• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur, makna, dan fungsi mantra Hindu Jawa.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Struktur, makna, dan fungsi mantra Hindu Jawa."

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

i ABSTRAK

Anabrang, Desmond W.S. 2015. “Struktur, Makna, dan Fungsi Mantra Hindu Jawa”. Skripsi Strata I (S1) Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Skripsi ini menyampaikan hasil penelitian dari rangkaian mantra kedalaman Hindu Jawa. Ada tiga masalah yang dijawab dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana struktur mantra-mantra Hindu Jawa? Kedua, apa makna mantra-mantra Hindu Jawa? Ketiga, apa fungsi mantra-mantra Hindu Jawa secara filosofis, religius, dan edukatif?

Jenis penelitian ini merupakan penelitian dasar. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan pemaparan hasil analisis data. Data diperoleh dari sumber tertulis yang didapatkan dari buku-buku yang ditulis oleh Ida Pedanda Djajakoesoema, dan sumber lisan dari anak Ida Pedanda Djajakoesoema yang bernama Agung Harjuno. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan teknik nonpartisipan atau teknik simak bebas libat cakap. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode agih, metode padan, dan dilanjutkan dengan padan pragmatis. Pemaparan hasil analisis data dilakukan dengan metode informal dan metode formal.

Dari hasil penelitian, penulis menemukan struktur mantra yang berupa kata Hong sebagai pembuka, bagian tubuh mantra yang merupakan puji-pujian, bagian akhir mantra yang merupakan permohonan, diksi mantra yang mengacu pada Bahasa Jawa dan Jawa Kuna, dan gaya bahasa mantra yang ditemukan pada salah satu mantra dalam bentuk majas metafora. Berdasarkan pencarian makna dengan mencari makna referensialnya, penulis menemukan bahwa secara garis besar, rangkaian mantra-mantra memiliki makna yang mengakui kebesaran Tuhan, dan mensyukuri manifestasi Tuhan. Berdasarkan pencarian fungsi filosofis, dipahami bahwa tribawana adalah salah satu filosofi dasar dari mantra-mantra Hindu Jawa. Berdasarkan fungsi religius, dipahami bahwa tujuan masyarakat Hindu Jawa adalah untuk mencapai moksa dan keseimbangan tribawana. Berdasarkan fungsi edukatif, dipahami bahwa secara umum rangkaian mantra-mantra berfungsi untuk mengajarkan sosok Tuhan sebagai sosok yang maha esa, dan menghargai seluruh

manifestasi Tuhan.

(2)

2

ABSTRACT

Anabrang, Desmond. 2015. “Structure, Meaning, and Function of Javanese Hindu Mantras”. Thesis for Undergraduate (S1) Indonesian Literature Studies Programme, Indonesian Literature Majors, Faculty of Literature, Sanata Dharma University.

This thesis is the result of research from a series of Hindu Javanese sacred mantras. Regarding to the Hindu Javanese mantras, this research examines three important points contained/within the mantras; the structure of various configurations found in the opening, body, and end of the mantras along with the dictation and the style of language used in the mantras, the meaning in regards to the intent of the mantras, and the function in regards to the philosophy, religion and educative aspects.

This kind of research is basic and was done in three stages; the gathering of data, the analysis of data, and the explanation of the results of the analysis of the data. This data was obtained with the method of research and non-participatory techniques, from written sources by the books of Ida Pedanda Djajakowsoema and from oral source from the son of Ida Pedanda Djajakoesoema, Agung Harjuno. The analysis of the data was done with the agih method,padanmethod, and finally with pragmaticpadan. The explanation of the result of the analysis of the data was done with both an informal as well as a formal method.

From the result of the research, the writer has found that the structure of the mantra uses the word Hong as an opening of each mantra. The body of the mantra is in the form of worship, and then end of the mantra is in the form of supplication. The diction of the mantra is based on the Javanese and the ancient Javanese language. The style of language in the mantra that is found in one of the mantras is in the form of metaphore. Based on the search for the meaning by looking for the referential meanings, the writer also found that the meaning of most of the mantras is an affirmation and surrender to God. Based on the search for the function, by exploring the philosophical function, it can be understood that Tribawana is one of the basic philosophical concepts of the Hindu Javanese mantras. Based on the religious function, it can be understood that the goal of the Hindu Javanese community is to achieve moksa and the balance of Tribawana. Based on the educational function, it can be understood that most of the mantras has a function to teach that God is great, and to appreciate God’s manifestation.

(3)

STRUKTUR, MAKNA, DAN FUNGSI MANTRA HINDU JAWA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar

Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Disusun Oleh

Desmond Wahyu Sekarbatu Anabrang 104114014

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

i

STRUKTUR, MAKNA, DAN FUNGSI MANTRA HINDU JAWA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar

Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Disusun Oleh

Desmond Wahyu Sekarbatu Anabrang 104114014

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat,

rahmat, dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Struktur, Makna, dan Fungsi Mantra Hindu Jawa”. Skripsi ini disusun

untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan berkat

dukungan, nasihat, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada

kesempatan ini penulis menyampaikan dan mengucapkan penghargaan sebagai

rasa terima kasih yang sebesar–besarnya kepada:

1. Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I yang

dengan sabar, teliti, dan selalu siap sedia membimbing serta mendampingi

penulis ketika mengalami kesulitan selama proses penyusunan skripsi ini.

Terima kasih juga atas semangat dan perhatian yang telah beliau berikan,

semoga akan menjadi motivasi bagi penulis untuk melangkah ke depan.

2. Dr. Yoseph Yapi Taum M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang

dengan penuh kesabaran dan perhatian, selalu siap sedia membimbing

serta memberi saran, masukan, dan pemikiran.

3. Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., selaku Kaprodi Sastra Indonesia dan penguji

yang dengan sabar serta perhatian dalam membantu proses penyusunan

karya ilmiah ini, dan segala masukan atau saran yang beliau sampaikan.

4. Seluruh dosen Program Studi Sastra Indonesia Drs. B. Rahmanto,

(10)
(11)

viii

MOTTO

“Tradition is a roadmap to the future”

(12)

Fliam-ix

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

Kakek tercinta yang perjuangannya

tidak akan pernah saya lupakan.

Kepada orang tuaku atas dorongan

(13)

x ABSTRAK

Anabrang, Desmond W.S. 2015. “Struktur, Makna, dan Fungsi Mantra Hindu Jawa”. Skripsi Strata I (S1) Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

Skripsi ini menyampaikan hasil penelitian dari rangkaian mantra kedalaman Hindu Jawa. Ada tiga masalah yang dijawab dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana struktur mantra-mantra Hindu Jawa? Kedua, apa makna mantra-mantra Hindu Jawa? Ketiga, apa fungsi mantra-mantra Hindu Jawa secara filosofis, religius, dan edukatif?

Jenis penelitian ini merupakan penelitian dasar. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan pemaparan hasil analisis data. Data diperoleh dari sumber tertulis yang didapatkan dari buku-buku yang ditulis oleh Ida Pedanda Djajakoesoema, dan sumber lisan dari anak Ida Pedanda Djajakoesoema yang bernama Agung Harjuno. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan teknik nonpartisipan atau teknik simak bebas libat cakap. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode agih, metode padan, dan dilanjutkan dengan padan pragmatis. Pemaparan hasil analisis data dilakukan dengan metode informal dan metode formal.

Dari hasil penelitian, penulis menemukan struktur mantra yang berupa kata Hong sebagai pembuka, bagian tubuh mantra yang merupakan puji-pujian, bagian akhir mantra yang merupakan permohonan, diksi mantra yang mengacu pada Bahasa Jawa dan Jawa Kuna, dan gaya bahasa mantra yang ditemukan pada salah satu mantra dalam bentuk majas metafora. Berdasarkan pencarian makna dengan mencari makna referensialnya, penulis menemukan bahwa secara garis besar, rangkaian mantra-mantra memiliki makna yang mengakui kebesaran Tuhan, dan mensyukuri manifestasi Tuhan. Berdasarkan pencarian fungsi filosofis, dipahami bahwa tribawana adalah salah satu filosofi dasar dari mantra-mantra Hindu Jawa. Berdasarkan fungsi religius, dipahami bahwa tujuan masyarakat Hindu Jawa adalah untuk mencapai moksa dan keseimbangan tribawana. Berdasarkan fungsi edukatif, dipahami bahwa secara umum rangkaian mantra-mantra berfungsi untuk mengajarkan sosok Tuhan sebagai sosok yang maha esa, dan menghargai seluruh manifestasi Tuhan.

(14)

xi

ABSTRACT

Anabrang, Desmond. 2015. “Structure, Meaning, and Function of Javanese Hindu Mantras”. Thesis for Undergraduate (S1) Indonesian Literature Studies Programme, Indonesian Literature Majors, Faculty of Literature, Sanata Dharma University.

This thesis is the result of research from a series of Hindu Javanese sacred mantras. Regarding to the Hindu Javanese mantras, this research examines three important points contained/within the mantras; the structure of various configurations found in the opening, body, and end of the mantras along with the dictation and the style of language used in the mantras, the meaning in regards to the intent of the mantras, and the function in regards to the philosophy, religion and educative aspects.

This kind of research is basic and was done in three stages; the gathering of data, the analysis of data, and the explanation of the results of the analysis of the data. This data was obtained with the method of research and non-participatory techniques, from written sources by the books of Ida Pedanda Djajakowsoema and from oral source from the son of Ida Pedanda Djajakoesoema, Agung Harjuno. The analysis of the data was done with the agih method,padanmethod, and finally with pragmaticpadan. The explanation of the result of the analysis of the data was done with both an informal as well as a formal method.

From the result of the research, the writer has found that the structure of the mantra uses the word Hong as an opening of each mantra. The body of the mantra is in the form of worship, and then end of the mantra is in the form of supplication. The diction of the mantra is based on the Javanese and the ancient Javanese language. The style of language in the mantra that is found in one of the mantras is in the form of metaphore. Based on the search for the meaning by looking for the referential meanings, the writer also found that the meaning of most of the mantras is an affirmation and surrender to God. Based on the search for the function, by exploring the philosophical function, it can be understood that Tribawana is one of the basic philosophical concepts of the Hindu Javanese mantras. Based on the religious function, it can be understood that the goal of the Hindu Javanese community is to achieve moksa and the balance of Tribawana. Based on the educational function, it can be understood that most of the mantras has a function to teach that God is great, and to appreciate God’s manifestation.

(15)

xii 1.7 Metode dan Teknik Penelitian... 9

1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data... 10

(16)

xiii

BAB II STRUKTUR MANTRA HINDU JAWA... 15-31 2.1 Pengantar... 15

2.2 Struktur Mantra Hindu Jawa…………... 15

2.2.1 Bagian Awal Mantra Hindu Jawa………... 15-17

2.2.2 Bagian Tubuh Mantra Hindu Jawa... 18-22

2.2.3 Bagian Penutup Mantra Hindu Jawa... 22-24

2.2.4 Diksi Mantra Hindu Jawa………....25-28

2.2.5 Gaya Bahasa Mantra Hindu Jawa………... 28-31

BAB III MAKNA MANTRA HINDU JAWA………... 32-64 3.1 Pengantar... 32

3.2Makna Referensial Mantra Hindu Jawa………... 32-33

3.2.1 Mantra

Vertikal... 33

3.2.1.1 Mantra Vertikal Pertama “Kebesaran

Tuhan”…....... 33-36

3.2.1.2 Mantra Vertikal Kedua “Manifestasi Tuhan pada Alam………...………... 36-42

3.2.1.3 Mantra Vertikal Ketiga “Manusia Sebagai

Dewa”………..……… 42-44

3.2.2 Mantra Horizontal………... 45

3.2.2.1 Mantra Horizontal Pertama “Manifestasi Tuhan Pada Manusia”... 45-52

3.2.2.2 Mantra Horizontal Kedua “Penjabaran Unsur Diri”………....………….... 52-59

3.2.2.3 Mantra Horizontal Ketiga “Rangkuman Rangkaian Mantra”…………...………….……… 59-63

(17)

xiv

BAB IV FUNGSI MANTRA HINDU JAWA... 65-92 4.1 Pengantar………... 65

4.2 Fungsi Filosofis Mantra Hindu Jawa………. 65-70

4.3 Fungsi Religius Mantra Hindu Jawa……….. 70-74

4.4 Fungsi Edukatif Mantra Hindu Jawa………... 74

4.4.1 Fungsi Edukatif Mantra Pertama “Kebesaran

Tuhan”……….…...………..…... 75-76

4.4.2 Fungsi Edukatif Mantra Kedua “Manifestasi Tuhan Pada

Alam”………..………...………. 76-81

4.4.3 Fungsi Edukatif Mantra Ketiga “Manusia Sebagai

Dewa…………..……….……… 80-81

4.4.4 Fungsi Edukatif Mantra Keempat “Manifestasi Tuhan Pada Manusia”……….……...……… 82-87

4.4.5 Fungsi Edukatif Mantra Kelima “Penjabaran Unsur

Diri”………….………...………….………... 87-88

4.4.6 Fungsi Edukatif Mantra Keenam “Rangkuman Rangkaian

Mantra dan

Tribawana”……….…………..………….. 88-89

4.4.7 Fungsi Edukatif Mantra Ketujuh “Harapan

(18)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Contoh Mantra ... 1

Tabel 2. Contoh Mantra ... 2

Tabel 3. Gaya Bahasa Mantra “Penjabaran Unsur Diri”... 29

Tabel 4. Rangkuman Rangkaian Mantra dan Tribawana... 31

Tabel 5. Fungsi Religius dalam Mantra... 72

Tabel 6. Fungsi Edukatif Mantra “Kebesaran Tuhan”... 75

Tabel 7. Fungsi Edukatif Mantra “Kebesaran Tuhan”... 75

Tabel 8. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan pada Alam”... 78

Tabel 9. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan pada Alam”... 78

Tabel 10. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan pada Alam” ... 79

Tabel 11. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan pada Alam” ... 80

Tabel 12. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan pada Alam”... 80

Tabel 13. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan pada Alam”... 81

Tabel 14. Fungsi Edukatif Mantra “Manusia Sebagai Dewa” ... 82

Tabel 15. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan Pada Manusia”... 84

Tabel 16. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan Pada Manusia” ... 84

Tabel 17. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan Pada Manusia”... 85

Tabel 18. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan Pada Manusia”... 86

(19)

xvi

Tabel 20. Fungsi Edukatif Mantra “Manifestasi Tuhan Pada Manusia”... 87

Tabel 21. Fungsi Edukatif Mantra “Penjabaran Unsur Diri” ... 89-90

Tabel 22. Fungsi Edukatif Mantra “Penjabaran Unsur Diri” ... 90

Tabel 23. Fungsi Edukatif Mantra “Rangkuman Rangkaian Mantra... 91

Tabel 24. Fungsi Edukatif Mantra “Harapan Kedamaian”... 92

DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Tribawana ... 70

(20)
(21)

Hangluhuraken paduka ‘Meluhurkan engkau’

Namung paduka ingkang kula sembah ‘Hanya Engkau yang hamba sembah’

Hinggih Sang Hyang Widhi ‘Yaitu Tuhan Yang Maha Esa’

Tabel 2. Contoh Mantra

Mantra dalam Bahasa Asli Mantra dalam Bahasa Indonesia

Sang Hyang Sitoresmi, kuasaning karena memiliki unsur-unsur puisi dan memang digunakan pada berbagai macam ritual Hindu Jawa, yang memiliki kekuatan unsur gaib.

Dalam penelitian ini, mantra Hindu Jawa dipilih sebagai objek penelitian karena alasan-alasan berikut.Pertama, mantra-mantraHindu Jawa tidak selalu berbau mistis, melainkan terdapat beragam keunikan dalam bahasa yang digunakan.Kedua, mantra-mantra Hindu Jawa adalah bagian dari kebudayaan Jawa yang mulai ditinggalkan.Ketiga, belum ditemukannya penelitian tentang mantra-mantra Hindu Jawa.

(22)

Hindu Jawa. Pada pembahasan struktur, penulis akan melakukan pembahasan struktur mantra pada bagian awal, struktur mantra pada bagian tubuh, struktur mantra pada bagian penutup, diksi dan gaya bahasa. Hal kedua yang dibahas dalam skripsi ini adalah makna mantra-mantra Hindu Jawa. Dalam membahas makna, penulis akan mengkaji mantra-mantra Hindu Jawa melalui makna referensialnya. Pembahasan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang mendalam pada setiap bagian mantra. Dengan begitu pembaca akan mengerti bahwa terdapat pelajaran kehidupan dan konsep filosofis yang sesungguhnya berseberangan dengan bacaan berbau mistis.

Hal ketiga yang dibahas dalam skripsi ini adalah fungsi dalam mantra-mantra Hindu Jawa.Mantra-mantra-mantra ini memiliki berbagai macam fungsi bagi umatnya. Beberapa fungsi yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah fungsi filosofi, fungsi religius, dan fungsi edukatif. Dengan membahas beberapa fungsi ini, pembaca akan mengerti secara menyeluruh mengapa umat merasa bahwa mantra, maupun kepercayaannya, memiliki fungsi yang nyata dalam kehidupan mereka.

(23)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dalam butir 1.1, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimana struktur mantra-mantra Hindu Jawa? 1.2.2 Apa makna mantra-mantra Hindu Jawa?

1.2.3 Apa fungsi mantra-mantra Hindu Jawa secara filosofis, religius, dan edukatif?

1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan mantra Hindu Jawa. Secara khusus tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:

1.3.1 Mendeskripsikan struktur mantra-mantra Hindu Jawa. 1.3.2 Mendeskripsikan makna mantra-mantra Hindu Jawa.

1.3.3 Mendeskripsikan fungsi mantra-mantra Hindu Jawa secara filosofis, religius, dan edukatif.

1.4 Manfaat Penelitian

(24)

dilihat dari dua hal, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis. Terdapat dua manfaat teoretis dari penelitian ini, yaitu untuk menambah khazanah mengenai struktur, makna, dan fungsi mantra Hindu Jawa, dan mengungkap salah satu sisi budaya masyarakat Hindu Jawa, meliputi kearifan kulturalnya. Sedangkan manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk mendokumentasikan struktur, makna, dan fungsi mantra Hindu Jawa sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Hindu Jawa.

1.5 Tinjauan Pustaka

Penelitian tentang mantra sebelumnya pernah dilakukan oleh Soedjijono dkk (1987:13-17) dengan judul Struktur dan Isi Mantra Bahasa Jawa Timur.Pada penelitian ini dijelaskan bahwa ciri khas mantra adalah tidak selalu dapat dipahami artinya untuk dapat membangkitkan suasana magis.Suasana sakral dan efek magis yang dimaksudkan di sini adalah bahwa mantra menunjuk kepada dunia di luar batas-batas kemampuan wajar manusia, dunia di luar kekuasaan hukum alam, alam gaib, sebagai pengaruh dari kekuatan sakti.

(25)

Yusri Yusuf, dkk. (2001) dalam bukunya yang berjudul Struktur dan Fungsi Mantra Bahasa Aceh menjelaskan bahwa ketika manusia masih percaya pada kekuatan animisme dan dinamisme (yakni pada waktu manusia masih sangat percaya kepada kekuatan supranatural), mantra digunakan untuk memuja kekuatan supranatural itu dengan harapan kekuatan tersebut tidak akan mendatangkan bala kepada manusia. Rasa takut dan tekanan yang dirasakan oleh manusia yang dibarengi dengan pemujaan telah membuat manusia mengadakan berbagai macam upacara yang dimaksudkan untuk memohon sesuatu kepada kekuatan itu.

Dengan melihat penelitian Abdulrachman dkk, Yusri Yusuf dkk dan Soedjijono dkk, dapat disimpulkan bahwa belum pernah dilakukan penelitian yang mengangkat mantra-mantra Hindu Jawa.Melalui penelitian-penelitian tersebut, dapat disimpulkan pula bahwa dalam penelitian-penelitian sebelumnya, sebuah mantra masih memiliki suasana yang sangat mistis, dan belum dapat secara murni dipahami makna filosofis dan pelajaran hidup yang terkandung di balik kesan kemistisannya.

1.6 Landasan Teori

(26)

1.6.1 Struktur Wacana Mantra

Sebagaimana dibicarakan di depan, mantra adalah susunan kata yang memiliki unsur puitis maupun magis, dan memiliki kekuatan gaib. Pada penelitian ini, mantra dianggap sebagai sebuah wacana.Wacana yang dimaksud adalah berbagai perkataan maupun ucapan dalam bentuk mantra oleh Rsi / Pandita dan umat dalam ritual kedalaman Hindu Jawa, yang kemudian direkam secara tertulis.Sebagai sebuah wacana, ketujuh mantra yang diteliti dalam penelitian ini juga memiliki unsur-unsur yang berkesinambungan pada bagian awal / pembuka wacana, tubuh / isi wacana, dan penutup wacana.Dilihat sebagai sebuah struktur, ketiga bagian tersebut memiliki berbagai fungsi yang berbeda.Bagian awal wacana berfungsi sebagai pembuka wacana, bagian tubuh wacana berfungsi sebagai pemapar isi wacana, dan bagian penutup berfungsi sebagai penanda akhir wacana (Baryadi 2002: 14). Dengan demikian pembahasan struktur mantra akan dilakukan dengan menganalisa struktur wacana pada bagian awal, tubuh, dan penutup mantra.

1.6.2 Kajian Makna Referensial

(27)

dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Dalam penelitian ini makna hanya akan dibedakan berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata/leksem, untuk kemudian dapat dibedakan adanya makna referensial dan makna nonreferensial. Makna-makna referensial inilah yang kemudian didefinisikan dan digunakan sebagai alat untuk membedah makna mantra-mantra Hindu Jawa.

1.6.3 Kajian Fungsi

(28)

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan analitis, dapat disimpulkan bahwa tantangan-tantangan yang dihadapi manusia dikembalikan pada tiga hal: ketidakpastian, ketidakmampuan dan kelangkaan. Untuk itu semua, manusia lari kepada agama, karena manusia percaya dengan keyakinan yang kuat bahwa agama memiliki kesanggupan yang definitif dalam menolong manusia (Hendropuspito, 1985:38).Dalam penelitian ini pengertian agama mengarah kepada rangkaian mantra Hindu Jawa. Untuk mendalami pembahasan fungsi dalam mantra Hindu Jawa, pembahasan akan dibagi menjadi tiga fungsi, yaitu fungsi filosofi, fungsi religius, dan fungsi edukatif. Fungsi filosofi akan menjabarkan salah satu fungsi filosofi utama masyarakat Hindu Jawa, dan penerapan filosofi tersebut. Fungsi religius akan menjabarkan wujud empiris, dan supra-empiris dari mantra-mantra Hindu Jawa. Fungsi edukatif akan menjabarkan beragam fungsi-fungsi mantra yang mampu menyampaikan nilai-nilai pengajaran kehidupan pada masyarakat Hindu Jawa.

1.7 Metode dan Teknik Penelitian

(29)

1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Objek penelitian ini adalah struktur, makna, dan fungsi mantra-mantra Hindu Jawa, sedangkan data penelitian ini adalah mantra-mantra Hindu Jawa.Data diperoleh dari sumber tertulis maupun lisan.Sumber tertulis didapatkan dari dokumentasi mantra-mantra Hindu Jawa dalam buku Mantram Kedalaman Perguruan Raja Yoga Bulu Merak “Wedha Prakarti” Indonesia oleh Ida Pedanda Djaja Koesoema. Sedangkan sumber lisan akan didapatkan dari putra Ida Pedanda Djajakoesoema, Agung Harjuno.

Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak. Metode simak adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan menyimak langsung penggunaan bahasa. Teknik yang digunakan dalam tahap pengumpulan data, adalah teknik nonpartisipan atau teknik simak bebas libat cakap dengan mengamati dan mencatat wacana mantra yang terdapat dalam buku dokumentasi mantra-mantra Hindu Jawa oleh Ida Pedanda Djaja Koesoema.Data yan sudah terkumpul diteliti berdasarkan struktur, maksud dan fungsi.

1.7.2 Metode dan Tahap Analisis Data

(30)

sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto, 1993: 31). Kemudian analisis akan dilanjut dengan teknik baca markah, yaitu teknik yang menganalisis pemarkahan untuk menunjukkan kejatian satuan lingual atau identitas konstituen tertentu; dan kemampuan membaca peranan pemarkah itu (marker) berarti kemampuan menentukan kejatian yang dimaksud.

Berikut merupakan contoh penerapan metode agih dengan teknik dasar bagi unsur langsung.

(1)

(a) Hong

(b) Sang Hyang Surya

(c) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(d) Haparing cahya dhumateng sadaya gesang

(e) Sang Hyang Bagaskara

(f) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(g) Haparing tumuwuh dhumateng sadaya gesang

Mantra di atas dibagi menjadi lima baris yang ditandai dengan alfabet a, b, c, d, e, f, dan

g. Dalam contoh tersebut, juga dapat ditemukan pemarkah pada awal mantra yang berupa

kata Hong. Kata ini ditemukan pada setiap awal mantra. Kemudian kata Sang Hyang,

yang selalu mengawali nama Tuhan maupun manifestasinya. Penggunaan paragraf juga

digunakan pada setiap pemujian bentuk manifestasi Tuhan.

(31)

kejatian atau identitas objek penelitian (Kesuma, 2007:47), pada metode padan ini, akan digunakan subjenis metode padan referensial. Metode padan referensial adalah metode padan yang alat penentunya berupa referen bahasa.Referen bahasa adalah kenyataan atau unsur luar bahasa yang ditunjuk satuan kebahasaan (Kridalaksana, 2001:186).Metode padan referensial itu digunakan untuk menentukan identitas satuan kebahasaan menurut referen yang ditunjuk (Kesuma, 2007:48).

Berikut merupakan contoh penerapan metode padan dengan subjenis metode padan referensial.

(2)

Hong

Kata Hong adalah sebuah kata referensial karena kata Hong memiliki referen yang

mengacu pada suatu situasi yang kosong, hening, tetapi penuh dengan isi.Yang dimaksud

dengan kosong tetapi penuh isi adalah situasi batin seseorang ketika tengah

bermeditasi.Penggunaan kata Hong di awal juga berfungsi sebagai pengantar bagi umat

untuk mencapai tahap kosong yang penuh isi tersebut.

Untuk menganalisis fungsi, akan digunakan metode padan pragmatis. Metode padan pragmatis adalah suatu metode padan yang alat penentunya adalah mitra wicara (Sudaryanto, 1993:13).Metode ini digunakan karena fungsi dalam penelitian ini, dapat dimengerti sebagai dampak langsung dari mantra-mantra dan ritual yang dapat dirasakan oleh umat Hindu-Jawa.Dengan demikian untuk dapat mengolah data-data fungsi tersebut, haruslah digunakan sudut pandang mitra wicara.

(32)

(3)

Hong

Sang Hyang Murbeng Dumadi

Kang hanyipta jagad raya

Sarta sadaya dumadi

Dalem hanyembah sungkem hamarikelu

Hangluhuraken paduka

Namung paduka ingkang kawula sembah

Hinggih Sang Hyang Widhi

Melalui contoh di atas, penulis dapat merasakan adanya pesan yang diajarkan agar selama umat menjalani kehidupan selalu mengingat keberadaan Tuhan.Melalui kesadaran bahwa Tuhan telah menciptakan segala yang ada, umat diharapkan dapat dengan ikhlas menyembah Tuhan tanpa perlu mempertimbangkan sosok Tuhan dengan permasalahan duniawi.Hal ini karena segala yang ada di dunia, beserta segala permasalahannya adalah bagian dari ciptaan Tuhan.

1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

(33)

formal dilakukan dengan tabel, bagan, dan tanda panah ( ).

1.8 Sistematika Penyajian

Laporan hasil penelitian ini disusun dalam lima bab. Bab I, pendahuluan.Bab pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penelitian.Latar belakang menguraikan alasan mengapa penulis melakukan penelitian.Rumusan masalah menjelaskan masalah-masalah yang ditemukan dalam penelitian.Tujuan penelitian mendeskripsikan tujuan diadakan penelitian.Manfaat penelitian memaparkan manfaat yang bisa diambil dari hasil penelitian ini.Tinjauan pustaka mengemukakan pustaka yang pernah membahas tentang idiom.Landasan teori menyampaikan teori yang digunakan sebagai landasan penelitian.Metode penelitian merincikan teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik penyampaian hasil analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini.Sistematika penyajian menguraikan urutan hasil penelitian dalam skripsi ini.Bab II berisi tentang uraian dan analisis struktur mantra Hindu Jawa.Bab III berisi tentang uraian dan analisis makna mantra Hindu Jawa.Bab IV berisi tentang uraian dan analisis fungsi mantra Hindu Jawa.

(34)

15

BAB II

STRUKTUR MANTRA HINDU JAWA

2.1 Pengantar

Dalam penelitian ini, pembahasan struktur mantra akan dibagi menjadi

lima, yaitu pembahasan struktur mantra pada bagian awal, struktur mantra pada

bagian tubuh, struktur mantra pada bagian penutup, diksi dan gaya bahasa.

2.2 Struktur Mantra Hindu Jawa

Tidak berbeda dengan beragam literatur lain, mantra Hindu Jawa juga

memiliki struktur yang dapat diidentifikasi. Struktur mantra Hindu Jawa ini akan

diidentifikasi dengan membedah lebih jauh bagian awal, tubuh, penutup mantra

Hindu Jawa, dan juga diksi maupun gaya bahasa yang digunakan.

2.2.1 Bagian Awal Mantra Hindu Jawa

Dibandingkan bagian lain dari keseluruhan rangkaian mantra kedalaman,

bagian awal adalah bagian yang selalu sama. Dalam ritual-ritual yang

menggunakan mantra kedalaman, seorang pandhita akan memulai sebuah mantra

dengan mengucapkan “Hong..”, untuk kemudian diikuti oleh umat. Kata Hong

dapat ditemukan pada seluruh awal mantra kedalaman yang berjumlah tujuh

(35)

(4)

Hong...

Sang Hyang Merbeng Dumadi

Kang hanyipta jagad raya

Sarta sadaya dumadi

Dalem hanyembah sungkem hamarikelu

Hangluhuraken paduka

Namung paduka ingkang kawula sembah

Hinggih Sang Hyang Widhi...

(5)

Hong...

Sang Hyang Surya

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing cahya dhumateng sadaya gesang...

(6)

Hong...

Sukma sejati dewa kang linuwih

Hinggih Sang Guru Sejati

Dados warananing Sang Hyang Widhi

Haparing tuntunan dhumateng pepadhang saha keslametan...

(7)

Hong...

Kang maha suci

Kuasaning Sang Hyang Widhi

(36)

(8)

Hong...

Sedulurku keblat papat kalima pancer

Kakang kawah, adi ari-ari

Kakang mbarep, adi wuragil...

(9)

Hong...

Hong wilaheng hawigena

Hong bawana langgeng

Hong hyang hyang hyang

Suksma sejati dewa kang linuwih

Sang Hyang Jagad, Hyang Nagaraja

Pamonging jagad, Hyang Ismaya

Dhanyanging tanah Jawa, Eyang Kopek...

(10)

Hong...

Sidhem sidhem sidhem

Hong...

Dapat dilihat bahwa seluruh awal dari ketujuh mantra kedalaman yang ditunjukkan pada mantra (4)-(10) menggunakan kata Hong.Beberapa kata Hong

(37)

2.2.2 Bagian Tubuh Mantra Hindu Jawa

Berbeda dengan bagian awal mantra-mantra dalam rangkaian mantra kedalaman, bagian tubuh mantra memiliki bentuk yang seluruhnya hampir berbeda.Hal ini karena setiap mantra memiliki tujuan yang berbeda, maka isi mantra juga berbeda. Meskipun bentuk dan isi yang berbeda pada bagian tubuh dari setiap mantra, tetapi dapat ditemukan sedikit kemiripan dari setiap mantra, yaitu ditemukannya kalimat Sang Hyang yang diikuti dengan nama Tuhan dalam berbagai wujud. Berikut adalah potongan dari bagian tubuh mantra tersebut.

(11)

Sang HyangMerbeng Dumadi

Kang hanyipta jagad raya

Sarta sadaya dumadi

Dalem hanyembah sungkem hamarikelu

Hangluhuraken paduka

Namung paduka ingkang kawula sembah

HinggihSang HyangWidhi...

(12)

Sang HyangSurya

Kuasaning Sang HyangWidhi

Haparing cahya dhumateng sadaya gesang...

(13)

Sukma sejati dewa kang linuwih

Hinggih Sang Guru Sejati

(38)

Haparing tuntunan dhumateng pepadhang saha keslametan...

(14)

Kang maha suci

Kuasaning Sang HyangWidhi

Haparing daya suci...

(15)

Sang HyangWening

Suksma sejati, jabang bayiku

Hu teguh rahayu slamet

(16)

Suksma sejati dewa kang linuwih

Sang HyangJagad, Hyang Nagaraja

Pamonging jagad, Hyang Ismaya

Dhanyanging tanah Jawa, Eyang Kopek...

Dari keseluruhan tujuh mantra dalam rangkaian mantra kedalaman, enam mantra seperti yang ditampilkan pada mantra (11) hingga (16) memiliki frasa

(39)

rangkaian mantra kedalaman memiliki kemiripan, yaitu hampir seluruh bagian tubuh mantra-mantra tersebut mengandung beragam puji-pujian yang menyebabkan digunakannya beragam ekspresi nama Tuhan yang didahului frasa

Sang Hyang.

Selain isi dari beberapa mantra yang memiliki beberapa kemiripan, terdapat struktur penataan paragraf pada bagian tubuh mantra yang memiliki tujuan tertentu dalam beberapa mantra.Penataan paragraf yang dimaksud tampak pada tubuh dua mantra.

(17)

Hong

Sang Hyang Surya

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing cahya dhumateng sadaya gesang

Sang Hyang Bagaskara

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing tumuwuh dhumateng sadaya gesang

Sang Hyang Bagaspati

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing lestari dhumateng sadaya gesang

Sang Hyang Jagad

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing dumadosing wujud gesang

(40)

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing cahya daya katresnan dhumateng sadaya gesang

Sang Hyang Kartika

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing sifat watak dhumateng sadaya gesang

(18)

Hong

Kang maha suci

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing daya suci

Kang maha mulya

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing kamulyan

Kang maha agung

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing cekap tirah hing kabegjan

Kang maha purba

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing handarbeni hing kadonyan

Kang maha kuasa

Kuasaning Sang Hyang Widhi

Haparing kalenggahan kuasa hangatur hing kadonyan

Kuasa kuasaning kuasa

(41)

Gilang gumilang tan hana pindane

Sang Hyang Widhi yen ngendika hakarana warana

Kedua mantra di atas adalah satu-satunya mantra yang bagian tubuhnya dipilah-pilah dengan bentuk paragraf.Pada kedua mantra (17) dan (18), pembagian paragraf dilakukan dengan tujuan untuk menyebutkan beragam bentuk manifestasi Tuhan.Hal ini terbukti dengan pengucapan manifestasi Tuhan yang kemudian diikuti dengan frasa kuasaning Sang Hyang Widhi.

2.2.3 Bagian Penutup Mantra Hindu Jawa

Dibandingkan bagian pembuka dan bagian tubuh, bagian penutup adalah bagian yang paling berbeda.Pada bagian penutup dari ketujuh mantra yang menjadi rangkaian dalam mantra kedalaman, hanya ditemukan sedikit kesamaan bentuk dan maksud seperti pada bagian pembuka, atau bagian tubuh.Berikut adalah bagian akhir dari ketujuh mantra tersebut.

(19)

...Namung Paduka ingkang kawula sembah

Hinggih Sang Hyang Widhi

(20)

...Sang Hyang Kartika

Kuasaning Sang Hyang Widhi

(42)

(21)

...Haparing tuntunan dhumateng pepadhang saha

Keslametan

(22)

...Kuasa kuasaning kuasa

Isih kuasa kang maha kuasa

Gilang gumilang tan hana pindhane

Sang Hyang Widhi yen ngendika hakarana warana

(23)

...Sang Hyang Wening

Suksma sejati, jabang bayiku

Hu – Teguh – Rahayu – Slamet

(24)

...Pamoning jagad, Hyang Ismaya

Dhanyanging Tanah Jawa, Eyang Kopek

(25)

...Sidhem, sidhem, sidhem

(43)

Dari ketujuh bagian akhir mantra di atas, dapat dipastikan bahwa bagian akhir mantra-mantra tersebut tidak memiliki kesamaan bentuk seperti pada bagian pembuka.Tetapi pada kelima bagian akhir mantra dari tujuh keseluruhan mantra, ditemukan gejala-gejala yang mirip dengan bagian tubuh mantra, yaitu ditemukannya kata-kata Sang Hyang, atau pada kasus ini salah satu mantra hanya menggunakan kata Hyang.Hal ini dapat dilihat pada mantra (19),(20),(21),(22), dan (23). Seperti pada bagian tubuh mantra, kebanyakan kata-kata Sang Hyang

(44)

2.2.4 Diksi Mantra Hindu Jawa

Dalam mantra-mantra Hindu Jawa yang dikaji dalam penelitian ini, sebagian kata berasal dari bahasa Jawa dan Jawa kuna.Bahasa Jawa kuna kemudian banyak diadopsi oleh kebudayaan Hindu, seperti kata Sang Hyang Widhi yang berarti Tuhan. Atau kata Hong yang digunakan di awal setiap doa, yang berarti kekosongan. Penggunaan kata Hong hanya ditemukan di Hindu Jawa, karena pada mantra-mantra Hindu di Bali atau daerah lain, banyak digunakan kata

Aum, yang kurang lebih bermakna sama. Agar perbedaan lebih tampak, berikut adalah contoh mantra pembuka dalam upacara vertikal Hindu Jawa, dan mantra

Tri Sandya yang merupakan salah satu mantra utama dalam Hindu Bali. (Mantra pembuka dalam upacara vertikal Hindu Jawa)

(26)

Hong

Sang Hyang Murbeng Dumadi

Kang hanyipta jagad raya

Sarta sadaya dumadi

Dalem hanyembah sungkem hamarikelu

Hangluhurake paduka

Namung paduka ingkang kawula sembah

Hinggih Sang Hyang Widhi

(Bagian pembuka dalam mantra Trisandya yang merupakan salah satu mantra pokok Hindu- Bali)

(27)

Aum

bhùr bhvah svah

(45)

bhargo devasya dhimahi

dhiyo yo nah pracodayàt

Selain penggunaan kata di awal doa yang berbeda meski maknanya sama, hal lain yang perlu diamati adalah penggunaan kata yang berarti Tuhan yang memiliki istilah berbeda. Pada mantra kedalaman Hindu Jawa, banyak dijumpai istilah Sang Hyang Widhi, atau nama-nama lain untuk Tuhan yang juga diawali kata Sang dan Hyang, seperti Sang Hyang Murbeng Dumadi yang berarti Tuhan yang maha tahu. Sedangkan pada kebanyakan mantra yang digunakan Hindu Bali, banyak digunakan istilah-istilah dari Sansekerta seperti bhùr bhvah svah yang memiliki arti Tuhan. Lain halnya dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu Bali, mereka akan menggunakan istilah Sang Hyang Widhi untuk menyebut Tuhan. Melalui pengamatan dan hasil wawancara dengan putra Ida Pedanda Djajakoesoema, Agung Harjuno, penulis menyadari bahwa pemilihan diksi dalam Hindu Jawa memiliki poros yang berbeda dengan Hindu Bali. Diksi dalam Hindu Jawa berporos pada Bahasa Jawa, dan Jawa kuna.Sedangkan Hindu Bali berporos pada Bahasa Sansekerta.Hal ini lagi-lagi dapat dibuktikan dengan mantra penutup Hindu Jawa dan Hindu Bali. Dalam Hindu Jawa, sebuah mantra ditutup dengan

(46)

dari budaya Jawa Kuna.Kemungkinan hal ini adalah akibat dari berpindahnya secara besar-besaran umat Hindu di Jawa ke Bali pada awal masa kerajaan Islam di Jawa.

Selain penggunaan bahasa Jawa Kuna, penggunaan kata dalam mantra didominasi oleh kata-kata dalam bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan juga merupakan bahasa Jawa Krama / bahasa Jawa yang halus, yang biasa digunakan untuk berbicara dengan orang yang dihormati, hal ini ditemukan pada hampir seluruh rangkaian mantra kedalaman kecuali pada salah satu mantra yang menggunakan Bahasa Jawa Ngoko. Berikut adalah mantra tersebut.

(28)

Hong

Sedulurku keblat papat kalima pancer

Kakang kawah, adi ari-ari

Kakang mbarep, adi wuragil

Sedulurku kang manggon hing jagad wetan, jagad kidul, jagad kulon,

(47)

Berbeda dengan mantra lainnya, mantra ini menggunakan Bahasa Jawa Ngoko karena ditujukan pada diri sendiri.Hal ini dipercaya sebagai tahap pertama dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam Hindu Jawa dipercaya bahwa terdapat tiga dunia, yaitu dunia mikro kosmos(bawana alit) yang berarti hubungan manusia dengan diri sendiri, dunia makro kosmos (bawana gede) yang berarti hubungan manusia dengan alam semesta / dunia sekitar, dan nurkosmos(bawana pepadhang) yang berarti hubungan manusia dengan sang pencipta. Pemilihan Bahasa Jawa Ngoko dalam mantra ini dikarenakan ini adalah sebuah mantra mikro kosmos atau bawana alit, yang bertujuan untuk mengenali dan membersihkan diri sendiri sebelum dapat menuju kedua dunia lainnya, terutama Tuhan.

Adapun penggunaan bahasa Indonesia dapat ditemukan pada beberapa mantra, namun hal ini sedikit diragukan, karena bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh Sansekerta, begitu juga Bahasa Jawa, dan Bahasa Jawa kuna. Bahkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia diadopsi langsung dari Bahasa Jawa. Contoh kata yang kita kenali dalam bahasa Indonesia yang digunakan dalam mantra ini adalah sejati, suci, maha dan kuasa.

2.2.5 Gaya Bahasa Mantra Hindu Jawa

(48)

metafora.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2009:1020), majas metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata untuk menyatakan maksud yang lain menyatakan maksud yang lain bukan dengan arti yang sebenarnya,

melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.

Berdasarkan pengertian ini, majas metafora ditemukan dalam salah satu mantra

berikut:

Tabel 3. Gaya Bahasa Mantra “Penjabaran Unsur Diri”

Mantra dalam Bahasa Asli Mantra dalam Bahasa Indonesia

Hong Hong

Sedulurku keblat papat kalima pancer 'Saudaraku yang ada pada keempat

arah'

Kakang kawah, adi ari-ari 'Kakak air ketuban, adik placenta' Kakang mbarep, adi wuragil 'Kakak sulung, adik bungsu'

Sedulurku kang manggon hing jagad wetan, jagad kidul, jagad kulon, jagad lor

'Saudaraku yang bertempat di Timur, Selatan, Barat, Utara'

Karep putih, abang, kuning, ireng 'Keinginan emosional putih, merah,

kuning, hitam'

Karsa Putih, abang, kuning, ireng 'Keinginan sublimatif putih, merah,

kuning, hitam'

Sedulurku kang metu bareng sak uwat 'Saudaraku yang berasal dari satu

wadah'

Mati seje panggonan 'Mati di lain tempat'

Kakang sabdo palon, kakang naya

Ibu abang, bapa putih 'Ibu merah (sel telur wanita), bapak

putih (sel sperma pria)'

(49)

Bapa putih, aling-alingana aku 'Bapak putih, lindungilah aku'

Sang Hyang Wening 'Dewa Wening '

Suksma sejati, jabang bayiku 'Suksma sejati, jabang bayiku'

Majas metafora pertama pada mantra tersebut adalah istilah kakak sulung dan adik bungsu yang berarti air ketuban dan ari-ari / placenta. Hal ini mengacu pada proses melahirkan, dimana sebelum bayi dilahirkan didahului dengan air ketuban, dan sesudah bayi dilahirkan diikuti dengan ari-ari / placenta. Kedua adalah perumpamaan wadah yang mengacu pada rahim seorang ibu yang bersifat sebagai wadah calon anak.Ketiga adalah kaki mong dan bapak putih, merupakaan perumpaan sel sperma yang berarti bibit cikal bakal sebelum lahirnya seorang bayi. Keempat adalah nini mong dan ibu merah, merupakan perumpaan sel telur wanita yang berarti proses awal mula terciptanya suatu kehidupan. Majas metafora terakhir adalah istilah cahaya yang mengacu pada jalan kebenaran.Perumpaan ini ditemukan pada mantra berikut.

Tabel 4. Gaya Bahasa Mantra “Rangkuman Rangkaian Mantra dan

Tribawana”

Mantra dalam Bahasa Asli Mantra dalam Bahasa Indonesia

Hong Hong

Sukma sejati dewa kang linuwih ‘Sukma sejati dewa yang paling utama’

Hinggih Sang Guru Sejati ‘Yaitu guru sejati’

Dados warananing Sang Hyang

(50)

Haparing tuntunan dhumateng pepadhang saha keslametan

‘Menjadi tuntunan kepada cahaya dan keselamatan’

(51)

32

BAB III

MAKNA MANTRA HINDU JAWA

3.1 Pengantar

Untuk mencari makna dalam rangkaian mantra Hindu Jawa yang juga

dikenal sebagai mantra kedalaman, penulis akan meneliti makna referensial dari

setiap mantra. Menurut Chaer (2009: 64), kata-kata yang mempunyai referen,

yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu maka kata tersebut disebut

kata bermakna referensial. Sebagai contoh, kata suling merupakan sebuah kata

bermakna referensial, karena kata suling memiliki referen yang mengacu kepada

sebuah alat tiup tradisional yang terbuat dari bambu yang bernama “suling”.

Untuk mempermudah pendalaman makna referensial mantra, penulis akan

memberi kode huruf dan angka pada awal setiap baris.

3.2 Makna Referensial Mantra Hindu Jawa

Keseluruhan rangkaian mantra kedalaman Hindu Jawa dibagi menjadi

tujuh mantra dengan tujuan penggunaan maupun makna yang berbeda. Secara

umum kelompok mantra dibagi menjadi dua bagian, yaitu tiga mantra pertama

yang dikenal sebagai mantra vertikal / mantra yang mengarah pada Tuhan, dan

tiga mantra berikutnya yang dikenal sebagai mantra horizontal / mantra yang

(52)

tidak tampak. Dalam mendalami makna referensial dari setiap mantra, penulis akan membagi mantra-mantra ke dalam ketiga bagian tersebut, agar lebih mudah dipahami perubahan referensi yang digunakan pada setiap pengelompokan mantra.

3.2.1 Mantra Vertikal

Rangkaian mantra vertikal berjumlah tiga mantra, jumlah ini bukanlah tanpa alasan.Angka tiga merupakan angka yang istimewa bagi masyarakat Jawa, terutama masyarakat Hindu Jawa. Hal ini dikarenakan salah satu filosofi mendasar dari masyarakat Hindu Jawa adalah filosofi tribawana / pemahaman tentang tiga dunia, yang meliputi Tuhan, dunia, dan diri sendiri (pemahaman filosofi tribawana akan dijelaskan secara lebih jelas pada bab berikutnya). Ketiga mantra yang dianggap sebagai bagian dari kelompok mantra vertikal juga mewakili tiga dunia tersebut. Mantra vertikal pertama adalah mantra yang secara khusus mengacu pada Tuhan, mantra vertikal kedua adalah mantra yang mengacu pada manifestasi Tuhan di dunia / alam sekitar, sedangkan mantra vertikal ketiga adalah mantra yang mengacu pada berkat Tuhan yang diberikan di dalam diri setiap manusia.

3.2.1.1 Mantra Vertikal Pertama “Kebesaran Tuhan”

(53)

(28)

(a) Hong

(b) Sang Hyang Murbeng Dumadi

(c) Kang hanyipta jagad raya

(d) Sarta sadaya dumadi

(e) Dalem hanyembah sungkem hamarikelu

(f) Hangluhuraken paduka

(g) Namung paduka ingkang kawula sembah

(h) Hinggih Sang Hyang Widhi

Mantra pembuka dalam rangkaian mantra vertikal pertama dibuka dengan kata Hong, seperti pada mantra (28a).Kata Hong adalah sebuah kata referensial karena kata Hong memiliki referen yang mengacu pada suatu situasi yang kosong, hening, tetapi penuh dengan isi.Yang dimaksud dengan kosong tetapi penuh isi adalah situasi batin seseorang ketika tengah bermeditasi.Penggunaan kata Hong di awal juga berfungsi sebagai pengantar bagi umat untuk mencapai tahap kosong yang penuh isi tersebut.

(54)

raya”.Frasa dalam mantra (28c) memiliki referen yang mengacu pada sosok Tuhan yang disebut pada bagian mantra (28b) yang berbunyi Sang Hyang Murbeng Dumadi.Tidak jauh berbeda dengan (28c), pada bagian mantra (28d), frasa sarta sadaya dumadi yang dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “beserta segala yang tercipta”, juga merupakan frasa yang memiliki referen yang mengacu kepada sosok Tuhan pada bagian mantra (28b). Secara keseluruhan bagian mantra (28b) hingga (28d) merupakan satu kesatuan deskripsi Tuhan.Secara lengkap bagian mantra ini dapat dipahami dalam Bahasa Indonesia sebagai “Tuhan yang maha tahu yang menciptakan jagad raya beserta segala yang tercipta”.

Pada mantra bagian (28e) dituliskan Dalem hanyembah sungkem hamarikelu, yang dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “saya menyembah sujud dengan sepenuh hati”. Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada ketulusan seorang umat untuk mengakui dan mengikuti secara total sosok Tuhan seperti yang sudah digambarkan pada bagian mantra (28b) hingga (28d). Pada mantra bagian (28f) dituliskan Hangluhuraken paduka, yang dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “meluhurkan Engkau”. Frasa ini memiliki referen yang hampir sama seperti pada bagian (28e), yaitu mengacu pada tindakan seorang umat yang mengakui keluhuran sosok Tuhan yang disebutkan pada bagian mantra (28b) hingga (28d).

(55)

sembah”, tidak mengacu pada sosok Tuhan pada awal mantra. Meskipun demikian frasa bagian (28g) tetap memiliki referen karena mengacu pada tindakan seorang umat yang hanya menyembah satu-satunya sosok Tuhan yang disebutkan pada bagian mantra (28h).Sedangkan pada bagian mantra (28h), dituliskan

hinggih Sang Hyang Widhi.Frasa ini dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “yaitu Tuhan Yang Maha Esa”.Bagian mantra ini kurang lebih merupakan pengulangan dari bagian (28b), yang memiliki referen yang mengacu pada sosok Tuhan yang memiliki beragam kemampuan, salah satunya adalah kemampuannya sebagai sosok yang maha esa.

Melihat lebih jauh ke dalam mantra pertama pada rangkaian mantra vertikal, dapat dipahami bahwa sesungguhnya mantra ini secara sederhana menggambarkan betapa seorang manusia menyerahkan segalanya kepada Tuhan, dan mengakui kebesaran Tuhan.Selain makna di balik mantra pertama dalam rangkaian mantra vertikal, mantra pertama ini juga memperlihatkan suatu pola penulisan yang menarik. Yaitu cara penulis mantra meletakkan subjek utama mantra (Tuhan) di awal, kemudian menjabarkan kebesaran Tuhan, maupun peran manusia pada Tuhan, dan di akhir kemudian diberikan penekanan ulang pada sosok Tuhan seperti yang ditekankan pada awal mantra.

3.2.1.2 Mantra Vertikal Kedua “Manifestasi Tuhan pada Alam”

(56)

kedua ini, digambarkan enam sosok dewa, yang sesungguhnya adalah enam berkat Tuhan yang diberikan kepada manusia melalui alam. Dalam membaca mantra ini kedua telapak tangan umat disatukan di depan hidung.

(29)

(a) Hong

(b) Sang Hyang Surya

(c) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(d) Haparing cahya dhumateng sadaya gesang

(e) Sang Hyang Bagaskara

(f) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(g) Haparing tumuwuh dhumateng sadaya gesang

(h) Sang Hyang Bagaspati

(i) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(j) Haparing lestari dhumateng sadaya gesang

(k) Sang Hyang Jagad

(l) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(m) Haparing dumadosing wujud gesang

(n) Sang Hyang Sitoresmi

(o) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(p) Haparing cahya daya katresnan dhumateng sadaya gesang

(q) Sang Hyang Kartika

(r) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(57)

Mantra pembuka dalam rangkaian mantra vertikal kedua dibuka dengan kata Hong, seperti pada mantra (29a).Kata Hong adalah sebuah kata referensial karena kata Hong memiliki referen yang mengacu pada suatu situasi yang kosong, hening, tetapi penuh dengan isi.Yang dimaksud dengan kosong tetapi penuh isi adalah situasi batin seseorang ketika tengah bermeditasi.Penggunaan kata Hong di awal juga berfungsi sebagai pengantar bagi umat untuk mencapai tahap kosong yang penuh isi tersebut.

Pada mantra (29b) dituliskan Sang Hyang Surya yang memiliki referen yang mengacu pada manifestasi Tuhan yang berwujud sebagai Dewa Surya.Sosok Dewa Surya sebagai manifestasi Tuhan dijelaskan pada bagian mantra (29c) yang berisi Kuasaning Sang Hyang Widhi.Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada Dewa Surya sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian pada bagian (29d), dijelaskan wujud nyata dari manifestasi Tuhan yang disebut sebagai Dewa Surya, yaitu haparing cahya dhumateng sadaya gesang, yang bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “memberi cahaya kepada seluruh kehidupan”. Frasa ini memiliki referen yang mengacu kepada Dewa Surya yang juga merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.Secara utuh paragraf pertama pada mantra ini mendeskripsikan berkat Tuhan yang telah diberikan kepada manusia melalui manifestasinya yaitu Dewa Surya yang secara langsung telah memberi cahaya kepada seluruh kehidupan di bumi.

(58)

Bagaskara sebagai manifestasi Tuhan dijelaskan pada bagian mantra (29f) yang berisi Kuasaning Sang Hyang Widhi.Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada Dewa Bagaskara sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian pada bagian (29g), dijelaskan wujud nyata dari manifestasi Tuhan yang disebut sebagai Dewa Bagaskara, yaitu haparing tumuwuh dhumateng sadaya gesang,

yang bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “memberi pertumbuhan kepada seluruh kehidupan”. Frasa ini memiliki referen yang mengacu kepada Dewa Bagaskara yang juga merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.Secara utuh paragraf kedua pada mantra ini mendeskripsikan berkat Tuhan yang telah diberikan kepada manusia melalui manifestasinya yaitu Dewa Bagaskara yang secara langsung telah memberikan pertumbuhan kepada seluruh kehidupan di bumi.

(59)

paragraf ketiga pada mantra ini mendeskripsikan berkat Tuhan yang telah diberikan kepada manusia melalui manifestasinya yaitu Dewa Bagaspati yang secara langsung telah memberikan kelestarian kepada seluruh kehidupan di bumi.

Pada paragraf keempat frasa pertama (29k), dituliskan manifestasi Tuhan yang keempat, yaitu Sang Hyang Jagad.Frasa pertama dalam paragraf keempat ini memiliki referen yang mengacu kepada sosok Dewa Jagad. Sosok Dewa Jagad sebagai manifestasi Tuhan dijelaskan pada bagian mantra (29l) yang berisi

Kuasaning Sang Hyang Widhi.Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada Dewa Jagad sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian pada bagian (29m), dijelaskan wujud nyata dari manifestasi Tuhan yang disebut sebagai Dewa Jagad, yaitu haparing dumadosing wujud gesang, yang bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “mewujudkan terwujudnya seluruh kehidupan”. Frasa ini memiliki referen yang mengacu kepada Dewa Jagad yang juga merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.Secara utuh paragraf keempat pada mantra ini mendeskripsikan berkat Tuhan yang telah diberikan kepada manusia melalui manifestasinya yaitu Dewa Jagad yang secara langsung telah mewujudkan seluruh kehidupan di bumi.

(60)

bagian (29p), dijelaskan wujud nyata dari manifestasi Tuhan yang disebut sebagai Dewa Sitoresmi , yaitu haparing cahya daya katresnan dhumateng sadaya gesang, yang bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “memberi cahaya kekuatan cinta kasih kepada seluruh kehidupan”. Frasa ini memiliki referen yang mengacu kepada Dewa Sitoresmi yang juga merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.Secara utuh paragraf kelima pada mantra ini mendeskripsikan berkat Tuhan yang telah diberikan kepada manusia melalui manifestasinya yaitu Dewa Sitoresmi yang secara langsung telah memberikan kekuatan agar seluruh kehidupan di bumi dapat saling mencintai dan mengasihi.

(61)

watak kepada seluruh kehidupan di bumi.

Keseluruhan mantra ini merupakan pengingat sekaligus rasa syukur pada berkat-berkat tuhan yang telah diberikan pada manusia di dunia dalam bentuk manifestasi-manifestasinya.Melalui mantra ini, seorang manusia diharapkan mampu menyadari betapa dirinya dikelilingi oleh berkat Tuhan.Melalui mantra ini umat juga disadarkan untuk menghargai alam di sekitarnya, karena alam ini tidaklah jauh berbeda dari seorang manusia.Alam di sekitar manusia juga merupakan buah dari manifestasi Tuhan.

3.2.1.3 Mantra Vertikal Ketiga “Manusia Sebagai Dewa”

Mantra vertikal ketiga adalah mantra yang menggambarkan rasa syukur seorang manusia atas diberikannya kehidupan/roh oleh Tuhan.Karena masyarakat Hindu Jawa mempercayai bahwa roh manusia adalah salah satu manifestasi Tuhan / dewa yang paling sempurna. Dalam mantra ini manifestasi Tuhan yang berbentuk roh manusia disebutkan sebagai dewa kang linuwih, dalam Bahasa Indonesia dewa kang linuwih dapat diterjemahkan sebagai dewa yang paling unggul. Manusia disebut sebagai dewa kang linuwih karena keberadaan seorang manusia merupakan akumulasi dari keberadaan berbagai berkat Tuhan/Dewa. Dalam membaca mantra ini kedua telapak tangan umat disatukan di depan dada.

(30)

(a) Hong

(b) Sukma sejati dewa kang linuwih

(c) Hinggih Sang Guru Sejati

(62)

(e) Haparing tuntunan dhumateng pepadhang saha keslametan

Sama seperti mantra pada rangkaian mantra kedalaman lainnya, mantra pembuka dalam rangkaian mantra vertikal ketiga dibuka dengan kata Hong,

seperti pada mantra (30a).Kata Hong adalah sebuah kata referensial karena kata

Hong memiliki referen yang mengacu pada suatu situasi yang kosong, hening, tetapi penuh dengan isi.Yang dimaksud dengan kosong tetapi penuh isi adalah situasi batin seseorang ketika tengah bermeditasi.Penggunaan kata Hong di awal juga berfungsi sebagai pengantar bagi umat untuk mencapai tahap kosong yang penuh isi tersebut.

Baris kedua (30b) dalam mantra vertikal terakhir adalah sukma sejati dewa kang linuwih yang dapat diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “sukma sejati dewa yang paling utama”.Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada roh manusia yang disebut sebagai sukma sejati yang memang dianggap sebagai sebuah manifestasi Tuhan yang paling sempurna.Pada baris kedua (30c), dituliskan hinggih Sang Guru Sejati.Frasa ini dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “Yaitu guru sejati”.Frasa Sang Guru Sejati memiliki referen wujud roh manusia yang telah menemukan kesucian diri maupun keseimbangan antara duniawi dan surgawi yang mengacu pada baris sebelumnya (30b). Secara keseluruhan baris (30b) dan (30c) berarti suksma sejati adalah sungguh-sungguh dewa yang paling utama ketika sebuah suksma sejati telah menemukan keseimbangan dan mencapai titik pertemuan dengan Sang Guru Sejati.

(63)

(30e). Pada baris (30d) dituliskan dados warananing Sang Hyang Widhi, yang dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “menjadi sarana Tuhan Yang Maha Esa”. Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada sosok suksma sejati yang telah menemukan Sang Guru Sejati (seperti yang dijelaskan pada baris sebelumnya) sehingga dapat menjadi sarana dari Tuhan.Sedangkan pada baris (30e) dituliskan haparing tuntunan dhumateng pepadhang saha keslametan yang dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “menjadi tuntunan kepada cahaya dan keselamatan”. Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada baris-baris sebelumnya, sehingga karena menjadi sarana Tuhan Yang Maha Esa,

suksma sejati dewa kang linuwih yang telah menemukan Sang Guru Sejati dapat menjadi tuntunan kepada jalan hidup yang lebih baik.

(64)

3.2.2 Mantra Horizontal

Dengan alasan dan tujuan yang sama dengan kumpulan mantra vertikal, mantra horizontal terdiri dari tiga mantra. Ketiga mantra yang dianggap sebagai bagian dari kelompok mantra horizontal masih tetap mewakili tiga dunia, yaitu Tuhan, alam, dan diri sendiri.Meskipun masih menggunakan konsep tiga dunia tersebut, pada kelompok mantra horizontal ditemukan perbedaan mendasar yang membedakan kelompok mantra ini dengan kelompok mantra vertikal.Perbedaan tersebut dapat ditemukan pada mantra ketiga dalam kelompok mantra horizontal. Mantra ketiga yang seharusnya memiliki tema tentang mikrokosmos / diri sendiri digantikan dengan mantra yang sifatnya merangkum ketiga dunia secara sekaligus dengan tujuan untuk menjelaskan proses penciptaan makhluk hidup. Sedangkan mantra yang bertema mikrokosmos / diri sendiri berada pada mantra kedua.Dengan begitu mantra horizontal pertama dapat dimengerti sebagai mantra yang secara khusus mengacu pada rasa syukur dan harapan seorang manusia untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi dari Tuhan. Mantra horizontal kedua adalah mantra yang menjabarkan proses terciptanya seorang manusia dengan beragam unsur-unsur spiritual yang terdapat di dalam diri seorang manusia. Mantra ketiga adalah mantra yang merangkum ketiga dunia (jagad pepadhang, jagad ageng, jagad alit) sesuai dengan urutan penciptaan makhluk hidup di dunia.

3.2.2.1 Mantra Horizontal Pertama “Manifestasi Tuhan Pada Manusia”

(65)

pada Tuhan yang telah memberikan berkat melalui manifestasi-manifestasinya pada alam yang kemudian dapat dinikmati oleh manusia, maka mantra horizontal pertama mengekspresikan rasa syukur pada Tuhan karena telah memberikan berkat-berkat duniawi melalui kebesarannya, yang kemudian dapat dinikmati manusia secukupnya. Mantra horizontal pertama menjadi sangat penting karena melalui beragam berkat duniawi yang telah diberikan Tuhan untuk mencukupi kebutuhan duniawi, kemudian timbul berbagai macam godaan dan cobaan dalam hidup. Besarnya godaan dan cobaan dalam proses penerimaan kenikmatan duniawi yang diberikan Tuhan sepertinya sangat dipahami oleh penulis mantra, sehingga hal ini sangat ditekankan pada akhir mantra. Dalam membaca mantra ini, kedua tangan berada di depan kening memegang bunga warna putih.

(31)

(a) Hong

(b) Kang maha suci

(c) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(d) Haparing daya suci

(e) Kang maha mulya

(f) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(g) Haparing kamulyan

(h) Kang maha agung

(i) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(j) Haparing cekap tirah hing kabegjan

(k) Kang maha purba

(66)

(m) Haparing handarbeni hing kadonyan

(n) Kang maha kuasa

(o) Kuasaning Sang Hyang Widhi

(p) Haparing kalenggahan kuasa hangatur hing kadonyan

(q) Kuasa kuasaning kuasa

(r) Isih kuasa Kang Maha Kuasa

(s) Gilang gumilang tan hana pindane

(t) Sang Hyang Widhi yen ngendika hakarana warana

Sama seperti mantra pada rangkaian mantra kedalaman lainnya, mantra pembuka dalam rangkaian mantra horizontal pertama dibuka dengan kata Hong,

seperti pada mantra (31a).Kata Hong adalah sebuah kata referensial karena kata

Hong memiliki referen yang mengacu pada suatu situasi yang kosong, hening, tetapi penuh dengan isi.Yang dimaksud dengan kosong tetapi penuh isi adalah situasi batin seseorang ketika tengah bermeditasi.Penggunaan kata Hong di awal juga berfungsi sebagai pengantar bagi umat untuk mencapai tahap kosong yang penuh isi tersebut.

(67)

dengan kesucian.Kuasa Tuhan sebagai sosok yang maha suci kemudian di jelaskan pada baris (31d).Pada baris ini dijelaskan wujud nyata di dunia dari kuasa Tuhan sebagai sosok yang maha suci yang haparing daya suci.Baris (31d) dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “memberikan kekuatan kesucian”.Paragraf pertama dari mantra horizontal pertama dapat dimengerti sebagai berkat Tuhan yang diberikan di dunia sebagai sosok yang maha suci.Berkat yang diberikan ini adalah kekuatan kesucian.

Pada baris (31e) mantra horizontal pertama, dituliskan wujud Tuhan yang kedua, yaitu wujud yang kang maha mulya.Baris (31e) dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “yang maha mulia”.Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada wujud Tuhan sebagai sosok yang maha mulia. Sosok Tuhan kemudian ditekankan pada baris (31f), Kuasaning Sang Hyang Widhi.Frasa ini memiliki referen yang mengacu pada wujud Tuhan sebagai sosok yang yang maha muliayang kemudian memiliki kuasa pada beragam hal yang berhubungan dengan kemuliaan.Kuasa Tuhan sebagai sosok yang maha mulia kemudian di jelaskan pada baris (31g).Pada baris ini dijelaskan wujud nyata di dunia dari kuasa Tuhan sebagai sosok yang maha mulia yang haparing kamulyan.Baris (31g) dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “memberikan kemuliaan”.Paragraf kedua dari mantra horizontal pertama dapat dimengerti sebagai berkat Tuhan yang diberikan di dunia sebagai sosok yang maha mulia.Berkat yang diberikan ini adalah kekuatan kemuliaan.

Gambar

Tabel 23. Fungsi Edukatif Mantra “Rangkuman Rangkaian Mantra.............................
Tabel l. Contoh Mantra
Tabel 2. Contoh Mantra
Tabel 3. Gaya Bahasa Mantra “Penjabaran Unsur Diri”
+7

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang berjudul Mantra Pengobatan Di Desa Gantang Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang (Kajian Struktur dan Fungsi) ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosesi Kesenian Kuda Lumping, bagaimana rima yang terdapat dalam mantra Kuda Lumping, dan bagaimana makna kesenian Kuda

Analisis makna mantra Selusuh masyarakat Melayu Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang dengan menggunakan pembacaan heuristik menghasilkan keanekaragaman yang tidak

b) Mantra sebagai fungsi pendidikan, misalnya mantra yang berisi permohonan kepada Tuhan dan mantra untuk tumbuh-tumbuhan. Mantra tersebut memberikan pendidikan

Berdasarkan analisis data dengan pendekatanstruktural yang dilakukan terhadap mantra Suku Dayak Salako di Desa Bagak Sahwa Kecamatan Singkawang Timur, maka peneliti dapat

Analisis makna mantra Selusuh masyarakat Melayu Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang dengan menggunakan pembacaan heuristik menghasilkan keanekaragaman yang tidak

Skripsi yang berjudul Mantra Pengobatan Di Desa Gantang Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang (Kajian Struktur dan Fungsi) ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan

Mantra dalam kaji mudo di Kanagarian Koto Ranah Bayang Utara Kabupaten Pesisir Selatan memiliki tiga fungsi yaitu: (1) sebagai pamanih, mantra tersebut merupakan