1
FRESH GRADUATE
Dhita Ayu Trisnawati
Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya Malang [email protected]
Dibimbing Oleh :
Ika Rahma Susilawati, S.Psi, M.Psi Ika Adita Silviandari, S.Psi, M.Psi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self-efficacy dan persepsi citra almamater terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate. Populasi penelitian ini adalah semua pencari kerja dari jenjang pendidikan Srata Satu (S1) yang sedang mencari kerja di job fair yang diadakan oleh The Square ballroom ICBC Center Surabaya. Sampel yang digunakan berjumlah 132 orang pencari kerja berstatus fresh graduate. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling accidental.Self-efficacy, persepsi citra almamater dan ketakutan akan kegagalan diukur menggunakan skala Likert. Analisis menggunakan teknik regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa self-efficacy dan persepsi citra almamater secara bersama-sama berperan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate. Selain itu hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa self-efficacy secara parsial berperan terhadap ketakutan akan kegagalan, begitu juga dengan persepsi citra almamater berperan secara parsial terhadap ketakutan akan kegagalan.
Kata Kunci : self-efficacy, persepsi citra almamater, ketakutan akan kegagalan ABSTRACT
This research aims to acquaint the role of self-efficacy and perceived of almamater image toward fear of failure on fresh graduateseeker. The population of this research is the job-seeker who has got Bachelor Degree who is looking for job vacancy in job fair which is held by The Square Ballroom ICBC Center Surabaya. The number of sample are 132 fresh graduate job-seeker. The sampling is usean accidental sampling technique. Self-efficacy, perceived of almamater image and fear of failure are measuredby Likert scale. The analysis method was multiple regression technique. The result shows that self-efficacy and perceived of almamater image simultaneously have a role in reducing fear of failure of bachelor fresh graduate job-seeker. In addition, this research also shows that self-efficacy partially has a role toward the fear on failure of fresh graduate of bachelor job-seeker, as well as the perceivedof almamater image.
PENDAHULUAN
Di era teknologi yang semakin canggih, standar perusahaan dalam mencari karyawan baru semakin tinggi. Sebagian besar perusahaan memilih calon karyawan yang bergelar sarjana dari berbagai perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia untuk bergabung. Hal ini dikarenakan sarjana dipandang sebagai kaum yang terpelajar dan lebih berwawasan luas, sehingga semakin banyak orang yang berlomba-lomba melanjutkan studi ke perguruan tinggi setelah lulus dari bangku SMA dengan harapan agar lebih mudah ketika mencari pekerjaan nantinya. Padahal menurut Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) data tenaga kerja tahun 2012 menyebutkan bahwa dari 37,3 juta masyarakat Indonesia dalam daftar angkatan kerja sebanyak 6,2 juta atau sekitar 43,5 persennya adalah pengangguran. Angka pengangguran ini didominasi oleh lulusan diploma dan Strata 1 (S1) dengan kisaran angka di atas 4 juta orang. Jumlah ini diprediksi akan semakin bertambah setiap tahunnya, memang secara umum tingkat pengangguran terbuka (TPT) cenderung menurun, namun pengangguran di tingkat pendidikan diploma dan sarjana mengalami kenaikan masing-masing sebesar 2,05% untuk diploma dan 4,16% untuk sarjana (www.poskotanews.com, 2012).
Permasalahan lain selama beberapa tahun terakhir ini adalah adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand SDM di perusahaan sehingga menyebabkan penumpukan angkatan kerja. Permasalahan lanjutan mengenai angkatan kerja ini terjadi ketika para sarjana lulusan terbaru dihadapkan pada fakta bahwa masih harus bersaing secara ketat dengan para pencari kerja lulusan tahun sebelumnya atau bahkan para pencari kerja yang telah memiliki pengamalan sehingga banyak dari para mahasiswa lulusan terbaru atau fresh graduate yang mengalami kecemasan bahkan takut akan kegagalan (fear of failure) ketika mencari pekerjaan. Para pencari kerja lulusan terbaru akan mengalami perasaan takut gagal jika nantinya menjadi pengangguran apabila gagal bersaing dengan para pencari kerja lainnya.
Pada akhirnya sarjana baru akan mengalami kecemasan bahkan takut merasa gagal apabila harus bersaing tidak hanya dengan para pencari kerja lain yang sebidang keilmuan dan bukan hanya dari lulusan tahun ini namun angkatan kerja sebelumnya juga. Biasanya individu yang cenderung lebih banyak mengalami rasa takut akan kegagalan memiliki beberapa karakteristik yang dapat terlihat dengan jelas, misalnya individu memiliki goal-setting yang defensif, tidak yakin benar tentang potensi yang dimilikinya, ketidakmampuan menghadapi kompetisi, selalu menginginkan tanggapan positif dari orang lain, dan performansi yang buruk pada situasi tertentu terutama situasi yang dipersepsikan penuh tekanan atau situasi baru (Conroy, 2002).
Mc Clelland (Fitria, Dian & Riyono, Bagus, 2006) menyatakan bahwa ketakutan akan kegagalan merupakan kecemasan yang dialami individu mengenai pandangan orang lain di sekitarnya. Individu takut menghadapi kegagalan karena nantinya akan timbul beberapa persepsi bagi individu tersebut misalnya penghinaan dari orang disekitarnya yang disertai dengan rasa malu, ketakutan akan penurunan estimasi diri (self-estimate) individu, ketakutan akan hilangnya pengaruh sosial, ketakutan akan ketidakpastian masa depan, dan ketakutan akan mengecewakan orang yang penting baginya. Selain itu Conroy (2002) mendefinisikan ketakutan akan kegagalan sebagai adanya antisipasi terhadap konsekuensi negatif terhadap kegagalan, dan tidak adanya harapan untuk sukses. Ketakutan akan kegagalan bisa muncul dari konsekuensi negatif yang mengancam diri karena kegagalan atau ketidakberhasilan.
Individu dengan ketakutan akan kegagalan cenderung menghindari situasi yang kompetitif dan beresiko. Ketidakpastian akan hal yang akan datang merupakan faktor utama dalam situasi beresiko yang tidak bisa ditoleransi oleh individu. Situasi yang
kompetitif juga dihindari karena apabila individu gagal menjadi pemenang atau tidak sukses, keyakinan diri maupun keyakinan orang lain terhadap kemampuannya akan menurun, kondisi tersebut berakibat menurunnya motivasi individu dalam mencapai suatu kesuksesan. Ketakutan akan kegagalan sendiri merupakan kecenderungan disposisional motif yang berbasis penghindaran kegagalan, karena biasanya seseorang akan merasa malu ketika menghadapi kegagalan. Perkembangan sumber daya manusia yang berkualitas bisa terhambat dengan fenomena ketakutan akan kegagalan ini, yang biasanya sering terjadi di kalangan para pencari kerja terutama fresh graduate.
Hal ini dikarenakan pada para pencari kerja yang baru saja menyelesaikan studinya diperguruan tinggi, belum memiliki banyak pengalaman dalam dunia kerja sehingga menimbulkan perasaan takut akan kegagalan dibandingkan dengan pencari kerja yang sudah pernah merasakan hal tersebut sebelumnya. Fenomena takut akan kegagalan ini sebenarnya dapat menjadi salah satu pendorong untuk mencapai tingkat tertinggi prestasi, tetapi tidak banyak orang yang mengetahui bahwa efek ketakutan akan kegagalan juga dapat melumpuhkan semangat dan kemauan seseorang untuk bisa memaksimalkan potensi mereka. Kecemasan-kecemasan para pencari kerja pada fresh graduate yang demikian ini erat kaitannya dengan masalah kompetensi dan efikasi diri individu yang kurang. Individu dengan ketakutan akan kegagalan cenderung takut dipandang tidak kompeten dan merasa dirinya tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk mencapai prestasi yang diharapkan Hurd (Damayanti, 2008). Padahal sebenarnya self-efficacy ini merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kecemasan serta perasaan takut akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus sarjana baru atau fresh graduate.
Baron dan Byrne (2005) menyatakan self-efficacy merupakan keyakinan atau kepercayaan individu mengenai kemampuan dirinya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu. Semakin seseorang mempunyai self-efficacy yang tinggi, maka individu tersebut semakin mempunyai kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan sebaliknya sehingga mengurangi perasaan takut menghadapi kegagalan. Self-efficacy yang lemah dapat menjadi hambatan internal menuju kemajuan dan menghalangi kemampuan untuk mengatasi hambatan eksternal secara efektif. Self-efficacy yang rendah dapat menghalangi usaha meskipun individu memiliki ketrampilan dan kualitas di atas rata-rata, sehingga menyebabkan individu mudah putus asa dalam menghadapi persoalan.
Petri menyatakan bahwa beberapa faktor yang dapat mengurangi perasaan takut akan suatu kegagalan pada individu yang sedang mencari pekerjaan yaitu antara lain motivasi untuk mencapai kesuksesan, perasaan optimis yang kuat, efikasi diri yang baik, nama almamater yang dibawanya, serta dukungan keluarga yang penuh. Salah satu faktor yang dapat mengurangi ketakutan akan kegagalan selain self-efficacy pada para pencari kerja adalah persepsi citra almamater yang di miliki oleh para pencari kerja ketika mencari pekerjaan (Fahmi 2011).
Menurut Thoha (Bacan & Nuriyah 2010) persepsi merupakan suatu proses kognisi yang disadari oleh setiap individu untuk memahami informasi dari lingkungan melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman yang kemudian diterjemahkan oleh sistem susunan syaraf dan berpengaruh terhadap pemafsiran yang disertai dengan tingkah laku individu sedangkan menurut Kotler (2000) citra adalah seperangkat keyakinan, ide dan pengaruh yang didapat seseorang dari suatu obyek. Citra merk (brand image) merupakan aspek yang sangat penting dari merek, citra juga dapat
didasarkan kepada kenyataan atau fiksi tergantung bagaimana konsumen mempersepsi. Selanjutnya menurut Poerwadarminta (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002) almamater merupakan istilah dalam bahasa latin yang secara harfiah bermakna “ibu susuan”. Penggunaan istilah ini populer dikalangan akademik atau pendidikan untuk menyebut tempat seseorang menyelesaikan suatu jenjang pendidikan.Penggunaan istilah almamater dalam penelitian dikhususkan pada universitas saja. Jadi dapat disimpulkan persepsi citra alamamater yang dimaksud disini adalah proses pengolahan informasi oleh pencari kerja fresh graduate mengenai penilaian masyarakat mengenai universitasnya dalam bentuk citra. Para pencari kerja akan memproses informasi baik dari apa yang mereka lihat maupun apa yang mereka dengar mengenai penilaian masyarakat terhadap universitasnya atau apa saja kontribusi yang diberikan universitas kepada para lulusannya menjadi sebuah persepsi terhadap citra universitasnya. Maka melalui persepsi citra almamater yang baik kepada universitasnya para pencari kerja akan memiliki perasaan bangga menyandang nama universitas mereka saat mencari pekerjaan sehingga dapat meminimalkan perasaan takut bersaing dengan para pencari kerja dari berbagai universitas lainnya.
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis sampaikan, maka penulis akan membahas bagaimana peran self-efficacy dan persepsi citra almamater terhadap ketakutan akan kegagalan pada pencari kerja fresh gradute sehingga penulis menetapkan judul “Peran Self-Efficacy dan Persepsi Citra Almamater terhadap Ketakutan akan kegagalan Para Pencari Kerja Berstatus Fresh Graduate”
Rumusan Masalah
1. Apakah self-efficacy dan persepsi citra almamater secara bersama-sama berperan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate ?
2. Apakah self-efficacy berperan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate ?
3. Apakah persepsi citra almamater berperan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate ?
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui peran self-efficacy dan persepsi citra almamater terhadap ketakutan akan kegagalanpada para pencari kerja berstatusfresh graduate
2. Untuk mengetahui peran self-efficacy terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate
3. Untuk mengetahui peran persepsi citra almamaterterhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate.
KAJIAN PUSTAKA A. Self-efficacy
Self-efficacy sendiri merupakan keyakinan atau kepercayaan individu mengenai kemampuan dirinya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu. Semakin seseorang mempunyai self-efficacy yang tinggi, maka individu tersebut semakin mempunyai kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan sebaliknya sehingga tidak mudah cemas dan putus asa. Self-efficacy yang lemah dapat menjadi hambatan internal menuju kemajuan dan menghalangi kemampuan untuk mengatasi hambatan eksternal secara efektif. Self-efficacy
yang rendah dapat menghalangi usaha meskipun individu memiliki ketrampilan dan kualitas di atas rata-rata, sehingga menyebabkan individu mudah putus asa dalam mencari pekerjaan (Baron & Byrne, 2005).
Menurut Bosscher (1998) terdapat 3 dimensi dari self-efficacy yaitu inisiatif, upaya, dan ketekunan. Menurut Mardiyanto inisiatif adalah kemampuan individu dalam menghasilkan sesuatu yang baru atau asli atau suatu pemecahan masalah. Inisiatif juga merupakan kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah serta menemukan cara-cara baruuntuk menemukan peluang. Upaya dapat dijelaskan sebagai suatu usaha (syarat) atau suatu cara yang dilakukan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Upaya juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terencana dan terarah untuk menghasilkan apa yang dituju. Ketekunan adalah upaya kesinambungan untuk mencapai tujuan tertentu tanpa mudah menyerah hingga meraih keberhasilan, dengan kata lain ketekunan tetap berlangsung walau adanya rintangan dan tetap mengetahui apa yang dilakukannnya benar. Ketekunan sering juga digambarkan sebagai keberhasilan seseorang melakukan sesuatu melalui cobaan dan kesalahan yang dialaminya semacam bentuk keuletan bekerja (Natalia, 2008).
B. Persepsi Citra Almamater
Menurut Thoha (Bacan & Nuriyah 2010) persepsi merupakan suatu proses kognisi yang disadari oleh setiap individu untuk memahami informasi dari lingkungan melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman persepsi terdiri dari suatu urutan, diawali dari stimulus yang diterima individu, yang kemudian diterjemahkan oleh sistem susunan syaraf dan berpengaruh terhadap pemafsiran yang disertai dengan tingkah laku individu. Selanjutnya menurut Zimmer dan Golden (Palacio, Meneses, Pérez, 2002). citra dideskripsikan sebagai pengetahuan subjektif sebagai sebuah perilaku yang menimbulkan kesan keseluruhan yang berada di benak konsumen dan sebagai konfigurasi kognitif sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), almamater merupakan istilah dalam bahasa latin yang secara harfiah bermakna “ibu susuan”. Penggunaan istilah ini populer dikalangan akademik atau pendidikan untuk menyebut tempat seseorang menyelesaikan suatu jenjang pendidikan. Penggunaan istilah almamater dalam penelitian dikhususkan pada universitas saja.
Maka dapat disimpulkan dari beberapa uraian di atas, persepsi citra alamamater yang dimaksud disini adalah proses pengolahan informasi oleh pencari kerja fresh graduate mengenai penilaian masyarakat mengenai universitasnya dalam bentuk citra. Para pencari kerja akan memproses informasi baik dari apa yang mereka lihat maupun apa yang mereka dengar mengenai penilaian masyarakat terhadap universitasnya atau apa saja kontribusi yang diberikan universitas kepada para lulusannya menjadi sebuah persepsi terhadap citra universitasnya. Maka melalui persepsi citra almamater yang baik kepada universitasnya para pencari kerja akan memiliki perasaan bangga menyandang nama universitas mereka saat mencari pekerjaan sehingga dapat meminimalkan perasaan takut bersaing dengan para pencari kerja dari berbagai universitas lainnya.
Menurut Harrison (Sukarno 2009) terdapat 4 dimensi dari citra yaitu, personality, reputation, value, dan corporate identity. Namun pada variabel ini dimensi yang digunakan adalah penggabungan dari dimensi citra dengan persepsi sehingga menjadi antara lain interpretasi lulusan terhadap kepribadian almamater, interpretasi lulusan terhadap reputasi almamater, interpretasi lulusan terhadap nilai-nilai almamater dan interpretasi lulusan terhadap identitas almamater.
C. Ketakutan akan Kegagalan
Menurut Conroy (Conroy, Poczwardowski dan Henschen, 2001) definisi mengenai ketakutan akan kegagalan mencakup adanya antisipasi terhadap konsekuensi negatif terhadap kegagalan dan tidak adanya harapan untuk sukses. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketakutan akan kegagalan adalah suatu reaksi emosional berupa ketakutan dan kecemasan individu ketika menghadapi kemungkinan kegagalan dan konsekuensi negatif dari kegagalan dalam mencapai standar prestasi. Ketakutan akan kegagalan bisa muncul dari konsekuensi negatif yang mengancam diri karena kegagalan atau ketidakberhasilan.
Aspek-aspek ketakutan akan kegagalan menurut Conroy (2002) antara lain : (1) ketakutan penghinaan dan rasa malu akan dialaminya, yang meiliputi rasa takut akan mempermalukan diri sendiri, terutama jika banyak orang yang mengetahui kegagalannya; (2) ketakutan akan penurunan estimasi diri (self-estimate) individu, meliputi perasaan kurang dari dalam individu, seperti merasa tidak cukup pintar, tidak cukup berbakat sehingga tidak dapat mengontrol performansinya; (3) ketakutan akan hilangnya pengaruh sosial, ketakutan ini melibatkan penilaian orang lain terhadap individu, orang tersebut takut apabila ia gagal, orang lain yang penting baginya tidak akan mempedulikan, tidak mau menolong dan nilai dirinya akan menurun dimata orang lain; (4) Ketakutan akan ketidakpastian masa depan, ketakutan ini datang ketika kegagalan akan mengakibatkan ketidakpastian dan berubahnya masa depan individu. Kegagalan (5) Ketakutan akan mengecewakan orang yang penting baginya seperti orang tua, yang akan menimbulkan penolakan orang tua terhadap diri individu, ketakutan akan mengecewakan harapan, dikritik dan kehilangan kepercayaan dari orang lain yang penting baginya
D. Pencari Kerja Fresh Graduate
Pencari kerja adalah mereka yang tidak bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan. Bisa juga mereka yang yang pernah bekerja namun diberhentikan karena suatu alasan sehingga masih terus mencari pekerjaan hingga saat ini (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).
Menurut Candra (Bacan & Nuriyah, 2010) fresh graduate adalah sebuah status yang pasti disandang para lulusan yang baru selesai menempuh jenjang pendidikannya di perguruan tinggi dan belum memiliki pengalaman kerja formal dan dalam batasan waktu maksimal hingga 1 tahun. Pada fase ini, biasanya mereka cenderung aktif berburu lowongan kerja terkini yang dibuka oleh perusahaan-perusahaan besar maupun perusahaan yang sedang berkembang namun dengan rasa percaya diri yang rendah.
Dari dua uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pencari kerja fresh graduate merupakan mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi dan sedang mencari pekerjaaan, namun dalam penelitian ini penulis mengkhususkan pada sarjana strata 1 (S1) yang baru saja lulus baik dari negeri maupun swasta.
Hipotesis Penelitian
Ha1 : Adanya peran self-efficacy dan persepsi citra almamater terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate.
Ha2 :Self-efficacy secara parsial memberikan peran yang signifikan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate.
Ha3 :Persepsi citra almamater secara parsial memberikan peran yang signifikan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik explanatory research yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh variabel bebas berupa self-efficacy (X1) dan persepsi citra almamater (X2) dengan variabel terikat (Y) berupa ketakutan akan kegagalan. Populasi dalam penelitian ini adalah para pencari kerja berstatus fresh graduate di jobfair yang diselenggarakan di The Square Ballroom at ICBC Center Surabaya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan sampel nonprobabilitas dengan sampling accidental sebanyak 132 orang.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan menggunakan bantuan SPSS 18.0.Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi sedangkan uji hipotesis terdiri dari metode analisis regresi linier berganda, uji F, dan uji t.
Alat Ukur
Instrumen Penelitian
1) Self-efficacy
Skala Self-efficacy dibuat berdasarkan teori menurut Bosscher (1998), terdiri dari tiga dimensi utama yaitu inisiatif, upaya dan ketekunan sebanyak 20 aitem dengan koefisien korelasi aitem-total bergerak dari 0,311 sampai dengan 0,592.
2) Persepsi Citra Almamater
Skala Persepsi Citra Almamater dibuat berdasarkan penggabungan antara proses persepsi dengan dimensi citra menurut teori Harrison (Sukarno 2009) yang terdiri dari empat dimensi utama yaitu personality, reputation, value, corporate identity sebanyak 10 aitem dengan koefisesien korelasi aitem-total bergerak dari 0,344 sampai dengan 0,605.
3) Ketakutan akan Kegagalan
Skala ketakutan akan kegagalan berdasarkan teori Conroy (2002), terdiri dari lima dimensi utama yaitu dimensi ketakutan akan dialaminya penghinaan dan rasa malu, ketakutan akan menurunnya self-estimate individu, ketakutan akan hilangnya pengaruh sosial, ketakutan akan ketidakpastian masa depan dan ketakutan akan mengecewakan orang lain sebanyak 14 aitem dengan dengan koefisien korelasi aitem-total bergerak dari 0,324 sampai dengan 0,663. Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi terbagi menjadi validitas tampang dan validitas logis. Validitas tampang merupakan validitas yang didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan (appearance test) dan kesesuaian konteks aitem dengan tujuan ukur tes. Untuk melakukan pengujian terhadap validitas tampang maka peneliti melakukan evaluasi dari panel atau orang yang ahli dalam konsep alat ukur ini, maka peneliti mengkonsultasikan dengan dosen dan juga melakukan evaluasi panel dengan meminta pendapat kepada subjek penelitian, dengan mencantumkan pernyataan tambahan berupa tampilan cover kuesioner, tampilan layout kuesioner, ukuran huruf dan kalimat-kalimat yang disampaikan pada kuesioner pada kuesioner agar subjek penelitian dapa membreikan pendapatnya. Validitas logis merupakan validitas yang menunjuk pada sejauhmana aitem tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak dikur. Untuk mengukur validitas logis maka peneliti melakukan evaluasi dengan orang yang ahli dalam konsep alat ukur ini, maka peneliti mengkonsultasikan dengan dosen.
Uji reliabilitas dilakukan dengan Cronbach Alpha. Suatu konstruk atau variabel dinyatakan reliabel jika memberikan nilai (alpha> 0,60) (Ghozali, 2009). Hasil perhitungan
estimasi reliabilitas Cronbach’s Alpha dengan bantuan program SPSS (Statistical Package for the Social Science)18 sebagai berikut:
Tabel 1. Uji Reliabilitas Alat Ukur
No Alat Ukur Skor Cronbach’s
Alpha
Jumlah Aitem
1 Self-efficacy 0,860 20
2 Persepsi Citra Almamater 0,759 10
3 Ketakutan akan Kegagalan 0,852 14
Sumber: Diolah oleh peneliti PROSEDUR PENELITIAN
Prosedur penelitian dimulai dengan tahap persiapan, hal-hal yang dilakukan mengunjungi lokasi penelitian di Job Fair dan meminta ijin untuk melaksanakan penelitian; mempersiapkan instrumen penelitian berupa skala self-efficacy, persepsi citra almamater dan ketakutan akan kegagalan lalu melakukan uji coba kepada para sarjana baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang sedang mencari kerja sebanyak 50 subjek dengan menggunakan ketiga skala tersebut untuk menentukan validitas dan reliabilitas alat ukur. Tahapan yang kedua adalah tahap pelaksanaan. Pada tahap ini dilakukan kegiatan-kegiatan diantaranya penyebaran instrumen penelitian dengan self-efficacy, persepsi citra almamater dan ketakutan akan kegagalan dan menyebarkan kuesioner pada para pencari kerja berstatus fresh graduate untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dilaksanakan secara individual kepada 150 orang pencari kerja di Job Fair yang di selenggarakan di The Square ballroom ICBC Center Surabaya pada tanggal 8-9 November 2013 tetapi setelah melalui proses screening maka subjek yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian menjadi 132 orang. Tahapan yang terakhir adalah tahap analisis data. Kegiatan yang dilakukan pada tahap analisa data diantaranya mengecek kembali lembaran skala yang telah dikumpulkan dan menyeleksi kelengkapan jawaban subjek, memberikan skor atau penilaian terhadap jawaban yang telah diberikan oleh subjek, merapikan dan mengatur data yang diperoleh dari hasil penilaian untuk keperluan analisa, melakukan analisa data dengan bantuan software komputer berupa SPSS, memberikan interpretasi terhadap hasil analisa tersebut.
HASIL
Hasil dari analisa deskriptif penelitian ini baik subjek laki-laki maupun perempuan, telah melamar pekerjaan sebanyak 0-5 kali maupun 6-10 kali dan subjek berasal dari berbagai universitas baik negeri maupun swasta yang ada di Surabaya tidak memiliki perbedaan yang signifikan pada variabel self-efficacy, persepsi citra almamater dan ketakutan akan kegagalan. Jadi pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis kelamin, banyaknya melamar pekerjaan dan asal universitas para pencari kerja berstatus fresh graduate tidak berpengaruh apapun terhadap skala self-efficacy, persepsi citra almamater maupun ketakutan akan kegagalan. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitria & Riyono (2006) yang menyebutkan bahwa ketakutan akan kegagalan tidak dipengaruhi oleh gender. A. Hasil Uji Simultan
Uji hipotesis dengan menggunakan uji F (hipotesis secara simultan) diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Hipotesis secara simultan
R Square F hitung Ftabel Signifikansi Keterangan
Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat nilai Fhitung adalah sebesar 237,346. Jika dibandingkan dengan Ftabel yakni 3,04maka nilai Fhitung> Ftabel. Berdasarkan hasil olah data menggunakan SPSS 18.0 dapat diketahui nilai signifikansinya adalah 0,000 yang lebih kecil dari α (0,05). Oleh karena itu, H01 ditolak dan Ha1 diterima sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa self-efficacy dan persepsi citra almamater secara bersama-sama berperan terhadap ketakutan akan kegagalan dengan pengaruh sebesar 0,786.
Selain uji hipotesis, dapat diketahui sumbangan dari variabel X terhadap Y melalui nilai regresi yang ditunjukkan pada nilai R square yakni 0,786. Hal ini menunjukkan bahwa self-efficacy dan persepsi citra almamater menyumbang peran 78,6% terhadap ketakutan akan kegagalan, sedangkan sisanya 21,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.
Berdasarkan uji regresi linier berganda yang telah dilakukan maka terbentuk model regresi sebagai berikut:
Keterangan:
Y : Ketakutan akan Kegagalan X1 : Self-efficacy
X2 : Persepsi Citra Almamater
Berdasarkan persamaan diatas, dapat terlihat bahwa tanpa adanya variabel lain yang mempengaruhi, subjek penelitian memiliki ketakutan akan kegagalan sebesar 64,919. Saat terdapat kenaikan 1 poin variabel self-efficacy akan menurunkan ketakutan akan kegagalan 0,389 dengan asumsi variabel lain dianggap konstan (nilainya tetap nol atau sama dengan 0) dan setiap kenaikan 1 poin variabel persepsi citra almamater akan menurunkan 0,214 ketakutan akan kegagalan dengan asumsi variabel lain dianggap konstan. Peran self-efficacy lebih besar dibandingkan persepsi citra almamater terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate.
B. Hasil uji parsial
1. Self-efficacy
Uji hipotesis dengan menggunakan ujit secara parsial untuk variabel self-efficacy diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis variabel self-efficacysecara parsial
thitung ttabel Signifikansi Keterangan
20,092 1,978 0,000 Signifikan
Berdasarkan tabel uji t diatas maka dapat diketahui bahwa thitung sebesar 20,092. Jika dibandingkan dengan ttabel yang sebesar 1,978 maka nilai thitung> ttabel. Namun dikarenakan Ha2
menjelaskan adanya hubungan negatif antara variabel self-efficacy dalam menjelaskan ketakutan akan kegagalan dan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ha2 diterima dan Ho2 di tolak. Hal ini berarti, bahwa self-efficacy secara parsial berperan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate. Jika para pencari kerja berstatus fresh graduate memiliki self-efficacy yang tinggi maka akan semakin rendah ketakutan akan kegagalannya dan begitu juga sebaliknya.
2. Persepsi Citra Almamater
Uji hipotesis dengan menggunakan uji t secara parsial untuk variabel persepsi citra almamater diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis variabel Persepsi citra almamatersecara parsial thitung ttabel Signifikansi Keterangan
8,752 1,978 0,000 Signifikan
Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa thitung sebesar 8,752. Jika dibandingkan dengan ttabel yang sebesar 1,978 maka nilai thitung> ttabel. Namun dikarenakan Ha3 menjelaskan adanya hubungan negatif antara variabel persepsi citra almamater dalam menjelaskan ketakutan akan kegagalan dan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari α (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa Ha3 diterima dan Ho3 ditolak. Hal ini berarti, bahwa persepsi citra almamater secara parsial berperan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate. Persepsi citra almamater yang tinggi dapat menurunkan rasa ketakutan akan kegagalan yang dialami para pencari kerja berstatus fresh graduate dan begitu juga sebaliknya.
Pembahasan
1. Self-Efficacy dan Persepsi Citra Almamater secara bersama-sama (simultan) berperan terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus
fresh graduate
Pengujian hipotesa yang pertama yaitu adanya peran self-efficacy dan persepsi citra almamater secara bersama-sama terhadap ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate diterima. Hal ini berarti self-efficacy dan persepsi citra almamater secara simultan berperan terhadap rasa ketakutan akan kegagalan dikarenakan kedua variabel ini terbukti dapat mengurangi ketakutan akan kegagalan, dimana ketakutan akan kegagalan tersebut dapat menimbulkan terjadinya tekanan yang mengakibatkan para pencari kerja berstatus fresh graduate mengalami stress dan perasaan cemas yang berlebihan.
Ketakutan akan kegagalan secara jelas menunjukkan adanya implikasi negatif dalam beberapa hal, diantaranya pilihan tugas, usaha yang dikeluarkan, kegigihan, pencapaian performansi, motivasi intrinsik dan kesejahteraan. Situasi tersebut secara tidak langsung mempercepat dan mempengaruhi pengambilan keputusan, strategi penghindaran secara spesifik, misalnya penghindaran terhadap performansi yang akhirnya secara langsung mendesak dan menimbulkan pertentangan antara ingin menghindari ketakutan akan kegagalan atau mencapai kesuksesan maupun harapan akan sukses (Fitria & Riyono, 2006). Ketakutan akan kegagalan dapat di minimalkan dengan beberapa cara, menurut Petri menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mengurangi perasaan takut akan suatu kegagalan pada individu yang sedang mencari pekerjaan yaitu antara lain motivasi untuk mencapai kesuksesan, perasaan optimis yang kuat, efikasi diri yang baik, nama almamater yang dibawanya, serta dukungan keluarga yang penuh (Fahmi, 2011)
Para pencari kerja yang memiliki self-efficacy, selain percaya akan kemampuan yang dimiliki, biasanya memiliki pengalaman akan kesuksesan di masa lampau atau bisa juga karena melihat pengalaman individu lainnya dalam naungan almamater yang sama namun telah sukses terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan Bandura (1986), yang menyatakan bahwa faktor-faktor pembentuk self-efficacy antara lain pengalaman akan kesuksesan, pengalaman individu lain, persuasi verbal dan keadaan fisiologis.
Adanya self-efficacy yang tinggi mampu membuat individu menjadi lebih percaya akan kemampuan yang dimiliki, stabil dan optimis sehingga mampu menghadapi tekanan yang timbul sebagai bagian dari rasa ketakutan akan kegagalan yang mereka alami. Fungsi self-efficacy menurut Bandura (1986) antara lain sebagai pilihan tingkah laku, usaha dan ketekunan berusaha, pola pikir dan reaksi emosi, sebagai penentu performansi selanjutnya dan sebagai prediktor tingkah laku selanjutnya. Self-efficacy yang tinggi pada para pencari kerja berfungsi sebagai sebagai prediktor tingkah laku dalam menghadapi tantangan selanjutnya dan sebagai penentu performansi selanjutnya untuk menghadapi persaingan yang kompetitif saat mencari pekerjaan.
Mendukung pernyataan di atas, Baron & Byrne (2005) menyatakan seseorang yang memiliki self-efficacy tinggi akan memiliki keyakinan atau kepercayaan mengenai kemampuan dirinya untuk mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan, menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu. Semakin seseorang mempunyai self-efficacy yang tinggi, maka individu tersebut semakin mempunyai kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuannya untuk dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan sebaliknya sehingga mengurangi perasaan takut menghadapi kegagalan. Namun sebaliknya, self-efficacy yang lemah dapat menjadi hambatan internal menuju kemajuan dan menghalangi kemampuan untuk mengatasi hambatan eksternal secara efektif.
Selain self-efficacy, perlu adanya faktor lain yang dapat mengurangi ketakutan akan kegagalan para pencari kerja yaitu persepsi citra almamater. Persepsi citra alamamater yang dimaksud disini adalah proses pengolahan informasi oleh pencari kerja fresh graduate mengenai penilaian masyarakat mengenai universitasnya dalam bentuk citra. Para pencari kerja akan memproses informasi baik dari apa yang mereka lihat maupun apa yang mereka dengar mengenai penilaian masyarakat terhadap universitasnya atau apa saja kontribusi yang diberikan universitas kepada para lulusannya menjadi sebuah persepsi terhadap citra universitasnya. Maka melalui persepsi citra almamater yang baik kepada universitasnya para pencari kerja akan memiliki perasaan bangga menyandang nama universitas mereka saat mencari pekerjaan sehingga dapat meminimalkan perasaan takut bersaing dengan para pencari kerja dari berbagai universitas lainnya.
Pada saat seorang pencari kerja berstatus fresh graduate mengalami ketakutan akan kegagalan untuk mencoba mencari sebuah pekerjaan ia sangat membutuhkan informasi pendukung berupa persepsi masyarakat mengenai universitasnya dalam bentuk citra almamater. Seorang pencari kerja perlu memiliki persepsi akan citra yang diberikan masyarakat kepada universitasnya sebagai motivator dalam menghadapi rasa kurang percaya diri saat bersaing mencari pekerjaan, adanya persepsi citra almamater yang tinggi dapat memberi pengaruh positif terhadap para pencari kerja berstatus fresh graduate yang mencari kerja sehingga seorang pencari kerja dapat mengatasi rasa takut akan kegagalannya. Apabila persepsi terhadap citra universitas yang dimiliki pencari kerja tinggi, maka usaha dalam mencari pekerjaan juga tinggi dengan begitu ketakutan dan kekhawatiran yang dialami oleh seseorang tersebut akan berkurang.
Dari data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ketakutan akan kegagalan memang dipengaruhi oleh self-efficacy dan persepsi citra almamater. Dengan adanya self-efficacy dan persepsi citra almamater dapat membuat individu lebih percaya pada kemampuan yang dimiliki, stabil dan optimis, sehingga individu lebih mampu menghadapi setiap tekanan dan rasa ketakutan akan kegagalan pada saat mereka mencari pekerjaan. Hasil koefisien determinasi R2 yang merupakan penentu tingkat ketakutan akan kegagalan menunjukkan
sebesar 0,786 sehingga dapat diartikan bahwa kedua variabel bebas self-efficacy dan persepsi citra almamater ini berpengaruh terhadap ketakutan akan kegagalan dengan kontribusi sebesar 78,6% sedangkan sisanya yaitu sebesar 21,4% terbentuknya ketakutan akan kegagalan dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Maka dari hasil pengujian hipotesa dan uraian beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy dan persepsi citra almamater secara simultan dapat mengurangi ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate.
2. Self-efficacy secara parsial berperan dalam ketakutan akan kegagalan dan Persepsi Citra Almamater secara parsial berperan dalam ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate
Berdasarkan uji statistik menunjukkan bahwa self-efficacy memiliki peranan secara parsial terhadap ketakutan akan kegagalan sebesar 0,389, artinya setiap kenaikan 1 poin self-efficacy akan menurunkan ketakutan akan kegagalan sebesar 3,89% dengan asumsi variabel lainnya dianggap konstan atau nilainya tetap atau sama dengan nol.
Seorang pencari kerja yang memiliki self-efficacy tinggi akan memiliki berbagai inisiatif yang baik saat dihadapkan dalam kondisi apapun, memiliki ketekunan dan ulet saat mencari pekerjaan serta mau tetap berupaya walaupun pernah mengalami kegagalan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bosscher (1998) yang menyatakan bahwa dimensi dari self-efficacy terdiri dari inisiatif, upaya dan ketekunan yang tinggi. Semakin individu memiliki self-efficacy yang tinggi maka ia akan semakin giat, semakin tekun dalam berusaha, memiliki inisiatif yang tinggi dan tidak mudah cemas serta putus asa saat mencari pekerjaan. Begitu juga sebaliknya, individu dengan self-efficacy yang rendah ketika menghadapi tuntutan untuk segera memperoleh pekerjaan, ia cenderung memiliki keraguan yang besar mengenai kemampuannya dan cenderung akan mengurangi usaha-usahanya atau bahkan menyerah sama sekali yang termasuk dalam perasaan takut akan kegagalan.
Selain self-efficacy, hasil pengujian statistik terhadap peran persepsi citra almamater secara parsial terhadap ketakutan akan kegagalan juga diterima. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi citra almamater secara parsial berperan menurunkan rasa ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate. Persepsi citra almamater memiliki peranan secara parsial terhadap ketakutan akan kegagalan 0,214, artinya setiap kenaikan 1 poin persepsi citra almamater akan menurunkan ketakutan akan kegagalan sebesar 2,14% dengan asumsi variabel lainnya dianggap konstan atau nilainya tetap atau sama dengan nol.
Para pencari kerja yang memiliki persepsi citra almamater yang tinggi akan menciptakan persepsi positif dan perasaan bangga saat mencari pekerjaan. Mereka tidak akan merasa minder atau bahkan takut saat bersaing dengan berbagai universitas untuk memperoleh pekerjaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Anggoro & Linggar (Kusdiyanto, 2008) bahwa manfaat dari suatu citra organisasi atau perguruan tinggi yang baik adalah terciptanya perasaan bangga pada organisasi dan perguruan tinggi, adanya hubungan yang baik dengan masyarakat yang ada di sekitar kawasan organisasi atau perguruan tinggi dan meningkatkan kepuasan konsumen dan kesetiaan konsumen organisasi atau perguruan tinggi. Namun begitu juga sebaliknya para pencari kerja yang memiliki persepsi citra yang kurang baik terhadap almamaternya ia cenderung minder, kurang percaya diri serta tidak berani menghadapi persaingan dengan universitas lainnya saat mencari pekerjaan. Maka dapat disimpulkan persepsi citra almamater secara parsial dapat mengurangi ketakutan akan kegagalan pada para pencari kerja berstatus fresh graduate.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dari penelitian ini adalah tidak mencantumkan penilaian subjek terhadap citra almamaternya di data demografis. Data ini berfungsi untuk mengetahui seberapa tinggi penilaian mereka terhadap citra almamaternya dan apakah selama ini citra almamater mereka cukup berkontribusi saat mereka mencoba mencari pekerjaan. Data tersebut berkaitan dengan kontribusi persepsi citra almamater dengan rasa ketakutan akan kegagalan yang dialami para pencari kerja berstatus fresh graduate.
DISKUSI
Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi perasaan takut akan kegagalan, misalnya universitas hendaknya terus meningkatkan kualitasnya melalui peningkatan kemampuan potensial pada lulusan, pembentukan karakter positif yang kuat pada lulusan serta meningkatkan kepedulian kepada lingkungan sekitar misalnya melalui kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan citra positif universitas. Pada para pencari kerja juga sebaiknya lebih mempersiapkan berbagai hal sebelum mencari pekerjaan, yaitu dengan cara lebih menguasai bidang ilmu, mengenali potensi maupun kelemahan yang dimiliki serta membekali diri dengan keterampilan tambahan antara lain dengan mengikuti kursus bahasa inggris dan komputer agar mereka memiliki keyakinan diri mampu bersaing dengan para pencari kerja lainnya sehingga dapat mengurangi ketakutan akan kegagalan saat mencari pekerjaan.
Ketakutan akan kegagalan yang cukup tinggi ini tidak hanya di alami oleh para pencari kerja, sehingga pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan setting yang berbeda misalnya pada misalnya pada lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) serta lulusan D3 yang akan bersaing memperoleh pekerjaan. Hal ini karena diasumsikan keadaan individu dengan latar belakang SMK serta D3 dalam menempuh pendidikannya lebih banyak praktik daripada teori sehingga mereka para lulusan SMK dan D3 lebih memiliki kesiapan dalam bersaing mencari pekerjaan. Selain itu untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan metode kualitatif, hal tersebut diharapkan dapat memperdalam perolehan data di lapangan terkait dengan self-efficacy, persepsi citra almamater dan ketakutan akan kegagalan. Selain itu dengan metode kualitatif akan dapat lebih mendalam menggali informasi mengenai persepsi citra almamater yang dimiliki oleh individu.
DAFTAR PUSTAKA
Ahyani, L. N & Asmarani, S. M (2012). Kecemasan akan Kegagalan, Dukungan Orangtua, dan Motivasi Belajar pada Siswa di Pesantren.Jurnal Proyeksi, Vol. 7 (1), 87-98 Arikunto, S. (2006).Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Atkinson. (1993). Pengantar Psikologi Edisi Ke-8 Jilid Dua (diterjemahkan oleh Nurdjah
Taufik dan Agus Dharma). Jakarta : Erlangga
Azwar, S. (2012).Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Bacan & Nuriyah. (2010). Gambaran Persepsi Mahasiswa Fresh Graduate Universitas Indonesia Terhadap Kuliah Atau Bekerja Di Luar Negeri. Jurnal Humaniora, Vol. 1, 91-99
Bandura, A. (1986). Social learning theory . Englewood Cliffa, New Jersey: Practice-Hall. (1982). Self Efficacy in Changing Society. Cambridge. University press :USA
___________(1997). Self Efficacy: the Exercise of Control. New York: Freeman.
Baron, Robert & Byrne (2005). Psikologi Sosial Edisi ke-10 Jilid 2. (Alih Bahasa : Ratna Djuwita). Jakarta : Erlangga.
Berita Resmi Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) (2012) “Data pengangguran” www.poskotanews.com, diunduh tanggal 27 Maret 2013 pukul 12.14 WIB
Bosscher, R. J., & Smit, J. H. (1998). Confirmatory factor analysis of Gen efficacy Scale. Behaviour Research and Therapy, 36, 339-343.
Conroy, D. E & Elliot, Andrew.J. (2004). Fear of Failure and Achievement Goals in Spots: Addressing The Issue of The Chicken and The Egg. Journal of Anxiety, Stress and Coping. Vol. 17, No. 3, 271-285
Conroy, D. E., Poczwardowski, A., & Henchen, K. P. (2001). Evaluative Criteria and Emotional Responses Associated With Failure and Success among Elite Athletes and Perfoming Artist. Journal of Applied Sport Psychology. Vol. 13, 300-322
Conroy, D.E. (2002). Representational Models Associated With Fear of Failure in Adolencents and Young Adults. Journal of Personality, Volume 71:5
Damayanti, Natalia. (2008). Pengaruh Kompetensi Guru, Ketakutan akan Kegagalan dan self-efficacy Terhadap Motivasi Belajar Matematika. Tesis Universitas Katolik Soegijapranata
Elliot, Andrew. J & Thrash, Todd M. (2004). The Intregenerational Tranmission of Fear of Failure. Journal of Humanity, Volume 30 No. 8 hal 957-971
Fahmi, Fauziah. (2011). Hubungan Antara Self-Efficacy dengan Stres Akademik Pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Katholik Vol. 14 No. 03.
Fitria, Dian KS & Riyono, Bagus. (2006). Fear of Success dan Fear of Failure Ditinjau dari Gender dan Need for Achievement. Jurnal Psikologi Vol. 12 No.2.
Ghozali, I. (2009). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS Cetakan Keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Irwanto. (2002). Psikologi Umum. Jakarta: PT. Penhallindo
Kasiram, H.Moh. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif-Kuantitatif. Malang : UIN Malang Press
Kusdiyanto. (2008). Citra Perguruan Tinggi Swasta di Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah. Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol. 12, No. 2
Nainggolan, Lisdu. (2007). Hubungan Antara Persepsi Terhadap Harapan Orang Tua Dengan Ketakutan Akan Kegagalan (Fear of Failure) Pada Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Jurnal Psikologi INSAN Vol. 12 No. 02. Nasution.(2011). Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara
Nurlaila, Siti. (2011). Pelatihan Efikasi Diri Untuk Menurunkan Kecemasan Pada Siswi-Siswi yang akan Menghadapi Ujian Akhir Nasional. Jurnal Ilmiah GUIDENA Vol. No.1.
Palacio, Meneses, Pérez. (2002). The configuration of the university image and its relationship with the satisfaction of student. Journal of Educational Administration, Vol. 40.
Poerwadarminta, W.S. (2002). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Riduwan.(2009). Pengantar Statistika Sosial. Bandung: Alfabeta
Sagar, Sam, Lavallee, dkk. (2009). Coping With the Effects of Fear of Failure: A Preliminary Investigation of Young Elite Athletes. Journal of Clinical Sports Psychology. Vol 3, 73-98
Sari, Nofika. (2010). Hubungan Antara Self-Efficacy Dan Goal Setting Dengan Prestasi Kerja Agen Asuransi. Jurnal Bisnis dan Ekonomi. Hal. 97 – 110 Vol. 16, No.2
Semuel & Wijaya. (2009). Corporate Social Responsibility, Purchase Intention dan Corporate Image Pada Restoran di Surabaya Dari Perspektif Pelanggan. Jurnal Manajemen Pemasaran. Vol 5. No 3.
Sukarno, G. (2009). Corporate Reputation Melalui Peran Corporate Social Responsibility Dalam Mengatasi Dampak Lingkungan. Jurnal Riset Ekonomi Vol 2. No 1.
Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu
Suryabrata. (2005). Metode Penelitian.Jakarta: Rajawali
Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan : Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta :Bumi Aksara
Suliyanto. (2011). Ekonometrika Terapan : Teori dan Aplikasi dengan SPSS. Yogyakarta: Andi Offset
Vindayani, Dila. (2008). Analisis Faktor-faktor Penyebab Persistensi Pengangguran di Indonesia dari Perspektif Pekerja. Tesis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor