• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-1

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1 ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 2.1.1 Karakteristik Kabupaten Jembrana

1) Luas dan batas wilayah administrasi;

Luas wilayah Kabupaten Jembrana secara keseluruhan adalah

841,80 Km² atau 14,93 % dari luas Propinsi Bali, terluas kedua setelah

Kabupaten Buleleng.

Tabel 2.1

Luas Wilayah Kab./Kota se-Provinsi Bali Tahun 2010

Sumber: BPS Kab. Jembrana (Jembrana Dalam Angka Th 2010)

Dengan luasan daerah yang demikian merupakan potensi yang sangat baik khususnya di sektor pertanian maupun sektor-sektor lain seperti perkebunan, perikanan, industri maupun perdagangan. Dari 5 (lima) kecamatan yang ada di Kabupaten Jembrana, yang terluas adalah Kecamatan Mendoyo. Rincian luas masing-masing kecamatan, yaitu sebagai berikut:

a. Kecamatan Melaya seluas : 197,19 km2 b. Kecamatan Negara seluas : 126,60 km2 c. Kecamatan Mendoyo seluas : 294,49 km2 d. Kecamatan Pekutatan seluas : 129,65 km2

e. Kecamatan Jembrana : 93,87 km2

Secara administrasi Kabupaten Jembrana dibagi atas 5 (lima) wilayah kecamatan, 41 desa dan 10 kelurahan dengan 244 banjar dinas dan 43 lingkungan. Di samping desa dinas, Kabupaten Jembrana juga

No. Luas Wilayah Km2 %

1 Jembrana 841,80 14,93 2 Buleleng 1.365,88 24,23 3 Karangasem 839,54 14,89 4 Tabanan 839,33 14,89 5 Bangli 520,81 9,24 6 Badung 418,52 7,42 7 Gianyar 368,00 6,53 8 Klungkung 315,00 5,59 9 Kota Denpasar 127,78 2,27 Provinsi Bali 5.636,66 100,00

L UAS WIL AY AH P R OVINS I B AL I

14,93% 24,23% 14,89% 14,89% 9,24% 7,42% 6,53%5,59%2,27% J embrana B uleleng K arangas em Tabanan B angli B adung G ianyar K lungkung K ota Denpas ar

(2)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-2 memiliki desa Pekraman sebanyak 64 buah dengan Banjar Adat sebanyak 285 buah.

Tabel 2.2

Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Jembrana Tahun 2010

No. Pembagian Wilayah Administrasi Jumlah

1 Jumlah Kecamatan 5

2 Jumlah Desa/Kelurahan 41/10

Jumlah Dusun/Lingkungan 207/43

3 Jumlah Desa Adat (Desa Pakraman) 64

4 Jumlah Banjar Adat 232

5 Jumlah Rumah Tangga 84.440

6 Jumlah Penduduk 307.804

7 Kepadatan Per Km2 2.760

8 Luas Wilayah 841,80 Km2

9 Perbandingan Laki-Perempuan ( Sex ratio) 99% Sumber : BPS Kab. Jembrana (Jembrana Dalam Angka Th 2010)

Batas-batas wilayah Kabupaten Jembrana adalah: a. Sebelah Utara dengan Kabupaten Buleleng b. Sebelah Timur adalah Kabupaten Tabanan c. Sebelah Selatan adalah Samudra Indonesia. d. Sebelah Barat adalah Selat Bali

Gambar 2.1

Peta Kesesuaian Lahan Kawasan Budidaya Kabupaten Jembrana Tahun 2008

(3)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-3

2) Letak dan Kondisi Geografis; a. Posisi Astronomis

Kabupaten Jembrana sebagai salah satu dari 9 (sembilan) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Bali, secara geografis terletak di ujung barat Pulau Bali membujur dari barat ke timur tepatnya terletak pada posisi 8o 09’30”- 8o 28’02” Lintang Selatan dan 114o 25’ 53” - 114o

56’ 38” Bujur Timur.

b. Posisi Geostrategik

Kabupaten Jembrana merupakan pintu masuk maupun keluar pulau Bali, melalui pelabuhan Gilimanuk. Angkutan barang, wisata, penumpang umum dan jasa dari Pulau Jawa akan melewati Kabupaten Jembrana menuju ke Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem di sebelah Utara, dan angkutan menuju Kabupaten Tabanan, Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Klungkung di bagian selatan dan selanjutnya menuju penyeberangan Padang Bai dengan tujuan Provinsi NTB. Dengan demikian Jembrana merupakan jalur penghubung utama segala aktivitas antar kota-kota di pulau Jawa dengan pulau Bali, NTB dan NTT melalui jalur darat.

c. Kondisi Kawasan

Permukaan bumi Kabupaten Jembrana bergelombang dan berbukit di bagian Utara, dan landai di bagian Selatan. Ketinggian wilayah Kabupaten Jembrana mencapai 306,84 meter di atas permukaan laut dengan titik tertinggi hanya 700 meter. Kabupaten Jembrana memiliki pantai sepanjang 78 km dan memiliki 37 sungai dengan panjang seluruhnya sebanyak 495,8 kilometer.

3) Topografi

Topografi wilayah Kabupaten Jembrana meliputi daerah pegunungan di bagian utara dan pendataran (pantai) di bagian selatan yang berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pada bagian tengah

merupakan daerah perkotaan. Ketinggian topografi bervariasi ± 1000 mdpl (bagian utara) sampai ± 1.0 (Pantai Selatan), dengan

kemiringan rata-rata lahan sebagai berikut :

 Datar : 25,00 %

 wilayah landai : 10,16 %

 wilayah berbukit : 25,24 %

(4)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-4

Gambar 2.2

Peta Kemiringan Lereng Kabupaten Jembrana Tahun 2008

Sumber :Bappeda dan PM Kabupaten Jembrana 2008

Berdasarkan tingkat kemiringan lereng, wilayah Kabupaten Jembrana dapat di kelompokkan ke dalam 4 kelompok:

1. Wilayah dengan kemiringan lereng 0 – 2% (datar) seluas 210,47 Km2, tersebar diseluruh kecamatan Kabupaten Jembrana dan Kecamatan Negara. Kondisi tanah ini sangat potensial dimanfaatkan untuk pemukiman.

2. Wilayah dengan kemiringan lereng 2 – 15% (landai) seluas 85,49 Km2, tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Jembrana. Kondisi tanah seperti ini potensial dimanfaatkan untuk berbagai jenis usaha, namun diperlukan usaha konversasi tanah dan air.

3. Wilayah dengan kemiringan lereng 15 – 40% (bergelombang/ berbukit) seluas 212,45 Km2, terdapat diseluruh kecamatan di Kabupaten Jembrana. Penggunaan tanah dengan kemiringan demikian cukup rawan dan kurang baik untuk budidaya tanaman pertanian, namun perlu dikelola dengan pemilihan tanaman yang berfungsi sebagai konversasi. Secara eksisting sebagian besar kawasan pada kemiringan ini merupakan kawasan yang dikembangkan untuk hutan produksi dan hutan lindung.

4. Wilayah dengan kemiringan lereng >40% (curam sampai sangat curam) seluas 333,39% Km2, merupakan bagian terluas dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Jembrana. Kondisi kelerengan seperti ini potensial terkenal erosi sehingga perlu diupayakan pelestarian hutan lindung.

(5)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-5

Gambar 2.3 Peta Ketinggian

Kabupaten Jembrana Tahun 2008

Sumber :Bappeda dan PM Kabupaten Jembrana 2008 4) Geologi

a. Struktur dan Karakteristik

Berdasarkan data peta geologi Kabupaten Jembrana dapat diketahui bahwa wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari lima jenis batuan yaitu :

 Formasi Gamping Agung  Batuan Gunung Api Jembrana  Formasi Palasari

 Formasi Alluvium  Alluvium Formasi Sorga

Berdasarkan peta jenis tanah Provinsi Bali wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis tanah yaitu :

a) Tanah Latosol Coklat dan Litosol (Inceptisol)

Jenis tanah ini tersebar di empat wilayah Kabupaten Jembrana, yang paling luas terdapat di Kecamatan Mendoyo ( 25.985 ha), di Kecamatan Melaya (16.319 ha), Kecamatan Negara dan Jembrana (14.130 ha) dan Kecamatan Pekutatan (12.169 ha). Jenis tanah ini dibentuk oleh bahan induk abu vulkanik intermediet dengan kandungan bahan organik yang rendah sampai sedang dan PH berkisar antara 4,5-5,5.

(6)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-6 b) Tanah Alluvial Coklat Kelabu

Tanah ini merupakan tanah endapan sungai dengan luas kurang lebih 10.750 Ha sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana (5.725 ha).

c) Tanah Alluvial Coklat Kelabu

Jenis tanah ini di bentuk oleh bahan induk batuan gamping dengan bentuk morfologi bergelombang sampai berbukit-bukit. Jenis tanah ini mendominasi wilayah Kecamatan Melaya (1.878 ha).

d) Tanah Regosol Cokelat Kelabu

Jenis tanah ini sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana seluas 772 ha dan di wilayah Kecamatan Mendoyo seluas 648 ha. Tanah ini terbentuk oleh induk vulkanik intermedier dengan bentuk wilayah landai sampai berombak. e) Tanah Alluvial Hidromorf

Jenis tanah ini terdapat di wilayah Kecamatan Nagara dan Kecamatan Jembrana khususnya di sepanjang wilayah pantai selatan dan di sekitar Desa Pengambengan dan Desa Cupel. Luas jenis tanah ini kurang lebih 1420 Ha. Tanah ini merupakan sedimen darat dan laut yang dibentuk oleh lempeng pasir dan pecahan karang.

Masing masing jenis tanah tersebut diatas mempunyai tekstur yang berbeda-beda umumnya tekstur wilayah di Kabupaten Jembrana tergolong tekstur halus (kandungan liat sangat tinggi). Sedangkan tekstur kasar (pasir dan lempung berpasir) merupakan tekstur tanah yang terdapat di sepanjang pantai dari wilayah Kabupaten Jembrana.

Gambar 2.4

Peta Jenis Tanah Kabupaten Jembrana Tahun 2008

(7)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-7

5) Hidrologi

Di daerah ini terdapat 17 sungai induk dan 20 anak sungai. Semua sungai-sungai ini mempunyai arahan aliran dari Utara (pegunungan) ke muara sungai di bagian selatan yaitu Samudera Indonesia. Masing-masing sungai mempunyai daerah tangkapan hujan (catchment area) yang berbeda-beda. Sungai yang alirannya paling panjang adalah Tukad Bilukpoh sepanjang 29 km, dan terpendek adalah Tukad Pangkung Belatung yang hanya 3,40 km. Sumber air yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana meliputi :

1. Air permukaan : air sungai, bendung Palasari

2. Air tanah : air yang bersumber dari bawah tanah 3. Mata air : terdapat 37 mata air dg kapasitas 110 l/det Berdasarkan karakteristik alirannya, sungai-sungai yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu sungai-sungai yang terletak di Bagian Darat dari wilayah Kabupaten Jembrana (sebelah Barat Tukad Melaya), sungai-sungai hanya mengalir pada musim hujan. Hal ini erat kaitannya dengan curah hujan yang sangat rendah di wilayah itu serta kondisi tanah yang berbentuk dari batuan gamping. Sedangkan kelompok sungai yang mengalir sepanjang tahun adalah sungai-sungai yang terletak diantara Tukad Klatakan disebelah Barat dan Tukad Pulukan disebelah Timur umumnya sungai-sungai tersebut tetap mengalir pada musim kemarau walau debit airnya sangat kecil.

Berdasarkan peta hidrogeologi daerah Kabupaten Jembrana dari Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan Sub. Direktorat Pendayagunaan Air Tanah (Tahun 1986) kondisi air tanah dan struktur geologi Kabupaten Jembrana dapat diuraikan sebagai berikut:

Terdapatnya air tanah dan produksivitas akuifer (occurrence of

groundwater and productivity of aquifers) yaitu:

a. Akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir (aquifers in which

flowe is intergranular)

 Akuifer produktif dengan penyebaran luas, berarti: Akuifer dengan keterusan sedang: muka air tanah atau tinggi pisometri air tanah dekat atau bawah muka tanah; debit sumur umumnya 5 sampai 10 ltr/dtk.

 Akuifer dengan produktivitas sedang, dan penyebaran luas berarti: akuifer dengan keterusan sedang sampai rendah; muka air tanah beragam dari atas atau dekat muka tanah sampai lebih dalam dari 10 m dibawah tanah, debit sumur umumnya kurang dari 5 ltr/dtk.  Setempat akuifer dengan produktivitas sedang berarti: akuifer

tidak menerus, tipis dengan keterusan rendah, debit sumur umumnya kurang dari 5 ltr/dtk.

(8)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-8 a. Akuifer (bercelah atau sarang) dengan produktivitas rendah dan daerah

air tanah langka (aquifers (fissured or product) of poor productivity

and regions without exploitables groundwater).

 Akuifer dengan produktivitas rendah setempat berarti: umumnya keterusan sangat rendah, setempat air tanah dangkal dalam jumlah terbatas dapat diperoleh dilembah-lembah atau pada zona pelapukan.

 Daerah air tanah langka.

Di samping air permukaan, sumber air lainnya adalah air tanah yaitu air yang bersumber dari bawah tanah. Keadaan air tanah dari suatu daerah sangat dipengaruhi oleh keadaan geologi dari keadaan tersebut. Disamping air permukaan dan air tanah sumber air yang lain adalah mata air (spiring). Di Kabupaten Jembrana menurut data dari Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan Sub. Direktorat Pendayagunaan Air Tanah (Tahun 1986) konservasi air tanah daerah Kabupaten Jembrana yaitu sebagai berikut:

1. Daerah cekungan air tanah: a. Daerah lepasan

 Zona aman pada akuifer kedalaman >30m bmt. Pengambilan air tanah dibatasi maksimal 540 m³/hari/sumur. Air tanah pada akuifer kedalaman <30 m bmt. Hanya diperuntukan bagi keperluan rumah tangga dengan pengambilan maksimal 100 m³/bulan/sumur.

 Zona aman. Aliran air tanah terbatas pada zona celahan, rekahan dan saluran pelarutan, dengan kedudukan muka air tanah dalam. Pengembangan air tanah lebih layak dilakukan dengan menurap mata air. Dapat difungsikan sebagai daerah resapan.

b. Daerah Resapan

 Zona resapan, tidak untuk dikembangkan bagi berbagai peruntukan, kecuali untuk keperluan rumah tangga dengan pengambilan maksimal 100 m³/bulan/sumur, sedangkan untuk keperluan lain dapat dipertimbangkan setelah dilakukan kajian teknis hidrogeologi atau menurap mata air. Peruntukan lahan diupayakan untuk perkebunan atau hutan. 2. Daerah bukan cekungan air tanah:

 Zona bukan cekungan air tanah, produksifitas akuifer rendah, sehingga air tanah kurang layak dikembangkan, kecuali pada akuifer dangkal didaerah lembah dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dengan debit maksimal 100 m³/bulan/sumur. Dapat difungsikan sebagai daerah resapan.

(9)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-9

6) Klimatologi

Ditinjau dari segi kilimatologi, Kabupaten Jembrana mempunyai iklim tropis dengan penggantian musim yang jelas antara musim terhujan dan musim kemarau masing-masing selama 5 dan 7 bulan setiap tahunnya. Curah hujan di Kabupaten Jembrana hampir merata sepanjang tahun dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan September, sedangkan tertinggi terjadi pada bulan April. Kondisi curah hujan tersebut sangat mendukung pengembangan sektor pertanian dalam arti luas. Di samping didukung oleh curah hujan yang merata tersebut, juga ditinjau dari topografi rata-rata ketinggian wilayah Kabupaten Jembrana 306,84 meter di atas permukaan laut dan dengan titik tertinggi hanya 700 meter di atas permukaan laut, yaitu di Kecamatan Mendoyo. Kondisi ini sangat mendukung pengembangan usaha di sektor pertanian dalam arti luas. Musim penghujan berkisar antara bulan Nopember - Maret dan musim kemarau antara bulan April - Oktober. Temparatur rata-rata didaerah ini berkisar antara 25,4 sampai 28,4 C.

7) Penggunaan Lahan a) Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya terbagi menjadi dua yaitu budidaya pertanian dan budi daya non pertanian, Kabupaten Jembrana merupakan wilayah yang kaya akan berbagai sumberdaya alam termasuk didalamnya adalah pertanian dan kehutanan.

Tabel 2.3

Penggunaan Lahan di Kabupaten Jembrana (Ha) Tahun 2008

No Keca

matan

Penggunaan Lahan (HA) Sawah Tegal/ Huma Per kebunan Peka rangan Jumlah (4+5+6) Tam bak Lain nya Jumlah Luar Kawasan (7+8+9) Hutan Jumlah (10+11) 1 Melaya 1.269,00 1.143,00 2.700,00 1.083,00 4.926,00 18,00 469,00 5.413,00 13.780,72 20.462,72 2 Negara 1.823,50 1.549,20 3.277,80 2.207,40 7.034,40 201,00 791,10 8.026,50 1.850,00 11.700,00 3 Jembrana 978,00 1.088,40 1.899,20 1.729,80 4.717,40 317,50 680,10 5.715,00 3.495,59 10.188,59 4 Mendoyo 2.313,00 136,00 6.289,00 1.883,00 8.308,00 37,00 222,00 8.567,00 15.515,08 26.395,08 5 Pekutatan 579,25 2.145,50 3.101,50 594,25 5.841,25 12,00 1.484,00 7.337,25 6.665,88 14.582,38 Jumlah 6.962,75 6.062,10 17.267,50 7.497,45 30.827,05 585,50 3.646,20 35.058,75 41.307,27 83.328,77

Sumber : Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Kabupaten Jembrana, 2008

Dengan pemanfaatan lahan seperti tabel tersebut di atas, maka Kabupaten Jembrana memiliki potensi ekonomi dalam berbagai sektor, seperti; pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan, industri mikro, industri kecil dan industri menengah hingga industri besar. Potensi ekonomi Kabupaten Jembrana tersebut didukung pula

(10)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-10 oleh keharmonisan geografis, di mana letak daratan dengan dataran tinggi dan dataran rendah dengan pantai dalam pola ”Nyegara

Gunung” artinya harmoni keseimbangan alam pegunungan dan

wilayah laut. Sedangkan dari penggunan lahan untuk kawasan Non Budidaya, kawasan pertanian, kawasan budidaya non pertanian di Kabupaten Jembrana yaitu dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 2.4

Kawasan Non Budidaya, Budidaya Pertanian

dan Budidaya Non Pertanian di Kabupaten Jembrana Tahun 2007

No Kawasan Luas

1.

2.

3.

Kawasan Non Budi daya - Hutan Lindung

- Hutan swadaya marga satwa - Hutan Produk Terbatas - Hutan Produk

Kawasan Budidaya Pertanian -Tanaman lahan basah/sawah - Tanaman lahan kering -Tanaman Tahunan/Perkebunan - Perikanan

Kawasan Budidaya Non Pertanian - Pariwisata - Industri - Pelabuhan - Bendungan - Pemukiman 34.312.80 Ha 4.502.90 Ha 2.616.20 Ha 383.10 Ha 9.751.06 Ha. 9.751.06 Ha 23.192.03 Ha 367.53 Ha 3.218.47 Ha 625,00 Ha 9.,80 Ha 87,00 Ha 4.700,11 Ha Sumber :Bappeda Kabupaten Jembrana, 2008

Penggunaan lahan Tahun 2007 didominasi oleh kawasan budidaya pertanian, yaitu seluas  43.061,68 Ha, dan untuk kawasan Non Budidaya yaitu seluas 41.815,00 Ha dan untuk kawasan kawasan budidaya non pertanian yaitu seluas 8.640,38 Ha.

b) Kawasan Lindung

Luas Kawasan Hutan di Kabupaten Jembrana adalah 41.307,27 Ha atau 7, 48 % dari Luas Pulau Bali; atau 31,61 % dari luas Kawasan Hutan Pulau Bali; atau 49,07 % dari luas daratan Kab. Jembrana. Kawasan Hutan di Kabupaten Jembrana berada pada kelompok Hutan Yeh Leh Yeh Lebah (RTK 12) seluas 2.813,00 Ha dan Kelompok Hutan Bali Barat (RTK 19) seluas 38.494,27 Ha. Kawasan Hutan hampir 80,471 % berupa Kawasan fungsi Lindung. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jembrana kawasan tersebut disepakati dipertahankan sebagai Penyangga Sistem Kehidupan Wilayah Bawahan. Dalam Pembangunan sektor ekonomi , Bidang Pertanian sebagai tulang punggung pembangunan bidang ekonomi

(11)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-11 sangat tergantung pada kondisi tata lingkungan dan tata air serta Ekosistem Wilayah Hulu sebagai sarana pendukung Produksi. Oleh sebab itu kondisi Lingkungan di Wilayah Hulu Jembrana mutlak dipertahankan .

Kondisi saat ini diperkirakan sekitar 30 - 40 % Hutan diwilayah hulu Jembrana dalam keadaan rusak akibat adanya usaha illegal perubahan fungsi terhadap keberadaan fungsi Hutan tersebut, hal ini terjadi sebagaian besar pada Hutan fungsi lindung di Jembrana.

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah

Potensi Umum Pemanfaatan lahan di Kabupaten Jembrana masih didominasi oleh kawasan non terbangun, sehingga untuk memperkuat fungsi wilayah perencanaan sebagai kawasan konservasi tidak ada kendala, namun harus mampu mengendalikan perkembangan kegiatan budidaya yang ada. Secara geografis, lokasi wilayah perencanaan berada pada jalur penghubung regional menempatkan wilayah perencanaan sebagai kawasan yang cukup strategis. Posisinya yang menghubungkan antar pusat kegiatan nasional dan wilayah menjadikan interaksi dengan wilayah perencanaan menjadi tinggi. Wilayah Perencanaan memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar dan bernilai ekonomis. Potensi alam dan bentang alam wilayah perencanaan dengan panorama yang sangat eksotik, terutama hutan lindung dan budidaya serta berbagai obyek dan daya tarik wisata alam dan bahari menjadikan wilayah perencanaan sangat potensial untuk dikunjungi wisatawan.

Gambar 2.5

Peta Permasalahan Struktur Ruang Berdasarkan Hasil PGD Kabupaten Jembrana Tahun 2008

(12)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-12

Gambar 2.6

Peta Permasalahan Pola Ruang Berdasarkan Hasil PGD Kabupaten Jembrana Tahun 2008

Sumber :Bappeda dan PM Kabupaten Jembrana 2008

Untuk memberikan gambaran lebih detail, maka potensi pengembangan wilayah dijabarkan dan dibagi atas kawasan, yaitu:

A) POTENSI KAWASAN LINDUNG

 Potensi kawasan suaka alam meliputi cagar alam dan suaka margasatwa;

melindungi kawasan bawahannya, melestarikan keanekaragaman flora dan fauna serta menjaga kelestarian tanaman. Sedangkan potensi suaka margasatwa adalah untuk pengembangan wisata alam dan pengembangan ilmu pengetahuan yang tetap mempertahankan kelestarian lingkungan, adapun Kawasan Suaka Alam di Kabupaten Jembrana adalah Kawasan Suaka Alam Laut di Kecamatan Melaya dan Gilimanuk yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bali Barat.

 Potensi Kawasan Pelestarian Alam Terdiri dari Taman Nasional dan Taman Wisata Alam;

Taman Nasional dan taman wisata alam di Kabupaten Jembrana memiliki potensi sebagai kawasan hutan dengan

(13)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-13 komunitas tumbuhan dan satwa langka beserta ekosistemnya. Potensi yang dipertahankan adalah hutan primer dan hutan produksi, aneka flora langka seperti bayur, Ketangi, Burahol, Cendana, Snoorkling, dan lain-lain, berbagai pohon khas Bali yang tidak ditemukan di tempat lain atau istilahnya endemik seperti pohon ilang yang bayak tumbuh di kawasan ini, pohon sawo kecik, wali kukun, pohon intara, bunut, dan pohon serut serta satwa langka antara lain Jalak Bali, Ibis putih kepala hitam, Gangsa batu coklat, Kijang, Trenggiling, Landak, Kancil, Ikan hiu, Ikan bendera, Kima raksasa dan lain-lain.

 Potensi Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan terdiri dari Lingkungan Non Terbangun, Lingkungan Bangunan Gedung, dan halamannya Serta Kebun Raya;

Kabupaten Jembrana memiliki peninggalan budaya dan ilmu pengetahuan yang sangat penting, Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahun di Kabupaten Jembrana meliputi Pura Peti Batu yang terletak di Kecamatan Negara, Situs Gilimanuk dan Monumen Lintas Laut Gilimanuk yang terletak di Kecamatan Melaya.

Budaya masyarakat dengan kearifan budaya lokal serta adat istiadatnya merupakan salah satu potensi wisata yang besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

Terdapat pula Wisata budaya dan ziarah yakni Makam Mbah Temon dan Jayaprana yang dapat menjadi potensi wisata yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

 Potensi Kawasan Perlindungan Bawahan Terdiri dari Kawasan Hutan Lindung, Kawasan Resapan Air dan Kawasan Karst Kelas I;

Kawasan perlindungan bawahan di Kabupaten Jembrana memiliki potensi untuk melindungi/memperkecil bahaya tanah longsor atau banjir menuju kawasan bawahannya, melalui peresapan air ke dalam tanah dapat meningkatkan volume air tanah, dan melindungi flora dan fauna yang masih berkembang untuk menghindari kepunahan.

 Potensi Kawasan Perlindungan Setempat Terdiri dari Kawasan Sekitar Mata Air, Kawasan Sekitar Waduk/Danau, Kawasan Sekitar Sempadan Sungai, Pantai, Kawasan Sekitar Sempadan Sungai diKawasan Permukiman, Kawasan Pantai Berhutan Bakau/Mangrove, Kawasan Terbuka Hijau Kota, Kawasan Suci, dan Kawasan Kesucian Pura;

adanya kawasan-kawasan suci yang dipandang memiliki nilai kesucian (kawasan Suci) oleh umat Hindu di Bali

(14)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-14 seperti kawasan gunung, danau, campuhan, pantai, laut dan mata air memudahkan dalam pengelolaan dan pengamanan terhadap kawasan perlindungan setempat, begitu pula dengan penetapan kawasan radius kesucian pura atau daerah

kekeran dimana dalam suatu kawasan yang hanya boleh ada

bangunan yang terkait dengan kehidupan keagamaan (Hindu), misalnya pendirian Dharmasala, Pasraman dan sebagainya, bagi kemudahan umat Hindu melakukan kegiatan keagamaan, sebaran lokasi radius kesucian pura berada disekitar lokasi pura-pura Dhang Kahyangan yang tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Jembrana.

B) POTENSI KAWASAN BUDIDAYA

 Potensi Hutan produksi;

selain memiliki fungsi ekonomi utama hasil kayu, juga memiliki hasil sampingan dan perlindungan kawasan sebagai kawasan lindung, maka segala kegiatan dan pengembangan daerah terbangun harus dikendalikan secara ketat. Kawasan hutan produksi dapat mendukung keanekaragaman hayati.  Pengembangan lahan pertanian;

dikembangkan sesuai dengan kondisi irigasi di masing-masing wilayah Kabupaten. Pertanian di Kabupaten Jembrana merupakan sektor yang masih mendominasi struktur ekonomi Kabupaten Jembrana, secara umum Kabupaten Jembrana memiliki potensi sebagai salah satu lumbung padi nasional, merupakan wilayah penghasil tanaman pangan dengan berbagai komoditas unggul, wilayah penghasil tanaman hortikultura dengan kualitas eksport.  Potensi perikanan;

budidaya air tawar, sangat besar dan belum sepenuhnya dikembangkan, hasil budidaya perikanan budidaya air tawar juga belum banyak diolah sehingga tidak memberi nilai tambah yang besar. Salah satu potensi perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah budidaya ikan air laut (tambak) dan penangkapan ikan air laut yang telah didukung dengan adanya Pelabuhan Pelelangan Ikan dan pengembangan teknologi pengolahan ikan air laut pasca panen.

 Potensi Peternakan;

ternak besar (sapi, babi, kambing, kerbau, kuda dan domba), maupun unggas (ayam dan itik) cukup besar di Kabuaten Jembrana. Peternakan ini memiliki potensi untuk diolah menjadi komoditas yang bernilai ekonomis tinggi. Penduduk

(15)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-15 Kabupaten Jembrana mayoritas beragama Hindu membutuhkan babi untuk berbagai keperluan selain dikonsumsi juga untuk keperluan upacara, selain babi populasi kedua banyak dipelihara adalah sapi. Sapi di samping dipotong untuk dikonsumsi dagingnya oleh masyarakat Jembrana, juga dikirim antar pulau ke Jawa, terutama ke Jakarta.

 Potensi pariwisata;

banyaknya dan beragamnya objek dan daya tarik pariwisata di Kabupaten Jembrana yang dapat menarik pangsa pasar, namun belum optimal dikembangkan. Keindahan alam dan pantai yang masih alami, Taman Nasional Bali Barat, Bangunan-bangunan yang suci dan berbagai atraksi budaya yang dapat dijumpai diseluruh wilayah Kabupaten Jembrana merupakan potensi yang sangat besar bagi perkembangan wisata di Kabupaten ini.

 Potensi pengembangan Permukiman;

permukiman perdesan dan perkotaan yang terintegrasi dapat mendorong terjadinya keseimbangan perkembangan wilayah sekaligus mendorong pertumbuhan secara lebih merata. Masing-masing kawasan permukiman dikembangkan sesuai potensi masing-masing akan dapat mempercepat pengembangan kawasan perkotaan dan perdesaan serta wilayah sekitarnya.

 Potensi pengembangan industri;

dengan kebijakan pengembangan industri kecil dan menengah melalui pemberian kemudahan dalam akses produksi, distribusi dan pemasaran dengan program pembinaan dan pengembangan industri. Area industrialisasi di Kabupaten Jembrana masih terbuka bagi investor, kondisi tersebut dapat ditunjukan adanya kawasan industri yang berkembang di Pengambengan, sektor industri yang berpotensi untuk dikembangkan adalah industri perikanan dan Kerajinan, selain industri tersebut pengembangan industri Agrobisnis di Kabupaten Jembrana menunjukan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.

 Potensi pertambangan;

Pengembangan pertambangan di Kabupaten Jembrana berdasarkan hasil analisis ekonomi bukan merupakan Skala Prioritas Pengembangan sektor di Kabupaten Jembrana hal ini dikarenakan potensi pengembangan sektor ini sangat kecil dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya di Kabupaten Jembrana.

(16)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-16  Potensi Perdagangan;

khususnya melalui Kota Negara memiliki potensi perdagangan skala wilayah dan nasional.

 Potensi kawasan pusat pemerintahan dan core Budaya; ketersediaan fasilitas yang cukup dengan berbagai inovasi sehingga dapat melayani seluruh wilayah di Kabupaten Jembrana dan menjadi “wajah” kebudayaan masyarakat Kabupaten Jembrana.

C) POTENSI KAWASAN STRATEGIS

Kabupaten Jembrana memiliki beberapa kawasan strategis yang dapat diprioritaskan dalam penangganannya, kawasan tersebut memberikan potensi yang besar terhadap pembangunan, merupakan kawasan yang dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat, memiliki potensi sebagai kawasan yang dikendalikan tata ruangnya, dan kawasan yang berpotensi mendorong perkembangan kawasan sekitar dan atau berpengaruh terhadap perkembangan Kabupaten Jembrana secara umum.

D) POTENSI KAWASAN PESISIR DAN KEPULAUAN

Kawasan pesisir di Kabupaten Jembrana terbentang dari Gilimanuk di Kecamatan Melaya sampai Desa Pengeragoan di Kecamatan pekutatan memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata dan keaneka-ragaman hayati yang bernilai ekonomi tinggi seperti berbagai jenis ikan, udang dan kerang, yang kesemuanya merupakan aset yang sangat strategis untuk dikembangkan dengan basis kegiatan ekonomi pada pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental service).

Kawasan pulau-pulau kecil di Kabupaten Jembrana merupakan kawasan hutan lindung Taman Nasional Bali Barat, pemanfaatan secara ekonomi terhadap pulau kecil adalah pengembangan objek dan daya tarik wisata terbatas.

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana

Kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Kawasan rawan bencana di Kabupaten Jembrana meliputi Kawasan rawan banjir, longsor, abrasi pantai dan rawan air pasang.

(17)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-17 a) Wilayah Rawan Banjir

Lokasi sering terjadinya banjir di Kabupaten Jembrana yaitu di Kecamatan Pekutatan di Desa Pangyangan yang diakibatkan oleh meluapnya sungai Banjar Yeh Lebah, dan Lingkungan Kopraha dan di Kecamatan Negara mulai Kelurahan Balerbaleagung, Kelurahan Lelateng dan Kelurahan Loloan Barat dan di Desa Pengambengan yang diakibatkan oleh fungsi pembuangan air (drainase) kota belum tertangani secara menyeluruh baik dari segi perencanaan teknik maupun pelaksanaan fisiknya. Luas keseluruhan kawasan rawan bencana banjir di Kabupaten Jembrana hampir mencapai ± 200 Hektar.

b) Wilayah Rawan Longsor

Di Kabupaten Jembrana kawasan yang rawan terhadap bahaya Longsor/Erosi terutama di Desa Berangbang Kecamatan Negara yang letak lokasinya yaitu di Dusun Pengajaran Kaler, dalam Kawasan Hutan Lidung RPH Candikusuma yang luasnya yaitu sekitar ± 1 hektar, Desa Manggisari Kecamatan Pekutatan lokasinya di permukiman penduduk yang luasnya sekitar ± 2 hektar dan yang ketiga di Desa Yeh Sumbul Kecamatan Mendoyo yang lokasinya terdapat di Pangkung Languan Mekar, di Pemukiman penduduk yang luasnya yaitu ± 3 hektar.

c) Wilayah Rawan Air Pasang Laut

Posisi Kabupaten Jembrana yang merupakan bagian dari pulau Bali merupakan daerah yang berpotensi rawan air pasang. Desa di wilayah pesisir Kabupaten Jembrana yang memiliki tingkat kerawanan tinggi adalah Desa Candikesuma, Desa Gilimanuk, Desa Melaya, Desa Nusa sari, Desa Tuwed, Desa Air kuning, Desa Banyubiru, Desa Budeng, Desa Cupel, Desa Pengambengan, Desa Perancak, Desa Tegal bandeng barat, Desa Tegal bandeng timur, Desa Yeh kuning, Desa Delod berawah, Desa Penyaringan, Desa Yeh embang, Desa Yeh embang kangin, Desa Yeh embang kauh, Desa Gumrih, Desa Medewi, Desa Pangyangan, Desa Pekutatan, Desa Pengeragoan, dan Desa Yeh sumbul. Kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Jembrana dapat dilihat pada Gambar dibawah ini;

(18)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-18

Peta Rawan Bencana Kabupaten Jembrana Tahun 2008

Sumber :Bappeda dan PM Kabupaten Jembrana 2008 2.1.4 Demografi

Jumlah penduduk Kabupaten Jembrana hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2005 adalah 257.459 jiwa terdiri dari laki-laki 126.173 jiwa, Perempuan 131.286 jiwa. Pada tahun 2010 berdasarkan laporan kepedudukan database SIAK, jumlah penduduk Kabupaten Jembrana adalah sebesar 307.804 jiwa terdiri dari laki-laki 152.323 jiwa, perempuan 152.207 Jiwa artinya dalam waktu lima tahun penduduk Jembrana bertambah 50.345 jiwa, atau rata-rata 2,96% per tahun.

Tabel 2.5

Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Jembrana Th 2005 - 2010

No Tahun Jumlah Penduduk Kenaikan %

1 2005 257.459 5.394 2,14 2 2006 260.791 3.332 1,29 3 2007 262.741 1.950 0,75 4 2008 269.647 6.906 2,63 5 2009 304.956 35.309 13,09 6 2010 307.804 2.848 0,93 Rata-rata 2005-2010 2,96

(19)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-19 Perbandingan penduduk laki-laki dengan perempuan (Sex Ratio) di Kabupaten Jembrana pada akhir tahun 2009 mencapai 99 berbanding 100 sedangkan pertengahan tahun 2010 adalah mendekati angka ideal 100% yang berarti bahwa setiap 100 orang perempuan bisa dipasangkan dengan 100 orang laki-laki atau 1 berbanding 1.

Sedangkan persebaran penduduk di tiap-tiap kecamatan tidak merata di semua kecamatan yaitu sebagai berikut:

Tabel 2.6

Komposisi Penduduk Kabupaten Jembrana Berdasarkan Jenis Kelamin

No KECAMATAN LAKI-LAKI PEREMPUAN JML PDDK %

1 NEGARA 43.211 42.617 85.828 27,20 2 MENDOYO 33.810 34.140 67.950 22,40 3 PEKUTATAN 14.971 15.156 30.127 9,88 4 MELAYA 29.928 29.554 59.482 19,05 5 JEMBRANA 30.403 30.740 61.143 20,97 TOTAL 152.323 152.207 304.530 100

Sumber : LKPJ Akhir Masa Jabatan Bupati Jembrana 2005-2010

Dengan jumlah penduduk sebesar 304.530 jiwa dan luas wilayah 841,80 km2, kepadatan penduduk Kapupaten Jembrana adalah sebesar 362 jiwa/km2. Jumlah penduduk tertinggi terkonsentrasi di Kecamatan Negara yang mencapai 27,20% dengan kepadatan 678 orang/km2 atau hampir dua kali lipat kepadatan kabupaten, sedangkan jumlah penduduk terendah ada di Kecamatan Pekutatan hanya 9,88% dengan kepadatan 232 orang/km2.

Struktur Usia penduduk di Kabupaten Jembrana per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.7

Struktur Usia Penduduk Kabupaten Jembrana Bulan Mei Tahun 2010 KEC 0-4 TH 5-6 TH 7-12 TH 13-15 TH 16-18 TH 19-25 TH 26-45 TH 46-55 TH >= 56 TH JML NEGARA 5.880 3.033 9.739 4.374 4.289 9.766 30.332 9.216 9.199 85.828 MENDOYO 4.266 2.166 6.994 3.260 3.076 6.762 23.398 8.346 9.682 67.950 PEKUTATAN 2.014 982 3.055 1.412 1.367 3.136 10.346 3.668 4.147 30.127 MELAYA 4.111 2.055 6.619 2.954 2.847 6.598 20.606 6.573 7.119 59.482 JEMBRANA 3.864 1.922 6.182 2.881 2.828 6.479 21.769 7.583 7.635 61.143 TOTAL 20.135 10.158 32.589 14.881 14.407 32.741 106.451 35.386 37.782 304.530

Sumber data : SIAK Kabupaten Jembrana per 31 Mei 2010.

Dilihat dari tabel diatas, jumlah penduduk Kabupaten Jembrana pada usia produktif 16 s/d 55 tahun cukup tinggi sebanyak 188.985 orang mencapai 62,06%, dan ini merupakan potensi Sumber Daya Manusia untuk pembangunan di Kabupaten Jembrana sehingga memerlukan pengelolaan

(20)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-20 yang baik agar betul-betul mejadi sumber daya yang produktif dan bermanfaat bagi pembangunan khususnya di Kabupaten Jembrana.

Komposisi penduduk di Kabupaten Jembrana menurut mata pencaharian sebagian besar adalah sebagai petani sebesar 32,11 %, Pertambangan 0,59 %, Industri Pengolahan 18,13 %, Bangunan 8,22 %, Pedagang 22,84 %, Transportasi/Komunikasi 4,09 %, Keuangan 1,38 %, Jasa 11,92 % lainnya 0,78 %.

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat

Menurut Permendagri Nomor 54 tahun 2010, Aspek Kesejahteraan masyarakat terdiri atas:

a. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi, b. Fokus Kesejahtraan Masyarakat dan

c. Fokus Senibudaya dan Olahraga.

2.2.1 Focus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi ditunjukan dengan pertumbuhan PDRB, Laju Inflasi, PDRB Perkapita, Indeks Gini, dan Prosentase penduduk di atas garis kemiskinan.

1) Pertumbuhan PDRB Kabupaten Jembrana

Struktur perekonomian Kabupaten Jembrana berdasarkan indikator distribusi persentase nilai tambah bruto sektoral, meliputi 9 sektor yaitu Pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih, Bangunan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, serta Jasa-jasa. Dari ke-9 sektor tersebut dikelompokkan menjadi Sektor Primer (Pertanian, Pertambangan dan Penggalian), Sektor Sekunder (Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih, Bangunan), Sektor Tersier (Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, serta Jasa-jasa). Dalam kurun waktu periode tahun 2005 – 2010, struktur perekonomian Kabupaten Jembrana mengalami sedikit pergeseran/ perubahan seperti diagram berikut :

Gambar 2.8

Grafik Struktur Perekonomian Kabupaten Jembrana Tahun 2005 – 2010

(21)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-21 Bila kita cermati dalam kurun wktu 2005 – 2010 sebagaiman pada gambar 2.8, bahwa kontribusi pembentukan PDRB didominasi oleh kelompok sector tersier yang terdiri dari perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perumahan, serta jasa – jasa. Kondisi tersebu mencerminkan bahwa potensi Kabupaten Jembrana yang dominan daerah pertanian dalam arti luas belum dikelola secara optimal dan adanya perubahan alih fungsi lahan serta trend pekerjaan dibidang pertanian dalam arti luas kurang diminati oleh generasi muda.

Dalam Kurun Waktu 5 Tahun terakhir dapat ditempatkan perkembangan PDRB Kabupaten Jembrana Menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku sebagai berikut :

Tabel 2.8

PDRB Menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku

No Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009 *2010 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Pertanian Penggalian Industri

Listrik dan Air Minum Bangunan Perdagangan ,Hotel,Retoran Pengangkutan,Komunikasi Perbankan /Keuangan Jasa 611.602,64 11.237,36 153.654.02 34.132,16 130.442,09 540.892,40 345.564,50 107.621,00 292.868,60 669.535,62 12.297,36 173,226,42 38.626,42 144.732,49 616.909,85 383.709,19 316.993,11 319.310,72 958.355,40 14.236,99 211.185,16 46.479,57 178.073,18 704.045,71 473,999,84 136,040,37 369.242,58 857.13,42 15.894,51 244.703,82 54.449,25 211.532,26 802.114,91 528.851,81 158.883,19 403.766,27 982.314,46 17,239.81 280,596.12 64,632.61 240,084.47 908,156.85 589,638.28 183,705.53 437,976.28 *angka proyeksi

Sumber: BPS Kab. Jembrana (Jembrana Dalam Angka Th 2010

Berdasarkan tabel tersebut, kontribusi dibidang pertanian dan perdagangan masih dominan menyusul, bidang pengangkutan dan bidang Jasa, terlihat bahwa kontribusi masing-masing lapangan usaha terhadap PDRB setiap tahun mengalami peningkatan, keadaan ini merupakan salah satu indikator bahwa Kabupaten Jembrana merupakan daerah agraris dan sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian dan Perdagangan dalam arti luas.

Berikut dapat disajikan perbandingan besaran PDRB Kabupaten Jembrana berdasarkan Harga Konstan dan Harga Berlaku dari Tahun 2005 – 2010 (proyeksi) sebagai berikut :

(22)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-22

Tabel 2.9

PDRB Atas Dasar Harga Konstan, PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kab. Jembrana Tahun 2005 – 2009 dan Proyeksi 2010

Tahun

PDRB

Atas Dasar Harga Konstan (dalam jutaan Rp)

PDRB

Atas Dasar Harga Berlaku (dalam jutaan Rp) 2005 2006 2007 2008 2009 2010* 1.374.979,23 1.437.403,09 1.510.512,67 1.586.805,71 1.663.345,43 1.752.327,67 2.041.833,38 2.228.014,77 2.475.347,22 2.891.658,80 3.277.309,44 3.732,763,96 Sumber: BPS Kab. Jembrana (Jembrana Dalam Angka Th 2010)

2) Laju Inflasi

Pertumbuhan ekonomi ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan, dipakai untuk menilai tingkat keberhasilan pembangunan di suatu daerah, secara tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan produksi yang terjadi di suatu daerah.

Gambar 2.9

Laju Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Kabupaten Jembrana Tahun 2006 – 2010

Sumber: BPS Kab. Jembrana (Jembrana Dalam Angka Th 2010)

Pada tahun 2006 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jembrana sebesar 4,52%, kemudian tahun 2007 mengalami percepatan sebesar 0,59% menjadi 5,11%. Pada tahun 2008 ekonomi Kabupaten Jembrana tetap tumbuh namun mengalami perlambatan sebesar 0,06% menjadi 5,05%. Sektor-sektor yang share-nya mengalami perlambatan diantaranya sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, Demikian juga tahun 2009, ekonomi Kabupaten Jembrana juga tumbuh namun kembali mengalami perlambatan.

3) PDRB Perkapita

PDRB per kapita Kabupaten Jembrana tahun 2006 – 2010 menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Tahun 2006 PDRB per kapita Kabupaten Jembrana baru mencapai Rp. 8.883.064,76, tahun 2007

(23)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-23 meningkat menjadi Rp. 9.745.538,22. Tahun 2008 menjadi Rp. 11.282.672,90, tahun 2009 menjadi Rp. 12.678.719,19. Tahun 2010 diprediksi meningkat menjadi Rp. 14.165.861,28.

Gambar 2.10

PDRB per Kapita Kabupaten Jembrana Tahun 2006 – 2010

Sumber: BPS Kab. Jembrana (Jembrana Dalam Angka Th 2010)

PDRB per Kapita merupakan suatu indikator yang dihitung dengan cara membagi data PDRB terhadap jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang seberapa besar nilai tambah yang diciptakan/ diterima tiap-tiap penduduk sehingga secara tidak langsung akan menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk di wilayah bersangkutan.

4) Indeks Gini

Gini Ratio merupakan angka yang digunakan untuk mengukur ketimpangan pendapatan daerah secara menyeluruh. Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 bahwa tentang gini ratio dikelompokkan kedalam ketimpangan rendah apabila gini ratio tinggi lebih kecil dari 0,3, di kategorikan ketimpangan sedang apabila gini rationya lebih besar dari 0,3 dan lebih kecil dari 0,5, selanjutnya di kategorikan ketimpangan tinggi apabila gini rationya lebih besar dari 0,5.

Berikut dapat disajikan perkembangan gini ratio Kabupaten Jembrana untuk kurun waktu 2005 – 2009 pada table berikut :

Tabel 2.10

Gini Ratio Kabupaten Jembrana Tahun 2005 – 2009

No Tahun Gini Ratio

1 2005 0,2611

2 2006 0,2325

3 2007 0,2385

4 2008 0,2583

5 2009 0,2370

(24)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-24 Bila diperhatikan table tersebut diatas dalam kurun waktu 2005 – 2009 Kabupaten Jembrana Gini Rationya terkategorikan ketimpangan rendah. Kondisi tersebut mencerminkan tingkat pendapatan masyarakat di Kabupaten Jembrana cenderung merata atau gap antara rumah tangga kaya dan rumah tangga miskin cenderung kecil. Oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi diharapkan merata di masing – masing sector ( 9 sektor ).

5) Prosentase Penduduk di Atas Garis Kemiskinan

Pertumbuhan PDRB perkapita suatu daerah dapat digunakan sebagai salah satu indicator terhadap pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat. Dalam kurun waktu 2005 – 2010 PDRB perkapita Kabupaten Jembrana mengalami pertumbuhan rata – rata 9,9 % pertahun namun dengan tingkat rata – rata pertumbuhan PDRB perkapita tersebut bukan berarti Kabupaten Jembrana terbebas dari penduduk miskin.

Untuk mengetahui proporsi dan jumlah penduduk miskin, tersedia dua sumber, yaitu persen penduduk miskin dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilaksanakan setiap tiga tahun, dan jumlah rumah tangga miskin yang pendataannya dilaksanakan oleh Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa bekerjasama dengan BPS pada setiap tahun dalam rangka penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) oleh pemerintah pusat. Kedua jenis data tersebut berbeda dalam beberapa hal. Pertama, data SUSENAS adalah hasil survei, tanpa nama dan tanpa alamat. Tujuannya untuk memantau persen penduduk miskin setiap 3 tahun. Alat ukurnya juga berbeda, yaitu pola konsumsi masyarakat, yang kemudian disimpulkan menjadi kilokalori. Bila konsumsi per orang dibawah 2100 kilokalori per hari maka dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Gambar 2.11

Persentase Penurunan Penduduk Miskin Kabupaten Jembrana Tahun 2010

Sumber: BPS Kab. Jembrana (Jembrana Dalam Angka Th 2010)

Seiring dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jembrana, jumlah KK miskin juga terus mengalami penurunan. Pada tahun 2005 KK miskin di Kabupaten Jembrana sebanyak

(25)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-25 6.999 KK, tahun 2006 KK miskin sebanyak 6.502 KK.Tahun 2007 turun menjadi 5.386 KK, pada tahun 2008 tinggal 5.727 KK dan tahun 2009 hanya sebanyak 3.943 (4,74%) dari KK Jembrana sebanyak 83.257 buah) atau 11.561 orang (3,8%) dari 304.971 orang penduduk. Jumlah KK Miskin Kabupaten Jembrana dibawah Rata-Rata KK Miskin Provinsi Bali yaitu 5 %.

Tabel 2.11

Persentase Penduduk di atas garis Kemiskinan

Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Persentase Penduduk di atas garis kemiskinan

90,87 92,60 92,36 95,26 96,20

Sumber : Evaluasi RPJMD Kabupaten Jembrana 2006-2010 2.2.2 Focus Kesejahteraan Sosial

Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap 4 jenis rasio yang terbagi atas:

1) Rasio Pendidikan (indikator angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni);

Capaian Kinerja Pendidikan diukur dengan IKK: Angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Pendidikan yang Ditamatkan, Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Partisipasi Murni (APM) SD/ MI/ PaketA, Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B dan Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/ SMK/ MA/ Paket C.

Tabel 2.12

Capaian Kinerja Pendidikan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Angka Melek Huruf 86,89% 88,00% 88,89% 89,00% 90,00% 2 Angka Rata-rata lama sekolah 6,00Th 6,15Th 6,50Th 7,00Th 7,800th 3 APK SD/MI/Paket A 112,37 107,29,37 110,27 110,63 115,55 4 APK SMP/MTs/Paket B 97,51 95,30 105,38 106,46 110,50 5 APK SMA/SMK/MA/Paket C 68,77 73,99 82,90 81,35 95,00 6 APM SD/MI/Paket A 100,11 92,63 96,01 96,45 98,50 7 APM SMP/MTs/Paket B 88,50 88,33 80,13 85,89 90,00 8 APM SMA/SMK/MA/Paket C 66,25 72,23 64,37 69,78 75,60 9 Angka Pendidikan yang ditamatkan SD 99,97 100 99,32 98,60 100 10 SMP 99,85 99,89 99,82 99,23 100 11 SMA 97,43 99,30 99,79 98,07 99,97

(26)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-26

2) Rasio Kesehatan (angka kelangsungan hidup bayi, angka usia harapan hidup);

Capaian Kinerja kesehatan diukur dengan IKK: Angka Kelangsungan Hidup Bayi, Angka Usia Harapan Hidup dan Persentase Balita Gizi Buruk.

Tabel 2.13

Capaian Kinerja Kesehatan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Angka kematian bayi/1000 KH 14,25 9,21 7,75 10,62 9,13 2. Angka Umur Harapan Hidup 71,40 71,45 71,65 71,73 71,75 3. Persentase Balita gizi Buruk 0,54 0,02 0,02 0,02 0,01 4. Angka Kesakitan Kasar 21,92 15,40 15,07 19,39 20,33 5. Angka Kematian Ibu /100.000 KH 50,88 134,74 70,47 90,42 93,61 Sumber: Dinas Kesehatan dan Kessos Kab. Jembrana Th 2010

3) Rasio Pertanahan (persentase penduduk yang memiliki lahan);

Capaian Kinerja Pertanahan diukur dengan IKK: Persentase Penduduk yang Memiliki Lahan.

Tabel 2.14

Capaian Kinerja Pertanahan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Persentase Penduduk yang Memiliki Lahan

60% 60% 60% 60% 60%

Sumber: Setda Kab. Jembrana Th 2010 (Bag. Pemerintahan)

4) Rasio Ketanagakerjaan (rasio penduduk yang bekerja);

Capaian Kinerja Ketenagakerjaan diukur dengan IKK: Rasio Penduduk yang Bekerja.

Tabel 2.15

Capaian Kinerja Ketenagakerjaan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Rasio Penduduk yang bekerja 67,97 73,68 70,80 67 66,87 Sumber: Dinas Dukcapilnakertrans Kab. Jembrana Th 2010

Ratio penduduk yang bekerja mengalami peningkatan tahun 2006 sebesar 67,97%, tahun 2007 sebesar 73,68%, Namun pada tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 70,80%, tahun 2009 sebesar 67% dan tahun 2010 sebesar 66,87%.

(27)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-27 Penurunan Ratio penduduk yang bekerja lebih diakibatkan karena meningkatnya angkatan kerja yang tidak seimbang dengan pertumbuhan lapangan kerja. Oleh karena itu diperlukan upaya perluasan lapangan kerja sebagai upaya mengatasi pengangguran seperti Tabel 2.14 sesuai perkembangan ratio penduduk yang bekerja selama 5 tahun (2006-2010).

2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olahraga

Analisis kinerja atas seni budaya dan olahraga dilakukan terhadap indikator-indikator: jumlah grup kesenian, jumlah klub olahraga dan jumlah gedung olahraga.

1) Capaian Kinerja Kebudayaan

Capaian Kinerja Kebudayaan diukur dengan IKK: Jumlah Group Kesenian dan Jumlah Gedung Kesenian.

Tabel 2.16

Capaian Kinerja Kebudayaan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Jumlah Group Kesenian per 10.000 pdd 451 459 476 489 491

2 Gedung Kesenian. 2 2 2 2 2

Sumber: Dinas Dikporaparbud Kab. Jembrana Th 2010

2) Capaian Kinerja Pemuda dan Olahraga

Capaian Kinerja Pemuda dan Olahraga diukur dengan IKK: Jumlah Klub Olahraga dan Jumlah Gedung Olahraga.

Tabel 2.17

Capaian Kinerja Pemuda dan Olahraga Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Jumlah Klub Olahraga Kesenian per 10.000

3 3 3 3 3

2 Jumlah Gedung Olahraga per 10.000 1 2 2 6 7 Sumber: Dinas Dikporaparbud Kab. Jembrana Th 2010

2.3 ASPEK PELAYANAN UMUM 2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib

Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah, yaitu bidang urusan pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan, penataan ruang, perencanaan pembangunan, perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan, kependudukan dan catatan sipil, pemberdayaan perempuan dan

(28)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-28 perlindungan anak, keluarga berencana dan keluarga sejahtera, sosial, ketenagakerjaan, koperasi dan usaha kecil menengah, penanaman modal, kebudayaan, kepemudaan dan olah raga, kesatuan bangsa dan politik dalam negeri, otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat dan desa, statistik, kearsipan, komunikasi dan informatika dan perpustakaan.

1) Urusan Pendidikan

Capaian kinerja urusan pendidikan diukur dengan indikator: Angka Partisipasi Sekolah SD/MI, Rasio ketersediaan sekolah perpenduduk usia sekolah SD/MI, Rasio ketersediaan sekolah perpenduduk usia sekolah SMP/MTs, Rasio guru: murid SD/MI, Rasio guru: murid SMA/MA, Rasio guru: murid per kelas rata SD/MI, Rasio guru: per kelas rata-rata murid SMP/MTs, Rasio guru: per kelas rata-rata-rata-rata murid SMA/ MA, dan Rasio ketersediaan sekolah SLTP.

Tabel 2.18

Capaian Kinerja Urusan Pendidikan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Angka Partisipasi Sekolah SD/MI 112,37 107,29,37 110,27 110,63 136,94 2 Rasio ketersediaan sekolah per

penduduk usia sekolah SD/MI

5 5 5 5 5

3 Rasio ketersediaan sekolah

perpenduduk usia sekolah SMP/MTs

4 4 4 4 4

4 Rasio ketersediaan sekolah SMA 2 2 2 2 2

5 Rasio guru: murid.SD/MI 1/18 1/18 1/18 1/18 1/18 6 Rasio guru: murid.SMA/MA 1/22 1/22 1/22 1/22 1/22 7 Rasio guru: murid.per kelas rata-rata

SD/MI

1/1,4 1/1,4 1/1,4 1/1,4 1/1,4 8 Rasio guru: per kelas rata-rata

murid.SMP/MTs

1/1,5 1/1,5 1/1,5 1/1,5 1/1,5 9 Rasio guru: per kelas rata-rata

murid.SMA/MA

1/1,5 1/1,5 1/1,5 1/1,5 1/1,5 Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

2) Urusan kesehatan

Capaian kinerja layanan umum dalam urusan kesehatan diukur dengan indikator kinerja: Rasio Posyandu per Satuan Balita, Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu per Satuan Penduduk , Rasio Rumah Sakit per Satuan Penduduk, Rasio Dokter per Satuan Penduduk, Rasio Tenaga Medis per Satuan Penduduk, Meningkatnya cakupan kunjungan ibu hamil K4, Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kopetensi kebidanan, Cakupan desa kelurahan UCI, Cakupan Balita Gizi buruk mendapat perawatan, Cakupan penemuan dan

(29)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-29 penanganan penderita penyakit TBC/ BTA, Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit BDB, Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin, Cakupan kunjungan bayi, Meningkatnya cakupan rawat jalan Puskesmas, dan Meningkatnya cakupan rawat inap Puskesmas

Tabel 2.19

Capaian Kinerja Urusan Kesehatan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Rasio Posyandu per Satuan Balita 10.000

1 1 1 1 1

2 Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu per

10.000 penduduk 5,37 5,28 5,19 4,59 4,55

3 Rasio Rumah Sakit per 100.000

Penduduk 1,53 1,51 1,08 1,31 1,30

4 Rasio Dokter per 100.000 Penduduk 36,79 33,55 65,25 24,92 26,64 5 Rasio Tenaga Medis per 100.000

Penduduk 118,1 104,80 103,07 90,83 100,39

6 Cakupan pertolongan persalianan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kopetensi kebinanan

86,66 90,64 98,68 94,78 100 7 Cakupan desa kelurahan UCI 100 100 98,73 100 96,08 8 Cakupan Balita Gizi buruk mendapat

perawatan 100% 100% 100% 100% 100%

9 Cakupan penemuan dan penanganan

penderita penyakit TBC BTA 87,40% 83,200% 92,45% 72,94% 50,26% 10 Cakupan penemuan dan penanganan

penderita penyakit BDB 100% 100% 100% 100% 100% 11 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan

pasien masyarakat miskin 15,43% 17,69% 17,69% 7,63% 100% 12 Cakupan kunjungan bayi 100% 89,42% 98,73% 97,65% 99,07% Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

3) Urusan Pekerjaan Umum

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Pekerjaan Umum diukur dengan indikator kinerja antara lain: Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam kondisi baik, Rasio Jaringan Irigasi, Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk, Persentase rumah tinggal bersanitasi, Rasio Tempat Pemakaman umum per Satuan Penduduk, Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPS) per Satuan Penduduk, Rasio Rumah Layak Huni, Rasio Pemukiman Layak Huni, Panjang jalan dilalui roda empat, Jalan penghubung kabupaten dari ibu kota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (minimal dilalui roda 4, Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik, dan panjang jalan yang memiliki trotoar dan drainase/ saluran pembuangan air minimal 1,5 m.

(30)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-30

Tabel 2.20

Capaian Kinerja Urusan Pekerjaan Umum Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam

Kondisi Baik (%) 48,10% 82,96% 82,96% 88,54% - 2 Rasio Jaringan Irigasi (m/ha) 35% 40% 37% 55% - 3 Persentase rumah tinggal bersanitasi

(%) - 84,67% 90% 91,29% -

Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

4) Urusan Perumahan

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Perumahan diukur dengan indikator: Rumah tangga pengguna air bersih, Rumah tangga pengguna listrik, Rumah tangga bersanitasi, Lingkungan pemukiman kumuh dan Rumah layak huni.

Tabel 2.21

Capaian Kinerja Urusan Perumahan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Rumah tangga pengguna air bersih (%) - 84,06% 100% 94,41% - 2. Rumah tangga pengguna listrik - 70,8% 70,9% 71% - 3. Rumah tangga bersanitasi (%) - 84,67% 90% 91,29% - 4. Rumah layak huni (%) - 90,87% 90,87% 90,99% - Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

5) Urusan Penataan Ruang

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Tata Ruang diukur dengan indikator: Rasio ruang terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB dan Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan

Tabel 2.22

Capaian Kinerja Urusan Tata Ruang Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Rasio ruang terbuka Hijau per Satuan

Luas Wilayah ber HPL/HGB (%) - 41% 53% 89% - 2. Rasio bangunan ber-IMB per satuan

bangunan (%) - 24% 24,4% 24,7% -

(31)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-31

6) Urusan Perencanaan Pembangunan,

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Perencanaan Pembangunan diukur dengan indikator: Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yang telah ditetapkan dengan Perda, Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJMD yang telah ditetapkan, Tersedianya Dokumen Perencanaan: RKPD yang telah ditetapkan dengan Perkada, dan Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD.

Tabel 2.23

Capaian Kinerja Urusan Perencanaan Pembangunan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yang telah ditetapkan dengan Perda

1 1 1 1 1

2. Tersedianya Dokumen Perencanaan RPJMD yang telah ditetapkan dengan Perda/Perkada

1 1 1 1 1

3. Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yang telah ditetapkan dengan Perkada

1 2 3 4 5

4. Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD

-

90,48 100 100 100 Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

7) Urusan Perhubungan,

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Perhubungan diukur dengan indikator: Jumlah arus penumpang angkutan umum, rasio Ijin trayek, Jumlah uji kir angkutan umum, Jumlah Pelabuhan Laut /udara/Terminal Bis, Angkutan Darat, Kepemilikan Kir Angkutan umum, Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) dan Biaya Pengujian kelayakan angkutan umum.

Tabel 2.24

Capaian Kinerja Urusan Perhubungan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1. Arus penumpang angkutan umum

(%) - 26,33% 10,07% 28,29% 27,33 %

2. rasio Ijin trayek( %) 96,16 92,09 93,99 97,35 40,1 3. Jumlah uji kir angkutan umum

(kali) 5137 5131 5228 5505 1932

4. Jumlah Pelabuhan Laut /udara/Terminal Bis

2 2 2 2 2

(32)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-32

8) Urusan Lingkungan Hidup

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Lingkungan Hidup diukur dengan indicator: Persentase penanganan sampah, Persentase penduduk berakses air minum, Persentase luas pemukiman yang tertata, Pencemaran status mutu air, Cakupan penghijauan wilayah rawan longsor dan sumber mata air, Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal, Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk dan Penegakan hukum lingkungan.

Tabel 2.25

Capaian Kinerja Urusan Lingkungan Hidup Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1 Persentase penanganan sampah - 21,49 22,44 86,68 76,22 2 Pengelolaan kualitas air ( % penetapan

kelas air) 1 1 1 1 1

3 Cakupan pengawasan terhadap

pelaksanaan amdal - 100% 100% 100% 100%

4 Tempat pembuangan sampah (TPS) per

satuan penduduk - 1,6% 0,15% 89% 78%

5 Penegakan hukum lingkungan 100% 100% 100% 100% 100% Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

9) Urusan Pertanahan

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Pertanahan diukur dengan indikator Persentase luas lahan bersertifikat, Penyelesaian kasus tanah negara dan Penyelesaian izin lokasi.

Tabel 2.26

Capaian Kinerja Urusan Pertanahan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1 Persentase luas lahan bersertifikat - 44% 44,59% 44,69% 60,33% 2 Penyelesaian kasus tanah negara 0% 0% 0% 0% 0%

3 Penyelesaian izin lokasi 0% 0% 0% 0% 0%

Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

10) Kependudukan dan Catatan Sipil

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Kependudukan dan Catatan Sipil diukur dengan indikator persentase penduduk yang memiliki Akta Perkawinan, persentase penduduk yang memiliki Akta Perceraian, persentase penduduk yang memiliki Akta Pengakuan, Pengangkatan dan Pengesahan Anak dan Kepemilikan KTP.

(33)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-33

Tabel 2.27

Capaian Kinerja Urusan Kependudukan dan Capil Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1 % kepemilikan KTP 92,90% 92,98% 93,43% 85,68% 90,00% 2 kepemilikan akta kelahiran per 1000

penduduk - 202,90 220,76 172,84 177,2

Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

11) Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diukur dengan indikator: Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah, Partisipasi perempuan di lembaga swasta, Rasio KDRT, Persentase jumlah tenaga kerja di bawah umur, Partisipasi angkatan kerja perempuan, dan penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan.

Tabel 2.28

Capaian Kinerja Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1 Persentase partisipasi perempuan di

lembaga pemerintah - 0,02% 0,38% 0,02% 0,21%

2 Rasio KDRT - - 11 34 10

3 Persentase jumlah tenaga kerja

dibawah umur - 61,64% 96,63 77,28% 45,6%

4 Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan

- 0% 0% 0% 0%

Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

12) Urusan Keluarga berencana dan keluarga sejahtera

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera diukur dengan indikator: Rata – rata jumlah anak per keluarga, Rata – rata jumlah anak per keluarga, Cakupan peserta KB aktif, dan Keluarga Pra Sejahtera dan keluarga Sejahtera I.

(34)

RPJMD Kab. Jembrana 2011-2016 II-34

Tabel 2.29

Capaian Kinerja Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1 Rata – rata jumlah anak per keluarga 3 2 2 2 2

2 Rasio akseptor KB - - - - -

3 Cakupan peserta KB aktif 83,32% 84,28% 86,89% 76,06% 88,80% 4 Keluarga Pra Sejahtera dan keluarga

Sejahtera I - 13,96% 10,7% 9,46% 5,44%

Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

13) Urusan Sosial

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Sosial diukur dengan indikator: Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi, PMKS yang memperoleh bantuan sosial, dan Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Tabel 2.30

Capaian Kinerja Urusan Sosial Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1 Sarana sosial seperti panti asuhan,

panti jompo dan panti rehabilitasi 16 19 19 19 19 2 PMKS yang memperoleh bantuan

sosial - 0,02% 6,79% 97,65% 95,30%

3 Penanganan penyandang masalah

kesejahteraan sosial - 0,02% 6,79% 11,86% 30% Sumber: Bappeda dan PM Kab. Jembrana Th 2010 (LAKIP)

14) Urusan Ketenagakerjaan

Capaian kinerja layanan umum pada urusan Ketenagakerjaan diukur dengan indikator: Angka partisipasi angkatan kerja, Angka sengketa pengusaha pekerja per tahun, Pencari kerja yang ditempatkan, Tingkat pengangguran terbuka, Keselamatan dan perlindungan, dan Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah.

Tabel 2.31

Capaian Kinerja Urusan Ketenagakerjaan Kab. Jembrana Th 2006-2010

No Indikator TAHUN

2006 2007 2008 2009 2010

1 Angka partisipasi angkatan kerja 65,97% 73,68% 70,80% 67% 60% 2 Angka Angkatan Kerja 103.025 114.471 127.191 141.323 157.026 3 Angka Kesemapatan Kerja 67,97% 73,68% 70,80% 67% 66,87%

Gambar

Gambar 2.3  Peta Ketinggian

Referensi

Dokumen terkait

Tidak adanya hubungan antara keberadaan hewan peliharaan dengan kejadian leptospirosis dalam penelitian ini bisa dikarenakan sebagian besar responden baik pada

Maka dari itu, pada penelitian ini penulis mencoba menganalisa tingkat kepuasan konsumen khususnya penumpang KA Lokal Penataran relasi Sidoarjo – Malang Kota

Hasil penelitian untuk variabel ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Parerung (2014) berjudul disiplin, kompensasi,dan pengembangan karir pengaruhnya

Geografi selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu sehingga akan berdampak berbagai hal salah satunya yaitu sumber daya manusia. Berkembang atau tidaknya

DARMAWAN dan MANUWOTO. Kota Sawahlunto merupakan kota yang berkembang dari adanya aktivitas penambangan batubara semenjak zaman Hindia Belanda dan merupakan daerah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi untuk penelitian selanjutnya dan menjadi perbandingan untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan

Penelitian sebelumnya pernah dilakukan di daerah X Ampah dalam kegiatan survey geologi batubara pada tahun 2011 ditemukan adanya singkapan-singkapan batubara di

Retrieved November 17, 2016, from Ministry of Foreign Affairs of Japan: http://www.mofa.go.jp/region/asia- paci/jck/fm1005_joint.html..