• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUSTAINABILITY Report 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SUSTAINABILITY Report 2020"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

[email protected]

SUSTAINABILITY

Report 2020

Center for Climate Risk and Opportunity Management

in Southeast Asia and Pacific

(2)

Kata Pengantar

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya kita dapat menyusun laporan SDGs di tengah situasi pandemi Covid-19. Hal ini bukan halangan tetapi tantangan bagi peneliti CCROM SEAP IPB untuk tetap produktif dalam mendukung perkembangan program Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs merupakan kesepakatan pembangunan baru yang mendorong pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. SDGs hadir dengan menyediakan indikator pembangunan berkelanjutan yang lebih terperinci melalui 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Rencana aksi global ini tentu perlu didukung oleh setiap stakeholder. Maka dalam setiap perencanaan kegiatan yang dilakukan oleh IPB termasuk Pusat Studi di dalamnya berusaha semaksimal mungkin dilakukan dalam rangka mendukung pencapaian SDGs tersebut dengan tetap memperhatikan tercapainya tujuan Pusat Studi CCROM sesuai indikator kinerja dan renstra IPB.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi dalam penyusunan laporan SDGs untuk berbagai kegiatan CCROM SEAP IPB tahun 2020. Melalui laporan SDGs ini diharapkan semua kegiatan terkait SDGs dapat lebih ditingkatkan pada masa mendatang sehingga secara simultan akan dapat mendukung percepatan pencapaian tujuan SDGs tersebut.

(3)

1

Kajian Program NI-SCOPS (National Initiative for

Sustainable and Climate Smart Oil Palm

Smallholders ) di Indonesia

Peningkatan permintaan komoditas kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan perluasan lahan yang berdampak pada deforestasi. Oleh sebab itu diperlukan strategi dan upaya untuk memisahkan pertumbuhan ekonomi dari deforestasi melalui penerapan perencanaan tata guna lahan yang efektif, kebijakan dan insentif yang memungkinkan untuk mengarahkan kembali kegiatan dengan biaya tinggi ke tempat-tempat dengan nilai karbon lebih rendah tanpa mengorbankan pembangunan ekonomi, dan penerapan intensifikasi berkelanjutan.

CCROM-SEAP IPB mendukung Solidaridad untuk mengembangkan metode dan melaksanakan pemantauan dan evaluasi pencapaian N-ISCOPS Indonesia. Solidaridad telah mengembangkan sejumlah Indikator Kinerja Utama (KPI) berdasarkan konsultasi pemangku kepentingan yang akan digunakan dalam desain pemantauan dan evaluasi pencapaian NI-SCOPS. Penelitian ini bertujuan untuk mendukung Solidaridad dalam mengembangkan baseline untuk memastikan pemantauan dan evaluasi yang kuat atas pencapaian NI-SCOPS.

Penelitian dilakukan di 7 Kabupaten di Propinsi Kalimantan Barat dan 3 Kabupaten di Propinsi Kalimantan Timur melalui beberapa tahap. Pertama adalah menyusun kuesioner untuk petani. Selanjutnya adalah menentukan lokasi yang akan dijadikan sebagai lokasi sampling sesuai kriteria yang telah ditentukan. Ketiga adalah melakukan survei dan terakhir malakukan analisis KPI.

Hasil analisis KPI menunjukkan bahwa kondisi KPI desa di semua kecamatan relative rendah. Kurang dari 50% petani di desa terpilih menerapkan praktik pertanian yang memenuhi praktik lingkungan, ekonomi dan sosial-organisasi (KPI1) yang baik, mengadopsi produksi/manajemen berkelanjutan (KPI2). Petani yang sudah menerapkan praktik pertanian yang baik cenderung memiliki hasil dan pendapatan yang lebih tinggi. Ada hubungan positif yang signifikan antara hasil/pendapatan (KPI3 dan KPI4) dan praktik budidaya yang baik (KPI1 dan KPI2). Namun demikian, KPI yang terkait dengan peningkatan kapasitas dan penerimaan jasa keuangan dan kemitraan publik-swasta sangat rendah, bahkan beberapa kabupaten tidak memiliki layanan tersebut. Indikator penyebab rendahnya KPI antar kecamatan dan antar desa dalam satu kabupaten cukup bervariasi. Jenis intervensi proyek NI-SCOPS di lokasi sasaran harus mempertimbangkan dengan cermat variasi indikator ini, untuk memastikan efektivitas proyek NI-SCOPS dalam mencapai peningkatan KPI.

Pemahaman petani yang rendah terkait pentingnya budidaya yang baik menjadi tantangan yang harus diselesaikan. Selain itu, Permasalahan tata guna lahan, terutama daerah hutan yang menjadi lahan perkebunan sawit perlu diselesaikan dalam rangka mengurangi deforestasi.

Kajian ini turut mengembangkan metodologi untuk melakukan penilaian baseline kondisi petani dalam rangka adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Metodologi ini dapat digunakan untuk melakukan kajian yang sama untuk wilayah lainnya. Misalnya saja wilayah Sumatra Utara dan Riau yang juga menjadi salah satu lokasi perkebunan rakyat.

(4)

1

Analysis of NI-SCOPS (National Initiative for

Sustainable and Climate Smart Oil Palm

Smallholders ) Program in Indonesia

An increase in demand for agricultural commodities (palm oil) increases demand for land, which leads to an increase in deforestation. Therefore, a promising strategy is needed to decouple economic growth from deforestation through the implementation of effective land use planning, policies and incentives that allow for shifting high opportunity cost activities to places with lower carbon values without compromising economic development and implementing development sustainable. intensification.

CCROM-SEAP IPB supports the Solidaridad to develop a method for and to implement monitoring and evaluation of the Indonesia NISCOPS achievement. Solidaridad has developed a number of Key Performance Indicators (KPIs) based on stakeholder consultation that will be used in the design of the monitoring and evaluation of the NI-SCOPS achievement. This assessment aims to support the Solidaridad in developing a baseline to ensure robust monitoring and evaluation of the NI-SCOPS achievements.

Baseline of the KPIs of the villages in all districts are relatively low. Less than 50% of farmers in the selected villages implement farming practices that meet good environmental, economic and socio-organizational practices (KPI1), adopt sustainable production/management (KPI2). Farmers that already adopt good farming practices tended to have higher yield and income. There is significant positive relationship between yield/income (KPI3 and KPI4) and good farming practices (KPI1 and KPI2). Nevertheless, KPIs that relate with capacity building and financial services receipt and public private partnership are very low, event some of districts have no experiences in having such services. Indicators causing low KPIs between districts and between villages within a district quite vary. Types of NI-SCOPS project intervention in the target locations should take into account carefully this indicators variation, in order to ensure the effectiveness of the NI-SCOPS project in achieving the improvement of the KPIs.

The low understanding of farmers about the importance of good cultivation is a challenge that must be resolved. In addition, land use issues, especially forest areas that are converted to oil palm plantations, need to be resolved to reduce deforestation.

This study also develops a baseline assessment methodology for farmers' conditions in the context of climate change adaptation and mitigation. This methodology can be used to carry out the same research for other areas. For example, North Sumatra and Riau are also locations for smallholder plantations.

[email protected]

The research was conducted in 7 districts in West Kalimantan Province and 3 districts in East Kalimantan Province through several stages. The first is compiling a questionnaire. Next is to determine the location that will be used as a sampling location according to predetermined criteria. The third is conducting a survey and KPIs analysis based on the survey results.

(5)

2

Pengembangan Rencana Aksi Mitigasi dan

Adaptasi Perubahan Iklim di Lima Kota Pilot

(Denpasar, Malang, Makassar, Depok dan

Palembang)

Kegiatan penyusunan Rencana Aksi Iklim bertujuan untuk memprioritaskan tindakan untuk mencapai emisi netral, kota-kota yang lebih tangguh, lebih sehat, berkelanjutan dan adil di masa depan dalam waktu sesingkat mungkin.

Kegiatan yang sudah dilakukan yaitu: (1) Peningkatan kapasitas pemerintah daerah terkait komitmen perubahan iklim nasional melalui pembentukan tim kelompok kerja (POKJA), (2) Focus Group Discusion (FGD) memfasilitasi pengumpulan dan pemetaan data aktivitas (DA) kegiatan mitigasi dan adaptasi di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD), (3) Pelatihan penggunaan perangkat sistem nasional SIGN SMART dan SIDIK yang sudah dikembangkan oleh KLHK, (4) Memfasilitasi Pemerintah Kota dalam menetapkan Rencana Aksi Iklim dengan tujuan penurunan emisi dan peningkatan kapasitas adaptif sesuai dengan target nasional.

[email protected]

Komponen utama kegiatan ini yaitu penguatan kapasitas berupa pelatihan untuk pemerintah kota dalam menyusun Inventarisasi Gas Rumah Kaca untuk sektor Energi, IPPU, AFOLU dan Limbah dan penilaian kerentanan dan risiko iklim dengan menggunakan alat sistem nasional SIGN SMART dan SIDIK. Pelatihan tersebut menghasilkan rencana aksi kegiatan Renstra, Renja dan RPJMD yang ditaggingkan dengan aspek pembangunan berkelanjutan (SDGs) sehingga mendapatkan aksi prioritas yang dapat dijadikan sebagai dokumen Rencana Aksi Daerah (RAD) yang dapat digunakan sebagai masterplan daerah dalam melakukan pembangunan rendah emisi di masa depan.

Luaran utama dari kegiatan ini adalah inventarisasi GRK, kajian risiko dan kerentanan perubahan iklim serta rencana aksi iklim mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dengan mengikuti GCOM reporting framework. Semua basis ilmiah ini dikemas dalam dokumen rencana aksi iklim, yang sudah diserahkan ke GCOM oleh pemerintah kota.

Tantangan yang dihadapi di awal kegiatan yaitu kesulitan dalam pengumpulan data-data aktivitas setiap sektor. Berbagai sumber data harus ditelusuri untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan pembuatan laporan IGRK. Tantangan lainnya yaitu belum terjalinnya koordinasi yang baik antar sektor yang ada di setiap kota ataupun dengan sektor yang ada di pusat.

(6)

2

Development of Mitigation and Adaptation Action

Plan in Five Pilot Cities

(Denpasar, Malang, Makassar, Depok dan

Palembang)

Development Climate Action Plan program aims to prioritize actions to achieve neutral emission, more resilient, healthier, sustainable and equitable cities in the future within shortest possible time.

Activities that have been carried out are: (1) Capacity building of local governments in relation to national climate change commitments through the formation of a working group team (POKJA), (2) Focus Group Discussion (FGD) to facilitate the collection and mapping of activity data of mitigation and adaptation action in every local government agency, (3) Training on the utilization of national system tool SIGN SMART and SIDIK that have been developed by Ministry of Environment and Forestry, (4) Facilitate Local Government to develop Climate Action Plan that aims to decrease emission and strengthen adaptive capacity in accordance with the national target.

[email protected]

Main components of this program are capacity building in the form of training for Local Governments in compiling Greenhouse Gas Inventories for the Energy, IPPU, AFOLU and Waste sectors; and climate vulnerability and risk assessment training using SIGN SMART and SIDIK. The result of the training is the list of action plans taken from development plan documents (Renstra, Renja and RPJMD) that are tagged with sustainable development goals (SDGs) to prioritize actions that could be used as Regional Action Plan and regional master plan in carrying out low emission development in the future.

Main outcome of this program is GHG inventory, climate risk and vulnerability assessment and climate action plan that follows GCOM reporting framework. All of these scientific bases were used to develop climate action plans (CAP), which were submitted to GCOM by the city government.

The challenge faced at the beginning of the activity was the difficulty in collecting activity data for each sector. The data had to be traced from various sources in order to make the data in line with the purpose of GHG inventory report. Another challenge was the lack of good coordination between sectors or with the central government.

(7)

3

From NDCs to Pathways and Policies:

Transformative Climate Action After Paris

[email protected]

Merupakan kegiatan yang memiliki tujuan utama untuk melakukan analisis implikasi dari target Persetujuan

Paris (peningkatan suhu <2/1.5°C) terhadap pembangunan nasional and kebijakan prioritas yang dibutuhkan

untuk mendukung komitmen mitigasi yang lebih ambisius. Analisis tersebut akan dimanfaatkan untuk proses

penyusunan dokumen Long-Term Low Greenhouse Gas (GHG) Emission Development Strategies (LTS). Sesuai

dengan pasal 4 ayat 19 perjanjian Paris, LTS harus disusun secara koheren, transparan, kredibel, dan sejalan

dengan tujuan pembangunan nasional. Untuk memenuhi tujuan tersebut, kegiatan "From NDCs to Pathways

and Policies: Transformative Climate Action After Paris" mencakup proses konsultasi sektoral, konsultasi

nasional, konsultasi pihak swasta, diskusi pemangku kepentingan, dan diseminasi nasional dan internasional.

Keluaran utama dari kegiatan ini adalah dua skenario mitigasi jangka panjang dari sektor AFOLU (contohnya,

Skenario Kebijakan saat ini dan Skenario Rendah Karbon yang kompatibel dengan Paris), dan diwujudkan

dalam dokumen Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim 2050 (LTS-LCCR).

Salah satu tantangan dalam mengembangkan jalur rendah karbon terletak pada isu lintas sektoral (sebagai

contoh, permintaan lahan yang tinggi untuk pertanian dan pembangunan infrastruktur, investasi rendah untuk

energi terbarukan dan teknologi CCS, rendahnya kapasitas untuk memungkinkan transfer teknologi, dan

lainnya) dan kebutuhan untuk memberikan transisi yang adil selama proses menuju pembangunan rendah

karbon yang sesuai dengan Perjanjian Paris.

(8)

3

From NDCs to Pathways and Policies:

Transformative Climate Action After Paris

[email protected]

is an initiative that aims to examine the implications arising from the Paris Agreement’s targets of limiting the

temperature increase below 2°C or up to 1.5°C. In particular, it aims to analyze how meeting such targets will

affect national development and the enactment of priority policies necessary for delivering more ambitious

mitigation actions. This analysis will form the basis for the formulation of the Long-Term Low Greenhouse Gas

(GHG) Emission Development Strategies (or commonly called LTS) document. In accordance with Article 4,

Paragraph 4 of the Paris Agreement, the LTS document should be formulated in a coherent, transparent and

credible manner, and is also aligned with national development goals. Therefore, this initiative will cover

several activities aimed at meeting such an objective, namely through undertaking sector-based and national

consultation, pertinent discussions with private sector and relevant stakeholders, as well as policy

dissemination at both national and international level.

The initiative’s main expected output is the launching of two long-term mitigation scenarios from the AFOLU

sector (for example, the current policy scenario and the low-carbon scenario with goals that are compatible

with the Paris Agreement). All these scenarios will then be included within the Long-Term Strategy on Low

Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS – LCCR) document.

One of the main challenges in developing low-carbon transition pathway is related to its cross-sectoral nature.

For example, such an endeavor should consider issues including the increased land demand from the

agricultural sector, low investment in the development of renewables and CCS technologies and the limited

capacity for enabling technological transfer among others. Concurrently, there is also an urgent need to ensure

just low-carbon transition, a goal that is in line with the Paris Agreement.

(9)

4

Pendugaan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Setelah Intervensi Restorasi Lahan Gambut

ccromseap.ipb.ac.id [email protected] @ccromseap.ipb

Policy Brief

Peta tren kelembaban tanah di Provinsi Riau (Tahun 2017-2018)

Total emisi dan tingkat rujukan di wilayah target

Pendugaan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Setelah

Intervensi Restorasi Lahan Gambut, merupakan kegiatan yang

dilakukan untuk memperkirakan total penurunan emisi karbon dari empat

komponen tingkat rujukan, yang telah ditetapkan oleh Badan Restorasi

Gambut (BRG) pada areal yang digunakan dalam penetapan tingkat acuan,

dan menghitung kontribusi penurunan emisi karbon dari kegiatan restorasi 3R

yang dilakukan BRG di tujuh provinsi seluas 2,3 juta ha. Kegiatan penelitian

ini dilakukan pada bulan Juni hingga Agustus tahun 2020, merupakan

kerja sama antara

CCROM IPB dan BRG.

Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu; (1) Analisis tutupan lahan

dan hotspot untuk memperoleh data aktivitas untuk perhitungan emisi, (2)

Penyusunan model hidrologi untuk mengestimasi perubahan dimensi kanal

akibat sedimentasi sekat kanal, (3) Estimasi emisi dari empat komponen

sumber emisi, (4) Analisis pelaksanaan R3 terhadap penurunan emisi, dan (5)

Analisis kontribusi intervensi 3R BRG terhadap total penurunan emisi. Pada

penelitian ini juga dilakukan pengumpulan data melalui survei dan

pengamatan lapangan ke lokasi pelaksanaan kegiatan restorasi 3R. Tujuannya

adalah untuk dapat memperkirakan besar dampak atau kontribusi dari

pelaksanaan program restorasi BRG terhadap 4 komponen sumber emisi.

Luaran dari kegiatan ini mencakup dua hal utama yaitu; (1) Policy Brief

Perubahan Iklim Melalui Kegiatan Restorasi Gambut (2) Laporan Kajian Ilmiah

Perhitungan Perkiraan Penurunan Emisi Karbon dari gambut alam periode

2016-2019 dan kontribusi pelaksanaan program restorasi gambut (3R) BRG yang

disusun berdasarkan ke tiga output sebelumnya.

(10)

4

Estimation of Greenhouse Gas Emissions

Reduction After Peatland Restoration Intervention

ccromseap.ipb.ac.id [email protected] @ccromseap.ipb

Policy Brief

Soil moisture trend map in Riau Province (year 2012 – 2018)

Total emissions and reference levels in restoration

is a program that aims to estimate the total reduction of carbon emission, on

the basis of four reference levels as determined by the Peat Restoration

Agency (BRG). This activity was carried out in areas selected for the reference

level determination. Additionally, the program was intended to measure the

overall reduction of carbon emission resulting from the 3R restoration

activities conducted by the Peat Restoration Agency (BRG) in seven provinces

(total area: 2.3 million ha). This research program was carried out from June

to August 2020, as a collaboration between CCROM IPB and BRG.

This research consisted of several stages: (1) Land cover and hotspot analysis

to obtain activity data for emission calculation; (2) Hydrological model

development to estimate changes in channel dimension due to canal blockage

sedimentation; (3) Emission estimation from the four emission source

components; (4) The analysis of R3 implementation and its impacts on

emission reduction, and (5) The analysis of the BRG’s interventions and how

such measures contribute to the total emission reduction. In this research,

data collection was also undertaken through surveys as well as direct

observation in the locations where 3R restoration activities were

implemented. The aim is to estimate the contribution from the

implementation of the BRG’s restoration activities, in relation to the four

emission source components.

Two main outputs are expected from this research activity, namely (1) A

climate policy brief focusing on peat restoration activities and (2) A scientific

report on the carbon reduction calculation/estimate from the natural peat

between 2016 and 2019, along with the contribution from the implementation of

the BRG’s peat restoration program as formulated on the basis of three previous

outputs.

(11)

5

Nasional untuk mencapai target penurunan emisi dalam

menuju Paris Agreement

Kegiatan Kerjasama Pemerintah Indonesia dan Belanda Bersama

CCROM SEAP IPB dan TNO (Belanda)

Kegiatan kerjasama peningkatan sistem inventarisasi GRK mendukung usaha pemerintah Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim yang merupakan isu global dibantu dengan pengalaman dari tim ahli di negara maju (Belanda) yang dilakukan secara berkelanjutan selama kurang lebih 4 tahun. Indonesia telah menunjukkan komitmen terhadap Paris Agreement melalui First Nationally Determined Contribution (NDC) dengan target menurunkan emisi GRK sebesar 29% dibandingkan emisi Business as Usual (BAU) pada tahun 2030 dengan usaha sendiri dan hingga 41% dengan bantuan internasional (untuk sektor energi, IPPU, pertanian, penggunaan lahan & kehutanan, dan limbah). Capaian penurunan emisi Indonesia telah dilaporkan kepada pihak internasional dalam periode tertentu dan diharapkan inventarisasi emisi GRK yang dihitung setiap tahunnya menerapkan prinsip transparan, akurat, consisten, konsisten, dapat dibandingkan, dan lengkap.

Kegiatan kerjasama ini berlangsung tahun 2017-2021 dengan kegiatan umum: a. mengidentifikasi kondisi kesenjangan Inventarisasi GRK Indonesia saat ini, b. menyusun Buku Pedoman Penjaminan dan Pengendalian Mutu (QA/QC) Inventarisasi GRK Indonesia, c. Pelatihan penggunaan tools untuk meningkatkan kualitas dan evaluasi Inventarisasi GRK, d. Pelatihan penggunaan metode inventarisasi GRK yang scientific update, dan e. Pertemuan tingkat tinggi untuk pengaturan kelembagaan. Kegiatan tersebut dilakukan melalui beberapa pertemuan atau Focus Group Discussion, pelatihan, dan pengiriman kuesioner yang melibatkan kementerian/lembaga terkait dan difasilitasi oleh ahli inventarisasi GRK Prof. Rizaldi Boer, Dr. Muhammad Ardiansyah, Ir, Laode Muhammad Abdul Wahid, Dr. Febrian Hadinata, dan Peter Coenen (TNO, Belanda).

Luaran dari kegiatan ini adalah policy brief, analisis kesenjangan penyelenggaraan inventarisasi GRK nasional, analisis hubungan mitigasi dan inventarisasi GRK, buku dan modul-modul pelatihan untuk peningkatan sistem inventarisasi GRK. Tantangan yang dihadapi adalah belum terlibat aktifnya stakeholder terkait terutama lembaga penyedia data dan belum berjalannya penyelenggaran inventarisasi GRK oleh kementerian/lembaga penanggungjawab sektor. Diharapkan kedepannya, hasil dokumentasi kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia dan

stakeholder terkait untuk merancang pembangunan sektor dan mencapai penurunan

emisi sebagaimana target NDC.

(12)

5

Improvement of the Indonesian GHG Inventory and MRV

to achieve emission reduction target toward Paris

Agreement

Cooperation Project between Government of Indonesia and

Netherlands together with CCROM SEAP IPB and TNO (Netherlands)

Cooperation program between Government of Indonesia and Government of Netherlands to enhance Indonesian GHG Inventory system. It is expected to support Indonesian commitment in the scope of climate change that has been a global issue with the best practices transfer from experts in Netherlands. Indonesia has determined commitment to Paris Agreement through First Nationally Determined Contribution (NDC) with the reduction emission target 29% of Business as Usual (BAU) and 41% with international support in 2030 (in Energy, IPPU, Agriculture, Forestry and Other Land Use, and Waste sector). Indonesian emission reduction achievement has been reported internationally within such time period. Annual emission estimation in the GHG Inventory is encouraged to implement transparency, accuracy, consistency, comparability and completeness principles.

The cooperation program has been implemented in 2017-2021, involving many arranged activities: a. identification on gap analysis of current Indonesian GHG Inventory, b. develop Guideline for Quality Assurance and Control (QA/QC) for Indonesian GHG Inventory, c. train governors on the use of methods/toolsto improve quality and evaluate GHG Inventory, d. train governors on the use of scientific update of GHG Inventory Guidelines (2019 Refinement from IPCC), and e. High level meeting for establish institutional arrangement of sectoral GHG Inventory. These activites are implemented through Focus Group Discussion, training, and questionnaires involving related ministries/agencies with the support of GHG Inventory experts of Prof. Rizaldi Boer, Dr. Muhammad Ardiansyah, Ir, Laode Muhammad Abdul Wahid, Dr. Febrian Hadinata, and Peter Coenen (TNO, Netherlands).

Main outputs of the program are policy brief, guideline for QA/QC, guideline on the use of 2019 Refinement to the 2006 IPCC of GHG Inventories Guideline, and training activities. The main barrier of this program is important related stakeholders are not yet actively participated (particularly stakeholder providing data) and sectoral GHG Inventory by responsible sectors are not yet fully established. It is expected that outputs from this program will support Government of Indonesia and other related stakeholders to design good strategies for sectoral development and emission reduction target as determined in Indonesian NDC.

Referensi

Dokumen terkait

Pada Rabu, 16 Juni 2020 akan ada rilis data Retail Sales AS untuk bulan Mei yang merupakan salah satu indikator sentimen bagi indeks Dow Jones.. Retail Sales AS mengukur perubahan

Setelah diperoleh seluruh data kuesioner NASA – TLX dari ketiga rumah sakit maka dilakukan pengolahan untuk mendapatkan nilai beban kerja mental perawat.. Nilai beban kerja

KOBANTER BARU merupakan koperasi angkot yang terbesar di Kota Bandung dengan jumlah trayek yang 28 dan armada 4.702 kendaraan.. KOBUTRI mengontrol 6 trayek dengan armada 599

methyl ester yang dihasilkan. Penurunan viskositas ini menunjukkan bahwa karena semakin lama pemanasan akan mem- berikan waktu untuk reaksi transesterifikasi lebih lama

Namun dapat disimpulkan bahwa makna terhadap kematian pada lanjut usia adalah suatu peristiwa dan peringatan yang pasti dirasakan oleh setiap manusia, subjek merasa susah

RINCIAN PERUBAHAN ANGGARAN BELANJA LANGSUNG PROGRAM DAN PER KEGIATAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH. TIM ANGGARAN

RINCIAN PERUBAHAN ANGGARAN BELANJA LANGSUNG PROGRAM DAN PER KEGIATAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH. TIM ANGGARAN

Dengan fasilitasi oleh PAKLIM GIZ, Pemerintah kota Malang melalui tim teknis dan tim pengarah Kelompok Kerja Pengembangan Strategi Kota Yang Terpadu Dalam Perubahan