G. Indrawan1, I K. Paramarta2, Sariyasa3
ABSTRACT
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Bahasa Bali --termasuk penulisan Aksara Balinya-- dikhawatirkan menuju kepunahan (Jampel, Indrawan, dan Widiana,
2018)(Indrawan, Paramarta, dkk.,
2018)(Indrawan, Puspita, dkk., 2018) terkait penggunaannya yang semakin terbatas. Perlindungan dari sisi hukum telah diatur melalui Peraturan Gubernur Bali No. 80
Tahun 2018 dan Surat Edaran Gubernur Bali No. 3172 Tahun 2019.
Usaha perlindungan sekaligus pelestarian dari satu sisi saja dirasakan tidak akan cukup. Untuk itu kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk memperkuat usaha perlindungan sekaligus pelestarian dari sisi teknologi. Kegiatan tersebut dalam bentuk pelatihan dan pendampingan pemanfaatan aplikasi
PELATIHAN APLIKASI MOBILE BALI SIMBAR DI SMKN BALI
MANDARA
1Jurusan Teknik Elektronika FTK Undiksha; 2Jurusan Pendidikan Bahasa Bali FBS Undiksha; 3Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Undiksha
Email: [email protected]
It is feared that the knowledge of Balinese script will lead to extinction. The protection from the legal side has been regulated through the Bali Governor Regulation No. 80 of 2018 and the Bali Governor Circular No. 3172 of 2019. The general objective of this community service activity is to preserve one aspect of Balinese culture through the technology side. The specific objective of this activity is to conduct training and mentoring at SMKN Bali Mandara regarding to the use of the Bali Simbar mobile application. This training was based on the research results related to the analysis of the implementation of the computer-based conversion of Latin text to Balinese script. The training includes installation and use of the Bali Simbar mobile application; and knowing ten lessons learned related to computer-based conversion problems. The 32-hour online-based training during the pandemic was attended by 20 teachers of SMKN Bali Mandara and several students of SMKN Bali Mandara, also several students of Undiksha. As a non-productive economic partner in accordance with the category of the Guidelines for Research and Community Service Edition XII of DRPM DIKTI, the target of community service activities was achieved with indicators of increased knowledge and skills in general. One participant was a Balinese Language Teacher at SMKN Bali Mandara whose indicators of knowledge and skills were no longer measured and he complemented the knowledge provided in this activity.
Keywords: Balinese script, mobile application, Bali Simbar
Pengetahuan Aksara Bali dikhawatirkan menuju kepunahan. Perlindungan dari sisi hukum telah diatur melalui Peraturan Gubernur Bali No. 80 Tahun 2018 dan Surat Edaran Gubernur Bali No. 3172 Tahun 2019. Tujuan umum kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah menjaga kelestarian salah satu aspek budaya Bali ini melalui sisi teknologi. Tujuan khusus kegiatan ini adalah melakukan pelatihan dan pendampingan di SMKN Bali Mandara terkait pemanfaatan aplikasi mobile Bali Simbar. Pelatihan ini berdasarkan hasil penelitian terkait analisis implementasi konversi teks Latin ke Aksara Bali berbasis komputer. Pelatihan meliputi instalasi dan penggunaan aplikasi mobile Bali Simbar; serta mengetahui sepuluh hal terkait masalah konversi berbasis komputer. Pelatihan dengan pola 32 jam berbasis online di masa pandemi ini diikuti oleh 20 guru SMKN Bali Mandara dan beberapa siswa SMKN Bali Mandara, serta melibatkan beberapa mahasiswa Undiksha. Sebagai mitra non produktif ekonomi sesuai dengan kategori Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Edisi XII DRPM DIKTI, target kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tercapai dengan indikator pengetahuan dan keterampilan meningkat secara umum. Satu peserta adalah Guru Bahasa Bali SMKN Bali Mandara yang indikator pengetahuan dan keterampilannya tidak diukur lagi dan yang bersangkutan melengkapi pengetahuan yang diberikan dalam kegiatan ini.
Pelatihan Aplikasi Mobile Bali Simbar (Suatjana, 1999)(Suatjana, 2009) di SMKN Bali Mandara dengan pertimbangan sekolah tersebut masih memerlukan perkuatan dalam proses pembelajaran muatan lokal Bahasa Bali, di samping lokasinya yang relatif dekat dengan Undiksha. Berdasarkan penelitian, pendekatan berbasis teknologi dapat digunakan untuk memperkuat pembelajaran dan meningkatkan pedagogi (Dede, 2000).
METODE
Kegiatan pengabdian kepada
masyarakat dalam bentuk pelatihan dan pendampingan pemanfaatan aplikasi mobile Bali Simbar, dilaksanakan melalui pelatihan pola 32 jam di SMKN Bali Mandara. Materi pelatihan meliputi: 1) Aturan dan contoh
dokumen “The Balinese Alphabet”
(Sudewa, 2003); 2) Kata-kata khusus (Indrawan dan Paramarta, 2017) yang terdapat pada dokumen “The Balinese Alphabet” dan “Kamus Bali - Indonesia Beraksara Latin dan Bali” oleh Badan
Pembina Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, Provinsi Bali (Anom dkk., 2009); 3) Penulisan Aksara Bali menggunakan font Bali Simbar tahap I (terkait sebagian kategori kata khusus) (Suatjana, 1999)(Suatjana, 2009); dan 4) Penulisan Aksara Bali menggunakan font Bali Simbar tahap II (terkait sebagian lain kategori kata khusus).
Pelatihan ini berdasarkan hasil penelitian terkait analisis implementasi konversi teks Latin ke Aksara Bali berbasis komputer dan melibatkan dokumen yang relatif besar (OHCHR, 1996), yaitu masukan teks Latin dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) versi Bahasa Bali. Digunakan PDF yang tersedia untuk umum yang mengandung relatif banyak teks Latin (kosa kata Bali) sebagaimana adanya. Dokumen ini berisi 1.855 kata dalam 115 baris (termasuk beberapa baris kosong) yang berasal dari konten PDF yang di-paste
sebagai teks biasa ke area teks input aplikasi
mobile. Gambar 1 memperlihatkan
screenshot halaman web tempat mengakses file PDF tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambar 2 memperlihatkan pelatihan pemanfaatan aplikasi mobile Bali Simbar
berbasis online di masa pandemi yang diikuiti oleh 20 guru SMKN Bali Mandara dan beberapa siswa SMKN Bali Mandara, serta beberapa mahasiswa Undiksha.
Gambar 2. Pelatihan Pemanfaatan Aplikasi Mobile Bali Simbar di SMKN Bali Mandara Gambar 3 memperlihatkan sebagian
materi pelatihan untuk sepuluh hal terkait masalah konversi teks Latin ke Aksara Bali berbasis komputer.
1. Style Scriptio-Continua
a. Keluaran Aksara Bali tidak boleh mengandung spasi karena style penulisan scriptio-continua (Widiarti dan Pulungan, 2020). Untuk kemudahan pembelajaran, khususnya pada konversi dokumen berukuran besar, aplikasi mobile dapat memberikan keluaran berupa style non-scriptio-continua dengan format yang sama dengan masukan, seperti jumlah baris, dan posisi line-breaking (Indrawan dkk., 2020).
b. Perhatikan bahwa keluaran sebagai style
non-scriptio-continua dapat mencakup
pemisahan spasi antara kata-kata yang dikonversi tetapi harus memenuhi kondisi tertentu, seperti: 1) tidak ada spasi antara
suku kata dan tanda-tandanya; dan 2) tidak ada spasi sebelum titik dua, koma, atau titik.
2. Masukan Di-Huruf Kecil-Kan
Konversi tidak membedakan masukan huruf besar dan kecil. Pendekatan huruf kecil digunakan oleh aplikasi mobile untuk input teks Latin. Gambar 3 menunjukkan kasus ini pada kata Bali “Pangawedar” (deklarasi) yang diproses secara internal sebagai “pangawedar” sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali “p \ w) d (“.
3. Huruf Sama Konversi Beda
a. Karena manusia menulis kata vokal yang berbeda (Esling, 1999)
dari [ə] hanya dengan
menggunakan huruf yang sama "e", aplikasi mobile harus memiliki pengetahuan untuk
mengkonversi kata khusus
b. Gambar 3 menunjukkan kasus ini pada suku kata dengan bunyi vokal [ə] dari kata Bali “Pangawedar” (deklarasi) dan pada suku kata dengan bunyi vokal [e] dari kata Bali “manusane” (manusia).
Keduanya masing-masing
dikonversi dengan menggunakan pepet bertanda vokal sebagai "p\w)d(" dan dengan
menggunakan taling tanda vokal sebagai "mnusen".
c. Perhatikan bahwa algoritma menggunakan taling sebagai konversi default dari "e". Yang perlu dikonversi menggunakan pepet harus diproses secara internal sebagai “é”.
a)
b)
c)
Gambar 3. Sebagian Materi Pelatihan untuk Sepuluh Hal Terkait Masalah Konversi Teks Latin ke Aksara Bali Berbasis Komputer: a) Masukan Teks Latin; b) Keluaran Aksara Bali Tanpa Style
Scriptio-Continua; dan c) Keluaran Aksara Bali dengan Style Scriptio-Continua.
4. Pemrosesan Kata Berimbuhan
a. Gambar menunjukkan kata
turunan “Pangawedar” (deklarasi)
dari kata dasar “wedar”
(mendeklarasikan). Aplikasi
mobile menyimpan “wedar”
sebagai kata khusus (pengetahuan) secara internal sebagai “wédar”
untuk dikonversi menggunakan pepet bertanda vokal (lihat bagian
sebelumnya Huruf Sama
Konversi Beda) untuk keseluruhan konversi kata dasar dan juga untuk kata turunannya konversi.
b. Jadi, misalnya, algoritma akan
menkonversi kata turunan
"Pangawedar" menjadi "Panga" + "wédar". Teknik ini akan mencegah penyimpanan internal dalam jumlah yang berlebihan
(tidak perlu menyimpan
“pangawédar” dan kata turunan lainnya).
5. Penghilangan Tanda Baca
a. Tanda baca tertentu tidak ada dalam Aksara Bali. Jika muncul dalam teks Latin, mereka harus dihapus (pendekatan oleh aplikasi mobile) atau diganti dengan koma. Gambar menunjukkan kasus ini pada frase "Hak-Hak" yang diproses secara internal sebagai "hakhak" (lihat bagian sebelumnya
Masukan Di-Huruf Kecil-Kan) sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali "hkÀk /".
b. Hasil tersebut tidak dapat ditampilkan sebagai style non-scriptio-continua (lihat bagian sebelumnya Style Scriptio-Continua) karena "kh" tidak dapat dipisahkan oleh spasi pada bentuk Aksara Bali ("kÀ"). Bentuk itu dibangun oleh bentuk reguler "k" ("kÀ") dan bentuk gantungan "h" ("kÀ").
c. Pada kasus lain yang sama, frase “nginggilang (nyunjung)” diproses
secara internal menjadi
“nginggilang nyunjung” sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali “\i\áil *zuzé¡*”.
d. Untuk tujuan memudahkan
pengenalan per kata yang dikonversi, hasil tersebut ditampilkan sebagai style
non-scriptio-continua dengan
pemisahan spasi antar kata. Aplikasi mobile menggunakan style scriptio-continua (tanpa spasi antar kata) untuk keluaran Aksara Bali (lihat Gambar 3).
6. Konversi Huruf Tidak Dikenal
a. Huruf tertentu tidak ada dalam Aksara Bali. Jika muncul dalam input teks Latin, mereka akan dikonversi ke huruf lain dengan suara yang mirip.
b. Gambar menunjukkan kasus pada kata “Azasi” yang diproses secara internal sebagai “asasi” (lihat bagian sebelumnya Masukan Di-Huruf Kecil-Kan) sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali “hssi”.
c. Huruf-huruf lain yang tidak ada dalam Aksara Bali, yaitu “f”, “q”, “v”, dan “x” masing-masing akan diubah menjadi “p”, “k”, “p”, dan “kṣ”.
7. Reposisi Penanda
a. Gambar menunjukkan kasus ini pada kata “Perserikatan” yang diproses secara internal sebagai “pérserikatan” (lihat bagian sebelumnya Masukan Di-Huruf Kecil-Kan, dan Huruf Sama Konversi Beda) sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali “p $ s) riktn / ”.
b. Hasil tersebut telah diubah posisinya secara berdampingan dengan tanda vokal pepet "é" ("p)") dan tanda konsonannya surang "r" ("p (") yang sebelumnya
saling tumpang tindih dari hasil antara dari ”p) (s) riktn /”.
c. Pada kasus lain yang sama, kata “saking”, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3, diterjemahkan menjadi Aksara Bali “sk &”. d. Hasil tersebut telah direposisi
secara berdampingan dengan tanda vokal ulu "i" ("ki") dan tanda konsonannya cecek "ng" ("k *") yang sebelumnya saling tumpang tindih dari hasil antara "ski*".
8. Konversi Huruf atau Kluster-Huruf
a. Jika huruf atau klaster huruf tertentu muncul dalam teks Latin, mereka harus dikonversi ke huruf atau klaster huruf tertentu yang sesuai untuk mematuhi aturan konversi tertentu.
b. Gambar 3 menunjukkan kasus ini
pada kata “nyunjung”
(menegakkan) yang diproses secara internal sebagai “nyuňjung” sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali “zuzé¡ *” untuk memenuhi aturan asimilasi (Medra dkk., 1997).
c. Pada kasus lain yang sama, kata “perdamaian” (OHCHR, 1996) harus diproses secara internal
sebagai kata khusus
“perdamahian” sebelum
dikonversikan menjadi Aksara Bali “p$dmhiyn /”.
d. Perlakuan tersebut dilakukan untuk menghindari konversi “ai” otomatis yang menyebabkan konversi salah. Konversi otomatis tersebut diterapkan pada kata lain seperti “Daitya” (raksasa) (Sudewa, 2003) dengan “ai” yang sama akan diproses secara internal sebagai “dêtya” (lihat bagian
sebelumnya Masukan Di-Huruf Kecil-Kan) sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali “Edtê”.
e. Jadi, konversi itu tergantung pada kebenaran dasar dari kata yang dikonversi. Konversi otomatis lainnya pada algoritma, yaitu "au", "ea", "ia", "iu", "ua", dan "oe" akan diubah secara otomatis menjadi "ô", "eya", "iya", " iyu”, “uwa”, dan“owe”.
f. Untuk menghindari konversi otomatis tersebut, perlakuan kata khusus harus dilakukan dengan menambahkan huruf "h" di antara vokal yang berurutan itu.
9. Pemrosesan Huruf Vokal di Awal Kata
Vokal awal dari kata tertentu kemungkinan akan ditambahkan huruf “h” di depannya. Dalam hal ini, kata “unteng” (inti) (OHCHR, 1996) diolah secara internal menjadi “hunténg” (lihat bagian sebelumnya Huruf Sama Konversi Beda) sebelum dikonversikan menjadi Aksara Bali “hunÓ%”.
10.Angka diantara Koma
a. Angka harus di antara koma dalam Aksara Bali. Dalam hal ini, frasa tanpa koma, seperti “Paos 1” (Pasal 1) (OHCHR, 1996), harus diproses secara internal sebagai “paos,1,” sebelum dikonversikan menjadi “pewos /,1,”.
b. Di kasus lain, frasa dengan koma, seperti "akśarane, 47," (huruf tersebut, 47,) (Sudewa, 2003), harus diproses secara internal sebagai "akśarane,47," (pertahankan koma yang sudah ada) sebelum dikonversikan menjadi "Ák×ren,47,”.
SIMPULAN
Kegiatan pengabdian kepada
masyarakat dalam bentuk pelatihan dan pendampingan pemanfaatan aplikasi mobile Bali Simbar yang diikuti oleh 20 guru SMKN Bali Mandara dan beberapa siswa SMKN Bali Mandara, serta melibatkan beberapa mahasiswa Undiksha telah berhasil dilaksanakan. Keberlanjutan pelatihan dalam bentuk pendampingan telah juga dilaksanakan. Sebagai mitra non produktif ekonomi sesuai dengan kategori Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Edisi XII DRPM DIKTI (DRPM-DIKTI 2019), target kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tercapai dengan indikator pengetahuan dan keterampilan meningkat secara umum. Satu peserta adalah Guru Bahasa Bali yang indikator pengetahuan dan keterampilannya tidak diukur lagi dan yang bersangkutan melengkapi pengetahuan yang diberikan dalam kegiatan ini.
ACKNOWLEDGEMENT
Terima kasih kepada Universitas Pendidikan Ganesha atas dukungannya melalui hibah pengabdian dengan nomor kontrak 227/UN48.16/PM/2020.
DAFTAR RUJUKAN
Anom, I G. K. dkk. (2009). Kamus Bali - Indonesia Beraksara Latin Dan Bali [Balinese - Indonesian Dictionary with Its Latin and Balinese Script]. Denpasar: Bali Province.
Dede, C. (2000). “Emerging Influences of Information Technology on School Curriculum.” Journal of Curriculum Studies 32: 281–303.
DRPM-DIKTI. (2019). Panduan Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Edisi XII. Jakarta.
Esling, J. (1999). Handbook of the International Phonetic Association: A Guide to the Use of the International
Phonetic Alphabet. Cambridge
University Press.
Sudewa, I. B. A. (2003). “The Balinese Alphabet.”
http://www.babadbali.com/aksarabali/ alphabet.htm (August 17, 2020). Indrawan, G., dan Paramarta, I K.. (2017).
Komputerisasi Transliterasi Teks Latin Ke Aksara Bali [Computerized Transliteration of Latin Text to Balinese Script]. Jakarta: Raja Grafindo.
https://ebooks.gramedia.com/books/ko mputerisasi-transliterasi-teks-latin-ke- aksara-bali-seri-teknologi-informasi-untuk-budaya.
Indrawan, G., Paramarta I K., Agustini, K., dan Sariyasa. (2018). “Latin-to-Balinese Script Transliteration Method
on Mobile Application: A
Comparison.” Indonesian Journal of Electrical Engineering and Computer
Science 10(3): 1331.
http://ijeecs.iaescore.com/index.php/IJ EECS/article/view/8532.
Indrawan, G., Puspita, N. N. H., Paramarta I K., dan Sariyasa. (2018). “LBtrans-Bot:
A Latin-to-Balinese Script
Transliteration Robotic System Based on Noto Sans Balinese Font.” Indonesian Journal of Electrical Engineering and Computer Science
12(3): 1247.
http://ijeecs.iaescore.com/index.php/IJ EECS/article/view/13695.
Indrawan, G., Setemen K., Sutaya, W., dan Paramarta I K. (2020). Handling of Line Breaking on Latin-to-Balinese Script Transliteration Web Application as Part of Balinese Language Ubiquitous Learning. The 6th International Conference on Science in Information Technology (ICSITech), 2020.
Jampel, I N., Indrawan, G., dan Widiana, I W. (2018). “Accuracy Analysis of Latin-to-Balinese Script Transliteration Method.” International Journal of Electrical and Computer Engineering
8(3).
http://ijece.iaescore.com/index.php/IJE CE/article/view/9642.
Medra, I N. dkk. (1997). Pedoman Pasang Aksara Bali [The Guidance of Balinese Script Construction]. Denpasar: Department of Culture, Bali Province. http://babadbali.com/aksarabali/pages/ pageview.htm.
OHCHR. (1996). “Universal Declaration of
Human Rights in Balinese.”
https://www.ohchr.org/EN/UDHR/Pag es/Language.aspx?LangID=bzc (August 17, 2020).
Suatjana, I M. (1999). “Bali Simbar.” http://www.babadbali.com/aksarabali/ balisimbar.htm (August 17, 2020). Suatjana, I M. (2009). Bali Simbar
Dwijendra. Denpasar: Yayasan
Dwijendra.
Widiarti, A. R., dan Pulungan, R. (2020). “A Method for Solving Scriptio Continua
in Javanese Manuscript
Transliteration.” Heliyon 6(4): e03827. https://linkinghub.elsevier.com/retriev e/pii/S2405844020306721.