28 Mei 1999
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 12/PJ.54/1999
TENTANG
SAAT TERUTANGNYA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI SERTA TATA CARA PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI YANG TERUTANG ATAS PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DALAM RANGKA RESTRUKTURISASI PERUSAHAAN
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
Berdasarkan Pasal 16D Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 (UU PPN), Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya dapat dikreditkan. Dalam rangka restrukturisasi perusahaan, telah diterbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 180/KMK.04/1999 tanggal 27 Mei 1999 tentang Saat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan Barang Kena Pajak dalam rangka restrukturisasi perusahaan, yang pada prinsipnya menunda saat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai atas pengalihan aktiva yang terutang Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud Pasal 16D tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut, bersama ini disampaikan fotokopi Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 180/KMK.04/1999 tanggal 27 Mei 1999 dan untuk kelancaran pelaksanaannya, dengan ini diberikan penegasan lebih lanjut sebagai berikut :
1. Yang dimaksud dengan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang dikenakan PPN dalam rangka restrukturisasi perusahaan adalah :
1.1Penyerahan Barang Kena Pajak sesuai dengan Pasal 16 D UU PPN yaitu penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual belikan.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
1.2Penyerahan sebagian dari aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan pihak yang berhak atas Barang Kena Pajak tersebut.
2. Penyerahan BKP sebagaimana dimaksud pada butir 1 adalah : 2.1Penyerahan
aktiva dari debitor kepada Bank Kreditor dan atau BPPN melalui program Indonesian Bank
Restructuring Agency (IBRA)/Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Indonesian Debt
Restructuring Agency (INDRA) dan Jakarta Initiative (Prakarsa Jakarta) adalah merupakan penyerahan yang bersifat sementara dan bukan untuk
dimiliki.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
2.2Penyerahan aktiva dari Bank Kreditor dan atau BPPN dan atau melalui juru lelang kepada pembeli sebenarnya.
3. Saat terutang Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan aktiva sebagaimana dimaksud pada butir 2 adalah : 3.1Pada saat
penyerahan aktiva oleh Bank Kreditor dan atau BPPN dan atau melalui juru lelang kepada pembeli sebenarnya.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
3.2Apabila aktiva tersebut tidak dialihkan atau tidak dijual oleh Bank Kreditor dan atau BPPN dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak aktiva tersebut dialihkan ke Bank Kreditor dan atau BPPN, maka Bank Kreditor dan atau BPPN dianggap telah menerima penyerahan BKP dan terutang Pajak Pertambahan Nilai.
4. Tata cara penyetoran PPN yang terutang atas penyerahan BKP atau pengalihan aktiva adalah sebagai berikut : 4.1Pada saat terjadinya
penyerahan sementara.
4.1.1 Penyerahan dari debitor kepada Bank Kreditor dan atau BPPN yang hanya bertindak sebagai pembeli sementara belum merupakan penyerahan yang terutang PPN.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
4.1.2Atas penyerahan aktiva tersebut harus dibuatkan surat keterangan yang dikeluarkan oleh Prakarsa Jakarta dan atau BPPN yang memuat :
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
a. pernyataan bahwa penyerahan dimaksud dilakukan dalam rangka restrukturisasi perusahaan melalui mekanisme IBRA/BPPN, INDRA, atau Prakarsa Jakarta.
b. Jenis aktiva yang dialihkan c. Tanggal
pengalihan Surat keterangan dibuat minimal dalam rangkap 5 (lima) dengan rincian sebagai berikut : - Lembar ke- 1 untuk debitor pemilik aktiva yang dialihkan -
Lembar ke- 2 untuk Prakarsa Jakarta dan atau BPPN - Lembar ke- 3 untuk KPP dimana PKP Debitor pemilik aktiva berdomisili -
Lembar ke- 4 dan ke- 5 disimpan oleh Bank Kreditor dan atau BPPN untuk kemudian diberikan kepada PKP Pembeli sebenarnya.
4.2Pada saat terjadinya penyerahan dari Bank Kreditor dan atau BPPN dan atau melalui Juru Lelang kepada pembeli sebenarnya.
4.2.1 Tidak perlu dibuatkan Faktur Pajak Standar.
4.2.2
PPN yang terutang atas penyerahan BKP tersebut dihitung dari harga jual dan atau harga lelang dan disetor seluruhnya dengan menggunakan SSP tersendiri dan dilakukan oleh PKP pembeli.
Dalam mengisi SSP untuk PPN yang disetor oleh PKP pembeli, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Pada kolom nama dan alamat diisi nama dan alamat Bank Kreditor dan atau BPPN yang
menyerahkan BKP tersebut.
b. Pada kolom NPWP diisi dengan angka 0 (nol) pada 8 (delapan) digit pertama dan kode Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP pembeli bertempat tinggal atau berkedudukan.
c. Pada kolom
"Wajib
Pajak/Penyetor"
disudut kanan bawah diisi nama, cap dan NPWP
pembeli BKP tersebut.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
4.2.3Penyetoran dilakukan paling lambat tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan BKP.
5. Tata cara pelaporan pada SPT Masa PPN oleh PKP pembeli sebenarnya
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
5.1PPN yang disetor oleh PKP
pembeli adalah merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan bukti setoran (SSP) atas penyerahan BKP tersebut dianggap sebagai Faktur Pajak dan dilaporkan pada SPT Masa PPN formulir 1195 B-1 dan pada SPT induk kolom D.1.2 paling lambat tanggal 20 (dua puluh) bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan BKP.
Dalam hal pembelinya adalah Bank Kreditor dan atau BPPN maka PPN yang disetor tidak dapat dikreditkan.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
5.2Pelaporan dilakukan dengan menyertakan Surat Keterangan lembar ke-4 yang dikeluarkan oleh Prakarsa Jakarta dan atau BPPN.
6. Perlakuan bagi pengalihan aktiva yang dilakukan dalam masa peralihan, yaitu masa 1 Januari 1998 sampai dengan 27 Mei 1999, adalah sebagai berikut :
6.1Pada saat terjadinya penyerahan sementara (sesuai dengan ketentuan pada butir 4.1.)
6.2Pada saat terjadinya penyerahan dari Bank Kreditor dan atau BPPN dan atau melalui Juru Lelang kepada pembeli sebenarnya.
6.2.1 Atas pengalihan tersebut terutang PPN 6.2.2 Tidak perlu dibuatkan Faktur Pajak Standar 6.2.3 Nilai Jual atau
Penggantian dari pengalihan aktiva tersebut sudah termasuk PPN, sehingga perhitungan PPN yang terutang atas pengalihan aktiva tersebut adalah sebesar 10/110 X Nilai
Jual/Penggantian.
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
6.2.4 PPN yang terutang atas pengalihan aktiva tersebut disetor seluruhnya dengan menggunakan SSP
tersendiri dan dilakukan oleh Bank Kreditor dan atau BPPN.
Dalam mengisi SSP untuk PPN yang disetor oleh Bank Kreditor dan atau BPPN, perlu diperhatikan hal-
hal sebagai berikut :
Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022
a. Pada kolom nama dan alamat diisi nama dan alamat Bank Kreditor dan atau BPPN yang
menyerahkan BKP
tersebut Q.Q PKP Pembeli.
b. Pada kolom NPWP diisi dengan angka 0 (nol) pada 8
(delapan) digit pertama dan kode Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP pembeli bertempat tinggal atau
berkedudukan.
c. Pada kolom
"Wajib
Pajak/Penyetor"
disudut kanan bawah diisi nama dan cap Bank Kreditor dan atau BPPN.
6.3Bagi Pembeli :
a. PPN yang terutang tersebut dapat dikreditkan
sepanjang memenuhi pasal 9 ayat (9) UU PPN tahun 1994.
(Bukti asli SSP dianggap sebagai Faktur Pajak)
b. Harus dilaporkan dalam SPT Masa PPN untuk masa pajak saat terjadinya pengalihan aktiva tersebut. Apabila masa terjadinya telah lewat, maka PKP Pembeli harus memperbaiki SPT Masa PPN dengan berpedoman pada Pasal 8 UU KUP Tahun 1994.
Demikian untuk dimaklumi dan dilaksanakan, serta disebarluaskan kepada Wajib Pajak.
DIREKTUR JENDERAL, ttd
A. ANSHARI RITONGA