1
I. PENGANTAR
1.1 Latar Belakang
Produk-produk yang mengandung Bahan Berbahaya Beracun (B3) seperti baterai, lampu neon (fluorescent), insektisida, korek api gas, cat semprot (aerosol), disinfektan, obat-obatan dan elektronik banyak dijumpai di rumahtangga. Produk-produk rumahtangga yang telah rusak, kadaluarsa dan habis masa pemakaian (post
consumer) serta tidak digunakan lagi akan menjadi sampah. Solid waste atau
sampah merupakan sisa yang timbul dari kegiatan sehari-hari manusia dan binatang serta proses alam yang berbentuk padat dan dibuang sebagai barang yang tidak berguna dan tidak diinginkan (Tchobanoglous et al., 1993; Anonim, 2008).
Sisa produk rumahtangga dan bekas kemasan B3 berpotensi mengandung B3 pula. Jenis sampah rumahtangga yang mengandung B3 disebut dengan Sampah B3 Rumahtangga (SB3-RT) atau Household Hazardous Waste (HHW). Sampah B3 rumahtangga termasuk jenis limbah B3 berbentuk padat yang dihasilkan dari aktivitas rumahtangga. Limbah B3 merupakan sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidaklangsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain (Anonim, 2014). Sampah rumahtangga dapat dikatakan sebagai limbah B3 apabila memiliki sifat: mudah meledak; mudah terbakar; reaktif; beracun; infeksius; dan/atau korosif (Anonim, 2014). Hal itu sesuai dengan
2
Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat yang menyatakan bahwa
sampah berbahaya rumahtangga (household hazardous waste) merupakan sisa produk-produk rumahtangga yang mengandung bahan yang bersifat korosif, toksik, mudah terbakar atau reaktif (USEPA, 1993).
Timbulan SB3-RT di Indonesia tergolong kecil, yaitu sekitar 2% dari total semua jenis sampah domestik (Damanhuri dan Padmi, 2010). Rata-rata timbulan sampah B3 rumahtangga Kota Padang sebesar 0,041 liter/orang/hari dalam satuan volume atau 0,004 kg/orang/hari dalam satuan berat (Ruslinda dan Yustisia, 2013). Kuantitas dan faktor yang mempengaruhi timbulan sampah B3 rumahtangga di Kabupaten Sleman belum diketahui hingga saat ini. Kajian terhadap timbulan sampah B3 rumahtangga sangat penting dilakukan sebagai dasar dalam menyusun rencana pengelolaannya dan untuk mengetahui potensi dampak kesehatan dan lingkungan yang dapat ditimbulkan.
Timbulan (generation) sampah B3 rumahtangga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pola konsumsi (perilaku) dan tingkat sosial ekonomi masyarakat (Otoniel et al., 2008). Tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi perilaku sehat, termasuk dalam hal mengkonsumsi atau memilih produk-produk keperluan rumahtangga yang lebih aman dan sehat. Pengetahuan merupakan faktor predisposisi terentuknya perilaku sehat (Notoatmodjo, 2014). Tingkat pengetahuan masyarakat tentang sampah B3 dan dampak negatifnya dapat mempengaruhi penentuan dalam memilih produk-produk keperluan rumahtangga yang lebih ramah lingkungan (non-B3), sehingga akan mempengaruhi kuantitas timbulan SB3-RT. Tingkat penghasilan merupakan faktor pendukung (enabling factor)
3
seseorang dalam pemilihan dan penggunaan produk-produk rumahtangga sehingga dapat mempengaruhi kuantitas timbulan SB3-RT yang dihasilkan (Notoatmodjo, 2014; Gatke, 2003). Rumahtangga dengan tingkat pendapatan tinggi memiliki kemampuan membeli produk-produk keperluan rumahtangga dalam jumlah lebih banyak dibandingkan yang pendapatannya rendah, sehingga kuantitas timbulan SB3-RT yang dihasilkan kemungkinan juga lebih banyak.
Kondisi sosial masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan dan perkotaan berbeda. Mata pencaharian masyarakat perdesaan umumnya berbasis pada sektor pertanian sehingga cenderung bercorak agraris, sedangkan masyarakat perkotaan cenderung bercorak non agraris (Muta‟ali, 2013), sehingga kuantitas timbulan SB3-RT yang dihasilkan di wilayah perkotaan kemungkinan berbeda dengan yang dihasilkan di wilayah perdesaan.
Sampah B3 rumahtangga seharusnya dikelola dengan cara yang tepat sesuai dengan jenis dan karakteristiknya. Penyimpanan dan pembuangan SB3-RT yang tidak tepat berpotensi menimbulkan risiko terjadinya gangguan kesehatan dan keselamatan manusia seperti ledakan, kebakaran, cidera, keracunan, bahkan dapat mengakibatkan kematian (USEPA, 1993). Beberapa jenis sampah B3 rumahtangga mengandung unsur-unsur logam berat berbahaya beracun seperti Hg, Pb, Cu, Hg, Cd, Pb, Cu, Zn, Cr, Ni, Co, Mn dan Fe. Apabila jenis sampah tersebut dibuang langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu, maka materi B3 yang terkandung dalam sampah terutama logam berat akan terakumulasi di lingkungan dan berpotensi mencemari air dan tanah sehingga membahayakan kesehatan manusia (Sembel, 2015).
4
Sampah B3 rumahtangga di Kabupaten Sleman belum ditangani secara khusus dan masih mengikuti pola penanganan sampah domestik yang dijalankan oleh masyarakat dan Pemerintah. Sebagian besar sampah yang dihasilkan masyarakat Kabupaten Sleman (85,52%) termasuk sampah B3 belum ditangani sebagaimana mestinya, seperti dibakar, dibuang, ditimbun di lingkungan sekitar. Jumlah sampah yang dikelola oleh masyarakat secara mandiri melalui Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) masih sangat kecil yaitu 2,63%. Jumlah sampah yang diangkut ke TPA melalui pelayanan Pemerintah dan swasta masih tergolong kecil yaitu sebesar 11,85% dari total sampah yang dihasilkan di Kabupaten Sleman (DPUP Kab.Sleman, 2013). Selama ini SB3-RT hanya diangkut, dibuang dan ditimbun bersama jenis sampah domestik lainnya di TPA Piyungan. Rendahnya cakupan pelayanan sampah dan kebiasaan buruk masyarakat dalam menangani sampah tersebut memunculkan banyak tempat pembuangan sampah liar (ilegal). Sampah B3 rumahtangga banyak ditemukan bersama jenis sampah domestik lainnya pada tempat pembuangan sampah ilegal di wilayah Kabupaten Sleman sebagaimana contoh yang terlihat pada Gambar 1.1.
Gambar 1.1. Sampah B3 rumahtangga ditemukan pada tempat pembuangan sampah ilegal bersama jenis sampah domestik lainnya
5
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Bapedalda Provinsi DIY Tahun 2004, ditemukan 64 tempat pembuangan sampah ilegal di bantaran/tepi sungai (11 aliran sungai) yang berada di Wilayah Aglomerasi Yogyakarta (APY) termasuk di wilayah Kabupaten Sleman. Semua jenis sampah rumahtangga termasuk sampah B3 dibuang secara terbuka (open dumping) pada lokasi TPA illegal tersebut. Pola penanganan sampah yang dijalankan pada suatu daerah akan mempengaruhi aliran materi (material flow) dari SB3-RT. Kajian aliran materi SB3-RT di Kabupaten Sleman sangat penting dilakukan untuk mengkaji besarnya potensi dampak lingkungan dan sebagai dasar dalam menyusun serta memilih alternatif pengelolaan sampah B3 rumahtangga yang paling optimal.
Ketentuan-ketentuan yang terkait dengan pengelolaan limbah B3 sesungguhnya telah diatur, yaitu melalui Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 101 Tahun 2014 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun dan Peraturan Daerah DIY No. 02 Tahun 2012 tentang pengelolaan limbah B3 di DIY. Walaupun secara eksplisit belum mengatur tentang pengelolaan sampah B3 rumahtangga, tetapi ketentuan tersebut dapat digunakan sebagai landasan dalam merencanakan sistem pengelolaan SB3-RT. Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai penanggung jawab pengelolaan sampah B3/spesifik harus segera menyusun rencana dan ketentuan pengelolaan limbah/sampah B3 rumahtangga.
Sistem pengelolaan sampah pada suatu daerah tidak dapat dilepaskan dari aspek peraturan, kelembagaan, teknis operasional, pembiayaan dan peran serta masyarakat (Damanhuri dan Padmi, 2010). Perencanaan sistem pengelolaan SB3-RT di Kabupaten Sleman harus diupayakan agar dapat diterapkan oleh masyarakat
6
dan pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Salah satu metode penyusunan alternatif (skenario-skenario) sistem pengelolaan SB3-RT untuk masa depan di Kabupaten Sleman adalah backcasting. Metode backcasting digunakan untuk mengembangkan skenario-skenario yang bersifat normatif serta mengkaji kelayakan dan implikasi dari masing-masing skenario yang akan dikembangkan tersebut. Metode backcasting dirancang untuk mengkaji konsekuensi dari pilihan-pilihan yang akan dilaksanakan pada masa depan (Mitchell et al., 2007).
Alternatif-alternatif pengelolaan SB3-RT di Kabupaten Sleman pada masa depan perlu melibatkan dan memerankan: masyarakat, Pemerintah Daerah, dan produsen, sehingga pengelolaannya dapat berbasis masyarakat, pemerintah atau produsen. Masing-masing alternatif perlu dikaji kelayakan dan implikasinya dari sudut pandang: 1) peraturan; 2) kelembagaan; 3) teknis operasional; 4) pembiayaan; 5) penerimaan masyarakat; 6) potensi dampak kesehatan dan lingkungan. Untuk memilih alternatif pengelolaan SB3-RT yang paling optimal dapat ditentukan dengan menggunakan metode Multi Criteria Decision Analysis (MCDA) yaitu suatu metode pengambilan keputusan untuk menetapkan alternatif terbaik dari sejumlah alternatif berdasarkan beberapa kriteria/aspek tertentu (Kusumadewi dkk., 2006). Kriteria yang digunakan untuk menetapkan prioritas pilihan meliputi: 1) kesesuaian dengan peraturan yang berlaku; 2) ketersediaan lembaga/pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders); 3) keterterapan secara teknis operasional; 4) efisiensi dalam pembiayaan; 5) penerimaan masyarakat; 6) potensi dampak kesehatan dan lingkungan.
7
1.2 Perumusan Masalah
Sampah B3 rumahtangga memiliki karakteristik: mudah meledak, mudah menyala, reaktif, infeksius, korosif, dan/atau beracun. Timbulan SB3-RT dipengaruhi oleh pola konsumsi (perilaku) dan tingkat sosial ekonomi masyarakat. Pengetahuan sebagai faktor predisposisi dan pendapatan keluarga sebagai faktor pendukung (enabling) yang mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang, sehingga dapat berpengaruh terhadap timbulan SB3-RT yang dihasilkan. Kondisi sosial masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan berbeda dengan yang tinggal di wilayah perkotaan, sehingga kemungkinan timbulan SB3-RT juga berbeda.
Sampai saat ini, SB3-RT di Kabupaten Sleman masih diperlakukan sama dengan jenis sampah domestik lainnya. Aliran materi (material flow) SB3-RT mengikuti pola penanganan sampah yang dijalankan oleh masyarakat, meliputi pola: perkotaan, perdesaan dan mandiri. Pola penanganan sampah yang dijalankan dapat berpengaruh terhadap potensi dampak kesehatan dan lingkungan.
Sebagian besar masyarakat Kabupaten Sleman (85,52%) menangani sampah yang dihasilkan termasuk SB3-RT dengan cara yang tidak berwawasan lingkungan yaitu dengan cara membakar, membuang, dan/atau menimbun di pekarangan rumah, sungai, tepi jalan, dan lahan-lahan kosong lainnya. Apabila cara penanganan tersebut dibiarkan dan dilakukan secara terus menerus, maka dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (air, tanah, udara) dan gangguan kesehatan manusia seperti terjadinya kecelakaan, keracunan, kecacatan, penyakit, bahkan kematian. Jenis dan besarnya dampak negatif yang ditimbulkan
8
SB3-RT tergantung pada karakteristik dan kuantitas SB3-RT yang dibakar, ditimbun, dan/atau dibuang secara langsung ke lingkungan.
Untuk menyelesaikan permasalahan di atas, maka perlu disusun alternatif-alternatif pengelolaan sampah B3 rumahtangga yang sesuai untuk diterapkan di Kabupaten Sleman. Di dalam menyusun sistem pengelolaan sampah di suatu daerah tidak dapat dilepaskan dari aspek peraturan, kelembagaan, teknis operasional, pembiayaan dan peran serta masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam merencanakan sistem pengelolaan SB3-RT adalah metode
backcasting, sedangkan untuk memilih alternatif paling optimal dengan metode
MCDA (Multi Criteria Decission Analysis).
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut:
1) Berapa timbulan sampah B3 rumahtangga di Kabupaten Sleman dan apakah ada perbedaan antara wilayah perdesaan dan perkotaan?
2) Bagaimana hubungan tingkat pendapatan keluarga dan pengetahuan Kepala Keluarga (KK) dengan kuantitas timbulan SB3-RT di Kabupaten Sleman? 3) Bagaimana jenis, karakteristik dan potensi dampak kesehatan yang ditimbulkan
SB3-RT serta apakah ada perbedaan antara wilayah perdesaan dan perkotaan? 4) Apakah pola penanganan sampah berpengaruh terhadap pengurangan potensi
dampak kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkan SB3-RT?
5) Bagaimana tingkat kelayakan alternatif-alternatif pengelolaan SB3-RT ditinjau dari aspek peraturan, kelembagaan, teknis operasional, pembiayaan, penerimaan masyarakat, dan potensi dampak kesehatan dan lingkungan?
9
6) Alternatif pengelolaan SB3-RT seperti apa yang paling optimal untuk diterapkan di Kabupaten Sleman pada masa mendatang?
1.3 Keaslian Penelitian
Sepengetahuan peneliti, sampai saat ini penelitian dengan judul “Identifikasi Sampah Bahan Berbahaya Beracun (B3) Rumahtangga dan Alternatif
Pengelolaannya di Kabupaten Sleman” belum pernah dilakukan.
Penelitian-penelitian lain yang mendukung dan terkait antara lain:
1) Penelitian yang dilakukan oleh Koushki dan Humoud (2002) dengan judul “Analysis of Household Hazardous Substances in Kuwait”, bertujuan untuk menganalisis jenis dan kuantitas limbah berbahaya, tingkat kesadaran rumahtangga dan korelasinya dengan kecelakaan di Kuwait. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Hasilnya diketahui 5 jenis limbah berbahaya terbanyak, kesadaran rumahtangga tentang limbah berbahaya rendah dan 15% kecelakaan berkaitan dengan limbah berbahaya di rumahtangga.
Persamaannya dengan penelitian yang dilakukan adalah sama-sama bertujuan mengetahui jenis dan kuantitas SB3-RT, tetapi tidak mengkaji aliran materi SB3-RT yang dikaitkan dengan potensi dampak pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dan tidak merumuskan suatu sistem pengelolaan SB3-RT.
2) European Commission – Directorate General Environment (2002) dengan judul: Study on Hazardous Household Waste (HHW) with A Main Emphasis
on Hazardous Household Chemicals (Hhc) yang bertujuan untuk
10
berbahaya dan potensi risiko terhadap lingkungan dan kesehatan di Uni Eropa dengan metode survei dan pemeriksaan laboratorium.
Perbedaannya adalah tidak merumuskan dan mengkaji terhadap alternatif-alternatif pengelolaan sampah B3 rumahtangga.
3) Penelitian Ruslinda dan Yustisia (2013) dengan judul “Analisis Timbulan dan Komposisi Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Rumah Tangga di Kota Padang Berdasarkan Tingkat Pendapatan”, bertujuan untuk mengetahui kuantitas sampah B3 ditinjau dari pendapatan dengan menggunakan metode survei. Hasilnya: ada perbedaan kuantitas dan komposisi sampah B3 rumahtangga antara yang berpendapatan rendah, sedang dan tinggi.
Penelitian yang dijalankan sama-sama bertujuan mengetahui jenis dan kuantitas sampah B3 rumahtangga, tetapi belum meneliti aliran materi, potensi risiko pencemaran dan tidak mengkaji alternatif sistem pengelolaan SB3-RT. 4) Otoniel et al., (2008) meneliti tentang “Consumption Patterns and Household
Hazardous Solid Waste Generation in An Urban Settlement in México”.
Tujuannya adalah mengetahui kuantitas dan komposisi limbah berbahaya rumahtangga di Kota Moriela, Mexico. Melalui metode survei, diketahui bahwa limbah berbahaya rumahtangga sebesar 7,1 ton/hari (1.6% dari total sampah domestik kota sebesar 442 ton/hari). Penelitian tersebut belum merumuskan sistem pengelolaan SB3-RT di suatu wilayah/kota.
5) Benitez et al., (2013) dengan judul: Household Hazardous Wastes as A
11
penelitian survei untuk mengetahui timbulan SB3-RT dikaitkan dengan potensinya sebagai sumber pencemaran.
Perbedaannya: dalam penelitian tersebut tidak menyusun dan mengkaji rencana pengelolaan SB3-RT pada masa yang akan datang.
6) Inglezakisdan Moustakas, (2015) dengan judul : Household Hazardous Waste
Management: A Review. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengelolaan
sampah B3 rumahtangga di Uni Eropa dari aspek peraturan dan kebijakan dengan melakukan review terhadap data kualitatif dan kuantitatif. Perbedaannya: dalam penelitian tersebut tidak mengkaji suatu rencana pengelolaan SB3-RT yang akan diterapkan pada suatu wilayah.
1.4 Tujuan
Sesuai latar belakang dan permasalahan penelitian di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1) mengkaji timbulan sampah B3 rumahtangga yang dihasilkan di Kab. Sleman dan menganalisis perbedaan antara wilayah perkotaan dan perdesaan;
2) menganalisis hubungan antara tingkat pendapatan keluarga dan pengetahuan Kepala Keluarga (KK) dengan timbulan SB3-RT di Kabupaten Sleman;
3) mengkaji jenis dan karakteristik SB3-RT yang dihasilkan di Kabupaten Sleman dan potensi dampak kesehatan yang ditimbulkan serta menganalisis perbedaan antara wilayah perdesaan dan perkotaan;
4) mengkaji pola penanganan sampah yang dijalankan di Kabupaten Sleman dan menganalisis pengaruhnya terhadap pengurangan potensi dampak kesehatan dan lingkungan yang dapat ditimbulkan SB3-RT;
12
5) mengkaji tingkat kelayakan alternatif-alternatif pengelolaan SB3-RT ditinjau dari aspek peraturan, kelembagaan, teknis operasional, pembiayaan, penerimaan masyarakat, serta potensi dampak kesehatan dan lingkungan; 6) menemukan alternatif pengelolaan SB3-RT yang paling optimal untuk
diterapkan di Kabupaten Sleman pada masa yang akan datang. 1.5 Manfaat
1.5.1 Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang SB3-RT dan mencarikan solusi dalam melakukan pengelolaan SB3-RT secara benar dan berwawasan lingkungan, sehingga diharapkan dapat menurunkan potensi pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat.
1.5.2 Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dan pertimbangan bagi Pemerintah terutama Kabupaten Sleman selaku penanggung jawab pengelolaan sampah spesifik (sampah B3) sebagaimana yang diamanatkan dalam UU RI No. 18 Tahun 2008 dalam merencanakan sistem pengelolaan SB3-RT pada masa yang datang. 1.5.3 Bagi Ilmu Pengetahuan
Seluruh data dan hasil kajian dari penelitian ini, yaitu yang terkait dengan jenis, karakteristik, dan faktor yang mempengaruhi timbulan SB3-RT, potensi dampak kesehatan dan lingkungan, serta alternatif-alternatif pengelolaan SB3-RT di Kabupaten Sleman merupakan hasil temuan baru yang dapat menjadi acuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna dalam mengatasi permasalahan kesehatan lingkungan di masyarakat.