PEMANFAATAN BRANGKASAN KACANG HIJAU SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF
KAMBING DAN DOMBA SAAT MUSIM PENGHUJAN DI GROBOGAN
Pita Sudrajad dan Sarjana
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah Bukit Tegalepek, Sidomulyo, P.O. Box 101 Ungaran, Jawa Tengah
ABSTRACT
The farmers habit in Grobogan-Central Java in feeding goats and sheep on the outskirts of river and wetland becomes difficult when the rainy season. So, it needs feed innovation from local materials that are untapped and durable to be kept as reserve feed. Utilization of agricultural by-products as alternative feed is very suitable applied, considering Grobogan is the largest producer of agricultural by-products in Central Java. As an agricultural by-product, the stem, leave and pod skin of mung bean can be used. The amount is 42451.18 tons. The chemicals composition of mung bean by-products are 21.93% of Dry Matter, 15.32% of Crude Protein, 3.59% of Crude Fat, 26.90% of Crude Fiber, and 55.52% of Total Digestible Nutrient. The innovation is very useful because it can empower farmers to self-produce the goats and sheep feed from local materials, providing an alternative feed, and enhance the economic value of mung bean by-products.
Key words : Mung bean by-products, feed, goats and sheep
PENDAHULUAN
Inovasi pengolahan limbah pertanian untuk bahan pakan ternak sudah lama dikembangkan di Indonesia terutama sejak digalakkannya Sistem Integrasi Tanaman Ternak (SITT). Inovasi ini sangat diperlukan mengingat semakin meningkatnya kegiatan intensifikasi tanaman pangan yang berarti akan meningkatkan pula produksi limbah pertanian (Bamualim et al, 2008). Beberapa kajian mengenai pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak menjelaskan tentang adanya korelasi yang positif baik dari sisi teknis budidaya, efisiensi usaha hingga nilai ekonomi. Tentu saja pemilihan inovasi yang diterapkan harus memperhatikan basis sumberdaya lokal yang dapat dikembangkan oleh petani secara mandiri (Adnyana, 2008).
Bagi sub sektor peternakan, pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak sangat membantu pemenuhan kebutuhan pakan ternak. Paling tidak dapat mencukupi sebagian dari kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ternak dengan mencampurnya bersama bahan pakan yang lain. Bahkan bagi beberapa peternak, muncul kecenderungan lebih memilih untuk mengolah limbah pertanian sebagai pakan ternak daripada harus mencari hijauan pakan sendiri.
Pada tahun 2009 Kabupaten Grobogan adalah penghasil limbah pertanian terbesar di Jawa Tengah (BPS Jawa Tengah, 2010). Apabila tidak ada inovasi yang tepat, limbah pertanian hanya akan menjadi polutan yang bisa merugikan masyarakat. Salah satu limbah pertanian yang cukup besar di Grobogan adalah dari komoditas kacang hijau. Limbah pertanian kacang hijau pada tahun 2009 dihasilkan dari 19.837 hektar (ha) lahan pertanaman kacang hijau yang dipanen. Limbah pertanian tersebut berupa batang dan daun tanaman kacang hijau atau sering disebut sebagai brangkasan kacang hijau, ditambah kulit polong kacang hijau. Biasanya, brangkasan kacang hijau hanya akan dibakar oleh petani setelah panen selesai.
Disisi lain, para peternak kambing dan domba di kabupaten Grobogan yang memiliki kebiasaan memberi pakan ternaknya dengan menggembalakan di hamparan rumput yang tumbuh di pinggiran sungai dan pematang sawah mengalami kesulitan saat musim penghujan. Karena pada saat musim penghujan kondisi ladang penggembalaan menjadi becek, berlumpur, dan seringkali banjir (Sarjana et al., 2007). Selain itu, tanaman rumput menjadi terlalu lembab dan basah sehingga apabila langsung diberikan pada ternak dapat menyebabkan kembung. Pada saat tersebut diperlukan sumber bahan
pakan alternatif dari sumber daya lokal yang cukup secara kualitas maupun kuantitas. Selain sebagai cadangan, bahan pakan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan juga sebagai tambahan formulasi pakan guna melengkapi nilai nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak kambing dan domba. Oleh karena itu, inovasi yang dimunculkan kemudian adalah pengolahan brangkasan kacang hijau agar dapat disimpan lebih lama dan dimanfaatkan sebagai pakan kambing dan domba saat musim penghujan.
Inovasi pemanfaatan brangkasan kacang hijau sebagai pakan alternatif kambing dan domba yang diadopsi oleh masyarakat petani-peternak di kabupaten Grobogan selain memudahkan peternak mencari pakan, juga diharapkan dapat memacu semangat peternak, mengoptimalkan sumberdaya masyarakat dengan mengolah sendiri pakan ternak, dan meningkatkan ekonomi petani-peternak.
METODOLOGI
Pengkajian pemanfaatan brangkasan kacang hijau sebagai pakan alternatif ternak kambing dan domba dilakukan di Desa Kluwan, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan. Pengkajian dimulai pada tahun 2007 dan berakhir pada tahun 2009. Metode awal yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal untuk mengetahui kondisi masyarakat sebelum dilakukan pengkajian. Data yang didapatkan menggambarkan segala permasalahan dan potensi yang dimiliki masyarakat, khususnya petani-peternak. Selanjutnya dilakukan rencana strategis pengkajian, penyiapan sumberdaya manusia, dan penerapan inovasi yang direkomendasikan. Inovasi pemanfaatan brangkasan kacang hijau untuk pakan ternak kambing dan domba diadopsi oleh peternak. Selanjutnya dilakukan monitoring dan evaluasi dengan kuesioner dan wawancara guna membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dilakukan pengkajian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Wilayah
Desa Kluwan berada di wilayah Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan. Wilayah desa Kluwan seluas 388,37 ha yang terdiri dari lahan sawah 233,17 ha, pekarangan dan bangunan 85,80 ha, dan tegalan serta kebun 46,73 ha.
Irigasi pada lahan sawah lancar sebab desa Kluwan dilewati oleh saluran irigasi primer dari waduk Kedung Ombo. Pada lahan sawah, sebagian besar petani menanam padi dan kacang hijau, dan sebagian kecil yang lain menanam kacang panjang, semangka, melon dan ketimun. Lahan pekarangan di sekitar rumah belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi lahan ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha peternakan. Usaha peternakan yang diminati adalah ternak sapi, kambing dan domba, sedangkan ternak unggas berkurang sejak merebaknya kasus Avian Influenza (AI).
Kabupaten Grobogan mempunyai tipe iklim 6 bulan kering dan 6 bulan basah, dengan suhu minimum 20oC (BPS Kabupaten Grobogan, 2006). Intensitas curah hujan rata-rata mencapai 1.422,33 mm/tahun dan tertinggi terjadi pada bulan November hingga Mei (Gambar 1).
Kondisi Sub Sektor Peternakan
Bagi sebagian besar masyarakat desa Kluwan, usaha peternakan belum banyak berperan sebagai sumber pendapatan karena masih diposisikan sebagai usaha sampingan selain usaha pertanian. Sub sektor peternakan hanya menyumbang 1,88 % dari total sumber pendapatan penduduk (Sarjana et al., 2008), seperti tersaji dalam Gambar 2. Pada Gambar 2 dijelaskan secara lengkap mengenai struktur pendapatan rumah tangga tani di desa Kluwan.
Kecilnya peran sub sektor peternakan dalam menyokong pendapatan rumah tangga tani penduduk dimungkinkan terjadi karena motivasi petani memelihara ternak hanya untuk tabungan. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Grobogan mengambil kebijakan untuk memfokuskan program peternakan di wilayah timur sungai Serang, sehingga tidak mencakup desa Kluwan. Kondisi ini pun mengakibatkan perkembangan usaha peternakan berjalan lambat.
Soejana (1993) yang disitasi oleh Febrina dan Liana (2008) menjelaskan bahwa pada umumnya penduduk pedesaan mencurahkan perhatiannya pada usaha pokok yaitu sebagai petani sehingga pemeliharaan ternaknya kurang diperhatikan. Hal ini disebabkan karena sebagian usaha peternakan dilakukan sebagai usaha sambilan sehingga perhatian peternak terhadap usaha peternakannya kurang baik.
0 50 100 150 200 250 300 350 400
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
M
m
2002 2003 2004
Gambar 1. Curah hujan di Kabupaten Grobogan tahun 2002 – 2004
Gambar 2. Struktur pendapatan rumah tangga tani di Desa Kluwan
Berdasarkan preferensi petani, komoditas ternak yang diusahakan petani adalah ternak ayam buras, domba dan kambing serta kerbau (Tabel 1). Jenis domba yang diminati adalah domba ekor gemuk (DEG), sedangkan jenis kambing yang banyak dipelihara adalah kambing kacang. Jumlah kepemilikan domba setiap kepala keluarga (KK) adalah 2 – 15 ekor, dan kepemilikan kambing 2 – 3 ekor/KK.
Pakan utama ternak unggas yang dipelihara secara intensif adalah pakan konsentrat, sedangkan peternak rakyat yang memelihara ayam dan unggas lain secara tradisional memberikan pakan dari sisa-sisa makanan dan dedak padi. Pakan ternak ruminansia adalah hijauan rumput, limbah pertanian, dan leguminosa. Jenis pakan
leguminosa atau kacang-kacangan sangat baik untuk mendukung produktivitas pembibitan sapi, kambing dan domba (Nuschati, 2010).
Tabel 1. Jenis ternak yang diusahakan petani
Jenis ternak Jumlah (ekor)
1. Ayam buras 3.438
2. Domba / kambing 227
3. Unggas lain 51
4. Kerbau 9
Biasanya untuk memenuhi kebutuhan pakan kambing dan domba selama ini peternak menggembalakan ternaknya di pematang sawah dan pinggiran sungai. Akan
tetapi kegiatan tersebut menjadi terhambat ketika musim penghujan, karena area penggembalaan menjadi becek, berlumpur bahkan tergenang air. Tanaman rumputnya pun menjadi terlalu basah dan riskan untuk diberikan secara langsung kepada ternak karena bisa mengakibatkan kembung.
Subandi dan Marwoto (2008) menyebutkan mengenai 3 hal yang dapat dilakukan untuk mendukung ketersediaan pakan ternak, yaitu 1) menghasilkan rumput alam yang diambil/disabit peternak, 2) menyediakan areal penggembalaan sewaktu lahan tanaman pangan tidak ditanami, 3) memanfaatkan limbah tanaman untuk pakan ternak dengan diberikan secara langsung (konsumsi segar) maupun diproses terlebih dulu. Dalam hal ini, yang dapat dilakukan dengan kondisi dan kebiasaan para peternak di kabupaten Grobogan saat musim penghujan ialah pilihan untuk memanfaatkan limbah tanaman untuk pakan ternak. Ilustrasi mengenai hubungan antara ketergantungan dalam penyediaan pakan dari limbah tanaman dengan intensitas hujan terdapat pada Gambar 3.
Gambar 3. Ilustrasi hubungan antara kebutuhan limbah tanaman untuk pakan, kemudahan dalam penggembalaan dan intensitas hujan
Brangkasan Kacang Hijau Sebagai Pakan Ternak
Pakan ternak merupakan komponen yang sangat berpengaruh dalam usaha peternakan. Kecukupan akan kuantitas dan kualitas pakan menjadi faktor penting dalam keberhasilan beternak, terutama dalam hal produktivitas ternak dan pendapatan peternak (Subandi dan Marwoto, 2008). Untuk tujuan itu, setidaknya peternak harus mengalokasikan 60 – 80% dari total biaya untuk penyediaan pakan. Adanya persaingan dengan kebutuhan pangan mengakibatkan meningkatnya ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor. Salah satu cara untuk menekan biaya produksi, terutama penyediaan bahan pakan yang murah adalah dengan memanfaatkan produk samping usaha pertanian melalui peningkatan nilai guna limbah menjadi bahan pakan ternak yang lebih bermutu (Bamualim et al., 2008).
Brangkasan kacang hijau sebagai salah satu limbah tanaman yang banyak dihasilkan di kabupaten Grobogan harus dimanfaatkan dengan baik agar limbah tersebut tidak hanya menjadi polutan. Pemanfaatan brangkasan kacang hijau sebagai pakan ternak merupakan salah satu contoh aplikasi SITT berbasis sumberdaya lokal. Langkah pertama yang bisa dilakukan secara inkonvensional adalah dengan mengendalikan pembuangan dan pembakaran brangkasan kacang hijau.
Subandi dan Marwoto (2008) menjelaskan mengenai potensi yang dimiliki oleh limbah tanaman kacang-kacangan, termasuk limbah kacang hijau, baik secara kuantitas maupun kualitas yaitu antara lain: a) Tanamannya memiliki adaptasi yang luas dan relatif mudah dalam budidayanya sehingga bisa ditanam oleh petani pada lingkungan fisik dan sosial ekonomi yang beragam, ditanam di berbagai jenis lahan dan berbagai tipe iklim; b) Produksi limbah pertanian cukup besar (Tabel 2); c) Produksi limbah pertanian pada musim kemarau sehingga bisa diolah dahulu untuk persediaan di musim penghujan atau pun dimanfaatkan langsung di daerah yang kesulitan pakan pada musim kemarau; d) Limbah kacang-kacangan memiliki mutu yang lebih baik dari pada jerami jagung dan jerami padi (Tabel 3).
Tabel 2. Potensi produksi limbah pertanian
Jenis hijauan pakan Potensi Produksi
(ton BK/ha/luas panen) Jerami padi
Jerami jagung Jerami kedelai Jerami kacang tanah Jerami kacang hijau
3,76 2,09 1,59 2,14 2,14 Sumber: Anonimus (1982)
Tabel 3. Mutu limbah pertanian Limbah pertanian Komposisi kimia (%) BK PK LK SK TDN* Jerami padi Jerami jagung Jerami kedelai Jerami kacang tanah Jerami kacang hijau 31,87 21,69 30,39 29,08 21,93 5,21 9,66 14,10 11,31 15,32 1,17 2,21 3,54 3,32 3,59 26,78 26,30 20,97 16,62 26,90 51,50 60,24 61,59 64,50 55,52 * TDN: Total Digestible Nutrient
Sumber: Wahyono dan Hardianto (2004) Pada tahun 2009, luas panen tanaman kacang hijau di Kabupaten Grobogan mencapai 19.837 ha dengan produksi kacang hijau mencapai 21.943 ton. Dengan jumlah tersebut, Kabupaten Grobogan adalah penghasil kacang hijau terbesar kedua setelah Kabupaten Demak (Tabel 4). Berdasarkan angka potensi produksi limbah pertanian pada Tabel 2, maka dapat dihitung proyeksi produksi limbah tanaman kacang hijau, baik berupa brangkasan dan kulit polong. Dengan proyeksi tersebut terlihat bahwa di Kabupaten Grobogan dihasilkan limbah kacang hijau seberat 42.451,18 ton. Besarnya produksi limbah tanaman kacang hijau ini cukup untuk mendukung ketersediaan pakan ternak kambing dan domba selama musim penghujan di Kabupaten Grobogan. Proyeksi produksi limbah tanaman kacang hijau di 5 kabupaten penghasil kacang hijau terbesar di Jawa Tengah disajikan pada Tabel 4.
Di Desa Kluwan sendiri, luas panen kacang hijau mencapai 100 ha dengan produksi kacang hijau 1.100 ton (Sarjana et al., 2008). Dengan metode proyeksi yang sama dapat diperkirakan produksi limbah tanaman
kacang hijau di Desa Kluwan seberat 214 ton. Agar bahan pakan yang berlimpah ini dapat disimpan dan digunakan sebagai pakan pada waktu musim penghujan, maka diperlukan pengawetan dengan cara diolah melalui proses ensilase.
Tabel 4. Luas Panen dan Produksi Kacang Hijau Serta Proyeksi Produksi Limbah Tanaman Kacang Hijau di 5 Kabupaten Penghasil Kacang Hijau Terbesar di Jawa Tengah Tahun 2009 Kabupaten Luas panen* (ha) Produksi* (ton) Proyeksi Produksi Limbah Kacang Hijau** (ton BK) Demak Grobogan Pati Kebumen Rembang 24.776 19.837 13.643 6.856 5.627 26.574 21.943 16.066 6.982 6.071 53.020,64 42.451,18 29.196,02 14.671,84 12.041,78
* Sumber: BPS Jawa Tengah (2010) ** Diolah menurut Anonimus (1982)
Silase merupakan proses pengawetan dengan mempertahankan kesegaran bahan pakan ternak melalui penambahan molases dan urea agar dapat digunakan sebagai pakan ternak pada waktu mendatang. Molases yang digunakan sebanyak 3% dari bobot bahan pakan segar, dan urea sebanyak 1% dari bobot bahan pakan segar (Bamualim et al., 2008).
Pengaturan komposisi pakan untuk ternak kambing dan domba agar beragam, disukai ternak, dan memenuhi kebutuhan nutrisi ternak maka metode pemberiannya dicampur bersama jerami padi fermentasi dan rumput hijau atau pun daun dari beberapa jenis tanaman leguminosa lain seperti kaliandra, turi, lamtoro, dan Gliricidae. Hal ini disebabkan limbah pertanian kecernaannya dibawah 50% dan tidak bisa dijadikan pengganti rumput tanpa penambahan bahan pakan lain yang lebih bergizi (Bamualim et al., 2008).
Dampak Pemanfaatan Brangkasan Kacang Hijau
Pemanfaatan brangkasan kacang hijau sebagai pakan ternak memberikan dampak yang cukup luas, baik bagi petani maupun peternak. Secara bertahap, inovasi ini akan mengubah kebiasaan petani dengan tidak lagi membuang dan membakar brangkasan kacang hijau setelah selesai panen. Hal ini dikarenakan brangkasan kacang hijau telah
dimanfaatkan oleh para peternak sebagai pakan ternak kambing dan domba. Satu karung brangkasan kacang hijau dijual dengan harga Rp.5.000,00. Kini brangkasan kacang hijau memiliki nilai ekonomi, sehingga dapat menambah pendapatan petani kacang hijau.
Bagi peternak, adanya brangkasan kacang hijau memberikan alternatif bahan pakan bagi ternak kambing dan domba yang mereka pelihara. Pada musim penghujan, peternak tidak lagi bingung dan kepayahan mencari pakan ternak, karena telah menyimpan brangkasan kacang hijau yang telah diawetkan. Dengan penambahan brangkasan kacang hijau sebagai pakan ternak mampu menghemat persediaan rumput hijau yang disabit oleh peternak saat hari cerah. Selain itu, langkah ini juga sebagai upaya pemberdayaan peternak dengan mengolah sendiri pakan untuk ternak mereka. Peternak juga semakin bersemangat untuk beternak dan mulai berani untuk menambah populasi ternak yang dipelihara.
Pada akhirnya, brangkasan kacang hijau tidak lagi dikhawatirkan menjadi polutan bagi lingkungan. Inovasi ini sebenarnya adalah sebuah proses dalam program SITT. Integrasi antara tanaman kacang hijau dengan ternak kambing dan domba akan berjalan secara kontinyu, yaitu ketika limbah tanaman kacang hijau dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dan kemudian limbah kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada pertanaman kacang hijau.
KESIMPULAN
Brangkasan kacang hijau adalah salah satu limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing dan domba. Tingkat produksi brangkasan kacang hijau adalah 2,14 ton BK/ha/luas panen. Pada tahun 2009, dari luas panen kacang hijau 19.837 hektar dapat dihasilkan brangkasan sebesar 42.451,18 ton. Produksi brangkasan kacang hijau yang berlimpah dapat disimpan dengan proses silase dan dimanfaatkan untuk pakan ternak kambing dan domba pada musim penghujan. Inovasi pakan ini sangat bermanfaat karena dapat memberdayakan peternak mengolah sendiri pakan kambing dan domba dari bahan lokal, menyediakan pakan alternatif yang bermutu, dan meningkatkan nilai ekonomi brangkasan kacang hijau.
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, Made Oka. 2008. Jaringan pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak bebas limbah. Prosiding Seminar Sistem Integrasi Tanaman-Ternak Bebas Limbah. Puslitbangtan, Bogor.
Anonimus. 1982. Inventarisasi limbah pertanian Jawa dan Bali. Kerjasama Fakultas Peternakan UGM dan Direktorat Bina Produksi, Ditjen Peternakan. Fapet UGM, Yogyakarta.
Bamualim, A., Kuswandi, A. Azahari, dan B. Haryanto. 2008. Sistem usahatani tanaman-ternak. Prosiding Seminar Sistem Integrasi Tanaman-Ternak Bebas Limbah. Puslitbangtan, Bogor.
BPS Jawa Tengah. 2010. Jawa Tengah Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah.
BPS Kabupaten Grobogan. 2006. Kabupaten Grobogan Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan.
Febrina, D. dan M. Liana. 2008. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ruminansia pada peternak rakyat di Kecamatan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu. Jurnal Peternakan Vol 5 No 1 Februari 2008. Hal 28 – 37.
Nuschati, Ulin. 2010. Teknologi formulasi pakan lokal untuk ternak ruminansia. Makalah Forum Temu Informasi Teknologi Pertanian. Kabupaten Magelang, 11 Mei 2010.
Sarjana, H. E. Mumpuni, E. Iriani, S. Prawirodigdo, J. Purnianto, dan Warsana. 2007. Participatory rural appraisal dalam rangka persiapan Primatani Kabupaten Grobogan. Laporan. BPTP Jawa Tengah, Ungaran.
______. 2008. Pelaksanaan Primatani Kabupaten Grobogan. Laporan. BPTP Jawa Tengah, Ungaran.
Soejana, T. D. 1993. Ekonomi Pemeliharaan Ternak Ruminansia Kecil. Dalam : Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University Press, Surakarta.
Subandi dan Marwoto. 2008. Teknologi kacang-kacangan dan umbi-umbian mendukung sistem integrasi tanaman-ternak. Prosiding Seminar Sistem Integrasi Tanaman-Ternak Bebas Limbah. Puslitbangtan, Bogor.
Wahyono, D.E. dan R. Hardianto. 2004. Pemanfaatan sumber daya pakan lokal untuk pengembangan sapi potong. Makalah Lokakarya Nasional Sapi Potong. Yogyakarta, 8 – 9 Oktober 2004.