28
ESTIMASI NILAI PEMULIAAN BOBOT SAPIH SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) DI DESA WAWASAN KECAMATAN TANJUNGSARI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Estimation of Breeding Value of Weaning Weight of Ongole Crossbreed in Wawasan Village,
Tanjungsari District South Lampung Regency
Linda Safitri, M. Dima Iqbal Hamdani, Ali Husni, dan Sulastri Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, University of Lampung Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No.1 Gedong Meneng Bandar Lampung 35145
e-mail : [email protected]
ABSTRACT
This study aims to determine the heritability value and breeding value of weaning weight of Ongole crossbreed (PO) cattle in Wawasan Village, Tanjungsari District, South Lampung Regency. The study was conducted in Wawasan Village Tanjungsari District South Lampung Regency on May 2018 to August 2018. The research material consisted of a recording of the birth of the cows, the birth weight of the parents, the weaning weight of the parents, the age of weaning parents, the age of the parents at the time of birth, the weight of the female calves, weaning weight of female calves and weaning age of the parents which gave birth twice in 2015 to 2017. This study uses survey method. Data analysis was done by looking for corrected weaning weights, estimated heritability values, and breeding values of weaning weights in PO cattle in Wawasan Village, Tanjungsari District, South Lampung Regency. Based on the results of the study showed PO cattle in Wawasan Village, Tanjungsari District, South Lampung Regency the average corrected weaning weight of the parents were 98.87±1.79 and the average calf corrected weights were 140.64±38.87; heritability value of weaning weight were 0.40; and the average breeding value were 140.64±15.24. Calculation of breeding values shows that there are 54% of PO cattle that have above-average breeding values.
Keywords: Breeding value, Heritability, Ongole crossbreed, Weaning weight
PENDAHULUAN
Provinsi Lampung merupakan daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan usaha peternakan. Daerah yang berpotensi untuk pengembangan usaha peternakan khususnya usaha sapi potong yaitu Lampung Selatan. Sapi potong yang berpotensi untuk dioptimalkan pengembangannya adalah sapi Peranakan Ongole (PO).
Sapi PO merupakan salah satu sumberdaya genetik (SDG) utama sapi potong lokal yang perlu dilestarikan dan dikembangkan keunggulannya, untuk kepentingan pemuliaan ternak yaitu membentuk bibit unggul sesuai dengan agroekosistemnya (Hardjosubroto, 2004).
Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan membentuk UPT Balai Pembibitan Sapi PO (UPT BPSPO) yang berlokasi di Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Lampung Selatan sebagai pusat pertumbuhan dan kecamatan lainnya sebagai wilayah pengembangan untuk mendukung pelestarian
dan pengembangan keunggulan sapi PO.
Perbaikan genetik ternak dengan menerapkan metode pemuliaan ternak melalui program seleksi dilakukan dalam rangka memertahankan dan pengembagan mutu genetik ternak sekaligus meningkatkan performa genetik keturunannya (Istiqomah, 2010) dan Harris et al. (1984) berpendapat bahwa untuk mengembangkan program pemuliaan diperlukan estimasi parameter seleksi (genetik). Seleksi merupakan suatu istilah yang digunakan dalam memilih ternak- ternak yang secara genetik memiliki mutu yang baik untuk dipakai sebagai tetua pada generasi berikutnya dan mengeluarkan ternak-ternak yang dianggap kurang baik untuk tidak dikembangbiakkan lebih lanjut (Hardjosubroto, 1994). Parameter genetik seperti heritabilitas dan nilai pemuliaan dapat digunakan dalam melakukan seleksi ternak dapat.
Nilai heritabilitas di bidang pemuliaan ternak memunyai peranan penting karena nilai heritabilitas memberikan informasi besarnya nilai suatu sifat
29
diturunkan tetua kepada keturunannya (Hardjosubroto, 1994). Sedangkan nilai pemuliaan memberikan gambaran tentang dugaan kemampuan mewariskan sifat (Hardjosubroto 1994; Warwick et al. 1990).
Nilai pemuliaan ternak tetua sangat menentukan nilai pemuliaan dan performans anaknya, oleh karenanya nilai pemuliaan dapat menjadi dasar dalam melakukan seleksi dengan memilih ternak yang nilai pemuliaannya paling tinggi untuk dijadikan tetua (Bourdon, 1997). Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian untuk melakukan estimasi nilai pemuliaan bobot sapih sapi PO di Desa Wawasan, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan.
MATERI DAN METODE Materi
Materi penelitian terdiri dari rekording sapi PO yang meliputi bobot lahir induk, bobot sapih induk,umur sapih induk, umur induk pada waktu melahirkan, bobot lahir pedet betina, bobot sapih pedet betina, dan umur penyapihan dari induk-induk yang melahirkan pedet mulai 2015 sampai dengan 2017.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode survei. Data yang digunakan berupa data primer yang diperoleh dari peternak melalui kuesioner dan data sekunder yaitu berupa rekording. sapi milik peternak. Jumlah sampel data primer yang digunakan yaitu sebanyak 53 dan data sekunder yang digunakan sebanyak 87. Peubah yang diamati terdiri dari umur induk pada saat melahirkan, bobot lahir pedet, umur sapih pedet dan bobot sapih.
Peubah yang diamati 1. Bobot sapih terkoreksi
Bobot sapih yang diperoleh terlebih dahulu dikoreksi dengan rumus sesuai rekomendasi Hardjosubroto (1994), sebagai berikut:
BB205 = [BB−BLumur] × 205 + BL ×(FKUI) Keterangan:
BB205 = Bobot sapih terkoreksi umur 205 hari
BB = Bobot badan saat ditimbang waktu penyapihan (kg)
BL = Bobot lahir (kg)
Umur = Umur pada saat penyapihan (hari) FKUI = Faktor koreksi umur induk 2. Heritabilitas
Heritabilitas diestimasi dengan metode regresi anak terhadap tetua sesuai rekomendasi Backer (1992) sebagai berikut:
a. Rumus untuk menghitungx2 , y2, dan xyKinerja tetua diberi lambang huruf X, kinerja anak diberi lambang huruf Y, huruf x dan y merupakan lambang untuk data kinerja tetua dan anak yang sudah dihitung dengan memasukkan faktor koreksi.
−
− =
=
n ) X X (
FK X x
2 2 2
2
−
− =
=
n ) Y Y (
FK Y y
2 2 2
2
−
− =
=
n ) Y )(
X XY ( FK
XY xy
Keterangan:
X = data kinerja tetua Y = data kinerja anak FK = faktor koreksi
N = jumlah individu yang data kinerjanya digunakan untuk estimasi heritabilitas b. Rumus untuk menghitung covxy adalah:
1 n covxy xy
−
c. Rumus untuk koefisien regresi (b) anak terhadap tetua adalah:
=
= 2 2
x xy
x cov xy
b
d. Rumus untuk heritabilitas (h2) dengan metode regresi anak terhadap tetua adalah:
h2 = 2
cov ) ( 2 )( )
)(
2
(
2 2
=
= x
b xy
x xy
3. Nilai Pemuliaan
Nilai pemuliaan diestimasi dengan metode regresi anak terhadap tetua sesuai rekomendasi Hardjosubroto (1994), sebagai berikut:
NP = h2 (P − P̅) + P̅
30
Keterangan :
NP = Nilai Pemuliaan yang diduga dengan cara pengamatan berulang h² = Heritabilitas
P = Rata-rata performans individu P̅ = Rata-rata performans populasis
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Desa Wawasan Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Lampung Selatan
Desa Wawasan merupakan salah satu Sentra Peternakan Rakyat (SPR) yang merupakan sarana pengembangan dan pembibitan sapi potong yaitu sapi PO.
Ternak sapi banyak dipelihara oleh penduduk Kecamatan Tanjungsari, antara lain sapi PO dan sapi silangan. Populasi sapi pada wilayah tersebut pada tahun 2016 mencapai 2.242 ekor yang terdiri dari Sapi PO 1.819 ekor dan sapi silangan 413 ekor. Populasi Sapi PO diwilayah tersebut paling tinggi dari pada populasi sapi silangan karena Kecamatan Tanjungsari merupakan wilayah sumber bibit atau kawasan pusat pelestarian dan pengembangan Sapi PO.
Desa wawasan termasuk kedalam wilayah administratif Kecamatan Tanjungsari yaitu 103,33 km². Rata-rata ketinggian 50- 100 dpl., dengan batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah barat : berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Bintang;
b. Sebelah utara : berbatasan dengan Kecamatan Jati Agung;
c. sebelah timur : berbatasan dengan Kecamatan Way Karya (Lampung Timur);
d. sebelah selatan : berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Bintang.
Cakupan wilayah Kecamatan Tanjungsari, meliputi 8 (delapan) desa yang terdiri dari : Desa Wawasan, Desa Mulyosari, Desa Sidomukti, Desa Bangunsari, Desa Wonodadi, Desa Purwodadi Dalam dan Desa Malangsari dengan jumlah dusun 53 dusun.
83 RW, 212 RT.
Jarak tempuh Kecamatan Tanjungsari dengan Ibu kota kabupaten (Kalianda) yaitu 90 km dan jarak tempuh ke Ibu kota Provinsi Lampung (Bandar lampung) yaitu 37 km. Dilihat dari sisi penggunaan lahan di wilayah KecamatanTanjungsari, penggunaan lahan untuk budidaya pertanian merupakan penggunaan lahan terbesar yaitu 7471,8 ha,
perkebunan seluas 2627 ha, sedangkan yang termasuk kawasan non pertanian seluas 233 ha; yang penggunaannya antara lain untuk pemukiman dan kolam ikan.
Bobot Sapih Terkoreksi Sapi PO
Bobot sapih atau bobot hidup umur 205 hari merupakan performa yang seringkali digunakan sebagai kriteria seleksi pada sapi.
Bobot sapih merupakan sifat yang dipengaruhi komponen genetik induk (maternalgenetic effect) yaitu pengaruh gen yang memengaruhi kondisi lingkungan pada induk yang pada akhirnya memengaruhi performa individu (Bourdon, 1997).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih terkoreksi (BSt) induk sapi PO sebesar 98,87±1,79 dan rata- rata bobot sapih terkoreksi (BSt) pedet sapi PO sebesar 140,64±38,87(Tabel 1).
Tabel 1. Bobot sapih terkoreksi sapi PO
Uraian Induk Pedet
BSt tertinggi (kg)
102 210,68
BSt terendah (kg)
90 92
Rata-rata BSt (kg)
98,87±1,97 140,64±38,87
Rata-rata bobot sapih terkoreksi (BSt) pedet sapi PO lebih besar dari rata-rata bobot sapih terkoreksi (BSt) induk sapi PO dikarenakan di lokasi penelitian sudah dilakukan seleksi berdasarkan bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh pada saat sapih.
Petugas dinas perkebunan dan peternakan sudah melakukan uji performa secara rutin untuk memilih individu-individu dengan performa kuantitatif lebih tinggi dari rata-rata sehingga seleksi terebut menghasilkan peningkatan performa pada generasi keturunannya. Rata-rata bobot sapih yang tinggi akan menunjukkan kemampuan pedet untuk tumbuh lebih cepat dibandingkan pedet yang memiliki rata-rata bobot sapih terkoreksi rendah sehingga ternak cocok untuk dikembangkan lebih lanjut. Sulastri (2001) berpendapat bahwa seekor induk yang melahirkan anak dengan bobot sapih yang tinggi dapat diduga anak tersebut dimasa yanag akan datang akan melahirkan anak dengan bobot sapih yang tinggi pula.
Bobot sapih terkoreksi hasil penelitian ini lebih tinggi dari pada hasil penelitian Prihandini et al. (2011) yaitu bobot
31
sapih terkoreksi ternak betina sebesar 102,10±12,19. Hal tersebut diduga karena adanya perbedaan umur pedet saat di sapih, umur induk, tahun kelahiran, musim kelahiran, tatalaksana sebelum di sapih, lokasi dan kemungkinan interaksi antara faktor-faktor tersebut ( Prihandini et al., 2011)
Nilai Heritabilitas Bobot Sapih Sapi PO Nilai heritabilitas di bidang pemuliaan ternak memunyai peranan penting karena nilai heritabilitas memberikan informasi besarnya nilai suatu sifat diturunkan tetua kepada keturunannya (Hardjosubroto, 1994). Falconer dan Trudy (1996) berpendapat bahwa besarnya nilai heritabilitas ditentukan oleh keragaman genetik sifat dalam populasi karena heritabilitas merupakan bagian dari keragaman fenotipik yang disebabkan oleh keragaman genetik suatu ternak.
Nilai heritabilitas bobot sapih sapi PO di lokasi peneltian sebesar 0,40 termasuk dalam kategori tinggi. Kategori ini sesuasi dengan pendapat Hardjosubroto (1994) yang berpendapat bahwa nilai heritabilitas dikatakan rendah apabila bernilai kurang dari 0,10, sedang jika nilainya antara 0,10-0,30 dan tinggi jika lebih dari 0,30. Warwicak et al. (1990) berpendapat bahwa nilai heritabilitas suatu sifat mencerminkan keragaman fenotip antar individu dalam populasi yang disebabkan oleh faktor genetik.
Nilai heritabilitas bobot sapih sapi PO ini lebih besar dari nilai heritabilitas bobot sapih sapi Limmousinehasil penelitian Niekerk (2006) yaitu sebesar 0,19, lebih besar dari bobot sapih sapi Bali hasil penelitian Gunawan & Jakaria (2011) sebesar 0,33 dan juga lebih besar dari bobot sapih sapi Charolais hasil penelitian Utrera et al
.
(2010) sebesar0,23, namun nilai heritabilitas bobot sapih sapi PO ini lebih rendah dari nilai heretabilitas bobot sapih sapi Bali hasil penelitian Kuswati et al. (2013) yaitu sebesar 0,51 dan juga lebih rendah dari nilai heritabilitas bobot sapih sapi Charolais hasil penelitian Rabeya et al. (2009) sebesar 0,47.
Hal ini diduga karena adanya perbedaan kemampuan dalam mewariskan keragaman genetik kepada keturunannya karena Pirchner (1995) berpendapat bahwa heritabilitas sangat bermanfaat dalam pemuliaan ternak karena menunjukkan bagian dari keragaman genetik yang dapat diwariskan kepada keterunannya.
Nilai heritabilitas suatu sifat akan bervariasi antar populasi. Perbedaan variasi tersebut dapat disebabkan oleh perbedaanfaktor genetik (ragam genetik), perbedaan lingkungan (ragam lingkungan), metode dan jumlah cuplikan data yang digunakan. Selain itu juga dipengaruhi oleh waktu generasi seleksi (Hardjosubroto, 1994). Waktu perhitungan dan populasi yang berbeda, akan menyebabkan perbedaan nilai heritabilitas yang diperoleh karena terjadi perubahan komposisi ternak dan ragam genetik yang terdapat di dalam populasi.
Manajemen pengelolaan juga memengaruhi nilai heritabilitas (Warwick et al.,1990;
Hardjosubroto, 1994).
Nilai Pemuliaan Bobot Sapih Sapi PO Nilai pemuliaan atau breeding value (BV) merupakan penilaian dari mutu genetis ternak untuk suatu sifat tertentu yang diberikan secara relatif atas dasar kedudukannya didalam populasi ( Hardjosubroto, 1994). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pemulian bobot sapih sapi PO di Desa Wawasan Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Lampung Selatan 140,64±15,24 (Tabel 2) rata-rata nilai pemuliaan tersebut diduga disebabkan oleh tingginya nilai heritabilitas dan kemampuan dalam mewariskan sifat.
Nilai pemuliaan tertinggi hasil penelitian ini lebih tinggi dari pada nilai pemuliaan sapi PO hasil penelitian Prihandini et al. (2011) yaitu sebesar 7,55. Hal tersebut diduga karena adanya perbedaan bobot sapih, umur sapih, dan kemampuan tetua untuk mewariskan potensi genetik kepada keturunannya.
Tabel 2. Nilai pemuliaan bobot sapih sapi PO
Uraian Sapi PO
Nilai pemuliaan tertinggi (kg) 168,41 Nilai Pemuliaan terendah (kg) 121,20 Rata-rata nilai pemuliaan (kg) 140,64
Standar deviasi 15,24
Jumlah sampel (ekor) 87
Jumlah sampel di atas rata-rata
(ekor) 47
Nilai pemuliaan dari 87 ekor sapi PO yang dievaluasi, diperoleh estimasi nilai pemuliaan bobot sapih yang positif (diatas rata-rata kelompok ) sebesar 54% (47 ekor).
Sapi PO yang memiliki nilai pemuliaan diatas rata-rata perlu dipertahankan karena semakin
32
tinggi nilai pemuliaan suatu ternak maka semakin unggul pula ternak tersebut dan nantinya juga dapat menghasilkan keturunan yang unggul. Dakhlan dan Sulastri (2002) berpendapat bahwa individu dengan nilai pemuliaan yang tinggi akan menunjukkan kemampuan yang tinggi untuk mewariskan potensi genetiknya kepada keturunannya dan mengulang produksinya.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilaukan dapat disimpulkan bahwa nilai heritabilitas sapi PO di Desa Wawasan Kecamatan Tanjungsari sebesar 0,40 (kategori tinggi
)
dan rata-rata nilai pemuliaan sapi PO di Desa Wawasan Kecamatan Tanjungsari sebesar 140,64±15,24. Terdapat 5 ekor sapi dengan nilai pemuliaan tertinggi dengan nomor eartag 4462, 3051, 4772, 2493, dan 2211.Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada peternak untuk dapat mempertahankan sapi dengan nilai pemuliaan yang tinggi untuk menghasilkan bobot sapih sapi PO yang tinggi serta melakukan culling pada sapi dengan nilai pemuliaan rendah dan menggantikan dengan sapi-sapi yang memmunyai genetik yang baik yaitu dengan cara membeli sapi yang memunyai rekording agar dapat diketahui mutu genetiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Becker, W. A. 1992. Manual of Quantitative Genetics. 5𝑡ℎ Edition. Academic Enterprises. Yogyakarta
Bourdon, R. M. 1997. Understanding Animal Breeding. Prentice Hall, Inc. New Jersey
Dakhlan, A. dan Sulastri. 2002. Ilmu Pemuliaan Ternak. Buku Ajar.
Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
Bandar Lampung
Falconer, R. D. and T. F. C. Mackay. 1996.
Introduction to Quantitative Genetics. Logman, Malaysia Gunawan, A. & Jakaria. 2011. Genetic and
non-genetic effect on birth,
weaning and yearling weight in Bali cattle. Indon. J.
Anim. Sci. 34: 93--98
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT Grasindo. Jakarta
. 2004. Alternatif kebijakan pengelolaan berkelanjutan sumberdaya genetika sapi potong lokal dalam sistem perbibitan ternak nasional:
Wartazoa 14: 93--97
Harris, B.L., J.M. Clark, and R.G. Jackson., 1984. Across Breed Evaluation of Dairy Cattle. In: Proceedings of the New Zealand Society of Animal Production. New Zealand Society of Animal Production, Waikato University, pp. 12--15 Istiqomah, L. 2010. Kemajuan genetik sapi
lokal berdasarkan seleksi dan perkawinan terpilih. Widyariset.
13:63--67
Kuswati, Sumadi, dan N. Ngadiyono. 2013.
Estimasi nilai heritabilitas berat lahir, sapih, dan umur satu tahun pada sapi bali di balai pembibitan ternak unggul sapi bali. Buletin Peternakan. 37: 74--78
Niekerk, M. & F.W.C. Neser. 2006. Genetic parameters for growth traits in South African Limmousine cattle.
S. Afr. J.
Anim. Sci. 36: 6--9
Pirchner, F. 1995. Population Genetics in Animal Breeding. W. H. Freeman and Company. San Francisco Prihandini, P. W., L. Hakim, dan V. M. A.
Nurgiartiningsih. 2011. Seleksi pejantan berdasarkan nilai pemuliaan pada sapi PO di Loka Penelitian Sapi Potong. J. Ternak Trop. 13 : 9--18
Rabeya, T, A.K.F.H. Bhuiyan, M.A. Habib,
& M.S. Hossain. 2009. Phenotypic and genetic parameters for growth traits in Red Chittagong cattle.
Bang .J. Agric.
Univ. 7: 265--271
Sulastri. 2001. Estimasi nilai ripitabilitas dan MPPA (Most Probable Producing Abilty) induk kambing Peranakan Etawa di Unit Pelaksanaan Teknis Ternak Singosari, Malang Jawa Timur.
Jurnal Ilmiah Sains Teks. 8
33
Utrera, A.R., V.E.V. Murillo, G.M.
Velazquez, & M.M. Bermudez.
2010. Estimation of genetic effects for growth traits of Mexican Charolais cattle using alternative models. Livest. Prod. Sci. 60: 203- -208
Warwick, E. J., Astuti, J. M., dan Hardjosubroto, W. 1990.
Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta