BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Manajemen
Secara umum manajemen adalah mengelola atau mengatur. Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber – sumber lainnya secara proses efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Drs.Malayu Hasibuan : 2007). Sedangkan menurut Rivai (2005) berpendapat bahwa manajemen sebagai kumpulan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya mengelola sumber daya manusia.
2.1.1 Fungsi – Fungsi Manajemen
Pekerjaan yang dilakukan oleh para manajer mereka mengelola perusahaan dapat dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok tugas yang memiliki tujuan yang disebut sebagai fungsi manajemen. Menurut Drs.Malayu Hasibuan (2007) mengutip pendapat Kootz dan Weihrich (1993) bahwa fungsi manajemen dikelompokkan ke dalam lima fungsi antara lain :
a. Perencanaan (Planning)
Merupakan suatu proses mengembangkan tujuan-tujuan perusahaan serta memilih serangkaian tindakan (strategi) untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut. Perencanaan mencakup menetapkan tujuan, memilih arah tindakan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, merumuskan berbagai aktivitas yang diperlukan untuk menterjemahkan rencana menjadi tindakan dan melakukan perencanaan ulang untuk mengoreksi berbagai kekurangan dalam perencanaan terdahulu.
b. Pengorganisasian (Organizing)
Merupakan suatu proses di mana karyawan dan pekerjaannya saling dihubungkan untuk mencapai tujuan perusahaan. Pengorganisasian mencakup pembagian kerja, pengkoordinasian diantara kelompok dan individu serta penetapan wewenang manajerial.
c. Pengisian Staf (Staffing)
Merupakan suatu proses untuk memastikan bahwa karyawan yang kompeten dapat dipilih, dikembangkan dan diberi imbalan untk mencapai tujuan perusahaan. Penyusunan staf serta manajemen sumber daya yang efektif mencakup pula penciptaan iklim kerja yang memuaskan karyawan. d. Memimpin (Leading)
Merupakan suatu proses memotivasi individu atau kelompok dalam suatu aktivitas hubungan kerja agar mereka dapat bekerja dengan sukarela dan harmonis dalam mencapai tujuan perusahaan.
e. Pengendalian (Controlling)
Merupakan suatu proses untuk memastikan adanya kinerja yang efisien dalam pencapaian tujuan perusahaan. Pengendalian mencakup : menetapkan berbagai tujuan dan standar, membandingkan kinerja sesungguhnya (yang diukur) dengan tujuan dan standar yang telah ditetapkan, serta mendorong keberhasilan dan mengoreksi berbagai kelemahan.
2.2 Manajer dan Kepemimpinan
Secara umum manajer berarti orang yang mempunyai tanggung jawab atas bawahan dan sumber daya organisasi lainnya. Manajer adalah seorang yang bertindak sebagai seorang perencana, pengorganisasian, pengarah, pemotivasi, serta pengendali orang dan mekanisme kerja untuk mencapai tujuan. Sedangkan kepemimpinan adalah sikap dan perilaku untuk mempengaruhi para bawahan agar mereka mampu bekerja sama sehingga dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien.
2.2.1 Tingkatan Manajemen
Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi manajer menjadi tiga golongan yang berbeda yaitu :
1. Manajer Lini Pertama
Disebut juga manajer garis, merupakan tingkatan paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga – tenaga
operasional. Para manajer ini sering disebut kepala atau pimpinan, mandor, dan penyelia.
2. Manajer Menengah
Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan – kegiatan para manajer lainnya dan kadang juga karyawan operasional. Disebut manajer departemen, kepala pengawas, dan sebagainya.
3. Manajer puncak
Merupakan klasifikasi manajer tertinggi yang terdiri dari sekelompok kecil eksekutif yang bertanggung jawab atas keseluruhan manajemen organisasi. Sebutan khas bagi manajer puncak adalah direktur, kepala divisi, dan sebagainya.
2.2.2 Kegiatan Manajer
Dalam praktek manajemen sering dijumpai para manajer professional mengalami kesulitan untuk memahami hubungan antara apa yang disebut fungsi-fungsi manajerial dengan apa yang dikerjakan.
Tugas-tugas penting seorang manajer adalah sebagai berikut : Manajer bekerja dengan dan melalui orang lain
Manajer harus berfikir secara analisis dan konseptual Manajer adalah seorang mediator
Manajer adalah seorang diplomat
Kegiatan – kegiatan yang dilakukan manajer adalah sebagai berikut : 1. Kegiatan pribadi, yaitu peranan antar pribadi, pengembangan pribadi,
pengaturan waktu, keterlibatan dengan dirinya sendiri.
2. Kegiatan teknis, yaitu pekerjaan dengan pelaksanaan, pemecahan masalah teknis, pelaksanaan fungsi-fungsi teknis.
3. Kegiatan administratif, berupa penyiapan kertas kerja, penyiapan administratif anggaran.
4. Kegiatan interaksional, peranan informasional.
2.2.3 Keterampilan dan Peran Manajer
Manajer memegang kendali yang amat penting salam mewujudkan efektivitas organisasi. Seberapa jauh organisasi mencapai tujuannya dan memenuhi kebutuhan masyarakat, sangat tergantung pada baik tidaknya manajer organisasi yang bersangkutan mengoperasikan pekerjaannya. Siswanto (2009) mengemukakan pendapat Peter F.Drucker (1976) bahwa prestasi seorang manajer dapat diukur berdasarkan dua konsep, yaitu efisiensi dan efektivitas. Efisiensi berarti menjalankan pekerjaan dengan benar, sedangkan efektivitas berarti menjalankan pekerjaan yang benar serta memilih sasaran yang tepat.
Ismail (2009) mengemukakan pendapat Paul Hersey dan Kenneth H.Balachard (1980:67) bahwa terdapat tiga bidang keterampilan yang penting untuk melaksanakan proses manajemen bagi seorang manajer antara lain : a. Keterampilan teknis
Yaitu kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, metode, prosedur, teknik, dan akal yang diperlukan untuk melaksanakan tugas spesifik yang diperoleh melalui pengalaman, pendidikan, dan pelatihan. b. Keterampilan manusiawi
Yaitu keterampilan dan pertimbangan yang diusahakan bersama orang lain, termasuk pemahaman mengenai motivasi dan aplikasi tentang kepemimpinan yang efektif. Manajer cukup memiliki keterampilan hubungan manusiawi agar dapat bekerja dengan para bawahan dalam organisasi dan mengelola kelompokknya sendiri.
c. Keterampilan konseptual
Yaitu keterampilan memahami kompleksitas keseluruhan
organisasi tempat seseorang beradaptasi dalam operasi. Manajer memerlukan keterampilan konseptual yang cukup untuk mengenali bagaiamana berbagai macam faktor pada suatu kondisi tertentu berkaitan satu sama lain.
2.3 Manajemen Sumber Daya Manusia
Keberhasilan suatu organisasi baik besar maupun kecil bukan semata-mata ditentukan oleh sumber daya alam yang tersedia, akan tetapi banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang berperan merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan organisasi.
2.3.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efesien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat (Drs.Malayu S.P.Hasibuan : 2007).
Menurut Edwin B.Flippo definisi dari manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemberhentian karyawan dengan maksud terwujudnya tujuan perusahaan, individu, karyawan, dan masyarakat.
2.3.2 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Drs.Malayu S.P.Hasibuan (2007 : 21) terdapat 11 fungsi manajemen sumber daya manusia antara lain :
a. Perencanaan
Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan dilakukan dengan menetapkan program
kepegawaian. Program pegawaian meliputi pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan, dan pemberhentian karyawan.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang, dan koordinasi dalam bagan organisasi.
c. Pengarahan
Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan agar mau bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Pengarahan dilakukan pimpinan dengan menugaskan bawahan agar mengerjakan semua tugasnya dengan baik.
d. Pengendalian
Pengendalian adalah kegiatan mengendalikan semua karyawan agar mentaati peraturan – peraturan perusahaan dan bekerja sesuai dengan rencana. Pengendalian karyawan meliputi kehadiran, kedisplinan, perilaku, kerja sama, pelakasanaan pekerjaan, dan menjaga situasi lingkungan pekerjaan.
Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
f. Pengembangan
Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan. g. Kompensasi
Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung, uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan.
h. Pengintegrasian
Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi dan saling menguntungkan.
i. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan agar mereka tetap mau bekerja sama sampai pensiun.
j. Kedisplinan
Kedisplinan merupakan fungsi MSDM yang terpenting dan kunci terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit terwujud tujuan yang maksimal.
k. Pemberhentian
Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu perusahaan.
2.4 Kepemimpinan
Pada dasarnya kepemimpinan merupakan salah satu fungsi manajemen yang strategis, karena kepemimpinan dapat menggerakkan, memberdayakan, dan mengarahkan sumber daya secara efektif dan efisien kearah pencapaian tujuan. 2.4.1 Pengertian Kepemimpinan
Soekarso, dkk ( 2010 : 15 ) mengungkapkan berbagai pendapat para ahli mendefinisikan pengertian kepemimpinan antara lain :
1. Ordway Tead (1935) kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan.
2. Menurut Gary Yukl kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju tentang apa yang perlu dikerjakan dan bagaimana tugas itu dapat dilakukan secara efektif, dan proses memfasilitasi usaha individu dan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
3. Menurut John C. Maxwell (1967) pemimpin adalah pengaruh. Kepemimpinan adalah suatu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lain.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat dikemukakan pengertian kepemimpinan adalah proses pengaruh sosial dalam hubungan interpersonal, penetapan keputusan, dan pencapaian tujuan. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi perilaku orang lain ke arah pencapaian tujuan.
2.4.2 Peranan Kepemimpinan
Kepemimpinan mempunyai peran sentral dalam dinamika kehidupan organisasi. Peranan kepemimpinan ditekankan kepada deretan tugas-tugas apa yang perlu dilakukan dalam hubungannya dengan bawahan. Keberhasilan organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat bergantung pada peranan kepemimpinan. Peranan seorang pemimpin akan lebih khusus dari pada peranan seorang manajer, karena peranan seorang pemimpin pada dasarnya merupakan penjabaran serangkaian fungsi kepemimpinan.
Adapun fungsi kepemimpinan menurut Kartono (2006) adalah : a. Memprakasai struktur organisasi
b. Menjaga adanya koordinasi dan integritas organisasi
c. Merumuskan tujuan organisasi dan menentukan sarana serta cara – cara yang efisiensi untuk mencapai tujuan
d. Menengahi konflik – konflik yang muncul dan mengadakan evaluasi.
e. Mengadakan revisi, perubahan, pengembangan dan penyempurnaan dalam organisasi
2.4.3 Tipe-tipe Kepemimpinan
Menurut Kartini Kartono (2006:80) terdapat beberapa gaya/tipe kepemimpinan yang mempengaruhi kepemimpinan setiap pemimpin, antara lain :
1. Tipe Kharismatik
Pemimpin yang memiliki kekuatan energi daya tarik dan berwibawa yang luar biasa yang dapat mempengaruhi orang lain serta memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. 2. Tipe Paternalistik
Pemimpin yang kebapakan dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut :
a. Bersikap terlalu melindungi (over protective).
b. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri, mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka.
3. Tipe Militeristis
Pemimpin yang mempunyai sifat kemiliter-militeran dan gaya ini mirip dengan gaya kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifatnya diantaranya :
a. Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando. b. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
c. Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya d. Tidak menghendaki saran, usul dan kritikan dari bawahannya. e. Komunikasi hanya berlangsung searah saja.
4. Tipe Otokratis
Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan dari pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak dan harus dipatuhi. Pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal pada one man one show dan berambisi sekali untuk merajai situasi. Setiap perintah dan kebijakan yang diterapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahanya. Anak buah tidak pernah diberikan informasi mendetail mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Sikap dan prinsip-prinsipnya sangat konservatif dan ketat-kaku.
5. Tipe Laissez Faire
Pada gaya kepemimpinan ini semua pekerjaan dan tanggung jawabnya diserahkan kepada bawahannya dan kepemimpinannya hanyalah sebuah symbol dan biasanya tidak memiliki kemampuan teknis untuk memimpin.
6. Tipe Populatis
Kepemimpinan populatis ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisional.
7. Tipe administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan ini mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpin dapat membangun sistem administrasi dan birokrasi yang efesien untuk memerintah.
8. Tipe Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efesien kepada para pengikutnya. Gejala pelaksanaan gaya kepemimpinan ini antara lain :
- Otoritas sepenuhnya dilegasikan ke bawahannya sesuai tugas dan kewajiban.
- Mengutamakan kesejahteraan dan kelancaran kerja sama dengan bawahannya.
- Bawahan diikutsertakan dalam penentuan sikap, pembuatan rencana, dan keputusan penerapan disiplin kerja.
2.5 Gaya Kepemimpinan
Perilaku gaya kepemimpinan merupakan cara-cara berinteraksi seorang pemimpin dalam melakukan kegiatan pekerjaannya. Gaya bersikap dan gaya bertindak akan nampak dari cara-cara pemimpin tersebut pada saat melakukan pekerjaan, antara lain: cara memberikan perintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara memecahkan masalah, cara membuat keputusan, dan sebagainya.
Menurut Prof.Dr.Veithzal Rivai, M.B.A (2009 : 42) gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai.
2.5.1 Jenis-jenis gaya kepemimpinan
Menurut Ishak Arep dan Hendri Tanjung ( 2002 ) dalam pelaksanaan Manajemen Sumber Daya Manusia pada umummnya menggunakan tiga gaya kepemimpinan antara lain :
a. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Adalah suatu gaya kepemimpinan yang menitikberatkan kepada kemampuan menciptakan moral dan kemampuan menciptakan kepercayaan.
b. Gaya Kepemimpinan Diktator
Adalah suatu gaya kepemimpinan yang menitikberatkan pada kesanggupan memaksakan keinginannya yang mampu mengumpulkan pengikutnya untuk kepentingan pribadinya.
c. Gaya Kepemimpinan Paternalistik
Adalah bentuk antara gaya demokratis dan gaya dictator. Pada dasarnya kehendak pemimpin juga harus berlaku, namun dengan jalan atau melalui unsur – unsur demokratis.
Sedangkan Miftah Thoha (2009 : 66 ) mengemukakan empat gaya dasar kepemimpinan dalam proses pembuatan keputusan antara lain :
Gambar 2.1
Empat Gaya Dasar Kepemimpinan Partisipasi G3 Konsultasi G2 Delegasi G4 Intruksi G1
a. Partisipasi
Merupakan perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan rendah dukungan (G1) karena gaya ini dicirikan dengan komunikasi satu arah. Pemimpin memberikan batasan pengikutnya dan
memberitahu mereka tentang apa, bagaimana, dan di mana melaksanakan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin.
b. Konsultasi
Merupakan perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan tinggi dukungan (G2), karena dalam menggunakan gaya ini, pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih membuat hampir sama dengan keputusan, tetapi hal ini diikuti dengan meningkatkan komunikasi dua arah dan perilaku mendukung, dengan berusaha mendengar perasaan pengikut tentang keputusan yang dibuat, serta ide-ide dan saran-saran mereka. Meskipun dukungan ditingkatkan, pengendalian (control) atas pengambilan keputusan tetap pada pemimpin.
c. Partisipasi
Merupakan perilaku pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan (G3), karena posisi control atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Dengan menggunakan gaya ini, pemimpin dan pengikut saling tukar-menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Komunikasi dua arah
ditingkatkan, dan peranan pemimpin adalah secara aktif mendengar. Tanggung jawab pemecahan masalah dan pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak pengikut.
d. Delegasi
Merupakan perilaku pemimpin yang rendah dukungan dan rendah pengarahan (G4), karena pemimpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan dan proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan. Pemimpin memberikan kesempatan secara luas bagi bawahan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab
Menurut Soekarso, dkk (2010 : 45) dalam teori kepemimpinan terdapat dua jenis gaya kepemimpinan yang utama, yaitu ;
a. Gaya berorientasi pada tugas
Merupakan gaya pemimpin yang memusatkan perhatiannya pada tugas yaitu penetapan dan menstruktur tugas. Dalam hal ini termasuk pembagian kerja, penjadwalan, sistem prosedur, petunjuk pelaksanaan yang kesemuanya mencakup penekanan aspek teknis atau penyelesaian tugas pekerjaan.
b. Gaya berorientasi pada orang
Merupakan gaya pemimpin yang memusatkan perhatiannya pada orang yaitu hubungan antar pribadi. Dalam hal ini mencakup saling
percaya, menghargai gagasan bawahan, membangun kerja sama, peka terhadap kebutuhan dan kesejahteraan bawahan.
Sedangkan menurut Malayu Hasibuan (2007: 205 ), gaya kepemimpinan menjadi tiga antara lain :
a. Kepemimpinan Otoriter
Yaitu jika seorang pemimpin menganut sistem sentralisasi wewenang. Falsafah pemimpin bawahan adalah untuk pemimpin (atasan) dan menganggap dirinya paling berkuasa, paling pintar, dan mampu. Pengarahan bawahan dilakukan secara intruksi atau perintah.
b. Kepemimpinan Partisipatif
Yaitu jika seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas dan partisipasi bawahannya. Falsafah pimpinan, pimpinan adalah untuk bawahan, dan bawahan diminta untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dengan memberikan informasi, saran-saran dan pertimbangan.
c. Kepemimpinan Delegatif
Yaitu jika seorang pemimpin mendelegasikan wewenang kepada bawahannya. Sepenuhnya diserahkan kepada bawahannya, sehingga bawahan tersebut dapat mengambil keputusan dan kebijakan dengan leluasa.
Selain pengertian gaya kepemimpinan di atas masih ada pendapat lain tentang gaya kepemimpinan, antara lain menurut Hersey dan Blanchard (2006) yaitu :
a. Gaya kepemimpinan otoriter yaitu gaya kepemimpinan yang sangat memaksakan kehendak, cita dan kekuasaannya pada bawahannya.
b. Gaya kepemimpinan Demokratis yaitu kesadaran bahwa pemimpin mengatur manusia yang berderajat sama, maka ia tetap menghormati dan memperhitungkan pendapat dan saran bawahannya.
c. Gaya kepemimpinan Paternalistik yaitu pemimpin yang menganggap bawahannya sebagai anak yang belum dewasa, dan mungkin tidak mampu menjadi dewasa. Akibatnya sikapnya selalu kebapakan untuk mengatur, mengambil prakarsa, dan melaksanakannya menurut paham sendiri.
2.6 Kinerja
Definisi kinerja menurut A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2005) bahwa “ Kinerja karyawan (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya “. Dan A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2005) mengutip pendapat Faustino Cardosa Gomes (1995 : 195) mengemukakan definisi kinerja karyawan sebagai : “ Ungkapan seperti output, efesiensi serta efektivitas sering dihubungkan dengan produktivitas “.
Indikator kinerja Menurut Wirawan ( 2009 : 59 ) antara lain : a. Pengetahuan tentang pekerjaan
b. Kemampuan merencanakan dan mengatur pekerjaan c. Kemampuan menganalisis
d. Kemampuan memutuskan e. Kepribadian
f. Kepemimpinan g. Rasa tanggung jawab h. Produktivitas i. Mutu pekerjaan j. Kreativitas k. Kemampuan berkomunikasi l. Disiplin m. Kerja sama n. Kualitas pekerjaan
2.7 Hubungan antara Kepemimpinan dan Kinerja
Keberhasilan suatu organisasi baik sebagai keseluruhan maupun berbagai kelompok dalam suatu organisasi tertentu, sangat tergantung pada mutu kepemimpinan yang terdapat dalam suatu organisasi memainkan peranan yang sangat dominan dalam keberhasilan organisasi tersebut dalam menyelenggarakan berbagai kegiatannya terutama terlihat dalam kinerja para pegawainya.
2.8 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang mempunyai peran terpenting dalam suatu organisasi. Suatu perusahaan didirikan karena adanya tujuan tertentu yang telah ditetapkan bersama. Tujuan tersebut harus dicapai dengan efektivitas dan efesiensi yang maksimal.maka untuk mencapai tujuan organisasi, maka pimpinan tidak dapat mengabaikan karyawan dan situasi lingkungan kerjanya. “ Kepemimpinan efektif dalam hampir setiap situasi menghasilak prestasi dan tingkat absensi dan perputaran yang rendah serta kinerja karyawan yang tinggi.” ( Handoko : 2006). Kepemimpinan itu adalah usaha suatu program pada saat terjadinya interaksi melalui komunikasi dengan gaya tertentu yang memotivasi seseorang atau kelompok dengan pengaruh yang tidak memaksa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan kinerja karyawan merupakan hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Kepemimpinan itu ditentukan dengan gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh pemimpin itu sendiri, jika gaya kepemimpinan yang diberikan baik dan dapat memberikan arahan kepada bawahan dengan baik, maka kinerja karyawan akan meningkat sesuai dengan gaya kepemimpinan yang diberikan. Sehingga hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga terdapat
pengaruh gaya kepemimpinan manajer terhadap kinerja karyawan PT.VektordayaMekatrika.