Menimbang
Mengingat
Menetapkan
REPUBLIK INDONESIA SALIN AN
PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 166 /PMK.06/2015
TENT ANG
PENILAIAN BARANG MILIK NEGARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 53 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 te.tang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, perlu menetapkan Peraturan Menteri
. Keuangan te.tang Penilaian Barang Milik Negara;
1. Undaig-Undng Nomor · 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4355); ·
2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang 1ilik Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5533);
3. Peraturan Presiden . Nomor ·
28 Tahun 2015 tentang Kementerian Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 51);
4. Peraturan MenteriKeuangan Nomor 2/PMK.06/2014 tentang Penilai Internal Di Lingkungai Direktorat Jenderal Kekayaan Negara;
MEMUTUSKAN:
PERATURAN MENTER! KEUANGAN TENTANG PENILAIAN BARANG MILIK NEGARA.
BAB I ' KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Barang Mik Negara adalah semua brang yang dibeli atau diperoleh atas beban nggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK I NDONESIA
2
-2. Pemanaatan adalah pendayagunaan Barang Milik Negara yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas dn fungsi kementerin/lembaga dn/ atau optimalisasi Barang Milik Negara dengan tidak mengubah status kepemilikan.
3. Pemindahtangnan adalah pengalihan kepemilikn Barang
Milik Negara. ·
4. Penilaian adalah proses kegiatan untuk memberikan suatu opini nilai atas suatu objek penilain berupa ·Barang Milik Negara pada saat tertentu.
5. Pengelola Barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab menetapkan kebjakan dan pedoman serta melakukan pengelolan Barang Milik Negara.
6 . Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan Barang Milik Negara.
7. Kuasa Pengguna Barang adalh kepala satuan kerja atau pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan brang yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.
8 . Pemohon adalah Pengelola Barng, Pengguna Barang, atau pihak yang memiliki kewenangn untuk mengajukn permohonan Penilaian.
9. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.
10. Direktorat Jenderal Kekayaai Negara, yng selanjutnya disebut Direktorat Jenderal, adalah unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangn yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebjakn dn standardisasi teknis di bidang kekayan negara, piutang negara dan lelang.
11. Direktur Jenderal Kekayaan Negara, yang selanjutnya disebut Direktur Jenderal, adalah salah satu pejabat unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan · yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijkan dan standa;disasi telmis di bidang kekayaan negara, piutng negara dan lelng.
1 2. Kantor Pusat adalah Kantor Pusat Direktorat Jenderal.
13.
Kantor Wilayh adalah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal. 14. Kantor Pelaynan adalah Kantor Pelayanan Kekayaan Negaradn Lelng.
15. Penilai adalah pihak yang' .melakukan Penilian secara independen berdasarkan kompetensi yang dimilikinya.
REPUBLIK I N DONESIA
3
-16. · Penili Pemerinth di Lingkungn Direktorat Jenderal Kekayat Negara, selanjutnya disebut Penilai Direktorat Jenderal, adalah Penilai Pegawai Negei Sipil di Lingkungn Direktorat Jenderal yang dingkat oleh kuasa Menteri yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab untuk melakukan Penilaian, termasuk atas hasil penilaiannya secara independen.
17. Penilai Publik adlah Penilai selin Penili Pemerinth yang mempunyi izin prktek Penilaian dan menjadi anggota asosiasi Penili yang diakui oleh Pemerintah.
1 8. Nilai Wajar adalah estimasi harga yang akan diterima dari penjualan aset aau dibyarkan untuk penyelein kewjibn ntara pelaku pasr yang memahami dan berkeinginan untuk mel:ukan trnsksi wjar pada tanggl Penilian. 19. Nilai Buku adalah biaya perolehan aset yng dikapitlisasi,
dikurani rumulasi penyusutan, deplesi, aau amoisasi yng tercatat dalm dafar barang pada Pengelola aau laporn barang Pengelola serta dftar barng Penguna/Kuasa Pengguna.
20. Basis Data adalh kumpuln data dan inormasi pendukung lainnya yng berkaitan deign Penilain Barng Milik Negara
. (1)
(2)
yang disimpan dalam media penyimpanan data. ·
BAB II RUANG LINGKUP
Bagian Kes.tu Um um
Pasal 2
Peraturan Menteri ini mengatur pelksanaan Penilaian Barang Milik Negara, yang meliputi:
a. pemohonan Penilaian;
b. tim Penili Direktorat Jenderl; c. bantuan Penilaian;
d. proses Penilian;
e. kaji ulang laporan Penilaian; ; standr Penilaian;
g. Basis Data Penilian.
Penilaian Barang Milik Negara sebagimana dimaksud pada ayat ( 1) dilkukn oleh Penilai Direktorat Jenderl.
MENTERI KEUANGAN REPUBLI K I NDONES IA
4
-Bagian Kedua Objek Penilaian
Pasal 3
{1)
Objek Penilian merupakn Barng Milik Negara yng melipui:a. barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN; dan b. barang yang berasl dari perolehan lainnya yang sah.
{2)
Barng Milik Negara sebagaimna dimaksud pada ayat ( 1 )huruf b, meliputi:
a. barang yng diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;
b. brang yang diperoleh sebagai pelnanaan pejanjin/kontrak;
c. brang yang diperoleh sesui dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangn; atau
d. barang yang diperoleh berdasrkan putusn pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Bagian Ketiga Tujuan Penilaian
Pasal 4
( 1 ) Penilaian Barang Milik Negara dilakukan dalam rangka:
{2)
(3)
(4)
a. penyusunan neraca Pemerinth Pusat; b. Pemanaatan;
c. Peindahtanganan; atau
d. pelaksanaan kegiatan lain sesuai ketentun Peraturan
Perundang-undangan.
Penilin Barang Milik Negara sebagimna dimaksud pada ayat ( 1 ) dilaksnkan untuk mendapatkan Nilai Wajar.
Dalam hal dimohonkan, untuk Penilaian dalam rangka Pemanaatan Barang · Milik Negara dalm bentuk sewa, Penilai Direktorat Jenderal dapat menentukn Nilai Wjar atas Sewa.
Ketentun lebih lnjut mengeni teknis penentuan Nilai
Wajar atas Sewa sebagaimana dimaksud pada ayat
(3)
diaturdengan Peraturan Direktur Jenderal.
REPUBL I K I NDONESIA
5
-Pasal 5
( 1 ) Nili Wajar untuk tjuan Penilaian dalam rngka Pemindahtanganan melalui penjualan secara lelng dilakukan deng11 memperhitungkn faktor penyesuaian berupa bea lelang.
(2)
Besaran bea lelang sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) sesui dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. (3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud padaayat ( 1 ), faktor penyesuaian terhadap Penilain dalam rangka Pemindhtanganan dengan cara pejualn secara lelang untuk Barang Milik Negara yang berasl dari:
a. Barang Rampasan Negara; b. Barang Gratiikasi; atau
· c. aset eks Kepabeann dan Cukai,
diatur dengn Peraturan Menteri Keuangan tersendiri.
Bagian Keempat Subjek Penilian
Pasal 6
( 1 ) Penilaian Barang Milik Negara berupa: a. nh dan/ atau bngunn;
b. selain tanah dan/ atau bangunan dalam rangka penyusunan neraca Pemerintah Pusat dn pelaksnan keiatan lin sesui ketentuan Peraturn Perundang undangan,
dilakukn oleh Penilai Direktorat Jenderal.
(2)
Selain melakukan Penilaian · Brang Milik Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dlam rngka Pemanaatan atau Pemi:dahtnganan:a. Penilai Direktorat Jenderal dapat pula terlibat dlam Pen1lain Barang Milik Negara selain tanh dan/ atau bangunan, yang dilakukan oleh m yang ditetapkan oleh Penguna Barng;
b. Penli Direktorat Jenderal dapat melakukan Penilaian Barang Milik Negara selain tanah dan/aau bangunan, yang dimohonkn/ ditugaskan oleh Pengelola Barang .
. BAB III
MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK I N DONES IA
6 -BB III
PERMOHONAN PENILAIAN
Bagian Kesatu
Pemohonan Penilaian Barang Milik Negara Dalam Rangka Penyusunan Neraca Pemeintah Pusat
Pasal 7
(
l)
Penilaian Barng Milik Negara dalam rangka penyusunan neraca Pemerintah Pusat dilakukn berdasarkan permohonan/penugasan Pengelola Barang.(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada yat
(
1) tertuang dalam rencana kerja Penilain Direktorat Jenderal yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.(3) Permohonan Penilaian sebagimana dimaksud pada yat ( 1 ) disertai dengan data dan inomasi.
Pasal 8
Permohonan Penilin sebagaimana dimksud dalam Pasal 7 ayat
(
1) diajukan secra tertulis kepada Kepla S eksi yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaii pada Kantor Pelyanan.Pasal 9
Data dan inomasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3), untuk permohonan Penilian · Brang Milik Negara berupa tanah dan/ a tau bngunan meliputi:
a. latar belakang permohonan; b. tujuan Penilaian;
c. dokumen kepemilikan;
d. desipsi objek Penilain; dan e. dokumen penatausahaan barang.
Pasal 10
( 1 ) Dokumen kepemilikan sebagimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c, yaitu:
a. otokopi sertipikat, untuk objek Penilian berupa tanah; b. otokopi Izin Mendiikan Bangunan (IMB) atau surat
keterangn bangunan dri insnsi yng berwenang, untuk objek Penilaian berupa bangunan.
REPUBLIK I N DONESIA 7
-(2) Dalam hal Barang Milik Negara berupa tanah belum memiliki dokumen kepemilikan sebagaimana dimaksud pada yat (1) huruf a, dapat diganti dengan:
a. otokopi dokumen kepemilikn lainnya yang setara, sepeti Akta Jul Beli (AJB), Girik,
Leter C,
dn Berita Acara Serh Terima (BAST) terkit perolehan barng; a taub. surat pernyatan tnggung jawab bermeterai cukup dri pejabat struktural pada unit organisasi eselon I di Kementerian/Lembaga bersangkutan yang menyatakn bahwa tanah tersebut benar-benar dimiliki oleh Kementerian/Lembaga terse but.
(3)
Surat pernyataan tanung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b disertai dengan:a. surat keterangan dai Lurah atau Camat setempat yang menuatkn kepemilikan Kementerin/Lembaga atas tanah terse but; dan/ atau
b. surat permohonan pendftaran hak atas tanah dari satuan kerja pada Kementerin/Lembaga kepada Kantor Pertanahan.
(4) Dikeculikn dari ketentuan sebagaimna qimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dokumen kepemilikn untuk Penilaian Barang Milik Negra yang berasal dari Barang Rmpasan Negara, Barng Gratiikasi, dan Aset Lin-Lin, yaitu:
a. otokopi putusan pengadiln yang telh berkekuatan hukum tetap dan otokopi Berita Acara Penyitaan, untuk objek Penilian -Brang Milik Negara yang berasal dari Barang Rmpasan Negara;
b. otokopi Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi tentang penetapn status kepemilikan · gratiikasi menjadi milik Negra, untuk objek Penilaian Barang Milik Negara yang berasal dari Barang Graiikasi; atau
c. otokopi Berita Acara Serah Terima Barang Milik Negara, untuk objek Penilaian Barng Miik Negara yang berasal di Aset Lain-Lain.
Pasal 11
Deskripsi objek Penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d sekurang-kurangnya meliputi lokasi, jumlah, dan luas bidang tanah dan/ atau bangunn.
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK I ND ONESIA
8
-Pasal 12
Dokumen penatausahaan barang sebagaimana dimaksud dalam Pasl 9 huruf e, yaitu:
a. otokopi daftar barang Pengelola, untuk Barng Milik Negara yang berada pada Pengelola Barng;
b . otokopi Kartu Identitas Barng dn otokopi daftar barng Pengguna/Kuasa Pengguna, untuk Barng Milik Negara yang berada pada Pengguna Barng.
Pasl
13
( 1)
Data dan inormasi sebagaimna dimaksud dalam Pasal 7ayat
(3),
untuk permohonan Penilaian Brang Milik Negara selain tanah dn/ atau bangunan meliputi:a. latar belakang permohonan;
b. tujuan Penilian; dan
c. deskipsi objek Penilaian.
(2) Selain data dan inormasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) , dalam hal:
a. objek Penilain berupa kendaran bermotor,
permohonn Penilain dilengkapi pula dengan otokopi dokumen kepemilikan atau · surat keterngan dari
instansi yng berwenang;
b. objek Penilain berupa Brng Milik Negara selin tanh dan/ atau bangunn yng berasl dari Barng Rampasan Negara, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi putusan pengadilan yng telah berkekuatan ·
hukum tetap dn otokopi Berita Acara Penyitaan;
c. objek Penilaian berupa Barang Milik Negra selain tanh dn/ atau bngunn yng berasal dari Barang Gratiikasi, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan ·. Korupsi tentang penetapan status kepemilikan gratiikasi mejadi milik Negara;
d. objek Penilaian berupa Barang Milik Negara selain tanah dan/ atau bangunan yang berasl · di Barang eks
Kepabeanan dan Cukai, pemohonan Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi Keputusan Penetapan menjadi Barang Milik Negara;
e. objek. . .
REPUBLIK I N DONESIA
9
-e. objek Penilaian berupa Barang Milik Negara selain tanah dan/ atau bangunan yang berasal dari Barang Muatan Kapa! Tenggelam, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi surat penetapan dari kementerian yng mempunyi tugas menyelenggarakan urusn di bidang pendidikan dan kebudayaan yang menetapkan Barang Muatan Kap! Tenggelam sebagai Barang Milik Negara;
f. objek Penilaian berupa Barang Milik Negra selain tanh dan/atau bangunan yang berasal dari Aset Lain-Lain, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi Berita Acara Serah Terima Barang Milik Negara.
Pasal
14
Deskripsi objek Penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
13
ayat(1)
huruf c sekurang-kurangnya melipui lokasi, jumlah, dan spesiikasi.Bagian Kedua
Permohonan Penilain Barang Milik Negara Dalam Rangka Pemnaatan Atau Pemindahtanganan
Paragraf 1
Brang Milik Negara Berupa Tanah Dan/ Atau Bangunan
Pasal 15
(1) Penilaian Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau
banunan dlai rangka Pemanaatan a tau
Pemindhtangnan dilakukn berdasrkan permohonn dari: a. Pengelola Barang; atau
b. piha: yang memiliki kewe.angan .
(2) Permohonn Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat
(
1) disertai dengan data dan inormasi.Pasal 16
Permohonan dari Pengelola Brng sebagimana dimaksud dalam Pasl 15 ay:t
(1)
huruf a diajukn secara tertulis kepada:a. Direktur yng memilii tugas dan fungsi di bidng Penilaian pada Direktorat Jenderal, untuk im Penilai Direktorat Jenderl dari Kntor Pusat;
b. Kepala Kantor Wilayah;
c. Kepala · Bidang yng memiliki tugas dan fungsi di bidng Penilian pada Kantor Wilayah, untuk tim Penilai Direktorat
Jenderl dri Kantor Wilayh;
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
1 0
-d. Kepala Kantor Pelayanan; atau
e. Kepala Seksi yang memiliki tugas dan fungsi di bidang
Penilaian pada Kantor Pelayanan, untuk tim Penilai
Direktorat Jenderal dari Kantor Pelayanan .
Pasal 1 7
Permohonan dari pihak yang memiliki kewenangan s e bagaimana dimaksud dalam Pasal 1 5 ayat ( 1 ) huruf b diajukan secara tertulis kepada:
a. Direktur yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaian pada Direktorat Jenderal, untuk kewenangan Penilai Direktorat Jenderal di Kantor Pusat;
b . Kepala Kantor Wilayah, untuk kewenangan Penilai Direktorat
Jenderal di Kantor Wilayah; atau
c . · Kepala Kantor Pelayanan, untuk kewenangan Penilai
Direktorat Jenderal di Kantor Pelayanan .
Pasal 1 8
Ketentuan mengenai data dan inormasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 1 2 mutatis mutandis berlaku terhadap data dan inormasi untuk obj ek Penilaian Barang Milik Negara berupa tanah dan/atau bangunan dalam rangka Pemanaatan atau Pemindahtanganan .
Paragraf 2
Barang Milik Negara Selain Tanah Dan/ Atau B angunan
Pasal 1 9
( 1 ) Penilaian Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan dilakukan berdasarkan permohonan dari:
a. Pengguna Barang;
b . Pengelola Barang; atau
c . pihak yang memiliki kewenangan .
(2) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) huruf a
dilaksanakan dalam bentuk keterlibatan Penilai Direktorat Jenderal dalam tim yang ditetapkan oleh Pengguna Barang .
(3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) huruf b dilaksanakan dalam bentuk tim Penilai Direktorat Jenderal . (4) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) huruf c
dilaksanakan dalam bentuk keterlibatan Penilai Direktorat Jenderal dalam tim yang ditetapkan oleh pihak yang memiliki kewenangan atau dalam bentuk tim Penilai Direktorat Jenderal .
REPUBLIK INDONES IA
11
-Pasal 20
( 1) Permohonan dari Pengguna Barang sebagimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a dan pihak yang memiliki kewenangn sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat ( 1) huruf c dijukan secara tertulis kepada:
a. Direktur yng memiliki tugas dn fungsi di bidang Penilian pada Direktorat Jenderal, untuk kewenangn Penili Direktorat Jenderal di Kantor Pusat;
b. Kepala Kantor Wilayah, untuk kewenngn Penilai Direktorat Jenderl di Kantor Wilayah; atau
c. Kepala Kantor Pelayann, untuk kewenngan Penilai Direktorat Jenderl di Kantor Pelayann.
(2) Permohonan sebagaimana dimksud pada ayat (1) memuat jumlah Penilai Direktorat Jenderal yng diusulkan untuk dilibatkan dan tencana wktu pelaksanaan Penilaian.
Pasal 21
( 1) Permohonan dari Pengelola Barang sebagaimna dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) .huruf b diajukan secara tertulis kepada:
a. Direktur yang memilii tugas dan fungsi di bidang Penilain pada Direktorat Jenderl, untuk tim Penili Direktorat Jenderal dai Kntor Pusat;
b. Kepla Kntor Wilayah;
c. Kepala Bidang Y.g memiliki tugas dan fungsi di bidang Penlin pada Kantor Wilayah, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Wilyah;
d. Kepala Kntor Pelayann; atau
e. Kepala Seksi yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaian pada Kntor Pelaynan, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dri Kntor Pelaynn.
(2) Permohonan sebagimina dimksud pada ayat (1) dapat diajukan dlam hl:
a. Pengguna Barng telah mengajukn permohonan Pemanaatan atau Pemindahtanganan Brang Milik Negra sein tanah dan/atau bnunan kepada Pengelola Barang; dn
b . Pengelola Brang idk meykini Nili Wjar/nilai tnirn yng diusulkan oleh Pengguna Brang.
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONES IA
12
-(3)
Dikeculikan dari ketentun sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam hal terdapat pendelegasin kewenangan dan tangung jawab tertentu dai Pengelola Barng kepada Pengguna Barng sesuai ketentuan Peraturn Perundang undangan terhadap Brang Milik Negra selain tanah dn/atau bngunn dan bongkaran, permohonan Penilain dijukn oleh Pengguna Brng.(4)
Pengajuan permohonn Penilian Barang Milik Negara selain tanh dan/atau bangunn dn bongkarn sebagimana dimaksud pada ayat (3), dijukan dalam rangka Pemindhtangann melalui penjualn secara lelng. ·Pasal 22
(
1) Permohonn Penilian sebagimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat ( 1) dilengkapi dengan data dn inornasi.(2) Data dan inormasi sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ), untuk permohonn Penilin Barang Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan meliputi:
a. latar belakang permohonn; · b. tujun Penilaian; dan
c. deskripsi objek Penilin.
(3)
Selain data dan inormasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) , dalam hal:a. objek Penilain berupa kendaran bermotor, permohonn Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi dokumen kepemilikn atau surat keterangan dari instnsi yang berwenng;
b. objek Penilaian berupa Barang Milik Negara selin tanah dn/ atau bangunn yang berasal dari Brang Rampasan Negra, pemohonan Penilian dilengkapi · pula dengan otokopi putusan pengadilan yng telah betkekuatan hukum tetap dan otokopi Berita Acara Penyitaan;
c. objek Penilian berupa Barang Milik Negara selain tanah dan/ atau bnguian yang berasal dri Barng Gratiikasi, permohonan Penilian dilengkapi pula dengn otokopi Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasn Korupsi tentng penetapan status kepemilikan gratiikasi menjadi milik Negara;
d. objek Penilaian berupa limbah padat (scrap), pemohonan Penilin dilengkapi pula dengan deskripsi objek Penilin yang sekurang-kurangnya memuat keterangan berat objek Penilaian;
I
REPUB L I K INDONESIA 13
-e. objek Penilin berupa limbah cair, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan deskripsi objek Penilian yang sekurng-kurannya memuat keteru1gan volume objek Penilaian.
(4)
Keterangan berat objek sebagimana dimaksud pada ayat (3) huruf d dn/atau volume objek Penilin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e, dituangkan dalam surat pernyatan tanggung jawab mutlak yang ditandatangani oleh Kuasa Penguna Barang/ pihak yang memiliki kewenangan untuk menggunakan barang.Pasal 23
Deskripsi objek Penilian sebagaimana dimaksud dlm Pasal 22 yat (2) huruf c sekurang-kurngnya meliputi lokasi, jumlah, dan spesiikasi.
Bagian Ketiga
Permohonan Penilain Barang Milik Negara Dalam Rangka Pelksanaan Kegiat1 Lain Sesuai Ketentuan Peraturan Perundang-undangan
Pasal 24
Penilaian Barang Milik Negara dalam rangka pelksnaan kegiatan lain sesuai ketentu1 Peraturan Perundng-undangan dilakukan berdasrkan permohonan di:
a. Pengelola Barang; at:u
b. pihak yang memilii kewenngn.
Pasal 25
Permohonan dari Pengelola Barng sebagaimana dimaksud dalam Pasal
24
huruf a dijukan secara tertulis kepada:a. Direktur yang. memiliki tugas dan fungsi di bidng Penilaian pada Direktorat Jenderal, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kntor Pusat;
b. Kepala Kantor Wilayah;
c. Kepala Bidang yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaian pada Kantor Wilayah, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal di Kantor Wilayah;
d. Kepala Kntor Pelayanan; atau
e. Kepala Seksi yng memilii tugas dn fungsi di bidang Penilaian pada Kantor Pelaynan, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kntor Pelayann.
MENTERIKEUANGAN REPUBL!K INDONESIA
14 -Pasal 26
Permohonn dari pihak yang memiliki kewenangn sebagaimana dimksud dlam Pasal 24 huruf b diajukan secara tertulis kepada: a. Direktur yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaian
pada Direktorat Jenderal, untuk kewenangan Penili Direktorat Jenderal di Kantor Pusat;
b . Kepala Kantor Wilyah, untuk kewenangan Penilai Direktorat Jenderal di Kntor Wilayah; atau
c. Kepala Kantor Pelayanan, untuk kewenangan Penilai
Direktorat Jenderal di Kantor Pelayanan.
Pasal 27
Permohonan Penilaian sebagaimana dimaksud dalm Pasal 24 disertai dengan data dan inormasi.
Pasal 28
Ketentuan mengenai data dan inormasi sebagimna dimaksud dalam Pasl 9 smpai dengan Pasl 12 mutatis mutandis berlku terhadap data dn inormasi untuk objek Penilian Barang Milik Negara berupa tanah dn/ atau bangunn dalam rangka pelksanaan kegiatan lain sesui ketentuan Peraturan Perundang undangan.
Pasal 29
(1) Data dan inormasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27,
untuk · permohonan ··Penilaian Barng Milik Negara selain tanh dan/ atau bangunan melipui:
a. . latar belakang permohonan;
b. tjuan Penilaian; dan
c. deskipsi objek Penilaian.
(2) Selain data dan inormasi sebagaimana · dimaksud pada
ayat (1) , dalam hal:
a. objek Penilaian berupa kendraan bermotor, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi dokumen kepemilikan atau surat keterangan dari instansi yang bewenang;
b. objek Penilaian berupa Brang Milik Negra selain tanah dan/atau bngunn yng berasal dari Barang Rampasan Negara, permohonn Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi putusan pengadiln yang telh berkekuatan hukum tetap dan otokopi Berita Acara Penyitaan;
REPUBLIK INDONES IA 1 5
-c. objek Penilain berupa Barang Milik Negara selain tanah dan/ atau bngunn yang berasal dari Barng Gratiikasi, permohonan Penilaian dilengkapi pula dengan otokopi Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi tentng penetapan status kepemilikan gratiikasi menjadi milik Negara;
d . objek Penilian berupa limbah padat (scrap), pemohonan Penilaian dilengkapi pula dengan deskripsi objek Penilaian yng sekurang-kurngnya memuat keterangan berat objek Penilian;
e. objek Penilaian berupa limbah cir, permohonan Penilain dilengkapi pula dengan deskripsi objek Penilain yang sekurang-kurangnya memuat keterangan volume objek Penilain.
(3) Keterangn berat objek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d dn/ a tau volume objek Penilin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e, dituangkan dalam surat pernyatan tnggung jawab mutlak yng ditndatangni oleh Kuasa Penguna Barang/ pihak yang memilki kewenangan untuk menggunakan barang.
Pasal 30
Deskripsi objek Penilaian sebagaimna dimnud dalam Pasal 29 ayat
(l)
huruf c sekurang-kurnnya meliputi lokasi, jumlah, dan spesiikasi.Bagin K�empat
Tata Cara Pengajuan Dan Permintaan Kelengkapan Data Permohonn Penilain
Pasal 31
Permintaan kelengkapan data dan/atau inormasi dijukan secara tertulis kepada Pemohon, dalam hal:
a. data dn/ atau inorma.si yng diserahkan belum lengkap; dan/atau
b. membutuhkn data dan/atau inormasi lebih lanjut sebagai bhn Penilain.
( 1)
Pasal 32
Batas waktu penyerahan kelengkapan data dan/ atau inormasi sebagaimana dmksud dlam Pasl 31 pling lama 20 (dua puluh) hari keja sejak tanggl surat pemintaan kelengkapn data.
M ENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONE S IA
16
-(2) · Dalam hal Pemohon tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat ( 1), pemohonan Penilian dikembalikan secara tertulis kepada Pemohon.
Pasal 33
Terhadap permohonn yang berasal dari Pengelola Barang, permintan kelengkapn data dan/atau inomasi sebagaimna dimaksud dalam Pasal 3 1 atau pengembalian atas permohonn Penilaian sebagaimana dimnud dalam. Pasal 32 ayat (2) dillcukan oleh tim Penilai Direktorat Jenderal mellui:
a. Direktur yang memiliki tugas dan fungsi di bidng Penilaian pada Direktorat Jenderl, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kntor Pusat;
b. · Kepala Kantor Wilayah, untuk im Penilai Direktorat Jenderal
dai Kntor Wilayah;
c. Kepla Bidng yang memiliki tugas dn fungsi di bidang Penilaian pada Kantor Wilayh, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kntor Wilayh;
d. Kepla Kantor Pelayanan, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dri Kantor Pelayanan; atau
e. Kepala Seksi yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilain pada Kntor Pelayann, untuk tim Penilai Direktorat Jenderl dari Kntor Pelyann.
Pasl
34
Terhadap permohonan yang berasal dari Pengguna Barang atau pihk yng memiliki kewenangan, permintaan kelengkapan ·data dan/ atau normasi sebagaimna dimaksud dalam Pasal 31 atau pengembalin atas pemohonn Penilin sebagmna dimaksud dalam Pasal 32 · ayat (2) dilkukn oleh tim Penilai Direktorat
Jenderl nelalui: ·
a. Direktur yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaian
pada Direktorat Jenderl, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pusat;
b. Kepla Kantor Wilayah, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal
dai Kntor Wilayah; atau
c. Kepala Kantor Pelaynan, untuk tim Penili Direktorat
Jenderal dri Kantor Pelayanan,
berdasarkan pembagian kewenangan untuk mela{ukn Penilain sebagaimna diatur dalm Peraturan Menteri ini.
REPUBLIK INDONES IA
17
-BB IV
TIM PENILI DIREKTORAT JENDERAL
Bagin Kesatu
Pembentukan Tim Penilai Direktorat Jenderal
Pasal 35
( 1) Pelaksanaan Penilaian oleh Penilai Direktorat J enderal sebagimana dimaksud dalam Pasl 2 ayat (2) dilakukan oleh tim Penili Direktorat Jenderl.
(2) Tim Penili Direktorat Jenderl di Kantor Pusat dibentuk dengan Keputusan Direktur Jenderal atau pejabat struktural di lingkungan Direktorat Jenderal yan
g
ditunjuk oleh Direktur Jenderal.(3) Tim Penili Direktorat Jenderal di Kantor Wilayah dibentuk dengan Keputusan Kepala Kantor Wilayah.
(4) Tim Penilai Direktorat Jenderal di 'Kantor Pelayanan dibentuk dengn Keputusan Kepala Kantor Pelyanan.
P.sal 36
(1) Tim Penili Direktorat Jenderl mempunyai anggota dalam jumlah bilangn ganjil.
(2) Tim Penilai Direktorat Jenderal beranggotal{an sekurang kurngnya
3
(tiga) orang dengn1
(satu) orng berkedudukan sebagi ketua merangkap anggota.(3) Ketua . sebagimna .. dimaksud pada . ayat (2) merupakan Penilai Direktorat Jenderal.
(4) Anggota lm Penilai Direktorat Jenderl merupakan Penilai Direktorat Jenderal dan/atau pegawai yang dinggap cakap untuk menjadi anggota tim Penlai Direktorat Jenderal.
Pasal 37
Pembentukan tim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 didasrkn. pada permohonn Penlian yng kan dilaksanakan.
Bagian Kedua
Pembaian Kewenangn Tim Penili Direktorat Jenderl
Pasal 38
Pelaksanaan Penilain dalm rangka penyusunan neraca Pemerintah Pusat dilakukan oleh:
MENTERIKEUANGAN
REPUBLIK INDONES!A
18
-a. . im Penilai Direktorat Jenderal dri Kantor Pelayanan, Kantor Wilyah, atau Kntor Pusat, berdasarkan penugasan Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk; atau
b. im Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pelaynan, berdasrkan permohonn Pengelola Barang.
Pasal 39
(1) Tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pelayanan
berwenang untuk melakukn Penilaian dlm rangka Pemanaatan, Pemindhtangann, aau pelaknaan keiatan lain sesuai ketentuan Peraturan Peundang-undangan, untuk Barang Milik Negara berupa tanah dn/ atau bangunan dengan besaran indikasi nilai per usulan sampai dengan Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) .
(2) Tim Penlai Direktorat Jenderal di Kantor Wilayah
berwenang untuk melakukan Penilaian dlam rangka Pemanaan, Pemndahangnan, atau pelaksanaan keiatan lain sesuai ketentun Peraturan Perundang-undngan, untuk Batang Milik Negara berupa tanah dan/ atau bangunn dengan besaran indikasi nilai ·per usulan lebih dari Rpl0.000 .000.000,00 (sepuluh miliar rupih) smpai dengan Rp20 .000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).
(3) Tim Penilai Direktorat Jenderl dari Kantor Pusat bewenng
untuk melakukan Penilaian dlam rngka Pemanaatn, Pemindahtanganan, atau pelaksanan kegiatan ln sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan, untuk Barang Milik Negara berupa tanah dan/ a tau bangunan dengn besaran indikasi nilai per usulan lebih dari Rp20 .000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).
Pasal 40
( 1 ) Besarn indikasi nili sebagimana dimaksud dlam Pasal 39
dihitung dengn cara:
a. menghitung proporsi luas tanah dan/ atau bangunan yang kan dimnaatkan, dipndahtangankan, atau dlam rangka pelaksanaan kegiatan lain sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan atas keseluruhn luas tnah dan/ a tau bangunan yang bersngkutan yang tercatat dalam dftar barang Pengelola/Pengguna/Kuasa Pengguna; dan
b. mengalikan proporsi sebagaimana dimaksud pada huruf a dengan Nilai Buku tanah dan/ atau bangunan yang bersangkutan yang tercatat dalam dftar barang
Pengelola/ Pengguna/ Kuasa Pengguna.
REPUBLIK I NDONESIA 19
-(2) Dlam hl objek Penilian berupa:
a. tanh atau tanah berikut bngunan yang belum tercatat dlam daftar barang Penguna/ Kuasa Pengguna, indikasi nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan cra mengalikan Nili Jual Objek Pjak (NJOP) per meter persei
atas tanah objek P
enilai
n dengan luas nh objek Penilain yang kan dimanaatkan atau dipindahtangankan;b. bngunan yang belum tercatat dalm daftar barang Pengguna/Kuasa Pengguna, indikasi nilai sebagaimana dimksud pada ayat ( 1 ) dihitung dengn cara me.galikn NJOP per meter persegi atas nh tempat objek Penilaian berdiri dengan luas bagian bngunan yang akan dimnaatkn atau dipndahtngnkan.
(3)
NJOP sebagaimana dimaksud pada yat (2) merupakan NJOP atas tnh objek Penilian pada hun pemohonan sesuai dengan Surat Keterangan NJOP yang dikeluarkan oleh instnsi yng ber-enng.(4) Dalm hl terdapat perbedan luas tanah ntara Surat Keterangan NJOP dengn dokumen kepemilikn, mka penghitungn indikasi nilai menggunakan luas tanah yang tertera pada dokumen kepemilikan.
Pasl 41
( 1 ) · Tim Penili Direktorat Jenderal dri Kntor Pelyanan bewenang untuk melakukan Penilaian dalam rangka Pemnaatan, Pemindhtangann, a tau
pelksanaan
kegiatan lain sesuai ketentun Peraturan Perundang undangan, untuk Barang Milik Negara selin tanh dan/atau bngunan dengan besaran indikasi nilai per usulan sampai dengan RpS.000.000.000,00 (lima mliar rupiah).(2) Tim Penlai Direktorat Jenderal dai Kantor Wilayah berwenng untuk melkukan Penilaian dlm rngka Pemanaatan, Pemindhtanganan, a tau pelksanan kegiatn lain sesuai · ketentun Peraturn Perundang
undangn, untuk Barng Milik Negara selain tanah dan/atau bangunan dengn besarn indikasi nilai per usuln lebih dari RpS.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) smpai dengn Rpl0.000.000.000,00 (sepuluh milir rupih) .
(3) Tim Penili Direktorat Jenderal dari Kantor Pusat bewenng untuk melakukan Penilain dlam rangka Pemanfaatn, Pemindahtanganan, atau pelaksnan kegiatan lain sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan, untuk Barang Milik Negara selain tnh dn/ atau
b
ngunn dengan besrn indikasi nilai per usuln lebih dari Rpl0 .000.000.QOO,OO (sepuluh milir rupiah).Pasal
42 ...
MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
20 -Pasal 42
( 1 ) Indikasi nilai se bagaimana dimaksud dalam Pasal 4 1 dihitung dari Nilai Buku Barang Milik Negara selain tanah dan/ atau bangunan yang tercatat dalam daftar barang Pengelola/ Pengguna/ Kuasa Pengguna. ·
(2) Dalam hal objek Penilaian belum tercatat dalam daftar barang Pengelola/ Pengguna/ Kuasa Pengguna, indikasi nilai didasarkan pada perkiraan nilai objek Penilaian yang dibuat oleh Pemohon.
Pasal 43
( 1 ) Pembagian kewenangan Penilai Direktorat Jenderal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dan Pasal 4 1 didasarkan pada lokasi objek Penilaian berada sesuai dengan wilayah kerj a.
(2) Terhadap objek Penilaian yang berada pada wilayah kerj a Kantor Pelayanan d i lingkungan Kantor Wilayah Jakarta, pembagian kewenangan Penilai Direktorat Jenderal mengikuti pembagian lingkup wilayah kerj a bidang pengelolaan kekayaan negara sebagaimana diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal. '
(3)
Dalam hal objek Penilaian berada di Kabupaten/Kota yangberbatasan dengan wilayah kerj a Kantor Pelayanan atau
Kantor Wilayah yang bersangkutan, Penilaian dapat
dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan atau Kantor Wilayah yang berbatasan dengan objek Penilaian.
(4) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan dengan mempertimbangkan prinsip eisiensi dan efektivitas.
Pasal 44
Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Pasal 39 , dan Pasal 4 1 :
a. terhadap permohonan Penilaian atas objek Penilaian yang berada di luar negeri yang diajukan oleh Pengelola Barang/ Pengguna Barang; a tau
b. terdapat penugasan oleh Pengelola Barang untuk melakukan Penilaian atas objek Penilaian yang berada di luar negeri, pelaksanaan Penilaian dilakukan oleh tim Penilai Direktorat Jenderal yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
REPUBLIK I N DONESIA
- 2 1
-Bagian Keiga Bantuan Penilain
Pasal 45
Bantuan Penilain dapat berupa: a. bantuan tenaga Penilai; dan b. · bantuan tenis Penilaian.
Pasal 46
( 1 ) Bantuan tenaga Penilai sebagimana dimaksud dalam .Pasal 45 huruf a dilakukan dalam hal tejadi kekurangan
sumber daya manusia Penilai Direktorat Jenderl.
(2) Bntuan teknis Penilain sebagaimna dimksud dlam Pasl 45 huruf b dilkukn dlm hal Penilai Direktorat J enderal menglmi kesulitan telmis dalam melakukan Penilaian.
Pasal 47
( 1 ) Dalam hal tejadi kekurangan sumber daya mnusia Penilai Direktorat Jenderal pada Kantor Pelayanan, Kntor Pelaynn dapat meminta bantuan tenaga Penilai Direktorat Jenderal kepada Kantor Wilayah.
(2) Dalam hal tejadi kekurangan sumber daya mnusia Penilai Direktorat Jenderal pada Kantor Wilayah, Kantor Wilayah dapat:.
(3)
a. meminta bantuan tenaga Penili Direktorat Jenderal kepada Kantor Pelaynan di wilayah kejanya;
b. meminta bantuan tenaga Penilai Direktorat Jenderal ·
kepada Kantor Wilayh yng ilayah kerjnya
berbatasn;
c. meminta bantuan tenaga Penilai Direktorat Jenderal kepada Kantor Pusat; atau
d. meneruskan perminaan bntuan tenaga Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pelayann kepada:
1. Kntor Pelaynn linnya yang berada dalm wilayah kerjanya;
2. Kantor Pusat.
Dalam hal tejadi kekurangan sumber daya manusia Penilai Direktorat Jenderal pada Kantor Pusat, Kntor Pusat dapat: a. meminta bantuan tenaga Penili Direktorat Jenderal dari
Kantor Wilayah atau Kntor Pelayanan; atau
M E N TE R I KE UAN GAN REP U B L I K I N D O N ES IA
22
-b. mengkoordinasikan permintaan sumber daya manusia Penilai yang diajukan oleh Kantor Wilayah dan Kantor Pelaynan kepada Kantor Wilayah lainnya.
Pasal
48
( 1 ) Pembeian bantuan tenaga · Penilai Direktorat Jenderal oleh Kntor Pelayanan, Kantor Wilayah, dan/ aau Kantor Pu sat dapat berupa tim Penilai Direktorat Jenderl.
(2) Tim Penili Direktorat Jenderal sebagimana dimaksud pada ayat ( 1 ) ditetapkan oleh:
a. Kepala Kantor Pelayanan;
b. Kepala Kantor Wilayah; atau
c . Direktur yng memiki tugas dn fungsi di bidang
Penilaian pada Direktorat Jenderal, yang menta bantuan tenaga Penili.
Pasal
49
( 1 ) Dalm hal mengalmi kesulitan teknis, Kantor Pelaynn dapat meminta bantuan teknis Penilian kepada Kntor Wilayah.
(2) Dalm hl mengalmi kesulitn tenis, Kntor Wilayh dapat: a. meminta bntun tenis kepada Kantor Pusat; atau b. meneruskan permintaan bantuan teknis dari Kantor
Pelaynn kepada Kantor Pusat.
(3)
Dalm hal menglmi kesulitan teknis, Kantor usat dapat meminta bantuan teknis kepada tenaga ahli.Pasal 50
( 1) Penilai Direktorat Jenderal yng membei bantuan teknis Penilaian tidak ikut menandatangni laporan Penilin.
(2) Dalam hl Penilin dilakukan dengan bantuan teknis, maka
· hal tersebut harus diungkapkan dalam laporn Penilaian.
Bagian Keempat Pengunaan Tenaga hli
Pasal 51
( 1) Dlm melksnakan Penilaian, dapat digunakan bantuan teknis dai tenaga ahli.
(2) Bntuan temis sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dapat
berupa pemberin asistensi pellrnanaan Penilaian dan/ atau pemberian nomasi, sran, aau pendapat.
REPUB L I K I N D ONESIA . 23
-(3) Penggunaan tenaga ahli dapat dilkukan dlam hal:
a. berdasarkan kajian teknis dari Kantor Pusat, jasa tenaga ahli dibutuhkan untuk mel:ukn bantun tenis· dan ' b. tersedianya dana untuk menggunakan jasa tenaga hli. (4) Penggunan tenaga ahli dalam pemberian bantuan teknis
diungkapkn dalm laporan Penilaian.
BB V
PELAKSANAAN PENILAIAN
Bagian Kesatu Proses Penilaian
Pasal 52
Proses Penilaian meliputi:
a. identiikasi permohonjpenugasan Penilaian;
b. penentuan tujuan Penilaian;
c . pengumpulan data awal;
d. suvei lapangan; e. nalisis data;
. penentuan pendekatn Penilain;
g. simpulan nilai; dan
h. penyusunan laporan Penilaian.
Paragrf 1
Identiikasi Permohont/Penugasn Penilaian
Pasal 53
Tim Penilai Direktorat Jenderal mengidentiikasi permohonan/penugasn Penilian, dengan cara memveriikasi: a. kelengkapan data dan inormasi permohonn/ pe:nugasn
Penilaian; dn ·
b. kelayakan data dan inormasi permohonan/penugasan
Penilaian.
M ENTERI KEUANGAN
REPUB LIK I N D O N ES IA
- 24
-Paragraf 2
Penentuan Tjuan Penilaian
Pasal 54
Tim Penili Direktorat Jenderal menentukan tujuan Penilian berdasarkn pemohonn Penilaian dan ketentuan sebagaimana
dimaksud dlam Pasal 4 .
Paragraf 3
Pengumpulan Data Awai
Pasal 55
( 1 ) Tim Penili Direktorat Jenderal mengumpulkn data awal. (2) Data awal sebagaimana dimnud pada ayat ( 1) berasl dari:
a. data dan inormasi yang disampaikan dalam permohonan/penugasan Penilaian; dan
b. data dan/ atau inormasi sebagaimna dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34.
Pragraf 4 Survei Lapngan
Pasl 56
( 1) Tim Penilai Direktorat Jenderal melakukan survei lapangan. (2) Survei lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dapat
dilakukan sekurang-kurannya oleh 2 (dua) orang anggota tim Penilai Drektorat Jenderal.
Pasal 57
( 1 ) Survei lapangan dilkukan untuk menelii kondisi isik dan lingkungan:
(2)
a. objek Penlaian; atau
b. objek Penilaian dan objek pembanding.
Survei lapngn sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) huruf b dilakukan dalam hal Penilaian menggunkn pendekatan
data pasar.
REPUBLIK I NDONESIA
25
-Pasal 58
Suvei lapngan dilakukan dengan cara:
a. mencocokkan kebenaran data awal dengan kondisi objek Penilaian; dan
b. mengumpulkan data dn/atau inonasi lain yng berkaitan dengan objek Penilaian dan/ atau objek pembanding.
Pasal 59
Hasil suvei lapangan dituangkn dlam Berita Acara Suvei Lapangan sesuai ormat sebagaimna tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkn dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 60
Untuk Penilaian nh, data dn/atau inormasi lin sebagaimna dimaksud dalam Pasal 58 huruf b meipui:
a. rencana tata ruang ilyh;
b. data transaksi atau keterangan harga;
c. inormasi gani rugi atas pengadaan tanah untuk kepeningan umum;
d. data harga pejualan secara lelang; dan/ atau
e. inomasi harga transaksi dan/ atau penawaran.
Pasal 61
Data dan/atau inormasi lain sebagimana dimlrnud dalam Pasal 60 bersumber di:
a. Pemerinth Daerah setempat, untuk data dn/ atau inormasi . sebagimna dimaksud dalam Pasal 60 huruf a;
b. Notaris/Pejabat Pembuat kta Tanh, Kepala Desa/Lurh, agen properti, dan/ atau pengembang propeti, untuk data dan/atau inormasi sebagaimana dimksud dalam Pasal 6 0
huruf b;
c. pihak yang berwenang dan/ atau masyarakat yng menerima ganti rugi, untuk data dan/atau inormasi sebagaimana dimaksud dalm Pasal 60 huruf c;
d. Kantor Pelyanan, untuk data dn/ atau . inomasi sebagaimana dimaksud dlam Pasal 60 huruf d;
e. iklan media cetak, media elektronik, media komunikasi, masyarakat seitar, dn/ a tau media linnya, untuk data dan/atau inomasi sebagaimana dimaksud dalam Pasl 6 0
huruf e .
M E N T E R I KE UANGAN REP U B L I K INDONES IA
26
-Pasal 62
Untuk Penilian banunan, data dn/atau nomasi lain sebagaimana dimlrnud dalm Pasal 58 huruf b melipui:
a. denah konstruksi bngunan
(s uilt
draing) ; b. spesiikasi bangunan;c. deskripsi isik bangunan;
d. tahun selesi dibangun dan tahun renovasi/restorasi; e. data standar harga satuan bangunan; dan/ aau
f. rencana tata ruang wilayah atau rencna detil tata ruang.
Pasl 63
Data dan/ atau inormasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62
bersumber dari:
a. Pemohon dan/ atau pengguna bngunan, untuk data
dan/ aau inormasi sebagmna dimksud dalm Pasal 62 huruf a, huruf b, huruf c, dn huruf d;
b. instansi pemerintah dan/ atau pihak terkit, untuk daa dan/ atau inormasi sebagaimna dimksud dalm Pasal 62
huruf e;
c. Pemerinth Daerah setempat, untuk data dn/ atau inormasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 huruf .
Pasl 64
Untuk Penilain selain tanh dn/atau bngunan, data dn/atau inormasi ln sebagaimana dimalrnud dalam Pasal 58 huruf b melipui: .
a. spesiikasi tenis objek Penilaian; dn/ atau .
b. kondisi umum objek Penilaian.
Pasal 65
Data dan/ atau inormasi lin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
64 bersumber di Pemohon dn/atau pengguna objek Penilaian.
Pasl 66
( 1 ) Tim Penilai Direktorat Jenderal dapat meminta tambahan data dn/ atau inormasi pendukung Penilian kepada Pemohon dalm hal ditemukn fkta bu terkait objek Penilian pada saat pelksnan survei lapngan.
(2) Permintan tambahn data dn/atau inormasi pendukung Penilain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituan&kan dalam Berita Acara Tmbahn Kebutuhan Data sesuai ormat · sebagaimana tercantum dalam Lampirn II yng merupakn bagin idk tepisahkan dari Peraturan Mentei ini.
REPUBLIK I N D O N E S IA
27
-(3) Batas wktu peneiman ambahan data dn/ atau inormasi pendukung Penilaian sebagaimana dimaksud pada yat (2) paling · lama 15 (lima belas) hari kerja sejk tnggal Berita Acra Tambahan Kebutuhn Data ditandatngni.
(4) Dlm hl Pemohon tidak memenuhi ketentuan ·sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) : ·
a. proses Penilaian tidak dilanjukan;
b. pemohonn Penilain tidak diproses lebih lanjut; dan c. berkas permohonn Penilaian dikembaikan kepada
Pemohon.
Pasal 67
(1) Tim Penilai Direktorat Jenderl dapat tidak mela:ukan suvei
lapangan dalam hl:
a. pihak yang menguasai objek Penilaian tidak kooperatif; b. adanya pihak lain yang melakukan tindakan
menghambat/ menghalangi;
c. tidl: terjaminnya keamann/keselamatan Penilai Direktorat Jenderal; dn/atau
d. tejadi perisiwa yang dikategorikan sebagai keadaaan
khr
force majeure) .
(2) Tim Penilai Direktorat Jenderal menyatkan secra tegas penyebab idak dapat dilakukannya survei lapangan sebagaimna dimlrnud pada ayat ( 1) dalm Berita Acara Tidal: . Dapat Melal:ukan Suvei Lapngan sesuai ormat sebagimana tercantum dalam mpiran III yang merupakan bagian tidk terpisahkan dai Peraturan Menteri ini.
(3) Dalam hal m Penilai Direktorat Jenderal tidak dapat
melakukan survei lapngan:
( 1)
a. proses Penilaian tidal: dilnjutkan;
b. pemohonan Penilaian idak diproses lebih lanjut; dan c. berkas permohonn Penilaian dikembalikn kepada
Pemohon.
Pasal 68
Dlam hal Penilaian dilkukan dalm rngka penyusunan neraca Pemerintah Pusat sebagaimna dimnud dalam Pasal 7 ayat (2) , tim Penili Direktorat Jenderal melaporkn mengenai kondisi sebagimana dimnud dalam Pasal 6 7 ayat (3) kepada pembei tugas.
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK I N DONESIA
- 28
-(2) Dalam hal Penilaian dilakukan dalam rangka penusunan
neraca Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, tim Penilai Direktorat Jenderal melaporkan mengenai
kondisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (3)
kepada Kepala Seksi yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaian pada Kantor Pelayanan .
(3) Dalam hal permohonan Penilaian diajukan oleh Pengelola
Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 5 ayat ( 1 ) huruf a, Pasal 1 9 ayat ( 1 ) huruf b , dan Pasal 24 huruf a, tim Pehilai Direktorat Jenderal melaporkan tidak dilajutkannya
Penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (3)
kepada:
a. pemberi tugas; dan
b . Pemohon, melalui:
1 . Direktur yang memiliki tugas dan fungsi di bidang
Penilaian pada Direktorat Jenderal, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pusat;
2. Kepala Kantor Wilayah;
3. Kepala Bidang yang memiliki tugas dan fungsi di
bidang Penilaian pada Kantor Wilayah, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Wilayah;
4. Kepala Kantor Pelayanan; atau
5 . Kepala Seksi yang memiliki tugas dan fungsi di
bidang Penilaian pada Kantor Pelayanan, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pelayanan .
(4) Dalam hal permohonan Penilaian diajukan oleh Pengguna
Barang atau pihak yang memiliki kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 5 ayat ( 1 ) huruf b, Pasal 1 9 ayat ( 1 )
huruf a dan huruf c , dan Pasal 24 huruf b , tim Penilai
Direktorat Jenderal melaporkan tidak dilanjutkannya
Penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (3)
kepada:
a. pemberi tugas; dan
b . Pemohon, melalui:
1 . Direktur yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilaiai pada Direktorat Jenderal, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pusat;
2 . Kepala Kantor Wilayah, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Wilayah; atau
3 . Kepala Kantor Pelayanan, untuk tim Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pelayanan .
Paragraf 5 . . .
i
REP U B L I K INDONESIA
29
-Pragraf 5
Analisis Data
Pasal 69
Data dn inormasi yang diperoleh, bik dari berkas pemohonan/penugasan maupun pada saat survei lapangan, digunakan sebagai dasar untuk melakukan analisis.
Pasal 70
Faktor yang dipertimbangkan dalam analisis data objek Penilain
berupa tanah meliputi: ·
a. letak/lokasi;
b. jenis; c . luas;
d . bentuk;
e. ukuran;
f. kontur;
g. elevasi;
h. asilitas umum;
i. peruntukan area
(zoning);
j. perizinan;
k. dokumen kepeilikan; dn
I. aktor lain yang terkait.
Pasl 7 1
Faktor yang diperimbangkan dalm analisis data objek Penilaian berupa bangunan meliputi:
a. thun selesi dibangun; b. tahun renovasi/restorasi; c. konsruksi dn material;
d . luas;
e. bentuk;
f. tinggi;
g. jumlah Ianti;
h. kondisi bngunan secara umum;
i . sarana pelengkap;
j . penggunaan bangunan; dn k. faktor lam yang terkit.
MENTERI KEUANGAN REPUB LIK I N DONES IA
30
-Pasl 72
Fak
�
or yang dipertimbangkan dlam analisis data objek Penilaian selam tnah dan/atau bngunan meliputi:a. jenis;
b. merek;
c. kapasitas;
d. tahun pembuatan;
e. harga perolehan;
f. kondisi objek Penilaian secara umum; dan
g. aktor lain yang terkait.
Pasal 73
( 1 ) Analisis penggunaan tertinggi dan terbaik dilkukan sebagai salah satu bhn dalam mendukung proses analisis data objek Penilaian berupa tanah atau tanah berikut bangunan . (2) Analisis penggunaan tertinggi dan terbaik sebagaimana
dimaksud pada ayat ( 1 ) dilkukan berdasarkan:
a. aspek legalitas;
b. aspek isik;
c. aspek keuangan; dan
d. aspek produkiitas maksimal.
(3) Analisis penggunaan tertinggi dan terbaik dilakukan · secara ringkas.
Pasal 74
( 1 ) Analisis penggunaan teringgi dan terbaik dapat dill:ukan ·
secara komprehensif berdasrkan permohonan/penugasan. (2) Permohonan/penugasan sebagaimana dimaksud pada
ayat ( 1) dismpaikn secra tepisah dari
permohonan/ penugasan Penilaian.
Pasal 75
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara analisis penggunaan tertinggi dan terbaik secara ringkas sebagimna dimaksud dalam Pasal 73 ayat (3) dan tata cara nalisis penggunaan tertinggi dan terbaik secara komprehensif sebagimana dmaksud dalam Pasl 74 ayat
(1)
diatur dengn Peraturn Direktur Jenderal.REPUBLIK I N DONES IA
- 3 1 -Paragrf 6
Penentuan Pendekatan Penilain
Pasl 76
Penilaian dilkukan dengan mengunakan: a. pendekatan data pasar;
b. pendekatan biaya; dan/ atau
c . pendekatan pendapatan.
Pasal 77
( 1 ) Pendekatn data pasar dilakukan untuk mengestimasi nilai objek Penilaian dengn cara mempertimbngkan data penjualan dan/atau data penawarn dri objek pembanding sejenis atau pengganti dan . data pasar yng terkait melalui proses perbndingn.
(2) Pendekatn biaya dilakukn untuk mengestimasi nilai objek Penilaian dengan cara menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh objek Penilaian atau penggantinya pada wktu Penilaian dilkukn kemudin dikurangi dengan penyusutan isik atau penyusutn teknis, keusangn fungsional, dan/ aau keusngn ekonomis.
(3) Pendekatn pendapatan dilkukn untuk mengestimasi nilai objek Penilaian dengan cara mempertimbangkan pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan objek Penilian melalui proses. kapitalisasi langsung atau pendiskontoan.
Pasal 78
Penilaian dengan mengunakn pendekatn sebagaimana
dimksud dalm Pasal 76 dapat mengunakn Petunjuk Teknis Penilian yng diterbitkan oleh Direktur Jenderal atau Direktur yang memilii tugas dan · fungsi ·di bi dang Penilaian pada
Direktorat Jenderal.
Pasal 79
Dalam hal menggunakan pendekatn data pasr, Penilain dilakukan dengan tahapan:
a. mengumpulkan data dan inormasi yang diperlukan terkait objek Penilaian dan objek pembanding;
MENTERI KE UANGAN REPUBLIK I NDONESIA
32
-b. . membandingkan objek Penilian dengan objek pembanding
dengn menggunakn fktor pembnding yang sesuai dan melkukn penyesuaian; dn
c . melakukan pembobotan terhadap indikasi nilai dari hasil penyesuian untuk menghasilkan Nili Wjr.
Pasl 80
Objek pembanding sebagaimna dimaksud dalam Pasl 79 huruf a harus mempunyai karakteristik yang sebanding dengn objek Penilaian.
Pasal 8 1
( 1 ) Data pejualn dn/ atau penawrn yang digunkn sebagai pembanding dievluasi dan dianalisis untuk proses penyesuun.
(2) Proses penyesuian sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) merupa{an kegiatan untuk menyesuaikn perbedan objek Penilian dengan objek pembanding.
(3) Proses penyesuin perbedaan objek Penilaian dengan objek pembanding sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengn cara menambhkn atau mengurngkan dalam persentase atau jumlh dalam satuan mata uang.
Pasl 82
Perbedaan sebagaimana dimaksud dalam Pasl 8 1 ayat (2) antara lain:
a. jenis dokumen kepemilikan, yitu perbedan hak .
kepemilikan seperti Setipikat Hak Milik, Sertipikat Hak Guna Usaha, Sertipikat Hak Guna Bangunan, Sertipikat Hak Pakai, dan hk kepemilikan lainnya;
b. syarat dan jangka waldu pembiayaan, yaitu perbedaan berupa kemudahan pembiayaan yang meliputi syrat dan jangka waktu pembiayan seperti adanya subsidi atau
bntun pemerintah untuk pembelian propei tertentu;
c. kondisi penjualan, yaitu perbedan kondisi pelaksnan
penjuln, seperti penjualn yng dilkukan secara cepat, jual-beli ntra pihk yng mempunyai hubungn tertentu,
dan jual-beli khusus sepeti lelng;
REPUBLIK I N D ON E S IA
33
-d . biaya yang · harus segera dikelurkan setelah pembelian
(expenditure made immediately ter purchase), yaitu biaya yang · seharusnya dikelurkan oleh pembeli untuk
penguasan isik objek Penilian, seperti biaya pengosongn;
e . kondisi pasar, dicerminkan berdasarkan data histois
trnsaksi sepei perbedaan waktu trnsksi objek pembanding dengan tanggal Penilin, inomasi data tingkat inlasi/ delasi;
f. lokasi dan lingkungan, yaitu perbedan letk, kondisi masyrakat sekitar, dan/ atau jarak ke pusat bisnis/ Central Business Disict (CBD);
g. krakteristik isik, yaitu perbedaan bentuk, dimensi, elevasi, luas, kondisi, umur, desan, dn/ a tau spesiikasi;
h. peruntukan, yitu perbedaan terkait tata ruang dn/ a tau peruntukan area (zoning) ;
i. aksesibilitas, yitu perbedaan dlm kemudhan untuk mencapi lokasi objek; dan/ atau
J . asilitas, yaitu perbedan dalam ketersediaan jaingan listrik,
jaringn air, jringn telepon, dn asilitas sosial.
Pasl
83
(
1)
Besanya persentase atau jumlah dlam satun ma ta uang dari proses penyesuaian sebagimana dimksud dlam Pasal 8 1 ayat. (3) dijumlahkt untuk memperoleh jumlh penyesuuan.(2) Jumlah penyesuian sebagaimna dimaksud pada ayat
( J )
digunakan untuk menentukan besnya indikasi nilai objek Penilain.(3)
(4)
Indikasi nilai sebagmna dimksud digunal:n untuk mendapatkan Nilai mengunakan pembobotn.
pada ayat (2) Wajar dengan
Dalam hal Penilaian dilkukan dalam rangka
Pemindahanganan melalui penjuln secara lelng, untuk mendapakn Nili Wajr, indikasi nili sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilakukan pembobotan dan
dikurangkan dengan bea lelang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangn.
Pasal
84
( 1 ) Penilaian dengan menggunakan pendekatan biaya dilakukan dengan thapn:
a. menghitung biaya pembuatn 'baru atau biaya
pengntin baru objek Penilian;
b. menghitung . . ...
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
34
-b. menghitung besarnya penyusutan dan/ aau keusangan objek Penilain; dn
c . menurangkan biaya pembuatan baru atau penggantian
baru dengan penyusutan dn/ a tau keusangan objek Penilaian, untuk menghasilkan Nilai Wjar.
(2) Dalam hal Penilian dilakukan dlm rangka
Pemindahtngnn melalui penjualan secara lelng, Nilai Wajar diperoleh dengn cara:
a. mengurangkan biaya pembuatan baru atau pengganin
bru dengan penyusutan dan/atau keusangan objek Penilaian; dan
b� hasilnya dikurangkan dengan bea lelng sesuai dengan ketentun Peraturn Perundang-undngan.
Pasl 85
(
1 ) Perhitungan biaya pembuatan baru sebagimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat ( 1) huruf a dilakukn dalm hal pada saat pelaksnaan Penilaian, seluruh inormasi biaya pembuatan/perolehan dn/atau materil objek Penilaian dapat diperoleh di pasarn�(2)
Perhitungan biaya penggantian baru sebagimna dimaksud dlam Pasl 84 yat ( 1) huruf a dilakukan dalam hal pada saat pelaksanan Penilian, seluruh atau sebagian inormasi biaya pembuatn/perolehan dan/atau material objek Penilaian idak dapat diperoleh di pasarn.Pasal 86
( 1 ) Dlam hal objek Penilaian berupa banunan, Penilaian memperhitungkn biaya lngsung dn biaya tidak langsung.
(2)
Biaya lngsung sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) meliputitetapi tidal: terbatas pada biya material, biya upah, dn/atau biaya peralatan.
(3) Biaya idal: lngsung sebagimana dimaksud pada ayat ( 1 ) meliputi tetapi tidak terbatas pada biaya jasa tenaga hli, pajk, asuransi, dan/ atau biaya over hea d.
(4) Besaran biaya langsung dn biya tidak langsung dapat
menggunkan Petunjuk Teknis Penilaian yng diterbitkan oleh Direktur Jenderl atau Direktur yng memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilian pada Direktorat Jenderal.
REPUBLIK INDONES IA 35
-Pasl 87
Penyusutan dan/ atau keusangan sebagai1nana dimksud dalam Pasl 84 ayat ( 1) huruf b meliputi:
a. penyusutn isik atau penyusutan teknis;
b. keusangan ekonois; dan/ atau
c. keusangan fungsional.
( 1)
(2)
(3)
(4)
Pasl 88
Besarn penyusutan isik atau penyusutan teknis
sebagaimna dimlrnud dalam Pasl 87 huruf a ditentukan dengan cra mengalikan persentase penyusutan isik atau penyusutan teknis dengn biya pembuatn/ penggantian baru objek Penilaian.
Besarn persentase penyusutan isik atau penyusutn teknis
sebagaimana dimalrnud pada ayat
( 1)
ditentukn · oleh timPenili Direktorat Jenderal berdasarkn tabel penyusutan isik atau penyusutan teknis dn/ atau ormula perhitungan penyusutan isik atau penyusutan teknis yng ditetapkan oleh Direktur J enderl.
Tim Penili Direktorat Jenderal dapat menentukan besaran persentase penyusutan isik atau penyusutn tenis lebih besar di tabel penyusutan . isik atau abel penyusutn tenis sebagaimna dimaksud pada ayat (2) , dlam hal dapat dibuktikan objek Penilian memiliki penyusutn isik atau penyusutn teknis lebih besar.
Tim Penilai Oirektorat Jenderal dapat menentukan besaran persentase penyusutan isik atau penyusutan teknis lebih kecil dai tabel penyusutan isik atau tabel penyusutan teknis sebagaimana dimnud pada ayat (2) , dalam hal dapat dibuktikan objek Penilaian memiliki penyusutan isik atau penyusutan telmis lebih kecil.
Pasl 89
Keusangan ekonomis sebagaimna dimaksud dlam Pasl 87 huruf b diperhitungkan dalam hal terdapat kondisi ekstenal yang mengurangi nilai objek Penilaian.
Pasal 90
Keusangan fungsional sebagmna dimaksud dalam Pasal 87 huruf c diperhitungkn dalam hal terdapat:
a. perubahn fungsi objek Penilaian; dan/atau
b. keidaksesuain objek Penilin dengn standr yang
berlaku umum.
M ENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONES IA
36
-Pasal 9 1
(1)
Keusngan ekonomis sebagaimana dimaksud dlm Pasal 89dan/ atau keusangah fungsionl sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 diperhitungkan setelh nili pembuatan baru atau pengntian baru dikurni dengan penyusutan isik atau penyusun tenis ..
(2) Besaran keusangn ekonomis dan/ atau keusangan
fuhgsional ditentukan oleh im Penilai Direktorat Jenderal berdasrkan:
a. perhitungan keusangan ekonomis dn keusangan fungsional; atau
b. tabel keusangan ekonomis dn keusngn fungsionl yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal atau Direktur yang meilii tugas dan fungsi di bidang Peiilain pada Direktorat J enderal.
Pasal 92
(
1 ) Penilaian dengan mengunakan pendekatn pendapaan dilakukan dengn thapan:(2)
a mengesmasi pendapan kotor eekif per tahun yang dihasilkn oleh objek Penilain;
b. mengestimasi pendapatan bersih per tahun yang dihasilkan oleh objek Penilaian;
c . menentukn tingkat kapitlisasi dn/ atau tingkat
diskonto yang sesuai; dn
d. menghitung nilai kini dari pendapatan bersih
sebagaimana dimksud pada huruf b dengan
tingkat kapitalisasi dan/ a au tingkat diskonto
sebagaimana dimaksud pada huruf c, untuk
menghasilkn Nilai Wajr. ·
Dalam hal Penilaian dila{ukn dalam rangka
Pemindahtanganan melalui penjualan secra lelang, Nilai Wajar diperoleh dengan cara:
a. mengurngkan nilai ini dai pendapatan bersih
sebagaimana dimnud pada ayat ( 1) huruf b dengan
tingkat kapitalisasi dan/ a tau tingkat diskonto
sebagimana dimksud pada ayat ( 1 ) huruf c; dan
b. hasilnya dikurangkan dengan bea lelang sesuai
dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangn.
[image:36.639.72.550.46.936.2]REPUBLIK I N DONES IA
37
-Pasal 93
Pendapatan kotor eektif per tahun sebagaimana dimalrnud dalam Pasal 92 ayat ( 1 ) huruf a diperoleh dengan tahapn:
a. mengurangkan pendapan kotor potensial dengan keruin
pendapatn k tetah dn keuian rena kekosongn; dn
b. menambhkn hasil pengurangan sebagimana dimnud
pada huruf a dengan pendapatan lain-lain.
Pasl 94
Pendapatan bersih objek Penilain sebagaimna dimaksud dalam Pasal 92 ayat ( 1 ) huruf b diperoleh dengan cara mengurangkn pendapatan kotor efektif per tahun dengn biaya operasional.
Pasl 95
Nilai objek Penilaian dapat diperoleh dengn cara: a. metode kapitalisasi langsung; atau
b . metode arus kas yang didiskontokan.
Pasl 96
( 1 ) Metode kapitalisasi langsung dilakukan dengan cara mengkapitalisasi langsung pendapatn bersih objek Penilaian dengan tingkat kapitalisasi tertentu.
(2) Metode arus kas yang didiskontokan dilakukn dengn cara mengakan proyeksi pendapatan bersih objek Penilaian dengan ingkat diskonto tetentu.
(
1 )(2)
(3)
(4)
Pasal 97
Tim Penili Direktorat Jenderal dapat memilih pendekatan yang dinggap pling mencerminkn nilai objek Penilaian.
Tim Penilai Direktorat Jenderal dapat mengunakan lebih dari 1 ( satu) pendekatan Penlian.
Dalam hal digunakan
2
(dua) atau lebih pendekatan Penilaian, im Penili Direktorat Jenderl:a. mel{ukan rekonsiliasi berdasarkan bobot atas indikasi nilai dai pendekatan yng digunkan; atau
b. memilih pendekan yng dianggap paling
mencerminkan nilai objek Penilin.
Bobot atas indikasi nilai di masing-masing pendekatan
sebagimana dimnud pada ayat
(3)
huruf a ditentuknberdasarkn petimbangn prof esionl Penili Direktorat
Jenderal.
M E NTE R I KE UANGAN
REP U B LIK IN DONES IA
38
-Paragraf 7
Simpuln Nilai
Pasal 98
Hasil perhitungan nilai dengan menggunakan satu pendekatan Penilaian atau hasil rekonsiliasi sebagimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (3) huruf a dituangkan dlm simpuln nili.
Pasal 99
( 1 ) Simpulan nili dicantumkan dalam satun mata uang Rupiah.
(2) Dalam hal perhitungn nilai menggunakan mata uang asing, simpuln nilai dicntumkn dengan mengkonversi mata uang asing dengn kurs tengah Bank Indonesia yng berlaku pada tanggal Penilaian.
(3) Dikeculikan dari ketentuan konversi sebagimna dimaksud pada yat (2) , simpuln nilai dapat dicantumkan dalam satun mata ung asing sesui dengn pernohonan.
Pasal 100
( 1 ) Simpulan nili dibulatkan dalam ibuan terdekat.
(2) Dalam hal simpuln nilai dicantumkan dalam satuan mata uang asing sebagaimna dimaksud dalam Pasal 99 ayat (3) , simpulan nilai tidk dibulakan.
Paragrf 8 Laporan Penilaian
Pasal 1 0 1
( 1 ) Hasil Penilaian dituangkn dalm laporn Penilin. (2) Laporan Penilaian sekurang-kurangnya memuat:
a. uraian objek Penilain;
b. tjun Penilaian;
c. tanggl suvei lapngn;
d. tanggal Penilaian;
e. hasil analisis data;
f. pendekatan Penilaian; dan
g. simpuln nilai.
REPUBLIK I N DONES IA 39
-(3) Tanggal Penilian sebagaimna dimaksud pada ayat (2)
huuf d merupakan tanggl termir pelnnaan suvei lapangan atas objek Penilian.
Pasal 1 02
Laporan Penilin ditulis dalam bahasa Indonesia.
Pasal 1 03
( 1 ) Untuk melksanakan kendali mutu atas laporn Penilaian, tim Penili Direktorat Jenderal yang melakukan Penilaian Barng Milik Negra dalm rangka Pemanaatan atau Pemindhtangann, memaparkan konsep laporn Penilain. (2) Pemaparan konsep laporan Penilaian sebagimana dimksud
pada ayat ( 1 ) melipu ti:
a. adinisrasi laporn Penilaian; dan
b. prosedur dan penerapan metode Penilaian.
(3) Pemaparan konsep laporan Penilaian sebagaimana dimaksud pada yat ( 1) dilkukan di hadapan Penilai Direktorat Jenderal yang ditunjuk oleh :
(4)
(5)
(6)
(7)
a. Direktur Jenderal atau Direktur yng memiliki tugas dan fungsi di bidang Penilian pada Direktorat Jenderal, untuk Penili Direktorat Jenderal dari Kntor Pusat; b. Kepala Kantor Wilayh, · untuk Penili Direktorat
Jenderal dari Kantor Wilayh; atau
c. Kepala Kantor Pelyanan, untuk Penilai Direktorat Jenderal dari Kantor Pelyanan.
Penilai Direktorat Jenderal yang ditunjuk sebaginana dimaksud pada ayat (3) idak boleh nemiliki benturan kepeningan dengan konsep laporan Penilaian yang dilakukan pemaparan.
Terhadap pemapran konsep laporan Penilaian, Penilai Direktorat Jenderl yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat memberikn sarn, pertimbangan dan/ atau pendapat sebagai bahan masukan bagi im Penilai Direktorat J enderal dalam menyelesaikan penyusunan laporan Penilian.
Pemapran konsep laporan Penilaian dilakukan sebelum ditandatangninya laporn Penilian oleh tim Penilai Direktorat Jenderal.
Pelaksnaan tenis pemaparan konsep laporan Penilian dil<ukan berda