HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY BELIEF DENGAN GOAL ORIENTATION PADA GURU SEKOLAH MINGGU
AGNECYA RANDAN
Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma ([email protected])
Abstrak
Menanamkan nilai-nilai moral religius pada anak Sekolah Minggu merupakan tujuan dari pengajaran yang dihadapi oleh guru Sekolah Minggu.
Tujuan tersebut dapat dicapai apabila guru Sekolah Minggu memiliki self efficacy belief pada dirinya. Dengan memiliki self efficacy belief maka guru Sekolah Minggu akan merasa yakin dan percaya akan kemampuan mengajar yang mereka miliki. Hal ini dapat berpengaruh pada usaha yang dilakukan oleh guru Sekolah Minggu dalam mencapai tujuan tersebut. Pencapaian tujuan berkaitan dengan goal orientation.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan secara empirik antara self efficacy belief dengan goal orientation pada guru Sekolah Minggu. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 orang guru Sekolah Minggu yang mengajar di Gereja Toraja.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode kuesioner dari skala self efficacy belief dan goal orientation. Data yang diperoleh kemudian dianalis menggunakan analisis Pearson korelasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah coefficient correlation sebesar 0,574 dan taraf signifikansi sebesar 0,000 dengan p < 0,01 yang artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara self efficacy belief dengan goal orientation pada guru Sekolah Minggu.
Kata kunci : Self Efficacy Belief, Goal Orientation, Guru Sekolah Minggu
PENDAHULUAN
Anak-anak yang berhasil dalam pendidikannya dipengaruhi oleh peran orang tua dan guru yang juga sama-sama memiliki kekuatan besar dalam pendidikan bagi anak-
anaknya. Hal ini merupakan kesempatan yang baik bagi orang tua dan guru untuk menanamkan pengetahuan tentang nilai-nilai moral religius pada anak-anak.
Dalam Gereja Protestan, salah satu program yang dijadikan sebagai sarana dalam menanamkan pengetahuan tentang nilai-nilai moral religius pada anak-anak adalah Sekolah Minggu. Sekolah Minggu adalah tempat pendidikan mental spritual. Dalam Sekolah Minggu pengajaran yang diberikan tidak jauh berbeda dengan pendidikan di Sekolah Formal. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Sekolah Minggu seperti bernyanyi, bermain, menggambar, mewarnai dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan nilai- nilai moral religius.
Penyampaian nilai-nilai moral religius kepada anak-anak melalui Sekolah Minggu ini merupakan tugas utama dari seorang guru Sekolah Minggu. Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai fungsi dan peran Sekolah Minggu sebagai tempat untuk menumbuhkan iman anak perlu dipahami oleh para guru Sekolah Minggu. Spodek (1972) mengungkapkan bahwa guru adalah pusat semua aktivitas pendidikan anak-anak. Hal ini berarti guru Sekolah Minggu mengontrol semua
aktivitas dan bertanggung jawab terhadap semua kegiatan Sekolah Minggu.
Menjadi guru Sekolah Minggu diharapkan memiliki jiwa profesional dan memiliki pengetahuan yang matang tentang psikologi anak, pengetahuan Alkitab dan kiat-kiat bercerita agar penyampaian materi tentang nilai- nilai moral religius dapat diberikan dengan baik kepada anak-anak Sekolah Minggu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bandura (1986) bahwa seseorang tidak akan menghasilkan kinerja yang memadai bila keahlian yang dibutuhkan tidak dimiliki. Namun, karena sifatnya yang sukarela para guru Sekolah Minggu di gereja-gereja umumnya berasal dari berbagai latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.
Tidak semua berlatar pendidikan guru, pendidikan agama ataupun sekolah Pendeta. Oleh sebab itu, dalam menjalankan peran, tanggung jawab serta mencapai tujuannya untuk menanamkan nilai-nilai moral religius, guru Sekolah Minggu dituntut memiliki self efficacy belief pada dirinya yaitu kepercayaan diri
individu dalam kemampuannya menyelesaikan tugas.
Self efficacy belief guru Sekolah Minggu adalah keyakinan guru Sekolah Minggu akan kemampuannya dalam mengatur dan bertindak untuk mencapai hasil (Bandura, 1997). Schults dan Schultz (2005) menyimpulkan adanya perbedaan pada individu yang memiliki self efficacy belief tinggi dan rendah. Individu yang memiliki self efficacy belief yang tinggi akan mencoba lebih, mencapai lebih dan bertahan dalam mengerjakan tugas dibandingkan dengan individu yang memiliki self efficacy belief rendah. Keyakinan guru Sekolah Minggu akan kemampuannya dalam mengajar, dapat menimbulkan pandangan terhadap dirinya bahwa ia harus berusaha menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan dari tugasnya sebagai guru Sekolah Minggu.
Pandangan guru Sekolah Minggu tersebut menggambarkan goal orientation yang dimiliki.
Menurut Ames (1988 dalam Pintroh & Schunk, 1996) goal
orientation adalah pola yang berbeda-beda dari integrasi kepercayaan–kepercayaan yang mengarahkan pendekatan, keterlibatan, dan cara menanggapi situasi berprestasi.
Secara khusus guru Sekolah Minggu dihadapkan pada tujuan untuk memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai moral religius kepada anak-anak Sekolah Minggu sehingga anak Sekolah Minggu dapat mengetahui dan menerapkan pengetahuan tersebut berdasarkan ajaran Agama Kristen didalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini berarti guru Sekolah Minggu memiliki pengaruh langsung terhadap hasil belajar dan minat anak-anak Sekolah Minggu.
Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh dari tujuan yang dihadapi oleh guru Sekolah Minggu tersebut yang dapat menentukan cara guru melakukan pendekatan dan melaksanakan aktivitas mengajar sehingga tujuan guru Sekolah Minggu untuk menanamkan nilai- nilai moral religius dapat tercapai.
Menurut Brunstein (1993) suatu tujuan dalam aktivitas yang
dilakukan seseorang dapat dijadikan sebagai suatu personal goal dan menjadi suatu goal commitment yang akan dipenuhi. Hal ini berarti bahwa dengan adanya tujuan yang harus di capai maka seorang guru Sekolah Minggu akan menunjukkan bagaimana perhatian dirinya terhadap tugasnya, usaha yang dilakukan dalam mengajar, daya tahan guru dalam mencapai tujuan pengajaran dan strategi pengajaran yang diberikan. Namun, tingkah laku tersebut dapat dilakukan apabila guru Sekolah Minggu memiliki keyakinan akan kemampuannya dalam mengajar Sekolah Minggu.
Pemilihan masalah ini di teliti dengan argumentasi bahwa guru Sekolah Minggu tidak semua sarjana dan tidak semua memiliki latar belakang pendidikan guru (Sekolah Guru). Dengan demikian dapat diperkirakan kemampuan menginternalisasikan nilai-nilai moral religius tentu dipertanyakan apakah mereka mempunyai
kompetensi dalam
menginternalisasikan nilai-nilai moral religius tersebut. Sementara
mereka dituntut untuk mampu menginternalisasikan nilai-nilai moral religius tersebut yang merupakan tujuan dari pengajaran yang mereka lakukan. Oleh karena itu, sudah semestinya atau sudah seharusnya mereka memiliki self efficacy belief sehingga dapat melaksanakan aktivitas mengajarnya dengan baik dalam mencapai tujuan tersebut.
Dengan demikian, penelitian ini ingin meneliti apakah ada hubungan antara self efficacy belief dengan goal orientation pada guru sekolah minggu ?
TINJAUAN PUSTAKA Self Efficacy Belief
Menurut Bandura (1997) self efficacy adalah suatu kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuan diri untuk menghasilkan tingkat performa yang diinginkan, dimana hasil (outcome) yang didapatkan ini akan menjadi pengalaman yang nantinya dapat mempengaruhi hidup seseorang.
Dimensi Self Efficacy Belief
Bandura (1997) memaparkan bahwa self efficacy pada individu terdiri dari tiga dimensi, yaitu : a. Dimensi Magnitude
Dimensi magnitude adalah dimensi yang berhubungan dengan tingkat kesulitan tugas.
b. Dimensi Generality
Generality adalah keyakinan individu untuk menyelesaikan tugas- tugas tertentu dengan tuntas dan baik.
c. Dimensi Strength
Dimensi strength
berhubungan dengan derajat kemantapan individu terhadap keyakinannya.
Goal Orientation
Menurut Vande Walle (1999) goal orientation merupakan konstruk yang menggambarkan bagaimana individu merespon, memberikan reaksi dan menginterpretasikan situasi untuk mencapai suatu prestasi.
Aspek-Aspek Goal Orientation Menurut Ames dan Archer (1988) terdapat delapan aspek goal orientation, yaitu :
a. Pengertian keberhasilan
Yang dimaksud keberhasilan di sini adalah bagaimana pandangan individu terhadap suatu keberhasilan dan apa yang dimaksud dengan keberhasilan tersebut baginya.
b. Hal yang dianggap bernilai Aspek ini berkaitan dengan proses yang ditempuh yang dianggap penting dalam aktivitas yang dilakukan.
c. Yang menjadi alasan suatu kepuasan
Aspek ini berkaitan dengan apa yang menjadi kepuasan bagi individu dalam melakukan suatu aktivitas.
d. Pandangan terhadap orientasi figur otoritas
Guru bisa berarti figur yang memiliki kredibilitas dan otoritas untuk mengarahkan dan memberikan masukan bagi individu.
e. Pandangan terhadap kesalahan atau kegagalan
Aspek ini berkaitan dengan bagaimana individu memandang
suatu kesalahan atau kegagalan dalam aktivitas yang dilakukannya.
f. Fokus perhatian
Aspek ini berkaitan dengan apa yang menjadi perhatian utama individu dalam melakukan suatu aktivitas.
g. Alasan untuk berusaha
Aspek ini berkaitan dengan hal-hal yang mendorong untuk melakukan usaha yang lebih besar.
h. Kriteria evaluasi
Aspek ini berkaitan dengan hal yang menjadi patokan bagi individu untuk mengevaluasi diri.
Guru Sekolah Minggu
Menurut Goble & Porter (1977) Guru Sekolah Minggu adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, dan keyakinan dalam iman Kristiani yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku anak- anak didik yang dididiknya dengan iman Kristiani
METODE PENELITIAN Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Prediktor : Self Efficacy Belief
2. Kriterium : Goal Orientation
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Self Efficacy Belief
Self efficacy belief adalah suatu keadaan dimana seseorang yakin dan percaya akan kemampuannya dalam mengorganisasikan dan menampilkan tindakan serta mengontrol hasil dari usaha yang telah dilakukan dalam sebuah situasi khusus. Variabel ini akan diukur dengan skala yang disusun berdasarkan dimensi-dimensi self efficacy dari Bandura (1997) yang meliputi dimensi magnitude, dimensi generality, dan dimensi strength.
2. Goal Orientation
Goal orientation adalah seperangkat tingkah laku seseorang yang menggambarkan bagaimana seseorang melakukan
pendekatan, melaksanakan suatu aktivitas, keterlibatan, termotivasi bekerja, merespon dan menginterpretasi situasi berprestasi dalam memenuhi berbagai jenis tujuan. Pengertian inilah yang digunakan dalam penelitian ini. Variabel ini akan diukur dengan skala yang disusun berdasarkan aspek-aspek goal orientation dari Ames dan Archer (1988) yang meliputi pengertian keberhasilan, hal yang dianggap bernilai, yang menjadi alasan suatu kepuasan, pandangan terhadap orientasi figur otoritas, pandangan terhadap kesalahan atau kegagalan, fokus perhatian, alasan untuk berusaha dan kriteria evaluasi.
Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru Sekolah Minggu Gereja Toraja yang berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, serta telah menjadi guru Sekolah Minggu selama ± 3 tahun. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 40 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, yaitu suatu teknik pengambilan sampel dimana peneliti terlebih dahulu menentukan ciri-ciri yang akan menjadi sampel dan sesuai dengan tujuan penelitian.
Dalam penelitian ini, karakteristik sampel adalah guru-guru Sekolah Minggu Gereja Toraja berjenis kelamin perempuan dan laki-laki yang berusia 21-30 tahun dan telah mengajar Sekolah Minggu selama ± 3 tahun.
Teknik Pengumpulan Data 1. Self Efficacy Belief
Skala self efficacy belief dibuat oleh peneliti sendiri berdasarkan dimensi self efficacy belief yang meliputi dimensi magnitude, dimensi generality, dan dimensi strength dari Bandura (1997). Skala self efficacy belief ini menggunakan skala berbentuk skala Likert. Skala yang digunakan memiliki 4 alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS).
2. Goal Orientation
Skala Goal Orientation dibuat oleh peneliti sendiri berdasarkan aspek-aspek goal orientation dari Ames & Archer (1988) yang meliputi pengertian keberhasilan, hal yang dianggap bernilai, yang menjadi alasan suatu kepuasan, pandangan terhadap orientasi figur otoritas, pandangan terhadap kesalahan atau kegagalan, fokus perhatian, alasan untuk berusaha dan kriteria evaluasi. Skala goal orientation ini juga menggunakan skala berbentuk Likert dengan variasi jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS).
Teknik Pengujian Data
Untuk menguji hipotesis mengenai hubungan antara self efficacy belief dengan goal orientation digunakan teknik analisis korelasi Product Moment dari Karl Pearson yaitu dengan menguji hubungan antara skor self efficacy belief (X) sebagai predictor dengan skor goal orientation (Y) sebagai kriterium.
HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy belief dengan goal orientation pada guru Sekolah Minggu. Berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah dilakukan diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara self efficacy belief dengan goal orientation pada guru Sekolah Minggu. Ini dapat diartikan bahwa tinggi atau rendahnya self efficacy belief berhubungan dengan tinggi atau rendahnya goal orientation guru Sekolah Minggu tersebut.
Menurut Bandura (1997) self efficacy seseorang mempengaruhi proses-proses kognitif, motivasi, afektif dan seleksi. Bandura (1997) mengatakan bahwa karakteristik individu yang memiliki self efficacy yang tinggi memiliki komitmen dalam menjalankan tugasnya dan optimis. Hal-hal tersebut sangat penting dalam diri guru Sekolah Minggu dalam menjalankan tugasnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai moral religius kepada anak-anak Sekolah
Minggu sehingga anak Sekolah Minggu dapat mengetahui dan menerapkan pengetahuan tersebut berdasarkan ajaran Agama Kristen didalam kehidupannya sehari-hari.
Bandura (1981 dalam Asthon
& Webb, 1986) menyatakan bahwa self efficacy guru mempengaruhi pikiran dan perasaannya, pilihan kegiatan mereka dan besarnya usaha yang mereka keluarkan serta ketahanan mereka dalam menghadapi hambatan. Oleh karena itu, maka self efficacy belief memiliki dampak positif terhadap goal orientation pada guru Sekolah Minggu.Dengan adanya self efficacy belief dalam diri guru Sekolah Minggu akan timbul goal orientation yang tinggi, yang membuat guru Sekolah Minggu semakin giat dan tekun dalam meningkatkan pemahaman, pengetahuan maupun ketrampilan dirinya serta berusaha semaksimal mungkin untuk mengajar dengan baik sehingga mencapai tujuan dari tugasnya tersebut. Namun dilain pihak, ketidakadaan self efficacy belief dalam diri guru Sekolah Minggu akan menghasilkan goal orientation yang rendah yang
membuat mereka kurang berusaha, lebih cepat menyerah dalam mengerjakan tugas dan kurang mengembangkan diri dalam melaksanakan aktivitasnya untuk mencapai tujuan dari tugasnya sebagai guru Sekolah Minggu sehingga dapat menghambat keberhasilannya dalam mengajar.
Uraian diatas sesuai dengan hasil analisis dalam penelitian ini dimana self efficacy belief individu berhubungan dengan goal orientation mereka saat mengerjakan tugas yang mempunyai tujuan tertentu sehingga mereka dapat melaksanakan tugas dengan baik dan mencapai hasil seperti yang diharapkan sesuai dengan tujuan pengajaran. Salah satu dimensi yang memiliki korelasi paling kuat dengan goal orientation yaitu dimensi magnitude dengan nilai korelasi sebesar 0,707. Dengan asumsi bahwa individu dengan self efficacy belief jika dihadapkan pada tingkat kesulitan tugas tertentu maka individu akan merasa mampu melaksanakannya (Stajkovic &
Luthans, 1998). Dimana individu yang memiliki self efficacy yang
tinggi akan mempersepsikan dirinya memiliki kemampuan yang baik sehingga akan merasa tertantang dalam menghadapi tugas yang sulit sehingga akan berusaha secara maksimal.
Guru Sekolah Minggu yang menjadi sampel pada penelitian ini menunjukkan bahwa mereka memiliki self efficacy belief dan goal orientation pada dirinya dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Self efficacy belief subjek pada penelitian ini berada pada kategori tinggi. Hal ini berarti subjek percaya dan yakin akan kemampuannya dalam mengerjakan tugasnya sebagai guru Sekolah Minggu, tidak mudah menyerah, mencoba lebih, mencapai lebih dan bertahan lebih lama dalam mengerjakan tugas. Goal orientation subjek pada penelitian ini juga berada pada kategori tinggi yang artinya bahwa subjek bekerja keras, berusaha maksimal, tertarik pada tugas yang menantang dan komitmen terhadap tugas dalam upaya mencapai tujuan dari pengajaran yang sudah ditetapkan. Hal ini berarti juga mereka menunjukkan tanggung
jawabnya sebagai pengajar dan tidak menjadikan aktivitas mengajarnya tersebut sebagai alasan untuk mengisi waktu yang luang.
Berdasarkan nilai rerata empirik self efficacy belief pria dan wanita terlihat bahwa pria memiliki rerata empirik yang lebih besar daripada wanita, yaitu sebesar 86,1 dan berada pada kategori tinggi.
Begitu juga nilai rerata empirik goal orientation pada pria lebih besar daripada wanita, yaitu sebesar 77,6 dan berada pada kategori tinggi.
Namun, dalam penelitian-penelitian sebelumnya pengaruh jenis kelamin terhadap tinggi rendahnya goal orientation tidak konsisten.
Self efficacy belief pada guru Sekolah Minggu yang berusia 30 tahun tinggi dibandingkan usia lainnya dengan nilai rerata empirik sebesar 86,55 dan berada pada kategori tinggi. Hal ini dimungkinkan karena bertambahnya usia seseorang bertambah pula pengalaman yang diperoleh sehingga keyakinan akan kemampuan yang dimiliki oleh dirinya semakin baik.
Akan tetapi, goal orientation lebih tinggi pada guru Sekolah Minggu
yang berusia 26 tahun. Hal ini mungkin disebabkan guru Sekolah Minggu tersebut mempunyai semangat yang tinggi sehingga ingin berusaha semaksimal mungkin dalam mengajar dan berusaha menguasai tugasnya dalam mencapai tujuan dari pengajaran.
Self efficacy belief pada guru Sekolah Minggu yang mengajar selama 3 tahun lebih tinggi dibandingkan yang mengajar selama 2 tahun dan 4 tahun dengan nilai rerata empirik sebesar 82,75 dan berada pada kategori tinggi. Begitu juga nilai rerata empirik goal orientation pada guru Sekolah Minggu yang mengajar selama 3 tahun lebih tinggi dibandingkan yang lainnya yaitu sebesar 77,31 dan berada pada kategori tinggi. Hal ini mungkin disebabkan bahwa individu yang sudah mengajar selama 3 tahun tersebut sedang berada pada keyakinan yang kuat akan kemampuannya dalam mengajar sehingga menampilkan usaha yang besar dalam mencapai tujuan pengajaran.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara self efficacy belief dengan goal orientation pada guru Sekolah Minggu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi self efficacy belief maka semakin tinggi goal orientation pada guru Sekolah Minggu.
Hasil perhitungan rerata empirik self efficacy belief dengan goal orientation berada di kategori yang sama, yaitu tinggi, dengan nilai rerata empirik masing-masing sebesar 81,77 dan 75,52. Hal ini menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini memiliki self efficacy belief dan goal orientation yang baik.
Jika seseorang memiliki self efficacy belief yang baik maka ia akan percaya dan yakin terhadap kemampuannya dalam mengajar. Hal ini akan memberi pengaruh positif terhadap goal orientationnya.
Dimana mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajar dengan baik, lebih mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan mengajarnya tersebut
sehingga dapat melaksanakan aktivitas sebagai pengajar dengan baik dalam mencapai tujuan dari tugasnya tersebut .
Hasil penelitian berdasarkan dimensi yang paling memiliki korelasi goal orientation menunjukkan hasil bahwa dimensi magnitude lebih memiliki korelasi paling kuat dengan goal orientation dibandingkan dengan dimensi yang lainnya yaitu dimensi generality dan dimensi strength .
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat dianjurkan adalah sebagai berikut :
1. Bagi guru Sekolah Minggu diharapkan untuk bisa mempertahankan self efficacy belief yang ada pada diri
mereka dan juga
meningkatkan goal orientationnya, sehingga selalu yakin akan kemampuan mengajar yang dimiliki serta lebih berupaya untuk mengembangkan kemampuannya tersebut
dalam melaksanakan aktivitas mengajarnya guna mencapai tujuan dari tugas pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Bagi peneliti selanjutnya
diharapkan dapat
menambahkan variabel atau faktor lain seperti kecemasan, tingkat stres atau kinerja pada guru Sekolah Minggu dengan menggunakan metode kualitatif maupun kuantitatif, sehingga dapat menambah hasil penelitian dan juga dapat menambahkan teori- teori yang lebih baik dari teori-teori yang ada sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ames, C. & Archer, J. (1988).
Achievement in the
classroom: Student’s learning strategies and motivation processes. Journal of educational psychology, 80, 3, 260-267.
Bandura, A. (1997). Social
foundations of thought and action: A social cognitive theory. New Jersey: Prentice- Hall,Inc.
. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. New Jersey: Prentice-Hall,Inc.
Brunstein, J.C. (1993). Personal goals and subjective well- being: A longitudinal study.
Journal of personality and social psychology, 65, 5, 1061-1070.
Elliot, A.J. & Harackiewicz, J.M.
(1994). Goal setting,
achievement orientation, and intrinsic motivation: A mediational analysis. Journal of personality and social psychology, 66, 5, 968-980.
Elliott, E.S. & Dweck, C.S. (1988).
Goals: An approach to motivation and achievement.
Journal of personality and social psychology, 54, 1, 5- 12.
Fitri, K. N. (2010). Hubungan antara kecerdasan emosional dengan self efficacy belief dalam penyelesaian tugas akhir pada mahasiswa. Skripsi. (tidak diterbitkan). Depok: Fakultas Psikologi Universitas
Gunadarma.
Gable, N. M. & Porter, J. F. (1997).
The changing role of the teacher: International perspectives. UNESCO (Paris), Lausanne:
Imprimeries Reunies, S. A.
Grambs, J. D. & Morris, M. (1964).
Foundations of teaching.
New York: Holt, Rirehart, &
Winston.
Harackiewicz, J.M. & Elliot, A.J.
(1993). Achievement goals and intrinsic motivation.
Journal of personality dan social psychology, 65, 5, 904- 915.
Lie, P. (2007). Teknik kreatif dan terpadu dalam mengajar sekolah minggu. Cetakan ke XII. Yogyakarta: Andi.
Meece, J.L., & Blumenfeld, P. C., &
Hoyle, R.H. (1988). Student’s goal orientations and
cognitive engagement in classroom activities. Journal of educational psychology, 80, 4, 514-523.
Moore, Keneth. D.(2007). Clasroom teaching skills. McGraw-Hill:
New York.
Morgan, C.T., King, R.A., Weisz, J.R., & Schopler, J. (1986).
Introduction to psychology.
7th edition. Singapore:
McGraw-Hill, Inc.
Nasution.(2008). Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar.
Cetakan ke XII. Jakarta:
Bumi Aksara.
Nazir, M. (2005). Metode penelitian.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Pasiak, T. (2007). Brain-based teaching. Bandung: Kaifa.
Passer, M.W., & Smith, R.E. (2001).
Psychology : frontiers and applications. McGraw-Hill : New York, NY.
Pintrich, P.R. & Schunk, D.H.
(1996). Motivation in education: theory, research, and application. Englewood Cliff. New Jersey: Prentice Hall.
Slavin, R.E. (1994). Educational psychology. 4th edition.
Boston: Allyn and Bacon.
Spodek, B. (1972). Teaching in the early years. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice- Hall.
Suryabrata, M. (1998).
Pengembangan alat ukur psikologis. Yogyakarta:
Anda.
Syah, M. (2010). Psikologi pendidikan. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Woolfolk, A.E. (1995). Educational psychology. 6th edition.
Needham Heights: Allyn &
Bacon.
Woolfolk. (2004). Educational psychology. New Jersey:
Allyn & Bacon.
Worell, J. & Stilwell, W.E. (1981).
Psychology for teachers and
students. New York:
McGraw-Hill, Inc.