• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP TAWBAT NASUHA MENURUT SHAYKH ‘ABD QADIR AL-JILANI DALAM AL-GHUNYAH LI TALIBI TARIQ AL-HAQ ‘AZZA WA JALLA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KONSEP TAWBAT NASUHA MENURUT SHAYKH ‘ABD QADIR AL-JILANI DALAM AL-GHUNYAH LI TALIBI TARIQ AL-HAQ ‘AZZA WA JALLA."

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi:

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1) dalam Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

Oleh:

MUH. MAKHRUS ALI RIDHO NIM: E33212085

PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR JURUSAN AL-QUR’AN DAN HADIS FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)

sekarang, tawbat nas}u>h}a> sangat dibutuhkan bahkan wajib dilakukan. Penulis memilih penelitian pada Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> ini disamping beliau merupakan tokoh s}u>fi yang memiliki pengaruh besar di dunia Islam dan beliau tergolong intelektual yang memiliki banyak karya beliau juga berbeda dalam menafsirkan kata nas}u>h}a> dengan al-khayt} “benang” berbeda mayoritas ulama’ tafsir, mereka menafsirkanya dengan kata al-khulu>s} “bebas/ikhlas”, selain itu

juga, kitab al-Ghunyah adalah kitab yang fenomenal, dimana didalamnya

terdapat pembahasan fikih, adab, aqidah, al-Qur’an dan tasawuf, disini penulis hanya meneliti majlis tafsirnya.

Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pada konsep tawbat nas}u>h}a> menurut Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> yang tertuang dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla, khususnya berkenaan dengan hakikat, hukum dan syarat tawbat nas}u>h}a>.

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana konsep yang diajukan oleh Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni>, disamping itu, untuk mengetahui bagaimana corak penafsiran yang dipakek al-Ji>la>ni> dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla.

Penelitian ini bersifat keperpustakaan (library research) yang sumber primernya adalah kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla. Pada mulanya, penulis mengumpulkan data dengan metode dokumentasi , kemudian mengolah data tersebut dengan menggunakan metode deskriptif-analitik, dan pada akhirnya penulis menemukan kesimpulan secara komprehensif sebagai jawaban atas rumusan masalah.

Dari penelitian ini penulis menemukan jawaban bahwa tawbat nas}u>h}a>

menurut Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> adalah kembali melakukan perbuatan

maupun ucapan yang dirid}ai oleh Allah dan meninggalkan segala larangan yang

dilarang oleh Allah dengan ikhlas murni karena Allah. Beliau menjelaskan bahwa tawbat nas}u>h}a> hukumnya wajib hal ini sudah menurut jumhur ulama’, beliau mensyaratkan tawbat dengan tiga syarat, Pertama, menyesali perbuatan dosa,

Kedua, menjauhkan diri dari semua dosa, kapan pun dan dimana pun. Dan ketiga,

(6)

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... iv

PEDOMAN TRANSLITERASI ... vii

KATA PENGANTAR ... x

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Batasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 8

E. Tujuan ... 9

F. Telaah Pustaka ... 9

G. Metode Penelitian ... 11

H. Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II : TAWBAT NAS{U<H{A< BESERTA TAFSI<R S{U<FI A.Tawbat Nas}u>h}a> ... 17

1. Pengertian Tawbat Nas}u>h}a> ... 17

2. Hakikat Tawbat Nas}u>h}a> ... 24

3. Kewajiban Tawbat Nas}u>h}a> ... 26

4. Tingkatan Tawbat Nas}u>h}a> ... 33

(7)

BAB III : BIOGRAFI SHAYKH ‘ABD QA<DIR AL-JI<LA<NI< BESERTA

PENAFSIRANNYA DALAM KITAB AL-GHUNYAH LI

T{A<LIBI< T{ARI<Q AL-HAQ ‘AZZA WA JALLA

A.Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> ... 46

1. Biografi Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> ... 46

2. Sosio-Historis Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> ... 54

a. Kondisi Politik Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> ... 54

b. Kondisi Sosial Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni ... 58

c. Kondisi Ilmiah Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni ... 60

3. Karya-karya Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> ... 63

B.Gambaran Umum dan Corak Kitab al-Ghunyah ... 65

1. Gambaran Umum Kitab al-Ghunyah ... 65

2. Corak Penafsiran Kitab al-Ghunyah ... 69

a. Pemilihan Tema ... 70

b. Isi Penafsiran al-Ji>la>ni dalam Kitab al-Ghunyah ... 71

1) Penafsiran Sesuai Makna Z{ahir Ayat ... 74

2) Makna atau Penafsiran Berlandaskan Dalil Syara’ ... 75

3) Penafsiran dan Lafal Sesuai dengan Akal Rasio ... 78

4) Penafsirannya tidak Mengakui Benar Sendiri ... 79

BAB ID : KONSEP TAWBAT NAS{U<H{A< MENURUT SHAYKH ‘ABD QA<DIR AL-JI<LA<NI< DALAM TAFSIR S{U<FI AL-GHUNYAH LI T{A<LIBI> T{ARI>Q AL-HAQ ‘AZZA WA JALLA A.Hakikat Tawbat Nas}u>h}a> ... 80

B. Tawbat Nas}u>h}a> Merupakan Kewajiban Setiap Orang ... 84

(8)
(9)

1

Agama Islam mengajarkan kepada kita umat manusia agar

bertindak benar, berbuat baik, memelihara prinsip-prinsip yang luhur dan

suritauladan yang mulia. Hal-hal seperti ini merupakan konsep bagi

terbentuknya insan kamil. Inilah sebabnya maka manusia pantas menjadi

khalifah Allah dimuka bumi ini.1

Zaman sekarang ini banyak berbagai hal yang menyesatkan

manusia, membelokkannya dari kebenaran dan menggodanya untuk

mengikuti rayuan-rayuan hawa nafsu dan keinginan-keinginan rendah

lainnya. Semuanya itu akan menghancurkan nilai kemanusiaannya dan

menghalanginya untuk berbuat kebaikan dan keutamaan. Manusia selalu

terperangkap dalam jurang yang dalam, sehingga akan sulit baginya untuk

bangun kembali dan menelusuri jalan-jalan yang benar dan baik.

Energinya telah dihabiskan untuk mencari kesenangan-kesenangan pibadi

dan memuaskan nalurinya. Ia lebih mementingkan dirinya sendiri daripada

untuk masyarakat.2

Banyak juga manusia kadang lupa atau salah dalam mengerjakan

perintah dan menghindari larangan Allah SWT. Dalam kehidupan ini, kita

menyadari bahwa kita bukanlah malaikat dan juga bukan nabi, melainkan

insan yang sering terlihat dalam konflik antara yang baik dan buruk. Suatu

(10)

saat kebaikan muncul sebagai pemenang, sehingga ia menjadi insan yang

luhur dan mulia. Pada saat yang lain terjadi sebaliknya, naluri kejahatan

muncul menguasai dirinya, sehingga ia jatuh kedalam lumpur kehinaan.3

Maka dalam situasi seperti ini manusia hendaklah selalu berusaha

untuk meluruskan kesalahan-kesalahannya, mengobati segala penyakitnya,

membersihkan diri dari kotoran yang ada dalam jiwanya dan memulai

untuk hidup dengan pakaian dan jiwa yang bersih yaitu bertobat dengan

sebaik-baik tobat.4 Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang mau

bertobat, menghentikan semua kesalahan dan menggantikannya dengan

amal yang saleh. Perbuatan baik itu akan menutup perbuatan buruk yang

terlanjur dilakukan.5

Tobat ibarat bumi, dalam arti seseorang tidak akan bisa berdiri,

berpijak dan membangun kalau tidak ada bumi. Demikian juga dhikirdan

ibadah seseorang tidak akan bisa membuka dan menghasilkan maqom

yang mulia serta perjalanan hati, ruh}aniyyah dan sirri kehadirat Allah

SWT kecuali harus didahului dengan tobat.6

Manusia tidak menyadari bahwa sesungguhnya tobat hukumnya

wajib, sebab setiap orang tidak akan pernah lepas dari maksiat. Seseorang

didalam pondasi dhikir ibadah berjalan menuju kehadirat Allah SWT atau didalam tobatnya timbul suatu kegoyahan atau kegoncangan tentunya

seperti bangunan yang dibangun diatas tanah yang tidak padat (gembur)

3Ibid. 4Ibid.

(11)

dan pondasinya tidak kuat dan tidak kokoh. Sehingga ia tidak bisa

menjaga hatinya, sampai-sampai didalam s}alat pun hatinya bergerak

dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, tobat wajib dilakukan oleh seseorang

sampai ia meninggal.7

Tujuan hukum tidak ada lain kecuali “Jalbu mas}o>lih wa dar‘u

al-mafa>si>d,” yakni mendatangkan kemaslahatan dan menghindarkan

kerusakan. Akan tetapi jika diperinci, tidak sedikit orang yang bentuknya

melakukan kebaikan, tetapi kenyataannya tidak menjadi baik, yang

mungkin dikarenakan riya‘, sum‘ah (ambisi ingin didengar dan

diperhatikan oleh orang lain), ujub (membanggakan diri) dan lain sebagainya. Akan tetapi jika seseorang dapat menolak kejelekan, maka

dalam keadaan bagaimanapun kejelekan itu akan berhasil ditinggalkan,

sehingga tidak ada masalah baginya, meskipun yang ia lakukan hanyalah

kewajiban saja.8

Kewajiban bertobat juga ditegaskaan oleh Allah SWT dalam (Qs.

al-Tah}ri>m (66):8;

ﺎًﺣﻮُﺼَﻧ ًﺔَﺑْﻮَـﺗ ِﱠا َﱃِإ اﻮُﺑﻮُﺗ اﻮُﻨَﻣآ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ َ

. . .

9

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tawbat nas}u>h}a> (tobat yang semurni-murninya).”

Sehingga jika ada orang yang mengatakaan tobat itu tidak wajib,

maka orang tersebut menjadi kafiratau murtad, karena ia tidak mengakui

nash (ketetapan) yang telah ditetapkan oleh Allah didalam al-Qur’an.

(12)

Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, maka tidak ada sesuatu

apapun yang paling wajib bagi kita selain tobat kepada Allah SWT.

Kerena dhikir, ibadah dan semua pekerjaan kehadirat Allah SWT harus

dilandasi dan dibersihkan serta disucikan dengan tobat. Sehingga tiada

siksa yang paling berat daripada orang yang hatinya tidak diberi dan

merasakan tobat. Latar belakang dari perintah untuk memperbanyak dhikir

“La> ila>ha illalla>h” dan “istig}far” atau tobat kehadirat Allah SWT adalah

karena untuk menghancurkan dan merusak Iblis.10

Seseorang yang mengikuti hawa nafsu (kepentingannya) itu akan

menyebabkan hancurnya langit, bumi dan seisinya. Hal ini terjadi karena

hawa nafsu dan kepentingannya sudah menjadi Tuhannya, dan ilmunya

akan menjerumuskan dan menyesatkan dirinya sendiri, karena ilmunya itu

sendiri sudah tidak jujur, dalam arti digunakan untuk mencari celah-celah

demi tercapainya kepentingan diri sendiri.11 Dari sinilah penulis sangat

tertarik mengangkat tema tawbat nas}u>h}a> karena dirasa zaman yang

sekarang ini tawbat nas}u>h}a>sangatlah diperlukan dalam beribadah menuju

kehadirat Allah SWT.

Penulis tertarik untuk mengkaji penafsiran Shaykh ‘Abd Qa>dir

al-Ji>la>ni> selain beliau adalah ulama ahli fiqh, hadis, tasawuf, ahli dalam

berbuat kebaikan, dhikir, s}alat sunnah, tilawah al-Qur’an,12 dan ulama

10Achmad Asrori, Mutiara Hikmah, (Surabaya: al-Wava, 2010), 124. 11Ibid, 126.

(13)

yang banyak diberikan Allah karamah.13 beliau juga sangat berbeda dalam

menafsirkan kata tawbat nas}u>h}a>, dalam kitab al-Ghunyah kata tawbat beliau tafsirkan dengan kata ruju‘ “kembali”,14 penafsiran ini rata-rata

sama dengan para ulama tafsir lainnya, tetapi pada kalimat nas}u>h}a> beliau

tafsirkan berawal dari makna harfiah dari kata al-nas}u>h}a> ditafsirkan

dengan kata al-khayt} “benang”. Padahal kebanyakan para ulama tafsir

menafsirkan kata nas}u>h}a> dengan kata al-khulu>s} “bebas/ikhlas”.15 Ada

juga yang berpendapat bahwa kata (ﺎﺣﻮﺼﻧ ) nas}u>h}a berarti yang bercirikan

) ﺢﺼﻧ

( nus}h}. dari kata ini, lahir kata nasihat, yaitu upaya untuk melakukan

sesuatu baik perbuatan maupun ucapan yang membawa manfaat untuk

dinasihati. Kata ini juga bermakna (tulus/ikhlas).16 Penulis melihat bahwa

Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> sangat berbeda sendiri dalam menafsirkan

13Karamah adalah lahirnya perbuatan yang menyalahi adat kebiasaan dari seseorang yang

selalu taat kepada Allah dan memiliki ma’rifat yang tinggi tanpa disertai pengakuan sebagai wali atau sebagai bukti atas kebenaran, kelebihan atau kekuatan keyakinannya. Thowil Akhyar, Rahasia Kehidupan Sufi, (Semarang: CV. al-Shifa‘, t.t.), 133. Karamah terbagi menjadi dua macam, yaitu karamah khisyiyah dan karamah maknawiyah. Karamah khisyiyah diberikan kepada orang awam, seperti berjalan di atas air. Sedangkan karamah maknawiyah adalah karamah yang diberikan kepada kaum khawas yang hanya terbatas pada kekuatan mereka dalam menjalankan syariat agama bak dalam perkataan maupun perbuatan. Thowil Akhyar, Rahasia Kehidupan Sufi, (Semarang:CV. al-Shifa‘, t.t.), 15. Kemudian diantara karamah Syekh ‘Abd al-Qa>dir al-Ji>la>ni>adalah suatu ketika beliau duduk mengambil air wudhu kemudian kejatuhan kotoran burung emprit lalu Beliau mengangkat kepalanya maka jatuhlah burung itu dan mati.kemudian Beliau melepas pakaiannya (untuk dicuci) lalu disedekahkan sebagai tebusan atas burung tadi. dan Beliau berkata “ jika pada saya ada dosa maka itulah sebagai tebusannya.” Moh. Saifullah al-Aziz, Terjemah Manaqib (Kisah Kehidupan) Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni,

(Surabaya:Terbit Terang, t.t.), 65.

14‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni, Al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla, Vol. 2 (Bairut: Da>r ah}ya>’ al-Tura>thi al-‘Arabi>, 1992), 159

15Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim, (Bandung: Mizania, 2008), 62.

(14)

kata nas}u>h}a> oleh sebab itu penulis penulis tertarik dalam memahami

penafsiran beliau.

Karya-karya beliau banyak menjadi rujukan orang dari zaman dulu

sampai sekarang, terutama dikalangan pondok pesantren dan pendidik

Islam, buku beliau juga banyak yang berisi dalam menyucikan jiwa,

nasehat-nasehat beliau juga sangat menyentuh hati dan kaya makna,

diantaranya kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla yang

didalamnya berisi tentang penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang bertemakan

tentang makna ta‘awudh, tafsir basmallah, tawbat dan taqwa.

Nasehat-nasehat Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> ibarat oase ditengah padang pasir,

oleh karena itu sangat baik bagi penulis dalam meneliti karya Beliau.

Apalagi untuk saat ini hanya sedikit yang melakukan penelitian terkait

kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla.

B. Identifikasi Masalah

Berlandaskan dari uraian latar belakang diatas, maka permasalahan

yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep terbentuknya insan kamil?

2. Bagaimana konsep takwa (mengerjakan perintah Allah dan

menjauhi larangan-Nya?

3. Bagaimana konsep berusaha untuk meluruskan

kesalahan-kesalahannya mengobati penyakitnya membersihkan diri dari

(15)

pakaian dan jiwa yang bersih yaitu dengan bertobat dengan

sebaik-baiknya?

4. Bagaimana hukum bertobat yang sesungguhnya?

5. Apa yang menyebabkan hancurnya langit dan bumi seisinya?

6. Bagaimana penafsiran Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> tentang

tawbat nas}u>h}a> dalam al-Qur’an?

7. Bagaimana pengertian tawbat nas}u>ha> menurut para ulama?

8. Bagaimana pendapat ulama terhadap Shaykh ‘Abd Qa>dir

al-Ji>la>ni>?

9. Bagaimana konsep tawbat nas}u>ha> dalam al-Qur’an menurut

Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi>

T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla?

10.Bagaimana peranan kitab karya Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> di

zaman dulu sampai sekarang?

11.Bagaimana corak penafsiran yang digunakan Shaykh ‘Abd

Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq

‘Azza wa Jalla?

Dengan melihat keluasan pembahasan penafsiran ayat-ayat tentang

tobat dalam al-Qur’an, begitu juga keberadaan kitab-kitab sekaligus

buku-buku yang lebih banyak menjadi sumber informasi mengenai segala hal

yang mempunyai keterkaitan dengan tafsir ayat-ayat tobat tersebut, maka

permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini hanya berkonsentrasi pada

beberapa hal saja, yakni meliputi penafsiran ayat-ayat tobat dalam

(16)

T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla, dengan mengolaborasikan pendapat

ulama yang mempunyai latar belakang berbeda. Dengan tujuan supaya

penelitian tersebut bisa dijadikan suatu pegangan atau acuan dalam

mengetahui ayat-ayat tobat dalam al-Qur’an.

C. Batasan Masalah

Agar pembahasan tetap terfokus pada permasalahan, penulis

membatasi penafsiran dengan menggunakan satu penafsiran saja, yaitu

penafsiran Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> yang termaktub dalam kitab

al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla. Adapun ayat yang menjadi bahan utama penelitian ini adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan tobat, dari ayat-ayat yang berkaitan dengan tobah dalam al-Qur’an akan dikaji

secara mendalam bagaimana penafsirannya. Untuk lebih mempermudah

dalam memahami tokoh ini maka perlu juga untuk mengakaji biografi dan

latar belakang sosio-historis dan pendidikannya, juga metodologi yang

digunakan dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, pokok permasalahan

yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana konsep tawbat al-Nas}u>ha> menurut Shaykh ‘Abd Qa>dir

al-Ji>la>ni> dalam tafsir al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa

(17)

2. Bagaimana corak penafsiran Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> terhadap

ayat-ayat tawbat dalam tafsir al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq

‘Azza wa Jalla?

E. Tujuan

Berdasarkan rumusan yang telah disusun, penelitian ini memiliki

tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui konsep tawbat nas}u>ha> menurut Shaykh ‘Abd

Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam tafsir al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq

‘Azza wa Jalla.

2. Untuk mengetahui corak penafsiran Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni>

terhadap ayat-ayat tawbat dalam tafsir al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q

al-Haq ‘Azza wa Jalla.

F. Telaah Pustaka

Kajian ilmiah tentang tawbat nas}u>h}a> dalam pandangan Islam ini

bukan hal yang baru, begitu juga tentang kajian pemikiran Shaykh ‘Abd

Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa

Jalla. Diantara beberapa literatur yang terkait dengan penelitian tentang

tawbat Nas}u>h}a> adalah skripsi sebagai berikut.

(18)

Shaykh Mutawalli al-Sha‘rawi)”.17 Skripsi ini memaparkan tentang pemikiran Dr. Wabbah Zuhaili dan Shaykh Mutawalli al-Sha‘rawi, fokus

penelitian tersebut mengarah kepada persamaan dan perbedaan pemikiran

dan memaparkan tentang hakikat tobat dan syarat-syarat normatif tobat.

Skripsi karya Soleh Khudin Gojali yang berjudul “Tobat dalam al-Quran (kajian tafsir tematik),”18 skripsi ini memaparkan tentang hamba Allah yang diterima tobatnya, mendeskripsikan tanda-tanda tobat

seseorang yang diterima, dan memaparkan tobat dalam al-Qur’an.

Skripsi karya Anisah yang berjudul “The concept of Tobat in Quraish Shihab perspective (Analysis Study of Tafsir al-Misbah),”19 skripsi ini memaparkan interpretasi M. Qurais Shihab mengenai tobat

dalam tafsir al-Misbah dan difokuskan kepada poloteisme (syirik)

Hipocrisy (kemunafikan) dan apostasy (kemurtadan).

Sedangkan literatur yang berkaitan dengan kitab al-G{unyah li

T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla diantaranya adalah skripsi yang

dikarang oleh muhammad Awaludin dengan berjudul Tafsir s}u>fi Shaykh

‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni>dalam kitabal-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza

wa Jalla.20 Didalamnya berisi tentang keontetikan kitab al-G{unya, corak

17Muhammad Faruq Yunaedi, “Tobat dalam Surat An-Nisa’ ayat 17 dan 18 (Perspektif

Dr. Wabbah Zuhaili dan Shaykh Mutawalli al-Sya’rawi)” (Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel, 2003).

18Soleh Khudin Gojali, “Tobat dalam al-Quran (kajian tafsir tematik)” (Skripsi Fakultas

Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel, 2007).

19Anisah, “The concept of Tobat in Quraish Shihab perspective (Analysis Study of Tafsir

al-Misbah)”, (Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel, 2010).

20Muhammad Awaluddin, Tafsir sufi Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam kitab

al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla. (Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

(19)

tafsir sufi dalam kitab al-Ghunyah dan karakteristik penafsiran al-Jilani

dalam kitab al-Ghunyah.

G. Metode Penelitian

Metode merupakan prosedur dalam melakukan sebuah

penelitian.21 Langkah awal penelitian ini adalah mengumpulkan berbagai

data yang berhubungan dengan tema, kemudian diklarifikasi dan

dilakukan analisis. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

1. Model dan Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dimaksudkan

untuk mendapatkan data tentang bagaimana metodologi penafsiran

Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> melalui riset kepustakaan (library

research) dan disajikan secara deskriptif-analitis. Dengan kata lain, penelitian ini berusaha mendeskripsikan tujuan, kerangka berfikir

Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam membangun teori menafsirkan

ayat-ayat tobat dalam al-Qur’an, langkah-langkah metodis yang ditempuh

Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam menafsirkan al-Qur’an, serta

menyingkap ideologi yang terselip dibalik bahasa yang digunakan

Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam menulis al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q

al-Haq ‘Azza wa Jalla sebagai bentuk ekspresi intelektual ketika

bersinggungan dengan konstruksi sosial-politik di mana karyanya

diproduksi.

(20)

2. Sumber data

Sesuai dengan jenis penelitiannya, sumber data yang digunakan

dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu:

a. Sumber data primer yang merujuk pada kitab al-Ghunyah li T{a>libi>

T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla

b. Sumber data sekunder yang merujuk pada buku, skripsi, atau artikel

yang masih berkaitan dengan bahasan dalam penelitian ini.

3. Metode Pendekatan penelitian

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode noninteraktif (noninteractive inquiry) yang juga disebut dengan penelitian analitis. Penelitian noninteraktif ini menganalisis dokumen22

dengan menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan

sintesis data untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep,

kebijakan, dan peristiwa yang secara langsung atau pun tidak langsung

dapat diamati. Sesuai dengan namanya, penelitian ini tidak

menghimpun data secara interaktif atau melalui interaksi sumber data manusia. Sumber datanya adalah dokumen.23

Metode pendekatan noninteraktif atau biasa disebut pendekatan analitis ini memiliki tiga macam, penedekatan analitis konsep,

pendekatan analitis historis, dan pendekatan analitis kebijakan.24

Namun dari ketiga macam pendekatan tersebut yang dipakai pada

22M. Djunaidi Ghony, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: al-Ruz Media, 2012), 65. 23Ibid., 65.

(21)

penelitian ini adalah pendekatan analitis historis yaitu menganalisis data

kegiatan, program kegiatan masa lalu dan lebih mengarah pada

penelitian peristiwa, kegiatan, program, kebijakan, dan yang lainnya.

4. Teknik Pengolahan Data

Data-data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan metode

deskriptif-analisis. yaitu metode yang mengumpulkan sumber data serta menyajikan penjelasan data tersebut dan dilanjutkan dengan analisis

terhadap objek yang ditemukan pada data.25 Adapun penjabaran

langkah-langkah metodis dalam penelitian ini adalah:

1. Penulis menetapkan tokoh yang dikaji dan objek formal yang

menjadi fokus kajian, yaitu tokoh Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni>

dengan objek formal kajiannya tentang kata tobat dalam kitab

al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla.

2. Menginventarisasi data dan menyeleksi karya-karya Shaykh ‘Abd

Qa>dir al-Ji>la>ni> dan literatur lain yang terkait dengan penelitian ini.

3. Melakukan identifikasi tentang elemen-elemen penting tentang tobat

dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla. 4. Data yang penulis peroleh akan penulis abstraksikan melalui metode

deskriptif , bagaimana sebenarnya konsep tobat menurut Shaykh

‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> dalam kitab al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq

‘Azza wa Jalla.

(22)

5. Penulis akan melakukan analisis kritis terhadap asumsi-asumsi dasar

tentang tobat tersebut.

6. Penulis akan membuat kesimpulan-kesimpulan secara komprehensif

sebagai jawaban atas rumusan masalah yang telah dipaparkan.

H. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah penelusuran dalam melakukan penelitian,

penulis menyuguhkan alur pembahasan dalam beberapa bab dan sub bab

tertentu. Adapun rasionalisasi pembahasan penelitian adalah:

Bab pertama merupakan pendahuluan yang mencakup latar

belakang masalah yang membahas tentang seberapa unik dan menarik

tema yang dibahas untuk dijadikan penelitian, Selanjutnya mengenai

identifikasi masalah yang membahas tentang fokus pembahasan, kemudian

batasan masalah yang merupakan pembatasan dari permasalahan

penelitian agar penelitian tidak terlalu melebar pembahasannya,

dilanjutkan dengan rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian

ini, kemudian mengenai tujuan penelitian tentang arah yang ingin dituju

dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam penelitian. Dilanjutkan

dengan telaah pustaka yang memaparkan literatur yang relevan atau

literatur yang telah membahas topik yang bersangkutan. Setelah itu,

kerangka teori yang merupakan model konseptual atau pisau yang

digunakan dalam penelitian. Selanjutnya, metode penelitian yang berisi

(23)

pengolahan data. Sedangkan sistematika pembahasan merupakan bagian

terakhir dari bab ini yang menjelaskan tentang gambaran umum isi

penelitian. Bab pertama inilah yang akan menjadi acuan dalam penelitian.

Bab kedua akan menyuguhkan tinjauan umum tentang tawbat

nas}u>h}a> dan tentang tafsi>r s}u>fi. Dalam tinjauan umum tentang tawbat

nas}u>h}a> didalamnya terdiri dari tiga sub bab, yaitu menjelaskan makna

tawbat secara etimologi dan terminologi dilanjutkan nakna nas}u>h}a> secara etimologi dan terminologi, disertai hakikat, kewajiban, tingkatan dan

syarat-syarat tawbat nas}u>h}a>. Selanjutnya pembahasan tentang tafsi>r s}u>fi,

dalam pembahasan ini, penulis memaparkan definisi tafsi>r s}u>fi,

syarat-syarat dan perkembangan tafsi>r s}u>fi. Alasan pemilihan pembahasan

tersebut dalam bab ini adalah karena merupakan gambaran umum yang

akan menaungi pembahasan selanjutnya. Bab ini akan digunakan sebagai

bahan analisis pada bab selanjutnya.

Kemudian bab ketiga menyuguhkan tentang hal-hal yang

berhubungan dengan Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni> dan kitab tafsir

al-Ghunyah sebagai tafsir yang bercorak s}u>fi. Ulasan tentang Shaykh ‘Abd

Qa>dir al-Ji>la>ni> meliputi tiga pembahasan, yaitu tentang biografi beliau,

sosio-historis dan karya-karya beliau. Kemudian mengenai kitab tafsir

al-Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q al-Haq ‘Azza wa Jalla, penulis menyuguhkan dua

sub bab, diantaranya gambaran umum mengenai kitab al-Ghunyah,

(24)

pembahasan tersebut dalam bab ini adalah sebagai bahan untuk analisis

pemikiran beliau tentang tawbat nas}u>h}a> melalui setting sosio-historis. Bab keempat menganalisis penafsiran Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni>

dalam kitab tafsir karyanya yang berjudul Ghunyah li T{a>libi> T{ari>q

al-Haq ‘Azza wa Jalla, dalam bab ini penulis menyuguhkan tiga

pembahasan, diantaranya tentang hakikat tawbat nas}u>h}a> yang merupakan

tahapan pertama dalam perjalanan menuju Allah SWT, analisis kewajiban

bertobat dan syarat-syarat tawbat menurut Shaykh ‘Abd Qa>dir al-Ji>la>ni>.

Dalam bab inilah, penulis melakukan analisis pemikiran Shaykh ‘Abd

Qa>dir al-Ji>la>ni tentang tawbat nas}u>h}a> dalam kitab tafsir al-Ghunyah. Bab kelima merupakan penutup yang didalamnya akan ditulis

kesimpulan yang merupakan jawaban singkat yang diajukan dalam

rumusan masalah dan akan diberikan saran untuk penelitian selanjutnya.

Pada bagian akhir, penulis akan menyertakan daftar pustaka,

(25)

17

A.Tawbat Nas}u>h}a>

1. Pengertian Tawbat Nas}u>h}a>

Merujuk dalam bahasa Arab, ada beberapa kata untuk menunjukkan

kata ‘kembali’, kata yang paling kita ketahui adalah kata ‘id atau ‘aud berasal

dari kata ‘ada-ya‘u>du-‘i>dan-wa-‘audan yang artinya kembali. Sedangkan orang

mengatakan bahwa idul fitri artinya kembali kepada fitrah. Ada juga yang

mengatakan fitr disitu berasal dari kata futhu>r sehingga idul fitri diartikan

kembali kepada kegiatan makan siang hari seperti biasa.1 Dapat dipahami

bahwa ketika bulan ramad}a>n tiba, umat muslim melaksanakan ibadah puasa

yang mana siang hari tidak makan, kalau tiba hari raya kembali dapat makan

pada siang hari.

Kata lain untuk kembali dalam bahasa Arab adalah ruju>‘, yang berasal

dari kata raja‘a - yarji‘u - ruju>‘an, di kalangan kita, kata ruju>‘, yang artinya

kembali, hanya digunakan khusus untuk orang yang bercerai, jadi ada nikah,

talak dan rujuk. Ruju>‘ artinya kembali. Suami yang sudah pergi kembali lagi.

Dalam al-Qur’an kata ruju>‘ lebih sering digunakan untuk menunjukkan

kembalinya kita kepada Allah SWT, misalnya kita menyebut Inna>lillahi wa

1Jalaluddin Rakhmat, Meraih cinta Ilahi Pencerahan Sufistik, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999),

(26)

inna> ilaihi ra>ji‘u>n, kita semua kepunyaan Allah dan hanya kepada Dia kita

semua ruju>‘. Orang yang kembali disebut ra>ji‘, dan tempat kembali disebut

marji‘,2seperti disebutkan dalam ayat al-Qur’an: “Ilayya marji‘ukum, Kepada

Aku-lah kalian semua kembali” (QS. Ali Imran;55).

Sebelum kalimat itu, Tuhan berfirman, “Ittabi‘ sabi>la man ana>ba ilayya

thumma ilayya marji‘ukum, ikutilah jalan orang yang kembali kepada Aku-lah

tempat kembali semua”. Kata lain untuk kembali, yaitu ana>ba-yuni>bu-ina>bah,

karena keindahannya, al-Qur’an tidak mengulangi kata-kata yang sama

walaupun artinya sama, untuk makna yang sama, biasanya penulis yang bagus

mengganti kata-kata yang lain untuk menunjukkan keindahan. Ciri-ciri orang

yang tidak begitu pintar menyusun kata-kata ialah ia selalu mengulang-ulang

kata. Sayangnya bahasa Indonesia kurang begitu kaya disbanding bahasa Arab.

Tidak ada kata lain untuk kembali. Sehingga kita menerjemahkan “Ittabi‘

sabi>la man ana>ba ilayya thumma ilayya marji‘ukum” menjadi “ikutilah

orang-orang yang kembali kepada-Ku dan kepada Aku-lah tempat kembali kamu

semua”. Kita memakai kata ‘kembali’ lagi karena tidak ada kata lain.

Sebetulnya ada kata ‘pulang’, tetapi agak tidak enak, jadi untuk kata ‘kembali’

ada kata ‘id, ruju‘ dan ina>bah.3

Satu lagi kata yang berarti ‘kembali’ dalam bahasa Arab yang sangat

khas adalah tobat. Tobat berasal dari kata ta>ba-yatu>bu-tawbatan. Orang yang

2Ibid.

(27)

kembali disebut ta>ib dan yang kembalinya berulang-ulang dan terus-menerus

disebut tawwa>b. kalau menerjemahkan tawwa>b sebagai orang yang banyak

bertaubat, kita akan menemukan dalam al-Qur’an bahwa yang disebut paling

banyak bertobat itu bukan saja manusia, tetapi juga Tuhan; tidak hanya

makhluk, tetapi juga Khalik misalnya Allah menyebut orang-orang yang

banyak bertobat dan senang melakukan kesucian dengan kata-kata,4Innalla>ha

yuhibbut tawwa>bi>na wayuhibbul mutathahhiri>n, Sesungguhnya Allah

mencintai orang yang banyak bertobat dan memelihara kesucian dirinya (QS.

Al-Baqarah [2]:222).

Akan tetapi kata tawwa>b juga dinisbatkan kepada Allah SWT: Innahu>

huwat tawwa>bur rahi>m; Sesungguhnya Allah itu yang paling banyak bertaubat

dan yang paling penyayang (QS. al-Baqarah [2]:37). Biasanya kita kebingungan

kalau mengartikan bahwa Allah SWT yang palinga banyak bertobat. Sebab

dalam bahasa Indonesia, kata tawbat (tobat) berarti ampunan. Kalau kita baca

komik, orang-orang yang dipukul akan menjerit “tobat!”. Tawbat diartikan

sebagai ampunan, sehingga tawbat sudah kehilangan makna kembalinya.

Untunglah dalam dhikir-dhikir, kita masih menyebut Allah dengan al-Tawwa>b.

Jadi, untuk menunjukkan kata ‘kembali’ dalam bahasa Arab, kita menggunakan

id, ruju‘, ina>bah, dan tawbat.5

4Ibid, 8.

(28)

Sedangkan tawbat menurut istilah sebagaimana yang diungkapkan oleh

al-Qut}bur Robba>ny al-Imam al-Shaykh Abdul Wahhab al-Sha‘rony RA:

"عﺮﺸﻟا ﰱ دﻮﻤﳏ ﻮﻫ ﺎﻣ ﱃإ عﺮﺸﻟا ﰱ ﺎﻣﻮﻣﺬﻣ نﺎﻛ ﺎﻤﻋ عﻮﺟﺮﻟا"

“Kembali dari suatu yang tercela menurut syara’ menuju pada sesuatu yang terpuji.”6

Kemudian, menurut Imam Ghazali tawbat adalah meninggalkan dosa

yang telah diperbuat dan dosa-dosa yang sederajat dengan itu, dengan

mengagungkan Allah dan takut akan murka-Nya Allah.7 Dalam kitab lain yang

berjudul al-Arba‘i>n fi> Ushu>l al-Di>n, beliau mendefinisikan tawbat merupakan

awal perjalanan orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah SWT dan

kunci kebahagiaan.8

Kemudian menurut Shaykh Ibrahim Dasuqi mendefinisikan orang yang

bertobat ialah orang yang berhenti melanggar larangan-larangan Allah dan

kembali untuk melakukan perintah-perintah-Nya, berhenti berbuat ma’siat dan

patuh serta mencintai Allah.9

Beberapa definisi di atas menunjukkan bahwa tawbat merupakan

tahapan pertama dalam perjalanan menuju-Nya, dan beri‘tiqad yang kuat

meninggalkan kemaksiatan dan kembali kejalan yang dirid}ai oleh Allah SWT,10

dan dengan tawbat, seorang hamba akan memperoleh berbagai macam

6Achmad Asrori, Mutiara Hikmah, (Surabaya: al-Wava, 2010), 181.

7al-Ghazali, Terjemah Minhajul Abidin Petunjuk Ahli Ibadah, Terj. Abul Hiyadh, (Surabaya: Mutiara

Ilmu, 1995), 52.

8Al-Ghazali, al-Arba’in fi Ushul ad-Din, Terj. Rojaya, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), 169. 9A. Chozin Nahuha, Wasiat Taqwa, (Jakarta: Bulan bintang, 1986), 80.

(29)

keistimewaan dan akan mersakan nikmat yang agung dalam mencintai Allah

SWT.

Sedangkan Nas}u>h}a> itu merupakan s}i>ghah muba>laghah (bentuk yang

menunjukkan lebih) dari kata na>s}ih}. Sebagaimana kata syaku>r dan s}abu>r

merupakan bentuk muba>laghah dari katasya>kir dan s}a>bir. Dalam bahasa Arab,

kata Nas}u>h} yang berasal dari huruf nu>n, s}ad dan ha>’ itu, mengisyaratkan

ungkapan bebas atau ikhlas (al-khulu>s}). Disebutkan Nas}u>h}a> al-‘asal (madu itu

bersih), idha> khala> min al-ghisysy (jika kosong dari pencampuran). Dengan

demikian, al-nus}h} (bebas/ikhlas) dalam tawbat itu layaknya al-nus}h} dalam

ibadah. Adapun al-nus}h} dalam musyawarah berarti membebaskan musyawarah

itu dari bentuk penipuan, pengurangan, pengrusakan dan melakukannya dalam

kerangka yang paling sempurna. al-nus}h} (bersih/ikhlas) itu adalah lawan dari

kata al-ghisysy (tipu/curang).11

M. Qurais Shihab berpendapat dalam kitab tafsirnya al-Misbah bahwa

kata (ﺎﺣﻮﺼﻧ ) nas}u>h}a> berarti yang bercirikan (ﺢﺼﻧ) nus}h}. dari kata ini, lahir kata

nasihat, yaitu upaya untuk melakukan sesuatu baik perbuatan maupun ucapan

yang membawa manfaat untuk dinasihati. Kata ini juga bermakna

(tulus/ikhlas).12

11Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(Bandung: Mizania, 2008), 62.

(30)

Beberapa pendapat diatas penulis mendefinisikan bahwa nas}u>h}a> berarti

perbuatan secara ikhlas, bersih atau murni tanpa mengharap imbalan. Kalau

disifati dengan tawbat, kata tersebut mengilustrasikan sebagai sesuatu secara

ikhlas, bersih dan murni dan beri’tiqad kuat untuk tidak mengulangi kembali

kesalahannya.

Selanjutnya penulis paparkan penngertiaan tawbat nas}u>h}a>, bertobat

merupakan tahapan pertama dalam perjalanan menuju-Nya. Dalam

tahapan-tahapan berikutnya, tawbat harus menjadi teman seiring yang senantiasa

membarengi seorang muslim dalam menakapi tangga-tangga menuju-Nya, dari

awal sampai akhir. Tawbat adalah kata yang mudah diucapkan. Karena mudah

dan terbiasa, inti makna yang dikandungnya menjadi tidak nampak. Padahal

kandungan maknanya tidak akan dapat direalisasikan hanya dengan pelafalan

lisan dan kebiasaan menyebutkannya.13

Ibnu Kasir mendefinisikan tawbat Nas}u>h}a> adalah tawbat yang

sebenarnya dengan tekad yang penuh, yang dapat menghapus berbagai

keburukan yang pernah ada sebelumnya, yang akan menyatakan dan

mengumpulkan orang yang bertobat, juga menahan dirinya dari berbagai

perbuatan hina.14

Kemudian menurut Shaykh Ibrahim Dasuqi mendefinisikan tawbat

nas}u>h}a> adalah tawbat yang dilakukan hanya karena Allah semata-mata, bukan

13Noerhidayatullah, Insan Kamil, (Bekasi: Intimedia, cet I, 2002), 34.

14Ibnu Kasir, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Terj. M. ‘Abdul Ghofar, jilid 8, (Jakarta: Pustaka Imam

(31)

karena tujuan-tujuan lain, tawbat yang mengembalikannya kejalan yang benar

dan yang menjauhkannya dari jalan yang sesat. Tawbat yang membentuk jiwa

yang jujur melaksanakan ajaran-ajaran agamanya dan yang membukakan pintu

antara dia dengan Tuhannya.15

Sedangkan M. Qurais Shihab berpendapat bahwa tawbat nas}u>h}a> adalah

yang pelakunya tidak terbetik lagi dalam benaknya keinginan untuk

mengulangi perbuatannya karena setiap saat ia diingatkan dan dinasihati oleh

tobatnya itu.16

Kemudian Shaykh Achmad Asrori mendefinisikan bahwa tawbat nas}u>h}a>

adalah tobat yang diterima oleh Allah.17

Oleh karena itu, para ulama mengatakan: “tawbat Nas}u>h}a> adalah

bertekat untuk meninggalkan dosa yang akan datang dan menyesali dosa-dosa

yang telah lalu, dan kemudian berkeinginan keras untuk tidak mengerjakannya

kembali dihari-hari berikutnya, kemudian jika dosa tersebut berhubungan

dengan hak manusia, hendaklah ia kembalikan (hak) apa yang telah ia ambil.18

Beberapa definisi diatas penulis mendefinisikan bahwa tawbat nas}u>h}a>

adalah kembali kejalan yang dirid}ai oleh Allah SWT disertai i’tiqad yang kuat

menyesali dosa-dosa yang lalu dan meninggalkan dosa-dosa yang akan datang

15A. Chozin Nahuha, Wasiat Taqwa, (Jakarta: Bulan bintang, 1986), 80.

16M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. 14 (Jakarta: Lentera hati, Cet. V, 2012), 179. 17Achmad Asrori, Mutiara Hikmah, (Surabaya: Al Wava, 2010), 221.

18Ibnu Kasir, Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Terj. M. ‘Abdul Ghofar, jilid 8, (Jakarta: Pustaka Imam

(32)

atau tidak mengulangi kembali dosa-dosa yang telah dilakukan secara ikhlas,

bersih dan murni hanya karena Allah SWT.

2. Hakikat Tawbat Nas}u>h}a>

Bertobat merupakan tahapan pertama dalam perjalanan menuju-Nya.

Dalam tahapan-tahapan berikutnya, tawbat harus menjadi teman seiring yang

senantiasa membarengi seorang muslim dalam menakapi tangga-tangga

menuju-Nya, dari awal sampai akhir. Tawbat adalah kata yang mudah

diucapkan. Karena mudah dan terbiasa, inti makna yang dikandungnya menjadi

tidak nampak. Padahal kandungan maknanya tidak akan dapat direalisasikan

hanya dengan pelafalan lisan dan kebiasaan menyebutkannya.19

Imam Ghozali mengatakan dalam kitab Ihya>’ ‘Ulu>m al-Di>nbahwa makna

kata tawbat terdiri atas tiga hal, yakni ilmu, keadaan (kondisi) dan

perbuatan.ilmu merupakan modal untuk mengetahui bahaya dari dosa yang

menjadi tabir (penghalang) antara hamba dan Rabbnya. Jika engkau mendapati

kesadaran semacam ini, maka akan muncul darinya sebuah suasana hati,

dimana akan timbul perasaan sedih akibat takut dibenci oleh Dzat yang ia

cintai. Inilah yang kemudian disebut sebagai penyesalan. Jika perasaan ini

dominan, maka tentu akan mengakibatkan keinginan untuk bertobat dan

memperbaiki kesalahan dimasa lalu. Dengan makna lain tawbat merupakan

(33)

upaya untuk meninggalkan dosa-dosa seketika dan bertekad untuk tidak

melakukannya kembali dimasa mendatang.20

Tawbat merupakan awal perjalanan orang-orang yang menempuh jalan

menuju Allah SWT dan kunci kebahagiaan para murid. Allah SWT berfirman

dalam QS. al-Baqarah (2): 222;

. . .

) َﻦﻳِﺮِّﻬَﻄَﺘُﻤْﻟا ﱡﺐُِﳛَو َﲔِﺑاﱠﻮﱠـﺘﻟا ﱡﺐُِﳛ َﱠا ﱠنِإ

٢٢٢

(

21

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

. . .

) َنﻮُﺤِﻠْﻔُـﺗ ْﻢُﻜﱠﻠَﻌَﻟ َنﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ ﺎًﻌﻴَِﲨ ِﱠا َﱃِإ اﻮُﺑﻮُﺗَو

٣١

(

22

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Orang-orang yang bertobat adalah kekasih Allah dan orang-orang yang

bertobat dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdosa.23

Kitab lain Imam Ghazali menyatakan bahwa hakikat tawbat adalah

kembali dari jalan yang jauh menuju jalan kedekatan (kepada Allah). Akan

tetapi, ia mempnyai rukun, dasar dan kesempurnaan. Adapun dasar

permulaannya adalah iman. Artinya, pemancaran cahaya ma‘rifat terhadap hati

sehingga menjadi jelas didalamnya bahwa dosa-dosa itu adalah racun yang

membinasakan. Kemudian memancar darinya cahaya ketakutan dan

penyesalan, serta memancar dari cahaya ini benarnya kecintaan dalam menjauhi

20al-Ghazali, Ringkasan Ihya>’ ‘Ulu>m al-Di>n, terj. Achmad Sunarto (Surabaya: Da>rul Abidin, 2014),

441.

(34)

dosa dan kewaspadaan terhadapnya. Adapun sikap pada saat sekarang adalah

dengan meninggalkan dosa. Pada masa yang akan datang dengan tekad untuk

meninggalkannya. Dan pada masa lalu dengan memperbaikinya sesuai dengan

kemungkinan. Dengan cara seperti itu dapat diraih suatu kesempurnaan.24

3. KewajibanTawbat nas}u>h}a>

Tawbat dari dosa yang dilakukan oleh seseorang merupakan kewajiban

agama yang harus dikerjakan. Hal ini diperintahkan oleh al-Qur’an dan

dianjurkan oleh Sunnah Nabi. Disamping itu, seluruh ulama pun menyatakan

kewajiban tawbat, baik ulama z}a>hir, ba>t}in, fikih, dan tasawuf. Bahkan Sahl ibn

‘Abdulla>h berkata, “Siapa yang berpendapat bahwa tawbat tidak wajib, maka ia

adalah kafir. Dan siapa yang rid}a dengan pendapatnya bahwa tawbat itu tidak

wajib maka ia adalah kafir. Tidak ada sesuatu pun yang lebih wajib bagi

seorang manusia daripada tawbat. Tidak ada siksaan yang lebih keras daripada

kehilangan pengetahuan tentang tawbat. Sungguh, manusia benar-benar tidak

tahu tentang tawbat.25

Allah SWT berfirman dalam QS. al-H{ujura>t (49): 11;

) َنﻮُﻤِﻟﺎﱠﻈﻟا ُﻢُﻫ َﻚِﺌَﻟوُﺄَﻓ ْﺐُﺘَـﻳ َْﱂ ْﻦَﻣَو

١١

(

26

“Dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang z}alim.”

24Ibid, 170.

25Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(Bandung: Mizania, 2008), 19.

(35)

Ayat ini merupakan dalil atas wajibnya tawbat. Jika seseorang itu tidak

bertobat, ia termasuk orang-orang yang z}alim.27 Orang yang z}alim itu tidak

akan mendapatkan kebahagiaan. Allah SWT berfirman QS. Yu>suf (12): 23;

) َنﻮُﻤِﻟﺎﱠﻈﻟا ُﺢِﻠْﻔُـﻳ ﻻ ُﻪﱠﻧِإ

٢٣

(

28

“Sesungguhnya orang-orang yang z}alim tiada akan beruntung."

Ayat lain yang menyinggung persoalan tawbat, menganjurkannya serta

menjelaskan keutamaan dan pengaruh dari tawbat29 adalah dalam firman Allah

QS. al-Baqarah (2) 222:

) َﻦﻳِﺮِّﻬَﻄَﺘُﻤْﻟا ﱡﺐُِﳛَو َﲔِﺑاﱠﻮﱠـﺘﻟا ﱡﺐُِﳛ َﱠا ﱠنِإ

٢٢٢

(

30

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Dasar ayat lain yang mewajibkan tobat yaitu QS. al-Nu>r (24): 31 dan

QS. al-Tah}ri>m (66): 8 berikut penulis paparkan ayat yang menjadi dasar

kewajiban bertobat:

) َنﻮُﺤِﻠْﻔُـﺗ ْﻢُﻜﱠﻠَﻌَﻟ َنﻮُﻨِﻣْﺆُﻤْﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ ﺎًﻌﻴَِﲨ ِﱠا َﱃِإ اﻮُﺑﻮُﺗَو

٣١

(

31

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

27Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(Bandung: Mizania, 2008), 25.

28al-Qur’a>n, 12: 23.

29Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(Bandung: Mizania, 2008), 25.

(36)

ﺎَﻬﱡـﻳَأ َ

ُﻜَﻠِﺧْﺪُﻳَو ْﻢُﻜِﺗﺎَﺌِّﻴَﺳ ْﻢُﻜْﻨَﻋ َﺮِّﻔَﻜُﻳ ْنَأ ْﻢُﻜﱡﺑَر ﻰَﺴَﻋ ﺎًﺣﻮُﺼَﻧ ًﺔَﺑْﻮَـﺗ ِﱠا َﱃِإ اﻮُﺑﻮُﺗ اﻮُﻨَﻣآ َﻦﻳِﺬﱠﻟا

ْﻢ

ﻰَﻌْﺴَﻳ ْﻢُﻫُرﻮُﻧ ُﻪَﻌَﻣ اﻮُﻨَﻣآ َﻦﻳِﺬﱠﻟاَو ﱠِﱯﱠﻨﻟا ُﱠا يِﺰُْﳜ ﻻ َمْﻮَـﻳ ُرﺎَﻬْـﻧﻷا ﺎَﻬِﺘَْﲢ ْﻦِﻣ يِﺮَْﲡ ٍتﺎﱠﻨَﺟ

َْﲔَـﺑ

ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَأ

) ٌﺮﻳِﺪَﻗ ٍءْﻲَﺷ ِّﻞُﻛ ﻰَﻠَﻋ َﻚﱠﻧِإ ﺎَﻨَﻟ ْﺮِﻔْﻏاَو ََرﻮُﻧ ﺎَﻨَﻟ ْﻢِْﲤَأ ﺎَﻨﱠـﺑَر َنﻮُﻟﻮُﻘَـﻳ ْﻢِِﺎَْﳝَِ َو

٨

(

32

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ayat diatas merupakan panggilan terakhir Tuhan kepada orang-orang

Mukmin dalam al-Qur’an. Allah SWT memetintahkan mereka untuk bertobat

kepada Allah dengan tawbat yang sebenar-benarnya (nas}u>h}a>) tawbat yang

ikhlas dan jujur. Perintah Allah dalam al-Qur’an bersifat wajib, selama tidak

ada dalil yang yang memalingkan dari hukum wajib tersebut. Hal itu

dimaksudkan agar mereka bisa berharap mendapatkan dua balasan utama, yang

senantiasa diusahakan oleh setiap Mukmin, yaitu penghapusan dosa dan masuk

kedalam surga.33

Sebagian ulama tasawuf berpendapat bahwa tawbat itu wajib bagi

setiap orang, bahkan para nabi dan wali sekalipun. jadi, jangan pernah anda

menyangka bahwa tawbat itu hanya dihususkan untuk Nabi Adam As, ketika

Allah SWT berfirman dalam QS. T{a>ha> (20): 121-122;

32Ibid,. 66: 8.

33Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(37)

ِﺼَْﳜ ﺎَﻘِﻔَﻃَو ﺎَﻤُﻬُـﺗآْﻮَﺳ ﺎَﻤَُﳍ ْتَﺪَﺒَـﻓ ﺎَﻬْـﻨِﻣ ﻼَﻛَﺄَﻓ

ىَﻮَﻐَـﻓ ُﻪﱠﺑَر ُمَدآ ﻰَﺼَﻋَو ِﺔﱠﻨَْﳉا ِقَرَو ْﻦِﻣ ﺎَﻤِﻬْﻴَﻠَﻋ ِنﺎَﻔ

)

١٢١

) ىَﺪَﻫَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ َبﺎَﺘَـﻓ ُﻪﱡﺑَر ُﻩﺎَﺒَـﺘْﺟا ﱠُﰒ(

١٢٢

(

34

“Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.”

Bahkan kewajiban untuk bertobat merupakan hukum azali yang telah

dituliskan untuk manusia. Tidak mungkin ada jalan untuk menyalahinya,

selama sunnatullah itu tidak dapat tergantikan. Dengan demikian, kembali

(al-ruju>‘) yaitu tawbat kepada Allah merupakan hak setiap manusia yang bersifat

d}aruri (primer), baik dirinya itu nabi ataupun orang biasa, wali ataupun orang

yang membangkang.35

Imam al-Ghozali dalam kitabnya Ihya>’ ‘Ulu> al-Di>n berpendapat dengan

dalil (QS. Al-Nu>r [24]:31) yang telah disebutkan diatas bahwa tawbat itu

wajib dilakukan oleh semua orang tanpa pandang bulu. Demikian itu karena

tiada seorangpun yang terbebas dari dosa yang dilakukannya. Adakalanya

melalui anggota tubuhnya atau hatinya, dan yang paling minim adalah lupa

dan lalai kepada Allah SWT dan lalai bertobat kepada-Nya, sebagaimana

keadaan para Nabi dan para S{iddi>qi>n dan keadaan orang yang belum merasa

34al-Qur’a>n, 20: 121-122.

35Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(38)

puas dengan kehidupannya hanya terbatas sekedar keberadaannya tanpa

faedah.36

Sebagaimana tobat itu wajib bagi setiap mukmin, ia juga wajib

dilakukan dalam setiap keadaan. Maksudnya adalah bersifat terus-menerus. Hal

ini berdasarkan keumuman yang terdapat dalam dalil-dalilnya. Oleh karena itu

manusia tidak pernah luput dari perbuatan maksiat, maka hatinya tidak akaan

lepas dari kesedihan untuk memikirkan perbuatan dosa. Jika hatinya tidak

kosong dari kesedihan, ia tidak akan luput dari bisikan setan yang melalaikan

dari dhikir kepada Allah SWT. Apabila ternyata kosong dari bisikan setan, ia

tidak akan lepas dari kelelahan dan kekurangan pengetahuan Allah, sifat-Nya

dan perbuatan-Nya. Semua hal itu merupakan kekurangan yang memiliki

penyebabnya.37

Sedangkan hadis Nabi yang menegaskan bahwa bertobat merupakan

kewajiban setiap muslim terpaparkan dalam hadis s}a>h}i>h yang diriwayatkan

oleh Imam Muslim:

ﺎَﻗ .ةَدْﺮُـﺑ ِْﰊَأ ْﻦَﻋ ,ةﱠﺮُﻣ ﻦﺑ وُﺮْﻤَﻋ ْﻦَﻋ ,ﺔَﺒْـﻴَﻌُﺷ ْﻦَﻋ رﺪﻨﻏ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ .ﺔَﺒْـﻴَﺷ ِْﰊَأ ِﻦْﺑ ﺮَﻜَﺑ ْﻮُـﺑَأ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

َِﲰ

ِْﱯﱠﻨﻟا ِبﺎَﺤْﺻَأ ْﻦِﻣ َنﺎَﻛَو ,ﺮﻏﻷا ُﺖْﻌ

: َلﺎَﻗ ْﺮَﻤُﻋ ُﻦْﺑِا ُثِّﺪَُﳛ ,َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲ ﻰﱠﻠَﺻ

َر َلﺎَﻗ

ُلﻮُﺳ

:َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِﷲ

»

ٍةﱠﺮَﻣ ،َﺔَﺋﺎِﻣ ِﻪْﻴَﻟِإ ِمْﻮَـﻴْﻟا ِﰲ ،ُبﻮُﺗَأ ِّﱐِﺈَﻓ ،ِﷲ َﱃِإ اﻮُﺑﻮُﺗ ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ َ

«

36Al-Ghazali, Ringkasan Ihy>’ ‘Ulu>m al-Di>n, Terj. Achmad Sunarto, (Surabaya: Da>r al-Abidin, 2014),

447.

37Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(39)

“Hai sekalian manusia tobatlah kepada Allah, Sesungguhnya saya bertobat kepada-Nya setiap hari seratus kali.”38

Tawbat itu wajib dilakukan oleh setiap Mukmin, bertobat dengan segera

juga menjadi kewajiban yang lain. Tidak boleh menunda-nunda (ta’khi>r) atau

menangguhkan (taswi>f) tobat, karena hal itu dapat mengganggu hati orang yang

beragama. Apabila ia tidak segera menyucikan dirinya dengan tawbat, sedikit

demi sedikit, pengaruh dari perbuatan dosa itu bisa menjadi membengkak, satu

demi satu. Akhirnya timbullah noda hitam pada hati orang tersebut.39

Ibn al-Qayyim berkata, “bersegera untuk melakukan tawbat merupakan

kewajiban yang harus dilaksanakan. Tidak boleh menangguhkannya. Jika

seseorang menangguhkan tawbat, ia telah bermaksiat dengan penangguhkan

tersebut. Dan jika ia bertobat dari suatu dosa, ia masih harus melakukan tobat

yang lain, yaitu bertobat dari penangguhannya terhadap tawbat. Memang tidak

akan menimbulkan bahaya apapun. Namun, jika ia bertobat dari suatu dosa

yang diperbuatnya, ia pun harus bertobat karena penangguhannya terhadap

tobat tersebut.”40

Bertobat adalah kewajiban yang mendesak, menurut anjuran dan syariat

tawbat adalah sebuah kewajiban mendesak, ini berarti bahwa kita harus

bertobat pada tiap kesempatan ketika kita ingat bahwa kita pernah perbuat suatu

38Abi> al-H{usain Muslim ibn H{ijja>j, S{a>hi>h} Muslim, (Da>r al-Qutub al-‘Ulumiyyah: 1991), 2075, no

index: 2702.

39Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(Bandung: Mizania, 2008), 57.

(40)

dosa dan menentang Pencipta kita, dan memberontak terhadap

kepemeliharaan-Nya selaku Pencipta yang Maha Pemurah dan memerangi kebaikan

kepemerintahan-Nya. Ketika para pendosa mengetahui dan menyadari ini

semua, mereka harus segera mungkin tanpa menunda, bertobat kembali ke

(jalan) Allah SWT dan mencabut akar-akar dosa yang menancap pada rohani.

Mereka harus menyesali dosa-dosa dan membuang seluruh efek dosa tersebut

sehingga mereka dapat menyucikan hati dan memperoleh rahmat dan ampunan

Allah SWT. Jika para pelaku dosa menunda bertobat, berharap bahwa mereka

akan bisa (punya kesempatan) bertobat nanti, maka harapan inipun dianggap

sebagai suatu bentuk penentangan. Ini akan menyeret pelakunya pada perasaan

aman dari ancaman dan hukuman Allah SWT, dan akan memastikan bahwa

mereka akan terus-menerus melakukan dosa.41

Diantara keutamaan menyegerakan bertobat adalah membantu

seseorang untuk menghindari dosa sebelum menjadi besar, mencabut akarnya

dari dalam hati. Sebab perbuatan dosa itu dapat merusak perbuatan baik yang

kita lakukan. Jika dibiarkan, sedikit demi sedikit, perbuatan dosa tersebut akan

semakin besar dan berkembang.42

41H{usain Ansariyan, Bertobat Dalam Buaian Ampunan Tuhan, Terj. Ali Yahya, (Tanpa Kota: Citra,

2012), 52-53.

42 Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(41)

4. Tingkatan Tawbat Nas}u>h}a>

Sebagaimana yang telah terpaparkan definisi tawbat diatas oleh

al-Qut}bur Robba>ny al-Imam al-Shaykh Abdul Wahhab al-Sha‘rony RA yang

berbunyi:

"عﺮﺸﻟا ﰱ دﻮﻤﳏ ﻮﻫ ﺎﻣ ﱃإ عﺮﺸﻟا ﰱ ﺎﻣﻮﻣﺬﻣ نﺎﻛ ﺎﻤﻋ عﻮﺟﺮﻟا"

“Kembali dari suatu yang tercela menurut syara’ menuju pada sesuatu yang terpuji.”43

Kalimat madhmu>m (tercela) dan mah}mu>d (terpuji) menunjukkan bahwa

tawbat itu berkelas-kelas, atau dibagi tiga: pertama tawbat al-‘awwa>m, kedua

tawbat al-khawa>s}, ketiga Tawbat al-khawa>s} al-khawa>s}.44

Pertama: Tawbat al-‘awwa>m (tawbat yang dilakukan orang awam),

yaitu tawbat yang hanya menaubati dari segala kesalahan dan dosa.

Kedua: Tawbat al-khawa>s} (tawbat yang dilakukan orang istimewa),

yaitu tawbat dan menobati dari kelalaian kehadirat Allah SWT, meskipun

kelalaian tersebut bukan berupa dosa disisi Allah SWT, dan dari merasa dirinya

telah berbuat kebaikan.

Ketiga: Tawbat al-khawa>s} al-khawa>s} (tawbat yang dilakukan orang

paling istimewa), yaitu taubatdan menaubati diri tidak adanya mushahadah

(melihat) kehadirat Allah SWT dalam sekejap mata.45

(42)

Jadi, tobatnya orang-orang ‘awwa>m (biasa) berbeda dari tobatnya

orang-orang khawa>s (khusus) dan khawa>s} al-khawa>s (luar biasa). Karenanya

ada pendapat yang mengatakan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh al-abra>r

merupakan kejelekan al-muqarrobi>n, akan tetapi setiap mukmin dituntut untuk

selalu bertobat kepada Allah SWT agar mereka mendapatkan kebahagiaan.46

Oleh karena itu, tawbat itu ada permulaan dan juga ada puncaknya:

Pertama: Tawbat dari dosa-dosa besar. Ini yang harus pertama kali dilakukan,

lalu ditingkatkan ke nomor dua dan seterusnya. Kedua: Tawbat dari dosa-dosa

kecil. Ketiga:Tawbat dari perkara yang makruh. Keempat:Tawbat dari khilaful

awla> (perkara yang tidak layak dan tidak pantas dilakukan). Kelima: Tawbat

dari ru‘yat}il h}asana>t (melihat kebaikan pada dirinya sendiri). Keenam: Tawbat

dari s}ara ma‘du>dan min fuqara>‘iz zaman (merasa dirinya berbeda dari yang

lain, atau merasa dirinya darigolongan ini dan itu). Ketujuh: Tawbat dari

merasa dirinya sidah ber-istighfar atau bertobat. Kedelapan:Tawbat dari segala

macam gerak-gerik hati yang tidak dirid}ai oleh Allah SWT. Kesembilan:

45Hal ini sesuai dengan pendapat Ulama Ash Shufiyya Al Muhaqiqin RA, didalam pengertian taubat

adalah: "بﻮﻧﺬﻟالﺎﺣوأﻦﻣﱃإﺔﻣﻮﻘﻟاوﺔﺑ ﻹاﺎﻗاﺮﻐﺘﺳإﻊﻣﺖﺑﻮﺘﻟانﺎﻴﺴﻧوﺐﻧﺬﻟ انﺎﻴﺴﻧ " “dirinya lupa dosa, dan lupa bahwa dirinya tobat kehadirat Allah SWT, karena dirinya tenggelam dan sirna dalam kembali kehadirat Allah SWT dan tenggelam dalam kesemangatan berjalan, bergerak, menghadap kehadirat Allah SWT, sehingga terlepas dari lumpur dan noda semua dosa” Hal ini sama halnya pembahasan mengenai tanda orang yang ikhlas yaitu: “ ﻞﻤﻌﻟاﻞﻤﻌﻟانﺎﻴﺴﻧ ” “dirinya lupa ketika dzikir dan ibadah kalau dirinya melakukan dzikir dan ibadah menuju kehadirat Allah SWT.” Penyebab dirinya bias lupa, sirna dan tenggelam, padahal dirinya melakukan adalah karena ketika dzikir dan ibadah yang diingat oleh hati, ruhaniyah dan sirri-nya hanyalah Allah SWT, yang mana hal ini disebabkan karena tinggi dan besarnya kemauan hati, ruhaniyah dan sirri-nya kehadirat Allah SWT (‘ulu>wul himmah), sehingga lupa kalau dirinya mempunyai amal. Ibid, 191-193).

46Yusuf al-Qardhawi, Kitab Petunjuk Tobat: Kembali ke Cahaya Allah, terj. Irfan Maulana Hakim,

(43)

Tawbat dari tidak adanya musyahadah kehadirat Allah SWT dalam sekejap

mata.47

5. Syarat-syarat Tawbat Nas}u>h}a>

Mengenai syarat-syarat tawbat atau minta ampunan kehadirat Allah

SWT, yang mana dengan syarat-syarat tersebut tawbat seseorang akan menjadi

tawbat nas}u>h}a>, yakni tawbat yang diterima oleh Allah SWT, diantaranya

adalah:

Pertama: al-nadm ‘ala> ma> fi> al-salaf, yakni merasa menyesal dan

menyesali terhadap perkara yang tidak baik dan tidak dirid}ai oleh Allah SWT

yang telah lewat.48

Ungkapan sesal dan menyesali itu tidak hanya dengan permainan akal

dan tidak hanya dengan merasa menyesal, akan tetetapi betul-betul menjadi

beban didalam lubuk hati, yakni selalu terpikirkan, yang akhirnya menjadikan

orang tersebut semakin bersungguh-sungguh dengan penuh kesungguhan di

dalam menghadap kehadirat Allah SWT, dalam arti ia tidak merasakan sesuatu

apapun, bahkan tobatnya tidak dirasakan. Yang dirasakan hanya satu saja, yaitu

bagaimana tobatnya bisa diterima oleh Allah SWT.

Kedua: al-tarku fi> al-ha>l, yakni syarat tobat yang kedua adalah

meninggalkan ma’siyat atau perkara yang tidak baik dan tidak dirid}ai oleh

Allah SWT dengan spontanitas.49

(44)

Jika ada orang menyesal, mengakui apa yang dilakukan itu tidak benar,

dan lisannya beristighfar, tetapi masih melakukan perkara tersebut, maka orang

yang demikan ini bukan orang yang bertaubat, tetapi hanya membaca istighfar

saja.

Ketiga: al-‘azm ‘ala an la> ya‘uda ila mithli dhalika fi al-mustaqbal,

yakni syarat tawbat yang ketiga adalah hatinya mempunyai keinginan yang

kuat untuk tidak mengulangi lagi dosa yang pernah dilakukannya pada waktu

yang akan datang.50

Sedangkan Imam al-Ghazali berpendapat bahwa syarat-syarat tobat ada

empat, diantaranya adalah:

1. Meninggalkan dosa dengan sekuat hati dan niat, Tidak akan mengulangi

perbuatan-perbuatan dosa yang pernah dilakukan.51

2. Menghentikan atau meninggalkan perbuatan dosa yang pernah

dikerjakannya.52

3. Perbuatan dosa yang pernah dilakukannya harus setimpal atau seimbang

dengan dosa yang ditinggalkan sekarang.53

49Ibid,. 219.

50Ibid,. 220.

51Jika terdapat kemungkinan pada suatu saat akan mengerjakan kembali, maka belun dikatakan tobat.

Demikian juga tidak ada kepastian dalam niatnya, hatinya ragu untuk menghentikan perbuatan dosa, menghentikan dosa hanya sementara, maka belum dapat dikatakan tobat. (Lihat: Al-Ghazali, Terjemah Minhajul Abidin Petunjuk Ahli Ibadah, Terj. Abul Hiyadh, (Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995), 52.

52Dapat dipahami menjaga, bukan tobat, Contoh tidak benar jika dikatakan bahwa Nabi tobat dari

(45)

4. Meninggalkannya semata-mata untuk mengagungkan Allah SWT, bukan

karena yang lain.54

Itulah syarat-syarat tobat dan rukun-rukunya. Apabila keempat syarat

tersebut berhasil diamalkan sepenuhnya, maka itulah tawbat yang sejati dan

sesungguhnya. Dan itulah yang dilaksudkan al-Qur’an dengan tawbat nas}u>h}a>>>>>.55

B. Tafsir Sufistik

Sebagai dampak dari kemajuan ilmu dan peradaban Islam, muncullah

ilmu tasawuf. Pada perkembangan selanjutnya, terdapat aliran dalam tasawuf.

Aliran tersebut sangat mewarnai diskursus penafsirkan al-Qur’an, diantaranya

adalah penafsiran yang bercorak S{u>fi.56 Corak penafsiran ini diakibatkan oleh

kecenderungan mufassir yang menfokuskan penafsirannya pada masalah-masalah

sufistik.57

53Misalnya seorang kakek yang dulunya berzina dan penyamun. Karena sudah tua, ia tidak mampu

lagi melakukan perbuatan-perbuatan itu, meskipun ia masih ingin melakukannya. Merasa tidak mampu lagi melakukan , maka ia bertobat. Pintu masih terbuka baginya, karena pintu tobat tertutup setelah seseorang dalam keadaan sekarat. Jadi cara ia bertobat adalah meninggalkan dosa yang setimpal dengan dosa zina dan menyamun. Yakni dosa-dosa (yang meskipun dia sudah tua) namun masih mampu melakukannya. Misalnya dosa karena menggunjingkan orang lain, menuduh orang berbuat zina, mengadiu domba dan sebagainya. Maka dia harus meninggalkan dosa-dosa itu dengan hati bertobat dari berbuat zina dan menyamun. (Ibid, 53).

54Tidak ada maksud keduniaan, tidak takut kepada orang lain, juga bukan takut dipenjarakan. Jika

tawbat karena hanya takut dipenjara, berarti ia tobat kepada penjara, bukan terhadap Allah. Jadi, tawbat adalah semata-mata takut akan murka Allah. Bukan takut dipenjarakan atau bukan karena tidak mempunyai uang. Tetapi jika ia punya uang akan melakukannya lagi, dan sebagainya. (Ibid, 53.)

55Al-Ghazali, Terjemah Minhajul Abidin Petunjuk Ahli Ibadah, Terj. Abul Hiyadh, (Surabaya:

Mutiara Ilmu, 1995), 52-53.

56Rosihon Anwar, Ilmuu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, Cet. III, 2005), 165-166.

57Sauqiyah Musyafa’ah DKK, Studi al-Qur’an,(Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, Cet. II, 2012),

(46)

1. ✁✂inisi Tafsi>r S{u>fi

Al-Tafsi>r S{u>fi adalah apa yang sekarang kita kenal dengan

nomenklatur tafsir sufistik. Secara semantik leksikal, frase al-tafsi>r merupakan

bentuk verbal noun (mas}dar) dari fassara yang berarti “menerangkan sesuatu

atau menjelaskannya”. Sedangkan bentuk mas}dar-nya al-Tafsi>r, berarti

“keterangan atau penjelasan”. Sementara al-S{u>fi secara semantik masih

diperdebatkan asal usulnya. Ketika ia diberi ya’ nisbah, makna yang dihasilkan

adalah “bersifat sufistik”. Maka al-Tafsi>r al-S{u>fi secara sederhana adalah

bentuk tafsir yang ditulis dengan menggunakan analisis sufistik.58

Al-Farmawi cenderung menyamakan tafsir sufistik ini dengaan

al-Tafsi>r al-Isha>ri> tanpa secara tegas mengikuti al-Ahabi yang membagi tafsir

sufistik menjadi dua sub bagian: Pertama, al-Tafsi>r al-S{ufi al-Naz}ari> dan

Kedua, al-Tafsi>r al-S{u>fi al-Isha>ri>. Al-Farmawi mendefinisikan tafsir sufistik

sebagai bentuk tafsir yang didasarkan bukan pada makna lahir akan tetapi

makna tersembunyi yang dimunculkan tendensi tendensi pengalaman spiritual

para s}u>fi (sufistik) dan masih menjalin sinkronotas dengan makna lahir.59

Menurut al-Ahabi, tafsir sufistik selalu terbedakan kedalam dua genre

metodologis ketika harus menyelaraskan dengan sufisme yang juga terbelahi

menjadi dua genre metodologis yakni sufisme filosofis (al-tas}awwuf al-falsafi>)

58Muhammad Anis Masduqi, Metode Tafsir Sufistik ‘Abd al-Qa>dir al-Ji>la>ni>, (Yogyakarta: Lembaga

Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu al-Qur’an (STIQ) al-Nur, 2010), 74.

(47)

dan sufisme praktis (al-tas}awwuf al-‘amali>). De

Referensi

Dokumen terkait