• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODIFIKASI DAN PENGUJIAN ALAT PEMOTONG TAHU DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI SKRIPSI. Oleh: ANDI NIRWANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODIFIKASI DAN PENGUJIAN ALAT PEMOTONG TAHU DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI SKRIPSI. Oleh: ANDI NIRWANA"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

MODIFIKASI DAN PENGUJIAN ALAT PEMOTONG TAHU DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI

SKRIPSI

Oleh:

ANDI NIRWANA 1622060489

PROGRAM STUDI AGROINDUSTRI

JURUSAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

2020

(2)
(3)

ji :

(...)

(...)

(...)

(...)

Mengetahui, Ketua Program Studi

r. Ir. Sitti Nurmiah

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI

Judul : Modifikasi dan Pengujian Alat Pemotong Tahu dengan Pendekatan Ergonomi

Nama : Andi Nirwana Nim : 1622060489 Program Studi : Agroindustri

Jurusan : Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Menyetujui

Tim Pengu

1.

Dr. Ir. Zaimar, M.T

2.

Dr. Andi Ridwan Makkulawu, S.T., M.Si

3.

Dr. Reta, S.T.P., M.Si

4.

Dr. Ir. Muhammad Fitri, M.P

,

D , M.Si.

NIP. 19670105 200112 2 001

iii

(4)

Yang menyatakan,

Andi Nirwana

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir/skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Pangkep, 26 Juli 2020

iv

(5)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ...ii

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI...iii

PERNYATAAN ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN...ix

KATA PENGANTAR ... x

ABSTRAK ... xii

ABSTRACT ...xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian... 4

1.4. Manfaat penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Tahu ... 6

2.2. Alat Pemotong Tahu UD Rezeky Malino... 11

2.3. Identifikasi Pemilihan Bahan ... 12

2.4. Perancangan ... 15

2.5. Pendekatan Ergonomi... 19

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 24

3.1. Waktu dan Tempat ... 24

3.2. Alat dan Bahan Penelitian ... 24

3.2.1. Alat Penelitian ... 24

3.2.2. Bahan Penelitian ... 24

3.3. Diagram Alir Prosedur Penelitian ... 25

3.4. Pengumpulan Data ... 26

3.4.1. Data Nordic Body Map (NBM) ... 26

v

(6)

3.4.2. Pengukuran Antropometri Pekerja ... 27

3.5. Tahap Pembuatan Alat ... 27

3.5.1. Desain Alat Baru ... 27

3.5.2. Pembuatan Alat Pemotong ... 32

3.6. Tahap Pengujian Alat Secara Teknis dan Ergonomi ... 33

3.6.1. Kapasitas Alat Pemotong Tahu ... 33

3.6.2. Rapid Entire Body Assessment (REBA) ... 33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 40

4.1. Modifikasi Alat Pemotong Tahu ... 40

4.2. Analisis Teknis Alat Potong Tahu... 41

4.3. Uji Teknis Alat Pemotong Tahu ... 43

4.3.1. Kapasitas Pemotongan ... 43

4.3.2. Efisiensi Waktu Pemotongan ... 47

4.4. Analisis Ergonomi ... 49

4.4.1. Hasil Pengukuran Stasiun Kerja ... 49

4.4.2. Hasil Pengukuran Postur Tubuh... 50

4.4.3. Analisis Rapid Entire Body Assessment (REBA) ... 51

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 59

5.1. Kesimpulan ... 59

5.2. Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 61

LAMPIRAN ... 64

vi

(7)

DAFTAR TABEL

Halaman

2.1. Syarat Mutu Tahu Berdasarkan SNI 01-3142-1998 ... 7

2.2. Jumlah Tenaga Produksi di Tiap Departemen ... 8

2.3. Data Produksi ... 9

3.1. Kategori Skor dan Tindakan REBA ... 39

4.1. Perbandingan Kelebihan & Kekurangan Alat Pemotong Tahu ... 42

4.2. Kapasitas Pemotong Tahu Manual (Pisau & Penggaris Kayu) ... 44

4.3. Kapasitas Alat Pemotong Tahu (Modifikasi) ... 45

4.4. Efisiensi Waktu Pemotongan Tahu Operator 1 (Sasro) ... 47

4.5. Efisiensi Waktu Pemotongan Tahu Operator 2 (Govin) ... 47

4.6. Ukuran Meja Kerja Pada Stasiun Pemotongan ... 49

4.7. Ukuran Postur Tubuh Operator 1 (Sasro)... 50

4.8. Ukuran Postur Tubuh Operator 2 (Govin) ... 50

4.9. Skor REBA Operator 1 (Sasro) ... 51

4.10. Skor REBA Operator 2 (Govin) ... 52

4.11. Body Motion Pemotongan Tahu Manual (Pisau & Penggaris Kayu) ... 57

4.12. Body Motion Alat Pemotongan Tahu (Modifikasi) ... 58

vii

(8)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

2.1. Peta Proses Operasi Tahu di UD. Rezeky Malino ... 9

2.2. Pisau dan Penggaris Kayu untuk Memotong Tahu ... 12

2.3. Kalsifikasi Bahan Teknik ... 13

3.1. Diagram Alir Prosedur Penelitian ... 25

3.2. Nordic Body Map ... 26

3.3. Gambar Alat Pemotong Kentang ... 28

3.4. Rancangan Struktural Alat Pemotong Tahu ... 29

3.5. Rancangan Handle Alat Pemotong Tahu ... 30

3.6. Rancangan Mata Pisau Alat Pemotong Tahu ... 31

3.7. REBA Assessment Worksheet... 34

4.1. Alat Pemotong Tahu ... 40

4.2. Grafik Kapasitas Pemotongan Manual ... 45

4.3. Grafik Kapasitas Alat Pemotong Tahu ... 46

4.4. Grafik Efisiensi Waktu Kerja ... 48

4.5. Postur Keja Operator 1 (Sasro) ... 50

4.6. Postur Keja Operator 2 (Govin) ... 50

4.7. Grafik Skor REBA Operator ... 53

4.8. Stasiun Pemotongan ... 55

viii

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Riwayat Hidup Mahasiswa ... 65

2. Peta Lokasi UD Rezeky Malino ... 67

3. Nordic Body Map ... 68

4. Desain Alat ... 69

5. Alat Pemotong ... 72

6. Body Motion ... 73

7. Kapasitas ... 74

8. Efisiensi ... 75

9. Pengukuran Postur Tubuh Operator ... 76

10. Protractor Sudut Segmen Tubuh ... 77

11. Assesssment Worksheet of REBA ... 79

ix

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi yang dilakukan.

Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Rasulullah Muhammad SAW.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada keluarga tercinta yang selama ini telah memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan pendidikan. Hanya do’a dan bakti penulis yang dapat diberikan pada segenap keluarga terutama Ibunda Andi Pawa, S.Pd.I, S.Pd dan ayahanda Andi Muchtar Ac, Sm.Hk atas segala pengorbanannya karena penulis yakin dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Ir. Darmawan, M.P selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

2. Bapak Dr. Andi Ridwan Makkulawu, S.T., M.Si selaku Ketua Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan.

3. Ibu Dr. Ir. Sitti Nurmiah, M.Si selaku Ketua Program Studi Agroindustri.

4. Bapak Ir. Zaimar, M.T dan Bapak Dr. Andi Ridwan Makkulawu, S.T., M.Si selaku Dosen Pembimbing.

5. Dosen Penguji Ibu Dr. Reta, S.T.P., M.Si dan Bapak Dr. Ir.

Muhammad Fitri, M.P

6. Seluruh pihak UD Rezeky Malino selaku industri tempat penulis melaksanakan kegiatan penelitian.

7. Seluruh staf Dosen dan Teknisi Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan dan program studi Agroindustri.

8. Saudara-saudara saya Andi Tenri Ardian Emilia, A.Md.Keb, Andi Sari Mayangtika, A.Md.Kep, Andi Ratih Dian Sukmawati, S.Pd, Irwan Dg. Nyengka, dan Andi Adhim Patta Jari yang senantiasa memberikan cinta dan dukungan yang luar biasa.

x

(11)

Penulis

Andi Nirwana

9. Sahabat tercinta saya Mitha Gayatri, Rusman Ramadhan A.Md.Pi, Joko Trilaksono A.Md.Par, anak-anak alien tegal dan rekan-rekan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan yang telah membantu dan memberi motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa di dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kesalahan serta kekurangan, oleh karenanya itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan dalam kesempurnaan skripsi ini.

Pangkep, 26 Juli 2020

xi

(12)

ABSTRAK

Andi Nirwana. 1622060489. Modifikasi dan Pengujian Alat Pemotong Tahu dengan Pendekatan Ergonomi. Dibimbing oleh Zaimar dan Andi Ridwan Makkulawu.

Penggunaan alat sederhana pada UD Rezeky Malino dalam proses pembuatan tahu khususnya dalam pemotongan tahu yang telah dicetak yaitu dengan pisau serta penggaris kayu menjadi bagian-bagian kecil yang berjumlah 12.100 potong per hari kurang efektif dan efisien untuk diterapkan lagi karena tenaga kerja pada stasiun pemotongan mengalamai gangguan ergonomis dalam pengoprasian alat tersebut

Penelitian ini bertujuan: (1) Memodifikasi alat pemotong tahu untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi waktu kerja pemotongan, (2) Menguji secara teknis dan ergonomi alat pemotong tahu. Metode yang digunakan untuk analisis yaitu dengan melakukan uji teknis dan uji ergonomi dengan metode Rapid Entire Body Assessment terhadap alat pemotong tahu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan alat pemotong tahu praktis yang berbahan dasar stainless steels dapat meminimalisir pencegahan kontaminasi pada saat pemotongan karena memenuhi food grade. Menggunakan alat pemotong tahu praktis dapat memotong tahu dengan ukuran 52 x 52 cm sekaligus dalam satu waktu proses pemotongan menghasilkan 121 bagian tahu dengan kapasitas teoritis untuk operator 1 yaitu 3.571 kg/jam dan kapasitas aktual sebesar 892.57 kg/jam sehingga lebih efisien 74% dan operator 2 memiliki efisiensi kerja sebesar 61% dimana kapasitas teoritinya 3.571 kg/jam dan kapasitas aktual sebesar 1.000 kg/jam. Skor REBA yang diperoleh pada stasiun pemotongan dikedua operator adalah 3 yang artiya memasuki level tindakan 1 yaitu mungkin diperlukan tindakan.

Kata Kunci : Alat pemotong tahu, postur kerja

xii

(13)

ABSTRACT

Andi Nirwana. 1622060489. The Modification and Testing of a Tofu Cutting Tool with Ergonomic Approach. Supervised by Zaimar and Andi Ridwan Makkulawu.

UD Rezeky Malino used simple tools in the process of making tofu, in particulary cutting tofu has been molded by a knife with wooden ruler for cutting into 12.100 small pieces in a day and it’s uneffective and inefficient for applyed anymore because it was give rise to ergonomic distraction for the workers at cutting station in the operated of the simple tools it self.

The research aims to: (1) Modification cutting tools for improving performance and efficiency of the cutting operation. (2) Testing with the technically and erconomic cutting tools of tofu. Performed a technical tests and ergonomic test with the Rapid entire Body Assessment are the method for analyze the cutting tools of tofu.

The results of this reserch has shown that using the partical cutting tools of tofu which made from stainless steels could decrease and prevention of contamination at the time of cutting operation because the tools can fulfill the food grade. By Using a paractical cutting tools of tofu can cut tofu with size of 52x52 cm at once in one cutting process and produces 121 pieces of tofu with the theoritical capacity for operator 1 of 3.571 kg/hour and an actual capacity of 892.57 kg/hour that’s are 74% more efficient and operator 2 has a eficiency of work are 61% which the theoritical capacity is 3.571 kg/hour and the actual capacity are 1.000 kg/our. The REBA score obtained at the cutting station of the two operators is 3 which means entering the action level 1 which may require an action.

Keywords : Cutting tools of tofu, work posture

xiii

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peralatan industri yang sesuai akan ikut menentukan efisiensi dan menjaga kelangsungan hidup ataupun kesuksesan suatu industri. Permasalahan kemampuan perusahaan dalam menyesesuaikan kemampuan alat dan jenis kegiatan produksi menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi industri dan tentunya akan berdampak pada kesehatan pekerjanya. Salah satu sentra industri tahu yang terdapat di desa Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, yaitu UD Rezeky Malino yang mengolah 280 kg kedelai dalam sehari untuk dijadikan tahu mengalami kendala dikarenakan penggunaan alat yang sangat sederhana dalam proses pembuatan tahu khususnya dalam pemotongan tahu yang telah dicetak yaitu dengan menggunakan pisau serta penggaris kayu untuk melakukan proses pemotongan tahu menjadi bagian-bagian kecil yang berjumlah 12.100 potong per hari.

Penggunaan alat lama kurang efektif dan efisien untuk diterapkan lagi karena tenaga kerja pada stasiun pemotongan mengalamai gangguan ergonomis dalam pengoprasian alat tersebut seperti; leher dan badan memutar kekanan/kiri atau menekuk kesamping kanan/kiri saat melakukan proses pemotongan tahu, posisi pergelangan tangan berada pada sudut lebih dari 22⸰, aktivitas tubuh berada pada posisi statis lebih dari 1 menit, aktivitas yang berulang pada area yang relatif kecil yaitu gerakan berulang sebanyak 20 kali/menit, yang menyebabkan terjadinya kelelahan otot pada pekerja karena proses operasi yang berulang-ulang

1

(15)

2

dan hal yang dikerjakan bersifat monoton, sehingga tenaga kerja pada stasiun pemotongan mengalami keluhan karena terlalu lelah hal ini akan berdampak pada produktivitas pekerja itu sendiri.

Dengan menggunakan pendekatan ergonomi, penulis ingin memberikan usulan berupa modifikasi rancangan alat pemotong tahu dengan metode Rapid Entide Body Assesment dimana penulis ingin memperbaiki konsep alat

pemotongan yang ada pada UD Rezeky Malino (pisau dan penggaris) menjadi konsep alat pemotong tahu dengan aspek ergonomi.

Konsep dari alat pemotong tahu tersebut berdasarkan analisis tuntutan dari sisi calon pengguna atau operator, beberapa pernyataan kebutuhan alat tersebut antara lain:

a. Diperlukan alat pemotong tahu yang dapat membantu pemotongan tahu yang lebih cepat dari alat pemotong konvensional (pisau).

b. Dibutuhkan alat pemotong tahu yang selain dapat mempercepat proses pemotongan juga memiliki ukuran yang sesuai dengan kebutuhan, mudah dipindah tempatkan (mobile), aman digunakan dan perawatannya mudah.

c. Diperlukan alat pemotong yang bersifat ergonomis.

Modifikasi alat pemotong tahu yang dirancang dengan dimensi panjang 52 cm, lebar 52 cm, tinggi 1.5 cm dengan ketebalan mata pisau 0.8 mm yang berjumlah 11x11 dirancang untuk menggantikan pisau dan penggaris kayu yang digunakan untuk memotong 1 cetak tahu menjadi 121 bagian kecil. Hal ini dilakukan karena alat yang berada pada industri tidak dapat mengerjakan sekaligus sehingga diharapkan dengan memodifikasi alat pemotong tahu dapat

(16)

3

membuat proses pengerjaan lebih praktis dan optimal serta memberikan kenyamanan pekerja saat memotong tahu. Penggerak alat berupa handle yang terletak pada bagian atas mata pisau dan digerakkan dengan manual. Modifikasi alat pemotong tahu di desain 2d dan 3d dan diwujudkan dalam bentuk nyata serta diuji cobakan terhadap pekerja di staiun pemotongan dengan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) untuk mengetahui bahwa alat pemotong tahu ini bersifat

ergonomis dan sesuai bagi tubuh pekerja.

Ergonomi adalah ilmu mendesain pekerjaan, peralatan, dan tempat kerja sesuai dengan pekerja. Desain ergonomis yang benar sangat diperlukan untuk mengurangi kelelahan kerja, mencegah cedera regangan yang berulang, yang dapat berkembang dari waktu kewaktu dan dapat menyebabkan cacat jangka panjang. Ergonomi digunakan untuk memenuhi dua tujuan, kesehatan dan produktivitas, hal ini bersangkutan pada desain dalam hal-hal seperti furniture dan mesin yang digunakan. (Setyawan 2011).

Ergonomi memberikan kemudahan kepada manusia dalam berbagai hal di dalam lingkungan kerja, sehingga manusia memiliki kemudahan, kenyamanan, serta efisiensi dalam melakukan pekerjaannya. Dengan begitu kendala keterbatasaan yang dimiliki oleh manusia dapat diatasi. Fungsi lainnya, ergonomi mampu mengurangi penggunaan energi lebih pada saat seseorang melakukan pekerjaan, sebagai contoh, posisi antara meja dan kursi ketika kita bekerja atau belajar. Posisi dibuat sedemikian rupa sehingga kita dapat dengan muda h melakukan suatu pekerjaan. Dampaknya terhadap psikologis seseorang mampu membuat produktivitas meningkat karena posisi yang ergonomis mampu mengurangi tingkat kelelahan saat bekerja. (Dyah Anggraini, 2010).

(17)

4

Oleh karena latar belakang tersebut maka pada penelitian ini diambil judul

”Modifikasi dan Pengujian Alat Pemotong Tahu dengan Pendekatan Ergonomi”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas dapat diidentifikasi masalahnya antara lain :

1. Bagaimana cara meningkatkan kinerja dan efisiensi pada proses pemotongan tahu?

2. Bagaimana cara menguji teknis dan ergonomi alat pemotong tahu?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1. Memodifikasi alat pemotong tahu untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi pada proses pemotongan tahu.

2. Menguji secara teknis dan ergonomi pada alat pemotong tahu.

1.4. Manfaat penelitian

Manfaat penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagi mahasiswa

a) Sebagai salah satu penerapan teori dan kerja praktik yang diperoleh selama dibangku perkuliahan.

b) Meningkatkan daya kreatifitas dan inovasi serta skill mahasiswa sehingganantinya siap menghadapi persaingan di dunia kerja.

c) Menyelesaikan tugas akhir guna keberhasilan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan.

(18)

5

d) Menambah pengalaman dan pengetahuan tentang proses perancangan dan penciptaan suatu karya yang khususnya dalam bidang teknologi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

e) Melatih kedisiplinan dan prosedur kerja sehingga nantinya dapat membentuk kepribadian mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.

2. Bagi Perguruan Tinggi

a) Sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga Perguruan Tinggi mampu memberikan kontribusi yang berguna bagi masyarakat dan bisa dijadikan sarana untuk lebih memajukan dunia industri dan pendidikan.

b) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang berniat melakukan penelitian tentang modifikasi perancangan alat serta nilai ergonomis suatu alat.

3. Bagi Masyarakat atau Indusri

a) Mendapatkan kemudahan dan solusi dalam menjalankan usaha pembuatan tahu.

b) Penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi oleh pihak UD Rezeky Malino tentang efektivitas produksi serta perancangan alat yang telah dianalisis.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tahu

Tahu sebagai hasil olahan kacang kedelai merupakan makanan yang mempunyai kandungan protein yang baik, sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi karena pada dasarnya tahu memiliki kandungan seperti kalsium, protein, kalium, lemak, vitamin B12, karbohidrat, kalori dan mineral, vitamin E, fosfor. Bagi masyarakat indonesia Seiring melihat permintaan tahu yang semakin banyak dan terus meningkat, tak luput dari perkembangan industri pembuatan tahu yang semakin banyak dari mulai pabrik tahu skala rumahan atau Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun pabrik tahu skala besar dengan dilihat dari banyaknya tenaga kerja serta dari peralatan yang digunakan dalam produksi pembuatan tahu.

Standar Nasional Indonesia atau SNI pada tahun 1998 menyatakan bahwa tahu adalah produk makanan berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycine species) dengan cara pengendapan proteinnya dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang di ijinkan.

6

(20)

7

Tabel 2.1. Syarat Mutu Tahu Berdasarkan SNI 01-3142-1998

No Jenis Uji Satuan Persyaratan

1 Keadaan:

1.1 Bau Normal

1.2 Rasa Normal

1.3 Warna Putih normal/kuning normal

1.4 Penampakan Normal tidak berlendir dan tidak

berjamur

2 Abu % (b/b) Maks. 1,0

3 Protein (N x 6,25) % (b/b) Min. 9,0

4 Lemak % (b/b) Min. 0,5

5 Serat kasar % (b/b) Maks. 0,1

6 Bahan Tambahan Makanan

% (b/b) Sesuai SNI-01-0222-M dan Peraturan Men.Kes No 7 Cemaran Logam

722/Men.Kes/Per/IX/1998

7.1 Timbal (Pb) mg/kg Maks. 2,0

7.2 Tembaga (Cu) mg/kg Maks. 30,0

7.3 Seng (Zn) mg/kg Maks. 40,0

7.4 Timah (Sn) mg/kg Maks. 40,0/250,0

7.5 Raksa (Hg) mg/kg Maks. 0,03

8 Cemaran Arsen mg/kg Maks. 1,0

9

(As)

Cemaran mikroba

9.1 Escherichia coli APM/g Maks. 10

9.2 Salmonella /25 g Negatif

UD Rezeky Malino merupakan sebuah home industry yang bergerak dalam bidang usaha pembuatan tahu dan tempe. UD. Rezeky berdiri sejak tahun 2005, terletak di Jalan Tibi Dg. Tata, kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. UD Rezeky Malino didirikan oleh Sutrisno bersama sang istri Sri Yanti yang berasal dari pulau Jawa. Pasangan suami istri ini mendirikan UD Rezeky Malino dengan melihat peluang pasar tahu yang amat diminati di daerah Malino namun belum ada rumah produksi yang mampu memenuhi permintaan pasar. Kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu di datangkan dari daerah Pasar Terong Makassar. UD Rezeky Malino memproduksi tempe,tahu, dan tahu goreng. Tahu goreng diproduksi untuk disuplai ke rumah

(21)

8

makan, penjual bakso gerobak, penjual bakso keliling, dan penjual tahu isi yang ada di sekitar Malino.

Hasil dari produksi tahu di UD Rezeky Malino kemudian dipasarkan bukan hanya di wilayah Malino saja, namun dipasarkan juga ke kecamatan sekitar seperti di Kecamatan Tombolo Pao, Kecamatan Parigi dan desa Saluttowa.

Jumlah tenaga kerja yang bekerja di UD Rezeky Malino untuk pembuatan tahu yaitu sebanyak 12 orang dan semuanya laki-laki. Dalam sebulan mereka bekerja selama 30 hari. Jumlah tenaga kerja tersebut dikelompokkan menjadi beberapa bagian sebagaimana tercatum pada tabel 2.2.

Tabel 2.2. Jumlah Tenaga Kerja Produksi di Tiap Departemen No Bagian/Stasiun Kerja

Jumlah Tenaga Kerja

Jam

Kerja Gaji (Rp)

1 Penimbangan 1 270 53.000

2 Pencucian & Perendaman 2 360 124.000

Penggilingan 1 480 80.000

4 Perebusan 1 480 80.000

5 Penyaringan 1 480 80.000

6 Pengentalan 1 480 80.000

7 Pengempresan 1 270 53.000

8 Pemotongan 1 270 53.000

9 Perendaman 1 360 62.000

10 Penggorengan 1 270 53.000

11 Pengemasan 1 270 40.000

Tahu yang diproduksi oleh UD Rezeky Malino ada dua macam yakni tahu mentah biasa dan tahu goreng. Berikut adalah data produksi tahu dengan menggunakan bahan baku kedelai.

(22)

9

Tabel 2.3. Data Produksi

No Nama Produk Produksi (kg)

Per Hari Per Minggu Per Bulan

1 Tahu 280 1,960 8,400

2 Tahu Goreng 42 294 1,260

Peta proses operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urusan-urusan operasi dan pemerikasaan. Tabulasi catatan dari setiap tahap proses pembuatan tahu di UD Rezeky Malino dipetakan seperti pada gambar 2.1

Penimbangan

Timbangan

Penggilingan

Mesin Giling

Penyaringan

Bailer Saring

240’

23’

Koagulan

10.5’

Air

0.85’

25’

3

Pencucian & Perendaman

Baskom

Perebusan

Ketel Uap/Boiler

Pengentalan

Pengempresen & Pencetakan

Alat Pencetak

Perendaman

Baskom

Pengemasan

0.78’

8’

14’

Air 0.07’

0.54’

Bak Pengasam

Pemotongan

Alat Pemotong

Penggorengan

Alat Penggoreng

Gambar 2.1. Peta Proses Operasi Tahu di UD Rezeky Malino

(23)

10

Pada proses pembuatan tahu di UD Rezeky Malino, jumlah operasi sebanyak enam, inspeksi atau pengawasan hanya terdapat pada proses perendaman tahu, jumlah operasi gabungan sebanyak tiga dan satu untuk pengemasan. Dengan adanya peta operasi yang merupakan tabulasi catatan dari setiap tahapan proses dapat menjamin bahan tidak terlewatkan dalam setiap proses pembuatan produk.

Pengolahan tahu UD Rezeky Malino terdiri dari beberapa urutan-urutan proses pembuatan tahu sebagai berikut:

1. Perendaman kacang kedelai selain bertujuan untuk melunakkan kedelai juga untuk mempermudah proses ketika kedelai digiling.

2. Penggilingan kacang kedelai bertujuan untuk memperkecil ukuran biji kedelai sehingga pada saat memasuki proses perebusan dapat berlangsung dengan baik.

3. Perebusan kacang kedelai yang telah menjadi bubur direbus dengan menggunakan ketel uap atau boiler.

4. Penyaringan atau pemisahan sari kedelai dengan ampas tahu. Bubur keledelai yang telah direbus selama 23 menit kemudian dialirkan masuk ke alat blower saring.

5. Koagulasi atau pencampuran dengan asam bertujuan untuk menggumpalkan sari kedelai yang telah dimasak.

6. Pengempresan tahu bertujuan untuk memadatkan gumpalan-gumpalan tahu. Gumpalan tahu kemudian dimasukkan kedalam kotak pencetak yang berukuran 52x52 cm yang dilapisi kain saring, disusun bertingkat sampai 5 kotak cetakan. Beban pemberat merupakan batu beton yang

(24)

11

diletakkan diatas penutup cetakan. Pengepresan yang dilakukan akan membuat air keluar dan gumpalan tahu akan menjadi lebih padat.

7. Proses pemotongan tahu dilakukan dilakukan dengan menggunakan pisau dan mistar kayu hingga mendapatkan jumlah 11x11 kotak tahu atau sebanyak 121 potongan.

8. Perendaman tahu bertujuan untuk mendinginkan tahu juga untuk mencegah terjadinya kebusukan oleh mikroba, mengeraskan tahu, dan menghilangkan koagulan yang tersisa pada tahu.

9. Pada penggorengan tahu, tahu yang digoreng merupakan tahu yang telah direndam terlebih dahulu, kemudian digoreng diatas wajan menggunakan minyak panas. Banyaknya tahu yang digoreng sesuai dengan jumlah permintaan dari konsumen.

10. Setelah tahu digoreng dan telah ditiriskan hingga dingin, kemudian dikemas dengan menggunakan kantong plastik jenis High Density Polyethylene (HDPE).

2.2. Alat Pemotong Tahu UD Rezeky Malino

Proses pemotongan tahu pada UD Rezeky Malino merupakan salah satu proses produksi tahu yang menghasilkan jumlah gerakan repetitif yang tinggi karena aktivitas yang terjadi diulang setiap 15 detik dan lebih dari 4 kali per menit yang terjadi dalan lebih dari 50% dari waktu kerja keseluruhan. Alat pemotong tahu pada industri tahu tersebut masih menggunakan piasu dan penggaris kayu sehingga pada proses pemotongan terdapat garakan repetitif berjumlah 22 kali untuk memotong 1 cetakan tahu yang berukuran 52x52 cm menjadi sebanyak 121 potongan tahu kecil. Kebosanan pada pekerjaan terjadi akibat adanya gerakan

(25)

12

yang berulang-ulang pada waktu yang cukup lama sehingga dapat menyebabkan stres dan kelelahan bekerja yang berdampak pada penurunan kinerja. Hal ini di tandai dengan ketidakseragaman hasil dari memotong tahu dan adanya keluhan dari perkerja terkait rasa sakit atau pegal yang dialami pada beberapa bagian tubuh tertentu.

Gambar 2.2. Pisau dan Penggaris Kayu untuk Memotong Tahu

Gerakan yang repetitif juga mengakibatkan tingginya waktu proses yang dibutuhkan saat pemotongan sehingga untuk mengurangi waktu proses dan menyederhanakan pekerjaan dapat menggunakan alat bantu produksi yaitu alat pemotong tahu.

2.3. Identifikasi Pemilihan Bahan

Dalam perancangan elemen mesin ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah pemilihan bahan yang akan digunakan, seab pemilihan bahan tersebut akan berpengaruh pada kekuatan elemen dan umur alat atau mesin tersebut.

(26)

13

Klasifikasi bahan teknik menurut Beumer (1985) dapat dilihat dibawah ini:

Bahan Teknik

Logam Baja

Ferro Baja

Besi Tempa Baja Besi Tuang

Gambar 2.3. Klasifikasi Bahan Teknik

Ada beberapa aspek yang menjadi bahan pertimbangan seperti yang diungkapkan oleh Amstead (1995). Dalam pemilihan bahan antara lain:

a. Mempertimbangkan sifat mekanik, meliputi:

1) Modulus elastisitas 2) Batas mulur

3) Kekuatan tarik 4) Sifat tarik 5) Impak 6) Tahan aus 7) Kekerasan

8) Daya tahan terhadap tekuk 9) Daya tahan terhadap torsi 10) Daya tahan terhadap geser 11) Peka takik

12) Fatik takik

(27)

14

b. Pertimbangan sifat yang diperlukan sselama proses pembentukan, meliputi:

1) Mampu mesin 2) Mampu las

3) Karakteristik pengerjaan dingin 4) Karakteristik pengerjaan panas 5) Mampu tempa

6) Pertimbangan pengaruh terhadap lingkungan, meliputi:

7) Daya tahan korosi 8) Daya tahan panas 9) Ketahanan aus 10) Pelapukan

Stainless Steels adalah baja paduan yang mengandung Chromium antara

10.5-30% yang tahan terhadap pengaruh oksidasi. Nikel, molybdenum, tembaga, titanium, alumunium, silikon, niobium, nitrogen, sulfur, dan selenium merupakan bahan paduan yang sering ditambahkan untuk menambah karakteristik stainless steels. Stainless Steel memiliki kandungan Choromiun minimal 10.5%.

kandungan unsur Choromiun ini merupakan pelindung utama dari gejala yang disebabkan pengaruh kondisi lingkungan sehingga Stainless Steel memiliki sifat tahan korosi secara alami tanpa perlu metode pabrikasi. (Davis, J.R 1994).

Peralatan yang terbuat dari Stainless Steel tidak membutuhkan perawatan yang kompleks. Karakteristik Stainless Steel yang tahan karat membuatnya lebih awet atau tahan lama dan tidak mudah rusak karena oksidasi. Jika dibandingkan sengan baja ringan, Stainless Steel cenderung memiliki kekuatan tarik tinggi

(28)

15

2.4. Perancangan

Suatu rangkaian kegiatan yang berurutan dari satu langkah kelangkah berikutnya merupakan sebuah perancangan karena menyangkut banyak hal didalamnnya. Perancangan merupakan sebuah kegiatan awal dari sebuah usaha dalam merealisasikan sebuah produk yang keberadaannya diperlukan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Darmawan, H, 2004).

Adapun macam-macam teori perancangan menurut para ahli adalah sebagai berikut:

a. Model perancangan menurut French

Pada diagram alir model cara merancang deskriptif menurut French sebagaimana dicantumkan berikut ini, lingkaran menunjukkan hasil kegiatan yang mendahuluinya, sedangkan segi empat menyatakan kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung. Kebutuhan dalam lingkaran yang memulai proses perancangan adalah hasil kegiatan yang mendahuluinya yang dilakukan oleh orang-orang pemasaran yang tidak dapat digambarkan pada diagram alir.

Fase perancangan detail adalah fase terakhir dari proses perancangan dimana terdapat sangat banyak keputusan-keputusan tentang hal-hal kecil tetapi penting yang harus diambil.

Kualitas pekerjaan pada tahap ini harus lebih baik untuk menghindari:

1) Tertundanya penyelesaian produk 2) Bertambahnya biaya

3) Kegagalan produk ketika menjalankan fungsinya

(29)

16

Rangkaian kegiatan analisis optimasi dan evaluasi berakhir pada satu produk saja, yang terbaik di antara alternatif-alternatif yang ada. Satu produk hasil tersebut dituangkan dalam sebuah dokumen yang terdiri dari:

1) Satu set gambar terancang 2) Spesifikasinya

3) Bill of material

b. Model perancangan menurut Zeid

Diagram alir proses perancangan dan pembuatan produk menurut Zeid terdiri dari dua proses utama yaitu:

1) Proses perancangan 2) Proses pembuatan

Fase-fase pada proses perancangan dapat dikelompokkan ke dalam dua sub proses, yaitu sintesis dan analis. Sub proses sintesis terdiri dari fase-fase:

1) Identifikasi kebutuhan

2) Formulasi persyaratan perancangan

3) Studi kelayakan dengan mengumpulkan informasi-informasi perancangan yang relevan

4) Perancangan konsep produk

Setiap fase tersebut masih terdiri dari bagian-bagian atau langkah-langkah kecil lain. Hasil dari sub proses sintesis adalah konsep produk yang akan dibuat dalam bentuk sket atau gambar layout yang menunjukkan hubungan antara komponen-komponen produk. Gambar layout tersebut biasanya berupa skema sub proses sintesis dapat menghasilkan beberapa konsep produk.

(30)

17

c. Model perancangan menurut Phal dan Beitz

Phal dan Beitz mengusulkan cara merancang produk yang terdiri dari empat kegiatan atau fase yang masing-masing terdiri dari beberapa langkah, diantaranya:

1) Perancangan dan penjelasan tugas 2) Perancangan konsep produk 3) Perancangan bentuk produk

Ada tiga macam perancangan secara umum jika dilihat dari berbagai langkah perancangan yang ditulis oleh para ahli perancangan, yaitu:

a. Asli

Merupakan penemuan yang benar-benar didasarkan pada penemuan yang belum pernah ada sebelumnya. Contoh: fondasi cakar ayam yang diterapkan pada bangunan rumah atau gedung.

b. Pengembangan (modifikasi)

Merupakan pengembangan produk yang sudah ada dalam rangka peningkatan efisiensi, efektifitas, penampilan atau daya saing untuk memenuhi tuntutan pasar atau tuntutan zaman. Contoh: perkembangan handphone (HP) dengan berbagai macam fitur atau fungsi tambahan.

c. Adopsi

Yaitu merupakan perancangan yang mengadopsi/mengambil sebagian sistem atau sepenuhnya dari produk yang sudah ada untuk penggunaan yang lain. Contoh: pembuat emping melinjo dengan sistem torak motor roda dua.

(31)

18

Mendesain atau merancang sebuah produk sangat bergantung pada daya imajinasi sang perancang. Membuat sketsa atau gambar kasar dari produk yang akan dibuat merupakan langkah awal yang sering diambil oleh perancang. Sketsa atau gambar kasar tersebut kemudian dikembangkan dengan menerapkan beberapa teknik dasar perancangan sehingga didapatkan sebuah sketsa gambar final.

Menghitung segala sesuatu terkait dengan produk yang akan dibuat seperti jenis bahan yang akan digunakan, kekuatan dari bahan, komponen-komponen yang akan dibeli, dimensi produk dan lain-lainnya dikerjakan setelah sketsa gambar final telah ada. Sebuah gambar kerja dari hasil akhir desain perancangan akan digunakan nantinya untuk membuat produk oleh pihak produksi. Sebuah gambar kerja yang baik adalah gambar kerja yang telah mengikuti setiap aturan yang berlaku dalam kerja. Menurut Darmawan, H, (2004) Secara garis besar langkah- langkah perancangan ini terdiri dari:

a. Perencanaan dan penjelasan tugas

perencaan dan penjelasan tugas seseorang perancangan adalah mengeluarkan pemikiran yang dapat menciptakan inovasi dan solusi dari tugas utama.

b. Mengembangkan solusi utama

Solusi utama yang diperoleh dari perencanaan akan di pertimbangakan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dan memiliki tingkat efisiensi yang baik

(32)

19

c. Mengembangkan struktur produk

Pengembangan struktur produk diperlukan untuk mendesain produk yang akan dibuat. Struktur produk ini sendiri didapat dari berbagai solusi yang telah dikembangkan.

d. Menentukan struktur produk

Struktur produk yang telah dikembangkan dan dihitung selanjutnya akan ditentukan bahan, dimensi dan bentuknya. Melalui gambar dasar dan gambar bagian alat yang telah dirancang sebelumnya maka proses penentuan produk akan terealisasikan.

e. Menyiapkan dokumen produk

Dokumen produk merupakan gambar dan data hasil perhitungan yang selanjutnya akan diberikan kepada bagian manufaktur.

2.5. Pendekatan Ergonomi

Menurut International Ergonomics Association (IEA), Human factor atau Ergonomi adalah disiplin ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan elemen lainnya di dalam sebuah sistem, dan profesi yang menerapkan prinsip- prinsip teori, data dan metode untuk mendesain kerja yang mengoptimalkan kesejahteraan manusia dan kinerja sistem secara keseluruhan. Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik (Tarwaka, dkk, 2004).

Fokus ergonomi melibatkan tiga komponen utama yaitu manusia, mesin dan lingkungan yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi

(33)

20

tersebut menghasilkan suatu sistem kerja yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya yang dikenal dengan istilah work system (Bridger, 2003). Pendekatan ergonomi dalam perancangan pekerjaan berhubungan dengan pergerakan tubuh pekerja, oleh sebab itu sering kali disebut juga dengan pendekatan biologis. Dalam pendekatan ergonomi ini perusahaan akan mempertimbangkan hubungan antara karakteristik fisik tubuh pekerja dengan lingkungan fisik perusahaan. Tujuan dari pendekatan ini adalah mengurangi ketegangan dan kelelahan dalam pekerja menjalankan pekerjaannya. Pengurangan kelelahan secara fisik, meniadakan rasa sakit, meniadakan kecelakaan kerja dan mengurangi gangguan kesehatan merupakan target dari pendekatan ergonomi. Produk yang sudah diproses melalui pendekatan ergonomi akan memiliki berbagai kelebihan, misalnya lebih aman dioperasikan, lebih nyaman digunakan, lebih sehat karena tidak memiliki sumber penyakit, lebih produktif, karena tidak cepat menimbulkan kelelahan (Hendrick, 2002).

Menurut Susanto (2013) terdapat beberapa manfaat dari ergonomi yaitu sebagai berikut:

1. Peforma ergonomis dapat mengurangi kelelahan dan meningkatkan produktivitas kerja.

2. Peforma kerja dapat diukur menggunakan parameter kelelahan kerja berdasarkan metabolisme energi anaerobic atau fluktuasi asam laktat dan glukosa dalam darah.

3. Lingkungan industri dan sekolah harus diciptakan secara ergonomis agar tenaga kerja atau guru dan siswa tetap dalam performa optimal.

(34)

21

Rekayasa faktor manusia hanyalah salah satu dari beberapa upaya yang berkaitan dengan desain dan tata letak peralatan, fasilitas dan lingkungan, sebuah defenisi yang sangat sederhana dimana rakayasa manusia adalah suatu konsep disiplin atau aturan yang berkaitan dengan perancangan benda atau peralatan sehingga orang dapat menggunakannya secara efektif dan aman serta menciptakan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan dan pekerjaannya jika peralatan dirancang sederhana tanpa adanya kesesuaian, manusia tidak dapat melakukan tugasnya sesuai dengan jadwal atau akan membuat kesalahan saat mengerjakannya. Kesalahan ini dapat menurunkan kinerja sistem dan dapat membahayakan keselamatan operator bahkan keberhasilan misi itu sendiri (Huchingson,1981).

Penerapan ergonomi dapat dilakukan melalui dua pendekatan (Anies, 2005) yaitu:

1. Pendekatan Kuratif Pendekatan ini dilakukan pada suatu proses yang sudah atau sedang berlangsung. Kegiatannya berupa intervensi, modifikasi atau perbaikan dari proses yang telah berjalan. Sasaran dari kegiatan ini adalah kondisi kerja dan lingkungan kerja. Dalam pelaksanaannya terkait dengan tenaga kerja dan proses kerja yang sedang berlangsung.

2. Pendekatan konseptual Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan sistem dan akan sangat efektif dan efisien jika dilakukan pada saat perencanaan. Jika terkait dengan teknologi, sejak proses pemilihan dan alih teknologi, prinsipprinsip ergonomi telah diterapkan. Penerapannya bersama-sama dengan kajian lain, misalnya kajian teknis, ekonomi,

(35)

22

sosial budaya dan lingkungan. Pendekatan holistik ini dikenal dengan pendekatan teknologi tepat guna.

Aplikasi ergonomi dapat dilaksanakan dengan prinsip pemecahan masalah.

Pertama, melakukan identifikasi masalah yang sedang dihadapi dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Kedua, menentukan prioritas masalah dan masalah yang paling mencolok harus ditangani lebih dahulu.

Kemudian dilakukan analisis untuk menentukan alternatif intervensi. (Anies, 2005)

Menurut Mulyono, Selamet et al., (2017) Risk assessment merupakan penilaian terhadap resiko yang terjadi di lapangan. Resiko dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti postur dan pergerakan tubuh saat bekerja, tugas yang dilakukan, faktor lingkungan dan faktor individual. Analisis terhadap penaksiran resiko kerja menggunakan ergonomic assessment tools yakni metode-metode untuk memfasilitasi tujuan evaluasi ergonomi dalam sistem kerja. Metode-metode tersebut antara lain RULA, REBA, OWAS dan NIOSH. Rapid Entire Body Assessment (REBA) yaitu salah satu metode yang digunakan untuk menganalisa

pekerjaan berdasarkan posisi tubuh adalah dengan metode Rapid Entire Body Assessment atau REBA yang dikembangkan oleh Hignett, S. dan McAtamney, L.

Metode ini didesain untuk mengevaluasi pekerjaan atau aktivitas, dimana pekerjaan tersebut memiliki kecenderungan menimbulkan ketidaknyamanan seperti kelelahan pada leher, tulang punggung, lengan, dan sebagainya. Metode ini untuk mengestimasi resiko kerja yang berkaitan dengan gangguan yang dialami seluruh bagian tubuh. Metode ini tidak memiliki batasan dalam menganalisa, seperti metode lainya. Analisa metode ini pada keadaan seluruh

(36)

23

tubuh orang yang melakukan proses kerja tersebut. Analisa dapat dilakukan contohnya pada posisi tangan, punggung, leher, kepala, kaki dan lain-lain. Jadi analisa keseluruhan dapat dilakukan menggunakan metode REBA.

REBA digunakan untuk menghitung tingkat resiko yang dapat terjadi sehubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan kelelahan kerja dengan menampilkan serangkaian tabel-tabel untuk melakukan penilaian berdasarkan postur-postur yang terjadi dari beberapa bagian tubuh dan melihat beban atau tenaga aktivitasnya. Perubahan nilai-nilai disediakan untuk setiap bagian tubuh yang dimaksudkan untuk memodifikasi nilai dasar jika terjadi perubahan atau penambahan faktor resiko dari setiap pergerakan yang dilakukan.

(37)

24

BAB III METODOLOGI

PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2020 di UD Rezeky Malino, dari April 2020 sampai dengan Juli 2020.

3.2. Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1. Alat Penelitian

Alat penelitian pada bembuatan alat pemotong tahu praktis yaitu:

a. ATK b. Gergaji besi c. Alat las

d. Mistar, meteran, dan jangka sorong e. Timbangan

f. Stopwatch

3.2.2. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:

a. Rancangan alat pemotong tahu b. Handle

c. Plat stainless stells dengan ketebalan 0.8 mm d. Aplikasi proctractor

e. Rapid Entire Body Assessment (REBA) Assessment worksheet

(38)

25

3.3. Diagram Alir Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan, mulai dari tahap identifikasi, tahap pengumpulan data dan pengolahan, tahap perancangan, tahap analisis, dan tahap penarikan kesimpulan juga saran. Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip dalam penentuan alat penanganan material, maka pemotongan tahu menjadi beberapa bagian menjadi fokus penelitian dalam penanganan material.

Adapun diagram alir dan prosedur penelitian skripsi adalah sebagai beri

Mulai

Studi pendahuluan & penetapan tujuan penelitian

Studi pustaka & studi lapangan

Pengumpulan data : 1. Gambaran umum industri

2. Data kelelahan tenaga kerja pada stasiun pemotongan pemotongan 3. Waktu proses operasi pemotongan

Perancangan & perakitan alat

Uji Teknis dan Ergonomi

Pengaplikasian alat

Pengolahan data

Selesai

Gambar 3.1. Digram Alir Prosedur Penelitian

(39)

26

3.4. Pengumpulan Data

3.4.1. Data Nordic Body Map (NBM)

Nordic Body Map merupakan tools berupa kuesioner yang paling sering

digunakan untuk mengetahui ketidaknyamanan atau kesakitan pada tubuh (Kroemer, 2001). Nordic Body Map ditujukan untuk mengetahui lebih detil bagian tubuh yang mengalami gangguan atau rasa sakit saat bekerja. Meskipun kuesioner ini subjektif (Santoso, et al, 2014), namun kuesioner ini sudah terstandarisasi dan cukup valid untuk digunakan. Data kuisioner Nordic Body Map didapatkan dengan cara memberikan kuisioner Nordic Body Map kepada 2 pekerja yaitu Sasro sebagai operator 1 dan Govin sebagai Operator 2, data tersebut berisi tentang keluhan-keluhan yang dirasakan para pekerja pembuat tahu saat memakai alat lama (pisau dan penggaris kayu) dalam bekerja.

Gambar 3.2. Nordic Body Map Sumber: Academiaedu

(40)

27

3.4.2. Pengukuran Antropometri Pekerja

Antropometri dapat dibagi menjadi antropometri statis dan antropometri dinamis (Wijaya, Angga M, 2016) yaitu:

1. Antropometri statis merupakan ukuran tubuh dan karakteristik tubuh dalam keadaan diam (statis) untuk posisi yang telah ditentukan atau standar. Contoh: lebar bahu, telapak tangan, kepala, dan kaki.

2. Antropometri dinamis adalah ukuran tubuh atau karakteristik tubuh dalam keadaan bergerak, atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatan. Contoh:

Putaran sudut tangan, sudut putaran pergelangan kaki.

Antropometri berguna agar dapat mengetahui alat hasil rancangan sesuai dengan ukuran tubuh para pekerja. Pengukuran anthropometri dilakukan dengan mengukur para pekerja yang berjenis kelamin laki-laki yaitu Sasro sebagai pekerja 1 dan Govin sebagai pekerja 2. Data antropometri yang diperlukan pada perancangan alat pemotong tahu, yaitu pengukuran postur tubuh (postur berdiri) diantaranya; tinggi badan, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, lebar bahu, lebar pinggul, panjang lengan (atas dan bawah), Alat ukur yang digunakan adalah roll meter.

3.5. Tahap Pembuatan Alat 3.5.1. Desain Alat Baru

Perancangan alat merupakan inti dari proses perancangan alat untuk membuat alat pemotong tahu. Tahapan perancangan alat meliputi empat tahap yaitu spesifikasi data antropometri, keluhan alat lama, penentuan bahan dan pemodelan hasil rancangan baru dengan desain alat. Pada penelitian sebelumnya

(41)

28

yang dilakukan oleh Wibowo, Candra (2015) yang berjudul “Perancangan Alat Pemotong Kentang” memiliki profil rangka pisau pemotong kentang yang berfungsi untuk memotong kentang yang kemudian keluar menjadi bentuk balok seperti pada gambar dibawah :

Gambar 3.3 Alat Pemotong kentang

Berdasarkan dari hasil rancangan Wibowo, Candra (2015) maka pada penelitian ini menggunakan rancangan dari komponen mata piasu untuk menjadi pedoman dalam merancang alat pemotong tahu dan diperoleh pemodelan hasil berupa rancangan struktural dan fungsional yang telah dibuat untuk memotong tahu diUD Rezeky Malino.

a. Rancangan Struktural

Hasil desain alat pemotong tahu dibagi menjadi 2 bagian yaitu Rancangan handle dan mata pisau. Seperti pada gambar 3.4. dibawah ini:

(42)

29

Gambar 3.4. Rancangan Struktural Alat Pemotong Tahu

Rancangan struktural alat pemotong tahu terdiri dari mata pisau yang berjumlah 11x11 kotak yang digabungkan dengan handle atau pegangan untuk tangan kiri dan kanan dengan harapan dapat menghasilkan potongan tahu sesuai dengan ukuran yang diharapkan.

b. Rancangan Fungsional Pemotong Tahu

Fungsi utama dari alat pemotong tahu adalah untuk memotong tahu menjadi 121 bagian kecil dalam satu kali proses pemotongan. Untuk memenuhi fungsi utama maka diperlukan panunjang yaitu handle dan pada proses pemotongan tahu diperlukan pisau pemotong sehingga tahu dapat teriris sesuai dengan ukuran yang diharapkan.

(43)

30

Gambar 3.5. Rancangan Handle Alat Pemotong Tahu

Handle merupakan pegangan yang dipasang pada alat pemotong tahu

berfungsi sebagai media untuk menekan mata pisau agar pemotongan tahu agar proses pemotongan dapat berlangsung dengan baik dan aman karena tangan pekerja tidak kontak langsung pada mata pisau.

(44)

31

Gambar 3.6. Rancangan Mata Pisau Alat Pemotong Tahu

Mata pisau yang berjumlah 11x11 berfungsi untuk memotong 1 cetak tahu menjadi 121 bagian-bagian kecil dalam satu kali proses pemotongan. Gambar rancangan mata pisau dapat dilihat pada gambar 3.6. diatas.

(45)

32

3.5.2. Pembuatan Alat Pemotong

Langkah-langkah pembuatan alat pemotong tahu praktis yaitu sebagai berikut:

a. Siapkan desain rancangan alat pemotong tahu praktis yang akan dibuat.

b. Siapkan alat dan bahan pembuatan alat pemotong tahu.

c. Plat stainless stells dipotong menggunakan gergaji besi dengan ukuran panjang 52 cm dan lebar 1.5 cm

d. Stainless stells yang telah dipotong sesuai dengan ukuran kemudian diberi sela (rongga) untuk menghubungkan plat

e. Komponen stainless stells lalu dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan las patri sehingga menjadi mata pisau

f. Selanjutnya, handle dipasang pada tempat yang telah ditentukan di mata pisau dengan las patri sehingga menjadi pegangan untuk alat pemotong.

(46)

33

3.6. Tahap Pengujian Alat Secara Teknis dan Ergonomi 3.6.1. Kapasitas Alat Pemotong Tahu

Menurut Sugandi, et al (2017) Pengukuran kapasitas alat terbagi menjadi dua yaitu kapasitas teoritis dan kapasitas aktual dengan membagi berat tahu yang terpotong dengan waktu pemotongan atau dapat ditulis:

Ke = 𝑊 𝑡

Satuan kapasitas (Ke) yang digunakan adalah kg/jam kemudian berat tahu terpotong (W) dengan satuan kg dan waktu untuk memotong tahu (t) menggunakan satuan jam.

3.6.2. Rapid Entire Body Assessment (REBA)

Analisis terhadap penaksiran resiko kerja menggunaka ergonomic assessment tools yakni metode REBA untuk memfasilitasi tujuan evaluasi ergonomi dalam sistem kerja terhadap alat pemotong tahu yang telah dimodifikasi.

Langkah-langkah dalam pengujian alat pemotong dengan menggunakan metode REBA yaitu sebagai berikut (Ergo-Plus Channel) :

1. Melakukan observasi pekerjaan untuk mendapatkan formula yang tepat dalam pengkajian faktor ergonomi ditempat kerja, termasuk dampak dari desain tempat kerja, lingkungan kerja maupun penggunaan peralatan serta perilaku pekerja yang mengabaikan resiko. Pengumpulan data dari pekerja 1 (Sarso) dan 2 (Govin) menggunakan kamera digital.

(47)

34

2. Pengukuran segmen-segmen tubuh yang diperlukan untuk perhitungan REBA dengan bantuan aplikasi Protractor lalu mengimput kedalam REBA Assessment Worksheet.

Sumber : Wordpress.com

Gambar 3.7. REBA Assessment Worksheet

3. Perhitungan REBA menggunakan lembar kerja REBA terdapat 13 langkah yaitu sebagai berikut (Hignett dan McAtamney, 2000) :

Langkah 1

a. Amati posisileher. Kemudian berikan skor sesuai dengan kriteria posisi leher

b. Beri nilai +1 jika posisi leher menunduk dengan sudut 0 s/d 20°

c. Beri nilai +2 jika posisi leher menunduk dengan sudut lebih dari 20°

(48)

35

d. Tambahkan nilai +1 jika leher pada posisi berputar e. Tambahakan nilai +1 jika leher pada posisi bengkok f. Masukkan skor pada kotak Neck Score

Langkah 2

a. Amati posisi kaki. Kemudian berikan skor sesuai dengan kriteria kaki

b. Beri nilai +1 jika posisi kaki lurus

c. Beri niali +2 jika posisi kaki salah satu menekuk

d. Tambahkan nilai +1 jika kaki menekuk pada sudur 30 s/d 60°

e. Masukkan skor pada kotak skor kaki Langkah 3

a. Amati posisi tulang belakang kemudian berikan nilai skor sesuai dengan kriteria posisi tulang belakang.

b. Beri nilai +1 jika posisi tulang belakang berada pada sudut 0°

c. Beri nilai +2 jika tulang belakang berada pada posisi menunduk dengan sudut 0 s/d 20°

d. Beri nilai +3 jika posisi tulang belakang menunduk dengan sudut 20 s/d 60°

e. Beri nilai +4 jika posisi tulang belakang menunduk dengan sudut lebih dari 60 °

f. Tambahkan nilai +1 jika tulang belakang pada posisi berputar g. Tambahkan nilai +1 jika tulang belakang berada pada posisi

bengkok

h. Masukka skor pada kotak skor badan

(49)

36

Langkah 4

Lihat skor postur pada Tabel A. Gunakan nilai pada langkah 1 s/d 3 untuk menemukan hasil pada Tabel A

Langkah 5

a. Amati beban kerja. Kemudian beri skor sesuai dengan kriteria beban kerja

b. Beri nilai +0 jika beban kurang dari 5 kg c. Beri nilai +1 jika bebab 5 s/d 10 kg d. Beri nilai +2 jika beban lebih dari 10 kg

e. Tambahkan nilai +1 jika terjadi Shock atau pengulangan f. Masukkan skor pada kotak penilaian beban (Load/Force) Langkah 6

Tambahkan nilai pada langkah 4 dan 5 (skor postur A + nilai Load/Force) untuk mendapatkan skor nilai A

Langkah 7

a. Amati posisi pergelangan tangan. Kemudian beri skor sesuai dengan kriteria posisi pergelangan tangan

b. Berikan nilai +1 jika pergelangan tangan berada pada posisi menekuk dengan sudut antara 15° keatas sampai 15° kebawah c. Beri nilai +2 jika posisi pergelangan tangan menekuk dengan sudut

lebih dari 15° ke atas atau kebawah 15° bawah

d. Tambahkan nilai +1 jika posisi tangan bengkok melebihi garis tengah atau berputar

e. Masukkan skor pada kotak skor pergelangan tangan

(50)

37

Langkah 8

a. Amati posisi lengan bawah kemudian beri skor sesuai dengan kriteria posisi lengan bawah

b. Beri nilai +1 jika posisi lengan bawah berada pada sudut 60 s/d 100°

c. Beri nilai +2 jika posisi lengan bawah berada pada sudut 0 s/d 60°

atau pada sudut lebih dari 100°

d. Masukkan skor pada kotak skor lengan bawah Langkah 9

a. Amati posisi lengan atas kemudian berikan skor dengan kriteria posisi lengan atas

b. Berikan nilai +1 jika posisi lengan berada diantara 20° mengayun kedepan sampai 20° mengayun kebelakang

c. Beri nilai +2 jika lengan atas berada pada posisi lebih dari 20° atau mengayun kedepan dengan sudut 20 s/d 45°

d. Beri nilai +3 jika posisi lengan atas mengayun kedepan dengan sudut lebih dari 90°

e. Tambahkan nilai +1 jika bahu terangkat

f. Tambahkan +1 jika lengan atas berada pada posisi abduksi g. Tambahkan nilai-1 jika tangan disangga atau orang kurus h. Masukkan skor pada kotak nilai lengan atas.

Langkah 10

Gunakan nilai pada langkah 7 s/d 9 diatas pada Tabel B untuk menemukan skor postur B.

(51)

38

Langkah 11

a. Amati posisi pegangan tangan kemudian beri skor sesuai dengan kriteria pegangan tangan

b. Beri nilai +0 (kondisi baik) jika pegangan mudah digenggam

c. Beri nilai +1 (cukup baik) jika pegangan cukup baik, tapi tidak ideal

d. Beri nilai +2 (kurang baik) jika pegangan tidak baik meskipun dapat digunakan

e. Beri nilai +3 (tidak aman atau tidak ada pegangan) jika tidak ada pegangan, posisi janggal, tidak aman untuk bagian tubuh lain

f. Masukkan skor pada kotak nilai genggaman.

Langkah 12

a. Tambahkan nilai pada langkah 10 dan 11 (skor postur B + nilai genggaman) untuk mendapatkan skor B

b. Setelah mendapatkan skor B lihat kolom pada Tabel B dan cocokkan dengan skor A pada baris (dari langkah 6) untuk menemukan skor Tabel C.

Langkah 13

a. Amati aktivitas bekerja kenudian beri skor sesuai dengan kriteria skor aktivitas

b. Tambahkan nilai +1 jika posisi 1 atau lebih bagian tubuh lebih lama dari 1 menit (statis)

c. Tambahkan nilai +1 jika terjadi pengulangan (lebih dari 4 kali per menit)

(52)

39

d. Tambahkan nilai +1 jika terjadi aksi yang cepat dan menyebabkan perubahan besar dalam berbagai postur atau dasar yang tidak stabil e. Tambahkan skot tabel C dengan skor aktivitas untuk mendapatkan

Final Rapid Entire Body Assessment (REBA) Score.

Setelah mendapatkan Final Score, selanjutnya kegiatan yang dilakukan yaitu interpretasi terhadap skor yang didapatkan :

Tabel 3.1. Kategori Skor dan Tindakan REBA Skor REBA Level Resiko Level Tindakan Tindakan

1 Sangat Rendah 0 Resiko dapat diterima

(dapat diabaikan) (tidak perlu tindakan).

2-3 Rendah 1 Mungkin diperlukkan

tindakan (perubahan mungkin dibutuhkan).

4-7 Sedang 2 Perlu tindakan

(investigasi lebih lanjut).

8-10 Tinggi 3 Perlu tindakan

secepatnya (Investigasi

& lakukan perubahan secepatnya).

11-15 Sangat Tinggi 4 Perlu tindakan

(perubahan) sekarang juga.

Referensi

Dokumen terkait