• Tidak ada hasil yang ditemukan

WALI KOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALI KOTA BATU NOMOR 114 TAHUN 2021 TENTANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "WALI KOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALI KOTA BATU NOMOR 114 TAHUN 2021 TENTANG"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

WALI KOTA BATU

PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALI KOTA BATU

NOMOR 114 TAHUN 2021

TENTANG

KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERTANIAN

DAN KETAHANAN PANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA BATU,

Menimbang : a. bahwa sehubungan dengan Implementasi Program Prioritas Nasional Penyederhanaan Birokrasi, perlu melakukan perubahan terhadap nomenklatur, uraian tugas dan fungsi pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan;

b. bahwa Peraturan Wali Kota Batu Nomor 114 Tahun 2020 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan tidak sesuai dengan perkembangan peraturan perundang- undangan, sehingga perlu dicabut;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Wali Kota tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi, serta Tata Kerja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4118);

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

SALINAN

(2)

Halaman 2 dari 22 hlm…

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5697);

4. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5601);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 187, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6402);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6041);

7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pedoman Nomenklatur Perangkat Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota yang melaksanakan Fungsi Penunjang Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan;

8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 90 Tahun 2019 tentang Klasifikasi, Kodefikasi, dan Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 17 Tahun 2021 Tentang Penyetaraan Jabatan Administrasi Ke Dalam Jabatan Fungsional;

(3)

Halaman 3 dari 22 hlm…

10. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2021 tentang Penyederhanaan Struktur Organisasi pada Instansi Pemerintah untuk Penyederhanaan Birokrasi;

11. Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN WALI KOTA TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS PERTANIAN DAN KETAHANAN PANGAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Wali Kota ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Daerah Kota Batu.

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Batu.

3. Wali Kota adalah Wali Kota Batu.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Batu sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

5. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas- luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

6. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu kepala daerah dan DPRD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

7. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Batu.

8. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kota Batu.

9. Dinas adalah Dinas Pertanian dan Ketahanan

(4)

Halaman 4 dari 22 hlm…

Pangan Kota Batu.

10. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu.

11. Unit Pelaksana Teknis Dinas yang selanjutnya disingkat UPTD Dinas adalah unsur pelaksana kegiatan teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang Dinas.

12. Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu.

13. Tanaman meliputi tanaman hortikultura, tanaman pangan, dan tanaman perkebunan.

14. Tanaman Hortikultura meliputi jenis tanaman sayur, tanaman buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman obat-obatan atau biofarmaka.

15. Tanaman Pangan meliputi semua macam tanaman atau jenis tanaman padi, jagung, palawija, dan segala macam aspeknya.

16. Tanaman Perkebunan adalah tanaman semusim atau tanaman tahunan yang jenis dan tujuan pengelolaannya ditetapkan untuk usaha Perkebunan.

17. Perlindungan Tanaman adalah segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan/tanaman.

18. Perkebunan adalah usaha pertanian yang berbasis komoditi ekspor dan bahan baku industri.

19. Perkebunan Rakyat adalah perkebunan yang dikelola oleh rakyat dan berskala kecil dengan pola sederhana.

20. Usaha Tani Perkebunan adalah usaha berproduksi dengan jenis tanaman perkebunan yang ditunjuk untuk keperluan pasar yang dilaksanakan oleh petani.

21. Sarana adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai maksud dan tujuan dari proses produksi pertanian, seperti alat-alat, dan mesin pertanian, bibit, pupuk, dan lain sebagainya.

22. Prasarana adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai maksud dan tujuan dari proses produksi pertanian, seperti bangunan gedung, jalan usaha tani, irigasi, dan lain sebagainya.

23. Ternak adalah hewan piaraan yang hidup, tempat, dan perkembangbiakan, serta pemanfaatannya diatur dan dikelola oleh manusia yang secara khusus juga dapat digunakan sebagai bahan/jasa yang bermanfaat bagi kepentingan hidup manusia.

24. Peternak adalah badan hukum dan/atau orang

(5)

Halaman 5 dari 22 hlm…

yang mata pencahariannya sebagian atau seluruhnya bersumber dari peternakan.

25. Peternakan adalah pengusahaan ternak.

26. Penyakit Hewan adalah segala penyakit yang membahayakan karena dapat menjalar dari hewan ke hewan atau pada manusia dan disebabkan oleh virus, bakteri, cacing, protozoa, dan parasit.

27. Kesehatan Masyarakat Veteriner yang selanjutnya disebut Kesmavet adalah segala urusan yang berhubungan dengan hewan atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.

28. Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan.

29. Penyuluhan adalah suatu usaha untuk mengubah pola pikir atau perilaku petani agar mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya.

30. Kelembagaan Petani adalah lembaga yang tumbuh kembang dari, oleh, dan untuk petani yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kondisi lingkungan sosial, ekonomi, sumberdaya, dan kesamaan komoditas untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota yang disebut Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, dan kelembagaan petani lainnya.

31. Ketenagaan adalah penyelenggaraan pekerjaan dalam rangka penataan, pembinaan, pengembangan sumberdaya manusia, dan peningkatan kapasitas penyuluh.

32. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

33. Pangan Pokok adalah Pangan yang diperuntukkan sebagai makanan utama sehari-hari sesuai dengan potensi sumber daya dan kearifan lokal.

34. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta

(6)

Halaman 6 dari 22 hlm…

tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

35. Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal.

36. Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi Pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan Pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.

37. Penganekaragaman Pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi Pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

38. Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

39. Cadangan Pangan Pemerintah adalah persediaan Pangan yang dikuasai dan dikelola oleh Pemerintah.

40. Organisasi adalah penyusunan dan pengaturan berbagai bagian, sehingga semuanya menjadi kesatuan yang teratur.

41. Tata Kerja adalah segala sesuatu mengenai pengurusan dan pelaksanaan kegiatan suatu organisasi.

42. Kewenangan adalah hak dan kewajiban untuk menentukan atau mengambil kebijakan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan.

BAB II

KEDUDUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI Pasal 2

(1) Dinas merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan di bidang pertanian, perikanan, dan pangan.

(7)

Halaman 7 dari 22 hlm…

(2) Dinas dipimpin oleh Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Wali Kota melalui Sekretaris Daerah.

(3) Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas membantu Wali Kota melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah di bidang pertanian, perikanan, dan pangan.

(4) Dinas dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. perumusan kebijakan teknis di bidang pertanian, perikanan, dan pangan;

b. perumusan rencana strategis sesuai dengan Visi dan Misi Wali Kota;

c. penetapan rencana kerja dan anggaran di bidang pertanian, perikanan, dan pangan;

d. pelaksanaan kebijakan di bidang pertanian, perikanan dan pangan;

e. penyelenggaraan pembinaan sumber daya manusia aparatur Dinas;

f. penyelenggaraan administrasi Dinas;

g. penyelenggaraan monitoring dan evaluasi program dan kegiatan bidang pertanian, perikanan, dan pangan;

h. penyelenggaraan laporan pelaksanaan program dan kegiatan Dinas; dan

i. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Wali Kota sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

Pasal 3

(1) Susunan Organisasi Dinas terdiri atas:

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat membawahi:

1. Sub Bagian Keuangan, Umum, dan Kepegawaian; dan

2. Kelompok Jabatan Fungsional,

c. Bidang Prasarana Pertanian terdiri atas kelompok jabatan fungsional.

d. Bidang Pertanian terdiri atas kelompok jabatan fungsional.

e. Bidang Peternakan dan Perikanan terdiri atas kelompok jabatan fungsional.

f. Bidang Penyuluhan Pertanian terdiri atas kelompok jabatan fungsional.

g. Bidang Ketahanan Pangan terdiri atas kelompok jabatan fungsional.

h. UPTD; dan

i. Kelompok Jabatan Fungsional.

(8)

Halaman 8 dari 22 hlm…

(2) Sekretariat dipimpin oleh Sekretaris yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.

(3) Masing-masing Bidang dipimpin oleh Kepala Bidang yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.

(4) Masing-masing Sub Bagian dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris.

(5) Hubungan tata kerja antara Kepala Dinas dengan bawahan atau sebaliknya secara administratif dilakukan melalui Sekretaris.

(6) Bagan Struktur Organisasi Dinas sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Wali Kota ini.

BAB III

URAIAN TUGAS DAN FUNGSI

Bagian Kesatu Sekretariat

Pasal 4

(1) Sekretariat mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan, koordinasi, dan sinkronisasi, serta mengendalikan kegiatan administrasi umum, kepegawaian, perlengkapan, penyusunan program, dan keuangan.

(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretariat menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. perumusan kebijakan rencana program kegiatan dan anggaran dinas;

b. pengelolaan dan pelayanan administrasi umum;

c. pengoordinasian dan fasilitasi pengelolaan administrasi kepegawaian;

d. pengoordinasian dan fasilitasi pengembangan kompetensi dan kapasitas kepegawaian;

e. pengelolaan administrasi aset;

f. pengelolaan urusan rumah tangga;

g. pengelolaan pelayanan, hubungan masyarakat, dan publikasi;

h. pelaksanaan koordinasi dan pengelolaan data;

i. pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi penyusunan rencana strategis;

j. pelaksanaan koordinasi penyusunan program, anggaran, dan perundang-undangan;

(9)

Halaman 9 dari 22 hlm…

k. pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan pelaksanaan program dan kegiatan;

l. pengelolaan kearsipan Dinas;

m. pelaksanaan monitoring dan evaluasi organisasi dan tata laksana;

n. pengelolaan administrasi keuangan; dan

o. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

Pasal 5

Sub Bagian Keuangan, Umum, dan Kepegawaian mempunyai tugas sebagai berikut:

a. menyusun rencana kegiatan Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

b. menyiapkan bahan perumusan kebijakan Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

c. menyiapkan bahan penyusunan program Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

d. menyusun rencana kerja dan anggaran Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

e. menyiapkan bahan penyusunan standar operasional prosedur Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

f. melaksanakan penerimaan, pendistribusian, dan pengiriman surat;

g. melaksanakan koordinasi penggandaan naskah dinas;

h. melaksanakan koordinasi mengelola kearsipan Dinas;

i. menyelenggarakan urusan rumah tangga dan keprotokolan;

j. menyiapkan bahan kebijakan koordinasi pelaksanaan hubungan masyarakat, publikasi, dan dokumentasi;

k. melaksanakan koordinasi penyusunan kebutuhan dan pengelolaan perlengkapan, pengadaan dan perawatan peralatan kantor, serta pengamanan;

l. melaksanakan koordinasi dan fasilitasi pengelolaan aset;

m. menyiapkan kebijakan pengelolaan administrasi kepegawaian;

n. melaksanakan koordinasi dan fasilitasi seluruh rencana kebutuhan kepegawaian mulai dari penempatan pegawai sesuai formasi;

o. menyelenggarakan administrasi kepegawaian

(10)

Halaman 10 dari 22 hlm…

lainnya;

p. melaksanakan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan program dan kegiatan Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; dan

q. melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

Bagian Kedua

Bidang Prasarana Pertanian Pasal 6

(1) Bidang Prasarana Pertanian mempunyai tugas merencanakan, merumuskan, mengoordinasikan, melaksanakan program, serta mengendalikan kegiatan di bidang lahan pertanian, irigasi pertanian, dan bangunan pertanian.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Prasarana Pertanian menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. perencanaan program bidang prasarana pertanian;

b. Perumusan kebijakan bidang lahan pertanian, irigasi pertanian, dan bangunan pertanian;

c. pengoordinasian kebijakan program bidang prasarana pertanian;

d. pembinaan bidang lahan pertanian, irigasi pertanian, dan bangunan pertanian;

e. pengendalian data informasi bidang lahan pertanian, irigasi pertanian, dan bangunan pertanian;

f. penyusunan standar operasional prosedur dibidang lahan pertanian, irigasi pertanian, dan bangunan pertanian;

g. pengoordinasian kebijakan program bidang prasarana pertanian;

h. pembinaan program lahan, irigasi, dan bangunan pertanian;

i. pengembangan potensi dan pengelolaan lahan, irigasi, dan bangunan pertanian;

j. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan lahan, irigasi, dan bangunan pertanian;

k. penyediaan dukungan infrastruktur pertanian sektor lahan, irigasi, dan bangunan pertanian;

(11)

Halaman 11 dari 22 hlm…

l. pengendalian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan lahan, irigasi, dan bangunan pertanian;

m. pengendalian pengelolaan kawasan pertanian pangan berkelanjutan (KP2B), lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B), dan lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan (LCP2B);

n. pengendalian data informasi di bidang lahan pertanian, irigasi pertanian dan bangunan pertanian;

o. pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan program dan kegiatan bidang informasi dan komunikasi publik; dan

p. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

Bagian Ketiga Bidang Pertanian

Pasal 7

(1) Bidang Pertanian mempunyai tugas merencanakan, merumuskan, mengoordinasikan, melaksanakan program, serta mengendalikan kegiatan bidang alat, mesin, perizinan pertanian, bina produksi pertanian, dan perlindungan pertanian.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Pertanian menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. perencanaan program bidang pertanian;

b. perumusan kebijakan bidang alat, mesin, dan perizinan pertanian, bina produksi pertanian, dan perlindungan pertanian;

c. pengoordinasian kebijakan program bidang Pertanian;

d. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan bidang alat, mesin, dan perizinan pertanian, bina produksi pertanian, dan perlindungan pertanian;

e. perumusan rekomendasi perizinan usaha pertanian;

f. pembinaan bidang alat dan mesin pertanian, bina produksi tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura, dan perlindungan serta perizinan pertanian;

(12)

Halaman 12 dari 22 hlm…

g. pengembangan potensi dan pengelolaan alat dan mesin pertanian, bina produksi tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura, dan perlindungan serta perizinan pertanian termasuk pembiayaan/investasi pertanian;

h. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan alat dan mesin pertanian dan peternakan dari hulu hingga hilir (pra tanam/pembibitan hingga pengolahan pemasaran);

i. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan bina produksi pertanian yang mencakup sektor pupuk, pestisida, benih/bibit, teknik budidaya, teknologi pasca panen, dan pemasaran pertanian;

j. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan perlindungan serta perizinan pertanian yang mencakup penanggulangan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), bencana alam, dampak perubahan iklim di bidang pertanian, verifikasi rekomendasi izin usaha pertanian, dan pembiayaan/investasi pertanian;

k. pelaksanaan koordinasi pengawasan mutu atas peredaran alat mesin pertanian, pupuk, pestisida, dan benih/bibit pertanian;

l. pelaksanaan koordinasi pengawasan atas penerapan budidaya, pasca panen, pemasaran, pengendalian dan penanggulangan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), rekomendasi teknis izin usaha pertanian, dan pembiayaan/investasi pertanian;

m. pelaksanaan koordinasi pemberdayaan kelompok pertanian;

n. pelaksanaan fasilitasi pembinaan sektor alat dan mesin pertanian, bina produksi pertanian yang mencakup tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura, serta sektor perlindungan perizinan perizinan pertanian termasuk pembiayaan/investasi pertanian;

o. pengendalian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan alat dan mesin, bina produksi, dan perlindungan serta perizinan pertanian;

p. pengendalian data informasi di bidang pertanian;

(13)

Halaman 13 dari 22 hlm…

q. pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan program dan kegiatan bidang pertanian; dan

r. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

Bagian Keempat

Bidang Peternakan dan Perikanan Pasal 8

(1) Bidang Peternakan dan Perikanan mempunyai tugas merencanakan, merumuskan, mengoordinasikan, melaksanakan program, serta mengendalikan kegiatan di bidang bina produksi peternakan, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner, serta bina produksi perikanan.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Peternakan dan Perikanan menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. perencanaan program bidang peternakan dan perikanan;

b. perumusan kebijakan bidang peternakan dan perikanan;

c. pengoordinasian kebijakan program bidang peternakan dan perikanan;

d. pembinaan bidang peternakan dan perikanan;

e. penyusunan standar operasional prosedur di bidang peternakan dan perikanan;

f. pengendalian data dan informasi di bidang peternakan dan perikanan;

g. pengembangan potensi dan pengelolaan peternakan dan perikanan;

h. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan peternakan dan perikanan;

i. pengoordinasian pelaksanaan kebijakan di bidang peternakan, perikanan, dan kesehatan hewan;

j. pelaksanaan perencanaan kebutuhan dan penyediaan benih/bibit ternak, penyediaan benih/bibit ikan, pakan ternak, pakan ikan, dan benih/bibit hijauan pakan ternak;

k. pelaksanaan pembinaan peningkatan produksi

(14)

Halaman 14 dari 22 hlm…

peternakan dan perikanan termasuk penerapan teknologi dan kelembagaannya;

l. pengendalian penyakit hewan/ikan dan kesehatan masyarakat veteriner;

m. pelaksanaan koordinasi penetapan persyaratan teknis kesehatan hewan dan penerbitan keterangan kesehatan hewan;

n. pelaksanaan pengawasan termasuk analisa resiko pemasukan dan pengeluaran hewan dan produk hewan;

o. pelaksanaan pemberian fasilitasi unit pelayanan kesehatan hewan dan rumah potong hewan;

p. pelaksanaan koordinasi pengawasan mutu dan peredaran obat dan pakan ternak;

q. pelaksanaan koordinasi pengawasan pemasukan dan pengeluaran hewan serta produk hewan;

r. pelaksanaan koordinasi penanggulangan, penutupan dan pembukaan daerah wabah penyakit hewan menular;

s. pelaksanaan sertifikasi persyaratan teknis dan kesejahteraan hewan;

t. pelaksanaan koordinasi pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan hewan;

u. pelaksanaan koordinasi penilaian penerapan penangan limbah dampak, hygiene, dan sanitasi usaha produk hewan;

v. pelaksanaan verifikasi permohonan izin usaha peternakan dan perikanan termasuk pengawasannya;

w. pelaksanaan fasilitasi izin usaha/rekomendasi di bidang peternakan, perikanan, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner;

x. pengoordinasian pelaksanaan pengawasan produksi, mutu, dan pakan peternakan perikanan;

y. pengoordinasian pemberdayaan kelompok peternakan dan perikanan;

z. pengoordinasian pelaksanaan pengembangan dan pengawasan tata niaga hasil peternakan dan perikanan;

aa. pengoordinasian pengembangan unit pengolahan hasil perikanan;

bb. pengoordinasian pengembangan unit pengolahan hasil peternakan yang sesuai standar kesehatan masyarakat veteriner;

cc. pengoordinasian pelayanan dan pengembangan

(15)

Halaman 15 dari 22 hlm…

informasi pasar di bidang peternakan, perikanan, dan kesehatan hewan;

dd. pelaksanaa pemberian fasilitasi promosi produk di bidang peternakan, perikanan, dan kesehatan hewan;

ee. pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan program dan kegiatan bidang peternakan dan perikanan; dan

ff. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

Bagian Kelima

Bidang Penyuluhan Pertanian Pasal 9

(1) Bidang Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas merencanakan, merumuskan, mengoordinasikan, melaksanakan program, serta mengendalikan kegiatan di bidang kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian.

(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Penyuluhan Pertanian menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. perencanaan program bidang penyuluhan pertanian;

b. perumusan kebijakan teknis bidang kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian;

c. perumusan rencana kerja dan anggaran bidang kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian;

d. penyusunan standar operasional prosedur bidang kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian;

e. pengoordinasian kebijakan program bidang kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian;

f. pembinaan program kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana prasarana penyuluhan pertanian;

g. pelaksanaan pengembangan potensi dan pengelolaan kelembagaan pertanian, ketenagaan

(16)

Halaman 16 dari 22 hlm…

pertanian, dan sarana prasarana penyuluhan pertanian;

h. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan pengembangan potensi dan pengelolaan kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana prasarana penyuluhan pertanian;

i. pengoordinasian pelaksanaan pemberdayaan kelompok pertanian, peternakan, dan perikanan;

j. pembinaan pengembangan kapasitas kelembagaan pertanian yang mencakup kelembagaan petani dan penyuluhan pertanian dengan mewadahi forum masyarakat bagi pelaku utama dan pelaku usaha serta forum penyuluhan;

k. pembinaan peningkatan kapasitas penyuluh Pegawai Negeri Sipil, swadaya, dan swasta;

l. pembinaan peningkatan kapasitas petani melalui pengembangan sekolah lapang pertanian;

m. pembinaan pengembangan teknologi metode penyuluhan pertanian dan pengelolaan informasi pertanian yang mendukung penyuluhan;

n. pelaksanaan penyediaan sarana pengembangan demplot pertanian;

o. pelaksanaan pengelolaan pengembangan demplot pertanian sebagai prasarana penyuluhan;

p. pengendalian dan pengawasan pelaksanaan kegiatan kelembagaan pertanian, ketenagaan pertanian, dan sarana prasarana penyuluhan pertanian;

q. pengendalian data informasi di bidang penyuluhan pertanian;

r. pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan program dan kegiatan bidang penyuluhan pertanian; dan s. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh

Kepala Dinas sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

Bagian Keenam

Bidang Ketahanan Pangan Pasal 10

(1) Bidang Ketahanan Pangan mempunyai tugas merencanakan, merumuskan, mengoordinasikan, melaksanakan program, serta mengendalikan kegiatan di bidang ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, konsumsi dan keamanan pangan.

(2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Ketahanan

(17)

Halaman 17 dari 22 hlm…

Pangan mempunyai fungsi sebagai berikut:

a. perencanaan program bidang ketahanan pangan;

b. perumusan kebijakan teknis bidang ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, konsumsi dan keamanan pangan;

c. perumusan rencana kerja dan anggaran bidang ketahanan pangan;

d. penyusunan standar operasional prosedur bidang ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, konsumsi dan keamanan pangan;

e. pengoordinasian kebijakan program bidang ketahanan pangan;

f. pembinaan program ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan;

g. pelaksanaan pengembangan potensi dan pengelolaan ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan;

h. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan;

i. pengoordinasian pelaksanaan pemberdayaan kelompok pangan, pertanian, dan peternakan;

j. pembinaan pengembangan kapasitas ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan;

k. pembinaan pengolahan pertanian dan peternakan dalam rangka perwujudan diversifikasi pangan termasuk kelembagaannya;

l. pelaksanaan fasilitasi urusan ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan;

m. penyiapan bahan pengelolaan pengembangan ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan;

n. pengendalian dan pengawasan pelaksanaan kegiatan ketersediaan dan kerawanan pangan, distribusi dan cadangan pangan, serta konsumsi dan keamanan pangan;

o. pengendalian data informasi di bidang ketahanan pangan;

p. pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan program dan kegiatan bidang ketahanan pangan; dan

(18)

Halaman 18 dari 22 hlm…

q. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya.

BAB IV

UNIT PELAKSANA TEKNIS Pasal 11

(1) UPTD adalah unsur pelaksana teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang tertentu.

(2) UPTD dipimpin oleh seorang Kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas.

Pasal 12

Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah, nomenklatur, susunan organisasi, uraian tugas, dan fungsi UPTD diatur dengan Peraturan Wali Kota.

BAB V

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL Pasal 13

(1) Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b angka 2, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f dan huruf g terdiri atas sejumlah tenaga fungsional yang terbagi dalam kelompok jabatan fungsional sesuai dengan bidang keahliannya.

(2) Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh subkoordinator pelaksana fungsi pelayanan fungsional sesuai dengan ruang lingkup bidang tugas dan fungsi jabatan pimpinan tinggi pratama

(3) Subkoordinator sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melaksanakan tugas membantu Pejabat Administrator dalam penyusunan rencana, pelaksanaan dan pengendalian, pemantauan dan evaluasi, serta pelaporan pada satu kelompok substansi pada masing-masing pengelompokan uraian fungsi.

(4) Subkoordinator sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atas usulan Kepala Dinas.

(19)

Halaman 19 dari 22 hlm…

(5) Ketentuan mengenai pembagian tugas subkoordinator sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh Wali Kota.

(6) Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf i terdiri atas sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu.

(7) Jenis, jenjang, dan jumlah jabatan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditetapkan oleh Wali Kota berdasarkan kebutuhan dan beban kerja dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VI TATA KERJA

Pasal 14

(1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub Bagian, dan Kelompok Jabatan Fungsional wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi baik dalam lingkungan masing- masing maupun antar satuan organisasi di lingkungan Pemerintah Daerah, serta instansi lain di luar Pemerintah Daerah sesuai dengan lingkup tugas dan fungsinya masing-masing.

(2) Setiap pimpinan satuan organisasi wajib mengawasi bawahannya masing-masing dan bila terjadi penyimpangan agar mengambil langkah yang diperlukan.

(3) Setiap pimpinan satuan organisasi bertanggung jawab memimpin dan mengoordinasikan bawahan masing-masing dan memberikan bimbingan, serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahannya.

(4) Setiap pimpinan satuan organisasi wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk dan bertanggung jawab pada atasannya masing-masing serta menyampaikan laporan berkala tepat pada waktunya.

(5) Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan satuan organisasi dan bawahannya wajib diolah dan dipergunakan sebagai bahan untuk penyusunan laporan lebih lanjut dan untuk memberikan petunjuk kepada bawahannya.

(6) Dalam menyampaikan laporan masing-masing kepada atasan, tembusan laporan wajib

(20)

Halaman 20 dari 22 hlm…

disampaikan pula kepada satuan organisasi lain yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja.

BAB VII

PENGISIAN JABATAN Pasal 15

(1) Kepala Dinas diangkat dan diberhentikan oleh Wali Kota dari Aparatur Sipil Negara yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Perangkat Daerah diisi oleh pegawai Aparatur Sipil Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Pegawai Aparatur Sipil Negara yang menduduki jabatan pimpinan tinggi, jabatan administrator dan jabatan pengawas Perangkat Daerah wajib memenuhi persyaratan kompetensi:

a. teknis;

b. manajerial; dan c. sosial kultur.

(4) Selain memenuhi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pegawai Aparatur Sipil Negara yang menduduki jabatan Perangkat Daerah harus memenuhi kompetensi pemerintahan.

(5) Kompetensi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a diukur dari tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis yang dibuktikan dengan sertifikasi.

(6) Kompetensi manajerial sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman kepemimpinan.

(7) Kompetensi sosial kultur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c diukur dari pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan.

(8) Kompetensi pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) antara lain kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang terkait dengan kebijakan Desentralisasi, hubungan Pemerintah Pusat dengan daerah, pemerintahan umum, pengelolaan keuangan daerah, Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, hubungan Pemerintah Kota dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, serta etika pemerintahan.

(21)

Halaman 21 dari 22 hlm…

(9) Ketentuan mengenai persyaratan kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 16

Pada saat Peraturan Wali Kota ini mulai berlaku, Peraturan Wali Kota Batu Nomor 121 Tahun 2020 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Uraian Tugas dan Fungsi, Serta Tata Kerja Dinas Pertanian Kota Batu (Berita Daerah Kota Batu Tahun 2020 Nomor 121/D), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 17

Peraturan Wali Kota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan pelaksanaannya terhitung mulai tanggal 1 Januari Tahun 2022.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Wali Kota ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kota Batu.

Ditetapkan di Batu

pada tanggal 31 Desember 2021 WALI KOTA BATU,

ttd

DEWANTI RUMPOKO

Diundangkan di Batu

pada tanggal 31 Desember 2021 SEKRETARIS DAERAH KOTA BATU, ttd

ZADIM EFFISIENSI

BERITA DAERAH KOTA BATU TAHUN 2021 NOMOR 114/D

(22)

Referensi

Dokumen terkait

(1) Kepala Badan mempunyai tugas membantu Wali Kota dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya

(1) Kepala Dinas sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat (1) huruf a mempunyai tugas membantu Walikota melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dibidang

(1) Badan mempunyai tugas membantu Wali Kota dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dibidang kepegawaian, pendidikan

(1) Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah mempunyai tugas membantu Wali Kota dalam melaksanakan fungsi penunjang Urusan Pemerintahan dalam bidang

(1) Satuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, mempunyai tugas membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah di bidang

Disnaker sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 mempunyai tugas membantu Wali kota melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuan

(1) Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman mempunyai tugas membantu Wali Kota melaksanakan urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah di bidang Perumahan

Badan Pendapatan Daerah mempunyai tugas membantu Wali Kota dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan daerah di bidang pengelolaan pajak dan