1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan bangsa. dan negara (Arwanda, 2020 ). Pendidikan juga berperan penting dalam pembelajaran penggunaan bahasa didalam suatu bangsa. Belajar bahasa adalah salah satu kegiatan manusia yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan khususnya di sekolah dasar, pada tingkat permulaan siswa sekolah dasar akan diberikan pengetahuan tentang membaca, menulis, dan berhitung (Kristiantari, 2015). Pada kehidupan sehari-hari, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sangat diperlukan.
Pasal 31 UUD 1945 (amandemen) menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, tidak terkecuali anak yang mengalami kesulitan belajar berhak mendapatkan pendidikan serta membutuhkan perhatian dan pelayanan yang khusus di bidang pendidikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hallahan Kauffman yang menyatakan bahwa murid-murid yang mengalami kesulitan belajar dalam mengikuti proses pendidikan, mereka memerlukan layanan pendidikan secara khusus yang sesuai dengan bentuk dan tingkat kesulitannya. Layanan pendidikan spesifik yang dimaksud tidak hanya sekedar
berkaitan dengan kesulitan yang dihadapi siswa tentu juga dalam strategi atau pendekatan bantuannya.
Membaca merupakan sebuah jembatan bagi siapa saja dan di mana saja yang berkeinginan merih kemajuan dan kesuksesan, baik di lingkungan dunia persekolahan maupun di dunia pekerjaan (A.Harras, 2021). Dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, ilmu pemgetahuan, memperluas wawasan dan pengalaman – pengalaman baru (Hadiana, 2018). oleh karena itu keterampilan membaca merupakan sebuah keterampilan yang sangat penting bagi siapun yang ingin maju dan meningkatkan diri, dengan demikian pembelajaran membaca di sekolah mempunyai peran yang sangat vital.
Membaca memegang peranan penting dalam kehidupan dan menjadi jembatan untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah, sehingga membaca dengan baik merupakan keterampilan yang sangat penting. Keterampilan membaca dengan baik harus dimiliki oleh setiap siswa di sekolah dasar karena keterampilan membaca berkaitan langsung dengan keseluruhan proses belajar siswa. karena keterampilan membaca menjadi pondasi awal bagi siswa di sekolah.
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (PERMENDIKNAS) Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut: a. Mendengarkan, memahami wacana lisan berbentuk perintah, penjelasan, petunjuk, pesan, pengumuman, berita, deskripsi berbagai peristiwa dan benda di sekitar, serta karya sastra berbentuk dongeng, puisi, cerita, drama, pantun dan cerita rakyat. b. Berbicara, menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam
kegiatan perkenalan, tegur sapa, percakapan sederhana, wawancara, percakapan telepon, diskusi, pidato, deskripsi peristiwa dan benda di sekitar, memberi petunjuk, deklamasi, cerita, pelaporan hasil pengamatan, pemahaman isi buku dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk dongeng, pantun, drama, dan puisi. c. Membaca, menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana berupa petunjuk, teks panjang, dan berbagai karya sastra untuk anak berbentuk puisi, dongeng, pantun, percakapan, cerita, dan drama. d. Menulis, melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
Kesulitan dalam belajar membaca harus menjadi perhatian sentral bagi guru dan sekolah, karena ini merupakan masalah yang serius dan memerlukan perhatian lebih, karena keterampilan membaca merupakan pintu awal untuk memahami pelajaran dan menjadikan belajar mengajar di dalam kelas lebih efektif dan lebih berkesan. Oleh karena itu, guru harus memiliki cara tersendiri untuk meminimalisir jumlah siswa yang mengalami kesulitan membaca, salah satunya dengan bekerja sama dengan orang tua siswa. Penanganan siswa yang mengalami kesulitan membaca harus dilakukan pada tahap awal yaitu pada saat mereka masih duduk di bangku kelas bawah dan masih dalam tahap awal membaca permulaan.
Guru sebaiknya memahami bahwa karakteristik dan potensi siswa berbeda- beda, sehingga setiap siswa memerlukan perlakuan yang berbeda-beda sehingga dapat dilakukan diagnosis dini kesulitan membaca bagi siswa kelas bawah. karena banyak yang beranggapan bahwa siswa kelas bawah yang tidak bisa membaca dianggap biasa
saja, padahal ketika siswa sudah menginjak kelas tinggi dan belum bisa membaca maka siswa tersebut akan dianggap siswa yang bodoh.
Dalam sistem pendidikan dan pembelajaran, kehadiran guru dalam proses pembelajaran masih tetap memegang peranan yang sangat penting. Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan faktor penentu tinggi rendahnya kualitas hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan formal, guru memiliki peran penting dibandingkan dengan komponen lain, seperti sarana prasarana, materi dan kurikulum.
Pentingnya pembelajaran membaca dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 6 ayat 6 yang berbunyi ”Kurikulum dan silabus SD/MI/SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat menekankan pentingnya kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis, kecakapan berhitung, serta kemampuan berkomunikasi”.
Kemampuan membaca lancar secara eksplisit sudah mulai dituntut untuk dikuasai siswa ketika berada di kelas bawah, yaitu kelas 2 sekolah dasar.
Kompetensi Dasar (KD) kurikulum 2013 yang diatur dalam Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Pada kelas 2 diantaranya disebutkan pada KD 3.5 berbunyi, “Mencermati puisi anak dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah melalui teks tulis dan lisan”.
Kompetensi mencermati puisi yang tertulis dalam teks tulis sebagaimana dalam
KD Kemampuan membaca lancar yang mulai dituntut dikuasai anak pada kelas 2 sebagaimana paparan di atas tentunya masih bersifat proses (on going process).
Hal ini dapat dilihat dari kebijakan adanya Tes Kemampuan Dasar (TKD) membaca, menulis, dan berhitung bagi siswa SD dilakukan pada akhir kelas 3.
Pada Kepmendiknas Nomor 012/U/2002 pasal 12 berbunyi, “(1) tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial); (2) tes kemampuan dasar dilakukan setiap tahun pada akhir kelas 3”
(Depdiknas, 2002).
Setelah dilakukan pengamatan di sekolah pada tanggal 24 agustus 2021 didapatkan hasil bahwa siswa kelas IV MI Yasim monggo berjumlah 18 orang dan siswa yang sudah bisa membaca 4 orang. Setelah dilakukan wawancara dengan guru kelas IV, hasil yang di dapat adalah 14 siswa masih belum bisa membaca dengan tingkat kemampuan membaca yang berbeda – beda, 2 orang siswa masih belajar mengeja dan menggabungkan suku kata dan 12 orang siswa yang lainnya masih belajar mengenal huruf.
Oleh karena itu membuat proses belajar mengajar menjadi sangat lambat dan secara tidak langsung merugikan siswa sendiri terlebih lagi bagi siswa yang belum bisa membaca, mereka akan sangat kesulitan untuk memahami mata pelajaran yang lain sehingga akan berdampak terhadap hasil belajarnya. Siswa yang belum bisa membaca akan mengalami kesulitan belajar dan itu terlihat sekali dari perilaku siswa di dalam kelas, contohnya siswa sering mengganggu temannya ketika proses belajar mengajar, membuat gaduh dan terkadang sulit untuk dinasehati ( hasil pengamatan ) dan selama proses pembelajaran membaca guru
tidak menggunakan media sama sekali, guru mengajarkan siswa membaca dengan buku matapelajaran yang tingkat kesulitan hurufnya tidak sesuai dengn kondisi siswa. ketika guru mampu menggunakan atau memanfaatkan media yang ada di sekitar sekolah maka itu akan sangat membantu siswa maupun guru ( hasil pengamatan ).
Metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru masih cenderung konvensional, Metode ceramah masih mendominasi setiap kegiatan pembelajaran.
Guru belum pernah mencoba menerapkan metode lain yang lebih inovatif dan menarik bagi siswa. Berikut ini akan dikemukakan metode metode menulis dan membac : a). Metode Abjad (Alfabet) Pelaksanaan pembelajaran dengan metode alfabet diawali dengan pengenalan huruf yang akan diajarkan, dengan cara huruf yang sudah diajarkan dirangkai menjadi suku kata, menjadi kata, dan setelah mengenal beberapa kata baru menjadi huruf. disusun menjadi kalimat. b). Metode Bunyi, pelaksanaannya hampir sama dengan metode alfabet, hanya saja bunyi konsonan dilafalkan menurut bunyinya, huruf „b; dilafalkan „beh‟ c). Metode Suku Kata, Metode ini diawali dengan memperkenalkan beberapa suku kata yang kemudian selanjutnya dirangkai menjadi kata dan kata menajdi kalimat.
Pengenalan huruf dilakukan dengan cara mengupas suku kata yang kemudian dilanjutkan dengan merangkaikannya kembali. Metode ini didasari pada anggapan bahwa konsonan baru dapat diucapkan dengan sempurna setelah digabungkan dengan bunyi vokal, d) Metode Kata, diawali dengan mengenalkan beberapa kata.
Kata-kata tersebut dipilih sehingga mewakili huruf yang akan diajarkan. Setelah kata-kata tersebut mampu dibaca oleh siswa, kata-kata itu lalu dipisah menjadi suku kata, kemudian suku kata tersebut dipisah menjadi huruf. Setelah itu disusun
kembali menjadi kata semula. e) Metode Kalimat atau lebih dikenal dengan nama metode global, sebab dalam pelaksanaannya diawali dengan penyajian kalimat secara global. Kalimat-kalimat tersebut di contohkan guru bagaimana cara membacanya dan kemudian siswa mengikutinya. Setelah meniru siswa diharapkan dapat membaca dengan sendiri serta dapat mengenal kata-katanya satu persatu. f) Metode SAS. g) Metode Eja, hanya nama lain dari metode abjad dan metode bunyi, dikarenakan dalam penerapannya pun dimulai dari pengenalan huruf yang akan diajarkan, lalu dirangkai menjadi suku kata, kemudian menjadi kata dan setelah mengenal beberapa kata lalu dirangkai menjadi kalimat.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Peran Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Pada Siswa Di MI Yasim Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan adalah :
1.2.1 Bagaimana bentuk kesulitan membaca siswa kelas IV MI Yasim Monggo?
1.2.2 Bagaimana cara guru dalam mengajarkan teknik membaca pada siswa kelas IV MI Yasim Monggo?
1.2.3 Bagaimana alternatif solusi yang diberikan guru pada siswa kelas IV yang mengalami kesulitan membaca?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Untuk mendeskripsikan bentuk kesulitan membaca siswa kelas IV MI Yasim Monggo
1.3.2 Untuk mendiskripsikan cara guru mengajarkan tehnik membaca pada siswa kelas IV MI Yasim Monggo
1.3.3 Untuk mendiskripsikan alternatif solusi yang diberikan guru pada siswa yang mengalami kesulitan membaca
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis manfaat dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi sebagai bahan pengenmbangan dan dijadikan sumber referensi untuk penelitian lebih lanjut tentang analisi peran guru dalam mengatasi kesulitan membaca pada siswa dan menambah wawasan tentang dunia pendidikan. Serta memberi masukan dan refereansi bagi calon pendidik supaya dapat mengatasi kesulitan membaca pada siswa.
1.4.2 Manfaat Praktis 1.4.2.1 Bagi Kepala Madrasah
Dapat dijadikan acuan untuk membina para guru dan membuat inovasi sarana untuk membantu mengatasi kesulitan membaca pada siswa sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah.
1.4.2.2 Bagi Guru
Dapat dijadikan acuan dalam mengatasi kesulitan membaca pada anak dan meningkat kualitas proses belajar mengajar di dalam kelas.
1.4.2.3 Bagi Siswa
Mendapatkan pengalaman baru dalam kegiatan belajar mengajar terutama dalam hal membaca dan meningkatkan hasil belajar.
1.5 Batasan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, agar masalah yang diteliti tidak meluas, maka harus diadakan batasan penelitian. Batasan penelitian untuk penelitian ini adalah :
1.5.1 Karakteristik siswa yang memiliki kesulitan membaca di kelas 4 MI Yasim Monggo Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima
1.5.2 Teknik yang digunakan guru dalam mengajarkan membaca
1.5.3 Peran guru dalam mengatasi kesulitan membaca pada siswa Faktor penyebab siswa mengalami kesulitan membaca
1.5.4 Teknik yang digunakan guru dalam mengajarkan membaca
1.6 Defesini Operasional
1.6.1 Membaca merupakan salah satu dari keempat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis) dan merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Membaca adalah jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi,
ilmu pengetahuan, memperluas wawasan dan pengalaman – pengalaman baru.
1.6.2 Pentingnya ketrampilan karena membaca mempunyai peran penting dalam kehidupan dan menjadi jembatan untuk menambah wawasan keilmuan oleh karena itu bisa membaca dengan lancar adalah suatu keterampilan yang sangat penting. Keterampilan membaca harus dikuasi oleh setiap siswa di Sekolah Dasar karena keterampilan membaca secara langsung berhubungan dengan seluruh proses belajar siswa. Ketika siswa kesulitan dalam membaca maka dia pun akan kesulitan untuk memahami matapelajaran yang lainnya.
1.6.3 Peran guru dalam sekolah adalah sebagai demonstrator, guru sebagai pengelola kelas, guru sebagai mediator dan fasilitator dan guru sebagai evaluator. Kehadiran guru dalam kelas tetap mengambil peran penting.
Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar
1.6.4 Kesulitan dalam membaca adalah ketidakmampuan seseorang siswa untuk mengenal abjad, tidak mampu menggabungkan suku kata, dan belum mampu menggabugkan kata.