SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
EVALUASI RENCANA ARAH KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN
TRANSPORTASI PERKOTAAN PASCA PEMBANGUNAN
MONOREL TREM DI SURABAYA
Anik Budiati
Program Studi Teknik Sipil Universitas Bhayangkara Surabaya dan Mahasiswa Program Doktor Universitas Brawijaya
email: [email protected]
Abstrak
Implementasi dari kebutuhan transportasi publik di wilayah Kota Surabaya, maka Pemerintah Kota Surabaya berupaya membangun Angkutan Massal Cepat (AMC), berupa Trem dan Monorel yang menghubungkan wilayah Surabaya Utara dan Selatan. Alasan dari pembangunan AMC tersebut didasarkan pada daya angkut yang lebih banyak, pilihan teknologi, simpul perekonomian, dan cagar budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi rencana kebijakan transportasi pasca pembangunan trem-monorel di Surabaya. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif diskriptif. Proses analisa dengan cara mengurutkan data berdasarkan tanggal penerbitan di media massa dan menganalisanya. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa proses kebijakan penyelenggaraan transportasi perkotaan pasca pembangunan monorel-trem di Surabaya, terjadi beberapa penundaan. Perlu adanya kesepakatan di antara pihak-pihak yang terkait. Proses kebijakan membutuhkan beberapa solusi untuk dapat menyelesaikan masalah transportasi yang begitu kompleks. Harus dilakukan beberapa kombinasi strategi kebijakan secara bersinergi dan terarah untuk menunjang keberhasilan kebijakan transportasi tersebut.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
PRA DISAIN BANGUNAN PENGOLAH LIMBAH CAIR
RUMAH POTONG HEWAN (RPH)
Candra Dwiratana1), Sudiro2), Khusnul Khotimah3), Prasetyo Abdi4)
1) Program Studi Teknik Lingkungan, ITN Malang
email: [email protected] 2) Program Studi Teknik Lingkungan,ITN Malang
email: [email protected] 3) Program Studi Teknik Lingkungan, ITN Malang
email: [email protected] 4) Program Studi Teknik Lingkungan,ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Rumah potong hewan (RPH) merupakan salah satu kegiatan industri yang dapat dikelola oleh pemerintah maupun secara perorangan. Rumah Potong Hewan yang dikelola oleh pemerintah telah dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sedangkan yang dikelola secara perorangan tidak memiliki IPAL. Karakteristik limbah RPH mengandung bahan
organik tinggi dengan konsentrasi Biological Oxygend Demand (BOD) 344,56 mg/l, Chemical
Oxegend Demand (COD) 880 mg/l, nitrogen 4.675 mg/l, TSS 850 mg/l, dan minyak lemak 150 mg/l. Salah satu pengolahan yang sesuai dengan karakteristik RPH yaitu menggunakan
Sequenching Batch Biofilter Granular Reactor (SBBGR). SBBGR merupakan salah satu pengembangan pengolahan biologis dengan kombinasi antara pertumbuhan terlekat dan tersuspensi dengan waktu pengolahan intermetten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis aktivator yang tepat serta mendapatkan data dasar untuk perencanaan bangunan pengolahan limbah cair selanjutnya. Media yang digunakan adalah ring keramik, sebagai aktivator
menggunakan EM4 dengan variasi dosis 70, 80, dan 90 ml. Setelah dilakukan analisis seeding dan
aklimatisasi, dilanjutkan dengan analisis COD, sehingga mendapatkan konstanta kenetika.
Hasil penelitian menunjukkan dosis EM4 90 ml mempunyai waktu seeding dan aklimatisasi
yang lebih cepat dibandingkan dengan dosis yang lain, yaitu selama 10 hari. Hasil analisis mendapatkan konstanta K=0,15 l/mg MLVSS jam.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
PERAN LINGKUNGAN BINAAN DALAM MEWUJUDKAN
PEMBANGUNAN KOTA BERKELANJUTAN
STUDI KASUS: KELURAHAN DINOYO KOTA MALANG
Adhi Widyarthara1), Debby Budi Susanti2)
1) Program Studi Arsitektur, ITN Malang
email: [email protected] 2) Program Studi Arsitektur,ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Pembangunan kota berkelanjutan saat ini sangat diperlukan dalam penataan kota-kota besar di Indonesia dalam upaya untuk menyelaraskan dengan perkembangan penduduk dan tuntutan kemajuan teknologi. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam upaya untuk mewujudkan pembangunan kota berkelanjutan. Pembangunan pemukiman merupakan salah satu aspek yang sangat berperan dalam tujuan ini. Dukungan lingkungan alam dan lingkunan binaan sangat berpengaruh pada pola perkembangan hunian dan pemukiman penduduk.
Keanekaragaman kondisi social budaya merupakan landasan bagi pemerintah daerah untuk menentukan program-program bagi pembangunan daerahnya.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
PENDUGAAN POTENSI BANJIR KOTA TULUNGAGUNG AKIBAT
DEBIT BANJIR SUNGAI JENES DAN USULAN
PENANGGULANGANNYA
I Wayan Mundra1) , Erni Yulianti2)
1) Program Studi Teknik Sipil Sumberdaya Air, ITN Malang
email: [email protected]
2) Program Studi Teknik Sipil Sumberdaya Air, ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Banjir yang terjadi Di Kelurahan Bago Kabupaten Tulungagung merupakan banjir rutin yang terjadi setiap tahunnya. Banjir disebabkan karena intensitas hujan yang tinggi dan kondisi kapasitas saluran Sungai Jenes saat ini yang tidak mampu lagi mengalirkan debit banjir yang terjadi. Genangan terjadi dengan selang waktu antara 3 – 5 jam sesuai dengan lamanya hujan deras dan berkurangnya debit limpasan air di Sungai Jenes. Ketinggian banjir antara lain adalah 0,5 - 2 m . Banjir terparah di Sungai Jenes terjadi di daerah hulu sampai di bagian tengah tepatnya di pertemuan antara anak Sungai Jenes dan sungai utamanya. Besarnya debit banjir yang mengalir dari hulu menyebabkan terangkutnya sedimen dan pendangkalan di daerah hilir. Sungai Jenes dengan luas DAS 19,24 Km² dan panjang sungai 6,5 Km adalah merupakan sumber kehidupan bagi penduduk, khususnya di bagian hulu. Sebagian besar penduduk di bagian hulu memanfaatkan air untuk keperluan irigasi sawah. Sedangkan di bagian hilir merupakan kawasan padat penduduk. Dengan adanya kejadian banjir ini otomatis kegiatan ekonomi masyarakat Kelurahan Bago akan terhambat dan tidak berjalan seperti semestinya.
Langkah yang dilakukan untuk penelitian ini adalah dengan menganalisa pengaruh antara debit banjir rencana setiap tahun dengan kondisi eksisting yang terjadi pada Sungai Jenes setelah normalisasi. Salah satu usaha penanggulangan banjir di Sungai Jenes adalah dengan dilakukannya normalisasi sungai yaitu membuatan tanggul dibeberapa titik tertentu serta melakukan pengerukan/pengambilan sedimen yang mengendap pada sungainya. Dengan solusi ini diharapkan banjir setiap tahun yang terjadi pada Sungai Jenes dapat teratasi.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
KEKUATAN LEKATAN (BOND) BAMBU POLOS DAN BAMBU
DENGAN PENGASARAN PERMUKAAN PADA BETON
BERTULANG
Ester Priskasari1), Sudirman Indra2), A. Agus Santoso3)
1) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected] 2) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected],id 3) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected]
Abstract
Cooperative relationship between a reinforment and the concretes surrounding it is bond. One of the basic requirement of reinforced concrete construction is bond. Bamboo as reinforcement is often used as a substitute for longitudinal reinforcement, since bamboo has a quite high tensile stress, up to 125 MPa. This enables bamboo to be the substitute of concrete as tensile load. However, bamboo is a hydroscopic material, causing a change in the water
concentration when the humidity and
temperature
change. The bond strength of bamboo is low.Therefore, our experiment purpose is to get an adequate bond value by coarsening the surface using wind of wire. The conclusion is bamboo reinforcement with wind of wire can equal the bond strength of concrete reinforcement. Bamboo reinforcement has high bond strength with high slip. Bamboo reinforcement without treatment os not good enough to be used as structural element reinforcemen, while the treatment with wind of wire is proven to be able to improve bamboo bond strengthup to 5 times, enabling bamboo to be used as alternative reinforcement in reinforced concrete.
Key Word: Bamboo, Reinforcement, Bond, Wind of wire Abstrak
Hubungan kerja sama antara tulangan dengan beton disekelilingnya disebut lekatan, salah satu persyaratan dasar dalam konstruksi beton bertulang adalah lekatan (bond). Bambu sebagai tulangan seringkali sebagai pengganti tulangan longitudinal, sebab bambu memiliki tegangan tarik yang cukup besar dan dapat mencapai 125 MPa. Ini membuat bambu dapat menjadi alternatif pengganti baja untuk beban tarik, tetapi bambu material yang hydroscopik sehingga perubahan kelembaban dan suhu lingkungan menyebabkan perubahan kadar air. Kekuatan lekatan bambu kecil untuk itu penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nilai lekatan yang cukup dengan memberikan pengasaran permukaan menggunakan lilitan kawat. Kesimpulan dari penelitian ini tulangan bambu dengan lilitan kawat dapat menyamai kekuatan lekatan tulangan baja, tulangan bambu memiliki kekuatan lekatan yang besar dengan slip yang besar. Tulangan bambu tanpa treatment tidak layak untuk tulangan elemen structural sedangkan tulangan bambu dengan lilitan kawat terbukti dapat menaikan kekuatan lekat bambu sampai 5 kali lipatnya sehingga bambu dapat digunakan sebagai pengganti tulangan pada beton bertulang sehingga layak digunakan dalam perencanaan beton bertulang
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
PURWARUPA PENGKONDISIAN FILE INPUT PROGRAM SAP2000
UNTUK OPTIMASI STRUKTUR BAJA SESUAI SNI 1726-2002
Mohammad Ghozi1), Anik Budiati2), Syariful Alim3)
1) Jurusan Teknik Sipil, Universitas Bhayangkara Surabaya
email: [email protected]
2) Jurusan Teknik Sipil, Universitas Bhayangkara Surabaya
email: [email protected]
3) Jurusan Teknik Informatika, Universitas Bhayangkara Surabaya
email: [email protected]
Abstrak
Purwarupa pengkondisian file input dibutuhkan mengakomodasi profil WF dan SNI guna mendapatkan pengaruh zone gempa dan bobot struktur baja di Indonesia. Profil WF dan spectrum respon dari 6 zone diinsertkan ke dalam database. Purwarupa system ini selanjutnya diuji dengan mengoptimasi struktur baja 6 lantai dari 6 zone gempa. Didapatkan bahwa bobot struktur baja pada tanah lunak akan meningkat seiring dengan meningkatnya zone gempa dengan persamaan y = 0,233x + 0,963. Dapat disimpulkan bahwa purwarupa pengkondisian file input telah paripurna dan dapat ditingkatkan untuk keperluan penelitian lanjutan
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ADAPTASI HUNIAN PADA LAHAN GAMBUT BELAJAR DARI
KEARIFAN LOKAL SUKU DAYAK DI KALIMANTAN TENGAH
Herwin Sutrisno1), Theresia Susi2)
1), 2) Mahasiswa Program Doktor Teknik Arsitektur dan Perkotaan, Universitas Diponegoro Semarang
email: [email protected] email: [email protected]
Abstrak
Provinsi Kalimantan Tengah merupakan provinsi yang memiliki luasan lahan gambut terbesar di Pulau Kalimantan. Luas area tanah gambut yang cukup besar merupakan suatu kendala karena tanah gambut merupakan tanah sangat lunak, mempunyai daya dukung sangat rendah dan sifat kompresibilitasnya yang tinggi. Banyaknya sungai yang mengalir di wilayah ini mengakibatkan sebagian besar lahan di Kalimantan selalu tergenang air pada musim hujan karena meluapnya air sungai.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hunian Suku Dayak Ngaju yang terjadi sebagai hasil dari proses adaptasinya terhadap lahan gambut. Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa Suku Dayak Ngaju dapat hidup beradaptasi dengan lahan gambut serta kondisi lingkungan yang tergenang air. Hasil proses adaptasi cara hidup tersebut terimplementasi pada bentuk hunian tradisionalnya yaitu huma betang, huma gantung dan huma danum yang berbentuk rumah panggung serta pada rumah lanting yang berupa rumah terapung dan pemanfaatan bahan bangunan lokal dengan tingkat resistensi yang tinggi terhadap terhadap gambut dan air seperti kayu besi, kayu kacapuri, kayu kapurnaga ataupun kayu galam.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
EFISIENSI PRODUKSI BATA MERAH DENGAN
OTOMASI PRODUKSI
Hirijanto1), Lila Ayu Ratna Winanda2)
1) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected] 2) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Bata merah merupakan bahan bangunan yang masih menjadi primadona bagi para pelaku jasa konstruksi sehingga proses produksi bata merah masih merupakan usaha yang menjanjikan bagi perajinnya. Seiring dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan kearifan lokal maka upaya ppengembangan produksi bata merah ini patut menjadi perhatian bersama. Dalam satu sisi sebagai uapaya mengembangkan usaha kecil yang berbasis industry rumah tangga dan disisi lain sebagai penunjang penigkatan roda perekonomian.
Di desa Majang tengah proses produksi bata merah merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat setempat dimana masih mengandalkan pengerjaan secara manual tenaga manusia. Dengan cara ini maka hasil produksi sangat tergantung pada kemapuan sumber daya manusia yang digunakan sehingga tidak dapat dilakukan pencapain target-target peningkatan penjualan. Untuk itu dilakukan upaya-upaya pendekatan dan kajian bagaimana cara mengatasi kendala produksi bata merah yang ada sehingga perajin dapat memanage hasil kerjanya. Setelah dilakukan analisa maka salah satu upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan kendala produksi bata merah khususnya di Desa Majang Tengah Kecamatan Dampit adalah dengan transfer teknologi terapan alat prduksi bata merah secara otomatis sebagai pengganti proses produksi secara manual. Dengan alat ini maka jumlah produksi meningkat dan lebh efisien dalam penggunaan tenaga kerja.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
RANCANGAN JAUR SEPEDA SEKITAR KAMPUS
(STUDI KASUS: SEKITAR KOMPLEKS KAMPUS
SUMBERSARI – TLOGOMAS MALANG)
Ibnu Sasongko1), I Gusti Ayu Putu Sutaresmi Sandianinggar2)
1) Program Studi Planologi, ITN Malang
email: [email protected] 2) Program Studi Planologi, ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Pembangunan yang terus dilaksanakan diberbagai belahan dunia pada akhirnya menuju pada satu titik kesembangan melalui konsep pembangunan berkelanjutan dengan tiang utama ekonomi, sosial dan lingkungan). Dalam kawasan perkotaan tekanan pembangunan akan lebih terasa berat dimana kepentingan ekonomi makin meningkat sementara daya dukung lingkungan semakin berat tekanannya. Karena itulah pembangunan di perkotaan diarahklan menjadi pembangunan kota berkelanjutan. Salah satu aspek penting dalam pembangunan kota berkelanjutan ini adalah hemat energi, ramah lingkungan, kurangi polusi udara. Diantara berbagai upaya yang dapat dilakukan adalah “kembali ke alam” dengan mereduksi emisi co2 dengan gerakan menggunakan sepeda.
Kampus merupakan tempat kawula muda menimba ilmu, sekaligus sebagai agent of change dimana pada dasarnya mahasiswa maupun civitas academika juga masyarakat umum memungkinkan menggukan sepeda sebagai salah moda transport utama. Di wilayah Sumbersari Malang terdapat beberapa kampus dengan jumlah mahasiswa besar, antara Lain Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Institut Teknologi Nasional Malang, Universitas Islam Negeri Malang, dll, serta di sekitar Tolgomas terdapat Universitas Muhammadiah Malang. Secara keseluruhan komplek pendidikan ini dikeliling oleh tempat tinggal mahasiswa terutama kos dan asrama. Mengingat jarak tempat tinggal umumnya dekat kampus, maka untuk menuju dan kampus dan pulang dapat menggunakan sepeda sebagai moda transport utama. Unhtuk itulah Maka dioerlukan kajian terkait penentuan jalur sepeda menuju kampus.
Kajian ini mengunakan prinsip lintasan terdekat dan hambatan minimum sehingga jalur sepeda paling egisien dapat dilakukian. Ternyata beberapa lokasi disekitar kampus ternyata kurang layak untuk menggunakan sepeda sebagai moda transport utama, terutama terhambat masalah topografi yang relatif terjal disekitar sungai, akan tetapi jaliur tersebut ternyata masih dapat digunakan bila tujuan utamana adalah bukan ke kampus tetapi untuk olah raga atau rekreasi. Selanjutnya jalur optimum tersebut membutuhkan sosialisasi dan promosi agar ke kampus bersepeda, sehat dan menyenangkan.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
PENINGKATAN KINERJA SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH
PEDESAAN DI DUSUN DURENAN DESA PETUNGSEWU
KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG
Kustamar1), I Wayan Mundra2), Bambang Wedyantadji3) , I Nyoman Sudiasa4)
1),2),3),4) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Dusun Durenan, Desa Petungsewu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, berlokasi di kawasan lereng Gunung Kawi bagian timur. Topografi berbukit dengan lereng yang relatif terjal menyebabkan pengambilan air tanah dengan membuat sumur mengalami kesulitan. Oleh karenanya, maka kebutuhan air bersih dipenuhi dengan pengalirkan air dari anak sungai terdekat dengan sistem perpipaan sederhana. Keterbatasan debit di musim Kemarau dan keruhnya air di musim Penghujan, serta lemahnya pendanaan menjadi permasalahan utama yang harus dipecahkan.
Mulai tahun 2001, masyarakat membangun sarana penyediaan air dengan sistem perpipaan sederhana. Tahun 2014, ITN Malang melalui program pengabdian kepada masyarakat memberi bantuan sarana peningkatan kualitas air berupa bangunan saringan pasir lambat. Bantuan yang diberikan berupa material utama, rencana dan bimbingan teknis pelaksanaan. Sedangkan masyarakat berpartisipasi dengan melakukan gotong-royong mengadakan material pendukung dan bekerja bakti dalam proses pembuatannya. Pada tahun 2015 ITN Malang kembali memberikan bantuan, dalam bentuk pembuatan tandon air. Dengan metode pelaksanaan yang sama, pembuatan bangunan tandon air dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Dengan adanya sistem penyaring pasir lambat dan tandon air tersebt, diharapkan terjadi peningkatan yang siginfikan terhadap kinerja sistem penyediaan air bersih yag telah ada. Dengan terpenuhnya kebutuhan kebutuhan air bersih, walaupun dalam batas minimal maka diharapkan dapat memicu dan memacu kreativitas masyarakat dalam pemberdayaan kelompoknya. Sarana penangkapan air saat ini hanya berupa tumpukan batu kali dan kerikil untuk mengarahkkan aliran air ke pipa pengambilan. Hal ini sangat rentan terhadap gangguan banjir dan pencemaran dari material dari erosi permukaan lahan
dan longsor tebing. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya Broncaptur untuk mendukung
kinerja bangunan penyaring air dan tandon air yang sudah ada. Mengingat keterbatasan anggaran dan keterampilan masyarakat maka untuk mewujudkannya masih diperlukan bantuan, baik material mauun bimbingan teknis pelaksanaannya.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
MODEL APLIKASI SISTEM INFORMASI ANALISA HARGA
KONSTRUKSI
Lila Ayu Ratna Winanda1), Hirijanto2), Munasih3)
1) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected] 2) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected] 3) Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Proyek konstruksi menuntut kesinergian antar komponen pendukungnya dalam mencapai keberhasilan pelaksanaannya. Salah satu komponen penting dalam kegiatan proyek adalah analisa pembiayaan proyek. Untuk itu perlu dilakukan kajian yang mendalam terkait dengan pembiayaan proyek agar diperoleh efisiensi dalam pelaksanaan analisanya.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai efisiensi waktu analisa pembiayaan proyek adalah dengan penyusunan suatu database dan menyusun sebuah program aplikasi sebagai alat bantu dalam proses analisa. Pada penelitian ini dilakukan analisa harga satuan pekerjaan bidang keairan di wilayah kota Malang yang semula menggunakan cara manual menggunakan program bantu MS-Excel maka selanjutnya disusun sebuah program aplikasi dengann bantuan program visual basic yang cukup sederhana dan mudah dimengerti. Berdasarkan pada hasil aplikasi yang terbentuk dan uji coba yang dilakukan maka diperoleh hasil analisa yang lebih cepat apabila dibandingkan secara manual serta memungkinkan untuk melakukan perubahan-perubahan dalam analisa secara lebih cepat.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)
DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Maria Christina Endarwati
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, ITN Malang Email: [email protected]
Abstrak
Menurunnya kualitas fisik lingkungan pada perkotaan mengakibatkan banyaknya pengalihan fungsi lahan, sehingga membuat keberadaan ruang terbuka hijau semakin minim, padahal ruang terbuka hijau memiliki kontribusi besar pada kehidupan masyarakat terutama pada lansekap jalan. Ruang terbuka hijau pada lasekap jalan sangatlah penting untuk meminimalisir gas buangan dari kendaraan, sehingga aktifitas masyarakat disekitar jalan akan menjadi nyaman dan tidak terganggu dengan polusi udara yang disebabkan oleh pengguna kendaraan. Upaya membentuk lansekap jalan sebagai ruang terbuka hijau merupakan sebuah ide dalam memanfaatkan suatu jalur ruas jalan, yang awalnya tidak memberi fungsi dan manfaat yang penting terhadap sekitarnya, dengan tujuan menghasilkan penataan ruang terbuka hijau yang dapat berdaya guna bagi masyarakat kota dengan memanfaatkan vegetasi/tanaman lokal yang ada pada wilayah tersebut.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
PENERAPAN MESIN PERAJANG SAMPAH DALAM PEMBUATAN
KOMPOS BASAH DI DUSUN KARANGKATES
KABUPATEN MALANG
Mochtar Asroni1), Mohammad Ibrahim Ashari2), Anis Artiyani3) 1) Program Studi Teknik Mesin, ITN Malang
email: [email protected]
2)Program Studi Teknik Elektronika, ITN Malang
Email: [email protected]
3)Program Studi Teknik Lingkungan, ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Kegiatan sehari-hari masyarakat Dukuh Karangkates khususnya RW 01 menghasilkan sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik khususnya, sampah basah yang dihasilkan antara lain sisa sayuran, sisa nasi dan sisa makanan lainnya. Sedangkan, sampah anorganik yang dihasilkan antara lain plastik, kertas dan lainnya. Sampah organik yang terurai
akan menghasilkan lindi (leachate) hasil dari dekomposisi sampah tersebut yang dapat mengurangi
nilai estetika di lingkungan. Berdasarkan uraian diatas, perlunya usaha untuk menerapkan alat pencacah dan komposter anaerobik pada sampah basah untuk mengatasi permasalahan sampah basah yang ada di wilayah RW 01 Dukuh Karangkates. Masalah yang teridentifikasi adalah bagaimana mendesain alat pencacah sampah basah yang ada di wilayah RW 01 Dukuh Karangkates sehingga mudah diuji cobakan dan direlisasikan di lingkungan tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan mesin pencacah dan komposter anaerobik sederhana yang dapat menunjang proses fermentasi pada pengolahan sampah basah skala rumah tangga dan sekaligus sebagai pembelajaran akan pentingnya pengelolaan sampah di wilayah RW 01 Dukuh Karangkates Menyadari adanya potensi dan permasalahan sampah di Dusun Karangkates Kabupaten Malang maka dipandang perlu untuk mengadakan kegiatan yang menunjang program ini. Adapun kerangka penelitian yang dilakukan dalam pemecahan masalah yang dilakukan antara lain Penyuluhan Perancangan dan Pembuatan Mesin Perajang sampah Basah, Pelatihan cara menggunakan mesin
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
ANALISIS PREDIKSI PENGHEMATAN BOK KENDARAAN PADA
OPTIMASI SINYAL ATCS (AREAL TRAFFIC CONTROL SYSTEM)
MENGGUNAKAN MODEL TRANSMISI SEL
(STUDI KASUS: ATCS DI RUAS JALAN PANJI SUROSO
KOTA MALANG)
Nusa Sebayang
Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang email: [email protected]
Abstrak
Kemacetan lalu lintas adalah salah satu permasalahan penting yang terjadi di wilayah perkotaan di Indonesia. Lokasi kemacetan umumnya berada pada persimpangan yang sebagaian besar merupakan simpang sebidang. Kemacetan menyebabkan terjadinya pemborosan bahan bakar sehingga akan merugikan pengguna jalan. Upaya mengurangi kemacetan lalu lintas di persimpangan di beberapa wilayah perkotaan di Indonesia dilakukan dengan menerapkan system
ATCS (Areal Traffic Control System). Namun pemanfaatan system ATCS tersebut belum optimal
khususnya pada simpang-simpang yang jaraknya berdekatan, masih belum dilakukan koordinasi
sinyal antar simpang (system isolated). Pada studi ini dilakukan analisis perbedaan tundaan yang
dihasilkan antara menerapkan system koordinasi sinyal dengan tanpa koordinasi sinyal
menggunakan model transmisi sel (cell transmission model). Studi dilakukan pada dua simpang
berdekatan di ruas Jalan Panji Suroso yaitu Simpang Jalan Laksamana Adi Sucipto Dengan Simpang Jalan Plaosan di Kota Malang. Survey pengumpulan data di lokasi studi dilakukan pada tanggal 17 sampai 24 April 2015.
Hasil analis menunjukkan bahwa optimasi sinyal dengan mengkoordinasikan sinyal kedua simpang tersebut dapat mengurangi tundaan sebesar sebesar 20-30 %, dan penghematan biaya operasional kendaraan (BOK) yang melintasi persimpangan tersebut sebesar Rp.6.143.800 per harinya.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
AKULTURASI BUDAYA DAN BENTUK ARSITEKTUR
DI KOTA LASEM
L.M.F. Purwanto1), Yulita Titiek S2)
1) Program Studi Arsitektur, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
email: [email protected]
2) Program Studi Arsitektur, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
email: [email protected]
Abstrak
Kota Lasem yang berada di pesisir pantai utara pulau jawa, memiliki kekhasan yang menonjol yaitu adanya bangunan beraristektur Tionghoa dan bahkan tidak berlebihan disebut sebagai “little chinese in Java”. Walaupun ekspresi dari etnis Tionghoa di Lasem sedemikian kental dan kuat, namun sejarah mencatat keakraban kehidupan bermasyarakat antar etnis Tionghoa dan Jawa sangatlah kuat, bahkan tidak pernah ada konflik SARA di Lasem.
Penelitian ini mengamati keberagaman sekaligus keakraban yang meniadakan konflik
dengan pendekatan metode fenomenologi, dengan mencatat bentuk bangunan, bentuk pola pemukiman, akulturasi budaya dan pola komunal masyarakat yang mampu membendung dan meredam konflik horizontal dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga penelitian ini dapat bermanfaat untuk menjadi satu model kehidupan bermasyarakat di Indonesia
Hasil penelitian yang didapat, berupa satu pemahaman tentang latar belakang sejarah, kesadaran masyarakat dan jug adanya wadah ruang untuk berinteraksi dalam masyarakat, dapat membentuk satu tatanan masyarakat yang guyub dan mampu meredam konflik dalam bermasyarakat.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
STRATEGI PENGEMBANGAN IDENTITAS KAWASAN TEPIAN
SUNGAI KAMELOH BARU YANG BERBASIS BUDAYA
MASYARAKAT SUKU DAYAK
David Ricardo
Magister Digital Arsitektur, Universitas Atma Jaya Yogyakarta email: [email protected]
Abstrak
Pengembangan identitas kawasan perkotaan tidak terlepas dari pengembangan identitas skala mikro dan skala makro dengan mencari karakteristik masyarakat yang paling dominan. Kameloh Baru yang terletak di Kota Palangkaraya merupakan kawasan kota dengan aktivitas nelayan sebagai pekerjaan utama. Potensi kawasan berupa kawasan tepian sungai merupakan cerminan kebudayaan masyarakat dayak yang membuat kawasan ini mendapat perhatian khusus terutama dalam hal penentuan identitas utama yang digunakan. Adanya kelembagaan masyarakat yang kuat membuat kawasan ini sebagai kawasan yang dianggap mandiri. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah perbedaan karakteristik masyarakat secara individual terutama tentang budaya masyarakat yang disatukan secara keseluruhan dan diakui secara multi pihak untuk menghasilkan identitas. Tujuan penelitian ini adalah menemukan strategi untuk mengembangkan identitas masyarakat tepian sungai yang berbasis pada budaya masyarakat suku dayak. Teori yang digunakan adalah dengan konsep-konsep identitas suatu kawasan tepian sungai dan kaitannya dengan kebudayaan masyarakat dayak. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengumpulan data, permasalahan dan potensi masyarakat sebagai identifikasi awal. Kemudian dilakukan metode wawancara dengan berdialog melalui perwakilan masyarakat sehingga ditemukan berbagai potensi masyarakat. Setelah itu dilakukan analisis berupa pemetaan skala prioritas yang dijadikan acuan untuk membuat skematik pengembangan secara runtut.
Dari hasil penelitian ini didapat strategi utama yaitu menggunakan kelembagaan yang merupakan bagian dari perkumpulan tokoh-tokoh adat, pemuka agama, dan para pemimpin kelompok sebagai perwakilan masyarakat untuk mengevaluasi dan mendapatkan identitas yang kuat dengan konsep keputusan secara partisipasi yang sesuai dengan budaya masyarakat dayak yaitu melakukan dan menentukan keputusan berdasarkan keputusan adat sehingga diangkatlah identitas utama kawasan berupa kawasan perikanan yang akan dikembangkan menjadi kawasan minapolitan.
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
DRAINASE DAN KONSERVASI AIR YANGBERADAPTASI
TERHADAP PERUBAHAN IKLIM SEBAGAI SALAH SATU
STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN PERKOTAAN
Subandiyah Azis
Program Studi Teknik Sipil, ITN Malang email : [email protected]
Abstrak
Situasi dunia saat ini sudah dalam masa perubahan iklim (Climate Change) yang ditandai dengan pergeseran musim hujan dan musim kemarau sehingga kondisi hujan sulit untuk diprediksi
dan mengakibatkan perubahan debit air permukaan (surface runoff). Curah hujan yang tinggi dan
durasi hujan yang lama akan mengakibatkan genangan air/banjir di kawasan perkotaan, oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan sistem drainase perkotaan yang ada dan/atau pelaksanaan pembangunan drainase perkotaan untuk melengkapi sistem drainase perkotaan yang sudah ada serta konservasi air dengan cara membangun sumur resapan untuk mengurangi air limpasan permukaan dan menambah cadangan air tanah. Ada 2 (dua) hal yang harus dilakukan untuk menghasilkan sistem drainase yang baik yaitu aspek teknis dan aspek non teknis. Untuk menangani genangan/banjir tidak hanya diperlukan pembangunan fisik saja melainkan harus ada koordinasi yang baik antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota
terutama dalam hal pendanaan dan Master Plan Drainase Perkotaan yang terpadu dan tidak kalah
pentingnya adalah peran serta masyarakat secara penuh untuk ikut memiliki drainase perkotaan dan merubah gaya hidup untuk tidak membuang sampah di saluran drainase serta masyarakat diminta untuk membuat sumur resapan di masing-masing lokasi. Agar supaya pembangunan sumur resapan dapat berlanjut, diperlukan regulasi yang mengikat dan kesanggupan membangun sumur resapan menjadi syarat penerbitan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan).
SEMINAR NASIONAL 2015 FTSP ITN MALANG
ABSTRAK MAKALAH
PENGEMBANGAN ARSITEKTUR LANSEKAP KOTA KEDIRI
STUDI KASUS: PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU
JALUR JALAN
Yuni Setyo Pramono1), Gaguk Sukowiyono2), Suryo Tri Harjanto3)
1) Program Studi Arsitektur, ITN Malang
email: [email protected] 2) Program Studi Arsitektur, ITN Malang
email: [email protected] 3) Program Studi Arsitektur, ITN Malang
email: [email protected]
Abstrak
Kota Kediri memiliki kecenderungan pembangunan fisik yang semakin pesat, dimana hal tersebut akan merubah keberadaan ruang terbuka menjadi ruang terbangun. Menyadari bahwa lahan ruang terbuka hijau di Kota Kediri dari tahun ke tahun semakin berkurang akibat pembangunan fisik, maka diperlukan tindakan yang serius dalam penanganan lingkungan, khususnya arsitektur lansekap kota. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengembangkan ruang terbuka hijau jalur jalan sebagai salah satu ruang terbuka hijau kota di wilayah Kota Kediri dengan mengidentifikasi dan menganalisis tanaman penghijauan jalur jalan dalam upaya mempertahankan, melestarikan, dan mendaya-gunakan elemen lansekap kota, serta mencari bentuk pengembangan dalam aspek sosial-budaya, ekologis, dan arsitektural. Hal tersebut perlu dilakukan untuk memenuhi amanat dari UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mensyaratkan luas ruang terbuka hijau minimal sebesar 30% dari luas wilayah perkotaan yang dibagi menjadi RTH publik minimal 20% dan RTH privat minimal 10%.
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun konsep dan strategi pengembangan arsitektur lansekap Kota Kediri berupa penataan ruang terbuka hijau jalur jalan di sepanjang 7 (tujuh) jalur jalan utama Kota Kediri.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis elemen lansekap ruang terbuka hijau yang meliputi urgensitas, kesesuaian lahan, dan arsitektural sesuai dengan perkembangan aktivitas yang terjadi di sepanjang jalur jalan utama kota. Hal
tersebut dilakukan melalui pendekatan urban landscape ecology yang komprehensif dan
pendekatan berkelanjutan untuk menemu-kali bentuk pengembangan elemen lansekap ruang
terbuka hijau jalur jalan yang lebih terpadu dan berkesinambungan (sustainability development).
Hasil akhir penelitian ini adalah: (a) konsep arahan pemanfaatan lahan ruang terbuka hijau jalur jalan terkait dengan optimalisasi pemanfaatan proporsi ruang secara arsitektural, dan (b) rancangan bentukan sistem ruang terbuka hijau jalur jalan sesuai dengan kondisi, potensi, dan kebutuhan kawasan.