1
LAPORAN KEGIATAN
BULAN OKTOBER
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
2 DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 8
BAB II KEGIATAN INTERNAL ... 9
2.1. Kegiatan Utama Subdit Tata Ruang ... 9
2.4.1. RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang ... 9
2.4.2. Perencanaan 2015 ... 9
2.4.3. Profil Perencanaan Tata Ruang Daerah ... 9
2.4.4. Koordinasi Bidang Tata Ruang ... 9
2.4.5. Sinkronisasi RTR dan RP ... 10
2.2. Kegiatan Utama Subdit Pertanahan ... 10
2.2.1. Profil Kegiatan Pertanahan ... 10
2.3. Kegiatan Utama Subdit Informasi dan Sosialisasi ... 11
2.3.1. Diskusi Knowlegde Management System ... 11
2.3.1. Media Sosialisasi dan Informasi TRP ... 12
2.3.2. E-performance (Kinerja) Direktorat dan Kedeputian ... 12
2.4. Kegiatan Utama Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional ... 12
2.4.1 Konsolidasi Teknis Inisiasi Penyusunan Regulasi PRUN ... 12
2.4.2. Penyusunan SEB dan Protokol Integrasi RTRW-RZWP-3-K ... 13
2.4.3. Talkshow Hari Tata Ruang Nasional 2014 dengan tema “Penataan Ruang yang Partisipatif dan Berkeadilan” ... 14
2.5. Kegiatan Utama Sekretariat RAN ... 15
2.6. Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan ... 18
BAB III KEGIATAN EKSTERNAL... 20
3.1 Rapat Pembahasan NSPK tentang Pedoman Penginterasian RTRW dan RPJMD ... 20
3.2 Pertemuan The Nature Conservancy, Pengenalan Development by Design (DbD) ... 20
3.3 Konsinyering Rapat Tindak Lanjut Pengembangan KAPET dan Percepatan Penetapan RPerpres Revisi Keppres No. 150/2000 tentang KAPET ... 21
3.4 FGD Kebijakan Penyediaan Tanah Dalam Rangka Menngkatkan Kesejahteraan Papan ... 22
3.5 Stakeholders Forum Habitat 2014 ... 23
3.6 Seminar Identifikasi Sumber-Sumber Pendanaan Perubahan Iklim (PI) ... 23
3.7 Pelatihan Public Private Partnership ... 24
3.8 Rapat Penelaahan RKA-KL Pagu Alokasi Anggaran TA 2015 untuk Ditjen Penataan Ruang, Kementerian PU dan Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri untuk Bidang Tata Ruang ... 25
3 3.9 FGD upaya percepatan pemanfaatan kawasan HPK yang telah dicadangkan sebagai lahan
tanaman pangan di Kalimantan ... 25
3.10 Penyediaan Tanah Pertanian Untuk Mendukung Penyelenggaraan Reforma Agraria Dalam Rangka Ketahanan Pangan ... 26
3.11 “Pencanangan Implementasi Program NCICD: Pemulihan Ketahanan Lingkungan Ibukota Negara RI yang Berkelanjutan” ... 27
3.12 FGD Raperpres tentang Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) 27 3.13 Penyusunan Protokol Integrasi RZWP-3-K dengan RTRW ... 28
3.14 Pokja Konflik Kerangka Timdu NTT ... 28
3.15 Rapat Penilaian Reformasi Birokrasi Bappenas ... 29
3.16 Konsolidasi Penyusunan Laporan PP 39/2006 Triwulan III TA 2014 Kementerian PPN/Bappenas ... 29
3.17 Breakfast Meeting - Persiapan Pelaksanaan Hari Tata Ruang Nasional (Hari Tarunas) Tahun 2014 ... 30
3.18 Diskusi Panel Jaminan Kepastian dan Perlindungan Hak Bermukim Masyarakat Miskin Kampung Perkotaan ... 30
3.19 Nara Sumber Peningkatan Kapasitas Aparatur, Tata Laksana dan Kelembagaan Penataan Ruang Kawaan Perbatasan di Padang,14 Oktober 2014 ... 31
3.20 Rapat Deputi 7 - Pembahasan Buku III, Rencana Raker, dan Porseni ... 31
3.21 Pertemuan teknis Penyusunan Protokol Integrasi RZWP-3-K ke dalam RTRW ... 32
3.22 Dinner Meeting Tingkat Eselon II BKPRN - Persiapan Penyelenggaraan Hari Tata Ruang Nasional 2014 ... 33
3.23 Rencana Pembangunan PT Chevron di prov Riau ... 33
3.24 Rapat Konsultasi Triwulan III-Rancangan Teknokratik Buku III RPJMN 2015-2019 Arah Pengembangan Wilayah Nasional ... 34
3.25 Rapat Koordinasi Anggaran - PPK D7 – ke 13 ... 34
3.26 FGD Penataan Ruang dalam Mendukung Pengembangan Ekonomi Kreatif ... 35
3.27 Persiapan Penyelenggaraan Hari Tata Ruang Nasional 2014 ... 35
3.28 Diskusi Panel dengan tema “Reformasi Pertanahan melalui Kementerian Agraria” ... 36
3.29 Diskusi Roadmap Program Green Growth Indonesia ... 37
3.30 Publikasi Tata Batas Kawasan Hutan ... 37
3.31 Rapat Pimpinan Eselon I dan Eselon II Bappenas ... 38
3.32 Seminar Background Study Pengintegrasian Kerangka Regulasi dalam RPJMN 2015 - 2019 38 3.33 Urban Land Policy Stakeholder Group Meeting dalam rangka Penyusunan Roadmap Kebijakan Sektor Perumahan ... 39
4
3.34 Peluncuran Sistim Informasi Terpadu (Simpadu) Penanggulangan Kemiskinan... 39
3.35 Rapat Koordinasi Pembahasan Persiapan Hibah GEF RIMBA ... 40
3.36 Pembahasan Manajemen Pengetahuan (MP) oleh Pusdatin ... 41
3.37 Workshop 2 Kajian Formulasi Perhitungan KWT, KZB, dan KDB dalam KSN Perkotaan ... 41
3.38 Training and Roundtable Meeting on Public Private Partnership (PPP) in Investing in Heritage Precinct ... 41
3.39 Sosialisasi Kajian dan Strategi Pengadaan Tanah Perkotaan bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum di Indonesia ... 42
3.40 FGD Sosialisasi PP Penataan Wilayah Pertahanan Nasional ... 42
3.41 Rapat Tindak Lanjut Klarifikasi Qanun Aceh ... 43
3.42 Pembahasan Modul Penetapan LP2B dalam RTRW ... 44
3.43 Konsultasi Pemerintah Provinsi Gorontalo terhadap Usulan KSN ... 44
3.44 Seminar Nasional “Peradilan Pertanahan Sebagai Solusi Penyelesaian Perkara Pertanahan?” ... 45
3.45 Kunjungan Kerja DPRD Kabupaten Bekasi ... 46
3.46 Persiapan Trilateral Meeting Kerangka Regulasi Dalam RPJMN 2015-2019 ... 46
3.47 Rapat Pembahasan Buku III RT RPJMN 2015-2019 dengan Direktorat Pengembangan Wilayah Bappenas dan Direktorat Penataan Ruang Nasional Kementerian PU ... 47
3.48 Rapat Fasilitasi Penegakan Perda tentang RTRW ... 47
3.49 FGD Pembahasan Draf Perpres KSPPN Revisi III ... 48
3.50 Masukan unit kerja terkait penggunaan naskah dinas ... 49
3.51 Kick Off Meeting Pengembangan Peta Kebencanaan Indonesia Berbasis Perubahan Iklim di Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat ... 49
3.52 Rapat Pembahasan Raperda RTRW Provinsi Kalimantan Utara ... 50
3.53 Konsultasi DPRD Provinsi Kalimantan Selatan ... 50
3.54 Rapat Pembahasan Raperda RTRW Kabupaten Morowali Utara, Mamuju Tengah, dan Banggai Laut ... 51
3.55 Evaluasi Penyeleggaraan Penataan Ruang Daerah ... 52
3.56 Pembahasan Implementasi Perda RTR Berbasis Mitigasi Bencana ... 52
3.57 FGD Penyusunan RPJMN 2015-2019 Bidang Kehutanan ... 53
3.58 Rapat Koordinasi Awal Penyusunan Kerangka Regulasi Rpjmn 2015-2019 Bidang Pertanahan ... 54
BAB IV RENCANA KEGIATAN ... 56
Tabel 5 Rencana Kegiatan Sekretariat RAN ... 59
BAB V PENUTUP ... 61
5 DAFTAR TABEL
Tabel 1 Rencana Kegiatan Subdit Tata Ruang... 62
Tabel 2 Rencana Kegiatan Subdit Pertanahan ... 63
Tabel 3 Rencana Kegiatan Subdit Informasi dan Sosialisasi ... 64
Tabel 4 Rencana Kegiatan Sekretariat BKPRN ... 65
6 DAFTAR SINGKATAN
BAPPENAS : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BIG : Badan Informasi Geospasial
BKPRD : Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah BKPRN : Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana
BP : Badan Pengembangan
BPN : BadanPertanahanNasional DIRJEN : Direktorat Jenderal
FGD : Focus Group Discussion INPRES : Instruksi Presiden INFOSOS : InformasidanSosialisasi K/L : Kementerian/Lembaga
KAPET : Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu KEMHUT : Kementerian Kehutanan
KKDT : Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal KKP : Kementerian Kelautan dan Perikanan KLH : Kementerian Lingkungan Hidup KLHS : Kajian Lingkungan Hidup Strategis KSN : Kawasan Strategis Nasional
LP2B : Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan LH : Lingkungan Hidup
LS : Lungsum Salary
MIT : Middle Income Trap
NSPK : Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria NSP : Norma, Standar, Prosedur
PERMEN : Peraturan Menteri PERPRES : PeraturanPresiden PK : Peninjauan Kembali
PMK : Peraturan Menteri Keuangan POKJA : Kelompok Kerja
PP : Peraturan Pemerintah PPK : Pejabat Pembuat Komitmen PRB : Pengurangan Resiko Bencana PU : Pekerjaan Umum
PUSDATIN : Pusat Data dan Informasi RAINPRES : Rancangan Instruksi Presiden RAKORNAS : Rapat Koordinasi Nasional RAKORTEK : Rapat Koordinasi Teknis RAN : Reforma Agraria Nasional RDTR : Rencana Detail Tata Ruang RENAKSI : Rencana Aksi
7 RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
RTR : Rencana Tata Ruang
RTRW : Rencana Tata Ruang Wilayah
RTRWK : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten RTRWN : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWP : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi RUU : Rancangan Undang-Undang
RZWP3K : Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil SARBAGITA : Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan
SATKER : Satuan Kerja
SCDRR : Safer Community through Disaster Risk Reduction SDA : Sumber Daya Alam
SDM : Sumber Daya Manusia SK : Surat Keputusan
SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah SOP : Standard, Operating and Procedure TA : Tahun Anggaran
TOL : Tanah Objek Landreform TRP : Tata Ruang dan Pertanahan TUP : Tambahan Uang Persediaan UKM : Usaha Kecil Menengah
UKP4 : Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan UP : Uang Persediaan
UU : Undang-Undang
8
BAB I
PENDAHULUAN
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan memiliki dua jenis kegiatan, yang dibagi menjadi: 1) kegiatan internal; dan 2) kegiatan eksternal. Kegiatan internal adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan sesuai dengan rencana kegiatan direktorat yang telah disusun pada awal tahun 2014. Khusus untuk kegiatan internal, kegiatan ini dijelaskan ke dalam bentuk kegiatan utama dan sub-kegiatan. Sedangkan kegiatan eksternal adalah kegiatan yang mengundang Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak luar. Umumnya, kegiatan ini bersifat koordinasi lintas sektor. Di Bulan Oktober 2014, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan telah menyelenggarakan kegiatan, yaitu: (i) Konsinyasi Penyusunan Kebijakan Penyediaan Tanah; (ii) Konsinyasi Pendalaman Urgensi Penyusunan Regulasi PRUN; (iii) Diskusi Knowledge Management; (v) Program Agraria Daerah Kalimantan Timur; (vi) Penyusunan SEB dan Protokol Integrasi RTRW- RZWP-3-K; (vii) Konsolidasi Teknis Inisiasi Penyusunan Regulasi PRUN; dan (viii) Rapat Koordinasi Awal Kerangka Regulasi RPJMN 2015-2019 Bidang Pertanahan.
Kegiatan yang masih berlanjut pelaksanaan kegiatannya, antara lain: (i) penyusunan RPJMN 2015-2019; (ii) penyusunan profil tata ruang dan pertanahan; (iii) koordinasi perencanaan; (iv) pembahasan perubahan IKK BPN; (v) pembahasan RUU pengelolaan ruang udara; (vi) pending issues RZWP3K; (vii) penerapan KM; dan (viii) pilot project Reforma Agraria Nasional. Secara umum, kegiatan yang selesai pelaksanannya menghasilkan capaian yang memuaskan.
Pada laporan ini dijelaskan secara rinci pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan selama Bulan Oktober 2014 oleh Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan. Laporan ini merupakan tanggung jawab pelaksanaan tugas dan fungsi yang dipercayakan kepada Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam mengelola perencanaan pembangunan bidang Tata Ruang dan Pertanahan, yang dijabarkan ke dalam kegiatan Sub Direktorat Tata Ruang, Sub Direktorat Pertanahan, Sub Direktorat Informasi dan Sosialisasi, Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), dan sekretariat Reforma Agraria Nasional (RAN).
9
BAB II
KEGIATAN INTERNAL
Untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat pencapaian kinerja atas kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan secara rutin melaksanakan evaluasi kinerja seluruh bagian melalui mekanisme rapat rutin internal yang diselenggarakan setiap minggu dan setiap bulan.
Evaluasi kinerja dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana kerja dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan dimasa mendatang. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output) dari pelaksanaan rencana kerja. Berikut rangkuman laporan pelaksanaan kegiatan internal baik kegiatan utama maupun kegiatan pendukung.
2.1. Kegiatan Utama Subdit Tata Ruang
2.4.1. RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang
Dalam proses penyusunan RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang, selama Bulan Oktober telah dilakukan penyusunan terhadap RT RPJMN 2015-2019 untuk Buku I dan Buku II, dan dilakukan Koordinasi Substansi untuk Buku III. Subdit Tata Ruang telah mengakomodir dan memetakan Nawacita dan Quick Wins Jokowi-JK kedalam substansi Buku II. Selanjutnya bahan kajian tersebut akan dipresentasikan didepan Menteri. Untuk Buku III telah dilakukan rapat awal antara Dit.Tarunas PU, Dit. TRP Bappenas, dan Dit. PW Bappenas untuk menyepakati substansi yang akan tertuang dalam Buku III. Adapun kendala dari kegiatan ini adalah sulitnya mengatur jadwal rapat karena kesibukan dari masing-masing Direktorat.
2.4.2. Perencanaan 2015
Untuk menyusun perencanaan 2015, telah dilakukan penelaahan RKA KL DJPR Kemen PU TA 2015 dan FPRLH Ditjen Bina Bangda Kemendagri TA 2015. Selama bulan Oktober dari RKA KL DJPR Kemen PU TA 2015 telah tersusun catatan terkait penambahan pagu 300 M.
2.4.3. Profil Perencanaan Tata Ruang Daerah
Untuk profil penyusunan tata ruang daerah, hingga Bulan Oktober telah dilakukan pengiriman surat permohonan pengisian kuesioner ke daerah. Kendala dalam pelaksanaan pengiriman surat permohonan ini adalah belum adanya tenaga teknis tambahan sehingga perlu dikonfirmasi dan dipastikan agar daerah segera mengisi dan mengirimkan kuesioner. Selanjutnya akan dilakukan rekap kuesioner dari daerah selama bulan November.
2.4.4. Koordinasi Bidang Tata Ruang
Selama bulan Oktober telah tersusun masukan tentang: (i) penyelesaian RPerpres Revisi Keppres No. 150/2000 Tentang KAPET; (ii) kegiatan GEF RIMBA; (iii) hibah JICA ke DJPR; (iv) Persub RTRW Kaltara, Morowali Utara, Bangai laut, Mamuju Tengah; (v) KSPPN.
Kendala dari kegiatan koordinasi tersebut adalah terlambatnya pengiriman bahan dari pengundang rapat sebagai bahan penyusunan masukan. Diharapkan K/L Mitra untuk
10 mengirimkan bahan penyusunan masukan paling lambat H-3 sebelum rapat diselenggarakan. Rapat dijadwalkan pada minggu ke II-IV November 2014.
2.4.5. Sinkronisasi RTR dan RP
Pada bulan Oktober, telah dilakukan perumusan konsep sinkronisasi. Selanjutnya akan dilaksanakan diskusi lanjutan yang diagendakan pada minggu ke-I atau minggu ke-II bulan November untuk menyamakan persepsi, terutama terkait Kajian TRP 2015.
2.2. Kegiatan Utama Subdit Pertanahan
2.2.1. Profil Kegiatan Pertanahan
Tujuan penyusunan profil pertanahan adalah terkumpulnya data dan informasi dari 33 provinsi. Kendala dari kegiatan penyusunan ini adalah belum semua Kantor Wilayah BPN menyampaikan data dan informasi. Kedepannya, profil pertanahan ini dapat menjadi basis data dan informasi yang mudah diakses, mampu mendokumentasikan isu pertanahan yang terstruktur, dan menjadi dokumen yang terpercaya untuk digunakan oleh stakeholders terkait bidang pertanahan.
2.2.2. Koordinasi Perencanaan Pembangunan Bidang Pertanahan
Pada bulan Oktober, belum dilakukan pembahasan lebih lanjut terkait perubahan IKK. Kendala dari pelaksanaan pembahasan perubahan IKK adalah: (i) BPN belum melakukan perubahan IKK sesuai dengan hasil rapat sebelumnya; (ii) adanya Perubahan nomenklatur Kementerian. Akan diagendakan rapat perubahan penyusunan IKK TA. 2015 dengan menyesuaikan struktur dan tupoksi baru Kementerian Agraria dan Tata Ruang pada bulan Desember 2014.
2.2.3. Kajian Bank Tanah
Telah diselenggarakan Stakeholders Meeting “Urban Land and Policy” dalam rangka penyusunan roadmap kebijakan sektor perumahan pada tanggal 16 Oktober 2014 di Hotel JS Luwansa. Rapat ini diselanggarakan dalam rangka Misi Bank Dunia terkait dengan Penyusunan Roadmap Reformasi Kebijakan Perumahan dan Permukiman khususnya untuk pilar Urban Land Policy. Diharapkan kehadirin misi bank dunia dapat dimanfaatkan secara betul dan baik sehingga bisa melahirkan rekomendasi atas kebijakan yang dapat diimplementasikan serta dapat melahirkan usulan konkrit yang diperlukan dan dapat diketahui quickwinsnya. Tidak teridentifikasinya masukan dalam pembentukan bank tanah karena tim tenaga ahli world bank tidak fokus terhadap bank tanah menjadi kendala penyusunan. Untuk menindaklanjuti, akan dilaksanakan wrap up meeting untuk mendengar masukan dan saran dari World Bank terkait pembentukan bank tanah, dan sosialisasi internal BPN terkait hasil study pada minggu ke III bulan November.
2.2.4. Penyusunan RPJMN 2015-2019
Untuk mencapai kesepakatan awal Penyusunan Kerangka Regulasi RPJMN 2015-2019 Bidang Pertanahan, telah diselenggarakan Rapat Koordinasi Awal Penyusunan Kerangka Regulasi RPJMN 2015-2019 Bidang Pertanahan pada 31 Oktober 2014 di Ruang Rapat 203, Bappenas. Pada rapat ini peserta menyepakati usulan kerangka regulasi yang ditawarkan. Kesimpulan dari rapat penyusunan kerangka regulasi RPJMN 2015-2019 Bidang Pertanahan, adalah:
11 1. Beberapa peraturan perundang-undangan yang diusulkan untuk direvisi dan disusun yaitu: UU 28/2009 berkenaan dengan BPHTB, UU 56/1960 dan PP 224/1961 berkenaan dengan pelaksanaan reforma agraria, PP 11/2010 berkenaan dengan sumber tanah obyek reforma agraria, UU 2/2012 berkenaan dengan rencana pembentukan bank tanah.
2. BPN perlu mengkaji mengenai pasal-pasal yang perlu direvisi dari masing-masing peraturan perundang-undangan tersebut.
3. Pusat Litbang BPN dalam melakukan penelitian perlu disesuaikan dengan arah kebijakan bidang pertanahan;
4. Leading sector UU 28/2009 adalah Kemendagri dan Kemenkeu sehingga pada rapat berikutnya perlu diundang termasuk direktorat terkait di Bappenas.
2.3. Kegiatan Utama Subdit Informasi dan Sosialisasi
2.3.1. Diskusi Knowlegde Management System
Pada tanggal 10 Oktober 2014, Subdit Infosos menyelenggarakan diskusi Knowledge Management di Ruang Rapat Direktur Tata Ruang daan Pertanahan. Pelatihan ini dipimpin oleh TA KM TRP–Haitan Rahman. Pelatihan ini dihadiri Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, Subdit Infosos TRP, TA KM, Haitan, dan perwakilan dari Dit. Pengembangan Wilayah, Dilla.
1. Diskusi ini bertujuan untuk: 1) penyusunan konsep awal sistem KM di Kedeputian; 2) mendapat masukan mengenai sistem KM dari tenaga ahli dan Direktorat Pengembangan Wilayah; serta 3) persiapan untuk rencana sosialisasi KM di Kedeputian.
2. Beberapa hal penting yang disampaikan pada acara tersebut: a) Rencana Pengembangan Sistem KM di Kedeputian:
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan, yakni: 1) pada sistem KM yang nantinya disusun, seluruh Kedeputian termasuk kelima Direktorat di dalamnya dapat ditampilkan (interface); 2) pada sistem KM untuk mengakses data dan pengetahuan di dalamnya, masing-masing direktorat harus log-In dengan username masing-masing.
Untuk sistem KM, ke depan akan ada pengetahuan yang kegiatannya lintas direktorat seperti penyusunan Buku I, Buku II, Buku III, RPJMN 2015 – 2019, dkk. Sistem KM ini akan ditempatkan di bagian khusus/atas di sistem KM Kedeputian.
b) Rencana Sosialisasi KM di Kedeputian:
Rencana sosialisasi KM jika memungkinkan dijadwalkan pada akhir Oktober atau awal November, menunggu hasil dari rapat direktur terlebih dahulu untuk menginformasikan kegiatan tersebut.
Beberapa hal yang harus disampaikan pada acara sosialisasi tersebut meliputi: 1) pengantar mengenai KM; 2) penyusunan K-Map; 3) penyusunan bersama K-Map Kedeputian; 4) penyusunan Roadmap Kedeputian; 5) penyusunan SOP Kedeputian; dan 6) penyusunan Program Kerja serta tahapan-tahapan pelaksanannya (8 tahap).
Dalam waktu 1 – 2 tahun ke depan, perlu dipikirkan Tim Knowledge Assesor untuk menilai pengetahuan yang telah disimpan serta menentukan rating sebagai dampak dari pekerjaan yang dilakukan. Akan tetapi untuk permulaan, fokus terlebih dahulu pada penyusunan K-Map, pengumpulan data, dan penyusunan sistem KM Kedeputian, karena jika langsung diterapkan, kemungkinan sistem tidak akan bisa selesai.
Rencana aktivitas yang akan dilakukan pada pengembangannya tidak jauh berbeda dengan proses yang telah dilalui oleh Dit. TRP, yakni: a) penyusunan K-Map Deputi dan masing-masing Direktorat; b) penyusunan roadmap Deputi; c) penyusunan SOP Deputi; d) penyusunan KM Program; dan e) penyusunan sistem KM Kedeputian.
12
2.3.1. Media Sosialisasi dan Informasi TRP
Kegiatan rutin Subdit Infosos adalah memperbaharui berita pada situs TRP setiap harinya dan menginformasikan berita, kegiatan TRP, dan informasi lainnya di dalam milis dan FB. Sampai bulan Oktober, pengunjung situs telah meningkat menjadi 200 dan pengunjung portal meningkat menjadi 6000. Kendala dari kegiatan ini adalah adanya BTOR yang tidak disertai foto sehingga menghambat proses penginformasian di dalam situs. Dit TRP memiliki empat media informasi dan sosialisasi elektronik, yaitu : 1) Portal TRP (tataruangpertanahan.com); 2) Situs internet TRP (trp.or.id); 3) Milis TRP, dan 4) FB TRP. Kegiatan rutin dalam pengelolaan media ini adalah penambahan konten, perbaikan sistem, penambahan menu, dan evaluasi. Berikut data statistik perkembangan jumlah kunjungan Situs TRP.
Gambar 1 Data Statistik Pengunjung Situs TRP
2.3.2. E-performance (Kinerja) Direktorat dan Kedeputian
Pada bulan Oktober, telah dilaksanakan rapat koordinasi bersama direktorat di lingkup regional. Namun realisasi e-Performance kedeputian dan direktorat TRP untuk Triwulan III belum seluruhnya terisi karena pelaporan dari masing-masing direktorat belum lengkap sehingga tidak bisa dikerjakan untuk pengisian data kinerja kedeputian. Tindaklanjut kegiatan ini adalah akan difollow-up kepada seluruh direktorat di lingkup regional untuk melengkapi Performance. Target dan realisasi kinerja dan kegiatan Triwulan III selesai dilaporkan melalui e-Performance pada minggu ke II November 2014.
2.4. Kegiatan Utama Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
2.4.1 Konsolidasi Teknis Inisiasi Penyusunan Regulasi PRUN
Pada tanggal 27 Oktober 2014 telah diselenggarakan Konsolidasi Teknis Inisiasi Penyusunan Regulasi PRUN di Ruang Sekretariat BKPRN. Tujuan dari pertemuan ini adalah: (1) melakukan review perkembangan inisiasi penyusunan regulasi PRUN; dan (2) pembahasan mengenai tindak lanjut inisiasi penyusunan regulasi PRUN.
13 Pokok-pokok pembahasan dalam konsolidasi teknis:
Kemhan mendukung inisiasi penyusunan regulasi PRUN, siap untuk menjadi pemrakarsa serta sepakat dengan proses penyusunan regulasi PRUN sesuai dengan roadmap penyusunan regulasi PRUN yang diusulkan dalam pertemuan.
Kemhan secara simultan melakukan kajian pada sektor pertahanan keamanan terkait dengan inisiasi penyusunan regulasi PRUN. Setelah FGD pada tanggal 7 Agustus 2014, telah dilakukan pembahasan antara Dit.Wilhan Kemhan dengan TNI AU Dinas Operasi, Dinas Hukum TNI AU, dan Kohanudnas TNI AU mengenai aspek pertahanan keamanan di ruang udara nasional Indonesia, khususnya terkait dengan pelanggaran batas kedaulatan.
Terkait kegiatan penyusunan regulasi PRUN pada tahun 2015 tidak dianggarkan secara khusus oleh Kemhan. Namun apabila dipandang akan menjadi kegiatan prioritas, dapat diakomodasi dalam anggaran tahun 2016.
Kajian Penyusunan Regulasi PRUN yang dilakukan Dit. Tata Ruang dan Pertanahan, Dit. Analisa Peraturan Perundang-undangan, dan Dit. Pertahanan Keamanan Bappenas tetap diperlukan. Secara paralel, Kemhan dapat melakukan langkah-langkah yang diperlukan guna mengumpulkan data terkait aspek pertahanan keamanan yang akan dijadikan substansi Regulasi PRUN.
Untuk FGD Pemetaan Isu dan Masalah Sektoral terkait PRUN yang direncanakan selanjutnya: (1) perlu keterlibatan Kemhan dalam setiap aspek pembahasan; serta (2) dukungan untuk memberi rekomendasi narasumber dan kisi-kisi pembahasan khusus yang terkait dengan aspek pertahanan keamanan.
2.4.2. Penyusunan SEB dan Protokol Integrasi RTRW-RZWP-3-K
Rapat ini diselenggarakan pada 24 Oktober 2014 di ruang Rapat Sekretariat BKPRN. Rapat dipimpin oleh perwakilan Sekretariat BKPRN. Beberapa hal yang disampaikan oleh Sekretariat BKPRN:
1. Walaupun berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan telah memposisikan RZWP-3-K merupakan bagian dari RTRW sehingga sepanjang dimungkinkan secara teknis RTRW terintegrasi dengan RZWP-3-K dan ditetapkan dalam 1 Perda (Skenario 1). Namun opsi untuk menetapkan RZWP-3-K dalam Perda yang terpisah dengan penetapan RTRW tetap diberikan. Opsi Perda Terpisah ini tetap diakomodir dalam Protokol Integrasi sebagai Skenario 2.
2. Usulan outline Protokol Integrasi (dan garis besar muatan terlampir) adalah sbb: I. Pendahuluan
a. Skenario; dan
b. Nomenklatur (misalnya mengenai penjelasan kesetaraan nomenklatur kawasan budidaya pada RTRW dengan kawasan pemanfaatan umum pada RZWP-3-K).
II. Skenario 1: PERDA TERINTEGRASI a. Pengaturan wilayah kecamatan pesisir;
b. Pengaturan pulau-pulau kecil (mengacu pada peraturan menteri yang membidangi kelautan dan perikanan);
c. Pengaturan reklamasi; dan
d. Proses penyelesaian Perda RTRW dan Perda RZWP-3-K (matriks/flowchart penyusunan materi teknis RTRW dan RZWP-3-K hingga penetapan Perda berdasarkan Permendagri). III. Skenario 2: PERDA TERPISAH
a. Pengaturan wilayah kecamatan pesisir;
b. Pengaturan pulau-pulau kecil (mengacu pada peraturan menteri yang membidangi kelautan dan perikanan);
14 d. Proses penyelesaian Perda RTRW dan Perda RZWP-3-K (matriks/flowchart penyusunan materi teknis RTRW dan RZWP-3-K hingga penetapan Perda berdasarkan Permendagri). 3. Jika tidak dilakukan penyesuaian terhadap Permendagri, terutama Permendagri No. 47 Tahun
2012 tentang Pedoman Penyusunan Perda RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota, maka perlu dipastikan apakah outline Perda berdasarkan Permendagri tersebut dapat dijadikan acuan dalam penyusunan Perda RZWP-3-K.
4. Dalam Protokol Integrasi perlu juga memuat penjabaran bagaimana menuangkankan substansi RZWP-3-K ke dalam outline Perda berdasarkan Pemendagri No. 47 Tahun 2012.
Dalam rangka integrasi RTRW dengan RZWP-3-K akan diterbitkan Surat Edaran Mendagri yang dilampiri dengan Protokol Integrasi (draft terlampir). perbaikan draft SE Mendagri dan Protokol sebagai berikut:
Draft SE Mendagri:
a. Pencantuman prinsip-prinsip integrasi, yaitu:
– Wilayah daratan kecamatan pesisir mengikuti ketentuan RTRW
– Wilayah perairan wilayah kecamatan pesisir mengikuti ketentuan RZWP-3-K
– Wilayah pulau-pulau kecil sebagai satu kesatuan ekosistem dengan matra laut mengikuti ketentuan penyusunan RZWP-3-K; dan
– Pengesahan Perda RTRW termasuk Perda RZWP-3-K mengikuti ketentuan Permendagri b. Pernyataan bahwa RZWP-3-K adalah bagian dari RTRW.
c. Dalam proses penyusunan dan penetapan dokumen RZWP-3-K, BKPRD melibatkan SKPD bidang keluatan dan perikanan.
Draft Protokol Integrasi:
a. Pencantuman aspek nomenklatur dan aspek pengaturan reklamasi;
b. Penjabaran muatan RZWP-3-K ke dalam outline Perda (termasuk lampiran perda seperti rincian album peta);
Draft protokol yang telah diinisiasi oleh sekretariat BKPRN disampaikan kepada KKP pada 31 Oktober 2014 untuk difinalisasi beserta draft Surat Edaran sebelum disampaikan hasilnya dalam pertemuan Eselon II Bappenas-KKP-Kemendagri.
2.4.3. Talkshow Hari Tata Ruang Nasional 2014 dengan tema “Penataan Ruang
yang Partisipatif dan Berkeadilan”
Talkshow ini diselenggarakan pada tanggal 6 Oktober 2014 di Ruang Siaran RRI Pro 3 FM, Gedung RRI Jakarta, Lt. 7. Talkshow ini diadakan oleh Dirjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum bekerjasama dengan RRI Jakarta Pro 3 sebagai rangkaian dari kegiatan peringatan Hari Tata Ruang Nasional 2014, sekaligus merupakan bentuk dari sosialisasi kebijakan-kebijakan terkait penataan ruang.
Beberapa hal penting yang disampaikan pada acara tersebut:
Hari Tata Ruang Nasional mulai diperingati sejak tahun 2008 dan telah ditetapkan dalam Keppres No. 28 Tahun 2013 tentang Hari Tata Ruang Nasional bahwa tanggal 8 November ditetapkan sebagai Hari Tata Ruang Nasional.
Peringatan Hari Tata Ruang Nasional ini sejak tahun 2008 memiliki tema yang berbeda-beda. Pada Tahun 2014, tema yang diambil adalah “Penataan Ruang yang Partisipatif dan Berkeadilan.” Pengusungan tema Hari Tata Ruang ini didasarkan pada harapan bahwa penataan ruang mampu menjamin keterlibatan serta secara aktif dari seluruh komponen penataan ruang, baik pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat sesuai dengan peran dan tugas masing-masing dalam penataan ruang untuk mewujudkan pembangunan yang lebih merata antar daerah dan antar golongan masyarakat.
15
Penataan ruang meliputi darat, laut, udara serta ruang dalam bumi. Secara regulasi, penataan ruang di Indonesia telah memiliki dasar hukum yaitu UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Selain itu juga telah disusun UU No.32 Tahun 2014 tentang Kelautan, dan saat ini tengah disusun UU lain terkait dengan ruang, yakni RUU Pengelolaan Ruang Udara Nasional.
Tata Ruang meliputi proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, pengendalian pemanfaatan ruang. Sampai saat ini belum seluruh proses penataan ruang ini berjalan dengan maksimal sehingga tujuan penataan ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan belum sepenuhnya tercipta.
Dari segi perencanaan tata ruang, belum seluruh daerah memiliki RTRW-nya sendiri. Saat ini yang telah disusun 25 RTRW Provinsi dari 33 provinsi, 316 RTRW Kabupaten dari 398 kabupaten, serta 80 RTRW Kota dari 93 kota.
Sementara dari segi pemanfaatan ruang, belum terciptanya tertib tata ruang di Indonesia, Masih banyak terjadi pelanggaran penataan ruang yang dilakukan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah sendiri, dikarenakan RTRW belum sepenuhnya dijadikan sebagai acuan dalam pemanfaatan ruang.
Untuk pengendaliaan pemanfaatan ruang sudah ada PPNS yang memiliki tugas untuk menyidik pelanggaran terhadap pemanfaatan ruang. Namun, ketersediaan PPNS saat ini baru sejumlah 500 orang di seluruh Indonesia, cukup jauh dari kebutuhan akan PPNS yang berkisar 2000 orang. Minimnya ketersediaan PPNS di Indonesia ini terkendala salah satunya dari kesiapan Pemerintah Pusat untuk menghasilkan PPNS baru yang terbatas setiap
Kesimpulan dari talkshow tersebut adalah, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota memiliki kewajiban untuk melakukan sosialisasi RTRW kepada masyarakat didaerahnya masing-masing dan bagi masyarakat yang akan membeli tanah, disarankan untuk mengecek RTRW di daerah masing-masing, sehingga tanah yang nanti dikelola, peruntukkannya disesuaikan dengan RTRW yang telah ada. Dengan demikian maka tata ruang dapat mewujudkan ruang nusantara yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
2.5. Kegiatan Utama Sekretariat RAN
2.5.1. Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional
Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 2 Oktober 2014 di Ruang Meeting Hotel Oria. Tema pada rapat tersebut adalah Persiapan Pelaksanaan Lokakarya Kajian dan Strategi Penyediaan Tanah Perkotaan untuk Pemenuhan Infrastruktur di Indonesia. Konsinyasi ini diselenggarakan dalam rangka persiapan pelaksanaan Lokakarya Kajian dan Strategi Penyediaan Tanah Perkotaan untuk Pemenuhan Infrastruktur di Indonesia.
Beberapa hal terkait pelaksanaan kegiatan ini, yaitu:
Pada Pelaksanaan Lokakarya, akan disusun dalam tiga sesi, yaitu (i) sesi untuk Deputi Sarana dana Prasarana Bappenas, yang akan menyampaikan permasalahan pengadaan tanah dan informasi mengenai kajian kebijakan dan strategi pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum; (ii) sesi untuk Deputi Bidang Pengadaan Tanah BPN RI, yang akan menyampaikan kondisi umum dalam pelaksanaan pengadaan tanah serta arahan kebijakan; (iii) sesi untuk Staf Ahli Kemenko Perekonomian, yang akan menyampaikan studi kasus pengadaan tanah untuk PLTU Batang.
Pada sesi Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas, berikut usulan susunan yang menjadi topik bahasan untuk disampaikan:
16 i. Permasalahan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum, poin
bahasan yang akan diangkat yaitu
– semakin langka tanah di tengah kota dengan harga terjangkau bagi pembangunan untuk kepentingan umum.
– penjelasan dasar hukum dari UU No.2/2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
– beberapa proyek dalam pembangunan untuk kepentingan umum tertahan karena permasalahan pengadaan tanah.
ii. Penginformasian mengenai adanya Kajian Kebijakan dan Strategi Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, poin bahasan yang akan diangkat yaitu: – lembaga penyediaan tanah penting untuk dibentuk, sehingga perlu langkah
persiapan implementasi dari sisi regulasi, kelembagaan, maupun pendanaan.
– lembaga penyediaan tanah dapat digunakan bagi pembangunan semua sektor sepanjang untuk kepentingan umum.
Pada sesi Deputi Bidang Pengadaan Tanah BPN RI, berikut usulan susunan yang menjadi topik bahasan untuk disampaikan sebagai berikut:
i. Pelaksanaan pengadaan tanah, poin bahasan yang akan disampaikan yaitu: – aspek legal (regulasi) pengadaantanah yang telah ada.
– tantangan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.
– terobosan dalam penyediaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. ii. Poin bahasan yang akan disampaikan dalam arahan kebijakan, yaitu:
– amanat UUD 1945 pasal 33 dan Sila ke-5 Pancasila, dan UUPA.
– lembaga penyediaan tanah ditempatkan sebagai instrumen pelaksana dari UU No.2/ 2012.
– prinsip-prinsip lembaga penyediaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.
– Integrasi lembaga penyediaan tanah dengan instrumen pelaksanaan pengadaan tanah yang sudah ada.
Pada sesi Staf Ahli Kemenko Perekonomian, berikut usulan susunan materi untuk disampaikan, dengan poin bahasan yang akan disampaikan pada studi kasus pengadaan tanah PLTU Batang, yaitu:
– tahapan dalam pengadaan tanah yang dilakukan, terdiri dari skema Kerjasama Pemerintah Swasta yang diterapkan serta mekanisme dan prosedur implementasinya.
– permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pengadaan tanah untuk PLTU Batang
– pembelajaran yang diambil dari pembangunan PLTU Batang, khususnya dalam pengadaan tanah
– Konsinyasi yang dilaksanakan ini, menghasilkan bahan outline materi untuk kegiatan Diseminasi Kajian Kebijakan dan Strategi Pengadaan Tanah Perkotaan bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum di Indonesia, yang akan diselenggarakan tanggal 15 Oktober 2014.
Hasil usulan outline materi yang telah disusun ini, selanjutnya akan disampaikan kepada narasumber untuk digunakan sebagai kisi-kisi bahan paparan yang disampaikan pada Diseminasi Kajian Kebijakan dan Strategi Pengadaan Tanah Perkotaan bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum di Indonesia.
17
2.5.2. Program Daerah Agraria (PRODA) Provinsi Kalimantan Timur
Pada tanggal 23 Oktober 2014, Subdit Pertanahan menyelenggarakan PRODA Provinsi Kalimantan Timur di Ruang Meeting Hotel Gran Sanyur, Balikpapan. PRODA ini dipimpin oleh Asisten I Bid. Pemerintahan Setda Provinsi Kalimantan Timur. PRODA merupakan program bantuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk masyarakat diwilayahnya yang memiliki lahan pertanian tetapi belum memiliki sertifikat tanah. Koordinasi pemantauan PRODA di Provinsi Kalimantan Timur bertujuan untuk menetapkan besaran target kegiatan sertipikasi tanah melalui mekanisme PRODA di Provinsi Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2015.
Berikut beberapa hal yang dibahas dalam diskusi pada rapat pembahasan target sertipikasi tanah:
1. Kabupaten Penajam Paser Utara
Pada awal usulan bidang tanah yang disepakati sejumlah 200 bidang, kemudian mengalami penambahan menjadi 227 bidang, dan pada kesiapan dokumen persyaratan yang memenuhi hanya 211 bidang, sehingga bidang yang disepakati 211 bidang.
Semua bidang tanah yang diajukan berada di bawah nilai NJOP senilai 60 juta rupiah.
Kondisi lahan sejumlah 211 bidang ini, tidak ada area terbangun, kondisinya didominasi ladang dan pertanian.Diharapkan fokus utama kegiatan PRODA ini adalah sertifikasi bidang tanah pertanian.
Disepakati bahwa lahan target PRODA adalah bidang berbentuk hamparan, lahan eksisting berupa pertanian, dan semua ketentuan dibuat dalam juknis yang disepakati bersama.
2. Kabupaten Paser
Data bidang-bidang tanah yang akan dimasukkan dalam PRODA belum disampaikan ke Kantor Pertanahan Kabupaten Paser.
Besar BPHTB yang ditaksir dari bidang yang didaftarkan sangat kecil.
Kantor Pertanahan di Kabupaten Paser terkendala kurangnya jumlah juru ukur. Lahan pertanian yang didaftarkan dalam PRODA sebanyak 100 bidang.
3. Kabupaten Kutai Timur
Target bidang sertifikasi sejumlah 48 bidang di wilayah Benalun. Angka tersebut masih bisa berubah, karena program selanjutnya dari sertifikasi ini statusnya belum ada yang menangani, karena sedang ada perubahan struktur pemerintahan kabupaten.
Pada tahun 2015, pemerintah kabupaten menyampaikan program sertifikasi PRODA ini akan diambil alih oleh bagian tata pemerintahan kabupaten.
4. Kabupaten Kutai Kartanegara
Terdapat 225 bidang yang akan dimasukkan dalam program PRODA tahun depan, untuk kelengkapan persyaratan, semua masih dalam proses.
Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Kartanegara menghimbau untuk memperhatikan kawasan yang akan disertifikasi dan fokus pada lahan pertanian, dan dipastikan pula objek atau bidang tanah yang akan disertifikasi memiliki tata batas yang jelas, tidak masuk pada kawasan hutan, dan sesuai ketentuan tata ruang. 5. Kabupaten Berau
Bappeda Kabupaten Berau mengusulkan 200 bidang tanah masuk dalam program PRODA tahun depan.
18 Kondisi data-data untuk persyaratan pengajuan sertifikat sudah lengkap, lokasi yang
diusulkan berbentuk 3 hamparan dan berada di 3 kampung.
Kantor Pertanahan Kabupaten Berau mengingatkan terkait masalah persyaratan pengajuan sertifikat serta penyusunan juknis untuk PRODA bisa diperjelas informasinya, karena dengan kejelasan juknis program PRODA ini bisa berjalan baik. 6. Kabupaten Kutai Barat
Kantor Pertanahan Kabupaten Kutai Barat menyampaikan usulan bidang tanah sertipikasi di PRODA sejumlah kurang lebih 150 bidang.
Terdapat kendala di lapangan seperti patok batas fisik kurang jelas, rincian batas bidang, dan masalah keuangan yang pernah terjadi pada Tahun 2012 sebanyak 112 bidang dan Tahun 2013 sebanyak 140 bidang.
Kendala masalah komunikasi antara Kepala Dinas dengan Kantor Pertanahan, sehingga terhambat dalam pemberian data daftar bidang tanah yang akan dimasukkan pada program PRODA.
Tindak lanjut dari rapat tersebut, yaitu Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/Bappenas akan menyampaikan data hasil kesepakatan target sertipikasi tanah tersebut kepada BPN Pusat untuk ditindaklanjuti
2.6. Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
Berdasarkan kinerja penyerapan sebagai realisasi anggaran dari PPK Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah pada pertengahan Oktober 2015 (15 Oktober 2014) hanya sebesar 47% atau sebesar Rp.18.699.531.470,- Sumbangan terbesar berasal dari Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan yaitu penyerapan anggaran Direktorat TRP pada bulan Oktober ini mencapai sebesar 75 persen (%) atau setara dengan sebesar Rp. 3.024.375.285,- Realisasi anggaran di bulan Oktober ini merupakan pencapaian dari beberapa kegiatan antara lain: perjalanan dinas, rapat koordinasi sekretariat BKPRN dan kegiatan Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional. Realisasi angka tersebut dikontribusikan dari pelaksanaan kegiatan yang meliputi: (i) Kajian sebesar 81 persen, (ii) Koordinasi penyusunan rencana sebesar 96 persen, (iii) Koordinasi Reforma Agraria sebesar 62 persen, (iv) Koordinasi Strategi BKPRN sebesar 79 persen, (v) Knowledge Management (KM) sebesar 92 persen dan (vi) Pemantauan dan Evaluasi sebesar 70 persen.
Perkembangan kegiatan bulan Oktober 2014 ini, PPK Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah telah meminta unit kerja mengajukan usulan kegiatan pengadaan jasa konsultasi khususnya melalui pengadaan lelang. Direktorat TRP di tahun 2015, telah mengajukan 1 (satu) orang tenaga konsultan untuk kegiatan Kajian Penyusunan Materi Teknis Pedoman Sinkronisasi Tata Ruang dan Rencana Pembangunan untuk masa kontrak 12 bulan. Untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi akan dilakukan pengajuan anggaran untuk rekruitmen tenaga ahli 1 orang selama 2 bulan dalam rangka membantu penyelesaian laporan hasil pemantauan dan evaluasi bidang tata ruang dan pertanahan.
Berikut merupakan diagram rencana dan realisasi penyerapan anggaran Direktorat TRP sampai dengan bulan Agustus 2014:
19 5 11 19.5 26 30 42.5 46 56 68.579 90 100 1 3 12 15 24 38 4042 59 75 0 20 40 60 80 100 120
Rencana dan penyerapan anggaran
Dit TRP 2014 (Oktober)
% Rencana % Realisasi
20
BAB III
KEGIATAN EKSTERNAL
Pada bab ini dijelaskan ulasan singkat mengenai partisipasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak eksternal direktorat, baik oleh unit kerja/unit organisasi di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas ataupun K/L lain, pada Bulan Oktober 2014. Kegiatan ini dihadiri secara langsung oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan atau didisposisikan ke Kepala Sub Direktorat maupun Staf.
3.1 Rapat Pembahasan NSPK tentang Pedoman Penginterasian RTRW dan
RPJMD
Rapat ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri pada 1 Oktober 2014 di Hotel The Mirah Bogor. Rapat dibuka dan dipimpin oleh Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup, Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri. Rapat ini bertujuan untuk menjaring masukan dari K/L pusat anggota BKPRN dan perwakilan pemerintah daerah.
Beberapa hal yang mengemuka pada diskusi adalah:
Secara umum, permasalahan integrasi di daerah adalah adanya ketidaksesuaian rencana pembangunan infrastruktur antara RPJMD dan RTRW, misalnya rencana pembangunan pelabuhan yang merupakan program unggulan gubernur dan kemudian dituangkan dalam RPJMD namun tidak ada dalam RTRW yang telah disusun sebelumnya, ataupun sebaliknya. Untuk menjawab hal tersebut, dinyatakan bahwa seluruh rencana pembangunan infrastruktur di daerah harus dikonsultasikan dulu ke forum BKPRN atau Kementerian Perhubungan dengan justifikasi yang jelas (misalnya untuk mendukung MP3EI, over capacity dll). Akan dilihat kesesuaiannya dengan sistem nasional, apabila rencana tersebut disetujui baru dapat diakomodir dengan merevisi RTRW.
Terdapat beberapa alternatif terobosan yang bisa dilakukan, antara lain dengan peraturan yang menetapkan bahwa jangka waktu RTRW dan RPJMD harus sama, sehingga hanya akan dilakukan 1 (satu) kali sinkronisasi, misalnya revisi RTRW dimundurkan agar sesuai dengan penetapan RPJMD.
Ketika calon kepala daerah akan maju, harus disampaikan semua hal yang tercantum dalam RTRW sehingga dapat memperoleh pemahaman hal-hal yang dapat dibangun dan tidak dapat dibangun.
Walaupun RPJMD hanya mencantumkan kegiatan-kegiatan yang didanai oleh APBD, namun harus mencerminkan kegiatan-kegiatan yang ada dalam RTRW namun pembiayaan bukan dari APBD.
Untuk menindaklanjuti konsep sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan, perlu diadakan pembahasan lebih lanjut, dimulai dari tim kecil yang terdiri dari Bappenas, Kemdagri dan DJPR PU.
3.2 Pertemuan The Nature Conservancy, Pengenalan Development by Design
(DbD)
Rapat ini diselenggarakan pada tanggal 1 Oktober 2014 di Ruang Rapat Direktur TRP. The Nature Conservancy (TNC) adalah organisasi kemasyarakatan yang fokus pada perlindungan
21 konservasi dan pemanfaatan secara berkelanjutan dengan menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan.
Poin-poin yang dibahas dalam diskusi, antara lain:
1. Development by Design (DbD) diperkenalkan sebagai kerangka berpikir dalam Perencanaan Pembangunan dan Tata Ruang yaitu melalui tahapan:
a. Penentuan prioritas; b. Perhitungan dampak;
c. Strategi mitigasi first avoid, then minimize/restore; and finaly offset. Alternatif pilihan kebijakan perlu diidentifikasi kembali untuk mencari yang terbaik (best offset) dan kemudin dilakukan evaluasi terhadap pilhan kebijakan yang paling potensial yang dapat memberikan net positive output dan outcome yaitu perlindungan terhadap konservasi; dan
d. Mekanisme monitoring dan evaluasi.
2. Keterkaitannya dengan tata ruang, konsep DbD seharusnya dapat menentukan alokasi ruang yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan aspek konservasi.
3. Pendekatan yang digunakan dalam DbD adalah berbasis kewilayahan/ekoregion dan memperhatikan keanekaragaman hayati, jasa lingkungan dan kearifan lokal. Project TNC saat ini dilakukan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
4. Diusulkan agar DbD telah terinternalisasi dalam proses penyusunan RTRW Kabupaten Berau.
5. Fokus kajian TNC tahun 2015 terkait isu perkebunan kelapa sawit.
Dalam menginternalisasi DbD dalam kebijakan penataan ruang nasional diusulkan:
1. Melakukan pembahasan teknis Direktorat TRP dan TNC (output-outcome-mechanism, termasuk pengembangan sistem informasi bidang tata ruang).
2. Sosialisasi dalam forum BKPRN (Eselon III), khususnya pembahasan keterkaitannya dengan KLHS (Kementerian Lingkungan Hidup) dan Penyusunan RTR (Kementerian PU).
3. Lokakarya untuk sosialisasi kepada stakeholder bidang penataan ruang.
4. Peyusunan protokol mengenai internalisasi konsep DbD untuk mendukung penyusunan RTR.
3.3 Konsinyering Rapat Tindak Lanjut Pengembangan KAPET dan Percepatan
Penetapan RPerpres Revisi Keppres No. 150/2000 tentang KAPET
Rapat ini diselenggarakan pada 1-3 Oktober 2014 di Hotel Alila. Rapat dipimpin oleh Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri Inovasi Teknologi dan Kawasan Ekonomi. Tujuan rapat adalah untuk membahas tindak lanjut arahan Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri terkait tentang Percepatan Penetapan RPerpres Revitalisasi Keppres No. 150 Tahun 2000 tentang KAPET. Beberapa pokok perubahan substansi RPerpres selama konsinyering diselenggarakan ialah sebagai berikut:
Mengingat struktur organisasi dan tugas yang diemban oleh kelembagaan KAPET memiliki persamaan dengan struktur organisasi dan tugas BKPRN, maka kelembagaan KAPET bergabung dengan BKPRN.
22
Penggabungan dilakukan dengan cara membentuk Pokja (Kelompok Kerja) baru di dalam struktur tim pelaksana BKPRN yaitu Pokja Pelaksana Penataan Ruang KSN Kapet yang diketuai oleh Deputi Bidang Koordinasi Industri, Inovasi Teknologi, dan Kawasan Ekonomi.
Di tingkat Pusat pengelolaan pengembangan KAPET dilaksanakan melalui koordinasi program kegiatan Kementerian/Lembaga yang diselenggarakan oleh BKPRN.
Di tingkat Daerah pengelolaan pengembangan KAPET dilaksanakan melalui perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan K/L atau sektor yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan KAPET yang diketuai oleh Gubernur. Badan Pengembangan KAPET tidak digabungkan dengan BKPRD mengingat Ketua BKPRD diketuai oleh Sekretaris Daerah.
Pada pelaksanaan tugas harian, POKJA Pelaksana Penataan Ruang KSN KAPET dibantu oleh Sekretariat Teknis Nasional KAPET yang mempunyai tugas untuk menyelenggarakan pelaksanaan teknis pengembangan KAPET Nasional.
Dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan Pelaksanaan Penataan Ruang KSN KAPET perlu penambahan keanggotaan BKPRN yaitu: Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Roadmap Kegiatan Penyelesaian dan Revisi sementara RPerpres Revisi Keppres No. 150/2000 tentang KAPET versi 2 Oktober 2014 juga disusun di dalam konsinyering tersebut.
Dalam konsinyering tersebut juga telah menyusun Roadmap Kegiatan Penyelesaian dan Revisi sementara RPerpres Revisi Keppres No. 150/2000 tentang KAPET versi 2 Oktober 2014. Perubahan substansi RPerpres tersebut, tidak akan merubah Keppres No. 4 Tahun 2009 tentang BKPRN, hanya akan merubah Permenko Perekonomian Per-2/M.Ekon/10/2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional dan Kepmen PU No. 339/KPTS/M/2010 Perubahan No. 275/KPTS/M/2o11 tentang Pembentukan Kelompok Kerja BKPRN.
Selanjutnya BKPRN akan mengadakan Rapat Eselon II BKPRN untuk menginformasikan Penambahan Pokja Pelaksana Penataan Ruang KSN Kapet dalam struktur tim pelaksana BKPRN.
3.4 FGD Kebijakan Penyediaan Tanah Dalam Rangka Menngkatkan
Kesejahteraan Papan
Rapat diselenggarakan oleh Direktur Perumahan dan Permukiman pada 2 Oktober 2014 di Hotel Millenium. Rapat diselenggarakan dalam rangka merumuskan kebijakan penyediaan tanah dalam rangka meningkatkan akses terhadap kebutuhan bidang perumahan dan permukiman. Dalam rapat tersebut dihadirkan dua narasumber yaitu dari Bappenas – Direktur Tata Ruang dan Pertanahan dan dari Perumnas. Kebijakan Penyediaan Tanah dibagi menjadi dua bidang, yaitu bidang regulasi dan bidang tata kelola. Berikut penjelasannya:
1. Dibidang regulasi diperlukan hal-hal sebagai berikut:
Penjaminan dan perlindungan hak atas tanah untuk bermukim harus diatur dalam produk perencanaan tata ruang.
Kewajiban pemerintah untuk mengatur dan merencanakan pencadangan tanah melalui peraturan perundang- undangan. Pengadaan tanah bagi kepentingan umum sesuai UU No 2/2012 harus dilaksanakan dan disusun peraturan pelaksanaan.
Pada roadmap Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum, perlu diatur pembagian peran pemerintah pusat dan daerah.
23
Pemenuhan hak kesejahteraan atas papan merupakan amanah wajib pemerintah daerah dan harus disertai kehadiran negara/pemerintah pusat.
Perlu penguatan peran pemerintah daerah terkait perizinan dan pendanaan/pembiayaan dalam penguatan SDM dan peningkatan sumber daya daerah.
Sangat diperlukan intervensi pemerintah dalam memberikan hak atas tanah yang aman untuk semua warga masyarakat.
Tata kelola pemerintahan/koordinasi antar lembaga dalam penyediaan tanah perlu dioptimalkan.
BLU dan BUMN merupakan beberapa pilihan sebagai Lembaga Penyedia Tanah di pemerintah pusat.
Upaya-upaya optimalisasi lahan terlantar terutama yang ada di perkotaan perlu menjadi prioritas.
Pemanfaatan tanah untuk kepentingan publik harus dilaksanakan dengan memperbesar akses.
Perlu penyederhanaan proses penyediaan tanah untuk kepentingan umum.
Diperlukan strategi land banking melalui sinergi pemerintah/BUMN dan swasta dengan memperluas best practice di daerah menjadi skala nasional.
3.5 Stakeholders Forum Habitat 2014
Pertemuan ini dipimpin oleh Dirjen Cipta Karya, Kementerian PU dan diselenggarakan pada 2 Oktober 2014 di Hotel Borobudur. Tujuan pertemuan stakeholders forum habitat 2014 adalah: (i) meningkatkan kesadaran mengenai kondisi lingkungan di kawasan kumuh; (ii) memberikan contoh melalui kisah nyata terutama bagi pengambil keputusan; dan (iii) membagi pengalaman dan penanganan kumuh di kota dan kawasan perkotaan di negara lain. Diskusi dibagi dalam 2 panel yaitu panel 1 (understanding slums and learning from others) dan panel 2 (challenges and lessons in Indonesia). Bahasan diskusi dalam panel 1 adalah pengalaman beberapa negara dalam mengatasi dan mengelola wilayah kumuh perkotaan, sedangkan untuk panel 2 dilakukan sharing dari para Kepala Daerah (walikota dan bupati) yang dilakukan dalam rangka menuju 100-0-100 (100% akses air minum yang layak, 0% kawasan kumuh dan 100% akses sanitasi sampai tahun 2019).
Rencana rinci menjadi hal yang penting sebagai dasar pengelolaan dan pengembangan wilayah perkotaan. Pengembangan wilayah perkotaan harus memperhatikan status tanah supaya tidak timbul kesan memperbolehkan penyerobotan tanah secara ilegal. Selanjutnya, perlu diadakan percepatan penyusunan rencana detail tata ruang untuk mendukung pengembangan wilayah perkotaan
3.6 Seminar Identifikasi Sumber-Sumber Pendanaan Perubahan Iklim (PI)
Rapat ini dipimpin oleh Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan, Bappenas pada tanggal 3 Oktober 2014 di Ruang Rapat SG 2-4. Berikut pokok-pokok catatan dari seminar di atas:
1. Sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki kebutuhan adaptasi dan mitigasi PI yang lebih besar ketimbang non kepulauan.
2. RAN API telah diintegrasikan ke dalam RT RPJMN 2015-2019.
3. Indonesia memiliki komitmen tinggi terhadap isu PI, di antaranya dengan menetapkan target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca sebesar 26% di tahun 2020 dan membentuk The Indonesia
Climate Change Trust Fund. Namun demikian, komitmen tsb belum dibarengi dengan intensifnya
pemanfaatan peluang pendanaan PI dari berbagai sumber yang terhimpun sebagai Green Climate
24 4. Instrumen kebijakan bagi mitigasi dan adaptasi PI meliputi: a) Kebijakan Belanja: Investasi langsung; prioritas anggaran, b) Kebijakan Fiskal: Perpajakan, Kepabeanan, Subsidi Harga, dan c) Kebijakan pembiayaan: Subsidi bunga; Penjaminan Pinjaman.
5. Pemerintah mulai merintis kerjasama dengan Bank Mandiri dalam pengelolaan dana untuk kegiatan atau inisiatif mitigasi dan adaptasi PI.
Komitmen Indonesia dalam mitigasi dan adaptasi PI perlu diikuti dengan lebih optimalnya memanfaatkan peluang pendanaan PI melalui ICCTF, yang merupakan sumber pendanaan terintegrasi dan diperlakukan insentif agar kegiatan mitigasi dan adaptasi PI menjadi fleksibel, contohnya dengan pengurangan pajak bagi pelaku kegiatan rendah emisi.
3.7 Pelatihan Public Private Partnership
Rapat ini diselenggarakan di Singapura pada tanggal 6-10 Oktober 2014. Beberapa hal yang dibahas dalam pelatihan, antara lain:
1. Secara umum PPP dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu :
a. Government Pay atau sering disebut sebagai Private Finance Initiatives (PFI); Pada tipe ini pembiayaan pembangunan dapat berasal dari pemerintah atau pun swasta, namun pada akhirnya akan dibayar kembali oleh Pemerintah. Tipe ini biasanya dilakukan pada proyek-proyek pelayanan masyarakat, seperti Rumah Sakit, atau di Singapura pada kasus Sport Hub-Stadium Nasional.
b. User Pay.
Seperti pada tipe PFI, pada awal pembiayaan pembangunan dapat berasal dari pemerintah ataupun swasta, namun pada akhirnya akan dibayar melalui para pengguna infrastruktur tersebut. Contoh tipe ini adalah Jalan Tol.
2. Disampaikan bahwa IMF telah melarang penggunaan pinjaman dari lembaga donor bagi pembiayaan tipe PFI.
3. Sebenarnya ada tipe ketiga, yaitu pembangunan skala kecil dengan menggunakan uang pihak ketiga. Pada tipe ini, pada akhirnya pembiayaan dibayarkan oleh pihak ketiga melalui ruang iklan yang disewakan. Bahkan pada beberapa kasus, biaya pembangunan langsung dilakukan oleh CSR perusahaan swasta. Contoh di India adalah pembangunan toilet umum dan jembatan penyeberangan.
4. Pada PPP, beberapa elemen penting meliputi :
a. Isi rinci Naskah Perjanjian (kontrak) PPP, beberapa menyebutkan sebagai naskah Perjanjian Konsesi;
b. Lamanya konsesi yang akan diberikan;
c. Mata uang yang dipakai, Hedging kalau memungkinkan. Untuk Singapura, hedging dapat dilakukan hingga konsesi 15 tahun. Namun biasanya hanya bisa dilakukan dalam jangka pendek hingga 8 tahun.
d. Detail output yang diinginkan serta Key Performance Indicator nya (KPI).
5. Prinsip utama PPP sebenarnya adalah OPM, “Other Person Money”, sehingga menjadi penting untuk tetap memperhatikan kepentingan komersial dalam mencari keuntungan, namun hal tersebut dibatasi dalam koridor yang menjamin terselenggaranya pelayanan publik. Tantangan untuk Indonesia sebenarnya beberapa proyek potensial yang menguntungkan dapat dilakukan dengan skema PPP, namun justru menggunakan APBN. Idealnya APBN digunakan untuk proyek-proyek yang tidak menguntungkan.
6. Khusus terkait bidang pertanahan, terkait dengan diversifikasi usaha pada proyek PPP untuk memberikan keuntungan kepada swasta, perlu disiapkan batasan-batasan
25 seberapa besar diversifikasi yang dibolehkan. Sebagai contoh dalam proyek MRT Singapore, SMRT badan usaha MRT melakukan usaha-usaha bisnis lain meliputi Taxi, Bus, dan Shoping Mall. Bila PPP menggunakan mekanisme UU No.2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, maka selain tanahnya harus dimiliki pemerintah, tetapi core bisnis PPP tetap harus dijaga tetap untuk kepentingan umum sehingga bila dilakukan diversifikasi usaha, perlu dibatasi dan jangan sampai skema PPP dimanfaatkan bukan untuk kepentingan umum.
3.8 Rapat Penelaahan RKA-KL Pagu Alokasi Anggaran TA 2015 untuk Ditjen
Penataan Ruang, Kementerian PU dan Ditjen Bina Pembangunan Daerah,
Kemendagri untuk Bidang Tata Ruang
Rapat ini dilakukan untuk menindaklanjuti memo Bapak Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan No. 330/D.VIII/10/2014 perihal Penelaahan RKA-KL Pagu Alokasi Anggaran TA 2015 tanggal 2 Oktober 2014. Rapat dipimpin oleh perwakilan dari DJA, Kementerian Keuangan dan diselenggarakan pada 7 Oktober 2014 di Ruang Rapat DJA Kementerian Keuangan.
Pada rapat ini telah dilakukan penelaahan RKA-KL Alokasi Anggaran TA 2015 untuk mitra K/L Dit. TRP yaitu: (a) Ditjen Penataan Ruang (DJPR), Kementerian Pekerjaan Umum; dan (b) Dua Subdit pada Dit. Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup (FPRLH), Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri. Berdasarkan hasil penelaahan tersebut, telah dikirim memo laporan kepada Bapak Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, dan draft memo Bapak Deputi Regional kepada Bapak Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan. Selanjutnya, akan dilakukan pertemuan dengan Direktorat Bina Program dan Kemitraan DJPR PU untuk membahas hasil penelaahan tersebut dan akan dilakukan pemantauan terhadap jawaban dari DJPR PU terhadap catatan dari Bappenas.
3.9
FGD upaya percepatan pemanfaatan kawasan HPK yang telah dicadangkan
sebagai lahan tanaman pangan di Kalimantan
FGD merupakan pertemuan awal untuk membahas langkah apa saja yang dapat dilakukan dalam rangka mempercepat pemanfaatan kawasan HPK yang telah dicadangkan sebagai lahan tanaman pangan di Kalimantan. FGD ini diselenggarakan pada tanggal 7 Oktober di Hotel Salak, Bogor.
Beberapa hal penting dalam diskusi:
Diperlukan SK pelepasan kawasan hutan yang diajukan dari Menteri Pertanian Kepada Menteri Kehutanan atas usul dari Bupati dan Gubernur sehingga dapat dikeluarkan Ijin Prinsip.
Perlunya peran pemerintah pusat/daerah untuk menyiapkan infrastruktur dasar terlebih dahulu (jalan, jembatan, jaringan irigasi) pada wilayah yang telah ditetapkan apabila akan dimanfaatkan serta mobilisasi SDM untuk mengolah lahan tersebut melalui transmigrasi.
Pertimbangan ekonomi harus mengikuti komoditas menguntungkan bukan hanya sawah, pilihan sumber pengembangan lahan pangan lain hendaknya dipertimbangkan. Sebagian besar lahan yang potensial untuk pangan telah diokupasi oleh penduduk
setempat dan diakui sebagai tanah adat (ditanami karet dan komoditas pangan lainnya) Revisi RTRW sering dimaknai oleh Daerah untuk melakukan konversi lahan.
26 Perlunya insentif seperti pemberian ‘keuntungan’ (ekonomis, insentif lainnya) bagi pihak yang melakukan percepatan penetapan dan pemanfaatan lahan tersebut (ditetapkan batasan waktu).
HPK yang telah dicadangkan sebagai lahan tanaman pangan harus juga memperhatikan keberadaan dari segi jumlah maupun kualitas masyarakat yang akan mengelola kawasan tersebut.
Kesimpulan yang didapat dari hasil diskusi tersebut adalah perlunya pembicaraan lebih lanjut terkait diusulkannya penetapan LP2B tidak diserahkan kepada daerah tetapi dengan menggunakan sistem top-down sehingga infrastruktur penunjang LP2B dapat terintegrasi dan penetapan disertai dengan delineasi lokasi penetapan.
3.10 Penyediaan Tanah Pertanian Untuk Mendukung Penyelenggaraan Reforma
Agraria Dalam Rangka Ketahanan Pangan
Rapat ini dipimpin oleh Asisten Deputi, Wantannas pada 8 Oktober 2014 di Hotel Redtop Jakarta. Tujuan pertemuan ini adalah menggali masukan dan pemikiran sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan rekomendasi atau saran kepada presiden selaku Ketua Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) berkaitan dengan upaya penyediaan tanah pertanian guna mendukung penyelenggaraan reforma agraria dalam rangka ketahanan pangan.
Beberapa hal penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut, diantaranya.
a. Terdapat keinginan kuat (political will) dari Presiden dan Wakil Presiden terpilih untuk menjalankan reforma agraria seperti tertera dalam visi-misi yang secara jelas menyatakan implementasi reforma agraria melalui pemberian akses dan aset reform dengan menyerahkan lahan sebesar 9 juta Ha.
b. Disampaikan bahwa sejak tahun 1961-2004 jumlah tanah yang telah diredistribusi sebanyak 1.153.585 Ha dengan jumlah penerima 1.504.572 KK dan sejak tahun 2005-2013 telah diredistribusi tanah sebanyak 1.146.045 Ha dengan jumlah penerima 833.054 KK.
c. Dengan melihat angka capaian redistribusi tanah yang telah dilakukan selama ini dan adanya tantangan penyediaan lahan 9 juta Ha maka perlu dipersiapkan langkah-langkah kongkrit yang perlu ditempuh dalam rangka mewujudkan tersedianya tanah secara cukup bagi penyelenggaraan reforma agraria demi tercapainya ketahanan pangan di seluruh Indonesia. d. Kendala yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan data baik data tekstual maupun spasial
tentang luas, lokasi tanah-tanah yang dapat dijadikan sebagai sumber Tanah Obyek Landreform (TOL), dan juga kriteria subyek penerima tanah redistribusi.
e. Dalam forum disepakati perlunya penyempurnaan/revisi PP 11/2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar sebagai sumber TOL.
f. Disamping identifikasi subyek dan obyek reforma agraria juga perlu adanya payung hukum sebagai dasar untuk melakukan kegiatan reforma agraria dan diusulkan untuk melanjutkan pembahasan dan penetapan RPP Reforma Agraria yang sudah disusun sejak Tahun 2011.
g. Disepakati akan dibuat matriks teknis pelaksanaan kegiatan reforma agraria yang merupakan matriks setiap pihak yang terkait akan melaksanakan apa saja dengan tahap dan jadwal waktu yang jelas, baik secara sendiri ataupun dalam rangkaian yang sinergis antar-pihak terkait. Selanjutnya, perlu memasukkan landasan hukum (seperti RPP Reforma Agraria) untuk mendukung kegiatan reforma agraria kedalam kerangka regulasi RT RPJMN 2015-2019 dan pelaksanaan pilot project reforma agraria memperhatikan rencana kegiatan yang ada di setiap K/L.
27
3.11 “Pencanangan Implementasi Program NCICD: Pemulihan Ketahanan
Lingkungan Ibukota Negara RI yang Berkelanjutan”
Kegiatan ini merupakan peluncuran pencanangan implementasi program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau pembangunan terpadu pesisir ibukota negara yang diselenggarakan oleh Kemenko Perekonomian. Kegiatan Pencanangan Implementasi Program NCICD diselenggarakan di Area Rumah Pompa, Waduk Pluit pada 9 Oktober 2014. Pada acara tersebut, turut hadir pula Sarwo Handayani mewakiliki Gubernur DKI Jakarta, Hermanto Dardak mewakili Menteri Pekerjaan Umum, dan Chairul Tanjung selaku Menteri Koordinator Perekonomian yang memberikan sambutan sekaligus me-launching program NCICD.
Program NCICD merupakan hasil kerjasama Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Lingkungan Hidup dan konsultan infrastruktur dari Belanda yang dimulai semenjak Tahun 2007. Hingga saat ini pembangunan fisik telah dimulai yakni berupa pembangunan tanggul raksasa (giant sea wall). Pembangunan implementasi berupa tanggul raksasa yang dibuat sebagai detensi banjir, perbaikan waduk dan perbaikan kondisi muara sungai tersebut direncanakan sejauh 32 km dari garis pantai yang terdiri atas 8 km menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan provinsi, sementara 24 km akan diberikan pengelolaannya pada swasta.
3.12 FGD Raperpres tentang Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan
Nasional (KSPPN)
FGD ini dipimpin oleh Direktur Perkotaan dan Perdesaan, Bappenas pada 10 Oktober 2014 di Hotel Blue Sky Jakarta. FGD bertujuan untuk melakukan pembahasan awal Draft II Raperpres ini. Beberapa hal yang mengemuka pada diskusi adalah:
Kebijakan dan Strategi Perkotaan dalam RTRWN belum memperhatikan dimensi kekotaan seperti: i) demografi kependudukan; ii) aspek sosial budaya; iii) ekonomi perkotaan; infrastruktur; iv) perumahan; dan v) kelembagaan.
Kebijakan dan strategi perkotaan yang ada dalam RTRWN sarat dengan pengaturan ruang yang tujuannya untuk menjaga arahan fungsi yang melekat pada kawasan kota sebagai PKN, PKW, PKL, dan PKSN dengan menjaga kelestarian lingkungan (tidak mengganggu hutan lindung serta lahan pertanian pangan berkelanjutan) serta kerentanan bencana (perubahan iklim, gempa, banjir, gunung api, abrasi pantai).
Perlu disusun rincian tahapan kegiatan pelaksanaan (per 5 tahun) dengan rincian per tahun pada tahapan awal. Rincian kegiatan dilampirkan sebagai lampiran Raperpres KSPPN
Kelembagaan yang ada dalam Perpres ini sebaiknya dengan memantapkan fungsi kelembagaan yang sudah ada. Harus dilakukan kajian terhadap kelembagaan yang sudah ada apabila hendak membentuk kelembagaan baru.
Draft II Raperpres dinilai masih kurang menggambarkan substansi dari KSPPN yang akan diatur 25 tahun mendatang, terlalu bersifat mengatur kelembagaan.
Perlu penjabaran secara lebih mendalam terkait apa yang dimaksud dengan kota berdaya saing. Kebijakan dan Strategi Perkotaan dalam KSPPN sebaiknya memperhatikan dimensi kekotaan yang belum diatur RTRW. Selanjutnya akan disusun tahapan kegiatan pelaksanaan per 5 Tahun. Tim Teknis akan melakukan penyempurnaan Raperpres dan diupayakan selesai sebelum tanggal 20 Oktober 2014