• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Dirjen Perbendaharaan | KPPN TANJUNGBALAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peraturan Dirjen Perbendaharaan | KPPN TANJUNGBALAI"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN

NOMOR PER-03/PB/2005 TENTANG

PETUNJUK PENYALURAN DAN PENCAIRAN DANA SUBSIDI BAGI PANTI-PANTI SOSIAL

DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN,

Menirnbang; a. bahwa dalarn rangka pelaksanaan program pemberian subsidi kepada panti-panti sosial yang bersumber pada dana rupiah murni (DIPA) Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial R.I, maka perlu diatur lebih lanjut petunjuk teknis penyaluran dan pencairan dana subsidi bagi panti-panti sosial;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan tentang Petunjuk Penyaluran dan Pencairan Dana Subsidi bagi Panti-panti Sosial,

Mengingat: 1. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tarnbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

2. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Repubiik Indonesia Nomor 4355);

3. Keputusan Presiden R.I. Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman PefaKsanaan APBN (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4212) sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden R.I. Nomor 72 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 92, Tarnbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 418);

4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan;

5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 214/KMK,01/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan clan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara;

6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 606/PMK.06/2004 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2005;

7. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 02/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

MEMUTUSKAN:

(2)

BABI

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan ini yang dimaksud dengan:

1. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah Daftar Isian pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. '''

2. Program Subsidi adaiah program bantuan yang diberikan kepada panti sosial untuk meningkatkaa pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak terlantar, lanjut usia, penyandang cacat, tuna sosia!, korban napza dan segala jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial yang ditampung di dalam panti sosial. v

Pasal 2

(1) Program Subsidi Panti bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesejahteraan sosial bagi klien panti. -

(2) Program Subsidi tersebut pada ayat (1) diatas meiiputi;

a. Subsidi pokok berupa dana untuk tambahan biaya makan dan bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP).

b. Dana penunjang, yang terdiri dari :

1). Dana Sosialisasi program untuk provinsi dan kabupaten/kota. 2). Dana Sosialisasi program untuk pusat.

3). Dana pemantauan/pengendalian di provinsi dan kabupaten/kota. 4). Dana pengelolaan program, pemantauan/pengendalian di pusat dan penunjang lainnya yang diiaksanakan di pusat. '

BAB II

ALOKASI DAN PENYALURAN DANA

Pasai 3

(1) Aiokasi dana Program Subsidi Panti tertuang dalam DiPA Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial R.I. yang disahkan oleh Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan. Jumlah dana yang tercantum dalam DIPA merupakan jumiah pagu rnaksimal yang tidak dapat dilampaui.

(2) PT. Pos Indonesia (Persero) ditunjuk untuk melaksanakan penyampaian dan penyaluran Program Subsidi Panti untuk Subsidi Pokok dan Dana Penunjang (pasal 2 ayat 2 huruf.b angka 1 dan 3).

(3) Berdasarkan penunjukan tersebut pada ayat (2), PT. Pos Indonesia (Persero) bertanggungjawab untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban atas realisasi penyaluran tersebut kepada Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial untuk diteltti dan disyahkan.

(3)

BAB III

PENYEDIAAN DAN PENCAIRAN DANA PROGRAM SUBSIDI PANTI SOSIAL MELALUI PT. POS INDONESIA (PERSERO)

Pasal 4

(1) Penyediaan dana bagi penerima subsidi pokok dan dana penunjang (pasal 2 ayat 2 huruf b angka 1 dan 3), dilakukan secara langsung kepada penerima subsidi untuk subsidi pokok dan kepada Dinas Sosial provinsi dan kabupaten/kota untuk dana penunjang. Penyediaan dana dimaksud tidak dapat dikuasakan kepada fihak lain.

(2) Penyediaan dana pada ayat (1), dicairkan sekaiigus untuk memenuhl kebutuhan selama 1 (satu) tahun terhitung sejak 1 Juni 2005.

(3) Penentuan pencairan Subsidi Pokok dan Dana Penunjang (pasai 2 ayat 2 huruf b angka 1 dan 3), ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Sosial R.I. atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri, yang disampaikan kepada PT. Pos Indonesia (Persero) untuk diteruskan kepada seluruh jajaran terkait PT. Pos Indonesia (Persero).

Surat Keputusan tersebut antara lain mencantumkan : a. Nama instansi/ pant! penerima subsidi.

b. Nama Direktur/Kepala/Penanggung Jawab. c. Nama Kantor Pos bayar.

d. Jumlah besaran subsidi bagi masing-rnasing penerima subsidi.

(4) PT. Pos Indonesia (Persero) dapat membayarkan dana kepada penerima subsidi setelah menerima Surat Keputusan Menteri Sosial R.I. sebagaimana tersebut pada pasai 4 ayot (3). (5) Penyediaan dana kepada PT. Pos Indonesia (Persero) cq, Sentral Giro dan Layanan

Keuangan (SGLK) Jakarta dilakukan dengan mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM- LS) oleh Kuasa Pengguna Anggaran ke KPPN dengan dilampiri Rekapitulasi Alokasi Kebutuhan Dana. Atas dasar SPM-LS tersebut, KPPN menerbitkan SP2D ( Surat Perintah Pencairan Dana) dengan membebani rekening Kas Negara untuk DT. Pos Indonesia (Persero) cq. Sentral Giro dan Layanan Keuangan (SGLK) Jakarta.

(6) PT. Pos Indonesia (Persero) dalam hal ini Sentral Giro dan Layanan Keuangan (SGLK) Jakarta dalam wakfu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari terhitung mulai tanggal pencairan dana oleh Bank Operasional KPPN, harus mentransfer dana tersebut ke Kantor Pos Bayar.

(7) Bukti transfer berupa GIR 51a, agar disampaikan oleh PT. Pos Indonesia (Persero) kepada Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial dan KPPN, selanjutnya KPRK/Kantor Pos Bayar pada hari berikutnya wajib menginformasikan kepada penerima subsidi mengenai dana yang telah diterimanya.

(8) Kantor Pos Bayar melakukan pembayaran dalam masa pernbayaran dengan mentransfer dana tersebut ke rekening penerima subsidi di bank pemerintah/ kantor pos bayar setelah penerima subsidi melengkapi persyaratan yang telah ditentukan oleh Ditjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial..

(9) Kantor Pos Bayar dapat melakukan pembayaran setelah tenggang waktu 21 hari sejak SGLK menerima transfer dana dari Bank Operasional KPPN berdasarkan surat pemberitahuan dari SGLK.

(4)

(11) PT. Pos Indonesia (Persero) cq. Sentral Giro dan Layanan Keuangan (SGLK) Jakarta dalam jangka waktu seiambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah akhir masa pembayaran berkewajiban menyampaikan laporan rekapitulasi realisasi penyaluran dana per kabupaten/kota dan pr6vinsi kepada Ditjen Pelayanan dan Rehabiiitasi Sosial dan KPPN. (12) PT. Pos Indonesia (Persero) cq. Sentral Giro dan Layanan Keuangan (SGLK) Jakarta

menyetorkan ke rekening Kas Negara sisa dana yang tidak terserap oleh penerima bantuan selambat-lambatnya 21 hari kerja setelah akhir masa pembayaran dan berkewajiban menyampaikan bukti setoran tersebut ke KPPN dan Ditjen Pelayanan dan Rehabiiitasi Sosial. (13) Seianjutnya PT. Pos Indonesia (Persero) cq. Sentral Giro dan Layanan Keuangan (SGLK)

Jakarta dan Ditjen Pelayanan dan Rehabiiitasi Sosiai membuat Surat Pernyataan Bersama bahwa dana bantuan telah disalurkan kepada penerima subsidi. Surat Pernyataan Bersama ini disampaikan kepada KPPN.

BAB IV LAIN-LAIN

Pasal 5

(1) Dana yang tidak dicairkan pada KPPN setelah batas akhir tahun anggaran dinyatakan hangus.

(2) Kepala Kantor Wilayah XI Direktorat Jenderal Perbendaharaan Jakarta diminta mengawasi dan mengkoordinasikan proses penyaluran dana sehingga berjalan lancar.

(3) Dengan berlakunya peraturan direktur jenderai ini, maka hal-hal yang diatur daiam Surat Edaran DJA tanggal 21 Januari 2003 Nomor SE-15/A/2003 yang bertentangan dengan peraturan direktur jenderai ini dinyatakan tidak beriaku.

Pasal 6

Peraturan Direktur Jenderai Perbendaharaan ini mulai beriaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memertntahkan pengumurnan Peraturan Direktur Jenderai Perbendaharaan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Menunjuk Pasal 5 Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER- (3) /PB/2011 tentang Tata Cara Pengelolaan Rekening Pengeluaran Bank Indonesia dalam Rangka Pencairan

(4) Dalam hal BO I menyatakan tidak mampu melaksanakan pemindahbukuan/transfer SP2D dengan lampiran lebih dari 100 (seratus) rekening penerima sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3

Pembukuan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kantor Bank Indonesia (KBI) dalam rangka pengelolaan rekening retur karena kesalahan rekening pada SP2D

Pengeluaran sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 981PMK.05/2007 tentang Pelaksanaan Rekening Pengeluaran Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN NOMOR PER- 32 IPB12010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN REKENING PENERIMAAN KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA BERSALDO NIHIL DALAM

Rekening Pengeluaran Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat, yang selanjutnya disebut RPK-BUN-P adalah rekening yang dibuka oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan selaku Kuasa BUN

Dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran, pendapatan, dan belanja diakui berdasarkan basis kas, yaitu pada saat kas diterima atau dikeluarkan oleh dan dari Kas Umum Negara

SP2D Tahap I sebesar 20 % dari nilai Surat Perjanjian Pendanaan (SP2), dapat diterbitkan apabita dana cost sharing daerah telah ditransfer ke rekening kolektif desa atau