• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL BIOLOGI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL BIOLOGI INDONESIA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

Vol. 7, No. 1 Juni 2011 Akreditasi: No 816/D/08/2009 BOGOR, INDONESIA

JURNAL

BIOLOGI

INDONESIA

ISSN 0854-4425

JURNAL

BIOLOGI

INDONESIA

ISSN 0854-4425

Phylogenetic relationships within Cockatoos (Aves: Psittaciformes) Based on DNA Sequences of The Seventh intron of Nuclear β-fibrinogen gene

Dwi Astuti

1

Forest Condition Analysis Based on Forest Canopy ClosureWith Remote Sensing Approach Mahendra Primajati, Agung Budi Harto & Endah Sulistyawati

13

Genetic Variation of Agathis loranthifolia Salisb. in West Jawa Assessed by RAPD Tedi Yunanto, Edje Djamhuri, Iskandar Z. Siregar, & Mariyana Ulfah

25

Bird Community Structure in Karimunjawa Islands, Central Jawa

Niarsi Merry Hemelda, Ummi Syifa Khusnuzon, & Putri Sandy Pangestu

35

Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri Bursey et.al., 2000 (Nematoda : Cosmocercoidea: Kathalaniidae) Pada Leucocephalon yuwonoi (McCord et.al., 1995) Di Sulawesi Tengah, Indonesia

Endang Purwaningsih & Awal Riyanto

45

Tingkat Eksploitasi Ikan Endemik Bonti-bonti (Paratherina striata) di Danau Towuti Syahroma Husni Nasution

53

Bentuk Sel Epidermis, Tipe dan Indeks Stomata 5 Genotipe Kedelai pada Tingkat Naungan Berbeda

Titik Sundari & Rahmat Priya Atmaja

67

Sintesis Alkil N-asetilglukosamina (Alkil-GlcNAc) dengan Enzim N-asetilheksosaminidase yang diisolasi dari Aspergillus sp. 501

Iwan Saskiawan & Rini Handayani

(2)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

Jurnal Biologi Indonesia diterbitkan oleh Perhimpunan Biologi Indonesia.

Jurnal ini memuat hasil penelitian ataupun kajian yang berkaitan dengan masalah biologi yang diterbitkan secara berkala dua kali setahun (Juni dan Desember).

Editor Pengelola

Dr. Ibnu Maryanto Dr. I Made Sudiana Deby Arifiani, S.P., M.Sc

Dr. Izu Andry Fijridiyanto

Dewan Editor Ilmiah

Dr. Abinawanto, F MIPA UI Dr. Achmad Farajalah, FMIPA IPB

Dr. Ambariyanto, F. Perikanan dan Kelautan UNDIP Dr. Aswin Usup F. Pertanian Universitas Palangkaraya Dr. Didik Widiyatmoko, PK Tumbuhan, Kebun Raya Cibodas-LIPI

Dr. Dwi Nugroho Wibowo, F. Biologi UNSOED Dr. Parikesit, F. MIPA UNPAD

Prof. Dr. Mohd.Tajuddin Abdullah, Universiti Malaysia Sarawak Malaysia Assoc. Prof. Monica Suleiman, Universiti Malaysia Sabah, Malaysia

Dr. Srihadi Agungpriyono, PAVet(K), F. Kedokteran Hewan IPB Y. Surjadi MSc, Pusat Penelitian ICABIOGRAD

Drs. Suharjono, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Dr. Tri Widianto, Pusat Penelitian Limnologi-LIPI

Dr. Witjaksono Pusat Penelitian Biologi-LIPI

Alamat Redaksi

Sekretariat

d/a Pusat Penelitian Biologi - LIPI

Jl. Ir. H. Juanda No. 18, Bogor 16002 , Telp. (021) 8765056 Fax. (021) 8765068

Email : [email protected]; [email protected] Website : http://biologi.or.id

Jurnal ini telah diakreditasi ulang dengan nilai A berdasarkan SK Kepala LIPI 816/ D/2009 tanggal 28 Agustus 2009.

(3)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

KATA PENGANTAR

Jurnal Biologi Indonesia yang diterbitkan oleh PERHIMPUNAN BIOLOGI INDONESIA edisi volume 7 nomer 1 tahun 2011 memuat 15 artikel lengkap dan 1artikel tulisan pendek, empat artikeldiantaranya telah dipresentasi pada seminar ATCBC di bali 2010. Penulis pada edisi ini sangat beragam yaitu dari Departemen Kementerian Pertanian Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Fak. MIPA-Biologi Universitas Negeri Malang, Universitas Cenderawasih Jayapura, Universitas Islam Negeri Hidayatulah Jakarta, Jurusan Biologi FMIPA IPB, Program Studi Sarjana Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), ITB, Jurusan Konservasi Fakultas Kehutanan IPB, Puslit Biologi LIPI, Departmen Biologi FMIPA, University Indonesia, Puslit Limnologi LIPI-LIPI, Puslit Biologi-LIPI dan UPT Loka Konservasi Biota Laut Biak-LIPI. Topik yang dibahas pada edisi ini meliputi bidang Botani, mikrobiologi, zoologi, remote sensing.

(4)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

UCAPAN TERIMA KASIH

Jurnal Biologi Indonesia mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada

para pakar yang telah turut sebagai penelaah dalam Volume 7, No 1, Juni 2011: Dr. Niken T. M. Pratiwi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

Dr. Tike Sartika, Balitnak, Departemen Pertanian, Ciawi Sigit Wiantoro SSi, MSc, Puslit Biologi-LIPI

Drs. Awal Riyanto, Puslit Biologi-LIPI Drs. Roemantyo, Puslit Biologi-LIPI Dr. Andria Agusta, Puslit Biologi LIPI Ir. Titi Juhaeti MSi, Puslit Biologi-LIPI Dr. Nuril Hidayati, Puslit Biologi-LIPI Ir. Heryanto MSc, Puslit Biologi-LIPI

Drh. Taufik Purna Nugraha MSi, Puslit Biologi-LIPI

(5)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

DAFTAR ISI

Phylogenetic relationships within Cockatoos (Aves: Psittaciformes) Based on DNA Sequences of The Seventh intron of Nuclear β-fibrinogen gene

Dwi Astuti

1

Forest Condition Analysis Based on Forest Canopy ClosureWith Remote Sensing Approach Mahendra Primajati, Agung Budi Harto & Endah Sulistyawati

13

Genetic Variation of Agathis loranthifolia Salisb. in West Jawa Assessed by RAPD Tedi Yunanto, Edje Djamhuri, Iskandar Z. Siregar, & Mariyana Ulfah

25

Bird Community Structure in Karimunjawa Islands, Central Jawa

Niarsi Merry Hemelda, Ummi Syifa Khusnuzon, & Putri Sandy Pangestu

35

Morfologi Larva dan Pola Infeksi Falcaustra kutcheri Bursey et.al., 2000 (Nematoda : Cosmocercoidea: Kathalaniidae) Pada Leucocephalon yuwonoi (McCord et.al., 1995) Di Sulawesi Tengah, Indonesia

Endang Purwaningsih & Awal Riyanto

45

Tingkat Eksploitasi Ikan Endemik Bonti-bonti (Paratherina striata) di Danau Towuti Syahroma Husni Nasution

53

Bentuk Sel Epidermis, Tipe dan Indeks Stomata 5 Genotipe Kedelai pada Tingkat Naungan Berbeda

Titik Sundari & Rahmat Priya Atmaja

67

Sintesis Alkil N-asetilglukosamina (Alkil-GlcNAc) dengan Enzim N-asetilheksosaminidase yang diisolasi dari Aspergillus sp. 501

Iwan Saskiawan & Rini Handayani

81

Eritrosit dan Hemoglobin pada Kelelawar Gua di Kawasan Karst Gombong, Kebumen,Jawa Tengah

Fahma Wijayanti, Dedy Duryadi Solihin, Hadi Sukadi Alikodra, & Ibnu Maryanto

89

Kajian Hubungan Antara Fitoplankton dengan Kecepatan Arus Air Akibat Operasi Waduk Jatiluhur

Eko Harsono

99

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal Ekor Panjang Takydromus sexlineatus Daudin, 1802 (Lacertilia :Lacertidae)

Mumpuni

121

Serapan Karbondioksida (CO2) Jenis-Jenis Pohon di Taman Buah "Mekar Sari" Bogor, Kaitannya dengan Potensi Mitigasi Gas Rumah Kaca

N. Hidayati, M. Reza, T. Juhaeti & M. Mansur

(6)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

Analisis Fekunditas dan Diameter Telur Kerang Darah (Anadara antiquata) di Perairan Pulau Auki, Kepulauan Padaido, Biak, Papua

Andriani Widyastuti

147

Giving Formulated Pellet on Javan Porcupine (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823): Effects on Feed Intake, Feed Conversion, and Digestibility in Pre-Domestication Condition Wartika Rosa Farida & Roni Ridwan

157

Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah Maharadatunkamsi

171

TULISAN PENDEK

Kondisi Parameter Biologi Plankton dan Ikan di Perairan Danau Sentani Auldry F. Walukow

(7)

121

Jurnal Biologi Indonesia 7 (1): 121-131 (2011)

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal Ekor Panjang

Takydromus sexlineatus Daudin, 1802 (Lacertilia :Lacertidae)

Mumpuni

Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPI, Gedung Widyasatwaloka, Jl. Raya Jakarta Bogor Km.46 Cibinong, Jawa Barat 16911

ABSTRACT

Sexual Dimorphism, Reproduction and Prey of Long Tailed Lizard Takydromus sexlineatus Daudin, 1802 (Lacertilia :Lacertidae). The morphology and reproductive biology of Takydromus

sexlineatus were studied in Bogor. Males are larger than females. There is sexual dimorphism on

head size and tail length (larger and longer tail on males) of body size among sexually mature adults, apparently as a consequence of sexual selection. The diet of T. sexlineatus consists of variety of insects and their larvae, arachnids, decapods and snails. Most of the diet are insect (more than 70 % for adults and juveniles). There are higher prey competitions at adult skinks between males and females, adult females and juveniles, but not between adult males and juveniles. The length of adult males and females are 44.6 - 58.1 mm and 49.6 - 62.3 mm respec-tively, lay eggs throughout the year with 2 -3 clutches, per clutch consists of 1 - 3 eggs. Key words: Lizard, Takydromus, Ecology, Sexual Dimorphism, Prey, Reproduction, Bogor,

Indo-nesia

PENDAHULUAN

Kadal suku Lacertidae tersebar di dunia lama seperti Eropa, Asia dan Afrika, tetapi tidak di daerah Madagas-car dan Australia. Sebaran jenisnya pal-ing berlimpah di Afrika, dibandpal-ingkan dengan daerah Oriental yang memiliki jenis terbatas atau jarang (Smith 1935). Menurut Frank & Ramus ( 1995), suku Lacertidae terdiri atas 200 jenis dari 29 marga. Takydromus adalah salah satu marga yang terdiri atas 10 jenis yang sudah dipertelakan, dengan daerah sebaran di Asia bagian Timur dan bagian Tenggara, mulai dari Pulau di bagian pal-ing Utara Jepang yaitu Hokkaido dilanjutkan ke Korea, daratan Cina, Kepulauan Ryukyu dan Taiwan dan ke

selatan sampai Semenanjung Malaysia dan beberapa pulau di Indonesia. Hingga saat ini di Indonesia hanya diwakili oleh Takydromus sexlineatus dengan daerah sebaran Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Selain di Indonesia kadal ini juga memiliki daerah sebaran di India, Myanmar, Thai-land, Vietnam, Cina dan Malaysia ( Das 2004; De Rooij 1915).

Takydromus sexlineatus dikenal dengan nama umum kadal ekor panjang. Kadal ini memiliki badan langsing dengan ekor yang sangat panjang, sekitar tiga kali panjang badan. Punggung berwarna coklat kehijauan dengan garis hitam tebal di sisi punggung dan terkadang disertai pola bintik berwarna terang. Bagian samping badan berwarna hijau kekuningan. Di sekitar Bogor, kadal ini

(8)

122

Mumpuni

dikenal dengan nama lokal (Sunda) "Orong-orong " dan umumnya dapat ditemukan di lahan-lahan terbuka yang ditumbuhi semak, dan rumput.

Deskripsi dan sebaran jenis kadal Takydromus sexlineatus ini telah diungkapkan oleh De Rooij (1915) dan Smith (1935). Demikian pula mengenai variasi morfologi sisik pelindung kepala telah diinformasikan oleh Mumpuni (1995), perbedaan jenis kelamin secara morfologi (kualitatif) oleh Smith (1935) dan Arnold & Burton (1985); beberapa aspek ekologi seperti populasi dan peranan ekologis beberapa jenis dari suku Lacertidae di berbagai daerah subtropik sudah banyak diungkapkan (Telford 1969; Jackson & Telford 1975; Dirk 1991), sebaliknya untuk daerah tropika terutama untuk jenis kadal T. sexlineatus masih sangat terbatas informasi biologinya ( Manthey & Grossmann 1997; Das 2004), sehingga untuk menambah informasi dan pengetahuan mengenai kadal ekor panjang ini, penulis akan mengungkapkan mengenai perbedaan jenis kelamin secara morfologi (kuantitatif), musim dan kemampuan reproduksi serta jenis mangsanya (peranannya sebagai predator ).

BAHAN DAN CARA KERJA

Kadal T. sexlineatus yang digunakan dalam penelitian ini merupakan spesimen koleksi yang telah diawetkan dalam larutan ethanol 70 % yang disimpan di Laboratorium Herpetologi, Museum Zoologi Bogor, Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPI. Sebanyak 71 ekor kadal berasal dari wilayah Bogor, yaitu dari

Gadog (31 spesimen) dan Sindang Barang (40 spesimen) yang dikumpulkan antara bulan November- Desember 1992. Data kualitatif yang dikumpulkan berupa pola warna, sedangkan data kuantitatif beru-pa karakter morfometrik yang meliputi berat badan (BB), panjang badan (PB), panjang kepala (PK), lebar kepala (LK) dan panjang ekor (PE). PB diukur dari ujung moncong sampai lubang anus, PK diukur dari ujung moncong hingga tengkuk (belakang sisik occipital), LK diukur pada bagian kepala yang paling lebar, dan PE diukur dari lubang anus sampai dengan ujung ekor. Semua pengukuran panjang dilakukan mengguna-kan jangka sorong digital dengan tingkat ketelitian 0,05 mm. Panjang ekor tidak diperhitungkan dalam analisis jika ekor kadal tidak lengkap. Selanjutnya data morfometrik tersebut distandarisasi dengan membagi panjang badan. Untuk membedakan karakter yang diamati antara kadal jantan dan betina digunakan uji ANOVA dengan satu pembeda yaitu jenis kelamin. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS ver.12.

Spesimen yang diperiksa dilakukan pemilahan dan pengelompokan sesuai dengan jenis kelamin dan tingkatan umur (dewasa atau anakan/ remaja) dengan cara mengamatinya pada morfologi luar maupun dengan mengamati kondisi reproduksi /kematangan gonade nya. Kadal betina dikategorikan dewasa apabila di dalam rongga badannya ditemukan adanya folikel yang berkembang dan berwarna krem / kekuningan pada bagian ovariumnya dengan diameter lebih dari 2 mm dan/atau

(9)

123

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal

adanya telur dalam saluran oviduknya dan atau adanya penebalan pada bagian oviduknya. Sedangkan pada kadal jantan dewasa ditunjukkan dengan adanya warna putih pada saluran reproduksi (ductus efferent) yang menunjukkan adanya sperma atau ditandai dengan kondisi testis yang padat berisi atau membengkak.

Untuk mengetahui jenis mangsa kadal ini, dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan isi lambung yang terdapat pada masing-masing specimen dan diamati jenis mangsanya dengan menggunakan mikroskop binokuler. Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai/ indeks tumpang tindih pakan (O) mengikuti Krebs (1989) untuk mengeta-hui kondisi kompetisi dalam antar individu berdasarkan tingkat umur maupun jenis kelamin.

HASIL

Dimorfisme Seksual

Dari pengamatan kadal sebanyak 70 spesimen, 26 spesimen berupa kadal jantan dewasa, 27 spesimen berupa kadal betina dewasa, sedangkan sisanya 17 spesimen berupa remaja dan anakan. Kadal jantan dewasa memiliki panjang

Gambar 1. Kadal betina Takydromus sexlineatus.

total rataan 305,11 mm dengan kisaran 221,6 - 356,1 mm, sedangkan betina dewasa dengan rataan 262,63 mm dengan kisaran antara 190,6 - 343,3 mm. Dari morfologi luar kadal jantan dan betina yang belum dewasa sulit dibedakan, tetapi yang sudah dewasa kadal jantan memiliki sepasang garis-garis putih atau terang yang jelas di bagian samping punggung, mulai dari belakang mata sampai depan pangkal ekornya dan biasanya juga memiliki bulatan- bulatan warna putih atau terang yang dibatasi oleh warna coklat atau gelap yang terdapat di bagian samping badannya. Pola warna tersebut tidak dimiliki oleh kadal betina maupun yang belum dewasa. Perbedaan morfologi secara kualitatif seperti ini juga dikemukakan oleh Smith (1935). Untuk kadal anakan biasanya memiliki ekor berwarna orange kecoklatan dan seiring dengan bertambahnya umur, warna oranye akan berubah dan menjadi coklat kehijauan setelah dewasa.

Dari pengamatan morfologi secara kuantitatif, antara kadal jantan dan betina dewasa menunjukkan perbedaan pada berat badan dan panjang kepala-badan. Pada kadal jantan tampak memiliki berat badan rataan lebih tinggi dari pada betinanya, yaitu masing-masing

(10)

124

Mumpuni

2,768±0,47 gram dan 2,582± 0,476 gram sedangkan panjang kepala dan badan rataan pada betina tampak lebih besar dari pada jantannya, yaitu masing-masing 55,063 ±2,847 mm dan 54,561±3,218 mm. Hasil uji ANOVA dengan 1 pembeda jenis kelamin menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat nyata antara jantan dan betina pada rasio PE/PB (Fh=11,739; P<0,001), PK/PB (Fh= 95,248; P<0,001) dan LK/PB (Fh=69,065; P<0,001). Kadal jantan memiliki kepala yang lebih besar baik panjang maupun lebarnya bila dibandingkan dengan betinanya, masing-masing dengan rataan 13,292± 0,652 mm dan 6,473± 0,324 mm pada yang jantan dan 12,251± 0,45 mm dan 5,963± 0,254 mm pada kadal betina. Selain itu panjang ekornya tampak lebih panjang pada kadal jantan dibandingkan dengan kadal betina, masing- masing 250,555± 38,502 mm dan 207,571 ± 43,46 mm. Panjang ekor kadal ini sangat mencolok bila dibandingkan dengan panjang badannya, terutama pada kadal jantan dapat mencapai lebih dari 4,5 kali panjang kepala dan badannya sedangkan pada betina hanya 3,7 kali panjang kepala dan badannya.

Mangsa dan Peranan

Dari sebanyak 71 sampel kadal yang diamati, hanya 2 spesimen yang isi lambungnya kosong dan 69 sampel sisanya ditemukan berbagai macam jenis mangsa. Dalam satu lambung terdapat 0 - 7 jenis mangsa dengan jumlah bervariasi dari 0 sampai 22 individu mangsa Sedangkan rataan jumlah individu mangsa tiap kadal adalah 3-4 pada dewasa jantan, 7 - 8 pada betina dewasa dan 7

pada kadal anakan. Dari mangsa yang masih utuh berukuran paling kecil 2 mm berupa Arachnida dan yang paling besar berupa ulat Lepidoptera (larva) dengan panjang 25 mm. Dari specimen kadal yang diperiksa ditemukan sebanyak 16 macam jenis pakan pada jantan dewasa dan sebanyak 23 macam jenis pakan ditemukan pada kadal betina dewasa, sedangkan pada kelompok anakan ditemukan sebanyak 19 macam jenis pakan. Jenis mangsa kadal dewasa antara jantan dan betina serta anakannya secara rinci disajikan pada Tabel 1. Dari Tabel 1 tersebut dapat dilihat bahwa macam pakan kadal ekor panjang sebagian besar berupa Arthropoda terutama kelompok serangga yang termasuk dalam ordo Coleoptera, Diptera, Hemiptera, Homoptera , Hymenoptera, Lepidoptera Odonata, Orthoptera, dan Thysanoptera. Arthropoda lain seperti Arachnida dan Decapoda juga menjadi bagian dari mangsa kadal. Kelompok moluska merupakan bagian dari macam pakan kadal ini, dengan prosentasenya sangat kecil.

Dari kelompok serangga sebagian besar mangsanya dapat diidentifikasi sampai dengan suku, tetapi mangsa yang sudah hancur hanya dapat diidentifikasi sampai pada tingkatan ordo saja. Serangga penting baik jumlah maupun prevalensinya oleh kadal dari semua tingkat umur (> 15 %) dalam penelitian ini adalah kelompok Diptera (nyamuk), Homoptera (Delphacidae), Hymenoptera (Formicidae), Lepidoptera (larva) dan Orthoptera (Acridiidae). Selain itu Arach-nida juga merupakan bagian mangsa yang penting. Sedangkan macam mangsa yang

(11)

125

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal

lain hanya diperoleh secara serentak/ bersama-sama saja. Gambaran antara 6 macam mangsa penting yang dipilih oleh tingkatan jenis kelamin dan umur kadal, dapat dilihat pada Gambar 1. Dari Gambar 1 terlihat bahwa induk betina dan anakan lebih memilih mangsa laba-laba (Arach-nida) sebanyak lebih dari 65%, sedangkan Acrididae ( > 40%) dan Delphacidae (> 35%) lebih disukai oleh kadal dewasa, baik jantan maupun betina dan lebih sedikit disukai oleh kadal yang belum dewasa. Nyamuk (Diptera) lebih dipilih oleh kadal yang belum dewasa dibandingkan dengan yang dewasa meskipun hanya 30 % dan semut suku Formicidae (> 30 %) lebih dipilih oleh kadal jantan dewasa maupun anakan/yang belum dewasa dan kurang dipilih oleh kadal dewasa betina, sebaliknya ulat dari suku Lepidoptera (>40%) lebih banyak dipilih oleh kadal betina daripada jantan dewasa dan anakan.

Kesamaan mangsa diantara tingkatan umur dan jenis kelamin cukup tinggi. Hal ini tercermin dari nilai tumpang tindih pakan (O) yang cukup tinggi antara jantan dengan betina dewasa (O) = 0,88) dan antara anakan dengan betina dewasa sangat tinggi (O = 0,93), sedangkan jantan

dewasa dengan anakan kompetisinya lebih rendah (O = 0,5).

Hasil analisa isi lambung juga menunjukkan adanya infeksi parasit (nematode) pada kadal dewasa dengan persentase antara 5 - 6%, sedangkan pada kadal anakan tidak ditemukan adanya infeksi nematode. Jumlah cacing yang ditemukan dalam lambung kadal dewasa berkisar antara 1 sampai 2 individu.

Reproduksi

Dari sebanyak 71 spesimen kadal yang diamati, baik secara morfologi maupun reproduksi kadal jantan dengan panjang badan 44,6 - 58,1 mm dan 49,6 - 62,3 mm pada pada kadal betina sudah menunjukkan dewasa kelamin. Tetapi dari koleksi MZB yang lain, kadal betina dari jenis yang sama, dengan panjang badan 48,8 mm sudah menunjukkan dewasa kelamin dengan ditemukan adanya folikel kuning dengan diameter 4 mm.

Spesimen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan koleksi bulan November - Desember dan sebanyak lebih dari 80 % kadal betina sedang dalam masa reproduksi aktif. Hal ini terlihat dari 27 induk betina dewasa,

0 20 40 60 80 Jantan betina Anakan

(12)

126 Mumpuni Macam mangsa ( Bangsa /suku) ∑individu mangsa Lambung isi mangsa ∑individu mangsa Lambung isi mangsa ∑individu mangsa Lambung isi mangsa ARTHROPODA Arachnida 12(11,21) 6 (22,22) 52(24,41) 18(66,66) 25(20,88) 12(70,55) Decapoda 7 (6,54) 5(18,52) 9(4,22) 1(3,70) 7(5,83) 5(29,41) INSECTA 86(80,37) 152(70,69) 87(72,5) Coleoptera - - 3 (1,45) 2 (7,4) 4 (3,33) 3 (17,64) Staphilinidae - - - - 1 (0.83) 1 (5,88) Coleoptera (larva) - - 1 (0,47) 1 (3,70) - -unidentified - - 2(0,98) 1(3,70) 3 (2,5) 2 (11,76) Diptera 15(14,01) 7 (25,92) 33(15,53) 15(65,94) 31(25,82) 12 (70,58) Calliphoridae - - 1 (0,47) 1 (3,70) - -Syrphidae - - - - 1 (0,83) 1 (5,88) Culicidae - - 2 (0,98) 1 (3,70) - -Tipulidae 2 (1,87) 1 (3,7) 4 (1,88) 3 (11,11) - -Diptera (nyamuk) 10 (9,34) 4(14,81) 19 (8,92) 6 (22,22) 23(19,16) 5 (29,41) Diptera (lalat) 3 (2,80) 2 (7,41) 7 (3,28) 4 (14,81) 6 (5) 5 (29,41) unidentified - - - - 1 (0,83) 1 (5,88) Hemiptera 1 (0,93) 1 (3,7) - - - -Homoptera 24(23,36) 11(40,74) 53(48,35) 16(59,25) 22(18,33) 6(35.29) Aphididae - - 3 (1,41) 1 (3,70) - -Delphacidae 23(21,49) 10(37,04) 47(22,06) 12(44,44) 21 (17,5) 5 (29,41) Psyllidae - - - - 1 (0,83) 1 (5,88) unidentified 2 (1,87) 1 (3,7) 3 (1,41) 3 (11,11) - -Hymenoptera 16(14,94) 10(37,03) 9(4,23) 7(22,21) 15(12,49) 9(52,93) Braconidae - - 1 (0,47) 1 (3,70) 1 (0,83) 1 (5,88) Formicidae 15(14,01) 9 (33,33) 6 (2,82) 4 (14,81) 12 (10) 6 (35,29) Hymenoptera - - 1 (0,47) 1 (3,70) 1 (0,83) 1 (5,88) unidentified 1 (0,93) 1 (3,7) 1 (0,47) 1 (3,70) 1 (0,83) 1 (5,88) Lepidoptera (larva) 8 (7,47) 7 (25,92) 15 (7,04) 12(44,44) 4(3,33) 3(17,65) Odonata 1 (0,93) 1 (3,70) 4(1,88) 4(14,81) 4(3,32) 3(17,64) Odonata (capung) - - 1 (0,47) 1 (3,70) 2 (1,66) 1 (5,88) Odonata(nympha) 1 (0,93) 1 (3,70) 3 (1,41) 3(11,11) 2 (1,66) 2 (11,76) Orthoptera 21(19,61) 18(66,66) 34(16) 21(85,17) 8(6,66) 6(35,29) Acridiidae 15(14,01) 12(44,44) 26(12,21) 16(59,25) 6 (5) 4 (23,53) Grillidae 3 ( 2,80) 3 (11,11) 6 (2,81) 3 (11,11) 2 (1,66) 2 (11,76) unidentified 3 ( 2,80) 3 (11,11) 2 (0,98) 2 (7,41) - -Thysanoptera - - 1 (0,47) 1 (3,70) - -Thripidae - - 1 (0,47) 1 (3,70) - -MOLUSCA Gastropoda 1 (0,93) 1 (3,7) - - - -Jumlah 107 213 120

Kadal jantan dewasa (n = 27 )

Kadal betina dewasa ( n = 27 )

Kadal anakan/remaja ( N =17 )

Tabel 1. Jenis mangsa kadal T. sexlineatus di Bogor pada periode November - Desember 1992. (%)

(13)

127

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal

sebanyak 9 ekor mengandung telur di dalam oviduknya, 4 ekor menunjukkan baru saja mengeluarkan telur dan 16 ekor menunjukkan adanya folikel yang membesar dan berwarna krem (awetan basah). Dari 4 ekor induk yang baru mengeluarkan telur tersebut 2 ekor induk dengan folikel yang berkembang, dan diantara induk yang mengandung telur 5 ekor diantaranya juga mengandung folikel yang berkembang. Hanya 3 ekor induk yang tidak mengandung folikel yang berkembang maupun telur di dalam oviduknya.

Jumlah folikel dalam ovarium kadal yang diamati ini bervariasi dari 3 sampai 8 butir folikel dengan rataan 6 butir. Folikel yang berkembang dan berwarna kuning pada induk kadal yang diamati berjumlah antara 1- 3 butir dengan diam-eter mulai dari 1,6 - 6,2 mm. Folikel yang belum berkembang biasanya bening tidak berwarna.

Dari penelitian ini tampak bahwa kadal ini dalam setahun mampu bertelur lebih dari satu kali, hal ini ditunjukkan dengan adanya follikel dengan ukuran yang berbeda pada beberapa induk betina yang diamati, meskipun dalam oviduknya sudah mengandung telur yang siap dikeluarkan atau adanya tanda pada oviduknya yang tebal. Sedangkan dari 9 induk yang mengandung telur di dalam oviduknya semuanya berjumlah 2 butir, masing-masing dari kedua sisi oviduknya kecuali 1 ekor induk hanya dari oviduk sebelah kiri saja. Aktivitas reproduksi pada kadal ini pada umumnya terjadi pada kedua sisi kiri dan kanan, tetapi peneluran tidak selalu berasal dari kedua sisi alat reproduksinya, seperti ditemukan 1 induk

yang mengandung 2 butir telur pada oviduk sebelah kiri saja dan 2 induk yang lain ditemukan folikel berkembang di ovarium sebelah kiri, meskipun ditemukan pula satu ekor induk dengan folikel berkembang pada ovarium sebelah kanan. Telur kadal ekor panjang ini berbentuk bulat panjang dengan panjang rataan 10,3 mm (kisaran 7,8 - 11,5 mm) dan lebar rataan 4, 55 mm (kisaran 4,55 - 5,9 mm). Hasil pengamatan terhadap lama masa inkubasi menunjukkan waktu inkubasi telur kadal ini adalah 45 hari dan selama inkubasi volume telur juga bertambah, yaitu dari volume rataan 10,4 x 5,35 mm sampai 13,75 x 9,45 mm pada 1 minggu menjelang menetas.

Pengamatan pada spesimen kadal jantan dewasa, sebanyak 26 ekor menunjukkan sedang aktif reproduksi ditunjukkan dengan kondisi testisnya yang secara umum berisi dengan diameter rataan panjang 3,89 mm (2,9 - 4,8 mm) dan lebar rataan 1,91 mm (1,4 - 2,7 mm).

PEMBAHASAN

Dimorfisme sex biasa terjadi pada bangsa reptil, hal ini terjadi pula pada kadal ekor panjang Takydromus sexlineatus, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Perbedaan morfologi secara kuantitatif terutama pada panjang total, panjang dan lebar kepala serta panjang ekor. Bagian kepala - badan yang lebih panjang pada kadal betina dibandingkan dengan jantan meskipun tidak berbeda nyata . Hal ini juga dinyatakan oleh Arnold & Burton (1985) bahwa kadal suku Lacertidae secara umum pada jantan memiliki kepala lebih

(14)

128

Mumpuni

besar dan dengan badan lebih pendek bila dibandingkan dengan yang betina. Selain itu kadal jantan menunjukkan penampilan berat badan maupun panjang total yang lebih besar ukurannya terutama panjang ekornya, jika dibandingkan dengan betinanya tetapi memiliki panjang badan yang lebih pendek (antara ketiak kaki depan dan belakang). Hal ini dapat diterima karena badan yang lebih panjang pada induk betina berfungsi untuk menyediakan ruang terutama pada proses perkembangan telur-telurnya di dalam tubuh induk. Pada jenis kadal dewasa Eumeces fasciatus dan E. inexpectatus di Amerika bagian Tenggara, keduanya juga memiliki kepala lebih besar pada yang jantan dibandingkan betina, tetapi E. inexpectatus jantan memiliki ukuran badan lebih besar dibandingkan betinanya dan terjadi sebaliknya dengan jenis Eumeces fasciatus (Vitt & Cooper 1986). Antara kadal dewasa dan anakan yang belum dewasa tidak dilakukan uji perbedaan seperti yang dilakukan antara parameter badan kadal dewasa jantan dan betina, tetapi pada kadal Podarcis yang termasuk dalam suku yang sama menunjukkan bahwa dimorfisme sex terjadi hanya pada kadal yang sudah dewasa dan tidak pada kadal yang belum dewasa (Kaliontzopou-lou et al. 2010). Meskipun demikian dimorfisme sex tidak terjadi pada semua jenis kadal suku Lacertidae, seperti pengamatan pada kadal Takydromus sylvaticus bahwa antara jantan dan betina dewasa memiliki pola warna dan kisaran ukuran badan yang sama (Tang et al. 2007). Pangkal ekor pada kadal T. sexlineatus antara jantan dan betina tidak

dilakukan analisis, tetapi dari penampakan diameternya sangat nyata berbeda, yaitu lebih besar pada yang jantan dan hal ini umum terjadi pada bangsa reptil. Reptil jantan memiliki alat reproduksi berupa sepasang hemipenis yang terdapat di dalam pangkal ekor.

Kadal ekor panjang merupakan predator yang oportunis terlihat dari berbagai jenis mangsa yang ditemukan dalam lambungnya, terutama serangga lebih dari 70 % dengan sebagian besar berupa Homoptera dan Diptera (Tabel 1). Kadal marga yang sama di Jepang seperti Takydromus tachydromoides, mangsa utamanya juga serangga tetapi sebagian besar berupa Lepidoptera dan Homoptera (Jackson & Telford 1975). Bahkan pada jenis Lacertidae yang berukuran besar seperti Lacerta lipina di Spanyol sebagian mangsanya adalah Coleoptera tetapi memangsa vertebrata seperti tikus dan mencit, kadal, ular dan burung dalam jumlah kecil (Castilla et al.1991). Selain berbagai serangga dan invertebrata lain, beberapa jenis kadal suku ini juga makan daun dan bunga (Arnold & Burton1985). Kompetisi dalam mendapatkan pakan cukup tinggi antara kadal dewasa betina dan jantan serta betina dewasa dengan anakan. Tingginya kompetisi ini dapat disebabkan oleh kesamaan dalam penggunaan microhabitat, kesamaan waktu mencari mangsa atau kemung-kinan kesamaan alat sensor untuk mengi-dentifikasi mangsa (Vitt & Cooper 1986). Panjang badan kadal dewasa T. sexlineatus pada penelitian ini dengan rataan 54,561 mm dengan kisaran 44,6 -58,1 mm pada kadal jantan dan 55,063 mm dengan kisaran 49,6 - 62,3 mm pada

(15)

129

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal

pada kadal betina. Sedangkan panjang ekor rataan 250,55 mm dengan kisaran 177 - 298 mm pada yang jantan dan 207,57 mm dengan kisaran 141 - 281 mm pada betina, lebih kecil dari yang dinyatakan Manthey dan Grossmann (1997), bahwa kadal T.sexlineatus dewasa memiliki ukuran rataan 61 mm dengan ekor rataan 300 mm. Disini tampak juga bahwa kadal jantan mencapai dewasa dengan ukuran badan lebih kecil dibandingkan kadal betinanya, hal ini juga terjadi pada kadal T. tachydromoides di Jepang, kadal jantan mencapai dewasa pada ukuran panjang badan dan kepala 38 mm dan 41 -50 mm pada betinanya meskipun kedua jenis kelamin mencapai dewasa pada umur yang sama mendekati 8 - 9 bulan setelah menetas (Jackson & Telford 1975; Telford 1969).

Ditemukannya induk kadal yang baru saja bertelur maupun adanya telur di dalam oviduk sekaligus ditemukan adanya folikel dengan ukuran yang berbeda menunjukkan bahwa kadal ini bertelur 1 - 3 kali dalam setahun. Seperti pada kadal marga yang sama di Jepang multiparus 2 - 3 kali dalam setahun (Telford 1969). Sedangkan jika dilihat masa reproduksi dalam setahun tampaknya induk kadal ini bertelur sepanjang tahun, karena selain pada bulan November - Desember merupakan puncak aktif reproduksi, dari specimen kadal betina yang dikoleksi dari Sumatera (MZB. Lace. 7293) pada bulan Mei, menunjukkan adanya telur di dalam oviduknya dan spesimen dari TN. Gunung Halimun (MZB.Lace. 2594) yang dikoleksi pada bulan Januari ditemukan

sepasang folikel yang berkembang dengan diameter 5 mm di dalam ovariumnya. Sedangkan 2 ekor specimen (Lace. 3653-54 ) dari Cibinong Life Sci-ence yang dikoleksi pada bulan Septem-ber juga ditemukan folikel yang berkembang masing-masing 1 dan 2 butir folikel pada ovariumnya. Dari pengamatan ini tampak bahwa kadal ini bertelur sepanjang tahun, meskipun tampak adanya masa puncak reproduksi. Adanya variasi pada jumlah dan ukuran telur pada kadal ini tampaknya karena bervariasinya umur induk maupun ukurannya. Seperti terjadi pada kadal Takydromus yang lain, pada tingkatan umur 1 - 4 tahun menunjukkan bahwa jumlah telur dan berat telur tiap kali peneluran akan bertambah sesuai dengan bertambahnya umur induk dan bukan dipengaruhi oleh ukuran induk (Telford, 1969). Aktivitas reproduksi pada kadal betina umumnya terjadi pada kedua sisi organ reproduksi tetapi sebagian kecil juga ditemukan aktif hanya pada salah satu sisi seperti dinyatakan Telford, 1969 bahwa folikel yang dihasilkan antara ovarium kiri dan kanan tidak ada perbedaan nyata meskipun sebelah kanan tampaknya lebih aktif.

KESIMPULAN

Dari penelitian ini dapat disimpulkan kadal Takydromus sexlineatus jantan memiliki panjang dan lebar kepala lebih besar bila dibandingkan betinanya. Demikian juga ekor pada kadal jantan lebih panjang dibandingkan dengan betina. Kadal ini bertelur sepanjang tahun tetapi ada masanya terjadi puncak reproduksi

(16)

130

Mumpuni

antara lain bulan November - Desember. Jumlah setiap kali bertelur 1 - 3 butir dan dalam setahun mampu bertelur 1 - 3 kali. Mangsa kadal ini terutama serangga terutama kelompok Diptera dan Homoptera

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan terima kasih kepada L.E. Pudjiastuti (Museum Zoologicum Bogoriense-LIPI) yang telah membantu dalam identifikasi serangga mangsa kadal yang diamati.

DAFTAR PUSTAKA

Arnold, EN. & JA. Burton. 1985. A Field guide to the Reptiles and Amphib-ians of Britain and Europe.Collins Grafton Street, London.

Das, I. 2004. A Pocket Guide Lizards of Borneo. Natural History Publica-tions (Borneo), Sabah.

De Roiij, N. 1915. The Reptiles of the Indo-Australian Archipelago I. Lacertilia, Chelonia Emydosau-ria with 132 illustrations. E.J. Brill Ltd. London.

Castilla, AM., D. Bauwens, & GA. Llorente.1991. Diet Composition of the Lizard Lacerta lepida in Cen-tral Spain. J. Herpetology 25:1 : 30 -36

Frank, N. & E. Ramus. 1995. A com-plete Guide to Scientific and Com-mon Names of Reptiles and Am-phibians of the World.NG Publish-ing Inc RD#3 Box 3709-C Pottsvile.377

Jackson, DR. & SR. Telford, Jr. 1975.

Food Habits and Predatory Role of the Japanese Lacertid Takydromus tachydromoides. Copeia 2: 343 -351

Kaliontzopoulou, A., MA. Carretero & GA. Llorente. 2010. Sexual dimorfisme in traits related to loco-motion : ontogenetic patterns of variation in Podarcis wall lizards. Biol. J. Lin. Soc 99 : 530-543 Krebs, CJ. 1989. Ecological

Methodol-ogy. Harper & Harper & Row Pub-lishers, New York. Manthey, U & W. Grossmann. 1997. Amphibien and Reptilien Südostasiens. Nature und Tier-Verlag, Münster, Berlin, Mumpuni.1995. Morphological Variation

on Lizard Head Shields, Takydromus sexlineatus Daudin. Zoo Indonesia 25: 10 - 11

Smith, MA. 1935. The Fauna of British India, including Ceylon and Burma. Reptilia and Amphibia Vol. II- SAURIA. Taylor and Francis, Red Lion Court, Fleet Street London.

Tang, XS., SQ. Lul & WH. Chou. 2007. Description of Male Takydromus sylvaticus (Squamata: Lacertidae) from China, with Notes on Sexual Dimorphism and a Revision of the Morphological Diagnosis of the Species. Zool. Sci. 24: 496-503 Telford, Jr., SR. 1969. The Ovarian Cycle,

Reproductive Potensial, and Struc-ture in a Population of the Japanese Lacertid Takydromus tachydro-moides. Copeia 3: 548 - 567 Vitt, L.J & WE. Cooper, Jr . 1986. Skink

Reproduction and Sexual Dimor-phism : Eumeces fasciatus in the

(17)

131

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal

Southeastern United States, with Notes on Eumeces inexpectatus. J.Herpetology 20 (1) : 65 - 76 Vitt, LJ. &WE. Cooper,Jr. 1986.

Forag-ing and Diet of a Diurnal Predator (Eumeces laticeps) Feeding on Hid-den Prey. J. Herpetology 20(3) : 408 - 415

Memasukkan Januari 2011 Diterima: Maret 2011

(18)

J. Biol. Indon. Vol 7, No.1 (2011)

PANDUAN PENULIS

Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah disusun dengan urutan: JUDUL (bahasa Indonesia dan Inggris), NAMA PENULIS (yang disertai dengan alamat Lembaga/ Instansi), ABSTRAK (bahasa Inggris, maksimal 250 kata), KATA KUNCI (maksimal 6 kata), PENDAHULUAN, BAHAN DAN CARA KERJA, HASIL, PEMBAHASAN, UCAPAN TERIMA KASIH (jika diperlukan) dan DAFTAR PUSTAKA.

Naskah diketik dengan spasi ganda pada kertas HVS A4 maksimum 15 halaman termasuk gambar, foto, dan tabel disertai CD. Batas dari tepi kiri 3 cm, kanan, atas, dan bawah masing-masing 2,5 cm dengan program pengolah kata Microsoft Word dan tipe huruf Times New Roman berukuran 12 point. Setiap halaman diberi nomor halaman secara berurutan. Gambar dalam bentuk grafik/diagram harus asli (bukan fotokopi) dan foto (dicetak di kertas licin atau di scan). Gambar dan Tabel di tulis dan ditempatkan di halam terpisah di akhir naskah. Penulisan simbol α, β, χ, dan lain-lain dimasukkan melalui fasilitas insert, tanpa mengubah jenis huruf. Kata dalam bahasa asing dicetak miring. Naskah dikirimkan ke alamat Redaksi sebanyak 3 eksemplar (2 eksemplar tanpa nama dan lembaga penulis).

Penggunaan nama suatu tumbuhan atau hewan dalam bahasa Indonesia/Daerah harus diikuti nama ilmiahnya (cetak miring) beserta Authornya pada pengungkapan pertama kali.

Daftar pustaka ditulis secara abjad menggunakan sistem nama-tahun. Contoh penulisan pustaka acuan sebagai berikut :

Jurnal :

Hara, T., JR. Zhang, & S. Ueda. 1983. Identification of plasmids linked with polyglutamate production in B. subtilis. J. Gen. Apll. Microbiol. 29: 345-354.

Buku :

Chaplin, MF. & C. Bucke. 1990. Enzyme Technology. Cambridge University Press. Cambridge. Bab dalam Buku :

Gerhart, P. & SW. Drew. 1994. Liquid culture. Dalam : Gerhart, P., R.G.E. Murray, W.A. Wood, & N.R. Krieg (eds.). Methods for General and Molecular Bacteriology. ASM., Washington. 248-277.

Abstrak :

Suryajaya, D. 1982. Perkembangan tanaman polong-polongan utama di Indonesia. Abstrak Pertemuan Ilmiah Mikrobiologi. Jakarta . 15 –18 Oktober 1982. 42.

Prosiding :

Mubarik, NR., A. Suwanto, & MT. Suhartono. 2000. Isolasi dan karakterisasi protease ekstrasellular dari bakteri isolat termofilik ekstrim. Prosiding Seminar nasional Industri Enzim dan Bioteknologi II. Jakarta, 15-16 Februari 2000. 151-158.

Skripsi, Tesis, Disertasi :

Kemala, S. 1987. Pola Pertanian, Industri Perdagangan Kelapa dan Kelapa Sawit di Indonesia.[Disertasi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Informasi dari Internet :

Schulze, H. 1999. Detection and Identification of Lories and Pottos in The Wild; Information for surveys/Estimated of population density. http//www.species.net/primates/loris/ lorCp.1.html.

(19)

J. Biol. Indon. Vol 7, No. 1 (2011)

Eritrosit dan Hemoglobin pada Kelelawar Gua di Kawasan Karst Gombong, Kebumen,Jawa Tengah

Fahma Wijayanti, Dedy Duryadi Solihin, Hadi Sukadi Alikodra, & Ibnu Maryanto

89

Kajian Hubungan Antara Fitoplankton dengan Kecepatan Arus Air Akibat Operasi Waduk Jatiluhur

Eko Harsono

99

Dimorfisme Seksual, Reproduksi dan Mangsa Kadal Ekor Panjang Takydromus sexlineatus Daudin, 1802 (Lacertilia :Lacertidae)

Mumpuni

121

Serapan Karbondioksida (CO2) Jenis-Jenis Pohon di Taman Buah "Mekar Sari" Bogor, Kaitannya dengan Potensi Mitigasi Gas Rumah Kaca

N. Hidayati, M. Reza, T. Juhaeti & M. Mansur

133

Analisis Fekunditas dan Diameter Telur Kerang Darah (Anadara antiquata) di Perairan Pulau Auki, Kepulauan Padaido, Biak, Papua

Andriani Widyastuti

147

Giving Formulated Pellet on Javan Porcupine (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823): Effects on Feed Intake, Feed Conversion, and Digestibility in Pre-Domestication Condition Wartika Rosa Farida & Roni Ridwan

157

Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah Maharadatunkamsi

171

TULISAN PENDEK

Kondisi Parameter Biologi Plankton dan Ikan di Perairan Danau Sentani Auldry F. Walukow

Gambar

Gambar 1. Kadal betina Takydromus sexlineatus.
Gambar  1. Prevalensi kadal dalam memilih macam mangsa
Tabel 1. Jenis mangsa kadal T. sexlineatus di Bogor pada periode November - Desember 1992.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui perbedaan morfometri Cofana spectra jantan dewasa dengan Cofana spectra betina dewasa dan indeks nilai penting

Tingkah laku kawin Macaca nigra dilakukan oleh jantan dewasa Dan betina dewasa, yang ditandai dengan sinyal awal dari betina dewasa yang selalu dan melihatkan

Pada Tabel 3a terlihat adanya perbedaan yang cukup besar antara anak rusa jantan dan betina di penangkaran I yaitu tinggi badan, ling- kar dada, bobot badan dan panjang

Ukuran tubuh (berat badan, panjang badan, lingkar dada, tinggi tungkai kaki belakang dan depan) pada anjing kintamani betina mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa

Berdasararkan pada Tabel 1, terdapat perbedaan bobot badan saat lahir dan bobot badan umur 30 hari antara anak kambing Nubian jantan dan betina.. Sedangkan bobot

Nilai heritabilitas pada parameter bobot ikan nila yang berkisar antara 0,251 (jantan) dan 0,258 (betina) ini termasuk dalam kategori sedang, dan mengindikasikan

Ciri-ciri kambing kacang: badan kecil, telinga pendek tegak, leher pendek, punggung meninggi, jantan dan betina bertanduk, tinggi badan jantan dewasa rata-rata 60–65 cm, tinggi

Selanjutnya pada uji ketertarikan dan analisis kromatografi dapat ditarik kesimpulan di bawah ini: 1 Ada perbedaan ketertarikan antara walang sangit dewasa jantan dengan yang betina