PROPOSAL PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN TERPADU
PENGEMBANGAN POTENSI WISATA DAN KONSERVASI DI DESA TAMBAKREJO, KECAMATAN SUMBERMANJING WETAN, KABUPATEN
MALANG
Tugas ini disusun sebagai tugas akhir praktikum mata kuliah Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu
Disusun Oleh : Kelompok 13
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN PEMANFAATAN SUBERDAYA PERIKANAN DAN KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
PROPOSAL PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN TERPADU
PENGEMBANGAN POTENSI WISATA DAN KONSERVASI DI DESA TAMBAKREJO, KECAMATAN SUMBERMANJING WETAN, KABUPATEN
MALANG
Tugas ini disusun sebagai tugas akhir praktikum mata kuliah Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu
Disusun Oleh :
Siva Nur Ikhsani (13508060011002) Lestari (13508060011004) Yoga Pratama (13508060011008) Tomi Aris (13508060011012) Devita Listyaningsih (13508060011018) Anas Nurhidayah (13508060011019) Lita Indika W. S (13508060111104)
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JURUSAN PEMANFAATAN SUBERDAYA PERIKANAN DAN KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
i KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang atas limpahan berkah-Nya laporan hasil praktikum Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu yang berjudul “Pengembangan Potensi Wisata dan Konservasi di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Laporan ini membahas Pengembangan Potensi Wisata dan Konservasi beserta analisis pemanfaatan dan isu pengelolaannya.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak / Ibu Dosen mata kuliah Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu yang telah membantu kami dalam menyusun proposal ini, kepada kakak – kakak tingkat dan semua pihak yang telah membantu, dan memberikan masukan dalam menyusun proposal ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan hasil praktikum ini masih terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat dan informasi baru bagi para pembaca.
Malang, 13 Juni 2016
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... ii
DAFTAR TABEL ...iii
DAFTAR GAMBAR ... iv BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan ... 3 BAB II METODOLOGI ... 4
2.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 4
2.2 Alat dan Bahan Praktikum ... 4
2.1.1 Alat Praktikum ... 4
2.1.2 Bahan Praktikum ... 5
2.2 Skema Kerja ... 5
2.2.1 Pengambilan Data Primer ... 5
2.2.2 Pengambilan Data Sekunder ... 7
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 8
3.1 Deskripsi Geomorfologi Pesisir ... 8
3.2 Deskripsi Sosial dan Ekonomi Masyarakat ... 9
3.3 Analisis Kondisi Ekosistem Pesisir dan Potensi Desa Tambakrejo ... 11
3.4 Community Based Tourism (CBT) ... 15
3.5 Penerapan Konsep CBT pada Desa Tambakrejo ... 17
3.6 Analisis SWOT Desa Tambakrejo ... 19
BAB IV PENUTUP ... 22
4.1 Kesimpulan ... 22
4.2 Kendala dan Saran ... 22
iii DAFTAR TABEL
Tabel 1 Alat Praktikum ... 4 Tabel 2 Bahan Praktikum ... 5 Tabel 3 Data kesesuaian pemanfaatan lahan dan isu pengelolaan kawasan di Desa Tambakrejo ... 13
iv DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian ... 4
Gambar 2 Skema kerja pengambilan data ... 6
Gambar 3 Skema kerja dari peroleh data sekunder ... 7
Gambar 4 Peta Zonasi Kecamatan Sumbermanjing ... 8
Gambar 5 Pelabuhan Perikanan Sendang Biru ... 10
Gambar 6 Tempat Pelelangan Ikan Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo ... 11
Gambar 7 Pantai di Desa Tambakrejo, (a) Pulau Sempu, (b) Pantai Sendang Biru, (c) Pantai Tamban dan (d) Pantai Sendiki ... 12
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kabupaten Malang terdiri atas 33 kecamatan, yang dibagi lagi menjadi sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kepanjen. Pusat pemerintahan sebelumnya berada di Kota Malang hingga tahun 2008. Kabupaten Malang khusunya bagian Malang Selatan terdiri dari beberapa kecamatan yang meliputi Kecamatan Bantur, Ampelgading, Bululawang, Dau, Tirtoyudo, Donomulyo, Gondanglegi, Sumberpucung, Sumbermanjiwng Wetan dan lain sebagainya.
Dalam meningkatkan nilai pada sektor ekonomi, Kabupaten Malang memiliki sumber pendapatan yang berasal dari beberapa sektor yang mencakup sektor pertanian , peternakan , perkebunan , pariwisata , industri dan perikanan. Kecamatan Sumbermanjing Wetan memiliki kekayaan SDA yang melimpah terlebih lagi dari sektor perikanan khususnya di Desa Tambakrejo. Para penduduknya didominasi oleh para nelayan serta ABK (Anak Buah Kapal). Berbagai jenis ikan bernilai ekonomis tinggi banyak ditemukan di perairan sekitarnya. Sebagai sarana pendukungnya, saat ini telah dibangun TPI (Tempat Pelelangan Ikan) dan PPP (Pelabuhan Perikan Pantai) Pondokdadap yang berlokasi di sekitar pantai Sendang Biru di dusun Sendang biru Desa Tambakrejo.
Tidak melulu hanya berfokus pada sektor perikanan, Desa Tambakrejo juga dikenal dengan keindahan alam yang disajikan. Dari sektor pariwisata, desa Tambakrejo memiliki deretan pantai yang eksotis. Dimulai dari pantai Tamban yang menyajikan pemandangan lepas pantai yang masih tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Selanjutnya ada beberapa jajaran pantai, seperti pantai Clungup, pantai Tiga Warna, dan pantai gatra yang baru – baru ini diperkenalkan ke khalayak umum. Destinasi wisata lain yang banyak diminati para wisatawan dan juga dapat meningkatkan nilai ekonomi daerah adalah Pulau Sempu. Pulau ini merupakan pulau yang berstatus sebagai kawasan cagar alam lindung Jawa Timur berdasarkan SK. GB No. 26 Stbl. 1928 No. 69 Tahun 1928 dengan luas area 877 hektare. Cagar alam Pulau Sempu ini merupakan sumberdaya alam Indonesia yang unik karena terbentuk dari karang terangkat atau Atoll (Sulistyowati, 2009). Pulau ini juga menyimpan berbagai jenis flora dan fauna yang dillindungi. Selain, flora dan
2 faunanya yang beragam, daya tarik dari pulau ini adalah adanya laguna yang tersembunyi di dalam pulau yang sering disebut degan ‘Segoro anakan’ yang berhadapan langsung dengan laut lepas. Kesempatan inipun dijadikan sarana mencari nafkah bagi penduduk, karena tidak setiap hari masyarakat dapat melaut unutk mencari ikan.
Ketika suatu lokasi diresmikan sebagai suatu objek wisata, hal ini tidak akan lepas dari tingkat wisatawan yang berkunjung. Dengan dibukanya pantai tamban dan jajaran pantai lainnya di Desa Tambakrejo sebagai objek wisata, maka akan muncul berbagai masalah seperti sampah yang berserakan di sepanjang pantai. Selain sampah, masalah lain yanng muncul adalah rusaknya flora fauna dan ekosistemnya. Dilansir dari media online Tempo, Seluas 195 hektare atau 57 persen dari 344 hektare hutan bakau di pesisir selatan Kabupaten Malang rusak. Tingkat kerusakan ekosistem mangrove di Desa Tambakrejo dapat dikatakan tinggi dimana seluas 30 hektare atau 40 persen dari 76 hektare hutan bakau rusak parah. Hal ini juga terjadi di Pulau sempu. Sebagai pelindung pantai alami, pulau sempu saat ini telah mengalami kerusakan karena kegiatan pariwisata yang saat ini sedang gencar dilakukan. Belum lagi kawasan ini seringkali digunakan sebagai area tempat latihan perang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berdampak pada rusaknya ekosistem hutan, khususnya mangrove yang berada pada formasi depan ekosistem daratan (Sulistyowati, 2009). Tetapi, pemeritah tidak tinggal diam melihat masalah yang timbul. Sebagai wujud membantu memperbaharui ekosistem pesisir yang ada, pemerintah bersama masyarakat melakukan rehabilitasi hutamn mangrove dengan menanam 500 batang pohon bakau di pantai Tamban dan juga menanam pohon pohon besar untuk pengembalian ekosistem pesisir agar kembali seperti semula. Selain bentuk rehabilitasi, pemerintah juga mulai melakukan pembatasan kunjungan wisatwan ke Pulau Sempu dengan mewajibkan tiap wisatwan untuk membuat surat permohonan izin masuk kawasan konservasi dan juga dengan prosedur yag berlapis.
Dengan melihat banyaknya potensi wisata dan juga berbagai masalah yang ditimbulkan, tentunya perlu dilakukan suatu perencanaan pengembangan potensi wisata dan konservasi di Desa Tambakrejo yang berbasis masyarakat agar pengelolaannya dapat berjalan dengan baik. Perencanaan pengembangan potensi
3 wisata dan konservasi di Desa Tambakrejo ini bertujuan agar dapat menunjang perekonomian daerah, khususnya di wilayah kecamatan Sumbermanjing Wetan dan ikut meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Malang. Selain itu perencanaan ini dilakukan untuk menghindari segala macam isu yang ada pada semua sektor di Kabupaten Malang. Untuk mengetahui apakah pemanfaatan di Kabupaten Malang sudah sesuai dengan perencanaan diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengembangna dan pengelolaan wilayah di Kabupaten Malang. Oleh karena itu Praktikum Pengelolaan wilayah Pesisir secara terpadu perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapa diambil adalah:
1. Apa saja bentuk potensi wisata dan kegiatan konservasi yang dapat dikembangkan pada kawasan pesisir Desa Tambakrejo?
2. Bagaimana bentuk pengelolaan atas kawasan pesisir yang ada di desa Tambakrejo?
3. Apa konsep yang dapat digunakan untuk mengembangkan potensi pariwisata dan konservasi kawasan pesisir Desa tambakrejo?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan proposal “Pengembangan Potensi Wisata dan Konservasi di Desa tambakrejo” adalah sebagi berikut:
1. Untuk melihat potensi wisata dan upaya konservasi yang ada di desa Tambakrejo
2. Untuk merencanakan pengelolaan kawasan pesisir desa tambakrejo 3. Untuk membantu meningkatkan nilai perekonomian daerah
4 BAB II METODOLOGI
2.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kantor Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan dilanjutkan ke Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan satu kali wawancara pada tanggal 29 April 2016.
Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian 2.2 Alat dan Bahan Praktikum
2.1.1 Alat Praktikum
Peralatan yang digunakan dalam pengumpulan data dan pengolahan data dari praktikum Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Terpadu dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1 Alat Praktikum
No Nama Alat Fungsi
1 Kamera Kamera Sebagai alat dokumentasi berupa gambar
2 GPS Mencatat lokasi geografis Kantor Kecamatan di Kabupaten Malang
5 2.1.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan dalam pengumpulan data dan pengolahan data dari praktikum Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Terpadu dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2 Bahan Praktikum
No Nama Bahan Fungsi
1 Software ArcGIS Media dalam pengolahan pembuatan Peta 2 Form Kuisioner Pengumpulan data
3 Alat Tulis Mencatat data yang diperoleh pada saat praktikum
4 Buku Profil Kecamatan Data Sekunder
2.2 Skema Kerja
2.2.1 Pengambilan Data Primer
Data primer yang digunakan berupa peta lokasi kecamatan Sumbermanjing, termasuk desa desa yang ada didalamnya. Selain data peta yaitu berupa data profil lengkap instansi, profil ini didapat dari hasil wawancara dengan petugas kecamatan terkait. Adapun skema kerja pengambilan datanya seperti gambar dibawah
6 Gambar 2 Skema kerja pengambilan data
7 2.2.2 Pengambilan Data Sekunder
Data sekunder praktikum Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Laut terpadu diperoleh dengan cara studi literatur. Literatur yang digunakan berasal dari internet atau sumber lainya yang relevan. Adapun Skema kerja dari peroleh data sekunder seperti gambar dibawah
8 BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Deskripsi Geomorfologi Pesisir
Desa Tambakrejo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Sumbermanjing Kabupaten Malang, tepatnya berada di wilayah pesisir Malang selatan. Secara geografis desa ini berada pada 2 posisi yang berbeda, untuk Dusun Tamban berada di 8 24’07.05” LS / 112 43’04.86” BT dan untuk Dusun Sendang biru berada di 8 25’ 54.79” LS / 112 40’ 49.79” BT. Sedangkan secara administratif, Desa Tambakrejo sebelah utara berbatasan dengan Desa Kedungbanteng, sebelah barat berbatasan dengan Desa Sitiarjo, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia dan di sebelah timur berbatasan dengan Desa Tambaksari.
Gambar 4 Peta Zonasi Kecamatan Sumbermanjing
Berdasarkan kajian terhadap profil Desa Tambakrejo yang diperoleh dari
Website Resmi Pemerintah Kota Malang (Profil Desa Tambakrejo, 2013) dan data
9 Tambakrejo didapatkan beberapa uraian potensi dan permasalahan di Desa Tambakrejo. Kondisi tanah di Desa Tambakrejo berupa dataran sedang yang berada sekitar 75 meter diatas permukaan laut memiliki kondisi yang subur sehingga dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan oleh beberapa warga setempat. Curah hujan yang cukup tinggi juga mendukung pengairan lahan perkebunan. Akan tetapi kondisi tanah di Desa Tambakrejo berpotensi mengakibatkan bencana longsor akibat banyaknya lahan perhutanan yang telah dialihfungsikan menjadi lahan pertanian oleh warga sekitar. Curah hujan yang tinggi di Desa Tambakrejo juga mendukung aliran permukaan serta air tanah yang cukup baik dan mampu untuk menyediakan air bersih di Desa Tambakrejo karena di desa ini tersedia beberapa tandon air di beberapa titik yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk sebagai suplai air bersih. Kondisi hidrooceanografi di Desa Tambakrejo yang paling dekat dengan kawasan pantai memiliki karakteristik arus dan gelombang yang sedang meskipun berada di kawasan pantai selatan yang dikenal dengan ombak dan gelombang yang tinggi, hal ini karena adanya Pulau Sempu sebagai pemecah gelombang.
3.2 Deskripsi Sosial dan Ekonomi Masyarakat
Sumberdaya manusia di Desa Tambakrejo masih tergolong rendah dalam segi kualitas pendidikan. Akan tetapi, jumlah penduduk yang masih dalam usia produktif cukup tinggi sehingga hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan SDM dalam upaya melakukan pengelolaan wilayah pesisir. Sebagian besar masyarakat di Desa Tambakrejo mayoritas memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan ABK (Anak Buah Kapal) dengan pekerjaan sampingan apabila tidak melaut berupa pertanian dan perkebunan serta peternakan. Komoditas yang dihasilkan dari hasil perkebunan dan persawahan di Desa Tambakrejo meliputi Jagung, Padi, Ubi-Ubian, Kelapa, Kopi dan kayu, sedangkan komoditas yang dihasilkan dari perikanan tangkap berupa Ikan Tuna, Ikan Tongkol, Ikan Kakap, Cumi-cumi dan Ikan Sarden. Pekerjaan sampingan tersebut dilakukan oleh para nelayan untuk mempertahankan perekonomian akibat hasil tangkapan yang tidak pasti atau begantung dengan cuaca.
10 Gambar 5 Pelabuhan Perikanan Sendang Biru
Hasil perikanan tangkap yang melimpah di Desa Tambakrejo didukung dengan adanya sarana dan prasarana tempat pelelangan ikan atau TPI di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sendang Biru. Masyarakat juga telah mengembangkan lembaga seperti Koperasi Unit Desa (KUD) Mina Jaya untuk mengawasi dan mengatur jalannya pelelangan ikan. Industri pengolahan hasil perikanan seperti abon ikan, petis ikan, pemindangan, dll juga telah dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sarana dan prasarana di Desa Tambakrejo untuk mendukung kegiatan sosial masyarakat setempat sudah tergolong memadai. Seperti tempat ibadah, Puskesmas, MCK (Mandi, Cuci, Kaskus) dan Kantor Polisi serta sudah memiliki koperasi-koperasi yang dikelola oleh warga desa sendiri. Sehingga hal ini membuktikan bahwa Desa Tambakrejo bukan merupakan desa yang tertinggal atau dengan kata lain sudah memiliki fasilitas memadai dalam menunjang kepentingan kehiduan bermasyarakat. Meskipun begitu, masih rendahnya kualitas sumberdaya manusia di desa ini menimbulkan permasalahan dalam hal pengelolaan lembaga yang dinilai kurang terstruktur satu sama lain atau cenderung apa adanya.
11 Gambar 6 Tempat Pelelangan Ikan Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo
Sebagai desa yang masih kental dengan adat tradisionalnya, Desa Tambakrejo masih memiliki kearifan lokal berupa kegiatan “Petik Laut” yang merupakan kegiatan pengadaan upacara adat yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 27 September. Tradisi ini bertujuan untuk memberikan seserahan pada alam karena telah melimpahkan sumberdaya yang berlimpah di perairan mereka. Tradisi ini dilakukan dengan melabuhkan sesajen dan seserahan ke tengah laut. Meskipun telah mengalami beberapa modifikasi adat untuk menyesuaikan dengan peraturan pemerintah, akan tetapi tradisi ini masih rutin dilakukan oleh warga setempat dengan tujuan yang sama.
3.3 Analisis Kondisi Ekosistem Pesisir dan Potensi Desa Tambakrejo
Dilihat dari segi potensi ekosistem pesisir, kawasan Desa Tambakrejo memiliki luas hutan mangrove mencapai 200 Ha dengan beberapa pantai berpasir putih dan tekstur tanah yang memiliki batuan kapur. Sebagai desa wisata, desa ini memiliki Pulau Sempu sebagai kawasan konservasi sumberdaya alam yang didalamnya terdapat laguna atau sering disebut sebagai segoro anakan. Pulau ini didukung dengan keindahan bawah airnya seperti kondisi terumbu karang yang masih cukup baik sehingga ikan-ikan karang tumbuh berkembang dengan baik. Ekosistem pesisir tersebut tentu saja mendukung potensi pariwisata di Desa Tambakrejo. Saat ini, perkembangan pariwisata di desa ini sebatas wisata pantai Bajul Mati dan Pulau Sempu. Padahal, apabila dikembangan lebih lanjut dengan manajemen pengelolaan pesisir yang saling terintegrasi satu sama lain, desa ini dapat dijadikan sebuah desa wisata dengan beberapa destinasi yang
12 menyenangkan dan edukatif dengan memanfaatkan potensi yang ada. Dalam segi pengelolaan semua kawasan wisata di desa ini belum dikelola dengan baik dan optimal sehingga masih perlu beberapa sarana penunjang dan akses yang memadai serta promosi tentang kawasan wisata dan penurunan status kawasan konservasi pulau sempu menjadi kawasan wana wisata terbatas. Pantai wisata yang berada di kawasan Desa Tambakrejo tidak hanya Bajul Mati dan Pulau Sempu, tetapi juga ada pantai-pantai baru yang sedang berkembang seperti Pantai Celungup, Pantai Tiga Warna, Pantai Gatra dan Pantai Teluk Asmoro.
Gambar 7 Pantai di Desa Tambakrejo, (a) Pulau Sempu, (b) Pantai Sendang Biru, (c) Pantai Tamban dan (d) Pantai Sendiki
Pariwisata di Desa Tambakrejo telah mengalami perkembangan yang signifikan dari tahun ke tahun. Potensi ekosistem pesisir di Desa Tambakrejo belum dapat di manfaatkan secara optimal. Hal ini dibuktikan dari masih banyaknya masyarakat yang berada pada kondisi ekonomi yang labil. Pemanfaatan ekosistem pesisir cenderung terpisah-pisah satu sama lain dan belum terintegrasi dengan baik. Akibatnya, pendapatan daerah yang diterima di Desa Tambak Rejo hanya bertumpu pada salah satu sektor saja yaitu pariwisata. Padahal, apabila dikelola secara optimal, selain potensi wisata alam Desa Tambakrejo juga memiliki beberapa
13 potensi lain yang dapat dikembangkan antara lain seperti Wisata Edukatif berbasis konservasi, Wisata Outbound, Wisata Sosial dan Budaya serta Wisata Belanja. Sehingga berdasarkan kajian terhadap kondisi lingkungan di Desa Tambakrejo dan potensi alam yang dapat diperhitungkan diharapkan upaya pengelolaan wilayah pesisir berbasis masyarakat atau lebih sering disebut dengan istilah Community
Based Tourism mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa dengan tetap
memperhatikan aspek ekologis ekosistem pesisir.
Upaya peningkatan daya guna lahan di Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan maka diperlukan analisa mengenai potensi dan kesesuaian pemanfaatan lahan. Bahasan seperti ini diperlukan untuk menganalisa kemungkinan terjadinya konflik yang terjadi di kalangan masyarakat pengelola. Oleh karena itu informasi dari data-data terkait isu pengelolaan sangat dibutuhkan untuk menghindari kemungkinan terjadinya konflik. Berikut merupakan data kesesuaian pemanfaatan lahan dan isu pengelolaan kawasan di Desa Tambakrejo Kecepatan Sumbermanjing Kabupaten Malang :
Tabel 3 Data kesesuaian pemanfaatan lahan dan isu pengelolaan kawasan di Desa Tambakrejo No Pemanfaatan Existing Potensi Kesesuaian 1. Cagar Alam Pulau Sempu
Pulau Sempu dijadikan
sebagai kawasan
konservasi satwa dan terumbu karang yang perkembangannya
berlangsung secara alami
Kawasan cagar alam harus memiliki beberapa kriteria seperti berikut ini :
Memiliki keanekargaman jenis flora dan fauna dalam ekosistem
Memiliki kondisi alam yang asli dan masih baik (tidak terganggu oleh manusia)
Keberadaan
ekosistemnya mulai terancam
14 No Pemanfaatan Existing Potensi Kesesuaian 2. Penanganan kawasan rawan longsor di Desa Tambakrejo Terdapat beberapa kegiatan baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun stakeholder untuk penanaman hutan kembali yang telah mengalami degradasi akibat penebangan oleh manusia (alih fungsi lahan)
Penanaman hutan kembali dapat dilakukan untuk mengatasi kawasan longsor atau menutupi daerah hutan yang gundul. Penanaman dapat dilakukan seluas 30% dari luas wilayah.
3. Pelabuhan Perikanan Pantai Sendang Biru
Hasil perikanan pantai di
Desa Tambakrejo
didukung dengan fasilitas pelabuhan sebagai sarana pusat pelayanan untuk mendukung potensi perikanan di Desa
Tambakrejo guna
meningkatkan
perekonomian setempat yang dilengkapi dengan tempat pelelangan ikan (TPI)
Secara nasional, lokasi penyelenggaraan pelabuhan ditetapkan oleh Menteri berdasarkan pada Tatanan Kepelabuhan Nasional yang telah direkomendasikan oleh
Pemerintah Provinsi,
Kabupaten/Kota yang
disesuaikan dengan kelayakan RTRW setempat. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 69 Tahun 2001 Tentang Kepelabuhan. 4. Ekowisata Pantai Ada beberapa Pantai di
Desa Tambakrejo yang telah dikembangkan, yaitu:
Pantai Sendang Biru
Pantai Tamban
Pantai Celungup
Pantai Tiga Warna
Ekowisata pantai dapat berkembang dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, seperti akses jalan, pusat infomasi, sarana dan prasarana. Meskipun Desa Tambakrejo telah mengembangkan potensi ekowisata pantainya, akan tetapi
15 No Pemanfaatan Existing Potensi Kesesuaian (kini menjadi kawasan wana terbatas) Pantai Teluk Asmoro
belum ada akses jalan yang terkoordinasi dengan baik dan pusat informasi yang belum ada.
5. Kawasan yang berpotensi adanya tsunami, Desa Tambakrejo mengembangkan kegiatan mitigasi bencana tsunami Pelaksanaan ini diselenggarakan sebagai upaya untuk menyiapkan sumber daya masyarakat yang tangguh dan siap
terhadap ancaman
bencana utamanya
Tsunami dan yang di
harapkan untuk
meminimalkan jatuhnya korban.
Mitigasi bencana dapat dilakukan melalui beberapa upaya termasuk penyadaran akan
pentingnya persiapan
kemungkinan terjadinya bencana dari pihak-pihak yang berada di kawasan rawan bencana tsunami. Mitigasi bencana di Desa Tambakrejo perlu ditingkatkan lagi dalam segi teknologi deteksi dini.
3.4 Community Based Tourism (CBT)
Community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat merupakan salah satu konsep yang mulai banyak diterapkan dalam melakukan pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Salah satu wilayah yang menerapkan konsep community based tourism yaitu Palawan, Filipina. Palawan merupakan propinsi yang terletak di bagian paling barat Filipina. Di Propinsi Palawan terdapat dua situs warisan dunia yaitu Tubbataha Reef Marine Park dan Puerto-Princesa Subterranean River National Park. Palawan ditunjuk sebagai tujuan utama ekowisata di Filipina. Wisatawan dapat menikmati kelimpahan flora dan fauna, termasuk spesies yang terancam punah dan spesies khas Palawan, pantai dan danau yang bersih, eco-resort, tempat penyelaman dan pemandangan yang unik di bukit kapur. Meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Palawan, berdampak terhadap meningkatnya
16 penggunaan sumberdaya alam maupun budayanya, sehingga beberapa masyarakat lokal mengembangkan desa wisata dengan konsep community based tourism. Model community based tourism yang diterapkan di Palawan dapat dilihat pada Gambar 1 yang merupakan model yang dikembangkan oleh Arnstein (1969).
Pada model tersebut menekankan bahwa partisipasi masyarakat (citizen participation) merupakan suatu bentuk alat yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk menimbulkan adanya perubahan sosial yang akan memberdayakan mereka dalam masyarakat. Pada model tersebut terdapat 8 tipe partisipasi yang disusun seperti susunan tangga (ladder of participation) dimana semakin tinggi posisi anak tangga maka semakin tinggi kadar partisipasinya. Tipe partisipasi tersebut dari kadar terendah yaitu anak tangga paling bawah meliputi Manipulasi (Manipulation), Terapi (Theraphy), Informasi (Informing), Konsultasi (Consultation), Penentraman (Placation), Kemitraan (Partnership), Pelimpahan Kekuasaan (Delegated Power) dan Citizen Control. Manipulation, dan Theraphy dikelompokkan sebagai non-participation. Informing, Consultation, dan Placation dikelompokkan sebagai Degrees of Tokenism. Partnership, Delegated Power dan Citizen Control dikelompokkan sebagai Degrees of Citizen Power (Okazaki, 2008).
17 Penerapan model Community based tourism di Palawan dilakukan oleh masyarakat Tagbanua di Pulau Coron yang terletak di bagian paling utara Kepulauan Palawan. Pulau Coron merupakan tujuan utama wisatawan di Palawan. Sekitar lebih dari 90% masyarakat Tagbanua berprofesi sebagai nelayan. TFCI (Tagbanua Foundation of Coron Island) merupakan suatu organisasi berbasis masyarakat yang beranggotakan masyarakat lokal Tagbanua menyiapkan proyek pengelolaan wisata. Dalam pengelolaannya, masyarakat menyiapkan biaya masuk atau karcis untuk memasuki zona kunjungan seperti danau dan pantai. Masyarakat juga melakukan patroli untuk mengawasi atau mengontrol aktivitas wisatawan agar tidak merusak lingkungan alam dan budaya. Selain itu, dalam proyek tersebut juga terdapat perjalanan kapal (boat tour) dari Kota Coron.
3.5 Penerapan Konsep CBT pada Desa Tambakrejo
Strategi pengelolaan wilayah pesisir yang bersifat sentralistik seringkali mengabaikan peran serta masyarakat. Tidak adanya akses masyarakat dalam melakukan pengelolaan wilayah pesisir dapat disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga dan melindungi wilayah pesisir serta tingkat pendidikan yang rendah. Masyarakat lokal memiliki peran penting dalam mengelola wilayah pesisir, dimana mereka hidup berdampingan dengan alam. Oleh sebab itu, saat ini banyak negara yang melakukan pengelolaan wilayah pesisir dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang merupakan pengguna sumberdaya utama di alam. Pengembangan pengelolaan pesisir berbasis masyarakat akan meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab masyarakat terhadap sumberdayanya. Dengan adanya hal tersebut, diharapkan masyarakat akan dapat melindungi dan mengontrol sumberdaya mereka agar tidak rusak.
Salah satu bentuk pengelolaan pesisir berbasis masyarakat yaitu melalui konsep Community based tourism. Community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat merupakan salah satu konsep yang mulai banyak diterapkan dalam melakukan pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara berkelanjutan. Pariwisata berbasis masyarakat melibatkan partisipasi masyarakat secara aktif dalam melakukan pengelolaan kepariwisataan. Konsep ini bertujuan untuk memberikan kesejahteraan masyarakat, melindungi lingkungan, kehidupan sosial dan budayanya. Pada dasarnya, tujuan utama dari konsep community based tourism yang diterapkan di Desa Tambakrejo sebagai desa pesisir yaitu untuk menjadikan
18 masyarakat lokal di pesisir mandiri terutama di bidang perekonomian melalui aktivitas pariwisata. Menurut Purmada (2016), dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat atau community based tourism terdapat beberapa prinsip yang digunakan, yaitu :
a. Keikutsertaan anggota komunitas dalam setiap kegiatan pariwisata b. Menjaga lingkungan hidup
c. Melestarikan budaya d. Pemerataan pendapatan
Aktivitas pariwisata merupakan salah satu bentuk aktivitas di bidang pemanfaatan wilayah pesisir dan laut yang dapat memberikan keuntungan terhadap ekonomi masyarakat. Menurut Arieta (2010), keberhasilan pariwisata dapat dimaknai dengan terpenuhnya beberapa hal berikut:
1. Faktor Kelangkaan (Scarcity), yaitu suatu objek wisata memiliki karakter yang tidak dimiliki oleh wilayah lain, baik secara alami maupun buatan.
2. Faktor Kealamiahan (Naturalism), yaitu suatu objek wisata masih alami yang tidak mengalami perubahan akibat aktivitas manusia.
3. Faktor Keunikan (Uniqueness), yaitu suatu objek wisata memiliki keunikan atau keunggulan dibanding dengan objek wisata lain.
4. Faktor pemberdayaan masyarakat (Community Empowerment), melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat lokal untuk menumbuhkan rasa bangga dan keramahan terhadap wisatawan.
5. Faktor Optimalisasi Lahan (Area Optimalsation), memaksimalkan penggunaan lahan dengan memperhatikan konservasi, preservasi dan perlindungan terhadap lingkungan.
6. Faktor Pemerataan (Equality), yaitu melakukan pemerataan manfaat terhadap masyarakat agar tercipta kesejahteraan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat pesisir Desa Tambakrejo bertujuan untuk memberi solusi terhadap masalah sosial ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat seperti pendapatan ekonomi keluarga, memaksimalkan kearifan lokal yang dimiliki untuk menjaga kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan berkelanjutan, sebagai wahana pembelajaran bisnis masyarakat pesisir, menciptakan peluang kerja bagi masyarakat lokal, membantu pemerintah daerah dalam menciptakan kepariwisataan yang berkelanjutan dan memperkenalkan serta melestarikan warisan alam maupun
19 budaya lokal kepada wisatawan. Keberhasilan community based tourism akan mengurangi ketergantungan masyarakat pesisir Desa Tambakrejo tehadap pemerintah. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan masyarakat dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat Desa Tambakrejo (community
based tourism) dapat dibagi menjadi kelompok pemandu, kelompok seni, kelompok
nelayan, kelompok makanan dan kelompok pengrajin serta kelompok administrasi. Kelompok pemandu bertujuan untuk mengajak wisatawan untuk mengeksplorasi wilayah pesisir melalui kegiatan berkeliling kampung, menikmati wisata bahari dan berkemah di tepi pantai. Kelompok seni dapat menunjukkan kesenian atau budaya lokal terhadap wisatawan. Kelompok nelayan dapat menjadi pemandu untuk wisatawan dalam melakukan aktivitas laut seperti memancing maupun snorkeling dengan menggunakan perahu. Kelompok makanan berfungsi untuk menyediakan makanan terhadap para wisatawan baik berupa makanan ringan maupun makanan berat. Kelompok pengrajin dapat membuat kerajinan tangan yang dapat dijual sebagai cindera mata untuk wisatawan yang mempunyai karakteristik sesuai dengan wilayahnya. Kelompok administrasi merupakan bagian penting dalam pengelolaan community based tourism dimana masyarakat berperan melakukan koordinasi dan pemasaran dalam mengatur kegiatan pariwisata. Kelompok administrasi dapat dilakukan dengan membuat crisis center yang berpusat di tengah desa dimana di tempat tersebut para wisatawan akan diperkenalkan berbagai bentuk wisata yang dapat dikunjungi di wilayah tersebut. Masyarakat lokal juga dapat menyediakan penginapan untuk para wisatawan.
3.6 Analisis SWOT Desa Tambakrejo
Menurut Atmoko (2014), pengembangan desa wisata berbasis masyarakat harus memenuhi beberapa kriteria daya tarik wisata, diantaranya:
1. Mempunyai karakter wisata yang berpotensi sebagai daya tarik wisatawan melalui keindahan pemandangan alam pedesaan, sosial budaya kemasyarakatan
2. Fasilitas pendukung pariwisata tersedia dengan baik, seperti penginapan, ruang interaksi antara pengunjung dan masyarakat
3. Peran aktif masyarakat menjadi faktor utama dalam pengembangan kegiatan kepariwisataan.
20 Berdasarkan beberapa kriteria tersebut, Desa Tambakrejo mempunyai potensi yang dapat dikembangkan melalui community based tourism . Oleh karena itu, untuk lebih memahami kesesuaian penerapan community based tourism di desa Tambakrejo dilakukan analisis SWOT terhadap sumberdaya alam penunjang dan tatanan masyarakat. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Treath) adalah upaya yang digunakan untuk menentukan atau menggambarkan strategi suatu rencana kerja dengan mengenal kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Adanya analisis SWOT suatu perencanaan yang dilakukan akan memaksimalkan logika kekuatan dan peluang serta meminimalisir ancaman dan kelemahan. Analisis SWOT desa Tambakrejo adalah sebagai berikut:
Strength
- Tersedianya sumberdaya alam daratan dan lautan yang melimpah, seperti Mangrove, terumbu karang, lamun dan biota yang berasosiasi
- Sumberdaya manusia yang cukup memadai
- Adanya program kerjasama yang erat antara seluruh elemen desa,
stakeholder dan POKMASWAS
- Masyarakat yang terbuka dan mengedepankan sikap gotong royong
Opportunities
- Penyedia daerah ekowisata yang menarik terutama dengan daya dukung dari kota Malang sebagai pusat pendidikan. Hal ini dapat menjadi tujuan wisata bagi mahasiswa
- Meningkatkan kerjasama dengan pihak lain dan daya tarik wisatawan dengan adanya kegiatan rutin tahunan yang disebut dengan encek-encekan, yaitu kegiatan syukuran nelayan di pantai Tumban
- Penyerapan tenaga kerja dan penyedia produk perikanan unggulan seperti abon, bakso, naget dan petis ikan tuna
Weaknes
- Adanya tumpang tindih antara peraturan wilayah pesisir dibawah wilayah perhutani dan pemerintah daerah
- Keterbatasan sumberdana dalam melakukan pengembangan potensi sumberdaya
21 - Tingkat pendidikan masih rendah dan kurangnya pengetahuan softskill dalam
pengembangan ekowisata berbasis masyarakat
Treath
- Meningkatnya kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam, perlu adanya penentuan tata ruang yang baik sehingga adanya keseimbangan antara pemanfaatan dan konservasi wilayah
- Kurangnya peningkatan pemberdayaan masyarakat di bidang ketrampilan pengolahan sumberdaya dan keahlian pengembangan ekowisata berbasis masyarakat
- Meningkatnya economic orientied dalam pemanfaatan sumberdaya alam - Ancaman lingkungan dan sumberdaya alam dengan adanya rencana
pengembangan wilayah Sendang Biru sebagai pelabuhan cargo internasional.
22 BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Potensi ekosistem pesisir di kawasan Desa Tambakrejo memiliki luas hutan mangrove mencapai 200 Ha dengan beberapa pantai berpasir putih dan tekstur tanah yang memiliki batuan kapur. Potensi desa Tambakrejo sangat sesuai untuk mengembangkan sektor pariwisata melalui konsep Community based tourism. Sebagai desa wisata, desa Tambakrejo memiliki Pulau Sempu sebagai kawasan konservasi sumberdaya alam yang didalamnya terdapat laguna atau sering disebut sebagai segoro anakan. Penerapan Konsep Community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat di Desa Tambakrejo merupakan salah satu contoh konsep yang mulai banyak diterapkan dalam melakukan pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Konsep ini bertujuan untuk memberikan kesejahteraan masyarakat, melindungi lingkungan, kehidupan sosial dan budayanya.
Konsep Community based tourism yang diterapkan di Desa Tambakrejo sebagai desa pesisir menjadikan masyarakat lokal di pesisir mandiri terutama di bidang perekonomian melalui aktivitas pariwisata. Namun Meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Palawan, berdampak terhadap meningkatnya penggunaan sumberdaya alam maupun budayanya, sehingga beberapa masyarakat lokal dituntut untuk melakukan patroli untuk mengawasi atau mengontrol aktivitas wisatawan agar tidak merusak lingkungan alam dan budaya.
4.2 Kendala dan Saran
Kendala yang dialami dalam praktikum ini adalah tidak adanya Asisten Praktikum yang membimbing selama pelaksanaan Survey Lapang. Selain itu kurangnya sosialisasi yang mendalam dalam praktikum ini sehingga menimbulkan banyak ketidakjelasan apa yang harus dilaksanakan. Dalam pelaksanaan rencana Konsep Community based tourism dimungkinkan memerlukan biaya yang cukup besar. Hal tersebut dikarenakan pembangunan infrastruktur untuk penerapanya yang besar.
Saran Untuk praktikum selanjutnya Sebaiknya dibentuk Asisten Praktikum agar mempermudah pelaksanaan praktikum, dan lebih baik jika sebelum praktikum diadakan sosialisasi yang mendalam dalam praktikum.
23 DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, Yuanita, Tjahjanulin dan Abdullah. 2016. Implementasi Program Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT) dalam Upaya Pembangunan Wilayah Pesisir (Studi di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang). Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 3, No. 11, hal 1852-1867.
Atmoko, T. Prasetyo Hadi. 2014. Strategi Pengembangan Potensi Desa Wisata Brajan Kabupaten Sleman. Jurnal Media Wisata, Volume 12, Nomor. 2. Data administrasi “profil desa Tambakrejo” tahun 2013.
Kompas, 2015. Pulau Sempu Bukan Tempat untuk Wisata.
http://travel.kompas.com/. Diakses pad tanggal 05 juni 2016 pukul 22.30 WIB Okazaki, E. 2008. A Community-Based Tourism Model: Its Conception and Use.
Journal of Sustainable Tourism Vol. 16, No. 5.
Purmada, D. K., Wilopo dan Hakim, L. 2016. Pengelolaan Desa Wisata dalam Perspektif Community Based Tourism (Studi Kasus pada Desa Wisata Gabugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Jurnal Administrasi Bisnis Vol. 32, No. 2.
Satria , Dias. 2009. Strategi Pengembangan Ekowista Berbasis Ekonomi Lokal dalam Rangka Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten Malang. Journal of Indonesian Applied Economics. Vol. 3, No. 1. Mei 2009, 37-47. Sulistyowati, Hari. 2009. Biodiversitas Mangrove di Cagar Alam Pulau Sempu. Jurnal
Sainstek, Vol. 8, No. 1, hal: 59 – 63.
Sumbermanjingwetan. 2016. Diakses dari sumbermanjingwetan.malangkab.go.id pada tanggal 5 Juni 2016 pukul 23.25 WIB.
Tempo, 2013. 57 Persen Bakau di Pantai Selatan Malang Rusak. http://m.tempo.co. Diakses pada tanggal 25 Mei 2016 pukul 22.30 WIB.
24 Berikut adalah Tabel Pembagian Tugas Penyusunan Laporan Proposal Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu Kelompok 13.
No. Nama Tugas Penyusunan Laporan
1 Siva Nur Ikhsani
BAB III
3.1 Deskripsi Geomorfologi Pesisir
3.2 Deskripsi Sosial dan Ekonomi Masyarakat
2 Lestari
BAB III
3.3 Analisis Kondisi Ekosistem Pesisir dan Potensi Desa Tambakrejo
3.4 Community Based Tourism (CBT) 3 Yoga Pratama BAB II Metodologi
4 Tomi Aris BAB IV Penutup
5 Devita Listyaningsih
BAB III
3.5 Penerapan Konsep CBT pada Desa Tambakrejo
3.6 Analisis SWOT Desa Tambakrejo 6 Anas Nurhidayah Penggabungan Laporan
7 Lita Indika W. S BAB I Pendahuluan
Perwakilan Survey Lapang di Kantor Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan di desa Tambakrejo adalah Anas Nurhidayah dan Tomi Aris.