PERAN EDITOR DALAM MENDUKUNG
PROGRAM WARTA RIAU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLI K
TVRI STASIUN RIAU
DISUSUN OLEH:
RIZKY FIRDAUSSYAH SIREGAR 10843003678
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SULTAN SYARIFKASIM
RIAU
2012
brought to you by CORE
View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk
i KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat beserta salam penulis kirimkan buat junjungan alam Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia ke alam yang penuh cahaya keimanan dan ilmu pengetahuan.
Skripsi dengan judul “PERAN EDITOR DALAM MENDUKUNG PROGRAM WARTA RIAU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK STASIUN TVRI RIAU.”, merupakan hasil karya ilmiah yang ditulis untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom) pada Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis mendapatkan dukungan dalam berbagai bentuk dari segenap keluarga khusunya ayah dan ibu, saudara-saudaraku tercinta (Abdurrahman syafitrah ,rahmi mashita, rabiani sakinah, hermi dewita),. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih atas semangat dan pengorbanan yang penulis terima. Di samping itu, penulis juga menerima bantuan dari berbagai pihak yang telah memberikan uluran tangan dan kemurahan hati kepada penulis. Jadi, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan dengan penuh hormat ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. M. Nazir Karim selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau beserta seluruh stafnya.
ii 2. Bapak Prof. Dr. Amril M, MA selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
3. Bapak Dr. Nurdin Abd Halim, MA Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau.
4. Bapak Musfialdy, M.Si dan Bapak Yantos M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan bimbingan, pengarahan dan nasehat kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen, yang telah memberi bekal ilmu yang tidak ternilai harganya selama mengikuti perkuliahan di Jurusan Ilmu Komunikasi.
6. Bapak Dr. Yasril Yazid, M.IS selaku Penasihat Akademik.
7. Bapak Drs. Ary Goedadi selaku Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Riau yang telah memberikan izin penelitian. 8. Bapak Donni Irawan, BA selaku Kasubbid Advokasi & KIE yang telah
membantu terlaksananya penelitian ini.
9. Teman – teman kelas broadcasting yan memberi motivasi agar dapat menyeleaikan program studi saya dengan cepat sehingga saya mendapatkan motivasi yang cukup untuk menyelesaikannya dengan maksimal
10. Kepada teman wanita terdekat saya hermi dewita dan nur habibah yang memberi semangat dan dukungan moril agar dapat menyelesaikannya dengan maksimal, sehingga saya termotivasi agar dapat menyelesaikannya dengan tetap tersenyum
iii 11. Kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini,
mudah-mudahan amal ibadahnya di terima Allah SWT.
Akhirnya, semoga segala amal jariah dibalas dengan balasan yang berlipat ganda oleh Allah Swt. Amin amin ya robbal ‘alamin.
Pekanbaru, Mei 2012 Penulis
RIZQY FIRDAUSSYAH SIREGAR NIM. 10843003678
v DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i ABSTRAK ... iv DAFTAR ISI ... v BAB IPENDAHULUAN A. LatarBelakang ... 1 B. AlasanPemilihanJudul... 8 C. PenegasanIstilah... 9 D. Permasalahan ... 10 E. TujuandanManfaatPenelitian ... 11 F. KerangkaTeoritis... 12 G. KonsepOperasional ... 32 H. MetodePenelitian ... 34 I. SistematikaPenulisan ... 37
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Singkat PT. IKPP Perawang ... 39
B. VisidanMisiPT. IKPP Perawang... 46
C. Letak Peusahaan... 46
D. Struktur Organisasi PT. IKPP Perawang ... 47
E. Program Kerja Humas PT. IKPP Perawang... 50
BAB III PENYAJIAN DATA A. Penjelasan ... 57
B. Kedudukan Humas PT. IKPP Perawang... 58
C. Peranan Humas PT. IKPP Perawang dalam Menyebarluaskan Informasi CSR Kepada Masyarakat. ... . 59
D. FaktorPendukungdanPenghambat... 70
BAB IV ANALISA DATA A. Penjelasan ... 73
B. Kedudukan Humas PT. IKPP Perawang... 74
C. Peranan Humas PT. IKPP Perawang dalam Menyebarkan Informasi CSR Kepada Masyarakat... 76
D. Faktor Pendukung dan Penghambat... 86
E. Ringkasan Kajian ... 89 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 90 B. Saran ... 93 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Arus globalisasi dan kemajuan teknologi serta ilmu pengetahuan telah membawa dampak yang besar bagi masyarakat dunia. Dampak tersebut bukan hanya melanda negara dunia ketiga tetapi juga melanda negara-negara maju dan berkembang, karena ilmu pengetahuan adalah salah satu faktor yang membuat sumber daya manusia menjadi berkualitas maka hal ini sangat penting adanya dalam memudahkan setiap aktifitas manusia dalam menjaalani kehidupan sehari – hari, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan massa yang sangat berpengaruh dalam waktu yang sangat singkat dan efisien,seperti media massa yang dapat dilihat dalam waktu bersamaan dan memiliki jangkauan yang sangat luas,
Media sebagai alat penyampai informasi kepada khalayak dalam jumlah yang besar mempunyai peranan yang sangat penting karena media juga merupakan alat pembentuk “lingkungan simbolik” bagi pemahaman khalayak terhadap realitas sosial, pembentukan sikap dan perilaku (Iriantara, 2005: 12).
Ketika pemasukan informasi media massa ke sistim sosial meningkat segmen – segmen populasi dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung untuk memperoleh informasi ini dengan tingkat lebih cepat daripada segmen – segmen populasi dengan status sosial ekonomi yang lebih rnudah, sehingga kesenjangan pengetahuan antara segmen - segmen ini
cenderumg melebar daripada menyempit (Werner j. Severin – james W. Tankard. Jr: 2007:295)
Televisi merupakan media audio visual yang sekarang menjadi sarana utama bagi kebanyakan manusia untuk memenuhi kebutuhan informasi, dikarenakan memiliki sifat yang menarik dan memiliki efisiensi hasil yang maksimal, berdasarkan waktu penyampaian yag serentak, jangkauan yang luas, dan memiliki unsur gerak dan suara yang menarik perhatian dari segala umur dan golongan sehingga media televisi memberikan sebuah keunggulan yang sangat diminati masyarakat ( konsumen) dan mesyarakat ( berkepentingan) dikarenakan audio visual memiliki maghnet yang cukup besar dalam bentuk seni gerak dan suara yang menarik perhatian dari masyarakat.
Sebagai media informasi televisi memliki kekuatan ampuh untuk menyampaikan pesan karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri dalam jangkauan yang luas dalam waktu bersamaan. Penyampaian isi pesan seolah-olah berlangsung saat itu pula (live) antara komunikator dan komunikan dikarenakan hubungan satu arah atau pun hubungan dua arah terjadi didalamnya tergantung siaran yang disajikan, didukung unsur gambar yang membuat hubungan satu arah ataupun dua arah tersebut menjadi nyata. (Set, 2008: 30).
kekuatan televisi menurut Kathleen Hall Jamieson sebagai dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan disebabkan terdapat frame gerak dan suara yang cukup dinamis. Menjadikan komunikasi yang terjadi membuat cerita lebih detail dan lebih menarik dari sebuah realita yang ada dan berguna
memperkuat alur cerita yang menuuntun penonton menerima pesan yang terkandung dengan tepat.( Set, 2008: 31).
Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan masyarakat dapat disaring dengan pendidikan manusia itu sendiri. Selain itu informasi yang ditayangkan, pada berita televisi juga menjadi tolak ukur untuk memantau informasi tentang sesuatu, hal tersebut benar-benar memiliki arti penting bagi kehidupan manusia secara moral maupun edukasi, dikarenakan kemampuan media televisi memiliki banyak keunggulan dari media media lainnya, yang hanya mampu menampilkan gambar, tulisan, suara saja dalam bentuk yang terpisah, sehingga menjadikan televisi mempunyai kemampuan memberikan informasi padat, singkat, dan jelas sehingga televisi menjadi jembatan sebagai penyebaran informasi ke seluruh daerah yang terjangkau oleh siaran tersebut.
Sejak tanggal 24 Agustus 1990 ada berbagai alternatif tontonan bagi masyarakat Indonesia saat ini, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI), TVRI programa 2, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Surya Citra Televisi (SCTV), Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dan AN-TV. Ini menurut rencana akan muncul lagi sebuah televisi yang menfokuskan diri pada bidang ekonomi dan perkembangan nasional, yaitu Indosiar (Kusnadi, 1996: 35).
Dengan hadirnya televisi - televisi demikian arus informasi yang mengalir tersebut akan mempunyai efek yang cukup besar, hal itu tidak akan membuat informasi berhenti dan mati. Informasi tetaplah informasi yang harus senantiasa disebarkan baik dari segi positif maupun negatifnya. Hal itu tidak
akan bisa dielakan lagi karena perubahan zaman yang dinamis saat ini, sehingga pentingnya lembaga – lembaga sensor bekerja dengan baik dan menjadikan individu yang bekerja dibalik layar menjadikan dirinya sendiri lembaga sensor yang dapat memberikan informasi berkualitas dan dapat dipertanggung jawabkan, sebagai bentuk pelestarian informasi yang bersahaja dan jujur sehingga membantu pemerintah dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia yang menjadi generasi penerus bangsa. (Setyobudi, 2005: 7).
Oleh karena itu bila informasi dari media di dunia tidak terkontrol maka akan mengakibatkan efek yang besar dalam segi negatif dan positif, contohnya penjajahan negara dalam bentuk norma , agama, gaya hidupp, prekonomian, dan yang terpenting adalah keamanan negara, sehingga penyaringan informasi sangatlah penting sebagai bentuk perlawanan ataupun pertahanan baik keluar ataupun kedalam sebuah negara, ditambahkn lagi era globalisasi membuat informasi secara “terbuka” dan tersebar dengan mudah, menjadikan semua hal menjadi mungkin, informasi negatif positif memiliki sudut pandang yang bertolak belakang yang membuat praktisi pertelevisian harus menjadikan dirinya sendiri dalam penyaringan informasi yang layak ataupun tidak bagi masyarakat, demi menjaga kestabilan bentuk sisi kehidupan yang berkaitan dengan hidup manusia.
Televisi yang merupakan salah satu hasil dari kemajuan informasi dapat memberikan nilai yang spektakuler dalam sisi pergaulan dan prilaku
hidup manusia, Televisi dapat merubah pola-pola kehidupan manusia sebelum munculnya televisi.
Berdasarkan pengamatan para ahli dibidang per-televisian menyebutkan bahwa informasi yang diperoleh melalui siaran televisi yang mengendap dalam pikiran manusia lebih tahan lama dibandingkan dengan memperoleh informasi dengan cara membaca atau mendengarkan. Hal tersebut dikarenakan gambar atau visualisasi bergerak yang berfungsi sebagai tambahan dan dukungan informasi penulisan narasi penyiar reporter yang memiliki kemampuan untuk memperkuat daya ingat manusia dan memanggilnya kembali (Muda, 2005: 27).
Tayangan informasi banyak terkandung dalam Program acara berita dengan demikian kemasan rupa dan menarik tetap perlu dipertahankan sehingga pemirsa merasa nyaman dalam menonton sebuah tayangan berita. Karena kebanyakan pemirsa lebih banyak menonton tayangan hiburan maka acara berita seharusnya juga dibuat tidak kalah menarik dibandingkan tayangan hiburan.
Ide, konsep, produksi dan pasca produksi adaah tahapan yang saling berkaitan untuk menciptakan sebuah tayangan yang menarik, sehingga terjadi pembagian tiga tahapan yaitu: pra produksi, produksi dan pasca produksi. Setiap tahapan memiliki tugas masing-masing yang sangat berperan, pra produksi yaitu analisa dan penyusunan konsep yang dikembangkan dari sebuah ide, kemudian produksi yaitu proses pembuatan tayangan yang berfokus kepada pengambilan audio dan video dilapangan, dan terakhir adalah
pasca produksi yaitu finishing dari hasil pra produksi dan produksi, yang mana pada tahapan trakhir ini yang akan menghasilkan sebuah tayangan yang menarik ataupun tidak.
Beberapa tahapan pembuatan suatu film atau berita yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Pasca produksi yang tidak lain adalah proses edting yang bersifat menyambung gambar dan suara dengan tujuan memberikan cerita yang berkelanjutan pada benang merah (Greogory & Caldwell, 2008: 197).
Setiap kegiatan selalu dilakukan melalui tahapan dan proses peaksanaan yan sudah ditentukan, sehingga pekerjaan yang diakukan dapat berjalan dengan lancar dan baik seuai dengan proedur pengoperasiannya demikian juga halnya dengan kegiatan mengedit (editing)
Pengertian editing itu sndiri adalah menyusun dan merangkai gambar – ganbar (master tape) yang baik sehingga menjadi sesuatu rangkaian cerita ( sesai naskah) yang mudah dimengertidan dapat dinikmati penonton (rahmat subianto:1:2008)
Karena sifatnya yang bergerak dan singkron, maka informasi audio video yang ditayangkan melalui media televisi mempunyai kekuatan yang handal dalam mempengaruhi sikap dan prilaku khalayak penonton / pemirsa bila dibandingkan dengan media lainnya. Informasi yang disajikan mulanya berasal dari meteri – materi yang masih acak / belum teratur dan diperoleh melalui shooting yang akan diproses editing
Editing scara umum didefinisikan sebagai sesuatu proes kegiatan memilih dan menyusun dari material yang tidak teratur ( acak ) menjadi materi teratur, kemudian hasilnya disajikan bagi banyak orang. Pengertian editing pada media televisi diartikan, proses memilih, menyusun dan memodifiasi shot by shot gambar dan suara yang telah direkam pada media rekam ( maghnetic tape atau film 16 mm), kemudian dipadukan sesuai yang diinginkan ( dengan naskah ), hasilnya merupakan satu program yang siap disiarkan (budi utarso:3:2008)
Proses editing penting adanya karena Gambar dan atau suara yang diperoleh saat produksi masih berupa materi kasar , acak, belum sempuna dan masih perlu untuk diperbaiki lagi sesuai yang diinginkan (sesuai naskah, shooting script, dan story board). Sehingga pasca produksi merupakan Tahapan akhir suatu proses produksi sebuah program, ini berguna untuk menyempurnakan hal – hal tersebut diatas (Utarso, 2008: 1).
Warta Riau adalah salah satu program acara berita yang di program oleh stasiun nasional biro Riau yang berguna untuk menayangkan berita local yang wajib diberitahukan kepada publik, baik didaerah ataupun dinasional yang menjadi bahan acuan siaran yang baik dan benar yang tetap mengedepankan etika-etika penyiaran kepada stasiun-stasiun televisi lokal dan tetap mengedepankan kepentingan publik dari pada kepentingan komersial.
Inilah merupakan masalah yang menarik dan ingin penulis teliti. Untuk mengetahui peran editor pada sebuah proses editing berita, maka penulis meneliti dan menuangkannya dalam sebuah karya ilmiah yang berjudul
“PERAN EDITOR DALAM MENDUKUNG PROGRAM WARTA RIAU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK STASIUN TVRI RIAU”.
B. Alasan Pemilihan Judul
Televisi merupakan media siar yang dapat menyajikan informasi kepada masyarakat. Baik secara langsung maupun dengan proses perekaman terlebih dahulu.
1. Penulis ingin mengetahui bagaimana peranan editor dalam menyukseskan program Warta Riau di stasiun LPP TVRI Riau.
2. Judul Ini sesuai dengan pendidikan penulis yaitu di Jurusan Ilmu Komunikasi konsentrasi Broadcasting Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN SUSKA Riau.
3. Penulis ingin meneliti di LPP TVRI RIAU karena penulis melakukan magang pada bagian pemberitaan di stasiun tersebut.
4. Penulis meneliti di stasiun televisi LPP TVRI RIAU karena merupakan televisi nasional yang mempunyai cabang di daerah asal penulis.
C. Penegasan Istilah
Untuk lebih memahami unsur-unsur yang terdapat dalam penelitian ini maka penulis perlu menjelaskan beberapa istilah sebagai pedoman penelitian.
Dan agar tidak terjadi kesalah pahaman yang sedang diteliti. Ada pun penegasan istilah dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Berita adalah laporan tentang fakta peristiwa atau pendapat yang aktual, menarik, berguna dan dipublikasikan melalui media massa periodic (Arifin, 2006: 4).
2. Editing Berita adalah proses penyuntingan audio video menurut naskah berita yang akan ditayangkan dan bertujuan untuk menyempurnakan gambar dan suara serta mengkombinasikan atau memisah-misahkan rangkaian suatu peristiwa aktual yang menarik perhatian banyak orang dengan melibatkan fakta berita sehingga tercapai sintesis atau analisis dari bahan yang diambil. Baik dan buruknya susunan gambar suara yang beracuan pada benang merah cerita. (Suhandang, 2004: 103).
3. Editor adalah seseorang yang melakukan proses editing yang bekewajiban memiliki kreatifitas agar dapat menentukan gambar-gambar untuk disusun sesuai kebutuhan (budi utarso s.sos:2008:23).
D. Permasalahan 1. Batasan Masalah
Hasil editing didukung oleh peranan editor yang baik sehingga akan menghasilkan sebuah tayangan yang baik. Sehingga acara berita riau mempunyai trik-trik dalam pengeditannya sebelum berita di tayangkan kepada masyarakat.
Penulis memberikan batasan-batasan masalah dalam pembuatan skripsi ini, yaitu tentang peran editor Warta Riau di LPP TVRI Stasiun Riau setelah proses pencarian berita masuk kedapur editing sampai berita ini siap disiarkan kepada masyarakat.
2. Permasalahan
a. Bagaimana Peran editor Warta Riau di LPP TVRI Stasiun Riau?
b. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi Peran editor berita Warta Riau di LPP TVRI Stasiun Riau?
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana peran editor program Warta Riau di LPP TVRI Stasiun Riau dalam menyukseskan siaran tersebut.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peran editor dalam program Warta Riau di LPP TVRI Stasiun Riau.
a. Bagi penulis untuk memenuhi syarat penyelesaian studi S.1 jurusan Ilmu Komunikasi di fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau.
b. Dengan adanya penelitian ini dapat menjadi masukan dan introspeksi bagi editor LPP TVRI Stasiun Riau dan dunia penyiaran pada umumnya.
c. Dapat menambah wawasan dan dapat menjadi bahan ilmiah yang dapat dipergunakan dngan baik dalam dunia penyiaran.
F. Kerangka Teoritis dan Konsep Operasional 1. Kerangka Teoritis
komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. Hal ini secara langsung menggambarkan bahwa proses komunikasi seseorang memerlukan media (Effendi, 2005: 10).
a. Editing
Proses memilih , menyusun dan mmodifikasi shot by shot atau scene by scene gambar dan atau suara yang telah direkam pada maghnetic tape (video tape)dan atau film,kemudian dipadukan pada peralatan editing, seuai yang dikehendaki ( sesuai naskah ). Hasilnya merupakan sesuatu program acara yang siap disajikan kepada orang lain (khalayak pemirsa) proses ini sangat penting dalam menghasilkan berita yang menarik dan tidak membosankan. Oleh karena itu tugas seorang editor sangat berat agar
menghasilkan sebuah tayangan berita yang menarik( Drs Hanoch Tahapari :2:2008).
Konsep dasar editing bersifat gerak dan sinkron, maka informasi audio visual yang ditayangkan melalui media televisi mempunyai kekuatan yang handal dalam mempengaruhi sikap dan prilaku khalayak penonton / pemirsa bila dibandingkan dengan media lainnya informasi yang disajikan mulanya berasal dari materi-materi yang masih diacak / belum teratur dan diperoleh melalui shooting
Shooting merupakan kegiatan produksi untuk mencari dan mengumpulkan materi yang mempunyai kualitas prima sesuai yang dikehendaki ( sesuai naskah ) maateri ini berupa shot – shot gambar dan suara yang kemudian diseleksi dan dimodifikasi melalui proses editing
Editing scara umum didefinisikan sebagai sesuatu proses kegiatan memilih dan menyusun dari material yang tidak teratur (acak) menjadi materi teratur, kemudian hasilnya disajikan bagi bantak orang (budi utarso:3:2008)
Dalam bidang audio visual editing adalah usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Proses editing dapat dilakukan dengan adanya bahan dasar stok shot, peralatan editing dan unsur-unsur pendukung seperti software , editing, voice sound effect.
Seorang editor harus memahami dan melaksanakan perinsip – perinsip editing dengan maksud :
1. Menyampaikan cerita / peristiwa scara kronologis dan berkesinambungan (continuity) dari awal, tengah, hingga akhir.
2. Membawa / menuntun penonton untuk menyaksikan scara sesuai alur cerita / peristiwa.
3. Tidak membuat penonton bingung bila menonton suatu program acara. 4. Sebagai pedoman editor dalam melaksanakan tugasnya
(Tahapari : 36 : 2008).
Secara umum proses editing dibedakan menjadi dua metode, yakni Continuity Cutting dan Dynamic Cutting.
1. Continuity Cutting, metode ini merupakan metode editing yang berisi penyambungan dari dua shoot yang berkesinambungan.
2. Dynamic Cutting, sedangkan metode ini metode editing yang berisi penyambungan dua shoot yang tidak berkesinambungan.
Setelah pasca produksi atau peliputan ada bebarapa langkah utama yaitu Offline Editing dan Online Editing:
1. Offline Editing, merupakan proses awal editing dengan metode dan teknik cut to cut.
2. Online Editing, proses editing dengan menambahkan bebarapa effect visual, voice sound effect dan unsure-unsur lain.
Proses editing berita dilakukan dengan cara menyambung shot atau liputan serta unsur-unsur pendukung agar dapat menimbulkan pengertian baru. 1. Tataestetika Editing
a) Unsur – unsur gambar yaitu apa yang dilihat oleh mata / lensa di lokasi kejadian yang bias berupa lambing, gerak, mimic,cahaya, bahkan suara yang biasa disebut bahasa gambar.
b) Komposisi gambar yaitupengaturan / penataan dan penempatan unsur – unsurgambar kedalam frame / bingkai gambar yang telah ditetapkan seperti: the rule of thirds,framing, over shoulder, looking room, walking room, long shoot, medium shoot, close shot, close up, ekstrem clouse up knee shoot, full shoot, dan lain sebagainya.
c) Transisi gambar adalah penyambungan gambar ke gambar selanjutnya yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan seperti: cutting, spilt edit, dissolve, fade in, dan, fade out.
d) Titik edit yang menarik yaitu titik dimana keberadaannya sangat penting dalam menyambung dari gambar satu kegambar yang lain. e) Elemen – elemen editing yaitu rasa yang harus dimiliki editor dalam
memilih, merangkai dan memodifikasi gambar agar dapat melakukan kwajibannya sacra maksimal agar dapat menyampaikan peristiwa kepada penontondan tidak membuat bingung penonton dalam rangkaian gambar (Drs hanoch tahapari:2008:3-47).
2. Tahapan dan proses editing berita a) Tahap Pertama
1.1 Mempersiapkan dan mengecek pralatan editing yang akan dipergunakan.
1.2 Mempersiapkan materi shooting.
1.3 Mempelajari dan mendiskusikan naskah atau alur cerita dengan sutradara.
b) Tahap Kedua, Melakukan editing sesuai tataestetika editing c) Tahap Ketiga
1.1 Melakukan review hasil editing. 1.2 Siap tayang
3. Berita
Penayangan program berita distasiun televisi dibatasi oleh frame waktu atau slot. Oleh karena itu screening hal ini juga perlu diperhatikan. Apabila program melebihi frame waktu yang disediakan maka harus dipotong ditempat yang tidak akan mengganggu kontinuitas program berita.
Berita atau news merupakan laporan atau pemberitahuan tentang segala peristiwa aktual yang menarik perhatian banyak orang, peristiwa yang melibat kan fakta dan data yang baru saja terjadi (aktual) atau hangat dibicarakan orang banyak (Suhandang, 2004: 103).
Isi pesan berita media televisi berasal dari sumber resmi tentang isu yang terjadi dimasyarakat. Sumber resmi apabila ditayangkan akan menimbulkan pendapat umum. Dan dalam penyampaian isi berita, televisi memiliki sifat-sifat publisitas, periodesitas, universal dan kotiniuitas.
Penyajian berita oleh stasiun televisi juga harus dengan kehati-hatian yang tinggi mengingat dampaknya yang luas. Kehati-hatian dimulai dari kecermatan terhadap ejaan nama, angka, tanggal dan usia serta isi dari berita
itu sendiri. Bukan karena hanya itu, keakuratan juga memberi kesan umum kepada publik. Jadi seorang editor harus sangat hati-hati dalam proses editing. Berita televisi tidak bisa lepas dari proses jurnalistik yang merupakan alat pemenuhan kebutuhan khalayak akan informasi. Jurnalistik itu sendiri menurut ilmu komunikasi adalah suatu bentuk komunikasi yang menyiarkan berita atau ulasan tentang peristiwa sehari-hari yang umum dan aktual dengan tepat dan cepat.
Jurnalistik adalah tindakan diseminasi informasi, opini dan hiburan untuk publik yang sistematik dan dapat dipercaya kebenaran melalui media komuikasi modern (Baksin, 2006: 48).
Membuat berita menjadi menarik bukanlah hal yang mudah. Membuta berita harus memperhatikan unsur-unsur berita. Rudyard Kipling seorang wartawan Inggris memperkenalkan unsur berita 5W+1H. Unsur berita 5W+1H dapat dijadikan batu loncatan untuk menggerakannya menjadi sebuah berita (Kusumaniggrat, 2006: 128).
Sumber berita juga merupakan hal yang sangat harus diperhatikan dalam membuat sebuah berita. Sumber berita dapat dibagi menjadi dua :
1. Manusia adalah pendapat dari manusia yang menjadi sumber berita. Bisa pendapat mengenai peristiwa yang disaksikannya bisa juga pendapat tanpa narasumber menyaksikannya.
2. Peristiwa, Contohnya bencana alam, kecelakaan, konfrensi pers, dan sebagainya.
Dalam program berita terdapat berbagai cara menyajikan dan corak penyajian berita. Batasanya umum untuk jenis program siaran berita terletak pada batasan yang didasari atas keterikatan waktu aktual yang singkat dan ketidak terikatan pada waktu aktual yang singkat (memiliki waktu aktual yang panjang). Berita yang terikat waktu (time concern) disebut berita harian, sedangkan berita yang tidak terikat waktu (time les) disebut berita berkala (Wibowo, 2007:135).
1. Berita Harian atau berita hangat (the hot news) adalah berita yang perlu segera ditampilkan dan disampaikan kepada masyarakat (Wibowo, 2007: 135).
2. Berita Berkala, berita yang bersifat time lines (tidak terikat waktu) yang memiliki kemungkinan penyajian yang lebih lengkap dan mendalam. Sajian ini juga dapat diolah secara lebih arstistik. Model berita berkala biasanya merupakan karya jurnaistik yang artistik seperti feature. Format dari karya jurnalistik berupa program dokumenter, feature dan magazine. Ketika program itu memiliki kemasan dan tata laksana produksi spesifik (Wibowo, 2007: 139).
Dalam penelitian ini penulis mengambil teori gatekeeper (pendekatan white 1949) sebagai acuan yang mendasar dalam penulisan skripsi ini. Gatekeeper adalah orang yang memutuskan apa yang akan muncul atau tampil di media atau orang yang berperan penting dalam menentukan dan memberi izin bagi tersebarnya sebuah berita. Dengan kata lain tugas gatekeeper adalah bagaimana seleksi berita yang dilakukan sehingga penonton menjadi tertarik dan enak untuk melihat berita yang disuguhkan (Nurudin, 2007: 119).
Jhon R. Bittner (dalam Nurudin, 2007:119) mengistilahkan gatekeeper sebagai individu atau kelompok orang yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi pada pesan media seperti pada sebuah berita. Reporter juga merupakan gatekeeper, mereka memutuskan perlu tidaknya melaporkan sebuah berita dan bagaimana mereka melaporkan berita tersebut.
Editor juga sebagai jika berhak memutuskan untuk menjalankan alur cerita berita.
Secara umum, peran gatekeeper sering dihubungkan dengan berita. Seorang editor dapat menambahkan pesan dengan mengkombinasikan informasi dari berbagai sumber yang ia dapat. Menentukan apa yang dibutuhkan penonton. Maka dari itu editor sering melaksanakan fungsi sebagai gatekeeper.
Gambar 1. Model Gatekeeper Keterangan Gambar:
S1, S2, S3 : Sumber yang berbeda-beda (source) M1, M2, M3 : pesan yang diterima (Message)
Gatekeeper S1 M1 S2 M2 S3 M2 MA R1 MB R2 MC R3
Gatekeeper : Penapis Informasi (penjaga gerbang) MA, MB, MC : Hasil pesan yang telah terseleksi
R1, R2, R3 : Penerimaan pesan yang brbeda-beda (Received)
Dari gambar diatas pesan-pesan (M1, M2, M3) yang diterima dari sumber yang berbeda-beda (S1, S2, S3) kemudian diserahkan kepada penapis pesan informasi (Gatekeeper). Dari gambar tersebut terlihat bahwa gatekeeper menyeleksi pesan-pesan yang akan dikomunikasikan sejumlah pesan (MA, MB, MC) yang telah melewati proses penyeleksian ke penerima yang berbeda-beda (R1, R2, R3). (Nurudin, 2007: 129).
Gatekeeper adalah proses melalui mana informasi disaring untuk diseminasi, baik itu publikasi, penyiaran, Internet, atau beberapa jenis komunikasi lainnya. Sebagai teori akademis, ditemukan di beberapa bidang, termasuk studi komunikasi, jurnalistik, ilmu politik, dan sosiologi. Awalnya difokuskan pada media massa dengan yang sedikit-untuk-massa yang dinamis, teori gatekeeping juga sekarang termasuk kerja wajah-to-face komunikasi dan banyak-ke-banyak dinamis sekarang mudah tersedia melalui Internet. Teori ini pertama kali dilembagakan oleh psikolog sosial Kurt Lewin pada tahun 1947 dan masih teori penting dalam komunikasi massa dan jurnalisme. Gatekeeping terjadi pada semua tingkatan dari struktur media - dari wartawan memutuskan sumber mana yang dipilih ke dalam sebuah cerita untuk editor memutuskan cerita dicetak atau ditutupi, dan termasuk pemilik outlet media dan bahkan pengiklan. Di luar organisasi media, individu juga dapat bertindak sebagai
gatekeeper, memutuskan informasi apa yang harus disertakan dalam email atau di blog, misalnya.
2. Konsep Operasional
Dari latar belakang kerangka teoritis maka penulis melanjutkan konsep operasional sebagai tolak ukur dalam penelitian ini agar tidak terjadi penyimpangan dan kesalahpahaman dalam melanjutkan kenjenjang skripsi dan untuk memahami penelitian ini. Dengan indikator sebagai berikut:
a. Mempersiapkan dan mengecek peralatan editing yang akan dipergunakan sebagai berikut:
1. central prosesor unit (CPU) 2. layar Monitor
3. DV Player ( Alat Capture ) 4. MIC Dubbing
b. Mempersiapkan materi shooting dengan menggunakan Capture video audio.
c. Mempelajari dan mendiskusikan naskah atau alur cerita dengan sutradara d. Melakukan editing sesuai tata estetika editing dengan memperhatikan
sebagai berikut:
1. Unsur – Unsur Gambar (Visual Elements) 2. Komposisi Gambar (Picture Composition) 3. Transisi Gambar (Picture transition) 4. Titik Edit Menarik (Interest Point of Edit) 5. Elemen - Elemen Edit (Elements of Edit)
6. Prinsip - Prinsp Editing (Editing Prinsiples) 7. Melakukan evaluasi ( melihat scara keseluruhan )
G. Metode Penelitian 1. Deskriptif kualitatif
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Deskriptif diartikan melukiskan variabel, satu demi satu. Penelitian deskriptif hanya memaparkan situasi atau peristiwa. Peneliti tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat, 2005: 25)
2. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di LPP Stasiun TVRI Riau. 3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah edittor di redaksi Warta Daerah yang ikut kegiatan editing di LPP Stasiun TVRI Riau.
Objek peneltian ini adalah proses editing yang dilakukan untuk acara Warta Riau di LPP TVRI Riau.
4. Teknik Pengambilan Data
a. Wawancara, Penulis akan melakukan Tanya jawab dengan nara sumber yaitu editor dari tim redaksi acara Warta Riau di LPP TVRI Riau.
b. Observasi, dalam mendapatkan data penulis akan melakukan pengamatan langsung proses editing Warta Riau di LPP TVRI Riau.
c. Dokumentasi, untuk memberikan landasan teoritis sebagai acuan pendukung penelitian ini melalu bacaan-bacaan. Diantaranya buku-buku karangan ilmiah, hasil penelitian, literature dan dokumen-dokumen yang bisa penulis gunakan untuk mendapatkan data dalam penelitian.
5. Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif, yakni data yang diperoleh digambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang kemudian dipisahkan menurut kategorinya demi memperoleh kesimpulan (Arikuntoro, 1998:245).
H. Sistematika Penulisan
Sistematika yang penulis gunakan terdiri dari lima bab, yaitu sebagai berikut:
BAB I : Berisi tentang latar belakang, masalah, alasan pemilihan judul, penegasan istilah, permasalahan, tujuan dan kegunaan
BAB II : Metodelogi Penelitian yang menjelaskan tentang Deskriptif kualitatif alas an pemilihan metode penelitian, teori yang digunakan dan alas an penggunaan teori tersebut.
BAB III : Tentang gambaran umum dan penyajian data, Merupakan Bab penyajian data tentang proses editing yang diperoleh dari lapangan maupun data-data tambahan lainnya lokasi penelitian, yang meliputi latar belakang berdirinya LPP TVRI Riau, visi
dan misi serta tujuan TVRI Riau, sarana dan prasarana yang ada di LPP TVRI Riau, serta para karyawan yang ada di LPP TVRI Riau.
BAB IV : Merupakan Bab yang mengemukakan tentang analisa data yang disajikan terhadap data yang disajikan pada Bab III.
BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metodologi Penelitian
Metode berasal dari kata methodos (Yunani) yang dimaksud adalah cara atau menuju suatu jalan. Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya (Ruslan, 2008: 24).
Menurut Soerjono Soekanto (1986: 5) penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan konsisten.
Dari pembahasan tersebut terlihat bahwa sistem dan metode yang dipergunakan untuk memperoleh informasi atau bahan materi suatu pengetahuan ilmiah yang disebut dengan metodologi ilmiah. Pada sisi lain dalam kegiatan untuk mencari informasi tersebut dengan tujuan untuk menemukan hal-hal yang baru merupakan suatu prinsip-prinsip tertentu atau solusi (pemecahan masalah) tersebut disebut dengan penelitian.
Ciri-ciri utama penelitian dan sekaligus merupakan pedoman etika terhadap kegiatan penelitian ilmiah melalui pengungkapan informasi yang sistematis dan metodologis sesuai dengan disiplin ilmu yang dilakukan oleh pihak peneliti, yaitu mengacu kepada:
1. Objektif dalam penyajian yang deskriptif, sistematis, dan analisis.
2. Serba relatif, bahwa kebenaran ilmiah yang diajukan bukanlah hal mutlak dan hasilnya dimungkinkan dapat dibantah atau diuji kebenarannya.
3. Skeptis, adanya keraguan atas pernyataan-pernyataan yang belum memiliki kekuatan dasar-dasar pembuktian.
4. Netral, dalam pengungkapan fakta yang sesungguhnya tidak berkaitan dengan nilai-nilai baik atau buruk.
5. Sederhana, tidak terlalu rumit dalam kerangka berpikir, perumusan pernyataan dan pembuktiannya tetap berdasarkan kebenaran ilmiah yang baku.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat (Rakhmat, 2005: 22).
B. Deskriptif Kualitatif
Suatu metode ilmiah dalam penelitian bidang komunikasi dan khususnya broadcasting tidak harus menggunakan analisis statistic terhadap penemuan atatu menganalisis data yang dibahas dengan melalui metode penelitian yang dipergunakan secara ilmiah (science research), biasanya penelitian tersebut dapat berbentuk deskriptif, eksperimental, kuantitatif, etnometologis, kritis, historis dan analisis sebagainya. Keistimewaan bidang
komunikasi adalah keanekaragaman metode yang mengkaji fenomena komunikasi (Fisher, 1986: 101).
Kini para peneliti mulai mengembangkan bidang penelitian dengan pendekatan humanities, yang berkaitan dengan fenomologis, interaksionis dan kritis, oleh karena berkaitan dengan objek ilmu-ilmu sosial termasuk bidang komunikasi dan public relations yang berhadapan dengan manusia (individual atau kelompok), subjektif, memiliki jiwa, tanggapan, keinginan, dan kemauan yang bebas. Jadi, terasa agak sulit untuk menentukan keanekaragaman perspektif ilmu-ilmu sosial dengan menggunakan standar ilmiah positivisme melalui penelitian eksplanatori yang harus mengandung dua faktor, yaitu variabel dependen (x), dan variabel independen (y) sebagai acuan untuk diterapkan kedalam pengukuran kualitatif dengan meminjam kriteria-kriteria hasil penelitian secara kuantitatif deskriptif yang bersifat teknis dan objektif atas segala yang tampak, sehingga metode penelitiannya cenderung hanya mengupas ‘kulitnya’ dan tidak mampu memahami makna dibalik gejala-gejala fenomena-fenomena yang tampak tersebut.
Padahal untuk meneliti bidang ilmu sosial, dan khususnya komunikasi adalah lebih tepat jika dilakukan dengan metode kualitatif, mendalam untuk lebih mengetahui fenomena-fenomena tentang aspek-aspek kejiwaan, perilaku, sikap, tanggapan, opini, perasaan, keinginan dan kemauan seseorang atau kelompok.
Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau cara kuantifikasi lainnya.
Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapat pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan. Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tapi diperoleh setelah melakukan analisi terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian, dan kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa pemahaman umum tentang kenyataan-kenyataan tersebut.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Deskriptif diartikan melukiskan variabel, satu demi satu. Penelitian deskriptif hanya memaparkan situasi atau peristiwa. Peneliti tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat, 2005 : 25).
C. Alasan Pemilihan Metode Penelitian
Penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menemukan pengetahuan yang seluas-luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa tertentu. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu variabel atau tema, gejala atau keadaan yang ada, yaitu keadaan suatu gejala menurut apa adanya pada waktu penelitian dilakukan.
Teknik ini memiliki beberapa ciri-ciri seperti dalam penelitian kualitatif data dikumpulkan dalam kondisi yang asli atau ilmiah (natural seting). Penulis sebagai alat penelitian, artinya peneliti sebagai alat utama pengumpul data yaitu dengan metode pengumpulan data berdasarkan pengamatan dan wawancara.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis memilih deskriptif kualitatif sebagai metode dalam penelitian. Selain itu juga karena penulis hanya ingin menggambarkan realita yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antarvariabel (Kriyantono, 2009: 67).
D. Teori Gatekeeper
Dalam penelitian ini penulis mengambil teori gatekeeper (pendekatan white 1949) sebagai acuan yang mendasar dalam penulisan skripsi ini. Gatekeeper adalah orang yang memutuskan apa yang akan muncul atau tampil di media atau orang yang berperan penting dalam menentukan dan memberi izin bagi tersebarnya sebuah berita. Dengan kata lain tugas gatekeeper adalah bagaimana seleksi berita yang dilakukan sehingga penonton menjadi tertarik dan enak untuk melihat berita yang disuguhkan (Nurudin, 2007:119).
Jhon R. Bittner (dalam Nurudin, 2007: 119) mengistilahkan gatekeeper sebagai individu atau kelompok orang yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi pada pesan media seperti pada sebuah berita. Reporter juga merupakan gatekeeper, mereka memutuskan perlu tidaknya melaporkan sebuah berita dan bagaimana mereka melaporkan berita tersebut.
Editor juga sebagai jika berhak memutuskan untuk menjalankan alur cerita berita.
Secara umum, peran gatekeeper sering dihubungkan dengan berita. Seorang editor dapat menambahkan pesan dengan mengkombinasikan informasi dari berbagai sumber yang ia dapat. Menentukan apa yang dibutuhkan penonton. Maka dari itu editor sering melaksanakan fungsi sebagai gatekeeper.
Gambar 1. Model Gatekeeper Keterangan Gambar:
S1, S2, S3 : Sumber yang berbeda-beda (source) M1, M2, M3 : pesan yang diterima (Message) Gatekeeper : Penapis Informasi (penjaga gerbang) MA, MB, MC : Hasil pesan yang telah terseleksi
R1, R2, R3 : Penerimaan pesan yang brbeda-beda (Received)
Gatekeeper S1 M1 S2 M2 S3 M2 MA R1 MB R2 MC R3
Dari gambar diatas pesan-pesan (M1, M2, M3) yang diterima dari sumber yang berbeda-beda (S1, S2, S3) kemudian diserahkan kepada penapis pesan informasi (Gatekeeper). Dari gambar tersebut terlihat bahwa gatekeeper menyeleksi pesan-pesan yang akan dikomunikasikan sejumlah pesan (MA, MB, MC) yang telah melewati proses penyeleksian ke penerima yang berbeda-beda (R1, R2, R3). (Nurudin, 2007:129).
Gatekeeper adalah proses melalui mana informasi disaring untuk diseminasi, baik itu publikasi, penyiaran, Internet, atau beberapa jenis komunikasi lainnya. Sebagai teori akademis, ditemukan di beberapa bidang, termasuk studi komunikasi, jurnalistik, ilmu politik, dan sosiologi. Awalnya difokuskan pada media massa dengan yang sedikit-untuk-massa yang dinamis, teori gatekeeping juga sekarang termasuk kerja wajah-to-face komunikasi dan banyak-ke-banyak dinamis sekarang mudah tersedia melalui Internet. Teori ini pertama kali dilembagakan oleh psikolog sosial Kurt Lewin pada tahun 1947 dan masih teori penting dalam komunikasi massa dan jurnalisme.
Gatekeeping terjadi pada semua tingkatan dari struktur media - dari wartawan memutuskan sumber mana yang dipilih ke dalam sebuah cerita untuk editor memutuskan cerita dicetak atau ditutupi, dan termasuk pemilik outlet media dan bahkan pengiklan. Di luar organisasi media, individu juga dapat bertindak sebagai gatekeeper, memutuskan informasi apa yang harus disertakan dalam email atau di blog, misalnya.
Informasi adalah adalah salah satu unsur yang cukup penting dalam perkembangan masyarakat dikarenakan informasi adalah suatu hal yang penting bagi seseorang yang berhubungan dengan informasi tersebut. Apalagi dengan kehadiran media sebagai pusat informasi dan hiburan. Maka penting adanya penyaringan informasi yang berguna bagi masyarakat luas agar dapat mendidik, menjaga ketenangan masyarakat dan kedaulatan sebuah negri,maka dan dari sebuah proses pengolahan informasi, saya menambil proses finishing yaitu proses edting video audio yang berada pada akhir pengolahan data baik tulis, vgambar ataupun suara.
Proses editing penting adanya karena Gambar dan atau suara yang diperoleh saat produksi masih berupa materi kasar , acak, belum sempuna dan masih perlu untuk diperbaiki lagi sesuai yang diinginkan (sesuai naskah, shooting script, dan story board). Sehingga pasca produksi merupakan Tahapan akhir suatu proses produksi sebuah program, ini berguna untuk menyempurnakan hal – hal tersebut diatas (Utarso, 2008: 1).
Dari berbagai media yang telah ada dan berkembang pada saat ini, maka saya mengambil salah satu media tertua didalam negri Indonesia, yaitu LPP TVRI dikarenakan lembaga penyiaran publik televisi republik Indonesia ini menjadi acuan dasar dalam segala teknik didalam dunia pertelevisian Indonesia, sehingga ini menajadi hal yang menantang menurut saya untuk membuktikan apakah LPP TVRI masih menjalankan prinsip-prinsip sebagai pemegang teguh sebuah penyiar yang baik dan benar. Dan peran editor adalah peran yang cukup penting karena sebagai media elektronik audio video,
penyusunan, dan tataletak gambar dan suara berada pada proses ini, walaupun gambar dan suara diambil oleh kameraman dilapangan, tetapi sensor, dan susunan gambar dan suara ditentukan pada proses ini, sehingga menghasilkan alur informasi yang baik, benar dan bersahaja.
Untuk mengetahui peran editor pada sebuah proses editing berita, maka penulis meneliti dan menuangkannya dalam sebuah karya ilmiah yang berjudul “PERAN EDITOR DALAM MENDUKUNG PROGRAM WARTA RIAU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK STASIUN TVRI RIAU”.
BAB III
GAMBARAN UMUM
A. SEJARAH SINGKAT TVRI PEKANBARU
Keberadaan TVRI yang secara resmi lahir pada tanggal 24 agustus 1962. Beberapa kali mengalami perubahan status hukum institusinya sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi pemerintahan. TVRI merupakan media massa elektronik sepenuhnya milik pemerintah republik Indonesia. TVRI mengalami “hembusan” pasang surutnya kebijakan ketika para “penguasa” menginginkan media dengar pandang ini, menjadi bagian penting dari suatu sistem yang perlu dikuasai secara penuh terhadap arus dan distribusi informasi sesuai dengan alur kebijakan pemerintah.
Masuknya TVRI ke Provinsi Riau TVRI ini diresmikan pada tanggal 3 november 1998 oleh Bapak M. Yunus selaku sebagai Menteri Penerangan pada waktu itu, TVRI yangberlokasi di jalan Pramuka No.2 Danau buatan Kecamatan Rumbai Pekanbaru.
TVRI sebagai lembaga penyiaran publik yang mana pembiayaan terbesar dari operasioanlnya berasal dari APBN, dan untuk TVRI daerah seperti TVRI Pekanbaru biaya operasionalnya mengandalkan anggaran dari pendapatan daerah atau APBD. TVRI Pekanbaru mrlakukan siaran selama 4 jam dalam sehari yang diberikan dari TVRI pusat yang berada di Jakarta, yang bermaterikan siaran berita daerah serta berbagai paket acara lokal produksi TVRI Riau sendiri. Jangkauan TVRI Riau melingkupi kota pekanbaru,
Bangkinang, Pankalan kerinci, Lipat Kain, Minas, Perawang, dan daerah lainnya dengan radius 60 – 70 km dari kota Pekanbaru.
TVRI Riau telah menyediakan pelayanan bagi pemanfaatan umum program iklan dan lagu daerah yang bermutu dan memadai pemenuhan hidup orang banyak dan TVRI juga turut aktif dalam pengmbangan bidang pendidikan serta sumber daya manusia. Produksi siaran TVRI Riau meliputi: 1. Siaran berita
2. Siaran langsung 3. Suaran rekaman 4. Siaran iklan
5. Siaran Pelayanan jasa lainnya
Dengan kelima sumber pembiayaan tersebut apabila kesemuanya dapat dijalankan dengan baik ma TVRi Riau sebagai lembaga penyiaran public akan mendapatkan sumber dana yang memadai dalam menjalankan operasional di era otonomi daerah sebagai penyiaran publik local dapatdimanfaatkan oleh pemerintah propinsi sebagai sarana informasi, pendidikan, hiburan, dan sebagai pusat pengembangan seni dan budaya untuk bisa mencapai Riau sebagai pusat pendidikan.
Untuk memenuhi keinginan tersebut diperlukan rencana strategis pengembangan TVRI Riau sebagai lembaga penyiaran publik daerah yang dapat dinikmati oleh masyarakat, maka dari itu dibuatlah semcam strategis yang dibuat TVRI Riau dalam memikat pemirsa.
B. VISI, MISI, DAN TUJUAN TVRI RIAU
Sejak awal berdiri TVRI sebagai televisi penyiaran pertama di Indonesia yng dimulai pada tanggal 19 Agustus 1962 yang diresmikan pada tanggal 24 agustus 1962 saat sebelum dilakukan sdiaran asian games, telah menerapkan konsep Archipelago Approach, karena Indonesia merupakan Negara kepulauan. Konsep ini dipertegas dengan motto “ menjalin persatuan dan kesatuan” sebagai upaya menyatukan Indonesia secara geografis yang sangat luas dan tersebardari sabang hingga marauke. Ternyata dapat dipahami oleh masyarakat luas dengan banyaknya permintaan masyarakat da pemerintah dearah agar TVRI membuka stasiun daerah supaya selain siaran nasional terdapat juga siaran daerah. TVRI pekanbaru diresmikan pada tanggal 3 November 1998 oleh menteri Penerangan RI Bapak M.Yunus. 1. Visi TVRI Riau
Sebagai Televisi daerah, TVRi Riau memiliki visi : member indormasi serta hiburan bagi masyarakat, menjalin kerja sama yang baik dengan mitra kerjanya, membentuk lingkungan kerja yang sehat, harmonis dan professional. Dan juga menjadi media komunikasi bagi kepentingan masyarakat.
2. Misi TVRI Riau
Sementara itu misi yang diembani TVRI Riau adalah : meyediakan layanan bagi pengetahuan umum berupa berita yang bermutu memadai dan mendidik bagi pemenuhan pengetahuan hidup orang banyak serta aktif, melaksakan dan menunjang pelaksanaan pembangunan.
3. Tujuan TVRI Riau
Keberaadaan TVRI Riau bertujuan memberitahukan kepada masyarakat tentang kejadian-kejadian yang berlaku dan berlangsung di Propinsi Riau umumnya dan Pekanbaru khususnya melalui program berita Riau dan program yang lain yang berisikan berita dan informasi.
C. MENGENAL PERANGKAT OPERASIONAL
Secara organisasi keberadaan TVRI sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah, susunan organiasi TVRI adalah sebagai berikut :
1. Kepala Stasiun
TVRI sebagai lembaga penyiaran publik yang mempunyai motto TV publik yang mengakar pada budaya bangsa dipimpin oleh seorang kepala stasiun atau sering disebut Kepsta, dan diLPP TVRI Riau ini sendrir terdiri dari beberapa bagian lainnya :
2. Bagian Pemberitaan
Pada bagian pemberitaan dipimpin oleh seorang kepala seksi pemberitaan yang mana dalam proses kerjanya nanti dibantu oleh beberapa seksi lainnya yang termasuk pada bagian peberitaan itu sendiri.
3. Bagian Teknik
Bagian teknik dipimpin oleh seorang kepala bagian Teknik, yamgnana kepala seksi inimebawahi beberapa orang kepala subseksi diantaranya :
a. Kepala subseksi teknik.
b. Kepala subseksi fasilitas transmisi. c. Kepala subseksi sarana transmisi. 4. Bagian Program dan Pengembangan Usaha
Pada bagian ini dikepalai oleh seorang kepala seksi program dan pengembangan usaha, yang mana kepala seksi program dan pengembangan usaha inijuga membawahai dua kepa subseksi lagi diantaranya adalah :
a. Kepala subseksi program
b. Kepala subseksi pengembangan usaha 5. Bagian Umum dan Sumber Daya Manusia
Bagian umum dan sumber daya manusia dipimpin oleh seorang kepala bagian umum dan sumber daya manusia itu sendiri yang nantinua dibantu oleh bebrapa karyawan termasuk dalam bagian ini.
6. Bagian Keuangan
Bagian ini dipimpin oleh seorang kepala sub bagian keuangan.
Warta riau sebagai program berita pada LPP TVRI yang menyajikan informasi masyarakat berawal pada tahun 1998 yang hanya memnyiarkan berita dari medan, Palembang dan lain - lain dan warta riau belum bersiaran tetapi seluruh berita yang didapat diwilayah diriau dikirim kejakarta dan disiarkan dijakarta sehingga pada saat itu pembagian kru pemberitaan berada pada teknik bagian teknik yang ditugaskan sebagai peliput berita dan pada tahun 2007 penetatapan kru pemberitaan sebanyak 4 kameraman dan 6
reporter yang berada langsung pada bagian pemberitaan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warta riau dalam menyediakan berita kepada masyarakat dikarena pentingnya penambahan kuantitas berita warta riau yang diawali dari penambahan kru pemberitaan sehingga seiring perjalanan waktu dan dituntut untuk slalu menghadirkan yang terbaik bagi masyarakat, sehingga saat ini kru pemberitaan wrta riau untuk LPP TVRI RIAU dan KEPULAUAN berjumlah 17 orang pada masing- masing bagian untuk menyukseskan warta riau sebagai program yang menyajikan informasi kepada masyarakt riau dan kepulauan.
Warta riau sebagai program berita yang menyajikan berita diLPP TVRI riau dari pukul 17:00 wib hingga pukul 18:00 wib yang terbagi dalam empat sesi dan dibatasi oleh tiga iklan setiap harinya untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat pekanbaru dan sukseskan oleh tiga orang editor, dan enam orang reporter dan enam kameraman, serta tiga pengoreksi naskah yang berganti tugas setiap minggunya.
BAB IV ANALISA DATA
A. PERAN EDITOR DALAM PROGRAM WARTA RIAU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK STASIUN TVRI RIAU
Sebagai media informasi televisi memliki kekuatan ampuh untuk menyampaikan pesan karena media ini dapat menghadirkan pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri dalam jangkauan yang luas dalam waktu bersamaan. Penyampaian isi pesan seolah-olah berlangsung saat itu pula (live) antara komunikator dan komunikan (Sony Set, 2008:30).
Oleh karena itu bila informasi dari media di dunia tidak terkontrol maka akan mengakibatkan efek yang besar dalam segi negatif dan positif, contohnya penjajahan negara dalam hal informasi.
Maka dari itu perlu adanya penyaringan dan penyusunan informasi seutuhnya, agar tidak terjadinya kesalahpahaman dalam penyampaian informasi kepada masyarakat dengan cara pemberian prinsip –prinsip yang dapat memelihara kronologis dan tata cara penyajian yang baik dan benar.
PERAN EDITOR DALAM MENDUKUNG PROGRAM WARTA RIAU DI LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK STASIUN TVRI RIAU sebagi berikut:
Mempersiapkan dan mengecek peralatan editing yang akan dipergunakan sebagi berikut:
1. Apakah editor melakukan pengecekan: a. Cpu
pengecekan cpu itu fardu ain hukumnya karena menggunakan cpu inilah proses editing dilakukan(wide,12 april 2012,di kantor lpp Tvri durian).
pengecekan wajib yang harus dilakukan editor untuk mengurangi hambatan saat bekerja(produser, 12 april 2012, di kantor lpp Tvri rumbai)
pngecekan cpu (central procecor unit ) sangatlah penting dikarenakan perangkat keras ini berfungsi sebagai media utama dalam proses pengerjaan proses editing pada pasca produksi dalam pembuatan siaran pada dunia pentyiaran (pengamat televisi,budi utarso (pengajar grammer editing di pusdiklat TVRI pusat), 17 april 2012, lpp tvri pusat jakarta).
Dari wawancara yang dilakukan dengan salah satu editor LPP TVRI (bayu) melakukan Pengecekan sebelum melakukan editing, ini kami lakukan berguna menyegarkan (refres), dan menyediakan folder untuk berita hari ini yang scara penyusunan data berita adalah prosedur wajib agar data yang tersimpan rapih dan sistematis sehingga ketika atasan memerlukan laporan atau komplen berita dari masyarakat tentang berita kami, kami mempunyai bukti kongkrit akan hal tersebut
sehingga tidak terjadi kesalah pahaman antara kami ( pemberitaan LPP TVRI ) dengan pihak yang bersangkutan.
Dari wawancara yang dilakukan dengan salah satu editor pemberitaan LPP TVRI ( sumanan ), di kantor lpp Tvri durian, 13 april 2012, kami melakukannya untuk mengurangi segala resiko buruk yang tidak kami inginkan
Menurut penulis, pengecekan alat yang akan dipergunakan menjadi salah satu tindakan yang cukup penting dikarenakan efisiensi waktu saat bekerja yang tidak memperbolehkan waktu yang terbuang untuk hal yang dianggap kurang peting. Terutama untuk cpu (central procecor unit ) yang menjadi media utama untuk melakukan proses editing.
b. Layar monitor.
pada layar monitor kami melakukan pengecekan dan untuk memastikan scara komputerisasi kami menggunakan setingan custom pada layar monitor kami(wide,12 april 2012, di kantor lpp Tvri durian)
kami mengecek layar monito pralatan editing ini kami lakukan agar tidak terjadi prubahan warna atau kecerahan (bright) dalam gambar sehingga ketika pemancar memancarkan berita pada standart yang telah ditentukan, sehingga tidak adanya jenjang gambar antara berita satu dengan yang lain ataupun berita hari ini terhadap berita kemarin.(bayu, 14 april 2012, di kantor lpp Tvri durian)
Karena ini adalah media audio visual maka hal ini wajib dilakukan untuk menjaga tampilan pada posisi tetap / standart (pengamat televisi,budi utarso(pengajar grammer editing di pusdiklat TVRI pusat), 17 april 2012, lpp tvri pusat jakarta)
Dari wawancara yang dilakukan dengan salah satu editor pemeberitaan LPP TVRI(sumanan),di kantor lpp Tvri durian, 13 april 2012, Pengecekan layar monitor, itu wajib dilakukan untuk mempertahankan kualitas gambar yang kami buat diantara berita – berita yang lain,
Mempersiapkan materi shooting ( bahan mentah audio visual)? Hal tesebut wajib dilakukan untuk melihat hail dari kameraman dilapangan yang berguna sebagai daftr pilihn gambar yang akan dibuang atau diambil(produser, 12 april 2012, di kantor lpp Tvri rumbai)
Layar monitor berfungsi sebagai mata dalam pengerjaan editing dan layar juga sangat berperan dalam hal penyusunan dan koreksi warna bersetandar penyiaran dikarenakan media televisi ini adalah media massa elektronk yang terdiri dari perpaduan gambar dan suara maka sangat penting dalam pengecekan atau pengaturan warna yang diatur pada monitor komputer editing, maka dari itu terkadang layar pada tersambung pada CPU tidak boleh bertukar pasangan dengan CPU ditakutkan dalapat merubah pengaturan warna yang telah
ditetapkan(pengamat televisi,budi utarso(pengajar grammer editing di pusdiklat TVRI pusat), 17 april 2012, lpp tvri pusat jakarta
Menurut penulis monitor / layar memiliki fungsi yang penting karena sebagai wadah untuk melihat dalam evaluasi editing atau pun pada proses editing seperti halnya dalam memnerikan kecerahan pada gambar, memberikan nama pada nara sumber, memberikan sensor pada gambar – gambar pada berita yang tidak layak diberikan kepada masyarakat ( darah, korban asusila, dan lain – lain )
c. dv player.
Alat pendigitalan analog berperan sebagai perubahan data dari analog atau pitakaset kepada format digital, bila memakai proses editing non linier, atau memakai software editing, sehingga menjaga kebersihan optik dv player merupakan prosedur yang harus dilakukan(pengamat).
Perawatan dv player / capturing player, dilakukan pembersihan optik jika optik memerlukan saja dikarenakan jika dibersihkan satu mingu sekali atau dua minggu sekali, maka optik akan cepat habis dan memerlukan pergantian optik lebih cepat dar biasanya ( menurut salah satu pemberitaan editor LPP TVRI di kantor lpp Tvri durian, 12 april 2012, wide)
Mengapture menggunakan kamera sehingga kami melakukan perawatan optik hanya disetiap optik memerlukan pembersihan karena
optik termasuk dalam komponen penting dan mahal sehigga kami harus merawatnya dengan baik(sumanan. 13 april 2012, di kantor lpp Tvri durian).
Untuk alat capturing player, perawatan dilakukan menggunakan kaset pembersih jadi prosedur ini wajib dilakukan (menurut produser pemberitaan LPP TVRI ) kami melakukan pengecekan alat capture lagsung pada kamera sehingga kami melakukan perawatan optik capture hanya ketika terjadi masalah ( optik kotor ) dengan cara membersihkannya menggunakan kaset pembersih optik capture (cleaner)(bayu)
Menurut penulis kegiatan pemeriksaan alat capturing player ini dilakukan dengan menggunakan kaset pembersih dan dilakukan jika optik memerlukan saja dikarenakan harga optik yang cukup mahal dan sehingga optik menjadi salah satu komponen rentan dan cukup dijaga fungsinya agar dapat memperpanjang umur dv player.
d. Mic Dubbing
untuk dubbing kami merawatnya dengan baik sehingga mic kami tidak terlalu perhatikan, tetapi tetap kami jaga kondisinya (sumanan, 13 april 2012, di kantor lpp Tvri durian)
pengecekan mic wajib dilakukan dikarenakan berita kita memiliki suara yang didubbing untuk menyampaikan pesan scara singkat,padat, dan jelas ( menurut produsen pemberitaan LPP TVRI,12 april 2012, di kantor lpp Tvri rumbai ).
Kami melakukan pengecekan mic dubbing ketika perekaman akan dilakukan dikarenakan kami berada pada bagian pemberitaan yaitu pada bidang yang dituntut pada kecepat waktu sehingga terkadang kami tidak bisa melakukuan pengecekan scara berkala( menurut salah satu editor pemberitaan LPP TVRI,dii kantor lpp Tvri durian, 12 april 2012 wide)
Suara adalah salah faktor yag berperan dalam ppenayangan siaran dikarenakan televisi merupakan gabungan dari gambar dan suara, da juga suara sangatlah penting dalam pemberiatan infrmasi pada siaran tersebut, terutama pada siaran berita yang memiliki sifat singkat, padat, dan jelas sehingga wawancara atau pun narasi merupakan penuntun alur informasi yang disajikan(pengamat televisi,budi utarso(pengajar grammer editing di pusdiklat TVRI pusat), 17 april 2012, lpp tvri pusat jakarta).
Menurut penulis, mic adalah salah satu alat yang cukup penting bagi narator, dikarenakan narasi yang diciptakan oleh narator sangat penting dalam penyajian informasi yang berguna sebagai penuntun dalam pemberian informasi kepada masyarakat.
Hal tersebut pastinya biasanya kami melakukan pengecekannya bersamaan ketika capturing sedang dilakukan.( menurut alah satu editor pemeritaan LPP TVRI, di kantor lpp Tvri durian, 12 april 2012,wide)
Ya kami melakukan pengecekan bahan mentah ketika pendigitalisasian gambar ke komputer(sumanan, 13 april 2012, kantor lpp Tvri durian)
editor mempelajari dan mendiskusikan naskah atau alur cerita dengan sutradar (reporter)? Seharusnya ini dilakukkan karena hal ini untuk menyamakan benang merah karena reporter disini bertugas sebagai otak dalam penarikan benang merah terhadap suatu berita(produser, 12 april 2012, di kantor lpp Tvri rumbai)
Editor sebagai pelaku proses pasca produksi memiliki posisi emas yang menentukan baik atau buruk tampilan yang akan diberikan , dan bahan mentah merupakan bahan dasar yang akan diolah maka dari itu pengecekan bahan mentah ini memiliki kekuatan dalam pembangunan alur informasi dikarenakan editor dapat mempertimbangkan scara khayal posisi-posisi dan teknik penyusunan yang baik, sehingga dapat menghasilkan hasil editing yang baik dan benar(pengamat televisi,budi utarso(pengajar grammer editing di pusdiklat TVRI pusat), 17 april 2012, lpp tvri pusat jakarta).
Ya kami melakukan pengecekan bahan mentah ketika pendigitalisasian gambar ke komputer ( capture) karna bahan mentah ini penting adanya dikarenakan ini adalah bahan utama dari bagian pekerjaan
kami sebagai editor ( menurut salah satu editor pemberitaan LPP TVRI , 14 april 2012, bayu, di kantor lpp Tvri durian)
Menurut analisa penulis memepersiapkan bahan mentah wajib dilakukan agar editor dapat mengetahui gambar – gambar yang akan diambil, disensor ataupin dibuang dan editor mempunyai gambaran akan materi editing yang akan dilakukan dan membuka pluang besar untuk menghasilkan siaran berita yang sempurna sehingga kualitas siaran berita pada program wartpun semakin membaik.
3. Apakah editor mempelajari dan mendiskusikan naskah atau alur cerita dengan sutradar (reporter)?
Seharusnya ini dilakukkan karena hal ini untuk menyamakan benang merah karena reporter disini bertugas sebagai otak dalam penarikan benang merah terhadap suatu berita ( menurut produser pemberitaan LPP TVRI,di kantor lpp Tvri durian,12 april 2012,wide)
hal itu kami pasti melakukannya untuk menghindari ksalah paham alur cerita (sumanan, 13 april 2012, di kantor lpp Tvri durian)
Menurut salah satu editor (bayu,14 april 2012,di kantor lpp Tvri durian) pemberitaan LPP TVRI mendiskusikan alur cerita dengan sutradar (reporter)? Klw hal itu kami pasti melakukannya untuk menghindari ksalah paham alur cerita
a. Unsur – unsur Gambar.
Sebagai editor, penting adanya mengerti akan alur informasi yang akan diberikan karena ide dan gagasan telah memjadi susunan matang dalam tahapan pra produlsi dan produksi sehingga wajib adanya editor sebagai pelaku trakhir dalam pembuatan siaran ikut berdikusi dalam tahapan pra produksi serta memperhatikan unsur unsur gambar yang mengandung unsur sara, ras dan lan lainnya yang dapat mengakibatkan situasi masyarakat menjadi tidak kondusif (pengamat televisi ,budi utarso, (pengajar grammer editing di pusdiklat TVRI pusat) 17 april 2012, lpp TVRI pusat jakarta).
Menurut analisa penulis pendiskusian antara editor dan reporter dapat menghasilkan efek yang sangat baik, karena alur cerita dan pemilihan gambar yang diinginkan dapat terealisasikan serta saran – saran editor untuk memperkuat alur ceritapun dapat terwujud tnpa mengurangi informai dari sebuah liputan yang baik dan bersahaja menurut norma norma penyiaran yang selaras dengan dunia timur. b. Komposisi Gambar.
Kami tetap memperhatikan itu, karena hal ini termasuk dalam hal yang cukup penting bagi media televisi terutama seperti gambar peresmian yang dilakukan ditengah hari, maka bila gambar yang kami terima terlalu terang, maka kami menurunkan sedikit agar tana tangan peresmian terlihat jelas, karna ini adalah sebuah informasi yang wajib
diketahui masyarakat (menurut salah satu editor pemberitaan LPP TVRI,sumanan, 13 april 2012, di kantor lpp Tvri durian)
Kami lakukan karena pada grammer dan editanpun memerlukannya(wide, 12 april, 2012, di kantor lpp Tvri durian).
Unsur-unsur gambar ini termasuk dalam penguat realita berita kami seperti lokasi , warna, dan kecerahan gambar agar pemirsa mendapatkan informasi yang sebenarnya serta nyaman dalam menikmati sajian berita kami(bayu, 14 april 2012, di kantor lpp Tvri durian).
Menurut produser pemberitaan LPP TVRI, 12 april 2012,di kantor lpp Tvri rumbai, memperhatikan unsur – unsur gambar adaah sesuatu yang wajib dilakukan seperti pencahayaan yang kurang baik didapat dari kamera, editor wajib dalam memperbaikinya.
Sebagai tahapan akhir, maka proses editing menjadi pintu akhir dalam pengerjaan siaran, dan untuk mewujudkan dunia penyiaran yang baik dan benar maka editor wajib melakukan teknik dan penyaringan informasi sesuai dengan kondisi yang ada dikarenaka televisi adalah media massa elektronik yang mempunyai efek besar dalam segala situasi yang ada pada masyarakat(pengamat televisi,budi utarso(pengajar grammer editing di pusdiklat TVRI pusat), 17 april 2012, lpp tvri pusat jakarta).
Menurut analisa penulis unsur – unsur adalah hal yang cukup penting keberadaannya dalam mewujudkan siaran berita yang baik dan
benar menurut ukuran gambar ( cahaya yang minim ataupun yang berlebihan) dan suara (suara yang teralu kecil ataupun yang terlalu besar) maka dari itu hal ini cukup penting.
Menurut salah satu editor pemberitaan LPP TVRI kami mempertahankan komposisi gambar yang didapat dari kameraman, terkadang kami melakukan perbaikan kompisisi gambar jika kami mendapatkan bahan yang belum memenuhi standart komposisi gambar (memperbesar / memperkecil gambar untuk mendapatkan ruang diatas kepala)(bayu, 14 april 2012, di kantor lpp Tvri durian)
Tentunya terkadang kami melakukannya pada saat editing ketika gambar yang telah terambil kurang memenuhi syarat komposisi yang telah ditentukan(wide, 12 april 2012 di kantor lpp Tvri durian).
Komposisi gambar adalah hal yang paling diperhatikan karena standart komposisi gambar yang telah ditentukan memiliki nilai informasi yang cukup tinggi ( menurut salah satu editor pemberitaan LPP TVRI ,sumanan, 13 april 2012, di kantor lpp Tvri durian)
Unsur ini juga wajib dilakukan, untuk memberikan kekuatan komposisi gambar yang menjadi ciri khas LPP TVRI dan mempertahankannya(produser,12 april 2012, di kantor lpp Tvri rumbai)
Komposisi gambar adalah teknik dasar gambar yang telah ditentukan oleh dunia internasional sebagai panduan dalam penyajian