• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESPON BEBERAPA KLON BIBIT KARET (Hevea brasilliensis Muell. Arg.) ASAL STUM MATA TIDUR TERHADAP INTERVAL WAKTU PEMBERIAN AIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RESPON BEBERAPA KLON BIBIT KARET (Hevea brasilliensis Muell. Arg.) ASAL STUM MATA TIDUR TERHADAP INTERVAL WAKTU PEMBERIAN AIR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

77 RESPON BEBERAPA KLON BIBIT KARET (Hevea brasilliensis Muell.

Arg.) ASAL STUM MATA TIDUR TERHADAP INTERVAL WAKTU PEMBERIAN AIR

Helmi Salim1*), Zul Fahri Gani1, Nymas Mirna EF1

1Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi

*)Penulis untuk korespondensi : No. Hp. 08127805499 email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon bibit karet PB – 260, IRR-112 dan BPM-24 asal stum mata tidur terhadap waktu pemberian air yang berbeda Penelitian dilaksanakan dirumah kaca Fakultas Pertanian Unversitas Jambi, Desa Mendalo Darat Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi, pada ketinggian tempat 35 m dpl. Percobaan lapang berlangsung sekitar lima bulan, dari Bulan April 2017 sampai Oktober 2017. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : Klon Karet ( k ) dan Interval Waktu Penyiraman Air ( a ) . Klon Karet terdiri dari : k0

= Klon – PB 260, k1 = IRR – 112 dan k2 = BPM – 24. Faktor kedua adalah interval waktu pemberian air terdiri dari 4 level perlakuan terdiri dari : a1 = 2 hari sekali , a2 = 4 hari sekali , a3 = 6 hari sekali dan a4 = 8 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1 Meningkatnya interval pemberian air pada ketiga klon yang diuji, yakni Klon PB-260. IRR-112 dan BMP-24 semakin menurunkan pertumbuhan tanaman secara nyata seperti panj ang tunas, diameter batang, berat kering tajuk, dan luas daun. Sebaliknya pada berat kering akar mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya interval waktu pemberian air dari 2 menjadi 8 hari sekali. 2. Kandungan prolin pada ketiga klon karet yang diuji meningkat seiring dengan peningkatan interval waktu pemberian air. Peningkatan kandungan prolin tertinggi dij umpai pada Klon PB-260. Hal ini menunjukkan bahwa Klon PB-260 lebih toleran pada kondisi tercekam kekurangan air. Akan tetapi tidak terdapat perbedaan klorofil pada ketiga klon, kecuali sebagai dampak dari menurunnya ketersediaan air, mengalami penurunan secara drastis.

Kata Kunci: Air, Stum Mata Tidur Karet Klon PB 260, IRR- 112 dan BPM 24.

(2)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

78 PENDAHULUAN

Tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki arti penting bagi sektor perkebunan selain kelapa sawit dan coklat (Ambo, 2011). Hal ini dikarenakan karet merupakan komoditas penyumbangm devisam bagi Indonesia dan sebagai sumber utama pendapatan rakyat.

Luas lahan karet di Indonesia pada tahun 2010 yang merupakan luas lahan terbesar di dunia yang mencapai 3,445 juta hektar.Perkebunan karet Indonesia kebanyakan dimiliki oleh petani (perkebunan rakyat) yang menguasai 85 % total perkebunan karet di Indonesia dan sisanya merupakan perkebunan milik karet Negara (PTPN) dan perkebunan milik swasta.Perkebunan karet milik negara dan perusahaan besar yang luasnya 538.300 ha mampu berproduksi 499.200 ton th-1. Sedangkan perkebunan rakyat seluas 2.932.600 ha hanya menghasilkan 2.123.600 ton th-1 (Dirjen Perkebunan, 2011). Indonesia merupakan produsen karet nomor dua terbesar di dunia dengan produksi sebesar 2,7 juta ton pada tahun 2010 setelah Thailand (produksi sebesar 9,6 juta ton, akan tetapi produktivitas, perkebunan karet milik negara dan perusahaan besar maupun rakyat mencapai 0,972 ton ha-

1 (Gapkindo, 2011). Sementara berdasarkan kajian Balai Penelitian Sungai Putih (2007), potensi produksi untuk karet kering yang bisa dihasilkan tanaman karet saat ini yang mencapai 2,9– 3,2 ton ha-1 th-1.

Potensi pengembangan karet di Indonesia masih terbuka mengingat permintaan karet cenderung meningkat seiring dengan pertumbuhan industri automotif yang memerlukan karet sebagai bahan baku pembuat ban. Lateks hasil utama tanaman karet berperan besar sebagai bahan baku, mulai dari peralatan transportasi, medis, dan alat-alat rumah tangga. Perkembangan teknologi dan industri yang semakin maju, menyebabkan penggunaan karet alam yang semakin luas dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Universitas Free, Belanda, pada tahun 2020 mendatang kebutuhan karet dunia akan mencapai lebih dari 25 j uta ton dan 13,473 j uta ton di antaranya adalah karet alam.

Kemampuan negara produsen karet alam untuk memenuhi kebutuhan konsumen hanya sekitar 7,8 juta ton (Setiawan dan Agus, 2007).

(3)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

79 Upaya pemerintah dalam mendorong peningkatan konsumsi karet dunia terhadap karet alam melalui berbagai terobosan program, berusaha meningkatkan produksi yang berbasis pada pola intensifikasi dan ekstensifikasi (Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian RI, 2004). Dengan semakin terbatasnya lahan subur untuk tanaman karet maka perlu dikembangkan pada lahan-lahan yang kurang subur salah satunya pada tanah ultisol. Produktivitas karet yang rendah di Indonesia disebabkan oleh keterbatasan dalam pengadaan bibit yang berkualitas, pemanfaatan lahan perkebunan yang tidak optimal dan pemeliharaan tanaman yang buruk.

Penggunaan karet klon unggul merupakan langkah awal dalam pembudidayaan tanaman karet yang memiliki potensi produksi tinggi, tahan hama dan penyakit. Klon merupakan bibit hasil okulasi yang merupakan cara pembiakan vegetatif yang dilakukan pada tanaman karet

Salah satu klon karet unggul yang digunakan di Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi adalah klon PB-260 yang merupakan klon penghasil lateks yang dianjurkan untuk dikembangkan di Indonesia mulai tahun 1991. (Karyudi Sunarwidi, 1988).

Produktivitas karet yang rendah di Indonesia disebabkan oleh keterbatasan dalam pengadaan bibit yang berkualitas, pemanfaatan lahan perkebunan yang tidak optimal dan pemeliharaan tanaman yang buruk. Penggunaan karet klon unggul merupakan langkah awal dalam pembudidayaan tanaman karet yang memiliki potensi produksi tinggi, tahan hama dan penyakit. Klon merupakan bibit hasil o kulasi yang merupakan cara pembiakan vegetatif yang dilakukan pada tanaman karet (Karyudi Sunarwidi, 1988).

Di daerah yang kurang hujan yang menjadi faktor pembatas adalah kurangnya air. Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan tanaman karet adalah pengairan untuk kebutuhan air bagi tanaman, terutama pada saat pembibitan. Kebutuhan air diperlukan pada saat setelah penempelan mata entres sampai bibit dapat dipindah tanam ke kebun (Cahyono, 2010). Apabila tanaman karet berada pada lokasi yang terbatas pasokan dan ketersediaan air, maka tanaman dan tanah harus mampu mencegah evapotranspirasi yang melebihi kapasitas air tanah yang tersedia dan diserap oleh tanaman. Menurut Sotedjo dan Kartasapoetra (2002), penggunaan bibit karet toleran terhadap kekurangan air juga

(4)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

80 sangat penting untuk dipertimbangan penggunaannya di daerah-daerah yang bermasalah dengan kecukupan ketersedian air.

Pada saat ini sudah banyak jenis klon unggul yang dikembangkan oleh badan atau balai penelitian yang direkomendasikan untuk digunakan petani berkebun karet. Di antaranya yang sudah biasa digunakan petani adalah Klon PB-260, IRR-1 12 dan BPM24. Namun informasi tentang toleransi ketiga klon tersebut terhadap cekaman kekurangan air perlu diuji di lapangan mengingat banya daerah-daerah yang curah hujannya rendah potensial untuk pengembangan perkebunan karet.

BAHAN DAN METODE 2.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Percobaan ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Unversitas Jambi, desa Mendalo Darat Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi, dengan ketinggian 35 m dpl. Pelaksanaan penelitian ini berlangsung selama 6 bulan, dari bulan April – Oktober 2017.

2.2 Metode Penelitian

Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu : Klon Karet ( k ) dan Interval WaktuPemberian Air ( a ) . Klon Karet terdiri dari :k0 = PB-260, k1 = IRR-112, dan k2

= BPM-24. Faktor kedua adalah interval waktu pemberian air terdiri dari 4 level perlakuan terdiri dari :a1 = 2 hari sekali, a2 = 4 hari sekali, a3 = 6 hari sekali dan a4 = 8 hari sekali. Setiap perlakuan diulang 4 kali dan terdapat 48 satuan percobaan.

Variabel yang diamati dalam penilitian ini meliputi panjang tunas okulasi, diameter tunas, bobot kering tunas, bobot kering akar, luas daun total dan kandungan prolin serta kandungan klorofil.

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Panjang Tunas Okulasi

Berdasarkan hasil analisis statistik, dengan mengkombinasikan interval waktu pemberian air pada berbagai Klon Karet menunjukkan efek yang nyata secara interaktif pada perubahan panjang tunas okulasi bibit karet klon PB – 260, IRR – 112 dan BPM - 24. Perubahan respon pada panjang tunas okulasi pada setiap taraf

(5)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

81 interval waktu pemberian air yang diberikan pada Klon Karet berbeda, ditampilkan pada tabel 1.

Fenomena efek interaksi yang teramati antara interval waktu pemberian air dengan perbedaan klon pada panjang tunas okulasi adalah terjadi penurunan panjang tunas yang lebih drastis dijumpai pada Klon IRR-112 dan BPM-24 dibanding yang terjadi pada Klon PB-260. Hal ini menunjukkan bahwa klon PB-260 lebih stabil menghadapi kondisi cekaman air. Sehingga bisa disimpulkan, klon PB-260 lebih sesuai pada daerah yang curah hujannya lebih rendah. Sebagaimana dikemukakan oleh Sircelj dkk.,(1999), suatu jenis tanaman yang lebih peka terhadap cekaman kekeringan pertumbuhannya lebih stabil meski menghadapi kondisi tercekam.

Sedangkan klon IRR-112 dan BPM-24, begitu mengalami cekaman air, pertumbuhan turun drastis. Sehingga terlihat bahwa pada kondisi sama-sama tercekam air, ke tiga klon yang diuji tersebut pertumbuhannya menjadi sama.

Tabel 1. Panjang Tunas Okulasi Sebagai Efek Interaksi Interval Waktu Pemberian Air dan Klon Karet.

Faktor Klon Karet ( k )

PB-260 IRR-112 BPM-24

Interval Waktu Pemberian Air (Hari)

2 28,00 A a

33,00 A b

36,13 A c 4 27,43 A

a

32,00 A b

33,75 B b 6 23,63 B

a

29,43 B b

31,13 C b 8 23,63 B

a

24,38 C a

25,93 D a Keterangan : Notasi huruf pada angka-angka adalah pembeda efek antar taraf dalam taraf

perlakuan faktor lainnya pada tingkat α 0.05 Uji BNT (huruf kecil pembanding horizontal dan huruf kapital untuk vertikal). Jika notasi sama, maka perbedaan efek tidak nyata.

Meski demikian, kecukupan air penting bagi pertumbuhan tanaman sebagai penyusun tubuh tanaman (70-90%), pelarut dan medium reaksi biokimia, medium transport senyawa, pelarut dan pengangkut mineral serta unsur hara, memberikan turgor bagi sel dan mempertahankan turgor tanaman, bahan baku dalam fotosintesis serta menjaga suhu tanaman supaya tetap konstan. Turgor sel dalam tanaman sangat penting untuk proses pembelahan sel dan pembesaran sel. Defisit air berakibat pada

(6)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

82 penurunan gradien potensial air antara tanah-akar-daun-atmosfer, sehingga laju transpor air dan hara menurun (Taiz dan Zeiger, 2002).

3.2. Diameter Tunas Okulasi

Kombinasi antara interval waktu pemberian air dengan beda klon tidak menampakkan efek secara interaktif pada perubahan diameter tunas okulasi.

Pengaruh yang menonjol pada pertambahan diameter tunas okulasi hanya terukur secara nyata oleh efek mandiri dari masing-masing faktor. Perbedaan ukuran diameter tunas yang terjadi akibat perubahan taraf yang dicobakan untuk setiap faktor perlakuan ditampilkan pada Tabel 2.

Terlihat dari Tabel 2 bahwa ukuran diameter tunas bibit karet okulasi semakin kecil seiring dengan semakin panjangnya interval waktu pemberian air.

Terlihat bahwa ukuran diameter tunas tertinggi terdapat pada Klon PB-260 yang diikuti Klon IRR-112 dan BPM-24. Perbedaan pertumbuhan ini mungkin menjadi alasan sehingga Klon PB-260 sangat dianjurkan di daerah yang sering bermasalah dengan kondisi lingkungan kekurangan air. Anwar (2001) menjelaskan bahwa Klon PB-260 sangat respon terhadap pemupukan, terutama unsur K. Unsur K memegang peranan penting di dalam metabolisme tanaman antara lain terlibat langsung dalam beberapa proses fisiologis (Farhad et al., 2010). Keterlibatan tersebut dikelompokkan dalam dua aspek, yaitu: (1) aspek biofisik dimana kalium berperan dalam pengendalian tekanan osmotik, turgor sel, stabilitas pH, dan pengaturan air melalui kontrol stomata, dan (2) aspek biokimia, kalium berperan dalam aktivitas enzim pada sintesis karbohidrat dan protein, serta meningkatkan translokasi fotosintat dari daun (Taiz dan Zeiger, 2002).

(7)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

83 Tabel 2. Diameter Tunas Sebagai Efek Mandiri Perlakuan Interval Waktu

Pemberian Air dan Klon Karet.

Faktor Taraf Diameter Tunas Okulasi

(cm)

Interval Waktu Pemberian Air (Hari)

2 0,566 a

4 0,534 b

6 0,512 c

8 0,495 d

Klon Karet ( k )

PB-260 0,545 a

IRR-112 0,527 b

BPM-24 0,507 c

Keterangan : Notasi huruf pada angka-angka adalah pembeda efek antar taraf pada α 0.05 Uj i BNT untuk masing-masing faktor yang diuj i. Jika notasi sama, maka perbedaan efek tidak nyata.

3.3. Bobot Kering Tunas.

Berdasarkan hasil analisis statistik, bobot kering tunas bibit karet okulasi dipengaruhi oleh efek faktor interval waktu pemberian air dan dosis pupuk kalium secara mandiri. Sedangkan kombinasi antar kedua faktor tidak menampakkan efek secara interaktif. Perbedaan bobot kering tunas dari masing-masing faktor interval waktu pemberian air dan beda klon disajikan pada Tabel 3.

Sebagaimana pada Tabel 3, memperpanjang interval waktu pemberian air memberi efek negatif terhadap bobot kering tunas okulasi. Bobot kering tunas tampak menurun secara drastis dari 27,20 gram menjadi 18,97 gram dengan berubahnya interval waktu pemberian air dari 2 hari sekali menjadi 8 hari sekali, yakni mengalami penurunan bobot sebesar 30,3%.

Salah satu indikator adanya gangguan fisiologis akibat kekurangan air yang berkaitan dengan fungsi metabolis klorofil adalah penurunan laju fotosintesis yang diindikasikan dengan menurunnya bobot kering tunas. Penutupan stomata untuk mencegah hilangnya air dari tanaman akibat defisit air, telah menghambat masuknya CO2 ke dalam daun. Hal ini tentu menurunkan laju fotosisntesis tanaman. Berkaitan dengan itu, tampak bahwa bobot kering tunas bibit karet okulasi yang teramati lebih rendah 30,3% pada pemberian air dengan interval 8 hari sekali dibanding yang diberi air 2 hari sekali.

(8)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

84 Tabel 3. Bobot Kering Tunas Sebagai Efek Mandiri Perlakuan Interval Waktu

Pemberian Air dan Klon Karet

Perlakuan Taraf Bobot Kering Tunas Okulasi (g)

Interval Waktu Pemberian Air (Hari)

2 27,20 a

4 25,83 b

6 23,07 c

8 18,97 d

Klon Karet ( k )

PB-260 24,99 a

IRR-112 23,69 b

BPM-24 22,62 c

Keterangan :Notasi huruf pada angka-angka adalah pembeda efek antar taraf pada α 0.05 Uji BNT untuk masing-masing faktor yang diuj i. Jika notasi sama, maka perbedaan efek tidak nyata.

Sementara tanaman yang lebih respon terhadap pemupukan K terlihat pertumbuhan yang lebih baik. Hal ini tak terlepas dari adanya peranan K dalam peningkatan senyawa organik dengan meningkatnya ATP, UTP, dan UDP-glukosa.

Melalui peningkatan asimilasi CO2 dan sintesis ATP sehingga dapat meningkatkan laju aliran senyawa organik dan ATP di dalam floem. Hasil asimilasi memberikan lebih banyak fotosintat yang diangkut ke floem dan disalurkan ke bagian-bagian organ lain yang membutuhkan sehingga selama proses itu berlangsung energi yang dibutuhkan lebih banyak seiring bertambahnya suplai K pada tanaman (Yaseen dkk., 2010). Sebagaimana hasil penelitian ini, bobot kering tajuk pada Klon PB-260 lebih tinggi dibanding IRR-112 dan BPM-24.

3.4. Bobot Kering Akar.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa efek mandiri faktor interval waktu pemberian air dan dosis pupuk kalium berkontribusi nyata terhadap bobot kering akar bibit okulasi klon PB - 260. Namun efek kombinasi taraf perlakuan dari dua faktor tersebut tidak menunjukkan kontribusi yang nyata. Perbedaan efek yang ditimbulkan

sebagai akibat perbedaan taraf perlakuan dari masing-masing faktor pada pengamatan bobot kering akar disajikan pada tabel berikut.

(9)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

85 Tabel 4. Bobot Kering Akar Sebagai Efek Mandiri Perlakuan Interval Waktu

Pemberian Air dan Klon Karet.

Faktor Taraf Bobot Kering Akar

(g)

Interval Waktu Pemberian Air (Hari)

2 3,13 a

4 3,46 a

6 4,20 b

8 4,53 b

Klon Karet ( k )

PB-260 4,05 a

IRR-112 3,87 b

BPM-24 3,25 c

Keterangan : Notasi huruf pada angka-angka adalah pembeda efek antar taraf pada α0.05 Uj i BNT untuk masing-masing faktor yang diuj i. Jika notasi sama, maka perbedaan efek tidak nyata.

Tabel di atas memperlihatkan terjadinya peningkatan bobot kering akar bibit okulasi seiring dengan semakin panjangnya interval waktu pemberian air. Apabila dilihat perbedaan bobot kering akar pada ke tiga klon yang diuji, pada Klon PB-260 masih lebih tinggi dibanding Klon IRR-1 12 dan BPM-24. Beberapa karakter morfologi akar yang berkaitan dengan respons tanaman terhadap kekeringan di antaranya dengan meningkatkan panjang akar, perluasan dan kedalaman sistem perakaran, distribusi akar,berat kering akar, volume akar, serta resistensi longitudinalpada akar utama, dayatembus akar, rasio akar dan tajuk serta rasio panjangakar dan tinggi tanaman(Passioura, 2002).

Peningkatan bobot kering akar pada bibit karet okulasi adalah sebagai upaya untuk memenuhi kecukupan air, karena akar terus tumbuh sebagai respon terhadap perlawanan terhadap lingkungan. Menurut Hale dan David (1987) peningkatan sistem perakaran umumnya diikuti dengan penurunan pertumbuhan tajuk. Tanaman yang lebih mengutamakan pertumbuhan akar dari pada tajuknya mempunyai kemampuan lebih baik untuk bertahan pada kondisi kekeringan. Terlihat dari hasil penelitian ini, bobot kering akar meni ngkat secara nyata seiring dengan menurunnya ketersediaan air, sementara bobot kering tunas mengalami sebaliknya.

(10)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

86 3.5. Luas Daun Total

Pengamatan pada variabel luas daun total, terj adi perubahan respon secara interaktif pada ukuran luas daun yang ditimbulkan oleh kombinasi antar taraf faktor interval waktu pemberian air dan Beda Klon. Efek interaksi yang muncul pada taraftaraf faktor yang berkombinasi sangat nyata. Perbedaan ukuran luas daun total bibit karet okulai sebagai efek antar taraf perlakuan suatu faktor dalam taraf faktor perlakuan lainnya disajikan pada tabel berikut :

Tabel 5. Luas Daun Total (cm2) Sebagai Efek Interaksi Interval Waktu Pemberian Air dan Klon Karet.

Faktor Klon Karet ( k )

PB-260 IRR-112 BPM-24

Interval Waktu Pemberian

2 1256,25A 1065,15A 911,00A

a b c

4 101 0,70B 863,75B 759,30B

a a b

Air (Hari)

6 616,95C 605,00C 623,75C

a a a

8 511,75C 492,85C 473,25D

a A a

Keterangan : Notasi huruf pada angka-angka adalah pembeda efek antar taraf dalam taraf perlakuan faktor lainnya pada tingkat α0.05 Uj i BNT (huruf kecil pembanding horizontal dan huruf kapital untuk vertikal). Jika notasi sama, maka perbedaan efek tidak nyata.

Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa luas daun total pada klon PB-260 lebih tinggi dibanding dua jenis kolon lainnya. Kemudian dapat dilihat bahwa seiring dengan meningkatnya interval waktu pemberian air dari 2 menj adi 8 hari sekali, luas daun pada ketiga klon yang diuji juga mengalami penurunan. Proses metabolisme terganggu akibat berkurangnya suplai air pada tanaman. Akibatnya pembentukan luas daun juga mengalami penurunan.

Berkurangnya ukuran luas daun merupakan mekanisme lain sebagai cara tanaman meningkatkan resistensi terhadap penurunan ketersediaan air. Menurut Gardner, dkk (2008), pengaruh kekurangan air selama fase vegetatif ialah berkembangnya daun-daun yang lebih kecil yang dapat mengurangi nilai indeks luas daun (ILD), dan berakibat kurangnya penyerapan cahaya oleh tanaman budidaya tersebut. Mekanisme ini merupakan respon tanaman untuk mengurangi laju

(11)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

87 penguapan yang tinggi melalui transpirasi (Kamoshita dkk., 2000). Stres air yang ringan sekalipun pada suatu tanaman dapat mengakibatkan pengurangan laju pertumbuhan dan gangguan beberapa proses metabolisme. Namun penurunan ukuran luas daun ini, juga merupakan penyebab menurunnya fotosintesis.

3.6. Kandungan Prolin Daun

Hasil analisis statistik diketahui bahwa kombinasi interval waktu pemberian air yang berbeda pada berbagai klon yang diuji menunjukkan efek yang nyata secara interaktif pada perubahan kandungan prolin.

Tabel 6. Kandungan Prolin (nM/g) Sebagai Efek Interaksi Interval Waktu Pemberian Air dan Klon Karet.

Faktor Klon Karet ( k )

PB-260 IRR-112 BPM-24

Interval Waktu Pemberian Air (Hari)

2 0,269 A a

0,254 A a

0,244 A a 4 0,301 A

a

0,293 A a

0,265 A a 6 0,550 B

a

0,415 B b

0,377 B b 8 0,714 C

a

0,604 C b

0,464 C c

Keterangan : Notasi huruf pada angka-angka adalah pembeda efek antar taraf dalam taraf perlakuan faktor lainnya pada tingkat α 0.05 Uji BNT (huruf kecil pembanding horizontal dan huruf kapital untuk vertikal). Jika notasi sama, maka perbedaan efek tidak nyata.

Terlihat pada Tabel 6, setelah interval pemberian air berubah dari 6 menjadi 8 hari sekali, terlihat perubahan yang nyata dalam hal kandungan prolin pada ketiga klon yang diuji. Pada bibit karet Klon PB-260 terbentuk prolin sebanyak 0,714 nM g-1 yang nyata lebih tinggi dibanding kandungan prolin pada Klon IRR-1 12 dan nyata berbeda dengan kandungan prolin pada Klon B PM-24.

Dalam hal meningkatnya kandungan prolin pada daun merupakan suatu fenomena yang umum dijumpai pada tanaman jika kekurangan air. Ini merupakan respon fisiologis sebagai indikator adanya perlawanan tanaman terhadap tekanan lingkungan. Cekaman osmotik yang disebabkan oleh kurang tersedianya air adalah hal yang serius yang dapat menghambat pertumbuhan dan produktivitas

(12)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

88 tanaman. Cekaman tersebut mengakibatkan terjadinya dehidrasi sel-sel tanaman serta menimbulkan tanggapan fisiologis dan biokimia (Amin, et al., 2009).

Prolin merupakan senyawa penciri biokimia atau metabolit osmotik yang banyak disintesis dan diakumulasi pada berbagai jaringan tanaman terutama pada daun apabila tanaman menghadapi cekaman kekeringan. Tanaman yang mengakumulasi prolin pada kondisi tercekam pada umumnya memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih tinggi dari pada tanaman yang tidak mengakumulasikannya (Hamim dkk., 2008). Menurut Verslues dkk (2006) bahwa prolin memainkan peranan penting dalam penghindaran dehirasi dengan meningkatkan kadar solute sel dan juga memelihara kadar air tetap tinggi. Pada saat yang sama, akumulasi prolin memainkan peranan terhadap toleransi dehidrasi dengan cara melindungi protein dan struktur membrane. Meningkatnya dosis kalium yang diberikan pada bibit karet okulasi ternyata sintesis prolin juga semakin tinggi dalam kondisi ketersediaan air yang lebih rendah.

3.7. Kandungan Klorofil Daun

Faktor yang menentukan terjadinya keragaman pada kandungan klorofil daun pada bibit karet okulasi semata-mata merupakan kontribusi dari perbedaan interval waktu pemberian air. Perubahan kandungan klorofil daun bibit okulasi akibat perbedaan interval waktu pemberian air disajikan pada tabel di bawah ini.

Pemberian air pada bibit karet okulasi dengan interval waktu yang lebih lama, berdampak nyata terhadap penurunan kandungan klorofil daun. Sebagaimana disajikan pada Tabel 7, penundaan pemberian air pada bibit karet okulasi dari 2 hari menjadi 8 hari sekali menyebabkan turunnya kandungan klorofil dari 11,737 µg/cm2 menjadi 8,842 µg/cm2 daun, atau mengalami penurunan sebanyak 24,7%.

Dari aspek fisiologis, dampak kekurangan air diawali dari terganggunya pembentukan klorofil daun, yang mana mengalami penurunan dengan semakin terbatasnya ketersediaan air yang dapat diserap tanaman. Sebagaimana terjadi pada percobaan ini, kandungan klorofil daun menurun hingga 24,7% jika suplai air pada bibit karet okulasi diperpanjang dari 2 hari menjadi 8 hari sekali. Menurut Sircelj dkk (1999), kekurangan air pada tanaman akan menghambat pembentukan klorofil daun dan pada kondisi cekaman yang berat akan kelihatan daun cepat menguning. Secara

(13)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

89 fisiologis, kekurangan air menghambat proses biokimia pembentukan klorofil daun.

Hal ini juga berkaitan dengan menurunnya serapan N dan Mg pada saat tanaman kekurangan air, yang mana kedua unsur ini merupakan komponen penyusun klorofil. Rumus kimia klorofil itu sendiri adalah sebagai berikut (Klorofil a = C55H72O5N4Mg dan Klorofil b = C55H70O6N4Mg).

Tabel 7. Kandungan Klorofil Pada Perlakuan Interval Waktu Pemberian Air Berbeda

Faktor Taraf Kandungan Klorofil Daun

(µg/cm2)

Interval Waktu Pemberian Air (Hari)

2 11,737 a

4 11,030 b

6 9,855 c

8 8,842 d

Klon Karet ( k )

PB-260 10,106 a

IRR-112 10,334 a

BPM-24 10,658 a

Keterangan : Notasi huruf pada angka-angka adalah pembeda efek antar taraf pada α0.05 Uj i BNT untuk masing-masing faktor yang diuj i. Jika notasi sama, maka perbedaan efek tidak nyata.

Pada sisi lain terlihat bahwa perbedaan klon bibit karet okulasi tida k berpengaruh terhadap kandungan klorofil daun. Berkemungkinan hal ini secara genetis tidak ada perbedaan kandungan klorofil pada ketiga klon yang diuji.

Perbedaan klorofil yang terjadi pada ketiga klon tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketersediaan air.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian tentang interval waktu pemberian air dan perbedaan klon yang diuji dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Meningkatnya interval pemberian air pada ketiga klon yang diuji, yakni Klon PB-260. IRR-112 dan BMP-24 semakin menurunkan pertumbuhan tanaman secara nyata seperti panjang tunas, diameter batang, berat kering tajuk, dan luas daun. Sebaliknya pada berat kering akar mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya interval waktu pemberian air dari 2 menjadi 8 hari sekali. 2. Kandungan prolin pada

(14)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

90 ketiga klon karet yang diuji meningkat seiring dengan peningkatan interval waktu pemberian air. Peningkatan kandungan prolin tertinggi dijumpai pada Klon PB-260.

Hal ini menunjukkan bahwa Klon PB-260 lebih toleran pada kondisi tercekam kekurangan air. Akan tetapi tidak terdapat perbedaan klorofil pada ketiga klon, kecuali sebagai dampak dari menurunnya ketersediaan air, mengalami penurunan secara drastis.

DAFTAR PUSTAKA

Ambo Ala, 2011. Pengusahaan Tanaman Perkebunan Utama KelapaSawit,Kelapa dan Karet. Identitas, Universitas Hasanuddin, Makassar

Anwar K. 2001. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet Medan.

Badan Pusat Statistik. 2013. Jambi Dalam, Angka 2012. Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi.

Boyer , J. S. 1970. Leaf enlargement and metabolic rates of corn, soybean, and sunflower at various leaf water potensials. Plant physoil. 46: 233 – 235 Boerhendhy, Island. 2013. Prospek perbanyakan bibit karet unggul dengan teknik

okulasi

okulasi dini. Jurnal Litbang Pertanian 32, 85-90. (Diunduh 27 Januari 2015) Dalimunthe, A. 2004. Tanggap pertumbuhan dan serapan hara bibit karet(Hevea

brasiliensis Muell Agr) asal stum mata tidur karet terhadapketersedian air tanah. Tesis. Program Pasca Sarjana USU. USU e-repository 2008.

Erlan, 2004. Pertumbuhan Setum Mata Tidur Karet (Hevea brasiliensis Meull.

Arg) Klon PB 260 di Polibag akibat Perlakuan Media dan Lama Penyimpanan.Jurnal Akta Agrosia Vol.7 No.2 hlm 52 -56 Juli- Desember 2004, Palembang

Gardner, F.P., R.B Pearce dan R.L Mitchell. 2008. Fisiologi Tanaman Budidaya.Universitas Indonesia, Jakarta.

Gomez. .K .A dan Gomez.A .A. 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. U I- Press. Jakarta.

Khaidir Amypalupy. 455 Info, Padu Padan Teknologi Merajut Asa Ketangguhan

Agribisnis Karet. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet 2010. Kramer, P.J. 1972. Plant and soil water realtionship. A Modern Synthesis. Reprinted inIndia Arrangment with Mc Graw – Hill Inc. New York. 482 p.

Kramer, P.J. 1963. Water stres and palnt growth. Agron. J. 55: 31 – 35.

Li, R., P. Guo, M. Baum,S.Grando, S. Ceccarelli.2006. Evaluation of Chlorophyll Content and Fluorescence Parameters as Indicators of Drought Tolerance in Barley. Agricultural Sciences in China 5 (10): 751-757.

Mapegau, 1998. Respon Tanaman Jagung (Zea mays L.) Kultivar Arjuna TerhadapPemupukan Kalium dan Kadar Air Tanah Tersedia Pada Ultisol BatanghariJambi, (Disertasi) Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran Bandung.

(15)

SBN: 978-602-97051-7-1 E-ISSN :

DOI :

91 Ma’shum, M. 2008. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Fakultas

PertanianUniversitas Mataram.

Nelson, W.L. 1982. Interactions of potassium with moisture and temperature.Potash Review:Subject16No.1.Int.PotashInst.Berne(Switzerland)

N io, S. A. 2010. Pengujian Kandungan Klorofil Total, Klorofil A dan B sebagai Indikator Cekaman Kekeringan pada Padi (Oryza sativa L.).

Jurnal Ilmiah SAINS 23 (10) : 86-90.

Nio, S. A. 2011. Biomasa dan Kandungan Klorofil Total Daun Jahe (Zingiber officinale L.) yang Mengalami Cekaman Kekeringan. Jurnal Ilmiah SAINS. 35 (11) : 190-195.

Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2014, Palembang 26-27 September 2014, ISBN : 979-587-529-9

Rose, C. W. 1966 Agricultural physics. Pergamon Press Ltd. London.230.p.

Setiawan, D.H. dan Agus, A. 2007. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.AgroMedia Pustaka. Jakarta. 164 hal.

Setyamidjaja, D. 1995. Karet, Budidaya dan Pengolahan.

Kanisius.Yogyakarta. 206 Hal

Sitompul, S.M., Guritno, B. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman.Gajah Mada Universitas Perss. 412 hal.

Siregar, T. 2003. Teknik Penyadapan Karet. Kanisius. Yogyakarta.

Slatyer, R. D. 1967. Plant water relationship. Academic Press. London. 366 p.

Soepandi 2011, Pengembangan Tanaman Sela dibawah Tegakan Tanaman Tahunan.IPTEK Tanaman Pangan. Departemen Agronomi dan Hortikultura, FakultasPertanian, IPB.Bogor (2):1 :15

Sutrisno. H. 1980. Metode Research. Rineka Cipta Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

  Niosom dibuat dari hidrasi proniosom Proniosom dibuat dengan menyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik ke serbuk sorbitol kemudian menguapkan pelarutnya, tetapi

dalam konteks ini, guru dan administrator perlu menentukan hasil penilaian baik proses maupun hasil pembelajaran siswa yang dapat dijadikan sebagai evaluasi kurikulum

Selain itu, seseorang dengan orientasi seksual heteroseksual yang memutuskan berhubungan seksual dengan laki-laki lain dengan orientasi homoseksual disebabkan karena

Oleh sebab itu peneliti menggunakan wawancara terstruktur yaitu dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data

Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa bagi pelaku zina yang tunagrahita tidak semua dapat dijatuhi sanksi, karena keterbatasan yang mereka miliki mendapat

Penelitian ini menemukan empat aspek tantangan pendidikan tinggi di era yang terus mengglobal ini, yaitu transnasional pendidikan tinggi, kebijakan otonomi

Penerapan Hukum Lotka dapat digunakan pada Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JSP) Universitas Gadjah Mada pada tahun 2016 hingga 2018 di mana tiap volume/tahun