• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemantauan Sirkulasi Virus Polio Tipe 2 pada Kasus AFP dan Cairan Limbah Sebelum dan Setelah Peralihan OPV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pemantauan Sirkulasi Virus Polio Tipe 2 pada Kasus AFP dan Cairan Limbah Sebelum dan Setelah Peralihan OPV"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Pemantauan Sirkulasi Virus...(Nike dkk)

29

Pemantauan Sirkulasi Virus Polio Tipe 2 pada Kasus AFP dan Cairan Limbah Sebelum dan Setelah Peralihan OPV

Nike Susanti*, Bambang Heriyanto, Herna

Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balitbangkes, Kemenkes RI

*Email : [email protected]

Abstract

Since the polio free eradication program launched the number of cases of poliomyelitis decreased to 99%.

Poliovirus type 2 has been eradicated globally on 20 September 2015.To avoid the emergence of cases of poliomyelitis caused polio vaccine virus type 2, in april 2015 the entire world has a commitment to remove of type 2 component of the oral polio vaccine by switching trivalent Oral polio Vaccine (tOPV) into bivalent Oral polioVaccine (bOPV) containing only types 1 and 3.Poliovirus type 2 should be monitored continuously to ensure this type of virus is no longercirculates through the examination of polio virus in AFP and environmental surveillance. Samples from AFP cases and sewage from sewage treatment system PD PAL Jaya taken in January to December 2016. Stool from AFP cases are cultured and identified using standard method by WHO.

Sewage samples were extracted using the method of two-phase separation media using a solution containing polyethylene glycol, Dextrak T40 and NaCl. Stool extract was inoculated in L20B and RD cell. The positive isolates of L20B cell differentiation then will be followed by examination intratypic differentiation (ITD) using realtime PCR method. A discordant result will be followed by sequencing examination The results show that polio virus type 2 and 1 are still present. Polio virus type 2 is not detected after Juli 2016. Polio virus type 2 circulating before april showed 1-4 nucleotide changed.From this study it can be concluded that the circulation of poliovirus type 2 is no longer found in stool from AFP cases and the environment in DKI Jakarta province after withdrawing poliovirus type 2 of vaccine.

Keywords: poliovirus type 2, environmental sewage, Acute Flaccid Paralysis

Abstrak

Sejak program eradikasi bebas polio diluncurkan terjadi penurunan jumlah kasus poliomielitis hingga 99%.

Virus polio tipe 2 sudah dieradikasi secara global tanggal 20 september 2015 dan untuk menghindari munculnya kasus poliomielitis yang disebabkan virus vaksin polio tipe 2 tersebut, maka diperlukan kebijakan baru immunisasi polio dengan menghilangkan komponen tipe 2 dari vaksin polio oral dengan pengalihan trivalent Oral Polio Vaccine (tOPV) menjadi bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV) yang hanya mengandung tipe 1 dan 3.

Virus polio tipe 2 harus dimonitor secara terus menerus untuk memastikan virus tipe ini tidak lagi bersirkulasi melalui pemeriksaan virus polio pada kasus AFP dan lingkungan. Sampel pada penelitian ini berasal dari kasus AFP seluruh Indonesia dan limbah lingkungan dari sistem pengolahan terpadu PD PAL Jaya di DKI Jakarta mulai bulan januari hingga desember 2016. Sampel tinja dari kasus AFP dikultur dan diidentifikasi menggunakan prosedur yang telah ditetapkan oleh WHO sedangkan sampel limbah lingkungan diekstraksi dengan menggunakan metoda dua fase pemisahan menggunakan larutan media yang mengandung Polyethilene glycol, Dextrak T40 dan NaCl. Ekstrak ditanam pada sel L20B dan RD. Identifikasi virus polio dilakukan dengan pemeriksaan intratipyc differentiation(ITD) menggunakan metode realtime PCR pada isolat positif dari sel L20B. Hasil ITD yang tidak sesuai maka akan dilanjutkan dengan pemeriksaan sekuensing. Hasil menunjukkan masih ditemukan virus polio tipe 2 dan tipe 1. Virus polio tipe 2 tidak terdeteksi setelah bulan Juli 2016.Virus polio tipe 2 mengalai mutasi 1-4 nukleotida. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sirkulasi virus polio tipe 2 sudah tidak ditemukan lagi di tinja dan di lingkungan provinsi DKI Jakarta setelah penghentian pemberian vaksin tipe2.

Kata kunci : virus polio tipe 2, limbah lingkungan, Acute Flaccid Paralysis

(2)

30 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol. 6.1. 2017: 29 - 37 (WHA)tahun 1988 untuk memulai

eradikasi polio, inisiasi eradikasi polio gobal mulai diterapkan. Resolusi spesifik untuk mencapai eradikasi secara global ditempuh melalui jalan penguatan dan perluasan program imunisasi. Sejak program ini dijalankan di seluruh dunia didapatkan penurunan temuan kasus polio sebesar 99 %. Temuan kasus polio di Indonesia menurun lebih dari 800 kasus pada tahun 1984 menjadi hanya 24 kasus pada tahun 1994. Sejak tahun 1995 Indonesia berkolaborasi dengan WHO untuk memulai surveilans acute flaccid paralysis (AFP), dimana setiap kasus lumpuh layuh akut pada anak usia kurang dari 15 tahun yang berpotensi disebabkan oleh virus polio diinvestigasi dan dilakukan pengambilan sampel untuk dipastikan kasus tersebut disebabkan oleh virus polio di laboratorium. Kasus AFP yang disebabkan oleh virus polio indigenous di Indonesia terakhir ditemukan pada tahun 1995 di Probolinggo Jawa Tengah. Kasus polio terakhir di South East Asia Region (SEAR) ditemukan di India pada 13 Januari 2011.

Indonesia sendiri dinyatakan bebas virus polio pada tanggal 27 Maret 2015.1-11

Saat ini virus polio liar tipe 2 sudah tidak ditemukan setelah oktober 1999 dan telah dinyatakan dieradikasi secara global sejak 20 September 2015.12-14 Penggunaan tOPV (trivalent Oral Polio Vaccine) sebagai imunisasi dasar polio dapat menyebabkan wabah lumpuh layuh yang diakibatkan virus polio dari vaksin yang mengalami mutasi dan bersifat neurovirulensi (Vaccine Derived Poliovirus). Lebih dari 90% kasus VDPV merupakan VDPV yang berasal dari virus polio tipe 2 yang bersirkulasi (cVDPV).

Sejak 2010 dilaporkan 4 negara yang masih ditemukan transmisi cVDPV lebih dari 6 bulan yaitu Pakistan, Afganistan, Chad dan Nigeria yang berpotensi

Untuk mengantisipasi timbulnya wabah lumpuh layuh (AFP) yang diakibatkan cVDPV tipe 2 maka virus polio tipe 2 harus dihilangkan dari vaksin polio dengan melakukan peralihan penggunaan tOPV sebagai imunisasi dasar polio menjadi bivalent OPV (bOPV) yang hanya mengandung virus polio tipe 1 dan 3. Untuk meningkatkan cakupan imunisasi polio tipe 2 sebelum peralihan tOPV ke bOPV pemerintah Indonesia melakukan Pekan Imunisasi Nasional pada tanggal 8- 15 Maret 2017 sebagai pengganti pemberiaan Inactivated Polio Vaccine (IPV).27-30 Tiga bulan setelah peralihan tOPV ke bOPV diharapkan tidak ditemukan lagi virus polio tipe 2 yang dikeluarkan melalui tinja dan bersirkulasi di lingkungan. Pemantauan sirkulasi virus polio tipe 2 dapat dilakukan melalui pemeriksaan tinja pada kasus AFP dan cairan limbah di lingkungan. Pemantauan musnahnya virus polio tipe 2 diperlukan untuk mendukung program eradikasi polio secara global. Selain itu pemeriksaan virus polio di lingkungan juga berfungsi sebagai penunjang surveilans AFP untuk mendeteksi virus polio yang bersirkulasi di

lingkungan dan membantu

mengidentifikasi virus polio liar di daerah endemis walaupun tidak ditemukan kasus kelumpuhan.31-36

Penelitian pemantauan sirkulasi virus polio pada kasus AFP dan di lingkungan dilakukan pada Januari sampai dengan Desember 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya sirkulasi virus polio tipe 2 dan mengetahui karakteristik virus polio yang bersirkulasi serta untuk memastikan musnahnya virus polio tipe 2 setelah kebijakan peralihan tOPV menjadi bOPV pada bulan April 2016.

Metode

Sampel AFP berupa tinja berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang diterima di laboratorium bulan Januari

(3)

Pemantauan Sirkulasi Virus...(Nike dkk)

31 hingga Desember tahun 2016. Sampel

cairan limbah diambildi bagian inlet PD PAL Jaya yang merupakan tempat penampungan dan pengolahan limbah rumah tangga terpadu yang berasal dari pembuangan rumah tangga. Limbah di PD PAL Jaya berasal dari buangan rumah tangga di daerah Jakarta Selatan dan limbah yang berasal dari penampungan tinja di perumahan atau gedung di provinsi DKI Jakarta. Cairan limbah diambil dengan frekuensi dua kali dalam sebulan selama bulan Januari hingga desember 2016. Sebanyak satu liter limbah diambil di bagian inlet pengolahan limbah dengan menggunakan teknik grab. Sampel dikirim ke laboratorium dengan kondisi dingin dan diperiksa dalam waktu 24 jam.

Sampel tinja dari kasus AFP di ekstraksi, dikultur dan diidentifikasi mengikuti panduan laboratorium Polio yang dikeluarkan oleh WHO.2Sampel cairan limbah diekstraksi menggunakan metoda 2 fase pemisahan dengan mencampurkan 500 ml cairan limbah dengan larutan PEG, Dextran dan NaCl.

Campuran sampel dan reagen diaduk dengan sempurna pada suhu 2-8oC dan dibiarkan selama satu malam dalam labu ukur dengan kondisi vertikal. Lapisan paling bawah dan tengah (upperphase dan interphase) dikumpulkan dan ditambahkan kloroform dan glass beads kemudian diaduk dengan sempurna selama 20 menit lalu disentrifus dengan kecepatan 1000 g selama 20 menit. Supernatan diambil dan ditambahkan antibiotik 100 unit/ml supernatan. Sebanyak 3 ml isolat dipisahkan untuk diinokulasikan di 5 flask 25 cm2 yang mengandung sel L20B (flask 1-5) dan dan 1 flask 25 cm2 yang mengandung sel RD (flask 6) yang sudah monolayer. Masing-masing flask ditambahkan 0,5 ml ekstrak dan diinkubasi pada suhu 36oC selama 5 hari. Setiap hari

dilakukan pengamatan untuk melihat adanya cytopathic effect (CPE) pada flask.

Flask yang berisi sel RD yang menunjukkan CPE 75% atau lebih disimpan di freezer untuk ditanam ke sel L20B yang baru dan diinkubasi selama 5 hari. Flask L20B yang menunjukkan CPE 75% atau lebih disimpan di freezer untuk dilakukan pemeriksaan Intatypic Differentiation (ITD) dengan metode realtime Polymerase Chain Reaction (rRT- PCR) menggunakan KIT CDC dari WHO.

Apabila hasil ITD menunjukkan sabin like maka dilanjutkan dengan pemeriksaan Vaccine Derived Poliovirus (VDPV) dengan metode realtime PCR. Virus entero yang hanya tumbuh di sel RD dilaporkan sebagai virus entero selain polio (Non Polio Enterovirus/NPEV). Hasil rRT PCR yang menunjukkan hasil discordant (positif sabin pada pemeriksaan ITD dan negatif sabin saat dikonfimasi dengan pemeriksaan VDPV) dan polio liar dilanjutkan dengan pemeriksaan genotyping.37

Hasil

Sampel tinja kasus AFP yang diterima tahun 2016 dari 33 provinsi di Indonesia dikultur dan ditemukan 41sampel dari kasus AFP mengandung virus polio. Hasil identifikasi virus polio dengan menggunakan realtime PCR ditemukan ketiga tipe virus polio pada kasus AFP dan 11 dari 41 kasus (27%) mengandung virus polio tipe 2 (gambar 1).

(4)

32 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol. 6.1. 2017: 29 - 37 Gambar 1. Kasus AFP positif mengandung virus polio

Virus polio tipe 2 diharapkan tidak ditemukan pada tinja manusia 3 bulan setelah peralihan penggunaan vaksin polio dari tOPV ke bOPV. Sebanyak 82% kasus AFP dengan virus polio tipe 2 ditemukan sebelum bulan april dimana 1 kasus ditemukan pada anak umur 3 tahun dan 2

kasus AFP (18%) yang mengandung virus polio tipe 2 ditemukan pada bulan april hingga juli 2016. Kasus AFP dengan virus polio tipe 2 sudah tidak ditemukan lagi setelah 3 bulan peralihan tOPV ke OPV (gambar 2).

Gambar 2. Kasus AFP Positif mengandung virus Polio tipe 2

Sebanyak 25 sampel limbah lingkungan dari PD PAL Jaya yang diisolasi dan diidentifikasi menggunakan metoda rRT PCR ditemukan virus polio, pada pemeriksaan ini juga dideteksi

adanya virus entero lainnya selain virus polio (Non Polio Enterovirus/NPEV).

Tabel 1 menunjukkan hasil kultur dan ITD dengan metoda rRT PCR terhadap 25 sampel limbah lingkungan.

11

P1 P2 P3

9 2

Sebelum 4 April 4 april - Juli Setelah Agustus

(5)

Pemantauan Sirkulasi Virus...(Nike dkk)

33 Tabel 1. Hasil Kultur dan ITD sampel limbah lingkungan

No No lab Tanggal

ambil

Tanggal Proses

Jumlah Flask

Positif Hasil Kultur dan ITD

1 J/16/001/L 17/02/2016 18/02/2016 1 (flask 6) NPEV

2 J/16/002/L 29/02/2016 01/03/2016 Tidak ada Neg

3 J/16/003/L 14/03/2016 15/03/2016 4 (Flask 1,3,5,6) Flask 1,3,6 : P2 Discordant

Flask 5 : P1 Sabin

4 J/16/004/L 28/03/2016 29/03/2016 Tidak ada Neg

5 J/16/005/L 11/04/2016 12/04/2016 2 (Flask 3 dan 5) Flask 3,5 : P2 Discordant

6 J/16/006/L 26/04/2016 27/04/2016 1 (flask 6) NPEV

7 J/16/007/L 09/05/2016 10/05/2016 1 (flask 6) NPEV

8 J/16/008/L 23/05/2016 24/05/2016 Tidak ada Neg

9 J/16/009/L 06/06/2016 07/06/2016 1 (flask 6) NPEV

10 J/16/010/L 20/06/2016 21/06/2016 Tidak ada Neg

11 J/16/011/L 12/07/2016 13/07/2016 1 (flask 6) NPEV

12 J/16/012/L 25/07/2016 26/07/2016 Tidak ada Neg

13 J/16/014/L 04/08/2016 05/08/2016 Tidak ada Neg

14 J/16/015/L 16/08/2016 18/08/2016 1 (flask 6) NPEV

15 J/16/016/L 29/08/2016 30/08/2016 Tidak ada Neg

16 J/16/017/L 13/09/2016 13/09/2016 Tidak ada Neg

17 J/16/018/L 26/09/2016 26/09/2016 1 (flask 6) NPEV

18 J/16/019/L 10/10/2016 11/10/2016 1 (flask 6) NPEV

19 J/16/020/L 24/10/2016 25/10/2016 1 (flask 6) NPEV

20 J/16/021/L 07/11/2016 08/11/2016 Tidak ada Neg

21 J/16/022/L 22/11/2016 23/11/2016 1 (flask 6) NPEV

22 J/16/023/L 29/11/2016 30/11/2016 1 (flask 6) NPEV

23 J/16/024/L 05/12/2016 06/12/2016 1 (flask 6) NPEV

24 J/16/025/L 03/12/2016 14/12/2016 1 (flask 6) NPEV

25 J/16/026/L 19/12/2016 20/12/2016 1 (flask 6) NPEV

Pemeriksaan ITD menunjukkan adanya virus polio tipe 2 pada 1 sampel yang diambil sebelum peralihan kebijakan immunisasi polio tOPV ke bOPV dan 1 sampel pada bulan April 2016. Seperti halnya kasus AFP, virus polio tipe 2 sudah tidak ditemukan lagi pada sampel limbah yang diambil setelah bulan Agustus 2016.

Selain virus polio tipe 2 ditemukan juga virus polio tipe 1 pada sampel limbah yang identik dengan virus yang berasal dari vaksin. Hasil pemeriksaaan VDPV

terhadap semua virus polio tipe 2 menunjukkan hasil yang berbeda dengan virus polio tipe 2 sabin (discordant) sehingga harus dilanjutkan dengan pemeriksaan genotyping. Hasil sekuensing terhadap 5 isolat virus polio tipe 2 menunjukkan adanya perubahan sebanyak 1-4 nukleotida dibandingkan dengan susunan nukleotidan virus vaksin tipe 2.

Hasil sekuensing digambarkan pada tabel 2.

(6)

34 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol. 6.1. 2017: 29 - 37 Tabel 2. Hasil sekunsing terhadap isolat virus polio tipe 2 discordant.

No lab Hasil Sekuensing

J/16/003/L Flask 1 : P2 Sabin dengan 2 perbedaan nukleotida (428T>C, 681G>T) Flask 3 : P2 Sabin dengan 1 perbedaan nukleotida (427A>G)

Flask 6 : P2 P2 Sabin dengan 1 perbedaan nukleotida (427A>G)

J/16/005/L Flask 3 : P2 Sabin dengan 4 perbedaan nukleotida (427A>G, 477T>C, 511A>G, 643G>A)

Flask 5 : P2 Sabin dengan 3 perbedaan nukleotida (511A>G, 643G>A, 660A>G)

Pembahasan

Virus polio masuk ke tubuh manusia melalui mulut dan bereplikasi di usus dan dikeluarkan ke lingkungan bersama tinja.

Virus yang dikeluarkan melalui tinja dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan sehingga virus dapat ditemukan pada tinja manusia dan di air yang terkontaminasi dengan tinja. Pada pemeriksaan kasus AFP dan limbah didapatkan virus poliosabin tipe 2 yang berasal dari vaksin. Tinja yang mengandung virus polio tidak hanya ditemukan pada anak-anak yang baru mendapatkan immunisasi saja tapi pada anak-anak yang sudah tidak mendapatkan immuniasi tapi terinfeksi virus polio melalui fekal oral dari anak-anak yang dimunisasi.2,24,25,38

Peralihan kebijakan imunisasi dari tOPV ke bOPV pada tanggal 4 April 2016 diawali dengan pemberian imunasi pada anak-anak pada bulan Maret 2016 sehingga pada bulan Maret hingga Juli 2016 masih ditemukan adanya sirkulasi virus polio tipe 2. Virus polio masih dikeluarkan melalui tinja hingga 11 minggu setelah infeksi dan virus polio tipe 2 dapat ditemukan lebih lama di tinja dibandingkan virus polio tipe 1 dan 3.36,38 Virus polio tipe 2 yang berasal dari vaksin berpotensi untuk bermutasi dan menjadi VDPV di lingkungan. VDPV dapat menyebabkan paralisis sama seperti yang disebabkan oleh virus polio liar.

Berdasarkan data yang diperoleh dari

laporan berbagai negara di dunia, lebih dari 90 % kasus VDPV merupakan VDPV tipe 2.18,22,39,40

Sampel limbah yang diambil dari bagian inlet PD Pal Jaya yang merupakan tempat penampungan langsung limbah rumah tangga, perkantoran ,dan hotel yang mengandung tinja manusia masih ditemukan virus polio tipe 2 hingga bulan april 2016. Hasil sekuensing juga menunjukkan kecenderungan virus polio tipe 2 yang berasal dari vaksin mengalami perubahan pada susunan nukleotidanya.

Perubahan nukleotida yang ditemukan masih dalam batas untuk ditetapkan sebagai virus vaksin. Berdasarkan rekomendasi WHO adanya perubahan pada region VP1 dibandingkan referensi virus polio sabin/vaksin sebesar1% atau lebih pada susunan nukleotida untuk virus polio tipe 1 dan 3 dan ≥ 0.6% untuk virus P2 dapat dikategorikan sebagai Vaccine Derived Polio Virus (VDPV).41,42 Pada penelitian ini ditemukan 1-4 nukleotida virus polio tipe 2 di sampel limbah (0,1%- 0,4%) mengalami mutasi sehingga virus tipe 2 yang ditemukan masih dimasukkan dalam kategori sabin/vaksin. Berbeda dengan sampel limbah, semua virus polio tipe 2 yang ditemukan pada tinja kasus AFP tidak ditemukan adanya mutasi. Pada penelitian tahun 2015 tentang karakterisasi virus polio dilingkungan ditemukan semua virus polio tipe 2yang bersirkulasi di lingkungan mengalami mutasi sebanyak 1- 5 nukleotida sedangkan virus polio tipe 2 pada tinja anak-anak sehat juga ditemukan virus polio tipe 2 yang tidak mengalami

(7)

Pemantauan Sirkulasi Virus...(Nike dkk)

35 mutasi. Seluruh negara memantau sirkulasi

virus polio tipe 2 melalui surveilans AFP dan polio lingkungan, tiga bulan setelah peralihan tOPV ke bOPV sudah tidak ditemukan lagi virus polio tipe 2 di seluruh negara kecuali Suriah. Pada Maret 2017 dilaporkan wabah AFP yang diakibatkan virus polio VDPV tipe 2 di Suriah.43-45 Kesimpulan

Virus polio sabin tipe 2 masih ditemukan pada tinja hingga bulan juli 2017 dan sudah tidak ditemukan lagi pada tinja dan di lingkungan DKI jakarta 3 bulan setelah peralihan kebijakan tOPV menjadi bOPV. Virus polio sabin tipe 2 yang bersirkulasi di lingkungan telah mengalami mutasi 1-4 nukleotida.

Saran

Pemantauan virus polio di lingkungan harus dilakukan secara terus menerus agar dapat memantau sirkulasi virus polio tipe 2 dan virus polio tipe lainnya yang dapat digunakan sebagai deteksi dini terjadinya wabah poliomielitis akibat virus polio liar atau VDPV. Pengambilan sampel sebaiknya bisa melibatkan beberapa tempat selain provinsi DKI Jakartasehingga dapat memantau sirkulasi virus polio di tempat lain terutama daerah yang memiliki risiko tinggi terjadi penularan virus polio.

Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman peneliti dan perekayasa di laboratorium Virologi Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbang Kesehatan dan teman-teman yang bekerja di Laboratorium Nasional Polio PT biofarma Bandung yang telah membantu dalam pemeriksaan dan identifikasi virus Polio di lingkungan.

Daftar Rujukan

1. CDC. Progress Toward Global Eradication of Poliomyelitis, 2002. MMWR Morbidty and Moratlity Report 2003:4.

2. WHO. Polio Laboratory Manual 4ed.

Geneva2004.

3. WHO. Progress reports on selected Regional Committee resolutions : Challenges in polio eradication (SEA/RC60/R8). India2013.

4. Lahariya C. Global eradication of polio: the case for" finishing the job". Bulletin of the World Health Organization 2007;85:487-92.

5. Poliomyelitis in Indonesia. 2005. (diakses tanggal : 3 mei 2016), tersedia di : http://www.who.int/csr/don/2005_06_06/en/) 6. Gunardi H. Eradikasi dan Babak Akhir Polio:

Peran Tenaga Kesehatan Indonesia. eJournal Kedokteran Indonesia 2017:141-8.

7. Control CfD, Prevention. Progress toward interruption of wild poliovirus transmission-- worldwide, January 2011-March 2012.

MMWR Morbidity and mortality weekly report 2012;61:353.

8. Ismoedijanto. Progress and Challenges Toward Poliomyelitis Eradication in Indonesia. Southeast Asian J Trop Med Public Health 2003;34:10.

9. Grassly NC. The final stages of the global eradication of poliomyelitis. Phil Trans R Soc B 2013;368:20120140.

10. Soedarmo SP, Utoro S. Controlling polio outbreak due to imported wild poliovirus in Indonesia: A success story. Paediatrica Indonesiana 2009;49:234-43.

11. Ismoedijanto HP, Rusmil K, Suyitno H. Bab VIII. 2 Poliomielitis.

12. Kew OM, Sutter RW, Gourville EMd, Dowdle WR, Pallansch MA. VACCINE- DERIVED POLIOVIRUSES AND THE ENDGAME STRATEGY FOR GLOBAL POLIO ERADICATION. Annual Review of Microbiology 2005;59:587-635.

13. Group SPW. Proposed policy for a global switch from'tOPV to bOPV'for routine immunization. (diakses tanggal 10 Oktober 2017), tersedia di : http://www. who int/immunization/sage/meetings/2012/april/2_

Polio_WG_background_paper_26_Mar2012 pdf; 2012.

14. WHO G. The 22nd Informal Consultation on the Global Polio Laboratory Network 9 -10 March 2016 , WHO Headquarters, Geneva,

(8)

36 Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol. 6.1. 2017: 29 - 37 Circulating vaccine-derived polioviruses:

current state of knowledge. Bulletin of the World Health Organization 2004;82:16-23.

16. Diop OM, Burns CC, Wassilak SG, Kew OM, Control CfD, Prevention. Update on vaccine- derived polioviruses-worldwide, July 2012- December 2013. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 2014;63:242-8.

17. Control CfD, Prevention. Update on vaccine- derived polioviruses--worldwide, July 2009- March 2011. MMWR Morbidity and mortality weekly report 2011;60:846.

18. Jorba J. Update on vaccine-derived polioviruses—worldwide, January 2015–May 2016. MMWR Morbidity and mortality weekly report 2016;65.

19. Morales M. Notes from the field: circulating vaccine-derived poliovirus outbreaks—five countries, 2014–2015. MMWR Morbidity and mortality weekly report 2016;65.

20. Jenkins HE, Aylward RB, Gasasira A, et al.

Implications of a circulating vaccine-derived poliovirus in Nigeria. New England Journal of Medicine 2010;362:2360-9.

21. Duintjer Tebbens RJ, Pallansch MA, Kim JH, et al. Oral Poliovirus Vaccine Evolution and Insights Relevant to Modeling the Risks of Circulating Vaccine‐Derived Polioviruses (cVDPVs). Risk analysis 2013;33:680-702.

22. Aylward RB, Cochi SL. Framework for evaluating the risks of paralytic poliomyelitis after global interruption of wild poliovirus transmission. Bulletin of the World Health Organization 2004;82:40-6.

23. Saleem AF, Mach O, Quadri F, et al.

Immunogenicity of poliovirus vaccines in chronically malnourished infants: A randomized controlled trial in Pakistan.

Vaccine 2015;33:2757-63.

24. Wassilak S, Pate MA, Wannemuehler K, et al.

Outbreak of type 2 vaccine-derived poliovirus in Nigeria: emergence and widespread circulation in an underimmunized population.

The Journal of infectious diseases 2011;203:898-909.

25. Malaya K. Sahoo MH, ChunHong Huang,Alisha Mohamed-Hadley,Yuanyuan Liu,Jesse J. Waggoner,Stephanie B.

Troy,Lourdes Garcia-Garcia,Leticia Ferreyra- Reyes,Yvonne Maldonado,Benjamin A.

Pinsky. Detection of Emerging Vaccine- Related Polioviruses by Deep Sequencing.

Journal of Clinical Microbiology 2017;55:10.

26. Burns CC, Shaw J, Jorba J, et al. Multiple independent emergences of type 2 vaccine- derived polioviruses during a large outbreak

trivalent OPV (tOPV) with bivalent OPV (bOPV). 2017. (diakses tanggal : 20 September 2017), tersedia di : http://www.searo.who.int/indonesia/topics/im munization/switch_tOPV_bOPV/en/.)

28. GPEI. Vaccine -associated paralytic polio (VAPP) and vaccine-derived poliovirus (VDPV) 2015.

29. Ramirez Gonzalez A, Farrell M, Menning L, et al. Implementing the Synchronized Global Switch from Trivalent to Bivalent Oral Polio Vaccines—Lessons Learned From the Global Perspective. The Journal of Infectious Diseases 2017;216:S183-S92.

30. Lee M. Hampton MMF, MPH; Alejandro Ramirez-Gonzalez, MPH; Lisa Menning, MSc; Stephanie Shendale, JD; Ian Lewis;

Jennifer Rubin, MPH4; Julie Garon, MPH;

Jennifer Harris, PhD; Terri Hyde, MD; Steven Wassilak, MD; Manish Patel, MD6; Robin Nandy, MD;, Diana Chang-Blanc M.

Cessation of Trivalent Oral Poliovirus Vaccine and Introduction of Inactivated Poliovirus Vaccine — Worldwide, 2016.

Morbidity and Mortality Weekly Report 2016;65:5.

31. Hovi T, Shulman L, Van Der Avoort H, Deshpande J, Roivainen M, De Gourville E.

Role of environmental poliovirus surveillance in global polio eradication and beyond.

Epidemiology & Infection 2012;140:1-13.

32. Asghar H, Diop OM, Weldegebriel G, et al.

Environmental surveillance for polioviruses in the Global Polio Eradication Initiative. The Journal of infectious diseases 2014;210:S294- S303.

33. Shulman LM, Mendelson E, Anis E, et al.

Laboratory challenges in response to silent introduction and sustained transmission of wild poliovirus type 1 in Israel during 2013.

The Journal of infectious diseases 2014;210:S304-S14.

34. Johnson Muluh T, Hamisu AW, Craig K, et al. Contribution of environmental surveillance toward interruption of poliovirus transmission in Nigeria, 2012–2015. The Journal of infectious diseases 2016;213:S131-S5.

35. Lodder W, Buisman A, Rutjes S, Heijne J, Teunis P, de Roda Husman A. Feasibility of quantitative environmental surveillance in poliovirus eradication strategies. Applied and environmental microbiology 2012;78:3800-5.

36. Chung P-W, Huang Y-C, Chang L-Y, Lin T- Y, Ning H-C. Duration of enterovirus shedding in stool. JOURNAL OF MICROBIOLOGY IMMUNOLOGY AND INFECTION 2001;34:167-70.

(9)

Pemantauan Sirkulasi Virus...(Nike dkk)

37 37. Organization WH. Guidelines for

environmental surveillance of poliovirus circulation. 2003.

38. Troy SB, Ferreyra-Reyes L, Huang C, et al.

Community circulation patterns of oral polio vaccine serotypes 1, 2, and 3 after Mexican national immunization weeks. The Journal of infectious diseases 2013;209:1693-9.

39. SAGE. Persistent circulating vaccine derived poliovirus type 2 (cVDPV2): current status in preparation of the tOPV to bOPV switch.

SAGE Meeting; 2015; Geneva.

40. Sharif S, Abbasi BH, Khurshid A, et al.

Evolution and circulation of type-2 vaccine- derived polioviruses in Nad Ali district of Southern Afghanistan during June 2009- February 2011. PloS one 2014;9:e88442.

41. Estívariz CF, Watkins MA, Handoko D, et al.

A large vaccine-derived poliovirus outbreak on Madura Island—Indonesia, 2005. The Journal of infectious diseases 2008;197:347- 54.

42. Initiative GPE. Classification and reporting of vaccine-derived polioviruses (VDPV). 2016.

43. Diop OM. Virologic Monitoring of Poliovirus Type 2 after Oral Poliovirus Vaccine Type 2 Withdrawal in April 2016—Worldwide, 2016–2017. MMWR Morbidity and mortality weekly report 2017;66.

44. Home A, Join A. Category Archives:

Uncategorized. Vaccine 2017;35:4451-90.

45. Rohwerder B. WASH in Syria. 2017.

Gambar

Gambar 2. Kasus AFP Positif mengandung virus Polio tipe 2

Referensi

Dokumen terkait