Cina di Masa Mao Zedong (I)
Pada tanggal 1 Oktober 1949 Republik Rakyat Cina (RRC) secara resmi berdiri dengan ibukota nasionalnya di Beijing. "Bangsa Cina telah merdeka!" teriak Mao ketika is mengumumkan pembentukan sebuah `kediktatoran demokratik rakyat'. Rakyat dimaknai sebagai sebuah koalisi dan empat kelas sosial: pekerja, petani, borjuis kecil, dan kapitalis nasional. Empat kelas ini akan dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC) sebagai garda depan kelas pekerja. Pada saat itu PKC mengklaim telah memiliki 4,5 juta anggota, yang 90%-nya berasal dari kaum petani. Partai dipimpin oleh Mao Zedong dan pemerintahan dikepalai oleh Zhou Enlai (1898-1976) sebagai perdana Menteri Dewan Negara.
Untuk kali yang pertama dalam waktu berpuluh-puluh tahun, pemerintahan Cina dapat menciptakan keadaan vang relatif stabil - tanpa perlu khawatir pada oposisi militer - dalam wilayah kekuasaannya. Kepemimpinan yang Baru sangat disiplin dan, akibat pengalaman pahit perang yang lama, berkehendak untuk memulai program integrasi dan reformasi nasional dengan segera. Pada tahun-tahun pertama pemerintahan Komunis, kebijakan-kebijakan sosial dan ekonomi yang moderat dijalankan secara efektif. Para pemimpin menyadari bahwa tugas mendesak rekonstruksi ekonomi serta pencapaian stabilitas politik dan ekonomi membutuhkan kehendak baik dan kcrja sama dari semua kelas masyarakat. Hasilnya ternyata mengesankan dan membawa dukungan yang luas. Bcrdasarkan ajaran Mao tentang "Demokrasi Baru" dan "Pemerintahan Koalisi", PKC berkoalisi baik dengan kaum intelektual, nonkomunis, maupun liberal.
Setelah Perang Korea berakhir di tahun 1953, awal moderasi kebijakan politik domestik Cina memberi jalan kepada kampanye yang masif melawan "musuh-musuh negara", baik yang bersifat aktual maupun potensial. Musuh-musuh ini terdiri dart mercka yang disebut sebagai "penjahat perang, pengkhianat, kapitalis birokrat, dan kontrarevolusioner". Kampanye juga digabung dengan persidangan-persidangan yang disponsori oleh partai dan dihadiri oleh massa yang sangat banyak. Target utama langkah partai ini adalah orang asing dan misionaris Kristen yang dicap sebagai agcn Amerika Scrikat. Kebijakan terhadap musuh-musuh politik di tahun 1951 - 1952 ini diimbangi oleh land reform yang sebenarnya telah dimulai sejak
Cina di Masa Mao Zedong (I)
Pada tanggal 1 Oktober 1949 Republik Rakyat Cina (RRC) secara resmi berdiri dengan ibukota nasionalnya di Beijing. "Bangsa Cina telah merdeka!" teriak Mao ketika is mengumumkan pembentukan sebuah `kediktatoran demokratik rakyat'. Rakyat dimaknai sebagai sebuah koalisi dan empat kelas sosial: pekerja, petani, borjuis kecil, dan kapitalis nasional. Empat kelas ini akan dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC) sebagai garda depan kelas pekerja. Pada saat itu PKC mengklaim telah memiliki 4,5 juta anggota, yang 90%-nya berasal dari kaum petani. Partai dipimpin oleh Mao Zedong dan pemerintahan dikepalai oleh Zhou Enlai (1898-1976) sebagai perdana Menteri Dewan Negara.
Untuk kali yang pertama dalam waktu berpuluh-puluh tahun, pemerintahan Cina dapat menciptakan keadaan vang relatif stabil - tanpa perlu khawatir pada oposisi militer - dalam wilayah kekuasaannya. Kepemimpinan yang Baru sangat disiplin dan, akibat pengalaman pahit perang yang lama, berkehendak untuk memulai program integrasi dan reformasi nasional dengan segera. Pada tahun-tahun pertama pemerintahan Komunis, kebijakan-kebijakan sosial dan ekonomi yang moderat dijalankan secara efektif. Para pemimpin menyadari bahwa tugas mendesak rekonstruksi ekonomi serta pencapaian stabilitas politik dan ekonomi membutuhkan kehendak baik dan kcrja sama dari semua kelas masyarakat. Hasilnya ternyata mengesankan dan membawa dukungan yang luas. Bcrdasarkan ajaran Mao tentang "Demokrasi Baru" dan "Pemerintahan Koalisi", PKC berkoalisi baik dengan kaum intelektual, nonkomunis, maupun liberal.
Setelah Perang Korea berakhir di tahun 1953, awal moderasi kebijakan politik domestik Cina memberi jalan kepada kampanye yang masif melawan "musuh-musuh negara", baik yang bersifat aktual maupun potensial. Musuh-musuh ini terdiri dart mercka yang disebut sebagai "penjahat perang, pengkhianat, kapitalis birokrat, dan kontrarevolusioner". Kampanye juga digabung dengan persidangan-persidangan yang disponsori oleh partai dan dihadiri oleh massa yang sangat banyak. Target utama langkah partai ini adalah orang asing dan misionaris Kristen yang dicap sebagai agcn Amerika Scrikat. Kebijakan terhadap musuh-musuh politik di tahun 1951 - 1952 ini diimbangi oleh land reform yang sebenarnya telah dimulai sejak
Cina di Masa Mao Zedong (I)
Pada tanggal 1 Oktober 1949 Republik Rakyat Cina (RRC) secara resmi berdiri dengan ibukota nasionalnya di Beijing. "Bangsa Cina telah merdeka!" teriak Mao ketika is mengumumkan pembentukan sebuah `kediktatoran demokratik rakyat'. Rakyat dimaknai sebagai sebuah koalisi dan empat kelas sosial: pekerja, petani, borjuis kecil, dan kapitalis nasional. Empat kelas ini akan dipimpin oleh Partai Komunis Cina (PKC) sebagai garda depan kelas pekerja. Pada saat itu PKC mengklaim telah memiliki 4,5 juta anggota, yang 90%-nya berasal dari kaum petani. Partai dipimpin oleh Mao Zedong dan pemerintahan dikepalai oleh Zhou Enlai (1898-1976) sebagai perdana Menteri Dewan Negara.
Untuk kali yang pertama dalam waktu berpuluh-puluh tahun, pemerintahan Cina dapat menciptakan keadaan vang relatif stabil - tanpa perlu khawatir pada oposisi militer - dalam wilayah kekuasaannya. Kepemimpinan yang Baru sangat disiplin dan, akibat pengalaman pahit perang yang lama, berkehendak untuk memulai program integrasi dan reformasi nasional dengan segera. Pada tahun-tahun pertama pemerintahan Komunis, kebijakan-kebijakan sosial dan ekonomi yang moderat dijalankan secara efektif. Para pemimpin menyadari bahwa tugas mendesak rekonstruksi ekonomi serta pencapaian stabilitas politik dan ekonomi membutuhkan kehendak baik dan kcrja sama dari semua kelas masyarakat. Hasilnya ternyata mengesankan dan membawa dukungan yang luas. Bcrdasarkan ajaran Mao tentang "Demokrasi Baru" dan "Pemerintahan Koalisi", PKC berkoalisi baik dengan kaum intelektual, nonkomunis, maupun liberal.
Setelah Perang Korea berakhir di tahun 1953, awal moderasi kebijakan politik domestik Cina memberi jalan kepada kampanye yang masif melawan "musuh-musuh negara", baik yang bersifat aktual maupun potensial. Musuh-musuh ini terdiri dart mercka yang disebut sebagai "penjahat perang, pengkhianat, kapitalis birokrat, dan kontrarevolusioner". Kampanye juga digabung dengan persidangan-persidangan yang disponsori oleh partai dan dihadiri oleh massa yang sangat banyak. Target utama langkah partai ini adalah orang asing dan misionaris Kristen yang dicap sebagai agcn Amerika Scrikat. Kebijakan terhadap musuh-musuh politik di tahun 1951 - 1952 ini diimbangi oleh land reform yang sebenarnya telah dimulai sejak
1950. Pembagian tanah ditingkatkan dan mulailah perjuangan kelas antara para tuan tanah melawan kaum petani.
Masalah utama yang lain bagi pemerintah Cina di masa itu adalah inflasi yang tinggi. Kebijakan fiskal dan moneter memang berhasil menstabilkan harga pada sekitar tahun 1950-an, namun akibatnya defisit anggaran jadi membengkak. Oleh karena itu, Mao memandang perlunya perbaikan ekonomi yang cepat, misalnya dengan nasionalisasi secara bertahap dan imperatif. PKC juga mengusahakan pemebentukan Koperasi Produsen Pertanian (KPP) yang berfungsi mengatur produksi pertanian. Kegagalan panen ditanggung bersama dan penggunaan sumber daya menjadi lebih baik. Kelemahannya, petani terlalu miskin untuk menyumbangkan dana kepada KPP. Belum lagi keanggotaan KPP kemudian bcrsifat dipaksakan.
Di lapangan politik, partai juga menjalankan kampanye reformasi ideologic yang meminta agar kritik dan penilaian terbuka dari para civitas akademika, ilmuwan, dan pekerja profesional lainnya terhadap partai dipublikasikan secara luas. Para seniman dan penulis segera menjadi sasaran perlakuan yang sarna karena dianggap gagal mengindahkan diktum Mao bahwa kebudayan dan literatur hams mencerminkan kepentingan kelas pekerja dan petani di bawah bimbingan par-tai. Kampanye-kampanye ini kemudian diikuti di tahun 1951 dan 1952 oleh gerakan-gerakan san fan (tiga anti) dan wit fan (lima anti). Yang pertama seolah-olah ditujukan kepada kcjahatan "korupsi, pemborosan, dan birokratisme", sementara tujuan sebenarnya adalah memberhentikan pejabat publik yang tidak kompeten dan lemah secara politik untuk digantikan dengan birokrat yang efisien, disiplin, dan bertanggung jawab. Gerakan yang kedua dimaksudkan untuk membasmi para pengusaha dan industrialis yang membandel dan korup, yang sebenarnya merupakan target penyalahan oleh partai atas tindakan-tindakan "penghindaran pajak, penyuapan, kecurangan dalam kontrak pemerintah, pencurian rahasia ekonomi, dan pencurian aset negara." Tuduhan ini berlanjut dengan penangkapan para borjuis. Diperkirakan mereka yang terkena kampanye `reformasi' yang menghukum ini berjumlah jutaan.
1. Transisi menuju Sosialisme, 1953-1957
Periode yang secara resmi disebut sebagai "transisi menuju sosialisme" adalah masa Rencana Pembangunan Lima Tahun I Cina (1953 - 1957). Periode ini dicirikan dengan usahausaha keras untuk mencapai industrialisasi, kolektivisasi pertanian, dan sentralisasi politik. Repelita I menekankan titik beratnya pada
pembangunan industri berat sesuai dengan model Soviet. Bantuan ekonomi dan bantuan teknis dari Soviet diharapkan akan memainkan peran yang penting dalam pelaksanaan rencana ini sehingga kedua pihak menandatangani kesepakatan teknis pada tahun 1953 dan 1954. Untuk tujuan perencanaan ekonomi, sensus modem yang pertama diadakan pada tahun 1953. Hasil sensus itu menunjukkan bahwa populasi Cina Daratan berjumlah 583 juta, suatu jumlah yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.
Di antara kebutuhan-kebutuhan mendesak Cina pada awal tahun 1950-an adalah makanan bagi penduduk yang terus bertambah jumlahnya, modal domestik untuk investasi, serta pembelian teknologi, peralatan modal, dan perkakas berat militer dari Soviet. Untuk memenuhi kebutuhan ini, pemerintah mulai mengkolektivisasi pertanian. Terlepas dan ketidaksetujuan internal akan cepatnya arus kolektivisasi itu, yang kemudian dapat diselesaikan oleh Mao, sekitar 90% kolektivisasi awal dapat diselesaikan pada akhir tahun 1956. Sebagai tambahan, pemerintah menasionalisasikan perbankan, industri, dan perdagangan. Perusahaanperusahaan swasta di daratan Cina pun turut dihapuskan.
Perkembangan politik utama di masa ini meliputi sentralisasi administrasi partai dan pemerintah. Pemilihan umum diadakan pada tahun 1953 untuk anggota Kongres Rakyat Nasional (KRN) I yang kemudian bersidang pada tahun 1954. KRN mengundangkan dengan resmi Kontitusi 1954 dan mengangkat Mao sebagai Ketua (atau Presiden) RRC, Liu Shaoqi sebagai Ketua Komite Tetap KRN, dan Zhou Enlai sebagai Perdana Menteri Dewan Negara yang baru. Di tengah-tengah perubahan pemerintah ini, sekaligus membantu percepatannya, muncul pertarungan kekuasan dalam PKC yang kemudian mengarah pada dibuangnya anggota Politbiro Gao Gang dan Kepala Dcpartemen Organisasi Rao Shushi yang dituduh mencoba secara diam-diam mengambil alih kontrol partai di tahun 1954.
Proses integrasi nasional juga dicirikan oleh kemajuan dalam organisasi partai di bawah arahan administratif Sekretaris Jenderal PKC Deng Xiaoping, yang juga merangkap sebagai Wakil Perdana Niemen Dewan Negara. Partai juga mengeluarkan kebijakan merekrut kaum intelektual yang lcbih banyak, yang pada tahun 1956 tercatat berjumlah hampir 12% dari 10,8 juta anggota partai — sementara itu, keanggotaan petani berkurang menjadi 69%. Jumlah mereka yang "ahli" semakin bertambah seiring dengan kebutuhan akan infrastruktur partai dan pemerintah. Sebagai bagian dari usaha untuk mendorong partisipasi kaum intelektual dalam rezim yang baru, maka pada pertengahan 1956 dimulailah usaha
resmi meliberalkan iklim politik. Kaum budayawan dan intelektual diperkenankan mengungkapkan pikiran mereka ten-tang pemerintahan yang dijalankan oleh PKC. Mao secara pribadi memimpin gerakan ini, yang diluncurkan dengan slogan klasik
"Biarkan seratus bunga berkembang, biarkan seratus aliran pemikiran selling bersaing". Awalnya tawaran partai yang berulang-ulang untuk menyebarluaskan
secara bebas dan terbuka pandangan-pandangan konstruktif ini ditanggapi kaum budayawan dan intelektual dengan berhati-hati. Benarlah, ternyata pada pertengahan tahun 1957 gerakan ini menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan: pengaduan dan kritik yang meningkat terhadap partai. Terkejut dan malu, para pemimpin menilai para pengkritik sebagai "borjuis kanan" dan karenanya meluncurkan Kampanye Anti-Kanan sebagai ganti Kampanye Seratus Bunga.
2. Lompatan Jauh ke Depan (1958-1960)
Kampanye antikanan diikuti oleh pendekatan pembangunan ekonomi yang militan. Di tahun 1958, keccwa dengan model pembangunan ala Soviet yang tidak berhasil memberikan banyak kemajuan, PKC meluncurkan program Loncatan Jauh ke Depan (dayuejin). Lompatan Jauh ke Depan ditujukan untuk menjalankan pembangunan ekonomi dan teknis dalam gerak yang sangat cepat dan membawa hasil yang lebih baik. Meskipun para pemimpin partai secara umum tampak puns dengan basil Repelita I, mereka (khususnya Mao dan para pengikut radikalnya)
percaya bahwa lebih banyak yang akan diperoleh dari Repelita II (1958-1962) jika rakyat secara ideologic dapat dibangkitkan dan bila sumber days domestik dapat dimanfaatkan lebih efisien bagi pembangunan industri dan pertanian yang berkelanjutan. Asumsi-asumsi ini membawa partai kepada usaha mobilisasi intensif para petani dan organisasi massa, meningkatkan bimbingan ideologis dan indoktrinasi keahlian teknis, dan usaha untuk membangun sistem politik yang lebih responsif. Upaya yang terakhir ini ditempuh melalui gerakan xiafang (turun ke bawah/ke pedesaan) yang akan mengirim para kader baik di dalam partai maupun di luarnya untuk terjun bekerja di pabrik-pabrik, komune-komune, pertambangan dan proyekproyek infrastruktur, scrta mcngetahui secara langsung kondisi rakyat bawah.
Lompatan Jauh ke Depan berpusat pada suatu sistem sosiockonomi dan politik baru yang diciptakan di pedesaan dan di sejumlah daerah urban, yaitu
komune rakyai. Pada musim gugur 1958, sekitar 750 ribu KPP (dikenal juga
komune rata-rata menghimpun lima ribu kepala keluarga atau 22 ribu jiwa. Komune individual, yang ditugasi mengawasi semua alat produksi dan bekerja sebagai satu-satunya alat akunting, dibagi dalam brigade-brigade produksi (yang secara umum memiliki Batas yang sama dengan desa tradisional) dan tim-tim produksi. Setiap komune direncanakan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang mempu menyediaka.n kebutuhannya sendiri akan pertanian, industri lokal berskala kecil (misalnya tungku pcmbakaran besi), pendidikan, pasar, administrasi, dan keamanan lokal (yang dijalankan oleh milisi). Disusun menurut garis paramiliter, komune memiliki pula dapur umum, ruang pertemuan, dan bahkan tempat penitipan khusus untuk anak-anak. Sistem ini juga didasarkan pada asumsi bahwa is akan memberikan tainbahan tenaga kerja untuk proyek-proyek utama seperti irigasi dan bendungan hidroelektrik, yang dipandang sebagai bagian integral dari rencana pembangunan industri dan pertanian yang berkelanjutan.
Namun demiktan, ternyata Lompatan Jauh ke Depan adalah sebuah kegagalan ekonomi. Di awal tahun 1959, di tengah-tengah gejala kegelisahan masyarakat yang kuat PKC mengakui bahwa laporan produksi 1958 telah dibesar-besarkan. Di antara konsekuensi ekonomi yang diakibatkan oleh Lompatan Jauh ke Depan adalah kekurangan pangan (yang juga disebabkan oleh bencana angin), kekurangan bahan mentah untuk industri, berlcbihnya produksi barang berkualitas rendah, rusaknya proyek-proyek industri karena manajemen yang salah, serta kelelahan dan demoralisasi kaum petani, intelektual, dan kader partai maupun pemerintah di semua tingkatan. Untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan itu, maka sepanjang tahun 1959 upaya untuk memodifikasi administrasi komune dijalankan dengan keras. Modifikasi ini dimaksudkan sebagian untuk mengembalikan insentif materi kepada brigade-brigade dan tim-tim produksi, sebagian untuk mendesentralisasikan pengawasan, dan sebagian yang lain untuk merumahkan keluarga-keluarga yang telah disatukan kembali.
Di samping kegagalan ekonomi, konsekuensi politik dari Lompatan Jauh ke Depan juga tidak dapat diabaikan begitu saja. Pada bulan April 1959, Mao mundur dan jabatan Ketua RRC. KRN kemudian menunjuk Liu Shaoqi sebagai pengganti Mao (yang tetap menjadi Ketua PKC). Lebih jauh lagi, Lompatan Jauh ke Depan dikritik habis-habisan pada konferensi partai di Lushan, Provirisi Jiangxi. Serangan ini dipimpin oleh Menteri Pertahanan Nasional Peng Dehuai, yang terganggu olch efek merugikan modernisasi Mao terhadap angkatan bersenjata. peng berargumen bahwa "menempatkan politik sebagai panglima" sangatlah tidak sejalan dengan
hukum ekonomi dan kebijakan ekonomi yang realistik; belum lagi upaya untuk mencoba "melangkah ke arah komunis dalam satu langkah". Setelah peristiwa di Lushan itu, Peng Dehuai, yang konon didorong oleh Nikita Krushchev untuk melawan Mao, dipecat dan digantikan oleh Lin Biao, scoring Maois radikal dan oportunis. Menteri Pertahanan yang Baru ini segera menjalankan pembersihan sistematis para pendukung Peng dari tubuh militer.
Militansi dalam front domestik juga digemakan dalam kebijakan-kebijakan eksternal. Kebijakan luar ncgcri "lunak" yang didasarkan pada 'Lima Prinsip Hidup Berdampingan secara Damai' yang disepakati oleh Cina pada pertengahan tahun 1950-an berubah menjadi "garis keras" pada tabu,' 1958. Dari Agustus hingga Oktober tahun itu, artileri Cina memborbardir dengan masif pulau- pulau Jinmen (Chin-Men dalam Wade Giles, tetapi sering disebut sebagai Kinmen atau Quemoy) dan Mazu (Ma-tsu dalam Wade Giles) yang berada di bawah penguasaan kaum Nasionalis. Tindakan ini disusul oleh propaganda agresif mclawan Amerika Serikat dan sebuah pernyataan maksud untuk "membebaskan" Taiwan.
Kontrol Cina atas Xizang kembali ditekankan pada tahun 1950. Revolusi sosialis yang terjadi di sang segera berubah menjadi proses cinaisasi orang-orang Tibet. Ketegangan memuncak menjadi sebuah revolusi di tahun 1958-1959 yang antara lain berakibat mengungsinya Dalai Lama, pcmimpin spiritual dan de facto sementara Tibet, ke India. Hubungan dengan India, yang bersimpati kepada para pemberontak Tibet, memburuk ketika ribuan pengungsi Tibet menyeberangi perbatasan India. Sejumlah perselisihan perbatasan terjadi pada tahun 1959, dan perang perbatasan yang hanya berlangsung singkat antara Cina dan India pecah pada tahun 1962 kctika Cina mengklaim Aksai Chin, sebuah daerah seluas hampir 103.600 km2, yang dianggap sebagai daerahnya. Soviet memberi dukungan moral
kepada India, sekaligus meningkatkan ketegangan hubungan antara Beijing dan Moskow.
Perselisihan Cina-Soviet di akhir tahun 1950-an merupakan perkembangan terpenting hubungan luar ncgeri Cina kala itu. Uni Soviet sejak lama merupakan pendukung dan sekutu utama Cina, nainun hubungan keduanya sedang mendingin. Persetujuan Soviet di akhir tahun 1957 untuk menibantu Cina memproduksi sendiri senjata dan misil nuklirnya dihentikan pada pertengahan tahun 1959. Sejak scat itu hingga pertengahan tahun 1960-an, Soviet memanggil pulang semua teknisi dan penasihatnya dari Cina serta mengurangi atau membatalkan bantuan ekonomi dan tcknis Cina. perselisihan keduanya dipicu oleh
beberapa faktor. Dua negara ini mempunyai intepretasi yang berbeda akan makna dasar "hidup berdampingan dengan damai". Cina mengambil posisi yang lebih militan dan tak mudah menyerah dalam hal perjuangan antiimperialis, sementara Soviet tidak bersedia, misalnya, memberikan dukungan kepada Cina dalam masalah Taiwan. Tambahan lagi, kedua kekuatan komunis ini berbeda pandangan dalam hal doktrin. Cina menuduh Soviet sebagai "kaum pembaharu", sementara Soviet balas menu-ding Cina sebagai "kaum dogmatis". Belum lagi dengan sejarah saling curiga antara keduanya, khususnya Cina yang telah kehilangan bagian daerah yang penting dan menjadi milik Tsar Rusia pada periolgahan abad ke-19. Apapun penyebab perselisihan ini, dihentikannya bantuan oleh Soviet merupakan pukulan telak bagi skema pembangunan industri dan teknologi tingkat tinggi (termasuk nuklir) Cina.