Bab V Penutup
Pada bagian penutup akan disajikan tiga hal. Pertama, manfaat dari koordinasi antar pemangku kepentingan yang solid, sinergis dan dalam kesatuan visi diplomasi pertahanan akan memperkokoh peran serta Indonesia dalam pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian sehingga meningkatkan kepercayaan dunia internasional dan apresiasi yang sangat positif bagi citra Indonesia di mata dunia internasional. Kedua, berupa rekomendasi bagi penyiapan pengiriman TNI pada tugas pemeliharaan perdamaian yang memampukan TNI tampil profesional, sanggup bekerja sama dalam yang lebih luas dan berskala internasional sehingga mampu meningkatkan citra TNI di mata dunia.
5.1 Manfaat Koordinasi dalam Kesatuan Visi Diplomasi Pertahanan Pertama, koordinasi para pemangku kepentingan utama dalam pemerintahan RI mulai dari Presiden, Kemenlu, PTRI, Kemenhan, Mabes TNI, dan PMPP TNI melaksanakan strategi diplomasi pertahanan sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Pelibatan pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian ke Lebanon (2006-2010) telah menjadi pembuka jalan bagi kebijakan politik luar negeri dalam rangka upaya perdamaian dunia sekaligus mewaspadai terjadinya perang akibat dinamika kekuatan yang bergeser dalam struktur internasional. Sikap pemerintah Indonesia sudah cukup
jeli dalam mengembangkan kebijakan luar negeri dan strategi pertahanannya ke arah yang lebih emansipatoris, tetapi juga humanis. Letak emansipatoris pada akhirnya adalah perjuangan untuk memampukan TNI sebagai pelaksana taktis sebagai bagian dari rakyat dan komponen inti pertahanan negara untuk ikut serta bermain dalam tatanan regional dan internasional demi kepentingan nasional. Maka disamping menggelar kekuatan soft power yang tampak dari kemajuan penampilan TNI yang semakin profesional dalam tugas misi perdamaian yang bersifat multidimensi, kiranya pelaksanaan pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian itu dilanjutkan dengan penyiapan tahap bina damai (peace building) yang dilaksanakan pula oleh kompenen bangsa yang lain seperti oleh Polri dan kalangan sipil.
Terbukanya jalur-jalur diplomasi total secara signifkan dan ekskalatif dengan melibatkan kekuatan ekonomi nasional tanpa hambatan yang berisfat birokratis karena koordinasi antar pemangku kepentingan yang semakin solid tentunya akan menciptakan peluang baru yang lebih luas untuk menempatkan kepentingan bangsa Indonesia terhormat di mata pergaulan dengan masyarakat internasional. Jadi, meskipun sebagai negara berkembang Indonesia tidak bisa menjadi pemain utama dalam struktur internasional, Indonesia tidak belaku
inferior dan tetap tampil prima bahkan memukau dalam forum regional sebagai
kekuatan penyeimbang di kawasan Asia Timur, termasuk keterwakilannya sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara yang berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Maka pemerintah Indonesia
sudah saatnya mengakomodasi aspek pertahanan ke dalam diplomasi luar negerinya dalam bentuk diplomasi pertahanan.
Kedua, diplomasi pertahanan yang mengemuka semenjak UU No. 37 Tahun 1999 membuka kesempatan bagi Presiden untuk memperhatikan saran Menlu. Kredibilitas Menlu yang dilaksanakan oleh staf di bawah Menlu – dalam hal pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian – haruslah kredibel dan tidak semata hanya melihat dari satu aspek pandangan politik saja, melainkan juga mesti mendapat masukan pihak Panglima/Mabes TNI mengenai kemampuan tentara serta konfigurasi pasukan yang akan ditugaskan di suatu wilayah konflik sesuai dengan kriteria DPKO. Direktorat KIPS di bawah Kemlu segera mempersiapkan Tim Kerja yang mengsinergikan koordinasi antar pemangku kepentingan dan pekerjaan tersebtu dapat diselesaikan dalam masa 6 tahun (2005-2011) sejak Presiden menginstruksikan embrionalnya. Tim inilah (TKMPP) yang menjadi perangkat pembantu Menlu sehingga Menlu mampu memberikan saran kepada Presiden secara komprehensif apabila ada tawaran DPKO terhadap permintaan personel atau pasukan di daerah konflik.
Ketiga, keberhasilan Indonesia ikut serta dalam misi PBB untuk menggelar operasi pemeliharaan perdamaian sangat ditentukan oleh keberhasilan lobby yang dilakukan Penmil di PTRI New York. Dengan adanya mekanisme dan koordinasi yang cepat dan tepat untuk menjawab permintaan UNDPKO akan membuka peluang bagi realisasi penyiapan pasukan Indonesia melaksanakan tugas misi ke daerah konflik.
Sebaliknya, jika permintaan UN DPKO dijawab tetapi implementasinya penyiapan pasukan memakan waktu yang lama akan sangat cemarlah nama Indonesia di muka dunia internasional. Manfaat Penmil sebagai ujung tombak diplomasi pertahanan di tingkat internasional juga menjadi negosiator bagi negara atau kelompok faksi yang bertikai untuk bersedia menerima Indonesia sebagai salah satu mediator sebagai peaacekeepers.
Oleh karena itu aktor yang mengawaki Penmil perlu digarap secara seksama dengan pola rekruitmen yang handal agar semakin meningkat kemampuannya dalam melakukan lobby dan terobosan yang meyakinkan pada pihak PBB, negara yang bertikai dan pihak pemangku kepentingan di Indonesia sendiri dengan kemampuan dan penguasaan diplomasi pertahanan secara komprehensif.
Penmil sungguh memainkan peran penting dalam berdiplomasi dengan unsur-unsur pimpinan DPKO dan wakil negara-negara sahabat di PBB sambil melaksanakan koordinasi ke dalam dengan Kemlu, Kemhan dan Mabes TNI dan melaksanakan up date data atas kesiapan kondisi dan kemampuan personel TNI sehingga sesuai dengan kriteria mandat yang diminta PBB. Keberhasilan Penmil melaksanakan diplomasi pertahanan secara cepat dan akurat yang direspon PBB membutuhkan kesungguhan kerja koordinasi di tingkat pelaksana penyiapan pasukan secara cepat pula sehingga mampu memberi keuntungan politis bagi kepentingan Indonesia di mata dunia.
Keempat, Kemampuan perencanaan penyiapan pengiriman pasukan dan kerjasama internasional di Kemhan. Kemhan memegang peran kendali
pada urusan logistik, penyiapan anggaran, pengadaan peralatan serta alutsista yang diperlukan guna menunjang dan menjadi sarana bantu pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian.
Peran paling pokok Kemhan adalah penyiapan alokasi tempat dan anggaran bagi pendidikan dan pelatihan pasukan pemeliharaan perdamaian. Penyiapan personel dan pasukan yang mengemban tugas multi dimensi ini membutuhkan kerjasama yang sinergis bersama dengan pemangku kepentingan lainnya yang sederajat seperti Mabes TNI, Kemenkopolkam, Kemkeu maupun DPR untuk merealisasikan kesiapan sarana tempat bagi penyiapan pasukan. Kerja sama antar pemangku kepentingan dapat terjadi secara sinkron karena proses penyelesaian konflik mulai dari pencegahan, pemeliharaan perdamaian sampai pada bina damai untuk mencegah timbulnya konflik kembali membutuhkan proses panjang yang tidak sekali jadi. Pelibatan pasukan pemeliharaan perdamaian Indonesia tetaplah merupakan salah satu dari keseluruhan mata rantai tahap penyelesaian konflik yang juga membutuhkan pelibatan unsur-unsur lain selain pemangku kepentingan pelibatan peace keeping atau pelibatan peace enforcement.
Unsur lainnya seperti kepolisian maupun personel sipil tetap menjadi bagian dari proses pengiriman duta damai ke wilayah (pasca) konflik untuk melaksanakan kegiatan bina damai. Pengelolaan manajemen yang berbeda tetapi tetap ada dalam satu kaitan yang sinergis perlu dijaga kesatuannya. Oleh karena itu pelaksanaan program penyediaan sarana bagi pendidian dan pelatihan yang ditempatkan di Sentul, Bogor, Jawa Barat dapat menjadi sarana
di bawah Kemhan untuk menggelar kerjasama internasional yang bersifat bilateral maupun multilateral untuk melakukan kegiatan multi fungsi sekaligus menekan biaya anggaran belanja penyiapan.
Penetapan Sentul menjadi tempat dikembangkannya pusat pelatihan bagi 7 in 1 (seven in one), yakni: PKC, Standby Force, Counter Terorism
Training Ground, Humanitarian Assistant and Disaster Relief, Indonesian Defense University (IDU), Language Center dan Military Game Committee
secara bertahap menunjukkan sinergitas bagi penyiapan pasukan pemeliharan perdamaian Indonesia yang bersifat multi dimensi dan bertaraf internasional. Penyiapan pasukan pemeliharan perdamaian Indonesia menjadi semacam gerbong bagi lajunya usaha-usaha baru dalam pengembangan infrastruktur pertahanan yang bersifat masif, terstruktur dan sistemik.
Kelima, Panglima/Mabes TNI sebagai pembantu pelaksana kegiatan penyelenggaraan pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian pada tingkat taktis. Sinergitas koordinasi di tingkat Panglima/Mabes TNI sangat kentara dari prestasi kecepatan penyiapan pasukan sebagai bagian dari pengorganisasian yang sistemik dan merupakan kunci keberhasilan dan optimalitas pengiriman pasukan Indonesia melaksanakan misi perdamaian.
Sebagai induk pembina membina dan menyiapkan personel dan pasukan di ketiga matra (TNI AD, TNI AL dan TNI AU) Mabes sangat berperan untuk memberi perhatian bagi jenjang promosi, penempatan personel sesuai dengan prestasi, kompetensi dan karier bagi personel dan kesatuan yang terlibat dalam misi perdamaian PBB. Dengan penerapan merit sistem secara
terukur dan berjenjang, penyiapan personel lintas angkatan yang diusahakan di tiap dinas personel ketiga matra, maka akan didapatkan penyiapan personel mulai dari tingkat pama, pamen sampai pati yang memiliki kualitas handal sesuai hasil penilaian dan catatan keberhasilan melaksanakan tugas misi perdamaian PBB.
Cara ini tentunya menanggalkan cara-cara lama yang masih mengandung unsur pada mengandalkan kedekatan kolegial, sistem “urut kacang” hubungan senior-yunior yang belum didasarkan pada kemampuan kompetensi individu. Perubahan pola kerja secara sistemik berdasarkan merit sistem pada tingkat Mabes TNI akan memberikan hasil pada peningkatan kemampuan dan pembinaan karier personel secara berkelanjutan, sehingga memudahkan Mabes TNI menyiapkan standby force yang suatu saat dapat digerakkan secara cepat bagi kepentingan misi pemeliharaan perdamaian dunia. Dengan cara seperti ini tentunya tiap-tiap personel memiliki kesempatan untuk dipromosikan dalam meniti karier dan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik lagi serta memacu motivasi untuk mengabdi sebesar-besarnya bagi kepentingan negara.
Keenam, terbentuknya PMPP TNI sebagai perpanjangan tangan Mabes TNI dalam menangani penyiapan, pendidikan dan latihan personel dan pasukan pemeliharaan perdamaian Indonesia membuka akses kerjasama dan koordinasi yang lebih luas di tingkat pelaksana dan kegiatan teknis. Terbukanya akses kerja sama dengan pihak lain yang difasilitasi sarana prasarana PKC di Sentul akan meneguhkan keseriusan Indonesia untuk
membuka peliang sekaligus belajar dengan cepat dengan adanya lesson learned yang berasal dari hasil kajian dan evaluasi Indonesia, sebagaimana yang didapat dari lesson learned misi pemeliharaan perdamaian KONGA XXIII A – E / UNIFIL selama 2006 – 2010. Hasil temuan di lapangan bermanfaat bagi peningkatan serta perhatian khusus pada penyiapan sumber daya manusia. Proses rekruitmen personel yang disiapkan dengan baik di tingkat dinas personel trimatra Mabes TNI akan menghasilkan kemampuan prajurit sampai pada komandan di level strategis yang dipersiapkan menjabat sebagai sebagai
Force Commander, yakni pemimpin pasukan multinasional dalam penugasan
PBB di wilayah konflik.
Peningkatan kemampuan personel TNI terutama agar dapat memenuhi standar personel yang disyaratkan PBB menyangkut element mendasar seperti kesamptaan jasmani, kesehatan dan perilaku serta personel yang memiliki ketrampilan bersama-sama bangsa lain di negara yang dilanda konflik, sampai dengan kemampuan melaksanakan mediasi, penguasaan bahasa asing, pembentukan mentalitas prajurit dari perubahan psikologi dari budaya militer sebagai prajurit perang menjadi militer yang memiliki pendekatan kemanusiaan (humantarian intervention) dengan implikasi sosial, perilaku, filosofi yang perlu diperhatikan dan dilatih, sehingga membentuk doktrin militer yang baru.
Ketujuh, hasil rapat koordinasi, evaluasi dan kajian pemangku kepentingan yang diwadahi oleh Kemlu atas pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian Indonesia selama tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 telah menyiapkan embrio yang menjadi wadah efektif bagi koordinasi antar
pemangku kepentingan, yakni TKMPP. Kriteria penilaian atas peningkatan kemampuan pasukan dapat dilihat dari penyiapan pengiriman pasukan dari di tahun 2006 sampai tahun 2010 yang ternyata belum mencapai target yang diharapkan yakni menjadi 10 besar TCC. Hasil ini akan ditindak lanjuti bagi penyiapan pengiriman pasukan secara masif, teroganisir dan sistemik dalam jangka 5 tahun ke depan (2014-2019).
Kedelapan, platform dari kegiatan penyiapan tahun-tahun sebelumnya telah mengalami banyak perkembangan yang membanggakan seperti tersedianya fasilitas penyiapan pelatihan peace keeping kelas dunia dan telah diresmikan kebesejak tahun 2006, pembenahan akan efektifitas pengorganisasian yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Masuknya Indonesia yang terpilih sebagai anggota Dewan Keamanan PBB periode 2007-2008 adalah salah satu faktor keberhasilan koordinasi antar pemangku kepentingan.1
Terpilihnya Mayor Jenderal TNI Imam Edy Mulyono, mantan Komandan PMPP (2010-2012) sebagai Komandan Pasukan PBB(Force
Commander) di Sahara Barat pada bulan Agustus 2013 yang didukung penuh
dan disambut baik oleh seluruh anggota Dewan Keamanan PBB. Karena selama ini tentara Indonesia yang pernah menduduki jabatan tertinggi sebagai komandan lapangan baru terjadi pada tahun 1976-1979 yang diterima oleh Mayjen TNI Rais Abin sebagai FC UNEF di Mesir. Penunjukan Pati TNI
1
Ary Raharjo dan Shohib Masykur, Wajah Diplomasi Multilateral Indonesia, dalam Buletin Diplomasi Multilateral, Buletin Direktorat Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Volume II No. 2 Tahun 2013, hlm. 2.
sebagai Force Commander oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon merupakan yang kedua kali merupakan prestasi atas usaha koordinasi kerja yang semakin meningkat, bertahap dan berlanjut antar pemangku kepentingan.
Kesembilan, keberhasilan yang dicapai TNI menyematkan jatidiri sebagai prajurit profesional. Profesionalitas prajurit TNI ini ditandai dengan: (1) menyiapkan basis pendidikan dan pelatihan penyiapan pra tugas personel dalam rangka menghadapi penugasan pasukan pemeliharaan perdamaian yang bersifat multidimensi di kawasan latihan PMPP TNI di Sentul (2) kemampuan yang teruji pada saat melaksanakan penugasan, dan (3) adanya pengakuan dunia internasional telah mengukuhkan integritas TNI dalam melaksanakan profesionalitasnya. Kehadiran TNI dalam pergaulan internasional telah semakin memampukan TNI memainkan peranan memberikan pengaruh tak langsung untuk memberi opini sebagai agen diplomasi pertahanan dan warna budaya multikultur yang terkandung dalam setiap nilai-nilai kejuangan TNI yang secara intrinsik dan ekstrinsik bersumber dari nilai-nilai 45 yang menjadi etos pengabdian prajurit TNI sesuai jatidiri bangsa Indonesia.
Kesepuluh, dengan membuat penelitian tentang koordinasi antar pemangku kepentingan dalam penerimaan pasukan pemeliharaan perdamaian Indonesia pada pelaksanaan tugas operasi KONGA XXIII A-E / UNIFIL penulis memiliki keyakinan bahwa dengan adanya koordinasi para pemangku kepentingan yang bersifat strategis dan adanya kemauan politik pemerintah, maka pelaksanaan kerja menjadi jelas, sinergis serta memudahkan struktur orgnanisasi bekerja sesuai tugas dan perannya masing-masing. Hasil akhir dari
kinerja yang solid adalah tercapainya kepentingan nasional yang membawa masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki martabat bersama dengan rasa hormat terhadap martabat bangsa yang lain.
5.2 Rekomendasi
Dari fakta yang disajikan dalam penelitian ini ada catatan-catatan penting yang dapat dijadikan pembelajaran bagi perjalanan selanjutnya bagi penyiapan pengiriman pasukan pemeliharan perdamaian KONGA di wilayah-wilayah yang sedang berkonflik.
5.2.1 Pada Tataran Strategis
5.2.1.1 Pertama, koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan tidak mungkin dapat berhasil mencapai target jika tidak disertai dengan adanya suatu strategi ke depan dan adanya tuntunan dari pusat. Dalam hal ini Presiden RI selaku simpul koordinator berperan sangat besar untuk memberikan kesatuan intepretasi yang visiabel bagi negosiasi tingkat internasional dan regional, sehingga mampu meyakinkan dan menggerakkan usaha bersama institusi internasional (PBB) dan negara-negara sahabat bekerja menyelesaikan isu perdamaian dunia dan menciptakan upaya-upaya perdamaian saat pecah konflik bersenjata (peace making) demi menjaga stabilitas keamanan internasionl.
5.2.1.2 Kedua, mampu memberikan arahan strategis sebagai tuntunan adanya kemauan politik untuk ambil bagian dalam upaya-upaya memelihara perdamaian (peace keeping), secara teratur, bertahap, terstruktur, sistemik, masif dan komprehensif dalam kesatuan mandat komando bersama negara-negara sahabat yang bergabung dalam PBB dengan mengintensifkan koordinasi dengan stakeholder (Kemlu, Kemhan, Mabes TNI, dan instansi terkait) dalam kesatuan koordinasi yang sinergis sesuai tujuan mempertahankan serta menjaga kedaulatan negara, memajukan kesejahteraan umum, memajukan kehidupan bangsa dan ikut serta menjaga ketertiban duna berdasar nilai universalitas manusia, peri keadilan demi kesejahteraan bersama.
5.2.1.3 Ketiga, para stakeholder mampu menterjemahkan arahan strategis Presiden sebagai simpul koordinator dalam rumusan kebijakan yang dapat dipedomani dalam mempersiapkan keputusan-keputusan taktis di tingkat perencanaan lapangan. Kemampuan dan peranan para stakeholder melaksanakan koordinasi sekaligus negosiasi dilandasi dengan prinsip-prinsip diplomasi pertahanan yang mengandung tujuan untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan nasional.
5.2.1.4 Keempat, dengan keikutsertaan Indonesia dalam misi perdamaian dunia berarti turut memperlancar terlaksana reformasi internal TNI dalam kerangka pergeseran paradigma lama ke paradigma baru TNI yakni TNI tidak lagi tampil di depan dengan menggunakan kekuatan bersenjata saja, tetapi lebih menampilkan jatidiri TNI yang makin profesional, karena dididik dan dilatih untuk memiliki kemampuan menangani ancaman multdidimensi, dilengkapi persenjataan-nya secara modern, menerima keserjahteraan yang lebih baik, tunduk pada hukum, serta mampu memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan sambil memperhatikan peran sipil menampilkan diri unuk bersama bekerja sama sebagai komponen bangsa.
5.2.1.5 Kelima, kehadiran pasukan TNI di wilayah konflik ternyata memberikan warna positif, baik bagi kedua negara yang sedang berkonflik (host country), maupun penilaian masyarakat internasional lewat forum PBB bahwa personel/pasukan TNI memiliki ciri khas ramah, membawa suasana damai (friendly), mudah beradaptasi, toleran, terbiasa hidup bersama dengan rukun dalam perbedaan, murah hati dan mudah menolong (helpful), manunggal dengan
kehidupan masyarakat sekitar, sekaligus juga profesional, imparsial dan tangguh. Kehadiran TNI dan Satgas KONGA telah mematri kekuatan lunak (soft power) bagi diplomasi pertahanan bangsa dengan cara yang sangat khas.
5.2.1.6 Keenam, apresiasi dunia internasional terhadap peran Indonesia, ditandai dengan semakin meningkatnya permintaan negara yang sedang dilanda konflik kepada PBB untuk menerima Indonesia ikut berperan serta menjaga perdamaian dan dianggap sebagai negara yang netral sekaligus diterima dengan baik sebagai penengah konflik yang terjadi yang disampaikan secara formal lewat organsiasi dunia PBB. Kepercayaan ini dengan sendirinya mengangkat citra Indonesia di mata dunia internasional.
5.2.2 Pada Tataran Taktis
5.2.2.1 Meskipun belum mencapai target 4.000 personel per tahun yang direncanakan, namun kenaikan jumlah personel pasukan yang mampu digelar cepat dengan kemampuan koordinasi antar pemangku kepentingan sesuai standar PBB semakin besar. Posisi Indonesia pun merangkak terus mendekati 10 besar dari negara TCC hanya dalam kurun waktu waktu 7 tahun sesudah PMPP TNI terbentuk (2007). Peningkatan jumlah pasukan TNI
tugas misi perdamaian selanjutnya akan berpengaruh pada diplomasi pertahanan RI yang sangat mendorong kegiatan-kegiatan lain yang menyertainya, seperti devisa dan perdagangan jasa yang sangat menguntungkan kepentingan nasional bangsa.
5.2.2.2 Di tingkat taktis ini pula hubungan erat Mabes TNI dan PMPP senantiasa berkoordinasi secara solid dalam menyiapkan
deployment pasukan bagi misi pemeliharaan perdamaian secara
cepat dengan mengutamakan standardisasi rekruitmen personel sesuai kriteria PBB. Semua persiapan, penugasan dan pengakhiran tugas dapat dimonitor dengan baik, di evaluasi dan dijadikan lesson learned bagi penyiapan tugas selanjutnya.
5.2.2.3 PMPP TNI menjadi pusat kerjasama internasional dengan para
peacekeepers negara-negara sahabat baik regional maupun
internasional. Lewat sarana prasarana Peace Keeping Center yang bertaraf internasional, di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun, pemanfaatannya membutuhkan jejaring kerjasama dengan para peace keepers negara-negara lain untuk menyelenggarakan pelatihan bersama yang mempercepat akses tukar menukar informasi, pembaharuan lesson learn untuk dapat diaplikasikan pada kegiatan pendidikan dan latihan pada
persiapan pengiriman pasukan pemeliharaan perdamaian. Pembangunan fasilitas yang mendukung kelangsungan kerjasama antar peace keepers dunia akan membentuk kesatuan visi dalam membentuk kesatuan gerak.
5.2.2.4 Kesempatan untuk melaksanakan misi pemeliharaan perdamaian bagi personel TNI menjadi ajang unjuk meningkatkan profesionalitas, sekaligus mengasah kemampuan dan kualitas yang menunjang pembinaan karier berjenjang serta penyiapan kader-kader peace keepers Indonesia untuk berkiprah dalam forum yang lebih luas di tingkat regional maupun internasional.
5.2.2.5 Selanjutnya pada tataran teknis tetap membutuhkan pengembangan doktrin yang direvisi, diperbaharui sesuai dengan perkembangan lingkungan strategis akan memberikan banyak manfaat dan keuntungan bagi peningkatan profesionalitas prajurit TNI dalam kesiapan mengemban misi pemeliharaan perdamaian yang bersifat internasional dan memerlukan pendekatan yang multidimensional. Di samping itu, keberadaan doktrin sebagai peace keepers sangat menunjang bagi perubahan mindset setiap personel TNI, untuk masuk dalam bentuk OMSP yang lebih mengutamakan aspek
kemanusiaan dan ketidakberpihakan (imparsialitas) di medan operasi. Penerapan doktrin ini tentunya akan memberikan perubahan mentalitas prajurit TNI yang sangat berpengaruh pada percepatan perubahan reformasi kultural yang sangat membantu meningkatkan citra TNI baik dalam tugas maupun perannya.
5.2.3 Penelitian Selanjutnya
5.2.3.1 Dalam kehidupan masyarakat demokratis yang lebih maju, berkeadilan menuju perdamaian abadi, TNI tidaklah bergerak sendiri dalam melaksanakan diplomasi pertahanan, namun melaksanakan diplomasi pertahanan bersama dengan komponen bangsa lain, seperti kekuatan Polri, kekuatan sipil dan kekuatan seluruh kekuatan bangsa Indonesia sehingga memperkuat kedudukan institusi fungsional dan kemampuan masyarakat baik sipil maupun komponen bangsa lainnya. Dengan mengambil peran seperti ini TNI mampu tampil dalam kewibawaan dan kemandirian yang dapat ditularkan pada bangsa-bangsa lainnya dalam memajukan kehidapan masyarakat yang demokratis. Siapa yang melakukan upaya tersebut, apa perannya dan bagaimana upayanya, serta dimana kendalanya, akan sangat berguna untuk diketahui dan dikaji secara lebih mendalam.
5.2.3.2 Dengan mengikutsertakan TNI sebagai pasukan penjaga perdamaian, perlahan akan membantu memberikan suasana batin, pemikiran dan doktrin tentang pendekatan konflik lewat cara damai yang bersifat multidimensi dan suasana seperti ini akan semakin dominan. Sedangkan kehadiran militer yang arogan akan dianggap sebagi penghambat jalan menuju perdamaian abadi dengan belajar dari pengalaman sejarah konflik bahwa kekuatan militer tidak mampu menjadi solusi penyelesaian konflik dan justru sebaliknya. Untuk peran TNI mendatang menjadi sangat penting meneliti tentang profesionalitas TNI yang memiliki kemampuan to
win the inner heart and mind of the people sebagai bagian
dari reformasi mental dan budaya baru yang memperbaharui semangat TNI dalam sejarah perjuangan bangsa sebagai tentara rakyat, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat mendapat peran barunya dalam perubahan lingkungan strategis pada dunia yang lebih demokratis, mengedepankan martabat dan hak asasi manusia dan berorientasi pada perbaikan lingkungan hidup dengan lebih menekankan pendekatan persuasif.