E-ISSN 2655 – 2310
PENERAPAN EVIDENCE BASE NURSING INTERMITTENT
FEEDING
UNTUK
MENURUNKAN
VOLUME
RESIDU
LAMBUNG PASIEN KRITIS
Army Reza Mutias*, Beti Kristinawati*, Nur Widayati**
* Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta **Rumah Sakit Umum Pusat dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
◊Corresponding Outhor: [email protected]
Pasien dalam kondisi kritis dengan kondisi tubuh yang lemah, bedrest dan kegagalan multiorgan mengalami penurunan motilitas lambung yang menyebabkan proses pengosongan lambung terhambat sehingga terjadi peningkatan volume residu lambung. Tujuan dari penerapan evidence base nursing ini adalah untuk menurunkan volume residu lambung pada pasien kritis dengan pemberian interitttent feeding. Penerapan
evidence base nursing ini dilakukan pada 7 sampel yang dipilih dengan teknik purposive. Sampel yang
dipilih telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Intermittent feeding dilakukan selama satu hari sebanyak 5 kali sesuai jam makan rumah sakit dengan jumlah nutrisi yang diberikan adalah 200 cc selama 1 jam setiap pemberian. Sebelum dan setelah pemberian intermittent feeding dilakukan aspirasi cairan lambung terlebih dahulu untuk mengevaluasi volume cairan lambung. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi volume residu lambung untuk mengetahui perubahan volume residu lambung sebelum dan setelah intervensi dilakukan. Hasil evidence base nursing ini menunjukkan bahwa dari 7 pasien yang diberikan intermittent
feeding, semua pasien mengalami penurunan volume residu lambung. Intermittent feeding efektif
menurunkan volume residu lambung. Sehingga diharapkan dapat diterapkan pada pasien yang menerima nutrisi enteral via nasogastrik dan beresiko mengalami penurunan motilitas lambung.
Kata kunci: Intermittent feeding, volume residu lambung, pasien kritis
LATAR BELAKANG
Nutrisi merupakan bagian penting dari manajemen pasien kritis ((Nasiri et al., 2017). Pemberian nutrisi pada pasien kritis bertujuan untuk mencegah dan mengatasi gangguan nutrisi, memberikan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, mencegah terjadinya komplikasi, meningkatkan
outcome pasien kritis, menurunkan angka
morbiditas, mortalitas dan mendorong proses penyembuhan (Khalimah, Putrono & Rafiyanto, 2018)
Pemenuhan kebutuhan nutrisi idelanya dilakukan secara oral. Namun, pada pasien kritis dengan kondisi tubuh yang lemah, bedrest dan kegagalan multi organ, pemenuhan nutrisi secara oral tidak dapat dilakukan sehingga pemberian nutrisi diganti secara enteral melalui selang nasogastrik. Menurut Simandibrata (2013), berbagai penelitian menyatakan bahwa nutrisi enteral merupakan nutrisi utama yang berperan penting dalam perbaikan status nutrisi pasien kritis. Pemberian nutrisi secara enteral mampu mempertahankan fungsi
pencernaan, sebagai respon metabolik pada trauma, sebagai imunologik dengan mencegah organisme dalam tubuh menyerang tubuh dan mengurangi resiko terjadinya sepsis (Potter & Perry, 2005).
Pemberian nutrisi enteral bukan tanpa resiko. Ketidaktepatan dalam pemberian nutrisi enteral dapat menimbulkan komplikasi seperti tingginya volume residu lambung, retensi lambung, diare, nausea dan muntah (Nasiri et al., 2017). Residu lambung yang tinggi selama pemberian nutrisi enteral meningkatkan resiko aspirasi paru yang merupakan komplikasi paling parah dari pemberian nutrisi enteral (Bureau of quality improvement service, 2015). Tingginya volume residu lambung kemungkinan disebabkan oleh penundaan pengosongan lambung, posisi berbaring pasien selama pemberian nutrisi, peningkatan kecepatan pemberian nutrisi, besarnya volume nutrisi yang diberikan dan konsentrasi makanan cair (Asosiasi Dietisen Indonesia Cabang Bandung, 2005).
Intermittent feeding merupakan salah
satu metode pemberian nutrisi enteral yang
PENELITIAN
E-ISSN 2655 – 2310
dilakukan dengan menggunakan pompa elektronik. Volume makanan yang diberikan berkisar antara 240-720 cc selama 20- 60 menit dan dapat diberikan 4 sampai 6 kali sehari (Brantley dan Mills, 2012). Keuntungan metode ini adalah kesiapan lambung dalam menerima nutrisi enteral karena diberikan secara bertahap, lambung yang tidak terisi penuh lebih dapat mencerna makanan dengan baik dan pengosongan lambung akan lebih cepat sehingga mengurangi volume residu lambung serta resiko terjadinya aspirasi paru. Hal ini tentu akan lebih berpengaruh pada pasien kritis yang baru teratasi fase kritisnya dan sejalan dengan salah satu tujuan pemberian nutrisi pada pasien kritis yaitu mencegah komplikasi yang timbul sehubungan dengan ketidaktepatan dalam pemberian nutrisi enteral (Aguilera-Martínez, Rosaa. RN et al., 2011)
Berdasarkan analisis situasi yang telah dilakukan di ruang ICU RSUP dr. Tirtonegoro Klaten dari tanggal 25-30 November 2019, setiap hari terdapat pasien yang pemenuhan nutrisinya dilakukan secara enteral. Jumlah pasien yang mendapat nutrisi enteral via nasogastrik adalah 7 pasien. Berdasarkan pengamatan jumlah residu lambung yang dilakukan pada 4 dari 7 pasien pada pukul 07.00 WIB, terdapat volume residu lambung yang terdiri dari air, sisa makanan dan cairan lambung berjumlah ± 1-10 cc.
METODE
Sumber evidence base nursing ini diperoleh dari 10 jurnal internasional dan nasional yang diakses menggunakan mesin pencari google scholar, PubMed, Springer Science dan ResearchGate dengan kata kunci intermittent feeding, gastric residual
volume, nutrition enteral, intensive care unit, critically ill patient, volume residu lambung. Kemudian dipilih satu jurnal yang
digunakan sebagai jurnal rujukan dan jurnal lainnya sebagai jurnal pendukung.
Penerapan evidence base nursing ini dilakukan di Ruang ICU RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten kepada 7 pasien yang
menerima nutrisi enteral via nasogastrik dari bulan November sampai Desember 2019.
Populasi dalam evidence base nursing ini adalah pasien kritis yang menerima nutrisi enteral via nasogatrik. Sampel yang diperoleh berjumlah 7 pasien kritis. Krieria inklusi yang ditetapkan meliputi pasien yang menerima nutrisi enteral via nasogastrik, tidak puasa, dan tidak dilakukan evaluasi cairan lambung. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang mendapat obat golongan prokinetik (seperti: domperidon, cisapride), pasien dengan perdarahan gastrointestinal/ stress ulcer dan distensi abdomen serta pasien yang pindah bangsal/meninggal sebelum intervensi selesai dilakukan.
Intermittent feeding dilakukan dengan
memberikan diit makanan cair sejumlah 200 cc selama 1 jam menggunakan alat syringe
pump untuk mengatur kecepatan pemberian
nutrisi. Intervensi dilakukan selama satu hari sebanyak 5 kali sesuai jam makan yang ditetapkan oleh rumah sakit yaitu pukul 07.00 WIB, 10.00 WIB, 14.00 WIB, 17.00 WIB dan 21.00 WIB. Sebelum dan setelah pemberian nutrisi, dilakukan aspirasi cairan lambung untuk mengetahui volume residu lambung dan kemudian dicatat dalam lembar observasi volume residu lambung.
Instrumen yang digunakan dalam penerapan evidence base nursing ini meliputi selang nasogastrik, syringe pump, spuit 50 cc, diit nutrisi enteral dan lembar observasi volume residu lambung. Data selanjutnya dianalisis dengan distribusi frekuensi yang disajikan alam bentuk tabel.
HASIL
Karakeristik Responden
Berdasarkan hasil penerapan evidence
base nursing yang telah dilakukan, diperoleh
jumlah responden sebanyak 7 pasien kritis yang dirawat di ICU RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dimana paling banyak yaitu 4 pasien (57,1%) berjenis kelamin perempuan, diagnosa medis paling banyak adalah post op craniotomy (42,8%) dengan usia paling banyak > 60 tahun yaitu 5 orang
E-ISSN 2655 – 2310
(71,4%) dan diit susu paling banyak entramix yaitu 3 orang(42,8%).
Intermittent Feeding dan Volume Residu Lambung
Tabel 1: Hasil Volume Residu Lambung pada Pasien di Ruang ICU RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Volume residu lambung Volume residu lambung (cc) Pretest Posttest Volume rerata 10,8 0,7 Volume minimum 5 0 Volume maximum 20 5
Berdasarkan tabel di atas, maka diperoleh hasil bahwa terjadi penurunan volume residu lambung pada semua pasien (7 pasien). Pada jam 07.00 WIB, sebelum pemberian intermittent feeding dilakukan, volume residu lambung paling banyak yaitu berjumlah 20 cc dan setelah diberikan nutrisi enteral secara intermittent feeding volume residu lambung paling banyak adalah 5 cc.
PEMBAHASAN
Pada hasil penerapan evidance base
nursing ini, paling banyak pasien berusia
(>60 tahun), artinya pasien termasuk dalam kategori usia lansia. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengosongan lambung adalah usia lansia. Pada lansia, terjadi gangguan fungsi lambung akibat proses penuaan yang menyebabkan gangguan pada saraf-saraf yang mempersyarafi saluran pencernaan. Hal ini menyebabkan motilitas lambung menurun sehingga terjadi keterlambatan pengosongan lambung (Munawaroh et al., 2012). Penatalaksaan pemberian nutrisi pada pasien lansia dilakukan dengan pemberian makanan bertahap sedikit demi sedikit dan meningkatkan asupan cairan dengan pemberian diit makanan cair Lansia memerlukan pemberian nutrisi enteral via nasogastrik dengan kecepatan yang lebih lambat agar menurunkan resiko diare akibat komplikasi pemberian makan melalui selang
nasogastrik (Setianingsih., Rahayu, Y., & Anna, A, 2016).
Pasien kritis pada penerapan evidance
base nursing ini menerima diit makanan cair
berupa susu bubuk yang dilarutkan dalam 200 cc air hangat. Susu bubuk yang diberikan tergantung pada diit pasien yang ditetapkan oleh ahli gizi. Pada hasil penerapan, paling banyak pasien menerima diit susu entramix yaitu makanan cair dengan nutrisi lengkap sebagai pengganti utama dengan nutrisi yang seimbang. Osmolaritas entramix yang dilarutkan dalam 200 cc air adalah 379 mOsm/L. Serum normal memiliki osmolaritas sekitar 300 mOsm/Kg air. Osmolaritas berpengaruh paling dominan terhadap volume residu lambung karena proses pencernaan yang terjadi di lambung adalah proses digesti yaitu proses pemecahan makan secara kimiawi maupun secara mekanis menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Proses digesti akan lebih cepat apabila formula makanan yang diberikan sudah dalam bentuk partikel kecil dan tingkat osmolaritas yang lebih rendah (Setianingsih., Rahayu, Y., & Anna, A, 2016).
Proses pengosongan lambung terjadi akibat adanya peristaltik yang kuat pada antrum lambung kemudian diikuti oleh kontraksi pylorus sehingga mendorong kembali isi antrum yang masih berbentuk padat ke korpus lambung. Gelombang berikutnya mendorong terus dan menekan sedikit lagi menuju duodenum. Pergerakan maju atau mundur dari kandungan lambung bertanggung jawab pada hampir semua pencampuran yang terjadi di pada abdomen. Disaat bersamaan, makanan yang mengandung protein akan merangsang diproduksinya hormon gastrin. Sekresi hormon gastrin merangsang esophageal
sphincter bawah untuk berkontraksi, motilitas lambung meningkat, dan pyloric
sphincter berelaksasi. Efek dari pengosongan tersebut adalah pengosongan lambung (Potter, P & Perry, A, 2005).
Penilaian volume residu lambung masih merupakan penilaian paling umum untuk mengetahui pengosongaan lambung. Volume residu lambung yang tinggi meningkatkan resiko aspirasi pada pasien
E-ISSN 2655 – 2310
yang akan mengakibatkan komplikasi lain. Pada prinsipnya semakin tinggi residu lambung maka semakin besar resiko aspirasi lambung (Guo, 2015)
Pada pemberian intermittet feeding dilakukan secara bertahap yaitu 200 cc/jam dengan jarak waktu pemberian nutrisi 3,5 jam sesuai dengan waktu jam makan. Pemberian volume nutrisi yang diberikan secara bertahap meminimalkan distensi lambung yang menyebabkan reflek
enterogastrik sehingga lebih
memaksimalkan motilitas lambung sehingga pengosongan lambung lebih cepat dan menurunkan volume residu lambung (Paolo et al., 2019). Suhu makanan yang diberikan dalam keadaan hangat membuat pasien lebih nyaman dan tidak menimbulkan keluhan mual dan muntah (Ulfa, M., Siswanto, Y., & Yudanari, Y.G, 2015). Pemberian
intermittent feeding dilakukan dengan
syringe pump dengan kecepatan aliran
makanan 200cc/jam sehingga membuat lambung lebih siap menerima makanan yang diberikan secara perlahan. Penentuan jadwal dengan selang waktu 3,5 jam juga mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung, umumnya pengosongan lambung terjadi sebanding dengan akar kuadrat makanan yang tertinggal dalam lambung.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Khalimah, N., Putrono., & Rafiyanto, 2018) yang dilakukan pada 4 pasien kritis yang dirawat di Ruang ICU bahwa dari 4 pasien pasien yang diberikan
intermittent feeding, semuanya mengalami
penurunan residu lambung. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Ulfa, M., Siswanto, Y., & Yudanari, Y.G (2015) yang menyatakan bahwa metode pemberian nutrisi secara intermittent feeding efektif untuk mencegah residu lambung pada pasien kritis. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Munawaroh et al., 2012) bahwa setelah diberikan nutrisi enteral dengan metode intermitten feeding, volume residu lambung lebih sedikit sehingga lebih efektif jika diterapkan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penerapan evidence
base nursing yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa pemberian intermittent
feeding efektif untuk menurunkan volume
residu lambung sehingga diharapkan dapat diterapkan pada pasien yang menerima nutrisi enteral ia nasogastrik dan mengalami penurunan motilitas lambung.
DAFTAR PUSTAKA
Aguilera-Martínez et al. (2011). Enteral Feeding via Nasogastric Tube. Effectiveness of continuous versus intermittent administration for greater tolerance in adult patients in Intensive Care: A systematic review. JBI
Library of Systematic Reviews,
9(Supplement), 1–17.
Asosiasi Dietisen Indonesia Cabang Bandung. (2005). Panduan pemberian
nutrisi enteral. Jakarta: EGC.
Asosiasi Dietisen Indonesia Cabang Bandung. (2005). Panduan pemberian
nutrisi enteral. Jakarta: EGC.
Bureau of quality improvement service. (2015). Health & Safety : Aspiration
Prevention Management of Gastric Residuals. Washington: BQIS.
Bureau of quality improvement service. (2015). HEALTH & SAFETY :
ASPIRATION PREVENTION
Management of Gastric Residuals. 1–
6.
Guo, B. (2015). Gastric residual volume management in critically ill mechanically ventilated patients: A literature review. Proceedings of
Singapore Healthcare. 24(3). 171–
180.
Ichimaru, S & Amagai, T. (2014). Intermittent and bolus methods of feedig in critical care. Diet aand
Nutrition in Critical Care. 1-17.
https://doi.org/10.1007/978-1-4614-8503-2_139-1.
E-ISSN 2655 – 2310
Khalimah, N., Putrono., & Rafiyanto, W. (2018). Pemberian Nutrisi Enteral
Metode Intermittent Feeding Terhadap Volume Residu Lambung Pada Pasien Kritis. LTA. Prodi Profesi Ners
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes
Konmiao., Zeng, F., Yi Li. Chen, C., &
Huang, M. (2018). A more
physiological feeding process in ICU intermittent infusion with semi-solid nutrients (CONSORT-compliant).
Clinical Trial/Experimental Study: Medicine. 97(36), 1-6.
Lyanne, W. Et al. (2015). Intermittent bolus or semicontinuous feeding for preterm infants?. JPGN: Original Article
Nutrition. 61(6), 659-664.
Munawaroh, S. W., Handoyo, & Astutiningrum, D. (2012). Efektifitas Pemberian Nutrisi Enteral Metode Intermittent Feeding dan Gravity Drip Terhadap Volume Residu Lambung pada Pasien Kritis di Ruang ICU RSUD Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan. 8(3). 1–6.
Nasiri, M., Farsi, Z., Ahangari, M., & Dadgari, F. (2017). Comparison of Intermittent and Bolus Enteral Feeding Methods on Enteral Feeding Intolerance of Patients with Sepsis: A Triple-blind Controlled Trial in Intensive Care Units. Middle East
Journal of Digestive Diseases, 9(4),
218–227.
Paolo, G. Di, Twomlow, E., Hanna, F. W. F., Farmer, A. D., Lancaster, J., & Sim, J. (2019). Continuous or Intermittent ? Which Regimen of Enteral Nutrition is Better for Acute Stroke Patients ? a Systematic Review and Meta-Analysis. OJNBD. 247–255. Patel, J., Rosenthal., & Heyland, D. (2017).
Intermittent versus continuus feeding in critically ill adults. Current Opinion: Nutrition and Intensive Care Unit. 1363-1950, 1-5.
Potter, P & Perry, A. (2011). Buku ajar
fundamental keperawatan: konsep, proses dan praktik. Jakarta: EGC.
Setianingsih., Rahayu, Y., & Anna, A. (2017). Analisa faktor-faktor yang berhubungan dengan gastric residual volume pada pasien yang mendapat nutrisi enteral metode bolus feeding di Ruan ICU RSUD Tugurejo Semarang.
Prosiding Seminar Ilmiah Keperawatan 2016, 4, 52-61, ISBN:
978-602-74417-0-5.
Simandibrata, M. (2013). Opimalisasi nutrisi enteral paien rawat inap.
bagian ilmu penyakit dalam.
FKUI/RSCM.
Ulfa, M., Siswanto, Y., & Yudanari, Y.G. (2015). Efektifitas pemberian nutrisi secara gravity drip dan intermittent
feeding terhadap jumlah residu lambung pasien di Instalasi Rawat Intensif RSUD Tugurejo Semarang. 1-7.