• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PENDIDIKAN LANJUTAN PERTAMA

JAKARTA, 2005

PELAKSANAAN

(2)
(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ……….i

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 2

C. Manfaat ... 2

BAB II PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH ... 3

A. Pengertian ... 3

B. Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah ... 4

BAB III ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA (APB) SEKOLAH ... 33

A. Pengertian ... 33

B. Langkah Penyusunan ... 33

BAB IV PEDOMAN PENGGUNAAN DANA KHUSUS BANTUAN BLOCK GRANT UNTUK PROGRAM-PROGRAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN ... 39

A. Pengantar ... 39

B. Sifat Dana Bantuan ... 39

C. Rincian Pemanfaatan Dana Bantuan ... 39

BAB V PELAPORAN ... 40

A. Laporan Rencana dan Program Pelaksanaan ... 40

B. Laporan Keuangan ... 41

C. Mekanisme Pelaporan ... 42

(4)
(5)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rintisan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) telah berjalan lima tahun, sejak dimulai pada tahun pelajaran 1999/2000. Evaluasi yang dilakukan oleh Tim dari Universitas Negeri Semarang untuk SLTP dan Tim dari Inspektorat Jenderal Depdiknas untuk SMU, keduanya memberikan nilai positif. Artinya sebagian besar (hampir 80%) sekolah peserta rintisan berjalan dengan baik, sehingga memberi harapan besar program tersebut dapat diperluas jangkauannya. Hal ini juga dibuktikan dengan hasil monitoring dan evaluasi selama tiga tahun terakhir (tahun 2002, 2003, 2004) berturut-turut terhadap 3000 SMP pelaksana MPMBS oleh Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama yang bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia menyimpulkan bahwa MPMBS telah memberikan manfaat yang besar bagi sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikannya, baik secara akademik maupun non akademik.

Bertolak dari itu pola MPMBS diharapkan masih bisa terus diterapkan oleh semua sekolah, dan bahkan sekarang telah lebih meningkat lagi menjadi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Undang-undang nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) secara jelas menyebutkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan pola pembinaan sekolah/lembaga pendidikan di Indonesia. Demikian juga, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 51 secara tegas dinyatakan “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah” (ayat 1) dan “Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan” (ayat 2). Hal ini juga lebih didukung oleh adanya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah, dimana secara langsung atau tidak, daerah dan sekolah memiliki kewenangan untuk menyelenhggarakan pendidikan secara otonomi dan bertanggungjawab.

Memang pada awal rintisan MPMBS, sekolah yang menjadi rintisan mendapatkan dana BOMM (bantuan operasional manajemen mutu). Namun harus difahami bahwa dana BOMM hanyalah dana pancingan. Pada akhirnya, semua sekolah diharapkan menerapkan MPMBS tanpa dikaitkan dengan dana insentif tertentu. Sekolah diharapkan dapat menggunakan dana yang selama ini dimiliki, tetapi menggunakan manajemen sekolah dengan prinsip-prinsip MPMBS. Dan, mulai tahun 2004 dana tersebut telah dialihkan (dekonsentrasi) ke propinsi dalam bentuk school grant untuk dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan MPMBS. Mengingat adanya berbagai perubahan peraturan dan juga dari hasil kajian selama ini, maka mulai tahun 2005 ini sepenuhnya sekolah rintisan MPMBS diharapkan lebih meningkatkan pengelolaan pendidikannya dengan mengacu sepenuhnya pola MBS.

Dari berbagai studi, termasuk monitoring pelaksanaan MPMBS ditemukan bahwa salah satu kelemahan sekolah adalah dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah. Bahkan baru sedikit sekolah yang memiliki rencana pengembangan sekolah secara komprehensif. Sekolah pada umumnya memiliki rencana kegiatan tahunan, tetapi jarang yang memiliki rencana pengembangan untuk jangka panjang. Di samping itu, banyak sekolah yang dalam menyusun rencana kegiatan tahunan terkesan berorientasi pada “penggunaan” dana yang dimiliki, bahkan ada sekolah yang jika ditanyakan rencana kegiatan tahunan menunujukkan RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah).

Di pihak lain, para ahli sepakat bahwa rencana pengembangan sekolah sangat penting sebagai “kompas” dan pemandu semua pihak, ke arah mana sekolah akan

(6)

dikembangkan. Fenomena munculnya rencana kegiatan tahunan yang bernuansa “penggunaan” dana yang dimiliki, diduga disebabkan oleh kekurangfahaman sekolah terhadap cara penyusunan rencana pengembangan sekolah. Akibatnya, ketika sekolah harus membuat rencana kegiatan tahunan, yang terjadi adalah bagaimana memanfaatkan anggaran yang tersedia sebaik mungkin.

Tidak adanya rencana pengembangan sekolah yang komprehensif juga menyebabkan rencana kegiatan tahunan sekolah tidak berkesinambungan dari tahun ke tahun. Setiap saat arah pengembangan sekolah dapat bergeser atau berubah diwarnai oleh isu yang hangat pada saat itu. Tidak adanya rencana pengembangan sekolah juga menyebabkan sekolah mudah dipengaruhi oleh isu hangat, karena tidak memiliki “kompas” ke mana sekolah harus dikembangkan.

Jika dicermati ternyata sampai saat ini memang belum ada panduan penyusunan rencana pengembangan sekolah yang komprehensif. Memang sekolah dapat membaca dari buku teks yang telah terbit dari berbagai pengarang, namun sebagaimana diketahui kemampuan membaca buku teks dari warga sekolah masih sangat terbatas, apalagi bagi sekolah yang berlokasi di luar kota besar. Oleh karena itu dirasa perlu menerbitkan panduan penyusunan rencana pengembangan sekolah. Buku ini merupakan penyempurnaan Buku II seri MPMBS edisi ke-4 tahun 2002, dengan judul Panduan Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Proposal dan Pelaporan.

B. Tujuan

Secara umum buku ini ditulis dengan tujuan memberi panduan kepada sekolah dalam menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS).

C. Manfaat

Buku ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam memandu sekolah menyusun rencana pengembangan diri, khususnya pada tahap penyusunan rencana startegis dan rencana kegiatan tahunan.

(7)

BAB II

PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

A. Pengertian

Rencana Pengembangan Sekolah merupakan rencana yang komprehensif untuk mengoptimalkan pemanfaatkan segala sumberdaya yang ada dan yang mungkin diperoleh guna mencapai tujuan yang diinginkan di masa datang. Rencana pengembangan sekolah harus berorientasi ke depan dan secara jelas bagaimana menjembatai antara kondisi saat ini dan harapan yang ingin dicapai di masa depan. Rencana pemgembangan sekolah merupakan rencana yang secara komprehensif memperhatikan peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal, memperhatikan kekuatan dan kelemahan internal, dan kemudian mencari dan menemukan strategi dan program-program untuk memanfaatkan peluang dan kekuatan yang dimiliki, mengatasi tantangan dan kelemahan yang ada, guna mencapai visi yang diinginkan.

Dengan demikian dalam rencana pengembangan sekolah harus tergambar secara jelas: 1. Visi sekolah yang menunjukkan gambaran sekolah di masa datang (jangka

panjang) yang diinginkan.

2. Misi sekolah yang merupakan tindakan/upaya untuk mewujudkan visi sekolah yang telah ditetapkan sebelumnya.

3. Tujuan pengembangan sekolah yang merupakan apa yang ingin dicapai dalam upaya pengembangan sekolah pada kurun waktu jangka menengah, misalnya untuk 3-6 tahun.

4. Tantangan nyata, yaitu kesenjangan (gap) dari tujuan yang diinginkan dan kondisi sekolah saat ini. Dengan demikian tantangan nyata itulah yang sebenarnya harus diatasi oleh sekolah.

5. Sasaran pengembangan sekolah, yaitu apa yang diinginkan sekolah untuk jangka pendek, misalnya untuk satu tahun.

6. Identifikasi fungsi-fungsi yang berperan penting dalam pencapaian sasaran tersebut.

7. Analisis SWOT terhadap fungsi-fungsi tersebut, sehingga ditemukan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (oportunity) dan ancaman (threat) dan setiap fungsi yang telah diidentifikasi sebelumnya.

8. Identifikasi alternatif langkah untuk mengatasi kelemahan dan acaman denga memanfaatkan kekuatan dan peluang yang dimiliki sekolah.

9. Rencana dan program sekolah yang dikembangkan dari alternatif yang terpilih, guna mencapai sasaran yang ditetapkan.

Dari uraian di atas tampak bahwa rencana pengembangan sekolah akan memandu semua warga sekolah bagaimana mengembangkan sekolah, ke mana sekolah akan dikembangkan dan langkah apa yang harus ditempuh untuk melaksanakannya.

Dalam menyusun rencana pengembangan sekolah harus melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholder), misalnya guru, siswa, tata usaha/kryawan, orangtua siswa, tokoh masyarakat yang memiliki perhatian kepada sekolah. Dengan cara itu diharapkan rencana pengembangan sekolah menjadi “milik” semua warga sekolah dan pihak lain yang terkait.

Pelibatan tersebut tentu saja sesuai dengan kemampuan masing-masing, artinya setiap orang dilibatkan sesuai dengan kemampuan dan kepentingannya. Yang penting dijaga adalah “rasa terwakili” dalam proses penyusunan dan “rasa memiliki” terhadap hasil. Seluruh warga sekolah harus merasa ikut menentukan dala proses penyusunan renstra, sehingga merasa ikut memiliki renstra tersebut, dan pada akhirnya merasa wajib untuk melaksanakannya.

(8)

Rencana pengembangan sekolah sebenarnya secara komprehensif mencakup harapan jangka panjang yang ditunjukkan oleh visi sekolah, harapan jangka menengah yang ditunjukkan oleh tujuan sekolah dan sasaran jangka pendek sekaligus bagaimana mencapai sasaran tersebut. Jika tahapan tersebut dilakukan secara konsisten, maka ketercapaian sasaran demi sasaran pada akhirnya akan berakumulasi menjadi ketercapaian tujuan dan akhirnya mencapai visi sekolah.

Perlu dicatat bahwa ketika rencana dan program tahunan sekolah telah disusun, berikutnya diikuti dengan penyusunan rencana anggaran sekolah, yang pada umumnya disebut dengan RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah). Jadi RAPBS adalah dukungan “anggaran” untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

B. Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah

Tahapan penyusunan rencana pengembangan sekolah yang disebutkan terdahulu, harus dilakukan secara beurutan. Setiap tahap memerlukan tahapan sebelumnya sebagai dasar penyusunannya. Sebagai contoh, misi sekolah baru dapat disusun setelah visi disusun dan ditetapkan. Sasaran baru dapat ditetapkan setelah tujuan sekolah yang ditetapkan “dikonfrontasikan” dengan keadaan sekolah saat ini, sehingga ditemukan tantangan nyata sekolah. Rencana dan program baru dapat disusun setelah dilakukan identifikasi alternatif pemecahan masalah dan dipilih alternatif yang terbaik. RAPBS baru dapat dibuat setelah rencana dan program disusun. Bukankah RAPBS merupakan dukungan anggaran untuk melaksanakan program sekolah. Langkah-langkah tersebut secara skematik ditunjukkan pada Gambar 1.

 Tantangan masa depan/globalisasi  Nilai dan harapan

masyarakat Visi dan misi sekolah Analisis SWOT setiap fungsi dan faktor-faktornya Rencana, program dan anggaran untuk masing-masing sasaran Tantangan nyata yang dihadapi sekolah Tujuan sekolah Output sekolah saat ini (Kenyataan) Identifikasi fungsi-fungsi untuk mencapai sasaran Sasaran 1 Sasaran 2 Sasaran 3 ……….. ……….. Alternatif langkah-langkah pemecahan persoalan Landasan yuridis pendidikan (Undang-undang dan Peraturan-peraturan) Gambar 1

Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah

(9)

1. Merumuskan Visi Sekolah

Visi adalah imajinasi moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa datang. Imajinasi ke depan seperti itu akan selalu diwarnai oleh peluang dan tantangan yang diyakini akan terjadi di masa datang. Setiap orang, tanpa disadari dan tanpa dirumuskan secara jelas sebenarnya juga punya visi. Seorang pemuda, mungkin mencita-citakan bagaimana keluarga yang diinginkan ketika besuk sudah menginjak usia tua. Mungkin terbayangkan memiliki seorang istri yang sabar dan setia, anak-anak yang cerdas, sholeh dan berbakti pada orangtua, pekerjaan yang bagus, penghasilan yang cukup, rumah yang nyaman dengan tetangga yang rukun dan seterusnya. Analog dengan itu, mungkin kita mengimajinasikan sekolah yang bermutu bagus, diminati oleh masyarakat, memiliki jumlah guru yang cukup dengan kualitas yang baik, fasilitas sekolah yang baik, dan sebagainya. Itulah yang disebut visi seseorang dan visi sekolah. Dalam menentukan visi tersebut, sekolah harus memperhatikan perkembangan dan tantangan masa depan. Berikut itu beberapa contoh perkembangan ke depan yang perlu diperhatikan, antara lain: (1) perkembangan iptek begitu cepat akan berpengaruh pada semua aspek kehidupan termasuk teknologi pendidikan, (2) era global akan menyebabkan lalu lintas tenaga kerja sangat mudah, sehingga akan banyak tenaga kerja asing di Indonesia, sebaliknya banyak tenaga kerja Indonesia di luar negeri (3) era informasi yang menyebabkan siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber sehingga guru dan sekolah bukan lagi satu-satunya sumber informasi, (4) era global tampaknya juga berpengaruh terhadap perilaku dan moral manusia, sehingga sekolah diharapkan berperan menanamkan akhlaq kepada siswa, (5) kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan yang baik bagi anaknya ternyata paralel dengan persaingan antar sekolah untuk menggaet anak yang pandai dengan orangtua yang penuh perhatian, sehingga sekolah yang mutunya jelek akan ditinggalkan mereka, (6) di era AFTA yang sebentar lagi dimulai bahasa Inggris akan sangat penting untuk sarana komunikasi di dunia kerja, (7) di era AFTA juga sangat mungkin terjadi pembukaan “cabang” sekolah luar negeri di kota besar di Indonesia, serta (8) masyarakat semakin faham bahwa pendidikan bukan hanya untuk hal-hal yang bersifat kognitif, sehingga prinsip multiple intelegence menjadi salah satu harapan, dan sebagainya.

Tantangan tersebut perlu direspons oleh sekolah, sehingga visi sekolah akan mampu mengakomodasi sekaligus memanfaatkan peluang yang terkandung pada perkembangan tersebut. Dengan kata lain kondisi sekolah yang ingin dicapai di masa datang sudah sesuai dengan arah perkembangan tersebut.

Namun demikian visi sekolah harus tetap berada dalam koridor kebijakan pendidikan nasional. Artinya visi suatu sekolah harus mengacu kepada kebijakan umum pendidian yang tekah ditetapkan secara nasional. Hal itu penting difahami untuk menghindari terjadinya kekeliruan bahwa sekolah “bebas” menentukan visinya dan tidak terkait dengan kebijakan pihak lain. Bukankah sekolah merupakan lembaga penyelenggara pendidikan dan pendidikan itu di atur dalam suatu sistem pendidikan nasional? Jadi tentu sekolah harus berada dalam koridor sistem pendidikan nasional tersebut. Sebagai contoh, Indonesia menganut adanya kurikulum nasional. Jadi setiap sekolah harus menggunakan kurikulum tersebut, dengan pemahaman sebagai kurikulum minimal. Namun sekolah memiliki “ruang gerak” untuk menjabarkan lebih lanjut, agar pelaksanaannya sesuai dengan kondisi sekolah. Misalnya menambah dengan muatan lokal, dan mengatur proses pembelajaran sebagai jabaran kurikulum.

Di samping itu visi sekolah juga harus mempertimbangkan potensi yang dimiliki sekolah dan harapan masyarakat di sekitar sekolah. Artinya jenis dan mutu layanan pendidikan seperti apa yang diharapkan oleh orangtua dan masyarakat sekitar sekolah. Juga harus dipertimbangkan apa potensi yang dimiliki sekolah untuk mewujudkan harapan tersebut. Hal ini penting, agar visi sekolah tidak

(10)

hanya berupa “mimpi” yang tidak mungkin dapat diwujudkan. Visi haruslah tinggi, tetapi juga realistik, sehingga dapat dicapai walaupun dengan upaya yang sungguh-sungguh.

Visi juga harus sesuai dengan harapan masyarakat yang dilayani sekolah. Bukankah visi itu untuk siswa? Jadi siswa itulah yang pada hakekatnya akan “menikmati” keterwujudan visi, karena memang sekolah pada dasarnya membantu siswa untuk mengembangkan diri.

Dengan demikian visi sekolah haruslah berada dalam koridor pendidikan nasional, memenuhi tantangan masa depan dan harapan masyarakat, serta realistik karena memepertimbangkan potensi yang dimiliki.

Sekolah adalah “milik” orang banyak. Banyak pihak yang terkait dengan sekolah, yang biasanya disebut sebagai stakeholder (kelompok kepentingan). Guru, karyawan, siswa, orangtua siswa, pemerintah bahkan masyarakat adalah contoh dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah. Oleh karena itu dalam merumuskan visi sekolah, kelompok kepentingan tersebut harus diajak bermusyawarah dan didengar pendapatnya. Dengan cara itu visi sekolah telah mewakili aspirasi stake holder dan mereka merasa “memiliki” visi tersebut yang pada gilirannya diharapkan terdorong untuk bersama-sama berperan aktif dalam mewujudkannya.

Visi pada umumnya dirumuskan dengan kalimat yang filosofis, bahkan seringkali mirip sebuah slogan. Sering pula dirumuskan dalam bentuk kalimat yang khas, mudah diingat dan terkait dengan istilah tertentu. Dalam keluarga, misalnya ada orang yang merumuskan visinya mewujudkan “keluarga yang harmonis dan berkecukupan”. Tentunya visi “keluarga harmonis dan berkecukupan” sebenarnya mengandung ciri-ciri yang digambarkan si perumus, misalnya selalu rukun, memiliki anak-anak yang sholeh, cerdas dan berbakti pada orangtua, memiliki pekerjaan dan penghasilan yang baik, memiliki rumah yang nyaman dan sebagainya.

Sekolah juga dapat merumuskan visinya dalam bentuk kalimat filosofis agar mudah diingat dan bahkan menjadi “semboyan” bagi warga sekolah. Misalnya ada sebuah sekolah “X” yang kebetulan berlokasi di perkotaan merumuskan visinya (hanya sekedar bahan banding dan sekolah Anda seharusnya merumuskan yang lain):

“UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMAN DAN TAQWA”

Sekolah lain, yang kebetulan berlokasi di daerah pedesaan merumuskan visinya sebagai berikut (ini juga sekedar bahan banding, Anda seharusnya merumuskan yang lain):

“BERIMAN, TERDIDIK, DAN BERBUDAYA”

Kedua visi tersebut berbeda tetapi semuanya benar. Keduanya cukup singkat dan mampu memberi gambaran karateristik sekolah yang diinginkan di masa datang. Keduanya juga tidak menyimpang dari koridor pendidikan nasional, karena pendidikan yang unggul, berdasarkan pada iman, taqwa, budaya bangsa memang merupakan prinsip-prinsip pendidikan nasional. Menurut Undang-undang tentang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Demikian juga pada PP nomor

(11)

28/90, yang dimaksud dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama adalah bentuk satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan program tiga tahun. Tujuan pendidikan dasar, sebagaimana tercantum pada Bab II Pasal 3 adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya, sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Yang mungkin masih perlu dilacak pada kedua visi tersebut adalah, apakah memang benar-benar sesuai dengan potensi sekolah setempat serta harapan masyarakat yang dilayani.

Dari urian di atas serta dua contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa rumusan visi yang baik seharusnya memberikan isyarat:

a. Berorientasi ke masa depan, untuk jangka waktu yang lama.

b. Menunjukkan keyakinan masa depan yang jauh lebih baik, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat.

c. Mencerminkan standar keunggulan dan cita-cita yang ingin dicapai.

d. Mencerminkan dorongan yang kuat akan tumbuhnya inspirasi, semangat dan komitmen warga.

e. Mampu menjadi dasar dan mendorong terjadinya perubahan dan

pengembangan sekolah ke arah yang lebih baik. f. Menjadi dasar perumusan misi dan tujuan sekolah.

Sebagaimana disebut terdahulu, visi yang dirumuskan dengan kalimat filosofis perlu diberikan indikatornya. Misalnya, apa indikator sekolah yang “unggul dalam prestasi berdasarkan iman dan taqwa” tersebut. Indikator sebaiknya mencakup segala aspek pokok yang diimajinasikan. Sebagai bahan banding, visi “unggul prestasi berdasarkan iman dan taqwa” memiliki indikator:

a. Unggul dalam peningkatan skor (gain score achievement –GSA)1 b. Unggul dalam peningkatan pencapaian ketuntasan kompetensi c. Unggul dalam berbagai lomba karya ilmiah remaja.

d. Unggul dalam kegiatan keagamaan. e. Unggul dari prestasi olahraga. f. Unggul dari prestasi kesenian.

g. Memiliki lingkungan sekolah yang nyaman dan kondusif untuk belajar. h. Mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.

Dua visi dan disertai indikator tersebut hanyalah bahan banding dan hanya cocok dengan sekolah yang bersangkutan. Oleh karena itu sekolah lain dianjurkan merumuskan visinya sendiri, yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. Mungkin sekali rumusan maupun indikatornya berbeda dengan contoh/bahan banding di atas.

Setelah visi dirumuskan dan indikator telah ditetapkan, maka tahap selanjutnya adalah merumuskan misi sekolah.

2. Menyusun Misi Sekolah

Sebagaimana disebutkan pada Buku I, misi adalah tindakan atau upaya untuk mewujudkan vidi. Jadi misi merupakan penjabaran visi dalam bentuk rumusan tugas, kewajiban, dan rancangan tindakan yang dijadikan arahan untuk mewujudkan visi. Dengan kata lain, misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi

1

Peningkatan skor (GSA) adalah selisih antara rata-rata nilai kumulatif tes akhir (output) dan rata-rata nilai kumulatif tes awal

(input) pada mata pelajaran dan siswa yang sama. Nilai input untuk SMP adalah Hasil Ujian masuk dan untuk SMU adalah NUAN SMP. Jadi GSA SMP adalah selisih Nilai UAN ketika lulus SMP dengan Hasil tes masuk yang bersangkutan untuk mata pelajaran yang sama.

(12)

tuntutan yang dituangkan dalam visi dengan berbagai indikatornya. Sebagai contoh, sekolah ‘X’ merumuskan misinya sebagai berikut:

a. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki. b. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga

sekolah.

c. Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara lebih optimal.

d. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa, sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.

e. Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan komite sekolah.

Dari contoh tersebut, tampak bahwa rumusan misi selalu dalam bentuk kalimat yang menunjukkan “tindakan” dan bukan kalimat yang menunjukkan “keadaan” sebagaimana pada rumusan visi.

3. Merumuskan Tujuan Sekolah

Bertolak dari visi dan misi, selanjutnya sekolah merumuskan tujuan. Jika visi dan misi terkait dengan jangka waktu yang sangat panjang, maka tujuan dikaitkan dengan jangka waktu menengah. Dengan demikian tujuan pada dasarnya merupakan tahapan atau langkah untuk mewujudkan visi sekolah yang telah dicanangkan. Sebaiknya tujuan tersebut dikaitkan dengan silum program sekolah, misalnya untuk jangka 3 tahunan, yaitu satu siklus pendidikan di SMP atau SMA. Jika itu dianggap terlalu pendek dapat juga untuk 2 siklus program sekolah yang berari 6 tahun.

Jika visi merupakan gambaran sekolah di masa depan secara ideal, maka tujuan yang ingin dicapai dalam jangka waktu 3 tahun mungkin belum selengkap visi. Dengan kata lain, tujuan dapat berwujud sebagian dari visi. Sebagai contoh, sekolah ‘X’ yang telah menetapkan visi dengan indikator sebanyak 8 aspek, tetapi tujuan sekolah sampai dengan 3 tahun ke depan baru mencakup 4 aspek, sebagai berikut:

Jika pada saat ini tahun 2001, tujuan sekolah ‘X’ adalah: a. Pada tahun 2004, peningkatan skor (GSA)minimal +2,0

b. Pada tahun 2005, memiliki kelompok KIR yang mampu menjadi finalis LKIR tingkat nasional.

c. Pada tahun 2005, memiliki tim olahraga minimal 3 cabang yang mampu menjadi finalis tingkat Propinsi.

d. Pada tahun 2005, memiliki tim kesenian yang mampu tampil pada acara setingkat Kota.

Sekali lagi empat tujuan tersebut sekedar contoh atau bahan banding. Setiap sekolah dianjurkan untuk menyusun tujuan sekolah yang sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. Tentu saja berdasarkan visi dan misi sekolah yang telah dirumuskan sebelumnya.

4. Menganalisis Tantangan Nyata

Sebagaimana dijelaskan di bagian depan, tantangan nyata sebenarnya merupakan gap (kesenjangan) antara tujuan yang ingin dicapai sekolah dengan kondisi sekolah saat ini. Jadi tantangan nyata itulah yang harus “diatasi” selama kurun waktu tertentu. Misalnya, jika dalam tiga tahun ke depan dicanangkan tujuan untuk mencapai GSA sebesar +2, sementara saat ini baru mencapai +0,4 berarti tantangan nyata yang dihadapi sekolah adalah (+2) – (+0,4) = (+1,6). Jika saat ini

(13)

sekolah baru mencapai juara ketiga pada LKIR tingkat kabupaten, sedangkan tujuan sekolah ingin mencapai juara pertama, maka tantangan nyata yang dihadapi sekolah adalah “dua peringkat”, yaitu dari juara ketiga menjadi juara pertama. Tantangan nyata tidak dapat selalu dirumuskan sebagai “rumusan matematik”. Misalnya sebuah sekolah mencantumkah salah tujuan pengembangan sekolah 6 tahun ke depan adalah menjadi juara II pada LKIR tingkat nasional, pada hal saat ini baru mencapai juara I tingkat kabupaten. Nah, dalam kasus seperti ini tantangan tidak dapat dirumuskan secara matematik sederhana, karena juara II tingkat nasional tidak dapat dibandingkan langsung dengan juara I tingkat kabupaten. Yang dapat dirumuskan adalah sekolah tersebut harus mampu melewati peringkat-peringkat finalis tingkat propinsi, juara III, juara II, juara I tingkat propinsi, finalis tingkat nasional, juara III tingkat nasional dan baru juara II tingkat nasional. Dalam bahasa statistika, peringkat seperti itu disebut ordinal dan bukan interval, sehingga formula matematik tidak dapat diterapkan secara langsung. Namun yang penting dapat difahami makna peningkatan yang harus dilalui oleh sekolah.

Pada organisasi besar, misalnya perusahaan atau organisasi atau departemen tertentu, sesudah tujuan dirumuskan dilanjutkan dengan merumuskan strategi perusahaan/organisasi/departemen. Startegi dalam hal ini dimaksudkan sebagai “langkah besar” perusahaan/ organisasi/departemen untuk mencapai tujuannya. Strategi tersebut disamping mengacu kepada tujuan yang ingin dicapai, juga memperhatikan kondisi sekolah saat ini, khususnya kekuatan dan peluang apa yang dapat digunakan. Misalnya sebuah sekolah yang berada pada lingkungan masyarakat yang secara sosial ekonomi sangat bagus, sementara anggaran pemerintah belum bagus, merumuskan strategi untuk mencapai tujuan sekolah adalah “menggalang partisipasi orangtua dan masyarakat”. Sekolah lain yang merasa jumlah dan kualifikasi tenaga guru cukup baik, namun prestasi akademik siswa ternyata rendah, melakukan analisis dan menemukan bahwa kondisi kerja di sekolah merupakan salah faktor penentu motivasi kerja guru dan akhirnya berujung pada mutu hasil belajar. Oleh karena itu sekolah tersebut merumuskan salah satu strateginya adalah “meningkatkan iklim kerja sekolah”.

Untuk sekolah, mungkin strategi seperti tersebut diatas tidak harus dirumuskan secara khusus. Namun perlu dipikirkan pada saat menentukan alternatif langkah-langkah pengatasan masalah (butir 8) dan penyusunan rencana dan program sekolah (butir 9), sebaiknya kedua langkah tersebut memperhatikan strategi dasar sekolah dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

5. Menentukan Sasaran Sekolah

Rencana tahunan merupakan penjabaran dari tujuan sekolah yang telah dirumuskan berdasarkan pada kesenjangan/selisih/gap yang terjadi antara kondisi sekolah saat ini dengan tujuan sekolah untuk 4 sampai 6 tahun ke depan. Kesenjangan itu disebut juga tantangan nyata sekolah. Jadi tantangan nyata adalah selisih antara tujuan yang diinginkan dengan kenyataan yang ada saat ini.

Berdasarkan pada tantangan nyata tersebut, selanjutnya dirumuskan sasaran atau target mutu yang akan dicapai oleh sekolah. Sasaran harus menggambarkan mutu dan kuantitas yang ingin dicapai dan terukur agar mudah melakukan evaluasi keberhasilannya. Meskipun sasaran dirumuskan berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah, namun perumusan sasaran tersebut harus tetap mengacu pada visi, misi, dan tujuan sekolah. Untuk itu setiap sekolah harus memiliki visi, misi, dan tujuan sekolah sebelum merumuskan sasarannya.

Sasaran dapat disebut juga tujuan jangka pendek atau tujuan situasional sekolah. Sebutan tujuan situasional mengingatkan bahwa tujuan sekolah dirumuskan dengan bertolak dari hasil pengamatan atas situasi sekolah. Keterangan ‘situasi’

(14)

memberitahukan tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah saat ini. Dengan latar belakang seperti itu, maka yang dimaksud dengan sasaran/tujuan situasional adalah tujuan yang dirumuskan dengan memperhitungkan tantangan yang nyata dihadapi oleh sekolah.

Sasaran direncanakan untuk waktu yang relatif pendek, misalnya untuk satu tahun pelajaran. Dengan demikian sasaran pada dasarnya adalah tahapan untuk mencapai tujuan sekolah. Ketika menentukan sasaran, prioritas sasaran harus dipertimbangkan secara sungguh-sungguh. Misalnya, sekolah mencanangkan tujuan yang mencakup 5 aspek, maka sekolah perlu menyusun prioritas, apakah kelima aspek tersebut akan digarap pada tahun pertama, atau hanya beberapa aspek saja berdasarkan pertimbangan kondisi dan kemampuan sekolah.

Sebagai contoh, sekolah ‘X’ memutuskan akan menggarap ke empat aspek dari delapan aspek yang tercantum dalam tujuan. Untuk itu sekolah ‘X’ menetapkan sasaran untuk tahun ajaran 2002/2003 sebagai berikut:

a. Rata-rata GSA + 0,40 (plus nol koma empat);

b. Memiliki tim olahraga bola voli yang mampu menjadi finalis tingkat Kota/Kabupaten;

c. Memiliki kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang mampu menjadi juara Lomba KIR tingkat Kota;

d. Memiliki tim kesenian yang berlatih secara teratur dan mengadakan pentas di sekolah.

6. Mengidentifikasi Fungsi-fungsi

Setelah sasaran ditentukan, selanjutnya dilakukan identifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran tersebut. Langkah ini harus dilakukan sebagai persiapan dalam melakukan analisis SWOT. Fungsi-fungsi yang dimaksud, misalnya untuk meningkatkan skor (GSA) adalah fungsi proses belajar mengajar (PBM) dan pendukung PBM, seperti: ketenagaan, kesiswaan, kurikulum, perencanaan instruksional, sarana dan prasarana, serta hubungan sekolah dan masyarakat. Selain itu terdapat pula fungsi-fungsi yang tidak terkait langsung dengan proses belajar mengajar, diantaranya pengelolaan keuangan dan pengembangan iklim akademik sekolah.

Apabila sekolah keliru dalam menetapkan fungsi-fungsi tersebut atau fungsi tidak sesuai dengan sasarannya, maka dapat dipastikan hasil analisis akan menyimpang dan tidak berguna untuk memecahkan persoalan. Untuk itu, diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam menentukan fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang ditentukan. Agar lebih mudah, dalam identifikasi fungsi dibedakan fungsi-fungsi pokok yang berbentuk proses, misalnya KBM, latihan, pertandingan, dan sebagainya serta fungsi-fungsi yang berbentuk pendukung, yang berbentuk input misalnya ketenagaan, sarana-prasarana, anggaran, dan sebagainya. Pada setiap fungsi ditentukan pula faktor-faktornya, baik faktor yang tergolong internal maupun eksternal agar setiap fungsi memiliki batasan yang jelas dan memudahkan saat melakukan analisis.

Setelah fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran telah diidentifikasi, maka langkah berikutnya adalah menentukan tingkat kesiapan masing-masing fungsi beserta faktor-faktornya melalui analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat).

7. Melakukan Analisis SWOT

Analisis SWOT sebagaimana telah dijelaskan pada Buku-1, dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Oleh karena

(15)

tingkat kesiapan fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terlibat pada setiap fungsi, maka analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi tersebut, baik faktor internal maupun eksternal.

Dalam melakukan analisis terhadap fungsi dan faktor-faktornya, maka berlaku ketentuan berikut: Untuk tingkat kesiapan yang memadai, artinya, minimal memenuhi kriteria kesiapan yang diperlukan untuk mencapai sasaran, dinyatakan sebagai kekuatan bagi faktor internal atau peluang bagi faktor eksternal. Sedangkan tingkat kesiapan yang kurang memadai, artinya, tidak memenuhi kriteria kesiapan minimal, dinyatakan sebagai kelemahan bagi faktor internal atau ancaman bagi faktor eksternal.

Untuk menentukan kriteria kesiapan, diperlukan kecermatan, kehati-hatian, pengetehuan, dan pengalaman yang cukup agar dapat diperoleh ukuran kesiapan yang tepat.

Kelemahan atau ancaman yang dinyatakan pada faktor internal dan faktor eksternal yang memiliki tingkat kesiapan kurang memadai, disebut persoalan. Untuk lebih jelas mengenai analisis SWOT dan mengetahui tingkat kesiapan fungsi dan faktornya, dapat dilihat pada Buku-1.

Selama masih adanya fungsi yang tidak siap atau masih ada persoalan, maka sasaran yang telah ditetapkan diduga tidak akan dapat tercapai. Oleh karena itu, agar sasaran dapat tercapai, perlu dilakukan tindakan-tindakan untuk mengubah fungsi tidak siap menjadi siap. Tindakan yang dimaksud disebut langkah-langkah pemecahan persoalan, yang pada hakekatnya merupakan tindakan mengatasi kelemahan atau ancaman agar menjadi kekuatan atau peluang.

Setelah diketahui tingkat kesiapan faktor melalui analisis SWOT, langkah selanjutnya adalah memilih alternatif langkah-langkah pemecahan persoalan, yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap dan mengoptimalkan fungsi yang dinyatakan siap.

Oleh karena kondisi dan potensi sekolah berbeda-beda antara satu dengan lainnya, maka alternatif langkah-langkah pemecahan persoalannya pun dapat berbeda, disesuaikan dengan kesiapan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya di sekolah tersebut. Dengan kata lain, sangat dimungkinkan suatu sekolah mempunyai langkah pemecahan yang berbeda dengan sekolah lain untuk mengatasi persoalan yang sama.

Sebagai contoh, untuk sasaran pertama, yaitu rata-rata GSA mencapai minimal +0,40 maka harus ditentukan fungsi-fungsi apa saja berikut faktor-faktornya yang berperan penting dalam mencapai sasaran tersebut. Berdasarkan hasil evaluasi diri dan pengalaman sebelumnya, diidentifikasi bahwa fungsi yang berperan untuk meningkatkan GSA adalah fungsi proses belajar mengajar yang didukung oleh fungsi ketenagaan, dan fungsi sarana belajar.

Berdasarkan pada fungsi-fungsi yang telah diidentifikasi, maka perlu ditemukan faktor apa saja yang berpengaruh, baik faktor internal maupun eksternal dalam fungsi tersebut dan kemudian masukkan ke dalam tabel analisis SWOT. Oleh karena sekolah memiliki lebih dari satu sasaran, maka setiap sasaran yang telah ditentukan harus dianalisis melalui analisis SWOT.

Berikut diberikan contoh melakukan analisis SWOT untuk dua sasaran pertama yang ditentukan sekolah ‘X’ pada tahun 2002/2003 serta fungsi dan faktor-faktornya yang diperlukan untuk mencapai sasaran. Analisis SWOT untuk sasaran-1, yaitu peningkatan GSA minimal + 0,40 ditunjukkan pada Tabel-1(Contoh 1), sedangkan untuk sasaran-2, yaitu menjadi finalis pada turnamen bola voli tingkat Kota ditunjukkan pada Tabel-2 (Contoh 2).

(16)

Contoh 1:

Tabel-1. Analisis SWOT untuk Sasaran-1: Peningkatan GSA minimal +0,40 Mata Pelajaran : ……….

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tidak (1) (2) (3) (4) (5) A. Fungsi Proses Belajar Mengajar (PBM) 1. Faktor Internal : a. Motivasi belajar siswa b. Motivasi Guru c. Keragaman Metode mengajar d. Keragaman Media Pembelajaran • Tinggi, kriterianya: • 100% datang tepat waktu 100% tugas selesai 100% tertib di kelas 100% disiplin berpakaian rapi

tidak ada siswa pulang sebelum waktunya

Tugas selesai sebelum waktunya

Dan sebagainya sesuai criteria ideal yang seharusnya • Tinggi, kriterianya: • 100% datang tepat waktu 100% mengajar tepat waktu 100% tugas mengajar selesai sesuai rencana Dan sebagainya sesuai criteria ideal yang seharusnya • Bervariasi, kriterianya: • CTL Ceramah Diskusi Tugas PR Tanya jawab Dan sebagainya sesuai criteria ideal yang seharusnya

• Beragam sesuai tuntutan kompetensi, kriterianya:

100% jumlah media terpenuhi

Media elektronik

Media modeling

Media alam sekitar

Media praktisi Media benda sebenarnya Media miniature Media wallchart Dan sebagainya sesuai criteria ideal yang seharusnya • Tinggi, kriterianya : •100% datang tepat waktu 100% tugas selesai 100% tertib di kelas 100% disiplin berpakaian rapi

tidak ada siswa pulang sebelum waktunya Tugas selesai sebelum waktunya • Tinggi, kriterianya: • 100% datang tepat waktu 100% mengajar tepat waktu 100% tugas mengajar selesai sesuai rencana dll sesuai kondisi nyata

• Tidak banyak variasi :

Ceramah Tanya jawab • Kurang beragam, kriterianya: • 50% jumlah media terpenuhi media wallchart

media alam sekitar

(17)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tidak (1) (2) (3) (4) (5) e. Keragaman Penilaian oleh Guru f. Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/sek olah

• Beragam sesuai tuntutan kompetensi, kriterianya:

Penilaian harian

Penilaian tugas

Penilaian PR

Penilaian karya siswa

Penilaian penampilan/presentas i siswa Penilaian portofolio Penilaian blok Penilaian sumatif Penilaian kerajinan/kedisiplinan Penilaian perilaku siswa Dan sebagainya sesuai criteria ideal dalam penilaian

• Kurang beragam sesuai tuntutan kompetensi, kriterianya: Penilaian harian Penilaian tugas Penilaian PR Penilaian sumatif 2. Faktor Eksternal : a. Lingkungan sosial sekolah b. Lingkungan fisik sekolah • Sangat mendukung, kriterianya: • 100% aman Mayoritas masyarakat agamis

Tidak ada tindakan kriminalitas

Tatakrama, perilaku masyarakat sangat sopan

Tidak ada tempat-tempat rawan, a-susila, a-moral, di sekitar sekolah

Jauh dari pusat-pusat keramaian Mayoritas (100%) masyarakat peduli sekolah Mayoritas berpenghasilan tinggi Dan sebagainya sesuai criteria ideal yang seharusnya • Sangat kondusif, kriterianya : • 100% bersih dari kotoran Taman sekolah tertata sangat rapi, teratur, indah 100% terpenuhi sarana sanitasi Tidak ada kerusakan prasarana/sarana • Sangat mendukung, kriterianya: • 100% aman Mayoritas masyarakat agamis

Tidak ada tindakan kriminalitas

Tatakrama, perilaku

masyarakat sangat sopan

Tidak ada tempat-tempat rawan, a-susila, a-moral, di sekitar sekolah

Jauh dari pusat-pusat keramaian Mayoritas (100%) masyarakat peduli sekolah Mayoritas berpenghasilan tinggi Dan sebagainya sesuai kondisi nyata • Sangat kondusif, kriterianya : • 100% bersih dari kotoran Taman sekolah tertata sangat rapi, teratur, indah 100% terpenuhi sarana sanitasi Tidak ada kerusakan prasarana/sarana √ √

(18)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tidak (1) (2) (3) (4) (5) c. Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/se kolah 100% terpenuhi SPM prasarana Rasa nyaman

pada tiap ruang, kelas, dll Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal 100% terpenuhi SPM prasarana Rasa nyaman

pada tiap ruang, kelas, dll Dan sebagainya sesuai kondisi sekolah B. Fungsi Pendukung PBM: Ketenagaan 1. Faktor Internal : a. Jumlah guru b.Kualifikasi guru c. Kesesuaian bidang studi d. Beban mengajar guru e.Kompetensi guru f. Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/se kolah • Terpenuhi, kriterianya :

Rasio guru - siswa = 1 : 36 • Terpenuhi, kriterianya : • 100% guru minimal D3 • Terpenuhi, kriterianya : • 100% guru dengan latar belakang bidang studi sesuai dengan mapel yang diajarkan • Terpenuhi,kriterianya : • Rata-rata 18-24 jam pelajaran per minggu • Terpenuhi,kriterianya : • 100% kompetensinya tinggi (dr hasil tes kompetensi)

• Terpenuhi,kriterianya :

Rasio guru - siswa = 1 : 36 • Terpenuhi,kriterianya : • 100% guru minimal D3 • Terpenuhi,kriterianya : • 100% guru dengan latar belakang bidang studi sesuai dengan mapel yang diajarkan

• Terpenuhi,kriterianya :

Rata-rata 18-24 jam pelajaran per minggu

• Terpenuhi,kriterianya :

100% kompetensinya tinggi (dr hasil tes kompetensi) √ √ √ √ √ 2. Faktor Eksternal : a. Pengalaman mengajar Guru b. Persiapan mengajar guru • Terpenuhi, kriterianya: • Rata-rata 5 tahun Mengajar sesuai bidangnya Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal • Terpenuhi, kriterianya terdapat kelengkapan 100% seperti: • Satuan/scenario pembelajaran • Terpenuhi, kriterianya: • Rata-rata 5 tahun Mengajar sesuai bidangnya Dan sebagainya sesuai kondisi nyata sekolah • Terpenuhi, kriterianya terdapat kelengkapan 100% seperti: • Satuan/scenario pembelajaran √ √

(19)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tidak (1) (2) (3) (4) (5) c. Fasilitas dan kesempatan pengembangan guru d.Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/sek olah Perangkat penilaian PBM Ketersediaan media yang akan dipergunakan Buku pokok/wajib Buku penunjang Buku latihan Presensi siswa Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal • Terpenuhi,kriterianya: • 100% guru membuat karya tulis 100% pengalaman penataran kompetensi guru (PTBK) 100% guru melakukan penelitian 100% guru diberikan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal Perangkat penilaian PBM Ketersediaan media yang akan dipergunakan Buku pokok/wajib Buku penunjang Buku latihan Presensi siswa Dan sebagainya sesuai kondisi nyata sekolah • Kurang terpenuhi,kriterianya: • 10% guru membuat karya tulis 10% pengalaman penataran kompetensi guru (PTBK) 3% guru melakukan penelitian 1% guru diberikan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi Dan sebagainya sesuai kondisi nyata sekolah C. Fungsi Pendukung PBM: Sarana/Perpustak aan 1. Faktor Internal a. Buku setiap mata pelajaran b. Jumlah buku penunjang c. Lemari / rak buku d. Pengelola perpustakaan f. Dana pengembangan perpustakaan • Terpenuhi,kriterianya: • Rasio siswa-buku = 1 : 1 • Terpenuhi,kriterianya: • Rasio siswa-buku = 1 : 1 • Terpenuhi,kriterianya: • 100% buku tersimpan di lemari/rak • Terpenuhi,kriterianya: • Rasio ruang perpustakaan – petugas : 1 : 1 • Terpenuhi, kriterianya: • Minimal dianggarkan 20% dari total anggaran di RAPBS • Kurang terpenuhi,kriterianya: • Rasio siswa-buku = 10 : 1 • Kurang terpenuhi,kriterianya: • Rasio siswa-buku = 15 : 1 • Kurang terpenuhi,kriterianya: • 50% buku tersimpan di lemari/rak • Terpenuhi,kriterianya: • Rasio ruang perpustakaan – petugas : 1 : 1 • Kurang terpenuhi, kriterianya: • Dianggarkan <2% dari total anggaran

√ √

(20)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tidak (1) (2) (3) (4) (5) g. Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/ sekolah Dianggarkan tiap tahun Minimal dikelngkapi dengan: jaringan SIM perpustakaan Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal di RAPBS Dianggarkan tiap 3 tahun

Tidak ada jaringan SIM perpustakaan Dan sebagainya sesuai kondisi nyata 2. Faktor Eksternal : a. Dukungan orangtua dalam melengkapi perpustakaan b. Kerjasama dengan perpustakaan lain c. . Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/ sekolah • Dukungan besar, kriterianya:

Ada sumbangan dana dr tiap orang tua anak seharga minimal 10 buku tiap tahun;

Ada sumbangan dana dr orang tua seharga 2 rak buku/almari untuk tiap kelas tiap tahun

Ada sumbangan pemasangan jaringan/SIM di perpustakaan secara lengkap dan siap pakai.

Ada sumbangan majalah, jurnal, tabloid, dll tiap bulan

Dan sebagainya sesuai dengan kriteria idealnya. • Ada kerjasama, kriterianya: • Ada MoU/Piagam Kerjasama/Surat Perjanjian Ada tukar pengalaman/kunjunga n Ada kerjasama magang tenaga Saling membantu buku-buku Dan sebagainya sesuai dengan kriteria idealnya. • Kurang dukungan, kriterianya: • Tidak ada sumbangan dana dr tiap orang tua anak

Tidak ada sumbangan dana dr orang tua tentang rak buku/almari Tidak ada sumbangan pemasangan jaringan/SIM di perpustakaan Tidak ada sumbangan majalah, jurnal, tabloid, dll Dan sebagainya sesuai dengan kondisi nyata sekolah • Kurang kerjasama, kriterianya: • Tidak ada MoU/Piagam Kerjasama/Surat Perjanjian

Tidak ada tukar pengalaman/kunjung an

Tidak ada kerjasama magang tenaga

Tidak ada Saling membantu buku-buku Dan sebagainya sesuai dengan kondisi nyata √ √

(21)

Contoh 2:

Tabel-2. Analisis SWOT untuk Sasaran-2: Menjadi finalis turnamen bola voli tingkat Kota

Mata Pelajaran: Penjaskes

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tida k (1) (2) (3) (4) (5) A. Fungsi Ketenagaan 1. Faktor Internal : a. Jumlah guru OR b.Kualifikasi guru c. Kesesuaian bidang studi d.Beban mengajar guru e. Kompetensi guru f. Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/ sekolah • Terpenuhi, kriterianya :

Rasio guru - siswa = 1 : 36

• Terpenuhi, kriterianya :

100% guru minimal D3

• Terpenuhi, kriterianya :

100% guru dengan latar belakang bidang studi OR

• Terpenuhi,kriterianya :

Rata-rata 18-24 jam pelajaran per minggu

• Terpenuhi,kriterianya :

100% kompetensinya tinggi (dr hasil tes kompetensi)

• Terpenuhi, kriterianya :

Rasio guru - siswa = 1 : 36

• Terpenuhi, kriterianya :

100% guru minimal D3

• Terpenuhi, kriterianya :

100% guru dengan latar belakang bidang studi OR

• Terpenuhi,kriterianya :

Rata-rata 18-24 jam pelajaran per minggu

• Terpenuhi,kriterianya :

100% kompetensinya tinggi (dr hasil tes kompetensi)

√ √ √ √ √ 2. Faktor Eksternal : a.Pengalaman mengajar Guru sebagai pelatih OR b. Persiapan mengajar guru OR teori • Terpenuhi, kriterianya: • Rata-rata 5 tahun Mengajar sesuai bidangnya Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal • Terpenuhi, kriterianya terdapat kelengkapan 100% seperti: • Satuan/scenario pembelajaran Perangkat penilaian PBM Ketersediaan media yang akan dipergunakan

Buku pokok/wajib Buku penunjang Buku latihan • Terpenuhi, kriterianya: • Rata-rata 5 tahun Mengajar sesuai bidangnya Dan sebagainya sesuai kondisi nyata sekolah • Terpenuhi, kriterianya terdapat kelengkapan 100% seperti: • Satuan/scenario pembelajaran Perangkat penilaian PBM Ketersediaan media yang akan dipergunakan

Buku pokok/wajib

Buku penunjang

(22)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tida k (1) (2) (3) (4) (5) c. Fasilitas dan kesempatan pengembang an guru g.Dan seterusnya sesuai dengan kondisi dan tuntutan kurikulum/s ekolah Presensi siswa Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal • Terpenuhi,kriterianya: • 100% guru membuat karya tulis 100% pengalaman penataran kompetensi guru (PTBK) 100% guru melakukan penelitian 100% guru diberikan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi

Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal

Buku latihan

Presensi siswa

Dan sebagainya sesuai kondisi nyata sekolah • Kurang terpenuhi,kriterianya: • 10% guru membuat karya tulis 10% pengalaman penataran kompetensi guru (PTBK) 3% guru melakukan penelitian 1% guru diberikan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi

Dan sebagainya sesuai kondisi nyata

√ B. Fungsi Prasarana dan sarana 1. Faktor Internal a. Lapangan bola Voli di sekolah b. Alat pendukung olahraga bola Voli (net, bola) • Terpenuhi, kriterianya: • Tersedia 3 buah lapangan volley ball Spesifikasi

lapangan volley ball sesuai SPM Kondisi lapangan volley ball 100% baik Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal • Terpenuhi, kriterianya: • Tersedia 10 buah bola voly Spesifikasi bola voly sesuai SPM Kondisi lapangan

bola voly 100% baik Tersedia 10 buah net Spesifikasi net sesuai SPM Kondisi net 100% baik Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal • Kurang terpenuhi, kriterianya: • Hanya Tersedia 1 buah lapangan volley ball Spesifikasi lapangan volley ball sesuai SPM Kondisi lapangan volley ball 50% baik Dan sebagainya sesuai criteria yang ideal • Kurang Terpenuhi, kriterianya: • Tersedia 2 buah bola voly Spesifikasi bola voly sesuai SPM Kondisi lapangan

bola voly 50% baik Tersedia 1 buah net Spesifikasi net sesuai SPM Kondisi net 75% baik Dan sebagainya sesuai criteria √ √

(23)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tida k (1) (2) (3) (4) (5) c. Dan sebagainya sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sekolah yang ideal 2. Faktor Eksternal : a. Dukungan orang tua b. Dukungan dari Kota/kecamat an /kabupaten c. Dan sebagainya sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sekolah • Tinggi, kriterianya:

Ada sumbangan uang tiap bulan untuk kegiatan olah raga

Ada sumbangan bola voly untuk tiap bulan sebanyak 2 buah

Ada sumbangan net 2 buah tiap bulan

Ada sumbangan tenaga profesional dari luar oleh orang tua siswa sebanyak 2 orang

Dan sebagainya sesuai kriteria idealnya

• Tinggi, kriterianya:

Tersedia 4 lapangan volley ball di kecamatan

Tersedia 2 lapangan volley ball di kabupaten

Tersedia 4 net di kecamatan Tersedia 8 net di kabupaten Tersedia 10 bola di kecamatan Tersedia20 bola di kabupaten

Dan sebagainya sesuai kriteria idealnya

• Kurang, kriterianya:

Tidak Ada sumbangan uang tiap bulan untuk kegiatan olah raga

Tidak Ada sumbangan bola voly

Tidak Ada sumbangan net

Tidak Ada sumbangan tenaga profesional dari luar

Dan sebagainya sesuai kondisi nyata

• Tinggi, kriterianya:

Tersedia 4 lapangan volley ball di kecamatan

Tersedia 2 lapangan volley ball di kabupaten

Tersedia 4 net di kecamatan Tersedia 8 net di kabupaten Tersedia 10 bola di kecamatan Tersedia 20 bola di kabupaten

Dan sebagainya sesua kondisi nyata √ √ C. Fungsi Pelatihan 1. Faktor Internal a. Penyiapan pelatihan • Terpenuhi, kriterianya: • 100% tersusun SP 100% fasilitas memenuhi

100% peralatan net dan bola memenuhi 100% tenaga pelatih memenuhi 100% akomodasi memenuhi Pendukung lainnya terpenuhi sesuai criteria ideal • Kurang Terpenuhi, kriterianya: • 100% tersusun SP 50% fasilitas memenuhi

25% peralatan net dan bola memenuhi 75% tenaga pelatih memenuhi 50% akomodasi memenuhi Pendukung lainnya terpenuhi sesuai

(24)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tida k (1) (2) (3) (4) (5) b. Alokasi waktu pelatihan c. Metode pelatihan d. Penilaian dan seleksi e.Dan sebagainya sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sekolah • Terpenuhi, kriterianya:

3 kali per minggu

4 jam per pelatihan

100% penggunaan total waktu tercapai

Tidak ada hambatan waktu

Dll sesuai criteria ideal

Bervariasi, kriterianya:

Ceramah singkat

Demosntrasi

Praktik individual

Praktik kelompok sesuai format baku

Uji coba tanding

Dll sesuai criteria ideal strategi pelatihan Terpenuhi, kriterianya: Penilaian kompetensi individual Penilaian sikap Penilaian keterampilan Penilaian kelompok Seleksi pembentukan tim

Pembentukan tim inti

Penilaian lainnya sesuai criteria idealnya kondisi nyatanya • Kurang Terpenuhi, kriterianya:

1 kali per minggu

2 jam per pelatihan

100% penggunaan total waktu tercapai

Tidak ada hambatan waktu Dll sesuai kondisi nyata Bervariasi, kriterianya: Ceramah singkat Demosntrasi Praktik individual

Praktik kelompok sesuai format baku

Uji coba tanding

Dll sesuai kondisi nyata strategi pelatihan Terpenuhi, kriterianya: Penilaian kompetensi individual Penilaian sikap Penilaian keterampilan Penilaian kelompok Seleksi pembentukan tim

Pembentukan tim inti

Penilaian lainnya sesuai kondisi nyatanya √ √ √ 2. Faktor Eksternal : a. Dukungan Komite Sekolah • Besar, kriterianya:

Ada sumbangan tenaga ahli/pelatih professional 2 orang selama pelatihan berlangsung Ada sumbangan financial, khususnya semua akomodasi dicukupi selama pelatihan

Ada sumbangan fasilitas bola dan net masing-masing 5 buah selama pelatihan sampai pembentukan tim inti

Ada sumbangan seragam bagi semua anak dalam tim inti

Ada pemberian hadiah berupa uang pembinaan selama satu tahun

Dll sesuai dengan

• Kecil, kriterianya:

Tidak Ada sumbangan tenaga ahli/pelatih professional selama pelatihan berlangsung

Tidak Ada sumbangan financial selama pelatihan

Tidak Ada sumbangan fasilitas bola dan net selama pelatihan sampai pembentukan tim inti

Tidak Ada sumbangan seragam bagi semua anak dalam tim inti

Tidak Ada pemberian hadiah berupa uang pembinaan selama satu tahun

Dll sesuai dengan kondisi nyata

(25)

Fungsi dan Faktornya Kriteria Kesiapan (Kondisi Ideal) Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tida k (1) (2) (3) (4) (5) b. Dukungan pemerintah daerah/Dinas Pendidikan Kabupaten/K ota/KONI daerah, dll organisasi olah raga daerah c. Uji-tanding dengan tim sekolah lain pada even tingkat propinsi dan nasional d. Dan sebagainya sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sekolah criteria idealnya • Terpenuhi, kriterianya: • Pemda/KONI/Dinas Pendidikan mengadakan perlombaan bola voly tiap satu tahun 2 kali

Pemda/KONI/Dinas Pendidikan meberikan bantuan uang pembinaan kepada sekolah selama satu tahun

Pemda/KONI/Dinas Pendidikan memberikan bantuan bola atau net untuk tiap sekolah sejumlah tim inti

Pemda/KONI/Dinas pendidikan memberikan bantuan seragam tiap tim inti sekolah Dll sesuai criteria idealnya • Terpenuhi, kriterianya: • Pemda/Dinas Pendidikan /KONI baik propinsi maupun pusat mengadakan even pertandingan satu tahun sekali

Pemberian bantuan financial pembinaan bagi tim berprestasi tk propinsi/pusat untuk satu tahun

Pemberian beasiswa satu tahun kepada siswa yang berprestasi dalam tim tk propinsi dan nasional Penyaluran bakat/minat siswa berprestasi OR ini kepada organisasi OR profesional setelah lulus Dll sesuai kriteria ideal • Terpenuhi, kriterianya: • Pemda/KONI/Dinas Pendidikan mengadakan perlombaan bola voly tiap satu tahun 2 kali

Pemda/KONI/Dinas Pendidikan meberikan bantuan uang pembinaan kepada sekolah selama satu tahun

Pemda/KONI/Dinas Pendidikan memberikan bantuan bola atau net untuk tiap sekolah sejumlah tim inti

Pemda/KONI/Dinas pendidikan memberikan bantuan seragam tiap tim inti sekolah Dll sesuai kondisi nyatanya • Terpenuhi, kriterianya: • Pemda/Dinas Pendidikan /KONI baik propinsi maupun pusat mengadakan even pertandingan satu tahun sekali

Pemberian bantuan financial pembinaan bagi tim berprestasi tk propinsi/pusat untuk satu tahun

Pemberian beasiswa satu tahun kepada siswa yang berprestasi dalam tim tk propinsi dan nasional Penyaluran bakat/minat siswa berprestasi OR ini kepada organisasi OR profesional setelah lulus Dll sesuai kondisi nyatanya √ √ Catatan :

Analisis SWOT di atas hanya sebagai contoh, sekolah dapat mengembangkan sesuai dengan kondisi, tuntutan, dan keinginan masing-masing.

(26)

8. Mengidentifikasi Alternatif Langkah-langkah Pemecahan Persoalan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan untuk sasaran pertama, maka dapat diidentifikasi kelemahan dan ancaman yang dihadapi oleh sekolah pada hampir semua fungsi yang diberikan. Pada fungsi PBM yang menjadi kelemahan adalah siswa kurang disiplin, guru kurang mampu memberdayakan siswa dan umumnya tidak banyak variasi dalam memberikan bahan pelajaran di kelas serta waktu yang digunakan kurang efektif. Sedangkan yang menjadi ancaman adalah kurang siapnya siswa dalam menerima pelajaran, terutama pada pagi dan siang hari menjelang pulang. Disamping itu, suasana lingkungan sekolah yang kurang kondusif dan ramai karena berdekatan dengan pusat keramaian kota.

Selanjutnya untuk mengatasi kelemahan atau ancaman tersebut, sekolah mencari alternatif alternatif langkah-langkah memecahkan persoalan. Dengan kata lain, alternative pemecahan masalah pada dasarnya merupakan cara mengatasi fungsi yang belum memenuhi kesiapan. Beberapa contoh untuk alternative-alternatif pemecahan masalah antara lain:

a. Pengaktifan kegiatan MGMP sekolah

Berdasarkan pada hasil analisis, disebutkan bahwa jumlah guru cukup, tetapi suasana belajar belum cukup kondusif akibat metoda mengajar guru yang kurang bervariasi. Melalui MGMP sekolah diharapkan persoalan dapat diatasi, termasuk bagaimana mensiasati kurikulum yang padat dan mencari alternatif pembelajaran yang tepat serta menemukan berbagai variasi metoda dalam mengajarkan setiap mata pelajaran yang diajarkan. Kegiatan ini dibawah koordinasi Wakil Kepala sekolah bidang Kurikulum dan untuk setiap matapelajaran dipimpin oleh guru senior yang ditunjuk oleh Kepala sekolah. MGMP minimal bertemu satu kali per minggu guna menyusun strategi pengajaran dan mengatasi masalah yang muncul.

MGMP sekolah juga menyusun dan mengevaluasi perkembangan kemajuan belajar sekolah. Evaluasi kemajuan dilakukan secara berkala dan hasilnya digunakan untuk menyempurnakan rencana berikutnya. Kegiatan MGMP sekolah yang dilakukan dengan intensif, dapat dijadikan sebagai wahana pengembangan diri guru untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan guru serta menambah pengetahuan dan keterampilan dalam bidang yang diajarkan, terutama ditujukan untuk guru-guru yang mengajar bukan bidangnya (teacher mismatch).

b. Pengiriman guru mengikuti pelatihan

Sebagai alternatif, sekolah dapat mengirimkan guru-guru secara bergiliran untuk mengikuti pelatihan pada lembaga yang dianggap potensial dan berpengalaman. Pengiriman guru ini, dimaksudkan untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan guru, baik dalam bidang keahlian/subtansi, metode pengajaran maupun berbagai metode evaluasi, setelah melalui proses identifikasi kebutuhan yang dilakukan secara cermat oleh sekolah. Program ini dapat mendorong sekolah untuk mengalokasikan sebagian anggarannya untuk peningkatan SDM, yang selama ini belum secara optimal dilakukan.

Selain itu, untuk mengatasi kelemahan tersebut, sekolah melalui kegiatan MGMP dapat mengundang ahli dari luar, baik ahli substansi mata pelajaran untuk membantu guru dalam memahami materi yang masih dianggap sulit atau membantu memecahkan masalah yang muncul di kelas, maupun berbagai metode pengajaran untuk menemukan cara yang paling sesuai dalam memberikan materi mata pelajaran tertentu.

Referensi

Dokumen terkait

Artinya, setiap dilakukan perubahan, hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik; k) Sekolah Melakukan Evaluasi dan

Dan sekolah dipandang sebagai suatu lembaga layanan jasa pendidikan dimana kepala sekolah sebagai manajer pendidikan yang dituntut untuk bertanggungjawab atas

Karena besarnya hubungan manajemen kepemimpinan kepala sekolah dengan peningkatan komunikasi sekolah, maka kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah harus

Abstrak. Perpustakaan merupakan bagian integral dilingkungan sekolah, oleh karena itu perlu adanya kerjasama dalam memaksimalkan potensi layanan perpustakaan

No. Beberapa saran yang dikemukakan pihak sekolah adalah: 1) perlu adanya bimbingan teknis (Bintek) tentang pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), 2)

No. Beberapa saran yang dikemukakan pihak sekolah adalah: 1) perlu adanya bimbingan teknis (Bintek) tentang pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), 2)

Artinya, setiap dilakukan perubahan, hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik; k) Sekolah Melakukan Evaluasi dan

Dalam bentuk manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS), MBS dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan