Pimpinan dan Peserta Rapat yang kami hormati,

Teks penuh

(1)

LAPORAN

KOMISI ll DPR- RI DALAM RANGKA PEMBICARAAN TINGKAT ll I PENGAMBILAN KEPUTUSAN

ATAS

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

PADA RAP AT PARIPURNA DPR- RI Selasa, 16 September 2003

Assalamu'alaikum Wr.Wb Salam Sejahtera Bagi Kita Semua.

yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat dan Para Anggota Dewan

Yang terhormat Saudara menteri Kehakiman dan HAM selaku Wakil Pemerintah ; dan hadirin yang kami hormati

Pertama-tama masrilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas perkenanNya kita dapat menghadiri Rapat Paripurna dalam keadaan sehat wal 'afiat, guna Pembicaraaan Tingka II I Pengambilan Keputusan terhadap Rancangan undang-undang tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pimpinan dan Peserta Rapat yang kami hormati,

Malalui Surat Presiden kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor R.IO/PUNI/2003 tanggal 9 juni 2003,Pemerintah telah menyampaikan Rancangan Undang-undang Republik Indonesia tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

(2)

Pada tanggal 26 Juni 2003 Badan Musyawarah DPR-RI, dalam Rapatnya antara lain memutuskan dan menugaskan kepada Komisi II DPR-RI untuk melaksanakan tugas konstitusi di bidang Pembentukan Undang-undang guna membahas dan merumuskan RUU tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Memperhatikan dan melaksanakan tugas konstitusi tersebut, serta memahami semangat reformasi yang juga menghendaki untukmencegah dan memberantas praktek menyembunyikan atau menyamarkan asal usul dana yang diperoleh dari tindak pidana pencucian uang atau Money Laundring yang telah banyak merugikan Negara dan masyarakat serta menghancurkan ekonomi nasional.

Menyadari hal itu Komisi II DPR-RI segera melakukan kegiatan pengkajian dan penelitian serta mengadakan Rapar-rapat guna membahas dan merumuskan dengan hati-hati terhadap setiap substansi dalam Bab, Pasal, Ayat, atau butir-butir RUU tersebut, dan secara honologis jalan.'lya rapat dan beberapa masalah yang berkembang dapat kami laporkan sebagai berikut : A. Mekanisme dan Kegiatan Rapat -rapat

1. Setelah BAMUS memberikan tugas konstitusi kepada Komisi II DPR - RI pada tanggal 26 juni 2003 di bidang legislasi untuk membahas RUU tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, maka Komisi II DPR - RI memutuskan dan menetepkan kepada fraksi-fraksi untuk mengkaji dan mencermati permasalahan yang ada dalam RUU tersebut.

2. Pada tanggal 3 September 2003 Komisi II DPR- RI mengadakan Rapat Ketja dengan Menteri Kehakiman dan HAM guna menyampaikan Pandangan Umum Fraksi-fraksi, jawaban pemerintah atas Pandangan Umum Fraksi-fraksi, dilanjutkan dengan pembahasan materi umum RUU tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dan pembentukan PANJA.

3. Pada hari Kamis, jum' at, Sabtu, dan Minggu tanggal 4 sampai dengan 7 September 2003, Rapat PANJA dengan konsinyir secara marathon siang dan malam melakukan pembahasan RUU tersebut. 4. Pada tanggal 8,9, dan 10 September 2003, Rapat TIMUS/TIMSIN

untuk merumuskan dan mensinkronkan substansi yang telah dibahas dan disepakati P ANJA.

(3)

5. Pada tanggal 10 September 2003 rapat PANJA untuk mendengarkan dan membahas laporan TIMUS dan TIM SIN.

6. PANJAmelaporkan hasil bahasan dan rnmusan Menteri Kehakinan danHAMRI padahariJum'at 12 September2003 pukul14.00WIB, guna mendapatkan persetujuan atau pengesahan menjadi Draft Final RUU tentang PernbahanAtas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Dang di Tingkat ll untuk dilanjutkan ke Pembicaraan Tingkat II I Pengambilan Keputusan dalam rapat Paripuma DPR -RI hari Selasa 16 September 2003 untuk mendapatkan persetujuan dewan, yang InsyaAllah sebentar lagi akan disetujui dan disahkan menjadi Undang-undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

A. Masalah-masalah Krusial

1. Selama Komisi II DPR- RI melakukan pembahasan dan pernmusan terhadap RUU Pernbahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang terdiri atas 2 (dua) Pasal dan 21 permasalahan yang meliputi :

1. 13 (tiga belas) Pasal diamandemen yaitu Pasal1, 2, 3, 9, 13, 16, 17,26,27,29,31,33,dan34

2. 7 (tujuh) pasal tambahan barn yaitu Pasal8A, lOA, 12A, 17A, 29A, 29B, dan 44A.

3. 1 (satu) bab tambahan baru yaitu BAB III A SANKSI ADMINISTRASI, dan

4. 1 (satu) bab amandemen yaitu BAB VIII bantuan Timbal Balik Dalam Masalah Tindak Pidana Pencucian Uang.

Setelah dibahas dan dirnmuskan bernbah I berkurang, sehingga menjadi:

a. 11 Pasal, karena 2 pasal amandemen disetujui dihapus, yaitu Pasal 17 dan Pasal 27 ;

b. 2 (dua) pasal tambahan barn yaitu Pasal 8A dan Pasal 12A disetujui dihapus, diganti dengan Pasal44B, sehingga menjadi 6 Pasal tambahan barn ;

c.

1 (satu) Bah Tambahan baru, yaitu Bab III A disetujui dihapus, dan diganti dengan BAB VIII A KETENTUAN LAIN.

2. Beberapa masalah krusial yang dalam pembahasannya memerlukan perdebatan yang panjang dengan argumentasi yang rasional dan mengutamakan kepentingan nasional serta memerlukan waktu yang

(4)

cukup lama, antara lain terhadap permasalahan yang substitansinya, sebagai berikut :

2.1 Pasal I angka 6 semula I (satu) butir disempurkan menjadi 3 butir mengatur substansi menganai :

6. Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah :

a. Transaksi keuangan yang menyimpang dari proil, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan ;

b. transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Penyedia Jasa Keuangan sesuai dengan ketentuan undang-undang ini; atau

c. Transaksi Keuangan yang dilakukan atau dibatalkan dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari Hasil Tindak Pidana. 2.2 Terdapat 3 (tiga) substansi yang terkait dengan:

a. Azas Double Criminality, khususnya kalimat Pasal 2 ada dua pendapat, apakah menggunakan kalimat : "berlaku hukum dimana perbuatan tersebut dilakukan atau "berlaku hukum Indonesia"

b. Penempatan definisi Tindak Pidana Pencucian Uang ;dan c. Batas minimum denda sebesar Rp. 250 juta

Setelah dilakukan pembahasan secara cermat dan mendalam serta intensifbelum juga menemukan titik temu, maka Komisi II DPR- Rl dan pemerintah memutuskan untuk diadakan lobby. dari hasillobby disepakati sebagai berikut :

a. Terhadap pasal 2 akhimya dapat disepakati dengan rumusan sebagai berikut : :

"yang dilakukan d wilayah Negara Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia.

b. Definisi Tindak Pidana Pencucian Uang diatur dalam "Ketentuan Lain"

c. Terhadap substansi yang terkait dengan batas minimum denda dari sebesar Rp. 250 juta, alc..hirnya disepakati sebesar Rp. 100 juta.

(5)

2.3 Pasal 2 ayat (l), rumusa lama mengenai batasan jumlah basil Tindak Pidana Pencucian Uang aung senilai Rp. 500 juta dinilai tidak efektif. Karena besar kecilnya dana basil kejahatan tidak mengubah statusnya sebagai dana basil kejahatan dan hal ini sejalan dengan norma internasional. Berdasarkan hal tersebut disepakati rumusannya disempumakan menjadi sebagai berikut :

" (1) Hasil Tindakan Pidana adalah harta kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana".

2.4 Pasal 13 ayat (2) mengenai jangka waktu kewajiban penyampaian laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan Penyedia J asa Keuangan selama 14 hari dinilai terlalu lama sehingga diperpendekjangka waktunya menjadi 3 hari masa ketja. Karena batas waktu 14 hari memberikan peluang besar bagi penjahal untuk mengambil atau memindahkan dananya. Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (Suspicius Transaction Report) yang lebih cepat akan memungkinkan penanganannya yang lebih cepat.

2.5 Komisi II DPR - RI dan Pemerintah menyetujui penambahan dan penyempumaan dari Pasal 17 A mengenai kiausul "Tipping Oft""' yang substansinya mengatur mengenai larangan bagi Penyedia Jasa Keuangan untuk memberitahukan kepada nasabahnya tentang Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang terkait dengan nasabah tersebut. Sehingga lebih memudahkan aparat penegak hukum untuk melacak identitas nasabah maupun memblokir basil kejahatannya. 2.6 Terhadan Pasal44, yang semula tanpa ayat, disetujui di sempumakan

menjadi 4 (empat) ayat. Pasal 44 mengatur substansi mengenai pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, dapat dilakukan ketja sama bantuan timbal balik dibidang hukum dengan negara lain.

2.7 Komisi III DPR-RI dan Pemerintah setuju dengan tambahan barn, yaitu Pasal 44A yang mengatur substansi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencuciam uang dilakukan ketja sama bantuan timbal balik dengan negara lain" antara lain meliputi :

a. pengambillan barang bukti dan pemyataan seseorang, termasuk pelaksanaan surat rogatori;

(6)

b. pemberian balrang bukti berupa dokumen dan catatan lain; c. identifikasi dan lokasi keberadaan seseorang;

d. pelaksanaan permintaan untuk pencarian barang bukti dan penyitaan; e. upaya untuk melakukan pencarian, pembekuan, dan penyitaan basil

kejahatan;

f. mengusahakan persetujuan orang-orang yang bersedia memberikan kesaksian atau membantu penyidikan di Negara Peminta;

g. bantuan lain yang sesuai dengan tujuan pemberian kerja sama timbale balik yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.8 Dalam rangka memberikan keleluasaan kepada PPATK untuk melakukan hubungan internasional baik bilateral maupun multilateral, khususnya yang terkait dengan konvensi dan rekomendasi internasional. Komisi II DPR- Rl dan pemerintah sepakta atau setuju untuk mengatur dalam bah tersendiri dengan menambah 1 (satu) bab barn yaitu BAB VIllA KETENTUAN LAIN yang terdiri atas 1 (satu) pasal, yakni Pasal44B, yang berbunyi:

"Dalam hal ada perkembangan konvensi internasional atau rekomendasi internasional di bidang pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang PPATK dapat melaksanakan ketentuan tersebut menurut undang-undang ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Yth. Saudara pimpinan rapat Yth. Saudara Anggota DPR-Rl

Yth. Saudara Menteri Kehakiman dan HAM atau yang mewakili beserta jajarannya; dan

Hadirin yang kami hormati,

Pada kesempatan ini perkenankanlah kami untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaa kepada saudara menteri Kehakiman dan HAM beserta jajaranny, dan seluruh staff ahlinya, yang bersama-sama anggota Komisi II DPR- Rl telah melakukan pembahasan RUU dengan tekun dan cermat. kami sampaikan ucapan terima kasih pula kepada semua pihak yang telah banyak membantu kelancaran dalam pembahasan RUU ini, yakni pimpinan PPATK besrta staff, perwakilan dari departemen Luar Negeri, perwakilan dari Kepolisian Rl, perwakilan dari Kejaksaan Agung Rl, serta rekan-rekan wartawan media cetak dan media elektronik. secara khusus kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan Panitia Kerja, Tim Perumus dan Tim sinkronisasi

(7)

Komisi II DPR - RI Yt. Sdr. Abdul Rachman Gaffar,SH dan Srd. Hamdan Zoelva, SH serta seluruh anggota Komisi II DPR - RI yang telah menyelesaikan dengan baik dan tepat waktu terhadap perubahan RUU ini, sehingga pada hari ini dapat di Paripurna guna diambil keputusan di Pembicaraan Tingkat II.

Demikianlah Laporan Komisi II DPR- RI mengenai pembahasan dan perumusan RUU tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dan apabila ada kekurangan dan kesalahan baik dalam proses pembahasan RUU maupun dalam menyampaikan laporan ini, dengan segala kerendahan hali kami menyampaikan terima kasih.

Selanjutnya perkenankanlah kmi untuk menyerahkan RUU tentang PerubahanAtas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang kepada Sidang Paripurna hari ini guna diambil keputusan.

60 Jakarta, 16 September 2003 Pimpinan Komisi II DPR - RI Ketua, A.TERAS NARANG, SH A-180

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :