• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN USAHA WISATA (RATU PANTAI PULAU PARI.COM) SEBAGAI START UP JASA RAMAH LINGKUNGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN USAHA WISATA (RATU PANTAI PULAU PARI.COM) SEBAGAI START UP JASA RAMAH LINGKUNGAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 19 PENGEMBANGAN USAHA WISATA

(RATU PANTAI PULAU PARI.COM) SEBAGAI START UP JASA RAMAH LINGKUNGAN

Hendrawan Syafrie1, Mario Limbong2, Armen Nainggolan3

1,2Program Studi Pemanfaatan dan Sumberdaya Perikanan, 3Program Studi Budidaya perairan

1-3Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Satya Negara Indonesia Jl. Arteri Pondok Indah Jakarta, 12240

[email protected] ABSTRAK

Indonesia memiliki berbagai pemandangan alam yang bisa dijadikan objek wisata. Salah satu lokasi yang cukup menarik untuk dikunjungi adalah di wilayah Kepulauan Seribu. Banyak potensi wisata yang dimanfaatkan oleh masyarakat sejauh ini diantaranya adalah : Pulau Tidung, Pulau Onrust, Pulau Untung Jawa dan Pulau Pari. Pulau Tidung menawarkan beberapa pilihan wisata seperti snorkling, swafoto di jembatan cinta, wisata mangrove di Tidung kecil, olahraga air, dll. Banyaknya pilihan objek wisata ini tentunya menjadi faktor penarik wisatawan berkunjung ke sana. Peluang ini dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Tidung untuk menyediakan jasa wisata berkunjung ke Pulau Tidung. Salah satu agen jasa yang melakukannya adalah Ratu Pantai Pulau Pari. Com.

Ratu Pantai Pulau Pari.Com merupakan salah satu usaha yang bergerak di jasa perjalanan wisata khususnya wilayah Kepulauan Seribu. Usaha ini dibangun atas dasar kepedulian terhadap kepuasan perjalanan para wisatawan Indonesia maupun asing. Tekad perusahaan ini sebagaimana yang tercantum dalam website resminya adalah “Membangun Sebuah Kepercayaan Sesuai Harapan Wisatawan”. Usaha rintisan (start up) ini sejauh ini masih dikelola secara mandiri oleh salah satu alumni FPIK USNI yakni Sudiyatno sejak tahun 2017.

Melihat berbagai peluang yang ada, perlu adanya pengembangan usaha agen perjalanan wisata ini agar menjadi lebih baik lagi. Metode pelaksanaan program pengembangan kewirausahaan ini mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pengecekkan, dan tindak lanjut program.

Kata kunci : wisata alam, pulau seribu, kewirausahaan

(2)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 20 PENDAHULUAN

Usaha perjalanan wisata adalah kegiatan yang bersifat komersil yang mengatur, menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan bagi seseorang, sekelompok orang, yang melakukan perjalanan dengan tujuan utama berwisata (SK Dirjenpar No. 16/U/II/88). Usaha perjalanan wisata dengan objek alam telah banyak berkembang dan memiliki penikmat yang cukup banyak.

Indonesia memiliki berbagai pemandangan alam yang bisa dijadikan objek wisata. Salah satu lokasi yang cukup menarik untuk dikunjungi adalah di wilayah Kepulauan Seribu. Banyak potensi wisata yang dimanfaatkan oleh masyarakat sejauh ini diantaranya adalah : Pulau Tidung, Pulau Onrust, Pulau Untung Jawa dan Pulau Pari. Pulau Tidung menawarkan beberapa pilihan wisata seperti snorkling, swafoto di jembatan cinta, wisata mangrove di Tidung Kecil, olahraga air, dll. Banyaknya pilihan objek wisata ini tentunya menjadi faktor penarik wisatawan berkunjung ke sana. Peluang ini dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Tidung untuk menyediakan jasa wisata berkunjung ke Pulau Tidung. Salah satu agen jasa yang melakukannya adalah Ratu Pantai Pulau Pari.

Com.

Ratu Pantai Pulau Pari.Com merupakan salah satu usaha yang bergerak di jasa perjalanan wisata khususnya wilayah Kepulauan Seribu.

Usaha ini dibangun atas dasar kepedulian terhadap kepuasan perjalanan para wisatawan Indonesia maupun asing. Tekad perusahaan ini sebagaimana yang tercantum dalam website resminya adalah “Membangun Sebuah Kepercayaan Sesuai Harapan Wisatawan”. Usaha rintisan (start up) ini sejauh ini masih dikelola secara mandiri oleh salah satu alumni FPIK USNI yakni Sudiyatno sejak tahun 2017.

Meskipun telah berusia sekitar 2 tahun, agen wisata Ratu Pantai Pulau Pari.Com memiliki sejumlah permasalahan usaha yang menarik untuk dikaji. Oleh karena itu, melalui program pengembangan kewirausahaan ini diharapkan dapat memberikan masukan serta bantuan agar wirausaha yang dilakukan oleh civitas akademika USNI ini dapat berkelanjutan dan semakin baik. Usaha yang berkembang adalah usaha yang selalu mengalami perubahan dan memiliki inovasi dalam pengelolaannya.

Dalam melaksanakan usaha, Ratu Pantai Pulau Pari.Com mengalami beberapa kendala, yaitu :

a. Belum memiliki branding berupa logo perusahaan ;

b. Keterbatasan modal menjadi kendala untuk mengembangkan usaha agen perjalanan wisata ini ;

c. Media pemasaran hanya dari website dan media sosial ;

d. Terbatasnya pilihan paket wisata baru yang belum banyak dikunjungi oleh wisatawan ;

e. Manajemen pengelolaan usaha yang masih sederhana.

METODOLOGI

1.1 Waktu dan tempat pelaksanaan

Kegiatan PPK dilaksanakan mulai November 2019 sampai dengan Juli 2020. Lokasi pelaksanaan bertempat di Pulau Pari dan Tidung, Kepulauan Seribu. Kegiatan pemasaran dilaksanakan di wilayah Jabodetabek, Kepulauan Seribu, dan melalui sosial media.

1.2 Tahapan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan selama 6 (enam) bulan dengan menerapkan konsep PDCA (Plan, Do, Check, and Act) untuk menghasilkan rekomendasi yang baik. Adapun uraian tahapan pelaksanaanya sebagai berikut : a. Persiapan kegiatan

Persiapan kegiatan dilakukan pada bulan Januari – Februari 2020, meliputi pengumpulan data porto folio usaha dan wawancara kepada konsumen yang pernah

mengikuti paket wisata

ratupantaipulaupari.com. Pada tahapan ini juga dilakukan pengumpulan data wawancara yang akan dijadikan unsur dalam analisis strategi/ SWOT.

b. Perencanaan Program

Kegiatan perencanaan dilakukan pada minggu pertama sampai ketiga bulan maret 2020. Kegiatan ini meliputi perencanaan pembuatan logo, pembuatan, brosur/flyer, pembuatan pilihan ide dan peralatan penunjang program. Pembuatan pilihan ide dan peralatan dilakukan untuk menyediakan materi untuk tahap pelaksanaan program.

c. Pelaksanaan Program

Tahap pelaksanaan program mulai dilakukan pada bulan minggu keempat bulan maret 2020. Beberapa rekomendasi

(3)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 21 awal mulai dikerjakan untuk melihat

respon pasar terhadap perubahan yang dilakukan. Beberapa indikator seperti : jumlah konsumen, perilaku konsumen menjaga lingkungan, dan keberlangsungan usaha akan menjadi fokus evaluasi.

d. Pengecekkan Program

Kegiatan ini mulai dilakukan sejak minggu pertama April 2020. Pemasaran dilakukan melalui promosi ke konsumen baik perorangan maupun instansi (pemda, kementerian, dll), penyebaran pamfet dan leaflet, media sosial, serta melalui keikutsertaan dalam pameran wisata.

1.3 Instrumen Pelaksanaan

Kegiatan utama yang dilakukan adalah produksi dan pemasaran. Aspek yang perlu diperhatikan untuk keberlanjutan usaha adalah:

a. Aspek Pemasaran

Promosi merupakan aspek yang penting.

Aspek ini merupakan upaya dari penjual untuk menawarkan suatu produk kepada pembeli agar melakukan pembelian. Informasi mengenai layanan yang akan diberikan disampaikan dengan kata-kata dan aksi yang sifatnya persuasif.

Pada kegiatan pengabdian ini, akan coba dilakukan beberapa konsep baru terkait strategi pemasaran perusahaan. Pembuatan konsep/ logo perusahaan baru akan diformulasikan sehingga memiliki makna yang akan melekat diingatan calon konsumen. Selain itu, perpaduan metode pemasaran digital dan konvensional akan digunakan untuk melihat secara langsung efektivitas kedua metode pemasaran tersebut.

b. Aspek Manajemen

Suatu usaha/bisnis yang baik pasti memerlukan strategi manajemen yang baik pula.

Melalui strategi manajemen ini maka usaha yang dijalankan akan terorganisasi dengan baik. Oleh sebab itu, usaha agen wisata ini memerlukan suatu strategi manajemen. Untuk menghasilkan strategi manajemen yang baik, maka dibutuhkan pemgumpulan data yang akurat. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan kuisioner sebanyak 30 responden untuk

pengunjung/ wisatawan, 5 responden dari pihak pelaku usaha, dan 3 responden dari pengelola/

mitra tapak. Hasil kuisioner dianalisis dengan skala Likert yang dilakukan terhadap lingkungan internal dan eksternal perusahaan yang nantinya akan dikombinasikan dengan analisis SWOT.

c. Aspek Lingkungan

Kecenderungan minat wisatawan saat ini lebih pada wisata alam yang lebih bersifat alami dan eksotik. Aktifitas ini bukan berarti tidak memberi dampak kepada lingkungan. Kesadaran akan pentingnya keberlanjutan usaha ini akan ditandai dengan semakin meningkatnya kesadaran pemerintah maupun masyarakat terhadap keadaan terumbu karang, kebersihan lingkungan dan ketersediaan air bersih yang lebih baik.

Pemahaman akan kelestarian lingkungan juga penting untuk ditanamkan pada wisatawan.

Wisata dengan pemberian edukasi tentang lingkungan akan menjadi hal yang menarik jika berhasil dilakukan. Namun, pemahaman akan pelestarian lingkungan terlebih dahulu harus ditanamkan pada operator jasa wisata. Pihak perusahaan akan dipandang lebih profesional jika informasi yang disampaikan pada pengguna (konsumen) terlebih dahulu dipahami secara baik dan telah diaplikasikan oleh manajemen perusahaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Survei Lokasi

Informasi terkait pengelolaan agen travel selama ini perlu diketahui terlebih dahulu agar pelaksaanaan kegiatan menjadi jelas tujuannya.

Dari kegiatan survei yang dilakukan ditemukan beberapa permasalahan utama yang perlu dibenahi untuk lebih meningkatkan kapasitas usaha yang ada. Kegaitan survei ini dilakukan di salah satu usaha masyarakat yaitu ratupantaipulaupari.com yang kemudian menjadi mitra dalam kegiatan ini. Lokasi usaha mitra berada di pulau pari kabupaten Kepulauan Seribu.

Selama kegiatan survei dilakukan, tim menemukan sejumlah permasalahan dasar yang dapat terlihat pada analisis SWOT dibawah ini :

(4)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 22 Tabel 1. Analisis SWOT

Matriks SWOT Peluang/ Opportunity (O) 1. Masyarakat Jakarta yang

membutuhkan lokasi wisata

2. Belum adanya program wisata edukasi di pulau pari

Ancaman/ Threat (T) 1. Kompetitor dengan

jenis usaha yang sama 2. Sampah dan kerusakan

objek wisata

Kekuatan/ Strength (S) 1. Memiliki keindahan

alam

2. Pelaku usaha merupakan warga lokal

Mempromosikan potensi wisata edukasi pada pengunjung

Mensosialisasikan konsep pariwisata berkelanjutan

Kelemahan/ Weakness (W)

1. Merek usaha yang belum dikenal luas 2. Wawasan pemasaran

digital kurang

1. Melakukan rebranding dan peningkatan promosi 2. Mengikuti pelatihan

pemasaran digital

1. Evaluasi strategi pemasaran yang dilakukan berkala 2. Dilakukan event terkait

isu penanggulangan sampah

Berdasarkan pengamatan selama survei dilakukan, diperoleh beberapa informasi penting yang kemudian dipetakan dalam bentuk analisis SWOT. Hasil pemetaan tertuang dalam Tabel 1 yang menggambarkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman usaha wisata.

Proses identifikasi dilajutkan dalam bentuk persilangan/matrik untuk menentukan strategi yang sesuai dan dapat dilakukan.

Strategi yang dapat dilakukan sebagai hasil dari analisis SWOT adalah sebagai berikut :

1. Membuat dan menyebarkan brosur/ leaflet 2. Mengkuti berbagai agenda Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kepulauan Seribu

3. Membuat dan terus memperbaharui informasi website

4. Mengikuti berbagai pelatihan pemasaran digital

5. Melakukan sosialisasi pariwisata berbasis edukasi lingkungan

6. Membuat paket wisata edukasi dan lingkungan.

5.2 Realisasi Kegiatan

Kegiatan pengabdian pada masyarakat pada hakikatnya merupakan pelaksanaan pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya langsung pada masyarakat secara kelembagaan melalui

metodologi ilmiah sebagai penyebaran Tri Dharma Perguruan Tinggi.

a) Strategi Pemasaran

Berdasarkan permasalahan yang telah diidentifikasi saat survei, agen travel ratupantaipulaupari.com memiliki beberapa permasalahan terkait pemasaran.

Permasalahan-permassalahan tersebut diantaranya adalah :

1. Merek usaha/ brand yang belum dikenal oleh calon pengguna jasa ;

2. Terbatasnya calon pengguna jasa layanan

;

3. Metode pemasaran yang selama ini digunakan masih terbatas.

Untuk mendukung promosi agen travel ini, dilakukan rebranding website ratupantaipulaupari.com menjadi www.liburanpulauseribu.com. Website ini nantinya akan menjadi media promosi jasa layanan yang dapat digunakan oleh para wisatawan. Didalam website ini nantinya akan ditampilkan berbagai informasi objek wisata, even, paket wisata dan narahubung yang dapat membantu calon pengguna dalam melakukan aktifitas pariwisata.

Adapun untuk kelancaran website tersebut dilakukan beberapa tahapan yang akan terus dilakukan secara berkelanjutan :

a. Identifikasi profil dan kinerja usaha ratupantaipulaupari.com

(5)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 23 -

100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000 900,000

2015 2016 2017 2018 2019

812,257 834,544 879,360

800,390

650,062

JUMLAH

TAHUN

,0 200,000 400,000 600,000 800,000 1000,000

2015 2016 2017 2018 2019

801,421 810,027 850,629 771,427

624,914

Jumlah

Tahun b. Identifikasi potensi dan permasalahan yang

dihadapi oleh pelaku usaha

c. Menganalisis pengaruh kompetisi dan penggunaan media promosi dalam mendorong keberlanjutan usaha wisata

d. Memonitoring dan mengevaluasi kegiatan promosi.

b) Jasa Layanan

Sumber : Data suku dinas pariwisata dan ekonomi kreatif kabupaten administrasi kepulauan seribu.

Gambar 3. Data Kunjungan Wisatawan ke Pulau Seribu 2015-2019 Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa

terjadi peningkatan jumlah pengunjung pada tahun 2015 yang awalnya berjumlah 812.257 orang pengunjung menjadi 834.544 orang pengunjung di tahun 2016. Tren ini terus meningkat pada tahun 2017 yaitu sebanyak 879.360 orang. Peningkatan ini terjadi karena tingkat ekonomi masyarakat yang cenderung stabil serta banyaknya objek-objek wisata serta

event/ kegiatan yang diadakan di pulau seribu.

Namun, terjadi penurunan ditahun 2018 dengan jumlah 800.390 orang dan tahun 2019 menjadi 650.062 orang. Adanya penurunan jumlah pengunjung ini disebabkan karena kondisi negara dalam masa pemilu sehingga turut mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap keamanan saat melakukan kegiatan wisata.

Sumber : Data suku dinas pariwisata dan ekonomi kreatif kabupaten administrasi kepulauan seribu

Gambar 4. Data Kunjungan Wisatawan Domestik ke Pulau Seribu 2015-2019 Data kunjungan wisatawan domestik

yang berkunjung ke pulau seribu juga

menunjukkan tren peningkatan ditahun 2015- 2017. Dari gambar 4 diatas terlihat bahwa

(6)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 24 ditahun 2015 jumlah pengunjung mencapai

801.421 orang, dan mengalami peningkatan ditahun 2016 mencapai 810.027 orang. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan ditahun 2017 dengan jumlah pengunjung yang mencapai 850.629 orang. Dari tren ketiga tahun tersebut terlihat bahwa antusiasme wisatawan serta pelaku usaha sangat maksimal sehingga berdampak pada tingginya jumlah pengunjung.

Meskipun demikian, terjadi penurunan jumlah pengunjung wisatawan di tahun 2018 dan 2019.

Penurunan ini seperti yang telah dijelaskan bahwa penyebabnya karena masyarakat merasa kurang aman untuk berlibur saat itu. Kondisi ini terus berlangsung di tahun 2020 yang sejak awal tahun mengalami masa pandemik COVID-19. Meskipun data secara detail belum

dipublikasikan oleh pihak terkait tetapi dapat diambil gambaran bahwa sejak penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) awal april tahun 2020, jumlah pengunjung di kawasan wisata pulau seribu mengalami penurunan. Jika dilihat dari jumlah penurunan jumlah kunjungan seperti yang terlihat pada gambar 4, bahwa selisih penurunannya terus mengalami peningkatan bahkan mencapai -23,45 %. Data ini menujukkan bahwa selain stabilitas keamanan yang harus terus dijaga, penambahan serta peremajaan objek-objek wisata yang menjadi penarik wisatawan juga harus dilakukan. Perlu kerjasama stakeholder pelaku pariwisata agar penurunan ini tidak terus terjadi.

Tabel 2. Grafik Kenaikan/ Penurunan Total Kunjungan ke Pulau Seribu Tahun Total Kunjungan Kenaikan/

Penurunan

Kenaikan/

Penurunan (%)

2019 624.914 -146.513 -23,45%

2018 771.427 -79.202 -10,27%

2017 850.629 40.602 4,77%

2016 810.027 8.606 1,06%

2015 801.421

Sumber : Data suku dinas pariwisata dan ekonomi kreatif kabupaten administrasi kepulauan seribu.

c) Ecoedu Tourism

Secara ideal pembangunan pariwisata harus terus berkelanjutan. Wisata yang berkelanjutan adalah wisata yang mampu memberi manfaat bagi para pelakunya serta tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dalam pelaksanaannya. Wisata yang memperhatikan daya dukung lingkungan juga dapat diartikan sebagai wisata yang menerapkan keberlanjutan ekologis dalam setiap kegiatannya. Pembatasan jumlah pengunjung dan edukasi kepada wisatawan merupakan contoh pengembangan wisata yang berkelanjutan.

Keberlanjutan ekologis adalah prasyarat untuk pembangunan dan keberlanjutan pariwisata. Keberlanjutan ekologis akan menjamin keberlanjutan pariwisata yang dapat dilakukan dengan upaya-upaya sebagai berikut :

1) Memelihara tatanan lingkungan sebagai penunjang kehidupan tetap terjamin.

2) Aspek yang harus diperhatikan untuk memelihara integritas tatanan lingkungan yaitu : daya dukung, daya asimilatif dan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya terpulihkan.

3) Memelihara keanekaragaman hayati yang ada disekitar lokasi pariwisata.

Selain wisata yang berbasis ekologi, dikenal juga istilah wisata edukasi. Jenis wisata ini dapat didefinisikan sebagai penggabungan program wisata dengan muatan pendidikan dalam kegiatannya. Wisata edukasi dalam beberapa tahun terakhir menjadi suatu pilihan menarik bagi sebagian wisatawan. Berwisata sambil belajar dianggap bermanfaat bagi orang tua yang mengajak serta anaknya berwisata.

Bahkan melalui cara ini juga para wisatawan dapat mengetahui hal-hal baru terkait objek wisata yang ditampilkan.

Konsep wisata berbasis edukasi dan lingkungan (ecoedu tourism) belum banyak ditawarkan oleh agen perjalanan wisata. Hal ini disebabkan karena ketergantungan program pada fasilitas yang ada dilokasi. Pada pengabdian ini, pihak penyedia jasa mencoba menawarkan ecoedu tourism sebagai salah satu bentuk nyata program pariwisata berkelanjutan. Melalui program ini juga, wisatawan mendapatkan hal baru dikunjungi sehingga tidak merasa bosan jika

(7)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 25 melakukan perjalanan wisata secara berulang di

pulau seribu.

Pada kegiatan pengabdian pada masyarakat ini, dilakukan beberapa bentuk promosi terhadap program ecoedu tourism.

Kegiatannya antara lain dengan membuat logo, sosialisasi pada para pengunjung wisata dan media online. Meskipun hasilnya belum terlihat karena adanya penurunan jumlah pengunjung akibat pemberlakuan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat pandemik COVID- 19, tetapi kegiatan ini akan menarik minat pengunjung untuk kembali berlibur ke pulau seribu saat masa PSBB telah berakhir.

5.3 Evaluasi

Evaluasi pada kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui hasil yang terjadi termasuk dampak dari kegiatan pengabdian masyarakat terhadap masyarakat dalam hal ini pelaku usaha dan wisatawan. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam kuisioner mencakup informasi pengetahuan dan pemahaman dasar wisatawan, dan pelaku usaha terkait persepsi wisata di pulau seribu.

Berikut kuisioner kegiatan pengabdian yang digunakan untuk menggali informasi dari masyarakat :

KUISIONER WISATAWAN DI PULAU PARI, KAB. KEPULAUAN SERIBU

Nama : Pekerjaan :

Umur : Pendidikan Akhir :

Berikan tanda silang [X] pada jawaban yang Anda pilih !

Pertanyaan Ya Ragu-ragu Tidak

1) Pulau pari sangat Anda rekomendasikan sebagai lokasi berlibur ?

95% 5% 0%

2) Pulau pari memiliki objek wisata yang beragam ?

80% 15% 5%

3) Perjalanan wisata dipersiapkan sendiri atau tanpa menggunakan agen travel/ pemandu wisata ?

50% 0% 50%

4) Peran agen travel/ pemandu wisata sangat berguna saat perjalanan wisata ?

70% 15% 15%

5) Puaskah Anda dengan pelayanan agen travel / pemandu wisata selama ini ?

60% 40% 0%

Dari data diatas dapat terlihat bahwa wisatawan merasa masih perlu sosialisasi yang lebih terkait pulau pari sebagai lokasi wisata. Hal ini terlihat dari persentase jawaban wisatawan yang mencapai 95%. Selain itu, wisatawan juga merasa pulau pari memiliki objek wisata yang beragam. Hal ini terlihat dari persentasi jawaban yang mencapai 80%. Peran agen travel juga

dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke pulau pari.

Namun demikian, 50% wisatawan sudah melakukan perjalanan wisatanya sendiri tanpa bantuan agen travel. Dari data ini juga dapat disimpulkan bahwa setengah dari jumlah wisatawan yang ke pulau pari adalah wisatawan yang sebelumnya sudah pernah berkunjung.

(8)

JURNAL ABDIMAS SATYA WIDYAKARYA (JASW) Vol. 1 No. 1 Tahun 2020 | 26 KUISIONER PELAKU USAHA DI PULAU PARI,

KAB. KEPULAUAN SERIBU

Nama : Pekerjaan :

Umur : Pendidikan Akhir :

Berikan tanda silang [X] pada jawaban yang Anda pilih !

Pertanyaan Ya Ragu-ragu Tidak

1. Objek wisata di pulau seribu harus terus dikembangkan ?

100% 0% 0%

2. Apakah menurut Anda promosi lewat media daring/ online efektif untuk pengenalan wisata pulau seribu ?

90% 10% 0%

3. Apakah menurut Anda usaha biro jasa travel akan terus dibutuhkan ?

90% 10% 0%

4. Apakah Anda mengerti tentang konsep Ecoedu tourism ?

10% 20% 70%

5. Apakah Anda akan menerapkan konsep Ecoedu tourism ?

90% 10% 0%

Dari data kuisioner diatas terlihat bahwa objek wisata pulau seribu masih dirasa perlu dikembangkan. Hal ini terkait dengan keberlanjutan usaha wisata yang dirasa menjadi fokus saat ini. Sebagian besar pelaku usaha juga merasa bahwa promosi lewat media online sangat efektif dan efisien dalam mengenalkan jasa yang ditawarkan. Para pelaku usaha ini juga, yakin bahwa usaha agen perjalanan wisata ini akan teruss dibutuhkan oleh wisatawan terlihat dari persentasi yang mencapai 90%. Konsep ecoedu tourism merupakan konsep yang menarik untuk pelaku usaha dan mereka akan menerapkan konsep ini.

KESIMPULAN

1. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini merupakan bentuk kepedulian FPIK USNI pada keberlanjutan pariwista di Kepulauan Seribu

2. Peran pemasaran digital harus terus dikembangkan untuk mendukung promosi wisata

3. Konsep wisata edukasi lingkungan menjadi penting diterapkan agar usaha pariwisata dapat terus berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Ritchi, H. 2018. Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Upaya Peningkatan Aksesibilitas UKM (Desa Wisata) Kepada Pasar di Lokasi Wisata Pangandaran dan Sekitarnya. Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, Volume 2, Nomor 1. Hal 36- 40.

Sihotang, SP. 2017. Evaluasi Perkembangan Wisata Bahari di Pulau Tidung Besar Kepulauan Seribu. Jurnal of Marques, Volume 6, Nomor 3, Hal 302-310.

Universitas Diponegoro.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Gambar

Gambar 3. Data Kunjungan Wisatawan ke Pulau Seribu 2015-2019  Berdasarkan  data  diatas,  terlihat  bahwa
Tabel 2. Grafik Kenaikan/ Penurunan Total Kunjungan ke Pulau Seribu  Tahun  Total Kunjungan  Kenaikan/

Referensi

Dokumen terkait