• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII ANALISA PERMASALAHAN PEKERJAAN MASS CONCRETE PADA PONDASI PILE CAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VII ANALISA PERMASALAHAN PEKERJAAN MASS CONCRETE PADA PONDASI PILE CAP"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

BAB VII

ANALISA PERMASALAHAN PEKERJAAN MASS CONCRETE PADA

PONDASI PILE CAP

7.1 Pembahasan Masalah

Pada umumnya semua proyek memiliki permasalahan masing-masing, sesuai dengan tingkat kesulitan suatu perencenaan suatu proyek berdasarkan keinginan pemilik proyek. Setiap masalah datang dari sisi teknis dan non teknis yang biasa akan menjadi hambatan dalam membangun suatu proyek. Setiap masalah yang datang harus dengan cepat di tanganin demi kelancaran suatu proyek.

Dalam bab ini penulis akan membicarakan masalah tentang pengecoraan pile cap 56BP3C. Yang mengacu data dan kasus yang terjadi di lapangan selama masa kerja praktik di laksanakan.

Data tersebut diperoleh dari hasil penelitian baik secara langsung di lapangan maupun data perencanaan. Dari data tersebut, dilaksanakan analisa masalah dan pemecahan yang dilaksanakan di lapangan yang menjadi kesepakatan dari pihak-pihak terkait.

Permasalahan yang terjadi yaitu pada pile cap 56BP3C yang memiliki ketebaln diatas 1 meter agar menjaga kualitas beton maka digunakan metode pengerjaan metode mass concrete . Hal ini dilakukan karena untuk menjaga suhu tetap stabil pada saat pengecoran dan

(2)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

pengerasaan beton terjadi. Karena jika suhu mengalami perbedaan yang drastic akan mengakibatkan retak pada beton dan menurunkan kualitas beton pada pondasi pile cap 56BP3C padahal pondasi haruslah memiliki mutu beton terbaik karena pile cap berfungsi sebagai penyalur beban bangunan ke pondasi dalam / bored pile.

Gambar 1. Pelaksaan Pengecoran Mass Concrete. 7.2 Tinjauan Umum

Menurut ACI 207 (1996), mass concrete adalah proses pengecoran volume beton dengan dimensi yang cukup besar sehingga perlu pengendalian thermal terhadap panas yang ditimbulkan oleh proses hidrasi semen. Selain itu, mass concrete atau beton massa juga didefinisikan sebagai beton yang dituangkan dalam volume besar, yaitu perbandingan antara volume dan luas permukaan besar. (Tjokrodimulyo, 2007) Hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan mass concrete adalah perbedaan suhu beton bagian dalam dan bagian

(3)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

akan lebih cepat mendingin oleh pelepasan panas di udara dan menyusut volumenya, sedangkan bagian dalam masih panas dan belum menyusut, sehingga terjadi perbedaan volume dan cenderung memicu terjadinya keretakan. Keretakan yang terjadi akibat pengaruh suhu ini dikenal dengan retak thermal. Menurut ACI pada 1997 (Jurnal Vol. 94 No. 2), adanya perbedaan suhu dalam beton dengan suhu lingkungan tidak lebih dari 20°C. Pada proyek pembangunan gedung Roseville Soho & Suite, ditetapkan selisih suhu yang diperbolehkan antara 20-30°C, atau selama retak thermal tidak terjadi. Pengendalian retak thermal dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain precooling of concrete, postcooling of concrete, dan surface insulation. Selain pengendalian suhu, dalam pelaksanaan pekerjaan mass concrete juga harus diperhatikan beberapa hal, seperti kesiapan lokasi mass concrete, kesiapan penyediaan beton ready mix, penyediaan alat, pengaturan alur pengecoran, hingga pengaturan jadwal pekerja. Mengingat pengecoran mass concrete harus dilakukan terus menerus tanpa berhenti, hal-hal tersebut di atas harus diperhatikan dan dipersiapkan sebaik mungkin agar tidak mengganggu jalannya proses mass concrete.

(4)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

7.3 Metode Pelaksanaan

 Persiapan Pekerjaan Mass Concrete pada Pile Cap 56BP3C

Persiapan pekerjaan mass concrete meliputi perhitungan jumlah kebutuhan mixer truck dan lamanya pengecoran, pengaturan lalu lintas selama pengecoran, perkiraan suhu beton ready mix yang diijinkan, pengaturan alur pengecoran, serta alat dan material yang dibutuhkan selama pekerjaan mass concrete berlangsung. Hal-hal tersebut harus direncanakan dan diperhatikan pelaksanaannya sebaik mungkin, agar tidak menghambat jalannya proses pelaksanaan mass concrete di lapangan.

(5)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

 Perhitungan Jumlah Kebutuhan Mixer Truck dan Lamanya Pengecoran Perhitungan kebutuhan mixer truck dan lamanya pengecoran pile cap 56BP3C membutuhkan beberapa data, seperti concrete pump capacity, mixer truck capacity, dan volume beton ready mix yang dibutuhkan. Volume beton ready mix yang dibutuhkan untuk pengecoran pile cap 56BP3C dapat diketahui dengan menghitung volume pile cap 56BP3C itu sendiri. Diperoleh hasil perhitungan, jumlah mixer truck yang dibutuhkan untuk pekerjaan mass concrete pile cap 56BP3C ialah 171 mixer truck, waktu pengecoran kurang lebih 20 jam dengan 2 buah concrete pump truck.

Gambar 4. menunjukkan denah dan detail pile cap 56BP3C beserta dimensinya yang digunakan untuk menghitung volume pile cap 56BP3C.

(6)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Gambar 4b. Denah dan Detail Pile Cap 56BP3C. Sumber : PT. CBM Premier, 2016

 Pengaturan Lalu Lintas (Cycle Time)

Cycle time adalah waktu yang digunakan untuk menyelesaikan 1 siklus pekerjaan dengan urutan standar kerja yang telah ditentukan. Pengaturan lalu lintas atau cycle time harus direncanakan sebaik mungkin, mengingat untuk mendapatkan hasil beton yang baik, pengecoran harus dilakukan terus-menerus tanpa henti untuk menghindari terjadinya sambungan dingin (cold joint). Perhitungan cycle time untuk pekerjaan mass concrete pile

cap 56BP3C membutuhkan beberapa data, seperti concrete pump capacity,

dan mixer truck capacity. Dari perhitungan yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa mixer truck harus datang setidaknya setiap 7,5 menit sekali ke lokasi pengecoran, agar pengecoran mass concrete pile cap 56BP3C tidak terhambat dan dapat berlangsung secara terus menerus. Hal ini harus tercapai

(7)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang guna menghindari terjadinya sambungan dingin (cold joint) pada beton yang

telah dicor.

 Perkiraan Suhu Beton Ready Mix

Salah satu pengendalian suhu untuk menghindari terjadinya retak thermal ialah dengan memperhatikan besar suhu pada agregat maupun campuran beton segar yang akan digunakan untuk pengecoran. Dengan memperhatikan suhu masing-masing agregat yang digunakan pada campuran beton segar, diharapkan campuran yang dihasilkan memiliki besar suhu yang sesuai rencana atau tidak melebihi batas suhu yang ditetapkan. Pengecekan suhu campuran beton ready mix tersebut dilakukan setiap mixer truck pembawa campuran beton tiba di lokasi pengecoran. Pengecekan suhu tersebut diawasi langsung oleh pihak MK maupun QC.

Gambar 5. Thermometer untuk pengecekan suhu beton segar sebelum dituang.

 Pengaturan Alur Pengecoran

Alur pengecoran harus direncanakan dengan baik. Mengingat daerah cakupan pengecoran yang cukup luas, ditambah dengan pelaksanaan mass concrete yang harus dilaksanakan tanpa henti, alur pengecoran merupakan hal yang sangat membantu kelancaran pelaksanaan pekerjaan mass concrete. Alur

(8)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang pengecoran mass concrete pile cap 56BP3C dapat dilihat pada Gambar 6

berikut.

Gambar 6. Alur Pengecoran Mass Concrete pada Pile Cap 56BP3C Sumber : PT. CBM Premier, 2016

Terlihat bahwa terdapat dua jalur pengecoran, yaitu jalur pertama aliran dari pompa 1 dan jalur kedua aliran dari pompa 2. Sedangkan, berdasarkan kedalaman pile cap 56BP3C, terbagi 4 cakupan kedalaman. Keempat cakupan kedalaman tersebut menandakan urutan dituangkannya campuran beton ready mix ke dalam pile cap 56BP3C. Pembuatan alur pengecoran tersebut dengan tujuan memudahkan pada saat penuangan campuran beton segar pada pelaksanaan pengecoran mass concrete pile cap 56BP3C.

(9)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

 Persiapan Pekerja yang Terlibat

Mengingat lamanya proses pelaksanaan mass concrete, dan pelaksanaannya yang harus terus-menerus tanpa henti, kesiapan pekerja menjadi hal penting yang juga harus dipersiapkan dengan matang. Pekerja yang akan terlibat dalam pekerjaan mass concrete harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin, baik dalam hal jumlah pekerja yang terlibat maupun pembagian tugas yang jelas. Pada pekerjaan mass concrete di proyek pembangunan Roseville Soho & Suite ini, pekerja yang dilibatkan sekitar 10 – 20 orang. Setiap pekerja yang terlibat mendapatkan shift bekerja setiap harinya. Pergantian shift kerja dilakukan antara pukul 08.00 – 20.00 WIB dan pukul 20.00 – 08.00 WIB

7.4 Peralatan dan Bahan

 Material atau Bahan

Bahan-bahan bangunan merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi

dalam mendirikan atau membuat suatu bangunan.Pemilihan bahan-bahan tersebut harus benar-benar mendapat perhatian demi kelancaran pelaksanaan pembangunan dan mendapatkan kualitas bangunan yang baik.

Bahan yang digunakan dalam proyek Roseville Soho & Suite meliputi: Beton ready-mix,besi tulangan,beton decking,kawat pengikat.

(10)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang a. Beton Ready Mix

Secara umum beton ready-mix adalah beton segar yang belum mengalami proses pengikatan dan perkerasan yang diproduksi di

batching plan dengan penambahan bahan

kimia(adhimixture),tergantung pada jenis beton yang

dipesan,kemudian dikirim kelapangan dengan menggunakan truck mixer,beton redy-mix diproduksi dipabrik dibawah pengawasan menggunakan sistem operasi komputer,untuk memastikan beton ready-mix sampai dilapangan masih dalam keadaan plastis.

Untuk proyek Rosoville Soho & Suite beton ready-mix disupply oleh PT. Pioneer Beton & Adhimix Precast dengan kapasitas truck mixer kurang lebih 7mᶟ. Untuk setiap truck mixer dikemudikan oleh supir dan didampingi oleh seorang teknisi yang dilengkapi dengan surat jalan.Mutu Beton yang dipakai dalam proyek Rosoville Soho & Suite:

 K-500 / Fc 41,5 Mpa : caping beam,pile

(11)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang b. Besi Tulangan

Besi Tulangan yang dipakai dalam proyek Rosoville Soho & Suite adalah:

 BJTP24 = Baja tulangan Polos untuk besi ᴓ8mm dan ᴓ6mm

 BJTP40 = Baja tulangan ulir untuk ᴓ10mm s.d. ᴓ32mm

Besi tulangan yang digunakan harus memenuhi syarat antara lain:

 Bebas dari kotoran-kotoran,lapisan minyak,karat,dan tidak

cacat.

 Bahan-bahan tersebut dalam segala hal harus memenuhi

ketentuan-ketentuan PBI 1971.

 Mempunyai penampang yang sama rata.

 Ukuran sesuai gambar.

 Penampang tulangan baja harus terkindung dari air,cuaca dan

tidak boleh berhubungan langsung dengan tanah.

(12)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang c. Beton Decking

Beton Decking adalah beton atau spesi yang dibentuk sesuai ukuran selimut beton yang diinginkan. Berbentuk kotak seperti tahu atau silinder. Beton decking berfungsi untuk menjaga tulangan agar sesuai dengan posisi yang diinginkan. Bila dibilang berfungsi untuk membuat selimut beton sehingga besi tulangan akan selalu diselimuti beton yang cukup,sehingga didapatkan kekuatan maksimal dari bangunan yang dibuat. Selain itu,selimut beton juga berfungsi agar tulangan tidak berkarat.

d. Kawat Pengikat Tulangan

Kawat pengikat tulangan terbuat dari baja lunak dengan diameter 2mm. Kawat ini digunakan untuk mengikat tulangan baja agar tulangan-tulangan tersebut memiliki jarak yang sesuai dengan rencana.

(13)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

 Peralatan kerja

Selain bahan bangunan untuk pelaksanaan proyek ini juga diperlukan

adanya peralatan kerja sebagai sarana untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pekerjaan. Sebagaimana halnya pengadaan barang, maka dalam hal ini pengadaan dan pemilihan peralatan kerja harus dilakukan kiat khusus agar pemilihan jenis peralatan kerja tersebut menghasilkan efektifitas dan produktifitas alat yang optimal, antara lain:

 Merinci mengenai peralatan yang dibutuhkan.

 Memperhutungkan banyaknya alat yang dipakai sesuai volume

pekerjaan yang dilaksanakan.

 Memperhitungkan kapasitas alat.

 Memperhitungkan biaya alat (sewa/beli,pemeliharaan).

 Memperhitungkan daya tahan alat.

Peralatan-peralatan yang digunakan dalam pembangunan proyek Rosoville Soho & Suite adalah:

a. Truck mixer

Truck Mixer adalah kendaraan pengangkut adukan beton ready-mix dari tempat pembuatannya (batching plant) ke lokasi proyek. Pada proyek Rosoville Soho & Suite Truck mixer berasal dari PT. Pioner dan PT.Adhimix Precast selaku supplier beton ready mix. Kapasitas 1 (satu) buah molen adalah 7mᶟ siap pakai.

(14)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

 Untuk mengendalikan perputaran molen digunakan dua buah

tuas yang letaknya dibawah molen (belakang truck) yaitu:

 Tuas 1 (satu) berfungsi untuk mengatur

laju perputaran mixer saat membawa beton readymix.

 Tuas 2 (dua) berfungsi mengatur banyak

sedikitnya frekuensi penuangan readymix saat dituangkan.

 Apabila perputaran molen berlawanan arah jarum jam (dilihat

dari belakang) beton akan tetap terjaga dalam truck. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar beton dalam truck tidak setting atau mengalami perkerasan pada saat perjalanan atau saat menunggu readymix dituangkan.

 Jika molen berputar searah jarum jam maka beton yang ada

didalam molen akan bergerak keluar.

(15)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang b. Concrete Pump

Concrete pump truck adalah truk yang dilengkapi dengan pompa dan lengan (boom) untuk memompa campuran beton ready mix ke tempat-tempat yang sulit dijangkau. Pipa dan lengan ini dapat dipasang kombinasi vertikal dan horisontal atau miring. Sehingga pemompaan merupakan cara yang fleksibel pada lokasi yang sulit untuk memindahkan campuran beton ke sembarang tempat pada bidang pengecoran. Resiko segregasi sangat kecil dan merupakan cara yang paling cepat dibandingkan dengan pembawaan material beton dengan cara lainnya. Dalam penggunaan alat ini perlu diperhatikan nilai slump dari campuran beton yang akan dipompa. Sebab jika nilai slump terlalu kecil maka kerja pompa akan menjadi berat. Pada proyek ini pengadaan concrete pump truck menjadi tanggung jawab penyedia ready mix.

(16)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang c. Concrete vibrator

Concrete vibrator adalah alat yang berfungsi untuk memadatkan adukan beton, meningkatkan homogenitas adukan pada saat pengecoran, mengeluarkan gelembung-gelembung udara sehingga tidak terjadi rongga udara setelah pengerasan beton dan berfungsi untuk meratakan beton kesegala arah, serta dapat menjangkau celah-celah terjauh didalam bekisting.

Gambar 12. Concrete Vibrator d. Bar cutter

Bar cutter adalah alat pemotong baja tulangan sesuai ukuran yang diinginkan. Pada proyek ini menggunakan bar cutter listrik. Keuntungan dari bar cutter listrik dibandingkan bar cutter manual adalah bar cutter listrik dapat memotong besi tulangan dengan diameter besar dan dengan mutu baja cukup tinggi, disamping itu juga dapat mempersingkat waktu pengerjaan. Bar cutter yang dipakai mempunyai dimensi tulangan maksimal untuk pemotongan yaitu dimensi maksimal dengan diameter besi tulangan 32mm.

(17)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang Cara kerja dari alat ini yaitu baja yang akan dipotong dimasukkan ke dalam gigi bar cutter, kemudian pengendali dipijak, dan dalam hitungan detik baja tulangan akan terpotong. Pemotongan unutk baja tulangan yang mempunyai diameter besar dilakukan satu persatu. Sedangkan untuk baja yang berdiameter kecil, pemotongan dapat dilakukan beberapa buah sekaligus sesuai dengan kapasitas dari alat.

Gambar 13. Bar Cutter

e. Bar bender

Bar bender adalah alat yang digunakan untuk membengkokkan baja tulangan dalam berbagai macam sudut sesuai dengan perencanaan. Bar bender adalah alat/mesin yang digunakan untuk menekuk besi ulir/polos dengan diameter yang sesuai dengan kapasitas mesin. Cara kerja alat ini adalah baja yang akan dibengkokkan dimasukkan diantara poros tekan dan poros pembengkok kemudian diatur sudutnya sesuai dengan sudut

(18)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang bengkok yang diinginkan dan panjang pembengkokannya. Ujung tulangan pada poros pembengkok dipegang dengan kunci pembengkok. Kemudian pedal ditekan sehingga roda pembengkok akan berputar sesuai dengan sudut dan pembengkokan yang diinginkan. Bar bender dapat mengatur sudut pembengkokan tulangan dengan mudah dan rapi.

Gambar 13. Bar Bender 7.5. Tahapan pelaksanaan

Mengingat pekerjaan mass concrete ini dilaksanakan untuk pengecoran pile cap 56BP3C, tahap awal pelaksanaan pekerjaan tentunya diawali dengan tahap pelaksanaan pekerjaan pile cap. Pekerjaan mass concrete dimulai ketika tahapan pekerjaan pile cap selesai dilakukan, hingga menyisakan pekerjaan pengecoran saja.

(19)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Pekerjaan Pengecekan Pile Cap 56BP3C

Seperti pada tahap pelaksanaan pembuatan pile cap, hal yang harus dilakukan sebelum memulai pengecoran ialah pengecekan pile cap. Pengecekan ini dilakukan baik oleh pihak MK, maupun oleh pihak QC dari kontraktor itu sendiri. Pengecekan dilakukan berdasarkan gambar shop drawing yang telah direncanakan sebelumnya. Jika dalam pengecekan ditemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan gambar shop drawing, maka perlu dilakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tahap pengecoran.

 Pembersihan Pile Cap 56BP3C

Setelah pile cap 56BP3C dinyatakan lolos pengecekan oleh pihak MK maupun QC, dilakukan tahap pembersihan pile cap sebelum pengecoran dimulai. Pembersihan dimaksudkan untuk membersihkan pile cap dari debu maupun sampah yang mungkin mengotorinya. Keberadaan debu dan sampah di permukaan pile cap yang akan dicor dapat menggangu jalannya proses pengecoran. Jika pile cap tidak dibersihkan dari debu dan sampah, beton segar yang akan mengisinya tidak dapat membentuk beton yang kuat karena adanya kotoran yang menggangu proses pengikatan beton. Ketika proses pengikatan beton terganggu, hal yang paling dikhawatirkan terjadi ialah melemahnya kekuatan beton tersebut. Maka dari itu, tahapan pembersihan merupakan tahapan yang penting untuk dilakukan sebelum dimulainya pengecoran.

(20)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Gambar 14. Air Compressor untuk Pembersihan Pile Cap

 Kesiapan Peralatan dan Material

Setelah melalui tahap pengecekan dan pembersihan, keperluan peralatan dan material yang akan digunakan harus dipersiapkan dengan baik. Dalam pelaksanaan pekerjaan mass concrete, peralatan dan material yang digunakan tidak jauh berbeda dengan peralatan dan material yang digunakan pada pengecoran pada umumnya. Namun ada beberapa peralatan dan material tambahan yang digunakan, mengingat pada pekerjaan mass concrete terdapat beberapa perlakuan khusus yang harus dilakukan terhadap beton massa yang dicor. Peralatan dan material yang harus disiapkan untuk pekerjaan mass concrete, antara lain :

a. Thermmocouple

Thermocouple dibutuhkan pada pekerjaan mass concrete dalam proses pengawasan dan pengendalian suhu beton segar selama proses berlangsung. Thermocouple memiliki 3 titik sensor pembacaan suhu, yaitu titik atas, titik tengah dan titik bawah. Melalui pembacaan suhu pada

(21)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

dan dikendalikan. Pada pekerjaan mass concrete pile cap 56BP3C, digunakan 9 thermocouple yang diletakkan di titik-titik yang telah ditentukan sebelumnya. Titik-titik tersebut ditentukan secara acak dengan memperhitungkan kedalaman pile cap 56BP3C. Penentuan titik-titik thermocouple tersebut diatur merata sedemikian rupa, sehingga pengendalian suhu pile cap dapat dipantau secara rata.

Gambar 15. Instalasi Thremocople

b. Kawat Ayam (Stop Cor)

Kawat ayam digunakan sebagai stop cor, yaitu tanda yang membagi pile cap ke dalam beberapa bagian pengecoran. Seperti yang telah diketahui, alur pengecoran pada pile cap 56BP3C telah dipersiapkan sebelumnya. Kawat ayam ini membagi bagian-bagian tersebut guna memudahkan pelaksanaan pengecoran mass concrete pada pile cap 56BP3C. Selain itu, pemasangan kawat ayam juga berfungsi sebagai

(22)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

penahan kecepatan pengecoran, agar berlangsungnya pengecoran dapat dikendalikan.

c. Instalasi Pipa Cor

Setelah menentukan concrete pump truck yang akan digunakan, maka langkah selanjutnya ialah mempersiapkan instalasi pipa cor dari concrete pump truck ke lokasi pengecoran mass concrete pada pile cap 56BP3C. Pipa cor merupakan pipa-pipa besi yang digunakan untuk mengalirkan campuran beton segar dari concrete pump truck ke tempat yang akan dicor. Instalasi pipa-pipa cor tersebut diatur sedemikian rupa sehingga membentuk alur pengecoran yang telah ditentukan.

Gambar 16. Instalasi Pipa Concrete Pump d. Pagar Pagar

dipasang mengelilingi area pile cap 56BP3C yang akan dicor. Pemasangan pagar ini dilakukan untuk mempermudah jalannya pekerjaan mass concrete.

(23)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Dengan adanya pagar, pekerja yang akan lalu lalang selama proses pelaksanaan mass concrete akan dapat dengan mudah mengakses area pengecoran. Dengan begitu pula, pekerjaan lain yang berada di luar area pengecoran pile cap 56BP3C dapat tetap berjalan tanpa menggangu proses pelaksanaan mass concrete.

e. Tenda

Pada pelaksanaan pekerjaan mass concrete untuk pile cap 56BP3C, dibutuhkan tenda yang dipasang di atas pile cap yang dicor. Pemasangan tenda tersebut sebagai penunjang pekerjaan mass concrete. Tenda tersebut berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan panas matahari selama pekerjaan mass concrete berlangsung. Mengingat jalannya proses pelaksanaan pekerjaan mass concrete yang memakan cukup banyak waktu dan dilakukan terus-menerus tanpa henti, maka diperlukan pelindung yang akan melindungi jalannya pelaksanaan pekerjaan baik dari hujan maupun panas matahari.

(24)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

f. Termometer

Termometer digunakan pada proses pemeriksaan suhu campuran beton awal. Termometer digunakan untuk mengetahui suhu campuran beton yang tiba di lokasi pengecoran, dan menentukan apakah campuran tersebut memenuhi syarat suhu yang diijinkan atau tidak.

g. Vibrator

Seperti pada pekerjaan pengecoran umumnya, penggunaan vibrator bertujuan untuk menghilangkan udara yang terjebak dalam campuran beton setelah dituang. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pengeroposan beton.

h. Trowel

Trowel berfungsi untuk membantu meratakan dan menghaluskan permukaan beton setelah dicor agar permukaannya tidak bergelombang. Pada pekerjaan mass concrete pada pile cap 56BP3C, trowel digunakan setelah campuran beton memenuhi bekisting, sebelum pemberian floor hardener dilakukan.

(25)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

i. Plastik dan Styrofoam

Plastik dan styrofoam digunakan pada pekerjaan mass concrete pada tahap perawatan (curing), setelah pelaksanaan berlangsung. Plastik dan styrofoam berfungsi untuk menurunkan suhu pada beton setelah pengecoran berlangsung. Plastik dan styrofoam tersebut diletakkan menyebar menutupi permukaan pile cap 56BP3C yang telah dicor. Tujuannya ialah untuk mengurangi panas hidrasi yang terjadi di seluas permukaan beton pile cap 56BP3C yang mungkin terjadi setelah pengecoran berlangsung.

(26)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Pemeriksaan Suhu Beton Segar

Setelah semua persiapan selesai dilakukan, pengiriman beton segar dari pihak penyuplai beton ready mix, PT. Pionirbeton Industri, mulai berjalan. Sebelum beton segar dituang ke dalam bekisting pile cap 56BP3C, beton segar tersebut harus melalui beberapa pemeriksaan. Salah satunya ialah pemeriksaan suhu. Suhu beton segar yang diijinkan ialah tidak lebih dari 34°C. Suhu tersebut ditetapkan oleh pihak PT. Pionirbeton Industri sendiri, dengan memperhitungkan suhu masing-masing agregat, mutu beton yang digunakan, dan juga dimensi pile cap yang akan dicor. Pemeriksaan suhu beton segar tersebut dilakukan untuk setiap mixer truck yang tiba di lokasi. Jika terdapat suhu beton segar yang melebihi suhu ijin, maka perlu dilakukan perlakuan khusus guna menurunkan suhu beton segar tersebut. Perlakuan yang dapat dilakukan misalnya dengan menambahkan pecahan es batu ke dalam campuran beton. Pecahan es batu tersebut digunakan sebagai pengganti sebagian air pencampur, yang pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi suhu awal campuran. Penambahan pecahan es batu tersebut dilakukan di plant mixer truck yang bersangkutan.

 Pengujian Nilai Slump (Slump Test) Beton Segar

Pemeriksaan selanjutnya ialah pemeriksaan nilai slump (slump test) dari campuran beton tersebut. Menurut SNI 03-1972-1990, slump beton ialah besaran kekentalan (viscocity) atau plastisitas dan kohesif dari beton segar. Atau dengan kata lain, slump adalah penurunan ketinggian pada

(27)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang pusat permukaan atas beton yang diukur setelah cetakan uji slump diangkat. Pengujian nilai slump ini merupakan faktor yang terkait dengan kemudahan pengerjaan beton segar (workability) tersebut dalam pelaksanaan pekerjaannya. Besaran nilai slump bervariatif sesuai dengan kegunaan beton segar tersebut untuk berbagai jenis konstruksi. Nilai slump yang dihasilkan dari pengujian tersebut juga berkaitan dengan kekuatan rencana beton yang akan dikerjakan. Beton yang digunakan dalam pengecoran pile cap 56BP3C ialah mutu beton (fc’) 33 MPa. Nilai slump yang diijinkan ialah ±12 cm atau dengan kata lain antara 10 – 14 cm.

(28)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

 Pengambilan Sampel Beton Segar untuk Pengujian Laboratorium

Jika campuran beton segar yang diuji memenuhi syarat nilai slump yang diijinkan, maka tahap selanjutnya ialah pengambilan sampel untuk pengujian di laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan dengan memasukkan campuran beton yang lolos pemeriksaan suhu dan nilai slump, ke dalam cetakan beton silinder. Penuangan beton ke dalam cetakan dilakukan sesuai standar yang telah ditetapkan. Cetakan-cetakan sampel beton silinder tersebut kemudian dibawa ke laboratorium pengujian untuk selanjutnya dilakukan tahap pengujian kuat tekan beton. Pengujian kuat tekan beton tersebut dilakukan oleh pihak penyuplai beton ready mix itu sendiri yaitu PT. Pionirbeton Industri.

(29)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Pendataan dan Pengawasan Mixer Truck

Pendataan dan pengawasan ini berguna untuk menghindari kesalahan pada pekerjaan mass concrete, seperti kesalahan pengiriman beton ready mix, atau kesalahan antara jumlah beton ready mix yang dipesan dengan beton ready mix yang tiba di lokasi. Selain itu, pendataan mixer truck juga berguna untuk kepentingan laporan pengecoran.

 Penuangan Beton Segar

Setelah beton segar yang tiba di lokasi pengecoran melalui beberapa tahap pemeriksaan dan dinyatakan layak untuk melanjutkan proses pelaksanaan pekerjaan mass concrete, maka campuran beton segar tersebut siap untuk dituangkan ke dalam pile cap 56BP3C. Penuangan beton segar ke dalam pile cap menggunakan instalasi pipa cor yang telah dipersiapkan sebelumnya. Penuangan beton segar tersebut juga mengikuti alur pengecoran yang telah ditentukan sebelumnya.

(30)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

7.6. Pekerjaan Perawatan dan Controlling

Perawatan (Curing) Mass Concrete Sama halnya seperti pekerjaan konstruksi pada umumnya, setelah melewati tahap pelaksanaan, maka selanjutnya tahap yang harus dilalui ialah perawatan atau curing. Dalam pekerjaan mass concrete ada beberapa hal yang termasuk dalam perawatan (curing) mass concrete. Hal-hal yang dikerjakan pada tahap ini berkaitan dengan perawatan beton setelah pengecoran.

 Pemberian Compound Curring dan Pasir

Curing compound yaitu membrane-forming curing compound tipe cair merupakan bahan perawatan dan perlindungan beton yang menghambat proses penguapan air pada beton basah serta berbentuk cairan. Permukaan pile cap 56BP3C yang akan dilapisi Compond Curring dengan cara di-roll pada seluruh permukaanya dan ditaburi pasir setebal 5cm.

(31)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Pelapisan Permukaan Beton dengan Plastik dan Styrofoam

Setelah pemberian Compound dan Pasir pada permukaan beton pile cap 56BP3C, maka tahap perawatan selanjutnya ialah dengan menutupi permukaan beton dengan plastik dan styrofoam. Penggunaan lapisan plastik dan styrofoam ini sangat membantu dalam proses perawatan (curing). Lapisan pertama atau lapisan terbawah (bersentuhan langsung dengan permukaan beton) ialah lapisan plastik. Kemudian di atas lapisan plastik tersebut, diletakkan lapisan kedua yaitu lapisan styrofoam. Pemberian lapisan styrofoam pada seluruh permukaan beton massa ini merupakan upaya isolasi antar suhu dalam beton massa tersebut yang diharapkan merata dengan suhu lingkungan. Pelapisan permukaan beton dengan plastik dan styrofoam ini dilakukan selama masa perawatan yaitu 7 hari setelah pengecoran berlangsung.

(32)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

Pembacaan Suhu pada Thermocouple

Hal penting lainnya yang termasuk ke dalam tahap perawatan (curing) pada pekerjaan mass concrete ialah pembacaan suhu pada thermocouple. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, thermocouple memiliki fungsi yang penting dalam pelaksanaan pekerjaan mass concrete, yaitu untuk mengetahui suhu pada beton yang dicor, serta berfungsi dalam pengendalian suhu beton massa untuk menghindari terjadinya retak thermal. Thermocouple memiliki 3 titik sensor pembacaan suhu, yaitu titik sensor atas, titik sensor tengah, dan titik sensor bawah. Ketinggian ketiga titik sensor tersebut sesuai dengan ketinggian thermocouple yang diletakkan dalam pile cap 56BP3C. Ketiga titik sensor tersebut mengukur suhu beton di sekitar titik sensor di dalam pile cap. Ketiga titik sensor tersebut tentu memiliki besar suhu yang berbeda-beda. ACI (1997) telah menetapkan bahwa selisih besar suhu antara ketiga titik sensor pada thermocouple tidak lebih dari 20°C. Pembacaan suhu pada thermocouple dilakukan setiap 2 jam sekali pada hari pertama perawatan (satu hari setelah pengecoran berlangsung), setiap 3 jam sekali pada hari kedua perawatan, dan setiap 24 jam sekali pada 3 hari berikutnya, hingga hari perawatan ke 6. Terdapat perbedaan yang signifikan pada pembacaan grafik thermocouple 5 (TC-5). Thermocouple 5 memiliki besaran suhu maksimum pada pembacaan suhu titik sensor bawah, sedangkan idealnya suhu maksimum terdapat pada pembacaan titik sensor tengah, seperti yang terjadi pada 8 titik thermocouple lainnya. Thermocouple 5 merupakan

(33)

Laporan Kerja Praktek at Roseville Soho & Suite - BSD Tangerang

thermocouple yang diletakkan tepat di tengah bagian pile cap 56BP3C. Letak dipasangnya thermocouple tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa thermocouple 5 memiliki suhu yang lebih besar dibandingkan dengan suhu pada thermocouple lainnya. Thermocouple yang terletak di sisi tepi pile cap akan mendapat pengaruh lingkungan lebih besar daripada thermocouple yang diletakkan di bagian tengah pile cap. Pengaruh lingkungan tersebut seperti pengaruh kelembaban udara. Thermocouple 5 merupakan thermocouple yang dipasang pada kedalaman maksimum pile

cap 56BP3C, yaitu 4,6 meter. Kedalaman thermocouple tersebut

mempengaruhi mengapa thermocouple 5 memiliki suhu maksimum pada pembacaan titik sensor bawah. Ketika berlangsungnya proses penuangan beton segar, beton yang dituang tentunya akan mengalir ke bagian paling bawah pile cap. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa pile cap dimana thermocouple 5 dipasang merupakan bagian yang paling banyak menerima aliran beton dari bagian-bagian yang lebih tinggi dalam pile cap tersebut. Semakin banyak beton yang mengalir ke bagian dalam tersebut, semakin banyak panas yang diterima di bagian bawah thermocouple 5, maka semakin besar pula pembacaan suhu pada titik sensor bawah thermocouple5.

Gambar

Gambar 1. Pelaksaan Pengecoran Mass Concrete.
Gambar 3. Denah Jalur Pengecoran.
Gambar  4.  menunjukkan  denah  dan  detail  pile  cap  56BP3C  beserta  dimensinya yang digunakan untuk menghitung volume pile cap 56BP3C
Gambar 4b. Denah dan Detail Pile Cap 56BP3C.
+7

Referensi

Dokumen terkait