PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN KARYAWAN, JENIS KOPERASI,
DAN UKURAN KOPERASI TERHADAP KUALITAS SISTEM
PENGENDALIAN INTERN
(Studi Kasus Pada Koperasi Di Kabupaten Buleleng)
1Komang Kertiasih,
1Gede Adi Yuniarta,
2Edy Sujana
Jurusan Akuntansi Program S1
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: {[email protected],
[email protected],[email protected]}@undiksha.ac.id
AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris dari pengaruh tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, dan ukuran koperasi terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dan dilakukan dengan teknik nonprobability sampling yaitu dengan teknik purposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah koperasi-koperasi yang masih aktif, sudah beroperasi lebih dari satu tahun, dan sudah melakukan RAT. Dengan menggunakan sampel sebanyak 52 koperasi, dan setiap koperasi digunakan 3 responden (pengurus, manajer, dan karyawan) sehingga diperoleh 156 kuesioner. Data yang diperoleh berupa jawaban dari responden di tabulasi dan kemudian diolah dengan menggunakan analisis data kuantitatif, analisi deskriftif, asumsi klasik dan regresi linier berganda.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa secara parsial tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, dan ukuran koperasi berpengaruh posistif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Dan secara simultan tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, dan ukuran koperasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern.
Kata Kunci: tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, ukuran koperasi, sistem pengendalian intern.
Abstract
This study was aimed at obtaining empirical evidence of the effect of workers’ education, type of cooperative, and size of cooperative on the quality of internal control system. This study was a quantitative research and used non-probability sampling technique that is, by using purposive sampling. The sample consisted of active cooperatives that have operated more than 1 year, and have held members annual meetings. With a sample of 52 cooperatives, 3 respondents for each (1 organizer, 1 manager, and 1 worker) 156 questionnaires were collected. The data in the form of answers from the respondents were tabulated and then processed using quantitative data analysis, descriptive analysis, classical assumption and multiple regression analysis.
The results showed that partially, the level of education of the worker, type of cooperative, and size of cooperative have positive and significant effect on the quality of internal control system. And simultaneously, worker’s level of education, type of cooperative, and size of cooperative have positive and significant effect on the quality of internal control system.
Key words: worker’s level of education, Type of Cooperative, size of cooperative, internal control system.
PENDAHULUAN
Perekonomian Indonesia saat ini dimana pertumbuhan ekonomi rakyat tidak
stabil berdampak pada kehidupan
masyarakat kecil yang semakin
memprihatinkan. Dampak ini sangat
dirasakan oleh masyarakat yang
perekonomiannya menengah ke bawah terutama masyarakat pedesaan. Dalam hal
ini, peran koperasi sebagai roda
perekonomin nasional serta lembaga yang bergerak dalam ekonomi rakyat sudah berkembang pesat dan dinamis. Hal ini didukung dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan adanya koperasi sebagai salah satu badan usaha yang turut mengemudikan laju ekonomi di Indonesia. Berdasarkan Undang- Undang No. 17 pasal 1 ayat 1 tahun 2012, Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum koperasi,
dengan pemisahan kekayaan para
anggotanya sebagai modal untuk
menjalankan usaha, yang memenuhi
aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, budaya sesuai dengan nilai dan prinsip koperasi. Dalam pasal 3 UU No 25/1992 disebutkan bahwa koperasi di Indonesia sebagai suatu alat untuk
membangun sistem perekonomian.
“Koperasi bertujuan memajukan
kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta ikut membantu tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945”.Pemahaman koperasi secara umum adalah suatu perkumpulan orang yang secara sukarela berjuang bersama-sama untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka melalui pembentukan suatu badan usaha yang dikelola secara demokratis.
Pada hakekatnya pungutan dananya
berasal dari anggota itu sendiri dan penyaluran dananya untuk anggota itu sendiri. Namun pada saat ini kondisinya, terjadi perubahan dimana contoh koperasi
simpan pinjam yang melakukan
pemungutan dana pihak ketiga dan menyalurkan dana tersebut untuk pihak ketiga pula. Sehingga atas hal ini peran OJK sangat dibutuhkan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan lembaga
keuangan negara yang dibentuk
berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi menyelenggarakan sistem
pengaturan dan pengawasan yang
terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan. Permasalahan-permasalahan yang muncul menuntut koperasi untuk terus berupaya menjaga kestabilan ekonominya agar mampu bertahan dan berdaya saing dengan lembaga keuangan lainnya.Pada dasarnya koperasi adalah badan usaha
yang cukup strategis dalam upaya
meningkatkan taraf kehidupan anggota dan masyarakat. Namun pada kenyataannya koperasi masih banyak dihadapkan pada berbagai permasalahan, baik bersifat internal maupun eksternal. Permasalahan-permasalahan yang menghadang lajunya
kehidupan Koperasidi antaranya
menyangkut sumber daya manusia,
kemampuan manajemen, serta
keterbatasan permodalan. Dinas Koperasi,
Perdagangan dan Perindustrian
(Diskoperindag) Kabupaten Buleleng, Bali, telah mencabut izin beberapa koperasi yang berada di Kabupaten Buleleng karena mengalami berbagai masalah keuangan dan pengelolaan, serta tidak dapat menjalankan rapat anggota tahunan (RAT). Mulai tahun 2015 lalu Diskopdagprin membekukan 23 koperasi. Hal yang sama kemudian dilakukan tahun ini dengan
membekukan koperasi sebanyak 91,
sehingga dalam dua tahun saja sebanyak 114 koperasi di daerah ini telah dibekukan dengan mencabut izin badan hukumnya. Sehingga pada saat ini, jumlah koperasi yang ada di Kabupaten Buleleng ada sebanyak 297 koperasi dengan kategori aktif. Agar dapat bertahan dan mampu
bersaing dengan lembaga keuangan
lainnya, maka koperasi tersebut harus dapat menentukan suatu kebijakan dan strategi yang terus dikembangkan dan ditingkatkan. Salah satu kebijakan yang
dapat diambil untuk membantu
pengembangan koperasi adalah dengan
pengendalian intern. Sistem pengendalian intern adalah suatu sistem yang meliputi struktur organisasi, metode, dan
ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk
menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi,
mendorong efisiensi dan mendorong
dipatuhinya kebijakan manajemen
(Mulyadi,2009). Dalam suatu perusahaan, lembaga, maupun organisasi, pengendalian intern merupakan hal utama dan menjadi pokok dasar yang sangat dibutuhkan, karena suatu kegiatan operasional dan kinerja membutuhkan sebuah kebijakan khusus yang mampu mengakomodasi dan memberikan batasan serta ketentuan khusus dalam setiap kegiatannya sesuai dengan keadaan dan kondisi masing-masing perusahaan. Tanpa adanya sistem pengendalian ini, maka akan banyak muncul risiko-risiko yang timbul akibat kecurangan yang dilakukan oleh oknum perusahaan yang nantinya akan merugikan perusahaan itu sendiri. Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi sistem pengendalian intern pada koperasi. Faktor tersebut antara lain ukuran koperasi dan jenis koperasi.
Menurut Yunus (1992) dalam
Paramita (2014) skala ukuran koperasi adalah ukuran besar kecilnya koperasi berdasarkan aset yang dimiliki koperasi. Menurut Hasmawati (2012) semakin besar koperasi mencerminkan bahwa kegiatan usaha yang dikelola koperasi juga semakin
besar, sebaliknya koperasi kecil
menandakan kegiatan usaha yang dikelola masih bersifat sederhana dan masih dalam lingkup kecil. Oleh karena itu sistem
pengendalian yang diterapkan pada
koperasi tersebut juga berbeda-beda. Faktor lain yang mempengaruhi sistem pengendalian intern pada koperasi adalah jenis koperasi. Berdasarkan Undang-Undang No 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian, jenis koperasi dibedakan menjadi empat yaitu koperasi produksi, koperasi konsumsi, koperasi simpan pinjam,
dan koperasi serba usaha. Faktor
selanjutnya yang mempengaruhi sistem pengendalian intern pada koperasi adalah tingkat pendidikan karyawan. Dimana, peranan sumber daya manusia dalam
pelaksanaan sistem pengendalian intern sangatlah penting karena walaupun suatu sistem yang dirancang dengan baik akan sia-sia begitu saja apabila tidak ditunjang dengan adanya kualitas sumber daya
manusia yang memadai. Khususnya
kualitas pribadi sumber daya manusia yaitu tingkat pendidikan dari sumber daya manusia yang bersangkutan (Paramita, 2014). Tujuan dari pengendalian internal terbagi atas dua yaitu menjaga kekayaan perusahaan dan mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka perlu adanya syarat-syarat tertentu untuk mencapainya, yaitu unsur-unsur yang mendukungnya.
American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) mengemukakan bahwa
suatu sistem pengendalian intern yang memuaskan akan bergantung sekurang-kurangnya empat unsur pengendalian intern adalah sebagai berikut: (1) Suatu struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tepat. (2) Suatu sistem wewenang dan prosedur pembukuan yang baik berguna untuk melakukan pengawasan akuntansi yang cukup terhadap harta milik, hutang-hutang, pendapatan-pendapatan, dan biaya-biaya. (3) Praktik-praktik yang sehat haruslah dijalankan didalam melakukan tugas-tugas dan fungsi-fungsi setiap bagian dalam organisasi. (4) Suatu tingkat kecakapan pegawai yang sesuai dengan tanggung jawab.
Menurut Bodnar dan Hopwood (2006) menyatakan komponen proses pengendalian intern terdiri dari lima komponen sebagai berikut: Lingkungan Pengendalian, Penaksiran Risiko, Aktivitas Pengendalian, Informasi dan komunikasi, dan Pengawasan. Sistem pengendalian intern merupakan kebijakan dan prosedur yang dijalankan oleh pengawas, pengurus,
dan manajemen koperasi untuk
mengamankan kekayaan koperasi dan memberikan keyakinan yang memadai
tentang keandalan informasi laporan
pertanggungjawaban keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam menunjang efektifitas dan efisiensi operasi. Untuk menunjang pelaksanaan pengendalian intern pada koperasi maka
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 21 Tahun 2008 tentang pedoman pengawasan koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam koperasi. Sistem pengendalian intern pada koperasi sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang melaksanakannya. Sumber daya manusia dapat dikatakan berkualitas manakala mereka mempunyai
kemampuan untuk melaksanakan
kewenangan dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Kemampuan tersebut hanya dapat dicapai ketika mereka mempunyai bekal pendidikan, latihan, dan pengalaman yang cukup memadai untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang diberikan (Widodo,2001).
Penelitian yang dilakukan oleh Purdanti (2014) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan karyawan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern pada Koperasi
Serba Usaha (KSU) di Kecamatan
Tegallalang. Dari penjelasan di atas, maka hipotesis pertama yang digunakan dalam penelitian ini adalah H1: Tingkat pendidikan
karyawan (X1) berpengaruh posistif
terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Berdasarkan Undang-Undang No 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian, jenis koperasi dibedakan menjadi empat yaitu koperasi produksi, koperasi konsumsi, koperasi simpan pinjam, dan koperasi serba usaha. Dasar untuk menentukan kelima jenis koperasi tersebut adalah kesamaan aktivitas, kepentingan, dan kebutuhan
ekonomi anggotanya. Berdasarkan
perbedaan tersebut, maka dibutuhkan sistem pengendalian intern yang sesuai untuk masing-masing aktivitas, kepentingan,
dan kebutuhannya. Penelitian yang
dilakukan oleh Mustikasari (2015) yang
menyatakan bahwa jenis koperasi
berpengaruh terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Maka dari itu, hipotesis kedua yang digunakan dalam penelitian ini
adalah H2: Jenis koperasi (X2)
berpengaruh positif terhadap kualitas sistem pengendalian intern.
Berdasarkan UU No. 20 tahun 2008 ukuran koperasi diklasifikasikan menjadi
tiga golongan yaitu koperasi besar, menengah, dan kecil. Ukuran ini dilihat berdasarkan omzet (volume usaha) per tahunnya. Semakin besar koperasi, maka semakin sulit dalam mengawasi kegiatan usahanya. Dengan semakin besar ukuran
koperasi maka, kualitas sistem
pengendalian intern juga akan semakin baik dan terkontrol. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hasmawati (2012) diketahui
bahwa ukuran koperasi berpengaruh
terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Dari penjelasan di atas, maka hipotesis ketiga yang digunakan dalam penelitian ini adalah H3: Ukuran koperasi (X3) berpengaruh positif terhadap kualitas
sistem pengendalian intern. Sistem
pengendalian intern pada setiap koperasi tentu akan berbeda karena ukuran koperasi dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing koperasi tentu berbeda. Kualitas sistem pengendalian intern suatu organisasi tidak terlepas dari adanya mutu
karyawan. Peran karyawan dalam
organisasi sangat besar pengaruhnya, karena suatu sistem yang berkualitas tidak akan berguna jika tidak diimbangi dengan kualitas dan mutu karyawan yang ada di dalamnya. Dari penjelasan di atas, maka hipotesis keempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah H4: Tingkat Pendidikan Karyawan, Jenis Koperasi, dan Ukuran koperasi (X4) berpengaruh positif terhadap kualitas sistem pengendalian intern.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat asosiatif kausalitas yaitu tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih atau lebih
singkatnya penelitian ini merupakan
penelitian yang mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lainnya. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang berasal dari skor kuisioner. Untuk sumber data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Penelitian ini akan dilakukan pada koperasi-koperasi yang berada di Kabupaten Buleleng. Metode penentuan sampel dilakukan dengan non-probability
pemilihan sampel secara tidak acak (Indriantoro dan Supomo, 1999), dengan menggunakan teknik purposive sampling yang disebut juga judgemental sampling yang digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel, terutama orang-orang yang dianggap ahli (Prasetyo dan Jannah, 2012).
Adapun karakteristik dari sampel dalam penelitian ini adalah seluruh koperasi yang aktif di Kabupaten Buleleng, koperasi yang sudah melakukan RAT, serta koperasi yang sudah beroperasi lebih dari satu tahun. Data penelitian akan dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner yang kemudian diolah dengan menggunakan beberapa uji statistik yaitu (1) Uji Validitas dan Reliabilitas, (2) Uji Statistik Deskriptif, (3) uji
asumsi klasik yang terdiri dari Uji normalitas,
uji multikolonieritas dan uji
heterokedastisitas, (4) analisis regresi linier berganda dan (5) uji hipotesis : Uji t, uji F dan uji koefisien determinasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Hasil pengujian normalitas data menggunakan aplikasi statistik SPSS Versi
16 dengan memakai One Sample
Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan
bahwa nilai Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0,142. Nilai tersebut lebih besar dari 0,05. Berdasarkan kriteria uji normalitas, data terdistribusi normal jika nilai Asymp. Sig.
(2-tailed) lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti
bahwa sebaran data berdistribusi normal. Tabel 1 Hasil Uji Normalitas
One Sample Kolmogorov-Smirnov test.
Unstandardized Residual
N 129
Normal Parametersa Mean 0,0000000
Std. Deviation
4,18260962
Most Extreme Differences Absolute
0,101
Positive
0,101
Negative
-0,093
Kolmogorov-Smirnov Z
1,150
Asymp. Sig.(2-tailed)
0,142
(Sumber: Data diolah, 2016)
Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, ukuran koperasi, dan kualitas
sistem pengendalian intern memiliki
sebaran data yang terdistribusi secara normal. Selain uji normalitas uji asumsi klasik yang lainnya yang sudah dilakukan
adalah uji multikolonieritas. Uji ini
digunakan untuk menguji apakah antara variabel bebas terdapat korelasi atau tidak. Berdasarkan hasil uji diketahui bahwa tidak terjadi korelasi antara variabel bebas dalam penelitian ini.Berikut adalah tabel 2 yang
menyajikan hasil uji multikolonieritas.Kriteria yang harus dipenuhi agar dapatdikatakan tidak terjadi gejalamultikolonieritas adalah apabila nilai tolerance lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF lebih kecil dari 10. Berdasarkan atas tabel 2 di bawah, nilai
tolerance ketiga variabel bebas dalam
penelitian ini adalah lebih besar dari 0,10, yaitu 0,888, 0,398 dan 0,371. Sedangkan nilai VIF ketiga variabel adalah lebih kecil
dari 10, yaitu 1,126, 2,510, dan
2,696.Dengan demikian di antara variabel bebas tidak terjadi multikolinearitas pada model regresi linier.
Tabel 2 Hasil Uji Multikolineritas
(Sumber: Data diolah, 2016)
Uji asumsi klasik terakhir yang dilakukan adalah uji heterokedastisitas. Berdasarkan hasil uji, maka diketahui bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi. Pada tabel 3 dibawah ini, uji heterokedastisitas dengan menggunakan uji Glejser diperoleh nilai signifikan masing-masing variabel bebas yaitu tingkat
pendidikan karyawan sebesar 0,684, jenis koperasi sebesar 0,581 dan ukuran koperasi sebesar 0,746 yang semua nilai signifikan tersebut lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi.
Tabel 3 Hasil Pengujian Asumsi Heterokedastisitas
(Sumber: Data diolah, 2016)
Setelah uji asumsi klasik terpenuhi, maka uji statistik selanjutnya adalah menentukan model regresi atau analisis
regresi linier berganda. Berkut ini pada tabel 4 disajikan hasil uji analisis regresi linier berganda.
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF
Tingkat Pendidikan Karyawan (X1) 0,888 1.126
Jenis Koperasi (X2) 0,398 2,510 Ukuran Koperasi (X3) 0,371 2,696 Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta (Constant) 4,275 3,335 1,282 0,202
Tingkat Pendidikan Karyawan (X1) -0,075 0,184 -0,038 -0,408 0,684
Jenis Koperasi (X2) 0,432 0,782 0,078 0,553 0,581
Tabel 4 Rekapitulasi Hasil Analisis Persamaan Regresi Linier Ganda
(Sumber: Data diolah, 2016)
Pada penelitian ini diajukan tiga hipotesis. Pengujian hipotesis digunakan analisis regresi linier ganda. Hasil analisis uji koefesien determinasi disajikan pada Tabel 6. Berdasarkan Tabel 4 diperoleh model persamaan regresi linier berganda yaitu:
3 2 1 3 3 2 2 1 1272
,8
030
,3
761
,
0
733
,
61
X
X
X
Y
X
X
X
Y
Berikut ini hasil interpretasi model regresi linier berganda tersebut. Nilai koefisien β1 = 0,761 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara variabel
Tingkat Pendidikan Karyawan (X1)
terhadap variabel Kualitas Sistem
Pengendalian Intern (Y) sebesar 0,761. Hal
ini berarti apabila variabel Tingkat
Pendidikan Karyawan (X1) naik sebesar 1 satuan dan nilai variabel bebas lainnya adalah konstan, maka nilai variabel Kualitas Sistem Pengendalian Intern (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,761 satuan.
Nilai koefisien β2 = 3,030
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara variabel Jenis Koperasi (X2)
terhadap variabel Kualitas Sistem
Pengendalian Intern (Y) sebesar 3,030. Hal ini berarti apabila variabel Jenis Koperasi (X2) naik sebesar 1 satuan dannilai variabel bebas lainnya adalah konstan, maka nilai variabel Kualitas Sistem Pengendalian
Intern (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 3,030 satuan.
Nilai koefisien β3 = 8,272
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara variabel Ukuran Koperasi (X3)
terhadap variabel Kualitas Sistem
Pengendalian Intern (Y) sebesar 8,272. Hal ini berarti apabila variabel Ukuran Koperasi (X3) naik sebesar 1 satuan dannilai variabel bebas lainnya adalah konstan, maka nilai variabel Kualitas Sistem Pengendalian Intern (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 8,272 satuan.
Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan uji parsial (uji t), uji simultan (uji F) dan koefisien determinasi (R2). Berdasarkan coefficients pada tabel 4
diketahui bahwa variabel Tingkat
Pendidikan Karyawan (X1) mempunyai nilai sig. 0,009 < 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Artinya, secara parsial variabel Tingkat Pendidikan Karyawan berpengaruh
signifikan terhadap Kualitas Sistem
Pengendalian Intern. Variabel Jenis
Koperasi (X2) mempunyai nilai sig. 0,014 < 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Artinya, secara parsial variabel Jenis Koperasi (X2) berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern. Variabel Ukuran Koperasi (X3) mempunyai nilai sig. 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima. Artinya, secara parsial variabel ukuran koperasi (X3) berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern.
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta (Constant) 61,733 5,168 11,945 0,000
Tingkat Pendidikan Karyawan (X1) 0,761 0,286 0,149 2,664 0,009
Jenis Koperasi (X2) 3,030 1,212 0,209 2,500 0,014
Variabel bebas pada penelitian ini juga melalui uji hipotesis secara simultan terhadap variabel terikat. Dapat dilihat pada Tabel 5, hasil uji hipotesis secara simultan adalah berdasarkan Tabel ANOVA tersebut diketahui bahwa nilai nilai Sig. adalah 0,000
< 0,05. Artinya, secara simultan variabel variabel Tingkat Pendidikan Karyawan (X1), Jenis Koperasi (X2), dan Ukuran Koperasi (X3) berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern (Y).
Tabel 5 Uji Hipotesis Secara Simultan
Model Sum of
Squares Df SquareMean F Sig.
1 Regresion 4177,499 3 1392,500 77,732 0,000a
Residual 2239,261 125 17,914
Total 6416,670 128
(Sumber : Data diolah, 2016)
Uji hipotesis terakhir yang dilakukan adalah Koefisien determinasi. Uji ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikat. Berikut ini adalah tabel rekapitulasi hasil uji koefisien determinasi. Berdasarkan Tabel 6 tentang hasil uji
koefisien determinasi, menunjukan
besarnya nilai R Square (R2) adalah 0,651. Karena variabel dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel bebas maka nilai koefisien
determinasi yang digunakan adalah
Adjusted R Square (karena nilai ini dapat
bertambah atau berkurang dengan
bertambahnya variabel bebas) yaitu
sebesar 0,643 atau 64,3%. Angka 64,3% mempunyai makna besarnya pengaruh variabel Tingkat Pendidikan Karyawan (X1), Jenis Koperasi (X2), dan Ukuran Koperasi (X3) secara bersama-sama atau gabungan.
Sedangkan sisanya sebesar 35,7%
disebabkan oleh variabel lain di luar penelitian ini.
Tabel 6 Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R
Square Std. Error ofthe Estimate
1 0,807a 0,651 0,643 4,233
(Sumber : Data diolah, 2016)
Pembahasan
Pengaruh Tingkat Pendidikan Karyawan Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern
Dari berbagai jenis uji yang sudah dilakukan, hasil yang didapat yaitu terdapat pengaruh yang positif dan signfikan antara variabel bebas tingkat pendidikan karyawan dengan variabel terikat kualitas sistem pengendalian intern. Adanya pengaruh positif menunjukkan bahwa antara tingkat pendidikan karyawan dengan variabel
terikat kualitas sistem pengendalian intern adalah searah. Berarti bahwa jika tingkat pendidikan karyawan semakin tinggi maka kualitas sistem pengendalian intern juga akan semakin tinggi. Sedangkan adanya pengaruh yang signifikan dilihat dari nilai probabilitas dalam uji t pada penelitian ini yaitu 0,009 < 0,05. Yang berarti bahwa memang terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan karyawan dengan
variabel terikat kualitas sistem
Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel bebas tingkat pendidikan karyawan berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat kualitas sistem
pengendalian intern. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu dari penelitian yang dilakukan Purdanti (2014) hasil penelitiannya menyatakan bahwa Tingkat pendidikan karyawan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern pada Koperasi
Serba Usaha (KSU) di Kecamatan
Tegallalang. Selain itu, Kharis (2010) juga
melakukan penelitian yang hasil
penelitiannya menyatakan bahwa
pendidikan dan pelatihan berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan sistem pengendalian intern. Penelitian ini juga didikung oleh teori yang dikemukakan oleh Widodo (2001), dimana sumber daya
manusia dapat dikatakan berkualitas
manakala mereka mempunyai kemampuan untuk melaksanakan kewenangan dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Kemampuan tersebut hanya dapat dicapai ketika mereka mempunyai bekal pendidikan, latihan, dan pengalaman yang cukup memadai untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang diberikan.
Pengaruh Jenis Koperasi Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern
Jenis koperasi, yaitu koperasi simpan pinjam, koperasi produksi, koperasi konsumsi, dan koperasi serba usaha. Dasar untuk menentukan keempat jenis koperasi
tersebut adalah perbedaan aktivitas,
kepentingan dan kebutuhan anggotanya. Berdasarkan perbedaan tersebut, maka dibutuhkan sistem pengendalian intern yang sesuai untuk masing-masing aktivitas, kepentingan, dan kebutuhannya. Dalam penelitian ini hanya akan meneliti dua jenis koperasi yaitu koperasi simpan pinjam dan koperasi serba usaha. Sesuai dengan hasil deskriptif yang diperoleh dapat diketahui bahwa yang menjadi objek penelitian kebanyakan jenis koperasi simpan pinjam yaitu sebanyak 61,2%, sementara koperasi serba usaha sebanyak 38,8%. Berdasarkan uji yang telah dilakukan, didapatkan hasil yaitu jenis koperasi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kualitas sistem
pengendalian intern. Hasil pengaruh yang
signifikan antara variabel bebas jenis koperasi dengan variabel terikat kualitas sistem pengendalian intern dapat dilihat dari nilai sig yaitu 0,014 < 0,05, yang berarti bahwa secara parsial variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel bebas jenis koperasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat kualitas sistem pengendalian intern.
Hasil penelitian ini didukung oleh
Mustikasari (2015) hasil penelitian yang
dilakukan menunjukkan bahwa jenis
koperasi berpengaruh terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Jenis koperasi
yang ada dibedakan berdasarkan
perbedaan aktivitas, kepentingan dan kebutuhan anggotanya. Jenis koperasi yang satu dengan yang lainnya tentu akan berbeda karena kegiatan operasional yang ada dalam koperasi tersebut berbeda. Dari perbedaan tersebut, maka dibutuhkan sistem pengendalian intern yang sesuai untuk masing-masing aktivitas, kepentingan, dan kebutuhannya.Karena masing-masing jenis koperasi memiliki kegiatan usaha yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan berbedaan kegiatan usaha tersebut maka sistem pengendalian yang digunakan juga akan berbeda. Semakin kompleks kegiatan usaha yang dimiliki oleh suatu koperasi maka akan dibutuhkan sistem pengendalian intern yang memadai.
Pengaruh Ukuran Koperasi Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern
Variabel bebas selanjutnya yang diuji pengaruhnya secara parsial terhadap variabel terikat adalah variabel ukuran koperasi. Berdasarkan hasil deskriptif yang menjadi objek penelitian kebanyakan berukuran kecil, yaitu sebanyak 59,7% dan koperasi berukuran besar sebanyak 40,3%. Hasil yang diperoleh dari uji yang sudah
dilakukan adalah ukuran koperasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern.Sama halnya dengan dua hasil uji sebelumnya, hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara variabel ukuran koperasi dengan kualitas sistem pengendalian intern berarti menunjukkan hubungan yang searah. Pengaruh yang
signifikan antara variabel ukuran koperasi dengan kualitas sistem pengendalian intern dilihat dari nilai sig sebesar 0,000 < 0,05 sehingga secara parsial ukuran koperasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel bebas ukuran koperasi berpengaruh signifikan terhadap
variabel terikat kualitas sistem
pengendalian intern. Koperasi yang
berukuran besar memiliki sistem
pengendalian intern yang lebih baik dan
terkontrol dalam menerapkan fungsi
pengawas, pengurus, dan juga masing-masing bagian koperasi dalam menjalankan wewenang dan tugasnya dari pada koperasi yang berukuran menengah atau kecil, sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas sistem pengendalian intern yang diterapkan oleh koperasi yang berukuran besar, menengah atau kecil berbeda.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu dari Hasmawati (2012)
hasil penelitian yang diperoleh
menunjukkan bahwa ukuran koperasi berpengaruh terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Selain itu Komala (2014) juga melakukan penelitian mengenai analisis perbedaan ukuran koperasi, hasil penelitian tersebut menunjukan ukuran koperasi mempunyai perbedaan secara
signifikan terhadap kualitas sistem
pengendalian intern. Koperasi yang
berukuran besar akan memiliki sistem pengendalian intern yang lebih baik dan terkontrol dalam menjalankan kegiatan usahanya dari pada koperasi yang berukuran menengah atau kecil, jika dilihat dari kegiatan usahanya. Sehingga kualitas sistem pengendalian intern yang diterapkan oleh koperasi yang berukuran besar, menengah atau kecil akan berbeda. Dimana, koperasi yang besar itu berarti bahwa kegiatan usaha yang dikelola semakin besar sebaliknya koperasi kecil menandakan kegiatan usaha yang dikelola masih bersifat sederhana dan masih dalam lingkup kecil.Oleh karena itu sistem
pengendalian yang diterapkan pada
koperasi tersebut juga berbeda-beda. Dengan semakin besar ukuran koperasi maka kualitas sistem pengendalian intern juga akan semakin baik dan terkontrol.
Pengaruh Tingkat Pendidikan Karyawan, Jenis Koperasi, dan Ukuran Koperasi Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern
Berdasarkan pengujian hasil
penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, dan ukuran
koperasi terhadap kualitas sistem
pengendalian intern. Ini dibuktikan dari hasil uji F atau uji hipotesis secara simultan, bahwa nilai sig dalam tabel ANOVA adalah sebesar 0,000 < 0,05. Sistem pengendalian intern merupakan kebijakan dan prosedur yang dijalankan oleh pengawas, pengurus,
dan manajemen koperasi untuk
mengamankan kekayaan koperasi dan memberikan keyakinan yang memadai
tentang keandalan informasi laporan
pertanggungjawaban keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam menunjang efektifitas dan efisiensi operasi. Semakin besar modal yang dimiliki
oleh suatu koperasi maka sistem
pengendalian internnya juga akan semakin berkualitas.
Sistem pengendalian intern pada setiap koperasi tentu akan berbeda karena ukuran koperasi dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing koperasi berbeda. Kualitas sistem pengendalian intern suatu organisasi tidak terlepas dari adanya mutu karyawan. Peran karyawan
dalam organisasi sangat besar
pengaruhnya, karena suatu sistem yang berkualitas akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan kualitas dan mutu karyawan yang ada di dalamnya. Khususnya kualitas pribadi sumber daya manusia yaitu tingkat pendidikan dari sumber daya manusia yang bersangkutan (Paramita, 2014). Menurut Hasmawati (2012) semakin besar koperasi mencerminkan bahwa kegiatan usaha yang dikelola koperasi juga semakin besar, sebaliknya koperasi kecil menandakan kegiatan usaha yang dikelola masih bersifat sederhana dan masih dalam lingkup kecil. Oleh karena itu sistem pengendalian yang diterapkan pada koperasi tersebut juga berbeda-beda.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan atas hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu : (1) Tingkat pendidikan karyawan secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Tingkat pendidikan karyawan akan memperlihatkan kemampuan yang dimiliki karyawan dalam menjalankan sistem tersebut karena suatu sistem akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan mutu karyawan yang baik, (2) Jenis koperasi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Jenis koperasi yang ada dibedakan berdasarkan perbedaan aktivitas, kepentingan dan kebutuhan anggotanya. Jenis koperasi yang satu dengan yang lainnya tentu akan berbeda karena kegiatan operasional yang ada dalam koperasi tersebut berbeda. Dari perbedaan tersebut, maka dibutuhkan sistem pengendalian intern yang sesuai untuk masing-masing aktivitas, kepentingan, dan kebutuhannya.
Berdasarkan berbedaan kegiatan usaha tersebut maka sistem pengendalian yang digunakan juga akan berbeda, (3)
Ukuran koperasi secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Ukuran koperasi terbagi dalam 3 kategori yaitu koperasi yang berukuran besar, menengah, dan kecil. Perbedaan ukuran tersebut dilihat dari jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing koperasi. Koperasi yang berukuran besar akan memiliki sistem pengendalian intern yang lebih baik dan terkontrol dalam menjalankan kegiatan usahanya dari pada koperasi yang berukuran menengah atau kecil. Sehingga kualitas sistem pengendalian intern yang diterapkan oleh koperasi yang berukuran besar, menengah atau kecil akan berbeda, dan (4) Tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, dan ukuran koperasi secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Jadi ketiga variabel bebas mampu
secara bersamaan menjelaskan dan
memprediksi variabel dependen.
Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka dapat ditarik suatu saran yaitu sebaiknya
pada penelitian selanjutnya dapat
mengembangkan model dengan
menambahkan variabel prestasi koperasi yang dapat dianalisis untuk mengetahui perbedaan kualitas sistem pengendalian intern, serta dapat memperluas wilayah penelitian. Selain itu, kepada peneliti lain yang bermaksud melakukan penelitian dengan judul yang sama diharapkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan mendalam terkait dengan pengaruh tingkat pendidikan karyawan, jenis koperasi, dan ukuran koperasi terhadap kualitas sistem
pengendalian intern, dan dapat
menggunakan alat analisis lain untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing variabel terhadap kualitas sistem pengendalian intern. Serta penelitian ini perlu dikembangkan dengan mengkaji faktor lain yang dapat mempengaruhi sistem pengendalian intern yang diterapkan pada koperasi.
DAFTAR PUSTAKA
Amrazi Zakso. 2010. Pengaruh Tingkat
Pendidikan dan
Pengalaman.e-Journal Bisma Universitas
Pendidikan Ganesha Jurusan Manajemen.
Hasmawati, Raharja Novrina. 2012.
Pengaruh Ukuran Koperasi dan Jenis Koperasi Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern
(Studi Kasus pada Koperasi di Semarang). Ejournal Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012 Univrsitas Diponegoro Semarang.
Kartasapoetra, G, dkk. 2007. Koperasi
Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Kharis, Abdul. 2010. Pengaruh Kualitas
Sumber Daya Manusia Terhadap
Pelaksanaan Sistem
Pengendalian Intern. Pada PT.
Avia Avian Sidoarjo. Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Pembangunan Nasional Veteran. Jawa Timur.
Komala. Siti, Gede Adi Yuniarta, dan I Made Pradana Adiputra.2014.
Analisis Perbedaan Ukuran Koperasi dan Jenis Koperasi Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern. E-Journal
Volume 2, Nomor 2, 2014. Universitas Pendidikan Ganesha.
Mustikasari, Hatma Dewanti. (2015).
Pengaruh Ukuran Koperasi, Jenis Koperasi, dan Tingkat Pendidikan Karyawan terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern Koperasi (Studi pada
Koperasi-koperasi di Kabupaten
Purbalingga).
Nawawi, Handari. 2001. Manajemen
Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Bumi Aksara.
Palupi. Astri Ken. 2011. Pengaruh Ukuran
Koperasi dan Jenis Koperasi Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern (Studi Kasus
pada Koperasi di Purworejo).
Skripsi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Unversitas Diponegoro Semarang.
Pratama, Insan Pramudya. 2009. Pengaruh
Teknologi Komputer Dan Pendidikan Karyawan Terhadap Pengendalian Intern (Studi Empiris pada Perum Pegadaian Se-Eks Keresidenan Surakarta). Purdantil, Ni Made, dkk. 2014. Pengaruh
Tingkat Pendidikan Karyawan Terhadap Kualitas Sistem Pengendalian Intern Pada Koperasi Serba Usaha. Vol: 4 No:
1 Tahun: 2014. Universitass Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia.
Republik Indonesia. 2008. Peraturan
Pemerintah No. 21. Tentang
Pedoman Pengawasan Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam Koperasi.
Republik Indonesia. 1992. Undang-Undang No. 25. Tentang Perkoperasian. Republik Indonesia. 2008. Undang-undang
No. 20. Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
Rusdiyono. 2009. Perkembangan
Pengaturan Pendirian Koperasi di Indonesia. Tesis Universitas Diponegoro Semarang
Soekidjo, Notoatmodjo. 2003.
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Sudarwanto, Adenk. 2012. Akuntansi
Koperasi Edisi 1. Semarang:
Graha Ilmu
Tirtarahardja, Umar dan La Sulo. 2008.
Pengantar Pendidikan. Jakarta: