• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN JERAMI PADI DAN ALANG-ALANG DALAM FERMENTASI ETANOL MENGGUNAKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN JERAMI PADI DAN ALANG-ALANG DALAM FERMENTASI ETANOL MENGGUNAKAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN JERAMI PADI DAN ALANG-ALANG

DALAM FERMENTASI ETANOL MENGGUNAKAN

KAPANG Trichoderma viride DAN KHAMIR Saccharomycess cerevisiae

Iris Mustika Sari, Noverita dan Yulneriwarni Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta

ABSTRAK

Saat ini, etanol banyak digunakan sebagai bahan bakar alternatif, untuk membantu mengatasi krisis energi. Etanol merupakan produk fermentasi dari tumbuhan yang mengandung pati atau lignoselulosa, dengan bantuan aktivitas mikroorganisme. Jerami dan alang-alang sebagai limbah pertanian dan perkebunan yang mengandung polisakarida apakah berpotensi dikembangkan sebagai bahan penghasil etanol ?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jerami padi dan alang-alang sebagai substrat dalam produksi alkohol menggunakan kapang Trichoderma viride dan khamir

Saccharomycess cerevisiae. Parameter yang diamati adalah kemampuan fermentasi

gula oleh kapang T. viride pada substrat jerami padi dan alang-alang, serta kemampuan fermentasi etanol oleh khamir S. cerevisiae dari ekstrak gula alang-alang dan jerami padi selama 0,3,6 dan 9 hari. Berdasarkan hasil analisis, waktu inkubasi pada fermentasi gula hari ke 0, 3, 6 dan 9 berbeda nyata (p < 0.05) terhadap kadar gula yang dihasilkan oleh kapang T. viride. Kadar gula sederhana jerami padi lebih tinggi dibandingkan kadar gula sederhana yang dihasilkan oleh substrat alang-alang. Kadar etanol yang dihasilkan oleh susbstrat jerami padi lebih tinggi dibandingkan dengan substrat alang-alang.

Kata Kunci : jerami, alang-alang, fermentasi, etanol, kapang

PENDAHULUAN

Etanol merupakan senyawa alkohol yang tidak bersifat racun. Etanol dapat diproduksi dari bahan baku tanaman yang mengandung pati atau dari bahan tanaman yang mengandung lignoselulosa, melalui proses fermentasi dengan bantuan mikro-organisme (Amutha dan Gunasekaran, 2001).

Sebagian besar etanol di-manfaatkan sebagai pelarut dalam industri farmasi, pereaksi pada industri kimia dan pengawet contoh-contoh biologik (hewan dan tumbuhan) (Riawan, 1990). Namun pada saat ini, etanol banyak digunakan sebagai bahan bakar alternatif, karena semakin ber-kurangnya cadangan minyak

bumi dan meningkatnya biaya eksplorasi dan eksploitasi bahan bakar, yang menye-babkan industri petrokimia menghadapi kesulitan untuk pengembangan lebih lanjut (Flickinger dan Tsao, 1978).

Produksi etanol banyak dilakukan secara biologi atau melalui teknologi biokonversi yaitu teknologi berupa konversi bahan baku secara enzimatik dan biologik (melalui fermentasi). Bahan baku yang digunakan untuk produksi etanol dapat berupa tebu, gula bit, tapioka, sorgum, meizena, barley, gandum, padi, kentang dan bahan–bahan berlignoselulosa seperti : kayu dan limbah pertanian (Harahap, 2003).

Dewasa ini perkembangan dan kemajuan bidang pertanian dan industri di

(2)

Indonesia, mengakibat-kan meningkatnya limbah pertanian diantaranya jerami padi dan alang-alang. Sebagian besar jerami padi dan alang-alang umumnya dimanfaat-kan sebagai padimanfaat-kan ternak, namun bila ditelaah lebih dalam limbah–limbah tersebut masih terdapat karbohidrat yang dapat dimanfaatkan kembali oleh manusia sebagai bahan baku dalam produksi etanol. Bahan baku tersebut dapat digunakan dalam fermentasi untuk meningkatkan nilai ekonomi dan mengatasi pencemaran lingkungan.

Jerami padi dan alang-alang merupakan limbah pertanian yang mengan-dung polisakarida dalam bentuk selulosa, hemiselulosa, pektin dan lignin (Howard dkk., 2003). Komponen polisakarida tersebut dapat diuraikan melalui proses degradasi atau fermentasi dengan meng-gunakan aktifitas mikroba potensial seperti kapang Trichoderma viride untuk meng-hasilkan gula dan selanjutnya khamir

Saccharomycess cerevisiae untuk produksi

etanol.

Kemampuan kapang T. viride

dalam mendegradasi komponen polisakari-da menjadi gula dibantu dengan enzim-enzim yang dimilikinya seperti : enzim-enzim selulase, dan xilanase. Gula yang dihasilkan oleh kapang T. viride,

selanjutnya diolah lebih lanjut untuk menghasilkan etanol dengan menggunakan aktifitas enzim yang dihasilkan oleh khamir S. cerevisiae. Seperti halnya dengan kapang T. viride, khamir S. cerevisiae sangat berperan dalam industri

fermentasi. Hal ini disebabkan kemam-puannya dalam menghasilkan etanol yang paling komersial saat ini (Narita, 1999).

Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jerami padi dan alang-alang sebagai substrat dalam produksi etanol menggunakan kapang T. viride dan khamir S. cerevisiae.

Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah :

1). Terdapat perbedaan kemampuan kapang Trichoderma viride dalam memfermentasikan jerami padi dan alang-alang menjadi gula.

2). Waktu fermentasi khamir

Saccharo-mycess cerevisiae pada substrat gula

akan mempengaruhi kadar etanol yang dihasilkan

3). Substrat yang berbeda akan mem-pengaruhi kadar etanol yang dihasilkan.

METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika Fakultas Biologi dan Laboratorium Kimia Fakultas Biologi, Laboratorium Terpadu Universitas Nasional, Jl. RM. Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2007 sampai Januari 2008.

B. Bahan dan alat

1. Bahan dan alat

Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah jerami padi dan alang-alang yang diperoleh dari daerah Bogor, kapang Trichoderma viride yang berasal dari Laboraturium Teknologi Pangan FATETA IPB Bogor dan khamir

Saccharomyces cerevisae yang diperoleh

dari Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika Universitas Nasional Jakarta, media PDA, media PDB, Pepton, Pupuk NPK dan ZA, (NH4)2SO4, KH2PO4, Urea,

CaCl2, MgSO4, FeSO4,7H2O, ZnCl2,CoCl2,

NaOCl 1% dan NaOH 15 %, KI 20%, H2SO425%, Na2S2O30,1 N, Zn asetat 21,9

(3)

Peralatan yang digunakan adalah : Blender, Tabung reaksi, labu ukur 250 ml, Botol fermentasi, gelas Erlenmeyer berukuran 100 ml ,250 ml dan 500 ml, jarum Ose, lampu spirtus, kompor, penangas air, pipet ukur, bulb, oven, mikropipet, bilik hitung, kaca objek, mikroskop, gelas ukur 500ml dan 100 ml, autoklaf dan vortex.

C. Cara kerja

1. Persiapan kultur

Kultur yang digunakan adalah T.

viride dan S. cerevisiae yang berasal dari

biakan murni, kemudian diremajakan dengan menginokulasikan ke dalam masing-masing 5 tabung PDA miring yang telah disterilkan. Kemudian dari 5 tabung PDA miring dibagi menjadi : 2 tabung untuk stok dan 3 tabung dijadikan sebagai kultur kerja.

2. Persiapan substrat fermentasi gula Substrat fermentasi yang digunakan yaitu jerami padi dan alang-alang, yang sebelumnya dilakukan delignifikasi ter-lebih dahulu menggunakan NaOCl 1 % selama 5 jam pada suhu 28oC. Selanjutnya dilakukan pencucian dan penyaringan, kemudian substrat jerami padi dan alang-alang dikeringkan pada suhu 50oC selama 48 jam. Setelah itu dilakukan perendaman dalam NaOH 15 % selama 24 jam pada suhu 28oC dan disaring, sehingga dihasilkan ampas dari jerami padi dan alang-alang. Ampas tersebut dicuci dan dikeringkan pada suhu 50oC selama 48 jam, sehingga dihasilkan substrat alang-alang dan jerami padi.

Selanjutnya sebanyak 250 gr substrat alang-alang dan jerami padi tersebut ditambahkan 500 ml buffer sitrat pH 4,8 dan 500 ml nutrien, dimasukkan ke dalam wadah tertutup sebanyak 24 buah. Selanjutnya disterilisasi pada suhu 121oC selama 20 menit.

a. Fermentasi gula

T. viride sebanyak satu ose

digoreskan pada agar PDA miring dan diinkubasi dalam suhu kamar selama 7 hari. Spora biakan jamur T. viride yang sudah berumur 7 hari sebanyak satu agar miring disuspensikan dalam 10 ml akuades steril.

Suspensi konidiospora seba-nyak 10% (v/v) diinokulasi ke dalam substrat fermentasi yang sudah disediakan. Kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 6 hari. Sebelum dilakukan ekstraksi, ditambahkan Tween 80 sebanyak 0,1%. Ekstraksi cairan fermentasi dilakukan dengan jalan memisahkan filtrat dari biomassa menggunakan penyaring dan sentrifus. Filtrat yang dihasilkan kemudian disterilisasi, dipucatkan menggunakan arang aktif 2%, disaring dan dipekatkan hingga diperoleh konsentrasi gula yang diinginkan.

b. Fermentasi etanol

Substrat fermentasi yaitu sirup gula dari jerami padi ataupun alang-alang sebanyak 100 ml dimasukkan dalam botol fermentasi, kemudian ditambahkan pupuk NPK dan ZA masing-masing sebanyak 0,04 g dan 0,15 g, pH cairan substrat diatur 4,8 menggunakan NaOH dan HCl kemudian dipasteurisasi pada suhu 85oC selama 5 menit setelah itu didinginkan hingga 30oC.

Sebanyak 10% volume subs-trat stater khamir Saccharomyces serevisiae yang sudah disiapkan, dimasukkan ke dalam media fermentasi berupa substrat gula dari jerami padi dan alang-alang dalam kondisi anaerob. Fermentasi dilakukan pada suhu kamar selama 0, 3, 6 dan 9 hari. Hasil fermentasi kemudian dianalisa.

(4)

D. Rancangan penelitian dan analisis

data

Rancangan penelitian dalam penelitian ini terbagi atas dua, yaitu pada tahap fermentasi gula oleh T. viride

menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan jenis substrat fermentasi sebagai perlakuan yakni jerami pada dan alang-alang. Atas petimbangan kebutuhan jum-lah sampel dalam fermentasi berikutnya (fermentasi etanol), maka ulangan dilakukan sebanyak 12 kali, sehingga jumlah unit percobaan adalah sebanyak 24 unit. Selanjutnya pada fermentasi etanol diguna-kan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan substrat berupa gula jerami padi dan gula alang-alang sebagai faktor pertama dan waktu inkubasi (lama fermentasi etanol oleh S. cerevisiae)

sebagai faktor kedua yakni hari ke 0, 3, 6 dan 9. Setiap perlakuan dibuat 3 kali ulangan, sehingga jumlah percobaan adalah sebanyak 24 unit.

Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah kadar gula dan kadar etanol.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical

Product and Service Solution) 11.5 for windows. Apabila terdapat perbedaan yang

nyata pada taraf pengujian 5 % (p< 0,05) dilakukan analisis lanjutan dengan LSD (

Least Significant Difference).

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kemampuan fermentasi gula oleh

kapang T. viride pada jerami padi

dan alang-alang

Berdasarkan pada data kadar glukosa dari penelitian pendahuluan, bahwa hari terbaik dalam fermentasi gula yaitu hari ke-6. Oleh karena dilakukan penelitian lanjutan dengan fermentasi gula pada jerami padi dan alang-alang selama 6 hari. Sehingga diperoleh kadar gula rata-rata dari masing-masing substrat yang ditunjukan pada gambar 1.

12 11,39 11 11,1 11,2 11,3 11,4 11,5 11,6 11,7 11,8 11,9 12 12,1

Jerami padi Alang-alang Substrat R a ta -r a ta K a d a r G u la (% ) Jerami padi Alang-alang

Gambar 1. Nilai rata-rata gula (%) jerami padi dan alang-alang dari fermentasi yang dihasilkan kapang T. viride.

(5)

Kadar gula rata-rata yang dihasilkan kapang T. viride pada substrat jerami padi sebesar 12 % lebih besar dibandingkan kadar gula yang dihasilkan dengan meng-gunakan substrat alang-alang sebe-sar 11,39%. Hal ini disebabkan oleh perbedaan komposisi dari penyusun dinding sel yang dimiliki oleh masing-masing substrat; diantaranya : selulosa, hemiselulosa dan lignin. Menurut Jackson (1977) dan Komaryati (1995) jerami padi memiliki kandungan selulosa sebesar 33 %, yang lebih tinggi dibandingkan selulosa alang-alang, yakni sebesar 25,10 %, sedangkan hemiselulosa pada jerami padi sebesar 26 % dan alang-alang sebesar 26,86 %, selain itu jerami padi memiliki kandungan lignin yang lebih rendah yaitu 7 % dibandingkan dengan kandungan lingin alang-alang yaitu 33,4 %.

Kadar gula sederhana yang dihasil-kan pada substrat jerami padi dan alang-alang, juga dipengaruhi oleh jumlah kapang T. viride yang tumbuh dalam

substrat. Kadar gula sederhana yang dihasilkan dari degradasi lignoselulosa pada substrat, akan berbanding lurus dengan jumlah kapang. Jumlah spora kapang pada hari ke-6 pada substrat jerami padi adalah sebanyak 13,09 x 107 sedangkan pada substrat alang-alang adalah sebanyak 10,43 x 107 (tabel lampiran 4). Pertumbuhan kapang dalam substrat jerami padi atau alang-alang, tergantung pada suplai zat gizi, antara lain gula sebagai sumber karbon dan energi. Untuk memenuhi kebutuhan sumber karbon tersebut kapang akan mensintesis enzim yang dapat mendegradasi sumber karbohidrat (lignoselulosa) yang terdapat dalam substrat. Menurut Moore (2003) dan Yudhabuntara (2003) kapang meman-faatkan karbohidrat yang terdapat dalam bahan makanan sebagai sumber energi. Kapang dapat mendegradasi karbohidrat berupa selulosa dan hemiselulosa menggunakan enzim yang dihasilkannya.

Selulosa didegradasi dengan enzim selula-se menghasilkan glukosa, selula-sedangkan hemi-selulosa didegradasi dengan enzim xilanase menghasilkan gula pentosa (xilosa, arabi-nosa), gula heksosa (mannosa, glukosa, galaktosa) dan asam gula (Saha, 2003).

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam terlihat bahwa kadar gula jerami padi yang dihasilkan dari fermentasi gula dengan menggunakan kapang T. viride berbeda nyata (p < 0.05) dengan alang-alang (Tabel lampiran 5). Hal ini menunjukkan bahwa jerami padi mem-punyai potensi lebih baik sebagai substrat dalam fermentasi gula oleh kapang T.

viride, dibandingkan dengan menggunakan

alang-alang sebagai substrat.

B.

Kemampuan

fermentasi

etanol

oleh khamir S. cerevisiae dari

ekstrak

gula

alang-alang

dan

jerami padi

Kadar etanol jerami padi yang dihasilkan selama fermentasi oleh khamir

S. cerevisiae pada hari ke 0, 3, 6 dan 9

adalah sebesar 0 %; 0,77%; 0,64 %; 0,37 %, sedangkan pada alang-alang adalah sebesar 0 %; 0,73 %; 0,64 %; 0,55% (Gambar 2). Pada grafik terlihat bahwa kadar etanol tertinggi terjadi pada hari ke-3 sebesar 0,77% pada substrat jerami padi dan 0,73 % pada substrat alang-alang. Hal ini terjadi karena pada hari tersebut, khamir mengalami peningkatan jumlah sel sebesar 16,10x107 pada substrat jerami padi dan 17,46x107 pada alang-alang. Peningkatan jumlah sel khamir diikuti pening-katan enzim yang dihasilkan untuk merombak gula menjadi etanol (Mulyono, 1991). Katabolisme glukosa menjadi etanol oleh khamir, merupakan suatu upaya untuk mendapatkan energi yang diperlu-kan dalam pertumbuhan. Adams (1985) menyatakan bahwa jumlah etanol yang dihasilkan tergantung pada banyaknya gula

(6)

0 0,773 0,643 0,373 0 0,73 0,64 0,55 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 0 3 6 9

Waktu Inkubasi (hari)

K a d a r A lk o h o l (% ) Jerami padi Alang-alang

Gambar 2. Nilai rata-rata kadar etanol (%) jerami padi dan alang-alang selama fermentasi.

Penurunan kadar etanol terjadi pada hari ke 6 dan ke 9 dari subtrat jerami padi dan alang-alang. Hal ini terjadi karena etanol dikonversi oleh khamir menjadi suatu senyawa seperti ester, sehingga mengakibatkan penurunan kadar etanol dalam substrat jerami padi dan alang-alang.

Kadar etanol yang diperoleh cendrung bernilai rendah. Hal ini terjadi karena khamir tidak dapat memfermentasi gula xilosa dan arabinosa menjadi etanol (Saha, 2003). Sehingga tidak semua gula yang terdapat pada jerami padi dikonversi oleh khamir menjadi etanol. Musapahaji (2007) menyata-kan gula-gula yang dapat didegra-dasi oleh khamir berupa glukosa, fruktosa dan sukrosa. Selain itu, sebagian gula juga digunakan sebagai nutrien untuk pertumbuhan khamir. Menurut Berry (1983) dalam Deker (1989) menyatakan bahwa hampir 40% bahan kering dari khamir dapat menyimpan cadangan karbohidrat di dalam sel. Cadangan gula tersebut digunakan oleh khamir untuk melakukan budding, sehingga khamir meng-alami peningkatan sel.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa etanol yang dihasilkan khamir pada substrat jerami padi dalam

fermentasi tidak berbeda nyata (p > 0.05) dengan etanol yang dihasilkan pada substrat alang-alang. Hal ini berarti, jerami padi memiliki potensi yang sama baiknya dengan alang-alang sebagai substrat dalam fermentasi etanol. Sedangkan waktu inkubasi mem-berikan pengaruh yang berbeda nyata (p < 0.05) terhadap kadar etanol yang dihasilkan oleh khamir (tabel lampiran 12). Hasil lanjut dengan uji LSD waktu inkubasi pada hari ke 3 berbeda nyata (p < 0.05) dengan hari ke 6 dan 9, sehingga hari ke 3 merupakan hari yang terbaik untuk produksi etanol

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Etanol dapat dihasilkan dari jerami padi dan alang-alang melalui proses fermentasi secara bertahap (tahap 1 fermentasi gula dengan menggunakan kapang T. viride dan tahap 2 fermentasi etanol dengan menggunakan khamir S.

cerevisiae).

2. Lama inkubasi terbaik untuk fermentasi gula sederhana oleh T. viride pada

(7)

penelitian ini adalah pada hari ke 6. Sedangkan lama inkubasi terbaik untuk fermentasi etanol oleh S. cerevisiae adalah pada hari ke 3.

3. Kadar gula sederhana yang dihasilkan secara fermentasi oleh kapang T. viride lebih tinggi pada substrat jerami padi yaitu sebesar 12% dibandingkan dari alang-alang yaitu sebesar 11,39 %. 4. Jerami padi dan alang-alang memiliki

potensi yang sama sebagai substrat dalam fermentasi etanol. Kadar etanol tertinggi yang dihasilkan secara fermentasi oleh khamir S. cerevisiae pada jerami padi adalah sebesar 0,77% dan alang-alang sebesar 0,73%.

B. Saran

Untuk meningkatkan efisien-si konversi jerami padi dan alang-alang menjadi etanol, perlu dilakukan penelitian untuk hidrolisis substrat secara enzimatik menggunakan enzim selulase dan xilanase yang dihasilkan oleh kapang T. viride, supaya gula sederhana yang dihasilkan lebih terakumulasi. Dengan semakin tinggi kadar gula yang dapat difermentasi oleh S.

cerevisiae maka akan semakin tinggi juga

kadar etanol yang dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adams MR. The Small Scale Production of Vinegar From Bananas. Tropical Products Institut. London.1985.

Amutha R, Gunasekaran P. Production of Ethanol from Liquefield Cassava Starch Using Co – Immobilized Cells of

Zymomonas mobilis and Sacharomyces diastaticus. Department of Microbial

Technology, School of Biological Sciences, Madurai Kamaraj University, Madurai 625 021, India. 2001.

Deker M. Fermentation Process Development of Industrial Organism. Cetus Corporation Emeryville. New York.1995.

Flickinger, Tsao MC dan GT Tsao. Fermentation Substrate From Cellulosic Material. In Annual Reports on Fermentation Process volume 2. Acedemic Press : New York. 1978. Harahap H. Produksi Etanol. Karya Ilmiah.

Fakultas Teknik Sumate-ra Utara. 2003.

http://library.- usu.ac.id/download/ft/tkimia-hamidah.pdf.

Howard RL, Abotsi E, Jansen van Rensburg EL and Howard S.: Lignocellulose biotechnology: issues of bioconversion and enzyme production. African Journal of Biotechnology Vol. 2 (12), pp. 602-619, 2003 Http://www.academicjournals.org/AJB Jackson JMG. The Alkali Treament of

Straws Animal Feed Science Tecnology 2:105-130.1977.

Komaryati. Pemanfaatan Alang-Alang (Imperata cylindrical Beauv) Sebagai Penghasil Gas Bio. Puslitbang Bioteknologi. Bogor. 1995

Moore E. Fundamentals of Fungi. Prentice-Hall Inc. New York University. 1972. Mulyono M. Hidrokarbon di dalam

Lingkungan Perairan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi. Lemigas. Jakarta. 1991 Musapahaji M. Mengganti BBM dengan

Bioetanol. Suara Merdeka . Jakarta. 2007

Narita V. Saccharomyces cerevisiae Super jamur yang memiliki sejarah luar biasa.

(8)

Pusat Peng-kajian dan Penerapan Teknologi Farmasi dan Medica. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).2005.

Riawan S, Kimia Organik. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta. 1990.

Saha BC. Hemicellulose Bioconver-sion. LJ Ind Microbiol Biotechnol . 2003. 30 : 279-291.

Yudhabuntara. Pegendalian mikro-organisme dalam bahan makan-an asal hewan. Bina Produksi Peternakan. Departemen Pertani-an. Cisarua. Bogor. 2003

Gambar

Gambar 1. Nilai rata-rata gula (%) jerami padi dan alang-alang dari fermentasi yang dihasilkan kapang T
Gambar 2. Nilai rata-rata kadar etanol (%) jerami padi dan alang-alang selama fermentasi .

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa etanol dapat dihasilkan dari limbah kulit jeruk bali melalui proses hidrolisis menggunakan enzim selulase, fermentasi dengan yeast

ai material sub padi merupaka ai material su an crude enzim an Enterobacte tan enzim baik nt jerami padi sil pretreatmen idrolisat jeram da temperatur er yang digun d hidrolisis

Dalam skripsi ini penulis mengambil judul “PENGARUH KONSENTRASI RAGI TERHADAP KADAR ETANOL HASIL FERMENTASI JERAMI PADI (Oryza sativa) SEBAGAI BAHAN

Hasil percobaan menunjukkan bahwa substrat jerami dapat digunakan untuk memproduksi enzim selulase oleh Aspergillus niger dengan kadar protein (enzim) tertinggi

Produksi enzim selulase dengan substrat jerami oleh Aspergillus niger dengan sistem fermentasi padat... Filtrat hasil fermentasi yang

Kerja enzim akan mempengaruhi jumlah etanol yang terbentuk, karena gula-gula sederhana seperti glukosa dan xilosa hasil hidrolisis enzimatik oleh enzim selulase, selobiose dan

Hal ini disebabkan trichokompos jerami padi dengan pemberian berbagai stater Trichoderma sp memiliki enzim selulase yang mampu mendekomposisi bahan organik jerami padi

Untuk mendapatkan kadar ethanol yang terbaik pada jerami Padi dengan menggunakan proses Hidrolisis dan fermentasi. Mengetahui proses pembuatan bioethanol dari jerami Padi