• Tidak ada hasil yang ditemukan

OBSERVASI NONVERBAL ASSESMENT PSIKOLOGI II. Dosen Pengampu : Nafeesa, S.Psi, MA. Oleh : Balqis Az zahra ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "OBSERVASI NONVERBAL ASSESMENT PSIKOLOGI II. Dosen Pengampu : Nafeesa, S.Psi, MA. Oleh : Balqis Az zahra ( )"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

OBSERVASI NONVERBAL

ASSESMENT PSIKOLOGI II

Dosen Pengampu : Nafeesa, S.Psi, MA

Oleh :

Balqis Az zahra (188600227) Dina maryani napitupulu (188600268) Saskia Sherina (188600298) Stephani Arta P Nainggolan (188600314) Soraya Mayori (188600297)

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MEDAN AREA

2020

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita ucapkan senantiasa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebab sampai saat ini kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “obsevasi nonverbal”. Terima kasih untuk Ibu Nafeesa, S.Psi. M.Psi yang telah memberi arahan untuk membuat tugas ini serta kepada teman-teman yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk pemenuhan tugas mata kuliah assesment psikologi II: observasi dan interview. Makalah ini membahas mengenai peran perilaku nonverbal, jenis – jenis perilaku nonverbal, dam mengamati emosi melalui gerakan tubuh.

Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat ilmu kepada pembaca dan lebih mengerti tentang bagaimana observasi nonverbal itu sendiri. Makalah ini masih belum sempurna maka dari itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami butuhkan.

Medan, 04 April 2020

(3)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

. Manusia di dalam kehidupannya pada dasarnya harus saling berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi.

Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya.

Bahasa verbal dan bahasa nonverbal pada hakikatnya tidak bisa dipisahkan dalam proses komunikasi (holistik). Dalam kegiatan komunikasi, bahasa nonverbal merupakan pelengkap dari bahasa verbal. Keduanya berperan agar proses komunikasi dapat berjalan sebagaimana harapan yang diinginkan. Dalam makalah ini akan dijelaskan peran perilaku nonverbal dan beberapa jenis perilaku nonverbal.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa peranan dari perilaku non-verbal?

2. Apa saja fungsi-fungsi pesan non-verbal?

3. Apa saja jenis-jenis perilaku non-verbal?

4. Bagaimana cara mengamati emosi melalui gerak tubuh?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui peranan dari perilaku non-verbal.

2. Mengetahui fungsi-fungsi pesan non-verbal.

3. Mengetahui jenis-jenis perilaku non-verbal.

4. Mengetahui cara mengamati emosi melalui gerak tubuh

(4)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Peranan Perilaku Nonverbal

Kebanyakan orang menyadari bahwa komunikasi interpersonal tidak sepenuhnya bersifat verbal, biasanya mereka tidak menyadari bahwa gerakan tangan, kaki, mata, dan mulut, sebagaimana halnya posisi tubuh dan tekanan suara, dapat diinterpretasikan sebagai suatu pesan (Arken, 1996).

Istilah nonverbal merujuk kepada vokal seperti misalnya nada suara, tekanan dan intonasi.

Selain itu merujuk pada gerakan wajah, pandangan, ukuran,pupil, gerakan tubuh, dan jarak interpersonal.juga merujuk pada komunikasi melalui sentuhan, pembauan, dan berbagai jenis artefak seperti topeng- topeng, pakaian atau sistem komunikasi semafor seperti pada pemberian sinyal – sinyal. Pada kenyataannya jenis – jenis artefak ini sangat tidak terbatas (Bull, 1984).

Sebagian peneliti setuju bahwa saluran verbal terutama digunakan untuk memberikan informasi sementara saluran nonverbal digunakan untuk merundingkan sikap antar pribadi, dan dalam beberapa kasus digunakan sebagai pengganti pesan verbal. Misalnya, seoranf wanita dapat memandang “penuh kemarahan” pada seorang pria; ia dapat memberikan pesan yang sangat jelas tanpa perlu membuka mulut. Bridwhistell mengatakan bahwa seorang seorang yang terlatih bisa mengatahui gerakan apa yang tengah dilakukan oleh seorang hanya dengan mendengarkan suaranya. Selain Bridwhistell bisa mengetahui bahasa apa yang digunaka seseorang hanya dengan mengamati gerakan tangannya (Pease, 1996)

Menurut Pease (1996) wanita umumnya lebih perseptif daripada pria dan kenyataan ini sering disebut sebagai “intuisi wanita”. Wanita memiliki kemampuan bahwa untuk mengetahui dan membaca isyarat nonverbal disamping ketajaman mata untuk melihat hal – hal kecil. Inilah sebabnya mengapa hanya sedikit suami yang bisa berbohong pada isteri mereka dan mengapa sebaliknya, sebagian besar wanita bisa mengetahui pria tanpa disadari oleh pria itu. Intuisi wanita ini terutama terlihat jelas pada wanita yang memili anak kecil. Selama tahun – tahun pertama, ibu akan menggantungkan diri pada saluran nonverbal untuk berkomunikasi dengan anak dan hal ini dia anggap sebagai alasan mengapa wanita sering menjadi perunding yang lebih perspektif daripada pria.

(5)

2.2 Fungsi Pesan Non-Verbal

Mark Knapp (1978) menyebut bahwa kode non-verbal dalam berkomunikasi memiliki fungsi untuk:

1. Repeating (Repetisi/Pengulangan), yaitu mengulang kembali pesan yang disampaikan secara verbal.

2. Subtituiting (Subtitusi), yaitu menggantikan lambing-lambang verbal.

3. Contradicting (Kontradiksi), yaitu menolak pesan verbal atau memberikan makna lain terhadap pesan verbal.

4. Complementing (Komplemen), yaitu melengkapi dan memperkaya pesan maupun makna non-verbal.

5. Accenting (Aksentuasi), yaitu mengaskan pesan verbal.

2.3 Jenis-Jenis Perilaku Non-Verbal 1. Kinesics (Gerakan Tubuh)

Kinesik merupakan pesan non-verbal yang ditunjukkan seseorang dengan gerakan/isyarat tubuh, dan biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frasa.

Pesan kinestetik terdiri dari 3 komponen utama, yaitu:

a. Pesan Fasial

Menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna kebahagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad. Menurut Birdwhistell, perubahan yang sangat sedikit saja dalam area wajah dapat menciptakan perbedaan yang sangat besar. Leathers (1976) menyimpulkan penelitian-penelitian tentang wajah, yaitu sebagai berikut:

- Wajah mengkomunikasikan penilaian dengan ekspresi senang dan tak senang yang menunjukkan apakah komunikator memandang objek penelitiannya baik atau buruk.

- Wajah mengkomunikasikan berminat atau tidaknya seseorang pada orang lain atau pada lingkungannya.

- Wajah mengkomunikasikan ada atau kurangnya pengertian (bisa terhadap konteks atau makna pesan yang terkandung).

(6)

Selain wajah, kontak mata adalah hal yang paling ekspresif dalam komunikasi.

Kontak mata memiliki 2 fungsi dalam kmomunikasi, yaitu:

- Sebagai fungsi pengatur, kontak mata memberitahukan orang lain apakah adanya ketertarikan atau keinginan untuk menghindar, baik terhadap pembicara dan pesan yang disampaikan pembicara. Misalnya

- Sebagai funsgi ekspresif, kontak mata dapat memberitahukan perasaan kepada orang lain di mana setiap gerakan-gerakan mata memiliki arti tersendiri.

b. Pesan Gestural

Menunjukkan gerakan sebagian anggota badan, seperti gerakan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna. Contohnya: memberikan gerakan tangan tertentu ketika mengatakan seseorang gemuk atau kurus.

c. Pesan Postural

Berkenan dengan keseluruhan anggota badan. Mehrabian menyebutkan 3 makna yang dapat disampaikan dalam pesan postural, yaitu:

a. Immediacy, ungkapan kesukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah orang yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif.

b. Power, mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Kita dapat membayangkan dan membedakan mana orang yang tinggi hati ketika sedang berbicara dan mana orang yang rendah hati ketika berbicara.

c. Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif atau negatif. Bila postur tubuh tidak berubah pada saat terjadi sesuatu yang genting, misalnya ketika kita melihat seseorang terjatuh kemudian kita hanya diam saja di tempat, dapat diartikan bahwa seseorang memiliki sikap yang tidak responsif.

Yang perlu diperhatikan dalam mempelajari kinesik adalah memperhatikan adanya keselarasan antar satu gerak isyarat dengan lainnya, misalnya seseorang yang tersenyum sementara tangannya mengepal menunjukkan bahwa adanya ketidak konsistenan antara satu isyarat dengan isyarat lain atau misalnya seperti apakah seseorang melipat tangannya, apakah melipat tangan sebagai tanda bahwa seseorang menunjukkan sikap defensif atau mungkin seseorang tersebut merasa kedinginan.

(7)

2. Proxemics (Bahasa Ruang)

Komunikasi nonverbal jenis ini mengacu pada jarak dan tempat saat melakukan interaksi.

Jarak dan tempat interaksi dilakukan dibagi menjadi 4 zona, yaitu zona publik, sosial, personal, dan intim. Semakin jauh atau dekat jarak antara kita dengan lawan bicara, maka interaksi yang berlangsung pun akan berbeda

Proxemics, yaitu zona jarak diantara para komunikator (disebut juga sebagai jarak pribadi atau teritorial). Istilah proxemics (berasal kata “proximity” atau kedekatan) dimuali pada tahun 1960an dan diperkenalkan oleh seorang antroprolog Amerika, Edward T.Hall (dalam Pease, 1996) yang mempelajari kebutuhan manusia akan ruang. Penelitiannya dalam bidang ini menghasilkan pengertian baru tentang hubungan sesama manusia.

Zona ini juga berarti daerah atau ruang yang orang klaim sebagai miliknya, seoalah perluasaan tubuhnya. Setiap orang memiliki wilayah pribadi sendiri, termasuk ruang yang ada di dalam pemiliknya, seperti rumah yang dikelilingi pagar, bagian dalam mobil, kamar tidur atau kursi pribadinya seperti di temukan Hall (dalam Pease, 1996) adanya ruang kosong di sekeliling tubunya. Ruang kosong ini kemudian dikenal juga sebagai wilayah teritorial.

Hall (1996; dalam Arken, 1996) mengelompokkan jarak zona ke dalam empat kategori, yaitu:

a. Jarak intim (0 – 46 cm) b. Jarak pribadi (46 – 1,2 m) c. Jarak sosial (1,2 – 3,6 m) d. Jarak publik (lebih dari 3,6 m)

Akan tetapi Pease (1996) memasukkan jarak intim mulai dari 15 – 46 cm karena menurutnya jarak yang kurang dari 15 cm dari tubuh hanya bisa dimasuki selama melakukan kontak fisik, sehingga zona ini disebut sebagai zona intim.

Dari semua jarak zona, zona intim inilah yang terpenting karena pada zona ini orang menjaganya seoalah zona ini miliknya pribadi. Hanya mereka yang dekat secara emosional yang boleh memasukinya, seperti kekasih, orang tua, suami – istri, anak – anak, kerabat dekat, sahabat, dan sanak sodara (Pease, 1996).

(8)

Pada zona pribadi (46 – 1,2 m), seolah ada garis batas yang tidak tampak. Ini adalah jarak dari orang lain ketika berdiri pada pesta cooctail, pesta kantor, acara sosial,dan pertemuan ramah tamah.

Zona sosial (1,2 – 3,6 m) dilakukan ketika kita berhadapan dengan orang yang asing bagi kita, seperti tukang ledeng atau tukang kayu yang sedang membenahi kerusakan dirumah, tukang pos, pelayan toko, pegai baru di kantor, dan orang – orang yang belum kita kenal dengan baik (Pease, 1996)

Zona umum (lebih dari 3,6 m) dilakukan setiap kali kita berbicara pada sekelompok besar orang, inilah jarak yang paling nyaman bagi kita untuk berdiki (Pease, 1996).

Kebanyakan orang menghabiskan waktunya dan biasanya merasa lebih nyaman jikaberasa dalam jarak sosial dan jarak publik. Tentu saja, jarak sosial bervariasi antar budaya, hubungan sosisal, jenis kelamin, usia dan faktor lainnya. Keterlibatan pribadi tidak terjadi pada jarak publik. Disini topik – topik biasanya bersifat formal dan tidak bersifat pribadi, menjadi terbatas akan apa yang dapat dilihat dan di dengar.

3. Paralinguistics (Nada Suara)

Kelas ketiga dari penyampaian pesan nonverbal adalah paralinguistics, yang meliputi nada suara, kecepatan bicara, dan aspek – aspek nonverbal lain dari yang bicara. Ada lima kategori isyarat paralinguistics dan emosi yang dikomunikasikan oleh setiap dimensi isyarat berikut (Scheer, dalam Arken, 1996):

• Variasi amplitudo-kuat atau kerasnya suara (menegah hingga ekstrim) menunjukkan kesenangan, aktivitas, kebahagiaan, ketakutan.

• Variasi tinggi nada/pitch (menengah hingga ektrim) menunjukan kemarah, kebosanan, jijik, takut, kesenangan, aktivitas, kebahagiaan, terkejut (surprise).

• Pitch contour (bawah hingga atas) menunjukkan kesenangan, kebosanan, kesedihan, potensi, kemarahan, ketakutan, keterkejutan.

• Pitch level (tinggi hingga rendah) menunjuka kesenangan, kebosanan, kesedihan, aktivitas, potensi, kemarahan, ketakutan, keterkejutan.

• Tempo (lambat hingga cepat) memnujukan kebosanan, jijik, kesedihan, kesenangan, aktivitas, potensi, kemarahan, ketakutan, kebahagiaan, keterkejutan.

(9)

2.4 Mengamati Emosi Melalui Gerakan Tubuh

Dalam membicarakan komunikasi nonverbal, maka aspek yang banyak berperan adalah gerakan tubuh. Ekpresi emosi seseorang juga akan muncul dalam bahasa tubuhnya. Ada beberapa gerakan tubuh yang sering menampilkan warna emosi seseorang, antara lain: pipi yang memerah, ukuran pupul, tatapan, postur dan gerak isyarat, serta jarak interpersonal (Bull, 1984).

1. Wajah yang memerah

Wajah yang memerah tampaknya disebabkan oleh suatu reaksi sistem syaraf otonom yang diakibatkan oleh adanya hambatan dalam tekaan normal aktivitas kontraksi wajah, yang menyebabkan urat – urat terisi darah; semangkin meningkat aliran darah memngakibatkan warna merah pada wajah. Meski kebanyaakan warna kemerahan ini terjadi di wajah,namun sebenarnya ini juga dapat terjadi di bagian tubuh lain. Darwin (dalam Bull, 1984) menyatakan bahwa wajah yang memerah ini merupakan akibat dari emosi malu, yang tidak hanya terjadi pada manusia namun juga pada hewan.

2. Ukuran pupil

Ukuran pupul juga merupakan respon otonom (yang tidak disadari) dan memberi informasi mengenai derajat keterbangkitan emosional, baik yang sifatnya positif maupun negatif. Pupil yang membesar tidak hanya menunjukkan kebahagiaan,namun juga ketakutan atau kemarahan (Bull, 1984).

3. Tatapan

Penelitian mengenai tampilan emosi melalui tatapan masih belum memadai.

Belum ada penelitian lintas budaya yang sistematis guna menjelaskan ekpresi wajah melalui tatapan yang memiliki pola universal yang dikaitkan denagn emosi tertentu.

Meski demikian, Darwin memangdang bahwa ekspresi wajah dari emopsi dikembanngkan sebagai bagian dari tindakan – tindakan yang penting bagi kehidupan.

Sebagai contoh, pandangan bahwa pada saat seseorang terkejut, alis mata terangkat untuk memudahkan melihat dengan penuh objek – objek yang membuat terkejut. Demikian pula, jijik yang merupakan emosi dari penolakan terhadap sesuatu, sehingga seseorang secara naluriah akan memalingkan muka atau menghindari pandangan dari objek yang menimbulkan rasa jijik tersebut. Pada kemarahan seseorang akan menatap lama pada objek yang menimbulkan kemarahan. Orang dengan wajah sedih akan menundukkan

(10)

tatapanya, sedangkan wajah yang marah akan menatap langsung. Banyakknya tatapan disertai senyum akan dipersesikan sebagi lebih sosial dan aktif (Bull, 1984).

4. Postur dan gerak isyarat

Izard (Bull, 1984) menyatakan bahwa posisi kepala tertetu dihubungkan dengan emosi yang berbeda. Ketertarikan, sering disertai dengan arah kepala yang terruju pada objek yang menjadi fokus minat, perasaan muak, ditunjukkan dengan mengangkat kepala keatas dan malu di tunjukkan dengan menjatuhkan atau memalingkan kepala.

Bull (1984) telah melakukan beberapa eksperimen dimana subjek disuruh mendengarkan rekaman percakapa dan menila percakapan tersebut berdasarkan banyak nya emosi dan kategori – kategori sikap. Selama mendengarkan percakapan, para subjek di-vidiotape-kan tanpa sepengetahuan mereka, dan penilaian mereka terhadap rekaman percakapan tersebut digunakan untuk menganalisis postur yang mereka tampilkan vidiotape. Bull menemukan bahwa selama mendengarkan percakapan yang dinilai sebagai sedih, para mahasiswa merendahkan kepalanya untuk periode waktu yang cukup lama daripada ketika mendengar percakapan yang dinilai sebagai menggembirakan.

Dalam penelitian lain Bull menemukan bahwa para mahasiswa/i Inggris memajukan tubuhnya kedepa selama mendengar percakapan yang dinilai menarik; dan kebosanan ditunjukan dengan merendahkan kepala, menyandarkan ke satu sissi, memalingkan wajahnya, monitor televisi, menopang kepalanya dengan satu tangan, menarik punggung dan mengulurkan kaki nya.

5. Jarak interpersonal

Fromme dan Schmidt (1972; dalam Bull, 1984) dalam penelitiannya menyuruh mahasiswa pria untuk memainkan peran takut, marah, dan sedih, serta kondisi netral, yang dil;ihat dari jarak interpesonal. Mereka menemukan bahwa para mahasiswa menunjukan jarak interpesonal yang lebih besar untuk ketakutan daripada kondisi – kondisi lain, dan secara digsinifikais jaraknya lebih besar untuk kesedihan daripada kemarahan; akan tetapi tidak ada perbedaan antara kemarahan da kondisi netral.

Akan tetapi O’Neal dkk. (dalam Bull, 1984) menemukan pengaruh signifkan dari kemarahan terhadap ruang (zona) pribadi. Ketika dibandingkan antara subjek dari kelompok kontrol maka subjek – subjek yang sedang marah memperlihatkan

(11)

kesukaannnya akan jarak interpesonal yang lebih besar. Penelitian ini meyakinkan bahwa jarak interpesonal juga berhubungan dengan emosi.

(12)

BAB III PENUTUP Kesimpulan:

Saluran nonverbal digunakan untuk merundingkan sikap antar pribadi, dan dalam beberapa kasus digunakan sebagai pengganti pesan verbal. Misalnya, seorang wanita dapat memandang “penuh kemarahan” pada seorang pria; ia dapat memberikan pesan yang sangat jelas tanpa perlu membuka mulut. Bridwhistell mengatakan bahwa seorang seorang yang terlatih bisa mengatahui gerakan apa yang tengah dilakukan oleh seorang hanya dengan mendengarkan suaranya.

Pesan non-verbal yang ditunjukkan seseorang dengan gerakan/isyarat tubuh, dan biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frasa dan Komunikasi nonverbal jenis ini mengacu pada jarak dan tempat saat melakukan interaksi. Jarak dan tempat interaksi dilakukan dibagi menjadi 4 zona, yaitu zona publik, sosial, personal, dan intim. Semakin jauh atau dekat jarak antara kita dengan lawan bicara, maka interaksi yang berlangsung pun akan berbeda.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Putri, Intan. 2018. Komunikasi Non Verbal (Makna Kinestik) Pesulap Dalam Pertunjukkan Sulap Klasik. Syi'ar, 18(1), 1-18.

Nafeesa. 2020. Observasi dan Wawancara. Medan: Universitas Medan Area.

Referensi

Dokumen terkait