• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION 2"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

Modul ke: Fakultas Program Studi

INTEGRATED

MARKETING

COMMUNICATION 2

Manajemen Promosi Penjualan

Cherry Kartika, SIP, M. Ikom

ILMU KOMUNIKASI Advertising & Marketing Communication www.mercubuana.ac.id

(2)
(3)

Promosi Penjualan

• Promosi penjualan atau promosi mengacu pada setiap

insentif yang digunakan oleh produsen untuk memicu

transaksi pedagang ritel maupun konsumen untuk

membeli suatu merek dan mendorong tenaga penjualan

untuk secara agresif menjual merek tersebut.

• Berbeda dengan periklanan yang biasanya berorientasi

jangka panjang dan mempengaruhi sikap, promosi lebih

berorientasi jangka pendek dan mempengaruhi perilaku.

• Promosi memiliki karakter urgensi dengan mendorong

(4)

Sasaran Promosi

• Promosi penjualan memiliki tiga kelompok sasaran, yaitu:

1. Tenaga penjual

¾ Harus secara antusias dan agresif menjual produk. 2. Penjual ritel

¾ Didorong untuk memasok dan mempromosikan merek

dengan cara diberikan imbalan berupa allowances, diskon, kontes, dan program pendukung periklanan lainnya.

3. Konsumen

¾ Didorong untuk membeli merek dengan imbalan kupon, sampel, premi, cent-off deal, undian, dan insentif lainnya.

(5)
(6)

Pertumbuhan

Promosi Penjualan

• Pengeluaran untuk iklan sebagai persentase dari total

biaya komunikasi pemasaran telah menurun

belakangan ini, sementara pengeluaran untuk

promosi telah meningkat dengan pesat.

• Terdapat dua istilah yang sering digunakan dalam

penjelasan promosi penjualan:

a. Mendorong (push): perusahaan mengarahkan penjualan dengan mendorong tenaga penjual ataupun pedagang ritel. b. Menarik (pull): promosi merek ditujukan langsung kepada

(7)

Pertumbuhan

Promosi Penjualan

• Banyaknya perkembangan dalam bidang pemasaran

menyebabkan perusahaan melakukan pergeseran

alokasi anggaran dari periklanan ke promosi

perdagangan.

• Setiap perkembangan saling terkait dan tidak terjadi

secara terpisah ataupun berbeda.

(8)

Pertumbuhan

Promosi Penjualan

1. Pergeseran balance-of-power.

¾ Sebelumnya produsen lebih berkuasa daripada pengecer karena dua alasan: (1) produsen melakukan tarikan

langsung kepada konsumen dan menuntut para pengecer untuk menangani merek mereka, (2) pengecer hanya

mengetahui informasi dari produsen.

¾ Tetapi sejak televisi menjadi media iklan yang paling efektif dan munculnya teknologi alat pemindai optik, para pengecer mulai ikut menentukan apa saja yang menjadi persyaratan penjualan, bukan lagi persyaratan produsen semata.

(9)

Pertumbuhan

Promosi Penjualan

2. Kenaikan paritas merek dan sensitivitas harga.

¾ Semakin banyak merek yang saling bersaing, tanpa ada merek yang memiliki keunggulan yang berbeda lagi. ¾ Dalam hal ini konsumen menjadi semakin

memperhatikan harga dan insentif harga sebagai cara untuk membedakan paritas merek.

3. Penurunan loyalitas merek.

¾ Saat ini konsumen tidak lagi loyal pada merek daripada sebelumnya.

¾ Konsumen pada akhirnya hanya membeli produk-produk yang memberikan promosi saja.

(10)

Pertumbuhan

Promosi Penjualan

4. Pemecahan pasar massal dan penurunan efektivitas media.

¾ Efektivitas periklanan semakin menurun yang diakibatkan oleh: (1) gaya hidup konsumen semakin beragam, sehingga media periklanan memiliki daya tarik yang semakin sempit; dan (2) semakin meningkatnya kekusutan iklan dan

ekskalasi biaya media.

5. Orientasi jangka pendek dan struktur corporate reward.

¾ Struktur imbalan dalam perusahaan-perusahaan yang diorganisir sebagai lini manajemen-merek menekankan respons penjualan jangka pendek dan bukan pertumbuhan jangka-panjang yang lambat.

(11)

Pertumbuhan

Promosi Penjualan

6. Daya respons konsumen.

¾ Konsumen saat ini memberi respons yang baik pada

kesempatan menghemat-uang dan promosi

(12)

Kemampuan

Promosi Penjualan

• Promosi tidak dapat menyebabkan perubahan besar,

tetapi dapat melaksanakan tugas-tugas berikut:

1. Merangsang antusiasme tenaga penjualan untuk

menjual produk baru, yang dikembangkan, atau

lama.

¾ Promosi penjualan yang menggembirakan akan memberikan amunisi kepada wiraniaga untuk

(13)

Kemampuan

Promosi Penjualan

2. Memperkuat penjualan merek yang sudah lama.

¾ Promosi dapat memperkuat penjualan produk yang sudah matang atau lama yang memerlukan darah segar.

3. Memfasilitasi pengenalan produk dan merek baru kepada

dunia perdagangan.

¾ Promosi penjualan ditujukan kepada para pengecer agar mau menjual produk-produk dan merek-merek baru.

4. Menambah on-shelf dan off-shelf space untuk barang dagang.

¾ Promosi penjualan memungkinkan produsen untuk

(14)

Kemampuan

Promosi Penjualan

5. Menetralisir periklanan dan promosi penjualan

kompetitif.

6. Mendapatkan pembelian percobaan dari para

konsumen.

¾ Para pemasar bergantung pada sampel gratis, kupon, dan promosi penjualan lainnya untuk mendorong pembelian percobaan atas merek-merek baru.

7. Mempertahankan para pemakai saat ini dengan

mendorong pembelian ulang.

¾ Dengan memberikan program refund, undian, dan berbagai program kontinuitas lainnya.

(15)

Kemampuan

Promosi Penjualan

8. Meningkatkan pemakaian produk dengan meloading

konsumen.

¾ Promosi yang berorientasi transaksi akan mempengaruhi konsumen untuk membeli lebih banyak daripada

biasanya.

¾ Hal ini dapat menyebabkan konsumen meningkatkan konsumsinya untuk produk-produk yang tidak tahan lama seperti yoghurt, air jeruk, dll (alasan ofensif).

¾ Sedangkan untuk produk-produk seperti kecap, cara ini hanya mempromosikan harga untuk mengimbangi usaha pesaing yang mencoba merebut pangsa pasar (alasan

(16)

Kemampuan

Promosi Penjualan

9. Memenangkan persaingan dengan meloading

konsumen.

10. Memperkuat periklanan.

¾ Sebuah kampanye periklanan dapat diperkuat dengan usaha promosi penjualan yang terkoordinasi dengan baik.

(17)

Keterbatasan

Promosi Penjualan

1. Ketidakmampuan untuk memberi kompensasi kepada

tenaga penjualan yang kurang terlatih atau kurangnya

periklanan.

¾ Lemahnya tenaga penjualan, kurangnya kesadaran akan merek, lemahnya citra merek, dan berbagai sebab lainnya hanya dapat diatasi oleh manajemen penjualan dan usaha periklanan yang benar.

2. Tidak dapat menyediakan profesi atau pedagang atau

konsumen alasan jangka panjang yang memaksa untuk

terus membeli suatu merek.

3. Ketidakmampuan untuk secara permanen menghentikan

tren penjualan merek yang menurun atau mengubah

(18)

Generalisasi tentang

Promosi Penjualan

• Telah dilakukan berbagai riset tentang fungsi dan

efektivitas promosi penjualan. Hasil-hasil riset

tersebut dapat dirangkum ke dalam 9 generalisasi

empiris berikut:

1. Penurunan harga ritel untuk sementara secara

substansial akan meningkatkan penjualan (disebut

sales spikes).

2. Semakin besar frekuensi deals (transaksi) semakin

rendah puncak deals spike.

3. Frekuensi deal mengubah harga referensi konsumen.

4. Para pengecer mengalami kurang dari 100 persen

(19)

Generalisasi tentang

Promosi Penjualan

5. Pangsa pasar merek yang lebih tinggi kurang lentur terhadap

deal.

6. Promosi yang diiklankan dapat menyebabkan meningkatnya

lalu lintas toko.

7. Fitur periklanan dan display yang beroperasi secara sinergis

untuk mempengaruhi penjualan merek yang dikenakan

diskon.

8. Promosi dalam satu kategori produk mempengaruhi

penjualan merek dalam kategori komplementer dan

kompetitif.

9. Dampak mempromosikan merek-merek bermutu lebih tinggi

atau lebih rendah

adalah asimetris.

(20)

Dealing Promosi tidak

selalu Menguntungkan

• Volume penjualan sebuah merek hampir selalu

meningkat selama periode penawaran kupon atau

price-on deal. Akan tetapi kenaikan volume penjualan

(21)

Daya Respons Konsumen terhadap

Deal Promosi

• Pasar untuk setiap kategori produk terdiri dari

konsumen yang memiliki daya respons yang berbeda

terhadap deal:

– Beberapa konsumen loyal terhadap satu merek.

– Sebagian konsumen tidak memiliki loyalitas dan hanya membeli produk yang ada pada deal.

– Sebagian besar lainnya berada di tengah kedua ekstrim di atas.

• Terdapat kerangka kerja yang dapat menunjukkan

berbagai segmen konsumen dalam batas-batas

(22)

Daya Respons Konsumen terhadap

(23)

Daya Respons Konsumen terhadap

Deal Promosi

• Konsumen:

¾ Konsumen on-deal only (S8): konsumen yang

hanya membeli bila suatu merek sedang

on-deal.

¾ Konsumen on-deal dan off-deal:

Loyalis: konsumen yang membeli merek

yang sama secara berulang apabila tidak

ada merek yang sedang on-deal.

1) Loyalis non-deal-prone (S1): konsumen yang konsisten membeli satu merek dan tidak

(24)

Daya Respons Konsumen terhadap

Deal Promosi

2) Loyalis deal-prone

a. Loyalis penimbun barang (S2): hanya membeli satu merek dan loyal terhadap merek itu di samping

memanfaatkan penghematan dengan menimbun barang saat on-deal.

b. Loyalis eksepsionis (S3): meskipun loyal terhadap satu merek yang sedang off-deal, namun akan

mempertimbangkan pengecualian dan membeli

merek lain yang tidak disukai apabila merek itu, dan bukan merek yang mereka sukai, sedang on-deal.

c. Loyalis eksepsionis-penimbun barang (S4): seperti loyalis eksepsionis tetapi juga menimbun merek lain yang sedang on-deal.

(25)

Daya Respons Konsumen terhadap

Deal Promosi

– Switchers: konsumen yang, meskipun semua merek

off-deal, namun tetap beralih ke merek lain

1)

Switchers non-deal-prone (S5): konsumen sering

berganti merek karena kebutuhan pembaruan dan

bukan memanfaatkan deal.

2) Switchers deal-prone:

a. Switchers bukan penimbun barang (S6): sangat

responsif terhadap deal tetapi tidak membeli kuantitas ekstra jika setiap merek yang sesuai sedang on-deal. b. Switchers penimbun barang (S7): memanfaatkan

peluang deal dengan membeli berbagai unit apabila setiap merek yang sesuai sedang on-deal.

(26)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

• Dari segmentasi respons konsumen terhadap deals

yang telah dibahas sebelumnya, didapatkan lima

kategori pola pembelian:

1. Promosi yang tidak sensitif (segmen 1 dan 5) 2. Loyalis yang menimbun barang (segmen 2)

3. Promosi sensitif yang tidak menimbun barang (segmen 3 dan 6)

4. Promosi sensitif yang menimbun barang (segmen 4 dan 7) 5. Konsumen on-deal only (segmen 8)

(27)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

1. Promosi yang tidak sensitif (segmen 1 dan 5)

• Jika pangsa pasar seluruhnya terdiri dari

konsumen yang tidak sensitif terhadap deal

promosi, maka tidak akan menguntungkan untuk

menempatkan merek on deal.

• Hal ini disebabkan karena promosi yang tidak

sensitif tidak akan mengubah perilaku pembelian

mereka sebagai kegiatan dealing.

(28)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

Promosi yang tidak sensitif (segmen 1 dan 5)

(29)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

2. Loyalis penimbun barang (segmen 2)

• Jika semua konsumen merupakan loyalis

penimbun barang, maka kegiatan dealing juga

tidak akan menguntungkan.

• Saat on-deal penjualan akan meningkat secara

mencolok tetapi kenaikan tersebut hanya dipinjam

dari penjualan di masa depan saat off-deal.

• Deal hanya akan meningkatkan volume penjualan

jangka pendek, tetapi tidak menguntungkan.

(30)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

Loyalis penimbun barang (segmen 2)

(31)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

3. Promosi sensitif yang tidak menimbun barang

(segmen 3 dan 6)

• Pada kategori konsumen ini, depresi penjualan

muncul akibat promosi pesaing.

• Tetapi konsumen akan kembali membeli merek

saat on-deal.

• Dalam hal ini kegiatan dealing akan membuat

merek mendapatkan keuntungan.

(32)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

Promosi sensitif yang tidak menimbun barang

(33)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

4. Promosi sensitif yang menimbun barang (segmen 4

dan 7)

• Pada konsumen kategori ini, garis penjualan didepresi baik oleh kegiatan dealing-nya sendiri maupun dealing kompetitif.

Jika kegiatan dealing menguntungkan pada saat konsumen tidak menimbun barang, maka perilaku

menimbun akan menyebabkan profitabilitas yang jauh lebih besar.

• Hal ini disebabkan karena produsen memperoleh laba dengan merebut konsumen dari pesaing selama masa

(34)

Implikasi Laba untuk

Setiap Kategori Promosi

5. Konsumen on-deal-only (segmen 8)

• Promosi ke suatu pasar yang didominasi oleh

konsumen on-deal only akan memberikan

(35)

Kesimpulan

• Pembahasan sejauh ini memberikan beberapa

petunjuk mengenai profitabilitas dealing:

1. Menempatkan suatu merek untuk on-deal adalah tidak menguntungkan jika pasar terdiri dari konsumen yang tidak sensitif terhadap promosi atau loyalis penimbun barang.

2. Menempatkan sebuah merek agar on-deal adalah

menguntungkan jika pasar mencakup konsumen on-deal

only.

3. Menempatkan sebuah merek agar on-deal mungkin atau tidak menguntungkan jika pasar terdiri dari konsumen yang sensitif terhadap promosi yang tidak menimbun barang atau yang menimbun barang.

(36)

Terima Kasih

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian akan muncul form untuk memasukkan komoditas yang dikonsumsi dalam rumah tangga tersebut. Masukkan nama barang/jasa (bisa dipilih melalui list), kualitas/merk, kode

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai Adjusted R 2 sebesar 0.233 atau 23.3% sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel profitabilitas, risiko bisnis,

Dalam keadaan terpaksa, misalnya pasien tidak mungkin untuk diangkut ke kota/rumah sakit besar, sedangkan tindakan darurat harus segera diambil maka seorang dokter atau bidan

Skripsi dengan judul “ Pembelajaran Matematika Berbasis Etnomatematika Dengan Konteks Oban Yadikon Rasan Kayuagung Untuk Siswa SMP “ disusun untuk memenuhi salah satu

Menggunakan take-off strategy yang mana marupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru, strategi ini dapat memperbaharui pertumbuhan

tergantung pada pembagian harta yang dilakukan oleh pancer (keturunan lurus baik vertikal maupun horizontal dari pihak laki-laki). Jika perkawinan belum berlangsung

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan perhektar usahatani bawang merah varietas tuk-tuk di lokasi penelitian sebesar Rp.415.542.737 dengan rata-rata

Penelitian khusus tentang pendidikan gizi melalui game puzzle dan gambar animasi belum ada sebelumnya, tetapi ada penelitian sebelumnya pada pengabdian masyarakat tentang