BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia dalam kehidupan sehari-hari, tidak terlepas dari proses hubungan timbal balik yang dilakukan oleh individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, antara kelompok dengan individu, antara kelompok dengan kelompok dalam kehidupan sosial yang biasa disebut interaksi.
Interaksi sosial maka individu akan termotivasi untuk melakukan komunikasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya sebagai makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok dan berhubungan dengan manusia lainnya, ini sesuai dengan fungsi komunikasi yakni menginformasikan (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to entertain), dan mempengaruhi (to influence). Sehingga
komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat untuk mengatur tatakrama pergaulan antarmanusia, sebab berkomunikasi dengan baik akan memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat.1
Terdapat suatu sistem dalam kehidupan bermasyarakat yang mengatur tentang tata cara manusia bergaul yang biasa kita kenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain. Tata cara pergaulan bertujuan untuk menjaga kepentingan komunikator dengan komunikan agar merasa
1 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), 3.
1
senang, tentram, terlindungi tanpa ada pihak yang dirugikan kepentingannya dan perbuatan yang dilakukan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku serta tidak bertentangan dengan hak asasi manusia secara umum. Tata cara pergaulan, aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam bermasyarakat dan menentukan nilai baik dan nilai tidak baik, dinamakan etika. Kedudukan etika memainkan peran baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Dewasa ini terlihat gejala-gejala kemerosotan etika, dimana secara pasti sulit untuk mendefenisikan faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebabnya.
Namun, tak dapat pula dikesampingkan bahwa faktor-faktor kemajuan teknologi dan ekonomi berperan di dalamnya.2 Peradaban modern dipenuhi berbagai lompatan teknologi informasi dan komunikasi tidak serta-merta menjadikan berbagai bentuk komunikasi mengalami perubahan nilai yang beriringan atau selalu berstandar pada orientasi etika yang berdimensi ilahiyah.
Adapun kerap kali terjadi justru bahwa perkembangan peradaban manusia yang makin maju diikuti dengan kemerosotan moral dan perilaku komunikasi yang serba manipulatif sehingga pegangan etika sulit diterapkan.
Mahasiswa merupakan kumpulan individu yang sedang dipersiapkan pikiran, keahlian, mental, dan moralnya untuk terjun mandiri ke dunia profesi dan masyarakat. Perguruan tinggi sebagai tempat persiapan atau pembelajaran diharapkan mampu mewujudkan tujuan tersebut, salah satunya dengan membekali teknis dan penanaman etika. Salah satu upaya untuk memperluas cakrawala yang meliputi wawasan, pengetahuan dan pergaulan mahasiswa
2 Yatimin Abdullah, Pengantar Studi Etika (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2006), 3.
adalah dengan banyak mengenal orang karena dengan banyak mengenal orang kita akan sering bertukar informasi dan pengetahuan. Seiring dengan bertambahnya informasi, bertambah luas pula cara berpikir. Terlebih lagi dalam kehidupan yang serba modern seperti sekarang ini, orang-orang yang bisa dijadikan sebagai teman bicara dan pertukaran pengetahuan dan informasi ini tidak harus berasal dari teman sejenis saja tetapi juga berasal dari lawan jenis sehingga hal ini mau tidak mau pergaulan antar lawan jenis adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dibantah lagi.
Laki-laki dahulu mempunyai sifat terpisah sekarang bergaul begitu akrab kendati di tempat umum. Culture mahasiswa IAIN Jember dalam menjalin komunikasi dengan lawan jenis akrab sekali, ini terlihat dari hasil observasi peneliti. Hal ini seolah-olah menjadi trend dikalangan mahasiswa.
Bahkan beberapa dari mereka yang bukan muhrim tidak segan-segan untuk berduaan di tempat gelap di area kampus pada malam hari. Sekat-sekat pembatas tebal yang berupa norma atau aturan pada masa dahulu sangat ketat semakin lama semakin menipis dan hampir tidak ada lagi. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan lambat laun sudah tidak menyisakan batas lagi. Laki- laki sudah begitu intim bicara pada perempuan. Jalan bersama, berduaan sambil foto selfi dengan berdempet pipi bersama lawan jenis seakan menjadi hal yang lumrah. Sementara di pihak lain wanita yang menjadi rekan laki-laki pun tidak menampik interaksi yang akrab dengan laki-laki, baik itu dalam bentuk berjabat tangan, memandang muka, bergaul tanpa batas sama sekali walaupun itu bukan muhrim. Interaksi antara laki-laki dengan perempuan
selama masih berjalan dalam rel yang positif dan tidak menjurus pada perbuatan maksiat kepada Allah tidaklah dilarang. Tetapi apabila tindakan pergaulan akrab itu dapat mengantarkan pada perbuatan maksiat kepada Allah itu tidak diabsahkan dalam Islam. Kaitannya dengan interaksi laki-laki dan perempuan, Islam telah megatur sejumlah etika dan rambu-rambu yang meski dipatuhi dalam etika interaksi laki-laki dengan perempuan.3 Kaidah hukum Islam ada aturan bahwa segala sesuatu yang dapat mengantarkan pada perbuatan buruk atau haram maka haram pula hukumnya, karenanya dalam al- Qur’an dikatakan:
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S. al- Isra’:32)4.
Pemilihan judul skripsi interaksi mahasiswa dalam menjalin komunikasi antarpribadi dengan lawan jenis, bukanlah tanpa dasar, sebelumnya peneliti telah melakukan observasi terhadap mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jember yang melakukan komunikasi antarpribadi dengan lawan jenis, peneliti mendapati mereka sangat dekat dan akrab sekali, mulai dari belajar bersama atau diskusi mata kuliah sehingga akhirnya sampai pada tahap bersentuhan atau
3 M. Salamullah Alaika, Menyempurnakan Akhlak: Etika Hidup Sehari-hari Pribadi Muslim (Yogyakarta: Cahaya Hikmah, 2003), 150.
4 Al-Qur’an, 17:32.
meraba paha secara bergantian. Ini menggugah peneliti untuk lebih tahu bagaimana interaksi atau komunikasi antarpribadi yang mereka bangun.
Urgensi penelitian ini tak lain adalah karena peneliti melihat berbagai hal yang layak dijadikan pertimbangan: pertama, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember adalah kampus yang berbasis Islami bahkan hal ini terlihat juga dari jargonnya “Religius, Profesional dan Intelektual”, hal ini apakah sudah sesuai dengan representasi komunikasi antarpribadi mahasiswanya. Kedua, menilik dari misi pokok STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Jember yang telah beralih menjadi IAIN Jember, misinya sangat luhur, dua di antaranya adalah: (1) mengantarkan mahasiswa memiliki kemantapan akidah dan kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu dan kematangan profesional; (2) memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa, khususnya dalam kaitan dengan upaya memperkuat landasan spiritual, moral dan etika pembangunan5. Dengan misi tersebut sudahkah tertanam dan terealisasi dalam kehidupan mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jember.
B. Fokus penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka fokus penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Bagaimana interaksi mahasiswa IAIN Jember dalam menjalin komunikasi dengan lawan jenis?
2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat degradasi etika dan moral mahasiswa IAIN Jember dalam berinteraksi dengan lawan jenis?
5 STAIN Jember, Pedoman Pendidikan S-1 (Jember: STAIN Jember Press, 2011), 9.
C. Tujuan penelitian
Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan dari peneliti ini adalah:
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui interaksi mahasiswa dalam berkomunikasi dengan lawan jenis dan mengetahui tingkat degradasi moral mahasiswa dalam menjalin komunikasi dengan lawan jenis di IAIN Jember
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan komunikasi antarpribadi mahasiswa IAIN Jember dalam berkomunikasi dengan lawan jenis.
b. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan etika dan moral mahasiswa IAIN Jember dalam berkomunikasi dengan lawan jenis.
c. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat degradasi etika dan moral mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jember dalam berkomunikasi dengan lawan jenis.
D. Manfaat penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah dan tujuan penelitian diatas, diharapkan penelitian ini mempunyai dua manfaat (nilai guna) yang sangat besar pengaruhnya baik secara teoritis dan makna praktis.
1. Manfaat teoritis
Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan pemahaman tentang komunikasi antarpribadi serta dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang luas tentang etika dan moral. Dan hasil dari penelitian ini
dapat dijadikan acuan dan masukan terkait etika dan moral mahasiswa dalam menjalin komunikasi dengan lawan jenis.
2. Manfaat praktis
Penetilitan ini diharapkan memberikan manfaat kepada peneliti secara pribadi, maupun seluruh pihak yang bersangkutan dalam mengembangkan penelitian di bidang komunikasi.
a. Bagi peneliti
1) Dapat menambah pengalaman, pengetahuan dan wawasan tentang segala hal yang berkaitan dengan interaksi mahasiswa IAIN Jember dalam menjalin komunikasi dengan lawan jenis.
2) Sebagai bahan informasi sekaligus bahan pertimbangan bagi peneliti dalam menyikapi interaksi mahasiswa IAIN Jember dalam menjalin komunikasi dengan lawan jenis
b. Bagi lembaga
1) Memberikan konstribusi keilmuan dalam bidang komunikasi.
2) Bagi IAIN Jember, dapat dijadikan sebagai bahan kajian untuk melengkapi kepustakaan serta sebagai bahan dokumentasi.
3) Diharapkan dapat memperbaiki etika dan moral mahasiswa ketika berkomunikasi terutama dalam menjalin komunikasi antar pribadi dengan lawan jenis, serta menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya
c. Bagi masyarakat
Penelitian ini juga diharapkan memberikan pengetahuan dan pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya etika dan moral dalam berkomunikasi.
E. Definisi istilah
Beberapa istilah penting yang menjadi titik perhatian dalam penelitian ini adalah
1. Interaksi
Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan6. Dalam penelitian ini membahas tentang interaksi mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jember dalam melakukan komunikasi antarpribadi.
2. Etika
Menurut bahasa (etimologi) istilah etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang berarti adat istidat (kebiasaan), perasaan batin, kecendrungan hati untuk melakukan perbuatan. Etika juga mengajarkan tentang keluhuran budi baik buruk. Banyak istilah yang menyangkut etika, dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, yaitu tempat tinggal yang biasa, kandang kebiasaan, adat, watak, perasaan, sikap cara berpikir.
6 Wikipedia, “interaksi”, https://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi, (16 Juni 2015)
Dalam bentuk jamak kata ta-etha artinya kebiasaan. Arti, ini menjadi bentuk dalam penjelasan etika yang Aristoteles sudah dipakai untuk menunjukkan istilah etika. Jadi, jika dibatasi asal-usul kata ini, etika berarti ilmu tentang apa yang bisa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.7 Menurut Burhanuddin Salam8, istilah etika berasal dari kata Latin: Ethic (us), dalam bahasa Gerik: Ethikos = a body of moral prinsiples or values. Ethic = arti sebenarnya ialah kebiasaan, habit,
custom. Jadi dalam pengertian aslinya, apa yang disebut baik itu ialah yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat (dewasa itu). Lambat laun pengertian etika itu berubah, seperti pengertian sekarang: Etika ialah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat.
3. Moral
Kata etika identik dengan moral yang berasal dari bahasa latin mos yang bentuk jamaknya mores yang berarti adat atau cara hidup. Dengan demikian etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada perbedaanya. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk sistem pengkajian nilai-nilai yang ada. Moral lebih cenderung terhadap hal-hal yang bersifat praktis, sedangkan etika lebih cenderung terhadap teoritis.9
7 Abdullah, Pengantar Studi Etika, 4.
8 Burhanuddin Salam, Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), 3.
9 Achmad Charis Zubair, Kuliah Etika (Jakarta: Rajawali Press, 1987), 13.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia moral adalah ajaran baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak budi pekerti, susila.10 Wahyudi Kutomo dalam Moekijat11 mengatakan, moral adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan- tidakan yang baik sebagai “kewajiban” atau “norma”. Moral juga dapat diartikan sebagai sarana untuk mengukur benar-tidaknya tindakan manusia. Terdapat beberapa pendapat apa yang dimaksud dengan moral12. a. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (Tim Prima Pena) : Ajaran tentang
baik buruk yang di terima umum mengenai akhlak-akhlak dan budi pekerti, kondisi mental yang memperngaruhi seseorang menjadi tetap bersemangat, berani, disiplin, dan lain-lain.
b. Ensiklopedia Pendidikan : Suatu istilah untuk menentukan batas-batas dari sifat-sifat, corak-corak,maksud-maksud, pertimbangan- pertimbangan, atau perbuatan-perbuatanyang layak dapat dinyatakan baik/buruk, benar/salah, Lawannya amoral, Suatu istilah untuk menyatakan bahwa baik-benar itu lebih daripada yang buruk/salah.
c. Degradasi
Degradasi sering diartikan sebagai penurun suatu kualitas, sedangkan menurut Kamus Besar Indonesia adalah kemunduran, kemerosotan, penurunan.13 Penelitian ini membahas penurunan etika dan moral
10 Desi Anwar, Kamus Bahasa Indonesia Modern, (Surabaya: Amelia, 2002), 241.
11 Moekijat, Asas-asas Etika (Bandung: Mandar Maju, 1995), 44.
12 Rhainy, “Pengertian Moral dan Etika”,
http://rhainy23.blogspot.com/2012/03/pengertian-moral-dan-etika.html (9 Desember 2014)
13 Anwar, Kamus Bahasa Indonesia Modern, 95.
mahasiswa IAIN Jember dalam menjalin komunikasi antarpribadi dengan lawan jenis.
d. Komunikasi antar pribadi
Istilah “komunikasi” atau dalam Bahasa Inggris communication berasal dari bahasa Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini adalah sama makna.14
Dalam definisi yang berdasarkan hubungan, Devito mendefisinikan15 komunikasi antarpribadi sebagai komunikasi yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas. Komunikasi antarpribadi meliputi komunikasi yang terjadi antara pramuniaga dengan pelanggan, anak dengan ayah, dua orang dalam suatu wawancara, dan sebagainya. Dengan defisini ini hampir mungkin ada komunikasi diadik (dua orang) yang bukan komunikasi antarpribadi.
Tidaklah heran definisi ini juga disebut sebagai definisi diadik. Hampir tidak terhindarkan, selalu ada hubungan tertentu antara dua orang.
4. Lawan jenis
Dalam penelitian ini lawan jenis yang dimaksudkan untuk menjelaskan perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan.
Dalam penelitian ini yaitu mahasiswa dan mahasiswi IAIN jember.
14 Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktik (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 9.
15 Joseph A.Devito, Komunikasi Antarmanusia (Jakarta: Professional Books, 1997 ), 231.
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. Adapun sistem pembahasan yang akan diuraikan disini adalah sebagai berikut:
Bab I, Pendahuluan. Membahas mengenai hal yang melatar belakangi penulis dalam penelitian ini, serta juga memuat mengenai fokus masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Untuk definisi istilah menjadi sub bab pembahasan terakhir pada bab ini.
Bab II, Kajian Kepustakaan. Membahas tentang kajian terdahulu yang memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan diteliti oleh peneliti pada saat ini. Sub bab kedua menjelaskan tentang kajian teori dalam judul penelitian ini.
Bab III, Metodologi Penelitian. Membahas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, pengumpulan data, analisis data dan keabsahan data.
Bab VI, Penyajian Data dan Analisis. Menguraikan tentang hasil-hasil penelitian yang diperoleh selama melakukan penelitian yakni meliputi latar belakang objek penelitian, penyajian data, menganalisa data serta diskusi dan menginterpretasikan hasil penelitian guna menjawab masalah yang telah dirumuskan.
Bab V, Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
A. Penelitian Terdahulu
Pada penelitian ini, peneliti mencoba menelusuri berbagai hasil penelitian terdahulu yang memiliki hubungan (dalam hal ini tentang etika dan moral serta komunikasi antarpribadi). Beberapa penelitian tersebut menjadi langkah untuk melihat orisinalitas dan posisi penelitian yang akan dilakukan. Berikut dua penelitian terdahulu yang peneliti amati:
1. Jurnal Purwadi, 2011: Etika Komunikasi dalam Budaya Jawa; sebuah penggalian kearifan lokal demi memperkokoh jati diri serta kepribadian bangsa. Universitas negeri Yogyakarta1. (online)
Antara penelitian milik Purwadi dengan skripsi yang hendak peneliti lakukan memiliki persamaan juga perbedaan. Kesamaan pembahasan yaitu komunikasi manusia yang dikaitkan dengan etika dan moral. Perbedaannya adalah metode penelitian yang digunakan Purwadi adalah etik filosofis, sedangkan milik peneliti adalah fenomenologis.
Purwadi mengambil bahasa jawa sebagai objek penelitian sedangkan peneliti mengambil objek kata-kata maupun tindakan (verbal maupun nonverbal).
Penelitian Purwadi memiliki beberapa temuan, bahwa Penggunaan bahasa Jawa krama dalam masyarakat Jawa adalah sebagai sarana penjaga
1 Purwadi, “Etika Komunikasi Dalam Budaya Jawa:Sebuah Penggalian Nilai Kearifan Lokal demi Memperkokoh Jatidiri serta Kepribadian Bangsa”,
http://repository.upnyk.ac.id/2517/1/Purwadi.pdf (05 Januari 2015)
interaksi sosial yang harmonis. Dalam bergaul dengan orang lain dalam hidup bermasyarakat, ia dituntut untuk mengikuti kaidah sosial atau suba sita. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh orang itu dalam
bergaul dengan sesama warga masyarakat ialah bahasa Jawa yang dipakai.
Seperti halnya terhadap suatu kaidah seseorang yang tidak menaatinya dapat terkena sanksi, demikian juga dalam berkomunikasi. Kaidah dalam penggunaan bahasa, dalam hal ini penggunaan tataran ngoko krama, atau unggah-ungguhing basa, harus ditaati. Kalau seseorang berbahasa Jawa
dengan orang lain dengan tidak tepat tataran yang digunakan, maka pergaulan dengan orang lain menjadi terganggu, menjadi tidak serasi, menjadi tidak harmonis. Karena itu dalam pergaulan sehari-hari, bila menggunakan bahasa Jawa, seseorang dituntut oleh masyarakat untuk menggunakan tataran bahasa Jawa secara tepat, sesuai dengan kedudukan seseorang di dalam keluarga, status sosial, tingkat kebangsawanannya, umur, atau martabatnya.
2. Skripsi Adinda Syafitri, 2014: Komunikasi Antarpribadi Pasien dan Dokter (Studi kasus komunikasi antarpribadi pasien dan dokter di Poli Orthopaedi di RSUHP Adam Malik Medan). Universitas Sumatra Utara2. (online)
Penelitian Adinda, memiliki beberapa persamaan dengan penelitian yang hendak dilakukan. Kesamaan berupa objek penelitian yang diambil yaitu komunikasi antarpribadi, begitu juga dengan peneliti lakukan
2 Adinda Syafitri, “Komunikasi Antarpribadi Pasien dan Dokter (Studi Kasus
Komunikasi Antarpribdi Pasien Dan Dokter di Poli Orthopaedi di RSUHP Adam Malik Medan)”, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39918/7/Cover.pdf (05 Januari 2015)
mengambil komunikasi antarpribadi. Jenis Metode penelitiannya juga sama yaitu kualitatif deskripstif. Namun dalam keduanya memiliki subjek berbeda. Selain itu perbedaannya yaitu teori yang digunakan Adinda Syafitri teori self disclosure, sedangkan peneliti menggunakan teori penetrasi sosial.
Penelitian milik Adinda memiliki temuan, bahwa proses hubungan komunikasi antarpribadi di Poliklinik Orthopaedi RSUP H. Adam Malik Medan merupakan kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh individu- individu yang berasal dari latar belakang pendidikan yang amat berbeda, namun kecakapan mereka dalam komunikasi antarpribadi membuat mereka satu sama lain dapat melewati kendala yang dihadapi yaitu pengetahuan dan masalah personal seperti rasa malu dan tidak terbuka.
Namun hal ini dapat diatasi dengan pendekatan, sikap saling terbuka, rasa percaya, empati serta kesamaan.
3. Skripsi Farida, 2011: Komunikasi Antarpribadi studi kasus Pola Komunikasi Orangtua Pekerja Seks Komersial (PSK) dalam Pendidikan Anak di Desa Nogosari Gumuk Gebang kecamatan Rambipuji. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember.
Perbedaan penelitian yang dilakukan Farida dan penelitian yang hendak dilaksanakan adalah subjek penelitian, dan cara menetukan subjek penelitian. Farida menggunakan purposive sampling sedangkan peneliti menggunakan snowball sampling. Persamaan penelitian adalah membahas
komunikasi antarpribadi, metode penelitiannya juga sama yaitu menggunakan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian fenomenologi.
Hasil penelitian Farida memperoleh kesimpulan: Kesimpulan Umum, Pola Komunikasi Orangtua Pekerja Seks Komersial (PSK) dalam pendidikan anak di Nogosari Gumuk Gebang, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, adalah C1-M-Me-C2, yaitu melalui (C1)/komunikator dengan menyampaikan (Message) pesan melalui (Me) Media kepada Komunikan. Kesimpulan khusus, 1) Media yang digunakan dalam komunikasi orangtua Pekerja Seks Komersial (PSK) dalam pendidikan anak di Nogosari Gumuk Gebang, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember menggunakan telpon genggam (handphone) melalui telpon langsung atau juga menggunakan Short Message Send (SMS). 2) Bentuk Komunikasi Orangtua Pekerja Seks Komersial (PSK) dalam pendidikan anak di Nogosari Gumuk Gebang, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember berbentuk Nasehat, Larangan dan Anjuran secara rutin rata-rata setiap minggu, juga menggunakan motivasi berupa pemberian hadiah pada anak setiap rapotan atau kenaikan kelas. 3) Intensitas komunikasi Orangtua Pekerja Seks Komersial (PSK) dalam pendidikan anak di Nogosari Gumuk Gebang, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember rata- rata setiap minggu atau hari libur, atau juga pada saat rapotan dan kenaikan kelas, juga pada saat kepulangan orangtua, karena memang mayoritas orangtua yang pekerja sebagai PSK bekerja di luar kota.
B. Kajian Teori 1. Interaksi
Dalam kamus Bahasa Indonesia interaksi didefinisikan sebagai hal saling melakukan aksi, berhubungan atau saling mempengaruhi.3 Dengan demikian interaksi adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu, antara individu dan kelompok dan antara kelompok dengan dengan kelompok. Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya interaksi social ; 1) Imitasi adalah proses social atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan atau gaya hidup, bahkan apa saja yang dimiliki orang lain. 2) Sugesti . Sugesti ini berlangsung apabila seseorang memberikan pandangan atau sikap yang dianutnya, lalu diterima oleh orang lain.
Biasanya sugesti muncul ketika si penerima sedang dalam kondisi yang tidak netral sehingga tidak dapat berfikir rasional. Sedangkan faktor personal yang mempengaruhi interaksi yakni:
a. Kesamaan karakteristik personal
Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Reader dan English mengukur kepribadian subjek- subjeknya dengn rangkaian tes kepribadian. Diketemukan mereka yang bersahabat menunjukkan korelasi yang erat dalam kepribadiannya.
3 Anwar, Kamus Bahasa Indonesia Modern, 156.
Penelitian tentang pengaruh kesamaan ini banyak dilakukan dengan berbagai kerangka teori.
b. Tekanan emosional
Bila orang dalam keadaan yang mencemaskannya atau harus memikul tekanan emosional, maka ia akan menghadirkan orang lain.
Schachter menyimpulkan bahwa situasi penimbul cemas (anxiety- producing situations) meningkatkan kebutuhan akan kasih sayang.
c. Harga diri yang rendah
Menurut kesimpulan Walster, bila harga diri direndahkan, hasrat afiliasi (bergabung dengan orang lain) bertambah dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain. Dengan perkataan lain, orang yang rendah diri cenderung mudah mencintai orang lain (menurut Tubbs dan Moss).
d. Isolasi sosial
Isolasi sosial adalah pengalaman yang tidak enak. Beberapa orang peneliti telah menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial lebih besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain. Bagi orang yang terisolasi (narapidana, petugas di rimba, atau penghuni pulau terpencil) kehadiran manusia merupakan kebahagiaan. Karena manusia cenderung menyukai orang yang mendatangkan kebahagiaan, maka
dalam konteks isolasi sosial, kecenderungan menyukai orang lain bertambah.4
2. Etika dan Moral
Seseorang yang beretika selalu melaksanakan kewajiban- kewajibannya. Dia melakukan kewajiban terhadap dirinya sendiri yang menjadi hak dirinya, tehadap Tuhannya, terhadap makhluk lain dan terhadap sesama manusia.5 Dalam filsafat etika Islam, Islam berpihak pada etika yang bersifat fitri. Artinya semua manusia pada hakikatnya baik.
Muslim maupun bukan, memiliki pengertian fitri tentang baik dan buruk.
Etika Islam didasarkan pada keadilan, yakni menempatkan sesuatu pada posisinya. Disini tambah kesejalanan dengan teori Aristoteles tentang moderasi (hadd alwasath) tanpa merelatifkan etika itu sendiri. Nilai atau perbuatan diyakini bersifat relatif terhadap konteks dan tujuan perbuatan itu sendiri. Mencuri misalnya, bisa bernilai dilarang, tetapi bisa juga bernilai sunnah bahkan wajib. Pada prinsipnya setiap perbuatan bersikap netral nilainya. Tindakan baik dan buruk dapat dinilai berbeda bergantung pada penerapannya.6 Menurut Carol dan Buchollz (dalam Rudito dan Famiola)7, dalam sebuah komunitas atau kelompok, nilai nilai etika bersumber dari empat hal, yaitu:
4 Nor Syafitri Ramadhani, “Interaksi dan Komunikasi Dakwah”,
http://noorsyafitriramadhani.blogspot.com/2014/02/interaksi-dan-komunikasi-dalam-dakwah.html (16 Juni 2015)
5 Abdullah, Pengantar Studi Etika, 7.
6 Ibid., 7.
7 Bambang Rudito dan Melia Famiola, Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Indonesia (Bandung: Rekayasa Sains, 2007), 15.
a. Agama
Agama dijadikan pedoman untuk mengetahui atau membedakan yang baik dari yang buruk atau yang benar dan yang salah karena Tuhan meiliki otoritas tinggi.
b. Filosofi
Bersumber dari ajaran-ajaran yang diwariskan dan bermula dari zaman Yunani pada abad ke-4. Filososf pertama pada abad tersebut adalah Socrates yang mengajarkan bahwa manusia ada untuk suatu tujuan sedangkan salah dan benar memainkan peran penting dalam mendefinisikan hubungan seseorang dengan lingkungan dan sesamanya.
c. Pengalaman dan Perkembangan Budaya
Setiap transisi budaya antara satu generasi ke generasi berikutnya akan mewujudkan nilai-nilai, aturan baru, dan standar-standar yang kemudian diterima dalam komunitas terwujud dan perilaku.
d. Hukum
Merupakan perangkat aturan-aturan yang dibuat pemerintah untuk menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi etika diantaranya adalah :8
a. Sifat manusia. Sifat manusia tidak bisa ditinggalkan ataupun dihilangkan. Sifat manusia terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya adalah sifat baik dan buruk. Sifat baik ini sangatlah penting
8 Abdullah, Pengantar Studi Etika, 39-41.
dan wajib bagi manusia untuk dijaga dan dilestarikan. Cara menjaga dan melestarikannya bisa dilakukan dengan cara melakukan perbuatan yang bisa memberikan kesenanganbagi diri sendiri dan orang lain. Sifat baik dapat diperoleh dengan cara melakukan perbuatan yang dianjurkan oleh Allah Swt, dengan cara melakukan perbuatan yang dianjurkannya. Bisa dilakukan dengan cara berbuat baik kepada sesama manusia. Sifat manusia yang buruk, ini yang menjadi masalah berat yang harus dilakukan pencarian solusinya. Sifat buruk sangat mempengaruhi etika. Sifat ini yang membuat seseorang bisa lupa kendali diantaranya bisa berubah-ubah.
b. Norma-norma etika. Norma etika tidak bisa disangkal dan mempunyai hubungan erat dengan perilaku baik. Dengan praktik kehidupan sehari- hari motivasi yang terkuat dan yang terpenting bagi perilaku norma etika adalah agama. Mengapa perbuatan ini tidak boleh dilakukan, hampir selalu diberikan jawaban spontan karena agama melarang.
Karena hal itu sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan.9
c. Aturan-aturan agama. Setiap agama mengandung suatu ajaran etika yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Ajaran berperilaku baik sedikit berbeda, tetapi secara menyeluruh perbedaan tidak telalu besar. Boleh dibilang ajaran etika yang tekandung dalam suatu agama meliputi dua macam aturan. Disatu pihak cukup banyak aturan berbicara dengan cara agak mendetail. Banyak orang tidak
9 K. Bertens, Etika, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993), 35.
menyadari dan memahami bahwa hidup manusia berada dalam jaringan norma etika. Konsep norma etika berarti penyiku, yaitu alat yang digunakan oleh tukang kayu. Dari sinilah berkembangnya aturan dan pedoman, standar atau ukuran baik yang ditulis maupun yang tidak ditulis. Makna ini mempunyai implikasi normatif, yaitu bagaimana sebenarnya sesuatu berada atau terjadi, sehingga merupakan petunjuk atau perintah, setidak-tidaknya menjadi harapan.
d. Fenomena kesadaran etika. Fenomenologi ini termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi etika. Gejala apa yang kelihatannya selalu muncul dalam kesadaran etika seseorang. Kesadaran seseorang timbul apabila harus mengambil keputusan mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingan pribadinya, hak dan kepentingan orang lain.
Komunikasi menyentuh berbagai macam bidang kehidupan manusia termasuk etika, etika komunikasi mencoba mengelaborasi standar etis yang digunakan oleh komunikator dan komunikan. Setidaknya ada tujuh perspektif etika komunikasi yaitu10:
1) Perspektif politik. Dalam perspektif ini, etika untuk mengembangkan kebiasaan ilmiah dalam praktek berkomunikasi, menumbuhkan bersikap adil dengan memilih atas dasar kebebasan, pengutamaan motivasi, dan menanamkan penghargaan atas perbedaan.
2) Perspektif sifat manusia. Sifat manusia yang paling mendasar adalah kemampuan berpikir dan berkemampuan menggunakan simbol. Ini
10 Muhammad Mufid, Etika dan filsafat komunikasi, (Jakarta, Prenada Media Group:
2009), 185.
berarti bahwa tindakan manusia yang benar-benar manusiawi adalah berasal dari rasionalitas yang sadar atas apa yang dilakukan dan dengan bebas untuk memilih melakukannya.
3) Perspektif dialogis. Komunikasi adalah proses transaksi dialogal dua arah. Sikap dialogal adalah sikap setiap partisipan komunikasi yang ditandai oleh kualitas keutamaan, seperti keterbukaan, kejujuran, kerukunan, intensitas, dan lain-lain.
4) Perspektif situasioanal. Faktor situasional adalah relevansi bagi setiap penilaaian moral. Ini berarti bahwa etika memerhatikan peran dan fungsi komunikator, standar khalayak, derajat kesadaran, tingkat urgensi pelaksanaan komunikator, tujuan dan nilai khalayak, standar khalayak untuk komunikasi etis.
5) Perspektif religius. Kitab suci atau habit religius dapat dipakai sebagai standar mengevaluasi etika komunikasi. Pendekatan alkitabiah dalam agama membantu manusia untuk menemukan pedoman yang kurang lebih pasti dalam setiap tindakan manusia.
6) Perspektif utilitarian. Standar utilitarian untuk mengevaluasi cara dan tujuan komunikasi dapat dilihat dari adanya kegunaan, kesenangan, dan kegembiraan.
7) Perspektif legal. Perilaku komunikasi yang legal, sangat disesuaikan dengan peraturan yang berlaku dan dianggap sebagai perilaku etis.11
11 Ibid., 186.
Tidak benar bahwa “sejumlah yang ada tidak dapat menciptakan yang seharusnya.” Pada hakikatnya, yang seharusnya itu bersandar, dan harus bersandar, baik pada yang ada maupun yang akan ada. Urutannya sederhana: setiap orang, di dalam momennya yang dingin dan rasional, mencari kebahagiaan jangka panjangnya sendiri. Inilah kenyataanya (faktanya); inilah keadaannya. Umat manusia menemukan, selama berabad-abad, bahwa aturan tindakan tertentu itu meningkatkan kebahagiaan jangka panjang, baik bagi individu maupun masyarakat.
Aturan tindakan ini harus disebut aturan moral. Oleh karena itu, dengan mengasumsikan bahwa orang mencari kebahagiaan jangka panjang, inilah aturan yang seharusnya diikuti.12 Dasar-dasar moral menurut Moekijat13 1) sikap batin dan perbuatan lahir
Moral memuat segi batiniah dan segi lahiriah. Orang yang baik adalah orang yang memiliki sikap batin yang baik dan melakukan perbuatan yang baik pula. Sikap batin sering disebut hati. Manausia pada suatuketika dan pada umumnya tahu ada baik dan buruk.
Pengetahuan bahwa ada baik dan buruk itu disebut kesadaran moral14, sedang kesadaran moral yang sudah timbul dan berkembang disebut kata hati15. Orang yang baik mempunyai hati yang baik. Akan tetapi sikap batin yang baik baru dapat dilihat orang lain setelah terwujud dalam perbuatan lahiriah yang baik pula. Dengan kata lain moral hanya
12 Henry Hazlitt, Dasar-dasar Moralitas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 18.
13 Moekijat, Asas-asas Etika, 46-52.
14 Poejawijatna, Etika Filsafat Tingkah Laku (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), 27.
15 Ibid., 28.
dapat diukur secara tepat apabila kedua seginya diperhatikan. Kita hanya dapat menilai orang lain dari luar, dari perbuatan lahiriahnya.
Hatinya dapat kita nilai dengan menduga-duga saja. Hanya Tuhanlah yang dapat menilai moral manusia secara tepat.
2) Ukuran moral
Untuk menilai sikap batin maupun perbuatan lahir dibutuhkan suatu alat, yakni ukuran moral. Berhubungan dengan masalah ukuran moral itu, kita sering mendengar istilah hati nurani dan norma. Kedua istilah tersebut memang dapat membantu pemahaman kita tentang ukuran moral.16
Hati nurani juga kita kenal apa yang disebut dengan bahasa inggris consciennce atau dalam bahsa belanda geweten. Hati nurani kadang disebut dengan suara Tuhan, tapi istilah tersebut harus diterima secara metaforis, jangan sampai harfiah. Hal tersebut tidak berarti bahwa kita dapat relevasi/wahyu khusus dari Tuhan tentang setiap perbuatan yang akan kita perbuat. Tuhan berbicara kepada kita melalui kodrat manusia tersebut.17
Hati nurani menyediakan ukuran subjektif, sedang norma menunjuk pada ukuran objektif. Baik yang subjektif maupaun yang objektif mengandung ukuran yang benar atas moralitas manusia.
Dengan kata lain hati nurani memberitahukan mana yang benar, norma diberikan untuk menunjukkan kepada semua orang mana yang benar.
16 Moekijat, Asas-asas Etika, 47.
17 Poespoprodjo, Filsafat Moral, Kesusilaan dalam Teori dan Praktek, 228.
Menurut Poespoprodjo18 norma adalah aturan, standar, ukuran. Norma adalah sesuatu yang sudah pasti yang dapat kita pakai untuk membandingkan sesuatu yang lain yang hakikatnya, besar-kecilnya, ukurannya, kualitasnya, kita ragu-ragu. Jadi norma moralitas adalah aturan, standar yang dengan itu kita bisa mengukur kebaikan dan keburukan suatu perbuatan.
Hubungan antara hati nurani dan norma adalah sebagai berikut:
norma diberitahukan kepadaku, supaya aku memahami kebaikan dan hidup sesuai dengan kebaikan itu, tetapi hati nuraniku itulah yang akan mengatakan dengan lebih tegas kepadaku tentang kebaikan yang harus kukejar. Ribuan norma telah disampaikan kepada kita melalui orang tua, guru, tetangga, sahabat, kenalan, dan melalui mass media. Tidak mungkin kita akhirnya mempertimbang semua norma itu sebelum melakukan sesuatu. Akhirnya yang menentukan tindakanku adalah hati nuraniku sendiri.19
3) Macam-macam norma
Norma itu dapat berasal dari orang tua kita, yang tentu tidak lepas dari norma yang mereka warisi dari kakek dan nenek kita. Norma itu juga dapat berasal dari lingkungan yang lebih luas seperti:
masyarakat setempat, sekolah, umat beragama, pemerintah daerah, negara, pers dan media massa lain.
18 Ibid., 116.
19 Moekijat, Asas-asas Etika, 48.
3. Komunikasi Antarpribadi
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan komunikasi antarpribadi yang di kemukakan oleh Alo Liliweri, peneliti hanya meneliti komunikasi antar pribadi mahasiswa dan mahasiswi IAIN Jember yang menimbulkan keakraban diantara keduanya. Menurut Ruesch dan Bateson dalam Little John (1978) dikutip Liliweri20 bahwa tingkatan yang paling penting dalam komunikasi manusia adalah Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) yang diartikan sebagai relasi individual dengan orang lain dalam konteks sosialnya. Melalui proses ini individu menyesuaikan dirinya dengan orang lain lewat peran yang disebut transmitting dan receiving. Melalui transmitting terjadilah suatu proses
komunikasi yakni pemindahan pesan (baik verbal maupun non verbal).
Sedangkan melalui receiving terjadi proses penerimaan pesan-pesan tersebut. Proses tersebut dalam model komunikasi antarpribadi dikenal sebagai model linier (satu arah tanpa umpan balik); model interaksi (dengan umpan balik); dan model terakhir yakni model transaksional yang meliputi penyertaan sikap, kepercayaan, konsep diri, nilai kemampuan berkomunikasi.
Verdeber (1986) dalam Liliweri mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi merupakan suatu proses interaksi dan pembagian makna yang terkandung dalam gagasan-gagasan maupun perasaan. Ketika orang berkomunikasi maka nampaknya yang terjadi adalah suatu proses
20 Alo liliweri, Perspektif Teoritis Komunikasi Antarpribadi (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1994), 3.
transaksional yang dapat diartikan bahwa: (1) siapa yang terlibat dalam suatu proses komunikasi saling membutuhkan tanggapan demi suksesnya komunikasi itu; (2) komunikasi melibatkan interaksi dari banyak unsur.
Unsur-unsur komunkasi antarpribadi:
a. Konteks
Dalam kegiatannya komunikasi antarpribadi tidak beroperasi dalam ruang hampasosial tetapi dalam konteks. Yang dimaksudkan dengan konteks adalah suatu keadaan, suasana yang bersifatfisik, historis, psikologis tempat terjadinya komunikasi.
Suatu konteks dalam komunikasi antarpribadi ternyata berpengaruh terhadap harapan maupun tingkat partisipasi peserta komunikasi. Derajat partisipasi itu ternyata menentukanjuga pemaknaaan terhadap suatu pesan yang diterima yang akhirnya mempengaruhi perilaku.
b. Manusialah yang berkomunikasi
Dalam komunikasi antarpribadi sudah jelas bahwa yang melakukan komunikasi adalah manusia. Manusia yang terlibat dalam transaksi komunikasi berperan tertentu yaitu sebagai pengirim maupun penerima yang umumnya dilakukan secara simultan. Sebagai seoang pengirim maka ia menyusun suatu pesan dan mulai mengkomunikasikannya kepada orang lain dengan harapan akan mendapatkan tanggapan sebagai manusia. Pesan-pesan itu dapat
berbentuk tanpa isyarat serta simbol-simbol secara verbal maupun non verbal.
c. Pesan-pesan
Komunikasi antarpribadi melalui proses umum yaitu pengiriman dan penerimaan pesan. Pesan-pesan dalam komunikasi dapat dipahami melalui tiga unsur; (1) makna yang terbentuk oleh setiap orang; (2) simbol-simbol yang dipergunakan untuk menyampaikan makna; (3) bentuk organisasi pesan-pesan itu.
Unsur pesan berikut juga diperhatikan adalah: simbol. Dalam komunikasi simbol harus dibedakan dengan tanda . Yang paling dari artian simbol bahwa dalam berkomunikasi setiap orang memerlukan suatu proses untuk mengalihkan pikiran, perasaan ke dalam suatu simbol tertentu.
Proses untuk mengalihkan pikiran, perasaan ke dalam suatu simbol tertentu dalam komunikasi disebut encoding. Encoding ancang suatu bentuk perilaku secara verbal (yang sesuai dengan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis) maupun nonverbal dalam menciptakan suatu pesan. Hasil encoding adalah pesan yang dikirim melalui saluran (channel) dan diterima seorang penerima.
Seorang penerima sebelum menerima suatu pesan maka ia pun tidak asal menerimanya. Melalui proses yang disebut sebagai decoding yaitu proses internal dari seorang penerima dalam memberikan makna
terhadap pesan yang dikirim sumber (apakah pikiran perasaan dari pengirim pesan itu).
d. Saluran
Dalam membagi pesan dari seorang pengirim (setelah proses encoding) maka pesan harus melewati suatu tempat, atau alur lewatnya
pesan-pesan itu. Saluran pesan itu sebenarnya mirip sarana transportasi yang mengangkutt barang atau manusia dari suatu tempat ke tempat yang lainnya. Dalam komunikasi suatu kata berisi pesan dibawa oleh seseorang kepada orang lain melalui gelombang suara, pernyataan raut wajah, gerakan tubuh, gerakan cahaya mata. Secara umum semakin banyak salurang yang dipergunakan untuk mendistribusikan pesan akan menghasilkan komunikasi yang semakin sukses.
e. Umpan balik
Umpan balik adalah pemberian tanggapan terhadap pesan yang dikirim dengan suatu makna tertentu. Umpan balik menunjukkan bahwa suatu pesan berhasil didengar, dilihat, dimengerti, apalagi sama maknanya.
4. Teori penetrasi sosial
Altman dan Taylor mengemukakan teori ini pada tahun 1973, inti dari teori ini dalam hubungan antarpribadi selalu terjadi penyusupan sosial21. Ketika anda baru berkenalan dengan seseorang, anda sebenarnya mulai dengan suatu suasana yang tidak akrab, namun setelah proses
21 Alo liliweri, Komunikasi antarpribadi (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997), 53.
hubungan terus berlanjut maka situasi hubungan mulai berubah menjadi lebih akrab. Akibatnya setiap orang menghitung keuntungan dan kerugian yang bisa diterima akibat hubungan tersebut.
Pada tahap awalnya, suatu hubungan biasanya ditandai dengan kesempitan (narrowness)-topik yang dibahas hanya sedikit dan kedangkalan (shallowness)- topik yang didiskusikan hanya dibahas secara dangkal. Jika pada permulaan topik-topik dibahas secara mendalam biasanya anda akan merasakan ketidaknyamanan. Bila pengungkapan diri yang bersifat intim dilakukan pada tahap awal suatu hubungan, kita merasa ada yang janggal pada orang yang melakukannya. Bila hubungan berkembang ke tingkat yang akrab dan kuat, baik keleluasaan dan kedalaman meningkat, dan peningkatan ini dipandang nyaman, normal dan alamiah.22
Hubungan antarpribadi terbina melalui tahap-tahap, kita tidak menjadi kawan akrab segera setelah pertemuan terjadi. Kita menumbuhkan keakraban secara bertahap, melalui seangkaian langkah atau tahap. Dan hal yang sama barangkali berlaku pula untuk kebanyakan hubungan lainnya. Devito menyebutkan ada lima tahap23 hubungan antarpribadi : a. Kontak. Pada tahap pertama kita membuat kontak. Ada beberapa
macam persepsi alat indra. Anda melihat, mendengar, membaui seseorang. Menurut beberapa periset, selama tahap inilah dalam empat menit pertama interaksi awal, anda memutuskan apakah anda ingin
22 Devito, Komunikasi antarmanusia, 238.
23 De Vos , Komunikasi Antarmanusia, 232.
melanjutkan hubungan ini atau tidak. Pada tahap inilah penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik paling terbuka untuk diamati secara mudah. Namun demikian, kualitas-kualitas lain seperti sikap bersahabat, kehangatan, keterbukaan, dan dinamisme juga terungkap pada tahp ini. Jika anda menyukai orang ini dan ingin melanjutkan hubungan, anda beranjak ke tahap kedua.
b. Keterlibatan. Tahap keterlibatan adalah tahap pengenalan lebih jauh, ketika kita mengikatkan diri kita untuk lebih mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Jika ini adalah hubungan yang bersifat romantik, maka anda melakukan kencan pada tahap ini. Jika ini merupakan hubungan persahabatan, anda mungkin melakukan sesuatu yang menjadi minat bersama misalnya pergi kebioskop atau kepertandingan olahraga besama-sama. Baru-baru ini James Tolhuizen (1989) meneliti strategi-strategi yang digunakan pasangan kencan untuk menguatkan hubungan mereka dan melangkah ke tahap keakraban.
c. Keakraban. Pada tahap keakraban, anda mengikat diri lebih jauh pada orang ini. Anda mungkin membina hubungan primer (primary relationship), dimana orang ini menjadi sahabat baik atau kekasih anda.
Komitmen ini dapat mempunyai berbagai bentuk: perkawinan, membantu orang itu, atau mengungkapkan rahasia terbesar anda. Tahap aini hanya disediakan untuk sedikit orang saja, kadang-kadang hanya satu, dan kadang-kadang dua, tiga atau empat orang saja. Jarang sekali
orang mempunyai lebih dari empat orang sahabat akrab, kecuali, tentu saja dalam keluarga.
d. Perusakan. Dua tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan, ketika ikatan diantara kedua pihak melemah. Pada tahap perusakan anda mulai merasa bahwa hubungan ini mungkin tidaklah sepenting yang anda pikirkan sebelumnya. Anda berdua menjadi semakin jauh. Makin sedikit waktu senggang yang anda lalui bersama dan bila anda berdua bertemu, anda saling berdiam diri, tidak lagi banyak mengungkapkan diri. Jika tahap perusakan ini berlanjut, anda memasuki tahap pemutusan.
e. Pemutusan. Tahap pemutusan ini adalah pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua pihak. Jika bentuk ikatan itu adalah perkawinan, pemutusan hubungan dilambangkan dengan perceraian, walaupun pemutusan hubungan aktual dapat berupa hidup berpisah. Adakalnya terjadi peredaan, kadang-kadang ketegangan dan keresahan makin meningkat dan saling tuduh, permusuhan, dan marah-marah terus terjadi. Dalam bentuk materi, inilah tahap ketika harta kekayaan dibagi dan pasangan suami istri saling berebut hak pemeliharaan anak. Tapi pula saatnya bagi keduanya membina hidup baru.
5. Etika Islam dalam berinteraksi dengan lawan jenis
Islam telah mengatur sejumlah etika dan rambu-rambu yang mesti dipatuhi dalam etika interaksi laki-laki dengan perempuan, mengutib Alaika Salamullah24 etika umum dalam interaksi laki-laki dan perempuan adalah:
a. Tidak berpandangan mata secara bebas
Yang dimaksud dengan tidak boleh berpandangan mata secara bebas adalah disini adalah pandangan mata yang sifatnya liar dan tidak ada maksud sama sekali. Pandangan dengan lawan jenis itu diperkenankan selama ada keperluan. Rasulullah pernah mengingatkan:
َثَرْوَأ لله ٍةَأَرْما ِنِساَحَم ْنَع ُهَرَصَب َّضَغ ْنَمَف ،َسْيِلْبِإ ِماَهِس ْنِم ٌمْوُمْسَم ٌمْهَس ُةَرْظَّنل ا ُهاَقْلَ ي ِمْوَ ي َىلِإ ًةَوَلاَح ُوَبْلَ ق للها
)يناربطلا و ميكحلا هاور(
Artinya:“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barang siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Al-Hakim dan HR. Ath- Thabrani).25
Keketatan dalam memandang lawan jenis ini juga dikemukakan Allah dalam ayat yang begitu panjang berliku:
24 Alaika, 2003, Menyempurnakan Akhlak : Etika Hidup Sehari-hari Pribadi Muslim, 151.
25 Ibid., 153.
26
Artinya: “katakan kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.
Sungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasaannya kecuali yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya dan janganlah mereka menampakkan perhiasaan kecuali kepada suami, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putri mereka, atau putra-putri suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putri saudara mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (Q.S. an-Nur: 30-31).
b. Tidak berkata atau berbuat sesuatu yang dapat mendekati pada zina Semua anggota tubuh dapat menjadi sarana untuk berzina. Oleh karena itu hendaklah dijaga baik-baik seperti pesan nabi berikut:
26 Al-Qur’an 24:30-31
ِم ُوُبيِصَن َمَدآ ِنْبا ىَلَع َبِتُك ُرَظَّنلا اَمُىاَنِز ِناَنْ يَعْلاَف َةَلاَحَم َلا َكِلَذ ٌكِرْدُم اَنِّزلا ْن
اَىاَنِز ُلْجِّرلاَو ُشْطَبْلا اَىاَنِز ُدَيْلاَو ُمَلاَكْلا ُهاَنِز ُناَسِّللاَو ُعاَمِتْسِلاا اَمُىاَنِز ِناَنُذُلأْاَو َذ ُقِّدَصُيَو ىَّنَمَتَ يَو ىَوْهَ ي ُبْلَقْلاَو اَطُخْلا ُوُبِّذَكُيَو ُجْرَفْلا َكِل
و يراجبلا هاور(
)ملسملا
Artinya: “telah tercatat pada anak Adam bagiannya dari zina yang pasti terkena. Zina mata ialah melihat. Zina telinga ialah mendengar. Lidah zinanya ialah berkata. Tangan zinanya adalah menyentuh, dan kaki zinanya adalah berjalan. Dan hati yang ingin mempraktikkan semua itu adalah kemaluan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).27 c. Tidak sekamar berduaan
Apabila orang berbeda jenis, sudah berkumpul berduaan, maka itu saja sudah menjadi sasaran yang sangat empuk bagi Setan untuk melakukan godaan agar mereka melakukan perbuatan mesum. Karena itu perbuatan berduaan seperti ini harus diwaspadai agar tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Selain memang perbuatan berduaan dalam sebuah tempat sepi tanpa ada orang melihat dapat menimbulkan fitnah bagi orang lain. Nabi bersabda:
ٍمَرْحَم وُذَاهَعَمَوَّلاِإ ٍةَأَرْماِب ٌلُجَر َّنَوُلْخَي َلا )ملسملا هاور(
Artinya: “janganlah seorang laki-laki berkhalwah dengan seorang wanita yang tidak halal baginya, karena pihak ketiganya adalah setan kecuali bila ia adalah muhrimmya”
(HR.Muslim)28
d. Tidak pergi berduaan kecuali disertai muhrimnya
Anjuran ini sangat ditekankan kepada orang tua agar tidak membiarkan anaknaya pergi dengan lawan jenisnya kecuali disertai
27 Ibid., 158.
28 Ibid., 158.
muhrimmnya. Atau bisa ditemani dengan sesama jenisnya. Anjuran ini juga bisa diterapakan kepada pelaku sendiri agar tidak pergi berdua dengan lawan jenisnya tanpa adanya muhrimnya yang menemaninya.
Rasulullah bersabda:
َلا َي ِح ل َم ْر َأ ا ْل ُ ت ْؤ َة ُن ِم ِب ِللها َو ْلا َ ي ْو ِم ْلا ِخ َأ ْن ِر َس ُت َر ِفا َس َف َي ًار ْو ُن ُك َلا َث َث ٌة
َأ َّي َف ِما َص ًاد ِعا
ِإ َّلا َو َم َع َه َأ ا ُ ب ْو َى َأ ا ْو ِا ْب ِن َه َأ ا ْو َز ْو َج َه َأ ا ْو َأ َو َى ْخ َأ ا ْو ُذ ْو ُم َح َّ
ر ٌم ْ ن َها ِم )ملسملا هاور(
Artinya: “tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman pada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan selama tiga hari atau lebih kecuali ditemani oleh ayahnya, atau anaknya, atau suaminya, atau saudara kandungnya atau mahramnya yang lain” (HR. Muslim).29
e. Tidak diperbolehkan saling melihat aurat Rasulullah Saw. Bersabda:
َلاَو ُي َلاَو ،ِةَأْرَمْلا ِةَرْوَع ىَلِإ ُةَأْرَمْلا َلاَو ،ِلُجَّرلا ِةَرْوَع ىَلِإ ُلُجَّرلا ُرُظْنَي ُجَّرلا يِضْف
ىَلِإ ُل
لُجَّرلا دِحَوْلا ِب ْوَّثلا يِف َةَأْرَمْلا ىَلِإ ُةَأْرَمْلا يِضْفُت َلاَو ،ِدِح اَوْلا ِبْوَّثلا يِف
)ملسملا هاور(
Artinya: “tidak diperbolehkan seorang laki-laki melihat kemaluan (aurat) seorang laki-laki lain, begitu juga seorang perempuan. Begitu juga seorang perempuan tidak boleh melihat kemaluan wanita lainnya. Dan tidak boleh seorang laki-laki tidur satu kemul (selimut) dengan laki-laki lain dalam satu kemul baju. Demikian juga tidak boleh seorang wanita lain dalam satu kemul baju.” (HR.Muslim).30
Hadis ini secara gamblang menerangkan tidak bolehnya melihat kemaluan sesama jenis. Karena selain itu merupakan perbuatan tidak terpuji dan tidak tahu malu, juga ditakutkan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.
29 Ibid., 159.
30 Ibid., 160.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Untuk mendeskripsikan fenomena komunikasi antarpribadi (dengan lawan jenis) mahasiswa IAIN Jember, maka penelitian yang peneliti lakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif, ini diharapkan temuan-temuan empiris dapat dideskripsikan secara lebih rinci, lebih jelas dan lebih akurat, terutama berbagai hal yang berkaitan dengan komunikasi antarpribadi mahasiswa, khususnya perilaku dan bahasa-bahasa yang digunakan mahasiswa dalam menjalin komunikasi antarpribadi dengan lawan jenisnya. Dalam penelitian kualitatif deskriptif data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi kasus (case study) yang bersifat komprehensif, intens, rinci dan mendalam serta lebih diarahkan sebagai upaya menelaah masalah-masalah atau fenomena yang bersifat kontemporer, kekinian1. Dengan jenis penelitian studi kasus peneliti melakukan penyelidikan yang mendalam dan pemeriksaan terhadap bahasa dan perilaku mahasiswa IAIN Jember dalam berinteraksi dengan lawan jenis dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat
1 Burhan bungin , Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT RajaGrafindo persada, 2003), 20.
38
etika dan moral mahasiswa IAIN jember dalm menjalin komunikasi antar pribadi dengan lawan jenis.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kampus IAIN Jember tepatnya di area bagian dalam kampus. Alasan peneliti mengambil wilayah tersebut adalah bahwa setelah melakukan pengamatan, peneliti melihat mahasiswa sangat intens dalam menjalin komunikasi antarpribadi dengan lawan jenis misalnya di dalam aula kampus, belakang akedemik, bahkan di depan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dengan mengambil lokasi di area kampus diharapkan memudahkan peneliti dalam mencari subjek penelitian.
C. Subyek Penelitian
Penelitian kualitatif tidak bermaksud untuk menggambarkan karakteristik populasi melainkan lebih terfokus kepada representasi terhadap fenomena sosial2. Berkenaan dengan tujuan penelitian kualitatif maka dalam penelitian ini akan memperoleh sumber data (key informan) adalah mahasiswa dan mahasiswi yang sedang menjalin komunikasi antarpribadi dikampus IAIN Jember pada waktu tertentu, yakni mahasiswa dan mahasiswi yang sudah lama ( lebih dari 6 bulan) menjalin hubungan atau berkomunikasi dengan lawan jenis dan bersedia untuk di wawancara mengenai komunikasi antar pribadi dengan lawan jenisnya, peneliti akan mendapatkan informasi dari informan dengan menggunakan teknik snowball sampling.
2 Ibid., 53.
Selain itu peneliti juga menentukan dua orang yang bisa dijadikan informan sebagai pelengkap dari data yang hasilkan oleh peneliti yaitu Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan, Ir.Sukarno, M. Si dan Diah Nawangsari.
Teknik snowball sampling, Pendekatan ini diaplikasikan pada populasi yang serba belum jelas individu maupun jumlahnya.
Beberapa tahapan penarikan sampel bola salju adalah3:
1. Menentukan satu atau beberapa orang atau responden untuk di wawancarai sebagai titik awal penarikan sampel.
2. Responden selanjutnya ditetapkan berdasarkan pengetahuan/informasi yang diperoleh dari responden awal.
3. Demikian seterusnya hingga pada satu saat peneliti memutuskan jumlah respondennya sudah mencukupi.
Peneliti memiliki kriteria untuk pemilihan subyek peneliltian, Dalam kaitannya dengan subyek penelitian kualitatif peneliti meminjam apa yang diusulkan oleh Spradley. Spradley4 mengusulkan lima kriteria untuk pemilihan sampel informan awal :
a. Subyek yang telah cukup lama dan intensif menyatu dengan kegiatan atau medan aktivitas yang menjadi informasi, melainkan juga menghayati secara sungguh-sungguh sebagai akibat dari keterlibatannya cukup lama dengan lingkungan atau kegiatan yang bersangkutan. Ini biasanya ditandai oleh kemampuannya dalam
3 Andi bulaeng, Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer (Yogyakarta: ANDI Yogyakarta, 2004), 155.
4 Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, 55.
memberikan informasi (hapal “di luar kepala”) tentang sesuatu yang ditanyakan.
b. Subyek yang masih terlibat secara penuh/aktif pada linkungan atau kegiatan yang menjadi perhatian peneliti. Mereka yang sudah tidak aktif, biasanya informasinya terbatas dan kurang akurat, kecuali jika peneliti ingin menggali informasi tentang pengalaman mereka.
c. Subyek yang mempunyai banyak waktu atau kesempatan untuk diwawancarai.
d. Subyek yang dalam memberikan informasi tidak cenderung diolah atau dipersiapkan terlebih dahulu. Mereka ini tergolong “lugu” (apa adanya) dalam meberikan informasi.
e. Subyek yang sebelumnya tergolong masih “asing” dengan penelitian, sehingga peneliti merasa lebih tertantang untuk “belajar” sebanyak mungkin dari subyek yang berfungsi sebagai guru baru bagi peneliti.
Pengalaman menunjukkan, persyaratan ini terbukti merupakan salah satu faktor penting bagi produktivitas perolehan informasi dilapangan.
D. Teknik pengumpulan data
Dalam suatu penelitian ilmiah menggunakan teknik pengumpulan data dengan sesuatu yang sangat penting untuk mendapatka data yang valid dalam rangka menjawab seluruh persoalan-persoalan yang terkait dengan masalah penelitian yang dilakukan.