LAPORAN SEMENTARA LOKASI
Kelurahan : Karang Pule Kecamatan : Mataram Kota : Mataram
Propinsi : Nusa Tenggara Barat
Kategori : Partisipasi Perempuan Rendah Tim : Ary Wahyono dan Marini Purnomo
Karangpule adalah salah satu kelurahan di Mataram Barat yang wilayahnya sangat luas, Sebelum pemekaran, wilayah karangpule yang sekarang masih menjadi wilayah program P2KP terdiri dari 11 lingkungan. Masing-masing lingkungan memiliki karakteristik demografis dan social-budaya yang tidak sama. Ada 4 lingkungan di Scarbele yang memiliki karakteritik sama, yakni sebagai daerah pengrajin emas dan merupakan daerah pusat masuknya Islam di Lombok. Ada lingkungan yang memiliki matapencaharian sebagai nelayan.
Ada lingkungan yang baru saja terlepas dari permukiman terpencil setelah dibuka jalan lingkar kota Mataram. Ada lingkungan permukiman BTN dimana sebagian warganya karyawan swasta dan PNS.
Karakteristik seperti itu membawa dinamika yang unik dalam kaitannya pelaksanaan program P2KP di kelurahan ini.
Pertanyaan Penelitian I : Apakah masalah-masalah dan hambatan- hambatan dan juga peluang-peluang utama yang mempengaruhi pemberdayaan ekonomi-sosial dan politik perempuan, khususnya yang berhubungan dengan partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan di lokasi penelitian.
Untuk melihat partispasi perempuan dapat ditelusuri dari proses pemilihan kader/relawan P2KP yang berlangsung di tingkat basis komunitas dan kelurahan.
Pertama, proses pemilihan kader/relawan di tingkat komunitas sangat dipengaruhi oleh peran kepala lingkungan. Basis komunitas yang nyata berada di lingkungan bukan terjadi di keluarahan. Setiap lingkungan memiliki karakteristik masyarakat yang tidak sama dilihat dari orientasi matapencaharian, kesenjangan sosial-ekonomi, jarak ke pusat kelurahan, dan sebagainya. Oleh karena itu, kemampuan kepala lingkungan sangat besar di dalam menentukan warganya sebagai kader/relawan/wakil lingkungan.
Kepala Lingkungan sangat menentukan apakah pemilihan kader/relawan dilakukan melalui pemililihan atau penunjukkan ?, apakah kader/relawan yang dipilih tidak memperhatikan keterlibatan perempuan ?, apakah dalam
realitasnya kader/relawan yang terpilih di BKM tidak bisa bekerja karena tidak memiliki kemampuan ? Kesemuanya itu berada di tangan kepala lingkungan. Dari sinilah sebenarnya peluang dan hambatan perempuan berpartisipasi dalam P2KP dapat dilihat dari awal.
Dari berbagai wawancara dengan kepala lingkungan di Karangpule jawaban sangat beragam tentang peranannya dalam keterlibatan pemilihan kader/relawan di lingkungannya. Ada kepala lingkungan yang merasa tidak dilibatkan dalam pemilihan kader/relawan pada pada tahap pembentukkan BKM periode 1 (Kasus Karang Seme). Ada kepala lingkungan yang langsung menunjuk RT untuk mewakili lingkungannya (BTN Kelalik), tetapi ada beberapa lingkungan yang dilakukan secara pemilihan secara demokratis (sungguhpun hal ini diragukan pelaksanaan oleh seorang mantan Lurah Karang Pule).
Apa yang ada di benak pikiran kepala lingkungan adalah bahwa P2KP adalah program pemerintah dan orang yang mewakili lingkungan diharapkan bisa memperjuangan program kegiatan di lingkungannya. Karena itu seringkali orang yang mewakili lingkungan memiliki hubungan dengan kepala lingkungan. Banyak kasus anak kepala lingkungan atau ketua RT yang terpilih menjadi wakil lingkungan. Orang yang terpilih mewakili lingkungan walaupun tidak memiliki pengalaman di P2KP (mengikuti pelatihan kerelawanan). Lelaki didahulukan dalam penentuan wakil lingkungan. Seorang kepala lingkungan mengemukakan jika kalangan bapak menolak baru dicarikan perempuan. Warga yang pernah mendapat pelatihan atau relawan tidak terpilih sebagai wakil lingkungannya. Jadi dengan demikian, relawan yang terbentuk dari hasil sosialisasi P2KP berhenti pada pendataan warga miskin untuk penyusunan PJM Prognangkis. Setelah itu menghilang atau paling mujur mendapat bantuan dana bergulir. Karena itu, di Karang pule sulit mendapatkan relawan yang sebenarnya. Hal ini terlihat Ketua BKM tidak mampu menghadirkan relawan untuk diajak FGD.
Pandangan kepala lingkungan bahwa P2KP adalah program pemerintah maka secara alamiah perempuan tersingkir dengan sendirinya dalam pemilihan kader/relawan di tingkat basis masyarakat lingkungan. Kader/relawan yang mewakili lingkungan dianggap (oleh kepala lingkungan) selalu berkaitan dengan urusan kelurahan, kegiatan rapat-rapat yang dilakukan pada malam hari. Kegiatan seperti ini dianggap bukan urusan perempuan. Rapat yang sering dilakukan pada malam hari dan lokasi rapat-kantor kelurahan yang jauh dari lingkungan-tempat tinggal menjadikan kepala lingkungan memilih atau mengarahkan pada kader/utusan lingkungan bukan perempuan. Selain alasan praktis tersebut, ada nilai-nilai agama yang cenderung menempatkan perempuan lebih cocok kegiatan di rumah dan mengurus anak.
Kedua, terjadi kepentingan pada pemilihan anggota BKM di tingkat kelurahan (kepala lingkungan, lurah, faskel maupun ambisi perorangan) yang pada pada
akhirnya BKM di Karang Pule sangat minim perempuan bahkan pada BKM periode kedua tidak ada perempuan satupun. Warga yang terlibat pemilihan baik itu utusan lingkungan dan undangan saling merebut pengaruh supaya dapat terpilih menjadi anggota BKM. Dengan proses pemilihan di tingkat kelurahan maka pada akhirnya sebagian besar anggota BKM yang terpilih tidak ada yang berasal dari relawan atau orang-orang yang dahulu pernah mendapat sosialisasi soal P2KP atau kerelawanan. Anggota BKM terpilih sebelumnya tidak tahu program P2KP. Ada anggota BKMyang tidak mengetahui kalau dirinya anggota BKM, dan banyak kasus lain soal pemahaman P2KP dari anggota BKM.
Proses pemilihan kader/utusan di tingkat basis dan kelurahan merupakan gambaran bagaimana masyarakat melihat keberadaaan BKM di kelurahan ini.
BKM cenderung dilihat sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan lingkungannya masing-masing terutama berhubungan dengan proyek.
Idealisme kolektifitas atau kekompakan anggota BKM terjadi pada tahap perencanaan atau persiapan tetapi ketika BLM cair terjadi muncul kecurigaan antara anggota BKM. Terjadi ambisi anggota BKM untuk menjadi koordinator BKM. Anggota BKM satu menjatuhkan anggota BKM lainnya. Dari sini mulai muncul anggota tidak mau aktif BKM dengan alasan kesibukan dan juga kecewa dengan pola kerja BKM. Diundang tidak mau datang dengan alasan kesibukan kerja, bahkan ada yang tidak mau aktif walaupun belum menyatakan pengunduran diri.
Sementara itu Faskel lebih banyak melakukan pendampingan yang sifatnya keproyekkan daripada pendampingan yang membantu proses belajar bersama.
Orientasi faskel yang demikian berdampak pada tumbuhnya koletifitas kepemimpinan di BKM. Ada anggota BKM yang melihat faskel hanya berhubungan dengan anggota BKM tertentu saja. Pada akhirnya faskel tidak pernah menghormati kepemimpinan kolektif di BKM. Oleh karena itu, seorang anggota BKM mengemukakan bahwa kemimpinan kolektif sebenarnya tidak masuk akal dalam organisasi manapun. Koordinator BKM harus powerfull.
Figur koordinator BKM yang menentukan”. Di lain pihak, faskel berpandangan dirinya tidak bisa masuk terlalu jauh karena takut terjadi konflik dengan BKM. Dalam konteks ini, faskel melihat tidak bisa melakukan improviasi di lapangan karena petunjuknya tidak ada.
Soal alokasi program bantuan di antara masing-masing lingkungan juga selalu menjadi kepentingan masing-masing anggota BKM yang merasa diberi amanah memperjuangkan kepentingan lingkungan. Karena itu, jumlah keterwakilan anggota BKM di setiap lingkungan menjadi persoalan dalam pelaksnaan program P2KP. Karena disibukkan dengan urusan proyek pada akhirnya perfomance BKM yang terlihat hanya mengurus pertanggungan jawab proyek bukan melakukan kegiatan belajar bersama atau membangkitkan keswadayaan masyarakat. BKM lebih terlihat pada pembuatan laporan pertanggunganjawab laporan keuangan, yang mestinya dilakukan UP tetapi
dalam realitasnya tidak dikerjakan oleh BKM. Dampaknya seorang koordinator BKM yang tidak mampu mengelola pada akhirnya dikerjakan oleh orang luar dengan cara membayar, padahal ada anggota BKM yang mampu melakukannya. Jadi hal ini terkait pula dengan kepemimpinan di BKM. BKM ditempatkan sebagai mitra Satker dalam pelaksanaan proyek KePUan. Anggota BKM semakin pandai jika bicara soal pertanggungjawaban proyek. BKM pada akhirnya ditempatkan untuk lobi-lobian. Menurut beberapa informan, dunia seperti ini agak berat bagi perempuan Karangpule. Dunia BKM yang penuh dengan kepentingan dianggap tidak cocok untuk perempuan Karang Pule, apalagi memang sebagian besar kondisi perempuan di kelurahan ini masih rendah tingkat pendidikan dan dinilai selalu tidak percaya diri tampil di muka umum.
BOP kecil dan karena itu secara logika anggota BKM harus memiliki jiwa kerelawanan dalam bekerja tetapi dalam realitas logika itu tidak berlaku.
Mengapa banyak orang yang ambisi ingin menjadi anggota BKM atau menjadi koordinator BKM ?. Fakta memperlihatkan bahwa di BKM Karangpule terjadi
”perebutan” menjadi koordinator BKM di antara anggota BKM. Perebutan menjadi koordinator ini mempengaruhi ketidakkompakan dalam BKM.
Adanya rebutan menjadi koordinator ini tidak sama dengan rebutan ingin menjadi orang yang baik, orang ikhlas bekerja, karena anggota yang tersingkir menjadi kecewa dan tidak mau aktif lagi di BKM. Hal inimenggambarkan bahwa jiwa kerelawanan tidak lagi menjadi pandangan hidup anggota BKM.
Kerelawanan dianggap susuatu hal yang tidak mungkin ada dalam BKM.
Sementara kerelawanan di tingkat masyarakat tampaknya tidak begitu saka muncul pada kegiatan yang dianggap berhubungan dengan pemerintah, termasuk program P2KP. Sangat sulit untuk tidak mengatakan bahwa program P2KP bukan program pemerintah. Karena itu, keswadayaan terutama pada kegiatan fisik sangat beragam impelementasinya. Kerelawanan dalam arti membantu atau tolong menolong sesama warga masyarakat memang masih ada tetapi kerelawanan ini tidak muncul ketika ada persepsi masyarakat bahwa kegiatan itu berasal dari pemerintah. Keralawanan membantu sesama tidak bisa disamakan antara lingkungan satu dengan lingkungan lainnya. Ada kerelaan warga yang hanya terbatas tenaga saja tetapi ada juga meminta penghargaan tenaga walaupun dibawah standar harga upah nilai upah tenaga tukang. Ada gotong-royong warga untuk kegiatan sarana untuk kepentingan umum (Pavling block, MCK) tetapi hal ini tidak berlaku untuk kepentingan perorangan seperti rehabilitasi rumah kumuh. Din Karangpule tidak ada gotong-royong membantu pembangunan rumah pribadi dalam bentuk uang kecuali dari anak atau familinya. Oleh karena itu, dapat kita lihat rehabilitasi rumah kumuh sebagian besar masih belum sempurna, banyak bangunan rumah bantuan belum diplester terutama terjadi pada rumah milik perempuan janda miskin yang tidak memiliki famili yang mampu.
Dana bergulir macet di Karang Pule tidak ada dan kini hanya kegiatan fisik dan sosial saja yang masih berjalan. Banyak faktornya mengapa dana bergulir tidak berjalan berjalan lancar. Tidak ada kelembagaan penagihan, ada isu terjadi KSM Ekonomi fiktif, Dana pinjaman tidak sama besarnya yang diterima, jumlah anggota KSM tidak sama. Proses pembentukan ketua KSM tidak jelas. Ketua KSM tidak setor, anggota BKM pinjaman dengan memanfaatkan nama lain, dan masih banyak lagi cerita jika kita bertanya mengapa terjadi kemacetan dana bergulir. Dengan berhentinya dana bergulir maka praktis tidak ada lagi akses perempuan miskin ikut dalam program P2KP, sementara kegiatan fisik dianggap bukan pekerjaan perempuan.
Pertanyaannya adalah apakah perempuan miskin tidak mau mengangsur pinjaman sehingga terjadi kemacetan dana bergulir yang merupakan tumpuhan harapan perempuan miskin ? Tampaknya faktor kemiskinan tidak tidak selamanya benar. Karena pada kasus lain, relatif terjadi kelancaran pada pinjaman koperasi yang bunganya sangat besar dibandingkan dengan dana bergulir dari P2KP. Jadi sebenarnya bukan faktor kemiskinan semata melainkan pengelolaan dan pendampingan KSM ekonomi yang tidak terjadi.
Banyak faktor penyebabnya, antara lain adalah persepsi bahwa dana bergulir itu berasal dari pemerintah yang tidak harus dikembalikan, sosialiasasi yang kurang, misalnya peminjam selalu membandingkan dengan warga yang menerima dana bantuan rumah kumuh yang jumlahnya lebih besar dan tidak harus mengembalikan, pengertian dan proses pembentukan KSM tidak jelas.
Kemacetan dana bergulir yang terjadi pada periode BKM pertama akhirnya tidak dianggap sebagai ”pekerjaan rumah” kepengurusan BKM periode kedua.
Hal ini terjadi karena sisa dana bergulir yang ada tidak diserahkan ke kepengurusan BKM periode kedua. Juga terjadi soal serah terima komputer antara BKM 1 dan BKM 2 yang penyelsaiannya harus melibatkan perangkat kelurahan. Jadi dengan demikian serah terima BKM 1 dan BKM 2 tidak berjalan dengan baik.
Pertanyaan Penelitian 2 : Apa peran elit perempuan dalam kerelawanan lokal, dan sejauhmana keterlibatan mereka mempengaruhi perempuan miskin sebagai penerima BLM ?
Sebagaimana diuraikan di atas kerelawanan lokal yang akan tumbuh apabila ada kaitan dengan pemerintah. Kerelawanan selalu dikaitkan dengan kader di kelurahan, seperti Posyandu, PKK, KB. Dalam konteks ini maka tidak banyak perempuan yang berpendidikan elit yang terlibat. Sementara di pihak lain, perempuan miskin pada periode BKM 2 praktis tidak ada lagi perempuan miskin sebagai penerima dana bergulir. Program dana bergulir tidak lagi dikucurkan lagi karena dinilai gagal (rr rendah). Jadi praktis, tidak ada lagi perempuan miskin yang menerima BLM kecuali bantuan stimulan untuk perempuan janda miskin. Memang, ada satu-satunya seorang perempuan yang
aktif. Elit perempuan ini adalah anak pengusaha emas dan juga lulusan sarjana lulusan Unram yang terpilih sebagai koordinator BKM. Namun demikian, dalam perjalanannya tidak pernah membela kaumnya tetapi sebaliknya justru menghancurkan citra perempuan di kelurahan ini.
Pekerjaan sebagai koordinator BKM dinilai masyarakat melanggar aturan dalam P2KP.
Kerelawanan juga terlihat di basis masyarakat. Hal ini terlihat dari kewadayaan bangun rumah. Dari rumah-rumah yang telah mendapat dana bantuan perbaikan rumah, sebagian besar kesulitan untuk mengembangkan dana swadaya sendiri. Kebanyakan perbaikan rumah belum selesai; tembok rumah belum diplester. Perbaikan rumah yang belum selesai itu kebanyakan rumah yang dihuni warga miskin yang tidak mampu secara ekonomi, apalagi perbaikan rumah yang dihuni oleh perempuan janda tua yang miskin.
Memang, swadaya dana dari pemilik rumah sudah dilakukan untuk membayar tukang bangunan, sementara sanak-saudara tidak bisa diharapkan membantu dana karena hidupnya juga kekurangan, tetapi mengharapkan kepedulian warga masyarakat membantu dalam bentuk dana tidak pernah dilakukan.
Jadi dengan demikian, praktek gotong-royong dan sepontaitas masyarakat melakukan swadaya membantu perbaikan warga miskin tidak bisa berjalan dengan baik. Tampaknya, menyerahkan masyarakat untuk dapat belajar sendiri dalam bentuk untuk peduli sasama tidak bisa diharapkan. Ada kesan antara warga masyarakat tidak kompak, terjadi saling iri, tidak saling percaya. Rendahnya modal sosial masyarakat itu justru berasal dari implementasi program Tridaya, yakni warga yang mendapat bantuan rehabilitasi rumah sebesar 1,5 juta seringk ali dipersoalkan warga lain yang mendapat dana begulir 500 rupiah tetapi harus dikembalikan. Warga masyarakat penerima manfaat tidak mau mengerti soal ini.
BKM merasa tidak mampu memperbaiki rendahnya modal sosial masyarakat, karena anggota BKM sendiri menjadi bagian dari problem modal sosial.
Antara anggota BKM saling tidak percaya dan saling curiga dan akhirnya mundur dari keanggotaan BKM. Selain sesama anggota BKM yang tidak kompak, juga perilaku anggota BKM yang membuat masyarakat kurang percaya lagi, seperti soal pemberian dana perbaikan rumah yang diberikan orang kaya, warga miskin yang mengharapkan dana bergulir tidak kunjung datang; KSM fiktif, dsb. Sementara itu faskel bukannya tidak mngetahui soal perilaku anggota BKM tersebut tetapi faskel tidak mau menyentuh hal-hal seperti ini. Faskel tidak bisa masuk terlalu dalam urusan perilaku anggota BKM
Pertanyaan III. Sejauhmana fasilitator perempuan mempengaruhi partisipasi perempuan (miskin) dalam P2KP?
Tidak ada. Ada keterbatasan peran fasilitator perempuan untuk masuk terlalu dalam pelaksanaan teknis P2KP di kelurahan. Fasilitas perempuan lebih banyak melakukan tugas sosialisasi atau pendampingan adminsitrasi keproyekan. Pendampingan faskel yang berkaitan dengan P2KP, seperti misalnya target sasaran BLM seperti apa, dan sebaiknya siapa, tidak menjadi perhatian fasilitator. Faskel tampaknya tidak mau masuk ke ranah yang menjadi kebijakan BKM. Antara faskel dan BKM saling menjaga. Jangan sampai terjadi konflik. Fasilitor cenderung menghindari konflik dengan BKM.
Pertanyaan IV. Strategi peningkatan kapasitas yang didorong permintaan, apakah yang sesuai dengan kebutuhan perempuan di lokasi penelitian dan hubungan apa yang memungkinkan untuk kegiatan peningkatan kapasitas yang ada sekarang ini di berbagai bidang/departemen
Baru sebatas memenuhi kuantitas sebagaimana terlihat dalam SIM. Tetapi, secara kualitatif tidak ada kesadaran untuk membuat strategi peningkatan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan perempuan. Perempuan belum menjadi atensi atau dielaborasikan ke dalam strategi dan program kegiatan sebagai sebuah kesadaran yang dimunculkan dalam perencanaan. Ini terjadi di level basis maupun kota. Jikalau ada perempuan yang terlibat lebih banyak karena kebetulan, itupun keterpakasaan karena kaum pria tidak mau terlibat. Kesadaran untuk memajukan perempuan tidak terjadi. Hal ini dapat kita lihat di lingkungan Geguntur (Karangpule), seorang kepala lingkungan yang lebih memprioritas kaum lelaki terlebih dulu untuk menjadi utusan di tingkat kelurahan daripada perempuan. Ini sebuah kesadaran dan pilihan seorang kepala lingkungan. Juga di level kelurahan, semua pihak tidak ada yang berfikir atau terlintas harus ada wakil perempuan di BKM. Faskel sendiri juga tidak pernah terlintas untuk memberikan advis soal keterwakilan perempuan dalam BKM. Juga soal pinjaman dana bergulir. Tidak ada pikiran BKM bahwa dana bergulir diprioritaskan bagi perempuan-ibu rumah tangga yang berdagang atau jualan. Jadi, tidak ada kesadaran hubungan antara dana bergulir dan perempuan miskin berdagang/berjualan di kalangan BKM.
Kesadaran yang tumbuh sebatas bagaimana meningkatkan angka kehadiran perempuan dalam siklus P2KP di kelurahan.
Pertanyaan V : Strategi apa yang dapat membahas kesenjangan reaksi gender sebagai bagian dari budaya proyek di semua tingkatan.
Simpul-simpul yang menentukan keterlibatan perempuan harus digarap. Di level basis masyarakat, faskel tidak pernah membahas soal ini. Faskel tidak
mampu mempengaruhi kesadaran tokoh masyrakat terutama kepala lingkungan dan RT. Keterlibatan perempuan harus merubah mainset orang kunci dalam proses pemilihan relawan dan kebijakan P2KP di tingkat basis.
Ini yang tidak dilakukan.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian adalah :
Independen si BKM yang tumbuh di masyarakat dan diharapkan P2KP di satu sisi tidak dapat disentuh faskel dan juga menumbuhkan resistensi kalangan pemerintah kelurahan yang menyebutkan “tidak ada koordinasi”, sekalipun dibalik itu keinginan kelurahan ditafsirkan sebagai koordinasi “tanda kutip”
Kerelawanan yang terbentuk dari hasil sosialisasi berhenti pada pekerjaan pendataan warga miskin untuk pembuatan PJM Prognangkis, dan BKM yang terbentuk tidak selalu terdiri dari orang-orang pernah mendapat sosialisasi tentang kerelawanan sekalipun pemilihan BKM itu dilakukan dengan cara pemilihan yang demokratis.
Dari proses pemilihan BKM juga praktis perempuan tersingkir dengan sendirinya. Ada beberapa hal yang menyebabkan tersingkirnya perempuan dalam pemilihan anggotya BKM di tingkat kelurahan. Pertama, jumlah pemilih perempuan, baik sebagai utusan lingkungan maupun undangan yang bisa memilih sangat sedikit dan terjadi kecenderungan perempuan memilih lelaki. Kedua, Pemilihan di tingkat lingkungan dan RT lebih memilih kaum lelaki daripada perempuan akibatnya jumlah perempuan yang hadir di tingkat kelurahan sangat sedikit. Ketiga, masih ada anggapan di masyarakat bahwa urusan yang berurusan dengan kelurahan apalagi yang berkaitan dengan program fisik menjadi urusan kaum lelaki bukan perempuan.
Anggapan ini merupakan konstruksi social yang dibentuk baik oleh tafsir agama dan budaya. Keempat, bersumber dari perempuan sendiri. Perempuan merasa rendah diri tampil di depan umum, perempuan tidak mau bicara dalam setiap kali rapat, dll.
Alasan-alasan di atas inilah yang menjadi penjelas berbagai informan mengapa rendahnya keterlibatan perempuan dalam program P2KP di kelurahan ini. Menurut informan anggota BKM bahwa perempuan tidak mungkin mampu terlibat di BKM yang penuh dengan “politik”, “intrik”, dan administrasi yang rumit. Perempuan dengan sedirinya akan mundur dihadapkan pada situasi seperti itu, sekalipun ia memiliki tingkat pendidikan baik. BKM dalam kenyataannya melakukan pekerjaan-pekerjaan keproyekan. Ia lebih banyak mengurusi soal-soal pertangungjawaban keuangan keproyekan, mencari kuitansi untuk bukti pembelian dan menghadapi perbaikan laporan keuangan yang dianggap memusingkan.
Kesibukan urusan administrasi proyek ini terjadi karena UP tidak jalan, selain adanya ambisi sebagian anggota BKM untuk dapat menjadi koordinator agar bisa menjalankan BKM. Interes anggota BKM ini menjadikan kepemimpinan kolektif BM tidak jalan. Terjadi penarikan diri anggota BKM yang kecewa dalam setiap kegiatan P2KP. Akibatnya, kebijakan yang dirumuskan secara kolektif tidak jalan dan penentuan program kegiatan yang dinilai tidak adil oleh salah satu lingkungan karena merasa dirugikan. Anehnya, persoalan seperti ini tidak direspon faskel sekalipun ia mengetahui dengan alasan tidak mau masuk dalam konflik dalam BKM.
Pertanyaan VI : Perubahan apakah yang diperlukan rancangan program, mencakup strategi untuk kepegawaian, pelatihan dan program respon gender
FGD atau workhsop di level basis untuk merubah mainset orang-orang kunci dalam keterlibatan perempuan P2KP perlu dilakukan. Perubahan mainset belum pernah dilakukan dan perlu bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan Kota.
Peran faskel lebih diorientasikan pada inovator leader. Faskel harus diposisikan sebagai bagian dari leader di masyarakat. Faskel harus diberikan keleluasaan dan fleksibelitas peran sebagai ujung tombak di lapangan. Tugas faskel pasca siklus P2KP praktis tidak banyak. Dinamika perjalanan pasca siklus P2KP tidak bisa diintervensi faskel karena alasan desain program P2KP.