• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deradikalisasi paham keagamaan melalui pendidikan Islam moderat: Study pemikiran Abdullah Ahmed An-Naim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Deradikalisasi paham keagamaan melalui pendidikan Islam moderat: Study pemikiran Abdullah Ahmed An-Naim"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

(1)i. DERADIKALISASI PAHAM KEAGAMAAN MELALUI PENDIDIKAN ISLAM MODERAT: STUDY PEMIKIRAN ABDULLAH AHMED AN-NAIM TESIS Oleh : YOVI NUR ROHMAN NIM. 16771009. Dosen Pembimbing : Dr. H. M. Luthfi Mustofa, M.Ag NIP. 19730710 200003 1 003. Dr. H. M. Hadi Masruri, Lc. M.Ag NIP : 19670816 200312 1 002. PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2019.

(2) ii. DERADIKALISASI PAHAM KEAGAMAAN MELALUI PENDIDIKAN ISLAM MODERAT: STUDY PEMIKIRAN ABDULLAH AHMED AN-NAIM. TESIS Diajukan Kepada: Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi salah satu peryaratan dalam Menyelesaikan Program Magister Pendidikan Agama Islam. OLEH : YOVI NUR ROHMAN NIM.16771009. PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2019.

(3) iii. LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN TESIS Tesis dengan judul Deradikalisasi Paham Keagamaan Melalui Pendidikan Islam Moderat Study Pemikiran Abdullah Ahmed An-Naim ini telah diperiksa dan disetujui untuk diuji,. Malang, 12 Juni 2019. Pembimbing I. Dr. H. M. Luthfi Mustofa, M.Ag NIP. 19730710 200003 1 003 Pembimbing II. Dr. H. M. Hadi Masruri, Lc. M.Ag NIP : 19670816 200312 1 002. Mengetahui, Ketua Program Magister Pendidikan Agama Islam. Dr. H. Muhammad Asrori, M.Ag NIP. 19691020 200003 1 001.

(4) iv. LEMBAR PENGESAHAN UJIAN TESIS Tesis dengan judul Deradikalisasi Paham Keagamaan Melalui Pendidikan Islam Moderat: Study Pemikiran Abdullah Ahmed An-Naim ini telah di uji dan dipertahankan didepan dewan penguji sidang pada tanggal 28 Juni 2019. Dewan Penguji, Malang,…………….2019 Ketua Penguji Dr. H. Mulyono, M. Ag NIP. 19660626 200501 1 003 Malang,…………….2019. (. ). (. ). (. ). (. ). Penguji Utama Dr. H. Muhammad Asrori, M.Ag NIP. 19691020 200003 1 001 Malang,…………….2019 Pembimbing I Dr. H. M. Luthfi Mustofa, M.Ag NIP. 19730710 200003 1 003 Malang,…………….2019 Pembimbing II Dr. H. M. Hadi Masruri, Lc. M.Ag NIP. 19670816 200312 1 002. Mengetahui Direktur Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Prof. Dr, Mulyadi M.Pd.I NIP. 19550717 198203 1 005.

(5) v. SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA ILMIAH. Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama. : Yovi Nur Rohman. NIM. : 16771009. Program Studi. : Magister Pendidikan Agama Islam. Judul Tesis. : DERADIKALISASI PAHAM KEAGAMAAN MELALUI PENDIDIKAN ISLAM MODERAT: STUDY PEMIKIRAN ABDULLAH AHMED ANNAIM. Menyatakan bahwa tesis ini benar-benar karya saya sendiri, bukan plagiasi dari karya tulis orang lain baik sebagian atau keseluruhan. Pendapat atau temuan penelitian orang lain yang terdapat dalam tesis ini dikutip atau dirujuk sesuai kode etik penulisan karya ilmiah. Apabila dikemudian hari ternyata dalam tesis ini terbukti ada unsur-unsur plagiasi, maka saya bersedia untuk diproses sesuai peraturan yang berlaku. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan tanpa paksaan dari siapapun. Malang, 13 Juni 2019 Hormat Saya,. Yovi Nur Rohman NIM. 16771009.

(6) vi. MOTTO. ْ ْ ُ َ ُ ََْ ً َ َ َ ْ ََْ َُ ُ ْ ُ َ ُ ُ ْ َ ْ َ َ َ‫َ ُ ل‬ َ َ ُ ُ ً ‫نش‬ َ‫) اقرأ‬٣١( ‫ورا‬ َ ‫ان ألزمناه طائِره ف ِي عنقِهِِۖ ونخ ِرج له يوم القِيامةِ كِتابا يلقاه م‬ ٍ ‫وك إِنس‬ َ َْ َ َْ َْ َ َْ ٰ َ َ َ َ َ ً ‫ك َحس‬ )٣١( ‫ِيبا‬ ‫سك اليوم علي‬ ِ ‫كِتابك كفي بِنف‬. 13. Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. 14. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu"..

(7) vii. ‫بسم الله الرحمن الرحيم‬ KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah tercurahkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, dan pengetahuan yang telah dilimpahkan kepada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini tepat waktu. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Rasulullah SAW. Tesis ini terselesaikan tidak lepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu saya ucapkan Jazakumullah ahsan al-jaza’ kepada yang terhormat : 1. Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag selaku Rektor Universias Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2. Prof. Dr. Mulyadi, M.Pd.I selaku Direktur Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 3. Dr. H. Luthfi Mustofa, M.Ag dan Dr. H. M. Hadi Masruri. Lc. M.Ag selaku dosen pembimbing tesis. 4. Segenap Dosen dan Staf Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah memberikan kontribusi ilmu selama studi di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 5. Segenap Kyai pondok pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang, selaku pemberi motivasi dan teladan bagi kami para santri 6. Murobbi ruh (KH. Muhammad Qosim) selalaku guru Mursyid thoriqoh Syattariyah yang selalu membimbing hati kami dalam menghadapi selaku kesulitan menyelesaikan thesis ini. 7. Ayah dan Ibu tersayang yang telah mengasuh, memberikan semangat dan biaya untuk terus belajar, adik–adikku, orang terdekatku, dan seluruh teman-temanku yang terus memberi semangat dan motivasi untuk menyelesaikan tesis ini..

(8) viii. 8. Istri tercinta yang selalu mendampingi dalam menyelesaikan thesis ini. Peneliti menyadari bahwa tesis ini jauh dari kata sempurna. Karna, tulisan yang sempurna hanyalah Al-Quran (kitab Allah) itu saja, walaupun al-Quran sudah sempurna masih tidak lepas dari kritikan orang-orang kafir, mereka berkata waqoolu in hadza illa assatirul awwalin (al-Quran ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu) jika al-Quran yang sudah sempurna saja tidak lepas dari kritikan orang-orang kafir, apalagi hanya sekedar tulisan saya ini. Oleh karena itu peneliti berharap sumbangan pemikiran, kritik, dan saran konstruktif demi kesempurnaan tesis ini. Semoga amal ibadah kita diterima dan kita termasuk imamal muttaqin.. Malang, 13 Juni 2019 Penulis. Yovi Nur Rohman NIM. 16771009.

(9) ix. PEDOMAN TRANSLITERASI. A. Ketentuan Umum Transliterasi ialah pemindahalihan tulisan Arab ke dalam tulisan Indonesia (Latin), bukan terjemahan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Termasuk dalam kategori ini ialah nama Arab dari Bangsa Arab. Sedangkan nama Arab dari bangsa selain Arab ditulis sebagaimana ejaan bahasa nasionalnya, atau sebagaimana yang tertulis dalam buku yang menjadi rujukan. Penulisan judul buku dalam footnote maupun daftar pustaka, tetap menggunakan ketentuan transliterasi. Transliterasi yang digunakan Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merujuk pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 158/1987 dan 0543b/U/1987, tanggal 22 Januari 1988. B. Konsonan. = ‫= ب‬ ‫= ت‬ ‫= ث‬ ‫ا‬. ‫ج‬ ‫ح‬ ‫خ‬ ‫د‬. = = = =. Tidak dilambangkan b t ṣ j ḥ kh d. ‫ض‬ ‫ط‬ ‫ظ‬ ‫ع‬. = = = =. ‫غ‬ ‫ف‬ ‫ق‬ ‫ك‬. = = = =. ḍ ṭ ẓ ‘ (koma menghadap ke atas) g f q k.

(10) x. ‫ذ‬ ‫ر‬ ‫ز‬ ‫س‬ ‫ش‬ ‫ص‬. = = = = = =. ż r z s sy ṣ. ‫ل‬ ‫م‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫ه‬ ‫ي‬. = = = = = =. l m n w h y. Hamzah (‫ )ء‬yang sering dilambangkan dengan alif, apabila terletak di awal kata maka dalam transliterasinya mengikuti vokalnya, tidak dilambangkan, namun apabila terletak di tengah atau akhir kata, maka dilambangkan dengan tanda koma di atas (’), berbalik dengan koma (‘) untuk pegganti lambang “‫”ع‬. C. Vokal, Panjang dan Diftong Setiap penulisan bahasa Arab dalam bentuk tulisan latin vokal fatḥah ditulis dengan “a”, kasrah dengan “i”, ḍammah dengan “u”, sedangkan bacaan panjang masing-masing ditulis dengan cara berikut: - Vokal (a) panjang ā Misalnya ‫قال‬ menjadi qāla - Vokal (i) panjang ī Misalnya ‫قيل‬ menjadi qīla - Vokal (u) panjang ū Misalnya ‫دون‬ menjadi dūna Khusus untuk ya’ nisbat, maka ditulis dengan “i”. Adapun suara diftong, wawu dan ya’ setelah fatḥah ditulis dengan “aw” dan “ay”. Perhatikan contoh berikut: - Diftong (aw) = ‫ـو‬ Misalnya ‫قول‬ menjadi qawlun - Diftong(ay) = ‫ـيـ‬ Misalnya ‫خير‬ menjadi khayrun Bunyi hidup (harakat) huruf konsonan akhir pada sebuah kata tidak dinyatakan dan transliterasi. Transliterasi hanya berlaku pada huruf konsonan akhir tersebut..

(11) xi. Sedangkan bunyi (hidup) huruf akhir tersebut tidak boleh ditransliterasikan. Dengan demikian, kaidah gramatika Arab tidak berlaku untuk kata, ungkapan atau kalimat yang dinyatakan dalam bentuk transliterasi latin. D. Ta’ marbūṭhah (‫)ة‬ Ta’ marbūṭhah (‫ )ة‬ditransliterasikan dengan “t” jika berada di tengah kalimat. Tetapi apabila ta’ marbūṭhah tersebut berada di akhir kalimat, maka ditransliterasikan dengan menggunakan “h” misalnya ‫ الرسالة المدرسة‬menjadi al-risalatlil al-mudarrisah, atau apabila berada di tengah-tengah kalimat yang terdiri dari susunan muḍlāf dan muḍlāf ilayh, maka ditransliterasikan dengan menggunakan “t” yang disambung dengan kalimat berikutnya, misalnya ‫فى رحمة الله‬menjadi fi raḥmatillāh. E. Kata Sandang dan Lafaẓ al-Jalālah Kata sandang berupa “al” (‫ )ال‬ditulis dengan huruf kecil, kecuali terletak di awal kalimat. Sedangkan “al” dalam lafaẓ al-jalālah yang berada di tengah-tengah kalimat disandarkan (iẓāfah) maka dihilangkan. F. Nama dan Kata Arab Terindonesiakan Pada pinsipnya setiap kata yang berasal dari bahasa Arab harus ditulis dengan menggunakan sistem transliterasi. Apabila kata tersebut merupakan nama Arab dari orang Indonesia atau bahasa Arab yang sudah terindonesiakan, tidak perlu ditulis dengan menggunakan sistem transliterasi..

(12) xii. DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL……………………………………………………. i. HALAMAN JUDUL…………………………………………………….... ii. LEMBAR PERSETUJUAN…………………………………………….... iii. LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………….. Iv. LEMBAR PERNYATAAN………………………………………………. V. MOTTO…………………………………………………………………..... Vi. KATA PENGANTAR…………………………………………………….. vii. PEDOMAN TRANSLITERASI ……………………………………........ Ix DAFTAR ISI ……………………………………………………………... xii DAFTAR TABEL ………………………………………………………... Xv ABSTRAK………………………………………………………………… xvi BAB I: PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A.. Kontek Penelitian ................................................................................ 1. B.. Rumusan Masalah ............................................................................. 12. C.. Tujuan Penelitian............................................................................... 12. D.. Manfaat Penelitian............................................................................. 13. E.. Originalitas Penelitian ....................................................................... 14. F.. Definisi Operasional .......................................................................... 18. G.. Sistematika Pembahasan ................................................................... 19. BAB II: KAJIAN PUSTAKA ...................................................................... 21 A.. Radikalisme ....................................................................................... 21 1. Pengertian Radikalimse ................................................................. 21 2. Indikasi-indikasi Radikalisme ....................................................... 22 3. Faktor-faktor Penyebab Radikalisme ............................................ 27. B.. Deradikalisasi .................................................................................... 30 1. Pengertian Deradikalisasi .............................................................. 30 2. Tujuan Deradikalisasi .................................................................... 31 3. Prinsip-prinsip Deradikalisasi........................................................ 32 4. Pendekatan Deradikalisasi ............................................................. 34.

(13) xiii. 5. Langkah-langkah Deradikalisasi ................................................... 36 C.. Pendidikan Islam ............................................................................... 40 1. Pengertian Pendidikan Islam ......................................................... 40 2. Tujuan Pendidikan Islam ............................................................... 43 3. Kurikulum Pendidikan Islam ......................................................... 45 4. Nilai-nilai Pendidikan Islam .......................................................... 47. D.. Pendidikan Islam Moderat ................................................................ 56 1. Konsep Islam Moderat ................................................................... 56 2. Konsep Islam Moderat Menurut NU dan Muhammadiyah ........... 59 3. Implementasi Islam Moderat dalam Pendidikan Islam ................. 62. BAB III: METODE PENELITIAN ............................................................. 66 A.. Pendekatan dan Jenis Penelitian ........................................................ 66. B.. Jenis Data dan Sumber data .............................................................. 67. C.. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 68. D.. Analisis Data ..................................................................................... 70. BAB IV: PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN ........................ 73 A.. Biografi Abdullah Ahmed An-Naim ................................................. 73. B.. Metodologi Pemikiran Abdullah Ahmed An-Naim .......................... 75. C.. Deradikalisasi Pemahaman Agama Abdullah Ahmed An-Naim ...... 83 1. Dekontruksi Syariah Historis Menuju Syariah Modern ................ 84 2. Pesan Ayat-ayat Makkiyah yang Abadi dan Fundamental ............ 88 3. Pemahaman yang Benar tentang Makna Jihad .............................. 92 4. Menghapus Diskriminasi Gender dan Agama ............................. 104. D. Deradikalisasi Pemahaman Agama Melalui Pendidikan Islam Moderat dalam pemikiran An-Naim ............................................................... 109 BAB V: PEMBAHASAN ............................................................................ 114 A.. Menuju Metodologi Pembaruan yang Memadai ............................. 114. B.. Syariah Modern Sebagai Konsep Islam Moderat ............................ 122. C. Implementasi Konsep Islam Moderat Perspektif An-Naim dalam Pendidikan Agama Islam .................................................................. 134 1. Penekanan Islam Moderat dalam Merumuskan Tujuan Pendidikan …………………………………………………………………..137.

(14) xiv. 2. Internalisasi Nilai-nilai Islam Moderat dalam Hidden Curriculum …………………………………………………………………..139 3. Review Materi Ajar dalam Kurikulum ........................................ 151 BAB VI: PENUTUP .................................................................................... 166 A.. Kesimpulan...................................................................................... 166. B.. Implikasi Praktis…………………………………………………..168. C. Saran………………………………………………………………169 DAFTAR RUJUKAN ................................................................................... 170.

(15) xv. DAFTAR TABEL 1.1 Daftar Penelitian Terdahulu ……………………………………………………..13.

(16) xvi. ABSTRAK Rohman, Yovi Nur. 2019. Deradikalisasi Paham Keagamaan Melalui Pendidikan Islam Moderat Studi Pemikiran Abdullah Ahmed An-Naim. Tesis. Jurusan Magister Pendidikan Agama Islam. Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Pembimbing I : Dr. H. M. Luthfi Mustofa, M.Ag, Pembimbing II : Dr. H. M. Hadi Masruri., Lc. M.Ag Kata kunci : Deradikalisasi, Paham Keagamaan, Pendidikan Islam Moderat, Abdullah Ahmed An-Naim Radikalisasi atas nama agama di Indonesia, belakangan ini merupakan topik yang banyak disorot dalam dunia pendidikan. Dampak dari berkembangnya paham radikal tersebut sudah mulai menyebar dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Pendidikan Islam yang seharusnya mampu menanamkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lilalamin hanyalah tinggal cita-cita yang dirasa sangat sulit diwujudkan. Oleh karena itu, salah satu upaya dalam menangkal paham radikalisme melalui jalur formal adalah dengan upaya deradikalisasi paham keagamaan dengan cara reorientasi pendidikan agama yang berwawasan moderat. Untuk mewujudkan upaya tersebut peneliti tertarik membawa pemikiran tokoh seorang pembaru dari Sudan yang bernama Abdullah Ahmed An-Naim. Penelitian ini merupakan kajian filologi yang menjadikan hasil karya seorang tokoh sebagai objek kajiannya. Penelitian kajian filologi termasuk dalam jenis penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode analisis isi (content analysis). Penelitian ini digunakan untuk memperoleh gambaran dari pemikiran AnNaim tentang deradikalisasi paham keagamaan untuk kemudian dijadikan pedoman mewujudkan konsep pendidikan Islam moderat. Berdasarkan hasil Penelitian metodologi penikiran An-Naim dikembangkan dari pemikiran gurunya Mahmoed Muhammed Thoha yang disebut dengan teori Evolusi. Yakni membalikkan proses nask ayat periode Madinah kepada ayat periode Makkah yang pesannya abadi dan fundamental serta meniadakan segala ayat-ayat periode Madinah yang penuh dengan diskriminasi gender dan agama. Dengan pendekatan ini, An-Naim berhasil menemukan konsep Syariah modern sebagai solusi deradikalisasi paham keagamaan yang berwawasan moderat. kemudian konsep tersebut dibawa kedunia pendidikan dengan menggunakan teori milik Gerad L. Gustek tentang ideologi pendidikan dengan cara (1) penekanan Islam moderat dalam merumuskan tujuan pendidikan, (2) internalisasi nilai-nilai Islam moderat dalam hidden curriculum, (3) review kurikulum dalam materi pengajaran. Hasil dari penelitian tersebut meliputi: (1) Pendidikan damai yang selalu menghormati hak asasi manusia, (2) Pendidikan yang memuat ajaran toleransi antar umat beragama, (3) Pendidikan yang mengutamakan humanisasi (memanusiakan manusia), (4) Pendidikan yang mengajarkan paham moderat, (5) Pendidikan yang mampu memunculkan ide-ide kreatif..

(17) xvii. ABSTRACT Rohman, Yovi Nur. 2019. Deradicalization of Religious view through Moderate Islamic Education Study of Thought Abdullah Ahmed An-Naim. Thesis. Department Master of Education Islam. Postgraduate State Islamic of University (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Mentor I : Dr. H. M. Luthfi Mustofa, M.Ag, Mentor II: Dr. H. M. Hadi Masruri, Lc. MAg. Keywords : Deradicalization, Religious Understanding, Moderate Islamic Education, Abdullah Ahmed An-Naim Radicalization in the name of religion in Indonesia, lately is a topic that is widely highlighted in the world of education. The impact of the development of radical understanding has begun to spread in the world of Islamic education in Indonesia. Islamic education which is supposed to be able to instill Islamic values that are Rahmatan Lilalamin is only an ideal that is very difficult to realize. Therefore, one effort to ward off radicalism through formal channels is to attempt to de-radicalize religious ideas by reorienting moderate-minded religious education. To realize this effort researchers were interested in bringing the thoughts of a figure from a Sudanese reformer named Abdullah Ahmed An-Naim. This research is a study of philology which makes the thinking of a figure an object of study. Research in philology studies is included in the type of library research using content analysis methods. This research was used to obtain an overview of AnNaim's thinking about the de-radicalization of religious ideas to be used as a guideline to realize the concept of moderate Islamic education Based on the results of the research methodology, An-Naim's thinking was developed from the thinking of his teacher Mahmoed Muhammed Thoha, called the theory of evolution. That is to reverse the nask of the Medina period verse to the Mecca period verse whose message is eternal and fundamental and negates all the verses of the Medina period which are full of gender and religious discrimination. With this approach, An-Naim succeeded in finding the concept of modern Sharia as a solution to the de-radicalization of moderate-religious ideas. then the concept was brought to the world of education by using Gerad L. Gustek's theory of educational ideology by means of (1) moderate Islamic emphasis in formulating educational goals, (2) internalizing moderate Islamic values in the hidden curriculum, (3) reviewing curriculum in material teaching. The results of the study include: (1) Peace education that always respects human rights, (2) Education which contains the teachings of inter-religious tolerance, (3) Education that prioritizes humanization (humanizing humans), (4) Education that teaches moderate understanding , (5) Education that is capable of generating creative ideas..

(18) ‫‪xviii‬‬. ‫مستخلص البحث‬ ‫رحمن‪ ،‬يوفي نور‪ .1029 ،‬إلغاء الفهم الديني المتطرف من خالل التربية اإلسالمية الوساطية في دراسة التفكير عبد‬ ‫الله أحمد النعيم‪ .‬رسالة الماجستير‪ .‬قسم ماجستير تربية اإلسالمية دراسة العليا جامعة موالنا مالك إبراهيم اإلسالمية‬ ‫الحكومية ماالنج‪ .‬المشرف ‪ : 1‬الدكتور الحاج محمد لطف مصطفي الماجستير‪ .‬المشرف ‪ : 2‬الدكتور محمد هادي‬ ‫مسرور الماجستير‪.‬‬ ‫الكلمات األساسية ‪ :‬إزالة التطرف الديني ‪ ،‬التفاهم الديني ‪ ،‬التربية اإلسالمية الوساطية ‪ ،‬عبد الله أحمد النعيم‬ ‫التطرف على الفكر الديني في إندونيسيا‪ ،‬في اآلونة األخيرة موضوع تم تسليط الضوء عليه على نطاق واسع‬ ‫في عالم التعليم‪ .‬بدأ تأثير تطور الفهم الجذري ينتشر في عالم التعليم اإلسالمي في إندونيسيا‪ .‬التعليم اإلسالمي الذي‬ ‫من المفترض أن يكون قادراً على غرس القيم اإلسالمية التي هي رحمة للعالمين‪ ،‬تصعب إدراكها‪ .‬لذلك ‪ ،‬فإن أحد‬ ‫الجهود لدرء التطرف من خالل القنوات الرسمية هو محاولة إزالة التطرف عن األفكار الدينية عن طريق إعادة توجيه‬ ‫التعليم الديني الوساطية‪ .‬لتحقيق هذا الجهد ‪ ،‬اهتم الباحثون بجلب أفكار شخصية من مصلح سوداني يدعى عبد الله‬ ‫أحمد النعيم‪.‬‬ ‫موضوعا للدراسة‪ .‬يتم تضمين‬ ‫هذا البحث هو دراسة علم تحقيق النصوص تجعل التفكير في الشخصية‬ ‫ً‬ ‫البحث في الدراسات تحقيق النصوص في نوع بحث المكتبة باستخدام طرق تحليل المحتوى‪ .‬تم استخدام هذا‬ ‫البحث للحصول على لمحة عامة عن تفكير النعيم حول إزالة التطرف عن األفكار الدينية ليتم استخدامها كدليل‬ ‫لتحقيق مفهوم التعليم اإلسالمي الوساطية‬ ‫بناءً على نتائج منهجية البحث ‪ ،‬تم تطوير تفكير النعيم من تفكير معلمه محمود محمد ثوها ‪ ،‬والذي يطلق‬ ‫عليه نظرية التطور‪ .‬هذا هو عكس إلغاء فترة المدينة المنورة آية إلى فترة مكة المكرمة التي رسالتها األبدية واألساسية‬ ‫ويزيل جميع آيات فترة المدينة المنورة التي مليئة الجنس والتمييز الديني‪ .‬من خالل هذا النهج ‪ ،‬نجح النعيم في إيجاد‬ ‫مفهوم الشريعة الحديثة كحل إلزالة التشدد في األفكار الدينية ‪ .‬ثم تم تقديم المفهوم إلى عالم التعليم باستخدام نظرية‬ ‫جراد ل‪ .‬غوستيك في األيديولوجية التعليمية عن طريق (‪ )1‬التركيز اإلسالمي المعتدل في صياغة األهداف التعليمية ‪،‬‬ ‫(‪ )2‬استيعاب القيم اإلسالمية المعتدلة في المناهج الدراسية الخفية ‪ )3( ،‬مراجعة المناهج الدراسية في المواد التدريس‬.

(19) 1. BAB I PENDAHULUAN. A. Kontek Penelitian Munculnya kelompok Islam fundamentalis di Indonesia, belakangan ini merupakan topik yang banyak disorot dalam dunia pendidikan. Fundamentalisme agama yang dimaksud dalam istilah ini adalah memahami teks-teks ayat suci hanya dipermukaan. Nash-nash ayat suci dipahami secara dangkal sehingga memunculkan pemahaman agama yang dangkal pula. Dampak dari Islam fundamentalis tersebut sudah mulai menyebar dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Pendidikan Islam yang seharusnya mampu menanamkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lilalamin hanyalah tinggal cita-cita yang dirasa sangat sulit diwujudkan. Pemahaman agama yang tektualis melahirkan seorang Muslim yang fundamentalis. Pemahamam tersebut hanya berorientasi kepada dua dimensi, antara salah dan benar, Muslim dan kafir, halal dan haram, boleh dan tidak boleh, sunnah dan bid’ah. Pemahamaan yang seperti ini berujung kepada sikap intoleransi, suka membid’ahkan, mengkafirkan dan menganggap ajaran agama yang benar hanyalah ajaran yang sesuai dengan kelompoknya. Jika hal ini terus dibiarkan, maka paham yang berbahaya tersebut justru akan berkembang berangkat dari sempitnya dalam memahami agama itu sendiri. Puncak dari.

(20) 2. masalah ini, agama hanya akan menjadi sumber dari kekacauan dan kegaduhan dalam kehidupan masyarakat. Faktor lain yang menyebabkan berkembangnya paham fundamentalisme adalah karena motivasi agama itu sendiri, yaitu karena proses interpretasi serta pemahaman keagamaan yang kurang tepat dan keras yang pada gilirannya melahirkan sosok Muslim fundamentalis yang cenderung ekstrem terhadap kelompok lain dan menganggap orang lain yang berbeda sebagai musuh sekalipun satu agama, apalagi berbeda agama. Teks-teks agama ditafsirkan secara atomistik, parsial-monolitik (monolithic-partial),1 sehingga menimbulkan pandangan yang sempit dalam beragama. Kebenaran agama menjadi barang komoditi yang dapat dimonopoli. Ayat-ayat suci dijadikan justifikasi untuk melakukan tindakan radikal dan kekerasan dengan alasan untuk menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi ini. Aksi radikalisme inilah yang sering mengarah kearah aksi teror. Kejadian yang mengerikan ketika hancurnya twin tower di WTC tahun 2002, sebagai peristiwa September Eleven, maka dimensi kekerasan ini menggugah pemerintah untuk menggunakan pendekatan agama, yaitu dengan melakukan deradikalisasi agama.2 Istilah radikalisme yang dimaksud dalam pengertian ini adalah memahami agama secara tektualis yang berangkat dari pemahaman agama secara. 1. Berkaitan dengan analisis sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya sehingga melupakan bahwa bagian itu ada hubungannya. 2 Zuly Qodir, Deradikalisasi Islam dalam Perpektif Pendidikan Agama, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. II, No. 1, (Juni 2013), 87-88..

(21) 3. fundamentalis.3 Secara umum, munculnya radikalisme dapat disebabkan dari beberapa faktor; pertama, akibat arus modernitas. Kedua, rasa kesetiakawanan diantara umat Muslim yang sedang berperang. Ketiga, kesejahteraan domestik yang belum terdistribusi secara merata. Pendidikan sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa, sangat memungkinkan untuk disusupi paham-paham radikalisme. Doktrindoktrin fundamentalisme dapat tumbuh subur dan berkembang pesat. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan suatu aspek yang sangat strategis jika digunakan untuk menyebarkan ajaran radikalisme. Masuknya paham radikalisme terhadap sistem pendidikan bukan merupakan hal baru. Penelitian yang dilakukan oleh center for religious and cross cultural studies Universitas Gadjah Mada dan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta dalam politik ruang publik sekolah pada tahun 2011, telah melaporkan bahwa di Yogyakarta telah terdapat beberapa sekolah menengah atas yang memiliki kecenderungan keras (radikal) dalam memahami keagamaan yang selama ini dianut.4 Radikalisasi yang mereka anut terjadi karena peran-peran para mentor yakni para alumni SMA tersebut dalam memberikan pemahaman tentang keislaman pada para siswa SMA tersebut. Mereka adalah kaum muda (youth) yang rata-rata berumur 18-19 tahun merujuk. 3 Pengertian fundamentalisme terbagi menjadi dua; (1) pengertian secara ushuli yaitu memahami agama secara mendalam sampai kepada akar-akarnya. (2) pengertian secara ushulawi yaitu memahami agama secara tektualis. 4 Zuly Qodir, Radikalisme Agama di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 100. Sebagaimana dikutip Oleh Haris Ramadhan, Deradikalisasi Paham Keagamaan melalui pendidikan Islam Rahmatan Lilalamin, Thesis, (Progam Magister Pendidikan Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2016), 5..

(22) 4. pada Nancy Smith Hefner (2005 dan 2007), mereka ini melakukan aktivitas keislaman di sekolah dengan mendominasi ruang publik seperti menjadi pengurus OSIS sebuah organisasi resmi milik sekolah menengah atas serta mendominasi kegiatan keislaman dalam organisasi unit kerohanian Islam (Rohis) yang sejak 1990 menjalar di mana-mana, hampir di setiap sekolah negeri yang ada di Yogyakarta, termasuk sekolah-sekolah unggulan bahkan sekolah berstandar Internasional. Mereka menegosiasikan kepentingan keislamannya dengan melawan struktur yang dilakukan melalui agency-agency yang dirawat melalui jaringan alumni sekolah tersebut.5 Berbagai aktivitas keislamannya misalnya, membuat pesantren sekolah negeri yang dikelola dalam progam pesantren kilat sekolah negeri. Terdapat sikap yang sebenarnya biasa saja, tetapi kemudian menjadi mencuat ke permukaan soal celana congklang untuk siswa laki-laki sehingga memunculkan sebuah “pikacong” yakni pria kathok congklang (pria dengan celana diatas mata kaki/congklang) menjadi ejekan oleh para siswa yang tidak tergabung dalam mushala sekolah atau pesantren kilat dan Rohis. Sementara itu, mereka juga tidak bersedia bersalaman dengan lawan jenis sebab hal itu dianggap sebagai haram, karena bukan mahram untuk menyebut pria dan wanita yang banyak. Persoalannya dimana kemudian menjadi besar dan dikatakan radikal? Di sini muncul problem bahwa yang benar menurut mereka adalah mereka, sementara yang tidak ikut. 5. Qodir, Radikalisme Agama... , 100..

(23) 5. pesantren kilat dan Rohis berada dalam kelompok kufur dan tidak kaffah.6 Yang menjadi problem dalam kasus tersebut adalah pemahaman al-Qur’an dan Hadits yang sempit tanpa memperhatikan sosio historis sebuah nash baik berupa asbabul nuzul dan asbabul wurudnya. Persoalan kaum muda yang radikal semakin membuat kita prihatin, karena berdasarkan laporang survey LAKIP (Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian) memberikan gambaran yang memperkuat dugaan radikalisasi dikalangan kaum muda terutama siswa SMP dan SMA di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) memberikan indikasi tentang aksi-aksi radikal yang mereka dukung dan berani dilakukan sebagai bagian dari jihad. Mereka tampaknya mendapatkan dukungan yang sangat luas dari kalangan anak muda tingkat SMP dan SMA. Ketika ditanyakan kepada mereka kepada 100 sekolah di Jabodetabek, dengan 590 guru, tentang apakah bersedia terlibat dalam aksi kekerasan, sebanyak 48,9% bersedia mendukung. Ketika ditanyakan apakah yang dilakukan oleh Noordin M. Top, itu dapat dibenarkan, sebanyak 14,2% siswa menyatakan dapat membenarkan. Sementara ketika ditanyakan apakah setuju dengan pemberlakuan syariat Islam sebanyak 84,8% menjawab setuju. Sementara ketika ditanyakan apakah Pancasila masih relevan sebagai dasar negara sebanyak 25,8% menjawab tidak relevan (LAKIP, 2011).7. 6 7. Qodir, Radikalisme Agama…, 101. Qodir, Radikalisme Agama…, 102..

(24) 6. Contoh kasus yang cukup representatif mengenai hal ini adalah kekerasan yang dialami oleh kelompok Syiah di Sampang Madura. Kasus ini berdampak pada terusirnya kelompok minoritas Syiah dari tempat tinggalnya, desa Karangganyam, kecamatan Omben, kabupaten Sampang. Kasus tersebut bukanlah kasus yang terjadi secara tiba-tiba. Praktik kekerasan yang dialami oleh komunitas Syiah di Sampang telah terjadi sejak tahun 1980. Rentetan kekerasan berlangsung lama hingga memuncak pada penyerangan di bulan Agustus 2012, yang memakan korban jiwa dan harta benda.8 Berkembangnya paham radikalisme agama di Indonesia dapat dibuktikan dengan juga adanya aksi sweeping terhadap toko dan warung-warung yang dilakukan suatu ormas Islam menjelang masuknya bulan Ramadhan. Contoh lain yang masih belum hilang di ingatan adalah kasus Basuki Cahya Purnama (Ahok) yang dianggap telah menistakan ayat suci al-Qur’an. Kasus ini berawal dari pernyataan Ahok ketika melakukan kunjungan kerja di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016, ia berkata: “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al-Maidah ayat 51, macem-macem itu. Itu hak Bapak Ibu, jadi Bapak Ibu perasaan. 8 Iva Hasanah dan Abdul Fatah, “Suara Simpang Kasus Sampang: Konflik Sunni Syi'ah Perspektif Perempuan, (Yogyakarata: Program Studi Agama dan Lintas Budaya” dalam Mohammad Iqbal Ahnaf dkk (ed.), Praktik Pengelolaan Keragaman di Indonesia Kontestasi dan Koeksistensi, (Center for Religious and Cross-cultural Studies/CRCS) Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, 2015), 243. Sebagaimana dikutip Sigit Priatmoko, Pengarusutamaan Nilai-nilai Islam Moderat Melalui Revitalisasi Pancasila dalam Pendidikan Islam, 2nd Proceedings Annual Conference For Muslim Scholar, Fakultas Agma Islam Universitas Darul Ulum Lamongan, 732.

(25) 7. nggak bisa pilih, nih, karena takut masuk neraka, dibodohin gitu, ya”9 yang kemudian memunculkan aksi demo besar-besaran dari beberapa ormas Islam yang menuntut agar pelaku penista agama tersebut dihukum walaupun pelaku sendiri sudah menyampaikan permohonan maaf terhadap umat Muslim. Jika dicermati, kasus tersebut berangkat dari sempitnya pemahaman agama dalam menafsirkan ayat suci al-Qur’an tentang boleh dan tidaknya memilih pemimpin non-Muslim. Oleh sebab itu, pendidikan agama Islam memiliki peranan penting untuk memberikan pemahaman agama yang benar-benar utuh, yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang penuh dengan toleransi, kesantuan, keramahan, saling menghormati dan menyanyangi. Pendidikan agama Islam harus mampu memberikan pemahaman agama yang kontekstual bukan hanya pemahaman agama yang tekstual tanpa memperhatikan realitas sosial. Hal ini sebagai upaya deradikalisasi melalui jalur formal. Karena bagaimanapun juga, mengatasi paham radikalisme harus dilakukan dengan cara sistematis dan terencana. Oleh karena itu, gagasan tentang deradikalisasi agama ini ditempuh sebagai salah satu cara penanggulangan paham radikalisme. Deradikalisasi adalah upaya untuk membendung laju radikalisme. Radikalisme itu perlu dibendung, karena gerkakan dan pemikiran individu maupun kelompok yang berorientasi pada aktivitas radikal, seperti yang mengarah pada kekerasan, peperangan dan teror, yang sangat berbahaya bagi umat manusia.. Moch Nur Ichwan, “MUI, Gerakan Islamis dan Umat Mengambang”, Maarif, Vol. II, No. 2 Desember (Jakarta: Maarif Institute for Culture and Humanity, 2016), 96 9.

(26) 8. Divisi kontra terorisme PBB berpendapat bahwa, “Deradicalitation, therefore, is the process of abandoning an extremist worldview and concluding that it is not acceptable to use violence to effect social change”.10 Oleh karena itu, salah satu upaya dalam menangkal paham radikalisme melalui jalur formal adalah dengan upaya reorientasi pendidikan agama yang berwawasan moderat. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang berorientasi dengan menempuh jalan tengah, tidak ekstrim atau berlebih-lebihan, cinta damai dan selalu bertindak dengan rasional, melalui pertimbangan akal yang benar11, mengutamakan ahklak yang baik yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang penuh dengan toleransi, menghargai perbedaan, mengutamakan kesantunan, keramahan, saling menghormati dan menyanyangi. Konsep “Islam moderat”, pada dasarnya hanyalah sebatas tawaran yang semata-mata ingin membantu masyarakat pada umumnya dalam memahami Islam. Bersikap moderat dalam ber-Islam bukanlah suatu hal yang menyimpang dalam ajaran Islam, karena hal ini dapat ditemukan rujukannya, baik dalam al-Qur’an, alHadits, maupun perilaku manusia dalam sejarah. Mengembangkan pemahaman “Islam moderat” untuk konteks Indonesia dapatlah dianggap begitu penting. Bukankah diketahui bahwa di wilayah ini terdapat bayak paham dalam Islam,. 10. United Nations Center-Terrorism Implementation Task Force, First Report of The Working Group on Radicalisation and Extremism That Lead of Terrorism, (September 2008), 5 sebagaimana dikutip Syamsul Arifin, Study Islam Kontemporer, (Malang: Kelompok Intrans Publishing, 2015), 84. 11 Masnur Alam, Studi Implementasi Pendidikan Islam Moderat dalam Mencegah Ancaman Radikalisme di Sungai Penuh, (Jurnal Islamika Vol. 17, No. 2, 2017), 19..

(27) 9. beragam agama, dan multi-etnis. Konsep “Islam moderat mengajak, bagaimana Islam dipahami secara kontekstual,memahami bahwa perbedaan dan keragaman adalah sunnatullah, tidak dapat ditolak keberadaannya. Jika hal ini diamalkan, dapat diyakini Islam akan menjadi agama rahmatan lil alamin.12 Sebagai solusi untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan sebuah dekontrusi dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an yang selama ini disalah tafsirkan. Dekontruksi adalah suatu metode kritis dalam membaca sebuah teks yang bertujuan untuk menemukan makna-makna terdalam yang terkandung dalam sebuah teks. Mengkaji strategi dekontruksi dapat memberikan sumbangan yang berharga bagi dunia pendidikan untuk mencegah berkembangnya paham Islam fundamentalis. Dengan meminjam konsep metodologi baru yang dibawa oleh Abdullah Ahmed An-Naim dalam memahami nash-nash al-Qur’an diharapkan akan ditemukan konsep pendidikan Islam yang moderat (rahmatan lilalamin.) Dengan bukunya yang terkenal “Toward an Islamic Reformation” (Dekontruksi. Syariah). An-Naim. berusaha. menguraikan. dan. membela. metodologinya berdasarkan imperatif-imperatif skriptual al-Qur’an, An-Naim ingin dan berusaha membangun jalan berpikir Islam yang memberi topangan bagi berkah sekularisasi, seperti toleransi antar agama, hak dan status yang setara antara laki-laki dan perempuan, serta Muslim dan non-Muslim, kehidupan politik yang. 12. Miftahuddin, Islam Moderat Konteks Indonesia dalam Perspektif Historis, (Mozaik), Vol. V, No. 1, Januari 2010, 41..

(28) 10. konstitusional dan benar-benar demokratis dan status yang sama bagi negara Muslim dan non-Muslim. Lebih dari itu, sebagai seorang pembela hak-hak asasi manusia sebagaimana yang dituangkan dalam deklarasi universal HAM 1948, An-Naim mengemukakan pandangannya bahwa hak-hak tersebut dapat didukung atas dasar pesan-pesan Islam. Dia lebih jauh menegaskan bahwa dalam dunia Muslim kontemporer, jalan pikiran yang benar-benar sekular mengenai hak asasi, demokrasi dan konstitusionalisme tidak mungkin mendapat dukungan luas. Tanpa pendekatan Islam baru yang didasarkan atas metodologi pembaruan, maka interpretasi kelompok konservatif dan islamis yang merugikan penegakan hak-hak asasi tak akan terpatahkan.13 Karya An-Naim yang tertuang dalam bukunya “Dekontruksi Syariah” mendapatkan respon dari para ahli dari berbagai penjuru dunia. Hal ini bisa dibuktikan dengan diselenggarakannya seminar tentang hak asasi manusia dan aplikasi hukum Islam di dunia modern yang diselenggarakan oleh Norwegian Institut of Human Right (NIHR), Oslo, 14-15 Februari 1992. Dari seminar tersebut banyak para ahli yang mengomentari karya An-Naim. Diantara para ahli yang memberikan komentar terhadap karya beliau adalah: Tore Lindlolm & Kari Vogt dalam memberikan kata pengantar terhadap dokumentasi kumpulan makalah para ahli yang mengikuti seminar tersebut: “Buku. 13. Abdullah Ahmed An-Naim, Muhammed Arkoun, dkk, Dekontruski Syariah (II), (Yogyakarta: LkiS, 1996), 6..

(29) 11. An-Naim merupakan karya sangat penting karena mengungkapkan berbagai ketegangan antara syariah tradisional dan norma-norma modernisasi politik yang sangat penting. Di tengah besarnya perbedaan pendapat di dunia Muslim tentang interpretasi dan aplikasi syariah, perhatian kita dicuri oleh buku an-Naim itu, yang diilhami gagasan-gagasan pemikir pembaru, Mahmoud Mohammed Taha dan konsepnya tentang “evolusi legislasi Islam”. Melampaui karya Taha An-Naim berusaha mengembangkan basis teoritis bagi pendekatan evolusioner ini”.14 Roy P. Mottahedeh dalam makalahnya yang berjudul “Akar Islam Bagi Teologi Toleransi” memberikan komentar sebagai berikut: “Profesor An-Naim dalam bukunya yang berani dan inovatif, Toward an Islamic Reformation, telah mengemukakan sebuah metodologi yang kukuh yang dapat digunakan seorang juris untuk merekontruksi wilayah-wilayah pokok hukum Islam. Tentang masalah hubungan antara kaum Muslim dan non-Muslim, yang dibicarakan pada bab enam dan delapan, dia mengemukakan bahwa tradisi intelektual para pemikir Islam pramodern secara sangat seragam mendukung sebuah kebijakan toleransi terbatas terhadap kalangan non-Muslim”.15 Sementara itu Ishtiaq Ahmed dalam makalahnya mengemukakan pandangannya terhadap karya A-Naim: “Karya yang sangat menjanjikan ini ditulis seorang ilmuwan yang bukan hanya sangat terpelajar dan menguasai. An-Naim, Muhammed Arkoun, dkk, Dekontruski Syariah (II), 6’ Roy P. Mottahedeh, Makalah: Akar Islam Bagi Teologi Toleransi dalam buku Dekontruski Syariah (II), (Yogyakarta: LkiS, 1996), 27. 14 15.

(30) 12. masalah, tetapi juga seorang humanis sejati dan aktifis berdedikasi dengan rekor panjang dan bernilai dalam upaya memperjuangkan dan secara terus menerus mempropagandakan suatu pandangan manusiawi dan universal diseluruh dunia umumnya dan khususnya dikalangan umat Islam”.16 Oleh karna itu, dalam tulisan ini, peneliti berusaha melakukan sebuah penelitian untuk memecahkan masalah radikalisme pendidikan agama Islam dengan mengangkat tema ““Deradikalisasi Paham Keagamaan Melalui Pendidikan Islam Moderat Study Pemikirian An-Naim”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan kontek penelitian diatas, fokus masalah yang akan diteliti adalah: 1. Bagaimana metodologi pembaruan An-Naim dalam konteks pendidikan Islam? 2. Bagaimana deradikalisasi paham keagamaan An-Naim dalam konteks pendidikan Islam? 3. Bagaimana konsep pendidikan Islam moderat perspektif deradikalisasi pemahaman agama An-Naim? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian adalah:. 16. Ishtiaq Ahmed, Makalah: Konstitusionalisme, HAM dan Reformasi Islam dalam buku Dekontruski Syariah (II), (Yogyakarta: LkiS, 1996), 69..

(31) 13. 1. Untuk mempelajari metodologi pembaruan An-Naim dalam konteks pendidikan Islam. 2. Untuk mengkaji konsep deradikalisasi paham keagamaan An-Naim dalam konteks pendidikan Islam. 3. Untuk merumuskan konsep pendidikan Islam moderat perspektif deradikalisasi pemahaman agama An-Naim. D. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis, Penelitian ini diharapkan dapat : 1) Mengembangkan ide-ide kreatif dalam menemukan sebuah konsep pembaruan Islam 2) Menemukan konsep pendidikan Islam yang berwawasan moderat yang dapat diterima oleh dunia Islam 3) Menambah khazanah pengetahuan tentang ide-ide pembaruan seorang tokoh. 4) Menambah sumbangan referensi dalam dunia Pendidikan Islam. 5) Memberikan sumbangan pengetahauan tentang deradikalisasi agama. b. Secara Praktis, Penelitian in diharapkan dapat : 1) Bagi. universitas,. memberikan. sumbangan. pengetahuan. dalam. pengembangan Pendidikan Islam di seluruh Indonesia, merumuskan konsep nilai-nilai pendidikan Islam dalam hidden curriculum.

(32) 14. 2) Bagi masyarakat, menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat agar bisa memiliki pemahaman yang tidak radikal terhadap suatu nash al-Qur’an maupun hadits. 3) Bagi pembaca, menambah khasanah pengetahuan pembaca guna mengembangkan penelitian lain yang lebih baik. E. Originalitas Penelitian Agar tidak terjadi pengulangan kajian yang sama dalam melakukan suatu penelitian, maka perlu bagi peneliti untuk menyajikan daftar penelitian terdahulu yang memiliki kemiripan dengan penelitian ini. N o. 1. 2. Tabel 1.1. Daftar Penelitian terdahulu Nama Peneliti, Persamaan Perbedaan Judul, Bentuk (Skripsi/Tesis/Jurn al/dll) Haris Ramadhan,  Upaya  Tokoh yang Deradikalisasi deradikalis dikaji Paham asi agama  Melalui Keagamaan dalam Pendekatan melalui pendidikan perpektif Pendidikan Islam Rahmatan pemikiran Islam Lilalamin (Study tokoh. Rahmatan Pemikiran Kh. Lilalamin Abdurahman Wahid), Thesis, (Progam Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang) Umu Arifah  Analisis  Upaya Rahmawati, pemikiran deradikalisasi. Originalitas Penelitian  Upaya deradikalis asi dalam perpektif dekontruksi An-Naim, seorang tokoh pembaru di Sudan.  Analisis Metodologi pemikiran Abdullah Ahmed dalam bukunya.

(33) 15. Deradikalisai Pemahaman Agama dalam Pemikiran Yusuf Qordhawi Ditinjau dari Perspektif Pendidikan Agama Islam, Skripsi, Universitas Negeri Sunan Kalijogo Yogyakarta) 3. Riza Mualim, Study Analisis pemikiran Abdullah Ahmed an Naim tentang Konstitusionalisme, (Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, skripsi). 4. Lukis Alam dan M. Rizqoni salis, Menggagas Pemikiran AnNaim, Jurnal (Jurnal Saintifika Islamika, Vol. 2, No. 2, periode Juli-Desember 2015) Zuly Qodir, Deradikalisasi Islam dalam Perspektif Pendidikan Agama. (Jurnal Pendidikan Islam,. 5. Yusuf Qordhawi dalam perpekstif pendidikan Islam. agama dalam perspektif tokoh.  Membahas pemikiran Abdullah Ahmed an Naim..  Perbedaan terletak pada objek pemikiran Abdullah ahmed an Naim.  Objek yang dikaji khusus pemikiran Abdullah Ahmed tentang Konstitusionali sme  Menggali  Membahas Konsep pemikiran pemikiran Abdullah Abdullah Ahmed secara Ahmed an umum Naim.  Mencegah paham radikalisme melalui deradikalisa si agama.  Deradikalisasi dalam perpektif pendidikan agama. Dekontruksi Syariah  Analisis dekontruksi konsep deradikalisas i pemikiran An-Naim  Analisis pemikiran An-Naim untuk Reinterpreta si nilai-nilai Pendidikan Islam..

(34) 16. Vol. 2, No. 1, Juli 2013). Dalam penelitian ini, peneliti berusaha meminjam metodologi pemikiran An-Naim dalam bukunya Dekontruski Syariah dalam melakukan reinterpretasi nash-nash Al-Qur’an yang sering disalah pahami orang-orang yang memiliki paham radikalisme yang bertujuan untuk mewujudkan konsep pendidikan Islam yang sesuai dengan ajaran Islam yang moderat, sebagai upaya secara formal untuk mengatasi masalah radikalisme pemahaman agama di Indonesia. An-Naim memiliki metodologi baru dalam memahami nash al-Qur’an dan nash yang disebut dengan teori evolusioner yang mengembangkan teori nasakh wal mansukh gurunya Mahmoed Muhammad Taha. Dengan metodologi ini, An Naim memiliki sebuah konsep pemikiran yang sesuai dengan tuntutan zaman akan tetapi tetap tidak menghilangkan keabsahan Islam. Dengan metodologi tersebut, An-Naim berusaha menawarkan sebuah konsep deradikalisasi khususnya dalam melakukan reinterpretasi ayat-ayat al-Qur’an yang selama ini digunakan orang-orang yang memiliki paham radikal. Dalam penilitian yang dilakukan oleh Haris Ramadhan yang berjudul Deradikalisasi paham keagamaan Melalui Pendidikan Islam Rahmatan Lilalamin, dia menggunakan pendekatan Islam rahmatan lilalamin dalam perpekstif pemikiran Kh. Abdurrahman Wahid sebagai tokoh pluralisme di.

(35) 17. Indonesia. Dari penelitian ini ditemukan tentang deradikalisasi pendidikan agama Islam menurut perpekstif Abdurahman Wahid meliputi (1) Pendidikan Islam Neo-Modernis, (2) Pendidikan Islam berbasis pembebasan, (3) Pendidikan Islam berbasis multikultural, (4) Pendidikan Islam inklusif, (5) Pendidikan Islam humanis. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa, peneliti tersebut lebih mengedapankan pendekatan pluralisme dalam pemikiran Kh. Abdurrahman Wahid dalam melakukan proses deradikalisasi paham keagamaan. Sedangkan. Ummu. Arifah. Rahmawati. dalam. penelitiannya. Deradikalisasi Pemahaman Agama dalam Pemikiran Yusuf Qardhawi ditinjau dari Perspektif Pendidikan Agama Islam, menemukan bahwa deradikalisasi pendidikan agama Islam dapat dilakukan dengan cara (1) mengembangkan kurikulum berdasarkan konsep deradikalisasi yang ditawarkan sebagai langkah awal untuk mengembangkan ajaran agama anti radikalisme, (2) Tanggung jawab setiap pimpinan lembaga dalam menolak paham radikalisme, (3) memulai progam deradikalisasi sejak usia dini, (4) memberikan pemahaman yang komprehensif kepada siswa tentang pengetahuan berbagai macam agama. Sementara itu, penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Riza Mualim, Study Analisis pemikiran Abdullah Ahmed an Naim tentang Konstitusionalisme dan Lukis Alam dan M. Rizqoni salis, Menggagas Pemikiran An-Naim, lebih.

(36) 18. fokus kepada pemikiran An-Naim secara umum yang tidak berkaitan dengan usaha dalam merumuskan proses deradikalisasi paham keagamaan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zuly Qodir dalam jurnal Pendidikan Islam, dengan tema Deradikalisasi Islam dalam Perspektif Pendidikan Agama, berfokus pada usaha deradikalisasi melalui kebijakan politik dengan berbagai macam pendekatan yang dapat dilakukan yang pertama yaitu secara dialogis. (1) Dialog merupakan jalan yang tepat untuk mengantisipasi radikalisasi dan efektif untuk mengubah cara berpikir seseorang agar tidak radikal. (2) Pendekatan kewilayahan. Karena para teroris di Indonesia bergerak di ‘bawah tanah’, maka penanganan terorisme tidak bisa ditempuh di ‘atas tanah’. Di sinilah pendekatan intelijen sangat diperlukan. (3) Pendekatan keamanan dan represi (security and repressive approach). F. Definisi Operasional 1. Deradikalisasi: usaha untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme di masyarakat. 2. Pendidikan Islam: Proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia, baik individu, maupun sosial untuk mengarahkan potensi dasar (fitrah) melalui proses intelektual dan spiritual berlandaskan nilai Islam untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat..

(37) 19. 3. Pendidikan Islam moderat: pendidikan yang berorientasi dengan menempuh jalan tengah, tidak ekstrim atau berlebih-lebihan, cinta damai dan selalu bertindak dengan rasional, melalui pertimbangan akal yang benar. G. Sistematika Pembahasan Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini antara lain: BAB I: Berisikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, originalitas penelitian, ruang lingkup penelitian, batasan masalah, definisi operasional dan sistematika pembahasan. Bab ini yang akan menjadi dasar penulis untuk melangkah ke bab selanjutnya. BAB II: Berisikan tentang landasan teori dan kerangka berfikir yang berisi tentang Konsep radikalisme baik pengertian, indikasi maupun faktor-faktor penyebab, konsep pendidikan Islam dan nilai-nilai pendidikan Islam secara umum, konsep deradikalisasi beserta teori yang mendasarinya. Konsep pendidikan Islam dan Islam moderat. Dengan adanya kajian pustaka hal ini berfungsi untuk membatasi masalah penelitian agar tidak melebar. BAB III: Berisikan tentang penjelasan mengenai metode penelitian yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, metode pengumpulan data yang terdiri dari sumber dan jenis data. Dengan adanya metodologi penelitian maka penulisan skripsi ini akan menjadi sistematis dan terarah..

(38) 20. BAB IV: Berisikan tentang paparan data hasil penelitian yang terkait dengan rumusan masalah, Biografi tentang An-Naim, Metodologi pemikiran An-Naim dan konsep deradikalisasi pemahaman agama An-Naim. BAB V: Berisi tentang pembahasan deradikalisasi pemahaman agama melalui pendidikan Islam moderat menurut An-Naim dan usaha implementasinya dalam pendidikan Islam. Bab VI : Berisikan kesimpulan, implikasi temuan dan saran.

(39) 21. BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Radikalisme 1. Pengertian Radikalimse Radikalisme berasal dari bahasa Latin. radix. yang berarti akar.. Maksudnya yakni berpikir secara mendalam terhadap sesuatu sampai ke akarakarnya. Di dalam Cambridge Advanced Learners Dictionary; Radical is believing or expressing the belief that there should be great or extreme social or political change.17 Radikalisme adalah suatu kepercayaan atau usaha dalam mengekpresikan suatu keyakinan tentang adanya usaha perubahan sosial dan politik yang ektrim. Radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akarnya, bilamana perlu menggunakan cara-cara kekerasan. Radikalisme menginginkan adanya perubahan secara total terhadap suatu kondisi atau semua aspek kehidupan masyarakat. Kaum radikal menganggap bahwa rencana-rencana yang digunakan adalah rencana yang paling ideal. Tentu saja melakukan perubahan (pembaruan) merupakan hal yang wajar dilakukan bahkan harus dilakukan demi menuju masa depan yang lebih baik.. 17. Cambridge University, Cambridge Advanced Leraners Dictionary, (Singapore: Cambridge University Press, 2008), 1170..

(40) 22. Namun, perubahan yang sifatnya revolusioner seringkali “memakan korban” lebih banyak, sementara keberhasilannya tidak sebanding. Oleh sebab itu, sebagian ilmuwan sosial menyarankan perubahan dilakukan secara perlahanlahan tetapi kontinyu dan sistematik, ketimbang revolusioner tetapi tergesagesa.18 2. Indikasi-indikasi Radikalisme Menurut Qordawi, indikasi-indikasi seseorang memiliki paham yang radikal adalah sebagai berikut:19 a. Fanatik terhadap suatu pendapat tanpa menghargai pendapat lain Indikasi yang pertama adalah fanatisme terhadap suatu pendapat tanpa mengakui adanya pendapat lain. Sikap yang semacam ini merupakan indikasi awal dari munculnya paham radikalisme. Dengan adanya sikap yang semacam ini cenderung seseorang akan mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, sedangkan orang lain selain dirinya adalah sesat, fasiq, kafir dan termasuk penghuni neraka. Padahal Islam adalah agama yang tidak berbicara lima ditambah lima sama dengan berapa?, tetapi Islam adalah agama yang berbicara berapa ditambah berapa sama dengan sepuluh. Dengan adanya istilah semacam ini dapat diketahui bahwa, jika Islam itu hanya diibaratkan pertanyaan lima. 18. Piotr Stompka, Sosiologi Perubahan Sosial (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), 223; sebagaimana dikutip Qodir, Deradikalisasi Pemahaman Agama dalam Perspektif Pendidikan Agama, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. II, No. 1, (Juni 2013), 91. lihat juga Qodir, Radikalisme Agama di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 116. 19 Yusuf Qordhawi, Islam Radikal (Analisis Radikalisme dalam Berislam dan Upaya Pemecahanya), terj. Hawin Murtadho, (Solo: Era Intermedia, 2004), 40-58..

(41) 23. ditambah lima sama dengan berapa?, maka hanya ada satu jawaban yaitu sepuluh. Berbeda halnya jika Islam itu diibaratkan dengan pertanyaan berapa ditambah berapa sama dengan sepuluh, maka jawabannya bisa bermacammacam tetapi semuanya bisa jadi benar. Orang yang memiliki sikap fanatik terhadap suatu pendapat akan selalu berusaha untuk memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Masalah akan semakin berbahaya, ketika upaya memaksakan pendapat kepada orang lain dilakukan dengan menggunakan tongkat kekerasan. Tongkat kekerasan disini tidak harus berupa tongkat kebenaran yang terbuat dari kayu atau besi, melainkan dalam bentuk lain. Bisa berupa tuduhan melakukan bid’ah dan melecehkan agama, kufur, atau tuduhan murtad dari agama. Teror yang semacam ini lebih berbahaya dan mekutkan daripada teror fisik.20 b. Mewajibkan orang lain untuk melaksanakan apa yang tidak diwajibkan oleh Allah. Salah satu bentuk sikap keras kepada manusia adalah mengevaluasi amalan-amalan nafilah dan sunnah mereka, seakan-akan ia merupakan amalanamalan wajib serta amalan-amalan makruh mereka seakan-akan ia merupakan amalan-amalan yang haram. Seharusnya seseorang itu tidak boleh mewajibkan kepada seseorang kecuali apa yang telah diwajibkan oleh Allah. Lebih dari itu,. 20. Qordhawi, Ananlisis Radikal, 41..

(42) 24. mereka bisa memilih. Jika mereka mau, mereka bisa melaksanakan, tetapi jika mereka tidak mau, mereka bisa meninggalkan.21 Salah satu contoh dalam masalah ini adalah munculnya gerakan yang mengatasnamakan. gerakan. hizbut. tahrir. yang. dimana-mana. selalu. mempropagandakan bahwa mendirikan khilafah (negara Islam) adalah hukumnya wajib. Padahal tidak ada satupun nash al-Qur’an maupun Hadist yang membicarakan kewajiban mendirikan khilfah Islamiyah dalam suatu negara. Yang perlu ditekankan disini adalah mendirikan suatu negara dengan ideologi khilafah bukanlah sesuatu yang dilarang, dengan catatan jika hal itu memungkinkan dalam suatu negara tersebut. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah jika mereka berpendapat bahwa menegakkan khilafah adalah suatu kewajiban yang barangsiapa yang tidak meyakininya berarti telah kafir. c. Sikap keras yang tidak pada tempatnya Salah satu sikap yang tercela adalah sikap keras yang tidak sesuai situasi, kondisi, dan waktunya. Misalnya, ketika berada di luar Darul Islam (negara Islam) terhadap orang-orang yang baru saja masuk Islam atau baru saja bertobat. Orang semacam ini seyogyanya disikapi dengan sikap yang mudah dalam masalah-masalah furu’iyyah dan khilafiyyah, memfokuskan masalah-. 21. Qordhawi, Ananlisis Radikal, 43-44..

(43) 25. masalah umum (kuliyat) sebelum juziyat bagi mereka. Dan pokok (ushul) sebelum cabang (furu’). Akidah mereka perlu diluruskan terlebih dahulu. Jika telah tumbuh keyakinan, barulah mereka diajak melaksanakan rukun-rukun Islam, lalu cabang-cabang keimanan, kemudian kepada beberapa maqom ihsan.22 d. Sikap keras dan kasar Allah tidak menyebutkan perintah berbuat kasar di dalam al-Qur’an, kecuali dalam dua situasi berikut ini. 1) Di tengah peperangan menghadapi musuh, dimana dituntut operasi militer yang sukses dan sikap keras ketika menjumpai musuh serta dibuangnya perasaan-perasaan belas kasihan, sampai peperangan berhenti. Dalam hal ini Allah berfirman:. ْ ُ ۡ َ ‫ََٰٓ َ لُ َ لَ َ َ َ ُ ْ َ ٰ ُ ْ لَ َ َ ُ َ ُ ل‬ ُ َ ‫ك لَفار َو ۡل‬ ‫ج ُدوا فِيك ۡم‬ ‫ي‬ ‫يأيها ٱلذِين ءامنوا قتِلوا ٱلذِين يلونكم مِن ٱل‬ ٰ ِ ِ ۡ َ َۡ َ َ‫ٱعلَ ُم َٰٓوا ْ أ َ لَن ل‬ َ ‫ٱّلل َم َع ٱل ۡ ُم لَت ِق‬ ٣٢١ ‫ين‬ ‫غِلظة ۚٗ و‬. “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”23 2) Ketika melaksanakan hukuman syariat bagi orang yang berhak, dimana tidak ada tempat untuk perasaan belas kasihan dalam melaksanakan hukum-hukum syariat Allah.. 22. Qordhawi, Ananlisis Radikal, 45. QS. at-Taubah: 123.. 23.

(44) 26. َ‫َ ۡ ْ ُ ل‬ ٞ ََۡ َ َ‫لَ َ ُ َ ل‬ ُ ۡ ُ َۡ ََ َ ۡ َ ََْ َ ُۡ ‫ل‬ ‫ح ٖد مِنهما مِائة جلدةِٖۖ ولا تأخذكم ب ِ ِهما رأفة‬ ‫ٱلزان ِية و‬ ِ ٰ ‫ٱلزان ِي فٱجل ُِدوا كل َو‬ ۡ َ‫َ ل‬ َ‫ل‬ ٞ َ َٰٓ َ َ ۡ ۡ ُۡ ُ ُ ‫نت ۡم تؤم ُِنون بِٱّلل ِ َوٱل َي ۡو ِم ٱٓأۡلخ ِِرِۖ َول َيش َه ۡد عذ َاب ُه َما َطائِفة ل ِم َن‬ ‫ِين ٱّلل ِ إِن ك‬ ِ ‫ف ِي د‬ َ ‫ٱل ۡ ُم ۡؤ ِمن‬ ٢ ‫ِين‬ “perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiaptiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”24 e. Berburuk sangka kepada orang lain. Prinsip pokok seorang radikalis adalah menuduh. Prinsip menuduh adalah menyalahkan. Hal ini berbeda dari yang ditegaskan syariat dan undangundang yang menyatakan bahwa pada dasarnya orang yang tertuduh itu bebas dari tuduhan sampai terbukti kesalahannya. Orang-orang radikal selalu terburu-buru berprasangka buruk dan menuduh, hanya karena hal yang paling kecil sekalipun. Mereka tidak mahu berusaha mencari alasan untuk orang lain, melainkan justru mencari-cari cacat dan membesar-besarkan kesalahan untuk memukul genderang, agar mereka bisa mengubah kekeliruan menjadi kesalahan dan mengubah kesalahan menjadi kekafiran.25 f. Mengkafirkan orang lain (takfiri). 24. QS. an-Nur: 2 Qordhawi, Ananlisis Radikal, 51.. 25.

(45) 27. Radikalisme ini mencapai puncaknya ketika menggugurkan kesucian (ishmah) orang lain serta menghalalkan darah dan harta mereka dengan tidak melihat bahwa mereka itu memiliki kehormatan dan ikatan apapun yang patut dipelihara. Hal itu terjadi ketika radikalisme ini memasuki gelombang pengkafiran dan tindakan menuduh kebanyakan manusia telah murtad dari Islam, atau memang pada dasarnya sama sekali belum pernah masuk Islam, sebagaimana klaim sebagian dari mereka. Inilah puncak radikalisme, yang menjadikan pelakunya berada di satu lembah dan seluruh umat berada dilembah yang lain.26 Jika seseorang sudah berada dalam tahap ini, maka cenderung akan melakukan tindakan yang lebih berbahaya lagi yakni, aksi terorisme. Melakukan tindakan-tindakan yang dapat melukai orang lain dengan keyakinan bahwa tindakannya merupakan bentuk jihad fisabillah, merupakan masalah serius yang tidak bisa disepelekan. 3. Faktor-faktor Penyebab Radikalisme Radikalisme tidak datang tanpa dan tidak muncul secara kebetulan, melainkan memiliki sebab-sebab dan faktor yang mendorongnya muncul. Semua peristiwa dan perbuatan laksana mahluk hidup, yang tidak mungkin terlahir tanpa ada yang melahirkan dan tidak mungkin tumbuh tanpa benih.. 26. Qordhawi, Ananlisis Radikal, 55..

(46) 28. Semua akibat akan muncul dari adanya sebab.27 Ini merupakan sunnatullah yang berlaku bagi mahluknya. Untuk bisa menawarkan solusi dalam mengatasi radikalisme yang bersandar dengan pengetahuan, maka harus benar-benar mengetahui secara mendalam penyebab dari munculnya radikalisme tersebut. Karna syarat untuk bisa mengatasi suatu ideologi yang menyimpang harus dari akarnya. Menurut Qordhawi, faktor-faktor penyebab lahirnya paham radikal dalam agama adalah sebagai berikut.28 a. Lemahnya pengetahuan tentang hakikat agama b. Lemahnya pengetahuan tentang sejarah, realitas, sunnatullah dan kehidupan c. Serangan nyata dan konspirasi rahasia terhadap umat Islam d. Pemberangusan terhadap kebebasan dakwah Islam yang komprehensif e. Kekerasan dan siksaan hanya akan melahirkan radikalisme Persoalan radikalisme tidak boleh dipandang dari sudut internal agama saja, tetapi memerlukan kajian literatur yang mendalam untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kemunculannya. Radikalisme tidaklah terjadi dalam situasi vakum tetapi memiliki keterkaitan dengan situasi makro baik yang berkaitan dengan masalah sosial-ekonomi maupun dengan masalah politik.29. 27. Qordhawi, Ananlisis Radikal, 59. Qordhawi, Ananlisis Radikal, 59-126. 29 Mun’im A. Sirry, Membendung Militansi Agama (Iman dan Politik dalam Masyarakat Modern, Cet. 1, (Jakarta: Erlangga, 2003), 28. 28.

(47) 29. Menurut Saeed Rahnema, munculnya gerakan-gerakan islam radikal dipengaruhi oleh beberapa yaitu faktor sosial, ekonomi dan politik seperti pertumbuhan penduduk yang cepat, persoalan gaji kelas menengah, kesenjangan antara kaya dan miskin, kegagalan program modernisasi dan kebijakan pembangunan, pemerintahan yang korup, rezim pemerintahan yang diktator dan tidak demokratis, gerakan-gerakan sekuler dan liberal, gagalnya gerakan nasionalis, serta adanya dorongan langsung dari imprealisme dan kekuatan asing. Karena itu gerakan radikal hanya dapat dikalahkan jika faktorfaktor sosial, ekonomi dan politik yang menimbulkan lahirnya gerakan ini dapat di eliminasi.30 Ada 2 faktor yang menyebabkan munculnya ideologi islam radikal yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu adanya pandangan yang berbeda dalam persoalan ideologi jihad. Kalangan islam moderat menilai jihad dapat dilakukan dalam seluruh aspek kehidupan, tidak monoton melalui perang. Sedangkan kalangan islam radikal menilai bahwa jihad hanya dapat dilakukan melalui perang. Adapun faktor eksternal yaitu munculnya islam radikal merupakan hasil dari kolonialisme, hegemoni politik negara-negara tertentu terhadap negara islam serta penyitaan tanah-tanah islam oleh negaranegara non islam.31. 30. Saeed Rahnema, Radical islamism and failed developmentalism. journal of third world quarterly volume 29, issue 3, 2008, 2. Masdar Hilmy, “Whither Indonesia’s Islamic Moderatism? A Reexamination on the Moderate Vision of Muhammadiyah and NU,” Journal of Indonesian Islam 7, no. 1, Juni 2013, 25. 31.

(48) 30. B. Deradikalisasi 1. Pengertian Deradikalisasi Deradikalisasi berasal dari kata “radikal” dengan imbuhan “de” yang berarti mengurangi atau mereduksi, dan kata “isasi”, di belakang kata radikal berarti proses, cara atau perbuatan. Jadilah deradikalisasi adalah suatu upaya mereduksi kegiatan-kegiatan radikal dan menetralisasi paham radikal bagi mereka yang terlibat teroris dan simpatisannya serta anggota masyarakat yang telah terekpose paham-paham radikal teroris.32 Deradikalisasi adalah upaya untuk membendung laju radikalisme. Radikalisme itu perlu dibendung, karena gerkakan dan pemikiran individu maupun kelompok yang berorientasi pada aktivitas radikal, seperti yang mengarah pada kekerasan, peperangan dan teror, yang sangat berbahaya bagi umat. manusia.. Divisi. kontra. terorisme. PBB. berpendapat. bahwa,. “Deradicalitation, therefore, is the process of abandoning an extremist worldview and concluding that it is not acceptable to use violence to effect social change”.33 Menurut Menyitir Petrus Golose, deradikasisasi adalah segala upaya untuk menetralisir paham-paham radikal melalui pendekatan interdispliner,. Edwin JHW, “Deradikalisasi Sebagai upaya mencegah Aksi-aksi terorisme”, sebagaimana dikutib Agus SB, Deradikalisasi Nusantara, (Jakarta: Daulat Press, 2016), 142. 33 United Nations Center-Terrorism Implementation Task Force, First Report of The Working Group on Radicalisation and Extremism That Lead of Terrorism, (September 2008), 5 sebagaimana dikutip Syamsul Arifin, Study Islam Kontemporer, (Malang: Kelompok Intrans Publishing, 2015), 84. 32.

(49) 31. seperti hukum, psikologi, agama, dan sosial budaya bagi mereka yang dipengaruhi atau terekpose paham radikal dan pro kekerasan.34 Dari sini dapat disimpulkan bahwa, segala upaya yang bertujuan untuk mencegah, meminimalisir, dan menghilangkan paham radikalisme dapat dikatakan dalam proses deradikalisasi. Dari sisi pemahaman terhadap ajaran Islam, Muhammad Harfin Zuhdi melihat deradikalisasi sebagai upaya menghapuskan pemahaman yang radikal terhadap ayat-ayat al-Qur’an atau Hadits, khususnya ayat atau hadits yang berbicara tentang konsep jihad, perang melawan kaum kafir, dan seterusnya. Berdasarkan pemaknaan tersebut, maka deradikalisasi bukan dimaksudkan sebagai upaya untuk menyampaikan pemahaman baru tentang islam, dan bukan pula pendangkalan akidah. Tetapi sebagai upaya mengembalikan dan meluruskan kembali pemahaman tentang apa dan bagaimana Islam.35 2. Tujuan Deradikalisasi Progam. deradikalisasi. sendiri. memiliki. multi. tujuan. bagi. penanggulangan masalah terorisme secara keseluruhan, yaitu:36 a. Melakukan Counter Terorism b. Mencegah proses radikalisme. 34. Agus SB, Darurat Terorisme (Kebijakan Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi), (Jakarta: Daulat Press, 2014), 174. 35 Ismail Hasani dan Bonar Tigor Naipospos (ed), Radikalisme Aama di Jabodetabek dan Jawa Barat: Implikasinya terhadap Jaminan Kebebasan Beragama berkeyakinan, (Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara, 2010), 169. 36 Agus SB, Darurat Terorisme, 181..

(50) 32. c. Mencegah provokasi, penyebaran kebencian, permusuhan antar umat beragama d. Mencegah masyarakat dari indoktrinasi e. Meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk menolak paham teror (terorisme) f. Memperkaya khazanah atas perbandingan paham. 3. Prinsip-prinsip Deradikalisasi Dalam upaya mewujudkan deradikalisasi tentu saja tidak bisa dilakukan serampangan. Deradikalisasi harus berdasarkan prinsip-prinsip hukum dan kemanusian. Prinsip tersebut adalah sebagai berikut:37 a. Prinsip Supremasi Hukum Seluruh progam deradikalisasi diimplementasikan dengan menjungjung tinggi hukum yang berlaku di Indonesia. Prinsip kepastian dan supremasi hukum merupakan upaya untuk menegakkan dan menempatkan hukum pada posisi tertinggi yang dapat melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya intervensi oleh dan dari pihak manapun termasuk oleh penyelenggara negara. b. Prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) Semua progam deradikalisasi menghormati. dan menggunakan. perspektif HAM, mengingat HAM bersifat universal (hak yang bersifat melekat dan dimiliki oleh manusia karena kodratnya sebagai manusia), indivisble (tidak. 37. Agus SB, Darurat Terorisme.., 183-185..

(51) 33. dapat dicabut), dan interelated atau interdependency (bahwa antara hak sipil dan ekososbud sesungguhnya memiliki sifat saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan antara hak yang satu dan yang lain). Undang-undang Dasar 1945 menegaskan bahwa negara mempunyai kewajiban untuk melakukan pemenuhan dan perlindungan HAM warga negaranya. c. Prinsip Kesetaraan Semua progam deradikalisasi dilakukan dengan kesadaran bahwa semua pihak berada diposisi yang sama, dan saling menghormati satu sama lain. Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. d. Prinsip Pembinaan dan Pemberdayaan Semua progam dan kegiatan deradikalisasi mengacu pada tujuan pembinaan dan pemberdayaan napi teroris, mantan napi, keluarga dan masyarakat. Pembinaan dan pemberdayaan bertujuan memulihkan napi teroris, mantan napi, keluarga dan jaringanya agar mampu bersosialisasi kembali di masyarakat sebagai individu yang utuh dalam aspek mental, emosional dan sosial, sehingga dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab..

(52) 34. 4. Pendekatan Deradikalisasi Progam deradikalisasi dilakukan selalu berpijak pada metode dan pendekatan, sehingga terukur dan sistematis. Deradikalisasi dapat dilakukan dengan sejumlah pendekatan, baik agama, sosial pendidikan, politik, hukum, ekonomi, teknologi dan selainnya.38 a. Pendekatan Agama Pendekatan agama dalam konteks deradikalisasi menekankan bahwa setiap agama mengajarkan umatnya untuk berperilaku penuh kasih sayang terhadap sesamanya. Pesan mendasar dari setiap agama yang ada dimuka bumi ini adalah hidup secara damai dengan seluruh mahluk ciptaan tuhan. Tidak ada satu pun agama yang mengajarkan pemeluknya untuk bertindak anarkis dan menyebarkan teror. b. Pendekatan Psikologis Pendekatan psikologis dilakukan dalam rangka mengefektifkan implementasi progam deradikalisasi. Deradikalisasi merupakan sebuah langkah untuk mengubah sikap dan cara pandang yang dianggap keras menjadi lunak, toleran, damai dan moderat. c. Pendekatan Sosial Budaya Deradikalisasi dapat diimplementasikan secara efektif diantaranya dengan pendekatan sosial budaya berbasis kearifan lokal. Kearifan lokal yang. 38. Agus SB, Darurat Terorisme.., 185..

(53) 35. merupakan gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan-pandangan lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat mampu mengendalikan asksi dan tindakan kekerasan dan teror. Kearifan lokal dapat menjadi pemandu perilaku yang menentukan keberadaban, seperti kebajikan, kesantunan, kejujuran, tenggang rasa, penghormatan (respect) dan penghargaan (valuation) terhadap orang lain. d. Pendekatan Ekonomi Pendekatan ekonomi dalam deradikalisasi adalah salah satu pendekatan yang efektif dalam rangka melakukan pemberdayaan mantan napi terorisme dan keluarga. Pemberdayaan ekonomi menciptakan kemandirian dan kesejahteraan mantan napi teroris dan keluarga. Beberapa fakta menunjukkan bahwa faktor kemiskinan menjadi salah satu faktor tumbuh dan berkembangnya radikalisme dan terorisme. Dengan pendekatan ekonomi, pemerintah dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang bertujuan dapat mengurangi potensi konflik dan aksi radikal terorisme di masyarakat. e. Pendekatan Hukum Pendekatan. hukum. digunakan. dalam. implementasi. progam. deradikalisasi guna memberikan jaminan dan payung hukum. Pendekatan hukum dalam upaya deradikalisasi dapat meliputi pembuatan perangkat hukum yang mampu mempersempit peluang penyebaran paham dan aksi radikal.

Gambar

Tabel 1.1. Daftar Penelitian terdahulu  N o  Nama Peneliti, Judul, Bentuk  (Skripsi/Tesis/Jurn al/dll)

Referensi

Dokumen terkait