BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusianya masing-masing. Salah satu kegiatan yang dapat

21 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dalam berinteraksi manusia harus mengembangkan sumber daya manusianya masing-masing. Salah satu kegiatan yang dapat mengembangkan sumber daya manusia yaitu melalui suatu proses kegiatan pendidikan.

Pada era globalisasi seperti sekarang ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat, peran pendidikan sangatlah penting. Peran yang penting inilah harus membuat manusia lewat sumber daya manusia dan sumber daya alam harus dimaksimalkan secara penuh. Dengan pendidikan ini harus bisa menciptakan manusia yang cerdas, bukan hanya cerdas akalnya namun juga harus cerdas hatinya. Peran pendidikan dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk manusia yang terampil guna berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan negara ini, sangatlah sesuai dengan fungsi pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bab II pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut :

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

(2)

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakan kegiatan pendidikan terutama di lembaga pendidikan formal sebagai komponen strategis dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Peranan madrasah atau sekolah sebagai lembaga pendidikan formal adalah mengembangkan potensi manusia yang dimiliki peserta didik agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia yang baik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat. Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang hidup dari, oleh, dan untuk masyarakat.2

Seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya haruslah memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang yang dipimpinnya. Kita telah mengetahui bahwa kekuasaan dan pengaruh mempunyai arti penting dalam setiap usaha untuk memimpin.3

Salah satu yang menjadi faktor penting kunci keberhasilan suatu madrasah atau sekolah ialah pemimpin madrasah (Kepala Madrasah). Ditangan pemimpin inilah madrasah bisa berhasil, unggul, atau bahkan hancur sekalipun. Oleh karena itu seorang kepala madrasah harus dapat

1

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2

Maghfur, dkk. Islam Transformatif Risalah Kerja Intelektual Organik. (Pekalongan : STAIN Press, 2012). halaman 33

3

Musfirotun Yusuf. Manajemen Pendidikan Sebuah Pengantar. (Pekalongan : STAIN Press, 2012) Cet. 5. halaman 106

(3)

menjalankan kepemimpinannya secara efektif agar bisa mempengaruhi bawahannya. Suatu kepemimpinan dapat dikatakan efektif apabila gaya yang diterapkan dalam kepemimpinannya tersebut tidak hanya berorientasi pada tugas, tetapi juga cara yang digunakan untuk mempengaruhi bawahannya.

Dengan demikian kepala madrasah dalam menjalankan kepemimpinannya harus menghindarkan rasa memaksa dan bertindak terlalu keras sebab hal itu akan mengakibatkan bawahannya merasa tertekan dan tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik. Dalam hubungannya dengan perilaku pemimpin, ada dua hal yang biasanya dilakukan olehnya terhadap bawahan atau pengikutnya yakni : mengarahkan dan perilaku mendukung.4 Sikap mampu mengarahkan, membimbing dan memotivasi akan membuat para bawahan melahirkan kemauan untuk bekerja dengan semangat dan senang hati. Dalam mengambil keputusan hendaknya kepala sekolah bermusyawarah dengan bawahannya agar bawahan merasa dilibatkan, diberi kebebasan dalam berpendapat, sehingga dapat terjalin kerjasama yang baik anatara kepala madrasah dengan para bawahannya.

Kepemimpinan kepala madrasah yang diterapkan juga dapat mempengaruhi aktifitas guru-guru di madrasah. Guru merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembelajaran. Peran guru

4

Miftah Thoha. Kepemimpinan dalam Manajemen. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1995) halaman 64

(4)

memang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Pada masa sekarang ini, dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat anak didik menjadi kritis dalam berfikir, karena mereka tidak hanya memperoleh pelajaran dari guru, melainkan dari media cetak dan media elektronik, khususnya internet. Hal ini siswa menjadi lebih pandai, terampil, dan mengetahui lebih dalam bahan-bahan yang akan dipelajarinya.

Sebagai suatu teladan guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannya adalah figur yang sempurna. Itulah kesan terhadap guru yang dipandang sebagai sosok yang ideal. Sedikit saja guru berbuat yang tidak atau kurang baik akan mengurangi kewibawaannya dan kharisma pun secara perlahan lebur dari jati diri.5

Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudakan keadaan. Menanamkan nilai disiplin merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kinerja seorang guru. Disiplin dalam sikap seorang guru penting sekali diterapkan karena disiplin merupakan kunci terwujudnya suatu tujuan. Tanpa adanya sikap disiplin maka tujuan

5

Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000). halaman 40

(5)

tersebut akan sulit terwujud secara maksimal. Melalui disiplin pula akan timbul keinginan dan kesadaran untuk menaati peraturan organisasi dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Namun, harus tetap ada pengawasan terhadap pelaksaan disiplin tersebut, dalam hal ini seorang kepala madrasah dapat melakukan fungsinnya sebagai pengawasan.

Disadari atau tidak bahwa kepemimpinan seorang kepala madrasah dapat mempengaruhi disiplin kerja guru. Manajemen kepemimpinan kepala madrasah selalu ada kelebihan dan juga kekurangannya. Hal ini juga terjadi di MA Negeri Batang. MA Negeri Batang merupakan lembaga pendidikan formal. Dimana kedisiplinan disini sangat diperhatikan, bukan hanya bagi siswa namun juga bagi para seluruh guru dan karyawan yang ada di dalamnya. Kedisiplinan di MA Negeri Batang sangat baik dalam pandangan masyarakat awam.

Dari uraian diatas, penulis tertarik mengangkat skripsi yang berjudul “Korelasi Kepemimpinan Kepala Madrasah dengan Kedisiplinan Guru di MA Negeri Batang”

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kepemimpinan kepala madrasah di MA Negeri Batang ? 2. Bagaimana kedisiplinan guru di MA Negeri Batang ?

3. Bagaimana korelasi kepemimpinan kepala madrasah dengan kedisiplinan guru di MA Negeri Batang ?

(6)

Agar dalam pelaksanaan dan pembahasan terhindar dari kemungkinan kekeliruan dari judul tersebut. Di bawah ini penulis uraikan pengertian-pengertiannya sebagai berikut.

1. Korelasi, ialah hubungan, antarhubungan, saling berhubungan.6 Hubungan ini terjadi karena adanya sebab dan akibat yang ditimbulkan.

2. Kepemimpinan, adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Pemimipin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas

3. Kepala Madrasah, adalah seseorang yang diberikan tugas untuk memimpin suatu madrasah yang menyelenggarakan proses belajar-mengajar atau tempat terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.

4. Kedisiplinan, adalah tentang perihal menaati tata tertib. Setiap peraturan yang dibuat hendaknya menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

5. Guru, ialah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.

6

Salafudin. Statistika Terapan untuk Penelitian Sosial. (Pekalongan : STAIN Pekalongan Press, 2010). halaman 77

(7)

6. MA Negeri Batang, ialah suatu lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan. MA Negeri Batang berada dibawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Batang.

Maksud judul diatas adalah suatu kajian tentang kepemimpinan kepala madrasah dan kedisiplinan guru.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan :

1. Mengetahui kepemimpinan kepala madrasah di MA Negeri Batang. 2. Mengetahui kedisiplinan guru di MA Negeri Batang.

3. Mengetahui korelasi kepemimpinan kepala madrasah dengan kedisiplinan guru di MA Negeri Batang

D. Kegunaan Hasil Penelitian 1. Secara Teoris

a. Sebagai pedoman bagi kepala madrasah untuk menerapkan kepemimpinannya pada lembaga pendidikan yang dipimpinnya. b. Sebagai masukan bagi guru untuk menyempurnakan disiplin kerja

pada suatu kegiatan pendidikan.

c. Sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya yang relevan. 2. Secara Praktis

a. Sebagai upaya penggunaan sistem kepemimpinan yang baik dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan di MA Negeri Batang.

(8)

b. Sebagai upaya untuk lebih meningkatkan kedisiplinan guru di MA Negeri Batang

E. Tinjauan Pustaka 1. Analisis Toritis

Kepala Madrasah merupakan gabungan dari dua kata yaitu kepala dan madrasah. Kepala dapat diartikan sebagai seorang yang memimpin pada suatu kegiatan organisasi. Sedangkan madrasah atau sekolah ialah sebuah lembaga pemdidikan formal dimana menjadi tempat menerima pelajaran dan memberi pelajaran.

Ada beberapa teori yang terdapat pada buku. Yang bisa peneliti gunakan sebagai pedoman, dalam menyusun skripsi ini. Berikut ini adalah beberapa teori-teori yang berkaitan dengan judul tersebut dari buku-buku dan hasil-hasil penelitian yang bisa didapat.

Menurut Kartono kepemimpinan adalah relasi dan mempengaruhi antara pemimpin dengan yang dipimpin. Kepemimpinan tersebut muncul dan berkembang sebagai hasil dari interaksi otomatis diantara pemimpin dan individu-individu yang dipimpin. Kepemimpinan itu bisa berfungsi atas dasar kekuasaan pemimpin untuk mengajak, mempengaruhi, dan menggerakkan orang lain guna melakukan sesuatu demi pencapaian suatu tujuan tertentu.7

7

Kartini Kartono. Pemimpin dan Kepemimpinan. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005) halaman 6

(9)

Sedangkan menurut Miftah Thoha mengatakan bahwa Kepemimpinan adalah suatu aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka / orang lain tersebut mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.8

Hubungan antara pemimpin dan mereka yang dipimpin bukanlah hubungan satu arah tetapi senantiasa harus terdapat adanya antar hubungan (interaction). Bahwa seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi kelompoknya, karena apabila ia tidak mampu melakukannya maka berarti pemimpin tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang baik.9

Kepala sekolah sebagai manajer harus mampu merencanakan, mengorganisir, melaksanakan, memimpin dan mengandalikan aktifitas seluruh anggota organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Kepala sekolah dan guru hendaknya bekerja sama dalam menjabarkan kurikulum secara rinci dan operasional ke dalam program tahunan, semester atau caturwulan dan bulanan.10

Masih menurut Mulyasa, kepala sekolah harus mampu memainkan perannya sebagai educator, manager, administrator, dan supervisor. Bahkan sekarang ada peran tambahan lagi sesuai dengan

8

Miftah Thoha. Kepemimpinan dalam Manajemen. halaman 262

9

Musfirotun Yusuf. Manajemen Pendidikan Sebuah Pengantar.Cet. 5. halaman 103

10

E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah. (Bandung : Remaja Rosdakarya,2002) halaman 41

(10)

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yakni : sebagai leader, inovator, motivator, figur, dan mediator.11

Hal serupa namun tidak sama juga disampaikan oleh Sudarman Danim, beliau menyatakan bahwa kepala sekolah memimiliki multi peran, yakni : sebagai administrator, manager, leader, chief, motivator, negosiataor, figure, communicator, wakil lembaga dalam urusan eksternal dan fungsi-fungsi lainnya.12

Sebuah organisasi pendidikan juga harus memiliki iklim yang baik dalam berorganisasi. Menurut Veithal Rivai dan Deddy Mulyadi menyatakan bahwa iklim organisasi yaitu serangkaian sifat lingkungan kerja. Pola hubungan yang ada bersumber dari hubungan antara guru dengan guru lainnya, atau mungkin hubungan guru dengan kepala sekolah atau sebaliknya antara kepala sekolah dengan guru.13

Dalam pendekatan teori psikologis terhadap kepemimpinan menyatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah mengembangkan sistem motivasi terbaik. Pemimpin merangsang bawahannya untuk bekerja kearah pancapurna sasaran-sasaran

11

E. Mulyasa. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004) halaman 98

12

Sudarwan Danim. Menjadi Komunitas Pembelajaran. (Jakarta : Bumi Aksara, 2005) halaman 77

13

Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. (Jakarta :Rajawali Pers, 2009) halaman 170

(11)

organisatoris maupun untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi mereka.14

Tugas dan tanggung jawab kepala madrasah memeng sangat berat. Walaupun telah membagi tugas dan tanggung jawab kepada para staf dan bagian lain sebagai sejumlah komponen, kegiatan yang ada di madrasah, ia akan menjadi orang pertama dalam menanggung segala hal tentang kegiatan pendidikan yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena bagaimanapun juga ia memiliki kedudukan struktural tertinggi di madrasah tersebut.

Sebagai pemimpin pendidikan, seorang kepala madrasah harus dapat memimpin suatu madrasah secara efektif, artinya tidak hanya berorientasi pada tugas saja melainkan juga memperhatikan keadaan para bawahannya, yang tentunya juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada pada madrasah tersebut.

Dari sejumlah pernyataan diatas mengenai kepemimpinan dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan usaha menggerakan orang atau kelompok untuk dapat bekerja sama dalam meraih suatu tujuan. Setiap orang atau kelompok diharapkan secara sadar untuk dapat bekerja sama dan menuruti instruksi, serta dapat melaksanakan tugas dan bertanggung jawab atas apa yang telah diamanatkan kepadanya.

14

Winardi. Kepemimpinan dalam Manajemen. (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000) halaman 63

(12)

2. Penelitian Terdahulu

Menurut penelitian yang dilakukan oleh saudari Mukhofifah, mahasiswa STAIN Pekalongan Jurusan Tarbiyah Prodi PAI dengan judul skripsi “ Pengaruh Supervisi Kepala Madrasah terhadap Kinerja Guru pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Bandar Tahun Pelajaran 2007/2008 ”. Kultur dan suasana organisasi di madrasah serta perilaku manajerial Kepala Madrasah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan Madrasah serta kualitas pendidikannya. Adapun hasilnya adalah masuk kategori sedang karena nilai rata-rata adalah 52 sedangkan nilai 52 terletak pada interval 45-53.15

Kemudian menurut salah satu mahasiswa STAIN Pekalongan Fakultas Tarbiyah Prodi PAI, yaitu saudari Fitria Yuliana yang melakukan penelitian untuk skripsi dengan judul “ Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Produktivitas Kerja Guru Studi Kasus di MTs Gondang Wonopringgo”. Dalam penelitian itu disebutkan jika ada korelasi positif yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan produktivitas kerja guru di MTs Gondang Wonopringgo Kabupaten Pekalongan terbukti dengan rata rata angka kualitasnya adalah 24,28. Angka tersebut masuk

15

Mukhofifah. Pengaruh Supervisi Kepala Madrasah terhadap Kinerja Guru pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Bandar Tahun Pelajaran 2007/2008. Skripsi STAIN

(13)

kategori cukup karena nilai yang paling dominan pada interval 23-26 dengan prosentase 68%.16

Adapun menurut Nur Ilaf mahasiswa STAIN Pekalongan Fakultas Tarbiyah Prodi PAI dalam tugas skripsinya yang berjudul “ Pengaruh Kepemimpinan Kepala Madrasah Ibtidaiyah terhadp Kinerja Guru di MI Walisongo Tangkil-Tengah Kedungwuni Pekalongan”. Dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat korelasi yang positif antara kepemimpinan kepala madrasah dengan kinerja guru dengan nilai 0,808 yang terletak pada interval 0,71-0,90. Baik itu pada tingkat 5% ataupun 1% dengan sama-sama menolak Ho dan menerima Ha, yang berarti terdapat korelasi yang signifikan.17 3. Fokus Penelitian

Memang banyak penelitian yang hampir serupa, jika dalam peneltian sebelumnya hanya membahas mengenai supervisi kepala madrasah dalam penelitian ini selain membahas mengenai supervisi namun juga metode yang diterapkan dalam mengelola madrasah. Selain itu banyak dalam penelitian sebelumnya yang hanya membahas sebatas kinerja guru saja, namun dalam ini mencakup lebih besar lagi yaitu mengenai kedisiplinan. Di dalam penelitian ini, peneliti berusaha mencari keterkaitan manajemen kepemimpinan

16

Fitria Yuliana. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Produktivitas Kerja Guru Studi Kasus di MTs Gondang Wonopringgo. Skripsi STAIN Pekalongan.

17

Nur Ilaf. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Madrasah Ibtidaiyah terhadp Kinerja Guru di MI Walisongo Tangkil-Tengah Kedungwuni Pekalongan. Skripsi STAIN Pekalongan.

(14)

dengan kedisiplinan seseorang. Mengingat banyaknya masalah yang teridentifikasi dan supaya pembahasan masalah ini terfokus dan tersusun dengan baik, serta sesuai dengan keterbatasan penulis dalam hal tenaga, waktu dan biaya. Maka penelitian ini terfokus pada “ Korelasi Kepemimpinan Kepala Madrasah dengan Kedisiplinan Guru di MA Negeri Batang.

4. Kerangka Berpikir

Kepala Madrasah sebagai pemimpin Madrasah mempunyai peranan yang penting untuk menggerakkan, membimbing, melindungi, membina, memberi teladan, dorongan, serta bantuan kepada guru, siswa, dan karyawan di madrasah. Peran serta fungsi yang terpentingbagi sekolah adalah menggerakkan segala sumber daya yang terdapat pada suatu madrasah. Sehingga dapat didayagunakan secara maksimal guna mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Guru sebagai subjek pendidikan di sekolah menjadi orang yang berwenang dan yang paling bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik di madrasah ataupun di masyarakat luar, peran yang sangat komplek dan beragam yang dimiliki guru hendaknya harus bisa dioptimalkan. Upaya optimalisasi potensi guru ini salah satunya dengan diterapkannya disiplin kerja guru di madrasah.

(15)

Dalam menjalankan peran dan tugasnya dalam bentuk melaksanakan disiplin kerja, guru dihadapkan pada berbagai macam persoalan yang mengakibatkan naik turunnya tingkat kepatutan dalam disiplin kerja. Beberapa faktor itu antara lain meliputi : kepribadian guru, perilaku atasan, sistem kerja yang berlaku pada ruang lingkup kerjanya.

Disiplin kerja pada sebuah lembaga pendidikan haruslah dilaksanakan dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya agar tercapai tujuan pendidikan yang telah disepakati sebelumnya. Agar disiplin kerja dapat dilaksanakan secara optimal, kepala madrasah harus menerapkan kepemimpinannya dengan penugasan setiap kompetensikepala madrasah yang telah ditetapkan, yaitu kompetensi profesional, kompetensi wawasan kependidikan untuk manajemen, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Dengan semua penugasan diatas, diharapkan kepemimpinan efektif akan tercipta dan pendidikan berkualitas dengan guru yang disiplin kerja, tugas, dan tanggung jawabnya akan menjadi kenyataan.

Dengan demikian dapat dinyatakan jika kepemimpinan kepala madrasah sangat berpengaruh terhadap disiplin kerja guru, semakin bagus dalam kepemimpinan maka semakin bagus bila kedisiplinan guru, begitupun dengan sebaliknya semakin buruk kepemimpinan kepala madrasah maka semakin buruk pula kedisiplinan guru.

(16)

5. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori yang diajukan dan kerangka berfikir diatas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Hipotesis nol (Ho) adalah tidak adanya hubungan antara kepemimpinan kepala madrasah dengan disiplin guru.

b. Hipotesis alternatif (Ha) adalah adanya hubungan antara kepemimpinan kepala madrasah dengan disiplin guru.

Artinya makin efektif kepemimpinan kepala madrasah maka akan semakin tinggi disiplin gurunya.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan penelitian kuantitatif, yaitu penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori danatau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatanempiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.

Adapun variabel yang diteliti adalah manajemen kepemimpinan kepala madrasah yang selanjutnya disebut juga

(17)

dengan variabel X dengan indikator antara lain : educator, manager, administrator, dan supervisor. Sedangkan kedisiplinan guru sebagai variabel Y dengan indikator antara lain : merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, melakukan evaluasi, memperhatikan etika guru, memelihara situasi dan kondisi antar guru. Jenis penelitian yang digunakan di sini adalah penelitian survei yaitu penelitian yang mengembil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data pokok. Pendekatan ini digunakan untuk menguji korelasi kepemimpinan kepala madrasah dengan kedisiplinan guru.

2. Metode Pengumpulan Data a. Observasi

Observasi adalah pengamatan atau peninjauan secara cermat.18 Yang akan diamati adalah situasi dan kondisi MA Negeri Batang khususnya yang berkaitan dengan manajemen kepemimpinan dan kedisiplinan guru di madrasah.

b. Wawancara

Wawancara adalah tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai

18

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta : Balai Pustaka, 2005) Cet. III halaman 794.

(18)

suatu hal.19 Dalam penelitian ini, yang akan diwawancarai antara lain kepala madrasah, dan guru-guru di MA Negeri Batang. c. Angket

Angket digunakan untuk memperoleh informasi mengenai responden seperti laporan tentang pribadinya, tingkah laku maupun perspektif responden. Angket ini berisi daftar beberapa pernyataan dengan jawaban alternatif yang berkenaan dengan kepemimpinan kepala madrasah dengan kedisiplinan guru. Dan angket ini berbentuk tertutup artinya responden hanya dapat memilih jawaban yang telah disediakan sebelumnya oleh penulis dan tidak memungkinkan jawaban-jawaban baru. Dalam penelitaan ini jumlah responden yang diambil sebanyak 30 responden.

d. Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan dan penyimpanan informasi dalam bidang pengetahuan.20 Dalam hal ini adalah dokumen dan data-data yang ada di madrasah yang digunakan sebagai data penunjang penelitian.

3. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mengatur urutan data mengasosiasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian

19

Ibid. halaman 1270 20

(19)

data.21Adapun teknik analisis data yang digunakan penulis antara lain sebagai berikut :

a. Populasi

Populasi adalah wailayah generalisasi yang terdiri atas objek yang akan diteliti yang didefinisikan dengan jelas, dengan karakteristik, dan kuantitas tertentu.22

b. Sampel

Sampel merupakan sebagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki populasi.23 Sampel digunakan karena adanya beberapa kendala, misalnya adanya populasi yang sangat komplek sehingga sulit didefinisikan, kendala dalam pembiayan, waktu serta tenaga.

Untuk mengetahui besar kecilnya hubungan antara dua variabel yang menggunakan koefisien dengan rumus sebagai berikut. Memberikan interpretasi terhadap

r

xy yaitu dalam memberikan interpretasi sederhana terhadap indeks korelasi product moment (

r

xy), pada umumnya menggunakan cara, yaitu sebagai berikut.

rxy =

21

Moeloeng.Metode Penelitian Kualitatif. (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1998). halaman. 103.

22

Salafudin. Statistika Terapan untuk Penelitian Sosial. halaman 11

23

(20)

Keterangan :

rxy = korelasi x = X - Mx y = Y – My

X = data mentah variabel X Y = data mentah variabel Y Mx = rata nilai X

My = rata nilai Y24 G. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran sistematis tentang pembahasan di atas, maka sistematika penulisannya disusun sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, meliputi : Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian dalam penulisan skripsi.

Bab II Kepemimpinan Kepala Madrasah dan Kedisiplinan Guru, meliputi : Kepemimpinan Kepala Madrasah dan Kedisiplinan Guru.

Bab III Kepemimpinan Kepala Madrasah dan Kedisiplinan Guru di MA Negeri Batang, berisi dua sub bab. Bagian pertama berupa Gambaran umum MA yang meliputi Sejarah Berdirinya , Visi, Misi dan Tujuan, Letak Geografis, Struktur Organisasi, Keadaan Guru, Karyawan dan Peserta Didik, serta Sarana dan Prasarana. Bagian kedua berisi data

24

(21)

tentang Kepemimpinan Kepala Madrasah dan data tentang Kedisiplinan Guru.

Bab IV Analisis Hasil Korelasi Kepemimpinan Kepala Madrasah dengan Kedisiplinan Guru di MA Negeri Batang yang berisi Analisis Manajemen Kepemimpinan, Kedisiplinan Guru, serta Korelasi keduanya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :