TATAP MUKA
02
MODUL PERKULIAHAN
Pengantar Manajemen
Bab 2 – Evolusi Teori Manajemen
Disusun oleh: Kode Mata Kuliah: IT-021245
Ardiprawiro, SE., MMSI Fakultas: S1 – Ekonomi
ABSTRAK TUJUAN Ilmu manajemen memiliki usia yang sama
dengan kehidupan manusia, karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari- harinya tidak bisa lepas dari prinsip-prinsip manajemen baik langsung maupun tidak langsung, baik disadari ataupun tidak disadari.
Setelah membaca modul ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk:
Mengenal sejarah manajemen, perkembangannya, teori manajemen, dan pendekatan-pendekatan manajemen.
2022 Pengantar Manajemen
BAB 2
EVOLUSI TEORI MANAJEMEN
Perkembangan teori manajemen sampai pada saat ini telah berkembang dengan pesat. Tapi sampai detik ini pula belum ada suatu teori yang bersifat umum ataupun berupa kumpulan- kumpulan hukum bagi manajemen yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi.
Para manajemen banyak mengalami dan menjumpai pandangan-pandangan tentang manajemen, yang berbeda adalah dalam penerapan-penerapannya. Di mana setiap pandangan hanya dapat diterapkan dalam berbagai masalah yang berbeda pula, sedangkan untuk masalah-masalah yang sama belum tentu dapat diterapkan.
2.1 Sejarah Perkembangan Manajemen
Sejarah perkembangan manajemen dibagi menjadi empat masa, yaitu:
1. Masa pemikiran awal manajemen yang memiliki aliran manajemen klasik.
2. Masa klasik yang terbagi menjadi 2 aliran yaitu aliran manajemen ilmiah dan aliran teori organisasi klasik.
3. Masa neoklasik yang memiliki aliran hubungan manusiawi.
4. Masa modern yang memiliki aliran manajemen modern.
Tabel 2.1
Sejarah Perkembangan Manajemen
Masa Periode Waktu Aliran Manajemen Tokoh Manajemen Pemikiran Awal
Manajemen 1771 - 1871 Manajemen Klasik Robert Owen Charles Babbage
Masa Klasik
1870 - 1930 Manajemen Ilmiah
Frederick W. Taylor Frank dan Lilian Gilbreth
Henry L. Gantt Harrington Emmerson
1900 - 1940 Teori Organisasi Klasik
Henry Fayol James D. Mooney Mary Parker Follet Chester I. Barnard Masa Neoklasik 1930 - 1940 Hubungan Manusiawi Hugo Munsterberg
Elton Mayo
Masa Modern 1940 - Sekarang Manajemen Modern
Abraham Maslow Chris Argyris Douglas McGregor Edgar Shien
Free Feidler
Frederick Herzberg Rensis Likert
Robert Blake & Jane Moutoun
2.1.1 Masa Pemikiran Awal Manajemen
Sebelum abad 20, terjadi 2 peristiwa yang cukup penting untuk ilmu manajemen. Peristiwa pertama tahun 1776 saat Adam Smith memunculkan doktrin ekonomi klasik “The Wealth of Nation” yang dalam buku yang ia terbitkan mengemukakan tentang keunggulan ekonomis yang akan didapat oleh organisasi atas pembagian kerja. Pembagian kerja atau division of labor ini oleh Adam Smith yaitu mengenai perincian pekerjaan-pekerjaan kepada tugas yang lebih spesifik serta berulang. Dengan meneliti sebuah industri pabrik peniti sebagai penelitian, Adam Smith mengungkapkan bahwa dengan 10 orang menjalankan tugas khusus perusahaan bisa memproduksi sekitar 48 ribu peniti dalam sehari, namun apabila tiap orang bekerja sendiri menyelesaikan pada tiap-tiap bagian dari pekerjaan, menghasilkan 10 peniti saja sehari sudah sangat bagus. Adam Smith berkesimpulan bahwa suatu pembagian kerja bisa meningkatkan tingkat produktivitas dengan:
a) Menghemat waktu,
b) Meningkatkan keterampilan para pekerja, dan
c) Menciptakan mesin serta penemuan lain yang bisa menghemat tenaga kerja.
Peristiwa yang kedua adalah terjadinya revolusi industri di Britania. Revolusi industri ini ditandai dengan banyaknya penggunaan mesin yang menggantikan peran manusia yang kemudian mengakibatkan perpindahan aktivitas produksi yang awalnya dari rumah ke rumah menuju tempat yang khusus untuk produksi yang kita kenal sebagai “pabrik”. Ada dua tokoh manajemen yang mengawali munculnya aliran manajemen klasik, yaitu:
1. Robert Owen (1771 – 1858)
Dimulai pada awal tahun 1800-an, Robert Owen merupakan manajer dan pemilik dari beberapa pabrik pemintalan kapas di New Lanark, Skotlandia. Robert Owen mencurahkan perhatiannya pada penggunaan faktor produksi mesin dan faktor produksi tenaga kerja. Dari hasil pengamatannya disimpulkan bahwa, bilamana terhadap mesin diadakan suatu perawatan yang baik akan memberikan keuntungan kepada perusahaan, demikian pula halnya pada tenaga kerja, apabila tenaga kerja dipelihara dan dirawat (dalam arti adanya perhatian baik kompensasi, kesehatan, tunjangan, dan lain sebagainya) oleh pimpinan perusahaan akan memberikan keuntungan kepada perusahaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas hasil pekerjaan dipengaruhi oleh situasi ekstern dan intern dari pekerjaan. Atas hasil penelitiannya, Robert Owen dikenal sebagai Bapak Manajemen Personalia. Dia juga sebagai salah seorang pendiri gerakan koperasi konsumsi, adapun usaha yang pernah dilakukan dan mengalami kegagalan adalah mendirikan suatu komune di New Harmoni, Indiana pada tahun 1824.
2022 Pengantar Manajemen
2. Charles Babbage (1792 – 1871)
Charles Babbage adalah seorang profesor matematika dari Inggris yang menaruh perhatian dan minat pada bidang manajemen. Perhatiannya pada operasi-operasi pabrik yang dapat dilakukan secara efisien. Dia percaya bahwa aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikkan produktivitas dari tenaga kerja dan menurunkan biaya, karena pekerjaan- pekerjaan dilakukan secara efektif dan efisien. dia menganjurkan agar para manajer bertukar pengalaman dan dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen. Perhatiannya diarahkan dalam hal pembagian kerja (division of labor), yang mempunyai beberapa keunggulan yaitu:
a) Waktu yang diperlukan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang baru.
b) Banyaknya waktu yang terbuang bila seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan orang tersebut harus menyesuaikan kembali pada pekerjaan barunya sehingga akan menghambat kemajuan dan keterampilan pekerja, untuk itu diperlukan spesialisasi dalam pekerjaannya.
c) Kecakapan dan keahlian seseorang bertambah karena seorang pekerja bekerja terus- menerus dalam tugasnya.
d) Adanya perhatian pada pekerjaannya sehingga dapat meresapi alat-alatnya karena perhatiannya pada itu-itu saja.
Kontribusi lain dari Charles Babbage yaitu menciptakan mesin hitung (kalkulator) mekanis pertama, mengembangkan program-program permainan untuk komputer, mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan antara para pekerja dengan pemilik perusahaan, juga membuat skema perencanaan pembagian keuntungan.
2.1.2 Masa Klasik
Masa klasik ditandai dengan lahirnya aliran manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik seiring dengan perkembangan teknologi yang dihasilkan oleh para ahli teknik yang bekerja pada perusahaan-perusahaan besar di Eropa dan Amerika Serikat.
Pembahasan dimulai dari tokoh-tokoh yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan aliran manajemen ilmiah, di antaranya adalah sebagai berikut:
3. Frederick Winslow Taylor (1856 – 1915)
Pertama kali manajemen ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan dibahas pada tahun 1900-an. Frederick W. Taylor adalah manajer dan penasihat perusahaan dan merupakan salah satu tokoh terbesar ilmu manajemen. Taylor dikenal juga sebagai bapak manajemen ilmiah. Hasil penelitian dan analisanya ditetapkan dari beberapa prinsip yang menggantikan prinsip lama yaitu sistem coba-coba atau yang lebih dikenal dengan nama sistem trial and error.
Hakekat pertama dari manajemen ilmiah adalah “a great mental revolution”, karena hal ini menyangkut manajer dan karyawan. Hakekat yang kedua yaitu penerapan ilmu pengetahuan untuk menghilangkan sistem coba-coba dalam setiap unsur pekerjaan. Taylor memberikan prinsip-prinsip dasar (filsafat) dalam penerapan pendekatan ilmiah pada manajemen dan mengembangkan teknik-tekniknya untuk mencapai efisiensi.
Taylor juga menekankan bahwa waktu penyelesaian kerja dapat dihubungkan dengan upah/gaji yang diterima pekerja karena semakin cepat atau semakin tinggi prestasi pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya, maka semakin tinggi upah/gaji yang akan diterima oleh pekerja tersebut. Metode ini dikenal sebagai sistem upah diferensiasi (differential rate system).
Taylor menuangkan gagasan-gagasannya dalam tiga judul makalah, yaitu Shop Management, The Principle of Scientific Management, dan Testimony Before The Special House Committee, yang dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul Scientific Management.
Dalam bukunya, Taylor mengemukakan empat prinsip dasar dalam penerapan pendekatan pada manajemen ilmiah, sebagai berikut:
a) Perkembangan manajemen ilmiah yang riil
Prinsip ini merupakan metode terbaik untuk melaksanakan setiap tugas dapat ditentukan.
Kembangkanlah sebuah ilmu bagi setiap unsur pekerjaan seseorang yang akan menggantikan metode kaidah ibu jari yang lama.
b) Seleksi ilmiah pekerja
Dalam hal ini, setiap pekerja dipertanggungjawabkan tugas yang dinilai paling sesuai untuknya. Para pekerja tersebut perlu dipilih secara ilmiah untuk kemudian dilatih dan dikembangkan potensi dan keterampilannya.
c) Pendidikan dan pengembangan ilmiah
Manajemen perlu bekerja sama dengan para pekerja secara sungguh-sungguh dalam rangka memastikan bahwa setiap pekerjaan dijalankan sesuai dengan prinsip ilmu yang telah dikembangkan sebelumnya.
d) Kerja sama pribadi yang bersahabat antara manajemen dan tenaga kerja
Pekerjaan beserta tanggung jawabnya perlu dibagi rata di antara pimpinan dan bawahan.
Manajemen perlu mengambil alih berbagai pekerjaan yang dinilai lebih tepat untuknya daripada untuk bawahannya.
4. Frank B. Gilbert (1868 – 1924) dan Lilian Gilberth (1878 – 1972)
Frank dan Lillian adalah pasangan suami istri yang memberikan kontribusi bagi gerakan manajemen ilmiah. Mereka bekerja sama dalam mempelajari kelelahan dan gerakan serta berfokus pada cara untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Bagi Frank dan Lillian, manajemen ilmiah ditujukan untuk membantu karyawan dalam mencapai potensinya secara utuh sebagai manusia.
Frank berpendapat bahwa gerakan dan kelelahan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Selain itu, setiap gerakan yang dihilangkan juga akan menimbulkan suatu kelelahan.
Sedangkan Lillian menyatakan bahwa gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan.
Dengan kata lain hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa gerakan yang efektif akan menyemangati kerja karyawan.
2022 Pengantar Manajemen
Gagasan mengenai program pengembangan karyawan lebih difokuskan pada karyawan itu sendiri untuk mengembangkan dirinya melalui serangkaian persiapan untuk menerima jabatan yang lebih tinggi.
5. Henry L. Gantt (1861 – 1919)
Henry L. Gantt memberi perhatiannya pada unsur manusia dalam meningkatkan produktivitas kerja. Gagasan yang dicetuskannya yaitu:
a) Kerja sama yang saling menguntungkan antara manajer dan tenaga kerja untuk mencapai tujuan bersama.
b) Mengadakan seleksi ilmiah terhadap tenaga kerja.
c) Membayar upah tenaga kerja dengan menggunakan sistem bonus.
d) Penggunaan instruksi kerja yang terperinci.
Implementasi konsep dan pemikiran Taylor melalui sistem insentif, gaji, dan bonus untuk tenaga kerja di perusahaannya. Sistem insentif yang dikembangkan Gantt adalah sistem bonus bagi pekerja yang menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang lebih pendek. Henry Gantt mengembangkan sebuah grafik atau chart untuk lebih mendukung sistemnya. Grafik ini dikenal dengan “Gantt Chart”.
Gambar 2.1 Grafik Gantt 6. Harrington Emerson (1853 – 1931)
Menurut Emerson, pemborosan merupakan penyakit yang merintangi manajemen. Oleh sebab itu, Emerson merumuskan beberapa prinsip berikut:
1) Perumusan tujuan yang jelas 2) Pelaksanaan kegiatan yang logis 3) Penyediaan staf yang terampil 4) Penciptaan kedisiplinan kerja 5) Pemberian imbal jasa yang adil
6) Pelaporan yang cepat, tepat, terpercaya, dan kontinu 7) Penginstruksian dan perencanaan dari urutan kerja
8) Adanya standar, metode, skedul, dan waktu di setiap kegiatan 9) Adanya kondisi yang standar
10) Adanya operasi yang standar
11) Adanya instruksi praktis yang standar secara tertulis 12) Adanya balas jasa efisiensi dan rencana insentif
Manajemen ilmiah sudah diakui mampu berkontribusi dengan baik bagi efisiensi kerja dan peningkatan produktivitas. Peningkatan produktivitas didukung oleh suatu sistem pembagian kerja dari serangkaian proses pekerjaan yang menimbulkan adanya berbagai spesialisasi tertentu. Sementara itu, berbagai teknik efisiensi manajemen ilmiah sebagaimana yang ditunjukkan oleh studi waktu dan gerak terbukti dapat meningkatkan efisiensi kerja sebagaimana sistem seleksi dan pengembangan ilmiah para pekerja mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja.
Meskipun demikian, aliran manajemen ilmiah yang berupaya meningkatkan produktivitas justru pada praktiknya bisa menciptakan berbagai pengaruh yang tidak menguntungkan bagi sistem manajemen itu sendiri. Misalnya, produktivitas berbasis teknologi cenderung akan mengurangi banyak karyawan. Kelemahan lainnya yaitu tenaga kerja kurang mendapat perhatian atas berbagai kebutuhan sosial dan kepribadiannya, sehingga kepuasan tenaga kerja menjadi kurang diperhatikan.
Teori organisasi klasik berisi konsep-konsep tentang organisasi mulai tahun 1800-an (abad 19). Secara umum organisasi digambarkan oleh para tokoh-tokoh yang berkembang dalam aliran teori administrasi dan teori manajemen ilmiah.
7. Henry Fayol (1841 – 1925)
Fayol adalah seorang industrialis Perancis. Fayol mengatakan bahwa teori dan teknik administrasi merupakan dasar pengelolaan organisasi yang kompleks, ini diungkapkan dalam bukunya yang berjudul Adminstration Industrielle et General atau General and Industrial Management yang ditulis pada tahun 1908 oleh Constance Storrs.
Peranan Fayol dapat disejajarkan dengan Taylor, dua tokoh ini mengemukakan hal yang sama bahwa ada prinsip-prinsip manajemen tertentu yang harus diajarkan dan dipelajari oleh para manajer dan karyawan. Tapi kedua tokoh tersebut berbeda dalam titik perhatiannya, di mana Fayol menitikberatkan pada manajer tingkat bawah, sedangkan Taylor menitikberatkan pada manajer tingkat menengah dan atas.
Fayol membagi manajemen menjadi lima unsur yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengoordinasian dan pengawasan, fungsi ini dikenal sebagai fungsionalisme.
Selanjutnya Fayol membagi enam kegiatan manajemen, yaitu (1) teknik produksi dan manufakturing produk, (2) komersial, (3) keuangan, (4) keamanan, (5) akuntansi, dan (6) manajerial.
2022 Pengantar Manajemen
Henry Fayol mengemukakan 14 prinsip manajemen, yaitu:
1) Divisi kerja (division of work)
Adanya spesialisasi dalam pekerjaan, di mana dengan spesialisasi dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja. Tujuannya adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan terbaik dengan usaha yang sama.
2) Wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility)
Wewenang yaitu hak untuk memberi perintah dan kekuasaan untuk meminta dipatuhi.
Dibedakan menjadi dua jenis yaitu wewenang personal yang bersumber pada intelegensia, pengalaman nilai moral, kesanggupan untuk memimpin dan sebagainya.
Kedua, wewenang ofisial yaitu wewenang resmi yang diterima dari wewenang yang berada di atasnya.
Tanggung jawab yaitu tugas dan fungsi yang harus dikerjakan, untuk ini diperlukan wewenang dari pihak di atasnya. Semuanya ini diperlukan sangsi agar dipatuhi oleh orang yang menerima.
3) Disiplin (discipline)
Melakukan apa yang sudah menjadi persetujuan bersama, disiplin ini sangat penting dalam tercapainya tujuan bersama, sebab tanpa ini tidak akan mencapai kemajuan.
4) Kesatuan komando (unity of command)
Setiap bawahan hanya menerima instruksi dari seorang atasan saja untuk menghilangkan kebingungan dan saling lempar tanggung jawab. Bila hal ini dilanggar maka wewenang akan berkurang, disiplin terancam dan stabilitas akan goyah.
5) Kesatuan arah (unity of direction)
“One head and one plan for a group of activities having the same objective.” Seluruh kegiatan dalam organisasi yang mempunyai tujuan sama harus diarahkan oleh seorang manajer.
6) Subordinasi kepentingan individu dengan kepentingan umum (subordination of individual interest to general interest)
Kepentingan seseorang tidak boleh di atas kepentingan bersama atau organisasi.
7) Remunerasi (remuneration)
Gaji bagi pegawai merupakan harga servis atau layanan yang diberikan. Kompensasi harus adil baik bagi karyawan maupun bagi pemilik.
8) Sentralisasi (centralization)
Standarisasi dan desentralisasi merupakan pembagian kekuasaan. Sentralisasi bisa dipakai pada organisasi yang kecil, tapi lain bagi organisasi yang besar sentralisasi tidak mungkin dapat digunakan, harus menggunakan desentralisasi. Bila peranan diberikan kepada bawahan lebih besar, maka digunakan desentralisasi.
9) Rantai skalar atau garis wewenang (scalar chain)
Jalan yang harus diikuti oleh semua komunikasi yang bermula dari dan kembali kekuasaan terakhir. Prinsipnya mempermudah komunikasi antara pegawai yang setingkat.
10) Posisi (order)
Di sini berlaku setiap tempat untuk setiap orang dan setiap orang pada tempatnya.
Hendaknya setiap orang ditempatkan pada posisi yang tepat untuk mereka, berdasarkan pada kemampuan, bakat, dan minatnya.
11) Keadilan (equity)
Untuk merangsang agar pekerja melaksanakan pekerjaan dengan baik, sungguh- sungguh dan penuh kesetiaan, maka harus ada persamaan perlakuan dalam organisasi.
12) Stabilitas masa jabatan personel (stability of tenure of personnel)
Seorang pegawai memerlukan penyesuaian untuk mengerjakan pekerjaan barunya, agar dapat berhasil dengan baik. Apabila seseorang sering kali dipindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain akan menghambat dan membuat pekerja tersebut produktivitasnya kecil.
Pergantian (turnover) tenaga kerja yang tinggi tidak baik bagi pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi.
13) Prakarsa (initiative)
Bawahan diberi kekuasaan dan kebebasan di dalam mengeluarkan pendapatnya, menjalankan dan menyelesaikan rencananya, walaupun ada kesalahan yang mungkin terjadi.
14) Semangat korps (esprit the corps)
Persatuan adalah keleluasaan, pelaksanaan operasi organisasi perlu memiliki kebanggaan, keharmonisan, dan kesetiaan dari para anggotanya yang tercermin dalam semangat korps.
Kegiatan di dalam industri dibagi menjadi enam bidang, yaitu manajerial, pembukuan termasuk statistik, teknis produksi, komersial atau perdagangan, finansial dan kepastian.
8. James D. Mooney (1884 – 1957)
Mooney adalah eksekutif General Motors, mengkategorikan prinsip-prinsip dasar manajemen tertentu. Dia mendefinisikan organisasi sebagai sekelompok dua atau lebih orang yang bergabung untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Mooney, merancang suatu organisasi perlu memperhatikan empat kaidah dasar yaitu:
1) Koordinasi
Koordinasi merupakan syarat-syarat adanya koordinasi meliputi wewenang, saling melayani, perumusan tujuan, dan disiplin.
2022 Pengantar Manajemen
2) Prinsip skalar
Prinsip skalar merupakan suatu prinsip, prospek, dan pengaruh sendiri yang tercermin dari kepemimpinan, delegasi, dan definisi fungsional.
3) Prinsip fungsional
Prinsip fungsional merupakan suatu prinsip yang mendefinisikan berbagai macam tugas yang harus diselesaikan dalam mencapai tujuan bersama.
4) Prinsip staf
Prinsip staf merupakan kejelasan adanya perbedaan antara staf dan lini.
9. Mary Parker Follet (1868 – 1933)
Mary Parker Follet agar berbeda dengan pendahulunya karena memasukkan antara teori klasik dan hubungan manusia. Dia memperkenalkan unsur-unsur baru tentang aspek-aspek hubungan manusiawi dan struktur organisasi. Follet percaya bahwa seseorang menjadi manusia sepenuhnya apabila manusia menjadi anggota dalam suatu kelompok.
Konsekuensinya adalah manajemen dan pekerja mempunyai kepentingan yang sama karena menjadi anggota organisasi yang sama. Follet mengembangkan model perilaku pengendalian organisasi dalam tiga hal yaitu:
1) Pengendalian diri (dari diri orang tersebut) 2) Pengendalian kelompok (dari kelompok tersebut)
3) Pengendalian bersama (dari diri orang dan dari kelompok)
Dia menerapkan psikologi dalam perusahaan, industri, dan pemerintahan. Konflik yang terjadi dalam perusahaan dapat dibuat konstruktif dengan menggunakan proses integrasi.
Menurutnya, organisasi merupakan komunitas tempat manajer dan karyawan bekerja secara harmonis tanpa adanya dominasi dari salah satu pihak terhadap pihak lainnya, serta dapat menyelesaikan berbagai perbedaan dan konflik yang timbul melalui diskusi. Follet beranggapan bahwa manajer bertugas untuk membantu karyawan agar saling bekerja sama dalam rangka mencapai berbagai kepentingan yang terintegrasi. Menurut Follet, tanggung jawab kolektif dapat ditimbulkan oleh upaya membuat karyawan merasa memiliki perusahaan.
10. Chester I. Barnard (1886 – 1961)
Chester I. Barnard adalah presiden perusahaan Bell Telephone di New jersey, Amerika Serikat pada tahun 1927. Dia menulis bermacam-macam subyek manajemen dalam bukunya
“The Function of The Executive” yang ditulis pada tahun 1938.
Dalam bukunya The Function of The Executive (1938) mengatakan bahwa organisasi merupakan sistem kegiatan yang diarahkan pada tujuan yang hendak dicapai. Fungsi utama manajemen yaitu perumusan tujuan dan pengadaan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Menurut teorinya yang diberi nama teori penerimaan mengatakan bahwa seorang bawahan akan menerima perintah hanya bila dia memahami dan mampu serta berkeinginan untuk mencapainya. Barnard adalah pelopor penggunaan pendekatan sistem.
2.1.3 Masa Neoklasik
Masa neoklasik ditandai dengan lahirnya pendekatan manajemen dari sisi perilaku manusia pada 1930 dan populer sejak 1950-an atau yang disebut aliran hubungan manusia.
Aliran ini timbul karena pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi dalam produksi dan keselarasan kerja. Para pakar mencoba melengkapi organisasi klasik dengan pandangan sosiologi dan psikologi. Tokoh-tokoh aliran hubungan manusiawi antara lain:
11. Hugo Musterberg (1863 – 1949)
Hugo merupakan pencetus psikologi industri sehingga dikenal sebagai Bapak Psikologi Industri. Bukunya yaitu Psychology and Industrial Efficiency, menguraikan bahwa untuk mencapai tujuan produktivitas harus melakukan tiga cara. Pertama, penemuan orang yang terbaik (best possible person). Kedua, penciptaan pekerjaan yang terbaik (best possible work) dan ketiga, penggunaan efek yang terbaik (best possible effect).
12. Elton Mayo (1880 – 1949)
Terkenal dengan percobaan-percobaan Hawthorne, di mana hubungan manusiawi menggambarkan manajer bertemu atau berinteraksi dengan bawahan. Bila moral dan efisiensi kerja memburuk, maka hubungan manusiawi dalam organisasi juga akan buruk.
Mayo, Fritz J. Roethlisberger dan William J. Dickson mengadakan penelitian bersama di pabrik Hawthorne milik perusahaan Western Electric. Percobaan pertama meneliti pengaruh kondisi penerangan terhadap produktivitas. Dari hasil penelitiannya disimpulkan bahwa bila kondisi penerangan naik, maka produktivitas juga akan naik, bila kondisi penerangan dikurangi ternyata produktivitas juga akan berkurang. Percobaan kedua, di mana bila kelompok yang terdiri dari enam orang dipisahkan dalam ruangan yang terpisah, di mana ruangan pertama atau sebut saja A kondisinya diubah setiap waktu, sedangkan ruangan lainnya yaitu B tidak mengalami perubahan. Variabel yang diubah seperti upah, jam istirahat, jam makan, hari kerja, dan sebagainya. Dari hasil penelitiannya ternyata kedua kondisi tersebut mengalami kenaikan produktivitas. Ternyata kenaikan produktivitas ini bukan diakibatkan oleh insentif keuangan.
Rantai reaksi emosional antar pekerja berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, perhatian khusus dan simpatik sangat berpengaruh, fenomena ini dikenal sebagai Hawthorne Effect.
Penelitian lainnya yaitu kelompok kerja informal-lingkungan sosial karyawan signifikan terhadap produktivitas. Konsep makhluk sosial dimotivasi kebutuhan sosial, keinginan akan hubungan timbal balik dalam pekerjaan dan lebih responsif terhadap dorongan kelompok kerja, pengawasan manajemen telah menggantikan konsep “makhluk rasional” yang dimotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan fisik manusia.
2.1.4 Masa Modern
Masa modern ditandai dengan lahirnya aliran manajemen modern. Aliran ini di dasari oleh asumsi bahwa manusia memiliki berbagai kebutuhan dan mengalami perubahan yang cepat, sehingga tidak ada pendekatan yang bisa digunakan pada kondisi tersebut. Akan tetapi,
2022 Pengantar Manajemen
pendekatan ini tetap mengakui gagasan teori manajemen klasik dan sumber daya manusia.
Pada dasarnya, manajemen modern dibangun berdasarkan dua konsep utama, yakni:
a) Teori Perilaku
Pandangan di teori ini dicirikan oleh dua kelompok perilaku, yakni perilaku per individu dan perilaku antar kelompok sosial. Pandangan tersebut kemudian dikembangkan oleh:
1. Abraham Maslow melalui teori hierarki kebutuhannya.
2. Chris Argyris yang melihat organisasi sebagai suatu sistem sosial ataupun sistem antar hubungan budaya.
3. Douglas McGregor melalui teori X dan Y-nya.
4. Edgar Schien yang meneliti dinamika kelompok dalam organisasi.
5. Fred Feidler dengan pendekatan kontigensi pada studi kepemimpinan.
6. Frederick Herzberg melalui teori dua faktornya.
7. Rensis Likert yang meneliti empat sistem manajemen.
8. Robert Blake dan Jane Moutoun dengan kondisi manajerial yang menjelaskan gaya kepemimpinan.
Pokok pikiran yang diungkapkan oleh para penganut teori perilaku di atas diringkas dalam poin-poin berikut:
1. Organisasi merupakan suatu keseluruhan dan pendekatan manajer untuk melakukan pengawasan yang harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.
2. Diperlukan pendekatan motivasional untuk membangun komitmen pekerja terhadap tujuan organisasi.
3. Diperlukan manajemen yang sistematik dengan pendekatan yang didasarkan pada berbagai pertimbangan yang relevan.
4. Manajemen teknik dapat dinilai sebagai suatu proses teknik mengenai peranan prosedur dan prinsip yang dijalankan secara ketat.
Hasil riset perilaku juga mengemukakan hal-hal berikut:
1. Manajer perlu dilatih sedemikian rupa agar mampu memahami berbagai prinsip dan konsep manajemen.
2. Organisasi perlu membangun iklim yang memberi peluang kepada karyawan untuk memuaskan kebutuhannya.
3. Manusia merupakan kunci yang menentukan sukses ataupun gagalnya suatu organisasi dalam mencapai tujuannya.
4. Komitmen bisa dikembangkan dengan melibatkan para karyawan untuk ikut berpartisipasi.
5. Perlu diterapkan pengawasan dan manajemen positif yang menyeluruh terhadap karyawan yang salah satunya untuk menguji reaksi karyawan tersebut terhadap pekerjaan.
6. Pekerjaan bagi setiap karyawan perlu disusun agar memungkinkan untuk menciptakan kepuasan kerja.
b) Teori Kuantitatif
Dalam suatu proses pemecahan masalah, pokok masalah perlu diidentifikasi dengan riset ilmiah dan operasional, serta teknik ilmiah lainnya seperti perencanaan program, capital budgetting, pengembangan sumber daya manusia, dan sebagainya. Pendekatan-pendekatan tersebut dinamakan pendekatan ilmu manajemen (science management), yakni pendekatan dengan prosedur sebagai berikut:
1. Perumusan masalah
2. Penyusunan model matematis 3. Penyelesaian model
4. Penganalisisan model dan hasil dari model tersebut 5. Pengawasan terhadap hasil
6. Pengimplementasian kegiatan
Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan manajemen harus mendasari pendekatan rasional bagi manajer.
2.2 Pendekatan Ilmu Manajemen
Ada berbagai pendekatan (approach) yang dapat dilakukan dalam mempelajari ilmu manajemen, yaitu:
1) Pendekatan Berdasarkan Kebiasaan (Empirical Case Approach)
Menurut pendekatan ini manajemen dipelajari dan sudut “sejarahnya, asal-usulnya berdasarkan pengalaman-pengalaman nyata di masa lalu”. Beberapa kasus yang pernah terjadi dianalisis untuk diterapkan pada masa kini maupun pada masa depan. Berdasarkan hasil analisis itu lalu ditarik kesimpulan dan dijadikan pedoman berpikir dalam menerapkan manajemen.
2) Pendekatan Berdasarkan Kelakuan Antar Individu (Interpersonal Behavior Approach) Pada pendekatan ini manajemen dipelajari berdasarkan “hubungan antar manusia” yakni tingkah laku hubungan manajer dengan bawahan dan tingkah laku hubungan bawahan dengan bawahan sebagai manusia. Jelas pendekatan ini dipelajari dari sudut “tingkah laku hubungan antar karyawan perusahaan”. Manajer harus menyadari bahwa manajemen tidaklah dilakukan sendiri, justru manajer harus menyebabkan bawahan melakukannya, berdedikasi dan berpartisipasi tinggi pada tugas-tugasnya. Jadi, topik-topik yang dipersoalkan dalam pendekatan ini adalah “human relations, motivasi, kepemimpinan, perilaku manusia, psikologi, dan komunikasi”.
3) Pendekatan Berdasarkan Kelakuan Kelompok (Group Behavior Approach)
Dalam pendekatan ini manajemen dipelajari dari “psikologi sosial suatu studi pola budaya mengenai susunan tingkah laku kelompok manusia” (organizational behavior) yang diartikan sebagai sistem, pola hubungan antar manusia di antara kelompok.
2022 Pengantar Manajemen
Chester I. Barnard berpendapat bahwa masalah-masalah sosial di dalam organisasi meliputi attitude, habit, pressure, dan conflicts. Attitude, habit, pressure, dan conflicts ini dalam lingkungan budaya merupakan sumbangan yang berharga bagi manajemen. Misalnya dalam faktor kebiasaan (tolong-menolong) merupakan dasar dan suatu organisasi. Demikian juga pengaruh internal organisasi terhadap organisasi seluruhnya, merupakan faktor sosial yang menjadi alat pengikat dalam organisasi, sehingga menjadi kesatuan yang kukuh. Juga dengan adanya keinginan untuk distribusi merupakan kekuatan sosiologi dalam manajemen.
Jadi, sosiologi dasar yang menyangkut analisis tingkah laku sosial dan kelompok di dalam sistem sosial mempunyai nilai yang sangat berguna bagi studi manajemen.
4) Pendekatan Sistem Kerja Sama Sosial (Cooperative Social System Approach)
Menurut pendekatan ini manajemen dipelajari dan teori sistem atau merupakan bagian dari teori sistem. Pendekatan sistem kerja sama sosial sangat berperan dalam manajemen, karena semua manajer bekerja dalam suatu sistem sosial. Manajer memimpin suatu organisasi berdasarkan kerja sama manusia. Kerja sama ini timbul adalah sebagai akibat adanya keterbatasan physic, biology, psychology, dan sociology.
5) Pendekatan Sistem Sosio Teknik (Socio Technological System Approach)
Pendekatan ini memandang suatu organisasi sebagai dua sistem yaitu social system dan technical system yang kedua-duanya perlu ada interaksi yang harmonis. Jadi, organisasi dan manajemen yang efektif tidak hanya bergantung pada interaksi yang baik dan orang-orang, tetapi juga pada lingkungan teknis di tempat mereka bekerja, cara kerja, alat-alat yang dipergunakan, ruangan, dan keadaan cahaya tempat mereka bekerja.
6) Pendekatan Teori Keputusan (Decision Theory Approach)
Pendekatan manajemen berdasarkan teori keputusan merupakan pemilihan secara rasional (rational choice) yang dititik beratkan pada keputusan rasional, logis, dan ilmiah.
Rational decision adalah pemilihan di antara beberapa alternatif yang merupakan suatu cara tindakan yang berdasarkan keputusan yang diambil secara rasional. Keputusan yang diambil harus menetapkan “apa yang harus dilakukan, bagaimana, dan bilamana harus melakukannya”.
Jadi, rational decision harus didasari oleh alternatif-alternatif kegiatan yang dievaluasi, baru kemudian dipilih.
7) Pendekatan Pusat Komunikasi (Communication Center Approach)
Pendekatan ini merupakan bagian dan teori sistem informasi dan erat sekali hubungannya dengan pendekatan teori keputusan yang berpendapat manajer sebagai pusat komunikasi.
Keputusan ditetapkan oleh manajer lalu dikomunikasikan kepada para bawahan untuk dilaksanakan dan hasil pelaksanaannya dikomunikasikan lagi kepada manajer. Jadi, manajer berperan sebagai penyebar, penerima, penyimpan dan memproses informasi untuk dasar pengambilan keputusan. Tanpa adanya komunikasi sebagai sumber informasi manajer tidak akan dapat mengambil keputusan yang efektif.
Pendekatan ini menekankan pentingnya peranan komunikasi bagai manajer. Misalnya, pemberian perintah (instruksi) dan penerimaan laporan yang kedua-duanya mempunyai peranan penting bagi manajer yang efektif.
8) Pendekatan Matematis (Mathematic Approach)
Pendekatan ini melihat manajemen sebagai suatu “sistem proses dalam model-model matematik”. Pendekatan matematis ini dikenal sebagai operation research/operation analyst yang mendasarkan pembahasan pada pendekatan matematis dan telah menamakan dirinya sebagai management scientist.
Jadi, di dalam pengambilan keputusan selalu dengan bantuan operation research yang merupakan penerapan dan metode ilmiah terhadap masalah-masalah manajemen yang dikemukakan secara kuantitatif.
Metode yang digunakan merupakan metode dengan model-model matematis dari berbagai alternatif yang diharapkan akan memperoleh hasil yang optimal.
9) Pendekatan Situasional (Situational Approach)
Menurut pendekatan ini, mempelajari manajemen didasarkan pada sifat situasional (sikon) internal dan eksternal organisasi pada saat tersebut. Masalah-masalah yang dihadapi diselesaikan dan diatasi berdasarkan situasional (sikon), sehingga pemecahan masalah yang berbeda-beda dilakukan dengan cara yang berbeda-beda pula.
10) Pendekatan Sumber Daya Manusia (Human Resources Approach)
Menurut pendekatan ini manajemen dipelajari dengan sumber daya manusia sebagai dasar kajian atau tinjauan. Pendekatan sumber daya manusia dipelajari (diteliti) mengenai masalah-masalah individu, kelompok kerja, lingkungan kerja, dan motivasi-motivasi apa yang dapat meningkatkan produktivitas kerja dan sumber daya manusia itu. Potensi sumber daya manusia (SDM) yang dapat meningkatkan produktivitas kerjanya, pada dasarnya tergantung pada kemampuan fisik dan daya pikirnya. Kemampuan fisik dan daya pikir biasanya ditentukan oleh tingkat kesehatannya; sedangkan tingkat kesehatan secara relatif tergantung pada gizi makanan yang dikonsumsinya, seperti istilah empat sehat lima sempurna. Untuk meningkatkan daya pikir dan kreativitas sumber daya manusia ini perlu dilakukan pendidikan-pendidikan formal, informal, pelatihan-pelatihan, dan pembinaan mental yang jujur, bertanggung jawab, bermoral, beriman, bertakwa, dan berbudaya malu.
11) Pendekatan Kombinasi (Operation Approach)
Menurut pendekatan ini manajemen dipelajari berdasarkan kombinasi dari semua pendekatan di atas.
Koontz dan O’Donnel menyusun berdasarkan pendekatan kombinasi (operation approach) dengan menyatukan beberapa pengetahuan yang berhubungan dengan manajemen pekerjaan manajer. Pendekatan ini berpendapat bahwa suatu pemusatan pengetahuan yang berhubungan dengan memimpin hanya ada di dalam manajemen, meliputi pengetahuan- pengetahuan teori sistem, ilmu jiwa, sosiologi, teori-teori pengambilan keputusan, teori
2022 Pengantar Manajemen
komunikasi, dan matematis. Operational management memusatkan pengetahuan yang tidak terdapat pada teori lain. Operation management yang memperhatikan ilmu-ilmu pengetahuan lain.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mukhyi, M.A., & Saputro, I.H. 1995. Pengantar Manajemen Umum (Untuk STIE), Depok:
Penerbit Gunadarma
2. Priyono. 2007. Pengantar Manajemen, Sidoarjo: Zifatama
3. Krisnandi, H., Efendi, S., & Sugiono, E. 2019. Pengantar Manajemen, Jakarta: LPU-UNAS 4. Pratama, R. 2020. Pengantar Manajemen, Sleman: Penerbit Deepublish
5. Sadikin, A., Misra, I., & Sholeh H, M. 2020. Pengantar Manajemen dan Bisnis, Yogyakarta:
Penerbit K-Media
6. Silalahi, Marto., dkk. 2020. Dasar-Dasar Manajemen dan Bisnis, Medan: Yayasan Kita Menulis
7. http://etheses.iainkediri.ac.id/1455/3/932113615%20-%20BAB%20II.pdf, diakses pada 26 Februari 2022 pukul 07.00.
8. https://accurate.id/marketing-manajemen/bcg-matrix/, diakses pada 27 Februari 2022 pukul 07.00.