KARYA PUJANGGA JAWA
MAKALAHDisusun untuk memenuhi tugas mata kuliah: Islam dan Kebudayaan Jawa
Dosen pengampu: Maftukhah, M.S.I
Disusun Oleh :
Nur Laila Dwi Hastuti (123811057)
Nurikha Agustina (123811059)
Nur Rodhiyah (123811058)
Kiki Rizqi Emelia (123811060)
Siti Nur Khumairoh (123811062)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
KARYA PUJANGGA JAWA
I. PENDAHULUAN
Sebelum mengguraikan karya pujangga Jawa perlu diketahui terlebih dahulu istilah dan makna dari pujangga itu. Karya pujangga berasal dari bahasa sansekerta; Bujangga. Di dalam buku Sangskrit Diktiory Oxford A.A. Macdonell terbitan tahun 1954 dinyatakan bahwa pujangga, 1.ular dan 2.Rohaniwan.1Sedangkan menurut H.H.
Juynbelldalam Oud Javansche Woorden Lijts terbitan Leiden 1923 tertulis; Bujangga berarti Cendikiawan dan Rohaniawan.
Pujangga menurut gagra lawas (model lama), dilambangkan dengan seekor ular. Maksudnya memiliki penggetahuan yang tajam, mengguasai lika-liku segala masalah, dan yang dikatakan pasti mandi (benar dan menjadi kenyataan), seperti ganasnya bisa ular. Dalam Serat Babat Pujangga Dalem, pujangga digambarkan sebagai nujum istana. Yakni seorang pendeta, sekaligus sastrawan yang ilmuanya mumpuni (tinggi dan benar). Ia berperan sebagai penasehat raja dalam hal-hal kerohanian dan kebatinan, disamping juga sebagai penulis sastra.2
Sedangkan dalam Serat Wiwid Hidayat Jati disebutkan syarat dan kriteria seorang guru yang nota bene juga sebagai seorang pujangga, sebagai berikut:
1. Para Sastra, artinya mahir dalam hal sastra.
2. Paramakawi, artinya menguasai bahasa kawi (kesusasteraan). 3. Mardibasa, artinya pandai mengolah kata-kata atau bahasa.
4. Mardiwalagu, artinya dapat menguasai dan memperintah irama lagu. 5. Hawicarita, artinya kaya dan mahir bercerita.
6. Mandraguna, artinya kaya akan segala ilmu dan kepandaian baik lahir maupun batin.
7. Nawungkridha, artinya tajam penglihatan mata batinya. 8. Sambegena, memiliki daya ingatan yang kuat.
1 Anjar Any, Raden Ngabehi Ranggawarsito, Apa yang Terjadi?, Aneka Ilmu, Semarang, 1990, hlm 106. 2 Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ronggowarsito, UI Press, Jakarta, hlm 49.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Biografi Ronggowarsito? B. Apa Saja Karya Ronggowarsito? C. Apa Saja Ramalan Ronggowarsito?
D. Bagaimana Makna dari Ramalan Zaman Edan Ronggowarsito?
III. PEMBAHASAN
A. Biografi Ranggawarsita
1) Jejak kehidupan Ranggawarsita
Raden Ngabehi (R.Ng.) Ranggawarsita dilahirkan pada hari senin legi jam 12 siang, tanggal 10 Dzulkaidah tahun 1728 atau tanggal 15 Maret 1802 M di kampung Yasadipuran Surakarta.3
Dia adalah putera sulung Mas Pajangswara yang berpangkat Jajar yang kemudian naik menjadi Carik (juru tulis) dengan gelar R.Ng. Ranggawarsita II, di Kadipaten Anom Surakarta. Mas Pajangswara sendiri sangat terkenal dengan suaranya yang merdu, merupakan putra sulung R.T. Sastranagara, abdi ndalem Bupati Kadipaten Anom yang juga sebagai pujangga Surakarta Hadiningrat. Ibunya bernma Mas Ajeng Ranggawarsita (sebuah nama yang dinisbatkan kepada nama suaminya, R.Ng. Ranggawarsita II). Ibunya adalah putri R.Ng. Sudiradirja Gantang yang mahir dalam bidang seni terutama sekar Macapat cengkok lagu Palaran – sebuah cengkok lagu macapat yang dinisbatkan dari desa kelahirannya di desa Palar, Trucuk, Klaten. R.Ng. Ranggawarsita yang berasal dari keluarga besar Yasadipurn, berarti ia memang merupakan keturunan dari garis pujangga, baik dari ayah maupun ibunya. Hal ini terungkap bahwa:
1. Eyang buyutnya adalah Raden Tumenggung Yasadipura I, yang mengarang banyak buku. Antara lain: Babad Gianti, Serat Rama, Serat Baratayudha, Serat Menak, Serat Panitisastra, dll.
2. Eyang (kakaknya) adalah Raden Sastranegara yang waktu masih berpangkat Penewu, bernama Ranggawarsita 1. Ia mengarang buku Sasana Sunu, Dasanama Jarwa, Wicara Keras, dll.
3. Dari pihak ibunya, ia merupakan keturunan ke 8 dari R.T. Sujanapura, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Karanggayam, yang merupakan pujangga Keraton Pajang, yang mengarang kitab Nitisruti.4
R.Ng. Ranggawarsita adalah seorang abdi yang setia pada raja dan keraton Surakarta. Sewaktu masih bernama R.Ng. sarantaka, ia pernah bertugas sebagai prajurit danberjaga-jaga di daerah nusupan. Dan disitulah ia bertemu dengan sepupunya yang berjuang di pihak pangeran diponegara, yang muaranya berpengaru terhadap garis hidup, nasib dan prjuangannya.
Sepanjang hayatnya, Ranggawarsita mengabdi kepada 6 raja, yaitu:5 1. Pakubuwono IV (1788 – 1802 M) 2. Pakubuwono V (1802 – 1823 M) 3. Pakubuwono VI (1823 – 1830 M) 4. Pakubuwono VII (1830 – 1858 M) 5. Pakubuwono VIII (1858 – 1862 M) 6. Pakubuwono IX (1862 – 1893 M)
Pada 19 November 1811, Bagus burham (Ronggowarsita) dikawinkan dengan RA. Gombak, puteri Cakraningrat, Bupati Kediri. Acara perkawinannya dilangsungkan di kediaman Pangeran Buminata. Dari perkawinannya, ia mempunyai 3 orang puteri dan 3 orang putra, yaitu: R.A. sudinah, R.A sujinah, R.M. Ranukusuma, R.M Sembada (lebih dahulu meninggal), R.M. Sutana, dan Rara Mumpuni.
4 Kamajaya, Lima Karya Pujangga Ranggawarsita, Depdikbud,Jakarta,1980, hlm 14. 5 Ranggawarsita, Serat Paramayoga, (Yogyakarta: Yayasan Centini, 1992), hlm 221
Pada 1852, istrinya meninggal dan kawin lagi dengan putri R.M. Jayeng Marjaya, namun perkawinannya tidak dikaruniai anak. Demikian dengan istri-istri yang lain, yaitu Mas Ajeng Puja Dewata dan Mas Ajeng Mara Dewata. Ketiga istrinya masih hidup ketika sang pujangga wafat (24 Desember 1873M) dan jasadnya dikebumikan di desa Palar, Trucuk, Klaten, Jawa tengah (tempat kelahiran ibunya).
Pada waktu pakubuwono IX, yaitu pada akhir tahun 1873, ranggawarsita wafat. Adapun jenjang kepangkatannya (jabatannya) yang pernah dilalui Ranggawarsita, yaitu:
1. Pada tahun 1819, ia menjadi carik (juru tulis) di Kadipaten Anom, dengan gelar Mas panjanganom.
2. Pada tahun 1822, dinaikkan menjadi mantri carik dengan gelar Mas Ngabehi Surataka.
3. Pada tahun 1830, menggantikan jabatan ayahandanya sebagai carik Kliwon dengan gelar Raden Ngabehi Ronggowarsita.
4. Pada tahun1845, sesudah kakeknya (Yasadipura I) wafat, ia dinobatkan sebagai pujangga istana, namun jenjeng kepangkatannya tetap sebagai Kliwon carik, suatu jabatan istana yang selapis dibawah tumenggung.
2) Latar Belakang Pendidikan
a. Belajar di Pondok Pesantren Ponorogo
mengenai pendidikan Bagus Burhan, G.W.J. Drewes menyatakan sebagai Adapun berikut:
Berjudi, maksiat adalah merupakan kebiasaan pada waktu itu, pada usia muda ia dikirim ke suatu pesantren yang diasuh oleh Kasan Besari, seorang kyai yang ternama di Ponorogo.6
Menjelang umur 12 tahun (1813 M) Bagus Burhan dikirim ke pondok pesantren Gebang Timatar Ponorogo untuk mengkaji ilmu al-qur’an dan belajar agama islam. Pesantren itu dipimpin oleh Kyai Imam Besari, menantu Sri Paduka Pakubuwana 4 dan teman seperguruan R.T. Sastranegara.
b. Mengembara untuk berguru.
Setelah berguru 4 tahun dan karena sudah dianggap cukup dalam menerima pelajaran dari kyai Imam Besari di pondok Gebang Tinatar, Ponorogo maka dalam usaha memperluas ilmunya, ia suka mengembara ke berbagai daerah untuk berguru.
Sepulang dari pengembaraannya ia dididik oleh RT Sasatranegara sendiri tentang berbagai ilmu sastra dan setelah dikhitankan pada hari Rabu, 12 Jumadil Akhir 1742 atau 21 Mei 1815 M ia diserahkan pada Gusti Panembahan Buminata untuk berguru, mencari pendidikan dan pengajaran dalam bidang ilmu Jayakawijayan (kepandaian menolak perbuatan jahat), kadigdayan (kekebalan), dan kanuragan (kesaktian).
B. Karya Ranggawarsita
Ranggawarsita dikenal atau mendapat gelar pujangga, maka tidak mustahil apabila ia memiliki sifat-sifat kepujanggaan. Ia juga telah mengarang banyak buku tentang berbagai masalah. Karena sebagai pujangga tugas pokoknya adalah menyusun karya-karya sastra. Ada 3 orang pujangga istana yang amat berjasa dalam perkembangan kesusasteraan jawa baru yaitu Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita.
Selama 47 tahun berkarya, sejak 1826 hingga 1873 M, hasil karya Ranggawarsita tidak kurang dari 80 judul buku, meliputi falsafah, kebatinan, lakon-lakon wayang, cerita panji, dongeng, babad, sastra, kesusilaan, adat istiadat, pendidikan, ramalan, dan sebagainya.
Diatara karyanya yang paling terkenal hingga sekarang adalah:
1) Pustaka purwa, memuat cerita sajak para dewa hingga lakon-lakon wayang seperti yang pokok-pokoknya dalam Mahabarata.
2) Kalatidha, yang terkenal dengan gambaran zaman edan.
3) Jaka Lodhang, berisi ramalan akan datangnya zaman baik (kemerdekaan Indonesia).
4) Sabdatama, ramalan tentang sifat zaman makmur dan tingkah laku manusia yang loba dan tamak.
5) Sabdajati, berisi ramalan zaman hingga Sang pujangga meninggal dunia. Kitab ini dipercayai orang sebagai karangan Ranggawarsita yang terakhir. 6) Cemporet, cerita roman sejarah yang bahasanya amat indah.
7) Hidayat Jati, ilmu kesempurnaan.
Buku-buku karangan Ranggawarsita yang bermacam-macam itu dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Karya/karangan Ranggawarsita yang ditulis oleh beliau sendiri, meliputi: 1) Babad Iteh
2) Babon Serat Pustakaraja Purwa 3) Serat Hidayat Jati
4) Serat Mardawa Lagu 5) Serat Paramasastra
6) Purwakane Serat Pakuwon 7) Rerepan Sekar Tengahan 8) Sejarah para Sawuli 9) Serat Iber-iber
10) Uran-uran sekar gambuh warna pitu 11) Widyapradana
b. Karya/karangan Ranggawarsita yang ditulis oleh orang lain, meliputi: 1) Ajidarma-Aji Nirmala, ditulis R.Ng. Surakartika
2) Budayana, yang menurun R.Ng. Martaprada 3) Cemporet, diterbitkan oleh Albert Rusche 4) Jaka Lodhang, yang menurun Tan Khoen Swie 5) Paramayoga, diterbitkan oleh Kolff Sunning 6) Wedharaga, diterbitkan oleh Radya pustaka, dll.
c. Karya/karangan Ranggawarsito yang ditulis bersama orang lain, meliputi: 1) Kawi-Javanesche Woordenboek, bersama dengan C.F. Winter (1928) 2) Serat saloka kaliyan Paribasan, bersama dengan C.F. Winter
3) Serat Saridin, bersama dengan C.F. Winter (1858) 4) Serat Sidin, bersama dengan C.F. Winter (1882)
d. Karya/karangan Ranggawarsita yang diubah lagi oleh orang lain:
Atas perintah dari Sri Mangkunegara IV, buku karya Ranggawarsita diubah lagi menjadi Pakem Pustakaraja Purwa untuk pedalangan Wayang Purwa, Wayang Madya, Wayang Gedeg, dan Wayang Klitik.
e. Karya/karangan Ranggawarsita yang diubah bentuknya oleh orang lain, meliputi:
1) Jaman Cacat, diambil dari Supanalaya dan diberikan tambahan uraian oleh Wiryapanitra
2) Paramayoga, digubah dari bentuk prosa menjadi bentuk tembang (puisi) oleh pangeran Harya Sastraningrat
f. Karya/karangan orang lain yang disalin oleh Ranggawarsita meliputi: 1) Serat Bratayuda, asli dari Yasadipura I
2) Serat Jayabaya, asli dari Yasadipura I 3) Serat Panitisastra, asli dari Yasadipura
g. Karangan orang lain yang dilakukan sebagai karangan Ranggawarsita adalah Kalatidha Piningit.7
Ciri-ciri karya ronggowarsito dalam karya sastra Ranggawarsito yang memang terkenal indah, berirama serta menggairahkan memiliki cirri-ciri khas yang membedakannya dengan hasil karya sastra yang sejaman pada masa itu, yakni:
a. Purwakanthi
Yakni akhiran kata atau kalimat yang bersambung dengan awalan kata atau kalimat berikutnya. Dengan model ini muaranya dapat menjalin irama yang mengasyikkan. Misalnya kata mijil menjadi mijile, asmaradhana menjadi laransmara, dll.
Penggunaan Purwakanthi contohnya:
Rasaning tyas sanityas titis/mardi mardawaning basa/ ngayawara puwarane. (Panji Jayengkilam). Kerup kareping ngaurip/ Riptane si Jayengbaya.
b. Sandiasma
Adalah nama pengarang yang disamarkan atau dirahasiakan dalam berbagai sisipan dalam kalimat atau gatra (bait). Sang pujangga adalah perintis dalam hal ini, hampir setiap karyanya tntu diselipkan namanya tetapi tidak begitu kentara. Sebab sering diletakkan pada suku kata awal atau akhir dalam suatu kalimat, juga sering disembunyikan pada pemutusan (pedotan) irama, ada juga yang asal yang menempatkan.
c. Candra Sengkala
Adalah angka tahun yang dijelmakan dalam kalmat-kalimat yang sesuai dengan persoalan-persoalan atau masalah dan tujuan yang sedang dihadapi atau sedang menjadi tema dari karangannya.
Contoh: Nir Sad esthining urip atau tahun 1860 jawa (Jaka Lodhang). d. Gancaran atau Jarwa
Adalah sebuah prosa berirama yang susunannya sangat indah, bergairah dan mengasyikkan nuansa puitiknya. Contohnya sebagaimana yang termaktub dalam Serat pustaka Raja Purwa.
e. Menjalin nasehat yang bermutu
Karyanya selalu menjalin nasehat yang bermutu dalam setiap cerita uraiannya. Contoh, seperti dalam serat Aji pamasa.
C. Ramalan Ranggawarsita
Menurut pendapat-pendapat para ahli Ramalan Ranggawarsita adalah sebagai berikut: Jaka Lodang, Kalatidha, Sabdatama, Sabdajati, Sabda pranawa, dan sekar Kalut. Namun yang dimaksudkan Sekar Kalut tidak lain adalah bubuka (pendahuuan) Dari Serat Jako Lodang yang berupa dua pada (bait) geguritan (sajak).8Sedangkan Sabda Pranawa hampir sama isinya dengan Serat Sabdatama. Perbedaanya hanya terletak pada tembang yang digunakan. Sabdatama dengan tembang gambuh, sedangkan Serat Sabda Pranawa dengan tembang dandanggula. Sehingga yang
sering disebut-sebut sebagai serat-serat Jangka (ramalan) Ranggawarsito adalah:
Jaka Lodang, Kalatidha, Sabdatama, dan Sabdhajati.9
1. Serat Joko Lodhang
Serat joko Lodang ditulis oleh ronggowarsito menggunakan bahasa puisi dalam bentuk bentuk tiga macam pupuh tembang, Sinom, dan pupuh tembang Megatruh.
Serat Jaka Lodang dimulai dengan bubuka( pendahuluan) berupa dua bait geguritan, masing-masing bait terdiri dari lima gatra (bagian). Pendahuluan ini ada yang menyebut sebagai Serat tersendiri. Kata-kata dan kalimat pendahuluan tersebut, berdasarkan susunan dan arti harfiahnya dapat disimpulkan sebagai perlambangan, berupa kata-kata bersayap yang menyelubungi suatu maksud tertentu.
Bubuka Serat Joko Lodang ini mengandung sandi asma, mulai dari garis kedelapan (awal kalimat) kebawah “Ranggawarsita basa kedhaton” dan suku kata terakhir dari asma kebawah “ Basa kedhaton Ranggowarsira”.
Rongeh jleg tumiba Gagaran Santosa Wartane meh teka Sikara karodha Tatage tan kathon Barang-barang ngerong Saguh tanpa raga Katali kawawar Dhandal amekasi
9 Anjar Any,1990, Rahasia Ramalan jayabaya, Ronggowarsito dan Sabdo Palon, Aneka Ilmu Semarang,
Thondha murang tata
Adanya ramalan dalam Serat Jaka Lodhang dapat dilihat pada (1) Pupuh tembang Gambuh, bait: Sinar tata esthining wong, diramalkan segala kehendak dan cita-cita tidak akan terlaksana bahkan malapetaka semakin bertambah; (2) Pupuh tembang Sinom, bait 3: Nir sad esthing urip, diramalkan sebagai puncak kerepotan hidup; (3) Pupuh tembang Megatruh, bait 1: Wiku sapta ngesthi ratu, diramalkan datangnya keadilan tuhan berupa kemerdekaan indonesia. Ramalannya sebagai berikut:
Gambuh
a) Joko Lodhang gumandul
Praptaning ngethengkrang sru muwus Eling- eling pasthikarsaning Hyang Widi Gunung mendhak jurang mbrenjul Ingusir praja prang kasor
b) Nanging away kliru
Sumurupa kanda kang tinamtu
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti Maksih katon tabetipun
Beda lawan jurang gesong c) Nadyan bisa mbarenjul
Tanpa tawing enggal jugrugipun Kalakone karsaning hyang wus pinasti Yen ngidak sangkalanipun
Sirna tata estining wong Sinom
a. Sasedyane tanpa dadya Sacipta-cipta tan polih Kang reraton-raton rantas Mrih luhur asor pinanggih
Bebendu gung nekani Kongas ing kanistanipun Wong agung ning gungira Sudireng wirang jreh lalis
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira b. Wong alim-alim pulasan
Njaba putih njero kuning Ngulama mangsah maksiat Madat madon minum main Kaji-kaji ambataning
Dulban kethu putih mamprung Wadon nir wadorina
Prabaweng salaka rukmi
Kabeh-kabeh mung marono tingalira c. Para sudagar ingargya
Jroning jaman keneng sarik Marmane saisiningrat Sangsarane saya mencit Nir sad estining urip Iku ta sengkalanipun Pantoging nandang sudra Yen wus tobat tanpa mosik
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma Megatruh
a. Mbok parawan sangga wang duhkiteng kalbu Joko Lodhang nabda malih
Nanging ana marmanipun Ing waca kang wus pinesti Estinen murih kelakon
Neng sajroning madya akir Wiku sapta ngesti ratu Adil parimarmeng dasih Ing kono kersaning mawon
c. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk Malenuk samargi-margi
Marmane bungah kang nemu Marga jroning kethuk isi Kencana sesotya ambyor. 2. Serat Kalatidha.
Dalam Serat Kalathida tidak terdapat ciri atau tanda-tanda kapan kitab ini ditulis. Serat kalathida yang ditulis dengan tembang sinom 12 bait adalah karangan ronggowarsito pada tahun 1976 jawa, dijaman Sri Pakubuwono VII. Ciri yang terdapat dalam Serat Klathida berupa keadaan waktu sang pujangga menulis serat itu. Pada bait 8, baris 7,”wis tuwa arep apa”, dan pada bait 11, baris 7,” mangkya sampun awredha” sekarang sudah tua. Kedua serat itu menjelaskan bahwa ronggowarsito sudah tua.
Serat Kalathida diklasifikasikan sebagai Serat Jangka karena didalamnya disebut-sebut Zaman Edan. Zaman Edan itu tidak tidak hanya dialami ronggowarsito, tetapi bersifat universal, berlaku sepanjang masa. Alasan lain ada kata-kata pada bait ke-2,”beda–beda ardane wong sanegara”.
3. Serat Sabdatama.
Serat Sabdatama ditulis dalam bentuk tembang Gambuh terdiri atas 22 bait. Dalam serat ini terdapat sandiasma pada permulaan setiap bait. Semua permulaan bait ke-1 sampai ke-22 berturut-turut bunyinya sebagai berikut: Ra Den Nga Be I Rong Ga War Si Ta Ing Ke Dhung Kol Su Ra Kar Ta Ha Di Ning Rat.
Serat Sabdatama ditulis Ranggawarsito setelah beliau menulis Serat Kalathida. Serat Sabdatama mengandung titik persamaan dengan serat Kalathida.
Ada beberapa kata-kata/kalimat dalam serat Klathida yang diulang lagi dalam Serat Sabdatama.Serat Sabdatama bernafas pesimis terhadap situasi sosial politik dan kemasyarakatan pada ketika itu sepertiyang tercamtum dalam kathalida.
Adanya ramlan dalan Serat Sabdatama, dapat dilihat pada bait 15 yang meramalkan berakhirnya penderitaan ditanah air indonesia. Dalam bait itu bait itu digambarkan bahwa zaman Kalabendhu akan berakhir pada zaman Keemasan (Kalasuba), yaitu jika kelak ada wewe putih bersenjatakan tebu wulung yang akan menghancurkan wedhon. Perlambangan itu diartikan sebagai para pemuda yang berhati suci dengan bersenjatakan Bambu Runcing berjuang melawan penjajah. 4. Serat Sabdajati
Serat Sabdajati ditulis oleh Ronggowarsito pada hari Rabu Pon tanggal 28 Syawal tahun Jimakir 1802. Dengan sengkalan sembah (2) muksawa (0) pujangga (8) ji (1) atau bertepatan tahun Masehi 1873 M. Serat Sabdajati berisi tiga persoalan, pertama, berisi petuah atau petunjuk kepada anak cucu termasuk pada pembacanya, kedua, berisi tentang ramalan yang akan datang, dan ketiga berisi tentang ramalan terhadap diri Ranggawarsito yang akan meninggal delapan hari lagi setelah menulis karyanya itu.
Serat Sabdajati terdiri dari 19 bait pupuh tembang Megatruh. Dalam bait ke-1 tersisiplah sandiasma “Ranggawarsito”, dan pada tiap suku kata pada permukaan bait baris ke-1 sampai ke-4 pada bait kesatu tersebut Ronggowarsito memberitahukan bahwa bangsa Indonesia akan Merdeka, hamardika.
Ha-wha pegat ngudiyo rong-ing budyayu Mar-ga-ne suka basuki
Di-men lu-war kang kinayun Ka-lis ing panggawa si-sip Ingkang ta-beri prihatos.
Adanya ramalan dalam Serat Sabdajati terlihat pada bait 14; Wiku memuji ngesthi sawiji 1877=1945 berupa habisnya zaman sengsara (Kalabendu) menjadi zaman keemasan (kalasuba) dimana rakyat kecil dapat tertawa, tidak kekurangan
sandang pangan, dan dapat terlaksana apa yang diinginkan adalah ramalan sebuah idealitas tentang kemerdekaan yang dibayangkan R.Ng. Ronggowarsito.
Dalam serat Sabdajati bait 16,17 dan 18 terdapat pada ramalan tentang akan datang kematiannya. Dalam bait-bait itu ranggawarsito meramalkan dengan menggunakan petunjuk waktu yang jelas tentang saat kematiaanya yang kurang 8 hari lagi.10
D. Makna Ramlan Zaman Edan
Serat kalatidha adalah karya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang berisikan tentang jaman edan. Jaman edan sebenarnya merupakan siklus sejarah yang akan selalu berulang setiap periode tertentu. Setiap babakan sejarah, ada yang namanya jaman keemasan atau kertayuga, dan jaman kesengsaraan atau kalatidha. Untuk lebih lanjut tentang jaman edan akan disajikan dalam isi serat kalatidha berikut ini :
Serat Kalatidha Sinom
Amenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Milu edan nora tahan Yen tan milu anglakoni Boya kaduman melik Kaliren wekasanipun Ndilalah karsa Allah Begja-begjaning kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.
Dalam kehidupan sehari-hari, Ronggowarsito terpaksa menyesuaikan diri. Bergaul dan berkawan dengan tokoh-tokoh pemerintah dan sarjana Belanda. Namun cetusan batinnya, tidak menyukai tindak tanduk pemerintah colonial Belanda. Ronggowarsito menamai jaman yang sedang dialami itu sebagai jaman edan. Daalam serat sabda jati jaman yang serba sulit atau jaman edan, disebut jaman pakewuh atau kalabendu. Hal ini diterangkan sebagai berikut :
Orang-orang dalam jaman pakewuh (edan), kerendahan budinya makin menjadi. Jadi, kekacauan bertambah, banyak orang berhati sesat (buruk), melanggar peraturan yang benar, kesetiaan sudah tiada terlihat.
Bagi orang yang tahu akan kebenaran, dalam hati terasa ewuh (bingung), apabila tidak turut berbuat sesat, hidupnya akan menjadi merana, kalau ikut menjadi rendah budi pakertinya. Tindakan seperti itu, berarti tak percaya akan kemurahan dan kekuasaan Tuhan yang menciptakan segala-galanya. Apabila memohon dengan bersungguh hati pasti mendapat anugerah dari kemurahan Tuhan.
Tuhan mengabulkan semua permohonan, apabila di sertai kesungguhan, Allah pasti membeli pertolongan, tidak akan kekurangan makan serta pakaian. Segala yang diinginkan akan terlaksana.
Ungkapan diatas mensifati segolongan orang atau pemimpin, yang mengambil kesempatan dalam jaman edan, yang mengabdi hawa nafsunya. Di samping itu juga memberi pelajaran, untuk menyadarkan masyarakat agar berpegang teguh dengan takdir dan kemurahan Tuhan. Bahwa percaya dengan takdir dan Maha Pemurah Tuhan, merupakan pegangan dalam jaman gelap untuk mengatasi godaan jaman edan. Betapapun untungnya orang yang berbuat sesat dan lupa daratan, masih lebih bahagia orang-orang yang selalu ingat dan hati-hati.
Di samping itu ungkapan tersebut mencerminkan sikap hidup dan kepribadian Ronggowarsito. Jiwa yang sabar dan tabah, berpegang teguh pada kejujuran dan
kepercayaan akan kemurahan Tuhan, dalam menghadapi berbagai kesulitan dan godaan. Menurut pandangan Ronggowarsito, jaman edan atau kalatidha, akan diikuti oleh jaman keemasan. Yakni suatu jaman yang disebut kalasuba.
Berakhirnya jaman edan, besok kalau sudah ada pendeta, selalu berdoa kepeda Tuhan yang Esa, berikat pinggang dari tanah laksana orang gila, berjalan kian-kemari dengan telunjuk menghitung semua orang.
Masa itu berakhirnya kalabendu (jaman kena murka Tuhan ). Berganti dengan kalasumba (jaman keemasan), rakyat jelata dapat tertawa girang, tiada kekurangan makanan pakaian, semua keinginan mereka tercapai.
Dalam serat Jakalodhang jaman keemasan dilukiskan sebagai berikut:
Ciri waktu pada jaman itu, yakni pada pertengahan, dengan cirri tahun; wiku sapta ngesti ratu itulah masa keadilan dan kemakmuran yang merata, demikian kehendak Tuhan.
Waktu itu orang-orang sedang mengantuk, sambil duduk saja mendapat kethuk (benda). Kethuk itu terdapat di sepanjang jalan-jalan. orang yang mendapat riang-gembira, lantaran di dalamnya berisi emas permata yang bergemerlapan.
Jaman keemasan diramalkan akan bermula pada tahun 1945. Dengan ramalan-ramalan seperti tersebut di atas Ronggowarsito merupakan pujangga yang amat di kagumi masyarakat luas. Karena ramalan seperti itu, merupakan hiburan yang menimbulkan harapan indah bagi masyarakat Jawa yang telah mengalami penderitaan dan kemelaratan.
Khalayak membedakan dua paket karya susastra budaya, itu tampaknya karena tulisan-tulisan Ranggawarsita terasa pas-seirama-senafas dengan ciri-ciri dan perlambangan jaman edan dalam Ramalan Jayabaya. Ciri dan perlambangan jaman edan dalam ramalan Jayabaya ialah kekacau-balauan yang total-luas-mendalam. Alam dihajar kelainan. Sikon obyektif manusiawi dan kehidupan sarat dengan penyimpangan disegala sektor.
Di sektor alam misalnya, terjadi banyak gempa bumi, gunung meletus, banjir, hujan dan topan, matahari marah, pantai berubah letak, sawah ladang meranggas dan lain sebagainya. Yang mengerikan dalam jaman edan ialah penyimpangan dalam
kehidupan. Penyimpangan ini kompleks tapi berpangkal pada tiga hal ialah artati atau uang, nistana atau kemelaratan, dan jutya alias kriminalitas.
Menyangkut kemelaratan dalam arti luas, maka jaman di tandai bukan hanya kemelaratan materiil tapi juga etika moral spiritual. Maling berkhotbah menjadi nafas sehari-hari. Jaman edan di tandai meluasnya kejahatan saat maling, kecu, garong, perampok, pembunuh, pemerkosa, penipu, penyiksa, pembohong, koruptor, manipulator dan sejenisnya merajalela.
Kerunyaman sektor tersebut saling bersangkut paut dan melahirkan bendhu alias marah, yang lanjutnya jadi ciri-ciri pokok jaman edan alias kalabendhu. Cirinya mayoritas orang marah-marah, Banyak konfli, Angkara murka jadi raja, orang sibuk demi kepentingan sendiri, berderma satu juta sambil mencuri satu triliun, Segala cara di halalkan., jaman edan lebih menyangkut sirkuit kelas atas, Isu pokok jaman edan ialah mental korup sebagai sumber kekacauan menyangkut artasi-nistana-jutya yang ujungnya ialah kerusakan tanpa norma yang mengerikan.
Uraian di atas sekedar deskripsi jaman edan yang merupakan ramalan Ronggowarsito. Ramalan Ronggowarsito seringkali terhubung dengan ramalan Jayabaya. Ramalan Jayabaya terdiri dalam kitab asrar, jayabaya kidung, jayabaya prabitiwakya, kidung musarar, jayabaya pranitiradya, jangka ratu galuh kidung, jayabaya pancaniti, kidung lambing Negara dan masih banyak lagi.
Ramalan Jayabaya merangkum waktu 2100 rembulan, terbagi dalam jaman besar alias kali ialah swara, yoga, dan sangara. Tiap kali berlangsung 700 tahun dan dibagi atas tujuh jaman kecil alias kali, masing-masing 100 tahun. Seluruhnya berlangsung antara tahun rembulan 0-2100 alias tahun 78-2163.
Termasuk jaman besar pertama kali swara ialah kala kukila, badha, brawa, tirta, rwabara, rwabawa dank ala purwa. Jaman besar kedua kali Yoga ialah kal brata, dwara, dwapara, praniti, tetaka, wisesa, dan kala wiyasa. Jaman besar terakhir kali sengsara terdiri atas jaman-jaman kecil kala jangga, sakti, jaya, bendhu alias jaman edan, suba, sumbaga dan kala surata. 11
IV. ANALISIS
Berbicara mengenai karya pujangga Jawa, karya-karya Ranggawarsita telah membumi dikalangan masyarakat Jawa sejak dulu. Sampai saat ini, karya-karyanya pun masih populer di kalangan masyarakat terutama dalam karya sastra dan ramalan Zaman Edannya. Masyarakat memberikan penghargaan atas karya besarnya dengan membangun sebuah museum yang diberi nama “Ranggawarsita” di Semarang.
Ramalan Ranggawarsita kebanyakan tepat sesuai dengan kenyataan,berisi nasehat-nasehat yang baik dalam kehidupan, kematiannya pun diramalkannya sendiri ini membuat karya-karyanya semakin melambung dan digemari masyarakat dan pujangga lainnya. Karena latar belakang hidupnya juga berasal dari keluarga para pujangga dan memiliki sifat agamis yang tinggi, Beliau sangat mahir dalam membuat sastra-sastranya.
V. KESIMPULAN
Ramalan ronggowarsito pada hakekatnya berupa ajaran-ajaran,khotbah-khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan, baik yang berupa tulisan ataupun yang tertulis. Dari kesemuanya itu memberi identifikasi bagaimana manusia harus hidup, bertindak mengidentifikasikan dan merepresantisasikan dirinya agar ia dapat menjadi manusia yang baik. Atau setidaknya mendekati identitas dalam kehidupanya. Karena bagaimanapun, sebuah ajaran biasanya memberikan pandangan tentang suatu masalah yang dianggab buruk ataupun baik.
Ramlan Ranggowarsito bersifat”informatif” dan tidak jarang juga sebagai perlambangan. Sifat informatif ini maksudnya memberitahukan tentang alam,sebagaimana yang tertuang dalam ramalan Ronggowarsito.
Berdasarkan kriteria atau persyaratan menjadi pujangga maupun arti dari makna pujangga itu sendiri dapat disimpulkan bahwa R.Ng. Ranggowarsito memang sepantasnya mendapatkan gelar pujangga. Bukan hanya karena ia diangkat oleh raja, tetapi juga ternyata ia memenuhi syarat-syarat kepunjagaan.
Demikian pembahasan makalah dari kami, untuk menyempurnakan tulisan ini maka saran dan kritik sangat kami harapkan. Semoga materi ini bermanfaat bagi kita semua dalam rangka menambah ilmu islam dan budaya jawadan dapat kita aplikasikan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Any Anjar, Raden Ngabehi Ranggawarsito, Apa yang Terjadi?, Aneka Ilmu, Semarang, 1990. Dr Purwadi, Sosiologi Mistik R.NG Ronggowarsito.(Jogjakarta:Persada)2003
Kamajaya, Lima Karya Pujangga Ranggawarsita, Depdikbud,Jakarta,1980 Mulyanto R.I., Biografi Ranggawarsita, (Jakarta: Dept. P dan K,1990). Ranggawarsita, Serat Paramayoga, (Yogyakarta: Yayasan Centini, 1992). Simuh, Mistik Islam Kejawen R. Ng Ronggowarsita, (Jakarta: UI Press, 1988).