dan dipromosikan, namun adopsinya belum tersebar. Sebuah analisis ekonomi mikro dari adopsi konservasi kontur oleh petani dataran tinggi di Philipina dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang menentukan adopsi. Hasil empiris dengan menggunakan model probit menunjukkan bahwa adopsi dipengaruhi oleh beberapa karakteristik usahatani dan petani dan kepentingan relatif dari faktor tersebut berbeda untuk setiap daerah. Biaya tinggi saat pembuatan, perawatan dan kehilangan lahan untuk konservasi dianggap sebagai kendala utama untuk melakukan adopsi oleh non-adopter.
Komoditas kentang merupakan tanaman yang menarik secara ekonomi, tetapi menyebabkan erosi tanah di daerah perbukitan di Nuwara Eliya, Sri Lanka. Untuk mengatasi terjadinya erosi yang serius dibutuhkan program konservasi tanah. Namun, belum ada penelitian tentang konservasi tanah dan tingkat adopsi konservasi tanah. Oleh karena itu, Bandara dan Thiruchelvam (2008) menganalisis faktor yang mempengaruhi pemilihan adopsi praktik konservasi tanah oleh petani kentang di Nuwara Eliya, Sri Lanka. Tujuan dari penelitian ini mencari perbedaan tentang konservasi tanah, tingkat adopsi, dan faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi keputusan petani di Nuwara Eliya. Analisis data menggunakan multinomial logit. Hasil menyatakan bahwa 30 persen, 52 persen, dan 18 persen dari petani kentang mengkonservasi tanahnya pada tingkat baik,
26 rata-rata dan buruk. Tingkat adopsi konservasi lahan yang baik dapat meningkatkan produksi kentang dan pendapatan petani kentang. Biaya usahatani dipengaruhi oleh adopsi program konservasi petani. Peluang adopsi dipengaruhi positif dan signifikan oleh pendidikan, dan luas lahan. Sekitar 60 persen dari petani kentang mempunyai pendirian yang baik kearah pentingnya meningkatkan konservasi tanah. Kepemilikan lahan merupakan faktor penting untuk konservasi lahan. Pendekatan training (pelatihan), penyuluhan, dan subsidi konservasi direkomendasikan untuk meningkatkan konservasi lahan guna keberlanjutan pengusahaan kentang.
Katharina (2007a) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani kentang untuk mengadopsi sistem pertanian konservasi di Pangalengan Jawa Barat. Hasil analisis menggunakan model logit menunjukkan kecuraman lereng, status lahan dan jumlah anggota keluarga dewasa berpengaruh secara nyata terhadap keputusan petani sayuran untuk mengadopsi sistem pertanian konservasi. Kecuraman lereng berpengaruh positif terhadap peluang adopsi konservasi. Semakin curam lereng lahan yang diusahakan, semakin tinggi peluang petani mengadopsi teknik konservasi tanah. Status lahan sewa berpengaruh negatif terhadap peluang adopsi konservasi dan mengurangi peluang petani untuk melakukan adopsi konservasi tanah. Jumlah anggota keluarga di Pangalengan berpengaruh negatif terhadap peluang adopsi konservasi. Semakin besar jumlah angkatan kerja tersedia dalam keluarga, semakin rendah peluang untuk mengadopsi teknik konservasi tanah.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2006) bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk
27 mengkonservasi atau tidak mengkonservasi lahan dan untuk mengevaluasi secara simultan pengaruh keputusan mereka terhadap output. Penelitian menggunakan data petani sawah sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Hasil penelitian menunjukkan hanya 13,5 persen petani yang mengkonservasi lahannya. Hasil dari spesifikasi logit, faktor yang berpengaruh nyata terhadap keputusan petani mengkonservasi (atau tidak mengkonservasi) adalah jumlah output yang dihasilkan, persepsi kualitas lahan, jumlah anggota keluarga petani, dan usia petani. Dengan menggunakan pendekatan instrument variabel ditemukan bahwa keputusan untuk mengkonservasi atau tidak, mempengaruhi secara nyata terhadap jumlah output yang dihasilkan. Output juga dipengaruhi oleh luas areal dan jumlah kredit. Salah satu saran yang diajukan agar usahatani berkelanjutan adalah pemerintah memperbaiki akses petani terhadap kredit mikro.
Keuntungan finansial dari konservasi pertanian belum dapat diprediksi. Walaupun biaya yang dikeluarkan untuk konservasi pertanian lebih kecil dibandingkan dengan pertanian konvensional, tetapi hasil yang didapatkan sangat berfluktusi pada wilayah yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian Hardjanto (2010), pendapatan usahatani konservasi di Kecamatan Pangalengan, Jawa Barat lebih kecil daripada pendapatan usahatani non-konservasi. Hal ini terjadi karena belum diperhitungkannya nilai jasa lingkungan.
Sabarman (2006) meneliti aspek ekonomi (fungsi produksi) usahatani akar wangi, yaitu pola petani, introduksi, dan konservasi. Hasil analisis finansial dari ketiga pola menunjukkan bahwa pola usahtani petani, introduksi, dan konservasi layak untuk dikembangkan karena B-C rasio > 1, NPV positif dan IRR di atas bunga bank (15 persen/tahun). Berdasarkan penelitian, dari ketiga pola tersebut,
28 pola konservasi memeberikan pendapatan tertinggi yaitu sebesar Rp 17.220.000 pertahun diikuti oleh pola usahatani petani dengan pendapatan Rp 13.740.000 pertahun. Sedangkan pola usahatani introduksi menghasilkan pendapatan sebesar Rp 10.185.000 pertahun dengan luasan satu hektar.
Selain dapat mempengaruhi pendapatan petani, kegiatan konservasi lahan pun dapat menurunkan tingkat erosi lahan. Dewi dan Handayana (2002) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui usaha konservasi tanah dan air sebagai alternatif upaya peningkatan pendapatan petani di agroekosistem lahan kering. Penelitian dilakukan di Desa Rejosari Kecamatan Semin kabupaten Gunung Kidul.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teknis, tingkat erosi menurun antara 3,75 persen sampai 86,68 persen dengan rata-rata 75,20 persen. Dalam kaitannya dengan tingkat pendapatan masyarakat, analisis dilakukan berdasarkan dampak potensial, yaitu perhitungan dilakukan menggunakan proksi-proksi keberhasilan tanaman yang diusahakan dalam rangka melakukan konservasi tanah dan air dalam hutan rakyat. Jika tidak dilakukan konservasi, tanah kering marjinal di lokasi desa ini tidak produktif sama sekali, sehingga dengan dilakukannya penanaman tanaman tahunan produkstif yang komersial seperti jambu mete, kayu akasia, jati, sonokeling, dan mahoni, petani mendapatkan nilai tambah dari lahan tersebut.
Topik penelitian mengenai perhitungan nilai ekonomi pengendalian erosi telah dilakukan oleh Yana (2010) di IUPHHK-HA PT. Austral Byna, kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. Tujuan dari penelitian tersebut adalah menentukan nilai ekonomi pengendalian hutan terhadap erosi. Analisis dilakukan
29 dengan menggunakan metode penilaian berdasarkan harga barang pengganti, yaitu melalui harga pupuk yang dibutuhkan untuk mengembalikan kandungan unsur hara yang hilang. Nilai ekonomi pengendalian erosi melalui pendekatan biaya pengganti di lima lokasi penelitian seluas 8.060,6 ha sebesar Rp 3.596.806.591 per tahun.
Beberapa penelitian mengenai adopsi sistem konservasi telah banyak diteliti di berbagai tempat. Namun, di Kecamatan Pasirwangi penelitian mengenai adopsi konservasi pada usahatani kentang belum pernah dilakukan. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi peluang petani untuk mengadopsi konservasi merupakan aplikasi dari teori dan beberapa penelitian terdahulu. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang telah ada karena menghitung nilai ekonomi dari sistem konservasi usahatani kentang yang dilakukan petani.
30
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran dalam sebuah penelitian merupakan struktur pelaksanaan penelitian yang mengaitkan setiap tahapan pelaksanaan penelitian dengan tujuan tujuan penelitian yang ingin dicapai.
3.1.1. Model Regresi Logit
Di sebagian besar survey mengenai perilaku manusia, tanggapan yang banyak diberikan berbentuk kualitatif, dapat berupa jawaban ya atau tidak sebagai pilihan. Peubah kualitatif yang hanya mempunyai dua kemungkinan nilai ini disebut peubah biner. Ketika satu atau lebih explanatory variabel dalam model regresi adalah binary, hal ini dapat digambarkan sebagai dummy variable. Namun ketika dependent variable berupa peubah biner, maka penyelesaiannya akan menjadi lebih kompleks ketika kita membangun model karena binary choice model mengasumiskan bahwa individu dihadapkan pada pilihan diantara dua alternatif pilihan yang tergantung pada karakteristik mereka. Untuk menyelesaikan masalah yang memiliki pilihan biner, terdapat beberapa model yang dapat digunakan, yaitu: liner probability model, model logit, dan model tobit (Pindyck and Rubinfeld, 1998).
Untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi peluang petani dalam menerapkan pola konservasi digunakan model fungsi logit. Model logit digunakan karena dari sisi matematika merupakan fungsi yang sangat fleksibel dan mudah digunakan serta parameter koefisiennnya mudah diinterpretasikan (Juanda, 2009). Alat analisis ini telah banyak digunakan Siregar (2006), Katharina (2007a), Bandara dan Thiruchelvam (2008), dan Joseph et al. (2012). Secara teoritis,