• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Paragraf Deduktif- Induktif: kalimat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "3. Paragraf Deduktif- Induktif: kalimat "

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

1

PARAGRAF

(2)

2

Paragraf atau Alinea

seperangkat/himpunan kalimat yang membahas satu topik atau hanya

mengacu pada satu gagasan pokok.

Topik dituangkan ke dalam suatu

kalimat yang disebut dengan kalimat topik atau kalimat utama,

sedangkan kalimat yang menjelaskan kalimat topik disebut kalimat

penjelas.

(3)

3

Syarat-syarat Pembentukan Paragraf

1. Kesatuan

semua kalimat dalam paragraf itu secara bersama-sama mendukung satu ide atau gagasan pokok.

Jadi, tidak boleh ada kalimat

sumbang atau menyimpang dari pikiran utamanya.

(4)

4

Contoh paragraf berkalimat sumbang Hari akan hujan. Angin bertiup kencang. Debu-debu beterbangan.

Awan hitam bergerak dengan cepat.

Burung-burung berkicau riang. Para pedagang kaki lima sibuk mengemas dagangannya.

(5)

5

2. Koherensi

kepaduan atau kekompakan hubungan antara kalimat satu

dengan kalimat lain dalam paragraf tersebut.

Kepaduan kalimat dalam suatu paragraf dapat dijalin dengan

penanda hubungan, baik penanda hubungan eksplisit maupun implisit.

(6)

6

a. Penanda Hubungan secara Eksplisit

1) pengulangan kata Contoh:

Semua isi alam ini adalah makhluk,

artinya ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan paling mulia adalah

manusia. Manusia diizinkan oleh Tuhan memanfaatkan semua isi alam ini untuk keperluan hidupnya. Akan tetapi, tidak diizinkan menyakiti, menyiksa, dan

menyia-nyiakan.

(7)

7

2) kata ganti Contoh

Maya anak Pak Karto. Sekarang ia kelas III SMP. Tiap pagi teman- temannya selalu menghampirinya.

Mereka berangkat dan pulang bersama- sama.

(8)

8

3) kata-kata penghubung Contoh

Semalam suntuk Darto

menonton pertandingan sepakbola di televisi. Oleh karena itu, ia

bangun kesiangan. Akibatnya, ia terlambat masuk ke sekolah.

(9)

9

b

.

Penanda Hubungan secara Implisit Contoh

Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalah. Sinarnya yang keemas- an membuat suasana sangat cerah.

Angin segar bertiup sepoi-sepoi basa menggerak-gerakkan daun pepo-honan. Burung-burung pun berkicau riang. Tampak segalanya indah.

(10)

10

3. Pengembangan

Pengembangan ide atau gagasan dengan menggunakan kalimat-

kalimat pendukung.

4. Efektif

Disusun dengan menggunakan kalimat efektif sehingga ide bisa tersampaikan dengan tepat.

(11)

 JENIS-JENIS PARAGRAF 

A. Berdasarkan Letak Kalimat Utama

1. Paragraf Deduktif: kalimat utama

berada di awal paragraf (tidak selalu kalimat pertama, sebab banyak

paragraf yang kalimat pertamanya berupa kalimat transisi).

(12)

Contoh 1.

Kegiatan seorang penulis dapat disamakan dengan seorang petani yang mencangkul sawah ladangnya. Petani akan bertenaga kalau cukup makan dan minum. Bila kurang makan dan minum, ia akan cepat merasa lelah, letih, dan loyo. Demikian pula seorang penulis. Bila penulis sedikit membaca, kurang melakukan riset untuk bahan tulisannya, dan tidak sensitif terhadap lingkungannya, tentu saja ia akan kehabisan ide.

(13)

Contoh 2

Perbandingan yang lebih nyata sebagai berikut.

Seorang penulis dapat disamakan dengan sebuah kendi, yaitu tempat air minum dari tanah yang dibakar. Kendi mempunyai dua lubang, satu di atas dan satu di samping. Lubang bagian atas untuk memasukkan air dan lubang di samping untuk mengeluarkan air. Bila kendi tidak diisi, tentu tak akan ada air yang keluar meskipun kendi itu dijungkirbalikkan. Sebaliknya, bila kendi itu penuh, digoyang sedikit saja air keluar dengan lancar. Demikian pula seorang penulis, membaca bagi penulis merupakan upaya mengisi pengetahuan ke dalam otaknya. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula bahan yang dapat ditulisnya.

(14)

2. Paragraf Induktif: kalimat utama berada di bagian akhir (biasanya

menggunakan konjungsi penyimpul antarkalimat: jadi, maka, dengan

demikian, akhirnya, karena itu).

(15)

Contoh

Pulau Jawa dan Madura yang luasnya hanya 6,7%

dari luas Indonesia saat ini dihuni oleh 60% penduduk Indonesia. Kepadatan penduduk di Jawa kurang lebih 900 orang per kilometer persegi. Di wilayah Semarang mencapai 1.832 orang per kilometer persegi. Kepadatan penduduk ini sangat luar biasa bedanya dengan wilayah Indonesia lainnya. Di Papua kepadatannya hanya 4 orang per kilometer persegi. Bahkan, di Kabupaten Merauke yang luasnya hampir sama dengan Pulau Jawa dan penduduknya hanya 270.000 orang itu, kepadatannya hanya 2 orang per kilometer persegi.

Karena itu, siapa pun tidak akan ragu-ragu mengatakan bahwa penyebaran penduduk Indonesia tidak merata.

(16)

3. Paragraf Deduktif- Induktif: kalimat

utamanya berada di awal dan sekaligus di akhir

paragraf

(17)

Contoh:

Mulai sekarang kita harus membiasakan hidup bersih. Kita buang sampah di tempatnya.

Jangan sampai ada sampah tercecer di sembarang tempat sebab selain mengesankan jorok dan menimbulkan bau busuk, sampah juga menjadi sarang penyakit. Berbagai bibit penyakit yang berkembang biak di dalam sampah itu mengancam kesehatan kita. Semakin banyak sampah di sekitar kita, semakin besar pula ancaman itu. Sebaliknya, semakin bersih lingkungan kita, semakin besar pula harapan kita untuk hidup sehat. Karena itu, kita harus menjaga kebersihan lingkungan.

(18)

4. Paragraf Ineratif: kalimat utama berada di tengah paragraf.

Etos kerja masyarakat Jepang sangat tinggi.

Mereka juga sangat berdisiplin. Masalah disiplin itu sudah mendarah daging bagi mereka. Di mana-mana, baik di rumah, di jalan, di tempat umum, maupun di kantor, semuanya sangat disiplin. Masyarakat Jepang memang layak diteladani. Mereka rajin membaca untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Di mana saja, asal ada kesempatan, mereka membaca.

Bagi mereka, membaca tidak harus di ruang baca.

Mereka melakukannya di dalam gerbong kereta yang melaju, di stasiun, dan bahkan sambil berdiri antre beli tiket.

(19)

5. Paragraf tanpa Kalimat Utama (biasanya digunakan dalam narasi atau deskripsi)

Begitu upacara pengibaran bendera selesai, rakyat dan pemuda Magelang berduyun-duyun meninggalkan puncak Gunung Tidar. Mereka menuruni lereng gunung bagian barat dengan rasa bangga sebagai bangsa merdeka. Namun, tiba-tiba terdengar letusan senjata api dari balik gunung sebelah utara. Bukan satu dua letusan, melainkan berondongan peluru tajam yang mengancam jiwa mereka.

(20)

Rupanya pengibaran bendera merah putih di puncak Gunung Tidar terlihat jelas dari markas tentara Jepang yang berada tidak jauh dari kaki gunung. Tentara Jepang ingin menurunkan bendera merah putih dan mengibarkan benderanya di puncak Gunung Tidar. Dalam keadaan kacau, tiba-tiba datang dua orang tentara Jepang, ngotot ingin mengibarkan benderanya. Para pemuda menghadapi dengan tegas sehingga kedua tentara Jepang itu lari terbirit-birit kembali menuju markasnya.

(21)

Gunung Tidar berada di tengah-tengah Kota Magelang. Meskipun disebut gunung, sebenarnya hanya berupa bukit kecil yang dapat didaki sampai puncaknya dengan berjalan kaki selama lima belas menit. Ada tiga jalan yang biasa dilalui menuju puncak, yaitu dari arah barat, utara, dan selatan. Semuanya jalan setapak yang mudah dilalui. Bahkan jalan dari arah barat lebih mudah lagi dilewati karena dibuat mirip tangga rumah bertingkat.

Semua jalan setapak menuju puncak dipayungi pepohonan besar dan rindang. Perjalanan ke puncak seakan menerobos belantara dengan aneka pohon dan semak. Beberapa pohon besar menjulurkan akar-akar gantungnya. Kicauan aneka burung melengkapi keindahan hutan. Embusan angin sejuk memperkuat suasana alam pegunungan.

(22)

B. Berdasarkan Sifat dan Tujuan 1. Deskripsi

bertujuan memberikan kesan/impresi kepada pembaca tehadap objek, gagasan, tempat, peristiwa, dan semacamnya yang ingin disampaikan penulis. Dengan deskripsi yang baik, pembaca dapat dibuat seolah-olah melihat, mendengar, merasakan, atau terlibat dalam peristiwa yang diuraikan penulis.

(23)

2. Narasi: bertujuan mengisahkan atau menceritakan sesuatu (mementingkan urutan/kronologis).

3. Eksposisi: bertujuan memaparkan,

menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya.

Biasanya digunakan untuk menyajikan pengetahuan/ilmu, definisi, pengertian,

langkah-langkah suatu kegiatan, metode, cara, dan proses terjadinya sesuatu.

(24)

4. Argumentasi:

bertujuan menyampaikan suatu pendapat, konsepsi, atau opini tertulis kepada pembaca. Untuk meyakinkan pembacaa bahwa yang disampaikan itu benar, penulis menyertakan bukti, contoh, dan berbagai alasan yang sulit dibantah.

(25)

5. Persuasi: merupakan kelanjutan atau

pengembangan argumentasi.persuasi mula- mula memaparkan gagasan dengan alasan, bukti, atau contoh untuk meyakinkan

pembaca. Kemudian diikuti dengan ajakan,

bujukan, rayuan, imbauan, atau saran kepada pembaca.

Perbedaan argumentasi dan persuasi: sasaran yang dibidik

Argumentasi => sasarannya logika pembaca

Persuasi => emosi/perasaan pembaca (dengan tidak melepaskan logika)

(26)

26

MACAM-MACAM POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF

1. Pengembangan Umum-Khusus Paragraf yang dimulai dengan pikiran pokok kemudian diikuti oleh pikiran-pikiran penjelas.

(27)

27

Contoh:

Pada waktu menulis surat kita harus tenang. Kalau sedang sedih, bingung, kesal, atau marah kita

jangan menulis surat. Kesedihan, kebingungan, kekesalan, dan

kemarahan itu akan tergambar dalam surat kita. Mungkin akan tertulis kata- kata yang kurang terpikir, terburu

nafsu, dan dapat merusak suasana.

(28)

28

2. Pengembangan Khusus-Umum Paragraf yang dimulai dengan

pikiran-pikiran penjelas kemudian diikuti oleh pikiran pokok atau

kesimpulan.

(29)

29

Contoh

Dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan bermacam-macam

pikiran dan perasaan kepada sesama

manusia. Dengan bahasa pula, manusia dapat mewarisi dan mewariskan semua pengalaman dan pengetahuannya.

Seandainya manusia tidak berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini. Memang bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.

(30)

30

3. Pengembangan dengan Alasan- alasan atau Sebab Akibat

Paragraf ini didahului dengan sebab terjadinya sesuatu dan diikuti

rincian-rincian sebagai akibatnya atau sebaliknya.

Sebab sebagai pikiran utama dan akibat sebagai pikiran-pikiran

penjelas.

(31)

31

Contoh

(1) Itik Indonesia baik sekali untuk diternakkan. (2) Pemeliharaannya sederhana sekali. (3) Telurnya

banyak. (4) Tahan terhadap berbagai penyakit. (5) Ia kuat sekali berjalan jauh.

Kalimat (1) sebagai akibat dan

kalimat (2 ), (3), (4), (5) sebagai sebab

(32)

32

4. pengembangan dengan perbandingan

Pengembangan paragraf jenis ini mengungkapkan persamaan dan perbedaan dua objek atau lebih.

(33)

33

Contoh

(1) Kota Jakarta dan Bandung mempunyai persamaan dan perbedaan. (2) Keduanya

termasuk kota besar bahkan sebagai ibukota provinsi. (3) Ditinjau dari suasana, Jakarta

bersuhu panas sedangkan Bandung sejuk. (4) Di samping itu, Kota Jakarta memiliki peran

lain, yaitu sebagai ibukota negara.

Persamaan ditunjukkan oleh kalimat (2) dan perbedaan oleh kalimat (3) dan (4).

(34)

34

4. Pengembangan dengan Contoh Pengembangan jenis ini

dikemukakan suatu pernyataan yang diikuti rincian berupa

contoh-contoh.

(35)

35

Contoh

Sejalan dengan perkembangan sejarahnya, perbendaharaan kata Indonesia diperkaya oleh berbagai bahasa. Ada yang berasal dari bahasa daerah, ada pula yang berasal dari bahasa asing. Yang berasal dari bahasa daerah, misalnya nyeri, babak, beres, dan sewenang-wenang. Adapun yang berasal dari bahasa asing lampu, motor, ahli, akhlak, dan lain-lain.

Referensi

Dokumen terkait