Mukti et al.Aktivitas. .. Pharmacoscript Volume 1 No. 1, Februari 2018
AKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL BONGGOL NANAS (Ananas cosmosus L) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans
Abim Mukti1*, Richa Mardianingrum1, Ummy Mardiana2 1
Program Studi Farmasi Universitas Perjuangan, Tasikmalaya, Indonesia 2
Program Studi Analis Kesehatan STIKes Bakti Tunas Husada, Tasikmalaya, Indonesia e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Bonggol nanas (Ananas comosus. L) adalah bagian buangan dari tanaman buah nanas yang jarang dikonsumsi dan seringkali dibuang. Bonggol nanas mengandung enzim bromelin dan senyawa golongan fenol yaitu flavonoid yang mempunyai aktivitas daya hambat terhadap bakteri Streptococcus mutans. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas daya hambat ekstrak bonggol nanas pada berbagai konsentrasi dan mengetahui konsentrasi optimum dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Ekstrak bonggol nanas dibuat dengan menggunakan metode maserasi. Metode yang digunakan dalam uji daya hambat menggunakan metode difusi Kirby bauer cakram dengan enam kontrol perlakuan. Enam kontrol terdiri dari ekstrak bonggol nanas konsentrsi 100%, 75%, 50%, 25%, kontrol + dan kontrol -. Hasil penelitian ini menunjukan ekstrak bonggol nanas Konsentrasi 100% memiliki zona hambat dengan kategori sangat kuat. Penelitain ini membuktikan bahwa ekstrak bonggol nanas mempunyai daya hambat terhadap Streptococcus mutans.
Kata kunci: Ekstrak bonggol nanas, zona hambat, Streptococcus mutans. ABSTRACT
Pineapple beetle (Ananas comosus. L) is the part that is removed from pineapple fruit plants that are rarely consumed and often thrown away. Pineapple beetles contain bromelin enzymes and phenol compounds namely flavonoids which have inhibitory activity against Streptococcus mutans. The purpose of this study was to determine the inhibitory activity of hump pineapple extract at various concentrations and determine the optimal concentration in inhibiting the growth of Streptococcus mutans. Pineapple hump extract is made using maceration method. The method used in the inhibition test uses the Kirby Bauer disc diffusion method with six treatment controls. Six controls consisted of pineapple hump extract concentration of 100%, 75%, 50%, 25%, control + and control -. The results of this study indicate that the concentration of pineapple hump extract 100% has inhibitory zones with a very strong category. This research proves that pineapple hump extract has inhibitory power against Streptococcus mutans.
Key words: Pineapple weevil extract, inhibitory zone, Streptococcus mutans.
Pharmacoscript Volume 1 No. 1. Februari 2018
PENDAHULUAN
Karies merupakan kerusakan gigi yang progresif yang penyebab utama terjadinya karies adalah bakteri Streptococcus mutans yang menyebabkan terjadinya demineralisasi gigi akibat produk yang dihasilkannya (Ariestanto, 2012).
S. mutans merupakan bakteri gram positif non motil dan Anaerob Fakultatif (Marsela, 2015). Habitat utamanya pada mulut, faring dan merupakan penyumbang utama kerusakan gigi (Thodar, 2014). S.
mutans mempunyai kemampuan untuk
menghasilkan asam, asam yang di hasilkan oleh S. mutans dapat mempercepat pematangan plak melalui interaksi antara protein permukaan S. mutans dengan glukan yang berakibat penurunan pH pada permukaan gigi (Gani, 2009).
Berbagai metode untuk menurunkan angka kejadian karies telah dilakukan, salah satunya dengan menghambat pertumbuhan bakteri penyabab karies dengan memanfaatkan sejumlah tanaman salah satunya adalah nanas. Nanas termasuk buah yang kaya akan mineral baik makro maupun mikro, zat organik, air dan juga vitamin, kandungan klor, iodium, fenol dan enzim bromealin pada nanas mempunyai efek menekan pertumbuhan bakteri (Rakhmanda, 2008).
Nanas merupakan salah satu jenis buah yang disukai masyarakat lokal maupun dunia, karena rasa buahnya yang manis dan
sedikit asam menjadikan nanas buah favorit semua orang (Annisa, 2015). Nanas memiliki bagian-bagian buangan yang tidak di makan, salah satunya bonggol nanas yang belum dimanfaatkan secara optimal, padahal bagian bonggol mengandung beberapa komponen diantaranya flavonoid dan enzim bromealin (Umarudin dkk, 2018).
Flavonoid merupakan senyawa fitokimia fenolik yang mempunyai efek antibakteri (Umarudin dkk, 2018), antioksidan, antiinflamasi dan antibiotik (Resi dan Andis, 2009). Menurut Ali dkk (2015) enzim bromealin juga dimanfaatkan sebagai antibiotik, antibakteri, antiinflamasi, antikoagulan, antitumor dan anti kanker. Selain itu enzim bromealin juga digunakan untuk mencegah pembekuan darah dan banyak kegunaan lainya (Ahamed, 2016).
Berdasarkan uraian di atas belum adanya penelitian tentang aktivitas daya hambat ekstrak etanol bonggol nanas terhadap bakteri S. mutans, maka dari itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang aktivitas daya hambat ekstrak etanol bonggol nanas (Ananas cosmosus L) terhadap bakteri S. mutans.
METODE PENELITIAN Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Toples kaca, corong, blender, rotary evaporator, alat gelas, desikator, autoklaf, oven, incubator, almunium foil,
Mukti et al.Aktivitas.... Pharmacoscript Volume 1 No. 1, Februari 2018
kertas payung, tali kasur, botol kaca, cawan petri.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : buah nanas jenis cayenne (yang diambil bonggolnya saja), etanol 96%, kertas saring, bakteri murni S. mutans, Nutrient Agar, aquadest, pereaksi HCl 2 N, larutan besi (III) klorida 1%, larutan gelatin 1%, eter, larutan vanili 10%, NaOH, asam sulfat pekat, pereaksi liberman-buchard, pereaksi dragendroff dan mayer, antibiotik kloramfenikol, serbuk Zn, magnesium dan amil alkohol.
Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium, dengan menggunakan metode
difusi Kirby Bauer. Sampel buah nanas jenis Cayenne yang hanya diambil bonggolnya diperoleh dari pertanian nanas dari kota Subang Jawa Barat, sampel dikupas, dirajang dicuci dan dikeringkan dengan cara di oven. Setelah itu dimaserasi dengan etanol 96% selama 3 hari dengan perbandingan 1:7. Hasil maserasi di rotary evaporator dan selanjutnya diuapkan guna mendapat ekstrak kental bonggol nanas.
Aktiitas daya hambat ekstrak etanol bonggol nanas terhadap bakteri S. Mutans dengan perlakuan 6 kontrol uji yang terdiri dari 3 kertas cakram dalam satu media uji.
Tabel 1. Formulasi ekstrak bonggol nanas
Formulasi Ekstrak Bonggol Nanas
Perlakuan Uji Ekstrak Bonggol Nanas PI PII PIII Kontrol Positif (kloramfenikol) P+I P+II P+III
Kontrol Negatif (Aquades) P0I P0II P0III
Konsentrasi 25% P1I P1II P1III
Konsentrasi 50% P2I P2II P2III
Konsentrsi 75% P3I P3II P3III
Konsentrasi 100% P4I P4II P4III
Keterangan :
P : Perlakuan I,II,II : Pengulangan
P+ : Perlakuan Kontrol Positif (kloramfenikol) P0 : Perlakuan Kontrol Negatif (Akuades)
PI : Perlakuan konsentrasi 25% ekstrak bonggol nanas P2 : Perlakuan konsentrasi 50% ekstrak bonggol nanas P3 : Perlakuan konsentrasi 75% ekstrak bonggol nanas P4 : Perlakuan konsentrasi 100% esktrak bonggol nanas
Pharmacoscript Volume 1 No. 1. Februari 2018
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil skrining fitokimia yang dilakukan terhadap ekstrak dan seruk bonggol nanas
bisa dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 2. Hasil skrining fitokimia
No Golongan Parameter Teori Pengamatan Hasil
A Alkaloid Sampel + HCl2N + preaksi dragendorff Terbentuknya endapan jingga + B Flavonoid Sampel + 2ml HCl2N + pita Mg + amil alkohol Terbentuknya warna merah bata
Terbentuknya cincin coklat + Monoterpenoi d & Sesquiterpenoi d _ C Sampel + larutan vanili 10% + asam sulfat pekat Tidak terbentuknya warna-warna D Tanin Sampel + larutan besi (III) klorida
1% + larutan gelatin 1% Tidak terbentuknya warna biru tua/biru kehitaman Tidak terbentuknya endapan putih _ E Saponin Sampel + 1ml air suling + dikocok kuat-kuat + Asam klorida Menghasilkan busa 1cm
Busa tidak hilang + F Steroid & Triterpenoid Sampel + preaksi Lieberman_buchard Tidak terbentuknya warna biru & Ungu -
Mukti et al.Aktivitas.... Pharmacoscript Volume 1 No. 1, Februari 2018
Hasil uji skrining fitokimia pada ekstrak dan simplisia bonggol nanas: a) positif mengandung alkaloid, b) positif mengandung flavonoid, c) negatif tidak mengandung monoterpenoid dan sesquiterpenoid, d) tidak mengandung tannin, e) positif mengandung saponin, f) negatif tidak mengandung steroid dan triterpenoid.
Dari hasil penelitian uji aktivitas daya hambat ekstrak bonggol nanas (Anannas cosmosul L). terhadap bakteri S. mutans bakteri penyebab karies gigi, didapatkan hasil, bahwa ekstrak bonggol nanas
memiliki daya hambat terhadap bakteri S. mutans, daya hambat bisa diketahui setelah dilakukanya penanaman kertas cakram yang telah di rendam terlebih dahulu dengan ekstrak bonggol nanas dan diletakan ke permukaan media Nutrient agar yang telah di tanami suspense bakteri S. mutans, hasil bisa diketahui setelah dilakukanya inkubasi selama 24 jam dengan suhu 37oC setelah itu dilakukan pengamatan berupa zona bening yang menjauhi kertas cakram, pengukuran zona hambat dilakukan dengan menggunkan penggaris berskala mm kemudian di rata ratakan
a b c
d e f
Gambar 1. Hasil uji daya hambat
Gambar 1 hasil zona hambat ekstrak bonggol nanas terhadap bakteri S. mutans dengan variasi konsentrasi: a) konsentrasi
100%, b) konsentrasi 75%, c) konsentrasi 50%, d) konsentrasi 25%, e) kontrol positif dan f) kontrol negatif.
Pharmacoscript Volume 1 No. 1. Februari 2018
Pada Gambar 1 terlihat zona bening yang menjauhi kertas cakram pada berbagai konsentrasi. Hasil penelitian dengan 6 kontrol perlakuan yang sama menunjukan
diameter zona hambat yang berbeda, sampel diujikan pada satu cawan petri yaitu 3 kertas cakram dengan sampel yang sama. Hasil penelitian bisa dilihat pada Tabel di bawa
Tabel 3. Hasil uji aktivitas
Kontrol Pengulangan I II III Rata-rata zona hambat (mm) SD Konsentrasi 100% 28 28 20 25 3,7 Konsentrasi 75% 20 19 18 19 0,8 Konsentrasi 50% 20 18 18 18 1,1 Konsentrasi 25% 16 17 16 16 0,5 Kontrol + 26 26 27 26 0,5 Kontrol – 0 0 0 0 0
Pada keterangan Tabel di Kontrol positif kloramfenikol memiliki zona hambat paling besar yaitu 26 mm dengan standar deviasi 0,5 mm dan tidak ada zona hambat pada kontrol negatif. Ekstrak bonggol nanas konsentrasi 100% memiliki rata-rata diameter zona hambat paling besar diantara konsentrasi ekstrak yang lainya yaitu 25 mm dengan standar deviasi 3,7 mm, diikuti oleh konsentrasi 75% 19 mm dengan standar deviasi 0,8 mm, konsentrasi 50% 18 mm dengan standar deviasi 1,1 mm dan konsentrasi 25% memiliki rata-rata zona
hambat paling kecil yaitu sebesar 16 mm dengan standar deviasi 0,5mm.
Mukti et al.Aktivitas.... Pharmacoscript Volume 1 No. 1, Februari 2018
Keterangan Gambar : KN : Kontrol Negatif KP : Kontrol Positif
Konsentrasi : 25%, 50%, 75% dan 100%.
Gambar 2. Diagram Batang Zona Hambat Terhadap Bakteri S. mutans Dari hasil penelitian aktivitas daya
hambat ekstrak bonggol nanas terhadap bakteri S. mutans, ekstrak bonggol nanas memiliki aktivitas daya hambat terhadap bakteri S. mutans dilihat dari semua konsentrasi ekstrak bonggol nanas yang memiliki zona hambat. Menurut Davis dan Stout dalam Jannata (2014) klasifikasi respon hambatan pertumbuhan bakteri yang dilihat berdasarkan diameter zona bening terdiri atas 4 kelompok yaitu respon lemah (diameter ≤5mm), sedang (diameter 5-10), kuat (diameter 10-20), sangat kuat (diameter ≥20).
Hasil penelitian ini menunjukan perbedaan yang bermakna antara setiap kontrol yang telah dilakukan. Kontrol positif dengan penggunaan kloramfenikol memeiliki rata-rata diameter zona hambat paling besar yaitu 26 mm dengan standar deviasi 0,5 mm dan tergolong zona hambat
sangat kuat, alasan dipilihnya kloramfenikol sebagai kontrol positif dikarenakan klramfenikol adalah antibakteri spektrum luas dengan mekanisme kerja menghambat sintesis protein atau bersifat bakteriostatik. Kontrol Negatif dengan menggunakan sediaan yang bersifat netral dan tidak beracun yaitu akuades, tidak memiliki zona hambat. Konsentrsi esktrak bonggol nanas 100% memiliki rata-rata diameter zona hambat terbesar yaitu 25 mm termasuk kategori sangat kuat dengan standar deviasi 3,7 mm, diikuti ekstrak bonggol nanas konsentrasi 75% sebesar 19 mm dengan standar deviasi 0,8 mm, konsentrsi 50% sebesar 18 mm dengan standar deviasi 0,1 mm, dan konsentrsi 25% sebesar 16 mm dengan standar deviasi 0,5 mm.
30 25 20 15 10 26 25 19 16 18 5 0 KN KP 25% 50% 75% 100% Konsentrasi Z ona H amba t
Pharmacoscript Volume 1 No. 1. Februari 2018
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian uji aktivitas daya hambat ekstrak bonggol nanas (Ananas cosmosus L) terhadap bakteri S. mutans dapat disimpulkan bahwa:
1. Ekstrak bonggol nanas dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans pada konsentrsi 100%, 75%, 50% dan 25%.
2. Dilihat dari semua konsentrasi yang memberikan perentase yang positif dengan memberikan respon berupa zona hambat, didapat hasil zona hambat optimum sebesar 25,3 mm pada konsentrsi 100% dan menunjukan bahwa diameter zona hambat tersebut dikategorikan sebagai zona hambat sangat kuat.
Ekstrak bonggol nanas mengandung senyawa metabolit skunder golongan alkaloid, flavonoid dan saponin.
DAFTAR PUSTAKA
Ahamed, T, S., Priya, V, V., Gayatri, R., Geetha, R, V. 2016 . Evaluation of Anti Microbial Activity of Pineapple
Extract against Selected Oral
Pathogen. J. Pharm. Sci. & Res : 491-492.
Ali A, Milala M A, Gulani I A. 2015 . Antimicrobial effects of crude bromelin extracted from pineapple
fruit (Ananas comosus (Linn.) Merr.) . Advances in Biochemistry: 27.
Annisa Audies. 2015. Uji Efektifitas Anti- Bakteri Ekstrak Kulit Nanas (Ananas
comosus L.Merr) Terhadap
Pertumbuhan Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi. Skripsi. Universitas Andalas. Padang
Ardisela Dawud. Juli 2010. Pengaruh Dosis
Rootone-F Terhadap Pertumbuhan
Crown Tanaman Nenas (Ananas
comosus). CEFARS : Jurnal
Agribisnis dan Pengembangan Wilayah Vol. 1 No. 2.
Ariestanto dio. 2012. Potensi Pemanfaatan
Flavonoid Limbo Kulit Kakao
(Theobro ma Cacao L.) sebagai
Bahan Tambahan Pembuatan
Permen Antikariogenik. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Airlangga. Surabaya.
BIMKGI. 2012. Surat Keputusan No.1
/Sekjen. BIMKG. Departemen
Farmakologi dan Terapi FKUI. Vol. 1 No. 1 Edisi Oktober. Farmakologi dan Terapi. Ed. 5. Dorlan Newman. 2010. Kamus Kedokteran Dorlan. Jakarta. EGC
D. Lawal. 2013. Medicinal, Pharmacological and Phytochemical Potentials of Annona comsus Linn.
Mukti et al.Aktivitas.... Pharmacoscript Volume 1 No. 1, Februari 2018
Peel – A Review. Bayero Journal of Pure and Applied Sciences. Vol. 6. Gani Basri A. 2009. Molekul Adesin dan
Reseptor Spesifik Streptococcus
mutans. Aceh: Program Studi
Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Univ. Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh. Cakradonya Dent.J.Vol. 2.
Jannata, Rabbani Hafidata. Achmad Gunadi, Tantin Ermawati (2014). Daya Antibakteri Ekstrak Kulit Apel Manalagi (Malus sylvestris Mill.)
Terhadap Pertumbuhan
Streptococcus mutans. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. e-Jurnal Pustaka Kesehatan, Vol. 2, No.1, Hlm. 23-28.
Marsela S. 2015. Pengaruh Mengonsumsi
Buah Nanas (Ananas comosus
L.Merr) dan Buah Pir (Pyrus brestsneider).
Rakhmanda, Adi Putra. 2008. Perbandingan Efek Antibakteri Jus Nanas (Ananas comosus L.Merr) Pada Berbagai Konsentrasi Terhadap Streptococcus Mutans. Artikel Karya Tulis Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Rina Karina. 2013. Pengaruh Ekstrak Bawang Putih (Allium salivum)
Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Streptococcus mutans Secara In Vitro. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta.
Thodar k. 2012. The Cell Envelope: Capsules, Cell Walls And Cell
Membranes Diakses pada tanggal 17
Oktober 2014.
Umarudin, Rinda Yunia Sari, Ballighul Fal, Syukrianto. 2018. Efektivitas Daya
Hambat Ekstrak Etanol 96%
Bonggol Nanas (Ananas Comosus L)
Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Staphylococcus aureus. Jurnal.
Akademi Farmasi Surabaya. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri.