IZIN POLIGAMI KARENA ISTRI MENDERITA TUMOR OTAK (STUDY ANALISIS PUTUSAN PERADILAN AGAMA JEPARA)
NO: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JEPARA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Pada Program Studi Al Ahwal Al Syakhshiyyah Fakultas Syariah dan
Hukum Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara
OLEH
NAMA : ABDUL MUJIB
NIM : 1211085
PRODI AL AKHWAL AL SYAKHSYIYYAH FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA (UNISNU) JEPARA
ii
IZIN POLIGAMI KARENA ISTRI MENDERITA TUMOR OTAK (STUDY ANALISIS PUTUSAN PERADILAN AGAMA JEPARA)
NO: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JEPARA
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna mencapai Derajad SI Fakultas Syariah dan Hukum
Oleh
NAMA : ABDUL MUJIB
NIM : 1211085
PROGRAM STUDI : AL AHWAL AL SYAKHSYIYYAH
Disetujui oleh: Pembimbing Tanggal,
Hudi, S.H.I, M.S.I Mengetahui
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Drs. H. Barowi, M.Ag
iv MOTTO ÷βÎ)uρ ÷Λäø Åz āωr& (#θäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# (#θßsÅ3Ρ$$sù $tΒ z>$sÛ Νä3s9 zÏiΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# 4o_÷WtΒ y]≈n=èOuρ yì≈t/â‘uρ ( ÷βÎ*sù óΟçFø Åz āωr& (#θä9ω÷ès? ¸οy‰Ïn≡uθsù ÷ρr& $tΒ ôMs3n=tΒ öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& 4 y7Ï9≡sŒ #’oΤ÷Šr& āωr& (#θä9θãès? ∩⊂∪
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hakhak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.
v
Poligami menjadi diskursus sepanjang zaman Untuk berpoligami menjadi bagian hukum positif dalam keluarga. Tertuang dalam Undang- Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) bahwa seorang suami yang ingin berpoligami harus mendapatkan ijin dari Pengadilan Agama. Alasan inilah skripsi ini untuk melihat bagaimanakah izin poligami karena penyakit Tumor Otak sebagai studi analisis putusan Peradilan Agama Jepara No 1584/Pdt.G/2014/PA JPR
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka yakni sebuah penelitian yang menggunakan informasi yang diperoleh dari buku atau kutipan dengan mengkaji penetapan hakim Pengadilan Agama. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah dokumen, yaitu penetapan hakim No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. Jepara tentang isteri yang mengidap Penyakit Tumor Otak dan sulit untuk menjalankan kewajibanya kepada suami sebagai salah satu alasan diperbolehkannya poligami.
Faktor-faktor yang menyebabkan seorang suami mengajukan poligami dalam perkara permohonan ijin poligami No.1584/Pdt.G/2014/ PA.JPR sebagai berikut:a. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri,b. Isteri tidak dapat menjalankan tugasnya baik lahir dan batin karena sakit tumor otak.c Tinjauan Hukum Islam dan Perundang-undangan di Indonesia terhadap penetapan Pengadilan Agama Jepara No.1584/Pdt.G/2014/ PA.JPR
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa diberikannya izin poligami karena telah terpenuhi syarat alternatif sebagaimana yang diatur dalam pasal 4 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974, pasal 41 huruf (a) PP. No. 9 Tahun 1975, dan Pasal 57 Kompilasi Hukum Islam. Diantaranya memberikan ijin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila:1) isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;2) isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan;3) isteri tidak dapat melahirkan keturunan.b. Terpenuhi syarat Kumulatif juga harus dipenuhi sebagaimana diatur dalam pasal 5 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974, Pasal 41 huruf (a), (b) dan (c) PP No. 9 Tahun 1975 dan pasal 58 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam c. Pasal 121 ayat (2) HIR/pasal 145 (2) R.Bg jo pasal 132 ayat (1) HIR/pasal 158 (1) R.Bg yang menyatakan bahwa jawaban dapat dilakukan secara tertulis atau lisan) yang menerangkan bahwa Termohon tidak mampu melayani hubungan bioligis dikarena menderita sakit kanker otak.d. Pasal 174 HIR, pasal 311 R.Bg, pasal 1925 BW dan pasal 1916 ayat (2) No.4 BW yang menyatakan bahwa pengakuan murni di muka sidang merupakan bukti yang sempurna terhadap yang melakukannya, dan bersifat menentukan karena tidak memungkinkan pembuktian lawan. Dengan adanya pembenaran atau pengakuan jawaban termohon oleh pemohon.
Key words: Studi Analisis Izin Poligami Karena Penyakit Tumor Otak
vi
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan karunia, rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat melaksanakan penulisan dan penyusunan skripsi ini. Skripsi ini merupakan tugas yang harus kami tempuh untuk mencapai gelar Sarjana Strata I Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara
Penulis sadar betul bahwa dengan selesainya penyusunan laporan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Prof.Dr.H.M. Muhtarom, M.A, Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengikuti pendidikan di almamater ini.
2. Drs. H. Muhdi, M.Ag., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara yang telah memberikan ijin belajar dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan program Sarjana ini.
3. Drs. H. Djalal Suyuti, M.Pd.I, Kepala Seksi Bimas Islam Kan Kemenag Jepara yang memberikan peluang dan kesempatan kepada penulis dalam riset ini juga kepada Drs. Moh Faeshal, M.H. selaku Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Mlonggo beserta seluruh pegawai
4. Drs. H. Barowi, M.Ag Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara yang telah memberikan kesempatan belajar pada almamater ini.
5. Hudi, S.H.I yang dengan kesabarannya telah memberikan ilmu dan bimbingan hingga penyusunan Skripsi ini selesai.
vii
6. Segenap civitas akademika Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara 7. Isteri dan anak- anakku yang telah memberi motivasi dalam
menyelesaikan skripsi ini
8. Rekan – Rekan fakultas Syariah dan Hukum baik yang sudah lulus, atau masih berjuang dalam proses lulus, terima kasih atas support dan kekompakan yang diberikan.
9. Semua pihak yang telah memberikan bantuan moril dan materiil..Semoga bantuan dan kebaikan dari semua pihak bermanfaat bagi kita semua. Sekiranya Allah SWT akan memberikan balasan yang lebih atas kebaikan yang telah diberikan.
Akhirnya penyusun berharap, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk bangsa dan negara, khususnya para peminat masalah hukum di Indonesia. Semoga pembaharuan hukum di Indonesia dapat tercapai sesuai dengan cita – cita luhur bangsa dalam rangka mewujudkan rasa keadilan bagi setiap warga negara.
Jepara, 29 Agustus 2015
Penyusun
ABDUL MUJIB NIM. 1211085
viii
PERSEMBAHAN
Dengan segenap ta’dzim dan rasa syukur kepada Ilahi Rabbi yang tulus dari lubuk yang paling dalam , Skripsi ini penulis persembahkan kepada : - Isteriku tercinta Siti Umairoh, S.Pd.I
- Kedua buah hatiku Laili Alfiannizar Majib dan Umniyatul Labibah Majib
Semoga Allah senantiasa menjadikan kalian sebagai golongannya orang – orang yang berilmu dan berbuat kebajikan
ix DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PERSETUJUAN...ii HALAMAN PENGESAHAN...iii MOTTO...iv ABSTRAK...v KATA PENGANTAR...vii PERSEMBAHAN...viii. DAFTAR ISI...ix BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah...7
C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian...7
D. Kerangka Konseptual...9
E. Telaah Pustaka...16
F. Metode Penelitian...19
G. Sistematika Penulisan...21
BAB II KAJIAN PUSTAKA...23
x
1. Poligami Dalam Perspektif Al Qurán dan Hadits………...23
2. Poligami Dalam Perspektif Salaf……….33
3. Poligami Dalam Pandangan Ulama Kontemporer………...39
B Kedudukan Pengadilan Agama dalam Lembaga Peradilan di Indonesia....48
BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG PENGADILAN AGAMA JEPARA DALAM PENETAPAN No:1584/Pdt.G/2014/PA. JPR...64
A. Gambaran Umum dan Kompetensi Pengadilan Agama Jepara……….64
B. Penetapan Pengadilan Agama Jepara tentang diperbolehkannya poligami karena alasan Isteri sakit tumor otak dan isi amar penetapan serta dasar penetapan No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. Jepara………..73
1. Permohonan Ijin Poligami Perkara No.1584/Pdt.G/2014/PA.JPR...73
2. Proses Penyelesaian Perkara No. 1584/Pdt.G/2014/PA JPR...78
3. Pertimbangan Hukum Majelis Hakim...79
4. Dasar Hukum...80
5. Penetapan Majelis Hakim Atas perkara NO. 1584/Pdt.G/2014/PA JPR...80
BAB IV ANALISIS PENETAPAN PENGADILAN AGAMA JEPARA No.1584/Pdt.G/2014/ PA. JPR TENTANG DITERIMANYA IJIN POLIGAMI...82
xi
B.Analisis Terhadap Dasar Pertimbangan Majelis Hakim Dalam Menetapkan
Perkara ...92 BAB V PENUTUP...102 A. KESIMPULAN...102 B. SARAN...104 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN – LAMPIRAN
1
BAB I
A. Latar Belakang
Perkawinan adalah ikatan antara seorang laki-laki dan wali seorang wanita atau yang mewakili mereka dan dibolehkan bagi laki-laki dan wanita bersenang-senang sesuai dengan jalan yang telah disyariatkan. Allah SWT mmntelah mensyariatkan perkawinan dengan tujuan agar tercipta hubungan yang harmonis dan batasan-batasan hubungan antara mereka. Tidak mungkin bagi seorang wanita untuk merasa tidak butuh kepada seorang suami yang mendampinginya secara sah meskipun dia memiliki kedudukan yang tinggi, harta melimpah ruah, atau intelektualitas yang tinggi. Begitu juga seorang laki-laki, tidak mungkin merasa tidak membutuhkan seorang istri yang mendampinginya.1
Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqh disebut dengan dua kata, yaitu nikah (ح ) dan zawaj (جاوز). Kedua kata ini yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang Arab dan terdapat dalam al-Qur’an dan hadis nabi. Kata nakaha terdapat dalam al-Qur’an dengan arti kawin, seperti dalam surat an-Nisa’ ayat 3:
÷βÎ)uρ ÷Λäø Åz āωr& (#θäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# (#θßsÅ3Ρ$$sù $tΒ z>$sÛ Νä3s9 zÏiΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# 4o_÷WtΒ y]≈n=èOuρ yì≈t/â‘uρ ( ÷βÎ*sù óΟçFø Åz āωr& (#θä9ω÷ès? ¸οy‰Ïn≡uθsù ÷ρr& $tΒ ôMs3n=tΒ öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& 4 y7Ï9≡sŒ #’oΤ÷Šr& āωr& (#θä9θãès? ∩⊂∪
”dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau
1 Musfir Al Jahrani, Poligami Dari Berbagai Persepsi, Gema Insani Press, Jakarta,
empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 disebutkan dalam Pasal 1, perkawinan itu ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga), yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan YME. Pertimbangannya ialah sebagai negara yang berdasarkan pancasila sila yang sila pertamanya ialah ketuhanan YME, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur lahir/jasmani, tetapi unsur batin/rohani juga mempunyai peranan yang penting. Membentuk keluarga yang bahagia rapat hubungannya dengan turunan, yang merupakan pula tujuan perkawinan, pemeliharaan dan pendidikan anak menjadi hak dan kewajiban orang tua. Pasal 1 dan penjelasan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tersebut yang merupakan dan sekaligus dasar hukum perkawinan2. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No 1 Tahun 1974 menentukan, bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing masing agamanya dan kepercayaan itu. Sedangkan pasal 2 ayat (2) mengatur, bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tentulah orang-orang Islam melakukan perkawinan menurut hukum agamanya, seperti juga agama-agama lain. Tentang pencatatan perkawinan khusus untuk orang-orang Islam
2
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Indonesia, Gema Insani Press, Jakarta, 2002 M, hlm 5
3
diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1946 juncto Undang-Undang No. 32 Tahun 1954.3
Menurut Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami, ayat (2). Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Poligami adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih dari seorang wanita. Mengawini wanita lebih dari seorang ini menurut hukum Islam diperbolehkan dengan dibatasi paling banyak empat orang.4
Poligami dalam Islam telah diatur secara lengkap dan sempurna, tetapi jarang orang melakukan poligami sesuai dengan ketentuan agama, yaitu untuk menolong wanita. Kebanyakan mereka yang melakukan poligami untuk mengikuti hawa nafsunya. Hal demikian sering sekali terjadi, khususnya di Indonesia. Karena itu, demi kemaslahatan umum diperlukan adanya batasan-batasan yang harus diterapkan secara jelas dan tegas. Islam membolehkan suami beristri lebih dari satu orang, dalam batas paling banyak empat orang, namun dengan syarat yang berat, tanpa persyaratan tersebut suami hanya dibolehkan beristri satu orang.5 Kebolehan ini didasarkan kepada firman Allah dalam surat an-Nisa’ (4) ayat 3. Ayat tersebut
3
Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara , Jakarta ,2004, hlm. 2-3
4
Ibid., hlm. 9-10
5
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan, liberty , Yogyakarta, 1989, hlm. 74
memberikan beberapa batasan. Pertama: batas maksimal empat orang istri dan kedua: hanya boleh dilakukan bila mampu berlaku adil. Kalau syarat adil tidak terpenuhi dilarang melakukan kawin poligami. Keadilan yang dijadikan prasyarat untuk perkawinan poligami itu dinyatakan Allah secara umum, mencakup kewajiban yang bersifat materi dan juga kewajiban yang tidak bersifat materi.
Ulama sepakat tentang keharusan adil dalam kewajiban yang bersifat materi atau nafaqah. Ulama berbeda dalam menetapkan batas adil tersebut, apakah adil dalam arti sama banyak atau adil dalam arti berimbang. Sebagian ulama memahami arti adil itu dengan adil dalam arti menyamakan nafaqah antara satu istri dengan yang lainnya secara kuantitatif. Dalam hal belanja harian (nafaqah dalam arti khusus) suami wajib menyamakan diantara istri-istrinya, karena itulah yang dimaksud dalam arti adil itu. Sebagian ulama berpendapat, bahwa selama suami telah memenuhi kewajiban nafaqah sesuai dengan kebutuhan dan kecukupan istri, tidak harus dalam jumlah yang sama banyak, karena masing-masing telah mendapatkan apa yang mencukupi bagi kebutuhannya. Demikian pula kewajiban adil dalam memberikan pakaian untuk istri-istrinya. Dalam penyediaan rumah tempat tinggal suami harus adil dalam pengertian tersebut di atas. Dia harus menyediakan sebuah tempat tinggal tersendiri bagi setiap istrinya. Dibolehkan suami menempatkan beberapa orang istri dalam satu rumah, kalau istri-istrinya itu sudah menyepakatinya hanya tidak boleh menempatkan mereka dalam satu tempat tidur.
5
Ulama membatasi keadilan yang dijadikan Allah sebagai prasyarat kawin poligami itu pada keadilan dalam kesempatan bergaul diantara istri dengan istri yang lain. Kesamaan dan pembagian kesempatan bergaul di antara sesama istri itu dalam fiqh disebut dengan qasm, sedangkan yang dijadikan patokan pada kesempatan bergaul itu adalah malam hari, karena malam itulah waktu untuk bergaul antara suami istri menurut biasanya, sedangkan siang hari adalah waktu untuk mencari nafkah. Dengan demikian, secara sederhana qasm itu berarti giliran kesempatan bermalam.6
Sistem perundang-undangan di Indonesia khususnya tentang perkawinan, dalam hal ini adalah Undang Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) menganut asas monogami, tetapi pelaksanaannya tidak mutlak dan bukan merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Undang-Undang itu masih mentolerir dan memberi kesempatan kepada laki-laki tertentu untuk memiliki isteri lebih dari satu (berpoligami) dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dikemukakan dalam undang-undang dalam berpoligami memang dirasa cukup berat, harus mengajukan permohonan ke pengadilan agama, jika tanpa adanya izin dari pengadilan agama, maka perkawinannya tidak mempunyai kekuatan hukum.7
Persyaratan yang cukup berat itu bertujuan agar pelaku poligami tidak sembarangan melakukan poligami. Pengadilan Agama sebagai pihak
6
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Op. Cit. hlm. 176-179
yang menerima, memeriksa, dan memutus perkara yang diajukan kepadanya akan memutus dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Demikian juga dalam perkara permohonan izin poligami, pengadilan akan memberikan izin atau tidak dengan melihat alasan-alasan yang diajukan dan terpenuhi atau tidaknya persyaratan-persyaratan poligami baik secara hukum Islam maupun Undang Undang. Angka perceraian yang tinggi di Kabupaten Jepara disebakan banyak faktor. Terlebih perceraian yang diajukan secara gugat oleh pihak wanita prosentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan cerai thelak. Demikian juga permohonan ijin dispensasi pernikahan dibawah umur cukup tinggi. Namun pengajuan ijin poligami di Kabupaten Jepara berbanding terbalik dengan keduanya.
Walaupun banyak terjadi pernikahan sirri yang dilaksanakan tanpa pencatatan secara hukum formil. Diantara maraknya pernikahan sirri tersebut karena faktor pernikahan poligami yang tidak ingin susah dengan mengajukan ijin ke Pengadilan Agama. Persoalan yang mendasar adalah persoalan ijin dari isteri pertama yang banyak menjadi kendala, karena secara mayoritas wanita itu tidak senang dirinya dimadu. Oleh karena itu jumlah pelaku poligami yang resmi dan tidak resmi pun juga berbanding terbalik. Oleh karena itu dengan latar belakang masalah tersedalam skripsi ini penulis mengangkat masalah:“ Studi Analisis Izin Poligami Karena Penyakit Tumor Otak, Studi Analisis Putusan Peradilan Agama Jepara No: 1584/Pdt.G/2014/PA Jepara.
7
B. Rumusan Masalah
Dari ilustrasi tersebut di atas, maka pokok permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pertimbangan majlis hakim dalam memutuskan ijin poligami dikarenakan Penyakit Tumor Otak sebagaimana tertuang dalam hasil Putusan Pengadilan Agama No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. Jepara? 2. Apa sajakah landasan hukum dalam pemberian ijin poligami karena
Penyakit Tumor Otak sebagaimana tertuang dalam hasil Putusan Pengadilan Agama No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. Jepara?
3. Sejauhmanakah hasil Putusan Pengadilan Agama No:1584/Pdt.G/2014/PA.Jepara tentang Ijin Poligami karena Penyakit Tumor Otak?
C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Dari pokok permasalahan yang diangkat, maka penilitian ini mempunyai tujuan:
a. Untuk mengetahui bagaimanakah pertimbangan majlis hakim dalam memutuskan ijin poligami dikarenakan Penyakit Tumor Otak sebagaimana tertuang dalam hasil Putusan Pengadilan Agama No:1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. Jepara
b. Untuk menelaah apa saja landasan hukum dalam pemberian ijin poligami karena Penyakit Tumor Otak sebagaimana tertuang dalam hasil Putusan Pengadilan Agama No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. Jepara? c. Untuk mengetahu sejauhmanakah hasil Putusan Pengadilan Agama
No:1584/Pdt.G/2014/PA.Jepara tentang Ijin Poligami karena Penyakit Tumor Otak?
2 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini mencakup dua aspek yaitu sebagai berikut:
a. Kegunaan Teoritis yaitu :
1). Untuk mengembangkan khasanah Ilmu Hukum Islam
2). Sebagai wahana pendalaman materi ilmu hukum dan sebagai sumbang pemikiran keilmuan kepada almamater dan perbendaharaan bidang studi hukum Islam
b. Kegunaan Praktis:
1) Dengan dilakukannya penelitian ini, maka dapat diketahui bagaimana pertimbangan majlis hakim, landasan hukum sebagai pijakan pengambilan keputusan dalam pemberian ijin poligami dikarenakan Penyakit Tumor Otak sebagaimana tertuang dalam Putusan Pengadilan Agama No:1584/Pdt.G/2014/PA.Jepara
2). Untuk melatih, memperdalam dan menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama ini dengan mengetahui secara langsung apa
9
dan bagaimana teori hukum dan teori perundang – undangan direalisasikan
D. Kerangka Konseptual
Poligami memiliki akar sejarah yang cukup panjang, menunjang sejarah peradaban manusia itu sendiri. Sebelum datang ke jazirah Arab, poligami merupakan sesuatu yang sudah mentradisi bagi masyarakat Arab. Poligami masa disebut poligami tak terbatas. Lebih dari itu tidak ada keadilan diantara para istri. Suamilah yang menentukan sepenuhnya siapa yang paling ia sukai dan siapa yang ia pilih untuk dimiliki secara tidak terbatas. Para istri harus menerima takdir mereka tanpa ada usaha untuk memperoleh keadilan.8
Kedatangan Islam dengan ayat-ayat poligaminya, kendatipun tidak menghapus praktik ini, namun Islam membatasi kebolehan poligami hanya sampai empat orang isteri dengan syarat-syarat yang ketat pula sepert keharusan berlaku adil di antara para isteri. Syarat-syarat ini ditemukan didalam dua ayat poligami, yaitu surah an-Nisa’: 3 ÷βÎ)uρ ÷Λäø Åz āωr& (#θäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# (#θßsÅ3Ρ$$sù $tΒ z>$sÛ Νä3s9 zÏiΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# 4o_÷WtΒ y]≈n=èOuρ yì≈t/â‘uρ ( ÷βÎ*sù óΟçFø Åz āωr& (#θä9ω÷ès? ¸οy‰Ïn≡uθsù ÷ρr& $tΒ ôMs3n=tΒ öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& 4 y7Ï9≡sŒ #’oΤ÷Šr& āωr& (#θä9θãès? ∩⊂∪
“dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau
empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” dan an-Nisa’: 129 s9uρ (#þθãè‹ÏÜtFó¡n@ βr& (#θä9ω÷ès? t÷t/ Ï!$|¡ÏiΨ9$# öθs9uρ öΝçFô¹tym ( Ÿξsù (#θè=ŠÏϑs? ¨≅à2 È≅øŠyϑø9$# $yδρâ‘x‹tGsù Ïπs)¯=yèßϑø9$$x. 4 βÎ)uρ (#θßsÎ=óÁè? (#θà)−Gs?uρ χÎ*sù ©!$# tβ%x. #Y‘θà xî $VϑŠÏm§‘
“dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Penafsiran Asghar, sebenarnya dua ayat di atas menjelaskan betapa al- Qur’an begitu berat untuk menerima institusi poligami, tetapi hal itu tidak bisa di terima dalam situasi yang ada maka al-Qur’an membolehkan laki-laki kawin hingga empat orang isteri, dengan syarat harus adil. Dengan mengutip al-Tabari, menurut Asghar, inti ayat diatas sebenarnya bukan pada kebolehan poligami, tetapi bagaimana berlaku adil terhadap anak yatim terlebih lagi ketika mengawini mereka.9
Berbeda dalam pandangan fikih, poligami yang di dalam kitab-kitab fikih disebut dengan ta’addud al-zaujat, sebenarnya tidak lagi menjadi persoalan. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan, bahwa ulama sepakat tentang kebolehan poligami, kendatipun dengan persyaratan yang bermacam- macam. As-Sarakhsi menyatakan kebolehan poligami dan mensyaratkan pelakunya harus berlaku adil. Al-Kasani menyatakan lelaki yang
11
berpoligami wajib berlaku adil terhadap istri-istrinya. As-Syafi’i juga mensyaratkan keadilan diantara para istri, dan menurutnya keadilan ini hanya menyangkut urusan fisik semisal mengunjungi istri di malam atau di siang hari.10
Pandangan al-Qur’an yang selanjutnya diadopsi oleh ulama-ulama fikih setidaknya menjelaskan dua persyaratan yang harus dimiliki suami. Pertama, seorang lelaki yang akan berpoligami harus memiliki kemampuan dana yang cukup untuk membiayai berbagai keperluan dengan bertambahnya istri yang dinikahi. Kedua, seorang lelaki harus memperlakukan semua istrinya dengan adil. Tiap istri harus diperlakukan sama dalam memenuhi hak perkawinan serta hak-hak lain.
Berkenaan dengan alasan-alasan darurat yang membolehkan poligami, menurut Abdurrahman setelah merangkum pendapat fuqaha, setidaknya ada delapan keadaan yaitu:
1. Istri mengidap suatu penyakit yang berbahaya dan sulit disembuhkan. 2. Istri terbukti mandul dan dipastikan secara medis tak dapat
melahirkan. 3. Istri sakit ingatan.
4. Istri lanjut usia sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban sebagai istri.
5. Istri memiliki sifat buruk. 6. Istri minggat dari rumah.
10Amir Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam Indonesia,
7. Kebutuhan suami beristri lebih dari satu, dan jika tidak menimbulkan 8. Kemadaratan dalam kehidupan dan pekerjaannya. 11
Al-Jurjani dalam kitabnya, Ḥikmah at-Tasyrȋ’ wa Falsafatuhu menjelaskan ada empat hikmah yang dikandung oleh syari’at poligami.12
1. Kebolehan poligami yang dibatasi sampai empat orang menunjukkan bahwa manusia sebenernya terdiri dari empat campuran di dalam tubuhnya. Jadi menurutnya, sangatlah pantas laki-laki itu beristri empat
2. Batasan empat juga sesuai dengan empat jenis mata pencaharian laki- laki, pemerintahan, perdagangan, pertanian dan industri.
3. Seorang suami yang memiliki empat orang istri berarti ia mempunyai waktu senggang tiga hari dan ini meruupakan waktu yang cukup untuk mencurahkan kasih sayang.
Al-Aṭar dalam bukunya Ta’addud az-Zawjat mencatat empat dampak negatif poligami.13
1. Poligami dapat menimbulkan kecemburuan di antara para istri.
2. Poligami menimbulkan rasa kekhawatiran istri kalau suami tidak bisa bersikap bijaksana dan adil.
3. Anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang berlainan sangat rawan untuk terjadinya perkelahian, permusuhan dan saling cemburu.
11 Abdurrahman Husain, Hitam Putih Poligami., Lembaga Penerbit. Fakultas
Ekonomi UI., Jakarta, 2007, hlm 56
12 Ali Ahmad Al Jurjani, Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuhu, Al Haramain, Mesir,t.th,
hlm 23
13 Abdul Naser Taufiq al -'Attar, Poligami Ditinjau dari Segi Agama, Sosial dan
Perundang -undangan (Ta’addud az -Zaujat min Nabawi ad -Diniyyah wa al-Ijtimaiyyah wa alm-Qamuniyyah), terj. Khadijah Nasution, cet. 1 Bulan Bintang,, Jakarta, hlm. 72-76.
13
4. Kekacauan dalam bidang ekonomi14, bisa saja pada awalnya suami memiliki kemampuan untuk poligami, namun bukan mustahil suatu saat akan mengalami kebangkrutan, maka yang akan menjadi korban akan lebih banyak.
Bagian yang lain dinyatakan bahwa dalam keadaan tertentu poligami dibenarkan. Kebolehan poligami dalam Undang Undang Perkawinan sebenarnya hanyalah pengecualian dan untuk itu pasal-pasalnya mencantumkan alasan-alasan yang membolehkan tersebut. Pasal 4 Undang Undang Perkawinan dinyatakan seorang suami yang membolehkan untuk ayat ini jelas sekali bahwa Undang Undang Perkawinan telah melibatkan Pengadilan Agama sebagai institusi yang cukup penting untuk mengabsahkan kebolehan poligami bagi seorang, sesuatu yang tidak ada preseden historisnya di dalam kitab-kitab fikih. Penjelasan Pasal 3 ayat 2 tersebut dinyatakan: Pengadilan dalam memberikan putusan selain memeriksa apakah syarat yang tersebut berpoligami dengan alasan-alasan tertentu, jelaslah bahwa asas yang dianut oleh undang-undang perkawinan sebenarnya bukan asas monogami mutlak, melainkan disebut monogami terbuka atau monogami yang tidak bersifat mutlak. Poligami ditempatkan pada status hukum darurat (emergency law), atau dalam keadaan yang luar biasa (extra ordinary
14
Khairuddin Nasution, Riba dan Poligami: Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad
circumstance), di samping itu lembaga poligami tidak semata-mata kewenangan penuh suami tetapi atas dasar izin dari hakim (pengadilan).15
Oleh sebab itu pada Pasal 3 ayat 2 ada pernyataan: Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Ayat ini jelas sekali bahwa Undang Undang Perkawinan telah melibatkan Pengadilan Agama sebagai institusi yang cukup penting untuk mengabsahkan kebolehan poligami bagi seorang, sesuatu yang tidak ada preseden historisnya di dalam kitab-kitab fikih. Penjelasan Pasal 3 ayat 2 tersebut dinyatakan: Pengadilan dalam memberikan putusan selain memeriksa apakah syarat yang tersebut Berlaku bagi Umat Islam), pada Pasal 4 dan 5 telah dipenuhi harus mengingat pula apakah ketentuan- ketentuan hukum perkawinan dari calon suami mengizinkan adanya poligami. Berkenaan dengan Pasal 4 di atas, setidaknya menunjukkan ada tiga alasan yang dijadikan dasar mengajukkan permohonan poligami.
1. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri.
2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan (menurut dokter).
3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
Syarat-syarat dalam poligami yang di tentukan dalam syari’at Islam tidaklah menjadikan poligami sebagai kewajiban terhadap laki-laki muslim dan tidak diwajibkan kepada pihak keluarga wanita untuk memaksa anaknya kawin dengan laki-laki yang telah mempunyai istri satu atau lebih. Dan
15
Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, Zahi Trading Co Medan, 1975,hlm. 25-26
15
menurut syari’at Islam memberikan hak kepada wanita dan keluargnya untuk menerima poligami jika ada manfaat dan maslahat bagi putri mereka berhak menolak jika dikhawatirkan sebaliknya.
Adapun syarat-syarat poligami menurut hukum positif adalah sebagai berikut:
1. Harus izin dari pengadilan.
2. Bila dikehendaki dari orang yang bersangkutan
3. Hukum dan Agama yang bersangkutan mengizinkannya tidak ada halangan dalam hal ini16
Kompilasi Hukum Islam (KHI) diatur juga tentang poligami yang antara lain disebutkan, bahwa berpoligami hanya dibatasi dengan empat orang isteri.17 Hal ini seorang suami yang beristri lebih dari seorang, maka harus mendapatkan izin dari pengadilan dan harus memenuhi beberapa syarat dan ketentuan yang disertai beberapa alasan-alasan yang dapat dibenarkan. Sebenarnya persyaratan yang harus dipenuhi untuk dibenarkan berpoligami menurut hukum positif di Indonesia dapat disignifikansikan menjadi:
a. Syarat utama beristri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya.18
b. Suami yang hendak beristri lebih dari seorang harus mendapat izin dari pengadilan agama19.
16 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam Indonesia,
Op.Cit. hlm. 163. 17
Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan,Op.Cit hlm. 77.
18
Kompilasi Hukum Islam, Pasal 55 ayat (1).
19
E. Telaah Pustaka
Berdasarkan penelusuran yang telah penyusun lakukan terhadap banyak literatur dan karya-karya ilmiah yang membahas tentang poligami diantaranya berbentuk skripsi dan hasil penelitian, tampaknya terdapat beberapa yang mempunyai korelasi antara tema dengan topik, akan tetapi dalam penelusuran tersebut terdapat literatur yang berbeda dengan pembahasan dalan skripsi ini. Telaah pustaka ini didiskripsikan beberapa karya ilmiah mengenai poligami, untuk memastikan orisinalitas sekaligus sebagai salah satu kebutuhan ilmiah yang berguna untuk memberikan batasan dan kejelasan pembahasan informasi yang didapat.
Adapun beberapa telaah pustaka yang penulis pergunakan adalah sebagai berikut:
1. Skripsi yang ditulis oleh M. Hafid Aji Pramono dengan judul “Studi Putusan dan Penetapan Pengadilan Agama Boyolali Tahun 2005-2006 tentang Alasan-Alasan Poligami”20 disebutkan bahwa permohonan izin poligami di Pengadilan Agama. Boyolali tahun 2005-2006 ada beberapa perkara, namun hanya ada dua alasannya yaitu isteri merasa sakit/ menolak berhubungan seksual dan isteri tidak dapat memberikan keturunan. Hasil yang didapat dalam penelitian tersebut adalah
a. Dari permohonan izin poligami yang ada di Pengadilan Agama Boyolali pada tahun 2005-2006 secara yuridis alasan-alasan
20
M. Hafid Aji Pramono, “Studi Putusan dan Penetapan Pengadilan Agama Boyolali
Tahun 2005-2006 tentang Alasan-Alasan Poligami”, skripsi tidak diterbitkan, Fakultas Syari’ah
17
permohonan poligami yang diajukan Pemohon telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Alasan-alasan permohonan izin poligami yang bersifat sosiologis diantaranya adalah karena tingginya penghasilan, kurang terpenuhinya kebutuhan biologis, disamping faktor usia.
b. Dasar pertimbangan Majelis Hakim secara yuridis dalam memutuskan perkara permohonan poligami adalah karena perkara yang diajukan telah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan pertimbangan-pertimbangan Hakim yang bersifat sosiologis dengan mengingatkan kepada para pihak yang bersangkutan kepada harta yang harus dijaga jangan sampai menimbulkan konflik dalam rumah tangga, menjaga sikap adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya.
2. Skripsi Dani Tirtana dengan judul: “ Analisis Yuridis Izin Poligami Dalam Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan”21 Adapun hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa putusan hakim sebagai berikut:
a. Mendasarkan pada hukum Islam karena telah adanya ijin dari isteri termohon, maka ijin poligami tersebut dikabulkan demi kemaslahatan dari berbagai pihak. Demikian juga untuk menghindari kemafsadatan untuk menghindari perzinahan.
b. Mendasarkan pada perundang- undangan, di mana hakim mempertimbangkan syarat alternatif yang belum dipenuhi oleh pemohon, sedangkan syarat kamulatif sudah terpenuhi, maka hakim
21 Dani Tirtana, “Analisis Yuridis Izin Poligami Dalam Putusan Pengadilan Agama
melihat kembali asas perjanjian dalam BW dengan mengedepankan pengecualian, di mana kedua belah pihak telah setuju akan melakukan kewajiban perjanjian. Adapun perjanjian tersebut, bahwa pemohon akan memenuhi persyaratan kamulatif tersebut.
3. Skripsi M. Targhibul Hasan dengan judul, Permohonan Ijin Poligami ( Studi Penetapan Pengadilan Agama Salatiga No 0525/Pdt. G/2010/PA.SAL) Penelitian ini membahas tentang. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perkawinan poligami, Bagaimana tinjauan Hukum Islam dan Perundang-undangan di Indonesia terhadap penetapan Pengadilan Agama Salatiga No. 0525/Pdt.G/2010/PA.SAL) tentang izin poligami terhadap isteri yang tidak mampu menjalankan kewajibanya dan Apa dasar hukum hakim Pengadilan Agama Salatiga menetapkan izin poligami terhadap isteri yang tidak mampu menjalankan kewajibanya kepada suami. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa dalam memutuskan perkara ijin poligami nomor No. 0525/pdt.G/2010/PA.SAL hakim telah menggunakan Kompilasi Hukum Islam.
Penerapan Kompilasi Hukum Islam (KHI) tersebut didukung oleh proses persidangan yang teliti dalam menilai saksi dan bukti serta persidangan tentang kewenangan mengadili dalam bidang keijinpoligamian telah memenuhi seperti yang tertuang dalam Undang Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974.
19
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka yakni sebuah penelitian yang menggunakan informasi yang diperoleh dari buku atau kutipan
dengan mengkaji penetapan hakim Pengadilan Agama Jepara No: 1584 /Pdt.
G/ 2014/ PA. Jepara
2. Sumber Data
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah dokumen, yaitu penetapan
hakim No. No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. Jepara tentang isteri yang
mengidap Penyakit Tumor Otak dan sulit untuk menjalankan kewajibanya kepada suami sebagai salah satu alasan diperbolehkannya poligami.
b. Sumber Data Skunder
Sumber data skunder yang penulis gunakan dalam skripsi ini adalah buku- buku penunjang yang berkaitan dengan skripsi ini. 3. Metode Pengumpulan Data
a. Dokumentasi
Pengumpulan data dokumentasi diperlukan karena sumber data tidak hanya tempat dan orang, tetapi juga ada arsip– arsip
dan dokumen. Oleh karena itu, penulis menggunakan metode dokumenter22
yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa tulisan- tulisan, buku, artikel-artikel yang relevan dengan tema penulisan skripsi ini. Dokumentasi utama yang digunakan dalam penelitian ini
adalah lembar penetapan Pengadilan Agama No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JPR
b. Study kepustakaan (library)
Yaitu sebuah tehnik pengumpulan data melalui kepustakaan yakni dengan membaca dan mengkaji antara satu buku dengan buku yang lainnya, ini dimaksudkan untuk menggali data literatur yang dapat dipastikan sebagai landasan teoritis bagi permasalahan yang dibahas.
4. Metode Analisis Data
Dalam menganalisis data penulis menggunakan metode
Content Analisys 23 yakni mengnganalisis mengenai isi dari sebuah
keputusan. Segala pendekatan dalam skripsi ini penulis menggunakan pendekatan tekstual yuridis 24 Yaitu suatu cara pendekatan maslah dengan meneliti dan mengkaji yang berdasarkan pada teks- teks yang mempunyai relevansi dengan permaslahan yang sedang dibahas baik berupa kitab suci al-Qur’an, al-Hadits, kitab-kitab keagamaan maupun buku- buku kepustakaan lainnya
G. Sistematika Penulisan
Sebagai karya ilmiah skripsi ini disusun dengan menggunakan sistematika tertentu sehingga secara global materi penulisan terbagi
23
Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin, Yogyakarta, 1989, hlm. 68-69
24
21
menjadi beberapa bab, yang secara keseluruhan dikemukakan sebagai berikut:
Bab Kesatu : Bab ini terdiri dari pembuka yang memuat Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Konseptual, Telaah Pustaka, Metode Penulisan Skripsi dan Sistematika Penulisan Skripsi
Bab Kedua : Bab ini memuat tentang Ketentuan Umum Tentang Poligami dalam Islam Bab ini berisi pengertian umum Poligami Poligami Dalam Perspektif Al Qur’an dan Hadits, Poligami Dalam Perspektif Fiqh, Poligami Dalam Pandangan Ulama Kontemporer. Sedangkan sub bab kedua dipaparkan Kedudukan Pengadilan Agama Dalam Lembaga Peradilan di Indonesia. Bab ini merupakan landasan teori yang dipergunakan untuk melangkah ke bab selanjutnya.
BAB Ketiga : Gambaran Umum Pengadilan Agama Kabupaten Jepara
dan Penetapan No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JPR Pada
bab ini penulis mengemukakan kedalam dua sub bab, yaitu sekilas gambaran dan kompetensi PA Jepara, Penetapan Pengadilan Agama Jepara tentang diperbolehkannya poligami karena sakit tumor otak dan isi amar penetapan
serta dasar penetapan No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JPR yang
terdiri dari Permohonan Ijin Poligami Perkara No 1584 /Pdt. G/
Hukum Majlis Hakim, Dasar Hukum dan Penetapan Majlis
Hakim Atas Perkara No 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JPR
BAB Keempat: Analisis Penetapan No: 1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JPR
tentang diperbolehkannya Poligami dengan alasan Isteri menderita sakit tumor otak. Pada bab ini penulis akan menganalisis beberapa permasalahan tentang putusan isi amar serta dasar penetapan Pengadilan Agama Jepara No.1584 /Pdt. G/ 2014/ PA. JPR yang memperbolehkan poligami dengan alasan Isteri sakit Tumor Otak dan akan dikemukakan pula pandangan penulis tentang diperbolehkannya poligami dengan alasan Isteri sakit tumor otak
BAB V: Penutup berisi kesimpulan, saran-saran
23
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Poligami Dalam Islam
1. Konsep Poligami dalam Al – Qur’an dan Hadits
Secara etimologi poligami berasal dari kata Yunani, yaitu poli yang berarti banyak dan gamein, yang artinya kawin atau perkawinan.1 Sedangkan perkataan lain yang mirip dengan poligami yaitu poligini yang juga berasal dari bahasa Yunani, yaitu polus berarti banyak dan gene yang berarti wanita. Dalam bahasa Arab disebut dengan ta’addudiz zaujat (berbilangnya pasangan) atau lazimnya di Negara kita disebut dengan permaduan.2
Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan poligami dan poligini adalah suatu system perkawinan di mana seorang pria mengawini lebih dari seorang wanita, atau sebaliknya seorang wanita mengawini lebih dari seorang pria dalam suatu waktu bersamaan. Adapun secara terminologis poligami adalah seorang pria memiliki beberapa istri pada waktu bersamaan.
Dalam syari’at Islam, lebih disukai apabila suami hanya memiliki seorang istri dan mempertahankannya sampai akhir hayatnya. Hal ini karena perkawinan dalam Islam mengedepankan konsep kehidupan rumah tangga
1
Rahmat Hakim, Hukum Perkawinan Islam, Pustaka Setia, Bandung,2000 cet III, hlm 113
2 Pius Partanto, Dahlan al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Ariloka, Surabaya,t.th, hlm
yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Sedangkan suasana kehidupan poligami sangat sulit ditegakkan seandainya seorang laki- laki memiliki isteri lebih dari satu. Persoalan yang mendasar adalah prinsip keadilan bagi suami terhadap isteri- isteri yang berbeda kadar kualitasnya. Sehingga tidak jarang dengan poligami tidak melindungi para isteri, namun lebih banyak mendzaliminya.
Perasaan rasa kasih dan sayang dan cinta atau semisalnya merupakan ungkapan perasaan dalam jiwa setiap manusia yang ditakdir untuk dimiliki antara setiap laki- laki dan perempuan. Sehingga suami yang mempunyai banyak isteri sangat sulit membagi cinta, kasih sayang tersebut sama rata. Karena sifatnya yang abstrak, maka banyak faktor yang menjadikan kecenderungan suami berbeda kepada kepada isteri yang lainnya dalam mengungkapkan rasa kasih sayang. Hal ini dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti kecantikan yang berbeda, usia, kepandaian, sifat dan kelebihan yang terdapat pada masing- masing isteri tersebut.
Adapun dasar poligami dalam al- Qur’an sebagai berikut:
÷βÎ)uρ ÷Λäø Åz āωr& (#θäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uΚ≈tGu‹ø9$# (#θßsÅ3Ρ$$sù $tΒ z>$sÛ Νä3s9 zÏiΒ Ï!$|¡ÏiΨ9$# 4o_÷WtΒ y]≈n=èOuρ yì≈t/â‘uρ ( ÷βÎ*sù óΟçFø Åz āωr& (#θä9ω÷ès? ¸οy‰Ïn≡uθsù ÷ρr& $tΒ ôMs3n=tΒ öΝä3ãΨ≈yϑ÷ƒr& 4 y7Ï9≡sŒ #’oΤ÷Šr& āωr& (#θä9θãès? ∩⊂∪ ”dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap
(hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu
25
miliki yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”3
Dalam memahami nass poligami bukan hanya berpedoman kepada surat an Nisa’ ayat 3 saja tetapi juga perlu mendalami keterkaitan ayat tersebut dengan ayat sebelumnya dan sesudahnya yaitu:
a. Surat an Nisa’ ayat 1-2 yang berbunyi:
$pκš‰r'¯≈tƒ â¨$¨Ζ9$# (#θà)®?$# ãΝä3−/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ ÏiΒ <§ø ¯Ρ ;οy‰Ïn≡uρ t,n=yzuρ $pκ÷]ÏΒ $yγy_÷ρy— £]t/uρ $uΚåκ÷]ÏΒ Zω%y`Í‘ #ZÏWx. [!$|¡ÎΣuρ 4 (#θà)¨?$#uρ ©!$# “Ï%©!$# tβθä9u!$|¡s? ϵÎ/ tΠ%tnö‘F{$#uρ 4 ¨βÎ) ©!$# tβ%x. öΝä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ∩⊇∪ (#θè?#uuρ #’yϑ≈tFu‹ø9$# öΝæηs9≡uθøΒr& ( Ÿωuρ (#θä9£‰t7oKs? y]ŠÎ7sƒø:$# É=Íh‹©Ü9$$Î/ ( Ÿωuρ (#þθè=ä.ù's? öΝçλm;≡uθøΒr& #’n<Î) öΝä3Ï9≡uθøΒr& 4 …絯ΡÎ) tβ%x. $\/θãm #ZÎ6x. ∩⊄∪ ”(1) Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.:” (2). dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.”4
b. Surat an Nisa’ ayat 129
s9uρ (#þθãè‹ÏÜtFó¡n@ βr& (#θä9ω÷ès? t÷t/ Ï!$|¡ÏiΨ9$# öθs9uρ öΝçFô¹tym ( Ÿξsù (#θè=ŠÏϑs? ¨≅à2 È≅øŠyϑø9$# $yδρâ‘x‹tGsù Ïπs)¯=yèßϑø9$$x. 4 βÎ)uρ (#θßsÎ=óÁè? (#θà)−Gs?uρ χÎ*sù ©!$# tβ%x. #Y‘θà xî $VϑŠÏm§‘ ∩⊇⊄∪
3 Departemen Agama, Al Qur’an dan Terjemahannya,CV Kathoda, Jakarta, 2005,
hlm 99
“dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”5
Dengan mengkorelasikan keterkaitan ayat: 3 tersebut dengan ayat sebelumnya ayat 1dan 2 dari surat an Nisa dengan ayat sesudahnya 129 maka terdapat korelasi positif dalam mengkaji kebolehan poligami dalam Islam. Sehingga hasil dari beberapa kajian yang ada menunjukkan bahwa terdapat kondisi tertentu di mana seorang suami diperbolehkan melakukan poligami.
Berdasarkan pemahaman ayat- ayat tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dalam pembahasannya, maka dapat ditemukan bahwa al Qur’an yang membahas mengenai poligami berkaitan dengan konteks pengasuhan anak yatim wanita yang sudah cukup umur atau dewasa. Sementara walinya enggan mengembalikan harta yang dimiliki oleh para anak yatim tersebut kepadanya. Sebagai solusi maka para walinya dianjurkan untuk menikahi wanita tersebut agar mereka tetap memelihara dan menggunakan harta yang berada dalam perwaliannya. Karena itu persoalan dibolehkannya seorang laki- laki melakukan poligami berdasarkan surat an Nisa’ ayat 3 tersebut merupakan jawaban terhadap masalah spesifik tersebut.6
5
Ibid, hlm. 130
6
Khoiruddin Nasution, Khoiruddin Nasution, Status Wanita di Asia Tenggara: Studi
tentang Perundangundangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia,
27
Aspek terpenting lainnya yang harus dicermati ketika memahami surat an Nisa’ ayat 3 adalah konteks historisnya atau meneliti konteks turunnya wahyu (asbab an nuzul) ayat tersebut. Secara makro, turunya surat an Nisa’ tersebut dalam rentang waktu sesudah perang Uhud pada tahun ketiga hijriyah hingga sesudah tahun kedelapan hijriyah. Akibat dari perang Uhud kondisi para janda dan anak yatim semakin meningkat, akibat tewasnya 70 dari 700 laki laki yang berjihad.
Sehingga secara sosiologis, solusi yang terbaik untuk mengatasi persoalan janda dan anak yatim adalah bagian dengan memberi ruang bagi laki- laki untuk mengawini para janda dan anak yatim sampai dengan empat, dengan syarat memperlakukan mereka secara adil. Ini merupakan solusi terbaik yang paling mugkin saat itu dilakukan untuk menyelamatkan mereka dari labelisasi “janda” dan sekaligus menjadi problem solving terhadap persoalan sosial yang timbul seperti perzinahan, prostitusi dan pergaulan bebas yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.7
Sementara apabila dianalisis dari sisi makro (asbabun nuzul khusus), terdapat sejumlah riwayat yang menceriterakan dibalik turunyya ayat dari surat an-Nisa ayat 3 diantaranya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwasanya Urwah Ibn Zubair bertanya kepada bibinya Aisyah tentang ayat ini. Beliau menjawab bahwa ayat ini berkenaan dengan seorang anak yatim wanita yang masih dalam tanggungan walinya tertarik untuk menikahi. Padahal wali tersebut bukanlah seorang yang bias berbuat
7 Safia Iqbal, Women and Islamic Law, Delhi Publisher and Distributor, India, 1994,
adil. Karena itu para sahabat kemudian melarangnya untuk menikahianak yatim tersebut kecuali sanggup berlaku adil kepadanya dan memberikan mas kawin sebagaimana yang berlaku. 8
Karena tujuan utama para wali itu adalah menguasai harta anak yatim, akibatnya tujuan luhur perkawinan tidak dapat terwujud. Tidak sedikit anak yatim yang telah dinikahi oleh para wali mereka sendiri, mengalami kesengsaraan akibat perlakuan tidak adil. Anak- anak yatim tersebut dikawini, tetapi hak- hak mereka sebagai isteri, seperti mahar tidak diberikan. Bahkan harta mereka dirampas oleh suami mereka sendiri untuk menafkahi istetri- isteri yang lainnya yang jumlahnya lebih dari batas. Karena itu para mufassir sepakat bahwa asbabun nuzul surat an Nisa’ ayat 3 adalah berkenaan dengan perbuatan wali yang tidak adil terhadap anak yatim yang berada dalam perlindungan mereka.9 ‘ئ
Adapun dasar poligami yang digali dari sumber hadits – hadits Nabi yaitu:
َا
َ َ َ ُ َ َو َ َ ْ َا ْ ِ َ َ ْ َا َ َ َ َ ُ ْ ُن َ ْ ِ ّن
ﱡ ِ ﱠ! ا ُهَ َ َ#َ$ ُ َ%َ َ َ ْ َ#َ$ ِ َ ِ ِھ'َ(ْ َا ْ)ِ$ ٌةَ,ْ-ِ. ٌة
)ﱠ َ/
ْنَا َ ﱠ َ َو ِ ْ َ َ ُﷲ
َ1
ﱠ ُ2ْ!ِ َ ﱠ َ3َ4
'ً%َ ْرَا
108 Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Barzabah
al Bukhari al Ja’fari, Shahih Bukhari, Dar al Fikr, Beirut, 1981, v,116-117
9 Musdah Mulia, Pandangan Islam Tentang Poligami, Kerjasama Lembaga Kajian
Agama dan Gender dengan Solidaritas Perempuan dan Asia Foundation, Jakarta, Cet I, 1999, hlm.33
10 Hadits ini diriwayatkan oleh Umar dari Salim bin Abdillah dari az Zuhri dari
Ma’mar dari Sa’id ibn Abi Arubah dari Hannad .Abu Isa Muhammad ibn Isa Surah at- Tirmidzi,
29
َ7
َل'
َو
ْھ
ً'
َأ
َْ:
َ ِ;
َ7
َل'
َا
ْ
َ
ْ<
ُ=
َو
ِ ْ!
ِ;
ْي
َﺛ
َ<
ٌن'
ِ.
ْ-َ,
ٌة
َ$
َ@
َA
َ
َذ ِ
َC
ِ ﱠ!
ِ
ﱢ
َ/
ﱠE
ُﷲ
َ َ ْ
ِ
َو
َ ﱠ
َ
َ$
َ
َل'
َا
ﱠ!
ِ
ﱡ
َ/
ﱠ
ُ َ
ﷲ
َ َ ْ
ِ
َو
َ ﱠ
َ ِا
ْﺧ
َ4
َ
ِ ْ!
ُ2
ﱠ
َا
ْر
َ ً%
'
11َا
ﱠن
ا
ﱠ!
ِ
ﱠ
َ/
ّ
ُ َ
ﷲ
َ َ ْ
ِ
َو
َ ّ
َ
َ7
َل'
ِ َ
ُﺟ
ٍE
ِ
ْ
َﺛ
ِ7'
ٍI
َا
ْ
َ
َ
َو
ِ ْ!
ِ;
ْي
َ
َ
َ
ِ.
ْ-َ,
ٌة
َا
ْ
َ-َC
َا
ْر
َ ً%
َو '
َ$
َر'
َق
َ ِK'
ُ
ُھ
ﱠ
12Kemudian yang tidak boleh dilupakan adalah pentingnya memahami konsep poligami secara utuh untuk mengkaitkannya dengan kondisi dan tradisi yang terjadi pada masa sebelum Islam datang. Banyak kesalahfahaman terhadap masalah poligami dan mengira bahwa bentuk perkawinan semacam ini baru dikenal setelah Islam. Namun realitasnya praktek poligami merupakan hal yang biasa dilakukan oleh semua bangsa- bangsa di Barat dan Timur jauh sebelum Islam datang.
Dukungan legitimasi dari perbuatan para raja dan kaisar yang melembagakan pernikahan dengan beristri lebih seorang, maka poligami menjadi pemandangan yang biasa di masyarakat. Karena itu tradisi pra Islam adalah menikahi wanita yang tidak terbatas, bahkan laki- laki boleh menikahi wanita tanpa batas,13 termasuk dalam tradisi Yahudi dan Kristen.
Adapun bentuk perkawinan tersebut di atas merupakan implikasi dari rendahnya kedudukan mereka dalam masyarakat Arab ketika itu,
11Hadits ini diceriterakan dari Musaddad ibn Umairah dari Hiris bin Qais dari
Humaidah bin asy Syarmadal dari Ibn Abi Laila dari Husyaim dari Wahab bin Baqiyah dalam Abu Dawud Sulaiman ibn al- Asy’as as Sajastani, Sunan Abu Dawud, Dar al Fikr, Beirut, t.th. hadis no 2241, Kitab an Nikah, II,hlm 272
12Hadits ini bersumber dari Ibnu Syihab dalam at- Tirmidzy, Sunan at Tirmidzy, Kitab
an Nikah, hadits no 1047 dan Kitab al Buyu’, hadits no 1127, Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, Kitab an Nikah, hadits no 1943 dan 1953
13 Sayyid Amir Ali, The Spirit of Islam, History of Evolution and Ideal of Islam with a
sehingga wanita pada masa pra Islam hanya menjadi sarana pemuas seksualitas laki- laki saja sehingga statusnya sama seperti harta benda yang dapat diperjualbelikan dan dapat diwariskan kepada orang lain. Praktik semacam inilah yang ingin dihapus dan diperbaharui oleh Islam dengan membatas jumlah isteri yang boleh dinikahi hanyalah empat saja. Demikian juga terdapat ketentuan yang harus dipenuhi seperti kemampuan berlaku adil terhadap para isteri. Inilah yang digambarkan dalam hadits- hadits Rasulullah Saw tentang pembatasan jumlah isteri kepada para sahabat yang memulai memeluk Islam.
Sebenarnya perkembangan poligami dalam sejarah manusia itu mengikuti pola pemikiran dan pandangan masyarakat setempat terhadap wanita. Ketika masyarakat tersebut menganggap posisi dan derajad wanita menjadi hina, rendah dan labelisasi lainnya yang menyudutkan wanita, maka poligami menjadi subur. Namun sebaliknya, jika pada suatu masyarakat memandang wanita memiliki kedudukan yang terhormat dan setara dengan laki- laki, maka poligami pun berkurang. Dengan demikian perkembangan poligam mengalami pasang surut berbanding lurus dengan tinggi rendahnya bargaining position kaum wanita dan kedudukannya dimata masyarakat.
Islam datang untuk mengangkat harkat dan martabat wanita dengan meniadakan diskriminasi yang dilakukan secara gradual, yang pada akhirnya bermuara pada kesetaraan bagi masing- masing pihak, baik laki- laki maupun perempuan. Hal inilah yang dicanangkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membentuk dan membina masyarakat Islam. Yaitu
31
menjungjung tinggi dan menghormati kedudukan dan hak – hak kaum wanita yang merupakan ajaran Islam sebenarnya.
Berdasarkan gambaran tersebut di atas, secara umum dapat dikatakan bahwa poligami merupakan hal biasa dilakukan oleh masyarakat luas dari masa ke masa. Islam datang untuk memperketat kebolehan poligami dengan jumlah yang terbatas, namun pada satu sisi juga mampu mengangkat persoalan janda dan yatim
Dengan dengan, terlihat bahwa praktik poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktik poligami pada masa sebelumnya. Perbedaan tersebut tampak dalam dua hal. Pertama pada bilangan isteri, dari tidak terbatas jumlahnya menjadi dibatasi hanya empat. Pembatasan ini pada masa tersebut dirasakan sangat berat, sebab para laki- laki pada masa tersebut sudah terbiasa mempunyai isteri yang jumlahnya banyak, lalu mereka diperintahkan untuk memilih hanya empat saja. Kedua pada syarat poligami, yaitu harus berlaku adil. Sebelumnya poligami ketika itu tidak mengenal syarat apa pun, termasuk bentuk keadilan. Implikasinya membawa banyak kesengsaraan dan penderitaan bagi kaum wanita, karena para suami yang berperilaku poligami tidak terikat pada satu keharusan harus mampu berlaku adil, sehingga dengan mudah mereka berlaku aniaya dan semena- mena sesuai hawa nafsunya.
Ada beberpa sebab yang mendorong timbulnya poligami, diantaranya yaitu: a) telah mengakarnya mentalitas dominasi superior (merasa lebih dan ingin menguasai) dan sikap despostis (semena- mena) dari
banyak kalangan kaum pria dan b) adanya faktor alamiah yang menjadi pembeda bagi kaum laki- laki dan perempuan yang berhubungan dengan fungsi reproduksi masing- masing.14
Meskipun poligami diperbolehkan dalam Islam, namun tidak ada teks yang menunjukkan keharusan untuk melaksanakan poligami tersebut. Adanya poligami lebih disebabkan untuk membatasi praktik- praktik pemilikan wanita yang melampaui batas pada masa dahulu sebelum Islam datang. Di samping poligami dianggap sebagai solusi alternatif pada kasus tertentu dan karena itu, maka sifatnya kondisional.15
Realitasnya persoalan poligami tetap saja merupakan bentuk perkawinan dalam hukum Islam yang mengundang perdebatan dikalangan Ulama dan intelektual Muslim dari dulu sampai sekarang. Perdebatan ini sulit untuk diakhiri disebabkan poligami tidak hanya mempunyai legalitas hukum, tetapi juga didukung oleh tradisi yang sudah ada dalam masyarakat. Adanya kecenderungan psikologis laki- laki untuk menjadi penguasa semakin menyuburkan kehidupan poligami.
Adapaun kalangan yang pro dengan poligami selalu mempunyai alasan bahwa poligami menjadi solusi agar terhindar dari perzinahan (prostitusi), mengangkat dan memberdayakan para wanita. Demikian juga alasan biologis akan fungsi reproduksi laki- laki yang tidak ada batasnya bagi laki- laki sedangkan para wanita selalu dihadapkan pada batas menopause demikian juga kebutuhan seksualitas bagi kaum lelaki dapat
14 Ibid, hlm 4
33
berlangsung sampai tua. Sementara secara demografis jumlah wanita melebihi jumlah laki- laki.16 Dalam menanggapi persoalan ini, maka perlu kiranya pembahasan poligami perlu melibatkan berbagai pendapat intelektual Muslim agar diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang poligami. Untuk memudahkan pemetaan pemikiran berbagai pendapat dikalangan Islam, maka akan diuraikan poligami dalam perspektif para ulama fiqh dan ulama kontemporer.
2. Poligami dalam Pandangan para Ulama Salaf
Al Sarakhsi seorang ulama madzhab Hanafi dalam kitab al- Mabsut17 tidak memberikan penjelasan yang detail tentang asas perkawinan apakah poligami atau monogamy. Hanya dijelaskan tentang ketentuan bagi suami yang berpoligami harus berlaku adil terhadap isterinya. Keharusan berlaku adil ini berdasarkan surat an- Nisa’ ayat 3 dan hadits dari Aisyah yang menceriterakan tentang perlakuan adil Nabi terhadap para isterinya,18 ditambah dengan ancaman bagi suami yang berpoligami tetapi tidak berlaku adil kepada para isterinya.19
16 Ibid, hlm.118-119 17
Syamsuddin al- Sarakhsi, al- Mabsut, Dar al Ma’rifah, Beirut, 1989, V, hlm 217
18 َ! ا ﱠن َا ِ ﱠ َ/ ﱠ ُ َﷲ َ َ ْ ِ َو َ ّ َ َA َن' َ1 ْ% ِ; ُل ِ$ ْ َا ْ ِ ْ-َ< ِ َ ْ َ ِ. َ-ِK' ِ َو َ'A َن َ1 ُ ْ, ُل َا ّ ُ2 ﱠ َھ َ@ ِ7 ا ْ-ِ< ْ ِ$ ْ َ< َا ' ْ ِ ُC َ$ َ َﺗ ْ# ُﺧ ْ@ ِ. ْ ِ$ ْ َ< َ:' َا ْ ِ ُC َ1 ْ% ِ! ْ ِ ْ ِز َ1 َد' ِت َا ْ َ< َP ﱠ ِ ِ َ ْ% َQ ﱡ2
ﱠ . Dalam teks lain ْ ِ. ْ@ ُﺧ ْ# َﺗ diganti dengan ْ) . Hadis ini bersumber ِ!ُ< ُ َﺗ dari ‘Aisyah, dalam Abu Daud, Sunan Abu Daud, “Kitab an-Nikah” hadis no. 1882; at-Tirmizi,
Sunan at-Tirmizi, “Kitab an-Nikah’, hadis no. 1059; an- Nasa’i,”Kitab ‘Asyaratu an-Nisa”, hadis
no. 3882; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah,”Kitab an-Nikah”, no. 1961; Ahmad, Musnad Ahmad, hadis no. 33959. 19 َ! ا ﱠن َا ِ ﱠ َ/ ﱠ ُ َ ﷲ َ َ ْ ِ َو َ ﱠ َ َ7 َل' َ ْ َA َن' َ ُ َز ْو َﺟ َ4 ِ' َ$ ن َ< َل' ِا َ َا ) َﺣ َ; ُھ ﱠ ِ$ ْ َا ْ ِ ْ-ِ َﺟ َء' َ1 ْ, َم ْا ْ َ َ ' ِ َو ِﺣا ٌ; َﺷ ِ7' َ ٌ َ ِK'
ً Hadist ini bersumber dari Abu Huraira. Dalam kitab- kitab hadits kata ِن'َ4َﺟ ْوَزdiganti dengan
ِن'َﺗَا َ ْ ِا Hal ini dapat dilihat at Tirmidzy. Kitab an Nikah, hadis no 1060, . HNasa’i, Kitab
Asyaratu an-Nisa’, hadits no 3991, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Kitab an Nikah, no 1959, Ahmad Ibn Hambal, Musnad Ahmad, hadits no 9709
Hal senada juga dikemukakan dalam kitab Syarh al Fath al Qadir ditulis oleh Kamaludddin Abdul Wahid yang sering dikenal dengan nama Ibnu Hamam al Hanafi yang membolehkan praktek poligami maksimal empat orang isteri berdasarkan surat an-Nisa’ayat 3. Suami boleh berpoligami dengan syarat mampu berlaku adil dalam giliran atau rotasi ( pembagian malam) namun tidak mensyaratkan adil dalam hal cinta atau kasih sayang sebagaimana dimaksud dalam surat an- Nisa’ ayat:129.20
Imam Syafi’i dalam kitab al Umm menyebutkan bahwa Islam membolehkan suami mempunyai istri maksimal empat orang berdasarkan al- Qur’an dan al Hadits Nabi. Landasan yang digunakan dalam al Qur’an adalah surat an-Nisa’ ayat 3 yang membolehkan laki- laki beristeri empat, kemudian surat al Ahzab ayat 50 tentang rotasi atau giliran (pembagian malam) terhadap isteri, nafkah dan waris mewarisi serta surat al Mukminun ayat 5-6 tentang halalnya menikahi wanita merdeka dan budak serta boleh melakukan aktifitas senang- senang (talazuz) dengan mereka, tetapi tidak boleh dengan binatang.21
Adapun hadits yang menjadi dasar Imam Syafi’i untuk menunjukkan bolehnya poligami maksimal empat adalah berdasarkan cerita seorang pria bangsa Saqif yang masuk Islam dan mempunyai isteri sepuluh. Nabi memerintahkannya supaya mempertahankan empat dan menceraikan
20
Kamaluddin Muhammad Ibn Abdul al Wahid as Saiwasi, Syarh al-Fath al Qadir, Dar al Fikr, t,tp., 1977, II, hlm 432-433
21Abu Abdullah Muhammad Ibn Idris as- Syafi’i., al- Umm, Dar al Kutub al Ilmiyyah,
35
yang lainnya.22 Adapun tuntutan berbuat adil menurut Imam Syafi’i lebih cenderung kepada urusan fisik misalnya mengunjungi isteri di malam atau di siang hari. Adapun tuntutan ini didasarkan pada prilaku Nabi dalam berbuat adil kepada isterinya dengan membagi giliran malam dan memberi nafkah.
Sementara dalam pandangan Imam Malik dalam kitab al Muwatta membolehkan berpoligami dengan maksimal empat isteri, berdasarkan hadits yang sama yakni kasus pria bangsa Saqif yang masuk Islam dan mempunyai isteri sepuluh. Nabi memerintahkan orang tersebut hanya mempertahankannya maksimal empat, sementara yang lain harus dicerai. Begitu pula dalam kitab Syarh az- Zarqani ‘ala Muwatta li al- Imam Malik disebutkan bahwa seseorang boleh berpoligami maksimal empat orang isteri berdasarkan kasus seorang laki- laki dari Saqif yang bernama Gaylan yang baru masuk Islam sedangkan ia memiliki sepuluh orang isteri. Kemudian Nabi memerintahkn kepada laki- laki tersebut untuk memilih empat dan menceraikannya yang lain.
Sementara itu, Ibnu Qudamah dari madzhab Hanafi berpendapat bahwa seorang suami hanya boleh menikahi wanita maksimal empat. Hai ini berdasarkan surat an- Nisa’ ayat 3 dan kasus Ghaylan bin Salamah serta kasus Naufal ibn Muawiyah. Jika mempunyai banyak isteri, maka seorang suami harus berperilaku adil baik adil dalam rotasi waktu/ pembagian giliran terhadap para isteri tersebut, memberi nafkah, baik berupa materi maupun nafkah batin, yaitu pemenuhan kebutuhan seksual isteri dan tempat tinggal. 22 ﱠ! َا ﱠن َا ِ ﱠ َ/ ّ ُ َ ﷲ َ َ ْ ِ َو َ ّ َ َ7 َل' ِ َ ُﺟ ٍE ِ َ َﺛ ِ7 ' ٍI َا ْ ﱠ َ َو ِ ْ! َ; ُه َ َ َ ِ. ْ-َ, ٌة َا ْ ُC َا ْر َ ٌV َو َ7 َر' َق َ ِK' ُ ُھ ﱠ
Hadits ini bersumber dari Ibnu Syihab dalam At- Tirmizi, Sunan At Tirmizi, Kitab an Nikah, hadits no 1047 dan Kitab Buyu’ hadits no 127, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, “Kitab an- NIkah”, hadis