KESENIAN JAIPONGAN: Sebuah Revolusi Dalam Seni Gerak Tahun 1970-2010.

45  12  Download (0)

Teks penuh

(1)

No. Daftar FPIPS: 1218/UN.40.2.3/PL/2012

KESENIAN JAIPONGAN:

SEBUAH REVOLUSI DALAM SENI GERAK

TAHUN 1970-2010

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Pada Jurusan Pendidikan Sejarah

Disusun oleh: Gressandy Putra

(0605767)

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

No. Daftar FPIPS: 1218/UN.40.2.3/PL/2012

KESENIAN JAIPONGAN:

SEBUAH REVOLUSI DALAM SENI GERAK

TAHUN 1970-2010

Oleh Gressandy Putra

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

© Gressandy Putra 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

No. Daftar FPIPS: 1218/UN.40.2.3/PL/2012

LEMBAR PENGESAHAN

KESENIAN JAIPONGAN

SEBUAH REVOLUSI DALAM SENI GERAK TAHUN 1970-2010

Oleh: Gressandy Putra

0605767

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH: Pembimbing I

Dra. Murdiyah Winarti, M.Hum NIP. 196005291987032002

Pembimbing II

Drs. Ayi Budi Santosa, M.Si NIP. 196303111989011001

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

(4)

No. Daftar FPIPS: 1218/UN.40.2.3/PL/2012

(5)

ABSTRAK

(6)

vii

Gressandy Putra, 2013

Kesenian Jaipongan

DAFTAR ISI

ABSTRAK……… i

KATA PENGANTAR………. ii

UCAPAN TERIMAKASIH……… iii

DAFTAR ISI……… vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah………... 1

1.2.Rumusan dan Batasan Masalah………...5

1.3.Tujuan Penelitian………... 5

1.4.Manfaat Penelitian………... 6

1.5.Struktur Organisasi Skripsi………... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Kesenian Tradisional dan Modern………... 9

2.2.Seni Pertunjukan………... 13

2.3.Seniman dan Kreativitas………... 18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1.Metode dan Teknik Penelitian………... 25

3.1.1. Metode Penelitian………... 25

3.1.2. Teknik Penelitian………... 20

3.2.Persiapan Penelitian………... 32

3.2.1. Penentuan dan Pengajuan Tema Penelitian…………... 32

3.2.2. Penyusunan Rancangan Penelitian………... 33

(7)

viii

Gressandy Putra, 2013

Kesenian Jaipongan

3.2.4. Proses Bimbingan/Konsultasi………... 34

3.3.Pelaksanaan Penelitian... 35

3.3.1. Heuristik atau Pengumpulan Sumber... 35

3.3.1.1. Sumber Tertulis... 35

3.3.1.2. Sumber Lisan (Wawancara)... 36

3.3.2. Kritik Sumber... 39

3.3.2.1. Kritik Eksternal... 40

3.3.2.2. Kritik Internal...42

3.3.3.Interpretasi (Penafsiran Fakta)...44

3.4.Penulisan Laporan Penelitian (Historiografi)... 45

BAB IV PERKEMBANGAN KESENIAN JAIPONGAN TAHUN 1970-2010 4.1.Perkembangan Awal Kesenian Jaipongan di Jawa Barat... 47

4.1.1. Kondisi Kesenian di Jawa Barat Menjelang Lahirnya Jaipongan... 47

4.1.2. Kreasi Awal Kesenian Jaipongan... 51

4.1.3. Konsep Gerak, Musik, dan Busana, Dalam Jaipongan... 58

4.1.3.1. Konsep Gerak (Koreografi)... 59

4.1.3.2. Musik Pengiring... 62

4.1.3.3. Busana... 66

4.1.4. Peranan Gugum Gumbira Dalam Penciptaan Jaipongan... 68

4.2.Peran Para Seniman Sunda Dalam Mengembangkan Dan Melestarikan Kesenian Jaipongan... 70

4.3.Tanggapan masyarakat terhadap Kesenian Jaipongan hingga akhirnya dapat diterima secara luas... 74

(8)

ix

Gressandy Putra, 2013

Kesenian Jaipongan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1.Kesimpulan………. 79

5.2.Rekomendasi……….. 80

(9)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki

keanekaragaman seni, budaya dan suku bangsa. Keberagaman ini menjadi aset

yang sangat penting dalam perkembangan pariwisata daerah. Berbagai macam

kesenian berkembang di Jawa Barat di antaranya, seni pertunjukan Wayang

Golek, Jaipongan, tarian Ketuk Tilu, seni bela diri Pencak Silat, dan lain-lain.

Kesenian-kesenian tradisional yang pada awalnya merupakan bagian dari sebuah

ritual atau upacara adat, telah banyak beralih fungsi menjadi seni pertunjukan

yang lebih mementingkan hiburan dan komersil tetapi tidak menghilangkan

unsur-unsur atau nilai-nilai tradisi yang ada sebelumnya. Salah satu contoh adalah

seni tari Jaipong atau Jaipongan. Kesenian ini merupakan perkembangan dari tari

tradisi Ketuk Tilu yang berkembang di daerah pantura Jawa Barat (Subang,

Karawang, Bekasi) yang pada awalnya tarian Ketuk Tilu merupakan bagian dari

upacara adat masyarakat setempat.

Berbicara Jaipongan tidak akan lepas dari sosok seorang Gugum Gumbira,

Ia adalah tokoh yang mengembangkan tarian rakyat atau tari tradisi Ketuk Tilu

menjadi sebuah tarian baru yang orisinil dengan tidak menghilangkan nilai-nilai

tradisi yang terkandung di dalamnya. Perhatiannya pada kesenian rakyat (tari

Ketuk Tilu, Kliningan dan Pencak Silat) menjadikannya mengetahui dan mengenal

betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada kesenian-kesenian

tersebut. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak

mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk

mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan

(http://id.wikipedia.org/wiki/Jaipongan). Dapat dikatakan bahwa Jaipongan

merupakan tarian kreasi baru yang tidak berpijak pada pola tradisi dan aturan

yang sudah baku.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang

(10)

2 pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room Dance, yang biasanya dalam

pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan

pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk

Tilu/Doger/Tayub). Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk

kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau acara komersil. Keberadaan ronggeng

dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum

pamogoran, misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat

Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni

pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana,

seperti waditra (alat musik) yang meliputi rebab, kendang (gendang), dua buah

kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tariannya

yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai

cerminan kerakyatan.

Pada awalnya kehadiran Jaipongan ini disebut Ketuk Tilu perkembangan,

karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu, kemudian tarian

itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan. Sebelum Jaipongan terbentuk,

Gugum Gumbira mulai merekonstruksi semua hal yang telah dilihatnya untuk

selanjutnya seluruh rekonstruksi itu menjadi sebuah karya. Beliau memiliki tujuan

yang jelas yaitu untuk mengangkat seni tradisi agar lestari dan digemari oleh

generasi muda dan hasil karyanya nanti bisa bermanfaat. Dalam proses

penggarapannya dimulai dengan membuat kerangka dasar dari struktur lagu yang

biasa terdapat pada lagu-lagu Ketuk Tilu. Ditemukan suatu bentuk pengulangan

terus menerus pada penyajian lagu tersebut. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak

menampilkan gerakan-gerakan yang kemudian terus berulang lagi sehingga

memberikan kesan monoton (Rusliana, 2008 : 67). Berdasarkan hal itu, dalam tari

Jaipongan tercipta suatu gerakan dan iringan musik yang lebih dinamis dengan

memasukkan unsur-unsur yang ada dalam Pencak Silat, Topeng Banjet serta

Kliningan Bajidoran.

Kehadiran Kesenian Jaipongan adalah sebuah fenomena menarik dan

penting dalam perkembangan khazanah tari Sunda dan itu tak hanya mendasar

(11)

3 kemudian tarian ini membuat fenomena tersendiri atas sambutan masyarakat

terhadapnya (Imran, Pikiran Rakyat 2 April 2006). Akhir tahun 1970-an sebagai

awal kemunculannya Jaipongan langsung menjadi trend yang fenomenal.

Masyarakat melihat Jaipongan sebagai seni tari yang menarik karena di dalam

Jaipongan tidak terdapat aturan-aturan yang mengikat seperti pada tarian Ketuk

Tilu yang dianggap sakral oleh sebagian masyarakat karena bagian dari sebuah

upacara ritual. Dengan melihat respon yang begitu besar dari masyarakat,

Jaipongan tidak hanya menjadi bagian dari tari pergaulan/tari rakyat tetapi

menjadi sebuah seni pertunjukan yang lebih mementingkan segi komersil dan

hiburan. Pada saat ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas

keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang

berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka

disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi

kesenian ke mancanegara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari

Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat

Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang golek, degung,

genjring/terbangan, kecapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun

pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong

(http://www.banjar-jabar.go.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1832).

Satu hal yang menjadi permasalahan saat itu, yakni ketika Jaipongan

mendadak tidak disukai oleh sejumlah pejabat Provinsi Jawa Barat pada masa

Pemerintahan Gubernur Aang Kunaefi (1975-1985) karena dianggap terlalu erotis.

Istilah 3G (Goyang, Geol, Gitek) ketika itu dianggap sebagai penyebab dari

erotisme dalam Jaipongan. Gerakan 3G yang menjadi ciri khas dari Jaipongan ini

menimbulkan pro dan kontra bukan karena tariannya akan tetapi karena Penarinya

yang menampilkan gerakan-gerakan erotis. Namun dengan adanya hal itu, justru

membuat orang semakin ingin mengetahui tentang Jaipongan. Masyarakat mulai

melihat akan kedinamisan karya tari kreasi baru ini dan mulai mencoba

mempelajarinya (Rusliana, 2008 : 70).

Sebagai hasil karya, tentunya kesenian tradisional memiliki daya tarik

(12)

4 mengalami tingkat kepopuleran yang signifikan (terlihat) bahkan tidak jarang pula

dikemudian hari bisa pudar dan musnah. Hingga tulisan ini dibuat, Jaipongan

termasuk dalam kategori salah satu kesenian rakyat yang masih tetap hidup di

Jawa Barat walaupun secara kuantitas keberadaannya terus mengalami penurunan.

Untuk itu perlu dikaji hal apa yang menghambat eksistensi dari kesenian

Jaipongan ini serta hal yang menyebabkan kesenian ini tetap eksis seiring dengan

perkembangannya.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana upaya pihak

terkait atau masyarakat setempat dalam mengembangkan dan melestarikan

nilai-nilai lokal dari kesenian tradisional yang dimilikinya hingga kesenian tersebut

tetap eksis dalam keadaan zaman yang terus berubah. Untuk memfokuskan suatu

kajian dalam rangka penelitian sejarah, dan untuk lebih memfokuskan suatu

penelitian maka harus dibatasi dalam angka tahun. Penelitian ini penulis fokuskan

pada tahun 1970-2010. Tidak ada alasan khusus mengenai pembatasan tahun

dalam kajian ini, namun untuk melihat dinamika perkembangan yang terjadi pada

kesenian tradisional Jaipongan ini dimana tahun 1970-1980 merupakan tahun

awal lahirnya kesenian Jaipongan. Penelitian ini penulis batasi hingga tahun 2010,

kesenian ini dianggap sebagai ikon seni pertunjukan tradisional khas Provinsi

Jawa Barat dan merupakan tahun dimana arus globalisasi membawa perubahan

dalam gerak ataupun melahirkan genre-genre baru dalam Jaipongan..

Satu hal bahwa dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah ini penulis juga

tidak hanya sebatas menggambarkan kurun waktu di atas, namun penulis juga

mengamati dan menganalisis serta menuliskan beberapa hal atau catatan penting

yang berkaitan dengan fenomena perkembangan kesenian Jaipongan di Jawa

Barat sejak lahir, perkembangannya, kemunduran serta bagaimana upaya

pelestarian pada masa sekarang ini. Dengan kata lain bahwa dalam ilmu sejarah

waktu demi waktu merupakan satu hal yang saling berkaitan dan menentukan

dalam suatu peristiwa fenomena seperti halnya dalam perkembangan kesenian

(13)

5 Berdasarkan alasan di atas tersebut, penulis tertarik untuk melakukan pengkajian lebih dalam, penulis mengambil judul “Perkembangan Kesenian Jaipongan di Jawa Barat tahun 1970-2010 (Suatu Tinjauan Historis)”

1.2. Rumusan dan Batasan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas, maka untuk memudahkan

dalam melakukan penelitian dan mengarahkan dalam pembahasan, maka penulis

mengidentifikasi beberapa permasalahan dalam bentuk pertanyaan penelitian yaitu “Bagaimana perkembangan kesenian Jaipongan di Jawa Barat pada tahun

1970-2010?”. Mengingat rumusan masalah tersebut begitu luas, maka untuk

memudahkan dalam melakukan penelitian dan mengarahkan dalam pembahasan,

maka penulis mengidentifikasi rumusan masalah tersebut kedalam bentuk

pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana awal perkembangan Kesenian Jaipongan di Jawa Barat?

2. Bagaimana peran para seniman sunda dalam mengembangkan dan

melestarikan Kesenian Jaipongan?

3. Bagaimana Kesenian Jaipongan akhirnya dapat diterima oleh masyarakat

khususnya masyarakat Jawa Barat?

4. Nilai-nilai tradisi apa saja yang masih melekat dalam kesenian Jaipongan?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan merupakan hal utama yang menyebabkan seseorang melakukan

tindakan. Begitupun dalam penulisan ini memiliki tujuan tertentu. Adapun tujuan

yang ingin dicapai dalam penulisan atau penelitian ini mencakup dua aspek yakni

tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum bermaksud untuk memperoleh

informasi dan pelajaran yang berharga dari peristiwa sejarah dimasa lampau agar

menjadi pijakan dalam melangkah di masa depan. Adapun tujuan khusus dari

penulisan ini adalah untuk mengetahui alasan mengapa tari Jaipongan yang

merupakan kesenian khas daerah Jawa Barat masih tetap eksis dan digemari oleh

masyarakat luas bahkan dikenal sampai ke luar negeri. Ada beberapa tujuan yang

(14)

6 1. Mendeskripsikan keresahan yang terjadi pada awal perkembangan kesenian

Jaipongan di Jawa Barat Tahun 1970-1980.

2. Kemudian menjelaskan peran para seniman tari sunda dalam

mengembangkan dan melestarikan Jaipongan.

3. Mendeskripsikan Kesenian Jaipongan akhirnya dapat digemari dan diterima

oleh masyarakat sebagai suatu hasil karya yang baru.

4. Menjelaskan Nilai-nilai tradisi apa saja yang masih ada dan melekat dalam

kesenian Jaipongan.

1.4. Manfaat Penelitian

Dari tujuan penelitian di atas diharapkan penelitian ini dapat memberikan

manfaat dan kontribusi dalam mengangkat kesenian Jaipongan sebagai kesenian

tradisional atau kesenian khas daerah Jawa Barat dilihat dari sisi sejarah serta

memberikan gambaran yang jelas bagaimana perjalanan seorang Gugum Gumbira

dalam mengolah dan melahirkan suatu karya dengan memanfaatkan bahan-bahan

yang telah ada, kemudian diramu menjadi sebuah karya baru yang original. Selain

itu dengan penelitian ini diharapkan pada akhirnya nanti dapat menambah

wawasan guna mendapat nilai tambah pengetahuan di bidang studi masalah

sejarah, seni dan budaya dalam upaya untuk melestarikan seni budaya tradisional

yang semakin lama semakin tersisih oleh pengaruh-pengaruh budaya luar.

Adapun manfaat lain yang ingin diperoleh peneliti dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Bagi seniman, penulisan skripsi ini dapat mengangkat eksistensinya sebagai

penggiat seni di Tatar Sunda, agar senantiasa melestarikan kesenian yang

memiliki nilai historis sehingga kesenian tradisional Sunda tidak lantas

luntur tergerus perkembangan zaman. Di samping itu, skripsi ini dapat

dijadikan sumber tertulis untuk mempermudah mereka yang akan

melakukan penelitian lebih lanjut.

2. Bagi sekolah, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan pengembangan

ekstrakurikuler bidang seni sebagai sarana dalam mengembangkan minat

(15)

7 1.5. Struktur Organisasi Skripsi

Agar penulisan skripsi ini tersusun secara sistematis, maka penulisan skripsi

ini disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, pada bab ini, penulis berusaha untuk memaparkan dan

menjelaskan mengenai latar belakang masalah yang menjadi alasan penulis untuk

melakukan penelitian dan penulisan skripsi, rumusan masalah yang menjadi

beberapa permasalahan untuk mendapatkan data-data temuan di lapangan,

pembatasan masalah guna memfokuskan kajian penelitian sesuai dengan

permasalahan utama, tujuan penelitian dari penelitian yang dilakukan, metode dan

tekhnik penelitian serta struktur organisasi dalam penyusunan skripsi.

Bab II Tinjauan Kepustakaan, disini akan dijabarkan mengenai daftar

literatur yang dipergunakan yang dapat mendukung dalam penulisan terhadap

permasalahan yang dikaji. Pada bagian bab kedua, berisi mengenai suatu

pengarahan dan penjelasan mengenai topik permasalahan yang penulis teliti

dengan mengacu pada suatu tinjauan pustaka melalui suatu metode studi

kepustakaan, sehingga penulis mengharapkan tinjauan pustaka ini bisa menjadi

bahan acuan dalam penelitian yang penulis lakukan serta dapat memperjelas isi

pembahasan yang kami uraikan berdasarkan data-data temuan di lapangan.

Bab III Metodologi Penelitian, dalam bab ini mengkaji tentang

langkah-langkah yang dipergunakan dalam penulisan berupa metode penulisan dan teknik

penelitian yang menjadi titik tolak penulis dalam mencari sumber serta data-data,

pengolahan data dan cara penulisan. Dalam bab ini juga, penulis berusaha

memaparkan metode yang digunakan untuk merampungkan rumusan penelitian,

metode penelitian ini harus mampu menjelaskan langkah-langkah serta

tahapan-tahapan apa saja yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan. Semua

prosedur serta tahapan-tahapan penelitian mulai dari persiapan hingga penelitian

berakhir harus diuraikan secara rinci dalam bab ini. Hal ini dilakukan untuk

memudahkan penulis dalam memberikan arahan dalam pemecahan masalah yang

akan dikaji.

Bab IV Jaipongan: Sebuah Revolusi Dalam Seni Gerak, pada bab ini, yaitu

(16)

8 data-data temuan di lapangan. Data-data temuan tersebut penulis paparkan secara

deskriptif untuk memperjelas maksud yang terkandung dalam data-data temuan

tersebut, khususnya baik bagi saya sebagai penulis dan umumnya bagi pembaca.

Penulis berusaha mencoba mengkritisi data-data temuan di lapangan dengan

membandingkannya kepada bahan atau sumber yang mendukung pada

permasalahan yang penulis teliti. Selain itu juga dalam bab ini dipaparkan pula

mengenai pandangan penulis terhadap permasalahan yang menjadi titik fokos

dalam penelitian yang penulis lakukan.

Bab V Kesimpulan, bab terakhir ini berisi suatu kesimpulan dari

pembahasan pada bab empat dan hasil analisis yang penulis lakukan merupakan

kesimpulan secara menyeluruh yang menggambarkan perkembangan Kesenian

Jaipongan Di Jawa Barat Tahun 1970-2010 berdasarkan rumusan masalah yang

(17)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas secara rinci mengenai langkah, prosedur atau

metodologi penelitian yang dipakai oleh peneliti untuk mengumpulkan fakta yang

berkaitan dengan judul skripsi “Kesenian Jaipongan: Sebuah Revolusi Dalam

Seni Gerak Tahun 1970-2010”. Penulis mencoba untuk memaparkan berbagai

langkah yang digunakan dalam mencari sumber-sumber, cara pengolahan sumber,

analisis dan cara penelitiannya.

Pada bagian pertama penulis akan menjelasakan metode dan teknik

penelitian secara teoritis sebagai landasan dalam pelaksanaan penelitian yang

penulis lakukan. Pada bagian kedua akan dijelaskan mengenai tahapan-tahapan

persiapan dalam pembuatan skripsi, yaitu penentuan dan pengajuan tema,

penyusunan rancangan penelitian, mengurus perizinan, menyiapkan perlengkapan

penelitian, dan proses bimbingan. Bagian ketiga berisi tentang pelaksanaan

penelitian yang dimulai dari pengumpulan data (heuristik) baik sumber tertulis

maupun sumber lisan, kritik sumber, dan interpretasi. Pada bagian terakhir akan

dipaparkan mengenai proses penulisan skripsi atau historiografi sebagai bentuk

laporan tertulis dari penelitian sejarah yang telah dilakukan. Berdasarkan uraian

tersebut, penulisan dan penyusunan skripsi ini dijabarkan menjadi tiga langkah

kerja penelitian sejarah. Ketiga langkah tersebut dibagi dalam tiga bagian, yaitu

persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, dan laporan hasil penelitian.

3.1.Metode dan Teknik Penelitian 3.1.1. Metode Penelitian

Metode sendiri berarti suatu cara, prosedur, atau teknik untuk mencapai atau

menggarap sesuatu secara efektif dan efisien. Metode merupakan salah satu ciri

kerja ilmiah. Berbeda dengan metodologi yang lebih mengarah kepada kerangka

referensi, maka metode lebih bersifat praktis, ialah memberikan petunjuk

mengenai cara, prosedur, dan teknik pelaksanaan secara sistematik. Metodologi

(18)

menggunakan pendekatan multidisipliner. Metode historis adalah suatu proses

menguji, menjelaskan, dan menganalisis (Gosttchlak, 1985 : 32). Pernyataan

tersebut sama dengan pendapat Garragan bahwa metode sejarah merupakan

seperangkat aturan yang sistematis dalam mengumpulkan sumber sejarah secara

efektif, melakukan penilaian secara kritis dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil

yang dicapai dalam bentuk tulisan (Abdurahman, 1999: 43). Di samping itu

metode sejarah yakni suatu proses pengkajian, penjelasan, dan penganalisaan

secara kritis terhadap rekaman serta peninggalan masa lampau (Sjamsuddin, 2007:

17-19).

Menurut Kuntowijoyo (2003: xix), metode sejarah merupakan petunjuk

khusus tentang bahan, kritik, interpretasi, dan penyajian sejarah. Menurut Sukardi

(2003: 203) penelitian sejarah adalah salah satu penelitian mengenai pengumpulan

dan evaluasi data secara sistematik, berkaitan dengan kejadian masa lalu untuk

menguji hipotesis yang berhubungan dengan faktor-faktor penyebab, pengaruh

atau perkembangan kejadian yang mungkin membantu dengan memberikan

informasi pada kejadian sekarang dan mengantisipasi kejadian yang akan datang.

Abdurrahman (1999: 43) metode sejarah dalam pengertian yang umum adalah

penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya

dari perspektif historis. Secara lebih singkat Richard F. Clarke mengartikan

metode sejarah sebagai sistem prosedur yang benar untuk mencapai kebenaran

sejarah. Beberapa ciri khas metode sejarah adalah:

1. Metode sejarah lebih banyak menggantungkan diri pada data yang diamati

orang lain di masa-masa lampau.

2. Data yang digunakan lebih banyak bergantung pada data primer

dibandingkan dengan data sekunder. Bobot data harus dikritik, baik secara

internal maupun eksternal.

3. Metode sejarah mencari data secara lebih tuntas serta menggali informasi

yang lebih tua yang tidak diterbitkan ataupun yang tidak dikutip dalam

bahan acuan yang standar.

4. Sumber data harus dinyatakan secara difinitif, baik nama pengarang, tempat,

(19)

harus dibenarkan oleh sekurang-kurangnya dua saksi yang tidak pernah

berhubungan (Nazir, 2003: 48-49).

Kesimpulan yang dapat diambil penulis dari beberapa pengertian tersebut

adalah bahwa metode sejarah merupakan proses penelitian terhadap

sumber-sumber masa lampau yang dilakukan secara kritis-analitis dan sistematis dengan

akhir kontruksi imajinasi yang disajikan secara tertulis.

Dari beberapa pengertian tersebut, penulis beranggapan bahwa metode

sejarah digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa data-data yang digunakan

berasal dari masa lampau sehingga perlu di analisis terhadap tingkat kebenarannya

agar kondisi pada masa lampau dapat digambarkan dengan baik. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa dalam penelitian sejarah, metode historis merupakan suatu

metode yang digunakan untuk mengkaji suatu peristiwa atau permasalahan pada

masa lampau secara deskriptif dan analitis. Oleh karena itu, penulis menggunakan

metode ini karena data dan fakta yang dibutuhkan sebagai sumber penelitian

skripsi ini berasal dari masa lampau. Dengan demikian, metode sejarah

merupakan metode yang paling cocok dengan penelitian ini karena data-data yang

dibutuhkan berasal dari masa lampau khususnya mengenai fenomena sejarah yang

terjadi pada perkembangan Kesenian Jaipongan di Jawa Barat mulai dari lahir

serta perkembangannya pada tahun 1970-2010.

Wood Gray (Sjamsuddin, 2007: 89) mengemukakan ada enam langkah

dalam metode historis, yaitu :

1. Memilih suatu topik yang sesuai.

2. Mengusut semua evidensi (bukti) yang relevan dengan topik.

3. Membuat catatan tentang apa saja yang di anggap penting dan relevan

dengan topik yang ditemukan ketika penelitian sedang berlangsung.

4. Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan (kritik

sumber).

5. Menyusun hasil-hasil penelitian (catatan fakta-fakta) ke dalam suatu pola

yang benar dan berarti yaitu sistematika tertentu yang telah disiapkan

(20)

6. Menyajikan dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian dan

mengkomunikasikannya kepada para pembaca sehingga dapat dimengerti

sejelas mungkin.

Pendapat lain dikemukakan oleh Kuntowijoyo (1995: 1) bahwa dalam

melaksanakan penelitian sejarah terdapat lima tahapan yang harus ditempuh,

yaitu:

1. Pemilihan topik

2. Pengumpulan sumber

3. Verifikasi (kritik sejarah atau keabsahan sumber)

4. Interpretasi: analisis dan sintesis

5. Penulisan

Sementara itu, metode sejarah menurut Ernst Bernsheim yang terdapat

dalam buku Ismaun (2005 : 32) mengungkapkan bahwa ada beberapa langkah

yang dilakukan dalam mengembangkan metode historis. Langkah yang harus

ditempuh dalam melakukan penelitian historis tersebut yakni :

1. Heuristiek, yakni mencari, menemukan, dan mengumpulkan sumber-sumber

sejarah. Heuristik merupakan salah satu tahap awal dalam penulisan sejarah

seperti mencari, menemukan dan mengumpulkan fakta-fakta atau

sumber-sumber yang berhubungan dengan perkembangan kesenian Jaipongan di

Jawa Barat tahun 1970-2010. Dalam tahap ini penulis memperoleh data-data

yang berhubungan dengan permasalahan penulisan baik berupa sumber

tertulis maupun sumber lisan di antaranya Bapak Gugum Gumbira selaku

pencipta Kesenian Jaipongan, Bapak Edi Mulyana dan Bapak Lalan Ramlan

selaku orang yang bergiat dalam seni tari, Ibu Itje Trisnawati selaku penari

dan murid langsung Bapak Gugum Gumbira.

2. Kritiek, yakni menganalisis secara kritis sumber-sumber sejarah. Tujuan

yang hendak dicapai dalam tahap ini adalah untuk dapat menilai

sumber-sumber yang relevan dengan masalah yang dikaji dan membandingkan

data-data yang diperoleh dari sumber-sumber primer maupun sekunder dan

disesuaikan dengan tema atau judul penulisan skripsi ini. Penilaian terhadap

(21)

ekstern. Kritik yang penulis lakukan lebih cenderung melakukan kritik

terhadap beberapa sumber tertulis di antaranya: Buku karya Endang

Caturwati yang berjudul Seni dalam Dilema Industri. Sekilas Tentang

Pertunjukan Tari Sunda, Skripsi karya Edi Mulyana yang berjudul Proses

Kreatif Gugum Gumbira dalam Penciptaan Kesenian Jaipongan, Buku karya

Tati Narawati dan Soedarsosno Tari Sunda. Dulu, Kini, dan Esok, serta

sebuah Tesis karya Sumantri yang berjudul Asal-usul dan perkembangan

Jaipongan dewasa ini di Jawa Barat.

3. Aumassung, yakni Penanggapan terhadap fakta-fakta sejarah yang dipunguti

dari dalam sumber sejarah. Fakta sejarah yang ditemukan tersebut kemudian

dihubungkan dengan konsep yang berhubungan dengan permasalahan yang

dikaji yaitu mengenai perkembangan kesenian Jaipongan di Jawa Barat.

4. Dahrstellung, yakni penyajian cerita yang memberikan gambaran sejarah

yang terjadi pada masa lampau yang penulis wujudkan dalam bentuk Skripsi

dengan judul “Perkembangan Kesenian Jaipongan Di Jawa Barat Tahun 1970-2010 (Suatu Tinjauan Historis)”.

Agar metode sejarah memiliki makna yang utuh dan komprehensif, maka

dalam melaksanakan penelitian sejarah seyogyanya memperhatikan hal-hal

berikut:

1. Dalam historiografi diperlukan pendekatan fenomenologis yang didasarkan

atas pengalaman dan pemahaman pelaku sendiri.

2. Pengungkapan yang bersifat reflektif, sehingga dimungkinkankan tetap

adanya kesadaran akan subjektivitas diri sendiri, seperti kepentingan,

perhatian, logika, metode, serta latarbelakang historisnya.

3. Bersifat komprehensif, sehingga memiliki relevansi terhadap realitas sosial

dari pelbagai tingkat dan ruang lingkup.

4. Perlu pula memiliki relevansi terhadap kehidupan praktis (Kartodirdjo,

1992: 236).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, pada dasarnya terdapat suatu

(22)

langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ini adalah mengumpulkan sumber,

menganalisis dan menyajikannya dalam bentuk karya tulis ilmiah.

Untuk mempertajam analisis dalam penulisan maka penulis menggunakan

pendekatan interdisipliner. Arti dari pendekatan interdisipliner disini adalah suatu

pendekatan yang meminjam konsep pada ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi

dan antropologi. Konsep-konsep yang dipinjam dari ilmu sosiologi seperti status

sosial, peranan sosial, perubahan sosial, mobilitas sosial dan lainnya. Sedangkan

konsep-konsep dari ilmu antropologi dipergunakan dalam mengkaji mengenai

budaya pada masyarakat Jawa Barat untuk mengetahui sejauh mana nilai-nilai

budaya yang berkembang dalam masyarakat tersebut. Penggunaan berbagai

konsep disiplin ilmu sosial lain ini memungkinkan suatu masalah dapat dilihat

dari berbagai dimensi sehingga pemahaman tentang masalah yang akan dibahas

baik keluasan maupun kedalamannya semakin jelas (Sjamsuddin, 2007: 201).

3.1.2. Teknik Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan teknik studi

kepustakaan, wawancara dan dokumentasi. Studi kepustakaan ini dilakukan

dengan membaca dan mengkaji buku-buku serta artikel yang dapat membantu

penulis dalam memecahkan permasalahan yang dikaji yaitu mengenai kesenian

Jaipongan. Berkaitan dengan ini, dilakukan kegiatan kunjungan pada

perpustakaan-perpustakaan di Bandung yang mendukung dalam penulisan ini.

Setelah berbagai literatur terkumpul dan cukup relevan sebagai acuan penulisan

maka penulis mulai mempelajari, mengkaji dan mengidentifikasikan serta

memilih sumber yang relevan dan dapat dipergunakan dalam penulisan.

Teknik berikutnya yang dilakukan penulis dalam penelitian skripsi ini

adalah teknik wawancara. Teknik ini merupakan teknik yang paling penting

dalam penyusun skripsi ini, karena sebagian besar sumber diperoleh melalui

wawancara. Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh sumber lisan terutama

sejarah lisan, yang dilakukan dengan cara berkomunikasi dan berdiskusi dengan

beberapa tokoh yang terlibat atau mengetahui secara langsung maupun tidak

(23)

Wawancara yang dilakukan adalah teknik wawancara gabungan yaitu

perpaduan antara wawancara terstruktur dengan wawancara tidak terstruktur.

Wawancara terstruktur atau berencana adalah wawancara yang terdiri dari suatu

daftar pertanyaan yang telah direncanakan dan disusun sebelumnya. Semua

responden yang diwawancarai diberi pertanyaan yang sama dengan kata-kata dan

tata urutan yang seragam. Sedangkan wawancara yang tidak terstruktur adalah

wawancara yang tidak mempunyai persiapan sebelumnya dari suatu daftar

pertanyaan dengan susunan kata-kata dan tata urut yang harus dipatuhi peneliti.

Wawancara ini dilakukan oleh penulis kepada orang-orang yang langsung

berhubungan dengan peristiwa atau objek penelitian, pelaku atau saksi dalam

suatu peristiwa kesejarahan yang akan diteliti dalam hal ini yaitu mengenai

kesenian Jaipongan. Penggunaan wawancara sebagai teknik untuk memperoleh

data berdasarkan pertimbangan bahwa periode yang menjadi bahan kajian dalam

penulisan ini masih memungkinkan didapatkannya sumber lisan mengenai

kesenian Jaipongan. Selain itu, narasumber (pelaku dan saksi) mengalami, melihat

dan merasakan sendiri peristiwa di masa lampau yang menjadi objek kajian

sehingga sumber yang diperoleh akan menjadi objektif. Teknik wawancara yang

digunakan erat kaitannya dengan sejarah lisan (oral history). Sejarah lisan (oral

history), yaitu ingatan tangan pertama yang dituturkan secara lisan oleh

orang-orang yang di wawancara sejarawan (Sjamsuddin, 1996 : 78).

Kebaikan dari penggabungan antara wawancara terstruktur dan tidak

terstruktur adalah agar tujuan wawancara lebih terfokus. Selain itu agar data yang

diperoleh lebih mudah di olah dan yang terakhir narasumber lebih bebas

mengungkapkan apa saja yang dia ketahui.

Dalam teknis wawancara penulis mencoba mengkolaborasikan antara kedua

teknik tersebut, yaitu dengan wawancara terstruktur penulis membuat susunan

pertanyaan yang sudah dibuat, kemudian diikuti dengan wawancara yang tidak

terstruktur yaitu penulis memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan

pertanyaan sebelumnya dengan tujuan untuk mencari jawaban dari setiap

pertanyaan yang berkembang kepada tokoh atau pelaku sejarah. Selain kedua

(24)

mengumpulkan data baik berupa data angka maupun gambar. Dalam hal ini

dilakukan pengkajian terhadap arsip-arsip yang telah ditemukan berupa data

tersebut.

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis mencoba memaparkan beberapa

langkah yang digunakan dalam melakukan penelitian sehingga dapat menjadi

karya tulis ilmiah yang sesuai dengan tuntutan keilmuan. Langkah-langkah yang

dilakukan terbagi menjadi tiga tahapan yaitu persiapan penelitian, pelaksanaan

penelitian, dan laporan penelitian.

3.2.Persiapan Penelitian

3.2.1. Penentuan dan Pengajuan Tema Penelitian

Tahap ini merupakan tahap yang paling awal untuk memulai suatu jalannya

penelitian. Pada tahap ini penulis melakukan proses memilih dan menentukan

topik yang akan dikaji kemudian penulis melakukan upaya-upaya pencarian

sumber atau melaksanakan pra penelitian mengenai masalah yang akan dikaji baik

melalui observasi ke lapangan atau dengan mencari dan membaca berbagai

sumber literatur yang berhubungan dengan tema yang penulis kaji.

Judul yang penulis tetapkan berdasarkan ketertarikan penulis terhadap

perkembangan kesenian Jaipongan sebagai salah satu kesenian yang sangat

populer di Jawa Barat. Topik ini didapatkan oleh penulis ketika melakukan

diskusi dengan beberapa orang teman mengenai kesenian Sunda yang pernah

populer dimasa lalu. Pengetahuan tentang kesenian Jaipongan ini baru penulis

dapatkan setelah membaca buku-buku mengenai kesenian Sunda masa silam, di

antaranya dalam buku Tari Sunda Dulu, Kini dan Esok karya Tati Narwati dan

R.M Soedarsono. Minimnya pengetahuan mengenai seni tari Sunda tentu tidak

hanya dirasakan oleh penulis saja. Kondisi seperti ini membuat penulis menjadi

termotivasi untuk melakukan penelitian mengenai kesenian Sunda (khususnya

seni tari). Setelah penulis memiliki minat dengan seni tari Sunda, kemudian

penulis kembali meminta seorang teman untuk diajak berdiskusi. Seorang teman

yang memiliki pengetahuan dan kepedulian yang besar terhadap kehidupan seni

(25)

kemudian meminta saran sebaiknya bagian mana dari seni tari Sunda yang

menarik untuk dibahas, dan akhirnya setelah diskusi yang panjang penulis

menemukan sebuah topik yang mungkin akan menarik untuk dibahas, yaitu

mengenai Jaipongan yang berkembang di Jawa Barat sekitar akhir tahun 80an.

Selanjutnya penulis mengajukan judul “Kesenian Jaipongan: Sebuah Revolusi

Dalam Seni Gerak Tahun 1970-2010” kepada Drs. Ayi Budi Santosa M.Si.

selaku wakil ketua TPPS (Tim Pertimbangan dan Penulisan Skripsi) Jurusan

Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas

Pendidikan Indonesia sebagai judul skripsi yang diseminarkan pada tanggal 15

Agustus 2010. Seminar ini dilakukan sebagai salah satu prosedur awal yang harus

dilakukan penulis sebelum melakukan penelitian.

Setelah rancangan penelitian diseminarkan dan disetujui, maka pengesahan

penelitian ditetapkan dengan surat keputusan bersama oleh TPPS dan ketua

Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI dengan No 066/TPPS/JPS/2010 tertanggal

03 September 2010 sekaligus menentukan pembimbing I yaitu Ibu Dra. Murdiyah

Winarti, M.Hum. dan pembimbing II yaitu Bapak Drs. Ayi Budi Santosa, Msi.

3.2.2. Penyusunan Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan

oleh penulis. Rancangan penelitian ini kemudian dijabarkan dalam bentuk

proposal penelitian skripsi yang diajukan kembali kepada Tim Pertimbangan

Penulisan Skripsi (TPPS) untuk dipresentasikan dalam seminar pada tanggal 13

Agustus 2010. Adapun proposal penelitian tersebut pada dasarnya berisi tentang :

1. Judul Penelitian

2. Latar Belakang Masalah

3. Rumusan Masalah

4. Tujuan Penulisan

5. Tinjauan Kepustakaan

6. Metode dan Teknik Penelitian

(26)

3.2.3. Menyiapkan Perlengkapan dan Izin Penelitian

Perlengkapan yang harus disiapkan oleh penulis dalam melakukan

penelitian adalah segala fasilitas penunjang untuk kelancaran penelitian skripsi.

Untuk mendapatkan hasil yang baik, harus direncanakan rancangan penelitian

yang dapat berguna bagi kelancaran penelitian dengan perlengkapan penelitian.

Adapun perlengkapan penelitian ini antara lain:

1. Surat izin penelitian dari Pembantu Rektor I UPI Bandung,

2. Instrumen wawancara,

3. Kamera Foto, dan

4. Alat tulis.

Perlengkapan penelitian berikutnya yang sangat penting adalah surat

keputusan izin penelitian dari pihak Rektor UPI Bandung, jadwal kerja penelitian,

dana penelitian dan penunjang penelitian lainnya.

Surat keputusan izin penelitian dari pihak Rektor UPI Bandung digunakan

penulis sebagai surat pengantar yang bertujuan dan berfungsi mengantarkan atau

menjelaskan kepada suatu instansi/perorangan bahwasannya penulis sedang

melaksanakan suatu penelitian dengan harapan agar instansi/perorangan tersebut

dapat memberikan informasi data dan fakta yang penulis butuhkan selama proses

penelitian.

3.2.4. Proses Bimbingan/Konsultasi

Dalam melakukan penelitian ini penulis dibimbing oleh dua orang dosen

yang kemudian disebut dengan Dosen Pembimbing I dan II. Pada tahapan ini

mulai dilakukan proses bimbingan atau konsultasi dengan Dosen Pembimbing I

dan II. Proses bimbingan diperlukan agar penelitian yang berlangsung berjalan

dengan baik dan tidak mengalami hambatan yang berarti. Dalam proses

bimbingan ini selain menentukan teknis dari bimbingan itu sendiri, penulis juga

menerima masukan dan arahan terhadap proses penulisan skripsi ini, baik teknis

(27)

3.3.Pelaksanaan Penelitian

Tahapan ini merupakan sebuah proses yang sangat penting dalam suatu

penelitian. Melalui tahapan ini penulis memperoleh data serta fakta yang

dibutuhkan untuk penyusunan skripsi. Beberapa langkah yang harus ditempuh

dalam tahapan ini adalah sebagai berikut :

3.3.1. Heuristik atau Pengumpulan Sumber

Langkah kerja sejarawan untuk mengumpulkan sumber-sumber (sources)

atau bukti-bukti (evidences) sejarah ini disebut heuristik. Heuristik yang dalam

bahasa Jerman disebut juga dengan Quellenkunde merupakan sebuah kegiatan

awal mencari sumber-sumber untuk mendapatkan data-data atau materi sejarah

atau evidensi sejarah (Sjamsuddin, 2007 : 86). Pada tahap ini penulis berusaha

mencari sumber-sumber yang relevan bagi permasalahan yang sedang dikaji.

Menurut Helius Sjamsuddin (1996 : 730) yang dimaksud dengan sumber sejarah

adalah segala sesuatu yang langsung atau tidak langsung menceritakan kepada

kita, tentang sesuatu kenyataan atau kegiatan di masa lalu. Sumber sejarah berupa

bahan-bahan sejarah yang memuat bukti-bukti aktifitas manusia dimasa lampau

yang berbentuk tulisan atau cerita. Sumber tertulis berupa buku dan artikel yang

berhubungan dengan permasalahan yang dikaji dan juga ditambah dengan sumber

lisan dengan menggunakan teknik wawancara kepada narasumber yang menjadi

pelaku dan juga mengetahui tentang “Kesenian Jaipongan: Sebuah Revolusi

Dalam Seni Gerak Tahun 1970-2010” Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan

dibawah ini:

3.3.1.1. Sumber Tertulis

Pada tahap ini penulis mencari sumber tertulis yang sangat relevan dengan

permasalahan penelitian baik berupa buku, artikel, majalah, koran, maupun karya

ilmiah lainnya. Studi literatur yang dilaukan yaitu dengan cara membaca dan

mengkaji sumber-sumber tertulis tersebut yang menunjang dalam penulisan

skripsi ini. Sumber tertulis tersebut diperoleh dari berbagai tempat seperti UPT

(28)

Edi Mulyana. Buku-buku yang berkenaan dengan seni dan seni tari, buku-buku

tersebut antara lain Art In Indonesia: Continuitas And Change karya Claire Holt

tahun 1967 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Prof. Dr. R. M. Soedarsono

pada tahun 2000 menjadi Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia,

Khazanah Seni Pertunjukan Jawa Barat karya Enoch Atmadibrata, buku karya

Edi S Ekadjati yang berjudul Khazanah Seni Pertunjukan Jawa Barat, dan buku

yang berjudul Kritik Seni karya Nooryan Bahari.

Berikutnya buku-buku yang berkenaan tentang tari dan Jaipongan di

antaranya buku yang berjudul Sosiologi Tari karya Sumandiyo Hadi, buku karya

Endang Caturwati yang berjudul Seni Dalam Dilema Industri. Sekilas Tentang

Perkembangan Pertunjukan Tari Sunda, buku yang berjudul Tari Sunda. Dulu,

Kini dan Esok karya Tati Narawati dan Soedarsono, dan Skripsi karya Edi

Mulyana yang berjudul Proses Kreatif Gugum Gumbira Dalam Penciptaan

Jaiponganan.

Selain sumber-sumber tertulis di atas, penulis juga melakukan penelusuran

sumber melalui browsing di internet untuk mendapatkan artikel-artikel maupun

jurnal yang berhubungan dengan masalah yang penulis kaji. Hal ini dilakukan

untuk mendapatkan tambahan informasi agar dapat mengisi kekurangan dari

sumber lainnya

3.3.1.2. Sumber Lisan (Wawancara)

Sumber lisan ini memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya sebagai

sumber sejarah yang lainnya. Dalam menggali sumber lisan dilakukan dengan

teknik wawancara, yaitu mengajukan beberapa pertanyaan yang relevan dengan

permasalahan yang dikaji kepada pihak-pihak sebagai pelaku dan saksi.

Dalam pengumpulan sumber lisan, dimulai dengan mencari narasumber

yang relevan agar dapat memberikan informasi yang sesuai dengan permasalahan

yang dikaji melalui teknik wawancara. Dalam hal ini penulis mencari para

narasumber (saksi dan pelaku) melalui pertimbangan-pertimbangan yang sesuai

(29)

perilaku (kejujuran dan sifat sombong) serta kelompok usia yaitu umur yang

cocok, tepat dan memadai (Kartawiriaputra, 1994: 41).

Sumber lisan ini penulis peroleh melalui proses wawancara. Orang yang

penulis wawancarai disebut narasumber. Dalam hal ini narasumber dapat

dikategorikan menjadi dua, yaitu pelaku dan saksi. Pelaku adalah mereka yang

benar-benar mengalami peristiwa atau kejadian yang menjadi bahan kajian seperti

para seniman Jaipongan atau budayawan yang merupakan pelaku sejarah yang

mengikuti perkembangan Jaipongan dari waktu ke waktu, sedangkan saksi adalah

mereka yang melihat dan mengetahui bagaimana peristiwa itu terjadi, misalnya

masyarakat sebagai pendukung dan penikmat seni serta pemerintah sebagai

lembaga terkait. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa narasumber yang di

wawancarai adalah mereka yang benar-benar melihat dan mengalami pada tahun

kejadian tersebut.

Teknik wawancara merupakan suatu cara untuk mendapatkan informasi

secara lisan dari narasumber sebagai pelengkap dari sumber tertulis

(Kuntowijoyo, 1995: 23). Berdasarkan uraian tersebut, tujuan wawancara adalah

mendapatkan informasi tambahan dari kekurangan atau kekosongan informasi

yang ada dari sumber tertulis. Oleh sebab itu, kedudukan sejarah lisan (oral

history) semakin menjadi penting. Dudung Abdulrrahman (1999: 57), menyatakan

bahwa wawancara dan interview merupakan teknik yang sangat penting untuk

mengumpulkan sumber-sumber lisan. Melalui wawancara sumber-sumber lisan

dapat diungkap dari para pelaku-pelaku sejarah. Bahkan peristiwa-peristiwa

sejarah yang belum jelas betul persoalannya sering dapat diperjelas justru

berdasarkan pengungkapan sumber-sumber sejarah lisan.

Menurut Koentjaraningrat (1994: 138-139) teknik wawancara dibagi

menjadi dua bagian, yaitu:

1. Wawancara terstruktur atau berencana yang terdiri dari suatu daftar

pertanyaan yang telah direncanakan dan disusun sebelumnya. Semua

responden yang diselidiki untuk diwawancara diajukan pertanyaan yang

(30)

2. Wawancara tidak terstruktur atau tidak terencana adalah wawancara yang

tidak mempunyai suatu persiapan sebelumnya dari suatu daftar pertanyaan

dengan susunan kata-kata dan atata urut yang harus dipatuhi peneliti.

Dalam melakukan wawancara di lapangan, penulis menggunakan kedua

teknis wawancara tersebut. Hal itu digunakan agar informasi yang penulis dapat

lebih lengkap dan mudah diolah. Selain itu, dengan penggabungan dua teknis

wawancara tersebut pewawancara menjadi tidak kaku dalam bertanya dan

narasumber menjadi lebih bebas dalam mengungkapkan berbagai informasi yang

disampaikannya.

Sebelum wawancara dilakukan, disiapkan daftar pertanyaan terlebih dahulu.

Daftar pertanyaan tersebut dijabarkan secara garis besar. Pada pelaksanaannya,

pertanyaan tersebut di atur dan diarahkan sehingga pembicaraan berjalan sesuai

dengan pokok permasalahan. Apabila informasi yang diberikan oleh narasumber

kurang jelas, maka peneliti mengajukan kembali pertanyaan yang masih terdapat

dalam kerangka pertanyaan besar. Pertanyaan-pertanyaan itu diberikan dengan

tujuan untuk membantu narasumber dalam mengingat kembali peristiwa sehingga

informasi menjadi lebih lengkap. Teknik wawancara ini berkaitan erat dengan

penggunaan sejarah lisan (oral history), seperti yang diungkapkan oleh

Kuntowijoyo (2003 : 26-28) yang mengemukakan bahwa:

Sejarah lisan sebagai metode dapat dipergunakan secara tunggal dan dapat

pula sebagai bahan dokumenter. Sebagai metode tunggal sejarah lisan tidak

kurang pentingnya jika dilakukan dengan cermat. Banyak sekali

permasalahan sejarah bahkan zaman modern ini yang tidak tertangkap

dalam dokumen-dokumen. Dokumen hanya menjadi saksi dari

kejadian-kejadian penting menurut kepentingan pembuat dokumen dan zamannya,

tetapi tidak melestarikan kejadian-kejadian individual dan yang unik yang

dialami oleh seseorang atau segolongan… selain sebagai metode, sejarah

(31)

Narasumber yang diwawancarai adalah mereka yang mengetahui keadaan

pada saat itu dan terlibat langsung maupun tidak langsung dengan peristiwa

sejarah yang terjadi, mereka berasal dari berbagai kalangan, baik seniman

Jaipongan maupun pengamat dan pemerhati seni di Jawa Barat dan pemerintah

setempat di antaranya Bapak Edi Mulyana, Bapak Gugum Gumbira, Bapak Lalan

Ramlan, Ibu Ria Dewi Fajaria, dan Ibu Itje Trisnawati.

Hasil wawancara dengan para narasumber kemudian disalin dalam bentuk

tulisan untuk memudahkan peneliti dalam proses pengkajian yang akan dibahas

pada bagian selanjutnya. Setelah semua sumber yang berkenaan dengan masalah

penelitian ini diperoleh dan dikumpulkan, kemudian dilakukan penelaahan serta

pengklasifikasian terhadap sumber-sumber informasi, sehingga benar-benar dapat

diperoleh sumber yang relevan dengan masalah penelitian yang dikaji.

Penggunaan teknik wawancara dalam memperoleh data dilakukan dengan

pertimbangan bahwa pelaku benar-benar mengalami sendiri peristiwa yang terjadi

di masa lampau, khususnya mengenai gambaran kehidupan sosial budaya

masyarakat Jawa Barat dan perkembangan grup kesenian Jaipongan tahun

1970-2010. Dengan demikian penggunaan teknik wawancara sangat diperlukan untuk

memperoleh informasi yang objektif mengenai peristiwa yang menjadi objek

kajian dalam penelitian ini.

3.3.2.Kritik Sumber

Langkah kedua setelah melakukan heuristik dalam penelitiannya, penulis

tidak lantas menerima begitu saja apa yang tercantum dan tertulis pada

sumber-sumber itu. Langkah selanjutnya adalah penulis harus melakukan penyaringan

secara kritis terhadap sumber yang diperoleh, terutama terhadap sumber-sumber

primer, agar terjaring fakta yang menjadi pilihannya. Langkah-langkah inilah

yang disebut kritik sumber, baik terhadap bahan materi (ekstern) sumber maupun

terhadap substansi (isi) sumber. Dalam tahap ini data-data yang telah diperoleh

berupa sumber tertulis maupun sumber lisan disaring dan dipilih untuk dinilai dan

(32)

Dalam bukunya Sjamsuddin (2007: 133) terdapat lima pertanyaan yang

harus digunakan untuk mendapatkan kejelasan keamanan sumber-sumber tersebut

yaitu :

1. Siapa yang mengatakan itu ?

2. Apakah dengan satu atau cara lain kesaksian itu telah di ubah?

3. Apakah sebenarnya yang dimaksud oleh orang itu dengan kesaksiannya?

4. Apakah orang yang memberikan kesaksian itu seorang saksi mata yang

kompeten, apakah ia mengetahui fakta?

5. Apakah saksi itu mengatakan yang sebenarnya dan memberikan kepada kita

fakta yang diketahui itu?

Kegiatan ini perlu dilakukan mengingat semua data yang diperoleh dari sumber

tertulis atau lisan tidak mempunyai tingkat kebenaran yang sama.

Fungsi kritik sumber erat kaitannya dengan tujuan sejarawan itu dalam

rangka mencari kebenaran, sejarawan dihadapkan dengan kebutuhan untuk

membedakan apa yang benar, apa yang tidak benar (palsu), apa yang mungkin dan

apa yang meragukan atau mustahil (Sjamsuddin, 2007: 131). Dengan kritik ini

maka akan memudahkan dalam penulisan karya ilmiah yang benar-benar objektif

tanpa rekayasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Adapun

kritik yang dilakukan oleh penulis dalam penulisan karya ilmiah ini adalah

sebagai berikut:

3.3.2.1. Kritik Eksternal

Kritik ekstern adalah cara pengujian sumber terhadap aspek-aspek luar dari

sumber sejarah secara terinci. Kritik eksternal merupakan suatu penelitian atas

asal usul dari sumber, suatu pemeriksaan atas catatan atau peninggalan itu sendiri

untuk mendapatkan semua informasi yang mungkin, dan untuk mengetahui

apakah pada suatu waktu sejak asal mulanya sumber itu telah diubah oleh

orang-orang tertentu atau tidak (Sjamsuddin, 2007: 104-105).

Kritik ekstern ingin menguji otentisitas (keaslian) suatu sumber, agar

diperoleh sumber yang sungguh-sungguh asli dan bukannya tiruan atau palsu.

(33)

dapat dipercaya pengetahuan kita mengenai suatu sumber, akan makin asli sumber

itu. Dalam hubungannya dengan historiografi otentisitas suatu sumber mengacu

kepada masalah sumber primer dan sumber sekunder. Maka konsep otentisitas

(keaslian) memiliki derajat tertentu, dan terdapat tiga kemungkinan otentisitas

(keaslian) suatu sumber, yakni sepenuhya asli, sebagian asli, dan tidak asli. Dalam

hubungan ini dapat diinterpretasikan bahwa sumber primer adalah sumber yang

sepenuhnya asli, sedang sumber sekunder memiliki derajat keaslian tertentu.

Kritik eksternal merupakan suatu penelitian atas asal-usul dari sumber,

suatu pemeriksaan atas catatan-catatan atau peninggalan itu sendiri untuk

mendapatkan semua informasi dan untuk mengetahui apakah pada suatu waktu

sejak asal mulanya sumber itu telah diubah oleh orang-orang tertentu atau tidak.

Sumber kritik eksternal harus menerangkan fakta dan kesaksian bahwa:

 Kesaksian itu benar-benar diberikan oleh orang itu atau pada waktu itu

authenticity atau otentisitas.

 Kesaksian yang telah diberikan itu telah bertahan tanpa ada perubahan, atau

penambahan dan penghilangan fakta-fakta yang substansial, karena memori

manusia dalam menjelaskan peristiwa sejarah terkadang berbeda setiap

individu, malah ada yang ditambah ceritanya atau dikurangi tergantung pada

sejauh mana narasumber mengingat peristiwa sejarah yang sedang dikaji.

Dalam penelitian ini penulis melakukan kritik eksternal baik terhadap

sumber tertulis maupun sumber lisan. Kritik eksternal terhadap sumber tertulis

dilakukan dengan cara memilih buku-buku yang ada kaitannya dengan

permasalahan yang dikaji. Kritik terhadap sumber-sumber buku tidak terlalu ketat

dengan pertimbangan bahwa buku yang penulis pakai merupakan

buku-buku hasil cetakan yang didalamnya memuat nama penulis, penerbit, tahun terbit,

dan tempat dimana buku tersebut diterbitkan. kriteria tersebut dapat di anggap

sebagai suatu jenis pertanggungjawaban atas buku yang telah diterbitkan.

Adapun kritik eksternal terhadap sumber lisan dilakukan dengan cara

mengidentifikasi narasumber apakah mengetahui, mengalami atau melihat

(34)

diperhatikan dari narasumber adalah mengenai usia, kesehatan baik mental

maupun fisik, maupun kejujuran narasumber.

3.3.2.2. Kritik Internal

Kritik internal dilakukan untuk menguji kredibilitas dan reabilitas

sumber-sumber sejarah. Penulis melakukan kritik internal dengan cara mengkomparasikan

dan melakukan cross check diantara sumber yang diperoleh.

Kritik internal merupakan suatu cara pengujian yang dilakukan terhadap

aspek dalam yang berupa isi dari sumber. Dalam tahapan ini penulis melakukan

kritik internal baik terhadap sumber-sumber tertulis maupun terhadap sumber

lisan. Kritik internal terhadap sumber-sumber tertulis yang telah diperoleh berupa

buku-buku referensi dilakukan dengan membandingkannya dengan sumber lain

namun terhadap sumber yang berupa arsip tidak dilakukan kritik dengan

angggapan bahwa telah ada lembaga yang berwenang untuk melakukannya.

Dengan kata lain bahwa kritik ekstern terhadap sumber tertulis bertujuan untuk

menguji keaslian dokumen, sedang kritik intern lebih menguji makna isi dokumen

atau sumber tertulis tersebut (Shafer, 1974: 117-119).

Kritik ini pada dasarnya menekankan kompetensi dan kebenaran informasi

yang dipaparkan narasumber kepada peneliti. Artinya, semakin mendekati kepada

kebenaran, semakin tinggi reliabilitas yang disampaikan oleh narasumber dengan

mempertimbangkan hal tersebut:

1. Apakah pembuat kesaksian atau narasumber “mampu” memberikan

kesaksian, yang meliputi hubungannya dengan peristiwa yang diteliti

(apakah ia ikut terlibat sebagai pelaku sejarah, apakah ia hanya sebagai

saksi sejarah yang hanya melihat peristiwa tersebut, ataukah hanya

mendengar dari orang lain). Dengan mengkaji pertanyan-pertanyaan

tersebut maka setiap narasumber akan bisa dibedakan mengenai derajat

kewenangan dan kedudukannya dalam peristiwa tersebut. Hal ini, akan

mengidentifikasikan sumber yang diperoleh oleh peneliti, tentunya akan

(35)

sejarah sebagai sumber primer dengan informasi yang diperoleh dari orang

biasa yang tidak terlibat dalam peristiwa tersebut.

2. Apakah pemberi informasi atau narasumber “mau” memberikan informasi

yang benar. Dalam tahapan ini, peneliti mulai mengkaji kadar subjektifitas

yang mungkin saja terjadi dalam informasi yang diberikan oleh narasumber.

Apakah ia jujur dalam menyampaikan informasi tersebut dengan mengkaji

apakah ada hal yang ditutup-tutupi atau melebih-lebihkan oleh narasumber

ketika menyampaikan informasinya.

Kritik internal bertujuan untuk mengetahui kelayakan sumber yang telah

diperoleh peneliti dari hasil wawancara dengan narasumber sebagai sumber

sejarah yang berhubungan peristiwa yang peneliti teliti. Sebagai langkah pertama

yang dilakukan oleh peneliti dalam melakukan kritik internal dalam sumber lisan

adalah dengan melihat kualitas informasi yang dipaparkan oleh narasumber,

konsistensi pemaparan dalam menyampaikan informasi tersebut, serta kejelasan

dan keutuhan informasi yang diberikan oleh narasumber. Karena semakin

konsisten informasi yang diberikan oleh narasumber akan semakin menentukan

kualitas sumber tersebut, serta tingkat reliabilitas dan kredibilitas juga dapat

dipertanggungjawabkan.

Kritik internal terhadap sumber lisan ini pada dasarnya dilakukan dengan

cara membandingkan hasil wawancara antara narasumber yang satu dan

narasumber lainnya sehingga penulis mendapatkan fakta dan informasi mengenai

perkembangan kesenian Jaipongan. Setelah penulis melakukan kaji banding

pendapat narasumber yang satu dan lainnya kemudian membandingkan pendapat

narasumber dengan sumber tertulis atau dengan menggunakan pendekatan

Triangulasi. Kaji banding ini bertujuan untuk memperoleh kebenaran fakta-fakta

yang didapat dari sumber tertulis maupun sumber lisan yang dibutuhkan dalam

(36)

3.3.3.Interpretasi (Penafsiran Fakta)

Tahap ketiga dalam penulisan karya ilmiah ini adalah interpretasi.

Interpretasi berarti menafsirkan atau memberi makna kepada fakta-fakta (facts)

atau bukti-bukti sejarah (evidences). Interpretasi diperlukan karena pada dasarnya

bukti-bukti sejarah (evidences) dan fakta-fakta sebagai saksi-saksi sejarah tidak

dapat berbicara sendiri mengenai apa yang disaksikannya dari realitas masa

lampau. Interpretasi merupakan proses pemberian penafsiran terhadap fakta yang

telah dikumpulkan. Pada tahap ini, fakta-fakta yang telah dikumpulkan dipilih

dan diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan yang dikaji sehingga dapat

menjawab permasalahan yang diajukan dalam Bab I. Pada tahapan interprestasi

berbagai data dan fakta yang lepas satu sama lain dirangkai dan dihubungkan

sehingga diperoleh satu kesatuan yang selaras, dimana peristiwa yang satu

dimasukan ke dalam keseluruhan konteks peristiwa atau kejadian yang lain yang

melingkupinya (Ismaun, 2005: 131).

Pada tahapan ini, peneliti mulai menyusun dan merangkai fakta-fakta

sejarah yang didasarkan pada sumber sejarah yang telah dikritik sebelumnya.

Dalam upaya rekonstruksi sejarah masa lampau pertama-tama interpretasi

memiliki makna memberikan kembali relasi antar fakta-fakta. Tahapan tersebut

ialah mencari dan membuktikan adanya relasi antara fakta yang satu dengan

lainnya, sehingga terbentuk satu rangkaian makna yang faktual dan logis tentang

bagaimana perkembangan kesenian Jaipongan yang terdapat di Jawa Barat pada

tahun 1970-2010. Cara yang dilakukan peneliti dengan cara membandingkan

berbagai sumber. Hal ini berguna untuk mengantisipasi penyimpangan informasi

yang berasal dari para pelaku sejarah. Dari hubungan antara berbagai sumber dan

fakta inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk membuat penafsiran

(Interpretasi). Makna yang kedua dari interpretasi ialah memberikan eksplanasi

terhadap fenomena sejarah. Interpretasi menjelaskan argumentasi-argumentasi

jawaban peneliti terhadap pertanyaan-pertanyaan kausal, mengapa dan bagaimana

peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala di masa lampau terjadi.

Proses interpretasi merupakan proses kerja yang melibatkan berbagai

(37)

bermuara pada sintesis. Oleh sebab itu interpretasi merupakan proses

analisis-sintesis. Keduanya merupakan kegiatan yang tak terpisahkan yang satu dari yang

lain dan keduanya saling menunjang. Karena analisis dan sintesis dipandang

sebagai metode-metode utama dalam interpretasi (Kuntowijoyo, 2003: 103-104).

Fakta tersebut kemudian disusun dan ditafsirkan, sehingga fakta-fakta tersebut

satu sama lain saling berhubungan dan menjadi suatu rangkai peristiwa sejarah

yang logis dan kronologis yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta

memberikan penjelasan terhadap permasalahan penelitian.

3.4.Penulisan Laporan Penelitian (Historiografi)

Tahap selanjutnya dari proses penelitian ini adalah penulisan laporan

penelitian. Tahap ini merupakan tahap akhir dalam penulisan karya ilmiah ini atau

disebut juga historiografi.

Historiografi merupakan langkah akhir dari keseluruhan prosedur penulisan

karya ilmiah sejarah, yang merupakan kegiatan intelektual dan cara utama dalam

memahami sejarah (Helius Sjamsuddin, 1996: 153). Tahap ini merupakan hasil

dari upaya penulis dalam mengerahkan kemampuan menganalisis dan mengkritisi

sumber yang diperoleh dan kemudian dihasilkan sintesis dari penelitiannya yang

terwujud dalam penulisan skripsi dengan judul “Kesenian Jaipongan: Sebuah

Revolusi Dalam Seni Gerak Tahun 1970-2010” Hasan Usman dalam

Abdurrahman (1999: 67-68) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa syarat

umum yang harus diperhatikan oleh seorang peneliti dalam melakukan pemaparan

sejarah, yaitu:

1. Peneliti harus memiliki kemampuan mengungkapkan bahasa secara baik,

agar data dapat dipaparkan seperti seperti apa adanya atau seperti yang

dipahami oleh peneliti dan dengan gaya bahasa yang khas.

2. Terpenuhinya kesatuan sejarah, yakni suatu penulisan sejarah itu disadari

sebagai bagian dari sejarah yang lebih umum, karena ia didahului oleh masa

dan diikuti oleh masa pula. Dengan perkataan lain, penulisan itu

(38)

3. Menjelaskan apa yang ditemukan oleh peneliti dengan menyajikan

bukti-buktinya dan membuat garis-garis umum yang akan diikuti secara jelas oleh

pemikiran pembaca.

4. Keseluruhan pemaparan sejarah haruslah argumentatif, artinya usaha

peneliti dalam mengerahkan ide-idenya dalam merekonstruksi masa lampau

itu didasarkan pada bukti-bukti terseleksi, bukti yang cukup lengkap dan

detail fakta yang akurat.

Pada tahap ini seluruh hasil penelitian yang berupa data-data dan fakta-fakta

yang telah mengalami proses heuristik, kritik dan interpretasi dituangkan oleh

penulis ke dalam bentuk tulisan. Dalam historiografi ini penulis mencoba untuk

mensintesakan dan menghubungkan keterkaitan antara fakta-fakta yang ada

sehingga menjadi suatu penulisan sejarah.

Laporan penelitian ini disusun dengan menggunakan gaya bahasa

sederhana, ilmiah dan menggunakan cara-cara penulisan sesuai dengan ejaan yang

disempurnakan sedangkan sistematika penulisan yang digunakan mengacu pada

buku pedoman penulisan karya ilmiah tahun 2007 yang dikeluarkan oleh UPI.

Adapun tujuan laporan hasil penelitian ini adalah selain untuk memenuhi

kebutuhan studi akademis tingkat sarjana pada Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS

UPI juga bertujuan untuk mengkombinasikan hasil temuan atau penelitian kepada

umum sehingga temuan yang diperoleh dari hasil penelitian tidak saja

memperkaya wawasan sendiri. Akan tetapi, hal itu dapat memberikan sumbangan

(39)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil temuan di lapangan mengenai Perkembangan Kesenian

Jaipongan di Jawa Barat tahun 1970-2010, maka terdapat empat hal yang ingin

penulis sampaikan, yaitu pertama, Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di

Indonesia yang memiliki keanekaragaman seni, budaya dan suku bangsa.

Keanekaragaman seni ini lah yang kemudian melahirkan Jaipongan karena

Jaipongan merupakan hasil dari modifikasi seni-seni tradisi yang sudah ada dan

berkembang sebelumnya seperti tari Ketuk Tilu, Kliningan, dan Pencak Silat.

Kelahiran kesenian Jaipongan tidak terlepas dari upaya seorang Gugum Gumbira

selaku creator atau pencipta tari Jaipongan untuk melestarikan seni budaya

tradisional yang ada di Jawa Barat.

Kedua, Jaiopongan sebagai salah satu kesenian tradisional yang

keberadaannya terbilang masih sangat muda, namun ternyata kesenian ini sangat

diminati masyarakat terutama pada awal-awal perkembangannya sekitar tahun

1980-an. Hal ini disebabkan karena perubahan fungsi yang terjadi dalam tari

Jaipongan yang semula tari Ketuk Tilu hanya berfungsi sebagai bagian dari

upacara adat sedangkan Jaipongan lebih mementingkan unsur hiburan dalam

bentuk penyajiaannya dan tidak terikat dengan budaya atau adat istiadat

masyarakat tertentu. Unsur inilah yang kemudian menjadikan Jaipongan lebih

disukai oleh masyarakat secara luas tidak hanya terbatas pada wilayah tertentu.

Kesenian Jaipongan yang berkembang di Jawa Barat pada dasarnya

menyesuaikan dengan perubahan pola pikir secara umum yang terjadi di

masyarakat yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Pola pikir masyarakat yang

tadinya sangat menghargai nilai-niali tradisi berubah menjadi masyarakat sekuler

yang hanya mementingkan hiburan semata. Namun demikian Gugum Gumbira

berusaha untuk tidak menghilangkan nilai-nilai tradisi yang terkandung dalam

Jaipongan. Nilai-nilai tradisi ini terlihat dari pakaian yang digunakan penari,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Outline : Kritik Internal

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di